0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan137 halaman

Rencana Mixed Use Building Semarang

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas latar belakang perlunya mixed use building di Kota Semarang untuk mengatasi keterbatasan lahan dan meningkatnya kebutuhan masyarakat. Mixed use building merupakan bangunan yang menggabungkan beberapa aktivitas dan fungsi seperti perdagangan, jasa, hiburan, dan tempat tinggal dalam satu bangunan vertikal untuk menghemat lahan dan waktu. Dokumen ini juga menjelaskan tujuan, lingkup pembahasan, dan metode
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan137 halaman

Rencana Mixed Use Building Semarang

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas latar belakang perlunya mixed use building di Kota Semarang untuk mengatasi keterbatasan lahan dan meningkatnya kebutuhan masyarakat. Mixed use building merupakan bangunan yang menggabungkan beberapa aktivitas dan fungsi seperti perdagangan, jasa, hiburan, dan tempat tinggal dalam satu bangunan vertikal untuk menghemat lahan dan waktu. Dokumen ini juga menjelaskan tujuan, lingkup pembahasan, dan metode
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keterbatasan lahan dan meningkatnya kualitas hidup adalah masalah besar di
era globalisasi seperti sekarang. Semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat semakin
meningkat pula kepentingan seseorang untuk lebih menghemat waktu dan fungsi suatu
bangunan. Hal ini yang menjadi salah satu pertimbangan munculnya mixed use
building.
Mixed use building sendiri merupakan bangunan yang menggabungkan
beberapa aktivitas dan fungsi. Beberapa keuntungan dari mixed use building adalah
menghemat lahan karena umumnya mixed use building dibangun secara vertikal
sehingga dapat menghemat waktu, kebutuhan, dan kepentingan dari penggunanya serta
dapat mengurangi kemacetan karena penghuni hotel tidak perlu memakan waktu lama
dan menggunakan transportasi untuk menuju ke pusat perbelanjaan karena hanya perlu
berjalan kaki saja.

Seiring dengan perkembangannya, kota Semarang mengarahkan


perkembangannya melalui pengembangan jaringan infrastruktur serta pengalokasian
kegiatan baru yang mampu merangsang dan menjadi daya tarik terhadap kegiatan
lainnya.
Sesuai Kebijakan Umum Pemanfaatan Ruang Kota, dalam pengembangan
pola pemanfaatan ruang kota Semarang, salah satunya menggunakan pola atau konsep
yang sesuai dengan karakteristiknya, yaitu dengan menggunakan konsep Mix Used
Planning, yaitu konsep rencana tata guna tanah yang menetapkan adanya beberapa
daerah yang bersifat campuran bagi beberapa jenis kegiatan yang saling menunjang.
Berdasarkan yang sedang terjadi, bahwasanya tingkat ekonomi beranjak naik
di kawasan Asia, khususnya Indonesia, maka aktivitas sektor pariwisata meningkat
tajam. Hal ini ditandai dengan semakin banyak orang yang bepergian untuk melancong
(traveling).
Perkembangan suatu kawasan ikut meningkat pula dengan adanya
pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam serta pembangunan bangunan
komersial.

1
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Seperti kita ketahui, masyarakat Indonesia saat ini umumnya memiliki


perilaku dalam berinvestasi yaitu mengikuti trend yang terjadi di masyarakat
sekelilingnya. Begitu pula dengan gaya hidup yang semakin modern, dan kota yang
sedang berkembang, ini merupakan salah satu alasan mengapa orang-orang memilih
bertempat tinggal di Kota Semarang. Fenomena ini juga ikut menambah permintaan
akan tempat tinggal. Adanya usaha efisiensi lahan dan semakin banyaknya manusia
yang bermukim di perkotaan menyebabkan pembangunan yang dulu mengarah
horizontal (landed house), berbeda dengan sekarang yang cenderung ke arah vertikal.
Untuk mendapatkan rumah yang terletak di dekat pusat kota pun cukup sulit. Fungsi
tempat tinggal ini tidak hanya sekedar sebagai hunian melainkan juga lahan bisnis dan
kemudahan dalam berbelanja, juga dapat memberikan nilai tambah, seperti kepraktisan,
efisiensi, keamanan, lokasi strategis, dan nilai lainnya, seperti nilai investasi dan
prestige.
Maka dengan meningkatnya investasi di berbagai sektor ekonomi mendorong
laju pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat, mencoba menjawab kebutuhan tersebut
sekaligus mewujudkan arsitektur dengan penggabungan semua fungsi kedalam suatu
bangunan tinggi dengan gaya baru. Kondisi inilah yang memberikan peluang kerja dan
kesempatan berusaha yang lebih besar.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa di Kota Semarang dibutuhkan
bangunan alternatif mixed use building khususnya bangunan yang ramah lingkungan
dan hemat energi. Perencanaan dan perancangan di kota ini diharapkan mampu
mengakomodasi kebutuhan tempat tinggal dan hiburan sementara, khususnya bagi
masyarakat kalangan menengah ke atas, seperti pengusaha, baik yang bekerja di sekitar
kawasan tersebut, maupun masyarakat umum dan pendatang.
1.2 Tujuan dan Sasaran
1.2.1 Tujuan
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk memperoleh suatu program
dasar perencanaan dan konsep perancangan arsitektur untuk bangunan
Arsitektur yang layak, dengan suatu penekanan desain yang spesifik sesuai
karakter dan citra yang dikehendaki.
1.2.2 Sasaran
Sasaran yang di harapkan yaitu agar dapat merencanakan dan merancang
suatu bangunan publik multifungsiyang melingkupi perdagangan dan jasa yaitu
Shopping Center, Apartemen, dan Rental Office dengan penekanan arsitektur
yang ramah lingkungan dan hemat energi, ideal, nyaman, fungsional, dan estetis
2
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

yang mampu mengakomodasi fasilitas dan kebutuhan penggunanya secara


optimal, dalam arti sesuai dengan tuntutan pengguna bangunan dan
memungkinkan pengguna untuk mengembangkan diri.
1.3 Lingkup Pembahasan
Lingkup pembahasan secara substansial ditekankan pada aspek-aspek
perencanaan dan perancangan yang berkaitan dengan disiplin ilmu arsitektur untuk
bangunan komersial yang meliputi perundang-undangan/kebijaksanaan pemerintahan,
aspek-aspek fisik dan non fisik. Sedangkan hal-hal lain di luar lingkup ilmu arsitektur
akan dibahas secara garis besar sepanjang masih berkaitan dengan masalah
perencanaan dan perancangan Mixed Use Building di kota Semarang. Secara fisik,
lingkup pembahasan perancangan ini adalah kota Semarang dengan skala pelayanan
bersifat lokal dan regional.
1.4 Metode Pembahasan
Laporan ini dibahas dengan metode deskriptif, yaitu dengan mengumpulkan dan
menguraikan data primer dan sekunder. Yang secara deduktif, diolah dan dikaji dengan
mengacu pada potensi dan masalah yang muncul, kemudian dilakukan pendekatan
perencanaan dan perancangan atas dasar pertimbangan berbagai aspek yang
berorientasi pada disiplin ilmu arsitektur, landasan teoritis dan standar yang ada.
Kemudian secara induktif, diperoleh hasil berupa alternatif pemecahan masalah.
Metode ini digunakan agar diperoleh gambaran mengenai mall yang ideal untuk
dijadikan sebagai acuan dalam perencanaan dan perancangan sebuah Mixed Use
Building di kota Semarang. Tahap pengumpulan data yang dimaksud meliputi :
a. Data Primer
Melakukan survei lapangan pada lokasi yang direncanakan dengan
pengamatan langsung dan membuat dokumentasi hasil pemotretan kondisi dan
potensi di lapangan serta studi banding. Wawancara dengan pihak-pihak pengelola
Mixed Use Building, studi banding tentang jumlah pengunjung, macam kegiatan dan
fasilitas, yang tersedia, serta lokasi atau alternatif tapak.
b. Data Sekunder
Studi literatur dari buku-buku tentang Mixed Use Building untuk mencari data
tentang pengertian, karakteristik, bentuk kegiatan dan fasilitas serta buku-buku yang
berkaitan tentang penekanan desain arsitektur modern. Mengumpulkan data yang
berkaitan seperti data kebijaksanaan, peraturan yang berlaku, keadaan sosial budaya

3
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

masyarakat, peta kondisi wilayah seperti pola penggunaan lahan, jaringan utilitas,
transportasi dan jenis tanah.
1.5 Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan yang digunakan untuk menguraikan penulisan secara
terperinci adalah sebagai berikut :
BAB I. PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, tujuan dan sasaran, manfaat, lingkup
pembahasan metode pembahasan, dan sistematika pembahasan.
BAB II. LANDASAN TEORI DAN HASIL STUDI BANDING
Membahas mengenai definisi yang berhubungan dengan pengertian,
klasifikasi, jenis dan bentuk, fungsi, kelompok pelaku, dan kelompok kegiatan
dalam Mixed Use Building, serta menguraikan tentang studi banding Mixed
Use Building Di kota Semarang yaitu Hartono Mall dan Paragon solo.
BAB [Link] MIXED USE BUILDING DI KOTA SEMARANG
Berisi tinjauan tentang Kota Semarang dan kebijakan pemanfaatan Tata Ruang
Kota, serta pembahasan mengenai pemilihan lokasi dan tapak, persyaratan
lokasi, alternatif tapak, skoring tapak,dan tapak terpilih.
BAB [Link] PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN
PERANCANGAN ARSITEKTUR
Menguraikan dasar pendekatan pada perencanaan dan perancangan Mixed Use
Building di Semarang yang meliputi pendekatan aspek fungsional, pendekatan
kontekstual, pendekatan aspek arsitektural, pendekatan aspek teknis dan
kinerja, serta pendekatan lokasi dan tapak.
BAB V. KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
ARSITEKTUR
Berisi program dasar perencanaan dan perancangan, program ruang, serta
penentuan tapak untuk Mixed Use Building di Semarang.

4
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN STUDY BANDING

2.1 TINJAUAN UMUM MIXED USE BUILDING

2.1.1 Pengertian Mixed Use Building

Mixed Use Buidling adalah salah satu upaya pendekatan perancangan yang
berusaha menyatukan berbagai aktivitas dan fungsi yang berada di bagian area suatu
kota (luas area terbatas,harga tanah mahal, letak strategis, nilai ekonomi tinggi)
sehingga terjadi satu struktur yang kompleks dimana semuakegunaan dan fasilitas
saling berkaitan dalam kerangka integrasi yang kuat (dikembangkan oleh Meyer ,
1983).(Endy Marlina,Panduan Perancaangan Bangunan Komersial,Yogyakarta :
Penerbit Andi 2008,p280)

Dapat disimpulkan bahwa pengertian definisi Mixed Use Building adalah


sebuah bangunan yang didalamnya terdapat beberapa fungsi yang berbeda jenisnya
sehingga perlu adanya organisasi runag yang baik dan berpengaruh pada struktur
bangunan tersebut.

Perkembangan mixed use diawali di Amerika,yang lebih dikenal dengan istilah


Superblok, yaitu ketika proyek-proyek berskala besar di tengah kota mulai
dibangun setelah berakhirnya Perang Dunia II. Kota kota di Amerika Serikat
umumnya ditata oleh jaringan jalan berbentuk grid. Petak-petak lahan itu kemudian
disebut blok. Bangunan besar yang dibangun itu kemudian disebut dengan superblok.
Rangkaian bangunan antar blok yang dirancang secara intergrasi ini (tanpa
menghilangkan batas masing- masing blok) menimbulkan citra suatu blok imajiner
yang besar dan oleh karenanya disebut superblok. Besarnya skala proyek seperti ini
selalu mengandung berbagai fungsi yang saing terkait atau saling melengkapisatu
dengan lainnya.

Rangkaian multifungsi ini erat kaitannya dengan tingkat persaingan bisnis


properti yang terjadi di dalam kota. Setiap pengembang berusaha menawarkan sarana
yang lebih lengkap agar lebih menarik ,misalnya gabungan gedung kantor,pertokoan
dan apartemen, atau gabungan hotel,pertokoan dan kantor. Kesemuanya pada
dasarnya menawarkan kepraktisan dan kenyamanan .

5
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka ciri Mixed Use Buildings sebagai
berikut :

1. Mewadahi 3 fungsi urban atau lebih .misalnya terdiri dari retail, perkantoran,
hunian, hotel, dan entertaiment/ cultural/ recreation.
2. Terjadi integrasi dan sinergi fungsional.
3. Terdapat ketergantungan kebutuhan antara masing-masing fungsi bangunan yang
memperkuat sinergi dan integrasi antar fungsi tersebut.
2.1.2 Fungsi dan Tujuan Mixed Use Building
Fungsi dari pembangunan Mixed Use Building bagi negara-negara maju yang
terus dilakukan saat ini yaitu :

1. Kelengkapan fasilitas yang tinggi, memberikan kemudahan bagi pengunjungnya.


2. Peningkatan kualitas fisik, lingkungan, dan kelengkapan fasilitas yang dirancang
dengan matang dapat memeperbaiki kualitas lingkungan.
3. Efisiensi pergerakan karena adanya pengelompokan berbagai fungsi dan aktivitas
dalam suatu wadah.
4. Vitalitas dan generator pertumbuhan. Kehadirannya berpotensi meningkatkan
pertumbuhan kawasan sekitarnya sebagai respom terhadap kebutuhan akan
layanan bagi para pengguna bangunan.
5. Penghematan pendanaan bangunan. Pembangunan berbagai fasilitas salah satu
komples atau kawasan dapat mengefisiensikan dana pembangunan misalnya
dengan efisiensi dana pembangunan infrastruktur.
6. Menghambat perluasan kota karena perkembangannya yang ke arah vertikal
sehingga meminimalkan perluasan kota secara horizontal.
7. Integrasi sistem-sistem merupakan salah satu syarat pembangunan Mixed Use
Building dimana pembangunan fungsi-fungsinya harus dirancang secara
terintegrasi, saling menguntungkan antar fungsi.
Di sisi lain, ada pula dampak negatifnya, yang harus diantisipasi yaitu :

1. Terjadinya skala usaha, dominasi kegiatan. Pemusatan berbagai fungsi dalam satu
kawasan berpotensi menimbulkan dominasi kegiatan dalam bangunan skala besar
bagi investor yang mempunyai dana yang besar.
2. Pembangunan mixed use berpotensi untuk menumbuhkan bangunan dengan skala
yang sangat besar sehingga dapat menimbulkan ketidakseimbangan dengan skala
bangunan yang lainnya di dalam kota.

6
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

3. Terjadinya ruang-ruang mati. Berkembangnya bangunan mixed use dapat


mengakibatkan matinya ruang-ruang di bagian kota yang lain karena kelengkapan
berbagai fungsi, aktivitas, dan fasilitas.
4. Penggusuran beberappa pemukiman secara paksa untuk mendapatkan luasan
lahan yang luas agar cukup untuk membangun mixed use.
5. Menghilangkan sense of identity karena hilangnya ruang-ruang kota yang
merupakan pentas dari aktivitas dan budaya masyarakat kota tersebut.
6. Masalah pembebanan kota terutama infrastrukturnya karena pemusatan berbagai
fungsi mengakibatkan ketidakseimbangan beban bagi infrastruktur kota.
Penggabungan berbagai fungsi ini memerlukan wadah atau ruang-ruang transisi
yang akan mengakomodasi berbagai aktivitas dari fungsi-fungsi yang berbeda tersebut.
Salah satu langkah penting dalam proses perancangan Mixed Use adalah
mengidentifikasi keinginan dan kebutuhan setiap jenis konsumen. Salah satu cara
identifikasi ini adalah dengan melakukan analisa pengguna aktivitas dan ruang yang
dibutuhkan dari massing-masing pengguna. Dalam proyek ini, Mixed Use yang ingin
dibangun mewadahi 3 fungsi urban yaitu :

1. Shopping Center
2. Apartemen
3. Rental Office
2.2 Shopping Center
2.2.1 Pengertian Shopping Center
Shopping Center atau pusat perbelanjaan secara umum adalah kompleks
pertokoan yang dikunjungi untuk membeli atau melihat dan mambandingkan barang-
barang dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sosial masyarakat serta memberikan
kenyamanan dan keamanan berbelanja bagi pengunjung. Berikut adalah beberapa
definisi dari Shopping Center :
- Shopping Center adalah Sekelompok usaha ritel dan usaha komersial lainnya
yang direncanakan, dikembangkan, dimiliki, dan dikelola sebagai suatu
properti tunggal.(International Council of Shopping Center (ICSC) atau
Organisasi paling besar dan paling berpengaruh untuk pusat perbelanjaan)
- Shopping Center atau Pusat Perbelanjaan adalah Suatu kompleks
pertokoan/perbelanjaan terencana yang pengelolaannya ditangani oleh suatu
manajemen pusat yang menyewakan atau menjual unit-unit toko yang tersedia
untuk pedagang dan mengenai hal-hal tertentu pengawasanya dilakukan oleh
manajer yang sepenuhnya bertanggung jawab kepada pusat perbelanjaan
tersebut. (Nadine Beddington, 1982)

7
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

- Pusat Perbelanjaan sebagai penyewa utama (anchor tenant), luas kotor area
yang disewakan (gross leaseable area) dan wilayah bisnis. (Levy dan Weits,
2004)
- Pusat Perbelanjaan adalah Sekelompok bangunan komersial dengan arsitektur
terpadu yang dibangun pada lokasi yang direncanakan, dikembangkan,
dimiliki, dan dikelola sebagai sebuah unit operasional. (Urban Land Institute
dalam Kowinski, 1985)
2.2.2 Klasifikasi Shopping Center
A. Dilihat dari luas areal pelayanan berdasarkan U.L.I. standar (shopping
Center, Planning, Development & Administration, Edgar Lion [Link])
- Regional Shopping Center
Luas areal antara 27.870 92.900 m 2, terdiri dari 2 atau lebih
ynag seukuran dengan departement store. Skala pelayanan
antara 150.000 400.000 penduduk, terletak pada lokasi yang
strategis, tergabung dengan lokasi perkantoran, rekreasi dan
seni.
- Comminity Shopping Center
Luas areal antara 9.290 23.225 m2. Terdiri atas junior
departement store, supermarket dengan jangkauan pelayanan
antara 40.000 150.000 penduduk, terletak pada lokasi
mendekati pusat-pusat kota (wilayah).
- Neighbourhood Shopping Center
Luas areal antara 9.290 23.225 m2. Jangkauan pelayanan
antara 5.000 40.000 penduduk. Unit terbesar berbentuk
supermarket, berada pada suatu lingkungan tertentu.
B. Dilihat dari jenis barang yang dijual (Design for Shopping Centers,
Nadine Beddington)
- Demand (permintaan), yaitu yang menjual kebutuhan sehari-
hari yang juga merupakan kebutuhan pokok.
- Semi Demand (setengah permintaan), yaitu yang menjual
barang-barang untuk kebutuhan tertentu dalam kehidupan
sehari-hari.
- Impuls (barang yang menarik), yaitu yang menjual barang-
barang mewah yang mennggerakkan hati konsumen pada
waktu tertentu untuk membelinya.
- Drugery, yaitu yang menjual barang-barang higienis seperti
sabum, parfum, dan lain-lain.
C. Berdasarkan Bauran Jenis Usaha
- Pusat perbelanjaan berorientasi keluarga

8
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Pusat perbelanjaan yang menydiakan semua hal dalam satu atap


(all under one roof family), dengan luas bersih area yang
disewakan sekitar 400.000 500.000 kaki persegi. Dimana
didominasi oleh hypermarket, pusat hiburan, cinema, area
bowling dan biliar.
- Pusat perbelanjaan Spesilis (Specialist Shopping Center)
Jenis pusat perbelanjaan ini lebih kecil daripada pusat
perbelanjaan yang berorientasi keluarga dan hanya
menawarkan satu jenis perdagangan utama, yang dilengkapi
sejumlah toko lain yang mendukung bisnis utama, seperti
makanan, minuman, dan layanan pendukung lainnya.
- Pusat perbelanjaan gaya hidup (Lifestyle Shopping Center)
Pusat perbelanjaan ini melayani para profesional muda yang
bekerja diwilayah kota. Dan menawarkan produk tematis yang
teerkait dengan gaya hidup. Luas area ini sekitar 100.000
200.000 kaki persegi.
D. Berdasarkan Kepimilikan
- Unit ruang usaha dengan hak milik bersusun (strata title lot)
Merujuk pada pusat perbelanjaan dengan unit-unit toko yang
dimiliki oleh banyak individu dan setiap pemilik unit individu
bebas memperlakukan unit property miliknya sesuai keinginan.
Pemilik unit dapat membuka toko ritel, kantor koperasi kecil,
atau menyewakan propertynya karena setiap pemili9k unit
membuat keputusan sendiri berdasarkan kepentinganj pribadi
mereka.
- Manajemen Kepemilikan Tunggal (single owner-ship
manajemen)
Diman suatu tim profesioanl disuatu pusat perbelanjaan
dilibatkanj untuk memaksimalkan hasil investasi satu property.
Manajemen pusat perbelanjaan bertugas merencenakan,
menetapkajn nama, memasarkan, dan mengelola property
tersebut.
Menurut Standar Perencanaan, Shpping Center atau pusat perbelanjaan dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Pusat Perbelanjaan Lingkungan

9
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Jangkauan pelayan meliputi 3.000 30.000 penduduk. Pada umumnya barang


yang diperdagangkan adalah barang-barang primer. Radius pelayanan 15
menit berjalan kaki, lokasinya berada di lingkungan permukiman.
2) Pusat Perbelanjaan Wilayah
Jangkauan pelayanan meliputi 30.000 200.000 penduduk. Pada umumnya
barang yang diperdagangkan adalah barang sekunder. Radius pelayanan
wilayah/ tingkat kecamatan. Pencapaian 2.500 m dengan kendaraan cepat,
1.500 m dengan kendaraan lambat, 500 m dengan berjalan kaki. Lokasinya
dipusat wilayah.
3) Pusat Perbelanjaan Kota
4) Jangkauan Pelayanan meliputi 200.000 1.000.000 penduduk. Jenis barang
yang diperdagangkan lengkap dan tersedia fasiitas toko, bioskop, rekreasi,
bank, dan lain-lain. Pencapaian maksimal 25 menit dengan kendaraan.
Lokasinya strategis dan dapat digabungklan dengan lokasi perkantoran.
2.2.3 Sistem Sirkulasi Shopping Center
a) Sistem Banyak Koridor
- Terdapat banyak koridor tanpa penjelasan orientasi, tanpa ada
penekanan, sehingga semua dianggap sama, yang strategis
hanya bagian depan atau yang paling dekat dengan entrance
saja.
- Efektifitas pemakaian ruangnya sangat tinggi.

