0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan15 halaman

Mekanisme Kerja Fentanyl dalam Analgesia

Opioid telah digunakan sejak ribuan tahun sebagai analgesik. Opioid bekerja dengan mengikat reseptor opioid di sistem saraf pusat, terutama batang otak dan medula spinalis. Terdapat empat jenis reseptor opioid yaitu mu, kappa, delta, dan sigma yang masing-masing menghasilkan efek analgesik, sedasi, atau stimulasi respirasi. Contoh preparat opioid adalah morfin, fentanil, dan tramadol.

Diunggah oleh

WSADF
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan15 halaman

Mekanisme Kerja Fentanyl dalam Analgesia

Opioid telah digunakan sejak ribuan tahun sebagai analgesik. Opioid bekerja dengan mengikat reseptor opioid di sistem saraf pusat, terutama batang otak dan medula spinalis. Terdapat empat jenis reseptor opioid yaitu mu, kappa, delta, dan sigma yang masing-masing menghasilkan efek analgesik, sedasi, atau stimulasi respirasi. Contoh preparat opioid adalah morfin, fentanil, dan tramadol.

Diunggah oleh

WSADF
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

Opioids telah digunakan sejak ribuan tahun sebagai penghilang rasa nyeri.
Opioid menunjukkan semua substansi eksogen, alami atau buatan, yang mengikat
secara spesifik reseptor opioid dan menimbulkan beberapa gejala agonis seperti
morfin. Opiate adalah istilah yang digunakan untuk obat-obatan yang berasal dari
opium. Kata opium berasal dari bahasa Yunani untuk sari buah opium.
Opioid disebut juga sebagai analgesik narkotika yang sering digunakan
dalam anestesi untuk mengendalikan nyeri saat pembedahan dan nyeri
pascabedah.
Opioid bekerja pada reseptor opioid di presinaps dan postsinaps di sistem
saraf pusat (SSP) terutama batang otak dan medula spinalis. Terdapat tiga jenis
reseptor opioid, yakni reseptor mu, kappa, dan delta. Contoh preparat opioid
adalah morfin, meperidin, fentanil, sulfentanil, kodein, dan tramadol.

1
BAB II
PEMBAHASAN

Opioid terikat pada respetor spesifik sepanjang sistim saraf pusat dan
jaringan lain. 4 tipe reseptor opioid telah dapat diidentifiksi, yaitu mu (-1 dan -
2), kappa (), delta (), dan sigma ().

Selain mempunyai efek sedasi, opioid juga dapat memberikan efek


analgesik. Efek farmakodinamik yang ditimbulkan tergantung dari reseptor mana
yang diikat, kuatnya ikatan dan apa yang timbul dari aktivasi reseptor.

Aktivasi dari reseptor opioid menghambat neurotransmitter eksitasi


(misalnya Asetilkolin, substansi P) pada pre-sinaps maupun post-sinaps serabut
saraf nyeri. Secara selular, terjadi gangguan pada aliran ion kalium dan klorida
sehingga transmisi dari impuls nyeri terganggu. Hambatan impuls nyeri dapat
terjadi pada tingkat kornu posterior bila opioid diberikan secara epidural maupun
intratekal. Selain itu terjadi pula penghambatan descending inhibitory pathway
melalui nucleus raphe magnus ke kornu posterio medulla spinalis.

Klasifikasi Reseptor Opioid

Reseptor Efek Klinis Agonis


Mu Analgesia supraspinal Morfin
Depresi pernapasan Met-enkephalin
Ketergantungan fisik Beta-endorphin
Kekakuan otot Fentanyl
Kappa Sedasi Morfin
Analgesia spinal Nalbuphine
Butorphanol
Dynorphin
Oxycodone
Delta Analgesia Leu-enkephalin

2
Tingkah laku Beta-endorphine
Epileptogenik
Sigma Disforia Pentazosin
Halusinasi Nalorphine
Stimulasi Respirasi Ketamin

Struktur dan Aktivitas

Struktur obat-obatan opioid mempunyai gambaran yang umum. Perubahan


molekular kecil dapat memberikan perubahan yang besar, bahkan mengubah suatu
obat agonis menjadi antagonis.

