0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
574 tayangan17 halaman

Panduan Pembuatan Silase Ternak

Dokumen tersebut membahas tentang pembuatan silase sebagai salah satu cara mengawetkan hijauan pakan ternak. Silase dibuat melalui proses fermentasi hijauan basah di dalam silo tertutup untuk mencegah respirasi. Proses fermentasi menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH dan mengawetkan hijauan. Rumput-rumputan seperti rumput gajah dan benggala merupakan bahan baku silase yang baik.

Diunggah oleh

ratna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
574 tayangan17 halaman

Panduan Pembuatan Silase Ternak

Dokumen tersebut membahas tentang pembuatan silase sebagai salah satu cara mengawetkan hijauan pakan ternak. Silase dibuat melalui proses fermentasi hijauan basah di dalam silo tertutup untuk mencegah respirasi. Proses fermentasi menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH dan mengawetkan hijauan. Rumput-rumputan seperti rumput gajah dan benggala merupakan bahan baku silase yang baik.

Diunggah oleh

ratna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kekurangan hijauan segar sebagai pakan ternak sudah lama dirasakan oleh

peternak di Indonesia pada umumnya. Seringkali peternak menanggulanginya

dengan cara memberikan pakan seadanya yang diperoleh dengan mudah dari

lingkungan di sekitarnya. Pemberian pakan ternak yang seadanya sangat

mempengaruhi produktivitas ternak, terlihat dari lambatnya pertumbuhan atau

minimnya peningkatan berat badan (BB) bahkan sampai mengalami sakit

(Ibrahim, 2014).

Pengawetan hijauan pakan atau limbah pertanian dalam bentuk silase

merupakan salah satu alternative yang dapat ditempuh terutama untuk mengatasi

kesulitan pengadaan pakan di daerah yang mengalami musim kemarau panjang.

Perubahan musim akan mempengaruhi kualitas hijauan pakan yaitu hilangnya

fraksi yang mudah larut atau fraksi non structural akibat respirasi yang meningkat

dan penurunan netto fotosintesis (Siregar, 2013).

Pengawetan hijauan sepeti silase diharapkan dapat mengatasi

permasalahan kekurangan hijauan segar terutama pada musim kemarau.

Ketersediaan pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya suhu harian,

iklim, dan ketersediaan air tanah. Faktor tersebut sangat mempengaruhi

ketersediaan hijauan pakan ternak yang diharapkan kontinyu sepanjang tahun

(Ibrahim, 2014).
Oleh karena itu dilakukan praktikum Teknologi Pengolahan Pakan agar

kita dapat memnegtahui cara pembuatan silase sehingga dapat diaplikasikan

dilingkungan sekitar.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana cara pembuatan silase?


2. Bagaimana cara mengamati hijauan pakan secara organoleptik sebelum

dan sesudah dimasukkan ke silo?


3. Bagaimana cara melakukan pengamatan dan penilaian terhadap silase

yang telah di buat dalam 1 minggu?


C. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui cara pembuatan silase.
2. Untuk mengetahui cara mengamati hijauan pakan secara organoleptik

sebelum dan sesudah dimasukkan ke silo.


3. Untuk mengetahui cara melakukan pengamatan dan penilaian terhadap

silase yang telah di buat dalam 1 minggu.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Silase
HMT atau hijauan makanan ternak adalah hijauan atau rumpu-rumputan

yang memiliki angka kecukupan gizi yang tepat untuk ternak ruminansia, tidak

semua rumput dapat dikategorikan hijauan makanan ternak. Untuk itu peternak

perlu menanam sendiri rumput-rumput unggul yang dikategorikan sebagai HMT.

Beberapa jenis HMT ada berasal dari Indonesia dan banyak juga didatangkan dari

luar negeri dan dikembangakan di Indonesia (Zul, 2013).

Pakan adalah sumber gizi bagi ternak dan pakan ini merupakan kebutuhan

primer satu-satunya pada ternak berbeda dengan manusia yang memiliki tiga

kebutuhan primer, Pakan berguna untuk pertumbuhan serta produksi. Pakan

dikategorikan HMT adalah rumput atau hijauan yang memiliki nilai kandungan

gizi yang cukup sesuai kebutuhan ternak khususnya ruminansia. Secara garis

besar pakan ternak ruminansia bisa dibedakan menjadi dua yankni pakan serat dan

pakan penguat, pakan serat ini diataranya dalah rumput (HMT) dan penguat

adalah konsetrat. HMT sebaiknya dipotong pada usia yang tepat, sebab jika terlalu

tua maka kualitasnya akan semakin buruk (Ibrahim, 2014).

