1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Benih merupakan factor penting pada suatu pertanaman, karena benih
merupakan awal kehidupan dari tanaman yang bersangkutan. Sebelum
membicarakan lebih lanjut tentang benih, terlebih dahulu kita harus mengetahui
tentang pengertian benih secara umum. Benih adalah biji tanaman yang sengaja
diproduksi dengan teknik-teknik tertentu, sehingga memenuhi persyaratan untuk
digunakan sebagai bahan pertanaman selanjutnya. adalah symbol dari suatu
permulaan. Di dalam benih tersimpan sumber kehidupan yang misterius sebuah
tanaman mini. Benih merupakan inti dari kehidupan di alam karenakegunaannya
sebagai penerus dari generasi tanaman (Suena, 2012)
Benih adalah biji terseleksi dari pohon induk terpilih, dan yang akan
disemai menjadi tanaman baru. Sebelum benih ditabur di persemaian, kita perlu
memastikan bahwa benih tersebut akan berkecambah atau tidak berada dalam
kondisi tidur atau dormansi (Purnomosidhi dkk., 2013).
Benih dikatakan mengalami dormansi apabila berada pada lingkungan
yang sesuai bagi perkecambahannya namun benih tersebut tidak tumbuh. Hal ini
disebabkan oleh faktor dalam dan luar benih. Faktor dalam benih disebabkan oleh
embrio yang rudimenter, embrio yang dorman, kulit benih yang kedap terhadap
air dan udara, atau karena adanya zat penghambat perkecambahan. Faktor luar
benih yang dimaksud antara lain air, temperatur, oksigen, cahaya serta medium
(Kartasapoetra, 2003).
Dormansi benih adalah ketidakmampuan benih hidup untuk berkecambah
pada lingkungan yang optimum. Dormansi dapat disebabkan oleh keadaan fisik
2
dari kulit benih, keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan
tersebut. Namun demikian dormansi bukan berarti benih tersebut mati atau tidak
dapat tumbuh kembali (Fahmi, 2013).
Dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat
(viable) gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang merata normal baik
untuk perkecambahan, seperti kelembaban yang cukup, dan cahaya yang sesuai.
Dormansi merupakan strategi untuk mencegah perkecambahan dibawah kondisi
dimana kemungkinan hidup kecambah atau anakan rendah (Utomo, 2006).
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari jurnal ini adalah untuk mengenal berberapa tipe-tipe
dormansi, pengaruh kulit biji yang keras terhadap perkecambah dan mengetahui
pengaruh bahan-bahan kimia dan fisika terhadap perkecambahan biji.
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan penulisan jurnal ini adalah sebagai salah satu syarat untuk
memenuhi komponen penilaian praktikum di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan
Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai sumber informasi bagi pihak
yang membutuhkan.
3
TINJAUAN PUSTAKA
Dormansi adalah keadaan biji yang tidak berkecambah atau dengan kata
lain tunas yang yang tidak dapat tumbuh (terhambatnya pertumbuhan) selama
periode tertentu yang disebabkan oleh faktor-faktor intern dalam biji atau tunas
tersebut. Suatu biji dikatakan dorman apabila biji tersebut tidak dapat
berkecambah, setelah periode tertentu, meski faktor-faktor lingkungan yang
dibutuhkan tersedia (Nurmala, 2003)
Dormansi benih dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan benih hidup
untuk berkecambah pada suatu kisaran keadaan yang luas yang dianggap
menguntungkan untuk benih tersebut. Dormansi dapat disebabkan karena tidak
mampunya benih secara total untuk berkecambah atau hanya karena
bertambahnya kebutuhan yang khusus untuk perkecambahnnya (Byrd, 1968).
Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup, tetapi
tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum
dianggap telah memenuhi persyaratan, bagi suatu perkecambahan. Beberapa
faktor penyebab terjadinya dormansi adalah: a.) rendahnya/tidak adanya proses
imbibisi, b.) proses respirasi terhambat dan c.) rendahnya proses metabolisme
cadangan makanan (Sutopo, 2004).