Farmakokinetik

Absorbsi

Absorbsi terjadi secara cepat dan lengkap setelah pemberian morfin dan
meperidin secara intramuskular dalam 20 60 menit. Pemberian fentanyl lollipop
(oral transmukosal fentanyl sitrat) merupakan salah satu cara yang efektif untuk
memberikan efek analgesia dan sedasi dan mempunyai mula kerja yang cepat (10
menit) dengan dosis 15-20 g/kg untuk anak-anak dan 200 800 g untuk
dewasa.

Fentanyl mempunyai berat molekul yang rendah dan kelarutan lemak


yang tinggi sehingga memungkinkan untuk diabsorbsi secara transdermal.
Obat yang diabsorbsi bergantung pada luas permukaan namun dapat
dipengaruhi juga oleh kondisi sirkulasi darah daerah tersebut.

Absorbsi pada jam-jam pertama berjalan lambat, hingga akhirnya


mencapai konsentrasi pada plasma darah yang stabil setelah 14 24 jam
pemberian dan dapat berlanjut hingga 72 jam. Adanya reservoir pada

3
dermis bagian atas menyebabkan turunnya konsentrasi plasma yang cukup
lama walupun setelah patch dilepas. Akan tetapi tingginya insidensi mual dan
kadar dalam darah yang bervariasi membatasi penggunaan fentanyl patch
untuk penanganan nyeri post operatif.

Distribusi

Waktu paruh distribusi obat-obat opioid berlangsung dalam waktu yang


cepat (5 20 menit). Kelarutan lemak yang rendah dari morfin menyebabkan
morfin lambat melintasi sawar darah otak sehingga mula kerjanya lambat dan
lama kerjanya panjang. Hal ini berlawanan dengan fentanyl dan sufentanil
yang mempunyai kelarutan lemak yang tinggi sehingga mula kerja dan lama
kerjanya singkat. Alfentanil mempunyai mula kerja dan lama kerja yang
lebih singkat dari fentanyl setelah pemberian secara bolus walaupun
mempunyai kelarutan lemak yang lebih rendah, hal ini disebabkan tingginya
fraksi non ionic alfentanil pada pH fisiologis dan tingginya jumlah obat
dalam bentuk bebas yang beredar sehingga meningkatkan
bioavailabilitasnya dalam darah. Opioid dapat langsung diserap oleh paru-paru
(first pass uptake) dan hal ini bergantung pada akumulasi obat di paru-paru
sebelumnya (menurun), riwayat merokok (meningkat), dan pemberian obat
anestesi (menurun).

Redistribusi mengakhiri efek opioid pada dosis kecil, sementara dosis


yang besar membutuhkan biotransformasi.

Biotransformasi

Opioid bergantung pada hati untuk biotransformasinya dan dipengaruhi


aliran darah hati. Alfentanil banyak terdapat dalam jumlah bebas sehingga

4
waktu paruh eliminasinya pendek (1 1/2 jam). Morfin mengalami konyugasi
dengan asam glukuronat membentuk morfin 3-glukuronat dan morfin 6-
glukuronat. Meperidin dimetilasi menjadi normeperidin suatu bentuk metabolit
aktif yang sering dihubungkan dengan munculnya kejang. Hasil akhir
metabolisme fentanyl, sufentanil dan alfentanil menjadi bentuk inaktif.

Struktur ester dari remifentanil memungkinkan opioid ini mengalami


hidrolisa dengan esterase non spesifik dalam darah maupun jaringan
sehingga waktu parah eliminasinya sangat singkat, kurang dari 10 menit.
Biotransformasi dari remifentanil terjadi amat cepat sehingga pemberian
infus remifentanil hanya berefek kecil terhadap waktu pulih. Tidak adanya
akumulasi obat setelah pemberian bolus berulang maupun infus dalam
waktu lama membedakan remifentanil dari obat opioid lainnya. Selain itu
dengan adanya hidrolisis ekstrahepatik pasien dengan disfungsi hati pun
tidak akan mengalami efek toksik dari metabolit.

