0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
276 tayangan7 halaman

Dimensi Kekuatan Manusia dan Karakter

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian kekuatan manusia yang mencakup 3 kemampuan yaitu melawan rintangan, fleksibilitas menghadapi badai kehidupan, dan mengatur keseimbangan. Kemudian membahas domain kekuatan manusia seperti ketekunan, menyerah, dan tumbuh. Terakhir membahas karakteristik kekuatan manusia berdasarkan 6 kebajikan dan 24 kekuatan karakter.

Diunggah oleh

EiJi Ai
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
276 tayangan7 halaman

Dimensi Kekuatan Manusia dan Karakter

Dokumen tersebut membahas tentang pengertian kekuatan manusia yang mencakup 3 kemampuan yaitu melawan rintangan, fleksibilitas menghadapi badai kehidupan, dan mengatur keseimbangan. Kemudian membahas domain kekuatan manusia seperti ketekunan, menyerah, dan tumbuh. Terakhir membahas karakteristik kekuatan manusia berdasarkan 6 kebajikan dan 24 kekuatan karakter.

Diunggah oleh

EiJi Ai
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengertian Human Strength

Secara konseptual; mengacu pd kemampuan manusia dalam mengatasi


berbagai rintangan & lepas dari keadaan yang tidak menguntungkan, serta
keberhasilan menghadapi berbagai tekanan secara optimal (Carver &
Scheiver,2003). Mencakup 3 kemampuan: 1. Mampu melawan berbagai batu
sandungan di dunia yg penuh rintangan. 2. Mempunyai fleksibilitas terhadap badai
kehidupan, & tidak mudah terjatuh ketika dihadapkan pada problematika hidup 3.
Mampu mengatur keseimbangan .
Domain Human Strength
Perseverance (ketekunan); komitmen dan rasa percaya diri untuk mencapai
tujuan.
Giving -up (menyerah setelah melakukan usaha); melepaskan suatu tujuan
untuk beralih ke tujuan lain.
Growth ; kemampuan untuk melakukan sesuatu yang baru.
Karakteristik Human Strength
Peterson dan Seligman (2004) mengemukakan bahwa terdapat enam virtue yang
dibangun oleh 24 character strength, yaitu :
a. Wisdom and Knowledge Dipahami sebagai kemampuan kognitif untuk sebuah
keahlian dan ilmu pengetahuan yang menjadi landasan dalam proses mencapai
kehidupan yang baik. Terdapat lima character strength yang menampilkan wisdom
and knowledge, yaitu :
1) Creativity Creativity ditampilkan dalam bentuk kemampuan menghasilkan ide
baru serta perilaku yang diakui keasliannya dan bersifat adaptif. Feist (dalam
Peterson & Seligman, 2004) mengemukakan ciri khas orang creative
diantaranya: independen, nonkonformis, tidak konvensional, menyukai seni,
tertarik pada berbagai hal, terbuka akan pengalaman baru, perilakunya
menarik perhatian, fleksibilitas kognitif dan berani mengambil risiko.
2) Curiosity
Curiosity dipahami sebagai rasa ingin tahu, ketertarikan, keterbukaan dalam
mencari hal-hal baru, serta keinginan intrinsik seseorang terhadap
pengalaman dan pengetahuan. Curiosity ditampilkan dalam bentuk pencarian
hal-hal baru, meningkatkan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas
ataupun kemampuan pribadi serta kemampuan interpersonal. Curiosity
berhubungan kuat dengan keterbukaan terhadap nilai, gagasan baru serta
frekuensi kesenangan dalam menyelesaikan masalah. Jadi, wujud curiosity
3) Open-mindedness yang kuat yaitu perilaku dan kognitif yang secara
konsisten diasosiasikan dengan giat belajar, usaha dan kinerja yang
mengarahkan individu menemukan, mengeskplorasi keingintahuannya untuk
meningkatkan kemampuan pribadi dan interpersonal individu. Open-
mindedness adalah memikirkan suatu hal secara menyeluruh dan melihat
dari berbagai sisi. Berkaitan dalam pengambilan keputusan, individu dengan
character strength ini mampu merubah pemikiran yang ada sesuai dengan
kenyataan yang terjadi. Openmindedness melibatkan kemauan aktif dalam
mencari bukti atas keyakinan yang dimiliki serta mempertimbangan bukti lain
atas keyakinan tersebut. Ditemukan bahwa open-mindedness akan
meningkat sejalan dengan usia dan tingkat pendidikan, namun sedikit bukti
yang berkaitan mengenai gender. Berkaitan aspek sosiokultural, diketahui
bahwa anggota kelompok budaya kolektif berpikir lebih holistik daripada
budaya individualis.
4) Love of learning Merupakan character strength yang dimiliki individu dengan
menyukai kegiatan yang berkaitan dengan pencarian pengetahuan baru,
keterampilan umum dan senang mengembangkan ketertarikannya pada
banyak hal. Krapp dan Fink (dalam Peterson & Seligman, 2004)
mengemukakan bahwa karakter ini berupa perasaan positif dalam proses
memperoleh keterampilan, memuaskan rasa ingin tahu, membangun
pengetahuan serta senang mempelajari hal baru. Individu yang memiliki
character strength ini akan cenderung merasa positif ketika belajar hal baru,
mau berusaha mengatur diri sendiri untuk bertahan meskipun menghadapi
tantangan dan frustrasi, merasa mandiri dan didukung oleh orang lain dalam
usaha pembelajarannya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sejalan