Gambar 2.1 Sistem banyak koridor


Sumber :analisa kelompok
b) Sistem Plaza
- Terdapat plaza/ ruang berskala besar yang menjadi pusat
orientasi kegiatan dalam ruang dan masih menggunakan pola
koridor untuk efisiensi ruang.
- Mulai terdapat hirarki dari lokasi masing-masing toko, lokasi
strategis berada didekat plaza tersebut, mulai mengenal pola
vide dan mezanin.

10
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.2. Sistem Plaza


Sumber : analisa kelompok
c) Sistem Mall
- Dikonsentrasikan pada sebuah jalur utama yang menghadap
dua atau lebih magnet pertokaan dapat menjadi poros massa,
dan dalam ukuran besar dapat berkembang menjadi sebuah
atriun.
- Jalur ini akan menjadi sirkulasi utama, karena menghubungkan
dua titik magnet atau anchor yang membentuk sirkulasi utama.

Gambar 2.3. Sistem Mall


Sumber : Analisa Kelompok
2.2.4 Unsur-Unsur Penting Dalam Shopping Center
Menurut Nadine Baddington (Design for Shopping Center, 1982), ada 3
unsur penting dalam menentukan kualitas dari Shopping Center atau pusat
perbelanjaan, yaitu :
A. Hardware
Hardware mempunyai peranan penting untuk menarik minat konsumen
agar datang ke suatu Shopping Center dan melakukan pembelian.
Hardware merupakan keadaan fisik atau keadaan suatu shopping center
dilihat dari lokasi dan kondisi lingkungan, serta arsitektur suatu shopping
center sehingga mudah dijangkau dan menarik untuk dikunjungi.
1. Lokasi dan Jalan

11
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Lokasi mencerminkan fungsi kemudahan akses dan kedekatan


jarak dengan suatu sarana dan fasilitas. Dalam menentukan lokasi
suatu Pusat Perbelanjaan ada beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan, yaitu ukuran dari area perdagangan, populasi,
jumlah kekuatan pembeli, penjualan potensial dan situasi
perdagangan. Jenis-jenis lokasi dan jalan dapat dilihat dari :
- Letak yang Strategis
Pemilihat Shopping Center yang baik adalah dengan
memperhatikan letaknya yang strategis, dimana letak
tersebut akan mempengaruhi tingkat keramaian pengunjung
dan tentunya akan mempengaruhi tingakat sewa yang
diinginkan. Letak yang strategis adalah letak yang memiliki
akses jalan yang memadai serta tersedianya transportasi
yang mudah dan cukup memadai.
- Kualitas lingkungan sekitar
Lingkungan adalah suatu area yang mengelilingi atau
berada di sekitar Shopping Center tersebut, lingklungan
biasanya selalu dikaitkan dengan tata ruang, atau kondisi
dari penduduk sekitar Shopping Center tersebut.
- Jarak dengan pusat bisnis, permukiman, perkantoran,
rekreasi, dan transportasi
Jarak adalah suatu ukuran yang memisahkan antara lokasi
yang satu dengan lokasi yang lain, diman jarak memiliki
pengaruh yang besar dalam menarik calon tenant ke
Shopping Center. Tingkat keramaian dari Shopping Center
memiliki beberapa aspek mendukung, semakin dekat
dengan pusat bisnis, maka tingkat hunian dari tenant akan
semakin tinggi, terlebih jika didukung oleh akses
transportasi yang mudah dan berada di sekitar permukiman
padat.
- Alternatif kemudahan jalan dalam pencapaian, lalu lintas
yang tidak macet
Kemudahan dalam pencapaian suatu Shopping center
menjadi salah satu andalan dari pengelola shopping center
dalam menarik pengunjung, karena jika Shopping Center

12
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

sulit dicapai, maka secara otomatis masyarakat enggan


mengunjungi shopping center tersebut.
- Kemudahan kendaraan umum
Kendaraan umum yaitu kendaraan yang dioperasikan untuk
transportasi dan dengan imbalan uang yang sepantasnya.
Kendaraan umum bagi shopping center memiliki dilema
tersendiri, selain dapat membantu dari tingkat keramaian
pengunjung, dapat juga sebagai penyebab dari keruwetan
akses jalan menuju shopping center, belum lagi ditambah
dengan adanya kendaraan umum akan menurunkan dari
citra shopping center tersebut.
2. Arsitektur
Arsitektur merupakan desain yang membedakan satu toko dengan
toko yang lainnya
- Eksterior design
Eksterior design dikaitkan dengan seni atau keindahan,
dimana eksterior adalah cermin awal dari pengunjung
ataupun penyewa dalam beraktivitas di sebuah shopping
center. Eksterior memiliki peran yang sangat penting untuk
menimbulkan kesan nyaman baik untuk penyewa atau
pengunjung dalam beraktivitas. Biasanya eksterior selalu
dihubungkan dengan model bangunan dari shopping center
terseebut.
- Tata letak atau layout toko
Layout toko secara tidak langsung juga mempengaruhi
minat pengunjung. Layout yang tertata rapi apat menarik
minat pengunjung untuk mengadakan suatu transaksi,
sebaliknya layout yang tidak tertata membuat orang enggan
melakukan suatu aktivitas.
B. Software
Software merupakan suatu manfaat atau kepuasan yang ditawarkan
pada penjualan suatu shopping center. Faktor yang mempengaruhi jenis
software yang ditawarkan meliputi :
1. Fasilitas penunjang kenyamanan atau kemudahn pengunjung.
Menurut Lynda dan Tong (2005), Fasilitas penunjang
kenyamanan atau kemudahan pengunjung adalah fasilitas yang

13
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

ditawarkan Pusat Perbelanjaan untuk mendukung suasana


belanja yang nyaman dan mudah bagi pengunjung.
a. Kapasitas Parkir
Kapasitas parkir adalah kemampuan lokasi parkir shopping
center untuk menampung kendaraan penyewa atau pengunjung
dari shopping center. Daya tampung menjadi pertimbangan
utama dari pengelola untuk memberikan fasilitas yang
memadai dengan tingkat keamnan yang tinggi.
b. Pendingin Ruangan (AC)
Pendiringin ruangan atau AC adalah syarat mutlak bagi
pengelola shopping center, karena berhubungan dengan
kenyamanan pengunjung ataupun penyewa dalam melakukan
kegiatan bisnis.
c. Listrik dan Generator
Listrik dan generator adalah fasilitas utama yang harus dimiliki,
tingkat kestabilan tegangan dan kemampuan suply listrik
menjadikan nilai plus untuk penyewa, karena akan memberikan
rasa aman dari bahaya kebakaran yang diakibatkan oleh
korsleting listrik.
d. Lift dan Eskalator
Eskalator lebih efisien daripada elavator untuk memudahkan
pergerakan pengunjung dalam jumlah besar secara teratur. Dari
eskalator pengunjung dapat melihat lebih banyaktoko di pusat
perbelanjaan dibandingkan mereka yang menggunakan
elavator.
e. Toilet
Penampilan toilet seharusnya disesuaikan dengan tema
shopping center, sasaran pengunjung, dan kemudahan
pemeliharaan.
f. Telepon umum
Telepon umum sebagai sarana fasilitas telekomunikasi yang
bersifat umum dan digunakan untuk kepentingan umum.
2. Fasilitas penunjang keramaian pengunjung.

14
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Dalam hal ini, fasilitas penunjang keramaian pengunjung


misalnya kelengkapan bauran penyewa (tenant mix), seperti
toko ritel kecil yang menjual aneka variasi produk busana, toko
kosmetik, toko perhiasan, maupun toko-toko ritel kecil lainnya
yang letaknya di sekitar penyewa utama. Yang mana rencana
keseimbangan bauran jenis usaha atau tenant dari pusat
perbelanjaan menetapkan jenis usaha ritel yang dimasukkan
oleh manajemen ke dalam property kelolaan mereka, serta
menentukan bagaimana berbagai jenis usaha ritel yang berbeda
harus ditempatkan dalam tata letak yang memudahkan
pembelanja, dengan tujuan menciptakan efek sinergi dan
menyediakan pengalaman berbelanja yang lebih baik bagi
pengunjung.
3. Kekuatan daya tarik penyewa utama ( anchor tenant)
Penyewa utama ( anchor tenant) adalah suatu uasaha ritel besar
dan kuat dengan nama terkenal yang memiliki keahlian
memadai dan menawarkan beraneka ragam produk, sehingga
mampu menarik pembelanja dalam jumlah besar ke lokasi
usaha mereka. Tujuan dari adanya anchor tenant untuk menarik
pengunjung melewati area yang ditempati para penyewa
lainnya. Penempatan penyewa utama di pusat perbelanjaan
mempengaruhi sirkulasi pengunjung, serta membantu menarik
pengunjung ke toko-toko spesialis dan restoran. Selain itu
dengan adanya anchor tenant dapat mendongkrak reputasi dari
shopping center tersebut, sehingga dapat meningkatkan
keyakinan para peritel kecil lain untuk menyewa ruang di pusat
perbelanjaan tersebut. Umumnya penyewa utama adalah :
Dept. Store
Pertokoan yang kompleks dan menyediakan bermacam-
macam kebutuhan dengan sistem full service,
termasuk restoran. Luas area penjualan antara 10.000-
20.000 m2.
Supermarket

15
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Toko yang menjual makanan dan convenience goods


dengan pelayanan self selection. Luas area antara
1.000-2.000 m2 dengan luas area penjualan minimum
400 m2.
Hypermarket
Toko yang dikelola oleh suatu perusahaan yang
menghasilkan barang kebutuhan sandang dan pangan
dengan harga murah.
Super Store
Toko yang menjual barang kebutuhan sandang dengan
luas area minimum 2.500 m2.
C. Brainware
Brainware merupakan salah satu sarana yang mendukung keberhasilan
suatu toko dalam menghadapi persaingan, karena brainware berfungsi
untuk membujuk dan memberitahu konsumen supaya membeli barang
yang ditawarkan. Pengelola suatu shopping center harus berusaha
menggunakan brainware yang mendukung dan memperkuat posisi
image badan usaha. Brainware meliputi :
1) Manajemen pengelola gedung, seperti misi manajemen dan
budaya perusahaan, manajemen property dan maintenance,
pelayanan dan keahlian staf, pengalaman, hubungan dengan
penyewa.
2) Mutu penunjang kenyamanan pengunjung seperti keamanan,
kebersihan, parkir yang terorganisir dengan baik.
3) Promosi dan publikasi seperti program, promosi gedung,
iklan, publikasi, kualitas kegiatan pameran dan acara besar.
2.2.5 Kelompok Pelaku
Unsur pelaku kegiatan Pelaku kegiatan ,terdiri atas 2 bagian, yaitu :
a. Pelaku kegiatan utama,terdiri atas:
1). Pengunjung Pengunjung adalah orang-orang yang datang
berkunjung pada suatu shopping center dengan tujuan bermacam-
macam ada yang sekedar melihat-lihat barang dagangan,yang dipajang
ditoko ataupun datang untuk untuk membeli barang dagangan tersebut
ataupun orang-orang yang datang ke shopping center hanya sekedar
untuk mencari hiburan.

16
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

2). Pedagang Pedagang adalah pelaku kegiatan perorangan maupun


yang berbentuk badan usaha yang menyewa ruangan hopping center
dan menggunakan ruangan tersebut untuk berjualan langsung kepada
para pengunjung yang ingin membeli.
b. Pelaku kegiatan penunjang
1). Investor ( pemilik saham ) Investor merupakan seseorang atau
sekelompok orang ( dapat berbentuk badan usaha ) yang menyediakan
modal untuk membangun dan mengadakan suatu shopping center.
2). Pengelola Pengelola merupakan kelompok orang-orang yang
ditunjuk oleh pihak pemilik saham atau investor untuk mengelola
manajemen shopping center tersebut,mulai dari
pembangunannya,pemasaran sampai pada pemeliharaan gedungnya.
3). Produsen Produsen merupakan orang-orang yang menghasilkan
barang dagangan baik itu yang bersumber dari pabrik-pabrik maupun
yang bersumber dari luar negeri ( impor ).
4). Bank Bank dalam hal ini swasta maupun pemerintah merupakan
tempat para pemilik saham atau investor mengambil modal berupa
pinjaman berupa kredit dengan beberapa jaminan dari pihak investor.
5). Pemerintah Pemerintah merupakan pihak yang paling berkompeten
dalam pembangunan suatu shopping center,baik dalam hal penentuan
lokasinya, izin-izinnya, kestabilan harga maupun yang menyangkut
segala macam peraturan pemerintah yang terkait langsung dengan
pembangunan dan kelangsungan suatu shopping center.
Hubungan antar pelaku kegiatan.
a. Hubungan investor atau pemilik saham dengan pemerintah dalam
hal perizinan mendirikan usaha serta kewajiban investor membayar
pajak.
b. Hubungan pengelola dengan pemerintah dalam hal
perpajakan,kestabilan harga serta pemeliharaan keamanan.
c. Hubungan produsen dengan pengelola dalam hal produksi barang
maupun promosi barang.

17
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

d. Hubungan produsen dan pedagang dalam hal kualitas barang,jual


beli barang dagangan maupun dalam hal ini pendistribusian barang
dagangan.
e. Hubungan pedagang dengan pengelolah dalam hal kepemilikan
ruang tempat berdagang maupun dalam hal keamanan.
2.2.6 Kelompok Kegiatan
Pengelompokan fasilitas untuk mempertimbangkan kebutuhan ruang dan
zoning ruang. Fasilitas yang ada dalam Shopping Center secara umum dapat
dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu :
1. Kelompok Fasilitas kegiatan jual beli:
a. Kelompok yang memperdagangkan barang-barang kebutuhan
primer, misalnya : makanan dan minuman
b. Kelompok yang memperdagangkan barang-barang kebutuhan
sekunder,misalnya : sandang dan perlengkapannya.
c. Kelompok yang memperdagangkan barang-barang kebutuhan tertier,
misalnya perlengkapan rumah tangga, furniture, kosmetik dan
sebagainya.
2. Kelompok fasilitas kegiatan pelayanan dan jasa : Berdasar kegiatan
pelayanan jasa yang biasa terdapat didalam pusat perbelanjaan :
a. Fasilitas makan dan minum seperti restaurant/bar, coffee shops.
b. Fasilitas pelayanan jasa khusus seperti beauty shop, barbershop,
laundry, studio musik dan tari, dan sebagainya.
c. Fasilitas hiburan seperti, arena permainan anak, shop cinema,bilyard
dan sebagainya
d. Faslitas jasa finansial, terdiri atas fasilitas perbankan, asuransi dan
sebagainya
e. Fasilitas perparkiran sangat mutlak adanya bagi suatu Shopping
Center, sebab tersedianya lahan parkir yang memadai merupakan salah
satu faktor bagi pengunjung shopping center untuk berbelanja.
3. Kelompok fasilitas kegiatan administrasi dan perkantoran Kelompok
fasilitas untuk kegiatan administrasi dan perkantoran merupakan pusat tempat
kegiatan administrasi dari pihak-pihak manajemen shopping center, yang
berfungsi sebagai pusat informasi dari seluruh perbelanjaan.

18
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

4. Kelompok kegiatan penunjang Kelompok kegiatan penunjang merupakan


kegiatan-kegiatan pendukung bagi berlangsungnya kegiatan dalam bangunan
antara lain meliputi kegiatan keamanan, kebersihan dan pemeliharaan gedung
Karakteristik Kegiatan Pada Shopping Center
Dalam shopping center hal yang perlu diperhatikan adalah mengenai
karakteristik kegiatan dari unsur-unsur shopping center, yang meliputi
antara lain:
1. Area pemberhentian dan parkir. Yaitu luasnya tempat
berhentinya roda masuk maupun keluar dari shopping center
serta tempat parkir kendaraan pengunjung dan pengelola.
2. Area penerima Yaitu area awal yang berupa hall sebagai
tempat penerima pelayanan informasi bagi shopping center dan
[Link] yang dilakukan disini adalah tempat
lokasi belanja.
3. Etalase Yaitu area perdagangan yang didalamnya terdapat
barang-barang dagangan yang diperjual belikan yang biasanya
terdiri dari rak-rak barang dan fasilitasnya dapat berupa deretan
toko-toko maupun bentuk-bentuk tempat perdagangan barang
jasa lainnya.
4. Area rekreasi dan santai Yaitu area tempat istirahat yang
diperuntukkan bagi pengunjung shopping center,berupa
restaurant, cafe-cafe dan biasanya tempat ini dilengkapi dengan
fasilitas-fasilitas bermain untuk anak-anak.
2.3 Apartemen
2.3.1 Pengertian Apartemen

Beberapa definisi tentang apartemen, antara lain:


- Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993:51), apartemen didefinisikan
sebagai tempat tinggal (terdiri atas ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dapur,
dsb) yang berada pada satu lantai bangunan bertingkat; rumah flat; rumah pangsa;
bangunan bertingkat terbagi dalam beberapa tempat tingggal.
- Menurut buku Apartments: Their Design and Development, (1967:6), apartemen
didefinisikan sebagai the apartment is the background for a series of
emotional experience. It should be a relaxing haven from the tensions of earning a

19
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

living, from noise and worry and strain. It should provide beauty, convenience,
security, and privacy for the family living in it, yang berarti apartemen adalah
dasar dari kumpulan pengalaman emosi. Apartemen harus menjadi suatu wadah
relaksasi untuk melepas lelah karena kegiatan mencari nafkah serta bebas dari
kebisingan, kecemasan, dan tekanan. Apartemen harus memberikan keindahan,
kenyamanan dan privasi bagi keluarga yang tinggal di dalamnya.
- Bangunan yang dipisahkan secara horizontal dan vertikal, agar tersedia hunian
yang berdiri sendiri dan mencakup bangunan bertingkat rendah atau bertingkat
tinggi, dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang sesuai dengan standar yang telah
ditentukan. (Neufert, [Link] Data 1st [Link] Publishing).
- Apartemen mempunyai pengertian yaitu sebagai jenis unit tempat tinggal keluarga
kecil. Sebuah rumah tinggal yang sendiri bagi satu keluarga (Josep De Chaura &
Jhon Hancock Callender, Times Server Standart MeGrow Hiil,1968).
Secara umum, apartemen dapat didefinisikan sebagai suatu bangunan
bertingkat lebih dari satu yang didalamnya merupakan kumpulan dari beberapa
unit hunian, dengan tiap unit hunian memiliki ruang untuk hidup yang lengkap,
dimana para penghuninya saling berbagi fasilitas yang sama.

2.3.2 Tujuan Apartemen

Memenuhi tempat tinggal masyarakat perkotaan golongan menengah dan


penduduk pendatang.
Menyediakan fasilitas yang memadai seperti kamar tidur yang dilengkapi
dengan kamar mandi/wc, ruang makan, ruang keluarga, dan sarana prasarana
lainnya yang dapat menunjang seluruh kegiatan dari apartemen.
Menciptakan hunian yang memperhatikan aspek iklim dan lingkungan
sekitar, sehingga terjadi keseimbangan yang harmonis dan dinamis.
Menciptakan hunian yang sesuai dengan daya beli (golongan menengah)
serta menciptakan hunian yang nyaman dan aman bagi penghuninya.

2.3.3 Karakteristik Apartemen

Berikut ini adalah beberapa kriteria yang harus dimiliki fisik dari suatu
apartemen yaitu:
- Mendukung konsepsi tata ruang perkotaan, dikaitkan dengan
pengembangan pembangunan daerah perkotaan kearah vertikal.
- Meningkatkan optimasi penggunaan lahan perkotaan.

20
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

- Mendorong pembangunan pemukiman berkepadatan tinggi.


- Memiliki ruang-ruang terbuka yang cukup besar yang berfungsi
sebagai ruang interaksi atau komunal.
- Memiliki bentuk dasar massa yang mengikuti bentuk tapak agar tidak
terjadi sudut-sudut tapak yang tidak terpakai.
- Faktor keamanan dan kenyamanan merupakan prioritas, misalnya
sirkulasi diutamakan untuk pejalan kaki.
- Perencanaan yang efisien dan efektif agar ruang kecil tetap dapat
memberikan kenyamanan dan kenikmatan.
- Penggunaan bahan bangunan yang memiliki criteria fungsional, mudah
diperoleh dipasaran, mudah perawatannya dan sedapat mungkin
memberikan kesan prestige tinggi.
- Penggunaan teknologi membangun yang dapat menekan biaya
konstruksi serendah-rendahnya.

