0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
488 tayangan18 halaman

Pengertian dan Penyebab Dormansi Benih

Teks tersebut membahas tentang dormansi benih, yaitu ketidakmampuan benih untuk berkecambah meski lingkungan mendukung. Dormansi disebabkan faktor internal seperti kulit benih yang keras dan faktor eksternal seperti suhu. Perlakuan kimia seperti asam sulfat dapat memecah dormansi dengan melunakkan kulit benih.

Diunggah oleh

Dewi Novitasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
488 tayangan18 halaman

Pengertian dan Penyebab Dormansi Benih

Teks tersebut membahas tentang dormansi benih, yaitu ketidakmampuan benih untuk berkecambah meski lingkungan mendukung. Dormansi disebabkan faktor internal seperti kulit benih yang keras dan faktor eksternal seperti suhu. Perlakuan kimia seperti asam sulfat dapat memecah dormansi dengan melunakkan kulit benih.

Diunggah oleh

Dewi Novitasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Benih merupakan factor penting pada suatu pertanaman, karena benih

merupakan awal kehidupan dari tanaman yang bersangkutan. Sebelum

membicarakan lebih lanjut tentang benih, terlebih dahulu kita harus mengetahui

tentang pengertian benih secara umum. Benih adalah biji tanaman yang sengaja

diproduksi dengan teknik-teknik tertentu, sehingga memenuhi persyaratan untuk

digunakan sebagai bahan pertanaman selanjutnya. adalah symbol dari suatu

permulaan. Di dalam benih tersimpan sumber kehidupan yang misterius sebuah

tanaman mini. Benih merupakan inti dari kehidupan di alam karenakegunaannya

sebagai penerus dari generasi tanaman (Suena, 2012)

Benih adalah biji terseleksi dari pohon induk terpilih, dan yang akan

disemai menjadi tanaman baru. Sebelum benih ditabur di persemaian, kita perlu

memastikan bahwa benih tersebut akan berkecambah atau tidak berada dalam

kondisi tidur atau dormansi (Purnomosidhi dkk., 2013).

Benih dikatakan mengalami dormansi apabila berada pada lingkungan

yang sesuai bagi perkecambahannya namun benih tersebut tidak tumbuh. Hal ini

disebabkan oleh faktor dalam dan luar benih. Faktor dalam benih disebabkan oleh

embrio yang rudimenter, embrio yang dorman, kulit benih yang kedap terhadap

air dan udara, atau karena adanya zat penghambat perkecambahan. Faktor luar

benih yang dimaksud antara lain air, temperatur, oksigen, cahaya serta medium

(Kartasapoetra, 2003).

Dormansi benih adalah ketidakmampuan benih hidup untuk berkecambah

pada lingkungan yang optimum. Dormansi dapat disebabkan oleh keadaan fisik
2

dari kulit benih, keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan

tersebut. Namun demikian dormansi bukan berarti benih tersebut mati atau tidak

dapat tumbuh kembali (Fahmi, 2013).

Dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat

(viable) gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang merata normal baik

untuk perkecambahan, seperti kelembaban yang cukup, dan cahaya yang sesuai.

Dormansi merupakan strategi untuk mencegah perkecambahan dibawah kondisi

dimana kemungkinan hidup kecambah atau anakan rendah (Utomo, 2006).

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari jurnal ini adalah untuk mengenal berberapa tipe-tipe

dormansi, pengaruh kulit biji yang keras terhadap perkecambah dan mengetahui

pengaruh bahan-bahan kimia dan fisika terhadap perkecambahan biji.

