0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
82 tayangan15 halaman

Emulsi: Definisi, Tipe, dan Stabilitas

Dokumen tersebut membahas tentang emulsi farmasi. Emulsi didefinisikan sebagai sistem dispersi yang terdiri dari minimal dua fase cairan yang tidak bercampur, dimana salah satu fase terdispersi dalam fase lainnya dengan bantuan zat pengemulsi. Dibahas pula tipe-tipe emulsi seperti minyak dalam air dan air dalam minyak, serta fenomena ketidakstabilan emulsi seperti creaming dan koalescence.

Diunggah oleh

Frengky Mawea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
82 tayangan15 halaman

Emulsi: Definisi, Tipe, dan Stabilitas

Dokumen tersebut membahas tentang emulsi farmasi. Emulsi didefinisikan sebagai sistem dispersi yang terdiri dari minimal dua fase cairan yang tidak bercampur, dimana salah satu fase terdispersi dalam fase lainnya dengan bantuan zat pengemulsi. Dibahas pula tipe-tipe emulsi seperti minyak dalam air dan air dalam minyak, serta fenomena ketidakstabilan emulsi seperti creaming dan koalescence.

Diunggah oleh

Frengky Mawea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR

TUGAS PENDAHULUAN
TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI II
EMULSI

OLEH :

KELAS : H.10
ASISTEN :TANRIN

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2013
EMULSI

1. Definisi Emulsi
a. Menurut FI Edisi III Hal. 9
Emulsi dalam sediaan cair yang mengandung bahan obat cair adalah

cairan obat terdispersi dalam cairan distabilkan dengan zat pengemulsi

atau surfaktan yang cocok.


b. Menurut RPS 18 TH Hal. 298
Emulsi adalah suatu sistem terdispersi yang terdiri dari paling sedikit

fase cairan yang tidak bercampur sebagian emulsi konvensional dalam

farmasi memililki ukuran partikel terdispersi memiliki ukuran diameter

0,1-100.
c. Menurut Lachman Hal. 1029
Emulsi adalah suatu cairan yang tidak stabil secara termodinamika yang

terdiri dari cairan yang tidak saling bercampur.


d. Menurut Parrot Hal. 355
Emulsi adalah sediaan polifase dari dua campuran yang tidak

bercampur salah satunya terdispersi dengan bantuan emulgator

keseluruh partikel lainnya ukuran diameter partikel 0,2-50 mm.


e. Menurut Farmasi Fisika Hal 522
Emulsi adalah sistem yang tidak stabil secara termodnamika

mengandung paling sedkit dua fase yang tidak bercampur satu

diantaranya terdispersi sebagau global-global (fase pendispersi) dalam

fase cair lainnya(fase kontinyu) distabilkan dengan adanya bahan

pengemulsi dan emulgator


f. Menurut Ansel Hal.376
Emulsi adalah suatu terdispersi di mana terdispersi dari larutan-larutan

kecil zat cair yang terdispersi keseluruhan pembawa yang tidak saling

bercampur.
g. Menurut [Link] IV Hal 6
Emulsi adalah sistem dua fase dimana salah satu cairannya terdispersi

dalam cairan yang lain dalan bentuk tetesan yang kecil.


h. Menurut FI Edisi IV
Emulsi adalah suatu dispersi keselkuruh pembawa yang terdiri dari

kurang dua fase cairan yang dalam sistem dispersi yang satu dispersi

sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya umumnya

dimantapkan zat pengemulsi.


2. Jelaskan tipe tipe emulsi
A. Menurut RPS 18 thn Hal 298
a. M/A (minyak dalam air) suatu emulsi diman minyak terdispesi sebgai

tetesan-tetesan dalam fase air dan distabilkan emulsi minyak dalam

air.
b. A/M (air dalam minyak) jika air adalah fase terdisplersi dan minyak

adalah medium pendispersi maka emulsi disebut air dalam minyak.


c. Emulsi ganda telah dikembangkan berdasarkan pencegahan

pelepasan bahan aktif dalam tipe emulsi ini dihadirkan tiga fase yang

disebut bentuk emulsi A/M atau M/A atau disebut emulsi didalam

emulsi.
B. Menurut Lachman Hal. 1030
Jika tetesan minyak didispersikan minyak dalam fase air kontinyu maka

emilsi disebut minyak dalam air jika minyak merupakan tipe air dalam

minyak (A/M) dua tipe emulsi yang tambahan digunakan sebagai fase

emulsi ganda tampaknya diterima ilehpara ahli kimia secara


keselkuruhan untuk membuat emulsi ganda dengan karakteristik minyak

air dan dalam minyak (A/M) adalah air dalam minyak dalam air (A/M).
C. Menurut Scoville Hal.315
Dalam farmasi cairan yang biasa digunakan dalam pembuatan emulsi

adalah air minyak,berturut-turut emulsi baik emulsi minyak dalam air

(A/M/) atau air dalam minyak. setiap tipe emulsi mempunyai tipe tertentu

dalam farmasi tipe minyak dalam air digunakan untuk pemakaian dalam

minyak biasanya dirancang sebagai lotio adalah craem secara umum

untuk pemakian luar.


