TRANSISTOR
Transistor adalah komponen elektronika yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai tiga elektroda
(triode) yaitu dasar (basis), pengumpul (kolektor) dan pemancar (emitor). Dengan ketiga elektroda (terminal)
tersebut, tegangan atau arus yang dipasang di satu terminalnya mengatur arus yang lebih besar yang melalui 2
terminal lainnya.
Pengertian transistor berasal dari perpaduan dua kata, yakni transfer yang artinya pemindahan dan
resistor yang berarti penghambat. Dengan demikian transistor dapat diartikan sebagai suatu pemindahan atau
peralihan bahan setengah penghantar menjadi penghantar pada suhu atau keadaan tertentu.
Transistor ditemukan pertama kali oleh William Shockley, John Barden, dan W. H
Brattain pada tahun 1948. Mulai dipakai secara nyata dalam praktik mereka pada
tahun 1958. Transistor termasuk komponen semi konduktor yang bersifat
menghantar dan menahan arus [Link] 2 jenis transistor yaitu transistor tipe P
N P dan transistor jenis N P N. Transistor NPN adalah transistor positif
dimana transistor dapat bekerja mengalirkan arus listrik apabila basis dialiri
tegangan arus positif. Sedangkan transistor PNP adalah transistor negatif,dapat
bekerja mengalirkan arus apabila basis dialiri tegangan negatif.
Macam-macam Transistor dari Fungsi Transistor
Fungsi transistor sangatlah besar dan mempunyai peranan penting untuk
memperoleh kinerja yang baik bagi sebuah rangkaian elektronika. Dalam dunia
elektronika, fungsi transistor ini adalah sebagai berikut:
Sebagai sebuah penguat (amplifier).
Sirkuit pemutus dan penyambung (switching).
Stabilisasi tegangan (stabilisator).
Sebagai perata arus.
Menahan sebagian arus.
Menguatkan arus.
Membangkitkan frekuensi rendah maupun tinggi.
Modulasi sinyal dan berbagai fungsi lainnya.
Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian
analog ini meliputi pengeras suara, sumber listrik stabil, dan penguat sinyal radio.
Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai saklar
berkecepatan tinggi. Beberapa diantara transistor dapat juga dirangkai sedemikian
rupa sehingga fungsi transistor menjadi sebagai logic gate, memori, dan
komponen-komponen lainnya.
JENIS-JENIS TRANSISTOR
Jenis-Jenis Transistor dan cara kerja transistor pada umumnya dibagi menjadi dua jenis yaitu;
Transistor Bipolar (dwi kutub) dan Transistor Efek Medan (FET Field Effect Transistor).
Transistor Bipolar adalah jenis transistor yang paling banyak di gunakan pada rangkaian elektronika. Jenis-
Jenis Transistor ini terbagi atas 3 bagian lapisan material semikonduktor yang terdiri dari dua formasi lapisan
yaitu lapisan P-N-P (Positif-Negatif-Positif) dan lapisan N-P-N (Negatif-Positif-Negatif). Sehingga
menurut dua formasi lapisan tersebut transistor bipolar dibedakan kedalam dua jenis yaitu transistor PNP dan
transistor NPN.
Masing-masing dari ketiga kaki jenis-jenis transistor ini di beri nama B(Basis), K (Kolektor), dan
E (Emitor). Fungsi transistor bipolar ini adalah sebagai pengatur arus listrik (regulator arus listrik), dengan
kata lain transistor dapat membatasi arus yang mengalir dari Kolektor ke Emiter atau sebaliknya (tergantung
jenis transistor, PNP atau NPN).
Di bawah ini Gambar dan jenis-jenis transistor :
Ganbar 1. jenis-jenis transistor
T sistor Efek Medan (FET Field Effect Transistor) merupakan jenis transistor yang juga memiliki 3
kaki terminal yang masing-masing diberi nama Drain (D), Source (S), dan Gate (G). Cara kerja transistor ini
adalah mengendalikan aliran elektron dari terminal Source ke Drain melalui tegangan yang diberikan pada
terminal Gate.
