100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
81 tayangan13 halaman

Demonstrasi Distokia pada Sapi

Demonstrasi menunjukkan 7 kedudukan fetus sapi, termasuk normal (longitudinal anterior dan posterior) dan abnormal (fleksi leher, siku tunggal, siku ganda, fleksi tarsal tunggal). Kedudukan abnormal menyebabkan distokia dan penanganannya meliputi repulsi, ekstensi sendi, dan tarik paksa. Kedudukan paling abnormal adalah transversal dorsal dengan kepala menghadap illium kanan.

Diunggah oleh

anandiya ramaditya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
81 tayangan13 halaman

Demonstrasi Distokia pada Sapi

Demonstrasi menunjukkan 7 kedudukan fetus sapi, termasuk normal (longitudinal anterior dan posterior) dan abnormal (fleksi leher, siku tunggal, siku ganda, fleksi tarsal tunggal). Kedudukan abnormal menyebabkan distokia dan penanganannya meliputi repulsi, ekstensi sendi, dan tarik paksa. Kedudukan paling abnormal adalah transversal dorsal dengan kepala menghadap illium kanan.

Diunggah oleh

anandiya ramaditya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN DEMONSTRASI KEDUDUKAN FETUS (DISTOKIA)

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN

GRUP P (GELOMBANG 9)

Oleh :

Nyoman Anandiya Ramaditya : 1209006004

Ni Kadek Lyming Lestari : 1209006044

P. Putri Wiliantari : 1209006045

Purnama Layli : 1209006070

Yoga Eka Prasetyo : 1209006115

I Gde Made Abdi Prasatya : 1209006141

Nuria Fitrianti Putri : 1209006149

LABORATORIUM REPRODUKSI VETERINER

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2017
Demonstrasi Kedudukan Fetus (Distokia)
A. Materi
Alat dan Bahan
Tulang pelvis sapi
Boneka sapi pedet
Kamera
B. Metode
Boneka sapi diposisikan pada bagian cranial dari os pelvis seolah-olah
fetus berada dalam ruang abdomen.
Memperagakan dan mengatur kedudukan fetus dari presentasi, posisi
dan postur dari kedudukan normal sampai yang abnormal
menggunakan boneka sapi an tulang pelvis
Mendokumentasikan setiap kedudukan fetus yang normal dan
abnormal dengan kamera agar dapat diidentifikasi dan ditentukan
penanganannya.
Melakukan penanganan yang tepat pada fetus (boneka sapi) yang
diperagakan dengan kedudukan yang abnormal (distokia), sehingga
seolah-olah fetus dapat dikeluarkan dari cavum pelvis.
Pengertian
Dystocia berasal dari kata Yunani (dys = sulit ; tokos = kelahiran) yang
berarti kesulitan kelahiran. Distokia terjadi apabila proses kelahiran tahap
pertama dan terutama tahap kedua sangat diperpanjang, sehingga sulit atau
tidak mungkin dilaksanakan oleh hewan induk tanpa bantuan manusia.
Distokia umum terjadi pada hewan primipara daripada pluripara, dan lebih
sering terjadi pada hewan yang dikandangkan, Distokia dapat terjadi karena
berbagai sebab, diantaranya ukuran pelvis yang kecil, bunting sebelum
watunya, penyakit pada uterus, kelahiran kembar, fetus terlalu besar dan
kematian fetus. Causa fetal distokia lebih umum disebabkan oleh kelainan
presentasi, posisi dan postur (Toelihere, 1985).
Sebab-sebab dasar Distokia
a. Sebab-sebab Herediter
Disebabkan akibat beberapa faktor yang terdapat pada induk yang
mengakibatkan terjadinya distokia, atau faktor-faktor tersembunyi atau
gene-gene resesif pada induk dan pejantan yang dapat menghasilkan
fetus yang abnormal. Contohnya adalah hypoplasia vagina, vulva, dan
uterus, serta uterus yang unicornis (Toelihere, 1985).
b. Sebab-sebab nutrisional dan manajemen
Kondisi makanan ternak yang sedang bunting dan manajemen pada
waktu partus sangat erat berhubungan dan mungkin merupakan sebab-
sebab dasar dari distokia. Pemberian pakan yang tidak sempurna pada
sapi dara yang sedang tumbuh merupakan faktor paling utama dalam
menghambat pertumbuhan tubuh dan pelvis. Hal ini mengakibatkan
hewan betina mencapai dewasa kelamin sebelum mencapai dewasa tubuh
untuk kebuntingan dan kelahiran normal. Pemberian pakan yang
berlebihan juga menyebabkan distokia, karena deposisi lemak yang
berlebihan di daerah pelvis merupakan penyebab distokia (Toelihere,
1985).
c. Sebab-sebab infeksius

