0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan98 halaman

Chapter 18

Diunggah oleh

dama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan98 halaman

Chapter 18

Diunggah oleh

dama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

KAJIAN SAINS FISIKA IV

CHAPTER REPORT : CHAPTER 18

PARTIKEL ELEMENTER

Dosen Pembina:

Prof. Dr. H. Prabowo, M. Pd

Oleh:

Gigih Besar Mukti Raharja (157795005)

Dama Yanti Hilda (157795035)

PROGRAM STUDI S2 PENDIDIKAN SAINS


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2016
2

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ................................................................................................ i
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................ 1
18.1. PENGANTAR.......................................................................... 1
BAB II. PEMBAHASAN............................................................................. 3
18.2. Kinematika dari Tumbukan Berenergi Tinggi..................... 3
18.3. Produksi dan Sifat dari pi-meson.......................................... 6
18.4. pi-meson Netral....................................................................... 12
18.5. Muon dan sifat-sifatnya.......................................................... 16
18.6. Penemuan k-mesons dan hyperons....................................... 21
18.7. K-Meson................................................................................... 24
18.8 Hyperons................................................................................... 26
18.9. Interaksi Fundamental di alam............................................. 27
18.10 Klasifikasi Partikel Dasar.............................................................. 30
18.11 Hukum kekekalan.................................................................. 37
18.12 Anti nucleon............................................................................ 45
18.13 Paritas intrinsik pion............................................................. 48
18.14 Resonansi partikel.................................................................. 49
18.15 Klasifikasi simetri partikel elementer.................................. 57
18.16 Hipotesis Quark..................................................................... 64
18.17 Chromodinamika Quantum.................................................. 71
18.18 Daya Tarik Quark.................................................................. 74
18.19 Keindahan dan Kebenaran................................................... 75
18.20 Interaksi lemah....................................................................... 76
18.21 Gabungan interaksi lemah dan elektromagnetik................ 77
Grand Unification Theory................................................................ 80

BAB III. PENUTUP (KESIMPULAN)...................................................... 83


DAFTAR PUSTAKA
1

BAB I
PENDAHULUAN

18.1. Pengantar
Definisi secara pasti yang menjelaskan tentang partikel elementer tidaklah
sederhana. Fakta yang menjelaskan tentang pernyataan ini mempunyai banyak
ragam. Filosofis kuno dari Yunani dan Hindu berspekulasi bahwa semua bahan
pengamatan yang berasal dari empat atau lima dasar elemen. Bagaimanapun
juga tidak ada data ilmiah yang mendasari spekulasi mereka.
Pada awal abad 19, untuk pertama kalinya dilakukan suatu percobaan
formulasi ilmiah dari struktur bahan dengan dasar dari konsep atom dan molekul.
Sampai akhir abad 19, gagasan dari atom-atom yang terbuang mengarahkan para
peneliti pada penembakan elektrisitas melalui gas. Pada saat itu, ditemukan suatu
partikel yaitu electron yang ditemukan oleh J. J. Thompson yang telah mengenali
secara keseluruhan pada atom. Kemudian penemuan sinar-x, radioaktivitas dan
penelitian terhadap sifat dasar dari parikel dan selama peluruhan
radioaktivitas yang membantu kita dalam mengklarifikasikan ide-ide kita
mengenai struktur bahan secara lebih lanjut mengenai model atom Bohr-
Rutherford.
Hasil dari studi mengenai sifat dari sinar positif membuka jalan dalam
penemuan proton dimana dikenal sebagai partikel elementer dimana menjadi inti
dengan atom yang ringan yaitu hydrogen. Penemuan dari proton sebagai partikel
elementer berasal dari hipotesis kuantum cahaya dari Einstein dan penghamburan
Compton dari energy tinggi seperti radiasi (sinar-x).
Selanjutnya neutron yang ditemukan (1931). Hipotesis proton-neutron
pada komposisi inti atom yang selanjutnya dijelaskan pada pengamatan sifat inti.
Prediksi Dirac mengenai keberadaan dari positron dengan dengan
penemuan Anderson (1933) yang menjadi bukti dari keberadaan pasangan partikel
dan anti partikel (lihat 19.6). Hipotesis neutrino yang dikemukakan oleh Pauli
(1931) menjelaskan tentang energy yang hilang pada peluruhan yang ditemukan
pada penemuan partkel elementer yang massanya hilang sekitar seperempat abad
kemudian.
Penemuan dari dua partikel yang berumur pendek yaitu muon dan pion
pada sinar kosmik berturut-turut pada tahun 1937 dan 1947.
Berdasarkan itu, para pengamatan partikel kurang lebih dilakukan
berdasarkan formula secara teoritis mengenai struktur atom dan inti.
Bagaimanapun, penemuan pertama kali pada sinar kosmik dan selanjutnya
dilakukan di laboratorium dengan mesin energy tinggi yang mengantarkan pada
revolusi konsep mengenai sifat dasar dari partikel elementer dan interaksi dasar.
2

Pada chapter ini kita akan akan membahas mengenai penemuan-penemuan,


sistematis dan klasifikasi dari partikel elementer dan kajian teoritis yang
digunakan untuk menjelaskan skema dari setiap klasifikasi. Sebelum itu, kita akan
mendiskusikan mengenai sifat dari pion dan muon yang akan dibahas lebih lanjut
mengenai skema dari klasifikasi partikel elementer.
1
Seperti yang terlihat, pion dan interaksi partikel yang kuat (meson dan
hyperon) berasal dari tumbukan energy yang kuat. Pada materi selanjutnya kita
akan membahas mengenai kinematika tumbukan yang berenergi tinggi.
3

BAB II
PEMBAHASAN

18.2. Kinematika dari Tumbukan Berenergi Tinggi


Banyak partikel elementer seperti pion, kaon, dan hyperon yang berasal
dari tumbukan energy tinggi (tumbukan relativistic). Beberapa seperti muon
berasal dari peluruhan lemah dari partikel elementer lainnya. Pada pembahasan
ini, kita akan meninjau kinematika tumbukan antara dua partikel (p,p) pada energy
relativistik. Cakupan materinya dibatasi pada setiap kasus dimana hasil tumbukan
yang berasal dari dua partikel saja, kemudian hasilnya dapat digunakan untuk
mengeneralisasikan yang lebih dari dua partikel. Dengan mengingat reaksi berikut
X1+ X2 X3+ X4
(18.2-
1)
Kita dapat menunjukkan energy (total) dan momentum dari partikel pada
persamaan diatas dengan W dan p, massa disimbolkan dengan M. X1
menunjukkan partikel datang dengan massa M1 mempunyai energy total W1 dan
momentum p1 (pada kerangka laboratorium atau system L). Target X 2 diam pada
system L sehingga p2 = 0 dan energinya diam W2. Kita menggunakan system
satuan dari kecepatan cahaya yang sama (c = 1) sehingga M1c2, M2c2, dsb. yang
dapat diganti -ganti dengan M1, M2, dsb. dimana semuanya ditunjukkan dengan
satuan energy. Lebih lanjut, hasil pc mempunyai satuan energy yang dapat diganti
dengan p. aplikasi hukum konservatif energy dan momentum pada persamaan
(18.2-1) yang memberikan
W 1 +W 2 W 3+W 4
(18.2-
2)
p1+ p 2 p 3+ p 4
(18.2-
3)
Dengan menggunakan hubungan relativistic antara energy dan momentum,
kita peroleh
W 2n= p 2n+ M 2n (18.2-
4)
Untuk partikel yang berbeda (n = 1, 2, 3, atau 4).
Kita mengetahui teori relativistic khusus bahwa energy total W dan ketiga
komponen dari vector momentum terdiri empat vector p =( W , p ) , sehingga
4

p p
hasil scalar (pada empat ruang) adalah invariant yang tegak lurus
terhadap waktu (lihat 15-17 vol. I):
p p =W 2 p2 =Invariant (18.2-
5)

p2 adalah akar dari vector momentum tiga dimensi. Untuk system partikel
(baik keadaan awal maupun keadaan akhir), kita peroleh
2 2
p p =
( W n) ( p n) =invariant
n n (18.2-

