Pembangunan Test Track Tahap IV
Pembangunan Test Track Tahap IV
Daftar Isi
DATA TEKNIS 1. PENDAHULUAN...................................................................................................................................................1-3
1.1. INFORMASI PROYEK ................................................................................1-3
1.2. LINGKUP PEKERJAAN..............................................................................1-3
DATA TEKNIS 2. METODE PELAKSANAAN.............................................................................................................................2-4
2.1. STANDAR TEKNIS .....................................................................................2-4
2.2. METODE PELAKSANAAN .........................................................................2-4
2.3. PEKERJAAN PERSIAPAN .......................................................................2-11
2.4. PEKERJAAN CUT AND FILL ...................................................................2-14
2.4.1. UMUM ...........................................................................................2-14
2.4.2. PEMBERSIHAN ............................................................................2-14
2.4.3. PEMBUANGAN LAPISAN TANAH ATAS (STRIPPING) ............2-15
2.4.4. GALIAN DAN URUGAN................................................................2-16
[Link] Galian Tanah Biasa ......................................................2-16
[Link] Urugan ..........................................................................2-17
[Link] Perbaikan Urugan yang tidak Memuaskan atau
tidak Stabil ....................................................................2-19
2.4.5. PEKERJAAN SALURAN...............................................................2-21
[Link] Pekerjaan Pengukuran Bouwplang ..............................2-21
[Link] Pekerjaan Galian dan Urugan ......................................2-22
[Link] Pekerjaan Saluran Batu Kali ........................................2-22
[Link] Pekerjaan Urugan Tanah Kembali ...............................2-22
DATA TEKNIS 3. MANAJEMEN PROYEK...................................................................................................................................3-1
3.1. OVERVIEW .................................................................................................3-1
3.2. ORGANISASI MANAJEMEN PROYEK .....................................................3-2
3.3. ORGANISASI DAN FUNGSI DARI BAGAN ORGANISASI.......................3-3
3.4. ORGANISASI MANAJEMEN PROYEK .....................................................3-3
DATA TEKNIS 4. JADWALMOBILASAI PERSONIL, BAHAN DAN PERALATAN...................................4-4
4.1. JADWAL MOBILSASI PERSONIL .............................................................4-4
4.2. STRUKTUR ORGANISASI PROYEK ........................................................4-4
DATA TEKNIS 5. DAMPAK LINGKUNGAN PEKERJAANKONSTRUKSI.......................................................5-1
5.1. URAIAN .......................................................................................................5-1
5.2. BAKU MUTU LINGKUNGAN ......................................................................5-3
5.2.1. BAKU MUTU AIR ............................................................................5-3
5.2.2. BAKU MUTU UDARA .....................................................................5-4
5.3. TAHAP PRA KONSTRUKSI .......................................................................5-4
5.3.1. 5-5
5.3.2. PENGAMANAN LINGKUNGAN PADA TAHAP
KONSTRUKSI .................................................................................5-5
5.3.3. KOMPONEN PEKERJAAN KONSTRUKSI YANG
MENIMBULKAN DAMPAK .............................................................5-7
5.3.4. DAMPAK YANG TIMBUL PADA PEKERJAAN
KONSTRUKSI DAN UPAYA PENANGANANNYA ........................5-7
5.3.5. PENGATURAN LALU LINTAS DI LINGKUNGAN
KEGIATAN KONSTRUKSI ...........................................................5-10
1-1
Pembangunan Test Track Tahap IV
Daftar Gambar
Gambar 2-1. Diagram Alir Pelaksanaan Pekerjaan ................................................ 2-10
Gambar 1-1. Struktur Organisasi perusahaan ........................................................ 6-2
Gambar 1-2. Struktur Organisasi Lapangan ........................................................... 6-3
1-2
Pembangunan Test Track Tahap IV
1. Pekerjaan Persiapan
Pembersihan Lokasi
Pengukuran
Pembuatan Bedeng dan Gudang Kerja
Pengguna Jasa Ket
Pengadaan Listrik Kerja
Pengadaan Air Kerja
Tes DCP
Mobilisasi Peralatan
2. Pekerjaan Cut and Fill
Pekerjaan Galian Tanah
Pekerjaan Timbunan Pilihan
3. Pekerjaan Saluran
Pekerjaan Galian Tanah
Pasangan batu Kali
1-3
Pembangunan Test Track Tahap IV
Tugas/sasaran utama dalam pelaksanaan konstruksi ini adalah mencapai sasaran yang
diinginkan, yakni mencakup :
2. Fungsi Bangunan yang Optimal, dalam hal ini bangunan konstruksi yang
dibuat sesuai dengan dimensi yang direncanakan dan dapat berfungsi
sebagaimana yang diharapkan.
2-4
Pembangunan Test Track Tahap IV
Untuk mencapai sasaran tersebut, perlu disusun suatu sistem kerja yang disebut metode
konstruksi. Penggunaan metode yang tepat, praktis, cepat, dan aman, sangat membantu
dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi. Sehingga target waktu,
biaya dan mutu sebagaimana ditetapkan akan dapat tercapai.
Penerapan metode pelaksanaan konstruksi, selain terkait erat dengan kondisi lapangan di
mana suatu proyek konstruksi dikerjakan, juga tergantung jenis proyek yang dikerjakan.
Metode pelaksanaan pekerjaan untuk bangunan gedung berbeda dengan metode
pekerjaan bangunan irigasi, bangunan pembangkit listrik, konstruksi dermaga maupun
konstruksi jalan dan jembatan.
Perencanaan metode pelaksanaan suatu item pekerjaan akan mengikuti jadwal waktu
yang disediakan untuk item pekerjaan tersebut. Dari perencanaan metode ini akan
diperoleh data kebutuhan alat yang diperlukan, jenis dan volume bahan yang akan
2-5
Pembangunan Test Track Tahap IV
dibutuhkan, teknis dan urutan pelaksanaan pekerjaan serta pola pengendalian mutu yang
harus diterapkan.
Apabila waktu pelaksanaan yang tersedia tidak mencukupi dalam pelaksanaan gedung
tersebut, maka berdasarkan kemampuan sumber daya yang ada pada daerah tertentu
dibuat schedule pelaksanaan yang realistis yang telah memperhitungkan segala
kemungkinan dalam pelaksanaan gedung.
2-6
Pembangunan Test Track Tahap IV
cek
No
A Finish + test comisioning
ya
Pekerjaan sanitair dan
saluran
kerjaan dinding
No Ya
cek
ya
no
Ya
Ya
No
Ya
No
Ya
2-7
Pembangunan Test Track Tahap IV
YA
Pek balok dan plat dak lantai
2
No
cek
Ya Ya
Ya Ya
No
cek
Pek. baja ringan dan
Ya penutupnya
Pek kusen No
cek
No
cek Ya
Ya
Pek plafond
No
Ya Pek lantai dan dindng
cek
(keramik dan screed dll)
No
Ya
B cek
2-8
Pembangunan Test Track Tahap IV
No No
cek cek
ya
cek Ya selesai
Note Ya ketahap selanjutnya)
No (pekerjaan diulang,reject, remove)
2-9
Pembangunan Test Track Tahap IV
no
ya
ya
no
ya
no
ya
No
ya
Note Ya (ketahap selanjutnya)
No (pekerjaan diulang,reject, remove)
2-10
Pembangunan Test Track Tahap IV
Pekerjaan persiapan merupakan langkah awal keberhasilan suatu proyek, dalam tahap
persiapan sangat berpengaruh langsung pada pelaksanaan proyek selanjutnya
dikarenakan dalam proses persiapan ini menunjukan kesiapan dan kemampuan suatu
perusahaan dalam pengelolaan proyek.
Tahapan persiapan terbagi menjadi 3 bagian utama meliputi hal hal dibawah ini.
Pekerjaan pematokan yang telah selesai diukur oleh Pemborong untuk kemudian disetujui
Ahli. Hanya hasil pengukuran yang telah disetujui oleh Ahli dan disetujui oleh Pengguna
Jasa Pekerjaan yang dapat digunakan sebagai dasar pembayaran. Pemborong wajib,
seperti yang disebutkan dalam Surat Perjanjian Pemborong, untuk menyediakan alat-
alat ukur dan perlengkapannya, juru-juru ukur yang mampu untuk melaksanakan
pekerjaan ini dan pekerja-pekerja serta melaksanakan pengujian hasil pematokan dan
hasil pekerjaan lain yang sehubungan dengan pekerjaan pematokan.
Semua tanda-tanda di lapangan yang diberikan oleh Ahli atau dipasang sendiri oleh
Pemborong harus tetap dipelihara dan dijaga dengan baik. Apabila ada tanda-tanda yang
rusak atau hilang harus segera diganti dengan yang baru dan disetujui pemasangannya
kembali oleh Ahli. Pada keadaan dimana ada penyimpangan dari gambar pelaksanaan,
Pemborong harus mengajukan 3 (tiga) gambar penampang dari daerah yang dipatok itu.
Ahli akan membubuhkan tanda tangan persetujuan atau pendapat/revisi pada
suatu lembar gambar tersebut dan mengembalikannya kepada Pemborong. Setelah
diperbaiki Pemborong harus mengajukan kembali gambar yang oleh Ahli diminta
untuk direvisi. Gambar tersebut harus digambar kembali dikertas kalkir untuk
memungkinkan direproduksi.
2. Jumlah Pekerjaan
Kontraktor bersama tiem Supervisi akan menentukan kemiringan dan landai pada
timbunan dan atau galian dalam pelaksanaan sesudah diketahui secara lebih pasti
tentang sifat-sifat tanah yang bersangkutan. Hal ini akan diukur dan dicatat oleh
Pemborong. Pemborong akan memeriksa kembali catatan ini dan apabila sesuai akan
membubuhkan tanda tangan persetujuan dan akan dipakai sebagai dasar pembayaran
nanti. Galian dan timbunan di luar yang ditentukan tidak akan dibayar. Kelebihan
penggalian harus ditimbun kembali sesuai dengan petunjuk Team Supervisi dan
Pengguna Jasa. Sisa timbunan diratakan atau dikembalikan kesemuanya sesuai
putusan Ahli. Setelah dikonsultasikan pada Pengguna Jasa Pekerjaan.
3. Selokan-selokan
2-11
Pembangunan Test Track Tahap IV
seperti tercantum dalam gambar pelaksanaan, atau yang ditunjuk oleh Ahli, agar
air tidak mengganggu konstruksi timbunan, atau galian selama
pekerjaan berlangsung. Pemborong juga harus mengusahakan sistem
pengaliran air yang cukup baik, dan dengan pentahapan yang seksama agar
sistem drainage itu sudah dapat berjalan sebagaimana mestinya sebelum
pekerjaan dimulai. Pemborong harus selalu membersihkan selokan-
selokan tersebut sehingga aliran selalu lancar. Kerusakan pekerjaan akibat
tidak cukup baiknya aliran air akan menjadi tanggung jawab Pemborong
sepenuhnya.
Tahap awal untuk proyek dapat terlaksana tentunya elemen-elemen pelaksanaan harus
diadakan dan siap untuk bekerja. Tahapan ini termasuk dengan serah terima lapangan
dengan pemilik pekerjaan, perijinan dan mobilisasi sumber daya. Di tahapan ini jadwal
mobilisasi sudah harus fix dan menjadi pegangan pelaksana proyek.
Akses mobilisasi material yang dibutuhkan perlu strategi jelas dan keputusan yang tepat,
dalam pelaksanaan ini yaitu mengingat kondisi waktu yang sangat terbatas, hal ini perlu
perhatian yang serius kapan harus mulai ditentukan mobilitasnya sehingga tiba di site
sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan.
Daftar Personil Inti yang akan dimobilisasi pada pekerjaan ini terdiri dari :
1. Site Manager
2. Engineer Struktur
3. Ahli Pengukuran
4. Ahli K3
5. Pelaksana
Sedangkan Personil pendukungnya akan dimobilisasi sesuai dengan kebutuhan terdiri dari
:
1. Surveyor
3. Logistik
4. Administrasi / Keuangan
Fasilitas yang akan diadakan sebagai sarana penunjang operasional akan mencakup pada
hal dibawah ini :
2-12
Pembangunan Test Track Tahap IV
9. Keamanan sangat diperlukan mengingat lahan yang luas dan terbuka akan
memudahkan hal-hal yang tidak terduga bisa terjadi. Perlunya koordinasi
dengan pihak berwenang dan warga setempat sangat dibutuhkan
2-13
Pembangunan Test Track Tahap IV
Secara teknis tanah jelek/gambut harus dibuang keluar karena akan mempengaruhi daya
dukung tanah untuk pondasi. Maka perlu penanganan khusus dalam pembersihan area
bangunan yaitu dengan membuang tanah yang jelek sampai kedalaman 10 - 15 cm.
Pembersihan area site tidak terjadi hanya di awal pekerjaan saja tetapi secara berkala
dan menjadi kegiatan rutinitas proyek itu sendiri Perlunya penataan lokasi untuk tempat
pembuangan sementara baik puing atau sampah sangat diperlukan dimana rutinitas atau
kegiatan proyek tidak terganggu oleh penumpukan-penumpukan yang tidak beraturan.
2.4.1. Umum
2.4.2. PEMBERSIHAN
Kecuali dinyatakan lain pada syarat-syarat khusus atau yang tertera pada
gambar- gambar pelaksanaan, maka seluruh daerah pembangunan harus
dibersihkan dari semak- semak dan akar-akar pohon. Dalam hal ini tidak dibenarkan
2-14
Pembangunan Test Track Tahap IV
Kontraktor atau Pemborong harus bertindak hati-hati sesuai dengan peraturan yang
berlaku di dalam area pekerjaan. Pada pelaksanaan pembersihan, Pemborong harus
berhati-hati untuk tidak mengganggu setiap patok-patok pengukuran, pipa-pipa atau
tanda-tanda lainya.
Pada daerah dimana nanti akan digali dan diurug, Kontraktor atau pemborong harus
mengerjakan pekerjaan pembuangan lapisan tanah atas, setebal 0,25m atau sesuai
gambar yang diajukan oleh Pengguna jasa ke tempat-tempat di sekitar proyek itu
yang akan ditentukan oleh Pengawas atau pengguna jasa. Pada tempat-tempat
khusus dimana setelah dilaksanakan pembersihan ternyata tanah dasarnya lembek
sekali, maka Kontraktor atau Pemborong diharuskan mengadakan pembersihan lagi
pada kedalaman 0,40 m demikian seterusnya sampai kedalaman 0,90m, atau sampai
batas yang telah disetujui oleh Pengawas dan Pengguna Jasa. Hanya pekerjaan
pembersihan permukaan tanah sedalam 0,25m saja yang harga satuannya tercantum
dalam kontrak. Pembersihan permukaan yang lebih dari 0,25m hanya bisa dibayarkan
bilamana sudah ada persetujuan tertulis dari Pengguna Jasa/Pengguana Jasa.
2-15
Pembangunan Test Track Tahap IV
Galian tanah biasa harus mencakup galian yang bukan berupa galian batu, galian
untuk konstruksi atau galian material/bahan baku. Bila Ahli menghendaki,
Pemborong harus membongkar/membuang material-material yang tidak
diinginkan dalam pekerjaan timbunan ke tempat lain.
Bila material-material yang tidak diinginkan itu memang harus dibuang, tanah
yang digunakan untu menutup lobang sebagai gantinya harus dipadatkan lapis
per lapis setebal 20 cm, dan dengan kepadatan 90% dari maksimum kepadatan
normal standard yang diselidiki menurut test ASTM D 1557.
Galian tanah biasa adalah pekerjaan galian dengan material hasil galian berupa
tanah pada umumnya, yang dengan mudah dapat dilakukan dengan Excavator.
Seluruh galian dikerjakan sesuai dengan garis-garis dan bidang-bidang yang
ditunjukkan dalam gambar atau sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar
kerja atau sesuai dengan yang diarahkan / ditunjukkan oleh Pengguna Jasa.
Galian tanah biasa dimaksudkan untuk daerah yang bahan hasil galiannya terdiri
dari tanah, pasir dan kerikil. Bila ada galian yang perlu disempurnakan
seharusnya diinformasikan ke Pengguna Jasa untuk ditinjau. Tidak ada galian
yang langsung / ditutupi dengan tanah / beton tanpa diperiksa terlebih dahulu
oleh Pengguna Jasa. seluruh proses pekerjaan menjadi tanggung-jawab
Penyedia Jasa.
Selama proses penggalian tanah agar secara langsung dipisahkan dan ditumpuk
pada suatu tempat yang disetujui Pengguna Jasa, material yang layak/bisa
2-16
Pembangunan Test Track Tahap IV
dipakai untuk timbunan dan material yang tidak layak. Material yang layak
selanjutnya akan dipakai untuk timbunan tanah biasa dan timbunan kembali,
sedangkan material yang tidak layak selanjutnya akan dibuang keluar daerah
irigasi atau kesuatu tempat yang tidak akan mengganggu areal pertanian dan
fungsi jaringan.
Khusus untuk jaringan tersier yang dimensinya relatif kecil dan berada didaerah
persawahan, agar diperhitungkan terhadap tingkat kesukaran peggalian atau
alternatif lain berupa galian secara manual.
[Link] Urugan
Pekerjaan urugan terdiri dari pekerjaan pengurug tanah guna keperluan pekerjaan
sesuai dengan syarat-syarat, sehubungan dengan ini dan ketentuan-ketentuan
yang tercantum pada gambar pelaksanaan, kedudukan, kemiringan bagian-
bagian dan dimensi-dimensi atau yang ditunjuk oleh Team Supervisi dan
Pengguna Jasa.
d. Bila kecepatan menggali tanah urugan lebih cepat dari pada kecepatan
pekerjaan urugan, maka Pemborong akan diijinkan untuk membuat
timbunan (stock pile) sementara, dengan catatan tidak boleh
menimbulkan gangguan lingkungan (polusi) serta ketinggian maksimum
yang diijinkan adalah 2,0 m dan dimana perlu mengadakan usaha-usaha
agar kandungan air dalam tanah tumpukan tersebut tetap sesuai
dengan persyaratan pada ayat 3. Bila tanah galian ini tidak bisa
diterima untuk tanah urugan maka tanah ini harus diangkut ke
tempat pembuangan yang telah ditentukan atas biaya Pemborong.
2-17
Pembangunan Test Track Tahap IV
f. Khusus untuk daerah-daerah rawa atau lubang-lubang yang selalu ada air,
maka pengurugan harus dilaksanakan dengan mempergunakan pasir
atau bahan urugan berbutir lepas lainnya (loose material) sampai kira-kira
mencapai 30 cm diatas air dan selanjutnya bisa dipergunakan tanah
biasa untuk memenuhi persyaratan.
b. Kecuali ditentukan lain oleh Ahli, maka permukaan tanah yang akan diurug
harus diaduk-aduk/digaruk terlebih dahulu sebelum pekerjaan
penghamparan dimulai, dengan mempergunakan peralatan yang telah
disetujui oleh Ahli.
d. Tebal setiap lapis akan ditentukan sesuai dengan alat pemadat yang
akan dipergunakan oleh Pemborong. Bilamana tidak ditentukan lain,
maka tebal padat setiap lapisan harus diambil tidak lebih dari 20 cm.
Jumlah lintasan (ulangan) pemadatan ditentukan berdasarkan percobaan
pemadatan (compaction test) di lapangan sampai persyaratan pada ayat 3
terpenuhi dan setelah Team Supervisi dan Pengguana Jasa menyetujuinya.
2-18
Pembangunan Test Track Tahap IV
b. Kandungan air dalam material urugan yang akan dipadatkan harus sesuai
dengan kandungan air optimun yang telah ditentukan berdasarkan
proctor test dengan batas-batas toleransi + 5% dan -2% dan setelah
disetujui Ahli.
2-19
Pembangunan Test Track Tahap IV
Jasa Teknik, yang diikuti dengan penyiraman air yang memadai dan
pencampuran secara menyeluruh dengan alat motor grader atau peralatan lain
yang disetujui.
Urugan yang terlalu basah untuk pemadatan, harus diperbaiki dibawah kondisi
cuaca kering dengan penggarukkan bahan-bahan tersebut diikuti dengan
pengerjaan sebentar- sebentar alat grader atau peralatan lain yang disetujui,
dengan waktu istirahat diantara pekerjaan-pekerjaan tersebut. Secara alternatif
atau jika pengeringan yang cukup tidak dapat dicapai dengan pengerjaan
bahan lepas tersebut. Pengguna Jasa Teknik dapat memerintahkan
supaya bahan tersebut dibuang dari tempat pekerjaan dan diganti dengan
bahan yang cocok dan kering.
Penyedia Jasa harus melaksanakan test uji timbunan (trial embankment) untuk
menentukan efektifitas dari beberapa metode pemadatan dari material yang
tersedia untuk pekerjaan timbunan. Sasaran hasil dari uji test timbunan adalah
untuk mengkonfirmasi efektifitas dari metode pemadatan yang berkaitan
dengan jenis dan ukuran dari alat pemadat, jumlah lintasan untuk ketebalan
lapisan yang disyaratkan, efek getaran terhadap kadar air dan aspek lain dari
pemadatan. Pekerjaan ini termasuk penempatan/penghamparan dari material
dari borrow area, galian dan stockpile dengan perbedaan kadar air dan dalam
lajur terpisah untuk pemadatan dengan peralatan pemadat, kecepatan,
frekuensi dan jumlah lintasan yang berbeda.
