0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
229 tayangan23 halaman

Desain dan Komponen Modular Fixture

Dokumen tersebut membahas tentang modular fixture yang merupakan sistem pencekaman benda kerja yang fleksibel dan dapat digunakan kembali. Modular fixture terdiri dari berbagai komponen standar seperti subplate, lokator, dan alat penjepit. Subplate hadir dalam bentuk T-slot atau dowel pin dan digunakan sebagai dasar pemasangan komponen lainnya. Lokator dan support berfungsi untuk mengatur posisi benda kerja. Modular fixture memungkinkan fleksib

Diunggah oleh

adwi1990
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
229 tayangan23 halaman

Desain dan Komponen Modular Fixture

Dokumen tersebut membahas tentang modular fixture yang merupakan sistem pencekaman benda kerja yang fleksibel dan dapat digunakan kembali. Modular fixture terdiri dari berbagai komponen standar seperti subplate, lokator, dan alat penjepit. Subplate hadir dalam bentuk T-slot atau dowel pin dan digunakan sebagai dasar pemasangan komponen lainnya. Lokator dan support berfungsi untuk mengatur posisi benda kerja. Modular fixture memungkinkan fleksib

Diunggah oleh

adwi1990
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PT Mairodi Mandiri Sejahtera

MODUL 5
MODULAR FIXTURE

DAFTAR ISI

Daftar Isi

5. MODULAR WORKHOLDING

5.1 Modular Work Holding


5.2. Komponen Modular Fixture
5.2.1. Subplate
[Link]. Sublpate T slot
[Link]. Subplate Dowel pin
5.2.2. Lokator dan Support
5.2.3. Clamping (Pencekam)
5.3 Aplikasi Modular Fixture
5.4. Perancangan Modular Fixture
5.5. Setup Perakitan Proses Pemesinan Modular Fixture
3.6. Keuntungan Sistim Modular Fixture
5.7. Prinsip prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Perancangan Peralatan.
5.7.1. Memegang (Grasp)
[Link]. Menjangkau (Reach)
5.7..3. Membawa (Move)
5.7.4. Melepas (Release)
5.7.5. Mengarahkan (Position)
5.7.6. Memeriksa (Inspect)
5.7.7. Lepas Rakit (Disassemble)
5.7.1 Analisis Ekonomi Biaya
5.7.2. Langkah-langkah Untuk Mengidentifikasi Biaya Total

-1
PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -2

MODUL 5
MODULAR FIXTURE

5.1 MODULAR WORKHOLDING


Modular fixture adalah serangkaian komponen pencekaman benda kerja yang
reusable (dapat digunakan kembali) untuk merakit berbagai macam dan terdapat bagian-
bagian yang fleksibel agar dapat memegang dan menahan benda kerja dengan waktu
pengerjaannya dapat lebih singkat, sehingga dapat menghasilkan alat bantu yang akurat dan
presisi. Dengan menggunakan modular fixture ini maka peletakan benda kerja dapat
disesuaikan dengan proses pemesinan yang dilakukan. Modular fixture dirakit dengan
berbagai macam standar, yaitu base plate, supports, elemen lokator, clamping devices (alat
penjepit), dan berbagai alat yg lainnya. Contoh modular fixture dapat dilihat pada
Gambar.3.2.1

Gambar 3.2.1 Contoh Modular Fixture

5.2 KOMPONEN MODULAR FIXTURE


Komponen modular fixture terdiri berbagai macam standar yaitu base plate, supports,
elemen locator, dan clamping devices (alat penjepit). Base plate terdiri dari 3 tipe atau bentuk
dasar yaitu: Subplate, T-slot, dan Dowel Pin. Setiap kategori memiliki variasi yang sedikit
berbeda. Tipe atau bentuk spesifik dari sistem komponen modular fixture yang digunakan
tergantung kepada perancangan, tugas dan fungsi dari komponen-komponen yang