2.3.4 Klasifikasi Apartemen

Apartemen dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan


sistem kepemilikannya, golongan ekonomi penghuninya, arsitektural
bangunan, jenis pembiayaannya, serta sistem pelayanan dan kelengkapannya.
A. Apartemen berdasarkan sistem kepemilikan
Ada dua jenis apartemen berdasarkan kepemilikannya (Apartements:Their
Design and Development, 1967 : 39-42) , antara lain:
1. Apartemen dengan sistem sewa
Pada apartemen ini, penghuni hanya membayar biaya sewa unit yang
ditempatinya kepada pemilik apartemen dan biasanya biaya itu dibayarkan
perbulan ataupun pertahun. Biaya utilitas seperti listrik, air, gas, telepon
ditanggung oleh penghuninya. Sementara biaya maintenance dan gaji pegawai
pengelola apartemen ditanggung oleh pemilik. Penghuni yang tidak ingin
tinggal lagi di apartemen tersebut harus mengembalikan apartemen tersebut
kepada pemiliknya, kemudian pemilik akan mencari lagi orang baru untuk
mengisi unit-unitnya yang kosong.
2. Apartemen dengan sistem beli
Apartemen dengan sistem beli dapat terbagi lagi menjadi dua jenis yaitu:

21
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

- Apartemen dengan sistem kepemilikan bersama (cooperative


ownership), Pada apartemen ini, setiap penghuni memiliki saham
dalam perusahaan pemilik apartemen serta menempati satu unit
tertentu sesuai dengan ketentuan perusahaan. Penghuni hanya bias
menjual unitnya kepada orang yang telah dianggap cocok oleh
penghuni apartemen lainnya. Bila terdapat unit apartemen yang
kosong, maka seharusnya akan dibagi rata diantara penghuni dan
mereka harus menanggung semua biaya maintenance unit yang
kosong tersebut, sampai unit tersebut ditempati oleh penghuni baru.
- Condominium, pada apartemen ini, setiap penghuni menjadi pemilik
dari unitnya sendiri dan memiliki kepemilikan yang sama dengan
penghuni lainnya terhadap fasilitas dan ruang publik. Penghuni bebas
untuk menjual, menyewakan ataupun memberikan kepemilikannya
kepada orang lain. Jika terdapat unit apartemen yang kosong, maka
biaya maintenance unit itu ditanggung oleh badan pengelola
apartemen itu.
B. Apartemen berdasarkan golongan ekonomi penghuninya
Ada 3 macam apartemen berdasarkan golongan ekonomi penguninya
(Apartment: Their Design and Development, 1967 : 42-43) yaitu:
- Apartemen golongan bawah
- Apartemen golongan menengah
- Apartemen golongan mewah
Perbedaan antara ketiga jenis apartemen ini hanya terletak pada ukuran
ruang pada tiap unit huniannya, serta fasilitas yang disedikan oleh apartemen
tersebut. Semakin besar ukuran unit dan semakin banyak fasilitas yang tersedia,
maka semakin mahal harga per unit apartemen tersebut.
C. Apartemen berdasarkan jenis pembiayaannya
Ada dua jenis apartemen berdasarkan jenis pembiayaannya yaitu:
- Apartemen yang dibiayai oleh pemerintah
- Apartemen yang dibiayai oleh swasta/investor
Perbedaan antara kedua jenis apartemen ini umumnya berpengaruh pada
status kepemilikan unit-unit dalam apartemen tersebut. Apartemen yang dibiayai
oleh pemerintah umumnya berharga murah dan memiliki sistem sewa atau sistem

22
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

beli dengan tipe kepemilikan bersama (cooperative), dan seringkali dibangun untuk
menampung masyarakat kalangan bawah yang tidak memiliki tempat tinggal,
disebut pula dengan istilah rumah susun. Sementara apartemen yang dibiayai oleh
investor swasta umumnya diperuntukan bagi kalangan menengah dan kalangan
atas, dengan sistem sewa atau beli dalam bentuk kondominium.
D. Apartemen berdasarkan sistem pelayanan dan kelengkapannya
Ada tiga jenis apartemen berdasarkan system pelayanan dan kelengkapannya yaitu:
o Apartemen serviced dan furnished
Pada apartemen ini, setiap unit dijual atau disewakan lengkap dengan
perabotan standar seperti meja dan kursi makan, sofa ruang duduk, tempat
tidur, lemari-lemari, meja dan kursi kerja dll, serta terdapat pelayanan
pembersihan dan pemeliharaan ruang dari pihak pengelola, adapun yang
menyediakan pelayanan binatu seperti umumnya pelayanan pada hotel.
o Apartemen serviced dan non-furnished
Pada apartemen ini, setiap unit dijual atau disewakan tanpa perabotan
namun dilengkapi dengan pelayanan sebagaimana layaknya pada hotel-hotel.
o Apartemen non-serviced dan non-furnished
Pada apartemen ini, setiap unit dijual atau disewakan tanpa perabotan dan
tanpa pelayanan.
E. Apartemen berdasarkan arsitektural bangunannya
Secara arsitektural bangunan, apartemen dapat dikelompokan berdasarkan
ketinggian bangunan, sirkulasi vertikal, sirkulasi horizontal, sistem penyusunan
lantai, bentuk massa bangunan, standar besaran ruang, dan jumlah kamar tidur.
1. Apartemen berdasarkan ketinggian bangunan
Bila dipandang dari segi ketinggian bangunan, apartemen dibagi menjadi 3
macam (Akmal, 2007), yaitu:
Apartemen Low-rise, apartemen ini biasanya memiliki ketinggian antara 2-
4 lantai. Apartemen ini dibagi lagi menjadi beberapa tipe yaitu:
Garden Apartment, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Ketinggian bangunan antara 2-3 lantai
- Tiap unit hunian memiliki teras dan balkon tersendiri
- Umumnya terdapat pada daerah pinggiran kota dengan kepadatan rendah
(maksimal 30 keluarga per hektar)

23
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

- Memiliki banyak ruang terbuka hijau dan tempat parkir yng dekat dengan
bangunan
- Antara massa bangunan satu dengan bangunan lain terdapat ruang terbuka
pemisah yang cukup luas
Row House, townhouse atau maisonette, memiliki cirri-ciri sebagai
berikut:
- Ketinggian bangunan antara 1-2 lantai
- Antara massa bangunan satu dengan lainnya saling berdempetan atau bahkan
saling berbagi tembok pembatas yang sama
- Ruang terbuka yang ada hanya berupa halaman depan dan halaman belakang
yang sempit pada setiap massa bangunan
- Umumnya dibangun pada daerah dengan kepadatan sedang (antara 35-50 unit
per hektar)
2.3.5 Tipe Hunian Pada Apartemen

Ada 5 macam tipe hunian yang sering dijumpai pada apartemen berdasarkan jumlah
kamar tidur, antara lain:

Keterangan Ruang yang ada Tipe penghuni


Studio - 1 kamar mandi - Lajang
- Dapur kecil dan ruang - Pasangan muda yang
makan menjadi Satu baru menikah
- Ruang duduk dan kamar - Orang lanjut usia
tidur menjadi satu
1 kamar Tidur -1 kamar mandi - Lajang
-Dapur dan ruang makan - Pasangan muda yang
menjadi satu baru menikah
-Ruang duduk - Pasangan lanjut usia
-Kamar tidur
2 kamar tidur - 1 atau 2 kamar mandi - Keluarga kecil dengan 1
- Dapur atau 2 anak yang masih
- Ruang duduk dan ruang kecil/belum menikah
makan menjadi satu - Pasangan lanjut usia
- Kamar tidur yang tinggal dengan
sanak saudara
3 kamar tidur - 2 kamar mandi dengan satu - Keluarga kecil dengan 3

24
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Keterangan Ruang yang ada Tipe penghuni


kamar mandi dalam sampai 4 anak yang
kamar tidur masih kecil/belum
- Dapur menikah
- Ruang duduk
- Ruang makan (bias juga
ruang duduk dan ruang
makan menjadi satu)
- Kamar tidur (bias juga 2
kamar tidur ditambah 1
kamar pembantu)
Penthouse - Terdiri atas 2 lantai - Pasangan muda yang
- 3 sampai 5 kamar tidur baru menikah
- 3 kamar mandi - Keluarga besar dengan 4
- Dapur sampai 5 anak
- Ruang makan - Orang-orang kalangan
- Ruang duduk/ruang keluarga atas
- Ruang kerja
- Ruang tamu
- Foyer
- Adapula yang mempunyai
kamar pembantu
- Untuk yang sangat mewah
ada yang ditambah ruang
seperti ruang baca
Gambar 2.1. Tabel hunian pada apartemen

2.3.6 Fasilitas Standar Apartemen

Ada beberapa fasilitas standar yang terdapat pada apartemen berdasarkan kelas
apartemen tersebut antara lain:
Lokasi Bawah Menengah Mewah
Dalam unit hunian Penjaga keamanan - Intercom - Penjaga pintu
- Alarm pintu dan telepon
- Balkon - Balkon yang
- Penjaga keamanan luas

25
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Lokasi Bawah Menengah Mewah


Pendingin ruangan - Pendingin
tersendiri ruangan
terpusat
- Entrance servis
- Ruang
pembantu
Dalam Bangunan Binatu - Binatu - Parkir yang
- Area komersial terjaga ketat
- Ruang bersama - Tempat
- Tempat berbelanja
penyimpanan - Lift servis
barang bersama - Penjaga pintu
- CCTV
- Parkir sistem
valet
- Ruang
pertemuan
- Pusat
kebugaran
- Kolam renang
tertutup
Pada Tapak - Parkir diluar - Parkir dengan - Taman
ruangan pengawasan atau - Area rekreasi
- Tempat menjemur parkir dalam - Country club
pakaian bangunan - Kolam renang
- Tempat bermain
diluar ruangan
- Tempat duduk-
duduk diluar
ruangan
- Kolam renang
Gambar 2.2. fasilitas standar apartemen

2.4 Rentel Office

26
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

2.4.1 Pengertian Rental Office

Menurut Pusat Bahasa (2011) :

Kantordiartikan sebagai balai (gedung, rumah, ruangan) tempat mengurus


pekerjaan atau tempat bekerja.
Sewa diartikan dengan memakai sesuatu dengan membayar atau membayar
karena memakai atau meminjam sesuatu.

Menurut Hunt (dalam Marlina 2008) :


kantor sewa adalah suatu bangunan yang mewadahi transaksi bisnis dan
pelayanan secara profesional.
kantor sewa merupakan suatu fasilitas perkantoran yang berkelompok dalam
satu bangunan yang disewakan sebagai respon terhadap pesatnya
pertumbuhan ekonomi khusus-nya di kota-kota besar (perkembangan
industri, bangunan/konstruksi, perda-gangan, perbankan, dan lain-lain).

Menurut Webster Third New International dict. 1567 1981


Kantor sewa adalah suatu wadah khusus dimana urusan bisnis dilaksanakan
dan pelayanan disediakan, segala fasilitas dapat disewakan. Fasilitas yang
ada merupakan sarana pendukung kegiatan perkantoran yang dapat
menaikan nilai jual kantor sewa itu.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kantor sewa adalah
bangunan atau ruang yang dipinjamkan dengan imbalan yang difungsikan sebagai tempat
bekerja. Pada kesimpulan definisi ini, dapat diartikan bahwa segala bentuk bangunan
yang disewakan sebagai kantor dapat diartikan pula kantor sewa.

2.4.2 Jenis dan macam Rental Office

a. Klasifikasi Berdasarkan Modul Ruang Sewa


Kesesuaian dengan modul struktur bangunan dalam upaya mencapai efisiensi
biaya bangunan serta efektivitas ruang yang terbentuk.
Standar ruang gerak dari berbagai aktivitas sesuai dengan fungsi-fungsi yang
direncanakan diwadahi dalam kantor sewa tersebut.
Kelengkapan fasilitas yang direncanakan sesuai tuntutan aktivitas, keamanan,
dan kenyamanan bagi pengguna bangunan.
b. Klasifikasi Berdasarkan Peruntukannya
Kantor sewa fungsi tunggal.
Merupakan kantor sewa yang di dalamnya hanya memiliki satu fungsi.

27
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Kantor sewa fungsi majemuk.


Merupakan kantor sewa yang di dalamnya memiliki beberapa fungsi sehingga
lebih variatif.
c. Klasifikasi Berdasarkan Jumlah Penyewa
Kantor sewa merupakan bangunan yang diadakan dengan tujuan
komersial, yaitu penyewaan ruang. Sifat tersebut membuat kantor sewa dapat pula
diklasifikasikan berdasarkan jumlah konsumen yang menyewa ruangnya sebagai
berikut (Time Saver Standards for Building Types, 1990):
Penyewa bangunan tunggal
Adalah bangunan kantor sewa yang hanya disewakan kepada satu penyewa
dalam jangka waktu tertentu.
Penyewa lantai tunggal
Adalah kantor sewa yang setiap lantai hanya ditempati oleh satu penyewa saja.
Penyewa lantai majemuk
Adalah kantor sewa yang setiap lantainya digunakan untuk lebih dari satu
penyewa atau unit kantor.
d. Klasifikasi Berdasarkan Pengelolanya
Tenant owned office building
Speculative office building
Investment type of office bilding
Tailor made building.
e. Klasifikasi Berdasarkan Layout Denah
Menurut Duffy (1987) (dalam Marlina, 2008) pembagian kantor pada
suatu bangunan kantor dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Cellular system
Pada umumnya bentuk bangunannya memanjang dengan koridor memanjang
sejajar dengan bentuk bangunan.
Group space system
Sistem ini memiliki ruang-ruang dengan dimensi yang mampu menampung 5
15 karyawan.
Landscape / open plan system.
Sistem ini mempunyai susunan ruang yang fleksibel menurut kebutuhan
pemakai dengan mengguanakan sekat yang dapat terbuat dari partisi, furnitur,
maupun vegetasi sebagai penanda alur gerak sirkulasi dan lalu lintas
kelompok atau unit kerja.
f. Klasifikasi Berdasarkan Kedalaman Ruang
Berdasarkan kedalaman ruang-ruangnya, kantor sewa dapat
diklasifikasikan sebagai berikut (Marlina, 2008):
Shallow space, apabila ruang-ruang-nya dirancang dengan kedalaman kurang
dari 8 m.

28
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Medium deep space, apabila ruang-ruang sewanya dirancang dengan


kedalaman: 8 -10 m pada konfigurasi jalur sirkulasi single zone place. 14 - 22
m pada konfigurasi jalur sirkulasi doble zone palce.
Deep space, yaitu ruang-ruang yang di-rancang dengan kedalaman 11 - 19 m.
Very deep space, yaitu apabila ruang-ruangnya mempunyai kedalaman lebih
dari 20 meter.
g. Klasifikasi Berdasarkan Tipikal Pencapaian
Rancangan sebuah kantor sewa dengan strategi tipikal meliputi
rancangan jalur pencapaian ke ruang-ruang di setiap lantai yang juga tipikal.
Berdasarkan tipikal jalur pencapaiannya, kantor sewa dapat diklasifikasikan
sebagai berikut (Marlina, 2008):
- Tipe koridor terbuka
Pada tiap lantai dicapai melalui koridor yang menghubungkan antar ruang.
- Tipe menara.
Pada bentuk ini, ruang-ruang di setiap lantai dicapai melalui sirkulasi vertikal
yang terletak dalamn suatu cerobong.
2.4.3 Fungsi Rental Office

Menurut Pusat Bahasa (2011) :


- Kantordiartikan sebagai balai (gedung, rumah, ruangan) tempat
mengurus pekerjaan atau tempat bekerja.
- Sewa diartikan dengan memakai sesuatu dengan membayar atau
membayar karena memakai atau meminjam sesuatu.

Menurut Hunt (dalam Marlina 2008) :


- kantor sewa adalah suatu bangunan yang mewadahi transaksi bisnis
dan pelayanan secara profesional.
- kantor sewa merupakan suatu fasilitas perkantoran yang berkelompok
dalam satu bangunan yang disewakan sebagai respon terhadap pesatnya
pertumbuhan ekonomi khusus-nya di kota-kota besar (perkembangan
industri, bangunan/konstruksi, perda-gangan, perbankan, dan lain-lain).
Menurut Webster Third New International dict. 1567 1981
- Kantor sewa adalah suatu wadah khusus dimana urusan bisnis
dilaksanakan dan pelayanan disediakan, segala fasilitas dapat
disewakan. Fasilitas yang ada merupakan sarana pendukung kegiatan
perkantoran yang dapat menaikan nilai jual kantor sewa itu.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kantor sewa adalah
bangunan atau ruang yang dipinjamkan dengan imbalan yang difungsikan sebagai
29
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

tempat bekerja. Pada kesimpulan definisi ini, dapat diartikan bahwa segala bentuk
bangunan yang disewakan sebagai kantor dapat diartikan pula kantor sewa

2.4.4 Kelebihan dan kekurangan

a. Kelebihan Rental Office

Fleksibel
Ideal bagi perusahaan komersil / profesi yang bersifat long life dan
perusahaan yang baru berdiri
Bagi perusahaan yang lebih menguntungkan karena tidak perlu
modal ekstra untuk membangun
Ada batas-batas tertentu, menekan pajak perusahaan
Mengurangi kegiatan administrasi yang tidak menguntungkan
Kesempatan lebih besar dalam berhubungan dengan perusahaan lain

b.. Kekurangan Rental Office

Pemakaian yang tidak optimal karena ruang yang tersedia tidak


khusus dirancang untuk kebutuhan kegiatan kantor tertentu.
Peningkatan kebutuhan akan parkir karena pemusatan kegiatan

2.4.5 Ruang Lingkup kegiatan Rentral Office

Secara umum pihak pihak yang melakukan kegiatan di dalam kantor sewa
adalah sebagai berikut:
1) Pihak pengelola yang melaksanakan tugas administratif dan
tugas operasional bangunan, termasuk peralatan gedung dan
pelayanan kepada penyewa. Termasuk dalam kelompok ini
adalah manajer dan staf administrasi, dibantu divisidivisi
seperti bagian pemasaran, enginering, kebersihan dan lain
sebagainya.
2) Pihak penyewa yang melakukan kegiatan bisnis dan ruang
menempati ruang yang disewanya. Dalam termasuk dalam
kelompok ini adalah penyewa (tenant beserta relasinya).

2.4.6 Administrasi dan pengelolaan Rental Office

Untuk mencapai keberhasilan dan kelancaran kegiatan rental


office membutuhkan sarana administrasi dan pengelolaan yang tetap. Pengamatan dari

30
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

berbagai rental office di dapatkan bahwa dalam setiap divisi struktur organisasi
pengelolaan rental office terdiri atas:
1) Divisi teknik, yang meliputi bidangbidang mekanikal dan
elektrikal,kontruksi dan perawatan bangunan.
2) Divisi keuangan dan umum yang meliputi bidangbidang akutansi dan
administrasi umum.
3) Divisi pemasaran yang meliputi bidangbidang periklanan, perjanjian sewa
(fix rental) dan pelayanan pada penyewa.

Rental office yang ada saat ini di Indonesia dalam pelaksanaan kegiatan
administrasi dan pengelolaannya, cenderungan untuk menggunakan jenis organisasi
fungsional. Di dalam organisasiini digunakan tenagatenaga yang ahli untuk memberi
pengarahan kepada [Link] ini dipimpin oleh beberapa atasan dan
mengawasi jalannya pekerjaan secara terpisah menurut keahliannya masingmasing.

Struktur Organisasi Fungsional Rental Office Secara Umum

Sumber : Pengantar Ekonomi Perusahaan Praktis

2.4.7 Tuntutan Ruang ( Space Requirment )

1. Jenis Ruang
Peruntukan akan jenis ruang sangat dipengaruhi oleh pekerja dan furniture,
macam pekerjaan dan kelompok kegiatan yang ada dan di rencanakan di dalamnya,
juga status dari pemakai atau penghuni, dalam hal penyewa.
Berdasarkan jenis dan kepentingannya, terdapat dua jenis kelompok besar penyewa
yaitu :
Large tenant area adalah ruang sewa satu lantai penuh umumnya dikarenakan
kebutuhan akan ruangruang berdimensi besar. Pada tipe ini interior ruang
sewa diserahkan kepada penyewa.

31
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Small tenant area adalah merupakan jenis ruang sewa yang terbagi menjadi
[Link] ini pihak penyewa dapat menyewa sebagian dari luas
ruang satu lantai berdasarkan satuan unitunit [Link] tipe ini beban ongkos
pembuatan sekat di bebankan pada pihak pengelola.

Unit Rental Unit Rental

Servis
High Deep
Value Zone
Servis
Unit Rental DeepUnit
Large Tenant Area
Small Tenat Area
2. Persyaratan Rasio Ruang
Efisiensi ruang pada bangunan kantor sewa bergantung pada
pembanding antar service area dan rental area. Perbandingan antara service area
dan rental area yang tepat memegang peranan [Link] bahwa
semakin besar ruang yang disewakan maka semakin menguntungkan, bukan
berarti perencanaan service area dan ruang yang tidak disewakan terabaikan. Hal
tersebut berarti bahwa perencanaan service area di rencanakan secara optimal
dengan pemakaian ruang secara [Link] menentukan luas daerah yang
dapat disewa( rentable area ) dan luas ruang servis/pelayanan diperlukan rasio
ruang.
Pengertian Rasio Ruang yang sebenarnya adalah perbandingan luas
ruang total( groos floor area ) dengan luas ruang bersih (net floor area ). Ada
beberapa pendekatan yang menentukan rasio, yaitu:
a) Untuk bangunan bertingkat dengan site yang luas net floor area 80-85% dan
service 1520%.
b) Untuk bangunan bertingkat tinggi dengan net floor area 7075% dan service
2530%.
c) Untuk lantai tipikal, net floor space kurang lebih 70% dan service 30%.
d) Untuk main floor ( umumnya lantailantai untuk pengelola dan fasilitas atau
lantai dasar sampai lantai 34 ) net floor space kurang lebih 85% dan service
15%.
2.4.8 Standar Luasan minimal Rental Office

Menurut Leonard Manasseh setiap pekerja kantor memerlukan ruang


seluas 6 m2 yang sudah termasuk kebutuhan furnitur dan sirkulasi. Sedang
standar ruang privat( manager atau supervisor) menurut Michael Shapier
32
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

adalah seluas 24 m2. Untuk menentukan modul( standar minimal ) bagi ruang
kantor yang dapat disewa diadakan pendekatan dengan mengetahui komposisi
susunan personil dari penyewa. Secara umum penyewa dapat dibagi menjadi
tiga angkatan yaitu kantor pusat, kantor cabang, dan kantor perwakilan( tabel )
sebagai kebutuhan minimal dapat disewa maka kantor perwakilan dapat
menjadi patokan. Perincian kebutuhan ruang perwakilan adalah 54 m2 dengan
rincian dapat dilihat dalam tabel.