dengan usia terjadi penurunan ketertarikan akan pencarian pengetahuan
baru, terutama bidang akademik.
5) Perspective Tidak ada definisi tunggal mengenai perspective atau
kebijaksanaan. Perspective diartikan dalam tiga cara yaitu dalam hal proses
kebijaksanaan, hasil kebijaksanaan, dan orang bijak. Jadi, perspektif adalah sifat positif
yang dimiliki oleh orang yang bijaksana (Assmann dalam Peterson & Seligman, 2004).
Kebijaksanaan ditampilkan dalam bentuk proses kognitif, seperti kemampuan untuk
menilai kehidupan dengan benar, melakukannya dengan benar, memahami apa yang
benar, berarti dan abadi.
b. Courage
Virtue courage merupakan virtue kedua yang dipahami sebagai kemampuan emosi
untuk mencapai tujuan, walaupun menghadapi tuntutan eksternal dan internal. Terdapat
empat character strength yang menampilkan virtue courage, yaitu :
1) Bravery (dalam Peterson & Seligman, 2004) mendefenisikan bravery sebagai
usaha memperoleh ataupun mempertahankan hal yang dianggap baik bagi diri
sendiri dan orang lain. Bravery tampak ketika individu berada pada situasi yang
mengancam, berbahaya dan beresiko. Beberapa elemen yang ditekankan
dalam defenisi ini, yakni: (a) tindakan yang berani dan bersifat sukarela (b)
melibatkan penilaian terhadap resiko yang dihadapinya serta menerima
konsekuensi dari tindakannya tersebut. (c) hadir dalam keadaan yang
berbahaya, merugikan, beresiko, dan dapat menimbulkan cidera
2) Persistence
Persistence didefinisikan sebagai tindakan berlanjut yang dilakukan untuk
mencapai suatu tujuan meskipun ada hambatan, kesulitan, atau keputusasaan.
Persistence tidak hanya berarti mempertahankan sikap, tujuan, ataupun
kepercayaan, namun juga perilaku aktif dalam mempertahankan kepercayaan
tersebut. Orang yang gigih pada umumnya berharap kegigihannya akan
membawa hasil yang sesuai dengan yang mereka inginkan. Peterson (2000)
menemukan bahwa orang-orang yang optimis akan lebih cenderung bertahan
daripada orang pesimis.
3) Integrity
Integrity, autentik dan kejujuran menggambarkan karakter individu untuk
bertindak benar pada dirinya dan orang lain sesuai dengan tujuan dan komitmen
yang dimilikinya. Individu bertindak dengan menerima dan mengambil tanggung
jawab atas perasaan dan perilaku yang telah mereka lakukan. Integrity,
authencity dan kejujuran tampak memiliki kesamaan makna, namun sebenarnya
memiliki konotasi yang agak berbeda. Kejujuran mengacu pada kebenaran
faktual dan ketulusan interpersonal. Authencity mengacu pada kejujuran
emosional dan juga kedalaman psikologis. Sedangkan, integritas mengacu pada
kejujuran moral dan diri, integritas bersifat lebih menyeluruh sehingga integritas
lebih dibahas.
4) Vitality
Karakter yang ditampilkan dengan semangat dan gairah dalam menjalani hidup,
melakukan sesuatu dengan sepenuh hati dan mengangap hidup sebagai suatu
petualangan. Individu yang memiliki vitality dominan akan terlihat aktif dan
semangat dalam menjalani hidup. Vitality berhubungan langsung dengan factor
psikologis dan somatis. Secara somatis, vitality berkaitan dengan kesehatan
fisik yang baik, bebas dari penyakit. Sedangkan secara psikologis, diwujudkan
melalui kemauan serta integritas diri pada hubungan interpersonal dan
intrapersonal. Vitality merupakan fenomena dinamis yang berkaitan dengan
fungsi aspek mental dan fisik. Semakin dominan vitality maka orang akan
merasa semakin hidup bergairah, antusias dan semangat. Vitality mengarah
secara langsung pada antusiasme pada aktivitas yang mereka pilih. Tekanan
psikologis, konflik, dan sumber stres dapat mengurangivitality yang dimiliki.
c. Humanity
Humanity merupakan virtue ketiga yang dipahami sebagai sifat positif yang berujud
kemampuan menjaga hubungan interpersonal. Humanity adalah kemampuan untuk
mencintai, berbuat kebaikan sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungan. Awalnya
dibangun melalui hubungan interpersonal yang kemudian meluas pada hubungan sosial.
Terdapat tiga character strength yang menggambarkan humanity, yaitu :
1) Love
Love merupakan kondisi kognitif, konatif dan afektif seseorang. Dipahami
sebagai kemampuan untuk menerima, memberikan cinta, kepedulian pada diri
sendiri dan orang lain dengan menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.
Ada tiga bentuk love, yaitu love untuk orang yang menjadi sumber utama kasih
saying (e.g., ibu), love untuk individu yang bergantung pada kita (e.g., teman)
dan love yang melibatkan hasrat untuk kelekatan seksual, fisik dan emosional
dengan individu yang kita anggap spesial dan membuat kita merasa spesial,
biasa disebut cinta romantik (e.g.,kekasih). Selain dapat melibatkan lebih dari
satu bentuk, love juga dapat memiliki bentuk love yang berbeda pada waktu
yang berbeda. Suatu hubungan bisa saja dibentuk oleh satu bentuk saja dan
kemudian memperoleh bentuk love lainnya. Hubungan romantis merupakan
hubungan yang unik Karena merupakan satu-satunya ikatan sosial yang memiliki
tiga bentuk love tersebut.

