VISKOSITAS
I. Tujuan
Mampu menentukan viskositas dari suatu larutan.
II. Prinsip
Berdasarkan kekentalan dari zat cair yang diukur dengan menggunakan
viskometer brookfield dan ostwald.
III. Teori
III.1 Pengertian Viskositas
Viskositas adalah suatu cara untuk menyatakan berapa daya tahan dari
aliran yang diberikan oleh suatu cairan. Kebanyakan viskometer mengukur
kecepatan dari suatu cairan mengalir melalui pipa gelas (gelas kapiler), bila
cairan itu mengalir cepat maka berarti viskositas dari cairan itu rendah
(misalnya air). Dan bila cairan itu mengalir lambat, maka dikatakan cairan itu
viskositas tinggi. Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan
yang melalui tabung silinder. Cara ini merupakan salah satu cara yang paling
mudah dan dapat digunakan baik untuk cairan maupun gas. Menurut poiseulle,
jumlah volume cairan yang mengalir melalui pipa per satuan waktu. (Dudgale.
1986)
Viskositas biasanya diterima sebagai kekentalan atau penolakan
terhadap penuangan. Viskositas menggambarkan penolakan dalam fluid kepada
aliran dapat dipikir sebagai cara untuk mengukur gesekan fluid. Prinsip dasar
penerapan viskositas digunakan dalama sifat alir zat cair atau rgeologi.
Rheologi merupakan ilmu tentang sifat alir suatu zat. Rheologi terlibat dalam
pembuatan, pengemasan atau pemakaian, konsistensi, stabilitas dan
ketersediaan hayati sediaan. (Moechtar, 1990)
Cairan mempunyai gaya gesek yang lebih besar untuk mengalir daripada
gas, hingga cairan mempunyai koefisien viskositas yang lebih besar
daripadagas. Viskositas gas bertambah dengan naiknya temperatur, sedang
viskositas cairan turun dengan naiknya temperatur. Koefisien viskositas gas
pada tekanan tidak terlalu besar, tidak tergantung tekanan, tetapi untuk cairan
naik dengan naiknya tekanan (Martin, 1993). Viskositas merupakan fungsi dari
waktu yang artinya dengan bertambahnya waktu viskositas semakin
meningkat. Sifat ini penting diketahui sewaktu material cetak dicampur atau
saat dimasukkan ke dalam mulut karena viskositas material cetak kosistensi
light pada 5 menit setelah pencampuran akan sama dengan kosistensi regular
pada 3 menit. (Martin, 1993)
Makin tinggi viskositas maka akan semakin besar tahanannya. Bila
viskositas gas meningkat dengan naiknya temperatur, maka viskositas cairan
justru menurun jika temperatur dinaikkan. (Martin, 1993).
Pada hukum aliran viskositas Newton menyatakan hubungan antara gaya-gaya
mekanika dari suatu aliran viskos. Geseran dalam viskositas (fluida) adlah
konstan sehubungan dengan gesekannya. Hubungan tersebut berlaku untuk
fluida Newtonian, dimana perbandingan antara tegangan geser (s) dengan
kecepatan geser (g) nya konstan. Parameter inilah yang disebut dengan
viskositas. Aliran viskositas dapat digambarkan dengan dua buah bidang
tersebut. Suatu bidang permukaan bawah yang tetap dibatasi oleh lapisan fluida
setebal h, sejajar dengan permukaan atas itu ringan, yang berarti tidak
memberikan beban pada lapisan fluida dibawahnya, maka tidak ada gaya tekan
yang berkerja pada lapidan fluida. (Dudgale, 1986)
III.2 Faktor- Faktor yang mempengaruhi viskositas
1. Tekanan
Viskositas cairan naik dengan naiknya tekanan, sedangkan
viskositas gas tidak dipengaruhi oleh tekanan.
2. Temperatur
Viskositas akan turun dengan naiknya suhu, sedangkan
viskositas gas naik dengan naiknya suhu. Pemanasan zat cair
menyebabkan molekul-molekulnya memperoleh energi. Molekul-
molekul cairan bergerak sehingga gaya interaksi antar molekul
melemah. Dengan demikian viskositas cairan akan turun dengan
kenaikan temperatur.