D. Menurut DOM Martin hal. 508
Emulsi dipertimbangkan menjadi emulsi minyak dalam air fase minyak

dapat dimulai dari minyak hidrokarbon hingga semisolid adalah lilin

padat ketika mlinyak adalah bahan lainnya didespersikan sebagai fase

internal emulisinya disebuta minyak dalam air (A/M) kemudian

didespersikan adalah fase eksternal, sistem yang terdiri dari 31% air

umumnya membentuk emulsi (M/A) kondisinya juga menentukan pada

beberapa sistem seperti 45% air membentuk amulsi (M/A) saat air

didispersikan adalah fase internal emulsi disebut air dalam minyak,

milnyak lalu ditambahkan sebagai pendispersi adalah fase eksternal,

sistem yang terdiri dari 25% umumnnya membentuk emulsi (A/M)

beberapa sistem kadang-kadang kurang 10% akan memungkunkan

pembentukan emulsi (A/M) .Tipe ketiga digambarkan sebagai emulsi

traspal adalah mikro emulsi sifat transparan terjadi karena ukuran


partikel yang kecil dari fase terdispersi yang umumnya 0,05 mm atau

lebih kecil lagi.

3. Fenomena Ketidakstbilan Emulsi


a. Menurut Farmasi Fiska Hal. 1154
Ketidakstabilandalam emulsi farmasi dapat digolongkan :
1. Flokolasi Dan Creaming
Faktor-faktor yang ternyata penting dalam creaming dari suatu emulsi

dihubungkan oleh hukum stokes analisis persamaan memungkinkan

menunjukan bahwa fase terdispersi kurang rapat dibandingkan

dengan fase kontinyu yang merupakan hal umum daam emulsi M/A.

Kecepatan sedimentasi menjadi negatif yaitu dihasilkan creaming

yang mengarah keatas jika fase dalam lebih berat dari fase luar bola

akan mengendap fenomena ini sering terjadi pada emulsi A/M

dimana creaming mengubah kebawah,makin besar perbedaan

kecepatan fisikositas dari fase luar, sehingga laju creaming makin

besar dengan kenaikan gaya gravitasi dengan cara mensentrifugasi

laju creaming selama empat kali.


2. Penggolongan Dan Pencegahan
Cream yang menggumpal bisa dipastikan kembali dengan mengubah

dari dapar tertentu kembali suatu cairan yang homogen dari suatu

emulsi yang membentuk kembali cream dengan mencolok karena

bola-bola minyak masih dikellilingi oleh satu lapisan pelindung dan

zat pengemulsi jika terjadi pencegahan pencampuran maka biasa

tidak bisa [Link] kembali bola-bola tersebut dalam


emulsi yang stabil karena lapisan yang mengelingi partikel tersebut

telah rusak dengan minyak cenderung begabung


3. Berbagai jenis perubahan fisika kimia.
a. Inversi fase (gabungan fase)
Jika terjadi cepat selama pembuatan emulsi inversi fase seringkali

menghasilkan suatu produk yang lebh halkus tetapi jika

pembuatannya telah sesuai dan dipengaruhi oleh faktor lan ketika

emulsi sudah terbentuk hal ibi dapat menyebabkan CaCl 2 untuk

membentuk kalsium stearat,inversi juga dihasilkan dengan

mengubah perbandingan volume fase.


b. Menurut Rps18 Thn Hal 307
1. Creaming Dan Sedimentasi
Creaming adalah gerakan tetesan keatas dari tetesan relatif zat

terdispersi kedalam fase kontinyu sedangkan fase sedimentasi

adalah proses pemballikan yaitu gerakan kebawah dalam partikel

dalam beberapa emulsi suatu proses adalah lebih tergantung pada

sintitas dan fase terdispersi adalah fase klontinyu. Kecepatan

sedimentasi tetesan adalah partikel dalam cairan dihubungakan

dengan hukum stokes sementara persamaan hukum stokes untuk

sistem bermasa telah dikembangkan hukum ini sangat berguna

untuk menunjukan faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan

sedimentasi adalah creaming.