6)
Untuk keadaan awal (i), kita dapatkan
2 2
( p p )i=( W 1+W 2 ) + ( p 1+ p 2)
2 2
( p21 + M 21+ p22 + M 22 ) ( p 1+ p 2) (18.2-7)

Pada system L, p2 = 0. Energy kinetika T1 untuk partikel datang adalah


T 1 =W 1M 1= p21 +M 21M 1

Kita peroleh dari pers. (18.2-7)


2
( p p )i=( p21 + M 21 + M 2) p21=M 21 + M 22 +2 M 2 p21 + M 21

M 21+ M 22 +2 M 2 ( M 1+ T 1 )

( M 1+ M 2 )2 +2 M 2 T 1 (18.2-
8)
Pers. (18.2-8) dapat digunakan untuk menghitung energy ambang untuk
reaksi (18.2-1). Pada energy ambang ini, partikel produk X 3 dan X4 mempunyai
momentum nol sehingga p3 = p4 = 0. Jadi kita dapatkan untuk keadaan akhirnya
adalah
2
( p p )f =( M 3+ M 4 ) (18.2-
9)
M i=M 1+ M 2
Persamaan (18.2-8) dan (18.2-9) diperoleh dan
M f =M 3 + M 4

M 2i +2 M 2 T 1=M 2f
5

( M 2f M 2i )
Atau, T1=
2M2

(18.2-10)

Untuk nilai Q diberikan


Q=M 1 + M 2M 3M 4 =M i M f
(18.2-11)
T 1 =Eth
Kita peroleh energy ambang adalah (dengan menggunakan pers. 18.2-
10)
Eth =( Q/2 M 2 ) ( M i + M f )

( Q/2 M 2 ) ( Q2 M i )

Q ( 2QM ( M + M ) /M )
2
1 2 2
(18.2-

12)
Kasus Non-relativistik
Pada kasus ini Q << M1 atau M2. Disini kita dapat mengabaikan
pernyataan pertama yang berada di sebelah kanan pada persamaan (18.2-12)
sehingga
Eth =Q ( M 1 + M 2 ) / M 2
(18.2-
13)
Ini sama dengan persamaan (10.5-14) pada bab X.
Kasus relativistic ekstrim
Dimana Q >> M1, *M2, diperoleh
Q2
Eth = (18.2-
2M2

14)
Q 2M2
2
Sehingga Eth = Q . Perbandingan = 1 sangatlah kecil, ini
E th Q

menunjukkan bahwa nilai perbandingan dari energy ambang memberikan energy


rekasi pada kasus ini.
Sekarang mari kita mengaplikasian persamaan (18.2-12) untuk
menemukan energy ambang dalam menghasilkan energy rekasi dimana M 1 = M2
dan Q = -10M2. Diperoleh
6

Eth =50 M 2+ 20 M 2=70 M 2

Jika X1 dan X2 adalah proton, M2 = 0,938 atau 9,38 GeV, sehingga Eth =
65,7 GeV. Dari energy 65,7 GeV hanya Q = 10 x 0,938 atau 9,38 GeV yang
terbuang dalam menghasilkan rekasi ini, sementara itu bagian yang tersisa E th (-
Q) = 65,7 9,4 = 56,3 GeV sebagai energy kinetic pusat massa partikel.
Jika kita menganggap rekasi yang sama dari sudut pengamat pada system
pusat massa pada keadaan diam maka energy ambang seharusnya sama dengan
energy reaksi.
ECM =Eth Q=0
(18.2-
15)
ECM =Q
Atau (18.2-
16)
Pada contoh yang diberikan diatas Eth = 9,38 GeV pada system C.
Pada contoh kedua, kita menganggap bahwa tumbukan antara dua
electron, dimana salah satu massa diam m 0 = 0,5 MeV. Kemudian rekasinya
e+ e X 3 +X 4
, jika Q = - 2000 m0 = -103 MeV, maka energy ambang untuk
system L adalah
Q
2 Q( M 1+ M 2) 6 3
Eth = =10 +2 x 10 MeV =1000 GeV
2 m2 M2

Di samping itu, hanya 1 GeV yang terbuang dalam menghasilkan rekasi


ini, keadaan diam ini memberikan energy kinetic pusat massa.
Di sisi lain, untuk system C, Eth = Q = 1 GeV.
Colliding beams
Pada pertimbangan diatas menunjukkan kelebihan dalam menggunakan
colliding beams dari partikel yang identik dari cincin penyimpan yang
digambatkan pada bab XII pada eksperimen berenergi tinggi. Ketika dua partikel
yang mempunyai massa dan energy yang sama bergerak berlawanan bertabrakan,
pusat massa partikel yang berada dalam keadaan diam pada kerangka
labiratorium, sehingga system L dan C sama. Seperti yang telah kita lihat
sebelumnya, energy ambang pada kasus ini sama dengan enrgi rekasi, E th = Q. jadi
contoh pertama memberikan setiap sinar proton seharusnya memiliki energy E th /
2 = 4,69 GeV dimana ini kurang lebih sebagai target statis.
Pada contoh kedua, dua sinar electron yang bergerak berlawanan
mempunyai energy 0,5 GeV untuk mebghasilkan energy rekasi 1 GeV.
Dengan catatan pada kasus tumbukan non-relativistik, tidak ada kelebihan
dalam penggunaan colliding beams, ketika Q secara proporsi linear dengan E th
7

(lihat persamaan 18.2-13), sehingga yang paling banyak dari energy sinar pada
system laboratorium sesuai dengan energy reaksi.

18.3. Produksi dan Sifat dari pi-meson


Pi-meson atau pion adalah partikel dengan massa diantara electron dan
proton. Keberadaan mereka telah diprediksi oleh Yukawa untuk menjelaskan
kekuatan gaya inti dengan jangkauan rendah. Pion ini sebagai kuantum dari gaya
ini. Teori Yukawa telah didiskusikan pada bab XVII. Yukawa juga telah
memprediksi bahwa pion dalam keadaan tidak stabil.
Sesudah itu pion ditemukan pada sinar kosmik oleh C. F. Powell dan
teman-temannya di Universitas Bristol (1947), Inggris. Sejarah ditemukannya
telah dibahas pada bab XIX.
Pion dihasilkan dari tumbukan inti-inti (N-N) mempengaruhi interaksi inti
secara kuat. Segera setelah ditemukannya pada sinar kosmik (lihat 19.12), C. G.
M. Latters dan E. Gardner dapat menghasilkan pion di laboratorium dengan
menggunakan 380 MeV sinar proton diperoleh dari synchrocyclotron 4,67 meter
(184 inchi) di Laboratorium Lawrence Barkeley. Dengan demikian pi-meson
dihasilkan melalui reaksi:
+
p+ p p++
+
p+ p d + (18.3-1)