Tabel Personal Masingmasing Kantor

Sumber : Planning Office Design

Tabel Luasan Minimal

33
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Sumber : Office Building dan Planning and Design

2.4.9 Modul Ruang dan Struktur Rental Office

A. Modul Ruang
Pemilihan modul ruang bangunan kantor sewa harus mempertimbangkan
kegiatan yang berlangsung di dalamnya, sehingga akan menghasilkan ruang dan
bangunan yang bernilai tinggi dan efisiensi, efektifitas, dan fleksibilitas. Modul
ruangan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1) Modul Vertikal
Merupakan jarak satu lantai dengan lantai lainnya secara vertikal yang
terbagi dalam dua bagian, tinggi langitlangit keatasnya dan tinggi lantai ke
[Link] langitlangit ke atasnya ditentukan berdasarkan
penggunaan peralatan servis mekanis seperti ducting AC, saluran penerangan,
telepon dan saluran pemadam kebakaran di bawah lantai.
Tinggi modul ini ditentukan oleh besarnya saluran servis mekanis dan
besar dimensi balok penyangga lantai atau tebal lantai jika menggunakan
struktur lantai tanpa balok penyangga( flat plate atau flat slab ).Tinggi lantai
ke langitlangit ditentukan oleh kegiatan yang terjadi, sistem ventilasi dan
penerangan yang dipergunakan pada akhirnya harus mengikuti peraturan yang
digariskan pemerintah.
Kebutuhan ruang bagi kegiatan yang terjadi dalam sebuah administrasi
perkantoran merupakan perpaduan antara kebutuhan ruang gerak pekerja
kantor dengan kebutuhan ruang bagi perabot atau perlengkapan kantor.
Berdasarkan buku Office Planning, ketinggian maksimal dari perabot kantor

34
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

yang terjangkau gerak pekerjaan kantor adalah 2m2, maka ketinggian langit
langit bangunan perkantoran.
2) Modul Horizontal
Modul horizontal yaitu jarak dari elemenelemen strutur
horizontal(kolom ke kolom/dinding geser ) yang harus mempertimbangkan
aspek kegiatan efektif dari tempat kerja administrasi, perlengkapan dan
perabotan, jalur sirkulasi, luas kantor minimal dan struktur organisasi secara
umum, sistem kontruksi yang digunakan dan dimensi bahan standar yang
berlaku di pasaran.
B. Sistem Struktur
Pada kantor berlantai banyak,sistem struktur yang sering digunakan
adalah struktur rangka dan bidang. Sistem struktur yang dikenal saat ini adalah
siatem grid(kolom dan balok), sistem dinding geser(shar wall), dan sistem
tabung(tube). Kekuatan struktur sebagai penyangga bangunan dipertimbangkan
berdasarkan persyaratan, bahwa unsur pemikul beban harus tersebar dari atap
sampai pondasi serta dihindarkan dari adanya perbedaan kekakuan yang besar
antara fasade yang massif dan yang terbuka.
2.4.10 Faktor-Fakktor yang mempengaruhi Rental Office

1) Pencapaian(Acessbility)
Pencapaian pada bangunan dipengaruhi oleh keberadaan site dari
[Link] menuju site sebisa mungkin dekat dengan jalur
transportasi bagi gedung perkantoran, agar site mudah [Link]
ini merupakan hal penting bagi pekerja maupun pengunjung tamu.
2) Orientasi
Factor utama yang mempengaruhi orientasi bangunan salah satunya
adalah kenyamanan udara, yang akan mempengaruhi beban
penghawaan buatan (AC) dalam [Link] terhadap sinar
matahari juga sangat menguntungkan bangunan dalam penghematan
beban AC.
3) Bentuk Masa Bangunan
Bentuk masa banguanan yang biasanya sering dipakai dalam gedung
perkantoran dapat dilihat dalam gambar berikut:

35
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

4) Ruang Luar(eksterior)
Eksterior bangunan rental office harus menunjang fungsi dan kegiatan
yang ada di dalamnya. Seperti area parkir yang memuat kendaraan dari
pemakai kantor dan para pengunjung kator sewa, juga pedestrian serta
tata hijau yang dapat dinikmati dari sisi manapun sebagai unsur estetis.
5) Ruang Dalam(interior)
Berdasarkan fungsi komersial kantor sewa, pertimbangan penataan
interior harus dilakukan dalam tinjauan terhadap aspekaspek
efisiensi,efektifitas dan [Link] efisiensi penataan
interior memiliki pengertian dalam setiap usaha penataan interior harus
mempertibangkan penerapan prinsipprinsip ekonomi dengan tidak
mengabaikan aspek kualitas.
Pertimbangan efektifitas mengandung pengertian bahwa setiap langkah
perencanaan harus selalu mempertimbangkan kemungkinan
kemungkinan perubahan yang akan [Link] ini akan selalu
terjadi pada suatu kantor sewa, karena akan terjadi perubahan
perubahan penyewa dan perusahaannya.
6) Ekspresi
Ekspresi merupakan pencerminan persepsi tertentu akan fungsi dan
kesan bangunan tersebut. Denganmempertimbangan sisi komersial,
ekspresi yang tampil pada kantorkantor sewa sebagai fasilitas
perkantoran harus representatif dan mampu memberikan kesan tertentu
bagi penyewa yang menempatinya.
7) Sarana
Untuk memenuhi kebutuhan primer dari penyewa, dibutuhkan
beberapa ruang servis seperti kamar mandi yang bersih, toilet, dan
dapur yang termasuk sarana terpenting dalam kantor.
2.4.11 Sewa Sistem Pada Rental Office

a) Sistem Distribusi Pelayanan


1. Vertikal
Eksterior

36
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Perimeter Shaf

Interior Shaf

2. Horizontal
Single Interior
Sumber : Data Literatur Kelompok

SingleInteriorTend

Sumber : Data Literatur Kelompok


Double Interior Ten

37
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Sumber : Data Literatur Kelompok

Loop

Sumber : Data Literatur Kelompok


Loop With Single Link
Sumber : Data Literatur Kelompok
Perimeter Loop

Sumber : Data Literatur Kelompok

Perimeter With Loop


Sumber : Data Literatur Kelompok
Interior Loop

38
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Sumber : Data Literatur Kelompok


b) Sistem Ruang Kantor
1. Cellular (sel-sel)
Bentuk tradisional ruang kantor.
Ruangruangnya sempit.
Kedalaman 12 m.
Lorong sempit dengan banyak ruang di kiri kanan, kapasitas @ 5 orang.
2. Group space

Merupakan perkembangan bentuk cellular.


Ruangruang lebih luas.
3. Open Plan
Lay out untuk ruangan sangat luas.

Penataan dengan pembagian sub definisi dan ruang kerja.


Bentuk penataan geometri yang kaku.

39
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

4. Landscape
Batasbatas sirkulasi daerah kerja memberi identitas kelompok.
Tirai, tanaman, lemari furnitur untuk membentuk jalur sirkulasi.

c) Sistem sirkulasi
Perencanaan ruang kerja suatu kantor dapat menggunakan sistem koridor
maupun sistem sirkulasi utility core.
1. Sistem Sirkulasi Koridor
Dalam sistem ini, tiaptiap ruang dapat dicapai dengan menggunakan
[Link] ini terdiri dari :
Single zone lay out
Ruang kantor hanya terletak di salah satu sisi koridor. Cara ini relatif
mahal karena penggunaan koridor hanya untuk satu sisi ruang kerja
saja.
Double zone lay out
Ruangruang kantor terletak pada kedua sisi koridor. Cara ini lebih
efektif dan relatif menguntungkan di banding sistem single zone lay
out. Cara ini di anggap sebagai salah satu pemecahan yang khas bagi
gedung perkantoran kelas menengah.
Triple zone lay out
Ruang kantor diletakkan pada kedua belah sisi gedung. Cara ini lebih
cocok diterapkan untuk gedung perkantoran multy story.
Double zone dan triple zone lay out merupakan perkembangan dari single
zone lay [Link] sistem ini mempunyai kelebihan yaitu memisahkan

40
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

sirkulasi vertikal dan horizontal dari zone ruang kantor bagian dalam dari
zone utility core yang hanya bisa memanfaatkan penerangan buatan.
2. Sistem Sirkulasi Utility Core
Dalam sistem ini tiaptiap ruang kantor dapat dicapai dari utility core.
Sistem ini terdiri dari :
Sistem terbuka(open lay out)
Sistem ini menggunakan penyekat ruang yang tidak
permanen,berupa perabot ruang dan penyekat ruang yang dapat
dipindahpindahkan(moveable partition) serta digunakan untuk
membagi ruangan sesuai dengan fungsi dan [Link]
sistem ini yaitu pengawasan visual terhadap karyawan lebih
mudah,hubungan antar personil atau bagianbagian lebih dekat,
fleksibilitas dalam pengaturan maupun perubahan ruangan lebih
besar, pengaturan cahaya lebih mudah dan dapat dibentuk suasana
yang sesuai dengan keinginan pemakai. Sedangkan kelemahan dari
sistem ini adalah gangguan suara lebih banyak,dan privasi kurang.
Sistem tertutup (private Office)
Sistem ini menggunakan penyekat ruangan semi permanent.
Kelebihan dari sistem ini adalah gangguan suara atau kebisingan dari
luar relative kecil, privasi lebih terjamin, dan pemisahan antara tiap
kelompok tugas [Link] adalah pimpinan lebih sulit
mengontrol kegiatan karyawan secara visual, komunikasi antar
bagian atau personil kurang, dan pengaturan cahaya serta ventilasi
lebih sukar terutama pada kantor yang luas.
Sistem Kombinasi
Merupakan perpaduan antara kedua sistem terbuka dan
[Link] tertutup pada umumnya digunakan untuk tingkat
kepala bagian dan tingkat direksi. Untuk kayawan digunakan sistem
[Link] sistem ini pada penataan interior kantor dapat
mengurangi kelemahankelemahan yang terdapat pada sistem
terbuka ataupun tertutup.
d) Sistem Penempatan Core
Penataan ruang ditinjau dari segi perletekan core dapat menentukan
kedalaman ruangan (depth of space). Penataan ini membedakan ruangan yang
terbentuk menjadi ruang dangkal, ruang sedang, dan ruang dalam. Ada 4 tingkat
kedalaman ruang terhadap perletakkan core, yaitu:
Dangkal (Shallow Space)

41
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Mempunyai jarak dinding ke jalur sirkulasi 45 m.


Menengah (Medium Depth Space)
Mempunyai jarak dinding ke jalur sirkulasi 6-10 m.
Dalam (Depth)
Mempunyai jarak dinding ke jalur sirkulasi 1119 m.
Sangat Dalam (Very Depth Space)
Mempunyai jarak dinding ke jalur sirkulasi lebih dari 20 m.
Jenis shallow depth space dan medium depth space umumnya disewa oleh
perusahaan dengan jumlah karyawan relatif tidak besar. Kedua jenis ruang
tersebut bisa di bentuk dalam sistem open plan maupun dengan sistem koridor
tertutup. Jenis depth space dan very depth space umumnya di sewa perusahaan
dengan jumlah karyawan relatif [Link] dari sistem penataan ruang
biasanya open plan.
2.5. Green Architecture
2.5.1. Pengertian Green Architecture
Green Architecture atau Arsitektur hijau merupakan langkah untuk
mempertahankan eksistensinya di muka bumi dengan cara meminimalkan perusakan
alam dan lingkungan di mana mereka tinggal. Istilah keberlanjutan menjadi sangat
populer ketika mantan Perdana Menteri Norwegia GH Bruntland memformulasikan
pengertian Pembangunan Berkelanjutan (sustaineble development) tahun 1987
sebagai pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia masa kini tanpa
mengorbankan potensi generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka
sendiri. Keberlanjutan terkait dengan aspek lingkungan alami dan buatan, penggunaan
energi, ekonomi, sosial, budaya, dan kelembagaan. Penerapan arsitektur hijau akan
memberi peluang besar terhadap kehidupan manusia secara berkelanjutan.
Aplikasui arsitektur hijau akan menciptakan suatu bentuk arsitektur yang
berkelanjutan. Berikut ini adalah beberapa contoh gambar-gambar bangunan yang
menggunakan konsep Green Architecture.

2.5.2. Prinsip-prinsip Architecture


Penjabaran prinsi-prinsip green architecture beserta langkah-langkah
mendesain green building menurut : Brenda dan Robert Vale, 1991, Green
Architecture Design fo Sustainable Future:

1. Conserving Energy (Hemat Energi)

42
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Sungguh sangat ideal apabila menjalankan secara operasional suatu bangunan


dengan sedikit mungkin menggunakan sumber energi yang langka atau
membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkannya kembali. Solusi yang
dapat mengatasinya adalah desain bangunan harus mampu memodifikasi iklim dan
dibuat beradaptasi dengan lingkungan bukan merubah lingkungan yang sudah ada.
Lebih jelasnya dengan memanfaatkan potensi matahari sebagai sumber energi.
Cara mendesain bangunan agar hemat energi, antara lain:

1. Banguanan dibuat memanjang dan tipis untuk memaksimalkan pencahayaan


dan menghemat energi listrik.

2. Memanfaatkan energi matahari yang terpancar dalam bentuk energi thermal


sebagai sumber listrik dengan menggunakan alat Photovoltaicyang
diletakkan di atas atap. Sedangkan atap dibuat miring dari atas ke bawah
menuju dinding timur-barat atau sejalur dengan arah peredaran matahari
untuk mendapatkan sinar matahari yang maksimal.

3. Memasang lampu listrik hanya pada bagian yang intensitasnya rendah.


Selain itu juga menggunakan alat kontrol penguranganintensitas lampu
otomatis sehingga lampu hanya memancarkan cahaya sebanyak yang
dibutuhkan sampai tingkat terang tertentu.

4. Menggunakan Sunscreen pada jendela yang secara otomatis dapat mengatur


intensitas cahaya dan energi panas yang berlebihan masuk ke dalam
ruangan.

5. Mengecat interior bangunan dengan warna cerah tapi tidak menyilaukan,


yang bertujuan untuk meningkatkan intensitas cahaya.

6. Bangunan tidak menggunkan pemanas buatan, semua pemanas dihasilkan


oleh penghuni dan cahaya matahari yang masuk melalui lubang ventilasi.

7. Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin (AC) dan lift.

2. Working with Climate (Memanfaatkan kondisi dan sumber energi alami)

43
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Melalui pendekatan green architecture bangunan beradaptasi dengan


lingkungannya. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam, iklim dan
lingkungannya sekitar ke dalam bentuk serta pengoperasian bangunan, misalnya
dengan cara:

1. Orientasi bangunan terhadap sinar matahari.

2. Menggunakan sistem air pump dan cros ventilation untuk mendistribusikan udara yang
bersih dan sejuk ke dalam ruangan.

3. Menggunakan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim. Misalnya dengan membuat
kolam air di sekitar bangunan.

4. Menggunakan jendela dan atap yang sebagian bisa dibuka dan ditutup untuk
mendapatkan cahaya dan penghawaan yang sesuai kebutuhan.

3. Respect for Site (Menanggapi keadaan tapak pada bangunan)

Perencanaan mengacu pada interaksi antara bangunan dan tapaknya. Hal ini
dimaksudkan keberadan bangunan baik dari segi konstruksi, bentuk dan
pengoperasiannya tidak merusak lingkungan sekitar, dengan cara sebagai berikut.

1. Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat desain yang mengikuti


bentuk tapak yang ada.

2. Luas permukaan dasar bangunan yang kecil, yaitu pertimbangan mendesain


bangunan secara vertikal.

3. Menggunakan material lokal dan material yang tidak merusak lingkungan.

4. Respect for User (Memperhatikan pengguna bangunan)

Antara pemakai dan green architecture mempunyai keterkaitan yang sangat


erat. Kebutuhan akan green architecture harus memperhatikan kondisi pemakai yang
didirikan di dalam perencanaan dan pengoperasiannya.

5. Limitting New Resources (Meminimalkan Sumber Daya Baru)

44
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Suatu bangunan seharusnya dirancang mengoptimalkan material yang ada


dengan meminimalkan penggunaan material baru, dimana pada akhir umur bangunan
dapat digunakan kembali untuk membentuk tatanan arsitektur lainnya.

6. Holistic

Memiliki pengertian mendesain bangunan dengan menerapkan 5 poin di atas


menjadi satu dalam proses perancangan. Prinsip-prinsip green architecture pada
dasarnya tidak dapat dipisahkan, karena saling berhubungan satu sama lain. Tentu
secar parsial akan lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Oleh karena itu,
sebanyak mungkin dapat mengaplikasikan green architecture yang ada secara
keseluruhan sesuai potensi yang ada di dalam site.

2.6. Sistem Struktur Bangunan


Struktur sebagai pendukung utama sebuah bangunan. Keberadaan struktur harus
memenuhi syarat agar tercipta kekakuan, kestabilan, dan kekuatan.

a). Sistem Struktur Bagian Bawah (sub-struktur)

JENIS PONDASI KEUNTUNGAN KEKURANGAN


Pondasi Tiang Pancang Pekerjaan cepat Banyak memerlukan
Kedalaman 30-40
sambungan
Proses pemancangan Pemasangan
mudah dan ringkas menimbulkan bising
dan getaran
Pondasi pored pile Tidak menimbulkan Pekerjaan lama
Kurang praktis
getaran
Diameter lebih besar dalam proses
sehingga daya pemancangan
Biaya lebih besar
dukung tiang lebih
Jika kadar air dalam
besar, tumpuan
tanah tinggi, maka
dapat diperkecil
Cocok untuk segala pengecoran

jenis tanah beresiko+


Kedalaman 30-40 m

45
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Tabel 2.6.1. Sub-Struktur

Pondasi yang digunakan dalam perencanaan dan perancangan mixed use building di
Semarang ini adalah pondasi tiang pancang karena lebih praktis dalam proses
pengerjaannya.

b). Sistem Struktur Bagian Atas ( upper-struktur )

SISTEM STRUKTUR KEUNTUNGAN KEKURANGAN


System plat dan slab beton Tanpa balok sehingga Semakin panjang
tanpa balok F2F menjadi lebih bentang semakin
rendah tebal plat
Pelaksanaan mudah Dimensi kolom besar
System plat, balok, dan Space antar balok Tinggi F2F
kolom dapat dimanfaatkan bertambah karena
untuk ducting membutuhkan ruang
Ketebalan plat
untuk balok
berkurang karena Semakin besar
gaya disalurkan bentang semakin
melalui balok besar dimensi balok
Tabel 2.6.2. UpperSstruktur

Pada proyek Mixed use building sistem struktur yang cocok digunakan adalah sitem
plat, balok, dan kolom.

2.7. Bahan Bangunan


Pendekatan bahan material bangunan meliputi material dinding, atap, kusen, plafond, dan
penutup lantai. Pertimbangan pemilhan material adalah berdasarkan kemudahan
perawatan material.

1. Material Pengisi Dinding

JENIS KELEBIHAN KEKURANGAN


MATERIAL
Batu Bata Insulasi peredam Modul kecil
bangunan sehingga
Muda didapat
pengerjaan
lama
Mudah

46
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

berjamur
Batako Modul besar Daya tahan
pengerjaan lebih terhadap gempa
cepat kecil
Mudah didapat
Murah
Dinding pre-cast Pengerjaan cepat Biaya lebih
(sudah difabrikasi mahal
sesuai pesanan)
Lebih efisien untuk
bangunan dengan
modul perlantai
yang sama
Bata Ringan Pengerjaan cepat Sulit didapat
(modul besar)
Kemungkinan
rembes kecil
Tahan api dan
kedap suara

Tabel 2.7.1. Material Dinding


2. Material Penutup Eksterior
JENIS KELEBIHAN KEKURANGAN
MATERIAL
Kaca Kemampuan Mudah
penghantar panas menyerap panas
kecil
Mudah didapat
Dapat menghantar
cahaya matahari
Batu alam Tahan terhadap Mudah rusak
cuaca oleh lumut dan
Mampu menyerap
jamur
panas
Tahan terhadap
kerusakan mekanis
Cladding GRC Fleksibel Mahal dan

47
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

(Glass-fiber Mudah dibentuk mudah kusam


Rainforced Mudah dipasang

Cement)
Cladding ACP Fleksibel dan Mahal dan sulit
(Alumunium mudah dibentuk didapat
Composite Mudah dipasang
Perawatan mudah
Panel)
Tabel 2.7.2. Material Eksterior
3. Material Atap
JENIS KELEBIHAN KEKURANGAN
MATERIAL
Genteng Tahan terhadap cuaca Mudah pecah
dan panas
Mudah dapat
Dak beton Tahan terhadap hujan Berat dan
Mudah dibentuk
mudah retak
Tahan api
karena
pemuaian
Menyerap
panas tinggi
Alumunium Ringan mudah Mahal
Menyerap panas
dipasang
Tahan terhadap cuaca tinggi
Tahan api dan gempa
Baja ringan Ringan, sehingga Tidak bisa
bobot yang diekspose
Rentan tiupan
ditanggung struktur
dibawahnya tidak angin (untuk

terlalu berat bangunan


Anti rayap tinggi)
Tidak memiliki nilai
muai-susut
Pemasangannya
cepat
Polycarbonate Rungan, mudah Mahal
Tidak tahan
dipasang
Mudah dibentuk panas
Dapat dilalui cahaya
48
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

matahari
Truss Cocok untuk bentang Membutuhkan
lebar ruang yang
Fleksibel dapat
cukup besar
membentuk atap
yang variatif
Tabel 2.7.3. Material Atap
4. Material Kusen
JENIS KELEBIHAN KEKURANGAN
Kayu Mudah didapat Mudah terkena
Menyerap panas
rayap
Tahan cuaca Mudah terbakar
Aluminium Ringan Menyerap panas
Mudah Mahal
pemasangannya
Tabel 2.7.4. Material Kusen
5. Material Plafond
JENIS KELEBIHAN KEKURANGAN
Gypsum board Isolasi suara baik Mudah tergores
Mudah dipasang
Fleksibel dan
mudah dibentuk
Multipleks Mudah didapat Tidak tahan
Murah
rayap
Ringan Mudah terbakar
Pemasangan mudah
Tabel 2.7.5 Material Plafond
6. Material Penutup Lantai
Jenis Kelebihan Kekurangan
Keramik Mudah Mudah pecah
perawatannya
Anti gores
Tahan api
Marmer Nilai estetika Mahal
Sulit didapat
tinggi
Tahan api Perawatan
khusus agar
tahan lama
Parket Fleksibel Mahal

49
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Mudah Sulit didapat


Mudah
pemasangannya
Dapat meredam terbakar
Mudah
suara
Nilai estetika tergores
Rawan rayap
tinggi
Karpet Fleksibel Memerlukan
Tabel 2.7.6. Material Penutup LAntai
2.8. Sistem Utilitas dan Keamanan Bangunan
a. Sistem Penyediaan Air Bersih
Penyediaan air bersih pada bangunan hotel meliputi penyediaan air dingin dan
air panas, berikut adalah skema jaringan air bersih, pasokan untuk kotak hidran dan
menara pendingin, serta air buangan.

Gambar 2.8.1 Skema Penyediaan Air Bersih


Pada sistem pasokan air terdapat sistem pasokan ke atas(up feed) baik dengan
tangki maupun tidak dan pasokan ke bawah (down feed).

b. Sistem Pengolahan Air Limbah


Pada bangunan hotel air limbah diolah dalam SPT (Sewage Treatment Plant),
yaitu melalui proses mekanik, berupa penyaringan,pemisahan, dan pengendapan, serta
proses biologi/kimia. Berikut adalah skema pengolahannya:

50
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.8.2 SkemaPengolahan Air Limbah


c. Sistem Pembuangan Sampah
Sampah dari setiap lantai akan di angkut melalui lift barang menuju ke
pembuangan terakhir.
d. Sistem Penanggulangan Kebakaran
Semakin cepat evakuasi diadakan pada saat kebakaran maka semakin kecil
juga kemungkinan terjadinya korban. Untuk itu diperlukan detector asap untuk
mengetahui adanya titik kebakaran.
Ketika kebakaran terjadi aka nada jeda waktu sebelum petugas pemadam
kebakaran datang ke lokasi, maka dari itu antisipasi awal dapat menggunakan
PAR(Pemadam Api Ringan) untuk mematikan api. Selain itu setiap bangunan harus
dilengkapi oleh hidran dan sprinkler.
Perletakan hidran dalam bangunan harus berjarak 35 m antar satu dengan yang
lainnya. Sedangkan sprinkler sebagai respon awal pada saat terjadinya kebakaran
memiliki skema susunan sebagai berikut :

51
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.8.3 Skema Perletakan Hidran


Jalur distribusi dan jaringan pipa untuk instalasi hidran dan sprinkler dapat dilihat
pada gambar berikut:

Gambar 2.8.4 Instalasi Hidran

52
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.8.5 Pasokan Air Hidran

e. Sistem penyediaan air panas


Setiap unit kamar hotel dilengkapi oleh pemanas air masing-masing. Satu unit
pemanas air hanya melayani satu kamar, sehingga lebih efisien jika dibandingkan
dengan sistem pemanas air pusat. Apabila terjadi kerusakan unit pemanas air yang
membutuhkan perbaikan tidak akan menyebabkan kamar lain terganggu fasilitas air
panasnya.

f. Sistem Penghawaan

53
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Penyejuk udara atau pengkondisi udara atau penyaman udara atau erkon atau
AC adalah sistem atau mesin yang dirancang untuk menstabilkan suhu udara dan
kelembaban suatu area (yang digunakan untuk pendinginan maupun pemanasan
tergantung pada sifat udara pada waktu tertentu).

