Panduan Pembuatan Silase Ternak
Panduan Pembuatan Silase Ternak
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kekurangan hijauan segar sebagai pakan ternak sudah lama dirasakan oleh
dengan cara memberikan pakan seadanya yang diperoleh dengan mudah dari
(Ibrahim, 2014).
merupakan salah satu alternative yang dapat ditempuh terutama untuk mengatasi
fraksi yang mudah larut atau fraksi non structural akibat respirasi yang meningkat
(Ibrahim, 2014).
Oleh karena itu dilakukan praktikum Teknologi Pengolahan Pakan agar
dilingkungan sekitar.
B. Rumusan Masalah
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Silase
HMT atau hijauan makanan ternak adalah hijauan atau rumpu-rumputan
yang memiliki angka kecukupan gizi yang tepat untuk ternak ruminansia, tidak
semua rumput dapat dikategorikan hijauan makanan ternak. Untuk itu peternak
Beberapa jenis HMT ada berasal dari Indonesia dan banyak juga didatangkan dari
Pakan adalah sumber gizi bagi ternak dan pakan ini merupakan kebutuhan
primer satu-satunya pada ternak berbeda dengan manusia yang memiliki tiga
dikategorikan HMT adalah rumput atau hijauan yang memiliki nilai kandungan
gizi yang cukup sesuai kebutuhan ternak khususnya ruminansia. Secara garis
besar pakan ternak ruminansia bisa dibedakan menjadi dua yankni pakan serat dan
pakan penguat, pakan serat ini diataranya dalah rumput (HMT) dan penguat
adalah konsetrat. HMT sebaiknya dipotong pada usia yang tepat, sebab jika terlalu
a. Rumput Benggala atau bahasa latinnya Panicum maximum, ciri-cri rumput ini
diantaranya; Tingginya dapat mencapi 2 meter, berbulu dan disukai oleh ternak.
Rumput Gajah atau bahasa latinnya Pennisetum purpureum, dengan ciri-ciri yang
hampir sama seperti rumput benggala hanya saja daun rumput gajah lebih lebar
ini mudah dikembang biakkan didaerah kering sekalipun dan sangat disukai oleh
ternak.
c. Rumput raja atau sering juga disebut dengan King Grass, rumput ini mirip dengan
rumput gajah hanya saja rumput raja ini memiliki bulu yang lebih sedikit daripada
ternak ini sebagai usaha sampingan, mereka secara khusus menanam rumput
rumput unggul memiliki sifat seperti rumput kebanyakan mudah tumbuh dimana
hijauan pakan dengan kandungan air yang tinggi. Silase adalah pakan yang telah
diawetkan yang di proses dari bahan baku yang berupa tanaman hijauan, limbah
tempat yang tertutup rapat kedap udara, yang biasa disebut dengan Silo, selama
30 hari, karena apabila di dalam silo terjadi proses respirasi yang berlebihan atau
dalam waktu yang lama maka dapat mengurangi ketersedian substrat dalam
produksi asam laktat, sehingga dapat menurunkan potensi proses fermentasi yang
baik. Di dalam silo tersebut tersebut akan terjadi beberapa tahap proses anaerob
(proses tanpa udara/oksigen), dimana bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat
gula yang terdapat pada bahan baku, sehingga terjadilah proses fermentasi
(Widyastuti, 2015).
Silase biasanya digunakan untuk menyimpan rumput segar yang
kemungkinan bahwa jerami padi yang masih hijau segar yang diperoleh langsung
setelah panen dapat diawetkan dengan cara silase. Walaupun hasil silase jerami
segar tidak dapat meningkatkan kandungan protein ataupun daya cernanya, tetapi
kualitas jerami hasil silase sama baiknya dengan jerami segar yang pasti lebih
rumput benggala (Pinicum maximum) hasil budidaya. Bahan terbaik lain adalah
batang jagung (tebon) muda, atau tebon hasil budidaya baby/sweetcorn. Sebab
tebon babycorn/sweetcorn, daunnya masih hijau dan batangnya juga masih sangat
lunak. Rumput liar yang heterogen pun, sebenarnya bisa pula dijadiken silase.
Demikian pula halnya dengan jerami padi, batang/daun kacang tanah dan ubi jalar.
kehilangan zat makanan suatu hijauan untuk dimanfaatkan pada masa mendatang.
Di jelaskan lebih lanjut bahwa silase dibuat jika produksi hijauan dalam jumlah
yang banyak atau pada fase pertumbuhan hijauan dengan kandungan zat makanan
Silase yang baik biasanya berasal dari pemotongan hijauan tepat waktu
penutupan silo secara rapat (tercapainya kondisi anaerob secepatnya) dan tidak
tanaman yang dibuat silase, fase pertumbuhan dan kandungan bahan kering saat
karbohidarat yang siap diabsopsi oleh mikroba, diantaranya yaitu molases (melas),
onggok (tepung), tepung jagung, urea, ampas sagu, dan tetes (Arham, 2015).
silase hingga tidak ada lagi organisme yang bisa tumbuh. Proses fermentasi bisa
karbohidrat dan menghasilkan asam laktat. Asam laktat akan terus diproduksi
beraktifitas lagi dan tidak ada lagi perubahan. Keadaan inilah yang disebut
keadaan terfermentasi, dimana bahan dalam keadaan tetap atau awet. Pada kondisi
Menurut Tim dosen (2016), yang mengatakan bahwa Ciri-ciri silase yang
baik yaitu :
Silase yang baik beraroma dan berasa asam, tidak berbau busuk. Silase
lembut dan empuk tetapi tidak basah (berlendir). Silase yang baik juga tidak
menggumpal dan tidak berjamur. Bila dilakukan analisa lebih lanjut, kadar
Proses fermentasinya akan berhenti setelah 3 minggu dan silase yang baik
akan tampak berwarna seperti bahan aslinya, mempunayai bau seperti cuka,
teksturnya lembut dengan pH kurang dari 4,2 dan dapat disimpan selama beberapa
yang dicerminkan oleh organoleptik seperti penampakan, bau, rasa (hambar, asin,
daya tarik ternak untuk mengkonsumsinya. Pakan yang mempunyai nilai gizi
yang tinggi (tidak banyak mengandung serat kasar) mempunyai kecernaan yang
tinggi. Jika palatabilitas suatu pakan tinggi berarti pakan tersebut mempunyai nilai
1. Respirasi
beberapa saat setelah bahan di masukan dalam silo. Namun respirasi ini
Pengurangan kadar oksigen yang berada di dalam bahan baku silase, saat berada
pada ruang yang kedap udara yg disebut dengan Silo, adalah cara terbaik
2. Fermentatsi
adalah menurunkan kadar pH di dalam bahan baku silase sampai dengan kadar pH
dimana tidak ada lagi organisme yang dapat hidup dan berfungsi di dalam silo.
Penurunan kadar pH ini dilakukan oleh lactic acid ( asam laktat ) yang di hasilkan
oleh bakteri Lactobacillus. Lactobasillus itu sendiri sudah berada didalam bahan
baku silase, dan dia akan tumbuh dan berkembang dengan cepat sampai bahan
baku terfermentasi.
dan mengeluarkan asam laktat. Bakteri ini akan terus memproduksi asam laktat
dan menurunkan kadar pH di dalam bahan baku silase sampai pada tahap kadar
terjadi, dan bahan baku silase berada pada keadaan yang tetap. Keadaan inilah
yang di sebut keadaan terfermentasi, dimana bahan baku berada dalam keadaan
tetap , yang disebut dengan menjadi awet. Pada keadaan ini maka silase dapat di
optimal.
3. Mendayagunakan hasil ikutan dari limbah pertanian dan perkebunan.
4. Nilai gizi silase setara dengan hijauan segar bahkan dapat lebih tinggi.
5. Disukai oleh ternak.
6. Tersedia sepanjang tahun baik musim hujan maupun kemarau.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
Alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai
berikut:
1. Alat
Alat yang digunakan pada percoban ini adalah termometer, timbangan,
65%
2. Memotong hijauan/rumput sepanjang 5 sampai 10 cm
3. hijauan atau rumput ditimbang dan dicampur dengan 5% bahan pelengkap seperti
A. Hasil Pengamatan
6. pH 5 -
7. Suhu 26oC -
= 0,175
3
x 3,5
- Molasses = 100
= 0,105
3
x 3,5
- Starbio = 100
= 0,105
C. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan diperoleh hasil sebagai
berikut:
1. Bau dan Rasa
Bau yang dihasilkan dari pembuatan silase pada hari pertama memiliki
bau yang khas yaitu berbau molases, sampai hari ketujuh memiliki bau yang
busuk atau sedang. Pengamatan pada bau dari silase menandakan bahwa silase
memiliki kualitas yang tidak baik. Bau busuk diakibatkan karena kondisi silase
tidak dalam keadaan anaerob dan sehingga mengakibatkan bakteri asam laktat
yang dihasilkan tidak cukup banyak, dimana bakteri asam laktat yang berfungsi
berkembang. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Tim dosen (2016), yang
menyatakan bahwa ciri-ciri silase yang baik meliputi berbau harum agak
kemanis-manisan, tetapi segar dan enak. Bau asam yang dihasilkan oleh silase
disebabkan karena dalam proses pembuatan silase bakteri anaerob aktif bekerja
menghasilkan asam organik, akibat keaktifan bakteri inilah maka terjadi asam,
dalam proses ensilase apabila oksigen telah habis dipakai, pernapasan akan
2. Tekstur
Tekstur pada hari pertama kasar, sedangkan pada hari ke tujuh memiliki
tekstur sedang. Ini menandakan bahwa silase rumput gajah dalam keadaan tidak
baik. Hal ini tidak sesuai pendapat Tim Dosen (2016), yang menyatakan bahwa
secara umum silase yang baik mempunyai ciri-ciri yaitu tekstur masih jelas
seperti awalnya.
3. Warna
Warna yang diperoleh dari proses pembuatan silase yaitu warna pada hari
pertama adalah hijau, sedangkan hari ketujuh warnanya berubah menjadi hijau
baik dalam silase karena terdapat perbedaan warna antara warna hijauan asal
dengan warna hijau kecoklatan, ini semua dikarenakan silase rumput dalam
hijau kecoklatan. Hal ini sesuai dengan pendapat Tim dosen (2016), yang
menyatakan bahwa warna silase rumput gajah yang baik adalah hijau
kecoklatan, dimana silase yang memenuhi kriteria standar akan lebih disukai
ternak.
4. Jamur
Pada proses pembuatan silase ini diperoleh hasil bahwa pengamatan
silase dari hari pertama tidak ditemukan jamur, sedangkan pada hari ketujuh
ditemukan sedikit jamur. Hal tersebut menandakan bahwa proses ensilase secara
anaerob tidak berhasil karena bakteri penghasil asam laktat (Lactobacillus) tidak
berkembang. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Tim dosen (2016), yang
menyatakan bahwa ciri-ciri silase yang baik yaitu berbau harum agak kemanis-
hari ketujuh ditemukan penggumpalan pada bagian tengah. Hal ini menandakan
proses pemadatan saat awal pembuatan silase tidak berhasil menciptakan kondisi
anaerob, sehingga ada proses pembusukan yang menghasilkan lendir yang dapat
kualitas silase tidak baik. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Tim dosen
(2016), yang menyatakan bahwa ciri-ciri silase yang baik yaitu berbau harum
ketujuh memiliki nilai pH yaitu 5 dan bersifat asam. Hal tersebut terjadi karena
penambahan starbio dan molases pada proses ensilase akan menghasilkan asam
laktat yang membuat pH silase menjadi asam. Banyaknya Starbio dan molases
perubahan pH. Hal ini sesuai dengan pendapat Tim dosen (2016), yang
positif terhadap proses fermentasi terutama pada level pH dan level asam laktat.
7. Suhu
Pengamatan suhu pada hari ketujuh suhu meningkat menjadi 26 oC. Hal
membuat silase menjadi lebih hangat. Hal ini sesuai dengan pendapat Tim dosen
yang menyatakan bahwa suhu pada silase berkisar antara 26 oC sampai dengan
28oC, suhu silase masih dikatan baik karena suhu panen yang dihasilkan masih
BAB V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Teknologi Pengolahan Pakan yang dilakukan dapat
pengujian tekstur, bau, warna, jamur, pH, suhu dan penggumpalan. Memasukkan
pengamatan yang meliputi bau, tekstur, warna, pH, suhu, warna dan
penggumpalan.
B. Saran
Sebaiknya pada saat pembuatan silase, kondisi anaerob harus benar-benar
diciptakan untuk mendapatkan hasil yang baik. Selain itu perlu ketelitian saat
DAFTAR PUSTAKA
Arham, .M. 2015. Nutrisi dan Pakan Konvensional. Yogyakarta: UGM Pers.
Siregar, Y. 2013. Pengawetan Pakan Ternak. Tesis. Malang: Jurusan Nutrisi dan
Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang.
Zailzar, L., Sujono, Suyatno dan A. Yani. 2014. Peningkatan Kualitas Dan
Ketersediaan Pakan Untuk Mengatasi Kesulitan di Musim Kemarau
Pada Kelompok Peternak Sapi Perah. Jurnal Dedikasi Vol. 8.