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -3

dibutuhkan. Berikut ini adalah penjelasan secara singkat dari berbagai macam komponen
modular fixture dengan kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

5.2.1 Subplate
. Sublpate adalah salah satu komponen yang digunakan pada modular fixture adalah
subplate, subplate terdiri dari beberapa macam yaitu flat rigid plates, angle plates, multisided
tooling blocks, dan komponen yang menyerupai sebagai elemen struktural utama dapat dilihat
pada Gambar 3.2.2

Gambar 3.2.2 Subplate

Pemasangan base plate terdiri dari beberapa bentuk dan ukuran. Tipe yang paling
sering digunakan adalah persegi panjang, persegi, dan bulat .Penggunaan individu pada
Subplate dapat dikombinasikan untuk dilakukan proses perakitan agar menghasilkan alat
pencekam yang berbeda. Kombinasi subplate dapat dilihat pada Gambar 3.2.3

Gambar 3.2.3 Kombinasi Subplate

Kemudian benda kerja dapat dipasang pada subplate ini dan menggunakan beberapa
komponen lain untuk mencekam benda kerja. Pencekaman benda kerja terhadap subplate
dapat dilihat pada Gambar 3.2.4

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -4

Gambar 3.2.4 Pencekaman Benda Kerja Terhadap Subplate

Penggunaan Subplate bisa saja dirancangan dengan jenis dowel pin atau T-Slot yang
digunakan sebagai pengaturan dalam pemasangan benda kerja. Pada gambar 3.2.4 terlihat
benda kerja dipasang dengan berbagai macam dari lokator standar dan strap clamps.
Disamping untuk digunakan sebagai pencekaman yang sederhana, subplates
digunakan pula untuk memasang alat pencekaman lainnya pada peralatan mesin. Subplate
dapat digunakan hampir seluruh tipe dari operasi fixturing. Tapi biasanya subplate sering kali
digunakan untuk memasang benda kerja yang sangat besar. Subplate dengan Benda Kerja Besar
Dapat dilihat pada Gambar 3.2.5

Gambar 3.2.5 Subplate dengan Benda Kerja Besar

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -5

[Link]. Sublpate T slot


T-slot merupakan jenis base plate yang digunakan untuk proses pemesinan,
pemasangan blocks, dan elemen lainnya. T-slot digunakan untuk tempat pemasangan dan
peletakan tambahan accesories. Tanpa memperhatikan bentuk dari base plate atau tipe dari
komponen, T-slot sebenarnya berbentuk tegak lurus dan pararel satu sama dengan yang
lainnya. T-Slot dapat dilihat pada Gambar 3.2.6

Gambar 3.2.6 T-Slot

a. Keuntungan utama dari T-slot


Penggunaan dapat disesuaikan, kuat, dan mudah dalam memposisikan benda kerja.
Desain dari T-slot tidak membutuhkan komponen lainnya untuk ditempatkan pada titik yang
tepat dan dapat melakukan perpindahan komponen-komponen pada base plate dan benda
kerja lebih mudah dilakukan pencekaman ketika elemen-elemennya diletakan pada T-slot. T-
slot dilihat dari desain jauh lebih kuat dibandingkan dengan dowel pins.
b. Kerugian utama dari T-slot
Pengulangan dari satu alat ke alat berikutnya. Ketika alat dibuat kedua kalinya, harus
lebih diperhatikan untuk meyakinkan komponen dan elemen lainnya ditempatkan dengan
tepat pada base plate. Namun, satu-satunya titik acuan dari T-slot adalah titik potong dari T-
slot. Berdasarkan desain, tipe T-slot tidak banyak memiliki titik acuan dibandingkan dengan
dowel pins. Reposisi elemen pada T-slot kadang-kadang membutuhkan pengukuran yang
tepat. Gambar dibawah memperlihatkan pencekam dibuat dengan T-slot dapat dilihat pada
Gambar 3.2.7.