Perbedaan antara transistor bipolar dan transistor FET adalah jika transistor bipolar mengatur besar kecil-
nya arus listrik yang melalui kaki Kolektor ke Emiter atau sebaliknya melalui seberapa besar arus yang diberikan
pada kaki Basis, sedangkan pada FET besar kecil-nya arus listrik yang mengalir pada Drain ke Source atau
sebaliknya adalah dengan seberapa besar tegangan yang diberikan pada kaki Gate.
Selain di gunakan sebagai penguat, transistor digunakan sebagai [Link] adalah dengan memberikan
arus yang cukup besar pada basis transistor hingga mencapai titik jenuh. Pada kondisi seperti ini kolektor dan
emitor bagai kawat yang terhubung atau saklar tertutup, dan sebaliknya jika arus basis teramat kecil maka
kolektor dan emitor bagai saklar terbuka.
Fungsi transistor adalah sebagai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan
penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal.
Transistor mempunyai 3 jenis yaitu :
1. Uni Junktion Transistor (UJT)
2. Field Effect Transistor (FET)
3. MOSFET
Berikut ini adalah Cara untuk menguji atau mengukur Transistor dengan Mengunakan
Multimeter Analog dan Multimeter Digital.
A. Mengukur Transistor dengan Multimeter Analog
Cara Mengukur Transistor PNP dengan Multimeter Analog
Atur Posisi Saklar pada Posisi OHM () x1k atau x10k
1. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Basis (B) dan Probe Hitam pada Terminal Emitor (E),
Jika jarum bergerak ke kanan menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi
baik
2. Pindahkan Probe Hitam pada Terminal Kolektor (C), jika jarum bergerak ke kanan
menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
Cara Mengukur Transistor NPN dengan Multimeter Analog
1. Atur Posisi Saklar pada Posisi OHM () x1k atau x10k
2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Basis (B) dan Probe Merah pada Terminal Emitor (E),
Jika jarum bergerak ke kanan menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi
baik
3. Pindahkan Probe Merah pada Terminal Kolektor (C), jika jarum bergerak ke kanan
menunjukan nilai tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
Catatan :
Jika Tata letak Probe dibalikan dari cara yang disebutkan diatas, maka Jarum pada Multimeter
Analog harus tidak akan bergerak sama sekali atau Open.
B. Mengukur Transistor dengan Multimeter Digital
Pada umumnya, Multimeter Digital memiliki fungsi mengukur Dioda dan Resistansi (Ohm) dalam
Saklar yang sama. Maka untuk Multimeter Digital jenis ini, Pengujian Multimeter adalah terbalik
dengan Cara Menguji Transistor dengan Menggunakan Multimeter Analog.
Cara Mengukur Transistor PNP dengan Multimeter Digital
1. Atur Posisi Saklar pada Posisi Dioda
2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Basis (B) dan Probe Merah pada Terminal Emitor (E),
Jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi
baik
3. Pindahkan Probe Merah pada Terminal Kolektor (C), jika Display Multimeter nilai Voltage
tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
Cara Mengukur Transistor NPN dengan Multimeter Digital
1. Atur Posisi Saklar pada Posisi Dioda
2. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Basis (B) dan Probe Hitam pada Terminal Emitor (E),
Jika Display Multimeter menunjukan nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi
baik
3. Pindahkan Probe Hitam pada Terminal Kolektor (C), jika Display Multimeter menunjukan
nilai Voltage tertentu, berarti Transistor tersebut dalam kondisi baik.