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan penulisan jurnal ini adalah sebagai salah satu syarat untuk

memenuhi komponen penilaian praktikum di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan

Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai sumber informasi bagi pihak

yang membutuhkan.
3

TINJAUAN PUSTAKA

Dormansi adalah keadaan biji yang tidak berkecambah atau dengan kata

lain tunas yang yang tidak dapat tumbuh (terhambatnya pertumbuhan) selama

periode tertentu yang disebabkan oleh faktor-faktor intern dalam biji atau tunas

tersebut. Suatu biji dikatakan dorman apabila biji tersebut tidak dapat

berkecambah, setelah periode tertentu, meski faktor-faktor lingkungan yang

dibutuhkan tersedia (Nurmala, 2003)

Dormansi benih dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan benih hidup

untuk berkecambah pada suatu kisaran keadaan yang luas yang dianggap

menguntungkan untuk benih tersebut. Dormansi dapat disebabkan karena tidak

mampunya benih secara total untuk berkecambah atau hanya karena

bertambahnya kebutuhan yang khusus untuk perkecambahnnya (Byrd, 1968).

Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup, tetapi

tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum

dianggap telah memenuhi persyaratan, bagi suatu perkecambahan. Beberapa

faktor penyebab terjadinya dormansi adalah: a.) rendahnya/tidak adanya proses

imbibisi, b.) proses respirasi terhambat dan c.) rendahnya proses metabolisme

cadangan makanan (Sutopo, 2004).

Secara kimia pemecahan dormansi dilakukan dengan perendaman dalam

asam kuat encer (skarifikasi kimia). asam kuat sangat efektif untuk mematahkan

dormansi pada biji yang memiliki struktur kulit keras, Asam sulfat (H2SO4)

sebagai asam kuat dapat melunakkan kulit biji sehingga dapat dilalui oleh air

dengan mudah (Hedty dkk,.2014)


4

Perlakuan konsentrasi H2SO4 berpengaruh terhadap persentase

perkecamhan benih, dan terdapat interaksi antara perlakuan konsentrasi H 2SO4

dengan lama perendaman. Perendaman benih dalam H 2SO4 menyebabkan kulit

benih menjadi lunak, air dan gas dapat berdifusi masuk dan senyawa-senyawa

inhibitor perkecambahan seperti fluoride dan kaumarin larut ke dalam H2SO4

selama proses perendaman (Suyatmi dkk., 2012).

Perlakuan kimia seperti H2SO4 pada prinsipnya adalah membuang lapisan

lignin pada kulit biji yang keras dan tebal sehingga biji kehilangan lapisan yang

permiabel terhadap gas dan air sehingga metabolism dapat berjalan dengan baik

(sadjat, 1975).

Selain kulit biji yang keras, dormansi biji dapat juga terjadi oleh akibat

belum siapnya embrio atau biji itu memerlukan waktu tenggang antara pemasakan

dengan perkecambahan (after ripening). Kebanyakan biji waktu after ripeningnya

pendek atau tidak ada. Bahkan ada tumbuhan yang vivivar, artinya biji telah

berkecambah sebelum terlepas dari induk, misal pada biji bakau

(Nurmala, 2003).

Beberapa jenis benih tetap doman disebabkan oleh kulit benihnya yang

cukup kuat untuk menghalangi pertumbuhan dari embrio. Kulit benih tidak dapat

dilalui air atau udara karena keras atau tertutup oleh gabus maupun lilin. Jika kulit

benih dihilangkan maka akan terjadi perkecambahan. Dormansi juga dapat

disebabkan keadaan fisiologi dari embrio antara lain akibat embrio yang

rudimenter atau secara fisiologis belum masak, maksudnya belum mampu

membentuk zat-zat yang diperlukan untuk perkecambahan misalnya zat tumbuh

seperti Giberelin ( Sinambela, 2008)


5

Pemecahan dormansi dan penciptaan lingkungan yang cocok sangat perlu

untuk memulai proses perkecambahan untuk beberapa spesies. Perlakuan

tergantung pada tipe dormansi yang terlibat (dormansi fisik, dormansi fisiologi,

dormansi ganda). Perlakuan tersebut mencakup skarifikasi, stratifikasi, biakan

embrio, dan berbagai kombinasi dan perlakuan- perlakuan ini dengan pengaturan

lingkungan yang cocok (Harjadi, 1991).