Hasil percobaan ini tidak membebaskan Penyedia Jasa dalam segala hal
kewajibannya untuk mendapatkan batas pemadatan sebagai yang ditentukan
dalam kontrak. Apabila ditemukan/dijumpai tanah yang berbeda pada waktu
pelaksanaan dikemudian hari, maka percobaan-percobaan lebih lanjut harus
dilaksanakan terlebih dahulu. Bila hasil percobaan pem datan tanah
dilaksanakan untuk tanggul pada bangunan yang permanen, percobaan
tersebut akan dianggap sebagai suatu bagian pekerjaan dalam penyelesaian
pekerjaan tersebut, dan apabila pekerjaan tersebut gagal dan tidak memenuhi
persyaratan-persyaratan yang ditentukan Pengguna Jasa, maka Penyedia Jasa
2-20
Pembangunan Test Track Tahap IV
Pekerjaan ini mencakup pembuatan selokan baru yang dilapisi (lined) maupun
tidak (unlined) dan perataan kembali selokan lama yang tidak dilapisi, sesuai
dengan Spesifikasi ini serta memenuhi garis, ketinggian dan detail yang
ditunjukkan pada Gambar. Selokan yang dilapisi dibuat dari pasangan batu dengan
mortar atau yang seperti ditunjukkan dalam Gambar.
Pekerjaan pelapisan sisi atau dasar selokan dan saluran air, dan pembuatan
"apron" (lantai golak), lubang masuk (catch pits) dan struktur saluran kecil lainnya
dengan menggunakan pasangan batu dengan mortar yang dibangun di atas suatu
dasar yang telah disiapkan memenuhi garis, ketinggian dan dimensi yang
ditunjukkan pada Gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh Pengguna Jasa.
2-21
Pembangunan Test Track Tahap IV
2. Batu yang dipakai adalah batu gunung atau batu kali yang dibelah,keras,
tidak porous, bersih dan besarnya tidak lebih dari 30 cm. Sama sekali tidak
diperkenankan memakai batu dalam bentuk bulat atau batu endapan.
Pembelahan batu harus dilakukan diluar daerah pekerjaan (diluar
bouwplank).
3. Semen, pasir (agregat halus) dan air harus memenuhi ketentuan dalam
pekerjaan beton menurut SNI 03-1750-1990.
4. Pasir untuk pekerjaan ini ipakai pasir yang baik, pasir tidak boleh
mengandung vahan yang dapat merusak pondasi dan ketahanannya.
Untuk itu Kontraktor harus mengajukan contoh-contoh yang memenuhi
syarat dari berbagai sumber (tempat pengambilan) antara lain tidak boleh
menggunakan pasir laut. Pasir disimpan ditempat yang saling terpisah
dalam tumpukan yang tidak lebih dari 1 m berpermukaan yang bersih,
padat serta kering dan harus dicegah terhadap pengkatoran.
2-22
Pembangunan Test Track Tahap IV
pondasi batu kali dan penimbunan diatas pondasi foot plate setelah pondasi
cukup kuat. Penimbunan dilakukan lapis demi lapis dengan ketebalan per
lapisan 30cm serta setiap lapisan dipadatkan dan diratakan dengan mesin
pemadat (stamper) sehingga mencapai kepadatan yang sempurna. Kegiatan-
kegiatan dari pekerjaan urugan tanah kembali ini waktu yang direncanakan
dan rencana kebutuhan tenaga dapat dilihat di lampiran ( perhitungan tenaga
dan waktu).
2-23
Pembangunan Test Track Tahap IV
3.1. Overview
Pendekatan manajemen proyek adalah dengan cara penanganan proyek dalam
upaya mencapai tujuan Pemilik Proyek dalam membangun fasilitas ini yang
meliputi tepat waktu, handal, aman, mudah dalam pengoperasian dan
pemeliharaan. Hal ini dapat dicapai melalui pelaksanaan scedule pelaksanaan,
keselamatan, manajemen mutu, tata cara pelaksanaan pekerjaan, perencanaan,
pengendalian proyek, kemampuan melakukan pengadaan dan pembelian,
pengetahuan tentang maanajemen kontrak dan tenaga kerja.
Dalam pelaksanaan pekerjaan, aktivitas Kontraktor akan dilakukan melalui dua (2)
kantor proyek, yaitu di Bandung (Kantor Pusat Bandung) dan lokasi proyek (Kantor
Lapangan).
Kantor Pusat akan berfungsi sebagai kantor utama untuk koordinasi dan
pengendalian seluruh aktivitas proyek, meliputi pekerjaan perekayasaan
metode konstruksi, perencanaan pengadaan, pelaporan, dan komunikasi ke
Pemilik proyek.
Seluruh kegiatan konstruksi, kantor proyek lapangan akan menjadi pusat dari
seluruh pengendalian konstruksi. Kantor proyek lapangan bertanggungjawab
kepada Kantor Pusat Jakarta.
Kantor akan menerapkan Sistem Manajemen Mutu melalui suatu rangkaian
dokumen proyek sebagai berikut:
Rencana Mutu Proyek
Rencana Mutu Perekayasaan proyek
Rencana Pengendalian Proyek
Rencana Pengadaan Proyek
Dan lain-lain
Dokumen tersebut akan menggambarkan kebutuhan proyek dan/atau prosedur
yang menjadi dasar semua kelompok kerja dan akan melengkapi prosedur untuk
masing-masing kelompok kerja sesuai dengan tanggungjawabnya.
Perhatian khusus akan diberikan kepada setiap prosedur sehingga dapat
memenuhi kebutuhan Pemilik proyek, termasuk pertimbangan dan review
terhadap produk yang dihasilkan, dan pemenuhan kebutuhan untuk persetujuan.
Semua konfirmasi formal antara Kontraktor dan Pemilik proyek akan dilaksanakan
sesuai dengan prosedur koordinasi dan prosedur terkait lainnya.
3-1
Pembangunan Test Track Tahap IV
Pemanfaatan sumber daya, seperti tenaga kerja, peralatan dan material, jasa
proyek, dan lain-lain.
3-2
Pembangunan Test Track Tahap IV
3-3
Pembangunan Test Track Tahap IV
Achroeddin Noerdin,
1 Project Manager
ST
Restu Eddy
2 Ahli Struktur Prichsetyo Harjanto,
ST
Akbar Purnomo
6 Pelaksanan Lapangan
WMA, ST
4-4
STRUKTUR ORGANISASI PROYEK
Pembangunan Test Track Tahap IV
Pembangunan Test Track Tahap IV
Project Manager
Achroeddin Noerdin, ST
Arya Seno Seoroso Poetro, ST Restu Eddy Prichsetyo Harjanto, ST Adnan Saleh, ST
Pelaksana 1 Pelaksana 2
Budiyanto, ST Akbar Purnomo WMA
ADMIN KEUANGAN
Iyan Abriyanto, Amd
4-1
Pembangunan Test Track Tahap IV
5.1. URAIAN
Istilah lingkungan hidup berasal dari kata "Environment" (lingkungan sekitar), yang
oleh Michael Allaby diartikan sebagai "The physical, chemical, and biotic condition
surrounding an organism", sedangkan Emil Salim mengemukakan bahwa secara
umum lingkungan hidup dapat diartikan sebagai benda, kondisi dan keadaannya,
serta pengaruh yang terdapat pada ruang yang kita tempati dan mempengaruhi
makhluk hidup, termasuk kehidupan manusia.
Dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup, dinyatakan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan
ruang dengan semua benda, daya dan keadaan, makhluk hidup termasuk manusia
dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan
kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Dari berbagai dimensi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan hidup
pada dasarnya terdiri atas 4 unsur, yaitu materi, energi, ruang dan kondisi/situasi
setempat, dengan uraian sebagai berikut
Unsur Materi.
Materi adalah zat yang dapat berbentuk biotik (hewan, tumbuhan, manusia), atau
abiotik (tanah, air, udara, dsb). Kedua unsur tersebut mempunyai hubungan
timbal balik, dan saling pengaruh mempengaruhi secara ekologis.
Unsur ini mengalami proses siklinal yaitu proses yang berulang kembali kepada
keadaan semula, adapun dalam perjalanannya akan mengalami perubahan
bentuk. Misalnya tumbuh-tumbuhan, untuk dapat hidup memerlukan energi dan
mineral, kemudian melalui proses "rantai makanan", tumbuhan ini dimakan oleh
hewan konsumen Tk. I (Herbivora = pemakan tumbuhan), yang selanjutnya
menjadi mangsa dari hewan konsumen Tk. II (Omnivora = pemakan segala).
Pada saatnya, tumbuhan dan hewan tersebut mengalami proses kematian, dan
jasadnya menjadi mangsa bakteri Saprodit (bakteri pembusuk) yang menguraikan
jasad tadi menjadi unsur basa (C, N, O, S, P dsb) yang diperlukan untuk
kehidupan makhluk hidup.
Unsur Energi
Semua makhluk yang bergerak untuk dapat hidup memerlukan energi, demikian
pula untuk dapat berinteraksi diperlukan adanya energi.
Sumber energi yang berlimpah berasal dari cahaya matahari, energi ini dapat
menyebabkan pohon dan tumbuhan yang berdaun hidau akan dapat melakukan
proses photo sintesa untuk tumbuh menuju suatu proses kehidupan. Demikian
pula dengan biji-biji dapat tumbuh dan berkembang karena adanya energi
matahari ini.
5-1
Pembangunan Test Track Tahap IV
Unsur Ruang
Ruang adalah tempat atau wadah di mana lingkungan hidup berada, suatu
ekosistem habitat tertentu akan berada pada suatu ruang tertentu, artinya
mempunyai batas-batas tertentu yang dapat dilihat secara fisik. Dengan
mengetahui ruang habitat suatu ekosistem maka pengelolaan lingkungan dapat
lebih mudah ditangani secara spesifik.
Unsur Kondisi/Situasi
1. Iklim seperti suhu, kelembaban, curah hujan, hari hujan, keadaan angin,
intensitas radiasi matahari, serta pola iklim makro.
3. Hidrologi, seperti karakteristik fisik sungai, danau, rawa, debit aliran, kondisi
fisik daerah resapan, tingkat erosi, tingkat penyediaan dan pemanfaatan air,
serta kualitas fisik, kimia, dan mikrobiologisnya.
4. Hidrooceanologi, atau pola hidrodinamika kelautan seperti pasang surut, arus
dan gelombang/ombak, morphologi pantai serta abrasi dan akresi pantai.