Catatan :
Jika Tata letak Probe dibalikan dari cara yang disebutkan diatas, maka Display Multimeter Digital
harus tidak akan menunjukan Nilai Voltage atau Open
APLIKASI PNP PADA SISTEM PENGAPIAN
NPN
Tolong bantu dorong saya terperosok
Transistor bekerja sebagai saklar. Saklar transistor berfungsi seperti halnya saklar mekanik yaitu
memutuskan (off) dan menghubungkan (on) arus listrik. Saklar transistor mempunyai keuntungan
dibandingkan dengan saklar mekanik:
1. Transistor dapat dibuat dalam ukuran sangat kecil
2. Awet
3. Dapat bekerja sangat cepat dan dapat diandalkan
Suatu hari saya sedang berbelanja di pasar. Jalan di depan pasar ada lubang yang cukup besar. Sehingga
kadang-kadang ada becak yang terperosok dalam lubang tersebut. Untunglah orang-orang yang
berbelanja dengan sukarela menolong mendorong becak keluar dari lubang. Cukup merepotkan! Alangkah
baiknya apabila jalan yang berlubang tadi cepat diperbaiki.
Transistor bekerja seperti cerita diatas. Transistor menyumbat karena pembawa muatan terperosok
sehingga aliran listrik terhenti. Agar transitor dapat menghantar pembawa muatan yang terperosok tadi
perlu kita bantu dorong agar dapat menghantar listrik. Baiklah sekarang kita tinjau lebih terperinci.
Transistor dibuat dengan tiga lapis semikonduktor. Dapat dibuat lapisan PNP ataupun lapisan NPN.
Dengan demikian kita mengenal 2 macam transistor, yaitu transistor PNP dan transistor NPN sesuai
dengan jenis penyusunnya. Transistor mempunyai tiga kaki (elektroda) yang diberi nama basis (b), emitor
(e) dan colector (c). Basis dihubungkan dengan pada lapisan tengah sedang emitor dan colector pada
lapisan tepi.
Emitor artinya pemancar, disinilah pembawa muatan berasal. Colector artinya pengumpul. Pembawa
muatan yang berasal dari emitor ditampung pada Colector. Basis artinya dasar, basis digunakan sebagai
elektroda mengendali.
Lambang, konstruksi dan rangkaian dioda yang setara dengan transistor
Sudah dapat anda tebak sambungan PNP atau NPN pastilah tidak dapat menghantar listrik karena
susunan ini seperti dua dioda yang dipasang berhadap-hadapan. Dalam hal ini tebakan anda benar!
Seperti sudah kita ketahui pada sambungan P-N terdapat medan listrik. Keberadaan medan listrik tadi
menjelaskan mengapa terjadi halangan potensial ketika dioda diberi tegangan maju dan adanya arus listrik
pada Solar Cell saat cahaya jatuh padanya. Nah, keberadaan medan listrik dapat dilukiskan sebagai
potensial listrik. Potensial transistor sebelum dipasang pada rangkaian tampak seperti pada gambar
dibawah ini.
Wujud transistor dan potensial transistor sebelum dipasang pada rangkaian
Sekarang mari kita pasang transistor pada rangkaian. Untuk itu anda memerlukan :
1. Transistor PNP type BD140
2. Bola Lampu senter untuk 2 buah baterai
3. Dua buah baterai Seng-Kabon @1.5 Volt
4. Hambatan 220 ohm
5. Kabel
Pasanglah transistor seperti pada rangkaian gambar berikut. Basis transistor dibiarkan mengambang.
Lampu tidak menyala, transistor tersumbat (off) karena dioda basis-Colector transisitor mendapat tegangan
terbalik. Tegangan terbalik ini membuat lapisan hampa basis-Colector melebar. Melebarnya lapisan hampa
basis-Colektor tergambar pula dengan semakin besarnya beda potensial basis-Colector. Perhatikan beda
potensial emitor-colector akan setinggi tegangan baterai.
Bagi pembawa muatan emitor-basis merupakan halangan potensial. Sebaliknya basis-colector merupakan
terjunan potensial. Pembawa muatan akan tergelincir menuju colector apabila berada pada lapisan hampa
basis-colector.
Potensial dapat diibaratkan seperti lintasan kelereng dan pembawa muatan (lubang) adalah kelerengnya.