+
p+ p n+ n+

p+n p+ p+

Pada bagian kedua terakhir, tumbukan antara dua proton dengan neutron
pada deuteron (d) menghasilkan meson .
Pion netral dihasilkan dengan tumbukan N-N atau dengan foton
berenergi tinggi dan dengan tumbukan - + p:
N + N N +N +0

p+ p+0 (18.3-
2)
0
+ p +

8

Foton berenergi tinggi dapat menghasilkan muatan pion:


+
p+ n+

n+ p + (18.3-

3)
Akhirnya neutron berenergi tinggi dapat digunakan untuk menghasilkan
muatan pion:

n+n n+ p+

+
n+ p n+ n+ (18.3-

4)

n+ p p+ p+

Hasil buatan dari pion:


Pion yang dihasilkan di laboratorium dengan menembaki target yang
sesuai (seperti berilium atau grafit) dengan sinar foton berenergi tinggi.
Dengan menganggap reaksi
+
p1+ p 2 p+ n+

Pada kerangka laboratorium, proton yang datang p1 yang mengenai target


proton p2 dengan kecepatan v1L = 1c. Pada kerangka ini target proton p2 dalam
keadaan diam sehingga v2L = 0. Hasil partikel p, n, dan + mempunyai energy
kinetik tertentu pada kerangka ini.
Pada kerangka pusat massa, dua proton memmpunyai momen yang sama
dan berlawanan arah dan kecepatannya v = c. Dengan menganggap massa pada
M0
M=
kerangka pusat massa adalah 1 2 . Kemudian dengan anggapan

kecepatan v pada kerangka pusat massa pada hasil partikel p, n, + mempunya


nilai nol. Dari prinsip kekekalan energy diperoleh
E=2 M c 2=2 M 0 c 2 +m c 2 (18.3-
5)
m adalah massa diam dari pion. Persamaan (18.3-5) memberikan
9

M 1 m
= =1+
M 0 1 2
2 M0 (18.3-

6)
Ketika M0 = 938 MeV dan m = 139 MeV diperoleh
1
=1,0741
1 2
Jadi 2 = 0,133 dan = 0,365.
Dengan demikian pada kerangka pusat massa untuk kecepatan awal
tumbukan untuk p1 dan p2 adalah v = c = 0,365c. Ketika kecepatan pada
kerangka pusat massa dan kerangka laboratorium v c = v = c diperoleh kecepatan
p1 dan p2 pada kerangka laboratorium dengan menggabungkan kecepatan v dan y
dari p1 dan p2 berturut-turut pada kerangka pusat massa dengan v c secara
relativistik:
v+v 2v
v 1 L=v 1= = , v 2 L =0
1+ vv /c 1+ v 2 /c 2
2 (18.3-

7)
v1 2 2 x 0,365
Sehingga 1 = = 2
= =0,644
c 1+ 1,133

1
=1,308
Dan 121
Jadi energy minimum dibutuhkan untuk menghasilkan pion pada
tumbukan p-p (energy ambang) adalah
2
M0c
T min= M 0 c 2=289 MeV
(18.3-
11 2

8)
T min=E th
Dengan memperkirakan hal yang diatas dapat diperoleh
secara langsung dari persamaan (18.2-12) dengan mensubtitusi Q = 139 MeV dan
M2 = M1 = 939 MeV.
Dengan demikian energy ambang untuk menghasilkan pion pada kerangka
laboratorium adalah ~ 290 MeV untuk proton. Ini cukup lebnih tinggi
dibandingkan energy pion dalam keadaan diam yaitu 139 MeV, energy diam
(~150 MeV) memberikan momen dari tiga hasil partikel
Pada laboratorium, pion dihasilkan dengan menembaki inti yang berbeda
dengan sinar proton yang bernergi tinggi dari akselerator. Pada kasus ini, energy
10

ambang lebih kecil dibandingkan dengan energy tumbukan antar inti. Ini
menandakan bahwa nucleon dalam inti mempunyai beberapa energy kinetic dan
momentum. Dalam keadaan, momentum nucleon yang datang ditambah dengan
momentum nucleon yang ada didlaam akan membuat energy ambang lebih kecil
pada tumbukan N-N.
Sebagai sinar proton pada akselerator yang mengenai target baik yang
dihasilkan + maupun - dimana bergerak sepanjang jalur lingkar pada medan
magnet akselerator. Ketika emisi terjadi pada arah maju, - keluar sedangkan +
tidak. Untuk emisi yang terbalik, maka yang terjadi pun sebaliknya.
Energy ambang untuk penciptaan pion dengan sinar diberikan
m
(
E=m c 2 1+ =m c 2
2 Mn ) (18.3-

9)
Dimana sekitar 140 MeV.
Dengan demikian energy ambang pada kasus ini lebih rendah.
Massa muatan pion:
Perkiraan awal dari massa pion termasuk pengukuran jarak, berat jenis dan
hamburan sudut kecil pada emulsi inti. Metode ini telah dibahas secara detail di
7.14 bab VII.
Massa muatan pion juga telah diperkirakan dari muon dimana dihasilkan

pada peluruhan + v dengan menentukan energy kinetic dari jarak


pengamat. Kekekalan energy dan momentum diberikan
m c 2=m c 2+ T +T v (1) (18.3-
10a)
p= pv
(18.3-
10b)
Dimana T adalah energy kinetic. Ketika massa neutrino lebih kecil, kita peroleh
T v = pv c
(18.3-
11)
Disisi lain, energy total muon adalah
E= m2 c 4 + p2 c2

(18.3-12)
Tapi E=T +m c 2=4,2+105,77=109,86 MeV

Karena nilai pengukuran T = 4,2 MeV


11

Kita peroleh dari persamaan (18.3-10a), (18.3-10b), dan (18.3-11)


2 2
(m c 2T v ) =( m c 2 p v c 2 )
2 2 2 2 2
( m c p v c ) =( m c +T )

Ruas sebelah kanan sama dengan kuadrat enenrgi total muon. Jadi
diperoleh
m2 c 4 2 M c 3 p+ p2 c 2=E21 L =m2 c 4 + p 2 c 2
2 2
( m c 2 ) 2 ( m c 2 ) ( p c ) ( m c 2 ) =0

Ini memberikan
2
2 2 2
m c = p c+ ( p c ) + ( m c ) = p c+ E (18.3-13)

Solusi lainnya dapat diabaikan karena bernilai negative. Kemudian dari


persamaan (18.3-12)
2
p c= E2( m c 2 ) = ( 109,86 )2 ( 105,66 )2=30,1 MeV

Jadi akhirnya kita peroleh


m c2=30,1+109,86=140 MeV

Massa pion telah ditentukan secara akurat dengan eksperimen berbasis


akselerator. Pion dihasilkan dengan mmenembaki target yang sesuai dengan sinar
proton berenergi tinggi atau partikel yang berasal dari akselerator. Pion
terekstraksi dari akselerator yang didteksi dengan plat emulsi inti. Dari jari-jari
melingkar pada medan magnet akselerator dapat ditentukan momennya. Jarak ini
pada plat emulsi inti memberikan energy kinetic. Darri segi kuantitas, massa pion
positif dapat ditentukan.
Massa pion negattif dapat ditentukan dengan pengukuran dari sinar X yang
teremisi.