Kebutuhan AC saat ini memang harus untuk menunjang kinerja


diperkantoran agar lebih nyaman. Diperumahan pun demikian, keberadaan AC sangat
dibutuhkan yang ujung-ujungnya adalah demi kenyamanan.

Di pasaran, terdapat banyak jenis dan macam-macam AC, diantaranya adalah


sebagai berikut :

1. AC Split Wall

AC Split Wall adalah jenis AC yang paling umum digunakan di rumah,


kantor maupun instansi di Indonesia, ini disebabkan beberapa faktor mulai dari
gampangnya perawatan dan support.

AC ini terbagi menjadi dua bagian yaitu Indoor dan Outdoor. Indoor adalah
bagian yang mengeluarkan hawa dingin dan Outdoor adalah bagian tempat dimana
mesin berada. Seringkali outdoor ditempatkan diluar ruangan karena mengeluarkan
hawa yang panas dan kadangkala suaranya yang berisik.

Kelebihan AC Split Wall :

Bisa dipasang pada ruangan yang tidak berhubungan dengan udara luar,
misalnya pada ruangan yang posisinya ditengah pada bangunan Ruko, karena
condenser yang terpasang pada outdoor bisa ditempatkan ditempat yang
berhubungan dengan udara luar jauh dari ruangan yang didinginkan.

54
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Suara didalam ruangan tidak berisik.


Kekurangan AC Split Wall:

Pemasangan pertama maupun pembongkaran apabila akan dipindahkan


membutuhkan tenaga yang terlatih.
Pemeliharaan/perawatan membutuhkan peralatan khusus dan tenaga yang
terlatih.
Harganya lebih mahal.
2. AC Window

AC Window adalah AC yang berbentuk kotak dan dalam pengoperasiannya


tidak menggunakan remote. Karena tombol kontrol sudah terintegrasi dengan AC
ini. AC ini hanya terdiri dari satu bagian yaitu unit itu sendiri dan tidak ada istilah
outdoor dan indoor AC.

AC ini sudah tidak diproduksi lagi karena dianggap sudah ketinggalan


jaman dan karena tidak ada unit outdoor yang membuat AC ini tidak praktis.
Kapasitas AC ini mulai dari 0.5 pk - 2.5 pk.

3. AC Sentral

55
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Pada AC jenis ini, udara dari ruangan/bangunan didinginkan pada cooling


plant diluar ruangan/bangunan tersebut kemudian udara yang telah dingin dialirkan
kembali kedalam ruangan/bangunan tersebut. AC jenis ini biasanya dipergunakan
di hotel atau mall.

4. AC Standing Floor

AC Standing Floor adalah AC yang unit Indoonya berdiri dan mudah


dipindahkan. Karena kepraktisannya ini, AC ini sering digunakan dalam acara-
acara seperti acara ulang tahun, perkawinan, hajatan, dan acara lainnya.

AC ini bisa dioperasikan dengan remote control. AC ini mempunyai bagian


Indoor dan bagian Outdoor. Kapasitas AC ini mulai dari 2pk - 5pk.

5. AC Cassette

Jenis AC Cassette ini, indoornya menempel di plafon. jenis AC Cassette


dengan berbagai ukuran mulai dari 1.5pk sampai dengan [Link] pemasangan ac
ini memerlukan keahlian khusus dan tenaga extra, tidak seperti memasang ac
rumah atau ac split, yang bisa dipasang sendirian.

6. AC Split Duct

56
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

AC Split Duct merupakan AC yang pendistribusian hawa dinginnya


menggunakan Sistem Ducting. Ini artinya, AC Split Duct tidak memiliki pengatur
suhu sendiri-sendiri melainkan dikontrol pada satu titik. Tipe AC ini biasanya
digunakan di Mall atau gedung-gedung yang memiliki ruangan luas.

AC Split Duct tidak pernah terlepas dari sistem Ducting yang merupakan
bagian penting dalam sistem AC sebagai alat penghantar udara yang telah
dikondisikan dari sumber dingin ataupun panas ke ruang yang akan dikondisikan.
Perkembangan desain ducting untuk AC hingga saat ini sangat dipengaruhi oleh
tuntutan efisiensi, terutama efisiensi energi, material, pemakaian ruang, dan
perawatan.

Kelebihan AC Split Duct :

Suara didalam ruangan tidak berisik sama sekali.


Estetika ruangan terjaga, karena tidak ada unit indoor.
Kekurangan:

Perencanaan, instalasi, operasi dan pemeliharaan membutuhkan tenaga yang


betul-betul terlatih.
Apabila terjadi kerusakan pada waktu beroperasi, maka dampaknya dirasakan
pada seluruh ruangan.
Pengaturan temperatur udara hanya dapat dilakukan pada sentral cooling plant.
Biaya investasi awal serta biaya operasi dan pemeliharaan tinggi.
7. AC Inverter

AC Inverter merupakan jenis AC Split yang menggunakan teknologi


inverter. Inverter yang terdapat di dalam unit AC merupakan alat / komponen untuk
mengatur kecepatan motor-motor listrik. Disini Inverternya terdiri dari Rectivier
dan Pulse-width modulator. Dengan menggunakan Inverter, motor listrik menjadi
variable speed, kecepatannya bisa diubah-ubah atau disetting sesuai dengan
kebutuhan. Jadi dibandingkan AC Split biasa, type AC Inverter lebih hemat listrik
60%.

8. AC VRV

57
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

VRV = Variable Refrigerant Volume merupakan sistem kerja refrigerant


yang berubah-ubah. VRV system adalah sebuah teknologi yang sudah dilengkapi
dengan CPU dan kompresor inverter dan sudah terbukti menjadi handal, efisiensi
energi, melampaui banyak aspek dari sistem AC lama seperti AC Sentral, AC Split,
atau AC Split Duct. Jadi dengan VRV System, satu outdoor bisa digunakan untuk
lebih dari 2 indoor AC serta dapat mengatur jadwal dan temperatur AC yang
diinginkan secara terkomputerisasi.

g. Sistem Penangkal Petir


Prinsip dasar darisistem penangkal petir adalah menyediakan jalur menerus
dari logam yang menyalurkan petir ke tanah pada saat terjadi sambaran petir pada
bangunan. Berikut macam-macam system penangkal petir:
Sistem konvensional, sistem praktis, biaya murah tapi terjangkau.
Sistem sangkar faraday, biaya mahal, mengganggu estetika bangunan.
Sistem Thomas, menggunakan system paying dengan bentangan perlindungan
yang besar.
Sistem penangkal petir yang digunakan adalah system Thomas dimana
bentangan perlindungan cukup besar sehingga dalam satu bangunan hanya
memerlukan satu penangkal petir saja.
h. Sistem Pasokan Listrik
Daya listrik umumnya dipasok dari Pembangkit Tenaga Listrik melalui
jaringan tegangan tinggi (TT, diatas 20000 volt), yang kemudian diturunkan menjadi
tegangan menengah (TM, antara 1000-20000 volt) dan tegangan rendah (TR, dibawah
1000 volt) oleh transformator yang diterapkan pada gardu-gardu listrik.

58
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.8.9 Skema Pasokan Listrik


Jika aliran listrik PLN terhenti, maka daya listrik diambil dari Generator yang
diletakkan diruang kedap suara agar tidak mengganggu kegiatan bangunan.
i. Sistem Jaringan Komunikasi
Agar jaringan telekomunikasi dalam bangunan dapat berfungs diperlukan
saluran telpon dari Telkom, yang mempunyai hubungan keluar local (dalam kota),
hubungan interlokal ataupun internasional.
Sistem dalam bangunan dimulai dari saluran Telkom ke PABX (Private
Automatic Branch Exchange), selanjutnya ke kotak hubung induk (MDF-Main
Distribution Frame). Melalui kabel distribusi (DC- Distribution Cable) jaringan telpon
disebarkan ke koak terminal (JB-Junction Box) yang ada di tiap-tiap lantai bangunan.

59
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.8.10 Skema Sistem Komunikasi

60
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

2.9. Study Banding

2.9.1. Hartono Mall Solo


2.9.1. Luas bangunan Hartono Mall Solo

Gambar 2.9.1. Hartono Mall


Sumber : Google
Hartono Mall adalah salah satu bangunan 3 mega proyek properti yang ada
disolo raya sedang diantaranya adalahThe Park Solo dan Hartono Trade Center.
Hartono Lifestyle Mall didirikan pada tahun 2012 dan memiliki luas tanah
17.689,77 m2 dengan luasan bangunan 100.459,39 m2. Hartono Mall memiliki 9
lantai dengan penyewa utamanya Matahari Department Store Dan Hypermart.
Dilengkapi tempat parkir berkapasitas 1300 mobildan 350
[Link] di Hartono Mall pada 19 Oktober 2012. Sedangkan Matahari
Department Store buka Di Hartono Lifestyle Mall Pada 23 November 2012.
Adapun garis besar pemplotingannya adalah sebagai berikut :
- Lantai basement 2 memiliki luas 13.871,55m2 difungsikan sebagai tempat
parkir.
- Lantai basement 1 dengan luasan yang sama sebagian diperuntukan sebagai area
parkir & sebagian lagi disewakan untuk Hypermarket.
- ATM Center berada di Lantai Lower Ground yang memiliki luasa 8.905,41 m2.
- Dept store, Cafe, Resto, Fashion Branded, Optik, dan Jawelry berada di Lantai
Ground.
- Lantai Upper Ground dengan luas 11.003,67 m2 ditempati oleh Dept store,
Accessories, Apparel, Fashion, dan Restaurant.
- Lantai 1 dengan luasan 10.838,67 m2 diisi oleh IT center, Phone Market, Book
Store, Restaurant, dan Cafe.

61
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

- Lt2 dengan luasan 11,246,72 m2 ditempati oleh Cinema, Food Court, Game
center, dan Karaoke.
- P1 luas 9.618,08 m2
- P2 luas 7.213,98 m2
[Link] Lokasi Hartono Mall

Gambar 2.9.2. Lokasi Hartono Mall


Sumber : Google
Hartono Mall Terletak Di Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru, Madegondo,
Grogol, [Link] Mall memiliki Lokasi yang strategis dengan Jarak
tempuh 10 menit dari Carefour,Matahari Singosaren & Pasar Klewer. jika
ditempuh dari Pusat Grosir solo,Stasiun Balapan, Solo Grand Mall, Solo Paragon
atau Solo Square dengan jarak antara 4,5 km -6,6 km maka membutuhkan waktu
atau Jarak tempuh 15 menit sedangkan dari Bandara Adi sumarno dapat
ditempuh dengan kisaran waktu 40 menit perjalan.

Nama Bangunan : Hartono Lifestyle Mall

Lokasi : Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru, Madegondo, Grogol, Sukoharjo

Pemilik : Swasta

Luas bangunan : 100.000 m2

Jumlah lantai : 9 lantai

Pencapaian : Mudah karena memiliki letak yang strategis sekaligus

dilalui oleh angkutan umum dan transportasi pribadi.

62
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Pengelola : PT. Delta Merlin Dunia Properti

[Link] Konsep Hartono Mall

Hartono Lifestyle Mall sendiri merupakan mall berlantai 4 yang


mengusung konsep lifestyle yang berada di lokasi cukup strategis serta mudah
dijangkau, sehingga diharapkan akan menambah kenyamanan berbelanja para
pelanggan di sekitar kota Solo maupun dari kota-kota lainnya. Dengan
beragam sarana yang lengkap serta tempat hiburan yang nyaman, Hartono
Lifestyle Mall berpeluang menjadi tempat rekreasi dan berbelanja terdepan di
kota Solo.

Gerai MDS di Hartono Lifestyle Mall menawarkan suasana belanja dan


tempat rekreasi yang berbeda, dengan pencahayaan yang ekslusif dan area
belanja tidak kurang dari 6.000 m2, serta diisi dengan beragam merek produk
ternama yang dapat menjadi pilihan bagi anda dan keluarga.

[Link]. Denah Hartono Mall

Gambar 2.9.3. Denah Basement 2 Hartono Mall


Sumber : Google

63
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.4. Denah Basement 1 Hartono Mall

Sumber : Google

Gambar 2.9.5. Denah Ground Floor Hartono Mall

64
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Sumber : Google

Gambar 2.9.6. Denah Lower Ground Hartono Mall

Sumber : Google

65
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.7. Denah Upper Ground Hartono Mall

Sumber : Google

Gambar 2.9.8. Denah first Floor Hartono Mall

Sumber : Google

66
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.9. Denah Second Floor Hartono Mall

Sumber : Google

[Link]. Konstruksi Hartono Mall

Struktur bangunan menggunakan kolom beton bertulang.


Sedangkan, untuk rangka atap menggunakan dak dan baja konfensional.

Gambar 2.9.10 Struktur Beton Bertulang

Sumber: Dokumen Kelompok

67
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.11 Struktur Atap Hartono Mall

Sumber: Dokumen Kelompok

[Link]. Sistem Pencahayaan dan Penghawaan Hartono Mall

Pencahayaan untuk area pameran dan area toko dipaling depan


menggunakan pencahayaan alami dengan menggunakan kaca pada
dindingnya sehingga cahaya dapat masuk secara maksimal, sedangkan
kios atau pun toko yang ada di tengah menggunakan lampu.
Penghawaan bangunan Hartono Mall menggunakan penghawaan buatan
yaitu AC yang dipasang pada plafond.

Gambar 2.9.12 Pemakaian Kaca pada Hartono Mall Gambar


Sumber: Dokumen Kelompok

68
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

2.9.13 Pemakaian AC Hartono Mall

Sumber: Dokumen Kelompok

Gambar 2.9.14 Pencahayaan dari Atap Bangunan


Sumber : Dokumen Kelompok
[Link]. Fasilitas Hartono Mall
Kapasitas area parkir :mobil = 1.300 kendaraan dan motor = 350
kendaraan.
Lift (elevator) untuk pengunjung 2 unit dan untuk barang/ loading 4
unit dengan sensor otomatis.
Escalator a. 18 unit di area umum
b. 2 unit di area Dept Store
Travelator 4 unit.
Air Conditioning.
Daya listrik disuplay dari PLN dan Gen Set
Sumber Air : Deep We.l
Sistem Pengamanan Kebakaran :
- Fire extinguiser- Fire alarm

- Fire springkler- Fire hydrant

Tangga darurat di 7 titik area.


Keamanan : CCTV dan security 24 jam.
Musholla.
Toilet 4 buah per lantai.

69
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.15Parkir VIP Hartono Mall Gambar 2.9.16Mushola Hartono


Mall

Sumber: Dokumen Kelompok Sumber: Dokumen Kelompok

Gambar 2.9.17 Eskalator pada Hartono Mall Gambar 2.9.18 Ruang Nursery Hartono
Mall

Sumber: Dokumen Kelompok Sumber: Dokumen Kelompok

2.9.2. Paragon Solo

[Link]. Luas Paragon Mall Solo

70
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.19 Paragon Mall Solo


Sumber : Google

Solo Paragon Lifestyle Mall merupakan salah satu mal terbesar di kota Solo.
Solo Paragon Lifestyle Mall yang berkonsep "shopping, dining, entertainment" ini
merupakan salah satu properti di kawasan Superblok Solo Paragon seluas 4,1
hektar yang berada di jantung kota Solo. Solo Paragon Lifestyle Mall berdiri diatas
5 lantai termasuk lantai parkir dengan luas mal 60.000 m2 dan area parkir yang
memiliki daya tampung setidaknya 1.000 mobil dan 700 motor. Pembukaan gerai
Carrefour di Solo Paragon Mall pada 19 Januari 2012. Sedangkan pembukaan
Centro Departement Store di Solo Paragon Mall pada 1 November 2012. Centro
Departement Store tersebut merupakan store ke-8 di Indonesia. Dan jaringan
Cineplex Bioskop 21 yaitu Cinema XXI dan The Premiere XXI juga terdapat di
Solo Paragon Lifestyle [Link] garis besar pemplotinganya adalah sebagai
berikut:
- LG
- GF
- UG
- FF
[Link]. Lokasi Paragon Solo

71
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.20 Paragon Mall


Sumber : Google

Hartono Mall Terletak Di Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru, Madegondo,


Grogol, [Link] Mall memiliki Lokasi yang strategis dengan Jarak
tempuh 10 menit dari Carefour,Matahari Singosaren & Pasar Klewer. jika
ditempuh dari Pusat Grosir solo,Stasiun Balapan, Solo Grand Mall, Solo Paragon
atau Solo Square dengan jarak antara 4,5 km -6,6 km maka membutuhkan waktu
atau Jarak tempuh 15 menit sedangkan dari Bandara Adi sumarno dapat
ditempuh dengan kisaran waktu 40 menit perjalan.

Nama Bangunan : Hartono Lifestyle Mall

Lokasi : Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru, Madegondo, Grogol, Sukoharjo

Pemilik : Swasta

Luas bangunan : 100.000 m2

Jumlah lantai : 9 lantai

Pencapaian : Mudah karena memiliki letak yang strategis sekaligus

dilalui oleh angkutan umum dan transportasi pribadi.

Pengelola : PT. Delta Merlin Dunia Properti

72
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

[Link]. Konsep Paragon Solo

Konsep Solo Paragon mengaplikasikan mix-used development yang


menggabungkan konsep luxury apartment, citywalk, dan lifestyle mall. Superblok
ini dibangun oleh Bandung Inti Graha (BIG) yang bekerja sama dengan Grup Sun
Motor yakni Sunindo Primaland. Proyek ini dikerjakan sejak Juni 2008. Sedangkan
Solo Paragon Hotel and Residences sudah mulai dioperasikan sejak Agustus 2010,
dan diresmikan pada pertengahan Januari 2011. Solo Paragon Hotel and
Residences merupakan hotel berbintang empat yang manajemennya dikelola oleh
Tauzia Hotel Management. Tauzia terkenal sebagai pengelola Hotel Harris dan
Hotel Pop yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Solo Paragon memiliki 253
kamar hotel, termasuk di dalamnya suite room, lounge dengan live music,
international restaurant dan bar. Untuk kepentingan meeting, terdapat empat ruang
meeting room, dan ballroom utama yang berkapasitas 1500 orang. Kelengkapan
lainnya adalah The CORAL Restaurant, pelayanan SPA, pusat kebugaran, lapangan
basket, Nemo Kid's Club untuk anak-anak, dan kolam renang bergaya resort. Para
tamu yang akan menginap di Solo Paragon Hotel juga dimanjakan fasilitas dengan
LCD TV, AC, Mini Bar, fasilitas kopi dan teh, safe deposit, dan free internet akses.
Fasilitas hotspot juga disediakan di lobi hotel selama 24 jam, di The Coral
Restaurant, serta semua ruang meeting dan semua kamar.

[Link]. Denah Paragon Solo

Gambar 2.9.21 Denah Lower GroundParagon Solo


Sumber : Dokumen Kelompok
73
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.22 Denah Ground Floor Paragon Solo


Sumber : Dokumen Kelompok

74
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.23 Denah Under Ground Paragon Solo


Sumber : Dokumentasi Kelompok

Gambar 2.9.24 Denah First FloorParagon Solo


Sumber : Dokumentasi kelompok

[Link]. Konstruksi Paragon Solo


Struktur bangunan menggunakan kolom beton bertulang. Sedangkan,
untuk rangka atap menggunakan dak dan baja konfensional.

Gambar 2.9.25 Struktur Beton Bertulang

Sumber: Dokumen Kelompok

75
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.26 Struktur Atap Paragon Mall

Sumber: Dokumen Kelompok

[Link]. Pencahayaan dan Penghawaan Paragon Mall

Pencahayaan untuk area pameran dan area toko dipaling depan


menggunakan pencahayaan alami dengan menggunakan kaca pada dindingnya
sehingga cahaya dapat masuk secara maksimal, sedangkan kios atau pun toko
yang ada di tengah menggunakan lampu.
Penghawaan bangunan Paragon Mall menggunakan penghawaan buatan
yaitu AC yang dipasang pada plafond.

76
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.27 Pemakaian Kaca pada Paragon Mall Gambar 2.9.28 Pemakaian AC
Paragon Mall

Sumber: Dokumen Kelompok Sumber: Dokumen Kelompok

Gambar 2.9.29 Pencahayaan dari Atap Bangunan


Sumber : Dokumen Kelompok

[Link]. Fasilitas Paragon Mall

77
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 2.9.30 Kamar Mandi Paragon Mall Gambar 2.9.31 Lobby Paragon Hotel

Sumber: Dokumen Kelompok Sumber: Dokumen Kelompok

Gambar 2.9.32 Eskalator pada Paragon Mall Gambar 2.9.33 Ruang Nursery Paragon
Mall

Sumber: Dokumen Kelompok Sumber: Dokumen Kelompok

78
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

79
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

BAB III

Tinjauan Lokasi

3.1. Tinjauan Kota Semarang

3.1.1. Kedudukan Geografis dan BatasAdministrasi

Gambar 3.1. Peta Kota Semarang


Sumber : [Link]
Kabupaten Semarang merupakan salah satu Kabupaten dari 29
kabupaten dan 6 kota yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Luas keseluruhan
wilayah Kabupaten Semarang adalah 95.020,674 Ha atau sekitar 2,92% dari luas
Provinsi Jawa Tengah.