Menurut Zul (2013), yang menyatakan bahwa beberapa rumput unggul

yang dapat diguanakan untuk hijauan makanan ternak ruminansia :

a. Rumput Benggala atau bahasa latinnya Panicum maximum, ciri-cri rumput ini

diantaranya; Tingginya dapat mencapi 2 meter, berbulu dan disukai oleh ternak.

Rumput Gajah atau bahasa latinnya Pennisetum purpureum, dengan ciri-ciri yang

hampir sama seperti rumput benggala hanya saja daun rumput gajah lebih lebar

serta bulu yang lebih sedikit


b. Setaria rumput ini lebih pendek dari kedua rumput diatas, kelebihan dari rumput

ini mudah dikembang biakkan didaerah kering sekalipun dan sangat disukai oleh

ternak.
c. Rumput raja atau sering juga disebut dengan King Grass, rumput ini mirip dengan

rumput gajah hanya saja rumput raja ini memiliki bulu yang lebih sedikit daripada

rumput gajah dan tidak berbunga


Saat ini tidak sedikit masyarakat yang malah menjadikan hijauan makanan

ternak ini sebagai usaha sampingan, mereka secara khusus menanam rumput

unggul dan menjualnya kepada para peternak ruminansia. Umumnya semua

rumput unggul memiliki sifat seperti rumput kebanyakan mudah tumbuh dimana

saja bahkan tanpa adanya pemupukan sekalipun.


B. Proses Fermentasi Silase

Silase adalah makanan ternak yang dihasilkan melalui proses fermentasi

hijauan pakan dengan kandungan air yang tinggi. Silase adalah pakan yang telah

diawetkan yang di proses dari bahan baku yang berupa tanaman hijauan, limbah

industri pertanian, serta bahan pakan alami lainya, dengan jumlah

kadar/kandungan air pada tingkat tertentu kemudian di masukan dalam sebuah

tempat yang tertutup rapat kedap udara, yang biasa disebut dengan Silo, selama

30 hari, karena apabila di dalam silo terjadi proses respirasi yang berlebihan atau

dalam waktu yang lama maka dapat mengurangi ketersedian substrat dalam

produksi asam laktat, sehingga dapat menurunkan potensi proses fermentasi yang

baik. Di dalam silo tersebut tersebut akan terjadi beberapa tahap proses anaerob

(proses tanpa udara/oksigen), dimana bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat

gula yang terdapat pada bahan baku, sehingga terjadilah proses fermentasi

(Widyastuti, 2015).
Silase biasanya digunakan untuk menyimpan rumput segar yang

produksinya berlebihan agar kualitasnya tetap baik. Namur tidak menutup

kemungkinan bahwa jerami padi yang masih hijau segar yang diperoleh langsung

setelah panen dapat diawetkan dengan cara silase. Walaupun hasil silase jerami

segar tidak dapat meningkatkan kandungan protein ataupun daya cernanya, tetapi

kualitas jerami hasil silase sama baiknya dengan jerami segar yang pasti lebih

baik dari jerami kering (Suhendra, 2015).

Bahan silase terbaik adalah rumput gajah/raja (Penisetum purpureum) dan

rumput benggala (Pinicum maximum) hasil budidaya. Bahan terbaik lain adalah

batang jagung (tebon) muda, atau tebon hasil budidaya baby/sweetcorn. Sebab

tebon babycorn/sweetcorn, daunnya masih hijau dan batangnya juga masih sangat

lunak. Rumput liar yang heterogen pun, sebenarnya bisa pula dijadiken silase.

Demikian pula halnya dengan jerami padi, batang/daun kacang tanah dan ubi jalar.

tujuan utama pembuatan silase adalah untuk mengawetkan dan mengurangi

kehilangan zat makanan suatu hijauan untuk dimanfaatkan pada masa mendatang.

Di jelaskan lebih lanjut bahwa silase dibuat jika produksi hijauan dalam jumlah

yang banyak atau pada fase pertumbuhan hijauan dengan kandungan zat makanan

optimum (Zailzar dkk, 2014).