Nilai harapan yang diterima untuk massa pion adalah


m=( 273,123 0,002 ) me

Atau, m c2= (139.5693 0,0007 ) MeV

Waktu paruh muatan pion:


Waktu paruh dari juatan pion () telah ditentukan dengan
membandingkan intensitas dari pion lambat pada jarak yang berbeda dari target.
12

juga telah ditentukan dengan mengukur waktu pelepasan antara penghentian -


dan peluruhannya.
Scintillation counter juga telah digunakan untuk melakukan pengukuran-
pengkuran ini. kounter pertama digunakan untuk mengirimkan pulsa elektrik
untuk melepaskan energy selama meson + melambat dimana terjadi pada orde
waktu 10-12 s. pulsa yang kedua memperoleh energy lepas dari peluruhan - .
Kedua pulsa ini terekam dengan osilograf dengan basis waktu yang cepat. Dari
kalibrasi jejak osilograf yang digunakan, waktu paruh dari peluruhan + dapat
ditentukan dengan mengukur distribusi statistic dari pemisahan antara dua pulsa
ini. Eksperimen yang sama memberikan waktu paruh muon dengan mengukur
pemisahan antara pulsa yang dihasilkan pada peluruhan - dan peluruhan - e.
Nilai yang diperoleh adalah
=( 2,6030 0,0023 ) x 108 s

Waktu paruh dari antipartikel muatan pion sama dengan pion.


Dengan catatan bahwa peluruhan muatan pion (dan muon) terjadi pada
imteraksi lemah
Peluruhan muatan pion:
Peluruhan muatan pion mengikuti skema sebagai berikut:
+ v

v adalah neutrino atau antineutrino. Peluruhan ini terjadi pada interkasi


lemah pada peluruhan beta inti.
+ menjadi + dengan bilangan lepton muonik l = -1 dan neutrino muonik
(v) dengan l = +1. Dengan demikian kekekalan bilangan lepton memenuhi
ketika l = 0 untuk pion. Pada kasus peluruhan - dimana l juga bernilai nol, nilai
dari l untuk hasil peluruhan juga berlawanan.
Dengan demikian diperoleh
+ + + v
(l = 0 -1 +1)
- + + v

(l = 0 +1 -1)
Muatan peluruhan pion adalah dua proses partikel dengan kesimpulan
bahwa salah satu hasil peluruhan () selalu diemisikan dengan energy kinetic
yang sama (~ 4,2 MeV). Ini dapat dicek bahwa dua partikel peluruhan saat diam,
kekekalan energy dan momentum memerlukan kedua hasil peluruhan yang
diemisikan dengan energy kinetic tertentu.
13

Pengamatan sifat pion sedikit berbeda dengan prediksi Yukawa (lihat bab
XVII). Karena meluruhnya menjadi elektron, prediksi Yukawa untuk menjelaskan
pelutuhan inti , peluruhan pion menjadi muon yang lebih besar dimana interaksi
secara lemah seperti elektron dan termasuk kelompok lepton.
Untuk melengkapi gambaran, dapat kemudian harapan bahwa pion
negative seharusnya lebih kuat dalam menyerap inti untuk menghasilkan
bintang. Seperti bintang yang dihasilkan sebagai hasil dari peluruhan yang
meledak menjadi banyak bagian dari inti karena pelepasan energy yang tinggi (~
140 MeV) pada penangkapan - dengan interaksi kuat. Kebanyakan pion positif
mengalami peluruhan radioaktivitas sebagaimana pernyataan diatas.
Ada beberapa model peluruhan muatan pion. Bagaimanapun
probabilitasnya sangatlah kecil.
Spin dan paritas muatan pion:
Spin pion positif telah ditentukan dengan membandingkan probabilitas
hasil deuteron dan + di reaksi p-p dan proses inverse dimana tumbukan deuteron
dan + menghasilkan dua proton:
H + 21 +
p+ p (18.3-14)

++ 21 H p+ p
(18.3-

15)
Berdasarkan prinsip yang mendetail yang didiskusikan di 11.2 bab XI,
cross section dari prekasi X Y berhubungan dengan proses inverse dengan
rekasi Y X berdasarkan persamaan (11.2-4):
YX p2x ( 2 I x +1 ) ( 2 I x +1 )
=
XY p 2y ( 2 I y +1 ) ( 2 I y +1 )

(18.3-16)
Kita dapat mengaplikasikan hubungan diatas dengan kasus reaksi timbal
balik dengan persamaan (18.3-14) dan (18.3-15). Karena dua proton pada reaksi
ini adalah partikel yang identik maka factor muncul secara factor statitik. Jadi
dapat diperoleh
1 2 2
2
( 2 I p +1 ) ( 2 I p +1 ) p p pp=( 2 I d +1 ) ( 2 I +1 ) p d (18.3-17)
14

d pp /d
Dengan membandingkan turunan dari cross section dan
d d /d
yang diukur pada sudut yang berbeda, nilai dari spin instrinsik dari
pion (s) dapat ditentukan dari hubungan
2
d pp 2 ( 2l d +1 ) ( 2 s n+1 ) pn d d
= 2 2
.
d ( 2 s p +1 ) pp d

3 p2 d d
2 (
2 s p +1 )2
2 pd d (18.3-18)

d pp /d
Dapat ditulis Id = 1 dan sp= 1/2 . pengukuran dari cross section
dibuat oleh R. Durbin dan yang lainnya dengan membandingkannya dengan
d d /d
pengukuran cross section sebelumnya oleh W. Panofsky dan yang
lainnya di Berkeley pada energy pusat massa yang sama dan ditarik kesimpulan
bahwa s = 0 untuk meson +.
Spin dari meson - dimaan merupakan antipartikel dari + juga bernilai
nol. Spin dari pion netral (0) juga bernilai nol.
Paritas instrinsik dari pi-meson bernilai ganjil.

18.4. pi-meson Netral


Berdasarkan teori meson dari gaya nuklir, gaya antara inti yang sama (p-p
atau n-n) berekasi melalui medium pion netral (lihat bab XVII dan 18.2).
Pion netral (0) yang ditemukan di Berkeley dengan menggunakan sinar
proton berenergi tinggi dari synchrocyclotron 4,67 meter (184 inchi). Yang
ditemukan oleh R. Bjorklund, W. E. Grandall, B. J. Moyer dan H. York (1950)
ketika sinar proton 350 MeV mengenai target yang sesuai, sinar bernergi tinggi
yang teremisi mendekati meson .
Sinar dianalisis dengan menggunakan spectrometer pair. Dari jari-jari
kelengkungan e+ dan e- yang dihasilkan dengan sinar yang diketahui dengan
medan magnetic, energy dari sinar dapat ditentukan. Pada awalnya J. R.
Oppenheimer telah mengusulkan bahwa pion netral menghasilkan pada tumbukan
N-N berenergi tinggi sepanjang (lihat 18.3) akan terdisintegrasi sangat cepat
dengan proses elektromagnetik menjadi dua foton .
0 1+ 2
15

Andaikan tingkat peluruhan 0 dengan satu sinar dari energy Ef yang


diemisikan dan energy lainnya Eb teremisi terbalik. Dari hokum konservatif
momentum dan energi dapat terlihar bahwa
m ( 0 ) c 2=2 Ef E b

Jadi dengan mengukur energy dari dua sinar dimana setiap energinya 70
0
MeV, massa pion netral m ( ) dapat diketahui.

Pengukuran energy awal dari dua foton memberikan m ( 0 ) 300 me .