2. Agregasi Dan Koalensi
Lebih jauh tetesan disiapkan kembali dengan pengicokan stabillitas

[Link] emulsi dapat ditentukan dengan proses agregasi dan koalasensi

(flokulasi) tetesan yang terdispersi datang bersama namun tidak


bercampur koalesensi dalam komplit penyatuan tetesan diarahkan

untuk mengurangi jumlah tetesan dan pemisahan dua fase yang tidak

saling bercampur agregasi mendahului koalesensi dalam emulsi.


3. Inversi dapat dilihat ketika emulsi disiapkan dengan pemanasan dan

pencampuran dua fase kemudian didinginkan. Hal ini kira-klira karena

adanya daya larut bahan pengemulsi tergantung pada perubahan

temperatur-temperatur pada fase inversi adalah PH. Telah ditunjukan

mulai dipengaruhi oleh nilai HLB dan surfaktan semakin tinggi nilai

PH semakin besar tekanan untuk berubah.


c. Menurut Scoavilles Hal 314
Meskipun sifat dispersinya dapat dicapai dengan cepat dalam

kebanyaklan contoh ada kecenderungan individu partikel untuk

bergabung selama kontak dan berkonsentrasi membentuk partikel yang

lebih besar biasanya berlangsung sampai semua cairan yang tidak

saling bercampur berkumpul menjadi suatu massa yang besar dan

memebentuk lapisan tertentu dan terpisah dalam sediaan seperti emulsi

dikatakan pecah dan sifat terdistribusi dari fase dimana tidak lagi

merupakan masalah yang mudah melaui pengocokan [Link]

emulsi pecah, sesungguhnya bukan emulsi lagi, sejak dua fase telah

kembali menjadi bentuk emulsi yang tidak saling bercampuran beberapa

faktor akan mempengaruhi stabilitas dan pecahan berikutnya dalam

suatu emulsi. Dalam hal ini perlu diketahui tekhinik pemakaian dalam

penggunaan emulsi .juga bisa dengan penambahan sejumlah besar


garam alkohol dan perubahan PH yang tinggi pengocokan yang

berlebihan dan kuat akan memecah seperti perubahan yang disebabkan

oleh perubahan suhu.


Creaming adalah fenomena dan istimewa dari beberapa jumlah

creamung adalah proporsional terhadap fisikositas produk ketika emulsi

mengalami creming dia terpisah dalam dua fase adalah fase yang

fisikositasnya berbeda tapi dengan pengocokan lapisan menjadi

terdispersi dan emulsi menjadi sediaan yang homogen lagi.

4. Pengertian Emulgator Dan Teori Emulsifikasi


a. Pengertian Emulgator
1. Menurut Parrot hal 313
Emulgator adalah bahan akitf permukaan yang menurunkan

tegangan antar muka antara minyak dan air dan megelilingi tetesan

terdispersi dengan membentuk lapisan yang kuat untuk mecegah

koalesensi dan pemisahan fase terdispersi.


2. Menurut RPS 18 thn Hal 300
Emulgator adalah bahan pengemulsi yang ditambahkan untuk

mencegah koalesensi sampai pada tingkat yang tidak nyata.


3. Menurut Ansel Hal 251
Bila cairan berkontak dengan cairan yang tidak larut dan tidak saling

bercampur kekuatan tenaga yang menyebabkan masing-masing

cairan menahan pecahnya menjadi pertikel yang lebih kecil disebut

tegangan antar muka klecenderungan cairan ini bisa diukur dengan

cara kuantitatif dan jika lingkungan dari cairan tersebut adalah udara

dikenal sebagai tebangan permukaan.


Tegangan permukaan dari emuklsifikasi pengunaan zat-zat ini

sebagai pengemulsi dan penstabil yang menurunkan tegangan antar

muka dari kedua cairan yang tidak saling bercampur menghasilkan

gaya tolak menolak dan tarik menarik antar molekul masing-masing

cairan jadi bahan aktif membentuk memecahkan bola-bola besar

menjadi bola-bola kecil yang kemudian mempumyai kecendurungan

untum bersatu yang lebih kecil dari lazimnya. Teori oriented wedge

menganggap monomolekuler dari zat pengemulsi melingkari suatu

tetesan dari fase dala;m pada emulsi teori ini berdasarkan anggapan

bahwa zat pengemulsi tertentu mengarahkan dirinya disekitarnya dan

dalam suatu cairan yang merupakan gambaran kelarutannya pada

cairan tertentu dal;a;m suatu sisitem yang mengandung dua cairan

yuang tidak saling bercampur karena umumnya molekul-molekul zat

mempunyai suatu hidrofilik.