Secara kimia pemecahan dormansi dilakukan dengan perendaman dalam
asam kuat encer (skarifikasi kimia). asam kuat sangat efektif untuk mematahkan
dormansi pada biji yang memiliki struktur kulit keras, Asam sulfat (H2SO4)
sebagai asam kuat dapat melunakkan kulit biji sehingga dapat dilalui oleh air
dengan mudah (Hedty dkk,.2014)
4
Perlakuan konsentrasi H2SO4 berpengaruh terhadap persentase
perkecamhan benih, dan terdapat interaksi antara perlakuan konsentrasi H 2SO4
dengan lama perendaman. Perendaman benih dalam H 2SO4 menyebabkan kulit
benih menjadi lunak, air dan gas dapat berdifusi masuk dan senyawa-senyawa
inhibitor perkecambahan seperti fluoride dan kaumarin larut ke dalam H2SO4
selama proses perendaman (Suyatmi dkk., 2012).
Perlakuan kimia seperti H2SO4 pada prinsipnya adalah membuang lapisan
lignin pada kulit biji yang keras dan tebal sehingga biji kehilangan lapisan yang
permiabel terhadap gas dan air sehingga metabolism dapat berjalan dengan baik
(sadjat, 1975).
Selain kulit biji yang keras, dormansi biji dapat juga terjadi oleh akibat
belum siapnya embrio atau biji itu memerlukan waktu tenggang antara pemasakan
dengan perkecambahan (after ripening). Kebanyakan biji waktu after ripeningnya
pendek atau tidak ada. Bahkan ada tumbuhan yang vivivar, artinya biji telah
berkecambah sebelum terlepas dari induk, misal pada biji bakau
(Nurmala, 2003).
Beberapa jenis benih tetap doman disebabkan oleh kulit benihnya yang
cukup kuat untuk menghalangi pertumbuhan dari embrio. Kulit benih tidak dapat
dilalui air atau udara karena keras atau tertutup oleh gabus maupun lilin. Jika kulit
benih dihilangkan maka akan terjadi perkecambahan. Dormansi juga dapat
disebabkan keadaan fisiologi dari embrio antara lain akibat embrio yang
rudimenter atau secara fisiologis belum masak, maksudnya belum mampu
membentuk zat-zat yang diperlukan untuk perkecambahan misalnya zat tumbuh
seperti Giberelin ( Sinambela, 2008)
5
Pemecahan dormansi dan penciptaan lingkungan yang cocok sangat perlu
untuk memulai proses perkecambahan untuk beberapa spesies. Perlakuan
tergantung pada tipe dormansi yang terlibat (dormansi fisik, dormansi fisiologi,
dormansi ganda). Perlakuan tersebut mencakup skarifikasi, stratifikasi, biakan
embrio, dan berbagai kombinasi dan perlakuan- perlakuan ini dengan pengaturan
lingkungan yang cocok (Harjadi, 1991).
Metode pematahan dormansi sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara
antara lain dengan cara mekanis, fisis maupun kimia. Metode kimia dapat
dikatakan metode yang paling praktis karena hanya dilakukan dengan
mencampurkan cairan kimia dengan biji. Larutan kimia yang terkenal murah dan
tersedia banyak di pasaran adalah KNO3. KNO3 juga sudah teruji efektif
mematahkan dormansi beberapa benih tanaman, antara lain padi dan aren. KNO 3
berfungsi untuk meningkatkan aktifitas hormon pertumbuhan pada benih.
Pengaruh KNO3 yang ditimbulkan ditentukan oleh besar kecil konsentrasinya.
Perlakuan awal dengan larutan KNO3 berperan merangsang perkecambahan pada
hampir seluruh jenis biji. Perlakuan perendaman dalam larutan KNO3 dilaporkan
juga dapat mengaktifkan metabolisme sel dan mempercepat perkecambahan
(Faustina dkk., 2012).
Lengkeng merupakan tanaman yang dapat hidup sampai lebih dari 50
tahun. Batang tanaman berkayu keras dan tinggi pohon mencapai lebih dari 15
meter. Memiliki banyak percabangan dan membentuk tajuk yang rimbun seperti
pyung. Kulit batang agak tebal dan bewarna hijau sampai kecoklatan. Lengkeng
adalah tanaman berdaun majemuk yang tersusun dalam tangkai, terletak bertahap
tahap dan berjumlah 7-8 helai. Permukaan bagian atas bewarna hijau tua
6
mengkilap, sedangkan permukaan daun bagian bawah bewarna hiju. Daun
berukuran panjang 10 cm dan lebar 3,5 cm dengan tepi daun rata dan ujung daun
runcing. Berdasarkan jenis kelamin bunga, tanaman lengkeng dibedakan menjadi
tiga macam yaitu (1) pohon lengkeng yang berupa jantan, (2) pohon yang hanya
berbunga betina dan (3) pohon yang berbunga sempurna atau mempunyai kelamin
jantan dan betina (hermaprodit). Tanaman lengkeng berbunga jantan tidak
menghasilkan buah. Buah lengkeng berbentuk bulat-bundar sampai bulat pesek
dan terdiri dari kulit buah, daging buah serta biji. Kulit buah tipis dan bewarna
hijau kecoklatan sampai dengan coklat. Daging buah tebal, bewarna putih bening,
beraroma harum khas lengkeng dan berasa manis. Biji berbentuk bulat kecil dan
bewarna coklat sampai hitam (Kuntarsih dkk., 2005).