3. Kehadiran zat lain
Penambahan gula tebu meningkatkan viskositas air. Adanya bahan
tambahan seperti bahan suspensi menaikkan viskositas air. Pada
minyak ataupun gliserin adanya penambahan air akan menyebabkan
viskositas akan turun karena gliserin maupun minyak akan semakin
encer, waktu alirnya semakin cepat.
4. Ukuran dan berat molekul
Viskositas naik dengan naiknya berat molekul. Misalnya laju aliran
alkohol cepat, larutan minyak laju alirannya lambat dan kekentalannya
tinggi seta laju aliran lambat sehingga viskositas juga tinggi.
5. Berat molekul
Viskositas akan naik jika ikatan rangkap semakin banyak.
6. Kekuatan antar molekul
Viskositas air naik denghan adanya ikatan hidrogen, viskositas
CPO dengan gugus OH pada trigliseridanya naik pada keadaan yang
sama. (Bird, 1987)
III.3 Penggolongan zat/bahan menurut tipe alir
1. Sistem Newtonian
Hukum alir dari Newton diilustrasikan sebagai berikut :
Diasumsikan adalah sebuah balok cairan yang terdiri dari lapisan-
lapisan molekul paralel, bagaikan setumpuk kartu. Jika bidang cairan
paling atas bergerak dengan suatu kecepatan konstan, setiap lapisan di
bawahnya akan bergerak dengan suatu kecepatan yang berbanding
lurus dengan jarak dari lapisan dasar yang tetap diam. Pada kartu
tersebut, perbandingan kecepatan, dv, dengan jarak, dr, disebut dengan
kecepatan gradien/kecepatan geser, dv/dr.
Digunakan istilah :
a. Rate of shear (D) dv/dr yaitu untuk menyatakan perbedaan
kecepatan (dv) antara dua bidang cairan yang dipisahkan oleh
jarak yang sangat kecil (dr).
b. Shearing stress ( atau F ) F/A yaitu untuk menyatakan gaya per
satuan luas yang diperlukan untuk menyebabkan aliran.
F/A = dv/dr
c. Viskositas merupakan perbandingan antara Shearing stress
F/A dan Rate of shear dv/dr. Satuan viskositas adalah poise atau
dyne detik cm-2.
d. Fluiditas merupakan kebalikan dari viskositas. Satuan fluiditas
adalah centipoise (cps). 1cps= 0,01 poise.
2. Sistem Non-Newtonian
Ada 3 jenis tipe aliran dalam sistem Non-Newtonian, yaitu :
a. Aliran Plastis
Kurva aliran plastis tidak melalui titik (0,0) tapi memotong
sumbu shearing stress (atau akan memotong jika bagian lurus dari
kurva tersebut diekstrapolasikan ke sumbu) pada suatu titik tertentu
yang dikenal dengan sebagai harga yield (yield value). Cairan
plastis tidak akan mengalir sampai shearing stress dicapai sebesar
yield value tersebut. Pada harga stress di bawah harga yield value,
zat bertindak sebagi bahan elastis (meregang lalu kembali ke
keadaan semula, tidak mengalir).
Para ahli reologi mengklasifikasikan zat-zat bingham tersebut,
yaitu zat yang memiliki yield value sebagai zat padat, sedangkan
untuk zat yang mulai mengalir pada tekanan geser yang paling
minimum disebut sebagai zat cair. Yield value merupakan suatu
sifat yang sangat penting dari system disperse tertentu.
Angka arah dari reogram pada aliran plastik, dinamakan
mobilitas, yang analog dengan fluiditas dalam system newton dan
harga resiproknya dinamakan viskositas plastik, U. Persamaan
yang memerikan aliran plastic adalah :
U=(Ff)
G
U adalah viskositas plastis, dan f adalah yield value.