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -6

Gambar 3.2.7 Pencekaman dengan T-Slot

[Link]. Subplate Dowel pin


Bentuk Dowel pin hampir serupa dengan tipe T-slot. Baik secara ukuran keseluruhan
dan jarak dari komponen sangat mirip dengan T-slot. Perbedaan utama adalah pada pola
jaringan (grid pattern) dari lubang yang digunakan untuk menempatkan dan memasangkan
komponen-komponen dapat dilihat pada Gambar 3.2.8.

Gambar 3.2.8 Konfigurasi Dowel Pins


a. Keuntungan Dowel Pin
Keuntungan utama dari penggunaan dowel pin adalah pemasangan otomatis
komponen diantara masing-masing komponen untuk benda kerja yang berbeda, komponen
dapat lebih mudah dan lebih cepat ditempatkan pada dowel pins.
b. Kerugian Dowel Pin
Masalah utama dari tipe ini adalah clamping. Hal ini disebabkan oleh jarak antar
lubang, komponen dan pengaturan dibuat untuk clamping agak lebih rumit dibandingkan
dengan T-slot. Untuk mempermudah proses pengulangan penempatan benda kerja dan tidak
diizinkan adanya pergerakan dari komponen. Untuk mengatasi masalah tersebut, banyak

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -7

elemen yang digunakan dengan dowel pin, salah satunya mengunakan slot pada komponen
tertentu untuk penyesuaian. Gambar sistem dowel pins dapat dilihat pada Gambar 3.2.9

Gambar 3.2.9 Dowel Pins Sistem


Penggabungan antara fungsi penempatan dan pemasangan di lubang yang sama
dengan memasang sebuah locator atau komponen modular fixture lainnya pada lubang,
pemasangan tersebut membutuhkan alat yang khusus berupa baut locating, dimana
menempatkan dan memegang komponen. Penggunaan dowel pins dapat dilihat pada Gambar
3.2.10

Gambar 3.2.10 DowelPins Modular Fixture

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -8

[Link]. Lokator dan Support


Lokator dan Support terdapat berbagai macam bentuk dan ukuran tetapi hampir
memiliki persamaan dalam fungsinya. Salah satu contoh dari locator dan support dapat
dilihat pada Gambar 3.2.11 & Gambar 3.2.12

Gambar. 3.2.11 Contoh Support

Gambar. 3.2.12 Contoh Lokator

5.2.3 Clamping (Pencekam)


Clamping merupakan salah satu komponen dari modular fixture. Pada setiap modular
fixture, clamping dapat dicocokkan sesuai dengan jenis dan fungsi clamping dalam pencekam
benda kerja. Berikut ini adalah beberapa jenis dari clamping yaitu:

[Link]. High-Rise Clamps


Standar Clamping yang biasa digunakan di berbagai macam Modular Fixture adalah
High-Rise Clamp. High-Rise Clamp tersusun dari bagian komponen-komponen yang dirakit
sesuai dengan kebutuhan dari benda kerja. Dapat dilihat elemen utama dari clamping adalah
clamping strap (pengikat), pengencang elemen (contact elements), dan high riser extentions.
Elemen ini dapat disesuaikan dengan segala jenis kebutuhan dari benda kerja. Tambahan
komponen juga terdapat pada clamping untuk menempatkan dengan tepat antara clamp dan

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -9

support yang disyaratkan pada saat setup. Desain high-rise clamp mengizinkan hampir
seluruh bentuk dari benda kerja. Dengan penambahan sederhana dari elemen riser, benda
kerja dapat dijepit secara langsung pada base plate atau menghapus berbagai halangan High
Rise Clamps dapat dilihat pada Gambar 3.2.13