Metode pematahan dormansi sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara

antara lain dengan cara mekanis, fisis maupun kimia. Metode kimia dapat

dikatakan metode yang paling praktis karena hanya dilakukan dengan

mencampurkan cairan kimia dengan biji. Larutan kimia yang terkenal murah dan

tersedia banyak di pasaran adalah KNO3. KNO3 juga sudah teruji efektif

mematahkan dormansi beberapa benih tanaman, antara lain padi dan aren. KNO 3

berfungsi untuk meningkatkan aktifitas hormon pertumbuhan pada benih.

Pengaruh KNO3 yang ditimbulkan ditentukan oleh besar kecil konsentrasinya.

Perlakuan awal dengan larutan KNO3 berperan merangsang perkecambahan pada

hampir seluruh jenis biji. Perlakuan perendaman dalam larutan KNO3 dilaporkan

juga dapat mengaktifkan metabolisme sel dan mempercepat perkecambahan

(Faustina dkk., 2012).

Lengkeng merupakan tanaman yang dapat hidup sampai lebih dari 50

tahun. Batang tanaman berkayu keras dan tinggi pohon mencapai lebih dari 15

meter. Memiliki banyak percabangan dan membentuk tajuk yang rimbun seperti

pyung. Kulit batang agak tebal dan bewarna hijau sampai kecoklatan. Lengkeng

adalah tanaman berdaun majemuk yang tersusun dalam tangkai, terletak bertahap

tahap dan berjumlah 7-8 helai. Permukaan bagian atas bewarna hijau tua
6

mengkilap, sedangkan permukaan daun bagian bawah bewarna hiju. Daun

berukuran panjang 10 cm dan lebar 3,5 cm dengan tepi daun rata dan ujung daun

runcing. Berdasarkan jenis kelamin bunga, tanaman lengkeng dibedakan menjadi

tiga macam yaitu (1) pohon lengkeng yang berupa jantan, (2) pohon yang hanya

berbunga betina dan (3) pohon yang berbunga sempurna atau mempunyai kelamin

jantan dan betina (hermaprodit). Tanaman lengkeng berbunga jantan tidak

menghasilkan buah. Buah lengkeng berbentuk bulat-bundar sampai bulat pesek

dan terdiri dari kulit buah, daging buah serta biji. Kulit buah tipis dan bewarna

hijau kecoklatan sampai dengan coklat. Daging buah tebal, bewarna putih bening,

beraroma harum khas lengkeng dan berasa manis. Biji berbentuk bulat kecil dan

bewarna coklat sampai hitam (Kuntarsih dkk., 2005).

Pada dasarnya dormansi benih dapat diperpendek dengan berbagai

perlakuan sebelum dikecambahkan, baik secara fisik, kimia dan biologi. Namun,

bila hanya perlakuan fisik saja belum menunjukkan hasil yang memuaskan baik

jumlah benih yang berkecambah maupun waktu yang dipergunakan untuk

berkecambah. Benih yang diberi perlakuan fisik mengikis punggung atau

skarifikasi dengan kertas amplas daya berke-cambah 50 55% dan kecepatan

berkecambah 57 49 hari dan makin baik bila secara bersama-sama diberi

pelakuan kimia (KNO3) yang direndam. Usaha ini perlu terus dilanjutkan,

diantaranya mengurangi atau menghilangkan senyawa penghambat

perkecambahan misalnya kalsium oksalat (Saleh, 2006).

Dormansi benih dapat menguntungkan atau merugikan dalam penanganan

benih. Keuntungannya adalah bahwa dormansi mencegah benih dari

perkecambahan selama penyimpanan dan prosedur penanganan lain. Disatu sisi,


7

apabila dormansi sangat kompleks dan benih membutuhkan perlakuan awal yang

khusus. Kegagalan untuk mengatasi masalah dormansi akan berakibat pada

kegagalan perkecambahan pada benih (Yuniarti, 2005).