LUAS WILAYAH
ADMINISTRASI : 95.020,674 Ha
LETAK GEOGRAFIS: 6, 5 7, 10 LS
110,0 1100,35 BT
KEPENDUDUKAN : 16 Kecamatan
177 Kelurahan
Jumlah Penduduk1,67Jiwa (Th. 2012)
BATASAN

80
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Utara : Laut Jawa


Selatan : Kab. Semarang
Timur : Kab. Demak
Barat : kab. Kendal
Ketinggian wilayah Kabupaten Semarang berkisar pada 500 - 2000m
diatas permukaan laut (dpl), dengan ketinggian terendah terletak di desa
Candirejo Kecamatan Pringapus dan tertinggi di desa Batur Kecamatan
Getasan. Rata-rata curah hujan 1.979 mm dengan banyaknya hari hujan adalah
104. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh letak geografis Kabupaten
Semarang yang dikelilingi oleh pegunungan dan sungai.

3.1.2. Tinjauan Kebijakan PemanfaatanTata Ruang Kota


Berdasarkan pertimbangan atas fungsi dan peranan sesuai dengan
peraturan daerah no. 6 tahun 2011 tentenag rencana tata ruang wilayah (rtrw)
kabupaten semarang tahun 2011-2031 pada bagian kedua system pusat
pelayanan paragraph kedua tentang system perwilayahan pasal 8 ayat 3, system
perwilayahan (SWP) sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 huruf b terdiri atas :
a. SWP1 yaitu kawasan yang ditetapkan menjadi bagian dari ibukota
Kabupaten serta kawasan sekitarnya yang termasuk dalam jangkauan
pelayanannya meliputi Kecamatan Ungaran Barat, Ungaran Timur,
Bergas, dan Pringapus dengan pusat pengembangan di perkotaan Ungaran;
b. SWP2 yaitu kawasan yang menjadi wilayah pengaruh dari Kota Ambarawa
meliputi Kecamatan Ambarawa, Tuntang, Banyubiru, Bandungan, Jambu,
Bawen dan Sumowono dengan pusat pengembangan di perkotaan
Ambarawa; dan
c. SWP3 yaitu kawasan yang berada di Daerah selatan meliputi
Kecamatan Suruh, Tengaran, Getasan, Susukan, Kaliwungu, Pabelan,
Bancak dan Bringin dengan pusat pengembangan di perkotaan Suruh dan
Tengaran.
d. SWP-4 dengan kegiatan utama agraris. Meliputi : Kecamatan Gunungpati,
Mijen dan sebagian wilayah Kecamatan Tugubagian Selatan dengan dengan
sub pengembangan Mijen, Cangkiran dan Kedungpane serta sebagian
wilayah kecamatan Tugu bagian Selatan danNgaliyan.

3.1.3. Kedudukan Fungsi dan Peranan BWK

81
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Bedasarkan dengan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011 2031, pada Bagian kedua
Rencana Pengembangan Sistem Pusat Pelayanan Paragraf 1 Rencana Pembagian
Wilayah Kota (BWK) Pasal 10, Rencana Pembagian Wilayah Kota (BWK) yang terdiri
atas :
a. BWK I meliputi Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Semarang Timur
dan Kecamatan Semarang Selatan dengan luas kurang lebih 2.223 (dua ribu
dua ratus dua puluh tiga) hektar;
b. BWK II meliputi Kecamatan Candisari dan Kecamatan Gajahmungkur dengan
luas kurang lebih 1.320 (seribu tiga ratus dua puluh) hektar;
c. BWK III meliputi Kecamatan Semarang Barat dan Kecamatan Semarang
Utara dengan luas kurang lebih 3.522 (tiga ribu lima ratus dua puluh dua)
hektar;
d. BWK IV meliputi Kecamatan Genuk dengan luas kurang lebih 2.738 (dua ribu
tujuh ratus tiga puluh delapan) hektar;

e. BWK V meliputi Kecamatan Gayamsari dan Kecamatan Pedurungan dengan


luas kurang lebih 2.622 (dua ribu enam ratus dua puluh dua) hektar;

f. BWK VI meliputi Kecamatan Tembalang dengan luas kurang lebih 4.420


(empat ribu empat ratus dua puluh) hektar;

g. BWK VII meliputi Kecamatan Banyumanik dengan luas kurang lebih 2.509
(dua ribu lima ratus sembilan) hektar;

h. BWK VIII meliputi Kecamatan Gunungpati dengan luas kurang lebih 5.399
(lima ribu tiga ratus Sembilan puluh sembilan) hektar;

i. BWK IX meliputi Kecamatan Mijen dengan luas kurang lebih 6.213 (enam
ribu dua ratus tiga belas) hektar; dan

j. BWK X meliputi Kecamatan Ngaliyan dan Kecamatan Tugu dengan luas


kurang lebih 6.393 (enam ribu tiga ratus Sembilan puluh tiga) hektar.

82
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 3.2 Peta Bagian Wilayah Kota (BWK) Kota Semarang


Sumber :[Link]
Sedangkan pembagin wilayah yang sesuai peruntukannya masing-masing dipaparkan
dalam Rencana pengembangan fungsi utama masing-masing BWK sebagaimana yang
meliputi :
a. Perkantoran, perdagangan dan jasa di BWK I, BWK II, BWK III;

b. Pendidikan kepolisian dan olah raga di BWK II;

c. Transportasi udara dan transportasi laut di BWK III;

d. Industri di BWK IV dan BWK X;

e. Pendidikan di BWK VI dan BWK VIII;

f. Perkantoran militer di BWK VII; dan

g. Kantor pelayanan publik di BWK IX

WP BWK KECAMATAN SKALA FUNGSI


WP I BWK * Perdagangan - Jasa (Formal dan
I Smg Tengah Informal)
Kota * Perkantoran
* Permukiman
Smg Timur * Sosial public space
Smg Selatan Regional * Perdagangan - Jasa (Formal dan
Informal)
83
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

* Perkantoran
* Pendidikan
* Kesehatan
* Lingkungan
Kota * Permukiman
* Budaya Sejarah
Gajahmungkur * Pendidikan
BWK Candisari * Olahraga
II * Perkantoran
Regional
Perdagangan - Jasa (Formal dan
Informal)
* Kesehatan
* Rekreasi
BWK Kota * Penanganan sistem drainase
Smg Barat * Perikanan
III Smg Utara * Transportasi
Regional
* Rekreasi
* Perikanan
Kota * Penanganan sistem drainase
BWK * Transportasi
Genuk
IV * Industri
WP II Regional
* Transportasi
BWK Gayamsari * Permukiman kepadatan tinggi
Pedurungan Kota * Perdagangan dan Jasa
V * Penanganan sistem drainase
* Permukiman kepadatan rendah s.d.
BWK Kota
Tembalang sedang
VI * Penanganan lingkungan daerah
Regional * Pendidikan
* Transportasi
WP III * Permukiman kepadatan rendah s.d.
BWK Kota sedang
Banyumanik
VII * Penanganan lingkungan daerah
lindung
Regional * Pendidikan
WP IV * Agrobisnis dan Wisata
Kota * Penanganan lingkungan daerah
BWK
Gunungpati lindung
VIII
* Industri sumber daya lokal
Regional
* Pendidikan
BWK Mijen Kota * Permukiman kepadatan rendah s.d.
IX sedang
* Agrobisnis dan Wisata
* Penanganan lingkungan daerah

84
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

lindung
* Industri sumber daya lokal
Regional
* Pendidikan
* Permukiman kepadatan rendah s.d.
sedang
Kota
BWK * Penanganan lingkungan daerah
WP V lindung
X
Ngaliyan * Industri
Tugu Regional * Transportasi
* Pendidikan

Tabel 3.1. Data Wilayah Pengembangan Kota Semarang

Sumber :RTRW Kota Semarang Tahun 2010-2030

3.2 Persyaratan Lokasi

3.2.1 Kriteria Penentuan Lokasi

Untuk menentukan Lokasi Mixed Use Building maka perlu diperhatikan sifat
atau karakteristik kegiatan-kegiatan yang ada pada bangunan tersebut yang menampung
fungsi utama, yakni Apartemen, Shopping Centre, dan Rental Office. Pengguna yang terdiri
dari berbagai kalangan masyarakat menengah ke atas yang menuntut ketepatan waktu saat
menjalani aktivitas bekerja. Oleh karena itu perlu menentukan lokasi yang tepat dengan
memperhatikan persyaratan-persyaratan sebagai berikut :

a) Peruntukan lahan / tata guna lahan

Sebagai bangunan yang komersial maka Mixed Use Building harus terletak pada
peruntukan lahan yang tepat, yaitu perkantoran, perdagangan, dan jasa.

b) Aksesbilitas

Lokasi yang akan dijadikan Mixed use building harus memperhatikan kemudahan
pencapaian ke bangunan baik dari dalam maupun dari luar kota dengan
memperhatikan skala pelalyanan bangunan yang tidak hanya untuk skala lokal,
melainkan juga skala regional dan nasional.

c) Lingkungan

Lingkungan sekitar haruslah dinilai baik untuk memnuhi aspek kenyamana pengguna,
salah satunya yaitu tindakan kriminal.

85
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

d) Kondisi Topografi

Mixed use building memerlukan lahan yang relatif luas serta nyaman karena pasti
akan banyak pengunjung yang keluar masuk bangunan tersebut apalagi bangunan
tersebuat mencakup Fungsi Apartemen, Shopping Centre, dan Rental Office.

e) Daya Tarik

Karena Bangunan ini mencakup skala nasional, maka perlu tempat yang nyaman dan
menarik sehingga pengguna puas dengan pelayanannya.

f) Utilitas

Lokasi Mixed use building haruslah sudah memiliki jaringan utilitas yang memadai
yang mampu menunjang segala kegiatan yang ada di bangunan tersebut, mulai dari
infrastruktur, listrik, telepon, jaringan air bersih, pembuangan airkotor, transportasi,
dan sebagainya.

Berdasarkan persyaratan diatas, maka di pilihlah beberapa lokasi alternatif yang


nantinya akan di jadikan Mixed Use Building di kota Semarang.

A. Alternatif Tapak 1

86
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Batas-batas tapak :

Utara :Permukiman warga

Selatan:Dealer mobil

Timur :Candi Losmen

Barat :Permukiman warga

o Keuntungan view yang menarik kearah kota karena site terletak didaerah
perbukitan

o Pencapaian Lokasi terjangkau

o Kegiatan lingkungan sekitar berupa perkantoran, fasilitas perbelanjaan,


perkantoran, dan fasilitas umum lainnya.

o Tata guna lahan diperuntukan untuk kawasan campuran antara perdagangan


dan jasa.

Ukuiran Site : 93m x 80 m

Tata guna lahan : Perdagangan dan jasa

KDB : 60%

Kondisi Eksisting : Lahan kosong

Kondisi Tapak : Berkontur 1.00 m

B. Alternatif Tapak 2

87
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Batasa-batas tapak :

Utara : Permukiman warga

Selatan: Pertokoan

Timur : Perumahan

Barat : Perumahan warga

Kondisi Eksisting : Lahan kosong

Kondisi Site : berkontur 4.00 m

Keuntungan tapak :

Pencapaian tapak mudah karena berada di jalan arteri 2 arah

View kearah kota dan laut karena berada di kawsan perbukitan

Site berada di kawasan perkantoran

C. Alternatrif Tapak 3

Jalan Jendral Ahmad Yani

88
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Simpang Lima pertokoan pertokoan Jl. Jend Ahmad Yani

Batas-batas Site :

Utara : Jalan Jendral Ahmad Yani

Selatan: Pertokoan

Timur : Hotel

Barat : Bundaran Simpang Lima

Kondisi Eksisting : Bangunan pertokoan

Kondisi Site : Lahan datar

Kelebihan Site :

Berada di pusat kota Semarang bersebelahan dengan Kawasan wisata Simpang


Lima

Sirkulasi tidak krodit

Mendapat View yang bagus

3.3 Skoring Tapak

Keterangan :

1 = Buruk 2 = Cukup 3 = Baik 4 = Sangat Baik

Kriteria nilai terhadap Alternatif


tapak

89
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

A B C
Peruntukan guna lahan untuk bangunan sesuai 4 4 4

Jarak tempuh lokasi menuju pusat kota, kegiatan dan 3 4 4


pelayanan umum dan perkantoran.
Ketersediaan jalan penghubung dengan kawasan 3 3 4
sekitarnya/ aksesibilitas.
Keadaan topografi lapangan datar 3 3 4
Daya dukung tanah untuk bangunan sesuai 2 3 4
Drainase alam baik 3 3 4
Kemudahan memperoleh air bersih, listrik/utilitas kota. 4 4 4
Luas lahan 3 3 3
Jalur transportasi umum 3 4 4
Keadaan lingkungan sekitar 2 3 4
JUMLAH 30 34 39

Gambar 3.1. Tabel Skoring Tapak

Sumber : Analisa kelompok

3.4 Tapak Terpilih

Berdasarkan analisa dan pembobotan alternatif ketiga tapak tersebut, maka


tapak yang terpilih adalah :

Tapak yang berada di Jalan Jendral Ahmad Yani

90
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Simpang Lima Pertokoan Pertokoan Jl. Jend Ahmad Yani

Batas-batas Site :

Utara : Jalan Jendral Ahmad Yani

Selatan: Pertokoan

Timur : Hotel

Barat : Bundaran Simpang Lima

Kondisi Eksisting : Bangunan pertokoan

Kondisi Site : Lahan datar

Kelebihan Site :

Berada di pusat kota Semarang bersebelahan dengan Kawasan wisata Simpang


Lima

Sirkulasi tidak krodit

Mendapat View yang bagus

91
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

BAB IV

PENDEKATAN KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

4.1 Dasar Pendekatan


Dasar pendekatan ini didasarkan akan kebutuhan sebuah Mixed Used Building di
Semarang dengan konsep yang berbeda dari Mixed Used Building yang sudah ada
sebagai bentuk alternatif baru bagi masyarakat Kota Semarang yang mencari tempat
untuk melepas kepenatan.

Pendekatan yang dilakukan terdiri dari:

1. Pendekatan Site
2. Pendekatan Aspek Fungsional
3. Pendekatan Sirkulasi
4. Pendekatan Arsitektural
5. Pendekatan Teknik Bangunan

4.2 Pendekatan Site


Sesuai karakter utama konsumen apartemen dan rental yang notabene penggunanya
ingin melepas kepenatan dan merasakan nuansa yang berbeda dari kehidupan yang
biasanya serta sekaligus pemenuhan kebutuhan primer maupun sekunder dengan adanya
pusat perbelanjaan yang langsung bisa dituju dari apartemen dan rental office itu sendiri,
pada pemilihan lokasi merupakan aspek penting pada perancangan sebuah mixed use
building. Bangunan ini direncanakan berada di tempat-tempat yang lingkungan alamnya
masih terasa namun dekat dengan zona-zona komersial dalam wilayah Semarang
sehingga keberadaan mixed use building ini sendiri tidak mengganggu lingkungan
sekitar.

92
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Data Tapak
- Tapak berupa kompleks pertokoan yang terletak di Jl. Jendral Ahmad
Yani
- Luas lahan
- KDB 60 %
Batas Tapak
- Selatan :Pertokoan
- Barat :Simpang Lima
- Utara :Jalan Jendral Ahmad Yani
- Timur :Hotel
Potensi Tapak
- Tapak terletak di kawasan wisata Simpang Lima
- Berada di Jalan Utama sehingga pencapaian mudah
- Dekat dengan berbagai fasilitas umum

4.3. Pendekatan Aspek Fungsional


4.3.1. Pendekatan Pelaku dan Aktivitas
[Link]. Shopping Center
PELAKU AKTIVITAS
PENGUNJUNG Yaitupengguna yang datingmemanfaatkansaranadanprasarana yang
ada. Berdasarkankedatangannyadapatdikelompokanmenjadi :
Bertujuan berbelanjasaja(konsumtif)

93
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Bertujuan berekreasisaja (Prestis)


Pengunjung yang bermaksudberekreasisekaligusberbelanja
Tamupengelola, yaitu pengunjung yang bertujuan untuk
menemui pengelola atas suatu keperluan, jumlah mereka tidak
tetap sehingga tidak ada batasan yang pasti.
Yaitu kelompok individu yang menggunakan ruang-ruang yang di
sediakan untuk keperluan komersial dengan imbalan terhadap
PENYEWA
pengelola atau yang dianggap sebagai pemilik yang mebayar uang
sewa.
PENGELOLA
General Manajer Bertanggung jawab atas perkembangan perusahaan serta keseluruhan.
Memimpin dan bertanggung jawab terhadap operasional perusahaan
secara keseluruhan baik administrasi maupun pemeliharaan dan
keamanan bangunan.

Sekretaris Asisten yang bertanggung jawab langsung pada manajer bangunan

Bertanggungjawablangsungpada General Manajer


Manajer Office
Operation
Yaitubertanggungjawablangsungataskegiatanpengelolaanbangunan.
Manajer Building
Operation
Yaitumelayanikegiatanoperasionalpengelola di dalamkantor.

Divisi General
Affair Yaitubertanggungjawabdalammemeperkenalkanbangunankepadamas
yarakatdengantujuanmemperolehpengunjungsebanyak-banyaknya.

Divisi Marketing

Yaitumengurusimasalahkeuanganbangunanmaupunperusahaan

Yaitumengurusimasalahpelayananterhadappengunjungdantamuperusa
haan.
Divisi Finance &

94
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Accounting Bagiandivisioperasional yang


mengurusiperawatanbangunanmaupunlansekap
Divisi Costumer
Service
Bagiiandaridivisioperasional yang
khususmengurusidanmengkoordinasikeamanandanparkir.
Divisi
Housekeeping
Bagiandaridivisioperasional yang
khususmengurusiperlengkapanbangunandarisegipemeliharaanmaupu
Divisi Security
noperasional.
&Parking
Bagiandaridivisioperasional yang
Divisi
khususmengurusidanmengadakanacara-acarahiburandan event-event
Engineering
untukmenghiburpengunjung.

Divisi
Entertainment
PELAYANAN
Staf security & Yaitubagiandaripengelola yang
parking mempunyaitugasberhubunganlangsungdenganpelayananterhadappen
StafEntertainmen gunjung.
t
Staf
Housekeeping
PENDUKUNG
Staf Engineering Yaitubagiandaripengelola yang
mempunyaitugasberhubunganlangsungdenganbangunan.
Tabel 4.1 pelaku dan aktivitas Shopping Center
Sumber :AnalisaPenulis

[Link]. Apartemen
A. Pendekatan Pelaku
Perancangan kondominium di kota Semarang ini ditujukan bagi
golongan menengah ke atas sebagai salah satu hunian yang bersifat hak milik.
Pengguna bangunan kondominium adalah mereka yang secara langsung
melakukan aktivitas di dalam bangunan ini, pelaku aktivitas yang terdapat
dalam kondominium dapat dikelompokkan menjadi :
a. Kelompok Penghuni atau Pembeli
95
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Penghuni atau pembeli unit-unit hunian pada kondominium adalah


masyarakat yang memiliki status sosial tinggi (golongan menengah ke
atas), baik orang Indonesia maupun orang asing, di mana kelompok ini
umumnya mempunyai selera dengan tuntutan hidup yang tinggi,
mengutamakan privasi, keamanan dan kenyamanan, serta ketenangan
hunian.
Adapun kelompok penghuni kondominium ini dapat dikelompokka sebagai
berikut:
Penghuni tanpa keluarga (single)
Penghuni dengan keluarga.
Akan tetapi, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lainnya seperti
pandangan masa depan (pasangan muda yang mempersiapkan kamar untuk
calon anaknya), faktor tamu yang menginap, faktor usia si anak, dan lain
sebagainya, nampaknya pengelompokan di atas bukanlah suatu ukuran
standar unit hunian yang ideal bagi sebuah kondominium. Oleh karena itu,
dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka standar unit hunian yang
ideal bagi kondominium menurut struktur kelompok, ialah:

2 unit bedroom (two bedrooms) untuk single, keluarga tanpa anak


atau keluarga dengan 1-2 anak yang berusia masih kecil.
3 unit bedroom (three bedrooms) untuk keluarga dengan 2-3 anak
4 unit bedroom (four bedrooms) untuk keluarga dengan 3-4 anak

b. Kelompok Pengelola
Kelompok pengelola kondominium adalah pemilik bangunan atau
pihak yang diberi wewenang oleh pemilik untuk mengelola bangunan
kondominium dan memenuhi kebutuhan penghuni terhadap fasilitas yang
diperlukan. Bisa juga merupakan suatu badan organisasi fungsional untuk
mengelola kondominium dengan imbalan jasa berdasarkan kontrak yang
telah disetujui oleh kedua belah pihak. Untuk mengetahui kebutuhan
personil pengelola yang diperlukan, dapat dianalisa terhadap contoh
pengelola yang dimiliki oleh bangunan sejenis seperti yang telah diuraikan
dalam studi banding dan PP No. 4 Tahun 1998, sebagai berikut:
a. Divisi Teknik

96
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Listrik dan Mesin (Mechanical Electrical)


Bangunan (Construction)
Perawatan Bangunan (Building Maintenance)
b. Divisi Keuangan (Financial Division)
Akuntan (Accounting)
Administrasi Umum (Administration)
c. Divisi Pemasaran (Marketing Division)
Periklanan (Advertising)
Perjanjian Beli
Pelayanan kepada Pembeli/Penghuni (Tenant Relation)
d. Divisi Keamanan (Security Division)
Dari hasil analisa pada studi banding dan literatur, maka kebutuhan
pengelola pada kondominium beserta tugasnya masing-masing, yaitu:
Building Manager (1 orang)
Tugas : Mempunyai wewenang untuk menentukan kebijaksanaan
yang berkaitan dengan sistem pengelolaan dan bertangung
jawab terhadap pengelolaan bangunan.
Sekretaris (1 orang)
Tugas : Membantu pelaksanaan tugas manager dalam mengatur dan
mengorganisir pengelolaan bangunan.
Kepala Divisi Teknik (1 orang)
Tugas : Bertangung jawab terhadap hal-hal yang bersifat teknis
tentang pengelolaan bangunan.
Divisi Mekanikal Elektrikal/Teknisi (6 orang)
Tugas : Mempunyai tanggung jawab terhadap masalah-masalah
teknis bangunan (listrik, AC, mesin, dll).
Divisi Perawatan Bangunan/ Housekeeping (12 orang)
Tugas : Bertanggung jawab terhadap pemeliharaan bangunan,
dalam perawatan harian maupun berkala.
Kepala Divisi Non Teknik (1 orang)
Tugas : Mempunyai tanggung jawab terhadap hal-hal mengenai
manajemen pengelolaan bangunan
Divisi Pemasaran (4 orang)
Tugas : Mempunyai tanggung jawab terhadap kegiatan promosi dan
periklanan bangunan, perjanjian jual beli, serta pelayanan
kepada pembeli atau penghuni.
97
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Divisi Keuangan (4 orang)


Tugas : Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan yang
menyangkut tentang keuangan.
Divisi Administrasi (4 orang)
Tugas : Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan yang
menyangkut tentang administrasi.
Receptionist (4 orang)
Tugas : Mempunyai tanggung jawab melayani dan memberikan
informasi 24 jam kepada penghuni dan tamu.
Ket : jumlah 4 orang (terdiri dari 2 shift @ 2 orang dengan
waktu kerja 1 x 12 jam)
Divisi Keamanan (10 orang)
Tugas : Mempunyai tanggung jawab penuh terhadap keamanan di
dalam bangunan
Ket. : 10 orang (terdiri dari 2 shift @ 5 orang dengan waktu kerja 1
x 12 jam) 1 orang di pos pintu masuk, 1 orang di pos pintu
keluar, dan 3 orang di ruang keamanan.
c. Kelompok Tamu
Pelaku yang melakukan kegiatan berkunjung ke area kondominium,
baik untuk menemui pengelola maupun penghuni.
B. Pendekatan Aktivitas
Aktivitas utama yang terjadi disini adalah aktivitas hunian yang
bersifat intern, sedangkan untuk kelompok kegiatan lain merupakan
sebagai penunjang kegiatan utama.
Aktivitas-aktivitas yang terjadi di dalam sebuah kondominium secara garis
besar dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. Kelompok Aktivitas Hunian
Bentuk dari aktivitas ini merupakan aktivitas yang dilakukan oleh
penghuni kondominium, seperti :
Aktivitas intern
Aktivitas yang dilakukan oleh penghuni di dalam unit hunian (tidur,
menyiapkan makanan, makan, mandi, buang air besar atau kecil,
menerima tamu, interaksi sosial dan sebagainya).