Silase yang baik biasanya berasal dari pemotongan hijauan tepat waktu

(menjelang berbunga), pemasukan ke dalam silo dilakukan dengan cepat,

pemotongan hijauan dengan ukuran yang memungkinkannya untuk dimampatkan,

penutupan silo secara rapat (tercapainya kondisi anaerob secepatnya) dan tidak

sering dibuka (Sofyan, 2015).


Kualitas dan nilai nutrisi silase dipengaruhi sejumlah faktor seperti spesies

tanaman yang dibuat silase, fase pertumbuhan dan kandungan bahan kering saat

panen, mikroorganisme yang terlibat dalam proses dan penggunaan bahan

tambahan (additive) (Arham, 2015).

Manipulasi dengan penambahan bahan additive ini bisa dilakukan secara

langsung dengan memberikan tambahan bahan-bahan yang mengandung

karbohidarat yang siap diabsopsi oleh mikroba, diantaranya yaitu molases (melas),

onggok (tepung), tepung jagung, urea, ampas sagu, dan tetes (Arham, 2015).

Setelah respirasi terhenti, proses yang terjadi selanjutnya adalah

fermentasi. Proses ini menyebabkan turunnya pH (derajat keasaman) bahan baku

silase hingga tidak ada lagi organisme yang bisa tumbuh. Proses fermentasi bisa

terjadi karena adanya bakteri pembentuk asam laktat yang mengkonsumsi

karbohidrat dan menghasilkan asam laktat. Asam laktat akan terus diproduksi

hingga tercapai pH yang rendah (<5) yang tidak memungkinkan bakteri

beraktifitas lagi dan tidak ada lagi perubahan. Keadaan inilah yang disebut

keadaan terfermentasi, dimana bahan dalam keadaan tetap atau awet. Pada kondisi

anaerob silase dapat disimpan bertahun-tahun. Contoh bakteri asam laktat

diantaranya adalah Streptococcus thermophillus, Streptococcus lactis,

Lactobacillus lactis, Leuconostoc mesenteroides (Wahyu, 2013).

Menurut Tim dosen (2016), yang mengatakan bahwa Ciri-ciri silase yang

baik yaitu :

1. Berbau harum agak manis khas fermentasi silase


2. Tidak berjamur dan tidak menggumpal
3. Tidak busuk atau tidak berbau busuk
4. Warna coklat kehijau-hijauan
5. Nilai pH atau derajat keasaman 4 - 4,5.

Silase yang baik beraroma dan berasa asam, tidak berbau busuk. Silase

hijauan yang baik berwarna hijau kekuning-kuningan. Apabila dipegang terasa

lembut dan empuk tetapi tidak basah (berlendir). Silase yang baik juga tidak

menggumpal dan tidak berjamur. Bila dilakukan analisa lebih lanjut, kadar

keasamanya (pH) 3,2 - 4,5 (Tim dosen, 2016).

Proses fermentasinya akan berhenti setelah 3 minggu dan silase yang baik

akan tampak berwarna seperti bahan aslinya, mempunayai bau seperti cuka,

teksturnya lembut dengan pH kurang dari 4,2 dan dapat disimpan selama beberapa

bulan (Widyastuti, 2015).

Palatabilitas merupakan gambaran sifat bahan pakan (fisik dan kimiawi)

yang dicerminkan oleh organoleptik seperti penampakan, bau, rasa (hambar, asin,

manis, pahit), tekstur dan temperaturnya sehingga menimbulkan rangsangan dan

daya tarik ternak untuk mengkonsumsinya. Pakan yang mempunyai nilai gizi

yang tinggi (tidak banyak mengandung serat kasar) mempunyai kecernaan yang

tinggi. Jika palatabilitas suatu pakan tinggi berarti pakan tersebut mempunyai nilai

gizi yang tinggi (Wahyu, 2013).

