PROGRAM
RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN
KERJA KONTRAK
(PRA RK3K)
BAB I
TINJAUAN UMUM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)
1. Kebijakan Dasar K3
Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3 merupakan upaya perlindungan
bagi pekerja, yang memuat ketentuan-ketentuan pokok mengenai penerapan dan
pelaksanaan K3 di tempat kerja, dalam rangka menciptakan tempat kerja yang aman,
tenaga kerja selamat dan sehat serta meningkatkan produktivitas kerja secara
berkesinambungan.
Kegagalan dalam mengendalikan keselamatan dan kesehatan di tempat kerja adalah
suatu proses yang dapat menimbulkan kecelakaan, dimana akibat yang ditimbulkan
tidak hanya berdampak negatif terhadap tenaga kerja, akan tetapi dapat juga
mempengaruhi penilaian masyarakat atau pengguna jasa perusahaan tersebut. Oleh
sebab itu penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan suatu cara
untuk menjamin kelangsungan pekerjaan secara berkesinambungan melalui upaya
pencegahan kecelakaan.
Untuk itu maka pengusaha dan atau pengurus perusahaan/tempat kerja harus
menunjukan kepemimpinan dan komitmen terhadap K3 dengan menyediakan
sumberdaya yang memadai dan diwujudkan dalam:
a. menempatkan organisasi K3 pada posisi yang dapat menentukan keputusan
perusahaan;
b. menyediakan anggaran, tenaga kerja yang berkualitas dan sarana-sarana lain yang
diperlukan di bidang K3;
c. menetapkan personil yang mempunyai tanggung jawab, wewenang dan kewajiban
yang jelas dalam penanganan K3;
d. perencanaan dan pelaksanaan K3 yang terkoordinasi; dan
e. melakukan penilaian kinerja dan tindak lanjut pelaksanaan K3.
2. Perencanaan Program K3
Penyedia Pekerjaan Konstruksi harus memiliki prosedur perencanaan yang efektif guna
pembuatan dan penetapan rencana K3. Program K3 haruslah ditetapkan secara jelas
dan mempunyai tujuan, sasaran, skala prioritas, upaya pengendalian bahaya,
penetapan sumber daya, jangka waktu pelaksanaan, indikator pencapaian dan sistem
pertanggungjawaban dengan mempertimbangkan hasil penelaahan awal, identifikasi
bahaya, penilaian dan pengendalian risiko sesuai persyaratan perundang-undang yang
berlaku serta sumber daya yang dimiliki.
Penyusunan Rencana dimaksud haruslah sedapat mungkin indikator-indikator yang
berkaitan erat dengan keselamatan tenaga kerja, meliputi:
a. Perencanaan Identifikasi Bahaya, Penilaian, dan Pengendalian Resiko (HIRARC -
Hazard Indentification Risk Assessment And Risk Control)
Merupakan tahapan identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian risiko dari
kegiatan produk barang dan jasa harus dipertimbangkan pada saat merumuskan
rencana untuk memenuhi kebijakan K3. Untuk itu harus ditetapkan dan dipelihara
prosedurnya.
b. Peraturan Perundangan dan Persyaratan Lainnya.
Bahwa perusahaan harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk
inventarisasi, identifikasi dan pemahaman peraturan perundangan dan persyaratan
lainnya yang berkaitan dengan K3 sesuai dengan kegiatan perusahaan yang
bersangkutan. Pengusaha dan atau pengurus harus menjelaskan peraturan
perundangan dan persyaratan lainnya kepada setiap pekerja/buruh yang terlibat
dalam pelaksanaan pekerjaan. Beberapa aturan serta ketentuan yang dapat
dijadikan referensi untuk pelaksanaan K3, antara lain adalah:
1) Undang-undang nomor 1 tahun 1970, tentang Keselamatan Kerja;
2) Undang-undang nomor 18 tahun 1999, tentang Jasa Konstruksi;
3) Undang-undang nomor 22 tahun 1999, tentang Pemerintah Daerah;
4) Peraturan Menteri tenaga Kerja RI nomor Per.01/MEN/1980, tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan;
5) Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Mentri Pekerjaan Umum Nomor
Kep.174/MEN/1986, Nomor 104/KPTS/1986, tentang Keselamatan Kerja Pada
Tempat Kegiatan Konstruksi;
6) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI nomor Per.05/MEN/1966, tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja;
7) Peraturan Pemerintah RI nomor 29 tahun 2000, tentang Penyelenggaraan Jasa
Konstruksi; serta
8) Standart K3 Internasional:
a) Konvensi ILO Nomor 167 Tahun 1988, tentang Safety and Health in
Construction;
b) Rekomendasi ILO Nomor 175 Tahun 1986, tentang Safety and Health in
Contruction;
c) ILO/OSH June 2001, tentang Guidelines on Occupational Safety and Health
Management Systems (OSHMS).
c. Tujuan dan Sasaran
Tujuan dan sasaran K3 dalam rencana yang ditetapkan oleh pengusaha harus
berdasarkan pada kebijakan K3, sekurang-kurangnya memenuhi kualifikasi:
1) Dapat diukur;
2) satuan/indikator pengukuran;
3) sasaran pencapaian;
4) jangka waktu pencapaian. Penetapan tujuan dan sasaran K3 harus
dikonsultasikan dengan wakil pekerja/buruh, ahli K3, P2K3 dan pihak-pihak lain
yang terkait. Tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan ditinjau kembali secara
teratur sesuai dengan perkembangan.
d. Indikator Kinerja
Dalam menilai pencapaian tujuan dan sasaran K3, perusahaan harus menggunakan
indikator kinerja yang dapat diukur sebagai dasar penilaian kinerja K3 yang sekaligus
merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian tujuan penerapan Sistem
Manajemen K3 (SMK3).
e. Perencanaan Awal dan Perencanaan Kegiatan yang Sedang Berlangsung
Keberhasilan pencapaian tujuan penerapan SMK3, diperlukan perencanaan awal
dan perencanaan kegiatan yang sedang berlangsung secara efektif guna
menghasilkan rencana aksi yang jelas dan dapat dikembangkan secara
berkelanjutan. Untuk itu pengusaha dan atau pengurus perusahaan/tempat kerja
harus:
1) Menetapkan sistem pertanggungjawaban dalam pencapaian tujuan dan sasaran
sesuai dengan fungsi dan tingkat manajemen perusahaan yang bersangkutan;
dan
2) Menetapkan sarana dan jangka waktu untuk pencapaian tujuan dan sasaran.
3. Pelaksanaan Program K3
Dalam mencapai tujuan dan sasaran K3 sebagaimana tertuang dalam rencana,
pengusaha dan atau pengurus harus terus mengorganisir pelaksanaannya dan
menunjuk personel yang mempunyai kualifikasi sesuai dengan sistem manajemen yang
diterapkan dan harus didukung dengan sumber daya manusia, sarana dan prasarana
yang memadai.
a. Jaminan Kemampuan, mencakup:
1) Penyediaan Sumber Daya Manusia, Sarana, dan Dana
Pelaku usaha harus menyediakan personel yang memiliki kualifikasi, sarana dan
dana yang memadai. Penyediakan sumber daya tersebut, perusahaan harus
membuat prosedur yang dapat memantau manfaat yang akan didapat maupun
biaya yang harus dikeluarkan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan oleh
pengusaha dan atau pengurus agar penerapan SMK3 dapat efektif adalah
sebagai berikut:
Menyediakan sumber daya yang memadai sesuai dengan ukuran dan
kebutuhan dan memiliki kompetensi kerja dan kewenangan di bidang K3
serta surat ijin kerja/operasi atau surat penunjukan dari instansi yang
berwenang
melakukan identifikasi kompetensi kerja yang diperlukan pada setiap
tingkatan manajemen perusahaan dan menyelenggarakan setiap pelatihan
yang dibutuhkan;
membuat ketentuan untuk mengkomunikasikan informasi K3 secara efektif;
membuat peraturan untuk memperoleh pendapat dan saran para ahli; dan
membuat peraturan untuk pelaksanaan konsultasi dan keterlibatan tenaga
kerja secara aktif.
Perlengkapan dan Peralatan Penunjang Program K3
Promosi Program K3 terdiri dari:
1. Pemasangan bendera K3, bendera merah putih, bendera perusahaan.
2. Pemasangan signboard K3
Signboard bisa berupa slogan-slogan yang mengingatkan akan perlunya
bekerja dengan selamat.
Contoh slogan-slogan K3 :
Utamakan Keselamatan dan Kesehatan kerja
Kecerobohan dan kelalaian sebab utama kecelakaan kerja.
Sarana / Alat K3 terdiri dari dan dapat berupa:
1. Alat yang melekat pada orang, yaitu:
- Topi helm.
- Sepatu lapangan.
- Sabuk pengaman (untuk pekerja di tempat yang tinggi).
- Sarung tangan.
- Masker pengaman debu.
- Kaca mata las.
- Obat-obatan untuk P3K.
2. Sarana/Alat pengaman lingkungan:
- Pagar proyek.
- Tali warna kuning sebagai tanda pembatas.
- Penangkal petir sementara.
- Platform.
- Jaringan Pengaman.
3. Rambu-rambu Peringatan
Rambu-rambu peringatan antara lain:
- Peringatan bahaya dari atas.
- Peringatan bahaya benturan kepala.
- Peringatan bahaya longsoran.
- Peringatan bahaya kebakaran.
- Peringatan tersengat listrik.
- Petunjuk ketinggian penumpukan material.
- Larangan memasuki area tertentu.
- Peringatan untuk memakai alat pengaman kerja.
4. Kebersihan Areal Kerja
Kebersihan dan kerapihan tempat kerja merupakan syarat K3 yang terdiri
dari:
- Penyediaan air bersih yang cukup.
- Tersedianya tempat mencuci dan kakus (MCK) yang cukup dan bersih.
- Penyediaan mushalla yang bersih dan terawat.
- Penydiaan bak sampah secara teratur.
- Kerapihan penempatan alat-alat kerja.
5. Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan dapat dilayani oleh Puskesmas atau Rumah Sakit
terdekat untuk memberikan pertolongan medis bila terjadi gangguan
kesehatan.
6. Audit Internal K3
Agar semangat K3 dapat selalu terpelihara, sehingga sasaran akhir dapat
dicapai, maka dalam suatu pelaksaan K3 diperlukan Audit K3.
2) Integrasi
Pelaku usaha dapat mengintegrasikan SMK3 ke dalam sistem manajemen
perusahaan yang ada. Dalam hal pengintegrasian tersebut terdapat
kemungkinan pertentangan dengan tujuan dan prioritas perusahaan, maka:
Tujuan dan prioritas SMK3 harus diutamakan;
Penyatuan SMK3 dengan sistem manajemen perusahaan dilakukan secara
selaras dan seimbang.
3) Tanggung Jawab dan Tanggung Gugat
Peningkatan K3 akan efektif apabila semua pihak dalam perusahaan didorong
untuk berperan serta dalam penerapan dan pengembangan SMK3, serta
memiliki budaya perusahaan yang mendukung dan memberikan kontribusi bagi
SMK3. Oleh karena itu perusahaan harus;
Menentukan, menunjuk, mendokumentasikan dan mengkomunikasikan
tanggung jawab dan tanggung gugat di bidang K3 dan wewenang untuk
bertindak dan menjelaskan hubungan pelaporan untuk semua tingkatan
manajemen, pekerja/ buruh, kontraktor, subkontraktor, dan pengunjung;
mempunyai prosedur untuk memantau dan mengkomunikasikan setiap
perubahan tanggung jawab dan tanggung gugat yang berpengaruh terhadap
sistem dan program K3;
dapat memberikan reaksi secara cepat dan tepat terhadap kondisi yang
menyimpang atau kejadian-kejadian lainnya.
Struktur organisasi pelaksanaan yang bertanggung jawab dan terkaita erat
dengan pelaksanaan K3 dapat digambarkan sebagai berikut:
4) Konsultasi, Motivasi, dan Kesadaran
Pelaku usaha dan atau pengurus perusahaan/tempat kerja harus menunjukan
komitmennya terhadap K3 melalui konsultasi dan melibatkan pekerja/buruh
maupun pihak lain yang terkait di dalam penerapan, pengembangan dan
pemeliharaan SMK3, sehingga semua pihak merasa ikut memiliki dan
merasakan hasilnya.
Pekerja/buruh harus memahami serta mendukung penerapan SMK3, dan perlu
disadarkan terhadap bahaya fisik, kimia, ergonomi, radiasi, biologi dan psikologis
yang mungkin dapat menciderai dan melukai pada saat bekerja serta harus
memahami sumber bahaya tersebut sehingga dapat mengenali dan mencegah
tindakan yang mengarah terjadinya insiden.
5) Pelatihan, dan Evaluasi Kompetensi Kerja
Penerapan dan pengembangan SMK3 yang efektif ditentukan oleh kompetensi
kerja dan pelatihan yang dimiliki dan diikuti oleh pekerja/buruh di perusahaan.
Pelatihan merupakan salah satu alat penting dalam menjamin kompetensi kerja
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan SMK3. Prosedur untuk melakukan
identifikasi standar kompetensi kerja dan penerapannya melalui program
pelatihan harus tersedia dan didokumentasikan. Standar kompetensi kerja K3
dapat diidentifikasi dan dikembangkan sesuai kebutuhan dengan:
Menggunakan standar kompetensi kerja yang ada;
memeriksa uraian tugas dan jabatan;
menganalisis tugas kerja;
menganalisis hasil inspeksi dan audit;
meninjau ulang laporan insiden. Hasil identifikasi kompetensi kerja tersebut
digunakan sebagai dasar penentuan program pelatihan yang harus
dilakukan, dan menjadi dasar pertimbangan dalam penerimaan, seleksi dan
penilaian kinerja.
BAB II
IMPLEMENTASI PROGRAM K3
1. Latar Belakang
Pembangunan bidang infrastruktur yang berkualitas, terjangkau, relevan, dan efisien
menuju meningkatnya pelayanan publik merupakan landasan dasar dari pelayanan itu
sendiri..
Kelayakan Prasarana dan Sarana merupakan pra-syarat dalam keberhasilan belajar
siswa. Standar sarana dan prasarana yang ditetapkan merupakan standar nasional
pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat
berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat
bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan
untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi.
Latar belakang dari pelaksanaan Peningkatan PSD Kawasan Minapolitan Kronjo Kab.
Tangerang adalah bahwa ketersediaan prasarana dan sarana menunjang serta
berkaitan langsung dengan kemajuan yang akan dicapai oleh suatu wilayah tertentu.
Di sisi lain, Seiring dengan semakin majunya teknologi yang digunakan pada saat ini
dan semakin meningkatnya penggunaan alat/mesin modern serta bahan-bahan/material
berbahaya dalam setiap proses pelaksanaannya, maka Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) yang merupakan salah satu bagian dari perlindungan tenaga kerja perlu
dikembangkan dan ditingkatkan.
Rencana Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ini nantinya digunakan
sebagai acuan untuk melindungi setiap tenaga kerja atau orang yang berada di tempat
kerja agar setiap pekerjaan dapat dijalankan secara benar sebagaimana ketentuannya.
2. Ruang Lingkup
Rencana Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ini merupakan pedoman
perlindungan bagi tenaga kerja untuk melaksanaan pekerjaan Perkerasan Jalan,
Pembangunan Pos Satpam, dan Penataan Halaman Parkir. Pedoman ini diterapkan
dalam proses pelaksanaan pekerjaan untuk memantau dan menilai sejauh mana pekerja
mendapat perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.
3. Maksud dan Tujuan
Rencana Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ini dimaksudkan untuk
memberikan rasa aman dan nyaman serta melindungi tenaga kerja Tujuannya agar
setiap tenaga kerja dan orang lainnya yang berada ditempat kerja mendapat
perlindungan atas keselamatannya. Sehingga setiap pekerjaan dapat dilakukan secara
aman dan lancar.
4. Referensi
Referensi yang dapat dipakai sebagai dasar penyusunan Rencana Program
Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) ini antara lain diambil dari buku-buku pedoman yang berlaku yaitu:
1. Syarat-syarat Umum/Khusus Kontrak;
2. Pengutamaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja;
3. Pembinaan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2 K3).
BAB III
PROGRAM K3 DALAM PEKERJAAN KONSTRUKSI
PERKERASAN JALAN, POS SATPAM, DAN HALAMAN PARKIR
1. Perencanaan Identifikasi Bahaya, Penilaian, dan Pengendalian Resiko (HIRARC -
Hazard Indentification Risk Assessment And Risk Control)
Tujuan HIRARC adalah untuk memastikan bahwa semua potensi bahaya teridentifikasi,
dinilai resikonya dan dilakukan pengendaliannya agar tidak membahayakan bagi para
pekerja dan orang lain sehingga proses pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan
aman dan lancar.
Secara sederhana, HIRARC dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Identifikasi Bahaya
Merupakan suatu tindakan untuk memperkirakan suatu aktifitas yang dilakukan
terhadap sesuatu memiliki potensi bahaya yang dapat menyebabkan cedera, sakit,
atau kerusakan yang terkandung dalam suatu obyek atau aktifitas pekerjaan.
b. Penilaian Resiko
Proses pembobotan yang dilakukan untuk mengklasifikasikan potensi bahaya
kedalam kategori tinggi, menengah dan rendah dengan menggunakan parameter
atau score (nilai angka).
c. Pengendalian Resiko
Merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalkan atau menghilangkan
celaka, sakit atau kerusakan dalam suatu proses kegiatan/pekerjaan.
Analisis terhadap bahaya yang mungkin timbul khususnya pada pelaksanaan
pekerjaan Peningkatan PSD Kawasan Minapolitan Kronjo Kab. Tangerang, antara
lain dijelaskan sebagai berikut:
No. Jenis Pekerjaan Identifikasi Bahaya Pengendalian Resiko
1. Pekerjaan Jalan - Tersiram aspal panas Pekerja dilengkapi
dengan alat
keselamatan antara
Kategori = Menengah lain: helm penutup
sampai Tinggi kepala, masker, sarung
tangan.
Area sekitar lokasi
bongkaran diberi tali/
pita berwarna kuning
(lebar +7 cm) serta
papan peringatan.
2. Pekerjaan Galian - Luruhan tanah yang Pelaksanaan dilakukan
Tanah digali, rawan terjadi dengan hati-hati dan
longsoran/timbunan. diawasi oleh Tenaga
- Jika kedalaman galian Terampil. Pekerja
> 70 cm, dapat dilengkapi dengan
berakibat cedera helm penutup kepala
apabila terjatuh. dan tali sabuk
pengaman.
Kategori = Menengah
Area sekitar lokasi
sampai Tinggi
bongkaran diberi tali/
pita berwarna kuning
(lebar +7 cm).
3. Pekerjaan Pondasi - Cedera akibat penem- Pelaksanaan dilakukan
dan Beton Struktur patan batu kali (untuk dengan pengawasan
pondasi) yang tidak Tenaga Terampil.
benar. Pekerja dilengkapi
- Rembesan dari Beton dengan helm dan
Mix akibat papan cor sepatu boot.
(bekisting) yang tidak
Aplikasi papan cor
rapi (renggang).
dilakukan dengan teliti
dan saksama. Pekerja
Kategori = Rendah
dilengkapi dengan
sampai
helm penutup kepala.
Menengah
4. Pekerjaan - Cedera akibat terjatuh Stegerwerk dibuat dari
Pasangan Bata karena terpeleset bila kayu/papan kualitas
(Dinding) pemasangan dinding baik, strukturnya
bata atau aplikasi kokoh, dan ukurannya
Pekerjaan Plesteran
pekerjaan lainnya >1.8 disesuaikan dengan
dan Acian
m. pekerja.
Pekerjaan
Pengecatan Kategori = Menengah
Pekerjaan Plafond sampai Tinggi
5. Pekerjaan Rangka - Cedera akibat terjatuh Pelaksanaan dilakukan
Atap Baja Ringan karena terpeleset. oleh Aplikator baja
dan Penutup Atap - Terkena percikan ringan yang telah
material mikro pada berpengalaman.
saat pemasangan Pekerja dilengkapi
rangka atap. dengan tali/ sabuk
- Tertimpa material pengaman, helm
rangka atap atau penutup kepala,
penutup atap.
kacamata safety
(snork), dan sarung
Kategori = Menengah
tangan.
sampai Tinggi
Dimungkinkan penggu-
naan scafholding untuk
pekerjaan ini.
Area sekitar lokasi
pemasangan diberi tali/
pita berwarna kuning
(lebar +7 cm).
6. Pekerjaan Elektrikal - Cedera akibat terjatuh Pelaksanaan dilakukan
(pemasangan titik karena tersengat aliran oleh instalator yang
elektrikal) listrik. telah berpengalaman.
- Tertimpa material lain Pekerja dilengkapi
pada saat pelaksanaan dengan sarung tangan
pekerjaan. karet, dan helm
penutup kepala.
Kategori = Menengah
Dimungkinkan penggu-
sampai Tinggi
naan scafholding untuk
pekerjaan ini.
7. Pekerjaan Akhir/ - Cedera/tertusuk Pelaksanaan dilakukan
Pembersihan material sisa hasil dengan hati-hati dan
pelaksanaan diawasi oleh Tenaga
pekerjaan. Terampil. Pekerja
dilengkapi dengan
helm, sepatu boot,
Kategori = Rendah
penutup kepala dan
sampai
sarung tangan.
Menengah
2. Sasaran dan Manfaat Program K3
Dalam melaksanakan Rencana Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
dibuatkan sasaran dan manfaat program yang akan diperoleh berkaitan dengan
rangkaian aktifitas program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Secara umum, tujuan dan sasaran dari pelaksanaan K3 adalah untuk menciptakan
suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur
manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja, yang terintegrasi dalam rangka
mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja disamping terciptanya
tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif.
Tujuan dari penerapan K3 antara lain adalah:
a. menempatkan tenaga kerja sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai
manusia;
b. meningkatkan komitmen pelaku usaha dalam melindungi tenaga kerja;
c. meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja dalam menghadapi persaingan di era
globalisasi.
d. meningkatkan pencegahan kecelakaan melalui pendekatan sistem yang terintegrasi,
dan
e. pencegahan terhadap problem sosial dan ekonomi terkait wajib penerapan Program
Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Sedangkan manfaat dari penerapan K3 antara lain:
a. Pelaku usaha dapat mengetahui kelemahan-kelemahan unsur sistem operasional
sebelum timbul gangguan operasional, kecelakaan, insiden, dan kerugian-kerugian
lainnya yang disebabkan atau timbul dalam pelaksanaan pekerjaan;
b. dapat mengetahui gambaran secara jelas dan lengkap tentang penerapakan kinerja
K3;
c. pemenuhan terhadap peraturan perundangan di bidang K3;
d. meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran tentang K3, khususnya
bagi tenaga kerja pelaksana langsung di lapangan.
SASARAN:
Sasaran yang ingin dicapai dari pelaksanaan K3 adalah seluruh individu yang terlibat
langsung dalam pelaksanaan pekerjaan fisik konstruksi, baik pihak owner, penyedia,
maupun pihak lain yang datang atau berada di lokasi pekerjaan. Hal ini lebih
menitikberatkan pada pengamanan seluruh komponen yang dapat mencegah terjadinya
kecelakaan kerja yang mungkin berdampak pada korban cedera ringan, berat, atau
meninggal. Pada tahap pengendalian awal, maka seluruh individu yang terlibat
sebagaimana tersebut diatas harus dilengkap atau melengkapi diri dengan Alat
Pelindung Diri yang sesuai dengan bahaya atau resiko yang dihadapi dalam
melaksanakan suatu kegiatan/pekerjaan.
Titik berat dari pernyataan tersebut mencakup:
a. Pelatihan secara Umum, dengan materi pelatihan tentang panduan K3 di lokasi
pekerjaan, misalnya:
Pedoman praktis pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja pada bangunan
gedung;
penanganan, penyimpanan dan pemeliharaan material;
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan sipil;
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan finishing luar;
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan mekanikal dan elektrikal;
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan finishing dalam;
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan bekisting;
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan pembesian;
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan sementara;
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan rangka baja;
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan struktur khusus;
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan pembetonan;
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan pondasi pile; dan
keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan pembongkaran.
Indeks tingkat penerapan pada bagian ini diharapkan dapat mencapai paling tidak
90% (sembilan puluh persen).
b. Pelatihan secara Khusus, yang diberikan pada saat awal pelaksanaan dan di tengah
periode pelaksanaan pekerjaan sebagai penyegaran, dengan peserta seluruh
petugas yang terkait dalam pengawasan, dengan materi tentang pengetahuan
umum tentang K3 atau Safety Plan pekerjaan yang bersangkutan
PROGRAM:
Dalam pelaksanaan program K3, disediakan perlengkapan dan peralatan penunjang
program, meliputi:
a. promosi program K3; yang terdiri dari:
pemasangan bendera K3, bendera perusahaan;
pemasangan sign-board K3 yang berisi antara lain slogan-slogan yang
mengingatkan perlunya bekerja dengan selamat;
sarana peralatan yang melekat pada orang atau disebut perlengkapan
perlindungan diri (Personal Protective Equipment), diantaranya:
1. Pelindung Mata, Pendengaran, dan Wajah, dimaksudkan untuk memberikan
perlindungan yang baik dan menyeluruh, terutama terhadap bahaya percikan
bahan kimia, suara bising, obyek yang beterbangan atau cairan besi.
2. Pelindung Kepala atau Helm (Hard Hat), yang mampu bertindak sebagai
penahan goncangan, serta melindungi kulit kepala, wajah, leher, dan bahu
dari percikan, tumpahan, dan tetesan.
3. Pelindung Kaki, berupa sepatu dan sepatu boot.
4. Pelindung Tangan, berupa sarung tangan yang dapat terdiri dari berbagai
macam type dan jenis: Metal Mesh, Leather Glove, Vinyl Glove, Rubber
Glove, maupun Latex Dispossable Gloves. Penggunaan pelindung tangan
tersebut disesuaikan dengan aplikasi pada masing-masing jenis pekerjaan.
5. Pelindung Bahaya Jatuh, antara lain dapat berupa: Life Line (Tali Kaitan),
berupa ikatan tali kaitan lentur dengan kekuatan tarik minimum 500 kg yang
salah satu ujungnya diikatkan ketempat kaitan dan menggantung secara
vertikal, atau diikatkan pada tempat kaitan yang lain untuk digunakan secara
horisontal. Anchor Point (Tempat Kaitan), tempat menyangkutkan pengait
yang sedikitnya harus mampu menahan 500 kg per pekerja yang
menggunakan tempat kaitan tersebut. Tempat kaitan harus dipilih untuk
mencegah kemungkinan jatuh. Tempat kaitan, ditempatkan lebih tinggi dari
bahu pemakainya. Lanyard (Tali Pengikat), tali pendek yang lentur atau
anyaman tali, digunakan untuk menghubungkan pakaian pelindung jatuh
pekerja ke tempat kaitan atau tali kaitan. Panjang tali pengikat tidak boleh
melebihi 2 meter dan harus yang kancing pengaitnya dapat mengunci secara
otomatis.
sarana peralatan lingkungan, antara lain berupa:
1. tabung pemadam kebakaran;
2. pagar pengamanan;
3. penangkal petir darurat;
4. pemeliharaan jalan akses kerja dan jembatan kerja;
5. jaring pengamanan pada bangunan tinggi;
6. pagar pengaman lokasi proyek;
7. tangga; dan
8. peralatan P3K.
rambu-rambu peringatan, antara lain dengan fungsi:
1. peringatan bahaya dari atas;
2. peringatan bahaya benturan kepala;
3. peringatan bahaya longsoran;
4. peringatan bahaya api;
5. peringatan tersengat listrik;
6. penunjuk ketinggian (untuk bangunan yang lebih dari 2 lantai);
7. penunjuk jalur instalasi listrik kerja sementara;
8. penunjuk batas ketinggian penumpukan material;
9. larangan memasuki area tertentu;
10. larangan membawa bahan-bahan berbahaya;
11. petunjuk untuk melapor (keluar masuk proyek);
12. peringatan untuk memakai alat pengaman kerja;
13. peringatan ada alat/mesin yang berbahaya (untuk lokasi tertentu); dan
14. apabila diperlukan, peringatan larangan untuk masuk ke lokasi center elektric
power supply (untuk orang-orang tertentu).