0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
98 tayangan4 halaman

Metode dan Ruang Sterilisasi CSSD

Dokumen tersebut membahas tentang CSSD dan teknik sterilisasi. Ia menjelaskan sejarah perkembangan CSSD, berbagai metode sterilisasi seperti sterilisasi uap panas, gas etilen oksida, panas kering, dan plasma. Dokumen juga menjelaskan proses dekontaminasi, pembersihan, pengemasan, dan penyimpanan barang steril.

Diunggah oleh

Ceril
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
98 tayangan4 halaman

Metode dan Ruang Sterilisasi CSSD

Dokumen tersebut membahas tentang CSSD dan teknik sterilisasi. Ia menjelaskan sejarah perkembangan CSSD, berbagai metode sterilisasi seperti sterilisasi uap panas, gas etilen oksida, panas kering, dan plasma. Dokumen juga menjelaskan proses dekontaminasi, pembersihan, pengemasan, dan penyimpanan barang steril.

Diunggah oleh

Ceril
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CSSD DAN TEHNIK STERIL

A. Sejarah

Berkembangnya berbagai disiplin ilmu mempunyai konstribusi yang besar terhadap


evolusi CSSD, termasuk perkembangan ilmu kedokteran, keperawatan, mikrobiologi, sanitasi,
kesehatan masyarakat, kimia maupun ilmu manajemen. Perkembangan CSSD dimulai ketika
teori mikroorganisme mulai dikenal pada thn 1865, dimana saat itu mulai dipahami alat alat
bedah maupun pakaian bedah yang perlu disterilkan sehingga diperlukan suatu departemen
khusus yang mengerjakan fungsi tersebut. Thn 1924, mulai tercipta peralatan medis yang lebih
kompleks sehingga memerlukan penanganan yang lebih seksama mulai dari pembersihan,
packaging, sterilisasi, penyimpanan maupun distribusinya yang tidak hanya kamar bedah tetapi
ruangan/ departemen lain sehingga dibentuklah CSSD.

B. Sterilisasi

Sterilisasi adalah proses penghancuran semua mikroorganisme termasuk spora melalui


cara fisika/ kimia. Pada thn 1933 era baru mesin sterilisasi uap berkembang dengan
diciptakannya mesin uap dengan dua titik kendali yaitu titik kendali suhu dan tekanan.

Thn 1942 penelitian dilakukan untuk melihat efektifitas daya tahan bunuh system radiasi. Proses
sterilisasi dengan radiasi cukup efektif namun cukup mahal dan terbatas pemakaiannya.

C. Dekontaminasi, pembersihan dan disinfeksi

Proses Dekontaminasi didasarkan pada anggapan bahwa semua alat terkontaminasi dan
potensial menyebabkan infeksi. Ini dikarenakan mikroorganisme tidak terlihat dan alat
mikroskop diperlukan untuk mengamatinya.

Dekontaminasi adalah suatu proses yang dapat memindahkan / menghancurkan mikroorganisme/


subtansi lain yang berbahaya sehingga obyek aman untuk pemakaian selanjutnya. Termasuk
didalamnya pembersihan, disinfeksi dan sterilisasi. Langkah pertama dalam proses
Dekontaminasi dimulai setelah peralatan instrument maupun alat bantu digunakan pada pasien
dan dianggap terkontaminasi.
Cairan untuk perendaman alat dapat berupa air larutan enzimatik larutan detergen maupun
disinfektan. Semua peralatan medis yang terkontaminasi harus diantarkan ke CSSD melalui
ruangan dekontaminasi.

[Link] pembersihan dan dekontaminasi

Proses pembersihan dan dekontaminasi pada dasarnya mengikuti alur ; Pensortiran,


yaitu pemisahan alat pakai ulang dari alat sekali pakai pada titik penggunaannya, kemudian
diikuti perendaman yang bertujuan untuk mencegah terjadinya pengeringan materi protein,
kotoran maupun darah juga untuk memperlunak protein darah sehingga mempermudahkan saat
pembersihan. Pada tahap pembilasan digunakan air biasa dan setelah itu menggunakan air
deionisasi/ air suling untuk menghindari terbentuknya noda noda pada alat stainless. Pencuci
harus menggunakan pakaian pelindung yang kedap air (apron), sarung tangan dan masker. Alat
APD harus lengkap.

[Link]

Disinfeksi adalah suatu tindakan untuk membebaskan/ menghancurkan/ membunuh


mikroorganisme baik pathogen maupun apatogen tetapi tidak beserta sporanya.

Klasifikasi pemisahan peralatan medis menurut Dr. E.H. Spaulding sbb:

1. Peralatan kritis = alat medis yang masuk kedalam jaringan steril tubuh/ kedalam system
sirkulasi darah. Cth, instrument bedah, kateter jantung.
2. Peralatan semikritis = alat medic yang kontak dengan membrane mukosa tubuh. Cth,
Endoskope, ETT, Peralatan anastesi.
3. Peralatan Nonkritis = alat medic yang kontak dengan permukaan kulit. Cth, stetoskope,
alat tensi darah, elektroda diagnostic.

D. Pengemasan/ packing

1. Tujuan dan Fungsi pengemasan

Tujuan utama pada proses sterilisasi untuk membungkus peralatan medis yang akan disterilkan
dan mempertahankan sterilisasi alat tersebut sampai waktu penggunaan.

Kriteria pengemasan sbb :


1. Memungkinkan penetrasi sterilan secara efektif terhadap seluruh kemasan dan isi
kemasan.
2. Memastikan bahwa sterilitas kemasan dapat terjamin sampai waktu kemasan tersebut
dibuka.
3. Memungkinkan untuk mengeluarkan isi dari kemasan tanpa menimbulkan kontaminasi.

2. Jenis bahan pengemasan

Beberapa jenis bahan pengemas yang ada di pasaran dapat berupa :

Linen (tekstil)
Plastik film
Kertas
Kombinasi plastic film kertas

E. Monitoring Sterilisasi

Ada 3 macam indicator memonitoring sterilisasi :

- Indikator Mekanik
Bagian mesin sterilisasi spt, gauge, table, dan indicator suhu maupun tekanan yang
menunjukkan apakah alat sterilisasi bekerja baik.
- Indikator Kimia
Indikator yang menandai terjadinya paparan sterilisasi (misal; uap panas, gas etilen
oksida) pada obyek yang disterilikan dengan adanya perubahan warna.
Indicator kimia diproduksi dalam berbagai bentuk (strip, tape, kartu, vial) serta sensitive
terhadap satu / lebih parameter sterilisasi.
- Indikator Biologi
Sediaan berisi populasi mikroorganisme spesifik dalam bentuk spora yang bersifat
resisten terhadap beberapa parameter yang terkontrol dan terukur dalam proses sterilisasi
tertentu.
Jenis mikroorganisme yang digunakan adalah Bacillus Stearothermophyllu dan Bacillus
Subtilis.

F. Metode Sterilisasi

Metode sterilisasi dibedakan berdasarkan sterilan yang digunakan, diantaranya;

1. Sterilisasi Uap Panas (Steam Sterilization)


Merupakan metode yang paling tua, namun aman dan murah. Metode ini mengunakan
uap panas sebagai sterilan. Mekanisme pembunuhan mikroorganisme dilakukan
menggunakan kombinasi efek dari uap panas selama periode waktu tertentu.
Metode ini hanya digunakan untuk barang/ alat yang stabil terhadap suhu tinggi.
2. Sterilisasi Gas Etilen Oksid (Ethylene Oxide Sterilization)
Menggunakan gas etilen oksid/ kombinasi dengan gas inert lain. Metode ini ada beberapa
parameter yang dibutuhkan dalam jumlah yang tepat untuk dapat membunuh
mikroorganisme, spt; waktu, temperature, konsentrasi gas dan kelembaban relative,
digunakan untuk barang/ alat yang tidak tahan terhadap suhu tinggi.
3. Sterilisasi Panas kering (Dry Heat Sterilization)
Sterilisasi panas kering memerlukan waktu yang lebih lama dengan suhu yang lebih
tinggi dan terjadi pada oven konveksi panas kering. Sterilisasi panas kering biasanya
digunakan untuk alat alat / bahan dimana steam tidak dapa berpenetrasi secara mudah
atau peralatan terbuat dari kaca, misal; botol suction, botol WSD.
4. Sterilisasi Plasma (Plasma Sterilization)
Plasma secara umum didefinisikan sebagai gas terdiri dari electron, ion ion, maupun
partikel partikel neutral.

G. Ruang penyimpanan barang sterilisasi

Ruangan ini sebaiknya berada dekat ruang sterilisasi. Akses keruang penyimpanan steril,
dilakukan oleh petugas pusat sterilisasi yang terlatih, bebas dari penyakit menular dan
menggunakan pakaian yang sesuai dengan persyaratan. Lokasi ruang penyimpanan steril harus
jauh dari lalu lintas utama dan jendela serta pintu sedikit mungkin terisolasi.

Anda mungkin juga menyukai