Adapun tipe- tipe dormansi adalah: a.) dormansi fisik, tipe dormansi ini

disebut sebagai benih keras; b.) dormansi Fisiologis ; c.) dormansi sekunder,

yaitu benih-benih pada keadaan normal mampu berkecambah, tetapi apabila

dikenakan pada suatu keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan selama

beberapa waktu dapat kehilangan kemampuan untuk berkacambah; d.) dormansi

yang disebabkan oleh hambatan metabolisme pada embrio. Contohnya, keperluan

akan cahaya (Siswono, 2003).

Zat-zat penghambat perkecambahan yang diketahui terdapat pada tanaman

antara lain adalah ammonia, abscisis acid, benzoic acid, ethylene, alkaloid,

alkaloids lactone (antara lain coumarin). Coumarin diketahui menghambat kerja

enzim. Enzim penting dalam perkecambahan. Zat penghambat yang ditemukan

dalam daging buah tersebut harus diekstrasi dan dicuci untuk menghilangkan zat-

zat penghambat (Luqman, 2012).


8

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Praktikum

Adapun praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan

Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,

pada hari Rabu, 24 Maret 2016 pukul 15.00 - 16.40 WIB pada ketinggian

25 mdpl.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 1 buah tomat

utuh dengan jumlah biji 30 buah, biji jarak, biji flamboyan, biji lengeng masing-

masing 20 buah sebagai objek pengamatan yang akan diamati, aquades sebagai

larutan untuk merendam biji, larutan coumarin, asam sulfat (H2SO4), KNO3

sebagai larutan untuk membantu dalam proses dormansi biji, kertas pasir halus

untuk mengikir kulit biji, label sebagai penanda, pasir yang telah digongseng

sebagai media tanam dan kertas merang sebagai alas biji tomat pada cawan petri.

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cawan petri

sebagai alat untuk meletakkan biji, gelas beker sebagai alat untuk memanaskan

air, spritus untuk memanaskan air, pipet tetes untuk mengambil larutan, penjepit

untuk mengambil biji dalam larutan, tabung Erlenmeyer sebagai wadah larutan

bak perkecambahan sebagai media untuk pertumbuhan biji, dan alat tulis untuk

mencatat hasil praktikum.

Prosedur Percoban

A. Kulit biji yang keras :


1. Disiapkan bak perkecambahan, dan diisi dengan pasir
2. Dipilih 16 biji flamboyan, jarak dan lengkeng lalu diberi perlakuan

sebagai berikut :
a. Direndam 2 biji dalam air destilata dingin selama 1 jam
9

b. Direndam 2 biji dalam air yang baru didihkan dan dibiarkan

sampai airnya dingin


c. Dikikir atau diasah 2 biji dengan kertas pasir halus dekat dengan

embrio, sampai tampak kotiledonnya. Direndam dalam air destilata

selama 1 jam
d. Dikikir atau diasah 2 biji dengan pada jarak 90o dekat dengan

embrio, sampai tampak kotiledonnya. Direndam dalam air destilata

selama 1 jam
e. Dikikir atau diasah 2 biji dengan pada jarak 180o dekat dengan

embrio, sampai tampak kotiledonnya. Direndam dalam air destilata

selama 1 jam
f. Direndam 2 biji dalam larutan H2SO4 5 cc/l selama 15 menit
g. Direndam 2 biji dalam larutan KNO3 5 cc/l selama 15 menit
3. Ditanam pada bak pasir yang sudah disiram air dengan kedalaman 1

cm
4. Ditempatkan pada tempat gelap pada suhu kamar/ruang
5. Diperiksa setiap hari selama 1 minggu, disiram bila media

perkecambahan kering dan dicatat perkembangannya. Dibandingkan

satu perlakuan dengan perlakuan lainnya.