Karakteristik Opioid yang Mempengaruhi Distribusi

Obat Fraksi non ionik Ikatan Protein Kelarutan Lemak


Morfin ++ ++ +
Meperidin + +++ ++
Fentanyl + +++ ++++
Sufentanil ++ ++++ ++++
Alfentanil ++++ ++++ +++
Remifentanil +++ +++ ++

Efek pada Organ Tubuh

Kardiovaskular

Secara umum opioid tidak terlalu mengganggu fungsi kardiovaskular.


Meperidin cenderung meningkatkan denyut jantung, sementara dosis tinggi

5
morfin, fentanyl, sufentanil, remifentanil dan alfentanil menyebabkan bradikardia,
kecuali meperidin, opioid tidak menghambat kontraktilitas miokard akan tetapi
tekanan darah arteri biasanya turun, sebagai hasil dari bradikardia, venodilatasi
dan penurunan refleks simpatis yang kadang membutuhkan pemberian vasopresor
(efedrin).

Lebih jauh lagi, morfin dan meperidin menyebabkan pelepasan histamin


yang dpat menybebkan penurunan tekanan darah dan resistensi vascular yang
cukup besar. Efek ini dapat diminmalisasi dengan pemberian opioid dengan infus
perlahan, menjaga volume intravaskular yang adekuat, dan premedikasi dengan
antagonis histamin H1 dan H2.

Kenaikan tekanan darah pada pemberian morfin dan meperidin jarang


terjadi, dan bila terjadi itu biasanya anestesi yang dangkal dan dapat dikendalikan
dengan penambahan vasodilator atau obat anesetsi inhalasi.

Kombinasi opioid dengan obat anestesi lain (misalnya N20 benzodiaz


kedalamanin, barbiturat, dan anestesi inhalasi dapat menyebabkan depresi
miokard yang sinifikan).

Respirasi

Opioid mendepresi respirasi terutama frekuensi respirasi. CO2 meningkat


dan respons terhadap CO2 menurun. Efek ini terjadi melalui pusat pernapasan di
batnag otak, di mana ambang apnea PaCO2 di mana pasien menjadi apnea-
meningkat, sedangkan hypoxic drive menurun. Efek depresi pernapasan pada
perempuan lebih besar.

6
Morfin dan meperidin dapat menyebabkan bronkospasme yang disebabkan
pelepasan histamin pada pasien yang rentan. Opioid (terutama fentanyl,
sufentanil, dan alfentanil) dapat menimbulkan kekakuan dinding dada
hingga ke tingkat dapat menghambat ventilasi yang adekuat. Keadaan ini
disebabkan oleh mekanisme secra sentraldan dapat dietesi dengan
pemberian pelumpuh otot. Opioid dapat pula digunakan untuk
menumpulkan respons bronkokonstriktif akibat stimulasi jalan napas seperti
yang timbul saat intubasi.

Sistem Syaraf Pusat

Secara umum opioid mengurangi konsumsi oksigen otak, aliran darah


otak, dan tekanan intrakranial tetapi pada potensi yang lebih lemah daripada
barbiturat maupun benzodiazepin yang pada akhirnya mampu menjaga otak tetap
dalam keadaan normokarbia.

Ditemukan juga bahwasetelah pemberian bolus pasien dengan tumor otak


ataupun trauma kepala terjadi peningkatan kecepatan aliran darah dan tekanan
intrakranial. Selain itu karena opioid memberikan efek penurunan MAP,
penurunan CPP terjadi secara signifikan pada pasien dengan volume intrakranial
yang terganggu. Fentanyl jarang menimbulkan kejang, walaupun pernah
ditemukan beberapa kasus.

Rangsangan pada CTZ menjadi penyebab tingginya mual dan muntah,


dapat terjadi ketergantungan fisik terhadap opioid yang biasanya terjadi pada
pasien dengan pembeian opioid berulang. Tidak seperti barbiturat dan
benzodiazepin, dibutuhkan dosis besar untuk memberikan efek hipnotik pada
pasien.