Pada dasarnya dormansi benih dapat diperpendek dengan berbagai
perlakuan sebelum dikecambahkan, baik secara fisik, kimia dan biologi. Namun,
bila hanya perlakuan fisik saja belum menunjukkan hasil yang memuaskan baik
jumlah benih yang berkecambah maupun waktu yang dipergunakan untuk
berkecambah. Benih yang diberi perlakuan fisik mengikis punggung atau
skarifikasi dengan kertas amplas daya berke-cambah 50 55% dan kecepatan
berkecambah 57 49 hari dan makin baik bila secara bersama-sama diberi
pelakuan kimia (KNO3) yang direndam. Usaha ini perlu terus dilanjutkan,
diantaranya mengurangi atau menghilangkan senyawa penghambat
perkecambahan misalnya kalsium oksalat (Saleh, 2006).
Dormansi benih dapat menguntungkan atau merugikan dalam penanganan
benih. Keuntungannya adalah bahwa dormansi mencegah benih dari
perkecambahan selama penyimpanan dan prosedur penanganan lain. Disatu sisi,
7
apabila dormansi sangat kompleks dan benih membutuhkan perlakuan awal yang
khusus. Kegagalan untuk mengatasi masalah dormansi akan berakibat pada
kegagalan perkecambahan pada benih (Yuniarti, 2005).
Adapun tipe- tipe dormansi adalah: a.) dormansi fisik, tipe dormansi ini
disebut sebagai benih keras; b.) dormansi Fisiologis ; c.) dormansi sekunder,
yaitu benih-benih pada keadaan normal mampu berkecambah, tetapi apabila
dikenakan pada suatu keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan selama
beberapa waktu dapat kehilangan kemampuan untuk berkacambah; d.) dormansi
yang disebabkan oleh hambatan metabolisme pada embrio. Contohnya, keperluan
akan cahaya (Siswono, 2003).
Zat-zat penghambat perkecambahan yang diketahui terdapat pada tanaman
antara lain adalah ammonia, abscisis acid, benzoic acid, ethylene, alkaloid,
alkaloids lactone (antara lain coumarin). Coumarin diketahui menghambat kerja
enzim. Enzim penting dalam perkecambahan. Zat penghambat yang ditemukan
dalam daging buah tersebut harus diekstrasi dan dicuci untuk menghilangkan zat-
zat penghambat (Luqman, 2012).
8
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Praktikum
Adapun praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan
Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
pada hari Rabu, 24 Maret 2016 pukul 15.00 - 16.40 WIB pada ketinggian
25 mdpl.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 1 buah tomat
utuh dengan jumlah biji 30 buah, biji jarak, biji flamboyan, biji lengeng masing-
masing 20 buah sebagai objek pengamatan yang akan diamati, aquades sebagai
larutan untuk merendam biji, larutan coumarin, asam sulfat (H2SO4), KNO3
sebagai larutan untuk membantu dalam proses dormansi biji, kertas pasir halus
untuk mengikir kulit biji, label sebagai penanda, pasir yang telah digongseng
sebagai media tanam dan kertas merang sebagai alas biji tomat pada cawan petri.
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri
sebagai alat untuk meletakkan biji, gelas beker sebagai alat untuk memanaskan
air, spritus untuk memanaskan air, pipet tetes untuk mengambil larutan, penjepit
untuk mengambil biji dalam larutan, tabung Erlenmeyer sebagai wadah larutan
bak perkecambahan sebagai media untuk pertumbuhan biji, dan alat tulis untuk
mencatat hasil praktikum.
