BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Suspensi
Suspensi menurut Ansel yaitu preparat yang mengandung partikel obat yang terbagi secar halus
( dikenal sebagai suspensoid ) disebarkan secara merata dalam pembawa dimana obat
menunjukkan kelarutan yang sangat [Link] ilmu resep yaitu sediaan cair yang
mengandung partikel tidak larut dalam bentuk halus yang terdispersi ke dalam fase cair.
( Howard C. Ansel halaman 354 ) Adapun beberapa macam, yaitu :
a. Suspensi oral.
b. Suspensi topical.
c. Suspensi tetes telinga.
d. Suspensi optalmilk.
Suspensi didalam bidang Farmasi digunakan sebagai :
a. Sebagai Intramuscular inject.
b. Sebagai tetes mata.
c. Peroral.
d. Rektal.
2. Keuntungan dan Kerugian Suspensi ( Howard C. Ansel halaman 355 dan buku
farmasetika dasar halaman 93 )
a. Keuntungan Suspensi
1. Berbentuk cair sehingga disukai lebih banyak pasien.
2. Mudah ditelan.
3. Keluwesan dalam pemberian dosis.
4. Pemberian lebih mudah.
5. Lebih mudah untuk memberikan dosis yang relative sangat besar.
6. Aman.
7. Mudah diberikan untuk janak anak.
8. Mudah diatur penyesuaian dosisnya untuk anak.
9. Memiliki homogenitas tinggi.
10. Dapat menutupi rasa tidak enak / pahit dari obat.
11. Mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil didalam air.
b. Kekurangan Suspensi
1. Mempuyai rasa tidak enak bila diberikan dalam bentuk larutan.
2. Tidak terasa bila diberikan sebagai partikel yang tidak larut dalam suspense.
3. Memiliki kestabilan yang rendah (pertumbuhan kristal (jika jenuh), degradasi dll)
4. Jika membentuk "cacking" akan sulit terdispersi kembali sehingga homogenitasnya akan
turun.
5. Aliran yang terlalu kental menyebabkan sediaan sukar dituang.
6. Ketepatan dosis lebih rendah daripada bentuk sediaan larutan.
7. Pada saat peyimpanan, kemungkinan terjadi perubahan sistem dispersi (cacking, flokulasi-
deflokulasi) terutama jika terjadi fluktUasi / perubahan temperatur.
8. Sediaaan suspensi harus di kocok terlebih dahulu untuk memperoleh dosis yang diinginkan.
3. Kriteria Suspensi Ideal ( Howard C. Ansel halaman 356 )
Adapun kriteria kriteria suspensi yang ideal menurut Angsel :
a. Suatu suspensi farmasi yang dengan tepat mengendap secara lambat dan harus rata lagi bila
dikocok.
b. Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari suspensoid ini
tetap agak konstan untuk yang lama pada penyimpanan.
c. Suspensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan homogen.
Adapun kriteria suspensi menurut Rps : ( Remingtons pharmaceutical science halaman
1538 1539 )
Suspensi secara kimiawi lebih stabil daripada larutan.
Suspensi bentuknya lebih stabil.
Suspensi tersebut tidak boleh terlalu kental agar mudah dituang.
Adapun kriteria suspensi menurut lachman edisi ke 2 tentang suspensi :
Suspensi yang baik harus tetap homogen secukupnya, paling tidak selama waktu
dibutuhkan untuk penuangan dan pemerian dosis setelah wadahnya dikocok.
Adapun beberapa mtode pembentuka suspensi yaitu : ( leon Lachman halaman 1001 1004 )
1. Metode pengendapan.
2. Metode dispersi.
4. Aliran Aliran dalam Suspensi ( fisika Farmasi halaman 1079 1089 )
Tipe-tipe aliran dalam suspensi Tipe aliran suspensi dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
1. Aliran newton
Dimana dalam aliran newton ini berbunyi bahwa semakin besar viskositas suatu
cairan ,maka semakin besar tekanannya.
Contohnya:untuk sediaan cream, ketika dilakukan pengeluaran sediaan cream dari
tubenya,semakin besar tekanan yang diberikan pada bagian tubenya maka semakin cepat
keluarnya cream dari tube tersebut dan sebaliknya.