4. Menurut ScovileS Hal 316
Dalam semua cairan terdapat tekanan yang menyebabkan tetesan

dari cairan yang mempunyai bentuk pada permukaan paling bawah

dan hingga ukuran bentuk bola, karena itu jika dua tetesan yang lebih

besar karena hasil ini dalam penurunan permukaan ditentukan oleh

massa cairan yang dihadirkan kembali tanggung jawab kekuatan ini

dapat diukurdan dikenal surfaleagen adalan bahan pembasah.


Tegangan antar muka ini dapat dibatasi dengan cepat untuk

membuat cairan hancur menjadi global yang lebih kecil.


Bagaimanapun jika tidak dilakukan untuk mencegah efek dari

tegangan ini global akan berkoalesensi dan emulsi akan pecah,dapat

dilihat bahwa efek dari dicegah dengan tiga beberapa cara dengan

maksud agar beberapa bahan yang akan menurunakan tegangan

antar muka ini dari dua cairan dan menahannya bersama-sama

melalui kekuatannya yang dasyat dengan maksud agar beberapa

bahan akan membentuk secara mekanik palisan fase global dari fase

terdispersi dan menjaganya dari pembentukan koalesensi.


Pendek kata dasar teori adalah bahwa analisis dihasilkan jika

beberapa bahan dimaksudkan ke teganagan anter muka yang lebih

rendah antar cairan,teori ini kurang terima dan membuatnya untuk

menghasilkan sistem dua fase yang [Link] surfaktan yang

memiliki tegangan antar muka yang lebih rendah dan menghambat

kecenderungan tetesan dari kinebel koalesen dan mempertahankan

ukuran yang kecil, sebagian gaya penstabil dalam emulsi

berdasarkan teori ini bahan pengemulsi disimpan pada permukaan

setiap tetean dari fase terdispersi dalam membentuk lapisan plastik.

5. Pembagian Emulgator Dan Metode Pembuatan Emulsi


a. Pembagian Emulgator
1. Menurut Rps 18 thn Hal 300
Kronik pada sub bagian ini ialah surfaktan bermuatan (-) contoh :

k,Na dan garam-garam anmonium dari asam atau larutan yang larut

air, baik sebagai bahan pegemulsi tipe O/W bahan pegemulsi ini

rasanya tidak menyenangkan dan mengitrasi saluran pencernaan.


Kationik aktivitas permukaan pada kelompok ini bermuatan (+)

kom[ponen ini bertindak sebagai bekteriosid dan juga penghasil

emulsi anti infeksi seperti pada lotion kulit dan cairan.


Nonionik merupakan surfaktan tidak terpisah ditempat tersebar luas

dugunakan sebagai bahan pengemulsi ketika kerja keseimbangan

molekul antar muka hidrofilik dan lippofilik.


a. Emulgator Alam
Banyak emulgator alam(tumbuhan hewan) bahan alam yang

diperkirakan hanyalah gelatin kinin da kolesterol.


b. Padatan Terbagi Halus
Bagian emmulgator ini membentuk lapisan khusus desklining

tetesan terpersi dan menghasilkan emulsi yang merupakan

berbutir-butir stabilitas fisik.

2. Menurut Scovilles
a. Karbohidrat
Gom dan bahan-mucilago cocok untuk digunakan dalam emulsi

farmasetik mereka memp[unyai kemampuan megemulsi murni dari

dan menghasilkan emulsi yang biasanya bekerja baik jika

dilendungi dari fermentasi dengan pengawet. Namkun demikias

alkali sediaan cairan garam metalik harus ditambahkan kedalam

gom dangat kationik dan encer mencegah pemecahan karbohidrat

yang banyak diginakan adalah akasia tragokan, agar, condrus,

destrum, molt ekstrak dan protein membentuk minyak dalam air.


b. Protein
Gelatin pengemulsi cairan petrolatum dengan mkudah

dibandingakn dengan minyak la;in dan memebuat suatu sediaan


yang sangat putih dan lambat serta rasa yang [Link] juga

membentuk emulsi yang jika digunakan dalam konsentrasi rendah.


c. Kuning Telur
Keluntungan adalah emkulsi yang dibuat oleh kuning telur stabil

dengan asam dalam dengan garam jika kuning telur cukujp segar

dapat membentuk sediaan (emulsi) yang creaming yang

menmunjkukan sedikit kecendurungan unutk memisah kerugian

adalah jika digunakan kuning telur, emulsi dapat membentuk

koalesen dan dapat mewarnai lebih dalam.