Gambar. 3.2.13 High Rise Clamps

[Link]. Up-Thrust Clamps


Up Thrust Clamp memiliki desain yang unik yang dapat memegang benda kerja
dengan tekanan yang berasal dari bawah. Desain tersebut sesuai untuk memegang benda
kerja yang seharusnya dan harus ditinggikan dari meja mesin agar aman dipegang. Benda
kerja dizinkan untuk dijepit terhadap permukaan atas, dimana komponen ini berguna untuk
benda kerja yang khusus dan sulit untuk ditempatkan/diposisikan. Clamp dioperasikan
dengan menekan cam handle down. Perpindahan dari elemen clamp tersebut bergerak ke atas
benda kerja. Rahang dari cam handle down berputar dan memiliki dua clamp yang terbuka,
satu untuk bagian yang tipis dan satu bagian lagi untuk komponen yang tebal Up Thrust Clamp
dapat dilihat pada Gambar 3.2.14

Gambar. 3.2.14 Up Thrust Clamp

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -10

[Link]. Screw Edge Clamps


Screw edge clamps menggabungkan gerakan dari screw clamp (sekrup), single edge
atau double edge dan riser block. Bentuk dari screw edge clamps dapat disesuaikan. Screw
clamping (sekrup) dibuat dengan sudut kemiringan 4 hingga 6 derajat untuk membantu
menahan benda kerja terhadap permukaan dari single edge atau double edge dan riser block.
Untuk memposisikan sisi berlawanan dari part (komponen) Screw Edge Clamps dapat dilihat
pada Gambar 3.2.15

Gambar. 3.2.15 Screw Edge Clamps

[Link]. Pivoting Edge Clamps


Pivoting edge clamp menggunakan tuas poros (pengungkit) untuk menempatkan gaya
pada benda kerja. Clamping tersebut biasanya digunakan dengan menyesuaikan penghalang
agar menahan benda kerja antara 2 bagian rahang clamp. Tuas poros tersebut memiliki gaya
ke atas dan ke bawah secara serentak.
Clamp tersebut memiliki berbagai macam gaya. Tipe Gambar A memiliki pencekam
yang bergerigi pada permukaan dan biasanya digunakan untuk menahan benda kerja tidak
bermasalah. Sedangkan Tipe Gambar B menggunakan elemen ball pada setiap clamp untuk
menyamakan tekanan clamp dan untuk sedikit mengakomodasikan penyimpangan permukaan
benda kerja Pivotring Edge Clamps dapat dilihat pada Gambar 3.2.16

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -11

Gambar. 3.2.16 Pivoting Edge Clamps

[Link]. Cam Edge Clamps


Cam Edge Clamps memiliki sedikit perbedaan dengan edge clamping. Cam Edge
Clamps menggunakan sebuah rahang spiral dengan rancangan edge untuk menahan tenaga
yang berlawanan dengan benda kerja. Cam Edge Clamps dapat dilihat pada Gambar 3.2.17

Gambar. 3.2.17 Cam Edge Clamps

5.3. APLIKASI MODULAR FIXTURE


Tidak hanya satu jenis modular fixture yang dapat digunakan untuk semua tipe
kebutuhan untuk pencekaman. Salah satu alternatif untuk melakukan pencekaman adalah
dengan menggunakan kombinasi dari special-purpose (kegunaan), general-purpose
(kegunaan umum), dan pencekam modular. Penggunaan ketiga fixturing forms pada setiap
aplikasi berupa benda kerja yang berukuran besar dijalankan secara teratur pada tujuan
khusus agar pencekaman dapat digunakan, untuk benda kerja yang bentuknya kecil, general
purpose atau pencekam sementara seperti vises, collet, atau chucks kemungkinan lebih
ekonomis dapat dilihat pada Gambar 3.1.18

Gambar. 3.2.18 General Purpose

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -12

5.4 PERANCANGAN MODULAR FIXTURE


Peralatan dari modular terdiri dari beberapa variasi standar dan komponen khusus
seperti base plate, bushing, lokator straps, spacers, clamps, baut dan sekrup dapat dilihat
pada pada Gambar 3.2.19.

