MAKALAH BODY
SECTION RADIOGRAPHY
Disusun untuk memenuhi tugas Pengolahan Citra Digital
Dosen Pengampu : Dwi Rochmayanti, S. ST., [Link].
Disusun oleh :
Kelompok 1
1 Dimas Achmad Nur P1337430215028
2 Indra Laksono P1337430215060
3 Tria Antoni P1337430215081
4 Arum Sekaring Putri P1337430215023
5 Arum Susilowati P1337430215037
6 Anisa Damayanti S.P P1337430215019
7 Friscilla Hermayurischa P1337430215080
8 Lisa Khofianida P1337430215043
9 Istianah Sofiyah N P1337430215034
10 Karina Widya Nastiti P1337430215066
11 Wahyu Indriyani P1337430215087
Kelas : 2B
1
PRODI D IV TEKNIK RADIOLOGI
JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah yang
berjudul Image Processing pada Computer Radiography dengan baik.
Makalah ini berisikan tentang cara kerja image processing pada CR dan
komponen pada CR . Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita
semua tentang CR.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah
SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Semarang, 14 Mei 2017
Penyusun
2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................................i
KATA PENGANTAR ..................................................................................................ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................1
C. Tujuan Penulisan ..........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Computer Radiography..................................................................3
B. Komponen Pada Computer Radiography....................................................4
C. Cara Kerja Image Processing Pada Computer Radiography.......................13
BAB III PENUTUP
A. Simpulan .....................................................................................................21
REFERENSI 22
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengolahan citra digital banyak digunakan dalam berbagai bidang, paling
banyak digunakan dalam bidang desain, fotografi, geografi, medis dan yang lainnya.
Didalam bidang kesehtan atau medis khususnya dalam radiologi sekarang banyak
sekali digunakan pengolahan citra dalam CT-Scan, MRI, Kedokteran Nuklir dan
yang sekarang paling bekembang yaitu CR (Computed Radiography).
Radiografi ialah penggunaan sinar pengionan (sinar X, sinar gamma) untuk
membentuk bayangan benda yang dikaji pada film. Radiografi umumnya digunakan
untuk melihat benda tak tembus pandang, misalnya bagian dalam tubuh manusia.
Gambaran benda yang diambil dengan radiografi disebut radiograf. Radiografi
lazim digunakan pada berbagai bidang, terutama pengobatan dan industri.
3
Sinar X yang dihasilkan untuk mendapatkan radiograf terbentuk didalam
pesawat sinar X oleh penemuan Wilhelm Cundrad Rooentgen pada tanggal 8
november 1895. Adapun pesawat yang sering digunakan yaitu pesawat konventional
(non charging). Pesawat sistem changer, dan sekarang karena semakin canggihnya
teknologi pesawat sinar X pun didigitalisasi yang dikenal dengan sebutan CR
(Computer Radiografi). Computed Radiography (CR) membawa perubahan yang
berarti dalam proses pencitraan dimana penggunaan film sudah ditinggalkan
[Ballinger, P. W., dan
Eugane D.F., 2003].
Dalam makalah kali ini kami akan membahas contoh pemeriksaan yang
menggunakan CR dan prinsip kerja CR.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan Computer Radiography?
2. Apa sajakah komponen-komponen Computer Radiography?
3. Bagaimana cara kerja image processing pada Computer Radiography?
C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan defenisi Computer Radiography.
2. Menyebutkan dan menjelaskan komponen-komponen Computer Radiography.
3. Menjelaskan cara kerja image processing pada Computer Radiography.
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Computer Radiography
Computer Radiography (CR) merupakan suatu sistem atau proses untuk
mengubah sistem analog pada konvensional radiografi menjadi digital
radiografi.