Meskipun letak C lebih rendah dari E, namun kelereng di E selamanya tidak pernah dapat mencapai C.
Dalam perjalanannya, kelereng mengalami hambatan potensial di B yang letaknya lebih tinggi dari E.
Marilah sekarang kita hilangkan hambatan potensial tersebut dengan memberi tegangan maju dioda
emitor-basis dengan memasang hambagan seperti tergambar. Sekarang hambatan potensial sirna,
pembawa muatan berhasil melelalui basis kemudian tergelincir pada terjunan potensial basis-Colector.
Lihatlah lampu sekarang menyala. Transistor menghantar (on).
Ketika emitor-basis diberi tegangan maju, terjadilah rekombinasi antara lubang yang berasal dari emitor
dan elektron yang berasal dari basis, rekombinasi ini kemudian menjadi arus basis. Hanya sebagian kecil
arus emitor menuju basis, setelah pembawa muatan berhasil melewati halangan potensial, mereka
berdifusi sehingga sebagian besar. tergelincir menuju colector. Arus basis ini diusahakan sekecil mungkin,
ini bisa kita lakukan dengan membuat lapisan basis setipis mungkin dan doping pada basis dibuat ringan
dari pada doping emitor sehingga rekombinasi lebih sulit terjadi. Pada transistor arus colector bisa 200 kali
lebih besar dari arus basis.
Percobaan diatas dapat pula dilakukan dengan transistor NPN misalnya dari type BD139, tetapi polaritas
baterai harus dibalik. Pembawa muatan pada transistor NPN adalah elektron. Sedang pembawa muatan
pada transistor PNP adalah lubang.
Transistor difungsikan sebagai saklar dengan cara demikian: ketika emitor-basis diberi tegangan maju
transistor menghantar (on), sebaliknya ketika tegangan maju tersebut dihilangkan transistor menyumbat
(off).
Apabila tegangan maju emitor-basis kita buat bervariasi, maka akan mengakibatkan variasi arus yang
besar pada colector. Demikian kita mengoperasikan transistor sebagai penguat. Yaitu perubahan tegangan
yang kecil pada emitor-basis mengakibatkan perubahan arus yang besar pada colector.
Vdd == Unipolar Transistors Drain Voltage
Vcc == Bipolar Transistors Collector Voltage
Vss == Unipolar Transistors Source Voltage
V+ == Supply source positive pool voltage in which has value above 0 V.
V- == Supply source negative pool voltage in which has value below 0 V.
misiii numpang di thread orang dunk, saya lagi bikin interface buat ecu mobil niy. di
socketnya yang masuk dari mobil kan ada masukan (+)12V'nya, terus di skema saya
ada juga yang masuk vcc tapi gak ada sambungannya kemana jalurnya..
saya pake ic max232, CD4060, LM358 sama 78L05 dan komponen lainnya
nah saya bngung itu vcc masuknya kemana ya? apa nyambung langsung ma inputan
yang (+) 12V dari mobilnya atau dari tempat lain???
kalo dari tempat lain saya ngambilnya dari mana?
saya bener2 pemula banget di bidang elektronik, ini project iseng2 dapet skema dari
temen..
mohon bantuannya teman2
saya pake ic max232, CD4060, LM358 sama 78L05 dan komponen lainnya
nah saya bngung itu vcc masuknya kemana ya? apa nyambung langsung ma
inputan yang (+) 12V dari mobilnya atau dari tempat lain???
Karena sudah ada regulator positif 5 Volt pada rangkaian maka hubungkan VCC
dengan 12 Vdc dari aki..
Sebelum di hub ke aki, coba cek dengan multimeter yg memiliki Buzzer (multimeter
digital biasanya) cek kaki VCC dengan kaki input dari 78L05 kalo buzzer bunyi berarti
terhubung langsung (tapi tidak ada komponen spt dioda pengaman atau komponen
lain).