Pengukuran ini menunjukkan pergeseran Doppler dari frekuensi sinar pada


proses timbal balik dimana membuktikan bahwa tingkat peluruhan 0. J.
Seitenberger, W. Panofsky, dan J. Stellar (1950) telah melakukan peyelidikan yang
lebih detail dengan menggunakan teknik persamaan waktu dan hasilnya telah
dicocokkan dengan hasil sebelumnya.
Massa pion netral
Massa 0 diukur dengan mengamati hasil dari reaksi
+ p n+ 0

Sesudah itu peluruhan 0 menjadi dua sinar .


0
1+ 2

Sinar pion negative yang berasal dari akselerator (dihasilkan dengan


proton 330 MeV dari synchrocyclotron Berkeley yang mengenai target tungsten)
memasuki tempat yang berisikan gas hydrogen pada tekanan 200 atm dan
menghasilkan pion netral seperti persamaan (18.3-2). Tingkat peluruhan dan hasil
dua sinar menunjukkan seperti puncak persegi pada 70 MeV pada gambar 18.1.
16

Gambar 18.1. Spektrum energy dari peluruhan sinar pada pion netral.

Suatu keadaan dimana sebelum dua sinar diemisi dari tingkat pergeseran
Doppler 0 dan mempunyai energy dari perumusan pergeseran Doppler relativistic
seperti pada kesimpulan bab XV vol I. Dengan menggunakan pernyataan tersebut,
frekuensi sudut f dan b dari sinar yang teremisi pada proses timbal balik
diberikan

f =0
1
1+
, b= 0
1
1+ (18.4-

1)
Dimana 0 adalah frekuensi diam. Konservatif energy diberikan
m ( 0 ) c2 2 0
e= = ( f + b )=
1 2
1 2
E
0=
2
1 2

E E
Ef = f = ( 1+ ) , Eb= 0= (1 )
Dan 2 2
2
3
E f Eb = ( 1 2 ) ={m ( 0 ) c2 } 4
4

Atau, m ( 0 ) c 2=2 Ef E b

(18.4-2)
17

Massa 0 dapat ditentukan dengan mengukur limit dari lebar puncak


persegi saat 70 MeV pada gambar 18.1.
Gambar 18.1 juga menunjukkan puncak yang tajam saat 131 MeV dimana
sinar yang dihasilkan mengikuti reaksi
+ p n+
(18.4-

3) Kekekalan energy dan momentum pada rekasi ini memberikan asumsi -


dalam keadaan diam saat penangkapan


(18.4-4)
m

E
pn= p=
c

(18.4-5)
Energy kinetic dari emisi neutron adalah
En= p 2n /2 M n= p2/2 M n (18.4-
6)
Berdasarkan dari ketiga persamaan diatas, ini memungkinkan untuk
menentukan massa - di eksperimen yang sama mendekati nilai massa 0.
Pada eksperimen ini, biasanya digunakan untuk menggunakan selisih
antara m(-) m(0) dimana dapat dilakukan secara akurat. Nilai m(0) dapat
ditemukan dengan diketahuinya nilai dari m(-):



m

Massa m(0) yang dapat diperoleh adalah


m ( 0 ) =( 264,113 0,008 ) me

Atau m ( 0 ) c 2=134,9630 0,0038 MeV

Peluruhan meson 0
Peluruhan muatan pion () dengan interaksi lemah. Di sisi lain, peluruhan
pion netral (0)dengan interaksi elektromagnetik menjadi dua foton sinar .
Karena itu, peluruhan waktu paruh dari peluruhannya lebih singkat dibandingkan
. Waktu paruh 0 telah ditentukan dengan mengamati peluruhan meson K + (akan
dibahas kemudian) didalam plat emulsi inti:
18

++ 0
+
K

Gambar 18.2. Pengukuran waktu peluruhan 0.

Bekas 0 tidak terlihat dengan emulsi ketika muatannya netral.


Bagaimanapun, keadaan awal (O pada gambar 18.2) dapat ditentukan dengan
perpotongan antara K+ dan bekas +. Ketika peluruhan K+ sudah habis, dua pion
(+ dan 0) haruslah bergerak berlawanan untuk menjaga momentum. Arah
gerakan 0 dapat ditemukan. Sesudah itu peluruhan 0 menjadi dua foton (1 dan
2) dimana tidak terlihat pada emulsi. Bagaimanapun, jika salah satu dari mereka,
katakanlah 2, menghasilkan pasangan elektron-positron dengan emulsi kemudian
bekas terakhir (e+ dan e-) dapat terlihat sehingga titik asal Q dapat ditentukan.
Kekekalan momentum memerlukan bekas e+ dan e- cenderung sama pada gambar
yang menghasilkan sinar . Jadi kedua bagian dari sudut antara bekas e + dan e-
yang terbalik memberikan gambar 2 seperti yang terlihat pada gambar 18.2.
Karena perpotongan antara 0 pada P, maka 0 mempunyai jarak OP = d ketika
dalam proses dintegrasi.
Hal ini memungkinkan untuk menentukan momentum + dari pengamatan
bekas dan arena itu momentum 0 dan kecepatan v dapat ditemukan. Jadi waktu
OP
t= =d / v
yang sudah terlewati antara hasil dan disintegrasi dari 0adalah v

dimana dapat ditentukan.


19

OP biasanya bernilai sangat kecil sekitar ~ 0,05 . Setelah itu dapat


dianalisis lebih dari 200 gambar yang memungkinkan untuk menentukan
(0 )=( 1 0,05 ) x 1016 s . Maka dapat diperoleh nilai sebagai berikut

(0 )=( 0,83 0,06 ) x 1016 s

18.5. Muon dan sifat-sifatnya


Muon () seperti muatan pion adalah partikel dengan massa diantara
electron dan proton. Beberapa diantaranya lebih ringan dibandingkan pion.
Muatan muon bersifat listrik dimana mempunyai satu muatan elektronik
baik positif atau negatif dan tidak stabil.
Muon ditemukan pada sinar komik oleh dua saintis Amerika yaitu C. D.
Anderson dan S. H. Neddermeyer (lihat 19.8). Pada awalnya massa dan waktu
paruhnya ditentukan pada studi sinar komik. Kemudian secara presisi
penentuannya melalui sifat khusus yang berasal dari eksperimen akselerator.
Berikut adalah daftar sifat khusus dari muon:
Massa: m = (206,7686 0,0005) me
mc2 = (105,65943 10-5) MeV
Waktu paruh: = (2,19714 0,0007) x 10-6 s
Spin: s =
8 e
=(1,00116616 10 )
Momen magnetic: 2 m

e
Pelepasan momen magnetik dari nilai Dirac 2 m karena reaksi radiasi

sebagai kasus dari electron.


Muon ditemukan pada tahun 1937 sementara itu pion ditemukan pada
tahun 1947. Jadi pada waktu ditemukannya, ide partikel yang divisualisasikan
oleh Yukawa sebagai kuanta dari antar interaksi inti yang kuat seperti yang telah
didiskusikan pada bab XVII. Bagaimanapun, daya tembus dari sinar kosmik muon
terlihat bahwa interaksinya sangat lemah dengan bahan. Jika mereka adalah
partikel Yukawa, mereka seharusnya berinteraksi secara kuat dengan inti atom.
Setelah ditemukannya pion, teka-tekinya dapat terselesaikan dan terrealisasi
bahwa interaksi partikel secara kuat (pion) adalah partikel Yukawa.

