Rencana Teknis Permukiman Desa Ensa
Rencana Teknis Permukiman Desa Ensa
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
BAB Tanggapan
A Terhadap KAK
USULAN TEKNIS
A- 1
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
Selain itu, wilayah Indonesia juga merupakan daerah pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik
besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasifik yang potensial
menimbulkan bencana karena di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi
tabrakan terkumpul sampai suatu titik di mana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan
tumpukan energi yang lepas berupa gempa bumi. Indonesia juga memiliki keberagaman
antarwilayah yang tinggi seperti keberagaman sumber daya alam, keberagaman kondisi
geografi dan demografi, keberagaman agama, serta keberagaman kehidupan sosial,
ekonomi, dan budaya. Demikian strategis dan besarnya potensi bencana wilayah NKRI,
maka Pasal 33 ayat (3) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
menegaskan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Memahami kondisi wilayah NKRI tersebut, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 menegaskan bahwa
aspek spasial haruslah diintegrasikan ke dalam kerangka perencanaan pembangunan.
Sedangkan, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
mengamanatkan pentingnya integrasi dan keterpaduan antara rencana pembangunan
dengan rencana tata ruang di semua tingkatan pemerintahan. Kebijakan tersebut
menunjukkan bahwa pembangunan nasional Indonesia dilaksanakan berdasarkan dimensi
kewilayahan dalam rangka mengoptimalkan pengelolaan potensi sumber daya wilayah
untuk mendorong peningkatan daya saing daerah dalam kerangka peningkatan daya saing
USULAN TEKNIS
A- 2
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
A.1.2 TUJUAN
1) Menyusun Tata Ruang Satuan Permukiman yang memenuhi kriteria 2 C (Clear and
Clean) dan 4 L (Layak Huni, Layak Usaha, Layak Berkembang dan Layak
Lingkungan);
2) Menyusun Rencana Satuan Permukiman Transmigrasi yang terintegrasi dengan
wilayah dan masyarakat sekitar yang ada;
3) Menganalisis kesesuaian permukiman dan kesesuaian kegiatan pokok yang dapat
dikembangkan di lokasi;
4) Menetapkan kebutuhan dasar secara normatif, jenis dan volume sarana dan
prasarana permukiman transmigrasi;
5) Memberikan rekomendasi kegiatan pembangunan permukiman, penempatan dan
pembinaan transmigrasi Nelayan serta pengembangan usaha transmigrasi.
A.1.3 SASARAN
Sasaran yang hendak dicapai dalam penyusunan Rencana Teknis Satuan Pemukiman
(RTSP) Transmigrasi Nelayan di Desa Baturube Kecamatan Bungku utara Kabupaten
Morowali Utara adalah sebagai berikut :
USULAN TEKNIS
A- 3
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
Untuk mencapai tujuan dan sasaran sebagaimana diatas maka dalam penyusunan
Rencana Teknis Satuan Pemukiman (RTSP) Transmigrasi Nelayan di Desa Baturube
Kecamatan Bungku utara Kabupaten Morowali Utara perlu dilaksanakan berbagai
kegiatan yang secara garis besar meliputi :
USULAN TEKNIS
A- 4
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
Jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini adalah selama 180
(seratus delapan puluh) hari kalender.
a. Buku Laporan Pendahuluan; sebagai wujud kemajuan awal pekerjaan, isinya secara
sistimatis merupakan hasil elaborasi dari kerangka acuan kerja yang berisikan antara
lain; pemahaman latar belakang, tujuan dan sasaran pekerjaan, pemahaman
terhadap lingkup pekerjaan yang diwujudkan dalam bentuk metodologi pelaksanaan
USULAN TEKNIS
A- 5
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
pekerjaan pada tiap-tiap lingkup pekerjaan dan keluaran yang akan dihasilkan
dikaitkan dengan penyediaan tenaga ahli serta peralatan yang dibutuhkan, jadwal
pelaksanaan pekerjaan dan jadwal pelibatan tenaga ahli. Pada Laporan pendahuluan
ini sudah harus tergambarkan juga informasi umum kawasan yang berkaitan dengan
letak administrasi, penduduk, kemudahan jangkauan (aksebilitas kawasan) dsb.,
yakni sebagai gambaran pengenalan awal konsultan pada kawasan yang hendak
direncanakan. Draft Laporan pendahuluan ini perlu di diskusikan dengan SKPD
terkait guna memperoleh masukan-masukan korektif sebelum di serahkan sebagai
Dokumen Laporan Pendahuluan. Jumlah Buku Laporan Pendahuluan yang wajib
diserahkan sebanyak 10 Buku, ukuran kertas A4, sampul warna hardcover dengan
desain yang menarik. Apabila ada lampiran peta ukuran kertas yang lebih besar (A3
atau A1 atau lainnya) dapat jilid menyatu dengan buku laporan dengan melipat sesuai
ukuran buku. Buku Laporan Pendahuluan diserahkan paling lambat 1 bulan setelah
kontrak.
b. Buku Laporan Antara; merupakan wujud kemajuan pertengahan pelaksanaan
pekerjaan. Buku Laporan antara ini berisikan data hasil survey sesuai dengan
metodologi pelaksanaan pekerjaan yang telah dikemukakan pada laporan
pendahuluan. Data-data tersebut perlu disistimatiskan agar supaya mudah di analisis.