Tapi lihat dulu ini :
78L05 itu bentuknya spt transistor kecil ya..?? (kemasan TO-92)
Regulator 5Vdc arus kecil kira-kira 100 mA.
Klo langsung dihubungkan dengan aki, komponen ini sepertinya akan rusak.
Ganti dengan LM7805 (kemasan TO-220), regulator 5Vdc arus maks 1 - 1,5 A.
Setelah dihubungkan dengan Aki tunggu kira-kira 5 menit kalo panas tambahkan
heatsink (pendingin) pada bodinya biar g gampang rusak.
Met mencoba..
Voltage dan Current adalah dua besaran yang sangat penting dalam elektronika. Biasanya,
kedua besaran ini berubah-ubah terhadap waktu. Jusru perubahan voltage dan current
terhadap waktu inilah yang menarik, kalau nggak, kita nggak bisa bikin apa-apa. Suara sirine
yang keluar dari speaker adalah karena perubahan voltage yang diaplikasikan pada speaker.
Dan tentu saja kita perlu atur perubahan voltagenya agar menghasilkan suara sirine tersebut
Voltage
Voltage, atau beda potensial, biasanya diberi simbol V atau E. Kalau kita bicara beda
potensial, kita mengacu pada perbedaan potensial antara dua titik di dalam suatu rangkaian.
Kalau ada yang mengatakan tegangan suatu titik pada rangkaian, itu disepakati sebagai beda
potensial antara titik terebut dengan ground (GND). Jadi kalau kita sebut VCC = +5V itu
artinya beda potensial VCC dengan GND = 5V
Beda potensial menunjukkan kerja yang dibutuhkan untuk memindahkan suatu muatan listrik
dari satu titik ke titik lain. Makin besar beda potensialnya artinya kerjanya lebih keras untuk
memindahkan muatan listrik tersebut dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi. Dan
sebaliknya kalau dari potensial yang lebih tinggi ke yang lebih rendah, beda potensial
menunjukkan kerja yang dikeluarkan
Hati-hati terhadap beda potensial ini. Baca dengan teliti kebutuhan suatu komponen. MIsalnya
suatu sensor, apakah menggunakan VCC 3.3V atau 5V. Beberapa komponen tidak toleran
sama voltage ini. Kalau diberikan voltage yang berlebihan, misalnya mintanya 3.3V dikasih 5V
maka akan rusak!
Sebagian komponen memang voltage sangat toleran dengan perbedaan tegangan ini karena
dilengkapi dengan suatu rangkaian yang mengubah tegangan yang masuk menjadi tegangan
yang diperlukan, misalnya kalau mintanya 3.3V kita kasih 5V maka ada rangkaian di
dalamnya yang otomatis menurunkan tegangannya menjadi 3.3V. Tetapi, tetap saja, kalau
kita kasih tegangan yang lebih besar akan rusak juga. Jadi, sekali lagi, teliti komponen kita.
Baca datasheetnya dan lihat berapa tegangan yang diminta
Current
Besarnya arus inilah yang menentukan terangnya suatu lampu, atau panasnya suatu filamen,
atau besarnya suara sepaker. Sama seperti voltage, kita mesti hati-hati terhadap besarnya
arus ini. Setiap komponen punya kapasitas maksimum dalam menyalurkan arus listrik. Lebih
dari maksimum akan menghasilkan panas berlebih dan merusak
Sebaliknya, kurangnya arus listrik juga bisa menyebabkan alat kita tidak berfungsi. Misalnya
sebuah servo baru akan bergerak kalau diberikan arus minimal 100mA. Apabila kita mencoba
menggerakan servo tersebut dengan pin yang cuma bisa mengeluarkan 40mA maka tidak
akan bergerak, atau tidak optimum
Voltage diibaratkan suatu kekuatan yang bisa memaksa Current untuk mengalir. Tetapi
Resistance (hambatan) bisa menghambat usaha si Voltage ini sehingga Current yang
mengalir menjadi kecil. Makin besar hambatan nya, maka makin kecil arus listrik yang bisa
mengalir
Rangkaian ini disebut juga konfigurasi common-emitor, karena kedua sinyal sumber
dan beban menjadikan emitor sebagai titik atau terminal koneksi common. Seperti
yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini.