Opioid tidak memberikan efek amnesia. Pembeian secara intravena


menjadi pilihan sebagai analgesia dan penggunaannya kini semakin meluas

7
dengan penggunaan opioid epidural ataupun subdural yang memberikan
perubahan yang besar dalam penanganan nyeri.

Sameridine mempunyai struktur yang menyerupai meperidine namun


dalam penggunaan klinis tidak menunjukkan efek klasik opioid yang menonjol
seperti (mual, muntah, dan gatal-gatal). Pemberian meperidine intravena (25 mg)
memberikian efek yang paling efektif untuk mengurangi keadaan menggigil.

Gastrointestinal

Opioid memperlambat waktu pengosongan lambung dengan mengurangi


peristaltik. Dapat juga terjadi kolik bilier akibat rangsangan morfin terhadap
kontraksi sphincter Oddi. Spasme bilier yang dapat menyamarkan batu duktus
koledokus saat kolangiografi dapat ditekan dengan pemberian antagonis morfin
murni (naloxon).

Pada pasien dengan pemberian jangka panjang, efek samping pada saluran
gastrointestinal biasanya sudah dapat ditolerir kecuali konstipasi akibat
berkurangnya motilitas lambung.

Endokrin

Respons stress terhadap operasi dapat dilihat dengan adanya sekresi


hormon-hormon tertentu termasuk katekolamin, antidiuretik hormon, dan kortisol.
Opioid menghambat pelepasan hormon lebih menyeuruh dari anestesi inhalasi.
Efek ini terutama diperoleh dari opioid yang kuat seprti fentanyl, sufentanil,
alfentanil dan remifentanil. Pasien dengan penyakit jantung iskemik akan
memperoleh keuntungan dari penghambatan stress respons ini.

Interaksi Obat

8
Kombinasi opioid dengan MAO inhibitor dapat menimbulkan gagal
napas, hipertensi atau hipotensi, koma, dan hiperpireksia dengan mekanisme yang
belum diketahui.

Opioid mempunyai efek sinergis dengan obat-obatan barbiturat,


benzodiazepin, dan depresan SSP lainnya.

Biotransformasi alfentanil akan terhambat dengan pemberian


erythromycin sehingga menyebabkan efek sedasi yang memanjang hingga gagal
napas.

BEBERAPA GOLONGAN OPIOD

1. Morfin
Morfin adalah bentuk pertama agonis opioid dan pembanding bagi opioid
lainnya. Pada manusia, morfin menghasilkan analgesi, euforia, sedasi, dan
mengurangi kemampuan untuk berkonsentrasi, nausea, rasa hangat pada tubuh,
rasa berat pada ekstrimitas, mulut kering, dan pruritus, terutama di wilayah kulit
sekitar hidung. Morfin tidak menghilangkan penyebab nyeri, tetapi meningkatkan
ambang nyeri dan mengubah persepsi berbahaya yang dialami tidak sebagai nyeri.
Efek analgesia akan optimal apabila morfin diberikan sebelum stimulus nyeri
timbul.

2. Fentanyl
Fentanil dan analognya sulfentanil dan alfentanil saat ini sering digunakan
sebagai opioid pada klinis anastesi. Fentanyl pertama kali disintesis pada tahun
1960, strukturnya berhubungan dengan penilpiperidin. Dan mempunyai potensi
rasio sebesar 50 sampai 100 kali dibandingkan dengan morfin. Fentanyl adalah
opioid sintetik turunan fenilpiperidine yang secara struktur mirip dengan
meperidine.
Dosis tunggal fentanyl secara IV memiliki onset yang lebih cepat dan
durasi yang lebih pendek daripada morfin. Onset fentanyl yang cepat