Dalam buku laporan antara ini sudah harus ada hasil analisis masing-masing item
kegiatan sebagaimana lingkup kegiatan sehingga memudahkan dalam tahap
penyusunan rencana teknis satuan permukiman nantinya serta rekomendasinya.
Draft Buku Laporan antara ini perlu di diskusikan dengan SKPD terkait guna
memperoleh masukanmasukan korektif sebelum di serahkan sebagai Dokumen
Laporan Antara.
Jumlah Buku laporan antara yang wajib diserahkan kepada PPK sebanyak 10
buku,ukuran kertas A4, sampul warna hardcover dengan desain yang menarik.
Apabila ada lampiran peta ukuran kertas yang lebih besar (A3 atau A1 atau lainnya)
dapat jilid menyatu dengan buku laporan dengan melipat sesuai ukuran buku. Buku
Laporan Antara diserahkan paling lambat 2 bulan setelah kontrak.
c. Buku Laporan Akhir: merupakan wujud penyelesaian pelaksanaan pekerjaan secara
keseluruhan. Buku Laporan Akhir berisikan antara lain; data yang telah disistmatiskan
serta analisisnya, rencana teknis satuan permukiman transmigrasi antara lain berupa
rencana tata ruang, rencana teknis jalan, kajian lingkungan serta simpulan dan
rekomendasi pengembangan satuan permukiman transmigrasi yang direncanakan.
Draft Buku Laporan Akhir ini perlu di diskusikan dengan SKPD terkait guna
USULAN TEKNIS
A- 6
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR PETA
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang dan Tujuan
Metode Pendekatan Studi
Susunan Tim
USULAN TEKNIS
A- 7
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
USULAN TEKNIS
A- 8
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
USULAN TEKNIS
A- 9
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
d. Album peta; Album peta merupakan kelengkapan yang tidak terpisahkan dari
Dokumen Buku Laporan Akhir, yang wajib diserahkan bersama-sama dengan Buku
Laporan Akhir. Ukuran kertas Album Peta A1 dijilid rapi sebanyak 3 Album
dandiserahkan bersama-sama dengan Laporan Akhir. Adapun isi Album Peta serta
skala masing-masing jenis peta adalah sebagaimana berikut ini :
USULAN TEKNIS
A - 10
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
USULAN TEKNIS
A - 11
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
2. Mengikuti Aanwijzing/ penjelasan yang diberikan oleh Panitia Pelelangan, berusaha bertanya
tentang hal-hal yang belum dimengerti atau adanya tambahan penjelasan.
4. Studi literatur tentang peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan terbaru, kebijakan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, serta rencana/ studi-studi terkait yang memiliki korelasi
dengan tema studi/ pekerjaan yang akan dilakukan.
USULAN TEKNIS
A - 12
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
6. Mendiskusikan substansi pokok dan point-point penting pada intern tim penyusun proposal/ usulan
teknis untuk mendapatkan kesamaan persepsi dan pandangan diantara sesama tim penyusun.
Upaya diatas adalah langkah awal yang menjadi pertimbangan konsultan dalam
melaksanakan pekerjaan. Secara keseluruhan rangkaian kegiatan dalam memahami
substansi dari KAK kegiatan Penyusunan Rencana Teknis Permukiman (RTSP)
Transmigran Nelayan dan Rencana Teknik Jalan (RTJ) dapat dilihat pada diagram alir di
bawah ini.
Dalam menanggapi Kerangka Acuan Kerja, secara umum dapat dikemukakan sistematika
yang ada dalam Kerangka Acuan Kerja tersebut, yaitu: latar belakang, sasaran kegiatan,
penerima manfaat, strategi pencapaian keluaran, keluar (output), tenaga ahli, dan waktu
pelaksanaan.
USULAN TEKNIS
A - 13
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
Dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) dinilai telah cukup memadai dalam menjelaskan
substansi pekerjaan, namun ada beberapa catatan yang perlu dikemukakan berhubung
kekhasan pekerjaan ini. Catatan ini merupakan tanggapan konsultan yang dipandang
perlu adanya penajaman dan hal-hal yang dapat dikembangkan dalam kegiatan tersebut,
sehingga pencapaian produk akhir sesuai dengan sasaran dan keluaran yang diinginkan.
USULAN TEKNIS
A - 14
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
USULAN TEKNIS
A - 15
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
penyangga, termasuk antara kota dan desa. Pusat-pusat pertumbuhan pada setiap
Kawasan Transmigrasi diharapkan dapat menggerakkan aktivitas perekonomian yang
dapat membuka ruang berwirausaha. Terbukanya ruang berwirausaha tersebut
diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat yang dapat mendorong
peningkatan daya saing daerah. Oleh karena itu, upaya pengembangan Masyarakat
Transmigrasi dan Kawasan Transmigrasi diarahkan untuk mencapai tingkat swasembada
dan terbentuknya pusat pertumbuhan ekonomi dalam satu kesatuan dengan upaya-upaya
pembinaan di bidang sosial budaya, mental spiritual, kelembagaan pemerintahan, dan
pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Pembangunan Transmigrasi
merupakan proses kegiatan lintas pemerintah daerah, lintas institusi Pemerintah, lintas
disiplin ilmu, lintas budaya, dan lintas kepentingan. Dalam hubungan ini, walaupun tidak
tertutup kemungkinan Pemerintah melaksanakan Transmigrasi secara langsung, tetapi
fungsi utama Pemerintah adalah perumusan kebijakan, pengaturan, pembinaan,
koordinasi, motivasi, advokasi, mediasi, dan pengendalian berdasarkan prinsip-prinsip
penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance), sedangkan pelaksana
pembangunan Transmigrasi adalah pemerintah daerah, Badan Usaha, dan Transmigran
bersangkutan yang didukung oleh masyarakat madani seperti kalangan akademisi, tokoh
masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan.
USULAN TEKNIS
A - 16
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
USULAN TEKNIS
A - 17
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
prasarana dan sarana, namun ada pula yang menyisip atau menyatu dengan pemukiman
yang sudah ada dengan memanfaatkan prasarana dan sarana yang sudah tersedia.
Selain itu Lokasi Permukiman Transmigrasi berfungsi untuk mendukung percepatan pusat
pertumbuhan yang telah ada atau yang sedang berkembang. Pada pusat pertumbuhan
tersebut dapat dilengkapi dengan prasarana dan sarana permukiman dan saling
berhubungan dalam tatanan jaringan jalan, sehingga akan membentuk beberapa Satuan,
Kawasan Pengembangan yang menjadi wilayah pertumbuhan ekonomi. Dengan
dikembangkannya Lokasi Permukiman Transmigrasi akan tercipta kesempatan kerja,
peluang usaha, baik usaha primer, sekunder maupun tersier, sesuai dengan pola usaha
pokok yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para
transmigran dan masyarakat sekitar, sehingga akhirnya dapat membantu meningkatkan
harkat, martabat serta kualitas hidup Bangsa Indonesia.
Dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian dan sejalan dengan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka peran
Pemerintah Pusat adalah sebagai fasilitator yang meliputi antara lain advokasi, fasilitasi dan
bimbingan serta mendukung pendanaan/penganggarannya bagi Pemerintah Provinsi dan
atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Dengan hal tersebut diharapkan penyelenggaraan
transmigrasi berjalan sesuai dengan aspirasi daerah dan terwujud pedoman bagi pemerintah
di daerah, dalam pelaksanaan pembangunan Lokasi Permukiman Transmigrasi.
Dengan mendasarkan hal tersebut di atas, maka diperlukan pengaturan mengenai Lokasi
Permukiman Transmigrasi sebagai penjabaran pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15
Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian dan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1999
tentang Penyelenggaraan Transmigrasi, yang fungsinya lebih aplikatif dan operasional sesuai
dengan tugas pokok dan fungsi ketransmigrasian. Ketentuan ini dimaksudkan untuk dijadikan
dasar, pedoman dan acuan kerja bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan atau
Kabupaten/Kota dalam penyediaan Lokasi Permukiman Transmigrasi.
Tahapan Penyiapan Lokasi Permukiman Transmigrasi ini meliputi:
USULAN TEKNIS
A - 18
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
1) Identifikasi Potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Calon Lokasi
Permukiman Transmigrasi;
2) Legalitas Calon Lokasi Permukiman Transmigrasi;
3) Batas dan Luas Areal Lokasi Permukiman Transmigrasi;
4) Perencanaan Pembangunan Permukiman Transmigrasi;
5) Aksesibilitas;
6) Kelayakan Lokasi Pemukiman Transmigrasi.
Prosedur dan Kriteria Penyiapan Lokasi Permukiman Transmigrasi ini dimaksudkan sebagai
dasar dan acuan kerja bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dan
Instansi terkait dalam melaksanakan tugas Penyiapan Lokasi Permukiman Transmigrasi.
Sedangkan tujuannya adalah agar dapat diperoleh kesamaan persepsi dan langkah-langkah
dalam penyediaan Lokasi Permukiman Transmigrasi yang sesuai dengan potensi Sumber
Daya Alam dan Sumber Daya Manusia di Daerah.
Sasaran yang akan dicapai dalam Keputusan Menteri tentang Prosedur dan Kriteria
Penyiapan Lokasi Permukiman Transmigrasi adalah terwujudnya lokasi permukiman
transmigrasi yang layak huni, layak usaha, layak berkembang dan layak lingkungan.
Pembangunan dan Pengembangan Lokasi Permukiman Transmigrasi (LPT) harus
mempunyai persyaratan yang tahapannya sebagai berikut:
a. Identifikasi Potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Calon Lokasi
Permukiman Tansmigrasi (LPT)
Kegiatan Identifikasi Potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Calon
Lokasi Permukiman Transmigrasi adalah kegiatan yang sifatnya umum dengan lingkup
melakukan analisa atas kondisi/keadaan calon Lokasi Permukiman Transmigrasi yang
meliputi:
1. Luas, batas-batas dan kesesuaian tahan dengan komoditi yang dapat dikembangkan;
2. Kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat calon lokasi permukiman transmigrasi dan
penduduk setempat;