Setiap infeksi atau penyakit yang mempengaruhi kebuntingan dapat


menyebabkan abortus, uterus tak bertonus, dan kematian fetus. Penyakit
infeksius yang disebabkan oleh bakteri seperti brucelliosis, leptospirosis,
dan tuberculosis. Akibat infeksi virus seperti Bovine Herpesvirus- 1
(BHV-1) dan virus BVD-MD. Akibat protozoa seperti toxoplasmosis,
trikomoniasis, dan Neosprorosis (Santosa, 2014).
d. Sebab-sebab traumatik
Induk terjatuh atau terguling secara tiba-tiba pada kebuntingan tua
dapat menyebabkan torsio uteri yang merupakan salah satu sebab
distokia. Hernia ventralis dan ruptur tendon prepubis menyebabkan
distokia karena ketidaksanggupan kontraksi abdominal yang ditimbulkan,
sehingga induk tidak dapat mendorong fetus keluar (Toelihere, 1985).
e. Sebab-sebab langsung (Toelihere, 1985)
1. Kausa maternal (25%), fraktura dan eksostosa pelvis, ukuran pelvis
yang kecil, hipoplasia herediter dan kongenital saluran kelahiran
atau vulva, penyempitan atau stenosis serviks, vagina atau vulva
karena jaringan ikat atau bekas luka dari kesulitan kelahiran yang
lalu. Pendarahan di dalam pelvis, dll.
2. Kausa foetal (75%), lebih umum disebabkan oleh kelaianan
presentasi, posisi dan postur, dan foetus yang terlampau besar.
Tanda Klinis Distokia
1. Ketegangan secara aktif terjadi selama lebih dari 30-60 menit tanpa adanya
tanda kelahiran janin.
2. Kontraksi selama 2 jam atau lebih tanpa adanya tanda keluarnya fetus.
3. Upaya untuk mengeluarkan fetus menimbulkan rasa sakit
4. Tanda kegelisahan tampak jelas. (Bright, 2011)
Diagnosa
1. Anamnesa
Informasi yang perlu diketahui dari pemelik ternak atau berdasarkan
pengamatan sendiri meliputi: lama kebuntingan, sejarah perkawinan,
sudah pernah menglami distokia sebelumnya, berapa kali melahirkan, dan
apakah hewan tersebut memperlihatkan atau menderita penyakit tertentu.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik seperti: kondisi fisik hewan tersebut, pengukuran
pulsus dan suhu, derajat pembesaran perut, selapu lendir, pemeriksaan
vulva, dan pemeriksaan selaput fetus.
3. Pemeriksaan Fetus
Palpasi fetus secara langsung untuk mengetahui apakah terjadi
kelainan terhadap presentasi, posisi, dan postur fetus.
4. Abdominal Ultrasound (USG)

Kedudukan Fetus (Toelihere, 1985)


Kedudukan fetus perlu ditentukan saat fetus memasuki saluran kelahiran
dan pelvis. Kedudukan fetus meliputi:
a. Presentasi
Presentasi adalah hubungan antara sumbu panjang tubuh fetus
dengan sumbu panjang tubuh induk. Apabila sumbu panjang tubuh
fetus sejajar dengan sumbu panjang tubuh induk merupakan presentasi
longitudinal dan apabila sumbu panjang tubuh fetus menyilang atau
tegak lurus terhadap sumbu panjang tubuh induk disebut presentasi
tranversal. Presentasi longitudinal anterior dan longitudinal posterior
merupakan presentasi fetus yang normal. Sedangkan presentasi
tranversal dorsal dan tranversal ventral merupakan presentasi abnormal
yang dapat menyebabkan distokia.
b. Posisi
Posisi adalah hubungan antara punggung fetus pada presentasi
longitudinal, atau kepala terhadap sisi pelvis induk (sacrum, pubis,
ilium kiri dan ilium kanan) pada presentasi tranversal.
c. Postur
Postur merupakan hubungan ekstremitas, yaitu kepala, leher
dan kaki, terhadap tubuh fetus.
Tabel. Hasil Demonstrasi Kedudukan Fetus Sapi

No. Gambar Keterangan

1. Presentasi: Longitudinal anterior


Posisi: Dorso sacral
Postur: Normal

2. Presentasi: Longitudinal posterior


Posisi: Dorso sacral
Postur: Normal

3. Presentasi: Longitudinal anterior


Posisi: dorso sacral
Postur: Neck flexion, mengarah ke
ilium sebelah kiri induk
Penyebab Distokia: Kelainan
posisi dan postur yang abnormal.
Penekukan kepala dan leher yang
mengarah ke ilium sebelah kiri
induk.
Penanganan:

o Repulsi

o Fiksasi kepala dan leher


o Tarik paksa

4. Presentasi: Longitudinal anterior


Posisi: Dorso sacral
Postur: unilateral elbow flexion
Penyebab distokia: Penekukan
sendi bahu kaki depan kiri.
Penanganan:

o Repulsi

o Ektensi radius

o Repulsi

o Ektensi carpal dengan


memegang teracak fetus
o Tarik paksa

5. Presentasi : Longitudinal anterior


Posisi : Dorso sacral
Postur: Bilateral carpal flexion
Penyebab distokia: Penekukan
kedua sendi siku kaki
Penanganan:

o Repulsi

o Ekstensi sendi siku kiri


(pelurusan ektremitas)
o Repulsi

o Ekstensi sendi siku kanan

o Tarik Paksa
6. Presentasi: Longitudinal posterior
Posisi: Dorso sacral
Postur: Unilateral tarsal flexion
Penyebab distokia: Penekukan
sendi siku kaki belakang kanan
Penanganan:

o Repulsi

o Ekstensi Tibia

o Repulsi

o Ekstensi Tarsal

o Tarik paksa

7. Presentasi: Transversal dorsal


Posisi: Chepalo ilial dextra
Postur: -
Penyebab distokia: Kelainan
presentasi dan posisi punggung
fetus yang menghadap ke tulang
pelvis induk, serta posisi kepala
fetus yang menghadap ke illium
induk sebelah kanan,
Penanganan:

- Repulsi daerah anus


- Versi untuk memperbaiki
presentasi fetus menjadi
presentasi longitudinal
anterior
- Repulsi
- Ekstensi kepala dan leher
- Rotasi 90 berlawanan arah
jarum jam
- Repulsi
- Ekstensi radius kiri dan
kanan satu persatu sehingga
postur menjadi penekukan
kedua sendi siku
- Repulsi
- Ekstensi carpal kiri dan
kanan
- Tarik paksa

8. Presentasi: Longitudinal posterior


Posisi: Dorso pubis
Postur: -
Penyebab distokia: Posisi
abnormal, dimana tulang
punggung berada di os pubis
Penanganan:

- Repulsi
- Rotasi 180o dengan arah
tergantung posisi umbilicus
- Tarik paksa

9. Presentasi: Longitudinal anterior


Posisi: Dorso pubis
Postur: Unilateral tarsal flexion
dexter
Penyebab distokia: Posisi
abnormal, dimana tulang
punggung berada di os pubis
Penanganan:

- Repulsi
- Rotasi 180o dengan arah
tergantung posisi umbilicus
- Tarik paksa
10. Presentasi: Longitudinal posterior
Posisi: Dorso sacral
Postur: Unilateral hip flexion
Penyebab distokia: Postur
abnormal. Penekukan sendi
pinggul kaki belakang kiri
Penanganan:

- Kaki kanan: Repulsi pada


bagian pantat, Ekstensi
sendi loncat kaki kanan,
Fiksasi kaki belakang
kanan
- Kaki kiri: Repulsi, Ekstensi
sendi loncat kaki kiri Tarik
paksa

11. Presentasi: Longitudinal posterior


Posisi: Dorso sacral
Postur: Bilateral hip flexion
Penyebab distokia: Postur
abnormal. Penekukan kedua sendi
pinggul kaki belakang
Penanganan:

- Repulsi pada daerah pantat


- Ektensi tulang tibia kearah
pelvis
- Repulsi
- Ekstensi tulang tarsal
kearah pelvis
- Tarik paksa
12. Presentasi: Longitudinal anterior
Posisi: Dorso sacral
Postur: neck flexion
Penyebab distokia: postur
abnormal, dimana terjadinya
penekukan pada leher ke arah
pubis
Penanganan:

- Repulsi
- ekstensi kepala dan leher,
ekstensi dengan memegang
mandibula
- Tarik paksa

B. Penanganan
Penanganan distokia bertujuan melahirkan anak yang hidup atau mati
tanpa menimbulkan luka atau cacat induk. Penanganan distokia yang dapat
dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Terapi medis
Pemberian hormon oksitosin untuk merangsang kontraksi uterus.
Hal ini mungkin dilakukan apabila saluran kelahiran normal dan
serviks terbuka.
b. Mutasi
Pengembalian fetus pada presentasi, posisi dan postur yang normal
dengan cara :
Repulsi atau retropulsi, adalah pendorongan fetus keluar dari
pelvis induk ke rongga abdomen. Pada presentasi anterior
tangan ditempatkan pada bahu dan dada fetus, sedangkan pada
presentasi posterior tangan ditempatkan di daerah perianal di
atas archus ischiadicus.
Rotasi, adalah pemutaran fetus pada sumbu panjangnya untuk
memgembalikan keposisi dorso-sakral. Rotasi dilakukan
dengan memutar fetus sebesar 90 sampai 180o
Versi, adalah rotasi vetus pada poros tranversalnya menjadi
presentasi anterior atau posterior.
Ekstensi, adalah tindakan pelurusan satu atau lebih ekstremitas
yang mengalami penekukan sehingga menyebabkan postur
yang abnormal (Toelihere, 1985).
Penanganan dengan cara mutasi dianjurkan menggunakan anastesi
epidural, karena menyebabkan perejanan yang kuat.
c. Penarikan Paksa, adalah pengeluaran etus dari saluran kelahiran
dengan menggunakan kekuatan dan tarikan dari luar. Penarikan paksa
dilakukan apabila kontraksi uterus lemah dan fetus tidak mampu
menstimulir proses perejanan (Toelihere, 1985).
d. Fetotomi atau embriotomi, adalah pemotongan fetus untuk mengurangi
ukurannya di dalam uterus induk dengan tujuan untuk meyelamatkan
induk. Fetotomi dilakukan apabila ukuran fetus terlampau besar.
Keuntungan fetotomi adalah menghindari resiko pada operasi sectio
caesaria, biaya lebih murah, mengindari kemungkinan trauma akibat
penarikan yang berlebihan, dan perawatan induk lebih mudah jika
dibandingkan dengan operasi sectio caesaria (Toelihere, 1985).
e. Sectio caesaria, pengeluaran fetus dengan cara laparotomy merupakan
alternatif terakhir dari penanganan distokia (Bright, 2011).
DAFTAR PUSTAKA

Bright, R.M. 2011. Dystocia in Dogs and Cats. Elseiver Inc. USA.

Santosa, B. 2014. Penanggulangan Penyakit Gangguan Reproduksi pada Sapi


Potong. Balai Veteriner Bukit Tinggi. Medan

Tolihere, M. R. 1985. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. Universitas
Indonesia Press. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai