0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
162 tayangan8 halaman

Makna dan Jenis Tumpeng Robyong

Tumpeng memiliki berbagai jenis yang digunakan untuk berbagai acara, mulai dari acara sakral hingga perayaan. Bentuk tumpeng yang berupa kerucut melambangkan Gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta menurut kepercayaan Hindu dan Buddha. Tumpeng juga melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Berbagai jenis dan makna tumpeng mencerminkan keanekaragaman budaya Indonesia yang dipeng

Diunggah oleh

TATHIANNET.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
162 tayangan8 halaman

Makna dan Jenis Tumpeng Robyong

Tumpeng memiliki berbagai jenis yang digunakan untuk berbagai acara, mulai dari acara sakral hingga perayaan. Bentuk tumpeng yang berupa kerucut melambangkan Gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta menurut kepercayaan Hindu dan Buddha. Tumpeng juga melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Berbagai jenis dan makna tumpeng mencerminkan keanekaragaman budaya Indonesia yang dipeng

Diunggah oleh

TATHIANNET.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUMPENG ROBYONG

Dulu, tumpeng robyong disajikan untuk acara-acara besar, seperti musim panen,
mengusir penyakit, atau meminta hujan. Kini, jenis tumpeng tersebut dipakai untuk
acara siraman, upacara pernikahan atau pemberkatan, dan syukuran. Biasanya, selain
tumpeng besar, juga ada intuk-intuk atau tumpeng kecil yang mengelilingi tumpeng
besar. Adapula tiga macam kembang, yakni mawar, melati, dan kenanga. Selain itu,
bubur merah, putih, dan palang juga disajikan. Di puncak tumpeng, biasanya
ditusukkan telur ayam, terasi, bawang merah, dan cabai.

TUMPENG PERNIKAHAN

Tumpeng pernikahan mirip dengan tumpeng robyong,


hanya saja setengah bagian nasi tumpengnya dipotong
secara mendatar. Bagian atasnya yang runcing
melambangkan lingga (kesuburan), sementara bagian
bawahnya yang lebar menyimbolkan yoni (kekuatan).
Di puncak tumpeng ditusukkan bawang merah dan
cabai. Selain itu, 'wajib' ada lodeh kluwih, jajanan
pasar lima warna, takir pontang, serta kacang panjang
yang dikepang dan diletakkan melingkari tumpeng.
TUMPENG TUMBUK

Tumpeng tumbuk dipakai untuk merayakan ulang tahun,


terutama umur 64 tahun alias tumbuk ageng. Menurut
kepercayaan Jawa dan Cina, 8 adalah angka keramat.
Jadi 64 yang notabene merupakan hasil perkalian 8 dan 8
adalah umur istimewa. Selain itu, orang yang sudah
mencapai 64 tahun telah melebihi usia Nabi Muhammad
SAW waktu wafat. Makanya, ulang tahun ini dianggap
spesial. Tumpengnyapun dihiasi dengan kepangan
kacang panjang dari puncak ke alas tumpeng, yang
melambangkan umur panjang.

TUMPENG MEGONO

Dalam Bahasa Sunda, megono disebut bogana. Tumpeng ini disajikan untuk syukuran
kenaikan pangkat, dsb.
TUMPENG PUNGKUR

Jika tumpeng biasanya menandakan sukacita, tumpeng pungkur disajikan pada acara
pemakaman pria atau wanita lanjang. Tumpeng ini terbuat dari nasi putih yang
dipotong dua vertikal, lalu diletakkan saling membelakangi untuk memisahkan
kehidupan dan kematian. Tidak ada intuk-intuk atau tumpeng kecil serta jajanan pasar.
Yang ada adalah lauk-pauk sayuran, ketan kolak, serta apem. Tumpeng ini didiamkan
di rumah semalaman lalu dibuang, atau dihanyutkan di sungai.

TUMPENG DUPLAK

Ditujukan agar semua pemilik acara


terkabul, bentuk tumpeng ini berbeda
dengan tumpeng lainya karena tumpeng
ini bentuknya tidak kerucut atau tidak
runcing bagian ujungnya,, pada saat
memasukkan nasi putih ke dalam cetakan
tumpeng terlebih dahulu dimasukkan telur
ayam rebus yang beum dikupas kulitnya
pada saat nasi diletaakkan di tampah
bentuk nasi akan berbentuk cekung seperti
mengikuti bentuk teur, lauk yang diugnakan adalah sambel goreng daging giling,
capcai, acar mentimun, semur daging, telur pindang, telur mata sapi, perkedel, dan
juga kerupuk udang atu rempeyek kacang
TUMPUNG NUJUH BULANAN

Tumpeng ini dibuat untuk syukuran 7 bulanan usia kehmailan, tumpeng ini terbuat
dari nasi putih dengan satu kerucut besar ditengah dan dikelilingi enam buah tumpeng
lainya, bisa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang, selain nasi terdapat
telur rebus, sayuran dan lauk yang menyertai

TUMPENG NASI KUNING

tumpeng ini sering ditemui di masyarakat, pelengkanya sama dengan tumpeng pada
umumnya, biasanya ditambahkan perkedel, lauk kering dan abon irisan mentimun dan
dadar rawis, Warna tumpeng yang berwarna kuning mengandung arti kekayaan dan
moral yang luhur, tumpeng ini biasanya digunakan untuk acara ulang tahun, kelahiran,
khitanan, syukuran, danupacara tolak bala
TUMPENG PUTIH

Tumpeng putih biasanya digunakan untuk acara sakral,


warnanya putih untuk kesucian, tapi sebenarnya
tumpeng ini sama dengan tumpeng kuning
hanya modifikasinya aja, hanay biasanya ayam
goreng diganti dengna ayam ingkung, yang
biasanya disertai dengan bumbu aren,
tumpeng putih memakai tahu dan tempe
bacem dan ikan asin

TUMPENG KENDHIT

Tumpeng ini konon syahdan dibuat sebagai


sebuah permohonan untuk keluar dari
berbagai kesulitan permasalahan kehidupan
yang sedang melanda, tidak diganggu oleh
kekuatan jahat. Gangguan dan kesulitan
kehidupan dilambangkan dengan warna
kuning meliliut kunyit di tengah gunungan
nasi putih tumpeng. Lauk Pauk digambarkan
sebagai lambang berbagai pemecahan
masalah yang mungkin akan muncul sebagai
pilihan solusi. Setiap jenis lauk menggambar
sebuah jenis pemecahan masalah.

MAKNA TUMPENG
Memaknai penggunaan tumpeng dalam hubungannya dengan Agama dan Ketuhanan yaitu
dapat dijabarkan sebagai berikut :
Bentuk tumpeng yang berupa kerucut dan mempunyai satu titik pusat pada puncaknya
dipercaya melambangkan Gunung Mahameru yang merupakan konsep alam semesta dan
berasal dari agama Hindu dan Buddha. Asal muasal bentuk tumpeng ini ada dalam mitologi
Hindu, di epos Mahabarata.
Gunung, dalam kepercayaan Hindu adalah awal kehidupan, karenanya amat dihormati.
Dalam Mahabarata dikisahkan tentang Gunung Mandara, yang dibawahnya mengalir amerta
atau tirtha, air kehidupan.
Yang meminum air itu akan mendapat mendapat keselamatan.
Inilah yang menjadi dasar penggunaan tumpeng dalam acara-acara selamatan. Selain itu
gunung bagi penganut Hindu diberi istilah mru, representasi dari sistem kosmos (alam
raya).
Jika dikaitkan dengan bagian puncak tumpeng, maka ini melambangkan Tuhan sebagai
penguasa kosmos.
Ini menjelaskan bahwa acara-acara selamatan dimana tumpeng digunakan selalu dikaitkan
dengan wujud syukur, persembahan, penyembahan dan doa kepada Tuhan.
Selain pengaruh dari agama Hindu, bentuk tumpeng ini juga dipengaruhi oleh agama atau
kepercayaan masyakarat Jawa yang dikenal dengan nama kejawen.
Masyarakat Jawa sendiri sebenarnya lebih menganggap kejawen sebagai seperangkat cara
pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (perilaku).
Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat seperti aturan-aturan agama
pada umumnya, tetapi menekankan pada konsep keseimbangan. Praktek ajaran ini
biasanya melibatkan benda-benda tertentu yang memiliki arti simbolik.
Gunung berarti tempat yang sangat sakral oleh masyarakat Jawa, karena memiliki kaitan
yang erat dengan langit dan surga. Bentuk tumpeng bermakna menempatkan Tuhan pada
posisi puncak yang menguasai alam.
Bentuk kerucut gunungan (mru) ini juga melambangkan sifat awal dan akhir,
simbolisasi dari sifat alam dan manusia yang berawal dari Tuhan dan akan kembali
lagi (berakhir) pada Tuhan.

Sebagian besar upacara yang diselenggarakan dalam kebudayaan Jawa adalah bagian
dari ritual kejawen sehingga tentu saja pengadaan tumpeng dan posisinya yang
penting dalam sebuah upacara sangat berkaitan erat dengan makna simbolis yang
terkandung dalam tumpeng itu.