98
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Aktivitas ekstern
Aktivitas yang dilakukan oleh penghuni di luar unit hunian (rekreasi, olah
raga, berbelanja, dan sebagainya).
b. Kelompok Aktivitas Pengelola
Bentuk dari aktivitas ini adalah aktivitas pelaksanaan tugas dalam
mengelola dan mengkoordinir berlangsungnya kegiatan hunian, seperti :
Kegiatan pimpinan
Kegiatan kesekretariatan
Kegiatan teknik (mekanikal elektrikal dan perawatan bangunan)
Kegiatan non teknik (keuangan dan pemasaran)
Kegiatan pertemuan staff dan karyawan
Kegiatan keamanan
c. Kelompok Aktivitas Penunjang
Kelompok aktivitas penunjang ini timbul karena adanya aktivitas
ekstern dari masing-masing penghuni kondominium, antara lain:
Kegiatan menerima tamu publik
Kegiatan pertemuan
Kegiatan makan, minum, berkumpul dengan teman-teman / relasi
Kegiatan olah raga
Kegiatan berbelanja
Kegiatan rekreasi

d. Kelompok Aktivitas Servis


Kelompok aktivitas servis ini sebagai fasilitas pelayanan serta
perawatan bangunan kondominium, seperti :
Kegiatan pelayanan mekanikal eletrikal
Kegiatan pelayanan perawatan bangunan
Kegiatan pelayanan pengamanan bangunan
Kegiatan pelayanan lavatory
e. Kelompok Aktivitas Tamu

99
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Merupakan aktivitas berkunjung ke kondominium untuk bertamu atau


mengunjungi pengelola maupun penghuni.
f. Kelompok Aktivitas Parkir
Kegiatan parkir penghuni
Kegiatan parkir tamu
Kegiatan parkir pengelola
[Link]. Rental Office
A. Kelompok Pelaku
Pengguna bangunan perkantoran adalah mereka yang secara
langsung melakukan aktivitas di dalam bangunan ini, pelaku aktivitas
yang terdapat dalam perkantoran dapat dikelompokkan menjadi:
a. Kelompok Penyewa
Penyewa pada rental officeadalah masyarakat yang memiliki
status sosial tinggi(golongan menengah ke atas), baik orang Indonesia
maupun orang asing, di mana kelompok ini umumnya mempunyai
selera dengan tuntutan etos disiplin kerja yang tinggi, mengutamakan
kerjasama, keamanan dan kenyamanan, serta prospek keuntungan
investasi yang tinggi. Adapun kelompok pelaku aktivitas perkantoran
bisadikelompokan menjadi:
Pengelola Kantor yang mengurusi administratif kantor.
Penyewa kantor yang berasal dari berbagai kegiatan dan
konsentrasi kerja yang berbeda.
b. Kelompok Pengelola
Kelompok pengelola rental office adalah pemilik bangunan
atau pihak yang diberi wewenang oleh pemilik untuk mengelola
bangunan rental office dan memenuhi kebutuhan penghuni terhadap
fasilitas yang diperlukan. Bisa juga merupakan suatu badan organisasi
fungsional untuk mengelola rental office dengan imbalan jasa
berdasarkan kontrak yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.
Untuk mengetahui kebutuhan personil pengelola yang diperlukan.
c. Kelompok Tamu
Pelaku yang melakukan kegiatan berkunjung ke area
kondominium, baik untuk menemui pengelola maupun penghuni.

100
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Secara umum pihakpihak yang melakukan kegiatan di dalam


rental office/kantor sewa adalah sebagai berikut:

a) Pihak pengelola yang melaksanakan tugas administratif pengelolaan


dan tugas operasional bangunan, termasuk perawatan gedung dan
pelayanan kepada [Link] dalam kelompok ini adalah
manager dan staff administratif, dibantu divisi- divisi seperti bagian
pemasaran, enginering, kebersihan da lain sebagainya.
b) Pihak penyewa yang melakukan kegiatan bisnis dan menempati ruang
yang [Link] dalam kelompok ini adalah
penyewa(tenant) beserta relasinya.

Skema Pelaku Jumlah Rental Office

101
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Diagram Pola Kegiatan Pengunjung Kantor

Diagram Pola Kegiatan Pengelola Kantor

102
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Diagram Pola Alur Barang di dalam Kantor

4.3.2. Pendekatan Kebutuhan dan Kelompok Ruang

[Link]. Shopping Center

Kebutuhan ruang ini terjadi akibat adanya tuntutan aktifitas


yang berlangsung dalam bangunan maupun luar bangunan, untuk
mewadahi semua aktifitas yang ada. Kelompok ruang berdasarkan
aktifitas shopping dalam Shopping Center :
1. Kelompok Aktivitas Utama
a. Plaza (korodor)
b. RuangPertokoan
Retail Store
Anchor Tenant (Restoran, Coffee Shop, Food Court,
Supermarket, Departement Store, Cineplex, Game Center)
2. Kelompok Aktivitas Pengelola
a. Ruang General Manajer
Ruang Kerja Manajer
Ruang Sekretaris
Ruang Tamu
b. Ruang Manajer
Ruang Kerja Manajer Office Operation
Ruang Kerja Manajer Building Operation
c. Ruang Kepala Divisi
Ruang Kerja Kepala Divisi General Affair
Ruang Kerja Kelpala Divisi Marketing
Ruang Kerja Kepala Divisi Finance & Accounting
Ruang KerjaKepala Divisi Costumer Service
Ruang KerjaKepala Divisi Housekeeping
Ruang KerjaKepala Divisi Security & Parking
Ruang KerjaKepala Divisi Engineering
Ruang Kerja Kepala Divisi Entertainment

103
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

d. Ruang Kepala Seksi


Ruang Kepala Seksi Finance
Ruang Kepala Seksi Accounting
Ruang Kepala Seksi Housekeeping
Ruang Kepala Seksi Gardener
Ruang Kepala SeksiSipil
Ruang Kepala Seksi Security
Ruang Kepala Seksi Parking
Ruang Kepala SeksiMekanikal
Ruang Kepala SeksiElektrikal
Ruang Kepala Seksi AC
Ruang Kepala Seksi Elevator
e. Ruang Staf
Ruang Staf General Affair
Ruang Staf Marketing
Ruang Staf Finance & Accounting
Ruang Staf Costumer Service
Ruang Staf Housekeeping
Ruang Staf Security & Parking
Ruang Staf Engineering
Ruang Staf Entertainment

3. Kelompok Aktivitas Pelengkap


ATM
4. Kelompok Aktivitas Pelayanan
Pos Keamanan
Mushola
Lavatory
Ruang PPPK
5. Kelompok Aktivitas Pendukung
Gudang Peralatan
Ruang Perawatan Bangunan
Ruang Bongkar Muat Barang
Ruang Mesin AC
Ruang PABX
Ruang AHU
Ruang Genset
Pembuangan Sampah
Ruang Pompa
Ruang Panel Kontrol
6. Parkir
[Link]. Apartemen

Karena bangunan ini merupakan hunian yang dimana kegiatan,


perilaku dan kebutuhan penghuninya lah yang menjadi konsentrasi utama
104
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

dalam perancangannya, sehingga diperlukannya pembagian fungsi ruang


sesuai dengan perilaku dan kebutuhan penghuni.
a. Fasilitas Hunian
Unit hunian apartemen terdiri dari 3 tipe yaitu : satu kamar tidur, dua
kamar tidur dan tiga kamar tidur, dengan fasilitas yang disediakan
meliputi :
- Foyer - KM/ WC
- Ruang duduk - Pantry
- Ruang makan - Balkon
- Ruang tidur
Fasilitas tersebut merupakan fasilitas yang disediakan dalam sebuah unit
apartemen. Perbedaan tiap unitnya didasarkan pada :
- Banyaknya ruang tidur.
- Luas ruang tiap unit.
- Ruang tambahan seperti ruang tidur pembantu, ruang belajar, gudang,
ruang servis.
- Jumlah lantai 1 atau 2 lantai ( simpleks atau dupleks)
Jenis unit apartemen dibedakan menjadi :

Gambar 4.1. Layout Standard 1 Bedroom


Sumber : survei dan literatur
- Satu ruang tidur dengan luasan 41 m2

105
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 4.2. Layout Standard 2 Bedroom


Sumber : survei dan literature
- Dua ruang tidur, terdiri dari dua lantai, dengan luas 57 m2

Gambar 4.3. Layout Standard 1 Bedroom


Sumber : survei dan literatur
- Tiga ruang tidur, terdiri dari dua lantai, dengan luas 66 m2
b. Fasilitas Penunjang
Area apartemen ini tidak hanya digunakan sebagai area tertutup atau
privat bagi penghuninya, tetapi juga difungsikan sebagai area komunal.
Ruang komunal atau ruang publik memiliki beragam jenis dan fungsi seperti
contohnya mall, restaurant dan foodcourt, lapangan olahraga, perpustakaan,
amply theater, rumah ibadah dan juga taman. Karena apartemen ini
diperuntukan untuk kalangan menengah keatas, maka ruang komunal yang
terdapat pada bangunan ini dapat memiliki beragam fungsi, yakni :
- Olah raga
- Terdapat sarana olah raga yaitu kolam renang, jogging trackdan bike track.
- Entertainment
- Disediakan pula sarana entertainment atau hiburan berupa food hall yang terdiri dari
- Caffe dan restoran yang di desain outdoor, serta penampahan mini stage untuk sarana
hiburan.
- Music secara langsung.
106
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Fasilitas penunjang yang dapat digunakan oleh penghuni apartemen ( privat)


meliputi :
- Lobby.
- Fitness center, spa, kolam renang, bike trackdan jogging track.
- Ruang bermain, meliputi bilyar, tenis meja, catur.
- Play ground dan tempat penitipan anak.
- Parkir.
c. Ruang terbuka
Terdapat ruang terbuka hijau yang terdiri dari plaza, play ground, area
duduk sebagai fasilitas outdoor yang menghibur dan memberi suasana bagi
penghuni. Pula dari kalangan menengah keatas. Seperti halnya apartemen
yang ada di Eropa ataupun di Amerika yang memiliki area communal
sebagai space bagi masyarakat kota sebagai pemenuhan wadah kreatifitas,
hiburan dan rekreasi. Fasilitas yang menjadi fasilitas publik dan penghuni
terdiri dari :
- Food hall, dan tanent yang meliputi toko buku, ATM,toko obat,
supermarket, dan caffe.
- Parkir
d. Fasilitas Pengelola
Fasilitas ini digunakan oleh pengelola apartemen, yang meliputi :
- Kantor untuk pengelola
- Ruang makan
- Ruang rapat
- Gudang

No Aktivitas Ruang
PE N G H UN I
Intern Utama
Berkumpul, berinteraksi sosial,
1 Ruang keluarga
menonton TV, dan menerima tamu
2 Tidur, belajar, dll Ruang tidur
3 Makan, minum Ruang makan
4 Memasak, cuci piring Pantry
5 Buang air besar / kecil WC
6 Mandi Kamar mandi
7 Menyimpan barang Gudang
8 Menikmati view dan udara luar Balkon

107
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

9 Tempat pembantu rumah tangga Ruang pembantu


10 Parkir Parkir penghuni
Ekstern Penunjang
1 Menerima tamu Lobby
2 Menanyakan informasi Receptionist
Kegiatan rekreasi dan olahraga
Berenang Swimming pool
Stretching, body building Fitness center
3
Tempat bermain anak Children playground
Bermain basket Lapangan basket
Bermain tenis Lapangan tenis
Kegiatan perawatan tubuh, kecantikan, Salon
4
dan relaksasi Spa
5 Kegiatan jasa pencucian pakaian Dry cleaning and laundry
6 Kegiatan makan, minum, ngobrol Restaurant
7 Kegiatan berbelanja Minimarket
8 Kegiatan banking ATM center
Klinik
10 Kegiatan pelayanan kesehatan
Apotek
TAMU / PENGUNJUNG
1 Bertamu Lobby
2 Menanyakan informasi Receptionist
3 Parkir Parkir pengunjung
PE N G E LO LA
1 Bekerja
Building Manager Ruang Building Manager
Sekretaris Ruang Sekretaris
Divisi Teknik - Ruang Kepala Divisi
- Ruang Staf Divisi ME (Teknisi)
&
Divisi Non Teknik - R. Staf [Link] Bangunan
- Ruang Kepala Divisi
- Ruang Staf Divisi Pemasaran
- Ruang Staf Divisi Keuangan
- Ruang Staf Divisi Administrasi
- Receptionist
2 Duduk, koordinasi antar security Ruang Divisi Keamanan
Mengawasi keadaan, mengarsipkan Pos Jaga
identitas tamu, menjaga parkir Ruang Monitoring Pengawasan /
Mengontrol keamanan aktivitas yang ada
CCTV
di gedung
3 Menerima tamu Lobby
4 Pertemuan / rapat Ruang Rapat
5 Bersantai / istirahat Ruang Istirahat

108
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

6 Makan Kantin
7 Buang air besar / kecil Lavatory
8 Beribadah Mushola
9 Menyimpan barang Gudang
10 Parkir Parkir pengelola
SERVIS
1 Kegiatan Pelayanan Mekanikal
Elektrikal
Ruang genset
Menyimpan peralatan mesin diesel
Menyimpan pembangkit listrik / trafo Ruang trafo
Menyimpan panel listrik utama
Penyimpan panel distribusi listrik ke alat- Ruang Main Distribution Panel
alat listrik di bangunan (MDP)
Mengontrol kinerja peralatan gedung Ruang Sub Distribution Panel
(listrik, AC, telepon) (SDP)
Mengontrol fasilitas komunikasi antar
Ruang kontrol
ruang
Menyimpan mesin AC (chiller)
Menyimpan menara pendingin Ruang PABX
Menyimpan AHU
Ruang chiller
Menampung air dari PDAM & artesis
Menampung air dari ground tank
Menyimpan dan mengontrol kinerja Ruang colling tower
pompa air (air kotor dan air bersih)
Ruang Air Handling Unit (AHU)
Memproduksi air panas dengan
Ground tank
temperatur tinggi sehingga
Roof tank
menghasilkan uap atau steam
Mengolah limbah (grey & black water) Ruang pompa
Mengontrol pengolahan limbah

Ruang boiler

Ruang Instalasi Pengolahan Air


Limbah
Ruang kontrol IPAL
2 Kegiatan Pelayanan Perawatan
Bangunan
Ruang cleaning service
Jasa kebersihan (koordinasi antar petugas
Locker
kebersihan, ganti pakaian, menyimpan
109
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

barang pribadi dan peralatan


kebersihan, beristirahat) Ruang workshop & gudang
Menyimpan peralatan operasional
4 Beribadah Mushola
5 Buang air besar / kecil, cuci muka Lavatory
6 Bongkar muat barang Loading dock
7 Sirkulasi vertikal
Lift, tangga, tangga darurat
Manusia
Lift barang / servis
Barang

[Link]. Rental Office

A. Kelompok Kebutuhan Ruang


Penentuan kebutuhan ruang berdasarkan seberapa banyak kegiatan
yang harus ditampung oleh setiap rental office dalam tiap-tiap fungsi yang
[Link] karena itu dilakukan pengelompokan berdasarkan fungsi-fungsi
kegiatan tersebut, meliputi:
a) Kebutuhan kegiatan utama yang terdiri dari unit-unit perkantoran yang
disewakan.
b) Kelompok kegiatan pengelola yang terdiri dari:
Ruang manajer
Ruang wakil manajer
Ruang [Link] keuangan
Ruang [Link] umum
Ruang [Link] pemasaran
Ruang [Link] teknik
Ruang supervisi dari tiap bidang keahlian
Ruang kerja tiap kepala ahli
Ruang kerja staf dari tiap divisi
Ruang rapat
Ruang tamu dan lobby pengelol
Gudang pantry
c) Kelompok kegiatan pelengkap yang terdiri dari:
Fasilitas koferensi membutuhkan ruang pertemuan yang dapat
menampung kegiatan pertemuan perusahaan yang menyewa rental
office,ditambah ruang perjamuan,dapur,hall,lavatory dan gudang.
Ruang restoran dan cafetaria membutuhkan ruang
makan,counter,dapur,lavatory dan gudang
Fitness center membutuhkan ruang latihan,ruang sauna,ruang
ganti,ruang basuh,locker,ruang kantor,gudang dan lavatory.

110
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Minimarket membutuhkan ruang penjualan, ruang pengepakan, ruang


kantor, locker dan bongkar muat.
Poliklinik membutuhkan ruang tunggu,ruang administrasi,ruang
periksa,gudang obat dan lavatory.
Retail shop yang membutuhkan ruang informasi, kasir, ruang
penjualan.

d) Kelompok Kegiatan Pelayanan


Perawatan dan keamanan (worksop, ruang jaga ,gudang alat, cleaning
service ,locker ).
Pelayanan teknis( genset, pompa, travo dan panel )
Parkir dan lavatory
Ruang tunggu sopir membutuhkan ruang tunggu, kantin pantry dan
lavatory.
B. Hubungan Kelompok Ruang

Dalam pengelompokan fungsi ruang dan hubungannya dengan ruang lain :

4.3.3. Pendekatan Besaran dan Program Ruang

[Link]. Shopping Center

Besaran ruang ini diperoleh dari Data Arsitek dan perda no


12 tahun 2010

BESARA
JUMLA
FURNITURE N
NO NAMA RUANG H LAYOUT
(m) RUANG
RUANG
(m2)

111
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

1. Tenant Etalase (0,5 x 640 m2 4


1,2) 3 Buah 0
Meja kasir
(0.6 x 1.2) 1
Buah
Komputer
Kursi (0.45
x0.45) 1 Buah
Rak barang
(0,4 x 120 ) 4
buah
2. Factory outlet Media display 2560 m2 40
( 0.5 x 1.8) 10
Buah
Cermin (0.5 x
0.2 ) 5 buah
Mejakasir (0.6
x 1.2) 1 Buah
Komputer
Kursi (0.45
x0.45) 1 Buah
Manekin (o.1
x 0.5 )
Ruangganti (1
x 1)
3. Swalayan 1500 m2 1

112
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

4. Departemen 3000 m2 2
store

5. Game Loket (3 x 2) 750 m2 1


Aneka
permainan

6. Cinema Kursipenonton 180 m2 1


( 0.5 x 0.5 )
100 buah
Meja (1.2 x
0.8 )1 buah
Kursi (0.45 x
0.45 ) 1 buah

7. R. staf MejaSedang(0 80 m2 1
,8 x 1,2) 10
Buah
Kursi (0,6 x
0,6) 10 Buah
LemariArsip
(0,5 x 1,5) 10
Buah

Total = 20,7
m2

113
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

8. R .informasi LemariArsip 7.5 m2 1


(0.60 x 1.50)
1 Buah
MejaSedang
(0.8 x 1.5) 1
Buah
Kursi (0.60 x
0.60) 3 Buah

Total = 3.18
m2

9. R . General 24 m2 1
Manager

10. R . manager Lemari (1.2 x 12 m2 1


0.6 ) 2 buah
Kursi (0.45 x
0.45 )
Meja (1.2 x
0.6 )

11. R . Sekretaris LemariArsip 7.5 m2 1


(0.60 x 1.50)
1 Buah
MejaSedang
(0.8 x 1.5) 1
Buah
Kursi (0.60 x
114
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

0.60) 3 Buah

Total = 3.18
m2

12. R. Tamu Meja (1.2 x 6 ) 9 m2 1


1 buah
Sofa (1.75 x
80) 2 buah

13. R. Rapat ( 10 MejaSidang 24 m2 1


Orang ) (1.5 x 4) 1
Buah
Kursi (0.60 x
0.60) 10 Buah

Total = 9.6 m2

14. R. Workstation 25 m2 1
pengelolainfras (1.2 x 0,8 ) 5
trukturbanguna buah
n Kursi (45 x
45 ) 5 buah
Kompuer
Lemari (0.6 x
1.2 ) 2 buah

Total : 11.65

115
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

15. Gudang Storage (1.5 x 16 m2 1


0.5) 8 buah

16. Mushola ( 21 - Meja Kecil 17.70 m2 1


Orang ) (0.6 x 1) 1
Buah
- Karpet (1.5 x
2) 2 Buah

Total = 6.6 m2

17. Information Workstation 69 m2 1


center (120 x 80 ) 2
buah
Kursi (45 x
45 ) 3 buah
Kompuer
Microfondansp
eker

116
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

18. KM / WC (6 - BakMandi 81 m2 4
Orang) (0.60 x 0.6) 3
Buah
- Kloset (0.65
x 0.45) 3
Buah
- Wastafel
(0.60 x 0.50)
2 Buah

Total = 1.98
m2
19. PosSatpam - Meja(0. 3.24 m2 1
6x1.2) 1
Buah
- Kursi(0.
6x0.6) 1
Buah

Total = 1.08
m2
20. ATM Center - Mesin ATM 7m2 1
(0.80 x 0.5) 5
Buah
- Tempat
Sampah (0.2 x
0.2) 5 Buah