Prosedur Percoban
A. Kulit biji yang keras :
1. Disiapkan bak perkecambahan, dan diisi dengan pasir
2. Dipilih 16 biji flamboyan, jarak dan lengkeng lalu diberi perlakuan
sebagai berikut :
a. Direndam 2 biji dalam air destilata dingin selama 1 jam
9
b. Direndam 2 biji dalam air yang baru didihkan dan dibiarkan
sampai airnya dingin
c. Dikikir atau diasah 2 biji dengan kertas pasir halus dekat dengan
embrio, sampai tampak kotiledonnya. Direndam dalam air destilata
selama 1 jam
d. Dikikir atau diasah 2 biji dengan pada jarak 90o dekat dengan
embrio, sampai tampak kotiledonnya. Direndam dalam air destilata
selama 1 jam
e. Dikikir atau diasah 2 biji dengan pada jarak 180o dekat dengan
embrio, sampai tampak kotiledonnya. Direndam dalam air destilata
selama 1 jam
f. Direndam 2 biji dalam larutan H2SO4 5 cc/l selama 15 menit
g. Direndam 2 biji dalam larutan KNO3 5 cc/l selama 15 menit
3. Ditanam pada bak pasir yang sudah disiram air dengan kedalaman 1
cm
4. Ditempatkan pada tempat gelap pada suhu kamar/ruang
5. Diperiksa setiap hari selama 1 minggu, disiram bila media
perkecambahan kering dan dicatat perkembangannya. Dibandingkan
satu perlakuan dengan perlakuan lainnya.
B. Faktor-faktor kimiawi :
1. Disediakan 3 buah cawan petri yang telah dilapisi dengan kertas
merang
2. Dibelah buah tomat, diambil cairan ekstrak buah tomat tersebut
3. Diambil 30 buah biji tomat tersebut :
a. Cawan 1 : diletakkan 10 biji tomat tanpa dicuci + larutan ekstrak
tomat
b. Cawan 2 : diletakkan 10 biji tomat yang sudah dicuci air destilata +
air destilata
c. Cawan 3 : diletakkan 10 biji tomat yang sudah dicuci air destilata
+ larutan Coumarin 40 mg/liter
10
4. Ditutup cawan, diberi label dan diletakkan pada tempat gelap pada
suhu kamar/ruang
5. Diamati persentase perkecambahan setiap hari selama 1 minggu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Faktor Kimiawi
Biji Berkecambah
Perlakuan Biji
Tomat
1 2 3 4 5 6 7 Total %
Air Destilata
0 0 0 7 9 9 9 9 90
Ekstrak Buah
0 0 0 0 0 0 0 0 0
Tomat
Larutan
0 0 0 0 0 0 0 0 0
Coumarin
Kulit Biji Keras (Hari 1)
Biji Biji Berkecambah
Dikikir Air Air H2SO4 KNO3
Dekat 90 180 Panas Dingin
11
Dari Dari
Embrio
Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 0 0 0 0 0 0 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0
Kulit Biji Keras (Hari 2)
Biji Berkecambah
Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 0 0 0 0 0 0 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0
Kulit Biji Keras (Hari 3)
Biji Berkecambah
Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 0 0 0 0 0 0 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0
Kulit Biji Keras (Hari 4)
Biji Berkecambah
Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 2 1 1 0 0 0 0
12
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0
Kulit Biji Keras (Hari 5)
Biji Berkecambah
Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 2 1 2 0 0 2 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0
Kulit Biji Keras (Hari 6)
Biji Berkecambah
Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 2 1 2 0 0 2 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0
Kulit Biji Keras (Hari 7)
Biji Berkecambah
Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 1 0 1 0 1 0
Jarak 2 2 2 0 0 2 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0
Pembahasan
Pada pematahan dormansi digunakan larutan H2SO4 dan KNO3 yang
digunakan untuk mempercepat perkecambahan biji. Fungsi dari H 2SO4 dan KNO3
13
untuk melunakkan kulit biji sehingga air mudah diserap oleh biji. Hal ini sesuai
dengan literatur Suyatmi [Link] ( 2012 ) yang manyatakn bahwa Salah satu
perlakuan kimia yang dapat dilakukan untuk mematahkan dormansi adalah
dengan cara merendam benih dalam asam sulfat (H2SO4 ). Perlakuan dengan asam
seperti larutan H2SO4 menyebabkan kerusakan pada kuli biji dan dapat diterapkan
pada legum maupun non legum, namun tidak sesuai untuk benih yang mudah
menjadi permeabel karena asam akan masuk dan merusak embrioBerdasarkan
praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa biji jarak adalah biji yang
mengalami pertumbuhan paling cepat dengan cara pengikikiran dekat embrio
karena memenuhi kriteria lingkungan perkecambahan yang cepat. Proses
pematahan dormansi ini sesuai dengan literatur Harjadi (1991) yang menyatakan
bahwa pemecahan dormansi dan penciptaan lingkungan yang cocok sangat perlu
untuk memulai proses perkecambahan untuk beberapa spesies.