Konon alam semesta berbentuk pipih melingkar seperti cakram, dan lingkaran itu
berpusatkan Gunung Mahameru yang tingginya katanya sekitar 1.344.000 kilometer. Puncak
gunung ini dikelilingi matahari, bulan dan bintang-bintang. Konon katanya gunung ini
berdiri di tengah benua yang bernama Jambhudwipa yang ditinggali manusia dan makhluk-
makhluk lainnya. Benua Jambhudwipa dikelilingi tujuh rangkaian lautan dan tujuh rangkaian
pegunungan.
Di bagian tepi alam semesta terdapat rangkaian pegunungan yang sangat tinggi
sehingga sukar didaki, yaitu Chakrawan dan Chakrawala.
Di puncak Gunung Mahameru terletak kota tempat tinggal dewa-dewa. Adapun
delapan arah dari Gunung Meru dijaga oleh dewa-dewa Asta-Dikpalaka sebagai
pelindung alam semesta dari serangan makhluk-makhluk jahat.(Stutley 1977:190-191;
Heine-Geldern 1982:4-5; Dumarcay 1986:89-91 dalam Munandar).

Orang-orang Jawa Kuno penganut Hindu-Buddha yang memang gemar belajar dan membaca
memperhatikan betul soal ini. Dari dulu sampai sekarang orang kita memang tergolong suka
beradaptasi dengan budaya dari luar. Setelah masuk ke budaya kita, budaya luar pastinya
mengalami perubahan sesuai dengan daerah yang menganutnya.
Orang Jawa Kuno percaya kalo Gunung Mahameru telah mengalami mutasi atau
dipindahkan oleh para dewa dari Jambhudwipa ke Jawadwipa.
Entah karena alasan politis atau agama, pulau Jawa kemudian dinyatakan sebagai pusat
dunia. Konon oleh Bhatara Guru (atau Shiwa) para dewa disuruh turun ke Jawa supaya
mengajari para penduduk awal pulau Jawa berbagai pengetahuan dan keterampilan.
Oleh karena itu tidak mengherankan kalo gunung-gunung memiliki nilai mistis dan religius
di mata masyarakat (terutama di Jawa).
Di banyak kebudayaan gunung dianggap suci atau mistis.
Orang Yunani menganggap gunung Olympus sebagai tempat bersemayamnya Zeus.

Di Hawaii masyarakatnya percaya kalo gunung Mauna Kea adalah tempat tinggal
Pele.

Di pegunungan Himalaya banyak dibangun kuil-kuil.

Kalo di Indonesia sendiri kita mengenal legenda Nini Pelet dari puncak gunung
Ciremai atau mak Lampir dari gunung Merapi.

Bagi orang-orang zaman dahulu gunung adalah abstraksi dari sesuatu yang jauh lebih tinggi
dan melampaui kekuasaan manusia, gunung juga dianggap lebih dekat dengan langit. Tak
mengherankan kalo bentuk piramid, atau candi cenderung meniru bentuk gunung. Khusus
untuk candi seperti Candi Borobudur, bentuknya memang berkaitan dengan konsep
Mahameru.
Kembali ke masalah nasi tumpeng, dari bentuknya sudah tampak menyerupai gunung. Nasi
tumpeng atau Tumpengan hanya ada dalam perayaan-perayaan tertentu.
Ini adalah warisan budaya nenek moyang. Suatu perayaan yang dianggap suci tentu
memerlukan simbol-simbol suci yang dapat mewakili makna dari apa yang tengah
dirayakan.
Selain dari bentuk, kita juga bisa menginterpretasikan makna dibalik warna nasi tumpeng.
Ada dua warna dominan nasi tumpeng yaitu putih dan kuning.

Bila kita kembali pada pengaruh ajaran Hindu yang masih sangat kental di Jawa;
Warna putih diasosiasikan dengan Indra, Dewa Matahari.

Matahari adalah sumber kehidupan yang cahayanya berwarna putih.


Selain itu warna putih di banyak agama melambangkan kesucian.

Warna kuning melambangkan rezeki, kelimpahan, kemakmuran.

Melihat hubungan antara makna dibalik bentuk tumpeng dan warna nasi tumpeng,
keseluruhan makna dari tumpeng ini adalah pengakuan akan adanya kuasa yang lebih besar
dari manusia (Tuhan), yang menguasai alam dan aspek kehidupan manusia, yang menentukan
awal dan akhir;Dimana wujud nyata dari pengakuan ini adalah sikap persembahan terhadap
Sang Kuasa dimana rasa syukur, pengharapan dan doa dilayangkan kepadaNya supaya hidup
semakin baik, menanjak naik dan tinggi seperti halnya bentuk kemuncak tumpeng itu
sendiri.
Jadi tumpeng mengandung makna religius yang dalam sehingga kehadirannya menjadi sakral
dalam upacara-upacara syukuran atau selamatan.

Anda mungkin juga menyukai