9
menunjukkan kelarutan lemak yang lebih tinggi dan durasi yang pendek
menunjukkan distribusi yang cepat ke jaringan yang tidak aktif dibandingkan
dengan morfin.
Fentanyl dimetabolisme oleh N-demethylation menjadi norfentanyl,
hydroxyproprionil-fentanyl dan hidroxyproprionyl-fentanyl. Norfentanyl mirip
dengan normeperidine dan merupakan metabolit utama pada tubuh. Metabolit ini
diekskresikan melaui ginjal dan dapat dideteksi dalam urin hingga 72 jam
pemberian. Aktivitas farmakologis metabolit fentanyl sangat minimal.
Walaupun secara klinis fentanyl memiliki durasi yang pendek, namun
waktu paruhnya lebih panjang dibandingkan morfin. Hal ini disebabkan volume
distribusi fentanyl lebih besar daripada morfin. Setelah pemberian IV, fentanyl
tersebar secara cepat ke jaringan. Lebih dari 80% obat akan hilang dari plasma
dalam waktu <5 menit. Namun waktu paruh yang panjang terjadi karena adanya
pengambilan kembali fentanyl yang telah ada di jaringan. Pemanjangan waktu
paruh juga terjadi pada orang tua karena aktivitas metabolisme di hati menjadi
lambat.
Semua opioid mengalami penurunan konsentrasi plasma setelah melewati
jalur kardiopulmonal. Namun fentanyl akan mengalami penurunan konsentrasi
plasma yang sangat besar akibat tingginya perlekatan obat terhadap jalur
kardiopulmonal. Jalur kardiopulmonal ini juga yang menyebabkan eliminasi
fentanyl dari plasma menjadi lebih lama.
Dosis penggunaan klinis fentanyl cukup lebar. Dosis kecil fentanil, 1-2
g/kg IV menyebabkan analgesia, dosis 2-20 g/kg IV sebagai tambahan anestesi
inhalasi. Penggunaan fentanil sebagai analgesik sebelum operasi membantu
pengurangan dosis opioid yang digunakan sebagai anlgesik post operasi.
Penggunaan fentanil dosis 1,5-3 g/kg IV 5 menit sebelum induksi akan
mengurangi dosis isoflurane atau desflurane dengan hanya 60% N2O yang
dibutuhkan untuk memblok respon saraf simpatis. Dosis besar fentanyl, 50-150
g/kg IV dapat digunakan sebagai obat tunggal anestesi. Keuntungan penggunaan
fentanil sebagai obat tunggal yaitu, (a) kurangnya efek depresi miokard, (b) tidak
terjadinya pelepasan histamin, (c) tidak ada stress terhadap pembedahan. Kerugian

10
yang didapat yaitu, (a) tidak dapat mencegah respon simpatis terhadap nyeri, (b)
kemungkinan pasien sadar, (c) depresi napas post operasi. Fentanyl juga diberikan
secara transmukosal dengan dosis 5-20 g/kg. Tujuannya untuk mengurangi
kecemasan preoperasi dan membantu induksi anestesi teutama pada anak-anak.
Sebagai premedikasi, fentanyl juga dapat diberikan secara transdermal sebelum
operasi dan dibiarkan hingga 24 jam post operasi untuk mengurangi dosis opioid
yang digunakan sebagai analgesia. Pemberian secara transdermal dengan dosis
75-100 g/jam akan mencapai konsentrasi puncak setelah 18 jam.
Fentanyl dalam dosis besar tidak mendorong terjadinya pelepasan histamin
sehingga tidak menimbulkan terjadinya hipotensi. Namun efek bradikardi lebih
tinggi dibanding morfin yang dapat menurunkan cardiac output dan mengganggu
tekanan darah. Kejang Kejang dapat timbul pada pemberian cepat IV fentanil,
sufentanil dan alfentanil. Walaupun dalam pemeriksaan EEG tidak ditemukan
adanya aktivitas kejang.
Tekanan Intrakranial Pemberian fentanil dan sufentanil pada pasien cedera
kepala akan menaikkan sedikit ICP (6-9 mmHg) dan juga diikuti penurunan
tekanan arteri rata-rata dan tekanan perfusi otak.
Konsentrasi analgesik fentanil akan mempotensiasi efek midazolam dan
menurunkan dosis propofol yang dibutuhkan. Kombinasi opioid-benzodiazepine
menunjukkan sinergi antara hypnosis dan depresi napas. Namun keuntungan
kombinasi ini lebih besar dibandingkan kerugian yang didapat.