B. Faktor-faktor kimiawi :
1. Disediakan 3 buah cawan petri yang telah dilapisi dengan kertas

merang
2. Dibelah buah tomat, diambil cairan ekstrak buah tomat tersebut
3. Diambil 30 buah biji tomat tersebut :
a. Cawan 1 : diletakkan 10 biji tomat tanpa dicuci + larutan ekstrak

tomat
b. Cawan 2 : diletakkan 10 biji tomat yang sudah dicuci air destilata +

air destilata
c. Cawan 3 : diletakkan 10 biji tomat yang sudah dicuci air destilata

+ larutan Coumarin 40 mg/liter


10

4. Ditutup cawan, diberi label dan diletakkan pada tempat gelap pada

suhu kamar/ruang
5. Diamati persentase perkecambahan setiap hari selama 1 minggu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Faktor Kimiawi

Biji Berkecambah
Perlakuan Biji
Tomat
1 2 3 4 5 6 7 Total %
Air Destilata
0 0 0 7 9 9 9 9 90
Ekstrak Buah
0 0 0 0 0 0 0 0 0
Tomat
Larutan
0 0 0 0 0 0 0 0 0
Coumarin

Kulit Biji Keras (Hari 1)

Biji Biji Berkecambah

Dikikir Air Air H2SO4 KNO3


Dekat 90 180 Panas Dingin
11

Dari Dari
Embrio
Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 0 0 0 0 0 0 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0

Kulit Biji Keras (Hari 2)

Biji Berkecambah

Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 0 0 0 0 0 0 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0

Kulit Biji Keras (Hari 3)


Biji Berkecambah

Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 0 0 0 0 0 0 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0

Kulit Biji Keras (Hari 4)


Biji Berkecambah

Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 2 1 1 0 0 0 0
12

Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0

Kulit Biji Keras (Hari 5)


Biji Berkecambah

Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 2 1 2 0 0 2 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0

Kulit Biji Keras (Hari 6)


Biji Berkecambah

Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 0 0 0 0 0 0
Jarak 2 1 2 0 0 2 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0

Kulit Biji Keras (Hari 7)


Biji Berkecambah

Air Air
Biji Dikikir H2SO4 KNO3
Panas Dingin
Dekat 90 Dari 180 Dari
Embrio Embrio Embrio
Flamboyan 0 1 0 1 0 1 0
Jarak 2 2 2 0 0 2 0
Kelengkeng 0 0 0 0 0 0 0

Pembahasan

Pada pematahan dormansi digunakan larutan H2SO4 dan KNO3 yang

digunakan untuk mempercepat perkecambahan biji. Fungsi dari H 2SO4 dan KNO3
13

untuk melunakkan kulit biji sehingga air mudah diserap oleh biji. Hal ini sesuai

dengan literatur Suyatmi [Link] ( 2012 ) yang manyatakn bahwa Salah satu

perlakuan kimia yang dapat dilakukan untuk mematahkan dormansi adalah

dengan cara merendam benih dalam asam sulfat (H2SO4 ). Perlakuan dengan asam

seperti larutan H2SO4 menyebabkan kerusakan pada kuli biji dan dapat diterapkan

pada legum maupun non legum, namun tidak sesuai untuk benih yang mudah

menjadi permeabel karena asam akan masuk dan merusak embrioBerdasarkan

praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa biji jarak adalah biji yang

mengalami pertumbuhan paling cepat dengan cara pengikikiran dekat embrio

karena memenuhi kriteria lingkungan perkecambahan yang cepat. Proses

pematahan dormansi ini sesuai dengan literatur Harjadi (1991) yang menyatakan

bahwa pemecahan dormansi dan penciptaan lingkungan yang cocok sangat perlu

untuk memulai proses perkecambahan untuk beberapa spesies.