2) Kindness
Kindness atau altruistic love merupakan tindakan sukarela dalam memberikan
pertolongan, kepedulian kepada orang lain. Berkaitan erat dalam hal
kemanusiaan, dalam arti semua orang berhak mendapat perhatian dan
pengakuan tanpa alasan tertentu, namun hanya karena mereka memang berhak
mendapatkannya. Kindness ini tidak didasarkan pada prinsip timbal-balik,
pencapaian reputasi, atau hal lain yang menguntungkan diri sendiri, meskipun
efek tersebut bisa saja muncul.
3) Social Intelligence
Social intelligence adalah kemampuan untuk mengenal dan mempengaruhi diri
sendiri dan orang lain, sehingga dapat beradaptasi di lingkungan dengan baik.
Ada tiga intelegensi yang ditinjau yaitu personal, sosial dan emosional. Pertama,
intelegensi emosional mengarah pada kemampuan untuk menilai semua yang
berkaitan dengan emosional sebagai sumber penilaian untuk bertindak tepat.
Kedua, intelegensi personal melibatkan pemahaman dan penilaian terhadap diri
sendiri secara akurat, termasuk kemampuan memotivasi diri, emosional dan
proses dinamis. Sedangkan intelegensi sosial berkaitan dengan hubungan social
yang melibatkan kedekatan, kepercayaan, persuasi, keanggotaan kelompok, dan
kekuatan politik. Secara konseptual, ketiga intelegensi saling berkaitan, tetapi
secara empiris keterlibatannya tidak dapat dipahami dengan baik.
d. Justice
Justice merupakan virtue keempat yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk
memperhatikan hak-hak dan kewajiban individu dalam kehidupan komunitas. Terdapat
tiga character strength yang menggambarkan justice, yaitu:
1) Citizenship Citizenship
berfokus pada ikatan sosial sebagai warga negara, yakni kemampuan untuk
mengorbankan kepentingan diri sendiri demi mengutamakan kesejahteraan
kelompok. Karakter ini bekerja demi kepentingan kelompok dari pada pencapaian
pribadi, loyal kepada teman dan orang yang dapat dipercaya. Pada dasarnya
citizenship merupakan kemampuan menilai kewajiban sosial yang melibatkan orang
lain atau kelompok, serta berusaha untuk mempertahankan dan membangun
hubungan tersebut (Seligman & Peterson, 2004).
2) Fairness
Fairness adalah kemampuan untuk memperlakukan semua orang secara adil dan
memberikan kesempatan yang sama pada setiap kelompok. Fairness berkaitan
dengan cara memperlakukan orang lain dengan sama tanpa adanya perbedaan dan
memberikan kesempatan yang sama pada setiap orang. Pertimbangan moral
merupakan bagian dari kumpulan kompetensi psikologis moral, yang menentukan
tindakan apa yang harus dilakukannya. Hal ini meliputi dimensi afektif, kognitif,
perilaku, dan kepribadian. (M.W Berkowitz, 1997; Sherblom, 1997).
3) Leadership
Leadership mengacu pada kemampuan memperlakukan, mempengaruhi,
mengarahkan dan memotivasi orang lain atau kelompok untuk mencapai
kesuksesan. Orang yang memiliki sifat kepemimpinan merasa nyaman dalam
mengatur aktifitas dirinya maupun orang lain dalam suatu sistem yang terintegrasi.
Pemimpin yang simpatik haruslah seorang pemimpin yang efektif, dimana ia
berusaha agar tugas kelompok dapat selesai disertai menjaga hubungan baik antar
anggota kelompok. Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang simpatik ketika ia
menangani hubungan antar kelompok, murah hati kepada semua orang, keteguhan
pada jalan yang benar.
e. Temperance
Virtue kelima yang dikemukakan ini berkaitan dengan kemampuan untuk menahan diri
dan tidak melakukan sesuatu yang dianggap berlebihan. Virtue ini terdiri dari empat
sifat, yaitu forgiveness and mercy, humility and modesty, prudence dan self-regulation.
1) Forgiveness and mercy