C. Prinsip Dasar Silase

Menurut Widyastuti (2015), yang mengatakan bahwa Prinsip dasar dari

pengawetan dengan cara silase fermentasi adalah sebagai berikut:

1. Respirasi

Sebelum sel-sel di dalam tumbuhan mati atau tidak mendapatkan oksigen,

maka mereka melakukan respirasi untuk membentuk energi yang di butuhkan


dalam aktivitas normalnya. Respirasi ini merupakan konversi karbohidrat menjadi

energi. Respirasi ini di bermanfaat untuk menghabiskan oksigen yang terkandung,

beberapa saat setelah bahan di masukan dalam silo. Namun respirasi ini

mengkonsumsi karbohidrat dan menimbulkan panas, sehingga waktunya harus

sangat di batasi, seperti reaksi dibawah ini :

C2H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + panas

Respirasi yang berkelamaan di dalam bahan baku silase, dapat mengurangi

kadar karbohidrat, yang pada ahirnya bisa menggagalkan proses fermentasi.

Pengurangan kadar oksigen yang berada di dalam bahan baku silase, saat berada

pada ruang yang kedap udara yg disebut dengan Silo, adalah cara terbaik

meminimumkan masa respirasi ini.

2. Fermentatsi

Setelah kadar oksigen habis , maka proses fermentasi di mulai. Fermentasi

adalah menurunkan kadar pH di dalam bahan baku silase sampai dengan kadar pH

dimana tidak ada lagi organisme yang dapat hidup dan berfungsi di dalam silo.

Penurunan kadar pH ini dilakukan oleh lactic acid ( asam laktat ) yang di hasilkan

oleh bakteri Lactobacillus. Lactobasillus itu sendiri sudah berada didalam bahan

baku silase, dan dia akan tumbuh dan berkembang dengan cepat sampai bahan

baku terfermentasi.

Bakteri ini akan mengkonsumsi karbohidrat untuk kebutuhan energinya

dan mengeluarkan asam laktat. Bakteri ini akan terus memproduksi asam laktat

dan menurunkan kadar pH di dalam bahan baku silase sampai pada tahap kadar

pH yang rendah, dimana tidak lagi memungkinkan bakteri ini beraktivitas,


sehingga silo berada pada keadaan stagnant, atau tidak ada lagi perubahan yang

terjadi, dan bahan baku silase berada pada keadaan yang tetap. Keadaan inilah

yang di sebut keadaan terfermentasi, dimana bahan baku berada dalam keadaan

tetap , yang disebut dengan menjadi awet. Pada keadaan ini maka silase dapat di

simpan bertahun-tahun selama tidak ada oksigen yang menyentuhnya.

D. Pemanfaatan Silase Sebagai Pakan Alternatif Pada Ternak


Menurut Lestari (2014), yang menyataan bahwa manfaat dan keunggulan

silase adalah sebagai berikut:


1. Persedian makanan ternak pada musim kemarau.
2. Manampung kelebihan HMT pada musim hujan dan memanfaatkan secara

optimal.
3. Mendayagunakan hasil ikutan dari limbah pertanian dan perkebunan.
4. Nilai gizi silase setara dengan hijauan segar bahkan dapat lebih tinggi.
5. Disukai oleh ternak.
6. Tersedia sepanjang tahun baik musim hujan maupun kemarau.

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Waktu dan tempat dilakukannya praktikum Teknologi Pengolahan Pakan

pada hari/tanggal Kamis, 03 November 2016, pukul 14.00-16.00 Wita, di

Laboratorium Pakan Terpadu Jurusan Ilmu Peternakan Fakultas Sains Dan

Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.


B. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai

berikut:

1. Alat
Alat yang digunakan pada percoban ini adalah termometer, timbangan,

gelas ukur, pisau, gelas kimia dan batang pengaduk.


2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percoban ini adalah Hijaun/rumput, dedak,

molases, starbio, kantong plastik dan lakban.


C. Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan hijaun/rumput yang telah dilayukan dengan kadar air kurang lebih

65%
2. Memotong hijauan/rumput sepanjang 5 sampai 10 cm
3. hijauan atau rumput ditimbang dan dicampur dengan 5% bahan pelengkap seperti

dedak, molases, dan starbio.


4. Melakukan peengujian tekstur, bau, warna, jamur, pH, suhu dan penggumpalan

pada hijauan yag telah dihomogenkan.