Adapun tipe- tipe dormansi antara lain karena kulit biji yang keras atau

tidak permiabel terhadap air atau udara (beberapa jenis leguminosa), adanya

penghambat kimiawi terhadap perkecambahan didalam daging buah atau cairan

sekitar (tomat, jeruk, gula), perlu mendapat perlakuan cahay dengan panjang

gelombang tertentu dan perlu mendapat perlakuansuhu rendah (5-10C) hal ini

sesuai dengan literatur Siswono (2003) yang menyatakan bahwa adapun tipe- tipe

dormansi adalah: a.) dormasi fisik, tipe dormansi ini disebut sebagai benih

keras; b.) dormansi Fisiologis ; c.) dormansi sekunder, yaitu benih-benih pada

keadaan normal mampu berkecambah, tetapi apabila dikenakan pada suatu

keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan selama beberapa waktu dapat


14

kehilangan kemampuan untuk berkacambah; d.) dormansi yang disebabkan oleh

hambatan metabolisme pada embrio.

Berdasarkan praktikum ini diketahui bahwa dormansi adalah keadaan biji

yang tidak berkecambah atau tunas yang tidak dapat tumbuh (terhambat

pertumbuhannya) selama priode tertentu yang disebabkan oleh faktor- faktor

internal dalam biji atau tunas itu, hal ini sesuai dengan literatur Byrd (1998) yang

menyatakan bahwa dormansi benih dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan

benih hidup untuk berkecambah pada suatu kisaran keadaan yang luas yang

dianggap menguntungkan untuk benih tersebut.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa fungsi

H2SO4 adalah untuk melunakkan dinding dari biji dan KNO 3 untuk mendinginkan

permukaan pada biji, penambahan zat- zat ini dilakukan sebagai parameter

perbedaan proses dormansi berdasarkan tipe- tipenya hal ini sesuai dengan

literatur Schmidth (2002) yang menyatakan bahwa Secara umum tipe-tipe

dormansi dapat dikelompokan menjadi: embrio yang belum berkembang,

dormansi mekanis, dormansi fisik, zat-zat penghambat, dormansi cahaya,

dormansi suhu, dan dormansi gabungan.

Dormansi biji disebabkan oleh berbagai faktor , yaitu faktor internal

dalam biji atau tunas itu dan faktor eksternal seperti air, oksigen dan suhu, hal ini

sesuai dengan literatur Sutopo (2004) yang menyatakan bahwa faktor penyebab

terjadinya dormansi adalah: a.) rendahnya/tidak adanya proses imbibisi, b.)

proses respirasi terhambat dan c.) rendahnya proses metabolisme cadangan

makanan.
15

Berdasarkan dari hasil praktikum yang dilakukan diketahui bahwa

pertumbuhan yang paling cepat terjadi pada biji jarak dengan cara pengikiran

yang tumbuh dekat embrio pada hari keempat setelah praktikum dilakukan dan

perendaman perendaman H2so4 yang tumbuh pada hari ke 5 Sedangkan pada

perlakuan kimiawi, biji yang paling cepat tumbuh adalah biji yang telah ditetesi

air destilata dengan total jumlah yang tumbuh sebesar 9 biji. Hal sesuai dengan

literatur Sinambela (2008) yang menyatakan bahwa Banyak benih dapat

diperbaiki perkecambahannya dengan memperbaiki perkecambahannya dengan

menghiilangkanatau menipiskan jaringan kulit benih terutama lapisan batu yang

sering sekali menentukan peristiwa dormansi benih.

KESIMPULAN

1. Dormansi benih didefinisikan sebagai ketidakmampuan benih hidup untuk

berkecambah pada suatu keadaan yang dianggap menguntungkan untuk


benih tersebut.
2. Fungsi KNO3 untuk mendinginkan permukaan pada biji dan fungsi dari

H2SO4 adalah untuk melunakkan dinding dari biji.


3. Tipe- tipe dormansi adalah: a.) dormansi fisik, tipe dormansi ini disebut

sebagai benih keras; b.) dormansi Fisiologis ; c.) dormansi sekunder; d.)

dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolisme pada embrio.