Hasil dari Muon:


Tidak seperti pion, muon tidak dihasilkan di interaksi inti-inti (N-N).
Mereka dihasilkan melalui peluruhan lemah dari muatan pion seperti skema reaksi
20

berikut: + v . Karena mereka relative mempunyai waktu paruh lebih

lama dibandingkan muatan pion, mereka dapat diamati dengan intensitas yang
lebih besar di laut dalam dan level sinar kosmik atau komponen penetrasi yang
paling akhir. Pada ekperimen berbasis akselerator, muon diperoleh sebagai hasil
peluruhan dari hasil pion pada tumbukan N-N berenergi tinggi.

Muon juga dihasilkan pada peluruhan lemah dari meson K: K +v
(akan dibahas lebih lanjut).

Sifat Dasar dari Peluruhan Muon


Skema peluruhan muon adalah sebagai berikut:
e + v e +v (18.5-
1)
ve dan v adalah elektronik dan muonic neutrinos. Salah satunya adalah neutrino
dan yang lainnya adalah antineutrino. Pada peluruhan, hanya elekteron (e -) atau
positron (e+) yang diamati sedangkan neutrinos tidak diamati.
Sifat dasar dari peluruhan muon telah dipelajari dengan cara ruang
berkabut dan dengan metode emulsi fotografik. Gambar 19.23 memperlihatkan
peluruhan muon pada fotografik emulsi inti dimana electron (berada pada keadaan
ekstrim) ditemukan dengan cara teremisi dari bekas/jejak akhir dari muon. Muon
(jejak yang berada di bagian tengah) dihasilkan pada peluruhan muatan pion
(jejak yang ada di sebelah kiri). Energy electron berdistribusi diantara 0 dan 54
MeV. Jika hanya satu neutrino yang teremisikan pada peluruhan kemudian
mengacu pada hokum kekekalan energy dan momentum, electron dan neutrino
seharusnya masing-masing mempunyai energy kinetic tertentu sebagai peluruhan
muatan pion. Ketika hal itu tidak terjadi, kita dapat mengasumsikan bahwa ada
lebih dari satu neutrino yang teremisi pada peluruhan muon.
Hal ini diperkuat dengan anggapan dari kekekalan momentum anguler.
Ketika spin electron, neutrino, dan muon adalah masing-masing (untuk satuan
, bilangan genap dari neutrino seharusnya teremisi pada peluruhan). Secara

umum diasumsikan bahwa dua neutrinos teremisi pada peluruhan

(persamaaan 18.5-1) dimana tidak terdapat pertentangan antara fakta mengenai


,muon dan neutrino.
Kita dapat melihat bahwa bilangan lepton (l) yang terkait dengan electron
dan neutrino (dan dengan antipartikelnya). Dengan demikian l = +1 untuk electron
dan neutrino ketika l = -1 untuk antipartikelnya., positron dan antineutrino. Ketika
ketiga lepton dihasilkan pada peluruhan muon, kekekalan bilangan lepton
21

memerlukan kita untuk mengasumsikan bahwa muon adalah lepton. Jadi kita
dapat menentukan l = +1 untuk - dan l = -1 untuk + dimana ini adalah

anti partikel dari -. Kita dapat mengasumsikan bahwa satu dari neutrino pada

peluruhan adalah antineutrino:

+ v + v
e

(l = 1, +1, +1, -1)

++ v+ v
+ e


(l = -1, -1, +1, -1)
Pada penambahan untuk membedakan antara v dan v , kita juga

mngasumsikan bahwa satu.; neutrino pada peluruhan adalah neutrino


electron (ve) dan yang lainnya neutrino muon (v). dengan catatan ve adalah
neutrino dimana teremisi pada peluruhan inti .
Perbedaan diatas mengharuskan bahwa fakta eksperimen kebalikan
transformasi beta oleh Reines dan Cowan pada deteksi neutrino secara langsung
digambarkan di 5.20 bab V, yang dapat ditunjukkan dengan menggunakan fluks
antineutrino kuat dari rekator inti termasuk kelompok neutrino electron (e).
Ketika eksperimen yang sama dilakukan dengan neutrino muon dari peluruhan
muatan pion., tidak terdapat kebalikan transformasi beta. Transformasi (5.20-1)
dan (5.20-2) pada kasus ini akan menghasilkan - dan + dari - dan + secara
berturut-turut:

n+ v p+ (18.5-

2)
+
p+ v n+ (18.5-

3)
Ini menunjukkan bahwa ve dan v (dan antipartikelnya) adalah partikel
yang berbeda. Jadi kita dapat mempostulatkan dua bilangan lepton yang berbeda
le dan l. untuk electron (e-) dan anti neutrino electron (ve), le = +1 sementara itu
22

v e
antipartikelnya (e+ dan ) le = -1. Di sisi lainnya, untuk muon negative (-)
dan neutrino muon (v), l = +1 sementara itu untuk antipartikelnya (+ dan v), l
= -1. Dengan asumsi ini, kekekalan bilangan lepton pada peluruhan muon dapat
ditulis sebagai berikut:
v
- e- + e +v
(le = 0 +1 - -1 0) (18.5-
4)
(l = +1 0 0 +1
+ e+ ve v

(le = 0 -1 + +1 +0) (18.5-


5)
(l = -1 0 0 -1

Sifat-sifat dari neutrino muon:


Karena v berbeda dengan ve maka bentuk sifatnya berbagai macam dapat
ditentukan secara terpisah. Massa v dapat ditemukan lebih kecil daripada 0,57
MeV dibandingkan dengan m(ve) < 35 eV. Helisitas dari v adalah -1 ditentukan
dengan menerapkan hokum kekekalan momentum dan momentum anguler pada
peluruhan - . Jadi tidak ada perbedaan helisitas antara ve dan v.

Interaksi muon:
Kita telah melihat bahwa muon berinteraksi sangat lemah dengan bahan
seperti electron termasuk kelompok yang sama dengan partikel elementer
(lepton). Muon diharapkan dapat berlaku seperti electron pada saat berinteraksi
dengan partikel lainnya.

Atom :
Muon negatif (-) dapat digantikan dengan electron pada orbit Bohr
menjadi muonic atom. Jari-jari dari orbit pada atom sangatlah kecil dengan
factor me / m ~ 1/207 dibandingkan dengan jari-jari orbit electron dalam atom.
Dengan demikian inilah adalah keadaan loncatan di atom muonik, - bisa saja
sangatlah dekat dengan inti khususnya pada atom yang lebih berat. Jadi
kemungkinan cukup besar dari penangkapan inti dengan interaksi
elektromagnetik, sebuah proses yang sama untuk penangkapan orbital electron
oleh inti.
23

Transisi antara orbit yang berbeda dari atom muonik memberikan


peningkatan emisi dari radiasi elektromagnetik untuk daerah sinar . Radiasi
energy tertinggi untuk transisi 2 p 1 s . Untuk titanium (Z = 22) sekitar 1
MeV.
+ p n+ v
Penangkapan muon biasanya berasal dari kulit K: . Pada

proses ini sekitar 106 MeV dilepaskan untuk memberikan peningkatan eksitasi
dari keadaan inti dan emisi dari sinar dari keadaan ini dimana telah dideteksi.
Probabilitas dari penangkapan dengan inti (c) sebanding dengan Z4 dan
berbeda dengan Z3-tergantung dengan probabilitas penangkapan electron (ec)
karena haruslah proton yang berinteraksi. Probabilitas ini sebanding dengan Z.
Dengan demikian c pada unsur Z besar dan mempunyai waktu paruh
dengan order 10-12 dimana waktu paruhnya lebih singkat dari peluruhan muon (
~ 2 x 10-6). Untuk unsure Z rendah (Z < 10), waktu penangkapan dapat
dibandingkan dengan . Untuk peluruhan muon yang negatif biasanya tidak
teramati pada unsure Z yang besar, penangkapannya (dengan interaksi
elektromagnetik) menjadi terganggu dari inti (hasil bintang) karena pelepasan
energy yang sangat tinggi. Bagaimanapun, probabilitas terganggunya dari inti Z
yang kecil adalah sangatlah kecil terjadi, sehingga sebagian besar - mengalami
peluruhan radioaktivitas pada kasus ini.
Di sisi lainnya sebagian besar muatan muon yang bersifat positif
mengalami peluruhan radioaktivitas pada penyerapan Z yang kecil dan besar
ketika tidak terjadi penangkapan pada orbit atom muonik karena gaya
elektrostatik inti.
Perbedaan ini karena sifat dari - dan + di bahan yang ditemukan oleh
saintis Italia (Conversi, Pancini, dan Piccioni) yang menunjukkan eksperimen
bahwa muon berbeda dengan partikel Yukawa.
Dengan catatan pengukuran energi transisi pada atom muonik memberikan
metode yang sangat kuat untuk menentukan jari-jari inti.
Muonium:
Muon positif dapat berasal dari system quasi atomic dengan sebuah
electron yang beredar mengelilinginya di orbit seperti hydrogen yang dikenal
dengan muonium (+ e- atau Mu) sama dengan positronium yang telah dibahas di
6.6. Muonium tidak stabil dan waktu paruh peluruhannya adalah 2 s.
Keadaan dasar muonium mempunyai dua kemungkinan momen anguler J
= 0 dan 1 sesuai dengan orientasi spin + dan e-. Ketika berada di medan magnet,
struktur halus dari keadaan dasar dari muonium dapat dikalkulasikan, dapat
24

diasumsikan interkasi elektromagnetik antara + dan e-. nilai frekuensi larmor


adalah vL = 14 MHz. pengukuran nilai ini sangatlah cocok. Ini sesuai dengan
interaksi elektromagnetik yang dominan dengan bahan yang sesuai dengan muon
pad awalnya.
Hal yang menarik pada pengamatan adalah tidak seperti positronium yang
e dan e- meniadakan satu sama lain untuk menghasilkan dua (atau tiga) foton,
+

tidak terdapat peniadaan antara + dan e-. Walaupun tidak adanya peniadaan
menurut hokum elektromagnetik karena tidak adanya hal yang melanggar dalam
prinsip kekekalan bilangan lepton.
Sebuah bagian dari interaksi elektromagnetik dengan muatan elektrik,
interaksi lemah pada muon seperti electron pada peluruhan beta. Seperti yang kita
lihat di 5.7, kekuatan dari interaksi lemah menyebabkan peluruhan beta
mempunyai nilai.
g =1,4 x 1062 J m3

(lihat persamaan 5.7-6 dan 5.9-7)


Kekuatan dari interaksi ini termasuk pada peluruhan lemah dari muon
yang telah ditentukan dan mempunyai nilai yang mendekati dengan nilai g:
62 3
g=1,43 x 10 Jm

Kedua nilai yang hampir sama mengasusmsikan ada interaksi lemah secara
umum untuk semua peluruhan lemah. Ini terlihat dengan bentuk segitiga yang
dikenal dengan Puppi-triangle seperti pada gambar 18.3 dimana semua sisi-
sisinya sama besar yang memperlihatkan kekuatan interaksi pada tiga proses yang
+ v e + p n+ v
sama: e + v e +v ,
n p+ e ; ; sehingga

g =g p=g e
.

Gambar 18.3. Puppi Triangle

18.6. penemuan k-mesons dan hyperons


25

Dalam waktu yang sama dalam pergantian poin dimana ditemuakan oleh
powell dan teman-temanya (lihat 19.12), dua Bristol fisika universitas . mereka
menenukan sinar cosmic yang dikendalikan counter di atas awan.
Ditemukan bahwa di antara partikel dalam memproduksi penetral yang
menggunakan sinar cosmic dalam energy tinggi dekat ruangan, kadang jenis trek
ini ditampilkan dalam gambar 18.4a untuk memproduksi. dua traks dapat
diamati dengan lempeng setebal 3 cm di dalam ruang yang ditunjukkan gambar
18.4a diinterpretasikan sebagai peluruhan produk pengisi dari partikel netral
meluruh di bawah lempeng timah. karena karakteristik dari dua traks yang
diamati, partikel netral yang diproduksi disebut V-partikel.

Gambar 18.4. penemuan partikel


Gambar 18.4b yang ditunjukkan juga sama berbentuk sebuah V track.
dalam hal ini Nike adalah partikel bermuatan yang meluruh ke partikel bermuatan
lain seperti yang ditunjukkan pada gambar dan partikel netral yang tidak
menghasilkan traks yang dapat diamati, tetapi keluar dari titik dari dua jalur
bercabang.
Simbol dari partikel yg mengalami peluruhan (V0 dan V+) didirikan
dengan mengukur jari-jari kelengkungan dari trek di medan magnet melalui
partikel diamati, jaraknya (dalam foto emulsi nuklir) dan kepadatan tetesan butir
sepanjang rel. ditemukan dua jenis partikel yang terlibat. sesuai dengan notasi
yang diterima saat ini, partikel netral (v0) milik dua kelas, dikenal sebagai K-
meson (kaons) dan hyperons yang memiliki skema peluruhan sebagai berikut:

K
+ -
(Kaon) + (18.6-
1)
26

A p
-
(Hyperon) (18.6-
2)
Memungkinkan determinan massa dari K0 dan A0 dari kinamatik untuk
peluruhan, dikatakan semua produksi peluruhan menjadi hamburan ( and 0)
dan proton. Rata-rata peluruhan di temukan untuk menjelaskan tentang 10-10s .
kaons mempunyai massa 494 MeV (mendekati 1000 me) sedangkan massa dari A0
adalah 1115 MeV yang mana lebih tinggi dari massa inti.
Kemudian, dengan energi yang tinggi dihasilkan pancaran partikel

dilaboratorium dibagian berbeda didunia, pengisian kaon (K ) dan hyperon ,

dan ( semua lebih berat dari inti) ditemukan. Massa dan alat-alat lain seperti
yang ada dalam peluruhan, putaran, keseimbangan dll). Dari semua partikel
tersebut telah ditentukan dan terdaftar ditabel 18.2.
Telah terealisasi setelah ditemukan kemudian baru ditemukan partikel
bertindak diantara cara penggunaaannya. Meskipun demikian produksi dalam
interaksi yang kuat. Rata- rata peluruhan paling tinggi (10-8 ke 10-10s) dalam skala
waktu inti (- 10-23s). selanjutnya tidak pernah produksi sendiri tetapi berpasangan
untuk memproduksi sesuatu dalam perkumpulan lainnya (associated production).
Pada karateristik partikel baru yang diuraikan dalam terminology sebuah alat-alat
baru, disebut strangeness, sebuah konsep pertama mooted oleh Abraham pais dan
setelah berkembang dengan sendirinya oleh [Link]-Mann dan K. Nishijima
ditahun 1953. Sejak partikel mereka mengetahui strange particles.