5. Ruang, tanah dan lahan, seperti tata guna lahan yang ada, rencana
pengembangan wilayah, rencana tata ruang, rencana tata guna tanah,
estetika bentang lahan, serta adanya konflik penggunaan lahan yang ada.
Komponen Biologi.
1. Flora, seperti peta zona biogeoklimatik dari vegetasi alami, jenis-jenis
vegetasi dan ekosistem yang dilindungi undang-undang, serta adanya
keunikan dari vegetasi dan ekosistem yang ada.
5-2
Pembangunan Test Track Tahap IV
Komponen kesehatan masyarakat, seperti sanitasi lingkungan, jenis dan jumlah fasilitas
kesehatan, cakupan pelayanan paramedis, tingkat gizi dan kecukupan pangan serta
insidensi dan prevalensi penyakit yang terkait dengan rencana kegiatan.
Baku mutu air atau sumber air adalah batas kadar yang dibolehkan bagi zat atau
bahan pencemar pada air, namun air tetap berfungsi sesuai peruntukannya.
Penentuan baku mutu air didasarkan atas daya dukung air pada sumber air, yang
disesuaikan dengan peruntukan air tersebut sebagai berikut :
5-3
Pembangunan Test Track Tahap IV
Golongan A, air yang dipakai sebagai air minum secara langsung tanpa
pengolahan lebih dulu.
Golongan B, air yang dapat dipakai sebagai air baku untuk diolah sebagai air
minum dan untuk keperluan rumah tangga.
Golongan C, air yang dapat dipakai untuk keperluan perikanan dan peternakan.
Golongan D, air yang dapat dipakai untuk keperluan pertanian dan dapat
dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri dan listrik tenaga air.
Selain baku mutu air, dikenal pula istilah baku mutu limbah cair, yaitu batas kadar
yang dibolehkan bagi zat atau bahan pencemar untuk dibuang ke dalam air atau
sumber air, sehingga tidak mengakibatkan dilampauinya baku mutu air.
Penentuan baku mutu limbah cair ini ditetapkan dengan pertimbangan beban
maksimal yang dapat diterima air dan sumber air, dan dibedakan atas 4 golongan
baku mutu air limbah, yakni Golongan, I, II, III dan IV.
1. Baku mutu udara ambien, yaitu kadar yang dibolehkan bagi zat atau bahan
pencemar terdapat di udara, namun tidak menimbulkan gangguan terhadap
makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan atau benda hidup lainnya, yang
penentuannya dengan mempertimbangkan kondisi udara setempat.
2. Baku mutu udara emisi, yaitu batas kadar yang dibolehkan bagi zat atau
bahan pencemar untuk dikeluarkan dari sumber pencemaran ke udara,
sehingga tidak mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien,
yang penentuannya didasarkan sumber bergerak atau sumber tidak
bergerak serta dibedakan antara baku mutu berat, sedang dan ringan.
Besarnya kadar pencemaran yang dibolehkan untuk setiap parameter udara dapat
dilihat pada pedoman penentuan baku mutu lingkungan yang diterbitkan oleh
Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup.
5-4
Pembangunan Test Track Tahap IV
Ketentuan-ketentuan yang rinci tentang masalah pembebasan tanah dalam RKL dan RPL
harus dapat digunakan dan dimanfaatkan sebagai acuan dalam pelaksanaan pembebasan
tanah tersebut.
Kegiatan pada tahap ini merupakan pelaksanaan fisik konstruksi sesuai dengan gambar
dan syarat-syarat teknis yang telah dirumuskan dalam kegiatan perencanaan teknis.
Metode konstruksi, spesifikasi serta persyaratan kualitas dan kuantitas pekerjaan yang
terkait dengan penanganan dampak penting. Penerapan Standard Operation Procedure
yang mengacu pada dampak lingkungan. Tata cara penilaian hasil pelaksanaan
pengelolaan lingkungan dan tindak lanjutnya.
5.3.1.
5.3.2. Pengamanan Lingkungan Pada Tahap Konstruksi
5-5
Pembangunan Test Track Tahap IV
Pendekatan Ekonomi
5-6
Pembangunan Test Track Tahap IV
5-7
Pembangunan Test Track Tahap IV
Indikator dampak yang timbul dapat mengacu pada ketentuan baku mutu
udara atau adanya tanggapan dan keluhan masyarakat akan timbulnya
dampak tersebut.
5-8
Pembangunan Test Track Tahap IV
Dampak ini timbul akibat pekerjaan tanah dapat yang menyebabkan erosi
tanah atau pekerjaan konstruksi lainnya yang membuang atau mengalirkan
limbah ke badan air sehingga kadar pencemaran di air tesebut meningkat.
Indikator dampak dapat dilihat dari warna dan bau air di bagian hilir
kegiatan serta hasil analisis kegiatan air/mutu air serta adanya keluhan
masyarakat.
Indikator dampak dapat dilihat dari kerusakan prasarana jalan dan utilitas
umum yang dapat mengganggu berfungsinya utilitas umum tersebut, serta
keluhan masyarakat disekitar lokasi kegiatan.
Upaya penanganan dampak yang timbul tersebut antara lain dengan cara :
5-9
Pembangunan Test Track Tahap IV
Indikator dampal dapat dilihat dari jenis dan jumlah tanaman yang
ditebang, khususnya jenis-jenis tanaman langka dan dilindungi serta
adanya reaksi masyarakat.
5-10
Pembangunan Test Track Tahap IV
Pengaturan lalu lintas dalam rangka menjaga kelancaran dan keamanan lalu
lintas serta keamanan dan kemudahan penduduk sekitar proyek untuk masuk ke
jalan yang ada tersebut dilakukan dengan menempatkan lampu isyarat, lentera,
kerucut lalu lintas, tiang penghalang, barikade dan rambu-rambu sementara
(berupa rambu perintah arah, rambu peringatan adanya pekerjaan, tanda jalan
menyempit, tanda untuk berhenti atau berjalan) yang akan menjadi petunjuk
bagi pengguna jalan memasuki daerah kerja termasuk membuat jalan atau
jembatan sementara (khusus apabila harus menutup seluruh lajur jalan atau
menutup jembatan yang ada).
Dalam hal tertentu pengaturan lalu lintas dapat dilakukan dengan pengalihan
lalu lintas ke jalan darurat.
Pada proyek-proyek penanganan jalan yang padat lalu lintasnya terutama pada
jalan-jalan perkotaan, pengaturan lalu lintas ini harus diperhitungkan dengan
cermat sehingga hambatan terhadap kelancaran lalu lintas dapat ditekan sekecil
mungkin. Hal tersebut harus dilakukan dengan perencanaan yang matang
dengan mempertimbangkan volume dan kepadatan lalu lintas pada jam sibuk.
Apabila diperlukan termasuk penyediaan lajur pengganti sesuai lebar dan jumlah
lajur yang ditutup dengan kondisi permukaan jalan yang sama dengan kondisi
permukaan yang digantikannya.
Perhatian khusus harus diberikan terhadap pengaturan lalu lintas pada saat
cuaca buruk (misalnya hujan, badai, angin ribut dls.), pada saat lalu lintas padat
dan pada saat pelaksanaan pekerjaan yang mudah rusak (seperti pengaspalan
dan pengecoran beton semen)
5-11
Pembangunan Test Track Tahap IV
Jalan alih darurat yang diperlukan harus memenuhi keperluan lalu lintas yang
ada, terutama berkaitan dengan keselamatan dan kekuatan struktur jalan.
Pengoperasian untuk lalu lintas baru dapat dilakukan apabila alinyemen,
konstruksi, darinase, dan pemasangan rambu lalu lintas telah memenuhi
ketentuan keamanan dan kelancaran lalu lintas serta keselamatan dan
keamanan konstruksi jalan. Selama pengoperasiannya, konstruksi, drainase dan
rambu lalu lintas harus tetap dipelihara sehingga tetap berfungsi.
Rambu lalu lintas merupakan alat atau tanda untuk memberikan petunjuk atau
pesan lepada pengguna jalan. Rambu harus tetap dapat berfungsi pada kondisi
cuaca gelap atau pada malam hari (misalnya dengan memasasang reflektor).
Kerucut lalu lintas tiang penghalang dipasang untuk pengamanan daerah kerja
terhadap gangguan lalu lintas yang terbuat dari plastik atau kayu dengan warna
yang mencolok (jingga).
Barikade yang terbuat dari kayu atau logam dengan warna latar belakang
jingga dan bergaris merah digunaka untuk menutup jalur lalu lintas untuk tidak
dilalui.
Lampu lalu lintas dipasang agar pengemudi awas terhadap adanya pekerjaan
dan mengatur pergerakan lalu lintas.
5-12
Pembangunan Test Track Tahap IV
Petugas bendera harus ditugaskan pada saat lalu lintas sangat padat, jurusan
khusus diperlukan atau pengaturan lalu lintas secara khusus diperlukan,
ketika peralatan atau kendaraan sedang bekerja pada bagian jalan atau sudut
kiri jalan, ketika peralatan atau kendaraan proyek masuk kedalam lajur jalan
dari posisi tidak terlihat pengguna jalan, atau ketika rambu jalan tidak cukup
memberikan peringatan adanya pelaksanaan pekerjaan.
Penempatan rambu dan tanda-tanda lalu lintas yang tidak tepat akan berakibat
merugikan atau malah membahayakan lalu lintas maupun pekerjaan
penanganan jalan sendiri. Tugas pengawas pelaksanaan pekerjaan adalah
untuk memastikan semua rambu dan tanda lalu lintas dalam rangka pengaturan
lalu lintas telah dipasanga secara tepat sesuai maksud pengaturan itu sendiri.
5-13
Pembangunan Test Track Tahap IV
Penempatan rambu dan peralatan lain dalam rangka pengaturan lalu lintas
adalah sebagai berikut:
Agar maksud dari pengaturan lalu lintas yakni terselenggaranya keamanan dan
kelancaran lalu lintas dan pekerjaan konstruksi serta keamanan penduduk
sekitarnya tercapai, maka perlu dilakukan pengaturan sebagai berikut:
5-14
Pembangunan Test Track Tahap IV
6.1.1. Umum
1. Uraian
2. Pemeriksaan Lapangan
4. Patok-patok kilometer dan patok stasion harus diperiksa dan dipindahkan bila
diperlukan.
1. Semua bahan yang dipasok harus sesuai dengan spesifikasi dan harus disetujui
oleh Direksi Teknik. Kontraktor menyediakan contoh-contoh semua bahan-bahan
yang diperlukan untuk pengujian dan mendapatkan persetujuan sebelum
digunakan di lapangan dan bilamana Direksi meminta demikian, sertifikasi harus
disediakan atau pengujian-pengujian dilaksanakan untuk menjamin kualitas,
sesuai Tabel Jadwal Frekwensi Minimum "Pengujian Pengendalian Mutu", dalam
pra- konstruksi.
6-15
Pembangunan Test Track Tahap IV
4. Patok terbuat dari kayu reng ukuran 5/7, panjang patok 150 cm.
1. Kontraktor harus menjamin bahwa akan diberikan perhatian yang penuh terhdap
pengendalian pengaruh lingkungan dan bahwa semua syarat-syarat disain serta
6-16
Pembangunan Test Track Tahap IV
4. Untuk mencegah polusi debu selama musim kering. Kontraktor harus melakukan
penyiraman secara teratur kepada jalan angkutan tanah atau jalan angkutan
kerikil dan harus menutupi truk angkutan dengan terpal.
1. Sumbu area ada beserta patok kilometer yang dipasang secara benar akan
dijadikan sebagai acuan untuk pematokan dan pemasangan pekerjaan-pekerjaan
proyek. Bilamana tidak ada patok kilometer yang ditemukan, patok-patok yang
ditandai atau patok-patok referensi akan didirikan oleh Direksi Teknik sebelum
dimulainya pekerjaan-pekerjaan kontrak.
2. Jika dianggap perlu oleh Direksi Teknik, kontraktor harus mengadakan survai
secara cermat dan memasang patok kayu pada lokasi yang tetap sepanjang
proyek dengan jarak per 25 m yang ditancapkan di tanah dengan kedalaman lebih
kurang 150 cm untuk memungkinkan disain, atau pematokan dan pemasangan
pekerjaan yang harus dibuat, dan juga maksud sebagai referensi dimasa depan.
4. Setiap koreksi atau perubahan dalam alinyemen atau ketinggian harus atas dasar
penyelidikan serta pengujian lapangan lebih lanjut dan harus dilaksanakan
sebagaimana yang diperlukan di bawah pengawasan Direksi Teknik.
6-17
Pembangunan Test Track Tahap IV
1. Uraian
a. Perintah Perubahan
Sebuah perintah tertulis yang dikeluarkan oleh Pimpinan Proyek yang diparaf
oleh Kontraktor, menunjukkan penerimaannya atas perubahan pekerjaan
atau Dokumen Kontrak dan persetujuannya atas dasar penyesuaian
pembayaran dan waktu, jika ada, untuk pelaksanaan perubahan pekerjaan
tersebut. Perintah perubahan harus diterbitkan dalam satu formulir standar dan
akan mencakup semua instruksi yang dikeluarkan oleh Pimpinan Proyek yang
akan menimbulkan suatu perubahan dalam Dokumen Kontrak atau instruksi-
instruksi sebelumnya yang dikeluarkan oleh Pimpinan Proyek.
b. Addenda
3. Penyerahan-Penyerahan
b. Pimpinan Proyek akan menunjuk secara tertulis pejabat yang diberi kuasa
untuk mengadministrasikan prosedur perubahan atas nama Pemberi Tugas.
6-18
Pembangunan Test Track Tahap IV
c. Kontraktor akan membantu setiap pengajuan untuk usulan lump sum, dan
untuk setiap harga Satuan yang tidak ditentukan sebelumnya dengan data
pembuktian yang cukup untuk memungkinkan Direksi Teknik mengevaluasi
usulan tersebut.
a. Satu uraian terinci mengenai perubahan yang diusulkan dan dilokasinya dalam
proyek tersebut.
6-19
Pembangunan Test Track Tahap IV
6.2.1. Umum
1. Uraian
a. Tujuan pengaman lalu lintas adalah untuk menjamin bahwa semua jalan yang
ada tetap dibuka untuk lalu lintas dan dijaga dalam kondisi aman dan dapat
digunakan selama pelaksanaan pekerjaan, dan bagi penduduk disekitar
disediakan jalan masuk yang aman dan baik kemilik mereka.
2. Petugas Bendera
Semua jalan darurat dan pengaturan lalu lintas yang disiapkan oleh kontraktor,
selama pelaksanaan penanganan pekerjaan harus tetap dipelihara agar aman dan
dalam kondisi pelayanan sesuai ketentuan dan harus memuaskan Direksi Teknik,
dan harus menjamin keselamatan lalu lintas serta pemakai jalan.
1. Umum
Pekerjaan ini pada dasarnya terdiri dari mengupas dan membersihkan lokasi dari
tanah humus, tanam-tanaman dan semak belukar. Tidak termasuk pembersihan
pohon besar.
6-20
Pembangunan Test Track Tahap IV
2. Pelaksanaan Pekerjaan
Tanah humus, semak belukar dan tanam-tanaman di lokasi proyek dikupas dan
dibuang dengan menggunakan peralatan berat.
1. Umum
a. Uraian
Pekerjaan ini terdiri dari mendapatkan, mengangkut, penempatan dan
memadatkan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk pematangan
lahan, serta pengurugan sampai kepada garis batas, kemiringan dan
ketinggian penampang melintang yang ditentukan atau disetujui.
2. Definisi
a. Urugan yang dicakup oleh persyaratan-persyaratan bab ini diklasifikasikan
dalam satu atau dua atau kategori.
I. Urugan biasa untuk pematang
II. Urugan pilihan untuk pematang
b. Urugan pilihan pematang digunakan untuk kondisi tanah lunak seperti rawa-
rawa, tanah payau, atau tanah yang selalu terendam air dimana diperlukan
satu tanah urugan dengan plastisitas rendah (bahan berbutir). Untuk stabilisasi
tanggul, talud yang terjal atau tanah dasar harus ditimbun sampai ketinggian
dan pemadatan yang tertentu.
c. Urugan yang diperlukan untuk tujuan umum seperti diuraikan pada sub bab
2.2.1 (1) diatas dan tidak termasuk urugan pilihan untuk pematang, harus
diperlakukan sebagai urugan biasa untuk pematang.
3. Toleransi Ukuran
b. Semua permukaan akhir urugan yang nampak keluar harus cukup halus dan
seragam, dan mempunyai kemiringan yang cukup menjamin limpasan air
permukaan yang bebas.
6-21
Pembangunan Test Track Tahap IV
c. Permukaan akhir talud (timbunan) pematang tidak boleh berbeda dari garis
profil yang ditentukan lebih dari 10 cm.
4. Contoh-contoh Bahan
a. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik hal-hal berikut ini paling
sedikit 14 hari sebelum mulai digunakannya setiap bahan sebagai urugan :
b. Dua contoh bahan dengan berat masing-masing 50 kg, salah satu dari padanya
akan ditahan oleh Direksi Teknik sebagai acuan selama jangka waktu kontrak.
c. Satu pernyataan mengenai asal dan komposisi setiap bahan yang diusulkan
sebagai bahan urugan pilihan, bersama-sama dengan hasil pemeriksaan
yang menyatakan bahwa bahan tersebut memenuhi spesifikasi.
5. Penjadwalan Pekerjaan
6-22
Pembangunan Test Track Tahap IV
6.3.3. Bahan-bahan
1. Sumber Pengadaan
2. Syarat-syarat Kualitas
6-23
Pembangunan Test Track Tahap IV
bahan butiran bersih lainnya dengan indeks plastisitas tidak lebih besar dari
6 %.
3. Pelaksanaan Pekerjaan
a. Penyiapan Lapangan
Sebelum menempatkan urugan diatas suatu lapangan, semua operasi
pemotongan dan pembersihan termasuk pengisian lubang-lubang disebabkan
pembongkaran akar-akar harus diselesaikan sesuai dengan spesifikasi, dan
semua bahan-bahan yang tidak cocok harus dibuang dari lapangan tersebut
seperti diperintahkan oleh Direksi Teknik.
b. Bilamana tingginya timbunan adalah satu meter atau kurang, tempat pondasi
timbunan harus dipadatkan secara menyeluruh (termasuk membuat lepas-
lepas, mengeringkan atau membasahi jika diperlukan) sampai bagian puncak
tanah setebal 15 cm, memenuhi persyaratan kepadatan yang ditetapkan untuk
urugan yang ditempatkan.
c. Jika timbunan tersebut harus dibuat diatas sisi bukit atau dipasang diatas
timbunan baru atau timbunan lama, kemiringan yang ada harus dipotong untuk
membuat permukaan dudukan yang cukup lebar memikul peralatan
pemadatan.
4. Penimbunan Urugan
b. Urugan tanah harus diangkut secara langsung dari daerah galian bahan
ketempat yang sudah disiapkan dan dihampar (dalam cuaca kering).
Penumpukan tanah pada umumnya tidak diijinkan, khususnya selama musim
hujan.
c. Kemiringan tebing harus dibentuk dan dirapihkan menurut sudut talud rencana
dan bagi tebing yang tinggi diberikan berm yang sesuai dengan gambar
rencana, serta dibuatkan pula penyediaan untuk drainase yang memadai.
5. Pemadatan Urugan
a. Segera setelah penempatan dan penebaran urugan, masing-masing lapisan
harus dipadatkan menyeluruh dengan peralatan pemadatan yang cocok dan
memadai yang disetujui oleh Direksi Teknik sampai kepada persyaratan-
persyaratan kepadatan berikut :
6-24
Pembangunan Test Track Tahap IV
f. Urugan timbunan harus dipadatkan dimulai dari ujung paling luar serta masuk
ketengah dalam satu cara dimana masing-masing bagian menerima desakan
pemadatan yang sama.
g. Urugan di tempat-tempat yang sulit dicapai oleh peralatan pemadatan harus
ditempatkan dalam lapisan-lapisan horisontal dengan bahan-bahan lepas
ketebalan tidak melebihi 15 cm dan dipadatkan menyeluruh menggunakan
mesin pemadat yang disetujui.
1. Pengendalian Lapangan
Test pengendalian lapangan berikut ini harus dilaksanakan untuk memenuhi
persyaratan spesifikasi. Kontraktor harus menyediakan semua bantuan yang
diperlukan dalam bentuk tenaga kerja, pengangkutan dan pengujian.
Tabel 2-1
Persyaratan Pengendalian Lapangan
6-25
Pembangunan Test Track Tahap IV
2. Volume yang harus diukur untuk pembayaran harus atas dasar penampang
melintang dan profil yang disetujui yang ditunjukkan dalam gambar rencana atau
diukur dilapangan sebelum suatu urugan telah ditempatkan pada garis batas
kelandaian dan permukaan yang disetujui atau diterima. Cara penghitungan
berupa cara luas rata-rata dan menggunakan penampang melintang pekerjaan
berjarak tidak lebih dari 25 meter, terkecuali dinyatakan lain untuk kontrak
khusus.
6-26
Pembangunan Test Track Tahap IV
3. Untuk pengukuran satu urugan sampai menjadi satu pekerjaan timbunan atau
pekerjaan sejenis yang dibangun diatas tanah rawa dimana konsolidasi tanah asli
yang baik diharapkan marka- marka (patok) penurunan harus dipasang dan
disurvey bersama-sama oleh Direksi Teknik dan Kontraktor. Volume urugan
kemudian akan ditentukan atas dasar permukaan tanah sebelum dan sesudah
penurunan.
4. Urugan yang ditempatkan diluar garis batas dan penampang melintang yang
disetujui termasuk setiap tambahan urugan yang diperlukan untuk dudukan atau
penguncian kedalam talud yang ada sebagai hasil penurunan pondasi tidak boleh
dimasukkan dalam volume yang harus diukur untuk pembayaran, kecuali dimana
secara lain disetujui oleh Direksi Teknik untuk mengganti bahan-bahan lunak atau
tidak cocok yang ditemukan dilapangan selama pelaksanaan.
5. Urugan yang digunakan dimana saja diluar batas-batas lapangan kerja atau untuk
mengubur bahan-bahan buangan atau untuk penutupan dan memperbaiki galian
bahan-bahan, tidak boleh dimasukkan dalam pengukuran urugan.
6-27
Daftar Isi
1 Umum
2 Referensi dan Definisi
2.1 Referensi
2.2 Definisi
3 Profil Perusahaan
4 Sistem Manajemen Mutu
4.1 Umum
4.2 Persyaratan Dokumentasi
4.2.1 Umum
4.2.2 Pengendalian Dokumen
4.2.3 Pengendalian Rekaman
5 Tanggung Jawab Manajemen
5.1 Komitmen Manajemen
5.2 Fokues Pelanggan
5.3 Kebijakan Mutu
5.4 Perencanaan
5.4.1 Sasaran Mutu
5.4.2 Perencanaan Sistem Manajemen Mutu
5.5 Tanggung Jawab, Wewenang dan Komunikasi
5.5.1 Tanggung Jawab dan Wewenang
5.5.2 Wakil Manajemen
5.5.3 Komunikasi Intern
5.6 Tinjauan Manajemen
5.6.1 Umum
5.6.2 Masukan Tinjauan
5.6.3 Keluaran Tinjauan
6 Manajemen Sumber Daya
6.1 Penyediaan Sumber Daya
6.2 Sumber Daya Manusia
6.3 Prasarana
6.4 Lingkungan Kerja
7 Realisasi Produk
7.1 Perencanaan Realisasi Produk
7.2 Proses Berkaitan dengan Pelanggan
7.2.1 Penetapan Persyaratan berkaitan dengan produk
7.2.2 Tinjauan Persyaratan berkaitan dengan produk
7.2.3 Komunikasi Pelanggan
7.3 Desain dan Pengembangan
7.3.1 Perencanaan, Desain dan Pengembangan
7.4 Pengadaan
2
7.5 Produksi dan Penyediaan Jasa
7.5.1 Pengendalian Produksi dan Penyediaan jasa
7.5.2 Pengawetan Produk
7.6 Pengendalian Sarana Pemantauan dan Pengukuran
8 Pengukuran, Analisa dan Perbaikan
8.1 Umum
8.2 Pemantauan dan Pengukuran
8.2.1 Kepuasan pelanggan
8.2.2 Audit Internal
8.2.3 Pemantauan dan Pengukuran Proses
8.2.4 Pemantauan dan Pengukuran Produk
8.3 Pengendalian Produk Tidak Sesuai
8.4 Analisis Data
8.5 Perbaikan
8.5.1 Perbaikan yang Berkelanjutan
8.5.2 Tindakan Koreksi
8.5.3 Tindakan Pencegahan
3
1 Umum
Manual Mutu ini merupakan kerangka kerja bagi HAGITASINAR-NAVIRI, KSO dalam
menerapkan sistem manajemen mutu berdasarkan standar internasional ISO 9001:2000
bagi bsnis perusahaan
2.1 Referensi
HAGITASINAR-NAVIRI, KSO
a) ISO 9001:2000 The Management System includes No. 90.1301.05 Tanggal
30.01.2013
b) Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
c) Surat Keputusan Direksi HAGITASINAR-NAVIRI, KSO No. 007/DIR/2011
Tentang Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 di HAGITASINAR-
NAVIRI, KSO
2.2 Definisi
4
3 Profil Perusahaan
3. Alamat Kantor Pusat : Jl. Matraman Raya No. 148 Rukan Mitra Matraman Blok
Jakarta Utara
E-mail : [Link]@[Link]
5
1. No. SBU : a. Nomor : 00006635 (SIPIL)
b. Tanggal : 13 Januari 2012
2. Masa berlaku SBU : 13 Januari 2014
3 Nomor Registrasi : 2-3172-2-02-1-09-002475
4 Bidang/ Layanan : 22001.22003.22008.22009.22011.22012.22014.22102
Instansi, pemberi
5 : LPJKN/ D DKI Jakarta
SBU
1 Akta Pendirian
a. Nomor Akta : 4
b. Tanggal : 5 Februari 1993
c. Nama Notaris : Gretha Liesti Jawatie, SH
2 Akta Perubahan
a. Nomor Akta : 47
b. Tanggal : 15 Juni 2012
c. Nama Notaris : Bliamto Silitonga, SH
PENGURUS
Jabatan dalam
No. Nama No. KTP
Perusahaan
Jabatan dalam
No. Nama No. KTP
Perusahaan
6
1. Nama Perusahaan` : PT. NAVIRI KONSTRUKSI
3. Alamat Kantor Pusat : Kokan Plasa Kelapa Gading Blok. G. 45 Kel. Kelapa
Jakarta Utara
6. E-mail : navikonstruksi@[Link]
7
a. Nomor 00107744(Sipil),
1. No. SBU : : 00137581(Arsitektur),
00137582(Mekanikal)
b. Tanggal : 18 April 2012
2. Masa berlaku SBU : 18 April 2014
2-3171-2-052-1-09-
3 Nomor Registrasi : Sipil
905267
2-3171-1-052-1-09-
Arsitektur
905267
2-3171-3-052-1-09-
Mekanikal
905267
2-3171-4-052-1-09-
Elektrikal
905267
4 Bidang / Layanan : Sipil (22001, 22004)
Arsitektur ( 21005)
Mekanikal (23001)
Elektrikal ( 24006)
5 Instansi Pemberi Ijin : LPJK N
1 Akta Pendirian
a. Nomor Akta : 03
b. Tanggal : 01 Maret 2012
c. Nama Notaris : Stephani Wilamarta, SH
2 Akta Perubahan
a. Nomor Akta : 298
b. Tanggal : 22 Maret 2013
c. Nama Notaris : M. Khalid Artha, SH
8
4 Sistem Manajemen Mutu
4.1 Umum
4.2.1 Umum
9
D. Peraturan dan perundangan lainnya yang terkait dengan proses kerja
HAGITASINAR-NAVIRI, KSO untuk memastikan bahwa proses bisnis dapat
dikendalikan secara efektif baik di kantor pusat maupun di poyek.
E. REKAMAN, yaitu bukti kerja tertulis yang harus dikelola dan dikendalikan secara
efektif.
SASARAN MUTU :
1. Project Manager
10
Bertanggungjawab atas kelancaran kegiatan proyek saejak masa persiapan
hingga penyerahan
2. Site Manager :
3. Engineer
Mengatur dan mengawasi jadual kerja harian para pelaksana dan memonitor
jadwal kedatangan material, memeriksa volume dan kualitas serta mengatur
penempatannya
11
Mengawasi teknis pelaksanaan semua pekerjaan di lapangan agar supaya
memenuhi ketentuan-ketentuan teknis yang benar dan tidak menyimpang dari
anggaran yang ditetapkan
4. Pelaksana
Memeriksa hasil pekerjaan para mandor agar dapat dimonitor bobot kemajuan
dalam kaitannya dengan opname kemajuan pekerjaan, laporan upah dan
mengesahkan kepada pengguna jasa
12
Memeriksa dan mensyahkan opname hasil pekerjaan yang diajukan oleh
mandor setelah diperiksa kesesuaiannya oleh pelaksana
5. Administrasi
6. Logistik
7. Drafter
13
di kantor pusat maupun proyek. Pengendalian dokumen sistem mutu diatur dalam
Prosedur Pengendalian Dokumen No. PD-IK-01
Semua bentuk rekaman yang timbul dari kegiatan sistem manajemen mutu harus
ditetapkan, dipelihara dan disimpan dengan baik untuk membuktikan kessesuaian
menerapkan sistem manajemen mutu secara efektif. Rekaman harus selalu dapat
dibaca, siap ditunjukkan dan diambil.
Untuk menetapkan kendali yang diperlukan dalam identifikasi, penyimpanan,
perlindungan, pengambilan, masa simpan dan pemusnahan rekaman diatur dalam
Prosedur Pengendalian Rekaman No. PD-IK-02
14
memperhatikan kesesuaian kontrak dan spesifikasi teknis dengan pemberi kerja serta
peraturan dan perundangan yang berlaku.
Direksi HAGITASINAR-NAVIRI, KSO telah menunjuk Kuasa KSO yang secara fungsional
menjabat sebagai Manajemen Representative (Wakil Manajemen) yang memiliki
tanggung jawab dan wewenang untuk :
a. Memastikan bahwa proses yang terkait dengan sistem manajemen mutu telah
ditetapkan, diterapkan dan dipelihara dengan baik dan konsisten di perusahaan.
b. Setiap bulan melaporkan kepada Direksi PT. HAGITASINAR LESTARI MEGAH
dan PT. NAVIRI KONSTRUKSI mengenai kinerja penerapan sistem manajemen
15
mutu di perusahaan dan menyediakan segala fasilitas untuk keperluan peningkatan
sistem manajemen mutu tersebut.
c. Memastikan bahwa promosi kesadaran tentang persyaratan pelanggan kepada
seluruh karyawan telah dilaksanakan secara baik dan efektif, yaitu dengan
menyediakan pelatihan, kuesioner dan evaluasi kinerja personil.
d. Menjadi penghubung dengan pihak lembaga sertifikasi dan yang terkait dengan
sistem manajemen mutu.
5.4.1 Umum
Materi pembahasan yang menjadi agenda dalam Rapat Tinjauan Manajemen mencakup
informasi tentang :
a. Hasil audit (baik audit mutu internal maupun audit lembaga sertifikasi) jika ada
harus dibahas dan diputuskan oleh Direksi.
b. Umpan balik pelanggan, yaitu permintaan maupun keluhan dari pemberi kerja.
16
c. Kinerja proses dan kesesuaian produk, yaitu permasalahan progres (kemajuan)
proyek) dan kendala-kendala yang dihadapi termasuk pencapaian mutu produk.
d. Penetapan status tindakan koreksi dan pencegahan.
e. Evaluasi tindak lanjut dari Rapat Tinjauan Manajemen yang lalu.
f. Usulan perubahan yang menyangkut perbaikan dokumen sistem manajemen mutu.
g. Saran-saran untuk melakukan perbaikan lainnya.
6.2.1 Umum
Manajer SDM menjamin bahwa personil yang bertugas di setiap unit kerja sudah dinilai
kompetensinya berdasarkan pendididan, pelatihan, ketrampilan dan pengalaman yang
sesuai. Kriteria untuk penentuan kompetensi telah ditetapkan oleh Manajer SDM yang
penilaiannya dapat dilakukan oleh Manajer unit.
17
Personil yang bekerja sebagai tenaga lepas maupun dari subkontraktor harus dinilai
terlebih dahulu dan rekamannya disimpan di proyek.
6.3 Prasarana
18
6.4 Lingkungan Kerja
7 Realisasi Produk
Sebelum pelaksanaan proyek, Manajer Pemasaran dan atau Manajer Proyek harus
menetapkan bahwa :
19
a) Persyaratan teknis maupun non teknis (administrasi) dalam kontrak telah ditetapkan
bahwa perusahaan mampu menghasilkan produk yang dipersyaratkan, termasuk
kesediaan waktu penyelesaian proyek dan kegiatan setelah penyerahan produk.
b) Persyaratan terkait lainnya, yang tidak ditetapkan dalam spesifikasi teknis maupun
kontrak dengan pemberi kerja.
c) Peraturan dan perundangan maupun peraturan daerah yang berkaitan dengan
pelaksanaan proyek termasuk produknya.
d) Persyaratan tambahan yang merupakan ketetapan perusahaan.
Manajer Proyek harus menetapkan dan menerapkan pengaturan yang efektif untuk
melakukan komunikasi dalam bentuk rapat-rapat proyek dan pertemuan asistensi
dengan pemberi kerja atau yang mewakilinya, untuk menyampaikan :
a) informasi mengenai produk pelaksanaan proyek.
b) Pertanyaan, penjelasan mengenai kontrak, termasuk jika ada perubahannya.
c) Umpan balik dari pemberi kerja, termasuk keluhan terhadap pelaksanaan proyek.
20
7.4 Pengadaan
Manajer Logistik dan atau Manajer Proyek harus memastikan bahwa pengadaan sesuai
dengan persyaratan pengadaan yang dispesifikasikan. Jenis dan jangkauan
pengendalian terhadap pemasok dan produk yang diadakan harus bergantung pada
pengaruh hasil produk proses berikutnya dan atau hasil produk akhir.
Manajer Logistik dan atau Manajer Proyek harus melakukan seleksi pemasok terlebih
dahulu berdasarkan kriteria kemampuan yang ditetapkan perusahaan. Pemilihan
pemasok harus berdasarkan hasil seleksi pemasok yang sudah ditetapkan dan harus
dievaluasi ulang.
Manajer Logistik dan atau Manajer Proyek harus menyertakan infomasi ketentuan
mengenai produk atau jasa yang dibeli pada surat pemesanan (purchase order), yaitu :
a) Persyaratan kesesuaian produk atau jasa, termasuk prosedur, proses dan peralatan
yang digunakan.
b) Persyaratan kualifikasi personil apabila diperlukan pengadaan jasa keahlian,
c) Persyaratan sistem manajemen mutu bagi pemasok.
21
Apabila diperlukan verifikasi produk di tempat pemasok, maka pengaturan verifikasi
harus dinyatakan dalam kontrak dengan pemasok, termasuk metoda penyerahan
produk.
22
Manajer Proyek harus menetapkan proses untuk memastikan bahwa pemantauan dan
pengukuran dapat dilakukan dengan cara yang konsisten dengan persyaratan
pemantauan dan pengukuran.
Peralatan ukur harus dikalibrasi atau diverifikasi settiap periode tertentu untuk
memastikan validitas peralatan yang siap pakai.
Apabila dalam suatu pekerjaan yang spesifik menggunakan alat ukur yang tidak
terkalibrasi, maka kondisi, kapan dan posisi pekerjaan tersebut harus dicatat, agar
dapat dilacak dikemudian hari apabila terjadi ketidaksesuaian produk.
8.1 Umum
23
Untuk memantau informasi berkaitan dengan persepsi pelanggan dalam peningkatan
kinerja sistem manajemen mutu, maka Direksi dan Manajer Proyek HAGITASINAR-
NAVIRI, KSO harus menyampaikan kuisioner secara berkala pada progres proyek 25 %,
50 %, 75 % dan 100 % kepada pemberi kerja.
Hasil dari kuisioner tersebut akan dianalisis dan dijadikan sebagai salah satu unsur
dalam pengukuran kinerja perusahaan
24
Apabila hasil yang direncanakan tidak tercapai harus dilakukan koreksi pada barchart
dan tindakan koreksi secara fisik pada unsur-unsur yang memerlukan, untuk
memasttikan kesesuaian produk.
Penyerahan produk tidak dapat dilakukan sebelum semua permasalahan yang menjadi
ketidaksesuaian terhadap Rencana Mutu Proyek belum diselesaikan secara memuaskan,
kecuali ada keputusan lainnya dari pemberi kerja.
Pengawasan, tanggung jawab dan wewenang yang terkait dengan produk tidak sesuai
diatur dalam Prosedur Pengendalian Produk Tidak Sesuai No. IND-PR-03
25
Analisis data harus memberikan informasi yang berkaitan dengan :
a) Data kepuasan pelanggan
b) Kesesuaian pada persyaratan spesifikasi teknis proyek
c) Karakteristik dari kecenderungan proses dan produk termasuk peluang untuk
tindakan pencegahan
d) Kinerja Supplier dan Subkontraktor
8.5 Perbaikan
Semua ketentuan yang terkait dengan keperluan tindakan koreksi diatur dalam
Prosedur Tindakan Koreksi No. Dok. : IND-PR-05.
26
PRA RENCANA KERJA KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA KONTRAK (PRA RK3K)
Sebagai perusahaan yang bergerak dalam usaha jasa konsultan teknik dan
manajemen, HAGITASINAR-NAVIRI, KSO menerapkan kebijakan di bidang
Mutu/kualitas Pekerjaan serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan
Lingkungan, yang berlaku untuk Kantor Pusat maupun Proyek-proyeki :
a) Kebijakan Mutu
Pemenuhan kepuasan pelanggan melalui peningkatan kualitas pekerjaan
Pendekatan rekayasa teknik dan bisnis yang seimbang
Pemanfaatan teori dan metodologi tepat sasaran
SDM yang professional di bidangnya
Komitmen Perusahaan dalam hal K3 terhadap proyek dan personil Konsultan Pengawas
adalah safety first dan zero accident .
Konsep manajemen K3 yang akan diterapkan selama tahapan konstruksi untuk mencapai
tujuan berikut :
Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan pencemaran lingkungan, untuk
mencapai zero accident & zero pollution.
Memaksimalkan kinerja aset yang ada (tenaga kerja/disiplin kerja, alat-alat
berat, kendaraan dll).
Melindungi asset perusahaan (tenaga kerja dari kecelakaan, melindungi
material/ alat terpasang dari kerusakan dan bahaya kebakaran/ peledakan).
Memelihara kesan yang baik (good public image) terhadap Konsultan
(berdasarkan pada high safety performance dan reputasi)
Penghematan biaya operasi Proyek.
Lima kondisi berikut adalah prioritas utama yang akan diterapkan :
1.2. PERENCANAAN
Tujuan dari hal tersebut adalah mencapai tingkat kinerja K3 yang konsisten dan optimal,
yang dapat meyakinkan Pemilik Proyek dan personil Konsultan. Keanggotaan Komite K3
akan dipimpin oleh Koordinator Proyek. Komite ini harus mengadakan rapat komite
setidaknya sebulan sekali, atau jika terjadi kecelakaan.
Tim pekerja lapangan mulai dari tingkat tenaga pendukung sampai Project Manager
secara terus menerus akan meninjau kondisi lapangan, rencana kerja konstruksi dan
kegiatan lapangan lainnya untuk meminimalisasi safety hazards dan tindakan yang
mengabaikan keselamatan personil
1.3.3. Pertolongan Pertama / Prosedur Medis
Kontraktor akan menyediakan sarana P3K/ First Aid selama pelaksanaan pekerjaan.
Bagian ini menggarisbawahi pada jenis-jenis informasi yang dibutuhkan untuk semua
personil dan supervisor sebelum memulai dan selama pekerjaan berlangsung terutama
untuk pekerja lokal.
Dalam rangka memonitor dan mengontrol resiko kerja yang potensial di lapangan, ijin
kerja diperlukan untuk melakukan pekerjaan pada segala kondisi dimana batas dari unit
proses atau dalam konstruksi baru dimana bahaya mungkin terjadi. Ijin kerja dikeluarkan
oleh Pemilik Proyek, setelah sesuai dengan prosedur keselamatan sudah diverifikasi.
Untuk mencegah kebakaran, perlu diberikan perhatian khusus pada area preplanning,
hot-work permit controls, area dimana terdapat material yang mudah terbakar, area
pengendalian cairan dan material, area pengendalian asap, pelatihan dan penggunaan
tanda bahaya, pemasangan kabel elektrik yang tepat, dan pembuangan sampah pada
tempatnya. Prosedur yang spesifik ditekankan pada rencana keselamatan konstruksi
lapangan untuk masing-masing proyek.
Prosedur emergency response plan dikembangkan untuk semua insiden yang potensial
termasuk api, ledakan, bencana alam, dan lain-lain. Prosedur ini meliputi sarana
berkomunikasi, fire fighting, sarana medis, keselamatan, evakuasi, dan sarana-sarana lain
yang mungkin diperlukan.
Para personil pada suatu periode berkala dibimbing melalui pertemuan-pertemuan K3,
pelatihan penanggulangan keadaan darurat (Emergency Drill), dan lain-lain.