4. Faktor penyebab terjadinya dormansi adalah: a.) rendahnya/tidak adanya

proses imbibisi, b.) rendahnya proses metabolisme cadangan makanan,


16

c.) proses respirasi terhambat dan

5. Pemecahan dormansi dan lingkungan sangat perlu untuk memulai proses

perkecambahan untuk beberapa spesies. Perlakuan tergantung pada tipe

dormansi yang terlibat (dormansi fisik, dormansi fisiologi, dormansi

ganda).
6. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa biji jarak

lebih cepat tumbuh dekat embrio dengan perlakuan dikikir.

DAFTAR PUSTAKA

Byrd HW. 1968. Pedoman Teknologi Benih. Hamidin E, penerjemah. Jakarta:


PT Pembimbing Masa. Terjemahan dari: Seed Technology Handbook.

Fahmi, Z. 2013. Studi Perlakuan Pematahan Dormansi Benih Dengan Skarifikasi


Mekanik dan Kimiawi. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman
Perkebunan Surabaya.

Faustina,E., Prapto,Y., Dan Rohmanti,R. [Link] Cara Pelepasan Aril


Dan Konsentrasi KNO3 Terhadap Pematahan Dormansi Benih Pepaya
(Carica Papaya L.). Fakultas Pertanian Gadjah Mada. Yogyakarta.

Harjadi, S.S.M.M. 1991. Pengantar Agronomi. Penerbit PT. Gramedia Pustaka


Utama. Jakarta.
Hedty,Dharmawati [Link] Djaman.2014. Teknik Pematahan Dormansi Untuk
Mempercepat PerkecambahanBenih Kourbaril (Hymenaea
Courbaril). Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan.
Jawa Barat.

Kartasapoetra A.G., 2003. Teknologi Benih : Pengolahan Benih Dan


TuntunanPraktikum. Rineka Cipta. Jakarta.
17

Kuntarsih S, Hari S, Sri SH, Jusup S, Sugihharsono dan Sudarsono. 2005. Dasar-
Dasar Teknologi Benih. Biro Penataran. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Luqman. 2012. Dormansi Biji. Tugas TerstrukturFisiologi Tumbuhan. Jurusan


BiologiFakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan AlamUniversitas
Tanjungpura. Pontianak.

Nurmala, M. 2003. Dormansi Karena Kulit Biji Yang Keras Laporan Praktikum
Fisiologi Tumbuhan Laboratorium Botani Jurusan Biologi Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Hasanuddin
Makassar

Purnomosidhi P, Roshetko JM, Prahmono A, Suryadi A, Ismawan IN, Surgana M.


2013. Perlakuan benih sebelum disemai untuk beberapa jenis tanaman
prioritas kehutanan, multiguna, buah-buahan, dan perkebunan. Pre-
sowing treatments for some priority timber and multipurpose tree
species, fruit species, and estate crops. Lembar InformasiAgFor no. 4
Februari. Bogor, Indonesia: World Agroforestry Centre (ICRAF)
Southeast Asia Regional Program.

Sadjat,H.2005. Pengaruh Perlakuan Deoperkulasi dan Media Perkecambahan


untuk Meningkatkan Viabilitas Benih Aren. Fakultas Pertanian IPB.
Bogor.

Saleh, M.S. 2006. Pematahan Dormansi Benih Aren Secara Fisik Pada Berbagai
Lama Ekstraksi Buah. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian
Untad. Palu.

Sinambela, D. 2008. Kajian Perkembangan dan Dormansi pada Biji


Padi (Oryza sativa L.) Varietas Ariza dan Sunggal Serta Pemecahannya.
Universitas Sumatera Utara. Medan

Siswono H. 2003. Teknik penanganan benih Angsana (Pterocarpus indicus Will)


di Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Bogor.
[Tugas Akhir]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Suena, W. 2012. Modul I Teknologi Benih. Fakultas Pertanian UNIBRAW.