Computer Radiography adalah proses digitalisasi gambar yang
menggunakan imaging plate untuk akusisi data gambar X-Ray (Ballinger,
1999). Merupakan teknologi digital yang mendukung pengembangan komputer
berbasis sistem informasi dan prosessing. Radiograf yang dihasilkan CR akan
terformat dalam bentuk digital sehingga dapat dimanipulasi untuk mendapatkan
hasil yang maksimal (Ballinger, 1999).
Computed radiography adalah proses merubah system analog pada
konvensional radiografi menjadi digital radiografi ( Bambang Supriyono
2003:1). Pada sistem Computed Radiography data analog dikonversi ke dalam
data digital pada saat tahap pembangkitan energi yang terperangkap di
dalam Imaging Plate dengan menggunaklan laser, selanjutnya data digital
5
berupa sinyal-sinyal ditangkap oleh Photo Multiplier Tube (PMT ) kemudian
cahaya tersebut digandakan dan diperkuat intensitasnya setelah itu di ubah
menjadi sinyal elektrik yang akan di konversi kedalam data digital oleh Analog
Digital Converter (ADC).
Pada penggunaan radiografi konvensional digunakan penggabung antara
fil radiografi dan screen, akan tetapi pada komputer radiografi menggunakan
imaging plate. Walaupun imaging plate secara fisik terlihat sama dengan screen
konvensional tetapi memiliki fungsi yang sangat jauh berbeda, karena pada
imaging plate berfungsi untuk menyimpan energi sinar x kedalam photo
stimulable phospor (PSP) dan menyampaikan informasi gambar ke dalam
bentuk data digital.
B. Komponen-Komponen Pada Computer Radiography
1. Kaset (Cassette)
2. Scaner / Reader
3. Consol
Berikut penjelasan dari ketiga komponen tersebut:
1. Kaset ( Film / Screen ) Analog
Phospor screen (IS) pada kaset analog berfungsi mengubah sinar-x
menjadi sinar tampak (gadolinium oxysulfide atau lanthanum oxybromide).
Kaset CR hanya berisi plate yang dilapisi phospor / storage phospor screens
(barium fluorohalide), bentuknya seperti IS namun tanpa film sehingga dapat
dipakai berulang-ulang
6
Cara Kerja Kaset CR :
1. Storage phospor screen di ekspose seperti biasa.
2. Phospor menyerap radiasi pada derajat yang berbeda-beda tergantung
pada area anatomikal nya.
3. Phospor di isi oleh radiasi, besar nya isian tersebut tergantung kepada
besarnya energi sinar-x yang diserap.
4. Isian ini bertahan dalam materi phospor sampai dihapus.
Jenis-jenis kaset CR :
1. Kaset general purpose :
a. Terdiri dari jenis rigid screen dan flexible screen.
b. Dipakai untuk radiografi konvensional.
c. Memori terpakai 9 - 15 MB / Image.
d. Terutama untuk aplikasi CHEST pada MCU masal, rata" foto thorax
berkapasitas 10 MB / Image.
e. Rigid Screen = tidak terjadi kontak mekanikal phospor, berusia pakai
lebih lama dibanding dengan fleksibel screen, yang di transport oleh
roller.
f. Memakai single atau double phospor layer.
g. Resolusi sekitar 70 - 115 micron.
h. Ukuran nya bervariasi : 15 x 30 cm , 18 x 24 cm, 24 x 30 cm, 35 x
35 cm, dan 35 x 43 cm
2. Kaset Panjang (Long Length / Full Spine)
a. Dipakai untuk radiografi pada tulang panjang, dan tulang belakang.
7
b. Pada kasus chiropractic untuk melihat tulang, study scoliosis, dan
koreksi operasi.
c. Ukuran yang biasa dipakai 35 x 84 cm (portable), 43 x 129 cm atau
sambungan dari 4 kaset berukruan 35 x 43 cm (wallfixed).
d. Memerlukan software khusus untuk menyatukan gambar.
3. Kaset ber resolusi tinggi (HR/EHR)
a. Bisa dipakai untuk mammografi yang memerlukan ketelitian tinggi.
b. Resolusi 43,5 - 5 mikron meter.
c. Ukuran : 18 x 24 cm dan 24 x 30 cm.
d. Kapasitas memori mencapai 30 MB / Image, sehingga waktu
scanning lebih lama dari general purpose.
2. Scanner - Scanning
8
Scanner adalah alat untuk membaca informasi sinar-x yang diterima
oleh kaset CR / PSP secara analog dan merubah informasi tersebut menjadi
data digital, sementara scanning merupakan proses nya, dan scanner adalah
alatnya atau bisa juga disebut Digitizer.
Cara kerja scanner :
a. Kaset yang akan dibaca di tandai dengan barcode terlebih dahulu agar
sesuai dengan pasien dan pemeriksaan.
b. Didalamnya terdapat reaktor laset (optical), dengan bantuan sinar laser
untuk merangsang aktifasi phospor (stimulate) dan detektor (PMT) untuk
menangkap emisi phospor sebagai informasi yang akan dioleh menjadi
data.
c. Data tersebut diolah dan divisualisasikan dalam format digital.
d. Setelah selesai proses scan, informasi yang ada pada plate kemudian
dihapus dengan memaparkan sinar intensitas tinggi supaya plate bisa
dipergunakan kembali.
e. Seluruh sistem itu digerakkan secara motorik / mekanik.
9
Scanning dilakukan selama 20 ms per garis, sinyal yang diterma PMT masih
berwujud analog lalu didigitalisasi oleh digitizer.
3. Console
Console pada CR adalah perangkat keras dan lunak sperti hal nya
perangkat komputer di rumah atau yang biasa kita sebut sebagai Personal
Computer (PC) yang terdiri dari :
a. Monitor
b. CPU
c. Cassette ID Scanner - barcode reader
d. DICOM store / server
Pada perangkat lunaknya memiliki bermacam pilihan sesuai dengan
kebutuhan CR seperti mammografi , longlength image, Enchancement, dsb.
semakin lengkap fitur yang dimiliki CR, semakin mahal juga harga dari CR
tersebut. sedangkan DICOM (Digital Imaging and Communication on
Medicine) adalah sistem penyimpanan image dalam kapasitas medis yang
memerlukan ketelitian sehingga kapasitasnya besar (MB/image)
10
Fungsi Konsol :
a. Memasukan data pasien.
b. Menentukan alur kerja radiologi.
c. Mengolah data dan image pasien sesuai dengan jenis pemeriksaannya.
d. Melakukan quality control image sebelum didistribusikan.
e. Melakukan pendistribusian image untuk mencetak image pada printer,
kepentingan backup menggunakan CD/DVD, untuk share menggunakan
jaringan RIS/HIS.
4. Computer Radiografi (CR) mempunyai perlengkapan operasional yang
terdiri dari :
a. Imaging Plate
11
Imaging plate merupakan media pencatat sinar-X pada Computer
Radiografi yang terbuat dari bahan photostimulable phosphor tinggi.
Dengan menggunakan Imaging plate memungkinkan processor gambar
untuk memodifikasi kontras.
Imaging plate berada dalam kaset Imaging. Fungsi dari Imaging
plate adalah sebagai penangkap gambar dari objek yang sudah di sinar
(ekspose). Prosesnya adalah pada saat terjadinya penyinaran, Imaging
plate akan menangkap energi dan disimpan oleh bahan phosphor yang
akan dirubah menjadi Electronic Signal dengan laser scenner dalam
image reader. (Sumber : Merrils Tenth edition, Chapter 34, Computed
Radiography : 358).
Struktur dari imaging plate adalah :
a) Protective layer : berukuran tipis & transparent berfungsi untuk
melindungi IP.
b) Phosphor layer : mengandung barium fluorohalide dalam bahan
pengikatnya.
c) Reflective layer : terdiri dari partikel yang dapat memantulkan
cahaya.
d) Conductive layer : terdiri dari Kristal konduktif. Yang berfungsi
untuk mengurangi masalah yang disebabkan oleh electrostatic.
Selain itu ia juga mempunyai kemampuan untuk menyerap cahaya
dan dengan demikian hal tersebut dapat meningkatkan ketajaman
gambaran.
e) Support layer : mempunyai stuktur dan fungsi yang sama seperti
yang ada pada intensifying screen.
12
f) Backing layer : lapisan soft polimer untuk melindungi imaging plate
selama proses pembacaan di dalam image reader.
g) Bar code label : digunakan untuk memberikan nomor seri dan untuk
mengidentifikasi imaging plate tertentu yang kemudian dapat
dihubungkan dengan data pasien.
Proses pembentukan gambar yang terjadi pada imaging plate melalui
beberapa tahapan :
Tahapan- tahapan pada imaging plate :
1) Exposure
Imaging Plate diletakkan didalam kaset, setelah itu kita
lakukan eksposi dengan menggunakan sinar x. Sinar x yang
menembus obyek akan mengalami atenulasi sehingga enersi
dari sinar x tersebur ditangkap oleh imaging plate dalam
bentuk data digital.
2) Stimulate
Bayangan tersebut kemudian distimulasi dengan Photo
Stimulable Phosphor (PSP) yang fungsinya untuk mengubah
bayangan laten pada IP menjadi cahaya tampak.
3) Read (pembacaan)
Dengan menggunakan Photo Multiplier, cahaya tampak
tersebut di tangkap dan digandakan serta diperkuat
intensitasnya kemudian diubah menjadi sinyal elektrik.
kemudian sinyal-sinyal ini direkonstruksikan menjadi sebuah
gambaran yang dapat dilihat oleh layar monitor.
13
4) Erasure (penghapusan)
Setelah proses pembacaan seselai, data gambar pada imaging
plate secara otomatis akan dihapus oleh Intense Light
sehingga imaging plate dapat digunakan kembali.
b. Image Reader
Image reader berfungsi sebagai pembaca dan mengolah gambar
yang diperoleh dari Image plate. Semakin besar kapasitas memorinya
maka semakin cepat waktu yang diperlukan untuk proses pembacaan
Image plate, dan mempunyai daya simpan yang besar. Waktu tercepat
yang diperlukan untuk membaca imaging plate pada image reader yaitu
selama 64 detik.
Selain tempat dalam proses pembacaan, Image reader mempunyai
peranan yang sangat penting juga dalam proses pengolahan gambar,
sistem transportasi Image plate serta penghapusan data yang ada di
Image plate. Image reader sudah dilengkapi dengan monitor yang
berfungsi untuk menampilkan gambar yang sudah di baca oleh Image
reader disebut dengan image console.
Image console berfungsi sebagai media pengolahan data, berupa
computer khusus untuk medical imaging dengan touch screen monitor.
Image console dilengkapi oleh bebagai macam menu yang menunjang
dalam proses editing dan pengolahan gambar sesuai dengan anatomi
tubuh, seperti kondisi hasil gambaran organ tubuh, kondisi tulang dan
kondisi soft tissue.
Terdapat menu yang sangat diperlukan dalam teknik
radiofotografi yaitu kita bisa mempertinggi atau mengurangi densitas,
ketajaman, kontras dan detail dari suatu gambaran radiografi yang
diperoleh.
c. Image Recorder
Image recorder mempunyai fungsi sebagai proses akhir dari suatu
pemeriksaan yaitu media pencetakan hasil gambaran yang sudah diproses
dari awal penangkapan sinar-X oleh image plate kemudian di baca oleh
14
image reader dan diolah oleh image console terus dikirim ke image
recorder untuk dilakukan proses output dapat berupa media compact disc
sebagai media [Link] dengan printer laser yang berupa laser
imaging film.
C. Cara Kerja Image Processing Pada Computer Radiography
1. Image Contrast Enhancement
Pemprosesan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas gambar pada
radiograf. Rentang densitas pada CR lebih luas dibandingkan dengan
radiograf jika dilihat pada viewing box, tanpa image processing ini akan
menjadikan radiograf kehilangan sebagian informasinya pada CR imaging
chain.
a. Edge enhancement, tepi radiograf dan organ atau tulang kecil dapat
ditingkatkan kualitasnya dengan meningkatkan amplitudo komponen
frekuensi spasial tinggi pada gambar, misalnya dengan filter high-pass
dua dimensi. Unshrap masking adalah metode paling awal dan paling
terkenal yang digunakan pada CR. Hal ini dapat dirumuskan sebagai
berikut:
Dimana:
X : nilai piksel dari gambar asli.
Y : gambar yang dihasilkan, dan
: versi smoothed dari gambar asli yang diperoleh dengan operasi
rata-rata bergerak.
Perbedaan gambar mewakili kandungan frekuensi spasial yang
tinggi pada gambar, dan faktor peningkatan menentukan berapa banyak
komponen ini ditambahkan ke gambar akhir. Pada peralatan CR
komersial, faktor penyempurnaan dibuat bergantung pada data untuk
kontrol yang lebih baik:
15
Pengaturan edge enhancement diperlukan pada saat proses
produksi gambar. Pengaturan ini dilakukan setelah proses pembacaan
dan data dikimrimkan ke image console. Pengaturan imejing ini
dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas imejing. Pengaturan yang
berlebihan menyebabkan artefak yang menyerupai lesi litik pada tulang
atau area kehitaman seperti proses infeksi.
Pada gambar A :Artefak terlihat sebagai garis lusen disekitar prostese, bisa
disalah artikan sebagai adanya proses infeksi atau longgarnya prostese.
Pada gambar B : Dengan pengaturan edge enhanchement yang tepat, artefak
tidak terlihat lagi.
2. Dynamic Range Reduction
Dynamic range atau latitude adalah suatu rata-rata paparan yang akan
menghasilkan gambaran dalam rata-rata desitas yang berguna. Dynamic
range (DR) artinya rasio dari tingkat terang maksimum yang bisa ditangkap
sensor, dibanding dengan tingkat minimumnya (gelap). Dengan mereduksi
dinamic range nya, maka kontras akan semakin baik, dapat memperlihatkan
area satu dengan area yang lain dengan jelas.
16
Gambar A. Dari area paling gelap disebelah kiri hingga area paling terang
disebelah kanan.
Gambar B. area paling gelap di kiri tidak berwarna hitam namun lebih ke
dark grey begitupula area paling terang tidak berwarna putih.
Melihat contoh di atas maka gambar kedua memiliki dynamic range yang
lebih rendah daripada gambar yang pertama.
17
3. Multiscale Contrast Enhancement
Banyak varian telah dikembangkan dari metode untuk peningkatan tepi
dan pengurangan rentang dinamis yang dibahas sejauh ini 6,7,8,9. Teknik ini
memiliki kesamaan bahwa mereka semua bergantung pada operator
lingkungan spasial, pada kebanyakan kasus merupakan filter rata-rata geser.
Seperti telah disebutkan di atas, ada beberapa kontroversi dalam komunitas
pencitraan medis tentang pemilihan diameter kernel. Pertanyaan ini tidak
memiliki jawaban yang sederhana, dan dalam banyak kasus pilihan optimal
hanyalah sebuah kompromi. Pada metode di atas data gambar dibagi menjadi
dua saluran yang berbeda sesuai dengan frekuensi spasial. Kontras
dimodifikasi sesuai dengan mekanisme yang berbeda di setiap saluran. Ini
tidak optimal, karena pada sebagian besar gambar, fitur yang relevan
memiliki komponen frekuensi di sebagian besar spektrum. Fitur gambar kecil
seperti tepi dan mikronodulus seluruhnya termasuk ke ujung spektrum yang
tinggi. Fitur menengah dan berukuran besar seperti nodul besar dan struktur
anatomi biasanya mencakup rentang frekuensi menengah sampai tinggi.
Variasi kerapatan kotor yang disebabkan oleh transisi antara bagian tubuh dan
latar belakang yang berbeda sebagian besar berkontribusi pada rendahnya
rentang frekuensi. A priori berbahaya untuk mengabaikan sebagian dari
18
spektrum frekuensi, karena lesi halus ada pada skala apapun. Mendeteksi
kemuraman yang besar tapi samar mungkin sama pentingnya dengan
menemukan fraktur atau nodul kecil.
Pendekatan multiskala yang disajikan pada bagian ini tidak lagi
mengadopsi ukuran objek atau frekuensi spasial sebagai kriteria untuk
mengendalikan jumlah perangkat tambahan, namun kontras radiasi dari fitur
ini. Beberapa detail gambar terlihat oleh diri mereka sendiri, ada juga
perbedaan yang sangat halus dan mudah diabaikan. Kualifikasi ini berlaku
untuk fitur dengan ukuran atau skala apa pun, mis. Tepi, tekstur, detil ringkas,
struktur besar atau kekagaman. Visualisasi umumnya ditingkatkan dengan
memperkuat kontras dari fitur gambar halus, dan pada saat yang sama
meremehkan komponen kuat tanpa risiko menghilangkan informasi. Hal ini
dilakukan terlepas dari ukuran fitur, oleh karena itu istilah multiscale. Ini
adalah paradigma dasar pemerataan kontras multiscale, yang dikenal secara
komersial sebagai MUSICA dalam sistem ADC Agfa.
4. Contrast Equalization
Pemerataan kontras termasuk proses multiscale decomposition.
Perbaikan kontras dapat dihasilkan dengan memodifikasi koefisen dari
Laplacian pyramid. Nilai koefisien yang kecil dapat menghasilkan detail yang
halus. Densitas yang bervariasi memiliki kontribusi yang besar untuk seluruh
rentang dinamik, dan ini direpresentasikan oleh nilai koefisien yang besar.
Kontras dapat dikurangi tanpa beresiko untuk menghilangkan informasi pada
citra. Koefisien yang dibutuhkan untuk pemerataan adalah p<1. Dimana p
adalah mengontrol peningkatan kontras. Sebagai contoh adalah :
Gambar : kiri; original hip image (p=1). Tengah; pemerataan kontras pada
gambar (p=0,7). Kanan; pemerataan kontras pada gambar (p=0,5)
19
Dari gambar menunjukkan bahwa nilai p = 0,5 lebih baik detailnya
daripada p=1. Pada gambar menunjukkan bahwa tidak diperlukan pemerataan
kontras pada citra. Seperti teknik penguatan kontras tidak dipengaruhi oleh
detail yang halus dengan tepi yang tajam. Dilihat dari segi kontrasnya tidak
berbeda jauh dengan original citra. Penguatan kontras dapat terlihat nyata
pada area yang penetrasinya rendah seperti mediastinum, juga pada paru-aru.
Pada pemeriksaan costae soft tissue juga terlihat. Dalam sistem ADC sistm
pemerataan kontras digunakan untuk semua jenis pemeriksaan karena
menggabungkan keunggulan kontras yang disempurnakan dengan citra
tampak natural dan tidak ada artefak.
5. Frequency Processing
Representasi multiscale ini cocok untuk diterapkan pada filter
konvensional sepeti edge enhancement atau low-frewuency attenuaton. Dan
dignakan untuk mengurangi rentang dinamik, dan selanjutnya disebut latitude
reduction. Pada kenyataanya, respon dari beberapa frekuendi dapat mudah
dipersatukan dengan koefisien pyramid laplacian yang seimbang sesuai
dengan lapisan mereka berada.