5. Memasukkan kedalam kantong plastik (silo) dan dipadatkan lalu ditutup rapat.
6. Menyimpan selama kurang lebih 1 minggu.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatn dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

No. Kriteria Karakteristik Skor


1. Sedang 4-6

Bau dan Rasa


2. Tekstur Sedang 4-6

3. Warna Hijau kecoklatan 4-6

4. Jamur Sedikit 4-6

5. Penggumpalan Tengah 4-6

6. pH 5 -

7. Suhu 26oC -

Sumber: Laboratorium Pakan Terpadu, Fakultas Sains dan Teknologi


Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar 2013.
B. Analisis Data
Berat hijauan: 3,5 kg
Dedak: 5%
Molases: 3%
Starbio: 3%
pH awal: 6
5
x 3,5
- Dedak = 100

= 0,175

3
x 3,5
- Molasses = 100

= 0,105
3
x 3,5
- Starbio = 100

= 0,105
C. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan diperoleh hasil sebagai

berikut:
1. Bau dan Rasa
Bau yang dihasilkan dari pembuatan silase pada hari pertama memiliki

bau yang khas yaitu berbau molases, sampai hari ketujuh memiliki bau yang

busuk atau sedang. Pengamatan pada bau dari silase menandakan bahwa silase

memiliki kualitas yang tidak baik. Bau busuk diakibatkan karena kondisi silase

tidak dalam keadaan anaerob dan sehingga mengakibatkan bakteri asam laktat

yang dihasilkan tidak cukup banyak, dimana bakteri asam laktat yang berfungsi

menurunkan pH untuk menekan pertumbuhan bakteri pembusuk dapat sedikit

berkembang. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Tim dosen (2016), yang

menyatakan bahwa ciri-ciri silase yang baik meliputi berbau harum agak

kemanis-manisan, tetapi segar dan enak. Bau asam yang dihasilkan oleh silase

disebabkan karena dalam proses pembuatan silase bakteri anaerob aktif bekerja

menghasilkan asam organik, akibat keaktifan bakteri inilah maka terjadi asam,
dalam proses ensilase apabila oksigen telah habis dipakai, pernapasan akan

berhenti, dan suasana menjadi anaerob.

2. Tekstur
Tekstur pada hari pertama kasar, sedangkan pada hari ke tujuh memiliki

tekstur sedang. Ini menandakan bahwa silase rumput gajah dalam keadaan tidak

baik. Hal ini tidak sesuai pendapat Tim Dosen (2016), yang menyatakan bahwa

secara umum silase yang baik mempunyai ciri-ciri yaitu tekstur masih jelas

seperti awalnya.
3. Warna
Warna yang diperoleh dari proses pembuatan silase yaitu warna pada hari

pertama adalah hijau, sedangkan hari ketujuh warnanya berubah menjadi hijau

kecoklatan. Berdasarkan kriteria warna yang diperoleh mempunyai kualitas yang

baik dalam silase karena terdapat perbedaan warna antara warna hijauan asal

dengan warna hijau kecoklatan, ini semua dikarenakan silase rumput dalam

kondisi anaerob sehingga mengakibatkan warna hijauan berubah menjadi warna

hijau kecoklatan. Hal ini sesuai dengan pendapat Tim dosen (2016), yang

menyatakan bahwa warna silase rumput gajah yang baik adalah hijau

kecoklatan, dimana silase yang memenuhi kriteria standar akan lebih disukai

ternak.
4. Jamur
Pada proses pembuatan silase ini diperoleh hasil bahwa pengamatan

silase dari hari pertama tidak ditemukan jamur, sedangkan pada hari ketujuh

ditemukan sedikit jamur. Hal tersebut menandakan bahwa proses ensilase secara

anaerob tidak berhasil karena bakteri penghasil asam laktat (Lactobacillus) tidak

memanfaatkan penambahan Starbio untuk menurunkan pH sehingga jamur dapat

berkembang. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Tim dosen (2016), yang
menyatakan bahwa ciri-ciri silase yang baik yaitu berbau harum agak kemanis-

manisan dan tidak berjamur.


5. Penggumpalan
Pada pembuatan silase yang telah dilaksanakan diperoleh hasil bahwa

pengamatan silase pada hari pertama tidak ditemukan penggumpalan, sampai

hari ketujuh ditemukan penggumpalan pada bagian tengah. Hal ini menandakan

proses pemadatan saat awal pembuatan silase tidak berhasil menciptakan kondisi

anaerob, sehingga ada proses pembusukan yang menghasilkan lendir yang dapat

mengakibatkan penggumpalan pada silase. Adanya penggumpalan menandakan

kualitas silase tidak baik. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Tim dosen

(2016), yang menyatakan bahwa ciri-ciri silase yang baik yaitu berbau harum

agak kemanis-manisan, tidak berjamur dan tidak menggumpal.


6. pH
pada pengamatn pH dari hari pertama memiliki nilai PH 6, sampai hari

ketujuh memiliki nilai pH yaitu 5 dan bersifat asam. Hal tersebut terjadi karena

penambahan starbio dan molases pada proses ensilase akan menghasilkan asam

laktat yang membuat pH silase menjadi asam. Banyaknya Starbio dan molases

dan lamanya pemeraman bahan pakan yang disilase akan mempengaruhi

perubahan pH. Hal ini sesuai dengan pendapat Tim dosen (2016), yang

menyatakan bahwa bakteri asam laktat yang ditambahkan memberikan efek

positif terhadap proses fermentasi terutama pada level pH dan level asam laktat.

7. Suhu
Pengamatan suhu pada hari ketujuh suhu meningkat menjadi 26 oC. Hal

ini dikarenakan proses fermentasi secara anaerob yang dilakukan sehingga

membuat silase menjadi lebih hangat. Hal ini sesuai dengan pendapat Tim dosen

yang menyatakan bahwa suhu pada silase berkisar antara 26 oC sampai dengan
28oC, suhu silase masih dikatan baik karena suhu panen yang dihasilkan masih

beberapa derajat dibawah suhu lingkungan.

BAB V

KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Teknologi Pengolahan Pakan yang dilakukan dapat

disimpulkan sebagai berikut:


1. menyiapkan hijauan yang telah dilayukan. Memotong hijauan sepanjang 5-10 cm.

Hijauan ditimbang lalu di campur sebanyar 5% bahan pelengkap. Malakukan

pengujian tekstur, bau, warna, jamur, pH, suhu dan penggumpalan. Memasukkan

kedalam kantong plastik, dipadatkan. Disimpan selama kurang lebih 1 minggu.


2. Pakan yang diamati secara organoleptik meliputi pengamatan bau, tekstur, warna,

pH, suhu, warna dan penggumpalan.


3. Silase yang telah dibuat di peram selama 1 minggu, setelah itu dilakukan

pengamatan yang meliputi bau, tekstur, warna, pH, suhu, warna dan

penggumpalan.
B. Saran
Sebaiknya pada saat pembuatan silase, kondisi anaerob harus benar-benar

diciptakan untuk mendapatkan hasil yang baik. Selain itu perlu ketelitian saat

pengamatan untuk membedakan hasil pengamatan dari waktu ke waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Arham, .M. 2015. Nutrisi dan Pakan Konvensional. Yogyakarta: UGM Pers.

Ibrahim, A. 2014. peningkatan Kualitas Pakan. Scientech

Lestari. 2014. Hijauan Makanan Ternak. Kupang: Fakultas Peternakan


Universitas Nusa Cendana Kupang.

Siregar, Y. 2013. Pengawetan Pakan Ternak. Tesis. Malang: Jurusan Nutrisi dan
Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang.

Suhendra, M. 2015. Pengawetan Bahan Pakan. Animal Scientech 8, no. 3: h. 7

Sofyan, M. dan Muhammad Sudarwanto. 2015. Pengawetan Bahan Pakan.


jakarta: Erlangga.

Tim Dosen. 2015. Teknologi Pengolahan Pakan. Makassar: UIN Press.


Wahyu. 2013. Memanfaatkan hijauan yang berlebihan. Skripsi. Bogor: Jurusan
Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Widyastuti, Y. 2015. Fermentasi Silase dan Manfaat Probiotik Silase bagi


Rouminansia. Skripsi. Nusa Tenggara timur : Jurusan Nutrisi dan
Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang.

Zailzar, L., Sujono, Suyatno dan A. Yani. 2014. Peningkatan Kualitas Dan
Ketersediaan Pakan Untuk Mengatasi Kesulitan di Musim Kemarau
Pada Kelompok Peternak Sapi Perah. Jurnal Dedikasi Vol. 8.

Zul, M. 2013. Peningkatan hijauan Makanan Ternak Pertahun. Jurnal Dedikasi.


h: 24.

Anda mungkin juga menyukai