d. Albumin dan putih telur
Keuntungan adalah serbuk putih telur baik dari pada putih telur

segar karena lebih kental kerugian adalah diendapkan oleh banyak

bahan.
e. Kasein
Liporotein dan susu telah banyak digunakan sebagai bahan

pengemulsi tetapi tidak memiliki keuntungan dibandingkan akasia

tidak digunakan untuk tujuan berarti.


f. Susu kondensasi merupakan emulgator yang memiliki

kem,ampuan mengemulsi sebanyak 15 kali beratnya sendiri

terdapat campuran minyak agar sekitar 5 kali dari minyak

menguap.
g. Sabun Atau Basa
Keuntungan adalah sering digunaklan dalam dermatologi untuk

penggunaan luar. Sabunadalah emulgator yang lebih kuat

khususnya sabun lembut sebagai bahan yang mengurangi


tegangan permukaan dari air. Kerugian adalah menghasilkan

sediaan yang tidak bercampur dengan asam dengan berbagai tipe.


h. Alkohol
Ada beberapa alklohol berat molekul tinggi yang ditambahkan

untuk mengemulsi meski tidak ,digunakan sebagai emulgator etil

dan gliseril nonstearat.


3. Menurut Preserpretion Hal 125
1. Emulgator
a. Berasal dari tumbuhan
Karbohidrat seperti akasia,tragekan, kondrus, pertin
Berivat selulosa
b. Berasal dari hewan
Gelatin
Kuning telur dan kasein
Lemak bulu domba dan kolestrol
2. Padatan yang terbagi merata
Emulgator sintetik, anionik,ninianik dan katioanik

Berdasarkan mekanisme kerjanya

1. Menurut RPS 18 thn Hal 300


a. Lapisan Monomolekul
yaitu emmulgator ini menghasilkan emulsi dengan membentuk

lapisan tunggal dari molekul adalah inti antar muka air adalah

dengan diabsorbsi.
b. Lapisan Multimolekuler
Yaitu lapaisan hilitik yang terhidrasi membentuk lapisan

mmultimolekuler disekeliling tetesan minyak yang terdispersi.


c. Lapisan patikel padat yang kecil dibasahi sampai beberapa

derajat sebagai emulgator. Jika partikel terlalu hidrofilik partikel

tersebut tinggal dalam fase cair tetapi jika terlalu kecil partikel

tunggal sempurnalah dalam fase minyak.


2. Menurut Farmasi Fisika
Emulgator dapat dibagi menjadi atas tiga golongan :
a. Zat-zat yang aktif pada permukan yang terabsorbsi pada antar

muka minyak atau air membentuk lapisan monomolekuler

mengurangi tegangan antar muka.


b. Koloid hidrofilik yang membentuk lapisan monomilekuler disekitar

tetesan yang terdispersi dalam minyak suatu emulsi M/A.


c. Partikel padat terbagi halus yang diabsorbsi pada batas antar

mkuka pada batas 2 fase cair yang tidak bercampur membentuk

lapisan partikel disekitar bola-bola terdispersi.

6. Keuntungan Dan Kerugian Emulsi


a. Keuntungan Emulsi
1. Menurut Lachman Hal 1031
a. Biovabilitas besar.
b. Onset lebih cepat.
c. Penerimaan pasien mudah diberikan pada anak-anak.
d. Rasa obat minyak jeruk bisa ditutupi oleh penambahan zat

tambahan lain.
e. Formulasi karena bisa mempertahankan stabilitas obat yang larut

dalam minyak.
2. Menurut Ansel Hal 377
a. Menurut tertentu mudah dicuci.
b. Dapat mengontrol penampilan fisikositas derajat kekasaran dari

emulsi .
c. Sebagian besar lemak dan pelarut untuk lemak dan digunakan

untuk pemakaian kedalam. tubuh manusia relatif memakan biaya

akibatnya pengenceran yang aman dan tidak mahal.


b. Kerugian Emulsi
1. Menurut Lachman Hal 1032
a. Sulit diformulakan karena harus bercampur dua fase yang tidak

tercampur
b. Mudah ditumbuhi oleh mikroba karena adanya air.
c. Kestabilan fisika dan kimia terjamin dalam waktu lama.
2. Menurut Ansel Hal 377
a. Emulsi merupakan suatu campuran yang tidak stabil secara

termodinamika.
b. Jika perubahan ditentukan tetesan akan bergabung menjadi satu

dengan cepat.
c. Biasanya satu fase yang bertahan dalam bentuk tetesan.

Anda mungkin juga menyukai