Aliran plastis berhubungan dengan adanya partikel-partikel yang
tersuspensi dalam suspensi pekat. Adanya yield value disebabkan
oleh adanya kontak antara partikel-partikel yang berdekatan
(disebabkan oleh adanya gaya van der Waals), yang harus dipecah
sebelum aliran dapat terjadi. Akibatnya, yield value merupakan
indikasi dari kekuatan flokulasi. Makin banyak suspensi yang
terflokulasi, makin tinggi yield value-nya. Kekuatan friksi antar
partikel juga berkontribusi dalam yield value. Ketika yield value
terlampaui (shear stress di atas yield value), sistem plastis akan
menyerupai sistem newton.
Aliran plastic diasosiasikan dengan adanya partikel-partikel
terflokulasi dalam suspense yang pekat. Akibatnya suatu struktur
yang kontinu terjadi di seluruh system. Adanya yield value
dikarenakan bergabungnya partikel-partikel (yang disebabkan gaya
Van Der Waals), yang harus dipecahkan sebelum aliran terjadi. Jadi
yield value merupakan suatu indikasi dari gaya flokulasi. Makin
banyak suspense yang terflokulasi, makin tinggi yield valuenya.
Gaya-gaya friksional (geser) antara partikel-partikel yang bergerak
dapat juga mempunyai andil akan adanya yield value. Sesuai
dengan bentuk kurva, maka sekali yield value dilampaui,
pemberian tekanan geser selanjutnya (F-f) akan berbanding lurus
dengan kecepatan gesernya, G. Efeknya, system aliran plastic
tersebut akan menyerupai sistem newton.
b. Aliran Pseudoplastis
Aliran pseudoplastis ditunjukkan oleh beberapa bahan farmasi
yaitu gom alam dan sisntesis seperti dispersi cair dari tragacanth,
natrium alginat, metil selulosa, dan natrium karboksimetil selulosa.
Aliran pseudoplastis diperlihatkan oleh polimer-polimer dalam
larutan, hal ini berkebalikan dengan sistem plastis, yang tersusun
dari partikel-partikel tersuspensi dalam emulsi. Kurva untuk aliran
pseudoplastis dimulai dari (0,0) , tidak ada yield value, dan bukan
suatu harga tunggal.
Viskositas aliran pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya
rate of shear. Rheogram lengkung untuk bahan-bahan
pseudoplastis ini disebabkan adanya aksi shearing terhadap
molekul-molekul polimer (atau suatu bahan berantai panjang).
Dengan meningkatnya shearing stress, molekul-molekul yang
secara normal tidak beraturan, mulai menyusun sumbu yang
panjang dalam arah aliran. Pengarahan ini mengurangi tahanan dari
dalam bahan tersebut dan mengakibatkan rate of shear yang lebih
besar pada tiap shearing stress berikutnya.
FN = G
Eksponen N meningkat pada saat aliran meningkat hingga
seperti aliran newton. Jika N=1 aliran tersebut sama dengan aliran
newton.
c. Aliran Dilatan
Aliran dilatan terjadi pada suspensi yang memiliki presentase
zat padat terdispersi dengan konsentrasi tinggi. Terjadi peningkatan
daya hambat untuk mengalir (viskositas) dengan meningkatnya
rate of shear. Jika stress dihilangkan, suatu sistem dilatan akan
kembali ke keadaan fluiditas aslinya.
III.4 Cara Menentukan Viskositas
Digunakan alat yang dinamakan viskometer. Ada beberapa tipe
viskometer yang biasa digunakan antara lain:
1. Viskometer Brookfield
Pada viscometer ini nilai viskositas didapatkan dengan mengukur
gaya puntir sebuah rotor silinder (spindle) yang dicelupkan ke dalam
sample. Viskometer Brookfield memungkinkan untuk mengukur
viskositas dengan menggunakan teknik dalam viscometry. Alat ukur
kekentalan (yang juga dapat disebut viscosimeters) dapatmengukur
viskositas melalui kondisi aliran berbagai bahan sampel yang diuji.