Gambar 3.2.19 Komponen Modular Fixture

Komponen yang dipertukarkan memiliki toleransi sangat dekat yaitu 0,0002-0,0004


inci ( 0,005 0,01 milimeter). Saat membangun peralatan modular, langkah pertama adalah
memilih lebar base plate yang cukup untuk part dan semua komponen modular. Kemudian,
memilih komponen rakitan lokator dan support dan merakit pada base plate. Terakhir
komponen seperti bushing atau clamps, menyelaraskan dan meletakkan part dan clamp ke
tempat dudukan. Perakitan modular fixture tanpa benda kerja dapat dilihat pada Gambar
3.2.20

Gambar. 3.2.20 Perakitan Modular Fixture Tanpa Benda Kerja

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -13

Beberapa metode atau teknik dapat digunakan untuk konstruksi komponen modular
fixture adalah sebagai berikut :
a. Berdasarkan komponen yang sebenarnya.
b. Berdasarkan prototype untuk merancang komponen.
c. Berdasarkan ukuran spisifik tanpa komponen.

5.5. SETUP PERAKITAN PROSES PEMESINAN MODULAR FIXTURE


Berikut adalah beberapa pertimbangan yang harus diambil untuk mengoptimalisasi
penggunaan fixture :
a. pertimbangan susunan dari jangkauan alat dan kepadatan benda kerja
b. maksimalisasi dari penyimpanan benda kerja
c. pengulangan pengepitan benda kerja
d. distorsi benda kerja
e. potensi getaran dari benda kerja
f. pengoptimalan lokasi dari datum benda kerja
g. kemudahan dan kecepatan dari loading/unloading benda kerja
h. keergonomisan dan keamanan operator
i. loading/ unloading kesalahan proofing benda kerja
j. optimalisasi ekonomi.

5.5.1. Prinsip Penempatan (Locating Principle)


Rong dan Zhu (1999) dalam Ahmad Rizki (2003) menyatakan bahwa sebuah benda
kerja terdiri dari beberapa permukaan bidang (surface). Pada penggunaan sebuah fixture,
proses penempatan (locating) adalah proses penempatan beberapa permukaan benda kerja
hingga bersentuhan dengan locator-lokator, yang kemudian dilanjutkan dengan proses
pemesinan. Permukaan-permukaan benda kerja yang bersentuhan dengan locator tersebut
disebut sebagai locating-surface.
Jika locating-surface telah ditelah ditentukan maka posisi relatif permukaan-
permukaan benda kerja lainnya terhadap locating-surface dapat ditentukan. Jika selama
proses pemesinan, locating-surface kehilangan kontak dengan locator maka berarti fixture
yang digunakan gagal dan tidak akan stabil.

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -14

Pada sebuah benda kerja terdapat 6 derajat kebebasan (degree of freedom) pergerakan,
yaitu pergerakan linier searah atau berlawanan arah dengan sumbu X, Y, dan Z serta
pergerakan rotasi terhadap sumbu X, Y, dan Z searah atau berlawanan dengan jarum jam.
Derajat kebebasan Benda Kerja 12 Gaya dapat dilihat pada Gambar 3.2.21

Gambar 3.2.21 Derajat kebebasan Benda Kerja 12 Gaya

Tujuan dari penempatan (locating) adalah untuk membatasi semua atau sebagian dari
derajat kebebasan benda kerja tersebut, sehingga membatasi pergerakannya selama proses
pemesinan berlangsung.
Menurut Zhu (1982) dalam Ahmad Rizki (2003) berdasarkan prinsip kinematik,
diperlukan 6 titik kontak dengan benda kerja agar derajat kebebasannya terbatasi secara
penuh. Rong dan Zhu (1999) dalam Ahmad Rizki (2003) menyatakan bahwa pada masing-
masing titik kontak dipasang locator yang akan menahan pergerakan benda kerja. Ke-6 titik
kontak atau titik locator tersebut diletakan pada 3 bidang yang saling tegak lurus, yaitu :
a. Tiga lokator diletakkan pada bidang dasar (bidang X-Y) sehingga membatasi
derajat kebebasan linear pada arah sumbu Z dan derajat kebebasan rotasi
terhadap sumbu X dan Y. Bidang ini disebut sebagai bidang locator utama
(Primary Locating Surface)
b. Dua lokator diletakkan pada bidang yang tegak lurus bidang locator primer,
yaitu bidang X-Z, sehingga membatasi derajat kebebasan linear sumbu Y dan
derajat kebebasan rotasi terhadap sumbu Z. Bidang ini disebut sebagai bidang
locator sekunder (Secunder Locating Surface)

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -15

c. Satu locator diletakkan pada bidang yang tegak lurus bidang locator primer dan
bidang locator sekunder, yaitu bidang Y-Z, sehingga membatasi derajat
kebebasan linear sumbu X.
Prinsip penempatan 6 locator seperti yang dijelaskan diatas disebut sebagai prinsip
penempatan 3-2-1. Untuk lebih jelasnya prinsip tersebut dapat dilihat pada Gambar
3.2.22

Gambar 3.2.22 Peletakan Lokator

5.5.2. Penempatan Clamps


Clamps merupakan komponen dari modular fixture yang fungsinya untuk menahan
posisi benda kerja pada jig dan fixture. Alat clamping dan posisinya dapat menahan dengan
carefully selected. Clamp dapat menahan benda kerja dengan pins dan clamps juga dapat
menahan terjadinya perpindahan arah gaya yang terjadi pada benda kerja. Clamps tidak
dirancang untuk menahan ketika terjadi getaran, proses masukknya benda kerja (loading),
dan peregangan(stress), getaran dapat menyebabkan kelonggaran dari clamps. Clamps dapat
membuat gaya pada benda kerja dan gaya yang berlebihan dapat menyebabkan deformasi
yang tak dikehendaki atau merengang (stress). Kecepatan load/unload sangat penting,
tindakan clamps seharusnya cepat dan dapat diandalkan (reliable). Clamps seharusnya
memiliki ukuran yang besar yang cukup untuk menahan benda kerja yang melawan locator
dan untuk melawan gaya kedua yang terjadi pada proses pemesinan. Berikut contoh gambar
clamps dapat dilihat pada Gamabar 3.2.23

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -16

Gambar 3.2.23 Clamps

[Link]. Solusi Fixture


Strategi pendekatan untuk merancang fixture :
a. Analisis gambar benda kerja, masalahnya.
b. Identifikasi dari elemen-elemen (permukaan mesin untuk lokator, kemungkinan
posisi clamp, pentingnya daerah dari benda kerja, tool path, kemungkinan alat
mengganggu titik-titik, dan lain-lain).
c. Support, lokator, clamping, base, guiding, alat pengunci dan kombinasi elemen
yang diambil dengan pertimbangan.
d. Metodologi (modular, vice, v-block, titik permukaan, struktur angular,
multiworkpiece clamping, prinsip 3-2-1, dan lain-la in)
e. Identifikasi dari solusi (memilih dari pola untuk modular fixture (memposisikan
dari 2 atau lebih benda kerja))
f. Rancangan fixture, simulasi untuk keseimbangan, simulasi dari implementasi
prosedur dari keakuratan fixture.
g. Membuat perakitan.
Dasar dari fixture yang kuat dan akurat berasal dari pemilihan material. Solusi yang
paling baik dapat diambil dengan evaluasi eksperimen dan efek serta perpindahan gaya yang
terdeteksi. Ukuran keseluruhan dari fixture dan elemen locator dapat ditentukan dengan
ukuran benda kerja. Berikut adalah salah satu contoh kontruksi fixture dapat dilihat pada
Gambar 3.2.24

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -17

Gambar 3.2.24 Contoh Konstruksi Fixture

[Link]. Prinsip Kesetimbangan Gaya Pada Benda Kerja Yang Ditahan Fixture
Chou (1989) dalam Ahmad Rizki (2003) menyatakan hubungan antara gaya
pencekaman, gaya reaksi pada locator, dan gaya pemesinan dapat dinyatakan dalam
persamaan kesetimbangan sebagai berikut :