Penguat common-emitor. sinyal input dan output terhubung dengan emitor
Sebelum, transistor dalam mode jenuh karena arus dari sel surya, pada saat
sebelum itu transistor menjadi throttle (mode aktif), sehingga jumlah arus kolektor
dapat dikontrol sesuai dengan jumlah arus basis pada sumber sinyal input. Kita
harus tahu bahwa kecerahan lampu pada sirkuit dikontrol oleh paparan cahaya sel
surya. Ketika hanya ada sedikit cahaya yang jatuh pada sel surya, maka cahaya
lampu akan samar-samar atau redup, begitu juga sebaliknya.
Misalkan kita tertarik untuk menggunakan sel surya sebagai instrument intensitas
cahaya. Kita ingin mengukur intensitas cahaya yang masuk dengan sel surya dengan
cara menggunakan output arusnya sebagai penggerak atau pendorong gerakan
meter. Hal ini dapat dilakukan dengan menghubungkan langsung alat ukur/meter ke
sel surya (seperti gambar dibawah ini). Bahkan alat ukur pencahayaan yang biasa
atau sederhana yang digunakan untuk pemotretan dirancang seperti ini.
Intensitas cahaya yang sangat tinggi menggerakkan alat ukur cahaya secara langsung
Cara ini mungkin bekerja untuk pengukuran intensitas cahaya yang cukup banyak,
namun untuk intensitas cahaya yang rendah pengukuran dengan cara seperti ini
tidak akan bekerja dengan baik. Dan untuk mengatasi masalah dalam pengukuran
cahaya dengan intensitas rendah ini, bisa digunakan transistor sebagai penguat arus
dari sel surya (solar cell). Perhatikan gambar dibawah ini.
Arus dari sel solar harus diperkuat bila dalam intensitas cahaya rendah
Besarnya arus pada alat ukur cahaya tersebut merupakan beberapa kali (rasio )
arus dari sel surya. Jika rasio transistor adalah 100, maka itu akan menjadi
peningkatan yang sangat besar dalam sensitivitas pengukuran. Ingat, daya
tambahan untuk menggerakkan jarum alat ukur ini berasal dari baterai pada ujung
kanan sirkuit, bukan berasal dari sel surya ataupun transistor.
Karena transistor adalah perangkat pengatur atau regulator arus, dan karena
indikator atau jarum alat ukur bergerak berdasarkan arus yang mengalir ke coil alat
ukur, maka bergeraknya jarum penunjuk atau indikator alat ukur pada rangkaian ini
tergantung pada arus dari sel surya, bukan pada jumlah tegangan yang diberikan
oleh baterai. Jadi yang diperlukan dari baterai adalah tegangan minimum tertentu
dan arus keluaran untuk menggerakkan alat ukur pada skala penuh.
Konfigurasi lain dari common emitor dapat digunakan untuk menghasilkan
tegangan output yang dikontrol dari sinyal input. Sekarang kita coba ganti alat ukur
dengan sebuah resistor, lalu kita ukur tegangan antara kolektor dan emitor. Seperti
pada gambar dibawah ini.
Penguat common-emitor sebagai penguat tegangan
Saat sel surya tidak menerima cahaya atau dalam gelap (tidak ada arus), transistor
akan berada dalam mode cutoff dan transistor (kolektor dan emitor) berlaku seperti
saklar terbuka. Ini akan menghasilkan drop tegangan maksimum antara kolektor dan
emitor, yang sama dengan tegangan penuh baterai.