Adapun tipe- tipe dormansi antara lain karena kulit biji yang keras atau
tidak permiabel terhadap air atau udara (beberapa jenis leguminosa), adanya
penghambat kimiawi terhadap perkecambahan didalam daging buah atau cairan
sekitar (tomat, jeruk, gula), perlu mendapat perlakuan cahay dengan panjang
gelombang tertentu dan perlu mendapat perlakuansuhu rendah (5-10C) hal ini
sesuai dengan literatur Siswono (2003) yang menyatakan bahwa adapun tipe- tipe
dormansi adalah: a.) dormasi fisik, tipe dormansi ini disebut sebagai benih
keras; b.) dormansi Fisiologis ; c.) dormansi sekunder, yaitu benih-benih pada
keadaan normal mampu berkecambah, tetapi apabila dikenakan pada suatu
keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan selama beberapa waktu dapat
14
kehilangan kemampuan untuk berkacambah; d.) dormansi yang disebabkan oleh
hambatan metabolisme pada embrio.
Berdasarkan praktikum ini diketahui bahwa dormansi adalah keadaan biji
yang tidak berkecambah atau tunas yang tidak dapat tumbuh (terhambat
pertumbuhannya) selama priode tertentu yang disebabkan oleh faktor- faktor
internal dalam biji atau tunas itu, hal ini sesuai dengan literatur Byrd (1998) yang
menyatakan bahwa dormansi benih dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan
benih hidup untuk berkecambah pada suatu kisaran keadaan yang luas yang
dianggap menguntungkan untuk benih tersebut.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa fungsi
H2SO4 adalah untuk melunakkan dinding dari biji dan KNO 3 untuk mendinginkan
permukaan pada biji, penambahan zat- zat ini dilakukan sebagai parameter
perbedaan proses dormansi berdasarkan tipe- tipenya hal ini sesuai dengan
literatur Schmidth (2002) yang menyatakan bahwa Secara umum tipe-tipe
dormansi dapat dikelompokan menjadi: embrio yang belum berkembang,
dormansi mekanis, dormansi fisik, zat-zat penghambat, dormansi cahaya,
dormansi suhu, dan dormansi gabungan.
Dormansi biji disebabkan oleh berbagai faktor , yaitu faktor internal
dalam biji atau tunas itu dan faktor eksternal seperti air, oksigen dan suhu, hal ini
sesuai dengan literatur Sutopo (2004) yang menyatakan bahwa faktor penyebab
terjadinya dormansi adalah: a.) rendahnya/tidak adanya proses imbibisi, b.)
proses respirasi terhambat dan c.) rendahnya proses metabolisme cadangan
makanan.
15
Berdasarkan dari hasil praktikum yang dilakukan diketahui bahwa
pertumbuhan yang paling cepat terjadi pada biji jarak dengan cara pengikiran
yang tumbuh dekat embrio pada hari keempat setelah praktikum dilakukan dan
perendaman perendaman H2so4 yang tumbuh pada hari ke 5 Sedangkan pada
perlakuan kimiawi, biji yang paling cepat tumbuh adalah biji yang telah ditetesi
air destilata dengan total jumlah yang tumbuh sebesar 9 biji. Hal sesuai dengan
literatur Sinambela (2008) yang menyatakan bahwa Banyak benih dapat
diperbaiki perkecambahannya dengan memperbaiki perkecambahannya dengan
menghiilangkanatau menipiskan jaringan kulit benih terutama lapisan batu yang
sering sekali menentukan peristiwa dormansi benih.
KESIMPULAN
1. Dormansi benih didefinisikan sebagai ketidakmampuan benih hidup untuk
berkecambah pada suatu keadaan yang dianggap menguntungkan untuk
benih tersebut.
2. Fungsi KNO3 untuk mendinginkan permukaan pada biji dan fungsi dari
H2SO4 adalah untuk melunakkan dinding dari biji.
3. Tipe- tipe dormansi adalah: a.) dormansi fisik, tipe dormansi ini disebut
sebagai benih keras; b.) dormansi Fisiologis ; c.) dormansi sekunder; d.)
dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolisme pada embrio.