Forgiveness merepresentasikan serangkaian perubahan prososial yang


terjadi pada individu yang mengalami rusaknya hubungan dengan orang
lain. Forgiveness dianggap sebagai konsep umum yang mencerminkan
kebaikan, belas kasihan, atau keringanan terhadap (a) pelanggar atau
pembuat kesalahan, (b) orang yang memiliki kekuasaan atau otoritas,
atau (c) seseorang yang berada dalam kesulitan besar. Forgiveness
mengandung arti adanya perubahan motivasi, yakni seseorang menjadi
kurang termotivasi untuk balas dendam, menghindari dan kemudian
menjadi murah hati kepada si pembuat kesalahan. Dengan kata lain,
pengampunan melibatkan perubahan psikologis positif dalam individu
terhadap orang yang melanggar atau pembuat kesalahan.

2) Humality and mercy


Orang yang sederhana, pendiam, membiarkan hasil usaha mereka yang
berbicara, tidak mencari popularitas. Mereka mengakui kesalahan dan
bukan orang yang sempurna. Mereka tidak mengambil yang tidak pantas
untuknya, memandang dirinya sebagai orang yang beruntung berada di
posisi dimana sesuatu yang baik terjadi pada mereka. Walaupun istilah
modesty dan humility sering disamakan, namun mereka memiliki
perbedaan. Humility lebih bersifat internal, yaitu mengarah kepada
perasaan bahwa dia bukan pusat perhatian. Sedangkan, modesty lebih
bersifat eksternal yang berarti bukan hanya gaya dalam berperilaku
tetapi juga hanya memiliki satu gaun, satu mobil, dan satu rumah.
Secara umum, orang yang sederhana tidak mengenal istilah look at me
atau menyombongkan diri. Berpura-pura modesty dapat dilakukan tanpa
humility, namun humility sudah pasti mengarah pada modesty.
3) Prudence
Prudence merupakan character strength yang berorientas pada
masa depan seseorang. Hal ini tampak dalam bentuk kemampuan
penalaran praktis dan pengelolaan diri, sehingga individu dapat
mencapai tujuan jangka panjang secara efektif dengan
mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya (Seligman, 2004).
Individu yang memiliki prudence yang kuat tidak mengorbankan
tujuan jangka panjang mereka untuk mencapai kesenangan jangka
pendek, namun mereka terus berpikir apa yang akan menghasilkan
sesuatu yang paling memuaskan. Orang yang prudence akan
membuat pilihan cerdas daripada tidak memilih apapun. Prudence
mirip dengan kekuatan pemikiran kritis dan open-minded, tetapi
prudence merupakan karakter khusus yang berkaitan dengan
tindakan untuk masa depan dan mempertimbangkan untung ruginya.
4) Self regulation
Self-regulation adalah bagaimana individu menggunakan
kemampuan untuk mengatur respon diri yang dimiliki untuk mencapai
tujuan dan memenuhi standar sosial (Seligman, 2004). Respon ini
meliputi pikiran, emosi, rangsangan, performansi dan perilaku
lainnya. Jadi, self-regulation didefinisikan sebagai kemampuan untuk
mengatur perasaan dan perilaku diri kita sendiri menjadi disiplin serta
mampu dalam mengontrol keinginan dan emosi.
f. Transcendence
Transcendence merupakan character strength terakhir yang dikemukakan oleh Peterson
dan Seligman (2004), character strength ini berkaitan dengan kemampuan menjalin
hubungan dengan kekuatan semesta yang lebih besar serta dalam memaknai