Total = 2.2 m2

117
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

21. Food Court Mejamakan 4 72 10


orang (0.9 x 0
0,9 ) 6buah m2
Kursimakan
(0,45 x 0,45 )
24 buah
Mejakasir
(1,20 x 0,6 )
Kursi (0.45 x
0.45)
Tempat
display (3 x
0,6)
Kulkas (75
x75)
Tempatcuci
(0.6 x1)
Lemari (0.6
x1.2)
Meja (0.6 x
1.2)
22. R. Genset Genset 51. 1
5

23. R . UHU 25 1

118
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

24. R . Panel Panel 12 1

25. R .Pompa

12 1

26. Kantor Work station


keamanan (1.2 x 0.8 )3
buah
9
Kursi (0,45 x 1
m2
0,45) 1 buah
Lemari (0.6 x
1.2)
27 Penitipanbar Storage (0.5 x
ang 150) 2 buah
Meja (0.6 x 7.5
1.2) 1 buah 1
m2
Kursi ( 0.45 x
45 ) 1 buah

28. Parkirmobil 6000 unit 90


mobil 00 1
m2
29. Parkir motor 1000 unit 14
motor 00 1
m2
PROGRAM RUANG 20.249,94 m2

[Link]. Apartemen

119
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

[Link]. Rental Office

A. Kelompok Kegiatan Utama

Kapasi
Standar Sumb Luas
No Jenis Ruang tas
(m2) er (m2)
(org)
1 Unit ruang kantor yang - - analis 7.422

120
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

disewakan a
2 Luas lantai servis 30% 2.227
Total Luas Kantor 9.649
Sewa

C. Kelompok Kegiatan Pengelola

121
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

D. Kelompok Kegiatan Pengunjung

No Jenis Ruang Kapasitas Standar Sumb Luas


(org) (m2) er (m2)
1 [Link] guna
[Link] 200 0,8 DA 160
Stage & - 30% [Link] DA 48
Perlengkap
2 R. Pertemuan
[Link] 150 0,8 DA 120

122
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Stage & - 30% [Link].1 M2 DA 36


Perlengkap X Kapasitas
Audience
Lobby & Lounge 24 DA 24
Toilet Pria >100 4 closet,4 POS 17,22
urinoir,5 wast
Toilet Wanita >100 5 closet,5 wast POS 15,92
Gudang 7 2% Luas [Link] DA 67,2
Guna
Sirkulasi 20% 109,4
7
3 Cafetaria
[Link] 90 1,39-1,67 TSS 150,3
Dapur Jumlah yang 74,3-158,6 TSS 74,3
dilayani
[Link] & 10 Jenis standar TSS 21,08
counter
[Link] & 10 2,25 m2/org DA 22,5
istirahat
Toilet Sevice & R 2 toilet 1,2 x 1,5 TSS 3,6
Ganti
Gudang 1 15% Luas Dapur DA 12
Penyimpanan
Gudang 5 ton 1 m2 / 500 kg DA 10
pendinginan
Sirkulasi 20% 58,76
4 Fitness Center
[Link] 2 13,9 TSS 27,8
[Link] Alat latihan 9 X 12 AJM 108
[Link] 20 0,8 DA 16
Gudang Lebar maksimal Gudang kecil = DA 9
5m 3x3m
[Link] & Toilet 20 0,5 DA 10
Sirkulasi 20% 34,16
6 Poliklinik
Ruang tunggu 10 1,92 DA 19
Ruang 1 79 DA 9
administrasi
Ruang periksa - 20 25 DA 25
Toilet 1 toilet 1,2 x 1,5 TSS 1,8
Gudang obat - 10% luas DA 5,48
Sirkulasi 20% 12
7 Mini market
Sales area 60 0,90 DA 54

123
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Kasir & counter Meja counter 1,8 x 2,7 TSS 4,86


Kantor 1 7 POS 7
pengelola
Toilet 1 toilet 1,2 x 1,5 TSS 1,8
Gudang - 10% mini DA 7,25
penyimpanan market
Sirkulasi 20% 15
Jumlah 1668,
24

E. Kelompok Kegiatan Pelayanan

N Jenis Ruangan Kapasitas Standar (m2) Sumb Luas


o (Org) er (m2)
1 Perawatan & Pengamanan
[Link] Peralatan kerja - DA 47
[Link] & 25 2,25 m2 / org DA 56,25
Loker
[Link] - 20 25 DA 25
Sirkulasi 20% 25,65
2 Layanan teknis
Tangga darurat 20 unit 6,2 DA 124
Lift penumpang 4 unit 6,5 (20 org = DA 26
1500 kg)
Lift barang 2 unit 6 (40 org = 300 DA 12
kg)
[Link] lift 2 19,6 DA 39,2
[Link] AC 1 16 22 DA 22
[Link] 1 unit 20 m2 / unit SB 20
[Link] 10 20 m2 / unit SB 200
[Link] 1 - SB 60
[Link] tank & 1 1 m2 / unit SB 36
pompa
Shft sampah 10 unit - SB 10
[Link] & panel 1 4 x 3,7 SB 50
[Link] Perabot - DA 14,8
[Link] 1 - SB 25
Jumlah 639
Sirkulasi 20% 127,8
3 Mushola 40 1,375 m2 / org DA 55
Sirkulasi 20% 11
Toilet umum 4 toilet 1,2 x 1,5 TSS 7,2
Sirkulasi 20% 2,16

124
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

JUMLAH 996,0
6

4.4. Pendekatan Sirkulasi Bangunan

4.4.1. Horizontal

Pada pola sirkulasi pusat perbelanjaan diterapkan pola sirkulasi linier


bercabang untuk mempermudah setiap tujuannya, sedangkan pola sirkulasi radial
diterapkan pada lobi atau void massa pusat perbelanjaan itu sendiri.

Pada pola sirkulasi hotel diterapkan pola sirkulasi linier menekuk pada
banguan yang memanjang untuk mengurangi kebosanan, sedangkan pola sirkulasi
radial pada lobi hotel dengan lobi sebagai pusat orientasi kegiatan.

Pada proyek hotel system sirkulasi horizontal yang cocok digunakan


adalah double loaded, karena setiap unit kamar apartemen tidak membutuhkan
penghawaan alami karena penghawaan utamanya adalah penghawaan buatan,
selain itu dengan system double loaded penggunaan koridor menjadi lebih
optimal karena melayani dua sisi bangunan.

4.4.2. Vertikal

Eskalator pada Shopping Center

Gambar 4.4. Eskalator


Sumber :[Link]

Sistem Eskalator

125
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Eskalator atau yang lazim disebut sebagai tangga berjalan, adalah sebuah
alat transpotasi konveyor untuk membawa orang antara lantai bangunan.
Peralatan ini terdiri dari motor yang menggerakkan rantai, dan terhubung dengan
anak-anak tangga yang saling terkait sedemikian rupa, sehingga anak-anak tangga
tersebut tetap berposisi horisontal.

Eskalator digunakan untuk menggantikan elevator atau lift tidak efisien


kalau dipakai, atau agar orang yang mempergunakan tetap dapat memperhatiakn
sekeliling pada saat memakai. Karena hal tersebut, maka tempat yang banyak
memakai adalah pusat perbelanjaan, hotel, pusat konvensi, department store,
bandara dan bangunan-bangunan publik.

Keuntungan dari eskalator banyak. Peralatan ini memiliki kapasitas untuk


memindahkan sejumlah besar orang, dan dapat ditempatkan dalam ruang fisik
yang sama seperti yang bisa memasang tangga. Mereka tidak menunggu interval
(kecuali selama lalu lintas yang sangat padat), pealatan ini dapat digunakan untuk
membimbing orang menuju pintu keluar utama atau pameran khusus, dan
mungkin tahan cuaca untuk penggunaan di luar ruang.

Eskalator, seperti trotoar bergerak, yang didukung oleh motor arus bolak-
balik (AC motor) berkecapatan konstan dan bergerak di sekitar 1-2 kaki (0,30-
0,61 m) per detik. Maksimum sudut kemiringan eskalator ke lantai tingkat
horizontal adalah 30 derajat dengan kenaikan standar sampai dengan sekitar 60
kaki (18 m). Eskalator modern menggunakan satu kesatuan anak tangga dari
alumunium atau baja yang bergerak dan terhubung, sehingga menghasilkan gerak
yang tidak terputus. Berikut ini gambar bagian dari eskalator.

126
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Gambar 4.5. Proses kerja mesin Eskalator

Sumber :[Link]

Motor elektrik berfungsi untuk menggerakkan drive gear yang dimana


fungsi utamanya menggerakkan rantai penggerak anak tangga (chain guide), serta
menggerakkan penggerak pegangan tangga (handrail drive). Untuk membantu
gerak chain guide, dipasang roda gigi tambahan disebut return wheel. Sedangkan
rel bagian dalam untuk menambah kekuatan dari anak tangga, mengubah posisi
anak tangga apakah horisontal (pada saat di bagian atas), atau miring (pada saat di
bagian bawah) dan agar tetap pada jalurnya.

Gamabar 4.6. Kerja mesin Eskalator

Sumber :[Link]

127
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Komponen pegangan tangga yang terbuat dari karet pada bagian


terluarnya (handrail belt), memiliki struktur yang cukup kompleks. Pada bagian
dalamnya terdapat sabuk besi yang menjaga agar kuat menahan tarikan dari
handrail drive, menjaga agar tetap pada jalurnya, dan melindungi dari vandalisme
(berusaha memotong karet handrail).

Teknologi pada eskalator semakin berkembang selain memiliki sensor


untuk menonaktifkan atau melambatkan motor, bertambah panjangnya (memiliki
kekuatan yang tinggi), serta memiliki bentuk spiral.

Eskalator merupakan peralatan yang memerlukan banyak perhatian


masalah keamanan, banyak terjadi permasalahan diantaranya terjepit. Maka demi
keamanan, eskalator dilengkapi beberapa pengaman sesuai dengan kebutuhan,
juga tanda-tanda peringatan.

Lift

I. JENIS ELEVATOR / LIFT

Secara umum jenis lift dilihat dari pemakaian muatan dapat digolongkan menjadi

3 (tiga) kelompok, yaitu :

1. Lift Penumpang ( Passenger Elevator)

2. Lift Barang ( Freight elevator )

3. Lift Pelayan ( Dumb Waiter, lift barang berukuran kecil ).

Secara teknis lift-lift tersebut tidak jauh berbeda secara prinsip. Perbedaan
yang nyata pada interior dan perlengkapan operasi dari lift-lift tersebut. Juga pada

128
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

sistem pengamanan operasi yang dipasang sebagian besar sama, hanya pada
dumb waiter sistem pengamanan operasi yang disediakan lebih sederhana.

Perbedaan tersebut akan semakin nyata apabila dibandingkan antara lift


barang untuk pabrik (besar) dengan lift penumpang yang dipergunakan didalam
gedung-gedung diperkantoran. Lift barang untuk pabrik (sesuai dengan
kebutuhan) dilengkapi dengan pembuka pintu yang lebih besar, baik dipasang
dengan pembukaan secara horizontal (terdiri lebih dari dua pintu) maupun yang
dipasang dengan sistem pembukaan pintu vertikal (biasanya terdiri dari dua daun
pintu atau lebih)

Perbedaan lain juga dapat dilihat pada cara penulisan kapasitas muatannya.
Kapasitas digerakan pada COP (Car Operation Panel, Operation Panel Board)
didalam kereta biasanya dinyatakan dalarn kilogram (kg) atau (Ib) untuk jenis lift
barang, sedangkan untuk penumpang sering dinyatakan dalam jumlah orang
(persons) atau kombinasi keduanya. Akan tetapi perbedaan tersebut akan menjadi
semakin tipis apabila kita bandingkan lift penumpang dan lift barang yang
terpasang dalam gedung perkantoran. Hal tersebut disebabkan karena sebagian
besar lift barang yang terpasang didalam gedung hunian dipersyaratkan juga
untuk dapat mengangkut penumpang atau orang.

Jenis Elevator / lift dilihat dari penggunaannya, adalah ;

1. Passenger Elevator.

2. Observation Elevator (Panoramic Elevator, Lift Capsul).

3. Service Elevator (passenger-freight elevator).

4. Fireman lift (lift Pemadam Kebakaran).

Observation elevator adalah jenis lift penumpang yang sebagian besar pada
dindingnya atau pintunya dilengkapi dengan kaca. Sehingga memungkinkan
penumpangnya dapat melihat kearah luar. Lift jenis ini biasanya dipasang pada
pertokoan atau hotel yang memiliki pemandangan yang bagus.

129
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

KOMPONEN UTAMA ELEVATOR

Komponen utama elevator terdiri dari 2 ( dua ) bagian besar , yaitu ruang mesin
( Machine Room ) dan ruang luncur ( Hoistway ).

1. Ruang mesin ( Machine Room )

Ruang mesin adalah ruang terpenting, dimana diruangan tersebut terjadinya


semua proses pengoperasian elevator berlangsung secara keseluruhan. Didalam
ruang mesin terdapat beberapa alat penggerak elevator.

2. Motor penggerak

Motor penggerak elevator ini memiliki asupan daya tegangan bolak-balik


(Ac) dari PLN yang sangat berperan dalam pelaksanaan kerja elevator, motor
penggerak ini mempunyai kemampuan putar antara 50 putaran per menit sampai
dengan 210 putaran per menit. Dengan kapasitas tegangan motor yang
disesuaikan dengan kapasitas angkut .

Motor penggerak ini dilengkapi dengan rem magnet ( magnetic brake ) yang
berfungsi menahan motor ketika kereta telah sampai pada lantai yang dituju,
pergerakan cepat atau lambatnya elevator diatur oleh PLC (Programable Logic
Control) . Motor penggerak dalam menarik dan menurunkan elevator
menggunakan tali baja ( rope ) yang melingkar pada puli mesin ( sheave ).

Jenis Penggerak Elevator / lift pada umumnya

Pada umumnya jenis penggerak lift dapat digolongkan menjadi dua kelompok

yaitu :

A. Lift dengan sistem pengerak hidrolis (hydrolic elevator).

B. Lift dengan sistem penggerak dengan motor listrik (traction type elevator).

Perbedaan pokok dari kedua jenis lift tersebut yaitu :

130
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

No Perbandingan Traction Machine Hydrolic

1. Pelayanan tidak terbatas terbatas 20 meter

2. Pemakaian Lebih dari 80 start /stop perjam. Terbatas 80 start /stop


perjam

3. Kecepatan Tidak terbatas (1000m/menit) Terbatas (maks 90


m/menit)

Tangga Darurat

Gambar 4.7. Tangga Darurat


Sumber :[Link]

Tangga darurat adalah tangga yang digunakan untuk mengevakuasi atau


menyelamatkan penghuni gedung dari pengaruh bahaya.

Syarat tangga darurat :

a) Letaknya berhubungan dengan dinding luar bangunan dan mempunyai pintu


akses keluar gedung

b) Dilengkapi dengan pintu dari bahan tahan api sekurang-kurangnya selama 3


jam

c) Pada bagian bordes dilengkapi jendela kaca yang bisa dibuka dari luar untuk
penyelamatan penghuni

d) Dilengkapi cerobong pengisap asap di samping pintu masuk

e) Pada tangga darurat harus dilengkapi dengan lampu peneragnan dengan


supply baterai darurat

131
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

4.5. Pendekatan Arsitektural


4.5.1. Pendekatan Struktur Bangunan
Beberapa persyaratan struktur bangunan antara lain adalah sebagai berikut :
Keseimbangan dan kestabilan, agar massa bangunan tidak bergerak akibatganguan
alam ataupun gangguan lain.
Kekuatan, yaitu kemampuan bangunan untuk menerima beban yang ditopang.
Fungsional yaitu fleksibilitas sistem struktur terhadap penyusunan pola
ruang,sirkulasi, sistem utlitas dan lain-lain.
Ekonomis dalam pelaksanaan maupun pemeliharan.
Estetika, struktur dapat menjadi ekspresi arsitektur yang serasi dan logis.
Sistem struktur pada bangunan terdiri atas 3 bagian, yaitu:
1. Sub Structure
Sub structure adalah struktur bawah bangunan atau pondasi
jenis struktur tanah, di mana bangunan tersebut berdiri.
Berdasarkan hal ini, maka kriteria yang mempengaruhi
pemeliharaan pondasi adalah :
- Pertimbangan beban keseluruhan dan daya dukung tanah.
- Pertimbangan kedalam tanah dan jenis tanah
- Perhitungan efesiensi pemilihan pondasi
2. Mid Structure
Mid structure adalah struktur bagian tengah bangunan yang
terdiri atas :
- Struktur rangka kaku (ring frame structure)
- Struktur dinding rangka geser (frame shear wall structure)
3. Upper structure
Upper structure adalah struktur bagian atas bangunan. Sistem
struktur yang digunakan pada bagian ini dapat berupa sistem
konvensional untuk grid bangunan dengan bentang kecil dan
sistem struktur advance untuk grid bangunan dengan bentang
lebar.
Elemen-elemen struktur yang akan dijadikan pendekatan
pemilihan sistem struktur yang akan dipakai dapat diuraikan
sebagai berikut.
Struktur Pondasi
a. Tiang Pancang Segitiga

132
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

b. Pile Cap
c. Pondasi Lajur Batu Kali
Struktur Badan
a. Sloof, Kolom dan Balok Beton Bertulang
b. Plat Lantai Beton Bertulang
c. Dinding Pas. Bata
d. Dinding Partisi (Curtain Wall)
Struktur Atap
a. Kuda kuda Rangka Baja Konvensional
b. Kuda kuda Beton Bertulang
c. Kuda kuda Baja Ringan
4.5.2. Pendekatan Pemilihan Bahan Bangunan
Bahan bangunan yang digunakan pada bangunan
Apartemen adalah material yang sudah sering digunakan seperti
keramik, beton dan batu bata yang dikombinasikan dengan material
modern seperti baja, timah, tembaga dan aluminium.

Kaca Beton

Gambar 4.8. Variasi Bahan Bangunan

Sumber : [Link]

4.5.3. Pendekatan Utilitas Bangunan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan


sistem utilitas :

133
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Penyesuaian sistem utilitas dengan susunan ruang dan


perletakan alat yang dipakai.
Untuk bangunan bertingkat, saluran vertikal membutuhkan shaft
di setiap lantai.
Sistem pendistribusian utilitas sedapat mungkin memberikan
kemudahan bagiperawatannya tanpa mengganggu kegiatan
yang sedang berlangsung.
a. Sistem Penerangan
- Sistem penerangan alami, dengan pesnggunaan
sun shading
- Sistem penerangan buatan, lebih banyak
digunakanuntuk ruang yang menampung kegiatan
promosi melaluipameran.
- Sistem Transportasi Vertikal
- Eskalator
- Lift
- Tangga darurat dengan jarak minimal 25 m
b. Sistem Akustik
- Pencegahan, memasang bahan-bahan penyerap
bunyipada struktur dinding.
- Pemisahan, memisahkan sumber bunyi dengan
ruangyang membutuhkan tingkat ketenangan tinggi.
- Masking , menutupi/melemahkan bunyi
yangmengganggu dengan memberi bunyi
background sepertiirama musik.
c. Sistem Komunikasi
- Komunikasi internal, memerlukan fasilitas interkom dan
sound system
- Sistem Komunikasi eksternal, fasilitas yang digunakan
telepon dengan sistem PABX, telepon umum, dan faximile
- Modem
d. Pengkondisian Udara
- Sistem pengkondisian udara alami, dibantu dengan
exhaust fan, intake fan
- Sistem pengkondisian udara buatan, AC central, AC
package.
e. Sistem Pembuangan Sampah
- Melalui Shaft khusus sampah
f. Sistem Energi Listrik
- Sumber tenaga utama PLN

134
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

- Sumber tenaga cadangan Genset


g. Jaringan Air Bersih
- Up Feed Distribution System
- Ground Water Tank
h. Jaringan Air Kotor
- Menggunakan sistem Two Pipe System
i. Jaringan Pengaman Terhadap Kebakaran
- Sistem pemdam api dari bahan kimia
- Hydrant Box
- Sprinkler
- Fire Extinguisher
- Smoke Detector dan Head Detector
j. Jaringan Pengaman Terhadap Tindak Kriminal
- Menggunakan CCTV (Close Circuit Television)
k. Jaringan Pengaman Terhadap Petir
- System Franklin, Farady, dan Prefentor

135
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Dari hasil pembahasan Landasan Program Perencanaan dan


Perancangan Mixed use building, maka dapat diperoleh kesimpulan
sebagai berikut :

1. Mixed use building dapat diartikan sebagai bangunan yang menyatukan


berbagai aktivitas dan fungsi yang berbeda disuatu kota sehingga
terjadi struktur yang kompleks dimana semua fungsi dan fasilitas saling
berkaitan dan mempunyai integrasi yang kuat antara fungsi-fungsi
tersebut.

2. Pemilihan Site untuk Mixed use building harus menyesuaikan


peruntukan lahan dan terletak tidak jauh dari pusat kota yang akan
dijadikan bangunan tersebut.

3. Untuk mendesain suatu bangunan diperlukan ketilitian yang sangat


baik, untuk menciptakan bangunan yang baik sekaligus memecahkan
permasalahan-permasalahan yang ada didalam lingkungan bangunan
tersebut.

4. Tidak hanya mendesain bagus, tetapi kita juga perlu mengerti


peraturan-peraturan dan ketetapan agar nantinya bangunan yang sudah
didesain tidak menimbulkas permasalan terkait peraturan dan ketetapan
yang sudah ada.

5. Analiasa yang tepat dan pemecahan masalah yang baik akan


memberikan desain bangunan yang nyaman, efektif untuk
mengutamakan pelayanan publik yang memuaskan.

136
STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 5

Saran

Saran-saran yang dapat Penulis sampaikan berkaitan dengan


perencanaan Mixed use building adalah sebagai berikut :

1. Sebelum merencanakan suatu bangunan Mixed use building


hendaknya didahului dengan studi kelayakan agar nantinya dapat
diperoleh hasil perencanaan yang memuaskan baik dari segi
mutu, biaya dan waktu serta perlu memperhatikan persyaratan-
persyaratan yang telah ditetapkan.
2. Ketika kita mendesain Mixed use building utamakanlah
kenyamanan publik untuk kesesuaian penataan ruang,
aksesbilitas dan sirkulasi ruang serta penentuan site Mixed use
building
3. Analisa dan pemikiran pemecahan masalah sangatlah di butuhkan
guna terciptanya bangunan yang sesuai desain kita, yang bisa
nyaman untuk digunakan.

137

Anda mungkin juga menyukai