4. Faktor penyebab terjadinya dormansi adalah: a.) rendahnya/tidak adanya
proses imbibisi, b.) rendahnya proses metabolisme cadangan makanan,
16
c.) proses respirasi terhambat dan
5. Pemecahan dormansi dan lingkungan sangat perlu untuk memulai proses
perkecambahan untuk beberapa spesies. Perlakuan tergantung pada tipe
dormansi yang terlibat (dormansi fisik, dormansi fisiologi, dormansi
ganda).
6. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa biji jarak
lebih cepat tumbuh dekat embrio dengan perlakuan dikikir.
DAFTAR PUSTAKA
Byrd HW. 1968. Pedoman Teknologi Benih. Hamidin E, penerjemah. Jakarta:
PT Pembimbing Masa. Terjemahan dari: Seed Technology Handbook.
Fahmi, Z. 2013. Studi Perlakuan Pematahan Dormansi Benih Dengan Skarifikasi
Mekanik dan Kimiawi. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman
Perkebunan Surabaya.
Faustina,E., Prapto,Y., Dan Rohmanti,R. [Link] Cara Pelepasan Aril
Dan Konsentrasi KNO3 Terhadap Pematahan Dormansi Benih Pepaya
(Carica Papaya L.). Fakultas Pertanian Gadjah Mada. Yogyakarta.
Harjadi, S.S.M.M. 1991. Pengantar Agronomi. Penerbit PT. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Hedty,Dharmawati [Link] Djaman.2014. Teknik Pematahan Dormansi Untuk
Mempercepat PerkecambahanBenih Kourbaril (Hymenaea
Courbaril). Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan.
Jawa Barat.
Kartasapoetra A.G., 2003. Teknologi Benih : Pengolahan Benih Dan
TuntunanPraktikum. Rineka Cipta. Jakarta.
17
Kuntarsih S, Hari S, Sri SH, Jusup S, Sugihharsono dan Sudarsono. 2005. Dasar-
Dasar Teknologi Benih. Biro Penataran. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Luqman. 2012. Dormansi Biji. Tugas TerstrukturFisiologi Tumbuhan. Jurusan
BiologiFakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan AlamUniversitas
Tanjungpura. Pontianak.
Nurmala, M. 2003. Dormansi Karena Kulit Biji Yang Keras Laporan Praktikum
Fisiologi Tumbuhan Laboratorium Botani Jurusan Biologi Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Hasanuddin
Makassar
Purnomosidhi P, Roshetko JM, Prahmono A, Suryadi A, Ismawan IN, Surgana M.
2013. Perlakuan benih sebelum disemai untuk beberapa jenis tanaman
prioritas kehutanan, multiguna, buah-buahan, dan perkebunan. Pre-
sowing treatments for some priority timber and multipurpose tree
species, fruit species, and estate crops. Lembar InformasiAgFor no. 4
Februari. Bogor, Indonesia: World Agroforestry Centre (ICRAF)
Southeast Asia Regional Program.
Sadjat,H.2005. Pengaruh Perlakuan Deoperkulasi dan Media Perkecambahan
untuk Meningkatkan Viabilitas Benih Aren. Fakultas Pertanian IPB.
Bogor.
Saleh, M.S. 2006. Pematahan Dormansi Benih Aren Secara Fisik Pada Berbagai
Lama Ekstraksi Buah. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian
Untad. Palu.
Sinambela, D. 2008. Kajian Perkembangan dan Dormansi pada Biji
Padi (Oryza sativa L.) Varietas Ariza dan Sunggal Serta Pemecahannya.
Universitas Sumatera Utara. Medan
Siswono H. 2003. Teknik penanganan benih Angsana (Pterocarpus indicus Will)
di Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Bogor.
[Tugas Akhir]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Suena, W. 2012. Modul I Teknologi Benih. Fakultas Pertanian UNIBRAW.
Malang.
Sutopo L. 2004. Teknologi Benih. Fakultas pertanian. UNBRAW
Suyatmi, E. D, Hastuti, dan S. Darmanti. 2012. Pengaruh Lama Perendaman dan
Konsentrasi Asam Sulfat (H2SO4) terhadap Perkecambahan Benih Jati
(Tectona grandis Linn.f). FMIPA UNDIP. Semarang
18
Utomo, B. 2006. Ekologi Benih. Karya Ilmiah. Fakultas Pertanian, Universitas
Sumatera Utara. Medan.
Yuniarti. 2005. Pengaruh tingkat kemasakan fisiologis periode simpan dan
perlakuan pendahuluan terhadap viabilitas benih Kepuh
(Sterculia foetida Linn) [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor.