Mar
10
Dasar - Dasar Interpretasi Seismik Part I
(Kualitatif)
Interpretasi seismik merupakan hal yang sangat dasar dalam usaha menggambarkan informasi
apa yang ada di bawah permukaan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran penampang
perlapisan pada karakterisasi reservoar. (berat ya?).
Preface
oke, jadi mula - mula, jika kita mau liat penampakan bawah permukaan tanah itu tanpa merusak
maka kita akan melakukan semacam scanning kalo dalam istilah kedokteran biasanya kita tahu
istilah rontgen, ct scan, dan semacamnya. dalam dunia geosains, ada beberapa cara untuk
"menerawang" apa saja yang ada di bawah permukaan bumi. cara "menerawang" nya juga gak
sembarangan, contohnya kalo kita mau liat penampilan bawah permukaan bumi dalam satuan
hambat jenis maka kita harus melakukan yang namanya survei geolistrik dengan cara
mempenetrasikan arus buatan dari suatu alat yang nantinya arus yang diberikan akan berasosiasi
dengan "barang - barang" di bawah permukaan bumi sampai akhirnya arus itu kembali ke
permukaan sebagai apa yang dikenal orang apparent resistivity atau hambat jenis semu. nantinya
nilai - nilai diskrit yang muncul pada masing - masing titik pengukuran geolistrik dan memiliki
nilai hambat jenis semu yang berbeda - beda lalu diolah menjadi nilai hambat jenis sebenarnya
(true resistivity) dan kemudian bisa jadi peta hambat jenis setelah kita lakukan interpolasi
geostatistik untuk mendapatkan peta hambat jenis. trus setelah itu apa yang kita dapat? kita bisa
dapatkan "penampakan" yang menunjukkan di daerah mana yang nilai hambat jenisnya tinggi
sampai yang rendah. biasanya para geosaintis itu "prefer" ke anomali. anomali adalah data yang
unik dari sekian banyak data yang tersaji. anomali dalam dunia geolistrik bisa jadi objek
tambang yang nilai resistivitasnya extremely rendah atau objek migas yang nilai resistivitasnya
extremely tinggi. simpelnya begitu.
Metode Seismik
begitu pun dengan metode geofisika untuk "menerawang" bawah permukaan bumi dalam satuan
kecepatan. kita memerlukan semacam sinyal artifisial untuk mempenetrasikan gelombang
seismik ke dalam permukaan bumi yang nantinya sinyal tsb akan dipantulkan sebagian ke
permukaan dan diterima sebagai waktu tempuh gelombang mekanik melewati medium - medium
perlapisan di bawah permukaan bumi. data yang terekam oleh mesin recording kemudian
didemultiplex ke dalam format ascii sehingga berbentuk matriks yang panjaaaaaaaaaangg sekali
sebagai fungsi deret waktu dan offset (ini ngomongin apa ya? haha. oke skip.) nah setelah jadi
penampang seismik nih melalui proses pengolahan data seismik yang panjang (bisa dirujuk
dari sini) kita kemudian melakukan yang namanya tahapan interpretasi seismik.
Tahapan Interpretasi
Interpretasi seismik itu terdiri dari 2 bagian, yaitu interpretasi kualitatif dan interpretasi
kuantitatif. Interpretasi kualitatif itu contohnya seperti menentukan batas - batas antar formasi
menggunakan penunjuk refleksi refleksi kuat pada data penampang seismik, jadi masih belum
menggunakan dasar perhitungan apa - apa. penarikan horison sebagai representasi dari batas
antar formasi juga tanpa guidance dari data sumur. biasanya tahapan ini dilakukan di lapangan
yang masih "virgin" a.k.a belum pernah dibor sama sekali. sedangkan interpretasi kuantitatif itu
terdiri dari macam - macam metode geofisika seperti inversi seismik, analisis atribut seismik,
dsb.
tahapan interpretasi biasanya diawali dengan kualitatif lalu kemudian ke kuantitatif. sejatinya
kita akan memulai sesuatu dengan yang lebih umum dulu baru ke yang khusus kan. demikianlah
tahapannya:
1. Kalibrasi Time Depth
data seismik post stack pada umumnya masih dalam domain TWT (two way time) dan data
sumur dalam MD (measured depth). data sumur biasanya dikonversi dulu ke dalam TVD (true
vertical depth) karena MD itu adalah kedalaman yang terukur dari Kelly Bushing bukan dari
datum yang standar yaitu MSL (muka air laut).
2. Well To Seismic Tie
di dalam tahapan ini kita melakukan yang namanya pengikatan sumur ke data seismik, simpelnya
ya mencocokkan misal di kedalaman sekian feet pada sumur itu berarti di time sekian pada
seismik. ini diperlukan untuk nantinya kita bisa melakukan yang namanya picking horison.
pengikatan data sumur ke seismik ini menjadi begitu penting karena kalau saja pengikatan ini
tidak pas, maka kesalahan tersebut akan diwariskan pada tahapan interpretasi selanjutnya.
Pengikatan data sumur dan data seismik dikalibrasi menggunakan data checkshot atau VSP. jika
data checkshot atau VSP tidak ada, kita kemudian bisa membuat pseudolog dari data seismik
yang kemudian bisa dijadikan pedoman untuk pengikatan, bisa juga melakukan proses T/D
relation berdasar pada formula Dix atau bisa juga dengan cara analisis kecepatan dari data
seismik.
3. Picking Horison
Untuk apa sih picking horison? Kita mendapatkan data seismik dalam bentuk post stack time
migrated sebagai deretan gelombang yang bervariasi terhadap waktu (ms) dan juga offset (m)
sedangkan perlapisan batuan itu sendiri memiliki pola/ pattern yang mengikuti pola strata atau
pengendapan. Biasanya singkapan pola pengendapan itu kita bisa lihat di outcrop di lapangan
geologi, dari sana kita bisa mengenal yang namanya pola sikuen. ada yang namanya hummocky,
onlap, toplap, downlap, dan lain sebagainya. untuk itulah kita lakukan pemilahan "umur"
berdasarkan marker strata yang kita mau.
umumnya untuk studi awal, geosaintis akan melakukan picking berdasarkan refleksi seismik
yang kuat dan kontinu, ini dikarenakan asumsi bahwa setiap muka gelombang memasuki
medium baru, maka akan terjadi kontras impedansi yang menghasilkan pola strong reflection
dalam data seismik.
lain lagi halnya jika kita memiliki data sumur yang cukup lengkap ditambah dengan marker dari
hasil korelasi log. marker adalah penanda yang dicantumkan pada data sumur, bisa ditarik
berdasarkan pola sikuen yang disebut dengan analisis log stratigrafi atau kronostratigrafi, bisa
didasarkan pada fosil penanda umur disebut dengan biostratigrafi, dsb. penarikan horison juga
menghasilkan model frekuensi rendah sebagai input dalam proses seismik inversi nantinya.
4. Pembuatan Model Konseptual
Setelah melakukan penarikan horison berdasarkan pola yang kita inginkan, maka selanjutnya
adalah membuat model konseptual yang merupakan hasil dari asumsi awal tentang bagaimana
kondisi bawah permukaan. Model konseptual juga bisa disebut dengan model frekuensi rendah
karena model ini dihasilkan dari korelasi log dan juga penarikan horison seismik. mengapa
disebut model frekuensi rendah? Data seismik memiliki cakupan gelombang yang besar,
sedangkan sumur memiliki cakupan gelombang yang kecil. Sehingga pada saat kita melakukan
yang namanya proses inversi, yang didasarkan pada hasil proses dekonvolusi data seismik dan
reflektivitas maka akan didapatkan hasil yang bandlimited. korelasi sumur inilah yang
memberikan kelengkapan pada data yang tidak terkandung pada hasil inversi bandlimited tadi.
INTERPRETASI DATA SEISMIK
Tujuan dari interpretasi seismik secara umum menurut adalah untuk mentransformasikan profil
seismik refleksi stack menjadi suatu struktur kontinu/model geologi secara lateral dari
subsurface
Tujuan khusus dari interpretasi data seismik antara lain :
1. Pemetaan Struktur-Struktur Geologi
Untuk pemetaan struktur-struktur geologi pada data seismik, posisi horizon-horizon utama
dan gangguan dipetakan dan bentuk serta posisi sesar [Link] adalah untuk
memperoleh profil geologi dan untuk memperoleh kedalaman horizon serta gangguan.
2. Analisis Sekuen Seismik
Tujuan utama dari analisis sekuen seismik adalah :
Mengidentifikasi batas-batas sekuen pada data seismik
Menentukan sekuen pengendapan dalam waktu
Menganalisis fluktuasi muka air laut
3. Analisis Fasies Seismik
Sekuen seismik dapat juga untuk menyelidiki karakteristik refleksi di dalam suatu sekuen,
yang berhubungan dengan seismik fasies. Tidak hanya waktu sekuen sendimentasi yang
diperoleh namun juga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan yang dapat
menggambarkan tentang lingkungan pengendapannya. Tujuan interpretasi seismik khusus
dalam eksplorasi minyak dan gas bumi adalah untuk menentukan tempat-tempat
terakumulasinya (struktur cebakan-cebakan) minyak dan gas. Minyak dan gas akan
terakumulasi pada suatu tempat jika memenuhi tiga syarat, yaitu:
a. Adanya Batuan sumber (source rock), adalah lapisan-lapisan batuan yang merupakan tempat
terbentuknya minyak dan gas,
b. Batuan Reservoir yaitu batuan yang permeabel tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi
setelah bermigrasi dari batuan sumber,
c. Batuan Penutup, adalah batuan yang impermeabel sehingga minyak yang sudah terakumulasi
dalam batuan reservoir akan tetap tertahan di dalamnya dan tidak bermigrasi ke tempat yang lain