(2.1)
Atau [Link] + [Link] + [Link] = 0 untuk semua k (2.2)

Dimana :
Wp = Matriks arah gaya yang bekerja pada lokator
Wa = Matriks arah gaya yang bekerja pada clamp
Wk = Matriks arah gaya pemotongan
Fp = Matriks gaya yang bekerja pada lokator
Fa = Matriks gaya yang bekerja pada clamp
fk = Matriks gaya pemotongan
p = Pasif
a = Aktif

Matriks Wp, Wa, dan Wk disusun berdasarkan arah gaya dan momen dari suatu gaya
tertentu dan terdiri dari tiga arah gaya sumbu X, Y, dan Z (n x, ny, nz) dan tiga momen
terhadap sumbu X, Y dan Z (mx, my, mz).

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -18

Dengan menghilangkan matriks Wp pada baris sebelah kiri dari persamaan (2.2)
dengan cara mengalikan kedua sisi dengan matriks inversnya, maka gaya reaksi di locator
(Fp) dapat dihitung sebagai berikut :
Fp = -[Link] W-1p Wkfk (2.3)

Persamaan (2.3) ini harus menghasilkan solusi non-negatif untuk Fp, yang artinya
setiap locator memiliki kontak dengan benda kerja. Pada tahap pencekam (clamping stage),
gaya luar (f1) sudah tidak bekerja lagi sedangkan gaya pemesinan belum bekerja, sehingga
persamaan yang berlaku adalah :

Fp = -[Link] (2.4)
Persamaan (2.4) ini harus menghasilkan solusi non-negatif untuk Fp, yang artinya
setiap locator memiliki kontak dengan benda kerja. Pada setiap pemesinan, gaya potong dan
gaya pencekaman bekerja pada benda kerja, sehingga persamaan yang berlaku adalah :
Fp (2.5)
Diamana :
Fi = Komponen dari Fa
Hi = -W-1pWi
A = set dari elemen aktif (clamp)
Persamaan (2.5) ini harus menghasilkan solusi non-negatif untuk Fp, yang artinya
setiap locator memiliki kontak dengan benda kerja.

5.6 KEUNTUNGAN SISTEM MODULAR FIXTURE


Peralatan komponen modular memiliki lebar bentuk dan komponen yang dapat
menekan ongkos membuat peralatan yang khusus. Meskipun biaya awal tinggi, peralatan
modular dapat memperkecil biaya dan waktu
Beberapa keuntungan dengan menggunakan Modular Fixture yatu :
a. Menekan waktu merupakan keuntungan peralatan modular sistem.
b. Menyimpan 80 % peralatan yang umum.
c. Peralatan yang telah dibangun dan digunakan dapat dibongkar dan digunakan
kembali.
d. Fleksibelitas sebagai alat bantu pencekaman benda kerja

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -19

5.7. PRINSIP-PRINSIP EKONOMI GERAKAN DIHUBUNGKAN DENGAN


PERANCANGAN PERALATAN

5.7.1. Gerakan- gerakan Dasar (Gilberth)


Gerakan-gerakan dasar yang diuraikan oleh Gilberth diantaranya ialah sebagai
berikut:

[Link]. Memegang (Grasp)


Elemen gerakan ini ialah gerakan untuk memegang objek, biasanya didahului
oleh gerakan menjangkau dan dilanjutkan oleh gerakan membawa. Gerakan ini
merupakan gerakan yang efektif dari suatu pekerjaan dan sulit dihilangkan
dalam beberapa keadaan.

[Link]. Menjangkau (Reach)


Elemen gerakan ini ialah gerakan tangan berpidah tempat tanpa beban, baik
gerakan mendekati maupun menjauhi objek. Seperti gerakan memegang,
gerakan menjangkau pun sulit untuk dihilangkan tetapi masih mungkin adalah
pengurangan dari waktu gerak ini.

[Link]. Membawa (Move)


Elemen gerak membawa juga merupakan gerak perpindahan tangan, hanya
gerakan ini tangan dalam keadaan terbebani. Gerakan membawa biasanya
didahului oleh memegang dan dilanjutkan oleh melepas atau dapat juga oleh
pengarahan.

[Link]. Melepas (Release)


Elemen gerak melepas ialah gerakan dimana ketika seorang pekerja
melepaskan objek yang dipegangnya. Gerakan ini di mulai pada saat pekerja
mulai melepaskan tangannya dari objek dan berakhir bila seluruh jarinya sudah
tidak menyentuh objek lagi.

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -20

[Link]. Mengarahkan (Position)


Elemen gerakan mengarahkan merupakan gerakan mengarahkan suatu objek
pada suatu lokasi tertentu. Mengarahkan biasanya didahului oleh gerakan
mengangkut dan biasa diikuti oleh gerakan merakit (assembling).

[Link]. Memeriksa (Inspect)


Elemen gerakan ini merupakan pekerjaan memeriksa objek untuk mengetahui
apakah objek telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Elemen ini dapat berupa
gerakan melihat seperti untuk memeriksa warna, meraba seperti memeriksa
kehalusan permukaan.

[Link]. Lepas Rakit (Disassemble)


Elemen gerakan ini ialah untuk melepaskan suatu objek dari objek yang sudah
dirakit sebelumnya. Gerakan ini biasanya didahului oleh memegang dan
dilanjutkan oleh membawa atau biasanya juga dilanjutkan oleh melepas.

5.7.2. Analisis Ekonomi Biaya


Dalam memilih Alternatif tool yang akan digunakan perlu dipertimbangkan:
[Link]. Laju produksi yaitu banyaknya part yang diproses (menggunakan tool) per
satuan waktu.

Keterangan :
Ph : banyaknya benda kerja yang diproduksi dalam satu jam
S : waktu yang digunakan dalam memproduksi satu unit benda
(Menggunakan Modular Fixture)

[Link]. Lot Size yaitu ukuran banyaknya unit yang diproduksi pada suatu produk.

Keterangan :
LS : lot size (unit)

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -21

S : waktu yang digunakan dalam memproduksi satu benda


(Menggunakan Modular Fixture)
[Link]. Tenaga kerja

Keterangan :
L : biaya tenaga kerja
LS : lot size
w : upah per jam
Ph : produksi per jam

[Link]. Biaya yang dikeluarkan (biaya per unit)

Keterangan :
Cp : cost per part
TC1 : tool cost modular fixture
TC2 : tool cost berdasarkan cost worksheet
L : cost of labor

[Link]. Penghematan yang diperoleh

Keterangan :
TS : Total penghematan
LS : Lot Size
Cp1 : Cost per part sebelum menggunakan Modular Fixture
Cp2 : Cost per part setelah menggunakan Modular Fixture
TC2 : Tool cost berdasarkan cost worksheet

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -22

[Link].. BEP (Titik Impas)

Keterangan :
TC2 : tool cost berdasarkan cost worksheet
Cp1 : Cost per part sebelum menggunakan Modular Fixture
Cp2 : Cost per part setelah menggunakan Modular Fixture

5.7.3. Langkah-langkah Untuk Mengidentifikasi Biaya Total


1. Berikan nomor pada seluruh bagian tool (komponen).
2. Buat daftar kmponen yang bersesuaian dengan nomor yang diberikan.
3. Buat lembar rencana proses (Process Sheet); untuk setiap komponen.
4. Waktu operasi pemesinan juga meliputi waktu set up, loading, dan unloading.
5. Buat lembar biaya (Cost Worksheet); untuk setiap komponen, hitung biaya
material dan tenaga kerja yang dibutuhkan dalam seluruh operasi.

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR


PT Mairodi Mandiri Sejahtera
MODUL 3B MODULAR FIXTURE -23

PERANCANGAN ALAT BANTU MANUFAKTUR

Anda mungkin juga menyukai