Malang.

Sutopo L. 2004. Teknologi Benih. Fakultas pertanian. UNBRAW

Suyatmi, E. D, Hastuti, dan S. Darmanti. 2012. Pengaruh Lama Perendaman dan


Konsentrasi Asam Sulfat (H2SO4) terhadap Perkecambahan Benih Jati
(Tectona grandis Linn.f). FMIPA UNDIP. Semarang
18

Utomo, B. 2006. Ekologi Benih. Karya Ilmiah. Fakultas Pertanian, Universitas


Sumatera Utara. Medan.

Yuniarti. 2005. Pengaruh tingkat kemasakan fisiologis periode simpan dan


perlakuan pendahuluan terhadap viabilitas benih Kepuh
(Sterculia foetida Linn) [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor.

Common questions

Didukung oleh AI

Integrating mechanical and chemical methods can enhance germination rates by physically scarifying seeds to weaken seed coat barriers, followed by applying chemicals like H2SO4 to chemically loosen seed coats further. This combination enables water and gases to penetrate more effectively, ensuring a comprehensive approach to breaking dormancy while minimizing seed damage .

Internal factors include underdeveloped embryos, impermeable seed coats, and the presence of germination inhibitors. External factors involve environmental conditions such as temperature, light, water, and oxygen availability. These factors interact by jointly affecting the seed's physiological readiness and environmental cues necessary for ending dormancy. Comprehending their interplay is essential for predicting and managing seed germination processes .

Seed dormancy is a natural state where seeds do not germinate despite having favorable conditions. This condition can affect agricultural practices by delaying the timing of germination, thus affecting crop planning and harvesting. Dormancy is a strategy to prevent germination under unsuitable conditions, enhancing survival chances. It is influenced by internal factors like embryonic development and impermeable seed coats, and external factors, such as temperature and water availability .

Chemical treatment with H2SO4 helps overcome seed dormancy by softening the seed coat, allowing water and gases to penetrate and enabling germination. However, H2SO4 may not be suitable for seeds that become too permeable, potentially damaging embryonic tissues .

KNO3 helps overcome seed dormancy by stimulating the seed’s metabolic activity and growth hormone production, promoting germination. It serves as a milder alternative to H2SO4, useful for seeds sensitive to harsh chemical conditions. Unlike H2SO4 which primarily acts on the seed coat, KNO3 influences internal biochemical pathways, offering a complementary approach .

The types of seed dormancy include physical dormancy due to hard seed coats ("seed hardness"), physiological dormancy involving immature embryos or dormancy-breaking chemical needs, and secondary dormancy imposed by unfavorable environmental conditions. Additionally, dormancy can occur from metabolic inhibitors inside seeds .

Seed dormancy poses challenges in seed uniformity and propagation timing, impacting crop yield. In agricultural biotechnology, understanding dormancy mechanisms aids in developing treatments to standardize germination processes, potentially improving seed performance and breeding new cultivars with desired traits. Overcoming dormancy efficiently enhances production by aligning germination with agronomic schedules .

Dormancy contributes to seed survival by preventing premature germination in unfavorable conditions, allowing seeds to remain viable until environmental parameters indicate a higher chance of seedling success. This delay tactics enhance genetic persistence by managing germination timing with favorable growth seasons, avoiding hazards like drought or extreme temperatures .

Seeds remain dormant under optimal conditions due to internal factors like unripe embryos or chemical inhibitors. Addressing this involves stratification, scarification, or chemical treatments to simulate conditions that naturally break dormancy. Carefully altering environmental parameters can also help synchronize germination with suitable growth conditions .

'After ripening' refers to the maturation process some seeds undergo after being shed from the parent plant, involving physiological changes critical for ending dormancy. During this period, seeds complete their development, ensuring they germinate successfully once conditions become favorable. This process is important for species with a natural delay in germination, aiding survival by synchronizing with optimal growth conditions .

Anda mungkin juga menyukai