2. Aliran non-newton
Berdasarkan sistem nonnewton,liran terbagi atas 3 jenis yaitu:
1. Aliran plastis
kurva memperlihatkan suatu badan yang membentuk aliran
plastis, bahan demikian dikenal sebagai Bingham bodies. kurva aliran plastis tidak memiliki
titik (0,0) tapi memotong sumbu shearing stress.
Aliran plastis berhubungan dengan adanya partikel-prtikel terflokulasi dalam suspensi
[Link] terbentuk struktur kontinu diseluruh sistem, adanya yield value disebabkan
oleh adanya kontak antara partikel-partikel yang berdekatan yang harus dipecah sebelum aliran
terjadi. Akibatnya yield value merupakan indikasi dari kekuatan flokulasi, makin banyak
suspensi yang terflokulasi, makin tinggi yield valuenya.
2. Aliran psudaplastis
kurva konsistensi untuk bahan pseudoplatis mulai pada titik (0,0)
atau paling tidak mendekatnya pada rate of shear rendah. Akibatnya berlawanan dengan
Bingham bodies, tidak ada yield value tapi karena tidak ada bagian kurva yang linear. Akan kita
tidak dapat menyatakan viskosits dari suatu bahan pseudaplastis dengan suau harga tunggal
sejumlah besar produk farmasi termasuk gom alam.
Sejumlah besar produk farmasi termasuk gom alam dan sintesis misalnya, dispersi cair dari
tragacanth, natri alginat, metilselulosat, dan natrium karboksimetil selulosa menunjukkan aliran
speudoplastis sebagai aturan umum,aliran spesudoplastis diperliahatkan oleh primer-primer
dalam larutan yang merupakan kebalikan dari sistem [Link] tersusun dari partikel-partikel
yng terflokulasi dalam suspensi.
3. Aliran dilatan
Suspensi-suspensi tertentu dengan presentase zat pada terdispersi
presentase yang tinggi menunjukkan peningkatan dalam daya hambat untuk mengalir dengan
meningkatnya rate of shear .pada sistem ini sebenarnya volumenya meningkatt jika terjdi shear
dan ole karenanya diberi istilah dilatan.
Zat-zat yang mempunyai sifat-sifat aliran dilatan adalah [Link] yang
berkonsentrasi tinggi(kira-kira 50)atau lebih dari parikel-partikel kecil yang mengalami
deflokulasi. sistem sistem partikel dari tipe yang diflokulasikan diharapkan mempunyai
karakteristik aliran plastis,bukan dilatan.
5. Perbedaan Flokulasi dan Deflokulasi
a. Flokulasi ( ilmu resep halaman 142 dan 143 )
Flokulasi adalah suatu partikel flokulasi terikat lemah yang cepat mengendap dan disimpan
pada tempat penyimpanan yang tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali.
Adapun sifat partikel Flokulasi yaitu :
a. Partikel merupakan agregat yang bebas.
b. Sedimentasi terjadi cepat.
c. Sedimen terbentuk cepat.
d. Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi kembali
seperti semula.
e. Wujud suspense kurang bagus sebab sedimentasi terjadi cepat dan diatasnya terjadi daerah
cairan yang jernih dan nyata.
b. Deflokulasi ( ilmu resep halaman 142 dan 143 )
Partikel deflokulasi adalah partikel yang mengendap perlahan dan akhirnya membentuk
sedimen, dan akan terjadi agregasi, yang akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar
tersuspensi kembali.
Secara umum sifat partikel deflokulasi yaitu :
a. Partikel suspense dalam keadaan terpisah satu dengan yang lainnya.
b. Sedimentasi yang terjadi lambat, masing masing partikel mengendap terpisah dan partikel
berada dalam ukuran paling kecil.
c. Sedimen terbentuk lambat.
d. Wujud suspense bagus karena zat tersuspensi dalam waktu relative lama. Dan terlihat
bahwa ada endapan dan cairan atas berkabut.
Perbedaan flokulasi dan deflokulasi
6. Komposisi Suspensi ( Howard C. Ansel halaman 1016 1021 )
Banyak faktor harus dipertimbangkan dalam mengembangkan suatu bentuk sediaan suspensi.
Pemikiran dasar meliputi kenyataan bahwa suspensi mengendap, dan perlu untuk
mendistribusikannya kembali sebelum menggunakan atau memberikannya sebagai produk.
Dalam fase permulaan formulasi, harus dibuat keputusan mengenai tipe umum sistem suspensi
yang diinginkan. Adapun formula umum dari suspensi yaitu :
b. Suspensi-suspensi yang berisi zat padat dalam jumlah sedikit
Rute pemerian ini dibatasi pembuatan formula,kekisaran aditif yang agak
sempit. Sampel yang yang paling aik disapkan dengan membuat suatu dispersi pekat dalam
volume yang sama dengan 10% volme akhir.
Zat pengawet contohnya,enzil zat pengawe contohnya,benzil
alkohol,kloritanol,metil paraben dan propilparaben zat untuk isotonisitas contohnya natrium
klorida dan zat untuk pendapar contohnya natrium sitrat.
Penting untuk dicaat bahwa koloid pelindung seperti,PEG,4000,natium
karboksimetilselulosa,dan metilselulosa semua memodifikasi karakteristik [Link] dan
dekstrosa dapat dimasukkan untuk menyesuaikan kerapatan.j
c. Suspensi dengan banyak isi zat padat. Terdiri dari:
Zat pengawet: benzil alkohol,uil paaben,metil paraben/propilparaben
Zat pendapar: natrium sitrat
Zat koloid pelindung: lesitin
Zat antioksida: natrium formal dehid sulfoksilat
d. Suspensi antasida
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kami dari kelompok 1 dapat menarik kesimpulan dari hasil diskusi kami yaitu :
1. Aliran suspensi dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Aliran newton
b. Aliran non newton
2. Didalam aliran newton terdapat viskositas adapun penjelasan dari viskosita yaitu :
Jika suatu cairan atau larutan yang terdapat pada bidang paling atas bergerak
atau memproses dengan kecepatan konstan , maka setiap bidang lapisan dibawahnya akan
bergerak dengan kecepatan yang lurus dengan jarak pada bidang lapisan yang paling dasar akan
diam.
3. Pembentukan suspensi :
a. Metode pengendapan yaitu : untuk bahan yang sukar larut dalam air yang didasarkan pada
obatnya.
b. Metode dispersi yaitu untuk bahan yang bisa larut dalam air dengan cara hanya ditetesi .
B. Saran
Agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan tujuan yang diinginkan akan
tercapai maka disarankan bagi mahasiswa, diharapkan dapat mengikuti kegiatan pembelajaran
dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai.
C. Penutup
Segala puji kepada Allah karena makalah yang kami buat dapat terselesaikan. Kami berterima
Kasih kepada semua yang telah membantusehingga makalh ini dapat terselesaikan, terkhusus
kepada guru pembimbing kami yang telah membantu kami dalam mengerjakan makalah kami.
Kami memohon yang sebesar-besarnya apabilah dalam makalh ini terdapat kata kata yang
tidak tepat dan masih banyak mempunyai kekurangan. Kami sangat berharap kepada para
pembaca agar berkenan untuk memberikan kritik dan saran agar dapat membuat makalah kami
lebih baik lagi nantinya. Semoga makalah yang kami buat dapat memberikan wawasan lebih luas
tentang suspensi kepada para pembaca sekalian.
DAFTAR PUSTAKA
Howard C. Ansel.1989. Pengantar Sediaan Farmasi. Jakarta. Penerbit Universita Indonesia.
Prof. Dr. Supriyatna. 2011. Farmasetika Dasar. Bandung. Widya Padjajaran
Farmakope Indonesia edisi IV, halaman 17
Farmakope Indonesia edisi III. Halaman 32
Leon Lachman. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi 2. Jakarta. Penerbit Universitas
Indonesia
Drs. H. A. syamsuni. 2007. Ilmu Resep. Jakarta. Buku kedokteran
Fithriani harry yusuf. Remingtons Pharmaceutical science. Halaman 1538 1539
[Link] Diakses pada tanggal 27 oktober 2016
Lecture Note Rheologi by Dr. [Link]. Sundani Nurono Soewandhi, School of
Pharmacy ITB
[Link] diakses pada tanggal 27
oktober 2016
Emilia, Wintari Taurina dan Andhi Fahrurroji.2014. Formulasi Dan Evaluasi Stabilitas Fisik
Suspensi Ibuprofen Dengan Menggunakan Natrosol Hbrsebagai Bahan Pensuspensi. Tanjung
pura