3. Petidin
Petidin (meperidin, demerol) [Link] zat sintetik yang formulanya sangat
berbeda dengan morfin, tetapi mempunyai efek klinik dan efeksamping yang
mendekati.
Dosis petidin intramuskular 1-2 mg/kgbb (morfin 10 kali lebih kuat) dapat
diulang tiap 3-4 jam. Dosis intravena 0,2-0,5 mg/kgbb. Petidin subkutan tidak
dianjurkan karena iritasi. Rumus bangun menyerupai lidokain, sehingga dapat
digunakan untuk analgesik spinal pada pembedahan dengan dosis 1-2 mg/kgbb.

11
4. Tramadol
Tramadol merupakan analgesik yang bekerja secara sentral dengan
berikatan pada reseptor mu dan berikatan lemah pada reseptor kappa dan delta.
Potensi analgesik tramadol 5-10 kali lebih lemah daripada morfin. Tramadol
dengan dosis 3 mg/kg dapat diberikan secara oral, IM atau IV untuk mengatasi
nyeri sedang hingga berat. Keuntungan pemberian tramadol adalah tidak adanya
depresi napas, dan tidak menyebabkan ketergantungan pada obat serta memiliki
toksisitas organ yang rendah. Selain itu, efek perlambatan pengosongan lambung
juga lebih rendah dibanding opioid lain dan efek sedasi yang minimal.

Antagonis Opioid

Nalokson
Nalokson adalah antagonis murni opioid dan bekerja padareseptor mu,
delta, kappa, dan sigma. Pemberian nalokson pada pasien setelah mendapat
morfin akan terlihat laju napas meningkat, kantuk menghilang, pupil mata dilatasi,
tekanan darah kalau sebelumnya rendah akan meningkat.
Nalokson biasanya digunakan untuk melawan depresi napas pada akhir
pembedahan dengan dosis dicicil 1-2 g/kgbb iv dapat diulang tiap 3-5 menit,
sampai ventilasi dianggap baik. Dosis lebih dari 0,2 mg jarang digunakan. Dosis
intramuskular 2 kali dosis intravena. Padakeracunan opioid nalokson dapat
diberikan per-infus dosis 3-10g/kgbb.

BAB III FENTANYL


PENDAHULUAN
Opioid adalah semua zat baik sintetik atau natural yang dapat berikatan
dengan reseptor morfin, misalnya. Opioid disebut juga sebagai analgesia narkotik
yang sering digunakan dalam anastesia untuk mengendalikan nyeri saat
pembedahan dan nyeri pasca pembedahan. Obat-obat opioid yang biasanya
digunakan dalam anastesi antara lain adalah morfin, petidin dan fentanil.1
Fentanil adalah zat sintetik seperti petidin dengan kekuatan 100 x morfin.
Fentanil merupakan opioid sintetik dari kelompok fenilpiperedin. Lebih larut
dalam lemak dan lebih mudah menembus sawar jaringan.

12
FARMAKODINAMIK
Opioid berikatan pada reseptor spesifik yang terletak pada system saraf pusat dan
jaringan lain. Empat tipe mayor reseptor opioid yaitu , ,,,. Walaupun opioid
menimbulkan sedikit efek sedasi, opioid lebih efektif sebagai analgesia.
Farmakodinamik dari spesifik opioid tergantung ikatannya dengan reseptor,
afinitas ikatan dan apakah reseptornya aktif. Aktivasi reseptor opiat menghambat
presinaptik dan respon postsinaptik terhadap neurotransmitter ekstatori (seperti
asetilkolin) dari neuron nosiseptif. Turunan fenilpiperidin ini merupakan agonis
opioid poten. Sebagai suatu analgesik, fentanil 75-125 kali lebih poten
dibandingkan dengan morfin. Awitan yang cepat dan lama aksi yang singkat
mencerminkan kelarutan lipid yang lebih besar dari fentanil dibandingkan dengan
morfin. Fentanil meningkatkan aksi anestetik lokal pada blok saraf tepi. Keadaan
itu sebagian disebabkan oleh sifat anestetsi lokal yamg lemah (dosis yang tinggi
menekan hantara saraf) dan efeknya terhadap reseptor opioid pada terminal saraf
tepi. Fentanil dikombinasikan dengan droperidol untuk menimbulkan
neureptanalgesia.2