kehidupan individu tersebut. Terdapat lima character strength yang menggambarkan
transcendence, yaitu :
1) Appreciation of beauty and excellence
Appreciation of beauty and excellence merupakan kemampuan
untuk menemukan, mengenali serta mengambil kesenangan dari
lingkungan fisik dan dunia sosial. Individu yang secara kuat
memiliki karakter ini sering merasa kagum pada hal-hal yang
berkaitan dengan emosi, termasuk pemujaan. Mereka
mengekpresikan kekagumannya tersebut dan mengapresiasikan
sesuatu dengan cara sangat mendalam. Seligman (2004)
mengemukakan bahwa ada tiga jenis kebaikan yang direspon,
yaitu (a) keindahan fisik, baik keindahan lingkungan visual dan
auditori, (b) keterampilan atau bakat dengan menampilkan
keahlian dan (c) kebajikan atau kebaikan moral menampilkan
kebaikan, belas kasih, atau memaafkan. setiap jenis kebaikan ini
dapat menimbulkan rasa kagum yang berhubungan dengan emosi
individu.
2) Gratitude
Rasa syukur dan sukacita dalam meresponi sesuatu yang
diterima, baik dari orang lain maupun kebahagiaan dari keindahan
alam. Menyadari dan menerima hal-hal baik dengan tidak
menerimanya begitu saja, namun senantiasa bersyukur. Gratitude
melibatkan pengakuan saat menerima sesuatu dan kemudian
bersyukur atas apa yang diterimanya. Fitzgerald (1998)
mengidentifikasi tiga komponen dari gratitude, yaitu : (a) perasaan
sukacita terhadap seseorang atau sesuatu. (b) berperilaku baik
pada individu atau sesuatu hal. (c) berperilaku menghargai atas
kebaikan tersebut.

3) Hope
Hope, optimism, future-mindedness atau future orientation
merupakan kondisi kognitif, emosional dan motivasi menuju masa
depan. Berpikir tentang masa depan, mengharapkan sesuatu
terjadi sesuai dengan yang diinginkan. Hope ditampilkan dalam
bentuk keyakinan atas apa yang dikerjakan akan memberikan
hasil yang terbaik, memiliki gambaran yang jelas mengenai apa
yang hendak dilakukan dan ketika mengalami kegagalan akan
berfokus pada kesempatan lain untuk memperoleh hasil yang
lebih baik.
4) Humor
Humor mungkin lebih mudah untuk dikenali daripada didefinisikan,
tapi diantara maknanya saat ini adalah a) the playful recognition,
kesenangan dan/atau menciptakan keanehan, b) dipandang
sebagai orang yang ceria dan mampu melihat kebaikan saat
mengalami kesulitan dengan mempertahankan suasana hati yang
baik, c) mampu membuat orang lain tersenyum atau tertawa.
5) Spirituality
Spiritualiality dan religiusitas mengacu kepada keyakinan dan
praktek bahwa terdapat dimensi transenden (nonfisik) di dalam
kehidupan. Keyakinan ini bersifat mendorong dan stabil, serta
menentukan makna hidup dan cara manusia menjalin hubungan
sosial. Freud (2004) menyimpulkan bahwa agama muncul
sebagai konsekuensi dari kebutuhan manusia untuk
mempertahankan diri dari impuls masa kecil.

Daftar Pustaka
Lingga, Ruth Widya Wira Logiasari. (2013, 23 Mei). Gambaran Virtue Mahasiswa
Perantau (Studi Deskriptif Di Kota Medan). Diperoleh 22 Juni 2016.
[Link]
[Link]
extension=pptx&ft=1477229290&lt=1477232900&user_id=243141672&uahk=tchi
RXuMEQlVGBaWAIgFcQ4Zhsc

Anda mungkin juga menyukai