Untuk dapat mengukur viskositas sampel dalam viskometer
Brookfield, bahan harus diam didalam wadah sementara poros
bergerak sambil direndam dalam cairan. (Atkins 1994)
Pada metode ini sebuah spindle dicelupkan ke dalam cairan yang
akan diukur viskositasnya. Gaya gesek antara permukaan spindle
dengan cairan akan menentukan tingkat viskositas cairan. Sebuah
spindle dimasukkan ke dalam cairan dan diputar dengan kecepatan
tertentu. Bentuk dari spindle dan kecepatan putarnya inilah yang
menentukan Shear Rate. Oleh karena itu untuk membuat sebuah
hasil viskositas dengan methode pengukuran
Rotational harus dipenuhi beberapa hal sebagai berikut:
a. Jenis Spindle
b. Kecepatan putar Spindle
c. Tipe Viskometer
d. Suhu sample
e. Shear Rate (bila diketahui)
f. Lama waktu pengukuran (bila jenis sample-nya Time
Dependent). (Sukardjo. 1997)
Viskometer Brookfield merupakan salah satu viscometer yang
menggunakan gasing atau kumparan yang dicelupkan kedalam zat
uji dan mengukur tahanan gerak dari bagian yang berputar. Tersedia
kumparan yang berbeda untuk rentang kekentalan tertentu, dan
umumnya dilengkapi dengan kecepatan rotasi. (FI IV,1038). Prinsip
kerja dari viscometer Brookfield ini adalah semakin kuat putaran
semakin tinggi viskositasnya sehingga hambatannya semakin besar.
(Moechtar,1990)
2. Viskometer Oswald
Pada viscometer ini yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan
oleh sejumlah cairan tertentu untuk mengalir melalui pipa kapiler
dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Di dalam
percobaan diukur waktu aliran untuk volume V (antara tanda a dan
b) melalui pipa kapiler yang vertical. Jumlah tekanan (P) dalam
hukum Poiseuille adalah perbedaan tekanan antara permukaan
cairan, dan akan berbanding lurus dengan r. (Moechtar,1990)
3. Viskometer Hoppler
Yang diukur adalah waktu yang diperlukan oleh sebuah bola untuk
melewati cairan pada jarak atau tinggi tertentu. Karena adanya
gravitasi benda yang jatuh melalui medium yang berviskositas
dengan kecepatan yang semakin besar sampai mencapai kecepatan
maksimum. Kecepatan maksimum akan dicapai jika gaya gravitasi
(g) sama dengan gaya tahan medium (f) besarnya gaya tahan
(frictional resistance) untuk benda yang berbentuk bola stokes.
(Moechtar,1990)
4. Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antaradinding luar
dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis
ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran
sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi di sepanjangkeliling
bagian tube sehingga menyebabkan penurunan konsentrasi.
Penurunan konsentras ini menyebabkab bagian tengah zat yang
ditekan keluar memadat. Hal ini disebut aliran sumbat
(Moechtar,1990)
5. Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah
papan, kemudian dinaikkan hingga posisi di bawah kerucut. Kerucut
digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya
digeser di dalam ruang semitransparan yang diam dan kemudian
kerucut yang berputar (Moechtar,1990).
Cairan yang mengikuti hukum Newton, viskositasnya tetap, tidak
dipengaruhi oleh kecepatan geser. Sehingga untuk menentukan
viskositas cairan Newton dapat ditentukan hanya menggunakan satu
titik rate og shear saja.
IV. Alat dan Bahan
IV.1 Bahan
Na CMC, etanol, parafin, propilenglikol, minyak wijen, minyak
kacang, minyak jagung, aquadest.
IV.2 Alat
Viskometer Brookfield, Viskometer Ostwald, gelas ukur, piknometer,
stopwatch, pipet.
V. Prosedur Percobaan
Disiapkan viskometer, di pasanglah spindel 1 pada viskometer brookfield,
lalu dimasukkan larutan yang akan diujikan pada cup. Diarahkan spindel tegak
lurus cup sampai tanda-tanda batas. Dihidupkan viskometer, diamati display
dicatat sebanyak 3 kali. Lalu, dilakukan cara yang sama pada semua jenis
spindel lainnya dan juga pada sampel lainnya.
Disiapkan viskometer ostwald yang sudah bersih dan kering, lalu dipipet
sampai leher ostwald, dimasukkan ke dalam viskometer ostwald, lalu dihisap
larutan uji sampai batas m (batas atas) dibiarkan mengalir sampai batas n (batas
bawah), dicatat waktu turunnya larutan uji ke batas n, dilakukan 3 kali unyuk
larutan uji yang lainnya, dan dihitung viskositasnya.
VI. Data Pengamatan
VI.1 Penentuan ( Massa Jenis )
= Bobot = gram
Volume ml
No Sampel Pikno Kosong Pikno Isi Hasil
1 Etanol 23,7384 g 45,061 g 21,3226 g 0,852909 gr/ml
2 Paraffin Liq 18,246 g 40,115 g 21,869 g 0,87476 gr/ml
3 Propilenglikol 24,430 g 50,762 g 26,332 g 1,0523 gr/ml
4 Air 20,544 g 45,317 g 24,773 g 0,99092 gr/ml
A. Etanol 96%
Etanol 96% =
45,061 g 23,7384 g
25 ml
0,852909 gram/ml
B. Paraffin Liq
Paraffin Liq =
40,115 g 18,246 g
25 ml
0,87476 gram/ml
C. Propilenglikol
Propilenglikol =
50,762 g 24,430 g
25 ml
1,0523 gram/ml
D. Air
Air =
45,317 g 20,544 g
25 ml
0,99092 gram/ml
VI.2 Penentuan Nilai Viskositas
pembanding = p x tp [Link]
sampel s x ts xp
uji = [Link]
A. Etanol
0,674 = 0,991 x 8,91
0,853 x 16,05
0,674 = 8,829
13,69
8,829 x = 9,227
= 9,227 = 1,045 poise
8,829
B. Paraffin Liquidum
0,674 = 0,991 x 0,91
0,874 x 221
0,674 = 0,902
193.154
0,902 x = 130.185
= 130.185 = 144.329 poise
0,902
C. Propilenglikol
0,674 = 0,991 x 8,91
1,053 x 213
0,674 = 8,829
224.289
8,829 x = 151.170,78
= 151.170,78 = 17.122 poise
8,829
VI.2.1 Data Viskometer Brookfield dan Ostwald
N Brookfield (poise) Ostwald
Sampel
o R1 R2 R3 V61 V62 V63 V64
1 Etanol 0 0,8 6 0 0,5 4 0 1,054
0,
2 Paraffin Liquidum 0,8 10 0,2 0,5 2 10 144.329
8
1,
3 Propilenglikol 0 2,6 0,7 0,5 2 0 17.122
8
1,
4 Minyak Wijen 0,8 54 0,4 1 2 15 26,941
2
1,
5 Minyak kacang 0,8 50 0,7 0,5 4 10 32,365
4
1,
6 Minyak Jagung 0,8 52 0,2 0,5 2 0 13,447
6
VII. Pembahasan
Pada percobaan ini dilakukan uji viskositas pada etanol, parafin dan
propilenglikol untuk mengetahui kekentalan pada suatu larutan tersebut.
Percobaan viskositas yang dilakukan menggunakan 2 macam alat viscometer,
yaitu viskometer Brookfield dan viskometer Ostwald.
Percobaan pertama menggunakan viscometer Ostwald, prinsip pada
viscometer ini berdasarkan waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah cairan
tertentu untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan
oleh berat cairan itu sendiri karena adanya gaya gravitasi dan dilakukan
dengan memasukkan cairan (gliserin) ke dalam alat viskometer melalui pipa
A kemudian dengan cara menghisap cairan dibawa ke B sampai garis atas.
Selanjutnya cairan dibiarkan mengalir bebas dan waktu yang diperlukan
untuk mengalir dari garis atas ke bawah diukur. Pada viscometer ostwald,
untuk mencari kekentalan pada tiap larutan yang digunakan harus mencari 2
(massa jenis) tiap larutan dan t2 (waktu) yang dibutuhkan suatu larutan
mengalir melalui pipa kapiler, dan 1, t2 menggunakan standar (biasanya air).
Sehingga untuk mencari pada sampel harus menggunakan piknometer yaitu
alat untuk mengukur massa jenis.
Digunakan 4 piknometer yang masing-masing sudah ditimbang pada
keadaan piknometer kosong untuk air, etanol, parafin dan propilenglikol.
Piknometer yang digunakan dengan ukuran 25 ml. Saat mengukur massa
jenis dengan alat piknometer ini, diusahakan tidak menyentuh piknometer
dengan tangan langsung yang kemungkinan ada lemak atau kotoran pada
tangan dikhawatirkan mempengaruhi bobot larutan dan bisa menggunakan
tisu. Massa jenis air yang didapat 0,9902; etanol 0,8529; parafin 0,87476; dan
propilenglikol 1,05326. Kekentalan disebabkan karena kohesi antara partikel
zat cair. Zat cair ideal tidak mempunyai kekentalan. Zat cair mempunyai
beberapa sifat, apabila ruangan lebih besar dari volume zat cair akan
terbentuk permukaan bebas horizontal yang berhubungan dengan atmosfer,
mempunyai rapat massa dan berat jenis, dapat dianggap tidak termampatkan,
mempunyai viskositas (kekentalan) dan mempunyai kohesi, adesi dan
tegangan permukaan fluida (Atkins, 1997). Sehingga berat jenis ada
hubungannya dengan viskositas atau kekentalan suatu larutan. Viskositas
etanol didapat 1,054 poise menurut Bird 1987, viskositas etanol pada suhu
20C 0,012 poise dan pada suhu 30C 0,0100 poise. Hasil yang didapat dan
pada literature sangat jauh bedanya, kemungkinan ini kesalahan pada saat
melakukan percobaan dalam menentukan waktu alir larutan. Karena semakin
lama waktu alir maka viskositas semakin kecil. Jadi dapat dikatakan bahwa
semakin encer suatu zat cair maka waktu alirnya akan semakin lama.
Percobaan kedua menggunakan viscometer Brookfield prinsipnya yaitu
rotasi dengan mengkombinasikan setting spindle dan kecepatan putar spindle.
Ada 6 spindel yang digunakan R1,R2,R3,V61,V62,V63 dan V64 yang
memiliki bentuk berbeda-beda dan fungsi yang berbeda. bila semakin kental
suatu zat, maka harus digunakan ukuran pengadukan yang kecil. Hal ini
dikarenakan, pada larutan yang memiliki viskositas yang tinggi, bila diaduk
menggunakan pengaduk dengan ukuran besar maka akan dibutuhkan gaya
yang lebih besar pula. Hal ini akan menyebabkan sulitnya pengaduk untuk
berputar sehingga tidak terbacanya nilai viskositas suatu zat cait pada alat.
Sehingga pengaduk ukuran besar digunakan untuk mengukur viskositas
cairan yang memiliki viskositas yang kecil, sedangkan pengaduk ukuran kecil
digunakan untuk mengukur viskositas yang besar. Semakin besar spindle,
maka semakin besar gaya yang diperlukan untuk memutar alat, sehingga
kecepatan putar menurun dan nilai viskositas juga menurun. Viskositas cairan
yang diukur pada percobaan, ditentukan dengan cara mengkalikan hasil
pembacaan viskometer digital dengan faktor findernya, yang dipengaruhi oleh
ukuran pengaduk yang digunakan dan kecepatan pengadukan.
VIII. Kesimpulan
Nilai viskositas yang terbesar yaitu NaCMC 0.2% , lalu ke 0.15%, dan
yang terendah yaitu pada 0.1%. Dengan nilai viskositas secara berurutan yaitu
1,045 poise, 144.329 poise dan 17.122 poise.
DAFTAR PUSTAKA
Atkins, [Link] [Link] [Link] : Erlangga.
Bird, [Link] Fisik Untuk [Link] : PT Gramedia.
[Link] [Link] [Link] : Erlangga.
Martin, [Link] Fisika Edisi [Link] [Link] : Universitas Indonesia.
[Link] [Link] : Universitas Gadjah Mada.
[Link] Fisika [Link] : Rineka Cipta.
[Link] [Link] : Depdikbud.
Lembar Kontribusi
N. Angelina (A 151 098) : Tujuan, Prinsip, Teori, Alat Bahan,
Mengedit
Siti Saadah F. (A151 099) : Data Pengamatan
Devi Rahmawati (A 151 : Pembahasan
M. Bilal (A 151 : Print akhir + Kesimpulan