3. Perkiraan daya tampung dan daya dukung lingkungan;
4. Kondisi dan partisipasi penduduk terhadap program transmigrasi;
5. Jenis usaha yang dapat dikembangkan dan keterampilan yang diperlukan;
6. Prasarana dan sarana yang ada dan yang akan dikembangkan;
7. Prediksi tingkat pengembangan ekonomi;
8. Rencana pembangunan.
USULAN TEKNIS
A - 19
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
1. Adanya penyerahan areal calon lokasi dari masyarakat Desa/LKMD atau Kepala
Adat yang dituangkan dalam bentuk tertulis;
2. Adanya pelepasan kawasan hutan bagi areal yang berada di kawasan hutan dari
Instansi yang berwenang;
3. Calon lokasi yang telah diserahkan, ditetapkan dengan Keputusan Pencadangan
Areal dari Bupati/ Walikota/ Gubernur;
4. Lokasi yang akan dikembangkan, dikukuhkan dalam Peraturan Daerah oleh
Pemerintah Daerah setempat;
5. Lokasi yang dikembangkan diproses menjadi Hak Pengelolaan;
6. Lokasi yang dikembangkan sesuai dengan rencana pengembangan daerah/
RTRW;
7. Lokasi yang dikembangkan tidak tumpang tindih dengan peruntukan lain.
USULAN TEKNIS
A - 20
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
e. Aksesibilitas
Pembangunan dan Pengembangan Lokasi Permukiman Transmigrasi harus mempunyai
aksesibilitas yang baik yaitu :
1. Tidak terisolir, mudah dijangkau;
2. Telah tersedia sarana dan prasarana transportasi yang menuju ke calon lokasi;
3. Jarak antara calon lokasi dengan pusat pelayanan sosial dan ekonomi 5 Km. Untuk calon
lokasi yang mempunyai potensi dan prospek ekonomi yang layak, jarak antara calon lokasi
dengan pusat pelayanan sosial dan ekonomi tidak melebihi 20 Km;
4. Kelayakan Lokasi Permukiman Transmigrasi.
Pada prinsipnya Lokasi Permukiman Transmigrasi harus memenuhi kriteria catur layak
yang terdiri layak huni, layak usaha, layak berkembang dan layak lingkungan :
a. Layak Huni
Suatu kawasan disebut layak huni apabila lokasi tersebut memenuhi persyaratan
untuk dapat ditempati serta mampu mendukung kehidupan yang sehat secara
berkesinambungan Persyaratan untuk layak huni meliputi :
1) Lahan bebas banjir, bukan merupakan daerah longsor atau bencana alam
lainnya;
2) Memenuhi persyaratan kesehatan (bebas penyakit);
3) Tersedia potensi sumber air bersih;
4) Tersedia prasarana transportasi untuk memungkinkan terjadinya hubungan
dengan daerah sekitarnya;
5) Tersedia fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi.
b. Layak Usaha
USULAN TEKNIS
A - 21
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
Suatu lokasi disebut layak usaha apabila pada lokasi tersebut tersedia atau dapat
dilakukan suatu kegiatan usaha yang dapat memberikan penghasilan yang
memadai untuk dapat menunjang kehidupan sepanjang tahun.
Persyaratan untuk layak usaha meliputi :
1) Tersedia lahan pertanian atau peluang usaha yang memenuhi syarat untuk
kegiatan produksi;
2) Tersedia sarana dan prasarana produksi pengelolaan yang diperlukan;
3) Tersedia prasarana jalan yang menghubungkan antar lokasi permukiman
maupun dengan pusat pemasaran (Ibukota Kecamatan/Ibukota Kabupaten).
c. Layak Berkembang
Lokasi Permukiman Transmigrasi disebut lokasi layak berkembang apabila lokasi
tersebut memenuhi persyaratan yang memungkinkan untuk berkembang menjadi
Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru.
Persyaratan untuk layak berkembang meliputi:
1) Mempunyai daya tampung besar, yang terdiri dari unit-unit permukiman
transmigrasi dan desa-desa sekitarnya;
2) Mempunyai akses antar unit-unit permukiman serta dengan pusat pemerintah
dan pusat pasar;
3) Mempunyai kontribusi terhadap pengembangan daerah;
4) Mempunyai komoditas unggulan berskala ekonomi;
5) Mempunyai keterkaitan ekonomi antar kawasan dengan pusat-pusat
pemusaran yang lebih tinggi;
6) Tersedia lembaga ekonomi masyarakat.
d. Layak Lingkungan
Suatu kawasan transmigrasi yang disebut layak lingkungan adalah kawasan
transmigrasi yang sejak tahap perencanaan, pembangunan hingga tahap
pemberdayaan difasilitasi agar sumber daya alam dan lingkungan hidup yang ada di
kawasan tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk pemenuhan
kebutuhan para transmigran dan penduduk sekitar.
Persyaratan untuk layak lingkungan meliputi :
1) Pengembangannya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung
lingkungan;
2) Proses pembangunan kawasan senantiasa memperlihatkan kelestarian
lingkungan;
3) Adanya keseimbangan untuk menimbulkan interaksi dan integrasi sosial
budaya di lokasi baru dan sekitarnya;
USULAN TEKNIS
A - 22
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
a. Corden yang dikutip oleh Sujarto dalam Malik (2003:30) mendefinisikan kota baru
sebagai suatu komunitas dengan ukuran populasi terbatas, direncanakan di bawah
suatu pengusaha atau agen pengembang langsung sebagai satu unit besar yang
terdiri dari perumahan, pelayanan rekreasi, tempat kerja yang cukup untuk
meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi penduduk yang beragam.
b. Golany (1987:354-356), menguraikan bahwa kota baru merupakan kota atau
kawasan permukiman yang direncanakan, dibangun, dan dikembangkan dalam skala
USULAN TEKNIS
A - 23
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
besar pada daerah yang masih kurang penduduknya, sehingga diharapkan mampu
berkembang sendiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Dalam
pengembangannya, kota baru biasanya berorientasi pada sektor agrobisnis dan
agroindustri.
c. Verma dalam Budihardjo; Sudjarto (1999), mendefenisikan bahwa kota baru
merupakan upaya pengembangan lahan yang luasnya mampu menyediakan
elemenelemen pendukung kota berupa perumahan dan permukiman, perdagangan
dan industri sehingga mampu memberikan :
Kesempatan untuk hidup dan bekerja dalam lingkungannya sendiri;
Beragam jenis dan harga rumah yang lengkap;
Ruang terbuka bagi kegiatan pasif dan aktif serta melindungi kawasan tempat
tinggal dari dampak kegiatan industri;
Pengendalian segi estetika yang kuat;
Pengadaan biaya/investasi yang cukup besar untuk kegiatan pembangunan awal.
d. Golany dalam Budihardjo; Sudjarto (1999), menguraikan bahwa kota baru tidak selalu
berarti bahwa kota di bangun di atas lahan yang baru, tetapi juga merupakan
pengembangan dan pembaharuan permukiman perdesaan atau kota kecil secara
total menjadi kota yang lengkap dan mandiri.
Dari berbagai pengertian tentang kota baru, dapat disimpulkan bahwa kota baru intinya :
1) Merupakan hasil perencanaan yang menyeluruh dan utuh dalam rangka membentuk
suatu komunitas baru pada lahan baru ataupun yang sudah berpenghuni;
2) Dirancang dan dibangun dalam rangka meningkatkan kemampuan dan fungsi
permukiman;
3) Dalam lingkungan kota baru, manusia dapat melakukan aktifitas karena lingkungan
tempat tinggal di kota baru telah menyediakan prasarana dan sarana yang
dibutuhkan; dan
4) Mampu berfungsi sebagai kota yang mandiri dan menyediakan lapangan pekerjaan
bagi penduduk.
Jika ditinjau dari beberapa aspek, maka karakteristik kota baru tercermin dari tabel berikut
ini :
USULAN TEKNIS
A - 24
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
Sebagai sebuah kota, maka kota baru seyogyanya memiliki karakteristik sebuah kota
pada umumnya yang dilengkapi dengan tempat hunian (permukiman), prasarana dan
sarana, serta menjadi pusat pelayanan umum dan penyediaan lapangan kerja sehingga
masyarakatnya memiliki kesempatan untuk hidup dan bekerja dalam lingkungannya
sendiri.
Kota Baru Mandiri merupakan sebuah kota baru dengan kemampuan sendiri baik secara
fisik maupun ekonomi sehingga tidak lagi tergantung pada kota induknya. Kota baru
mandiri berkembang secara mandiri sehingga dapat memenuhi kebutuhannya sendiri
yang kecenderungan pengembangannya pada sektor pertanian, perkebunan, dan industri.
Secara fisik, keberadaannya jauh dari kota induk atau kotakota lain dalam radius lebih
dari 40 km. Kota baru yang mandiri adalah satu kesatuan lingkungan permukiman yang
tak terpisahkan antara perumahan, fasilitas, pelayanan dan ketersediaan lahan. Kota baru
mandiri yang telah dikenal di Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebagai Kota
Terpadu Mandiri (KTM) membutuhkan lahan yang luas. Oleh karenanya, lahan harus
dikelola dengan baik sebagai benda sosial untuk kepentingan masyarakat secara umum
sehingga lahan tidak dijadikan sebagai komoditi ekonomi yang dipertarungkan di pasar
bebas (Budiharjo, 2009 : 84-89).
Idealnya, kota baru harus dirancang sebagai kota taman yang merupakan senyawa
antara keagungan kota dan keseragaman desa dengan 2 (dua) prinsip utama yaitu
kemandirian (self-containment) dan keseimbangan (balanced development). Kemandirian
yang dimaksud adalah kota baru yang dibangun harus mandiri dengan ketersediaan
fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos), lapangan kerja, pendidikan, rekreasi,
perbelanjaan, taman, kuburan dan ruang terbuka. Keseimbangan, menyiratkan bahwa
penduduk yang bermukim di kota baru adalah perpaduan yang seimbang dan harmonis
USULAN TEKNIS
A - 25
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
baik dari sisi sosial ekonomi, kelompok umur, tingkat pendidikan maupun keahlian
(Budihardjo, 2009:89).
USULAN TEKNIS
A - 26
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
Kegiatan penyusunan Rencana Teknis Permukiman (RTSP) Transmigran Nelayan Nelayan dan
Rencana Teknis Jalan (RTJ), saat ini konsultan setuju, tantangan yang dihadapi Indonesia, sebagai
salah satu negara dengan jumlah penduduk yang terbesar di dunia dan negara dengan ekonomi
terbesar ke-16 di dunia, dalam pemerataan perekonomian secara berkelanjutan dan merata.
Termasuk pula mengenai pokok-pokok kebijakan transmigrasi dan strategi-strategi yang
ditetapkan.
Program Transmigrasi yang telah berlangsung lebih dari setengah abad, pada awalnya merupakan
upaya pemerintah dalam pemecahan masalah kepadatan penduduk di pulau Jawa. Program
Transmigrasi di dekati dengan konsep untuk memindahkan se-banyak-banyak-nya dan secepat-
cepat-nya penduduk dari Jawa ke daerah-daearah di luar Jawa yang masih cukup luas
menyediakan lahan bagi kegiatan pertanian Mimpi dan imajinasi saya tentang kawasan
transmigrasi adalah sebagai suatu kawasan yang dikelola dalam konsep Agro District ,
dikembangkan dengan pendekatan Arsitektur pola tata ruang Pertanian Moderen . Memasuki
abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia
sintetis dalam pertanian. Gaya hidup sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi trend
baru Program Transmigrasi harus didekati dengan konsep teknologi yang ramah lingkungan .
Kawasan ditata dengan model Transmigration Estate , dikembangkan sebagai kawasan
pertanian organik dalam suatu manajemen Agro District secara nasional Konsep Transmigration
Estate merupakan pilot project Nasional yang akan direncakana dan dikelola dalam bentuk
konsorsium antar Perguruan Tinggi. Diawali dari Inventarisasi Program Transmigrasi, dan didekati
dengan konsep Teknologi Agro District, Manjemen Agro Distrik, Rancangan Arsitektur tata ruang
Agro District. Selanjutnya diatur konsep legal-formal bidang pertanahan dan model pengelolaan
investasi dan pembangunan Transmigration Estate. Diharapkan dengan pengembangan model ini
USULAN TEKNIS
A - 27
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
dapat membangun suatu image baru , bahwa program transmigrasi adalah suatu kawasan
pertanian organik yang ramah lingkungan dengan perilaku moderen , dengan citra elite , yang
dikelola dalam suatu manajemen Agro District Kegiatan perekonomiannya dengan basis utama
pada sektor pertanian organik, peternakan, perikanan dan industri kecil pengolahan hasil
pertanian, perikanan dan peternakan
Program Transmigrasi yang telah berlangsung lebih dari setengah abad, pada awalnya merupakan
upaya pemerintah dalam pemecahan masalah kepadatan penduduk di pulau Jawa. Program
Transmigrasi di dekati dengan konsep untuk memindahkan se-banyak-banyak-nya dan secepat-
cepat-nya penduduk dari Jawa ke daerah-daearah di luar Jawa yang masih cukup luas
menyediakan lahan bagi kegiatan pertanian Dalam penyelenggaraan transmigrasi masih ada
kelemahan antara lain adanya kecemburuan sosial dari penduduk lokal akibat perlakuan yang
tidak adil terhadap penduduk lokal, eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan tanpa
memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, lokasi transmigrasi yang relatif terisolir, rusaknya
sarana dan prasarana mendorong transmigran kembali kedaerah asal, pemanfaatan lahan yang
kurang effisien dan kurang memperhatikan aspek lingkungan menyebabkan terjadinya proses
degradasi lahan. Pendekatan konsep penyelenggaraan transmigrasi pradigmanya harus berubah,
sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi dunia dalam bidang teknologi sektor pertanian,
Penyelenggaraan program transmigrasi harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat
dunia tentang pelestarian lingkungan , kecendrungan berkembangnya budi-daya komoditas
pertanian yang ramah terhadap lingkungan. Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar
bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif
dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup
sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi trend baru Pangan yang sehat dan bergizi
tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Pertanian
organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa
menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Secara geologis, geografis maupun kultural, Indonesia
merupakan program Transmigrasi yang telah berlangsung lebih dari setengah abad, pada awalnya
merupakan upaya pemerintah dalam pemecahan masalah kepadatan penduduk di pulau Jawa.
Program Transmigrasi di dekati dengan konsep untuk memindahkan se-banyak-banyak-nya dan
secepat-cepat-nya penduduk dari Jawa ke daerah-daearah di luar Jawa yang masih cukup luas
menyediakan lahan bagi kegiatan pertanian Dalam penyelenggaraan transmigrasi masih ada
kelemahan antara lain adanya kecemburuan sosial dari penduduk lokal akibat perlakuan yang
tidak adil terhadap penduduk lokal, eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan tanpa
memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, lokasi transmigrasi yang relatif terisolir, rusaknya
USULAN TEKNIS
A - 28
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
sarana dan prasarana mendorong transmigran kembali kedaerah asal, pemanfaatan lahan yang
kurang effisien dan kurang memperhatikan aspek lingkungan menyebabkan terjadinya proses
degradasi lahan. Pendekatan konsep penyelenggaraan transmigrasi pradigmanya harus berubah,
sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi dunia dalam bidang teknologi sektor pertanian,
Penyelenggaraan program transmigrasi harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat
dunia tentang pelestarian lingkungan , kecendrungan berkembangnya budi-daya komoditas
pertanian yang ramah terhadap lingkungan. Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar
bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif
dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup
sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi trend baru Pangan yang sehat dan bergizi
tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Pertanian
organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa
menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Secara geologis, geografis maupun kultural, Indonesia
merupakan program Transmigrasi yang telah berlangsung lebih dari setengah abad, pada awalnya
merupakan upaya pemerintah dalam pemecahan masalah kepadatan penduduk di pulau Jawa.
Program Transmigrasi di dekati dengan konsep untuk memindahkan se-banyak-banyak-nya dan
secepat-cepat-nya penduduk dari Jawa ke daerah-daearah di luar Jawa yang masih cukup luas
menyediakan lahan bagi kegiatan pertanian Dalam penyelenggaraan transmigrasi masih ada
kelemahan antara lain adanya kecemburuan sosial dari penduduk lokal akibat perlakuan yang
tidak adil terhadap penduduk lokal, eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan tanpa
memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, lokasi transmigrasi yang relatif terisolir, rusaknya
sarana dan prasarana mendorong transmigran kembali kedaerah asal, pemanfaatan lahan yang
kurang effisien dan kurang memperhatikan aspek lingkungan menyebabkan terjadinya proses
degradasi lahan. Pendekatan konsep penyelenggaraan transmigrasi pradigmanya harus berubah,
sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi dunia dalam bidang teknologi sektor pertanian,
Penyelenggaraan program transmigrasi harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat
dunia tentang pelestarian lingkungan , kecendrungan berkembangnya budi-daya komoditas
pertanian yang ramah terhadap lingkungan. Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar
bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif
dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup
sehat dengan slogan Back to Nature telah menjadi trend baru Pangan yang sehat dan bergizi
tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.
USULAN TEKNIS
A - 29
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
Sasaran yang hendak dicapai dalam penyusunan Rencana Teknis Satuan Pemukiman (RTSP)
Transmigrasi Nelayan di Desa Baturube Kecamatan Bungku utara Kabupaten Morowali Utara
adalah sebagai berikut :
1. Terwujudnya Dokumen Laporan RTSP yang informatif serta dapat digunakan sebagai
pedoman pelaksanaan pembangunan fisik satuan permukiman transmigrasi Nelayan.
2. Tersedianya rencana penempatan dan pembinaan transmigrasi serta pengembangan usaha
transmigrasi Nelayan.
3. Terbentuknyasatuan permukiman transmigrasi yang layak huni, layak usaha, layak
berkembang dan layak lingkungan.
4. Tersusunya rencana teknis satuan permukiman tranmigrasi dengan pola dan struktur ruang
yang didasarkan pada pertimbangan aspek fisik lahan, aspek sosial budaya, aspek ekonomi
dan aspek politik serta kebijakan secara berkeadilan antara masyarakat setempat dan dan
pendatang.
5. Tersusunya desain tata ruang dan kebutuhan sarana serta prasarana pembangunan satuan
permukiman transmigrasi yang efektif dan efisien.
6. Tersusunya desain kegiatan usaha pokok dan pertanian dalam arti luas.
Menurut konsultan sudah sesuai dengan aturan dan kebutuhan manfaat dari kajian yang akan
dilakukan.
Untuk mencapai tujuan dan sasaran sebagaimana diatas maka dalam penyusunan Rencana
Teknis Satuan Pemukiman (RTSP) Transmigrasi Nelayan di Desa Baturube Kecamatan Bungku
utara Kabupaten Morowali Utara perlu dilaksanakan berbagai kegiatan yang secara garis besar
meliputi :
USULAN TEKNIS
A - 30
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
b. Pembuatan peta kesesuaian lahan skala 1:5.000 di LP dan 1 : 10.000 di seluruh areal
survey.
5) Survai Penggunaan Lahan dan Sumber Daya Hutan :
a. Wawancara dengan penduduk setempat, Pemerintah Daerah;
b. Analisis potensi tegakan kayu dan data-data sekunder dan hasil inventarisasi hutan;
c. Pembuatan peta penggunaan lahan dan tegakan kayu skala 1: 10.000.
6) Penelitian iklim dan hidrologi :
a. Penelitian hidrologi pada aliran sungai dan sepanjang rintisan;
b. Analisa daerah bahaya banjir;
c. Inventarisasi dan Analisa data-data iklim;
d. Penelitian sumber air minum;
e. Pembuatan peta hidrologi skala 1: 10.000.
7) Analisis Tata Ruang :
a. Hasil super impose kesesuain lahan, tata guna lahan dan hidrologi;
b. Rekomendasi penggunaan lahan skala 1: 10.000.
c. Penyusunan Usulan Pengembangan Tambak
d. Penelitian aspek sosial dan ekonomi perikanan;
e. Penelitian aspek perikanan tambak;
f. Rekomendasi pengembangan perikanan tambak;
g. Analisis ekonomi dan keuangan.
8) Penyusunan RTSP :
a. Analisis daya tampung;
b. Penggambaran Peta RTSP skala 1: 5.000 untuk LP dan dan FU, Skala 1:10.000 untuk
areal survai;
c. Penggambaran detail kapling Pusat Desa skala 1: 2.000;
d. Staking Out dan penggambaran batas pembukaan lahan skala 1: 5.000.
e. Penggambaran Peta Alignement jalan penghubung poros skala 1 :5.000
9) Telaahan Lingkungan :
a. Identifikasi dampak potensial dan RTSP.
b. Penanggulangan dampak negatif.
10) Perkiraan Biaya :
a. Perkiraan biaya untuk penyiapan lahan dan bangunan;
b. Pengerahan Transmigran;
c. Pengembangan perikanan tambak;
Jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini adalah selama 180 (seratus
delapan puluh) hari kalender dijabarkan ke dalam tabel dibawah ini :
N Bulan ke
o Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 Bulan 6
1 Desk Study/
Referensi
2 Laporan
pendahuluan
3 Survey
Lapangan
4 Pengukuran
USULAN TEKNIS
A - 31
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
N Bulan ke
o Kegiatan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 Bulan 6
Lapangan
5 Laporan Antara
6 Laporan Draft
Akhir
7 Laporan Akhir
Dalam Rangka penyusunan Rencana Teknis Satuan Pemukiman (RTSP) Transmigrasi Nelayan di
Desa Baturube Kecamatan Bungku utara Kabupaten Morowali Utara harus disusun dokumen
laporan yang terdiri dari :
a. Buku Laporan Pendahuluan; sebagai wujud kemajuan awal pekerjaan, isinya secara sistimatis
merupakan hasil elaborasi dari kerangka acuan kerja yang berisikan antara lain; pemahaman
latar belakang, tujuan dan sasaran pekerjaan, pemahaman terhadap lingkup pekerjaan yang
diwujudkan dalam bentuk metodologi pelaksanaan pekerjaan pada tiap-tiap lingkup pekerjaan
dan keluaran yang akan dihasilkan dikaitkan dengan penyediaan tenaga ahli serta peralatan
yang dibutuhkan, jadwal pelaksanaan pekerjaan dan jadwal pelibatan tenaga ahli. Pada
Laporan pendahuluan ini sudah harus tergambarkan juga informasi umum kawasan yang
berkaitan dengan letak administrasi, penduduk, kemudahan jangkauan (aksebilitas kawasan)
dsb., yakni sebagai gambaran pengenalan awal konsultan pada kawasan yang hendak
direncanakan. Draft Laporan pendahuluan ini perlu di diskusikan dengan SKPD terkait guna
memperoleh masukan-masukan korektif sebelum di serahkan sebagai Dokumen Laporan
Pendahuluan. Jumlah Buku Laporan Pendahuluan yang wajib diserahkan sebanyak 10 Buku,
ukuran kertas A4, sampul warna hardcover dengan desain yang menarik. Apabila ada
lampiran peta ukuran kertas yang lebih besar (A3 atau A1 atau lainnya) dapat jilid menyatu
dengan buku laporan dengan melipat sesuai ukuran buku. Buku Laporan Pendahuluan
diserahkan paling lambat 1 bulan setelah kontrak.
b. Buku Laporan Antara; merupakan wujud kemajuan pertengahan pelaksanaan pekerjaan. Buku
Laporan antara ini berisikan data hasil survey sesuai dengan metodologi pelaksanaan
pekerjaan yang telah dikemukakan pada laporan pendahuluan. Data-data tersebut perlu
disistimatiskan agar supaya mudah di analisis. Dalam buku laporan antara ini sudah harus ada
hasil analisis masing-masing item kegiatan sebagaimana lingkup kegiatan sehingga
memudahkan dalam tahap penyusunan rencana teknis satuan permukiman nantinya serta
rekomendasinya. Draft Buku Laporan antara ini perlu di diskusikan dengan SKPD terkait guna
USULAN TEKNIS
A - 32
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR PETA
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang dan Tujuan
Metode Pendekatan Studi
Susunan Tim
USULAN TEKNIS
A - 33
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
Curah Hujan
Sub Wilayah Aliran Sungai (Debit, Tinggi Muka Air,
Kualitas)
Sumber Daya Air (Debit dan Kualitas)
Air Tanah
Air Tanah Dangkal
Air Tanah Dalam
Detail Topografi
Sumber Air Minum
Kemungkinan Pengairan/Irigasi
Resiko Banjir
Vegetasi
Jumlah dan Potensi Tegakan
Status Hutan
Penggunaan Lahan
Flora dan Fauna
Sumber Daya Lahan
Diskripsi dan Klasifikasi Tanah Bahan Induk,
Geomorfologi, Geologi, Macam Tanah)
Satuan Peta Lahan
Kesuburan Tanah
Penilaian Kesesuaian Lahan
Kondisi Tanah Dasar dan Sumber Material
Kondisi Tanah Dasar
Sumber Material (Termasuk Untuk Gorong-Gorong
dan Jembatan)
Kegiatan Perikanan, Sosial Ekonomi dan Budaya
Kondisi Perikanan (Termasuk musim penangkapan)
Penduduk dan Adat Istiadat
Ketersediaan dan Penggunaan Tenaga Kerja
Perkiraan Produksi perikanan
Kesehatan Lingkungan Masyarakat
Mata Pencaharian Penduduk
Pendapatan dan Pengeluaran Penduduk
Fasilitas Sosial dan Prasarana Ekonomi
Tanggapan Masyarakat Terhadap Transmigrasi
Perkiraan Jumlah Penduduk Yang Terkena Proyek
dan Jumlah Calon TPS Yang ingin Bermukim di
Lahan Masing-masing/ Desa/Dusun
Potensi TPS dan Komposisi TPS : TPA serta Daerah
Asal TPA Yang Diinginkan
Kebijakan Pengembangan Daerah
USULAN TEKNIS
A - 34
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
USULAN TEKNIS
A - 35
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
d. Album peta; Album peta merupakan kelengkapan yang tidak terpisahkan dari
Dokumen Buku Laporan Akhir, yang wajib diserahkan bersama-sama dengan Buku
Laporan Akhir. Ukuran kertas Album Peta A1 dijilid rapi sebanyak 3 Album
dandiserahkan bersama-sama dengan Laporan Akhir. Adapun isi Album Peta serta
skala masing-masing jenis peta adalah sebagaimana berikut ini :
USULAN TEKNIS
A - 36
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman dan Rencana Teknis Jalan
Desa Ensa [Link] Atas, Kab. Morowali Utara -Tahun Anggaran 2017
USULAN TEKNIS
A - 37