BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Episiotomi
1. Definisi Episiotomi
Menurut Sarwono (2007), episiotomi merupakan suatu tindakan insisi
pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin
selaput dara, jaringan pada septum rektovaginal, otot-otot dan fasia perineum dan
kulit sebelah depan perineum (Sarwono, 2007, hal. 171).
Episiotomi adalah insisi pudendum / perineum untuk melebarkan
orifisium ( lubang / muara ) vulva sehingga mempermudah jalan keluar bayi
(Benson dan Pernoll, 2009, hal 176).
2. Tujuan Episiotomi
Tujuan episiotomi yaitu membentuk insisi bedah yang lurus, sebagai
pengganti robekan tak teratur yang mungkin terjadi. Episiotomi dapat mencegah
vagina robek secara spontan, karena jika robeknya tidak teratur maka
menjahitnya akan sulit dan hasil jahitannya pun tidak rapi, tujuan lain episiotomi
yaitu mempersingkat waktu ibu dalam mendorong bayinya keluar (Williams,
2009, hal. 160).
3. Waktu Pelaksanaan Episiotomi
Menurut Benson dan Pernoll (2009), episiotomi sebaiknya dilakukan
ketika kepala bayi meregang perineum pada janin matur, sebelum kepala sampai
pada otot-otot perineum pada janin matur (Benson dan Pernoll, 2009, hal. 177).
Universitas Sumatera Utara
Bila episiotomi dilakukan terlalu cepat, maka perdarahan yang timbul
dari luka episiotomi bisa terlalu banyak, sedangkan bila episiotomi dilakukan
terlalu lambat maka laserasi tidak dapat dicegah. sehingga salah satu tujuan
episiotomi itu sendiri tidak akan tercapai. Episiotomi biasanya dilakukan pada
saat kepala janin sudah terlihat dengan diameter 3 - 4 cm pada waktu his. Jika
dilakukan bersama dengan penggunaan ekstraksi forsep, sebagian besar dokter
melakukan episiotomi setelah pemasangan sendok atau bilah forsep (Williams,
2009, hal. 161).
4. Tindakan Episiotomi
Pertama pegang gunting epis yang tajam dengan satu tangan, kemudian
letakkan jari telunjuk dan jari tengah di antaraa kepala bayi dan perineum searah
dengan rencana sayatan. Setelah itu, tunggu fase acme (puncak his). Kemudian
selipkan gunting dalam keadaan terbuka di antara jari telunjuk dan tengah.
Gunting perineum, dimulai dari fourchet (komissura posterior) 45 derajat ke
lateral kiri atau kanan. (Sarwono, 2006, hal. 457).
5. Indikasi Episiotomi
Untuk persalinan dengan tindakan atau instrument (persalinan dengan
cunam, ekstraksi dan vakum); untuk mencegah robekan perineum yang kaku atau
diperkirakan tidak mampu beradaptasi terhadap regangan yang berlebihan,
dan untuk mencegah kerusakan jaringan pada ibu dan bayi pada kasus letak /
presentasi abnormal (bokong, muka, ubun-ubun kecil di belakang) dengan
menyediakan tempat yang luas untuk persalinan yang aman (Sarwono, 2006, hal
455-456).
Universitas Sumatera Utara
6. Jenis - Jenis Episiotomi
Sebelumnya ada 4 jenis episiotomi yaitu; Episiotomi medialis, Episiotomi
mediolateralis, Episiotomi lateralis, dan Insisi Schuchardt. Namun menurut
Benson dan Pernoll (2009), sekarang ini hanya ada dua jenis episiotomi yang di
gunakan yaitu:
a. Episiotomi median, merupakan episiotomi yang paling mudah dilakukan dan
diperbaiki. Sayatan dimulai pada garis tengah komissura posterior lurus ke
bawah tetapi tidak sampai mengenai serabut sfingter ani. Keuntungan dari
episiotomi medialis ini adalah: perdarahan yang timbul dari luka episiotomi lebih
sedikit oleh karena daerah yang relatif sedikit mengandung pembuluh darah.
Sayatan bersifat simetris dan anatomis sehingga penjahitan kembali lebih mudah
dan penyembuhan lebih memuaskan. Sedangkan kerugiannya adalah: dapat
terjadi ruptur perinei tingkat III inkomplet (laserasi median sfingter ani) atau
komplit (laserasi dinding rektum).
b. Episiotomi mediolateral, digunakan secara luas pada obstetri operatif karena
aman. Sayatan di sini dimulai dari bagian belakang introitus vagina menuju ke
arah belakang dan samping. Arah sayatan dapat dilakukan ke arah kanan ataupun
kiri, tergantung pada kebiasaan orang yang melakukannya.
Panjang sayatan kira-kira 4 cm. Sayatan di sini sengaja dilakukan menjauhi otot
sfingter ani untuk mencegah ruptura perinea tingkat III. Perdarahan luka lebih
banyak oleh karena melibatkan daerah yang banyak pembuluh darahnya. Otot-
otot perineum terpotong sehingga penjahitan luka lebih sukar. Penjahitan
Universitas Sumatera Utara
dilakukan sedemikian rupa sehingga setelah penjahitan selesai hasilnya harus
simetris (Benson dan Pernoll, 2009, hal. 176-177).
7. Benang Yang Digunakan Dalam Penjahitan Episiotomi
Alat menjahit yang digunakan dalam perbaikan episitomi atau laserasi
dapat menahan tepi tepi luka sementara sehingga terjadi pembentukan kolagen
yang baik. Benang yang dapat diabsorbsi secara alamiah diserap melalui absorbsi
air yang melemahkan rantai polimer jahitan. Benang sintetik yang dapat
diabsorbsi yang paling banyak digunakan adalah polygarin 910 (Vicryl) yang
dapat menahan luka kira-kira 65% dari kekuatan pertamanya setelah 14 hari
penjahitan dan biasanya diabsorbsi lengkap setelah 70 hari prosedur
dilakukannya.
Ukuran yang paling umum digunakan dalam memperbaiki jaringan
trauma adalah 2-0, 3-0, dan 4-0, 4-0 yang paling tipis. Benang jahit yang biasa
digunakan dalam kebidanan dimasukkan ke dalam jarum, dan hampir semua
jahitan menggunakan jarum lingkaran yang runcing pada bagian ujungnya.
Ujung runcing dapat masuk dalam jaringan tanpa merusaknya. (Walsh,2008,
hal. 560).
8. Penyembuhan Luka Episiotomi
Menurut Walsh (2008) proses penyembuhan terjadi dalam tiga fase, yaitu:
a. Fase 1: Segera setelah cedera, respons peradangan menyebabkan peningkatan
aliran darah ke area luka, meningkatkan cairan dalam jaringan,serta akumulasi
leukosit dan fibrosit. Leukosit akan memproduksi enzim proteolitik yang
memakan jaringan yang mengalami cedera.
Universitas Sumatera Utara
b. Fase 2: Setelah beberapa hari kemudian, fibroblast akan membentuk benang
benang kolagen pada tempat cedera.
c. Fase 3: Pada akhirnya jumlah kolagen yang cukup akan melapisi jaringan
yang rusak kemudian menutup luka.
Proses penyembuhan sangat dihubungani oleh usia, berat badan, status
nutrisi, dehidrasi, aliran darah yang adekuat ke area luka, dan status
imunologinya. Penyembuhan luka sayatan episiotomi yang sempurna tergantung
kepada beberapa hal. Tidak adanya infeksi pada vagina sangat mempermudah
penyembuhan. Keterampilan menjahit juga sangat diperlukan agar otot-otot yang
tersayat diatur kembali sesuai dengan fungsinya atau jalurnya dan juga dihindari
sedikit mungkin pembuluh darah agar tidak tersayat. Jika sel saraf terpotong,
pembuluh darah tidak akan terbentuk lagi (Walsh, 2008, hal. 559).
9. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka
a. Status nutrisi yang tidak tercukupi memperlambat penyembuhan luka
b. Kebiasaan merokok dapat memperlambat penyembuhan luka
c. Penambahan usia memperlambat penyembuhan luka
d. Peningkatan kortikosteroid akibat stress dapat memperlambat
penyembuhan luka
e. Ganguan oksigenisasi dapat mengganggu sintesis kolagen dan
menghambat epitelisasi sehingga memperlambat penyembuhan luka
f. Infeksi dapat memperlambat penyembuhan luka.
Universitas Sumatera Utara
B. Aktivitas Seksual Pasca Bersalin
1. Pengertian Aktivitas Seksualitas Pasca Bersalin
Seksualitas merupakan suatu komponen integral dari kehidupan seorang
wanita normal, di mana hubungan seksual yang nyaman dan memuaskan
merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam hubungan perkawinan
bagi banyak pasangan (winkjosastro, 2002). Menurut Oruc, [Link] (1999, hlm.48)
Seksualitas diartikan sebagai sebuah identitas individu yang secara sosial
dibangun berdasarkan komponen biologis, kepercayaan, nilai, minat, daya tarik,
harapan dan tingkah laku (Wals, Linda V, 2008)
Aktivitas seksual pasca bersalin yang aman maksudnya adalah
berhubungan seks dengan menghindari penetrasi (memasukkan penis, jari, atau
hal lain ke dalam vagina). Ada pula yang mengatakan bahwa aktivitas seksual
pasca bersalin yang aman adalah berhubungan kembali setelah enam minggu
dihitung sejak kelahiran anak (Thamrin, 2010, 1).
2. Waktu Pelaksanaan Aktivitas Seksual Pasca Bersalin
Aktivitas seksual dapat dimulai kembali setelah perdarahan berhenti atau
ketika lochea sudah berhenti (Thamrin, 2010, 2).
Pendapat lain mengatakan bila luka jahitan telah sembuh, atau setelah empat
sampai enam minggu setelah bersalin (Walsh, 2008, hal. 393).
3. Siklus Respon Seksual Pada Wanita
Siklus respon seksual pada wanita dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
kompleks dan saling berhubungan antara lain psikologis, lingkungan, dan
fisiologis (hormon, vaskuler, dan neourologis). Fase awal dari respon seksual
Universitas Sumatera Utara
adalah gairah, kemudian fase terangsang, fase pendataran, fase orgasme, dan fase
resolusi.
1. Fase Gairah
Fase gairah adalah motivasi dan hasrat untuk melakukan hubungan seksual.
2. Fase Terangsang
Selama fase ini klitoris dan vagina membengkak, vagina memanjang, melebar
dan membuka, serta uterus terangkat keluar dari pelvis.
3. Fase Pendataran
Pada fase ini seorang wanita merasakan ketegangan seksual dan perasaan erotik
secara intensif dan pembendungan pembuluh darah mencapai intensitas
maksimum.
4. Fase Orgasme
Fase orgasme adalah sensasi seksual yang sangat nikmat.
5. Fase Resolusi
Fase yang mengikuti pelepasan tekanan seksual tiba-tiba yang diakibatkan oleh
orgasme, wanita akan lebih santai dan tenang.
Perubahan fisiologis tubuh yang terjadi pada saat terangsang akan kembali ke
keadaan semula dan tubuh kembali pada keadaan istirahat (Mastroianni, 1999).
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Seksual Pasca Bersalin
Intensitas respon seksual berkurang karena perubahan tubuh. Tubuh
menjadi tidak sesensitif seperti semula. Adanya rasa lelah akibat mengurus bayi
mengalahkan minat untuk berhubungan seksual. beberapa wanita merasakan
perannya sebagai orang tua sehingga timbul tekanan dan kebutuhan untuk
Universitas Sumatera Utara
menyesuaikan diri dengan perannya. Berurusan dengan bayi, menguras semua
kasih sayang ibu sehingga waktu untuk pasangan tidak tersisa lagi.
Ada pula perasaan tidak nyaman secara psikologis yang dialami ibu
karena bayi dikamar yang sama. Adanya luka bekas episiotomi juga menjadi
salah satu alasan, ibu menjadi lebih takut bila jahitannya akan lepas. Kurangnya
informasi tentang seks pasca bersalin. Berhubungan seksual pasca bersalin
berbahaya apabila pada saat itu mulut rahim masih terbuka maka akan beresiko.
Mudah terkena infeksi, karena kuman yang hidup di luar, akibat adanya
hubungan seksual ketika mulut rahim masih terbuka. Adanya respon fisiologis
yang menekan ibu, karena ibu menyusui bayi (Bahiyatun, 2009, hal. 83 )
5. Penyebab Apati Terhadap Aktivitas Seksual Pasca Bersalin
Stress dan traumatik, kelahiran bayi bisa menjadi pengalaman yang dapat
menimbulkan traumatik terutama jika ibu belum dipersiapkan secukupnya.
Banyak ibu yang mempunyai pengharapan yang tidak realistik tentang kelahiran.
Misalnya: persalinan berlangsung lama atau persalinan yang memerlukan
tindakan.
Adanya luka episiotomi, hal ini bila penjahitan luka episiotomi dilakukan dengan
tidak benar maka akan mengakibatkan rasa nyeri dan rasa tidak nyaman di saat
ibu berjalan dan duduk. Hal ini bisa berlangsung berminggu-minggu atau bahkan
berbulan-bulan walaupun mungkin sayatan itu sendiri sudah sembuh.
Keletihan bagi seorang ibu yang baru dan belum berpengalaman selain
harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang biasa, ia juga harus menghadapi
bayinya yang tidak mau tidur, sering menangis, atau bermasalah dalam menyusu.
Universitas Sumatera Utara
Maka ibu akan menjadi letih dan lemah sehingga gairah seks menjadi menurun.
Adanya depresi, penyebabnya adalah keadaan tidak bersemangat akibat lelah
pasca persalinan. Perasaan ini biasanya terjadi dalam beberapa minggu setelah
kelahiran bayi (Llewellyn, 2005, hal. 282).
6. Hal-Hal yang Bermanfaat Untuk Memulai Aktivitas Seksual Pasca Bersalin
Hal-hal bermanfaat yang dapat dilakukan untuk menghidupkan aktivitas
seksual pasca melahirkan yaitu menjaga agar badan tetap sehat. Perlu dingat jika
badan sehat berarti hubungan seks juga akan sehat, makan makanan yang bergizi
cukup, cukup berarti tidak berlebihan dan tidak kurang. Cukup istirahat karena
biasanya ibu lebih lelah akibat sering terjaga saat malam hari. Olahraga secara
teratur, hindari stres, hindari merokok dan mengkonsumsi alkohol, serta lakukan
perawatan diri (Bahiyatun, 2009, hal. 82).
7. Cara Mengatasi Masalah Aktivitas Seksual Pasca Bersalin
Jika pasangan ingin lebih cepat melakukan hubungan dari yang
disarankan yaitu enam minggu pasca bersalin, maka dapat menyarankan pada
pasangan untuk memakai pelumas atau jelly.
Bila saat berhubungan masih terasa sakit, ibu sebaiknya mengatakan dengan
jujur kepada pasangan. Jangan takut untuk berterus terang kepada pasangan.
Pastikan jika luka episiotomi sudah pulih atau kering. Ibu serta pasangan juga
dapat melakukan konsultasi kepada dokter kandungan atau bidan jika dirasa
perlu.(Bahiyatun,2009,hal.84).
Universitas Sumatera Utara