0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan9 halaman

Panduan Lengkap CAPD: Indikasi dan Prosedur

Dokumen tersebut merangkum tentang Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) yang merupakan metode dialisis yang menggunakan peritoneum sebagai membran untuk mengeluarkan limbah metabolik dari darah. CAPD bekerja dengan memasukkan dan mengeluarkan cairan dialisat ke dalam rongga perut secara berulang untuk mendialiskan darah secara kontinyu tanpa harus dirawat di rumah sakit. Prosesnya meliputi pemasangan kateter peritoneal

Diunggah oleh

Eka Prayitna Devi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan9 halaman

Panduan Lengkap CAPD: Indikasi dan Prosedur

Dokumen tersebut merangkum tentang Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) yang merupakan metode dialisis yang menggunakan peritoneum sebagai membran untuk mengeluarkan limbah metabolik dari darah. CAPD bekerja dengan memasukkan dan mengeluarkan cairan dialisat ke dalam rongga perut secara berulang untuk mendialiskan darah secara kontinyu tanpa harus dirawat di rumah sakit. Prosesnya meliputi pemasangan kateter peritoneal

Diunggah oleh

Eka Prayitna Devi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CONTINUOUS AMBULATORY PERITONEAL DIALYSIS (CAPD)

A. DEFINISI CAPD
CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) adalah metode pencucian darah
dengan menggunakan peritoneum (selaput yang melapisi perut dan pembungkus organ
perut). Selaput ini memiliki area permukaan yang luas dan kaya akan pembuluh darah.
Zat-zat dari darah dapat dengan mudah tersaring melalui peritoneum ke dalam rongga
perut. Cairan dimasukkan melalui sebuah selang kecil yang menembus dinding perut ke
dalam rongga perut. Cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga limbah
metabolic dari aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut, kemudian
cairan dikeluarkan, dibuang, dan diganti dengan cairan yang baru (Surya Husada,
2008).
Pada dialysis peritoneal, permukaan peritoneum yang luasnya sekitar 22.000 cm2
berfungsi sebagai permukaan difusi. Cairan dialisat yang tepat dan steril dimasukkan ke
dalam cavum peritoneal menggunakan kateter abdomen dengan interval. Ureum dan
creatinin yang keduanya merupakan produk akhir metabolism yang diekskresikan oleh
ginjal dikeluarkan (dibersihkan) dari darah melalui difusi dan osmosis ketika produk
limbah mengalir dari daerah dengan konsentrasi tinggi (suplai darah peritoneum) ke
daerah dengan konsentrasi rendah (cavum peritoneal) melalui membrane
semipermeable (membrane peritoneum). Ureum dibersihkan dengan kecepatan 15
hingga 20 ml/menit, sedangkan creatinin dikeluarkan lebih lambat.

B. TUJUAN CAPD
Tujuan terapi CAPD ini adalah untuk mengeluarkan zat-zat toksik serta limbah
metabolic, mengembalikan keseimbangan cairan yang normal dengan mengeluarkan
cairan yang berlebihan dan memulihkan keseimbangan elektrolit.

C. INDIKASI CAPD
- Pasien yang rentan terhadap perubahan cairan, elektrolit dan metabolic yang cepat
(hemodinamik yang tidak stabil)
- Penyakit ginjal stadium terminal yang terjadi akibat penyakit diabetes
- Pasien yang berisiko mengalami efek samping pemberian heparin secara sistemik
- Pasien dengan akses vascular yang jelek (lansia)
- Adanya penyakit kardiovaskuler yang berat

- Hipertensi berat, gagal jantung kongestif dan edema pulmonary yang tidak responsive
terhadap terapi dapat juga diatasi dengan dialysis peritoneal.

D. KONTRAINDIKASI CAPD
- Riwayat pembedahan abdominal sebelumnya (kolostomi, ileus, nefrostomi)
- Adhesi abdominal
- Nyeri punggung kronis yang terjadi rekuren disertai riwayat kelainan pada discus
intervertebalis yang dapat diperburuk dengan adanya tekanan cairan dialisis dalam
abdomen yang kontinyu
- Pasien dengan imunosupresi

E. CARA KERJA CAPD


1. Pemasangan Kateter untuk Dialisis Peritoneal
Sebelum melakukan Dialisis peritoneal, perlu dibuat akses sebagai tempat keluar
masuknya cairan dialisat (cairan khusus untuk dialisis) dari dan ke dalam rongga perut
(peritoneum). Akses ini berupa kateter yang ditanam di dalam rongga perut dengan
pembedahan. Posisi kateter yaitu sedikit di bawah pusar. Lokasi dimana sebagian
kateter muncul dari dalam perut disebut exit site.
Mula-mula, alat perangkat harus disiapkan. Ini terdiri dari alat baxter dinealR61L
yang besar dengan tetes rangkap dimana diikatkan dua kantong cairan dialysis 1 L. Dari
pipa umum, alat tetes rangkap ada suatu pipa tambahan yang menuju ke belakang, ini
untuk mengsyphon off cairan dari peritoneum. Seluruh pipa harus terisi dengan cairan
yang dipakai. Sebuah kantong pengumpulan steril yang besar (paling sedikit volume 2
L) diikatkan pada pipa keluar.
Kemudian, anastesi local (lignocain 1-2%) disuntikkan ke linea alba antara pusar
atau umbilicus dan symphisis pubis, biasanya kira-kira 2/3 bagian dari pubis. Bekas luka
pada dinding abdominal harus dihindari dan kateter dapat dimasukkan sebelah lateral
dari selaput otot rectus abdominus. Anastesi local yang diberikan cukup banyak (10-15
ml) dan yang paling penting untuk meraba peritoneum dan mengetahui bahwa telah
diinfiltrasi, bila penderita gemuk, sebuah jarum panjang (seperti jarum cardiac atau
pungsi lumbal) diperlukan untuk menganastesi peritoneum.
Suatu insisi kecil (sedikit lebih pendek dari garis tengah kanula) dibuat di kulit
dengan pisau nomor 11. Kateter peritoneal kemudian didorong masuk ke ruang
peritoneal dengan gerakan memutar (seperti sekrup). Sewaktu sudah masuk, pisau
ditarik 1 inci dan kateter diarahkan ke pelvis. Kdang-kadang dinding atau selaput
peritoneum terasa sebagai dua lapis yang dapat dibedakan, keduanya harus ditembus
sebelum menarik pisau dan mengarahkan kateter. Pada waktu ini, harus segera
dijalankan atau dialirkan 2 L cairan dan diperhatikan reaksi penderita, minimalkan rasa
tidak nyaman. Segera setelah cairan ini masuk, harus di syphon off untuk melihat
bahwa system tersebut mengalir lancar, sesuaikan posisi kateter untuk menjamin
bahwa aliran cukup baik. Beberapa inci dari kateter akan menonjol dari abdomen dan ini
dapat dirapikan bila perlu. Namun paling sedikit 1 atau 2 inci harus menonjol dari
dinding perut. Hal ini kemudian dikuatkan ditempat dengan elastoplas. Dengan tiap
trokat ada suatu pipa penyambung yang pendek yang menghubungkan kateter ke alat
perangkat.

2. Pemasukan Cairan Dialisat


Dialisis Peritoneal diawali dengan memasukkan cairan dialisat (cairan khusus untuk
dialisis) ke dalam rongga perut melalui selang kateter, lalu dibiarkan selama 4-6 jam.
Ketika dialisat berada di dalam rongga perut, zat-zat racun dari dalam darah akan
dibersihkan dan kelebihan cairan tubuh akan ditarik ke dalam cairan dialisat.
Sekitar 2 L dialisat dihangatkan sesuai dengan suhu tubuh kemudian disambungkan
dengan kateter peritoneal melalui [Link] steril dibiarkan mengalir secepat
mungkin kedalam rongga peritoneum. Dialisat steril 2 L dihabiskan dalam waktu 10
menit. Kemudian klem selang ditutup. Osmosis cairan yang maksimal dan difusi
solut/butiran ke dalam dialisat mungkin terjadi dalam 20-30 menit. Pada akhir dwell-time
(waktu yang diperlukan dialisat menetap di dalam peritoneum), klem selang dibuka dan
cairan dibiarkan mengalir karena gravitasi dari rongga peritoneum ke luar (ada kantong
khusus). Cairan ini harus mengalir dengan lancar. Waktu drainase (waktu yang
diperlukan untuk mengeluarkan semua dialisat dari rongga peritoneum) adalah 10-15
menit. Drainase yang pertama mungkin berwarna merah muda karena trauma yang
terjadi waktu memasang kateter peritoneal. Pada siklus ke-2 atau ke-3, drainase sudah
jernih dan tidak boleh ada lagi drainase yang bercampur dengan darah. Setelah cairan
dikeluarkan dari rongga peritoneum, siklus yang selanjutnya harus segera dimulai. Pada
pasien yang sudah dipasang kateter peritoneal, sebelum memasukkan dialisat kulit
diberi obat bakterisida. Setelah dialisis selesai, kateter dicuci lagi dan ujungnya ditutup
dengan penutup yang steril.
Zat-zat racun yang terlarut di dalam darah akan pindah ke dalam cairan dialisat
melalui selaput rongga perut (membran peritoneum) yang berfungsi sebagai alat
penyaring, proses perpindahan ini disebut Difusi.
3. Proses Penggantian Cairan Dialisat
Proses ini tidak menimbulkan rasa sakit dan hanya membutuhkan waktu singkat ( 30
menit). Terdiri dari 3 langkah:
Pengeluaran Cairan
Cairan dialisat yang sudah mengandung zat-zat racun dan kelebihan air akan
dikeluarkan dari rongga perut dan diganti dengan cairan dialisis yang baru. Proses
pengeluaran cairan ini berlangsung sekitar 20 menit.

Memasukkan Cairan
2 L cairan dialirkan pada kira-kira setiap 45-60 menit, biasanya hanya memakan waktu
5 menit untuk mengalirkan. Cairan dialisat dialirkan ke dalam rongga perut melalui
kateter.
Waktu Tinggal
Sesudah dimasukkan, cairan dialisat dibiarkan ke dalam rongga perut selama 4-6 jam,
tergantung dari anjuran dokter. Atau cairan ditinggal dalam ruang peritoneum untuk kira-
kira 20 menit dan kemudian 20 menit dibiarkan untuk pengeluaran. Setelah itu, 2 L
cairan lagi dialirkan. Hal ini diulang tiap jam untuk 36 jam atau lebih lama bila perlu.
Suatu catatan, keseimbangan kumulatif dari cairan yang mengalir ke dalam dan keluar
harus dilakukan dengan dasar tiap 24 jam. Suatu kateter Tenchoff yang fleksibel dapat
dipakai juga dapat ditinggal secara permanen untuk CAPD dari penderita yang
mengalami gagal ginjal tahap akhir. Proses penggantian cairan di atas umumnya
diulang setiap 4 atau 6 jam (4 kali sehari), 7 hari dalam seminggu.

F. PRINSIP-PRINSIP CAPD
CAPD bekerja berdasrkan prinsip-prinsip yang sama seperti pada bentuk dialisis
lainnya, yaitu: difusi dan osmosis. Namun, karena CAPD merupakan terapi dialisis yang
kontinyu, kadar produk limbah nitrogen dalam serum berada dalam keadaan yang
stabil. Nilainya tergantung pada fungsi ginjal yang masih tersisa, volume dialisa setiap
hari, dan kecepatan produk limbah tesebut diproduksi. Fluktuasi hasil-hasil laboritorium
ini pada CAPD tidak bergitu ekstrim jika dibandingkan dengan dialysis peritoneal
intermiten karena proses dialysis berlangsung secara konstan. Kadar eletrilit biasanya
tetap berada dalam kisaran normal.
Semakin lama waktu retensi, kliren molekul yang berukuran sedang semakin baik.
Diperkirakan molekul-molekul ini merupakan toksik uremik yang signifikan. Dengan
CAPD kliren molekul ini meningkat. Substansi dengan berat molekul rendah, seperti
ureum, akan berdifusi lebih cepat dalam proses dialysis daripada molekul berukuran
sedang, meskipun pengeluarannya selama CAPD lebih lambat daripada selama
hemodialisa. Pengeluaran cairan yang berlebihan pada saat dialysis peritonial dicapai
dengan menggunakan larutan dialisat hipertonik yang memiliki konsentrasi glukosa
yang tinggi sehingga tercipta gradient osmotic. Larutan glukosa 1,5%, 2,5% dan 4,25%
harus tersedia dengan bebepara ukuran volume, yaitu mulai dari 500 ml hingga 3000 ml
sehingga memungkinkan pemulihan dialisat yang sesuai dengan toleransi, ukuran tubuh
dan kebutuhan fisiologik pasien. Semakin tinggi konsentrasi glukosa, semakin besar
gradient osmotic dan semakin banyak cairan yang dikeluarkan. Pasien harus diajarkan
cara memilih larutan glukosa yang tepat berdasarkan asupan makanannya.
Pertukaran biasanya dilakukan empat kali sehari. Teknik ini berlangsung secara
kontinyu selama 24 jam sehari, dan dilakukan 7 hari dalam seminggu. Pasien
melaksanakan pertukaran dengan interval yang didistribusikan sepanjang hari
(misalnya, pada pukul 08.00 pagi, 12.00 siang hari, 05.00 sore dan 10.00 malam). Dan
dapat tidur pada malam harinya. Setipa pertukaran biasanya memerlukan waktu 30-60
menit atau lebih; lamanya proses ini tergantung pada lamanya waktu retensi yang
ditentukan oleh dokter. Lama waktu penukaran terdiri atas lima atau 10 menit periode
infus (pemasukan cairan dialisat), 20 menit periode drainase (pengeluaran ciiran
dialisat) dan waktu rentensi selama 10 menit, 30 menit atau lebih.

G. EFEKTIFITAS, KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN


1. Efektifitas CAPD
Selain bisa dikerjakan sendiri, proses penggantian cairan dengan cara CAPD lebih
hemat waktu dan biaya, tak menimbulkan rasa sakit, dan fungsi ginjal yang masih
tersisa dapat dipertahankan lebih lama (Wurjanto, 2010). Menurut Wurjanto, CAPD
adalah cara penanganan penderita gagal ginjal, yakni dialisis yang dilakukan melalui
rongga peritoneum (rongga perut) di mana yang berfungsi sebagai filter adalah
selaput/membran. Cara kerjanya, diawali dengan memasukkan cairan dialisis ke dalam
rongga perut melalui selang kateter yang telah ditanam dalam rongga perut. Teknik ini
memanfaatkan selaput rongga perut untuk menyaring dan membersihkan darah. Ketika
cairan dialisis berada dalam rongga perut, zat-zat di dalam darah akan dibersihkan, juga
kelebihan air akan ditarik. Cara CAPD antara lain hanya butuh 30 menit, dilakukan di
rumah oleh pasien bersangkutan, tidak ada tusukan jarum yang menyakitkan, fungsi
ginjal yang tersisa bisa lebih lama, dialisis dapat dilakukan setiap saa, dan pasiennya
lebih bebas atau dapat bekerja seperti biasa (Wurjanto, 2010).
2. Keuntungan CAPD dibanding HD
Terdapat tiga keuntungan utama dari penggunaan dialisis peritoneal:
Bisa mengawetkan fungsi ginjal yang masih tersisa. Seperti diketahui sebenarnya saat
mencapai GGT, fungsi ginjal itu masih tersisa sedikit. Di samping untuk membersihkan
kotoran, fungsi ginjal (keseluruhan) yang penting lainnya adalah mengeluarkan
eritropoetin (zat yang bisa meningkatkan HB) dan pelbagai hormon seks. Berbeda
dengan dialisis yang lain, dialisis peritoneal tidak mematikan fungsi-fungsi tersebut.
Angka bertahan hidup sama atau relatif lebih tinggi dibandingkan hemodialisis pada
tahun-tahun pertama pengobatan Meskipun pada akhirnya, semua mempunyai usia
juga, tetapi diketahui bahwa pada tahun-tahun pertama penggunaan dialisis peritoneal
menyatakan angka bertahan hidup bisa sama atau relatif lebih tinggi.
Harganya lebih murah pada kebanyakan negara karena biaya untuk tenaga/fasilitas
kesehatan lebih rendah (Tapan, 2004).
Keuntungan tambahan yang lain yaitu:
Dapat dilakukan sendiri di rumah atau tempat kerja
Pasien menjadi mandiri (independen), meningkatkan percaya diri
Simpel, dapat dilatih dalam periode 1-2 minggu.
Jadwal fleksibel, tidak tergantung penjadwalan rumah sakit sebagaimana HD
Pembuangan cairan dan racun lebih stabil
Diit dan intake cairan sedikit lebih bebas
Cocok bagi pasien yang mengalami gangguan jantung
Pemeliharaan residual renal function lebih baik pada 2-3 tahun pertama.
3. Kelemahan CAPD
Resiko infeksi. Peritonitis merupakan komplikasi yang sering. Juga dapat terjadi infeksi
paru karena goncangan diafragma
Pengobatan yang tidak nayman dan penderita sebagian tidak boleh bergerak di tempat
tidur. Kateter harus diganti setiap 4-5 hari
Pengeluaran protein dari dialisat, sampai pada 40 gram/24 jam. Baik subnutrisi
(pengeluaran asam amino) maupun hipovolemia (pengeluaran albumin) dapat terjadi.
BB naik karena glukosa, pada cairan CAPD diabsorbsi (Iqbal et al, 2005).
Tabel Perbandingan hemodialisis dengan dialisis mandiri
Kategori Hemodialisa (HD) Dialisis Mandiri
(CAPD)
Segi Harus dilakukan di Rumah Sakit, Dapat dilakukan di
kepraktisan lamanya proses 4-5 jam rumah/tempat kerja,
lamanya proses 30
menit
Biaya Sekali cuci darah Rp. 500 ribu-1 Satu kantong dialisat
juta, seminggu bisa 2-3 kali. Total (cairan pencuci darah)
biaya per bulannya akan mencapai Rp. 40 ribu sehari
akan mencapai Rp. 4-5 juta penggantian dialisat.
Biaya per bulannya
mencapai Rp. 5,5 juta.
Pantangan Pantang beragam makanan Tidak perlu diet ketat
terutama yang tinggi protein
Resiko Fungsi ginjal dan jantung dapat Fungsi ginjal, jantung,
komplikasi menurun karena dipaksa bekerja dan darah relatif aman
lebih keras selama proses karena tidak terganggu.
pencucian darah. Dengan Kadar Hb relativ lebih
pengeluaran darah, darah tidak tinggi dibandingkan
cukup aman dari resiko dengan hemodialis,
kontaminasi. Butuh terapi hormon sehingga dibutuhkan
eritropoetin untuk mengimbangi lebih sedikit
penurunan kadar Hb eritroprotein. Namun,
CAPD rawan infeksi
sehingga pasien perlu
dilatih untuk menjaga
kebersihan badannya

H. KOMPLIKASI CAPD
1. Peritonitis
Komplikasi yang bisa terjadi pada pelaksanaan Dialisa Peritonial Ambulatory
Continous adalah radang selaput rongga perut atau peritonitis. Gejala yang muncul
seperti cairan menjadi keruh dan atau nyeri perut dan atau demam. Peritonitis
merupakan komplikasi yang paling sering dijumpai dan paling serius. Komplikasi ini
terjadi pada 60% hingga 80% pasien yang menjalani dialysis peritoneal. Sebagian besar
kejadian peritonitis disebabkan oleh kontaminasi staphylococcus epidermis yang
bersifat aksidental. Kejadian ini mengakibatkan gejala ringan dan prognosisnya baik.
Meskipun demikian, peritonitis akibat staphylococcus aureus menghasilkan angka
morbiditas yang lebih tinggi, mempunyai prognosis yang lebih serius dan berjalan lebih
lama. Mikroorganisme gram negative dapat berasal dari dalam usus, khususnya bila
terdapat lebih dari satu macam mikroorganisme dalam cairan peritoneal dan bila
mikroorganisme tersebut bersifat anaerob. Manifestasi peritonitis mencakup cairan
drainase (effluent) dialisat yang keruh dan nyeri abdomen yang difus. Hipotensi dan
tanda-tanda syok lainnya dapat terjadi jika staphylococcus merupakan mikroorganisme
penyebab peritonitis. Pemeriksaan cairan drainase dilakukan untuk penghitungan
jumlah sel, pewarnaan gram, dan pemeriksaan kultur untuk mengenali mikroorganisme
serta mengarahkan terapi. Untuk mencegah komplikasi seperti ini, sangatlah penting
penderita selalu:
- Membersihkan tangan sebelum melakukan penukaran atau menyentuh kateter.
- Menjaga lubang keluar kateter itu bersih dan sehat
- Tidak mengkontaminasi peralatan yang steril (gunakan masker selama proses
penukaran cairan)
- Carilah tempat yang bersih, nyaman dan aman sebelum melakukan penukaran cairan
dialisat tersebut
- Jika hendak bepergian, jangan lupa mengontak 3 minggu sebelumnya sentra-sentra
dialisa di kota tujuan
Jika telah terjadi komplikasi seperti ini, biasanya dokter akan menginstruksikan untuk
menambah obat pada cairan pencuci (dialisat) tersebut. Hal ini bisa dilakukan sendiri
oleh pasien.
2. Kebocoran
Kebocoran cairan dialisat melalui luka insisi atau luka pada pemasangan kateter
dapat segera diketahui sesudah kateter dipasang. Biasanya kebocoran tersebut
berhenti spontan jika terapi dialysis ditunda selama beberapa ahri untuk
menyembuhkan luka insisi dan tempat keluarnya kateter. Selama periode ini, factor-
faktor yang dapat memperlambat proses kesembuhan seperti aktivitas abdomen yang
tidak semestinya atau mengejan pada saat BAB harus dikurangi. Kebocoran melalui
tempat pemasangan kateter atau ke dalam dinding abdomen dapat terjadi spontan
beberapa bulan atau tahun setelah pemasangan kateter tersebut.
3. Perdarahan
Cairan drainase (effluent) dialisat yang mengandung darah kadang-kadang dapat
terlihat, khususnya pada pasien wanita yang sedang haid. Kejadian ini sering dijumpai
selama beberapa kali pertukaran pertama mengingat sebagian darah akibat prosedur
tersebut tetap berada dalam rongga abdomen pada banyak kasus penyebab terjadinya
perdarahan tidak ditemukan. Pergeseran kateter dari pelvis kadang-kadang disertai
dengan perdarahan. Sebagian pasien memperlihatkan cairan drainase dialisat yang
berdarah sesudah ia menjalani pemeriksaan enema atau mengalami trauma ringan.
Perdarahan selalu berhenti setelah satu atau dua hari sehingga tidak memerlukan
intervensi yang khusu. Terapi pertukaran yang lebih sering dilakukan selama waktu ini
mungkin diperlukan untuk mencegah obstruksi kateter oleh bekuan darah.
4. Hernia abdomen
Hernia abdomen mungkin terjadi akibat peningkatan tekanan intraabdomen yang
terus menerus. Tipe hernia yang pernah terjadi adalah tipe insisional, inguinal,
diafragmatik dan umbilical. Tekanan intraabdomen yang secara persisten meningkat
juga akan memperburuk gejala hernia hiatus dan hemoroid.
5. Hipertrigliseridemia
Hipertrigliseridemia sering dijumpai pada pasien-pasien yang menjalani CAPD
sehingga timbul kesan bahwa terapi ini mempermudah aterogenesis.
6. Nyeri punggung bawah dan anoreksia
Nyeri punggung bawah dan anoreksia terjadi akibat adanya cairan dalam rongga
abdomen disamping rasa manis yang selalu terasa pada indera pengecap serta
berkaitan dengan absorbsi glukosa dapat pula terjadi pada terapi CAPD
7. Gangguan citra rubuh dan seksualitas
Meskipun CAPD telah memberikan kebebasan yang lenih besar untuk mengontrol
sendiri terapinya kepada pasien penyakit renal stadium terminal, namun bentuk terapi
ini bukan tanpa masalah. Pasien sering mengalami gangguan citra tubuh dengan
adanya kateter abdomen dan kantong penampung serta selang dibadannya.
8. Infeksi pada akses keluar dan tunnel
Akses keluar PD seharusnya bersih, kering dan tanpa nyeri atau inflamasi. Infeksi
pada akses keluar (ESIs) dapat terjadi pada semua tipe PD. Infeksi ini sulit diatasi dan
dapat menjadi kronik. Infeksi pada akses keluar dan tunnel dapat menjadi peritonitis,
kegagalan kateter, dan membutuhkan rawat inap. Kebocoran dialisat dan tarikan atau
kateter membelit, merupakan predisposisi klien ESIs.
Pemeriksaan gram dengan zat warna dan kultur perlu dilakukan jika akses keluar
tampak purulen. Infeksi tunnel terjadi pada bagian kateter dari kulit ke stuff.
Manifestasinya berupa kemerahan, lembek, [Link] diobati dengan antimikroba.
Infeksi cuff yang dalam biasanya ditangani dengan mencabut kateter.

Gambar : infeksi pada exit site PD

I. FAKTOR RESIKO TERJADINYA KOMPLIKASI CAPD


1) Usia
Usia lanjut akan mengalami berbagai penurunan fungsi tubuh dan rentan terhadap
berbagai penyakit. Menurut Holley & Section dan Peso, et al (dalam Batubara, 2011)
bahwa usia lanjut signifikan menyebabkan terjadinya hernia saat CAPD
2) Lama menjalani CAPD
Semakin lama pasien telah menjalani CAPD maka akan terjadi peningkatan
pengetahuan dan wawasan terhadap CAPD yang dilakukan sehingga akan
mempengaruhi kemampuan pasien dalam melakukan perawatan untuk mencegah
infeksi. Penelitian Nolph (dalam Batubara, 2011) mengamati pasien yang menjalani
CAPD dalam tiga tahun pertama ditemukan terjadinya peritonitis, infeksi exit site dan
catheter replacement. Pollock (dalam Batubara, 2011) juga menemukan terjadinya
peritonitis pada 2-3 tahun pertama pemakaian CAPD di Australia.
3) Kepatuhan pasien terhadap prosedur standar
Selama pasien dalam masa training, prosedur standar pengolaan CAPD dirumah, yaitu
mengganti cairan dialisat dan mengenal tanda-tanda peritonitis serta penggunaan
emergency call. Kepatuhan pasien dapat mencegah berbagai komplikasi yang tidak
diinginkan
4) Higienitas pasien dan penolongnya saat memulai dan mengakhiri tindakan CAPD
Sebelum melakukan pergantian cairan dialisat, pasien perlu menutup pintu, jendela dan
mematikan kipas/AC. Kebersihan exit-site harus dipertahankan setiap hari untuk
mencegah terjadinya infeksi peritonitis dan infeksi exit-site. Pasien atau penolong harus
mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh kateter. Exit-site perlu dicuci dengan
antiseptic tiap hari. Pasien dan penolong menggunakan masker ketika melakukan
penggantian cairan dialisat. Pasien juga tidak boleh menggaruk atau menaburkan
bedak pada area disekitar exit site (Batubara, 2011).
5) Status nutrisi
Pasien dengan nutrisi yang tidak seimbang dapat rentan terkena paparan penyakit
akibat sistem kekebalan tubuhnya tidak adekuat.
6) Fasilitas keperawatan
Pasien yang telah memutuskan menjalani CAPD dirumah perlu menyediakan tempat
khusus untuk menyimpan fasilitas perawatan CAPD. Fasilitas perawatan ini harus
cukup memadai dalam mencegah infeksi dan memenuhi kebutuhan pemasangan dan
penggantian cairan dialisat. Fasilitas tersebut diantaranya tempat cuci tangan
menggunakan air mengalir, tersedianya kamar khusus untuk melakukan penggantian
cairan dialisat dan perawatan exit site, lampu penerangan dalam ruangan yang cukup.
(Batubara, 2011).

Anda mungkin juga menyukai