Pada daya penuh (intensitas cahaya maksimum), sel surya akan mengontrol
transistor ke mode jenuh, sehingga transistor akan berprilaku atau berfungsi seperti
saklar tertutup, dan drop tegangan antara kolektor-emitor akan minimum, atau akan
menjadi nol atau hampir sama dengan nol. Pada kenyataannya, transistor saat mode
jenuh, antara kolektor-emitor tidak pernah dapat tegangan drop sampai mencapai
nol, karena arus kolektor saat mengalir harus melewati 2 sambungan PN dari
transistor. Namun itu akan cukup rendah, tergantung dari type transistor.
Untuk tingkat paparan cahaya dimana output sel surya berada diantara nol dan
maksimum, transistor akan berada pada mode aktif, dan tegangan output akan
berada diantara nol volt dan tegangan penuh. Yang terpenting untuk diingat dalam
konfigurasi common emitor kali ini adalah bahwa tegangan output berbanding
terbalik dengan kekuatan sinyal input. Artinya, tegangan output akan menurun saat
sinyal input meningkat, dan karena alasan ini, konfigurasi penguat common-emitor
disebut penguat pembalik.
Perhatikan rangkaian penguat(amplifier) dibawah ini.
sirkuit amplifier common-emitor
common-emitor, hubungan tegangan output kolektor dengan arus input basis
Pada awal simulasi (seperti gambar diatas), dimana sumber arus (sel surya) dengan
output nol. Transistor akan berada pada mode cutoff, dan tegangan penuh baterai
sebesar 15 volt ditunjukkan pada output penguat (tegangan antara kolektor-emitor
atau node 2 dan 0). Saat arus sel surya mulai meningkat, tegangan output secara
proporsional menurun sampai transistor mencapai mode jenuh(saturation) pada arus
basis 30 A (3 mA arus kolektor). Coba perhatikan gambar grafik jejak tegangan
output yang turun secara linier dengan sempurna sampai pada titik jenuh (dari 15
volt sampai 1 volt), dimana tegangan output tidak akan pernah turun hingga
mencapai 0 volt. Ini adalah efek yang saya sebutkan sebelumnya, yaitu dimana
transistor yang berada dalam mode jenuh tidak akan menghasilkan drop tegangan
yang persis dengan nol , karena adanya efek internal dari transistor (adanya
persimpangan atau sambungan PN).
Sejauh ini kita sudah mengetahui kalau transistor digunakan sebagai penguat sinyal
DC dan menghasilkan tegangan output DC yang dikontrol dari sinyal input. Namun
tidak hanya itu, masih banyak cara-cara lain untuk menggunakan transistor sebagai
penguat (amplifier). Sebuah penguat AC merupakan penguat yang digunakan untuk
memperkuat sinyal tegangan dan arus bolak-balik(AC). Salah satu contoh aplikasi
yang umum pada hal ini adalah pada audio elektronik (radio, televisi, dan alat
pengumuman). Sebelumnya, kita sudah melihat contoh output audio garpu tala yang
mengaktifkan saklar transistor. Coba lihat rangkaian dibawah ini, apa bisa kita
memodifasinya, sehingga daya listrik dapat dikirim ke speaker bukannya ke lampu.
Saklar transistor diaktifkan oleh suara
Dalam rangkaian yang asli (gambar diatas), penyearah jembatan gelombang penuh
digunakan untuk mengkonversi sinyal AC dari output mikrofon menjadi tegangan DC
untuk pengendali inputan transistor. Tapi sekarang kita ingin menghasilkan sinyal AC
dan mengontrol speaker. Ini berarti kita tidak perlu menyearahkan tegangan
keluaran dari mikrofon itu lagi, karena yang kita butuhkan adalah sinyal AC
terdistorsi untuk mengaktifkan transistor. Berarti kita harus menghapus penyearah
gelombang penuh tersebut dari rangkaian dan mengganti lampu dengan speaker,
serta menambahkan sebuah resistor secara seri dengan mikrofon. Seperti pada
gambar dibawah ini.
Penguat common-emitor mengontrol speaker dengan frekuensi sinyal audio
Kita coba simulasikan rangkaian diatas dengan spesifikasi komponen seperti gambar
dibawah ini :
Penguat audio common-emitor
sinyal terpotong di kolektor karena kurangnya bias basis DC
Gambar diatas menjelaskan, kalau tegangan input ( AC 1,5 volt dan frekuensi 2000
Hz ) merupakan gelombang sinus AC penuh dalam positif dan negatif. Dan gambar
tersebut juga menjelaskan bahwa arus dari baterai dengan tegangan 15 volt, yang
mengalir atau melalui transistor untuk mengaktifkan speaker, merupakan setengah
gelombang arus keluaran yang hanya satu arah. Jika kita benar-benar mengaktifkan
speaker dengan gelombang ini, suara yang dihasilkan akan terdistorsi mengerikan.
Apa yang salah dengan sirkuit diatas? Mengapa transistor tidak bisa mereproduksi
seluruh gelombang AC dari mikrofon? Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditemukan
dengan memeriksa transistor dengan model dioda-sumber arus. Seperti gambar
dibawah ini.
Model transistor menjelaskan arus basis mengalir dalam satu arah
Arus kolektor ditetapkan atau diatur melalui mekanisme arus konstan yang sesuai
dengan yang ditetapkan oleh arus basis (arus yang melalui basis-emitor). Meskipun
kita berkeinginan untuk menggunakan transistor sebagai penguat AC, namun pada
dasarnya transistor adalah perangkat DC yang hanya mampu menangani arus dalam
satu arah. Karena kita memberlakukan sinyal tegangan AC antara basis dan emitor,
maka elektron tidak akan bisa mengalir saat setengah siklus, yang dimana setengah
siklus itu akan menjadikan dioda reverse bias. Oleh karena itu pada setengah siklus
ini dioda akan menjadi cutoff, tapi pada setengah siklus berikutnya, dimana aliran
elektron benar, atau dalam bias maju, transistor akan berada pada mode aktif,
dengan catatan tegangan yang dihasilkan harus cukup tinggi untuk mengatasi drop
tegangan maju dari sambungan PN basis-emitor (dioda). Ingat bahwa transistor
bipolar merupakan perangkat atau device pengontrol arus, transistor mengatur arus
kolektor berdasarkan arus basis-emitor (arus basis), bukannya tegangan basis-
emitor.
Salah satunya cara agar transistor dapat mengalirkan arus utama, sehingga dapat
mengaktifkan speaker dengan lancar, adalah dengan menjaga agar transistor selalu
berada dalam mode aktif. Ini berarti kita harus menjaga agar arus basis selalu ada
pada semua siklus gelombang yang masuk, sehingga sambungan PN basis-emitor
akan selalu dalam bias maju. Dan hal itu dapat dicapai dengan cara menambahkan
tegangan DC pada sinyal masukan. Dengan menambahkan tegangan DC yang
dihubungkan secara seri dengan sumber sinyal AC, maka bias maju sambungan PN
basis-emitor (dioda) dapat dipertahankan disepanjang siklus gelombang. Perhatikan
gambar dibawah ini.
Vbias membuat transistor selalu dalam mode aktif
arus output tidak terdistorsi karena Vbias
Dengan menambahkan sumber tegangan tersebut, transistor akan selalu dalam
mode aktif dan tetap mengalirkan gelombang ke speaker dalam sepanjang siklus.
Perhatikan gambar diatas, tegangan input akan berfluktuasi antara sekitar 0,8 volt
dan 3,8 volt, dan tegangan puncak ke puncak 3 volt seperti yang diharapkan
(sumber tegangan = 1,5 volt). Arus output bervariasi antara 0 sampai 300 mA.
Perhatikan gambar ilustrasi dari rangkaian dengan menampilkan semua sinyal yang
bersangkutan.
Osiloskop menampilkan beberapa sinyal dalam bentuk gelombang dibeberapa titik
Baca juga selengkapnya tentang konfigurasi transistor sebagai penguat (amplifier), seperti
"konfigurasi penguat common kolektor" dan "konfigurasi penguat common basis".