1.4. STRUKTUR ORGANIASI K3
MANAGER K3
KEPALA
KEPALA
AUDIT &
OPERASI K3
EVALUASI K3
SUPERVISOR
SUPERVISOR SUPERVISOR SUPERVISOR
IMPLEMENTA
PLANNING EVALUASI AUDIT
SI
B. Pembongkaran
B.1. Persiapan & Mobilisasi a. Kecelakaan pada 3 1 3 Ada penanggung jawab K3
Alat saat pergerakan dari Kontraktor
alat berat di Pemasangan rambu kerja
lokasi kerja standar sesuai dengan yang
ada di kontrak
C. Pekerjaan tanah
E. Drainase
E.1. Persiapan a. Kecelakaan 3 1 3 Ada penanggung jawab K3
pada saat dari Kontraktor
persiapan Pemasangan rambu kerja
Saat Pelaksanaan pekerjaan oleh standar sesuai dengan yang
Pekerjaan kendaraan umum ada di kontrak
yang lewat Koordinasi dengan Senkom
& Unit Patroli
Penempatan flagmen di
a. Kecelakaan lapangan yang cukup &
E.2. Pada saat demobilisasi 3 1 3
di lokasi kerja disiplin
peralatan kerja
dan tertabrak Pembekalan kepada seluruh
oleh kendaraan personil yang terlibat
Subgrade
Persiapan yang lewat didalam pekerjaan
E.3. Saat Pelaksanaan a. Kecelakaan 3 1 3 Lampu penerangan yang
Pekerjaan tertabrak oleh cukup & penempatan yang
Pada saat demobilisasi kendaraan yang tidak membahayakan
peralatan kerja lewat Lalulintas
Mobil Patroli harus stand by di
awal rambu dari persiapan
pemasangan rambu sampai
Persiapan
Ada penanggung jawab K3
dari Kontraktor
Pemasangan rambu kerja
Saat Pelaksanaan
standar sesuai dengan yang
Pekerjaan
ada di kontrak
Pada saat demobilisasi
F. Koordinasi dengan Senkom
peralatan kerja
a. Kecelakaan & Unit Patroli
F.1. 3 1 3
pada saat Penempatan flagmen di
persiapan lapangan yang cukup &
Perkerasan
pekerjaan oleh disiplin
kendaraan umum Pembekalan kepada seluruh
Persiapan yang lewat personil yang terlibat
didalam pekerjaan
a. Kecelakaan Lampu penerangan yang
lewat
Struktur Beton
Persiapan
J. a. Kecelakaan 3 1 3
pada saat
J.1. persiapan
pekerjaan oleh
kendaraan umum
yang lewat
a. Kecelakaan
di lokasi kerja
dan tertabrak 3 1 3
oleh kendaraan
J.2.
yang lewat
a. Kecelakaan
tertabrak oleh
3 1 3
kendaraan yang
lewat
J.3.
1.5. PEMENUHAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN PERSYARATAN LAINNYA
Tabel 6.2.
PEMENUHAN PERUNDANG-UNDANGAN
DAN PERSYARATA LAINNYA (EKSTERNAL)
UNDANG-UNDANG
1. UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
2. UU No. 8 Tahun 1990 Jalan Tol
3. UU No. 3 Tahun 1992 Jaminan Sosial Tenaga Kerja
4. UU No. 14 Tahun 1992 Lalu Lintas Jalan
5. UU No. 23 Tahun 1992 Kesehatan
6. UU No. 18 Tahun 1999 Jasa Konstruksi
7. UU No. 13 Tahun 2003 Ketenagakerjaan
8. UU No. 38 Tahun 2004 Jalan
a. Sasaran
1) Tidak ada kecelakaan kerja yang berdampak korban jiwa (Incident Rate = 0).
2) Meningkatkan kesesuaian pada Undang-Undang dan Peraturan K3 lainnya.
3) Meningkatkan kesehatan para personil Konsultan Pengawas.
Dalam rangka pelaksanaan Sistem Manajemen K3 pada Pembangunan Test Track Tahap I V
manajemen HAGI TASI NAR -NAVI RI , KSO telah menetapkan salah seorang tenaga ahli
untuk menjadi penanggung jawab yang berwenang atas hal-hal yang berkaitan dengan fungsi-
fungsi yang terlibat dalam pengelolaan, pelaksanaan, maupun verifikasi terhadap aktifitas-
aktifitas yang berpengaruh pada keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
a. Kompetensi
Memastikan bahwa personil Konsultan Pengawas yang terlibat dalam
pekerjaan yang mengadung resiko K3 memiliki kompetensi atas dasar
pendidikan, pelatihan atau pengalaman yang sesuai, sehingga pekerjaan
dapat dilakukan dengan sehat dan aman dengan kualitas produk/jasa sesuai
dengan yang dikehendaki oleh Pemberi Tugas. Tenaga ahli yang ditunjuk
sebagai penanggung jawab SMK3 mempunyai level pendidikan sarjana
teknik sipil.
a. Komunikasi
Dalam kaitannya dengan bahaya K3 dan SMK3, akan dilakukan komunikasi
internal antara berbagai tingkatan Konsultan Pengawas, komunikasi dengan
Kontraktor Pelaksana dan Pemimpin Proyek, serta menerima,
mendokumentasikan dan menanggapi kritik dan saran dari pihak luar.
1.7.4. Dokumentasi
1. Rencana Kerja K3
Konsultan Pengawas akan melakukan identifikasi masalah yang akan terjadi di
lokasi tertentu dengan resiko kecelakaan yang akan dihadapi, sekaligus
begaimana cara pencegahan atau penanganan dan penanggung jawabnya.
2. Pelaksanaan K3
1) Pengamanan lokasi / areal kerja
2) Penyuluhan K3 pada seluruh personil Konsultan Pengawas, dilakukan pada
awal proyek dan secara berkala selama proyek berlangsung. Dalam hal ini
dijelaskan juga mengenai resiko-resiko dan sangsi biala ada yang
mengabaikan K3.
3) Pelaksanaan harian dimulai dengan pemeriksaan pada pagi hari sebelum
seluruh personil Konsultan Pengawas mulai bekerja.
4) Pemeriksaan K3 pada akhir pekerjaan.
5) Pengendalian dari semua rencana kerja dilakukan melalui pertemuan K3
secara rutin.
Keadaan darurat adalah suatu kondisi, baik yang disebabkan oleh tindakan
manusia, alat dan bencana alam yang cenderung meluas dan bisa melibatkan
seluruh personil dan peralatan yang dapat menimbulkan korban jiwa, harta, dan
lingkungan yang tidak sedikit.
1.8. PEMERIKSAAN
Memastikan bahwa SMK3 dapat dibuat, diterapkan dan dipelihara, serta Kinerja K3
dapat diukur dan dipantau secara teratur.
Konsultan Pengawas akan memastikan bahwa semua dokumen dan rekaman yang
berkaitan dengan SMK3, baik yang keluar maupun telah disyahkan, dikendalikan,
disimpan dan dirawat dengan baik dan terarsipkan.
Kontraktor harus memastikan urugan pilihan yang digunakan memiliki plastisitas rendah dan memenuhi kriteria stabilisasi tanggul serta talud yang terjal atau tanah dasar harus dipadatkan dengan ketinggian dan kepadatan yang tertentu . Urugan tersebut juga harus diuji, seperti uji CBR dengan nilai minimum 10%, dan menggunakan bahan dengan indeks plastisitas tidak lebih tinggi dari 10% untuk stabilitas lebih baik .
Rencana Mutu Proyek harus mencakup sasaran mutu dan persyaratan mutu produk berdasarkan spesifikasi teknis yang ditetapkan dalam kontrak. Ini harus mencakup metoda kerja proyek, daftar instruksi yang diperlukan, daftar sumber daya seperti peralatan dan tenaga kerja, serta rencana kegiatan verifikasi dan inspeksi produk untuk memastikan kepatuhan terhadap persyaratan spesifikasi .
Keefektifan sistem manajemen mutu di HAGITASINAR-NAVIRI, KSO ditingkatkan secara berkelanjutan melalui evaluasi kebijakan mutu, sasaran mutu, hasil audit internal dan eksternal, analisis data, serta tindakan koreksi dan pencegahan. Hal ini mencakup penggunaan rapat tinjauan manajemen sebagai sarana untuk mengkaji kesesuaian dan implementasi perbaikan berkala berdasarkan data dan kinerja operasional secara keseluruhan .
Sebelum menempatkan urugan, semua operasi pemotongan dan pembersihan harus diselesaikan, termasuk pengisian lubang akibat pembongkaran akar. Semua bahan yang tidak cocok harus dihilangkan sesuai instruksi Direksi Teknik. Jika timbunan kurang dari satu meter, tempat pondasi timbunan harus dipadatkan hingga kedalaman 15 cm untuk memenuhi kepadatan yang ditetapkan. Pada sisi bukit atau timbunan baru, harus dipotong untuk membuat permukaan dudukan yang cukup .
Pengujian klasifikasi tanah sesuai AASHTO M145 sangat penting untuk menentukan distribusi ukuran partikel dan plastisitas yang mempengaruhi pilihan bahan urugan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahan yang digunakan memiliki karakteristik yang tepat, serta mencegah penggunaan bahan tanah yang expansif atau dengan plastisitas tinggi yang tidak sesuai untuk digunakan dalam pekerjaan konstruksi .
HAGITASINAR-NAVIRI, KSO menetapkan dan mengelola lingkungan kerja dengan memperhatikan persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja, menyediakan fasilitas perkantoran yang nyaman, dan membekali karyawan dengan peralatan yang memadai. Ini termasuk penyediaan gedung, kendaraan operasional, dan alat komunikasi untuk menunjang keefektifan pekerjaan pada kantor pusat maupun proyek .
Apabila urugan terlalu basah untuk pemadatan, perbaikan dapat dilakukan dengan menggaruk bahan hingga kedalaman tertentu, kemudian menyiram air secukupnya dan mencampurnya sebelum memadatkan kembali, terutama selama kondisi cuaca kering. Alternatifnya, jika pengeringan tidak memadai, bahan harus dibuang dan digantikan dengan bahan yang lebih sesuai dan kering .
Tujuan dari pengaturan dan pemantauan lalu lintas sementara adalah untuk melindungi pekerjaan, menjaga keselamatan umum, serta memperlancar arus lalu lintas melalui atau di sekitar area pekerjaan. Ini juga memastikan bahwa akses bagi penduduk sekitar tetap aman dan terencana meski terdapat gangguan dari aktivitas konstruksi .
Langkah-langkah perbaikan meliputi membuat permukaan urugan menjadi lepas-lepas, membuang atau menambah bahan yang diperlukan, diikuti dengan pembentukan dan pemadatan kembali. Jika urugan terlalu basah, bahan tersebut harus digaruk dan dikeringkan, atau dilakukan penggantian bahan jika pengeringan tidak memadai. Penggarukkan dapat dilakukan repetitif dengan waktu istirahat untuk mengubah konsistensinya. Bila diperlukan pencampuran dengan bahan lain yang cocok untuk mencapai kepadatan yang diinginkan, maka ini juga harus dilakukan .
Kontraktor harus memasang dan memelihara rambu lalu lintas, rintangan, serta fasilitas lain di tempat operasi konstruksi yang dapat mengganggu lalu lintas. Rambu dan rintangan tersebut harus diberi garis-garis reflector agar terlihat pada malam hari. Selain itu, petugas bendera harus ditempatkan untuk mengarahkan dan mengatur gerakan lalu lintas. Apabila diperlukan, kontraktor dapat menyiapkan jalan darurat dengan persetujuan Direksi Teknik dan harus dipastikan tetap aman serta dalam kondisi pelayanan .