Pengurangan rentang diaplikasikan dalam beberapa pemeriksaan seperti
shoulder, dimana aa densitas yang signifikan diseluruh gabar. Factor reduksi
sedang, f1=14 karena pemerataan kontras dengan sendirinya mengurangi
dynamic range yang dibutuhkan/ ini dikarenakan variasi densitas yang ada
pada citra, yang berkontribusi pada dynamic range, yang paling banyak
dilemahkan. Sebagai contoh adalah citra cuboid yang menunjukkan
bagaimana pemerataan kontras, edge enhancement dan reduksi latitude pada
masing-masing gabar yang mempengaruhi kualitas gambar dengan cara
tertentu. Pengaturannya dapat dipilh sehingga ada perbedaanya jelas terlihat.
Sedemikian rupa diproses sehingga dapat memiliki kontras dengan skala
halus dan rentang signal yang sama pada region of interest. Ini dapat
diverifikasi dengan adanya densitas. Berikut adalah gambar dengan
enhancement tertentu.
20
Efeknya dapat terlihat dengan jelas pada sisinya. pmerataan kontras
menunjukkan adanya peningkatan kontras baik pada tulang maupun soft
tissue. Efek yang sama dapat juga terlihat pada gambar yang direduksi
lattitudenya, dalam hal ini kontral dengan objek yang kecil maupun yang
sedang dapat ditingkatkan, tetapi tidak sama dengan derajat pemerataan
kontras, dan tidak pada semua daerah citra. Hasil yang baik ditemuakan pada
area joint, tetapi sebagian tibia fibula hanya terlihat sebagian. Peningkatan
kontras relative dibutuhkan dengan menekan rentang yang luas dari densitas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Computer Radiography adalah proses digitalisasi gambar yang menggunakan
imaging plate untuk akusisi data gambar X-Ray (Ballinger, 1999). Komponen-
komponen yang ada pada Computer Radiography adalah:
a. Kaset
b. Scaner / Reader
c. Console
d. Perlengkapan operasional yang terdiri dari:
i. Image Plate
ii. Image Reader
iii. Image Recorder
21
Berbagai teknik multiscale contrast enhancement yang telah dipaparkan telah
terbukti diperlukan dalam membuat citra x-ray. Presepsi kontras rendah dapat
ditingkatakan pada seluruh gambar, tanpa menimbulkan artefak. Konsep ini memiliki
lingkup umum dan karena manfaatnya yang nyata dan dapat dievaluasi dalam
modalitas lainnya, seperti computed tomography, digital mammography dan aplikasi
non medas, seperti pengujian non destruktif.
DAFTAR PUSTAKA
Nurindra, Lisda. 2015. Computer Radiografi. Diambil dari:
[Link]
Pieter Vuylsteke, Emile Schoeters, Agfa-Gevaert N.V., Mortsel, B. 1999. Image
Processing in Computed Radiography. Berlin: Computerized
Tomography for Industrial Applications and Image Processing in
Radiology Paper 16
Ballinger, Philip W. dan Eugene D. Frank. 2003. Merrills Atlas of Radiographic
Positions and Radiologic Prosedures, Tenth Edition, Volume Three. Saint
Louis : Mosby.
Bushong, Steward C. 2001. Radiologic Science for Technologists, Physics,
Biology and Protection. Saint Louis : Mosby.
Carlton, Richard R. dan Arlene M. Adler. 2001. Principles of Radiographic
Imaging : An Art and Science. USA: Thomson Learning.
Greene, E. Reginald dan Jorg Wilhelm Oestmann. 1992. Computed Digital
Radiography in Clinical Practice. New York : Thieme Medical
Publishers.
[Link]
22
Papp, Jeffrey. 2006. Quality Management in The Imaging Science, Thrid
Edition. Saint Louis : Mosby.
23