Sistem kardiovaskuler
Sistem kardiovaskuler tidak mengalami perubahan baik kontraktilitas otot jantung
maupun tonus otot pembuluh darah. Tahanan pembuluh darah biasanya akan
menurun karena terjadi penurunan aliran simpatis medulla, tahanan sistemik juga
menurun hebat pada pemberian meperidin atau morfin karena adanya pelepasan
histamin.3

Sistem pernafasan
Dapat meyebabkan penekanan pusat nafas, ditandai dengan penurunan frekuensi
nafas, dengan jumlah volume tidal yang menurun. PaCO2 meningkat dan respon
terhadap CO2 tumpul sehingga kurve respon CO2 menurun dan bergeser ke
kanan, selain itu juga mampu menimbulkan depresi pusat nafas akibat depresi
pusat nafas atau kelenturan otot nafas, opioid juga bisa merangsang refleks batuk
pada dosis tertentu.

13
Sistem gastrointestinal
Opioid menyebabkan penurunan peristaltik sehingga pengosongan lambung juga
terhambat.

Endokrin
Fentanil mampu menekan respon sistem hormonal dan metabolik akibat stress
anesthesia dan pembedahan, sehingga kadar hormon katabolik dalam darah relatif
stabil.

FARMAKOKINETIK
Fentanil bersifat lipofilik yang memungkinkan obat ini masuk susunan saraf pusat
dengan cepat.. Kadar puncak fentanil dalam darah dicapai dalam 515 menit,
onset secara suntikan intravena tercapai dalam 30 detik, dan diikuti lama kerjanya
obat dalam darah selama 3060 menit. Setelah suntikan intravena ambilan dan
distribusinya secara kualitatif hampir sama dengan dengan morfin, tetapi fraksi
terbesar dirusak paru ketika pertama kali melewatinya. Fentanil dimetabolisir oleh
hati dengan N-dealkilase dan hidrosilasidan, sedangkan sisa metabolismenya
dikeluarkan lewat urin.4

INDIKASI
Efek depresinya lebih lama dibandingkan efek analgesinya.
Anestesi general : anestesi durante operasi, induksi anestesia.

EFEK SAMPING
Efek yang tidak disukai ialah kekakuan otot punggung yang sebenarnya dapat
dicegah dengan pelumpuh otot. Dosis besar dapat mencegah peningkatan kadar
gula, katekolamin plasma, ADH, rennin, aldosteron dan kortisol.
Obat terbaru dari golongan fentanil adalah remifentanil, yang dimetabolisir oleh

14
esterase plasma nonspesifik, yang menghasilkan obat dengan waktu paruh yang
singkat, tidak seperti narkotik lain durasi efeknya relatif tidak tergantung dengan
durasi infusinya.5

DOSIS
Dosis 1-3 mg/kg BB analgesianya hanya berlangsung 30 menit, karena itu hanya
dipergunakan untuk anastesia pembedahan dan tidak untuk pasca bedah. Dosis
besar 50-150 mg/kg BB digunakan untuk induksi anastesia dan pemeliharaan
anastesia dengan kombinasi bensodioazepam dan inhalasi dosis rendah, pada
bedah jantung.6

SEDIAAN
Sediaan yang tersedia adalah cairan injeksi 50 mg/ml.

DAFTAR PUSTAKA

1. Said A, Kartini A, Ruswan M. Tatalaksana Nyeri: Anestesiologi. Edisi Kedua.


Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif; 2002, 77-82.
2. Barash PG, Cullen BF, Stoelting RK. Opioids: Clinical Anasthesia (e-book).
5th Edition. Philadelphia: Lipincott William & Wilkins; 2006, 353-379.
3. Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ. Nonvolatile Anesthetic Agents:
Clinical Anesthesiology (e-book). 4th Edition. United States of America: the
McGraw-Hill Companies, Inc; 2006.

15

Anda mungkin juga menyukai