Produksi dan peluruhan partikel asing


Menurut Gell_Mann dan Nishijima, sebuah bilangan kuantum baru
diketahui S adalah bilangan kuantum asing (strangeness quantum number) akan
menjadi perkumpulan dengan partikel asing yang berbeda, untuk membedakan
dari partikel non asing, seperti inti dan semua pion yang S=0.
Nilai dari S untuk perbedaan partikel asing dilihat pada tabel 18.2. pais
mengusulkan bahwa keasingan kekal selama produksi partikel asing oleh interaksi
kuat, di gambarkan dengan:

-+p A0 + K0 (18.6-
3)
(S=0 0 -1 +1)


1
-+p + K0 (18.6-
4)
(S=0 0 -1 +1)
27

Namun, dalam peluruhan (menggunakan interaksi lemah, seperti yang


diungkapkan dengan rata-rata-hidup. S tidak dilestarikan. Pada

K0 2

(S= +1 0

0
A p+
(S= +1 0 0 (Lihat tabel 18.2)
Dua model yang berbeda dari peluruhan partikel massanya 1000 me dimana
diobservasi segera setelah penemuan. Satu tipe yang hilang dalam tiga pion dan

namakan dengan - meson, saat tioe lainnya hilang dalam dua pion dinamakan

juga dengan - meson:


Di temukan produk peluruhan untuk kedua dan memiliki nol orbital
sudut momentum, jadi keseimbangan orbital tersebut harus sama (+). Seperti yang
kita lihat, partikel dasar seperti inti dan meson ditugaskan untuk intrinsic parity
untuk menjelaskan produksi dan peluruhan (lihat 18.11 dan 18.13). demikian
pion mempunyai zero spin dan intrinsik keseimbangan ganjil (-) yang dinyatakan
Jp = 0-. Sejak keseimbangan adalah perkalian, jelas bahwa keseimbangan produk

peluruhan pada adalah ganjil (-) x (-) x (-) = (-). Disisi lain, keseimbangan

produk peluruhan pada adalah : (-) x (-) = (+). Jadi spin-parity dan yaitu

masing-masing 0- dan 0+ . ditemukan bahwa meskipun kedua partikel ( dan )
memiliki massa yang sama dan mean-lives peluruhan sama, hal tersebut memiliki
dua alternatif model peluruhan. Kedua saintis amerika kelahiran cina, T.D Lee dan

C.N Yang memberikan tanggapan dan adalah satu dan partikel yang sama
(kemudian dinamai kaon) yang memiliki dua model alternatif peluruhan di mana

keseimbangan tidak kekal. ini dikenal sebagai teka-teki dan . Lee dan Yang
memeriksa pertanyaan seluruh konservasi keseimbangan di interaksi partikel
elementer dan sampai pada kesimpulan bahwa meskipun paritas tampaknya
dilestarikan dalam interaksi nuklir kuat, tidak ada bukti langsung yang telah
dilestarikan dalam interaksi lemah. sehingga mereka mengusulkan bahwa jika
28


paritas tidak kekal dalam peluruhan dan , itu tidak mungkin dilestarikan

dalam proses lain yang melibatkan interaksi lemah misalnya, inti peluruhan .
mereka menyarankan percobaan untuk demonstrasi non-konservasi paritas di

peluruhan . yang dilakukan oleh C.S Wu dan lainnya, yang terbukti secara
meyakinkan bahwa paritas tidak kekal dalam interaksi lemah. (lihat bab V untuk
lebih jelasnya).

18.7. K-Meson
K-meson atau koans adalah produksi interaksi kuat, tiap benturan N-N (inti-inti)
atau dalam benturan N.
terlepas dari proses yang digambarkan pada persamaan (18.6-3) dan (18.6-4)
reaksi yang telah di hitung.
p p p p K K
p p p n K K0
p p p p K0 K0

(18.7-1)
dalam semua reaksi, keanehan yg kekal, jika K- dan anti-partikel K0 mempunyai
S=-1.

Model Peluruhan Dan Alat-Alat Lain Kaon


Terlepas dari dan model peluruhan dibahas sebelumnya, sejumlah model
peluruhan lain dari kaon dikenal. Peluruhan yang berbeda dari K -meson positif
dengan masing-masing relatif bercabang (BR) yang diberikan di atas.
29

Tiga pertama tidak melibatkan emisi setiap lepton (peluruhan non-leptonic )


sedangkan tiga terakhir peluruhan leptonic.
Dari nilai-Q , massa K+ telah ditentukan:

m(K+) = 966,078 me

m (K+) c2 = 493.668 Mev

waktu rata-rata peluruhan K+ telah diperkirakan



(K+) = 1,237 x 10-8 s

Spin-paritas K+ adalah 0-, sama dengan pion tersebut. sehingga meson


pseudoscalar seperti meson (lihat bab XVII).
Meskipun sifat peluruhan K - meson negatif belum dipelajari secara ekstensif,
karena mudah ditangkap dalam hal (seperti ) model peluruhan menjadi serupa
dengan K+ yang diberikan di atas, subjek saja, untuk mengisi konservasi .
Diukur nilai massa dan waktu yang dibutuhkan untuk peluruhan bahwa ini
sangat dekat dengan nilai-nilai yang sesuai untuk K+.

m(K-)/m (K+) = 0,999



(K-)/ (K+) = 0,999

Sehingga K- diambil menjadi antipartikel K+ : K+ = K-. Ini juga


diperkirakan dari prinsip muatan konjugasi (lihat 18.11)
Spin-paritas K- adalah 0- untuk K+
Usaha peluruhan dari K+ ditunjukkan nol muatan baryonic (lihat 18.11).
karena itu adalah interaksi kuat, pada tingkatan meson.

K-meson netral :
Disini pertama K-meson ditemukan (lihat persamaan 18.6-1). Kedua

model peluruhan yang di dapat dan . Dalam penambahan model juga
diamati, pertama dari dua non leptonic saat akhir dari peluruhan leptonic.
Keseluruhan peluruhan lemah.
0
K
Antipartikel K0 adalah . Bersamaan dari awal diartikan itu sepasang.

0
Meson adalah hanya kaon netral yang diamati dalam alam. Saat prosuksi
30

p A0 0
dalam eaksi menyerupai K0. Tetapi kedua peluruhan pion
0 ( _ ) ( 0 0 )
digambarkan atau ditunjukkan pada tidak simple nya
peluruhan K . Meson netral yang lain, diketahui K L0 dengan penjangnya relatif
0

memerlukan waktu (~10-8) dan perbedaan model peluruhan. Pilihan K mesons


0
K
netral mempunyai dua karakter. aitu partikel K0 dan menunjukkan hal yang
sama pada interaksi dengan yang lebih baik. Tetapi modes peluruhan mempunyai
perbedaan waktu agar terjadi peluruhan.
K S0 _ ; 0 0 ( 0,91x10 10 s

K L0 _ ; 0 0 0 ( 5,71x10 8 s

Akan sama dengan yang kita lihat nanti, ini penegasan penting di kekekalan CP
(lihat 18.11).

18.8 Hyperons

0
- Hyperon
Dari melihat persamaan 18.6 pertama kali hyperon ditemukan oleh
0
Roshester dan Butler dalam sinar cosmic. Semua mengetahui hyperon . Dari
0 p
analisis peroduk peluruhan ( ) di pelajari dalam ruang bergelembung
dan juga dalam emulsi nuklir, nilai Q dari proeses peluruhan menjadi determinasi

yang relative akurat. Telah ditemukan bahwa Q = 37,76 meV dan massa
ditulis :

m(
0) = 2183,16me ; m( 0)c2 = 1115,6MeV
0 n 0
Model peluruhan lainnya (Q= 39,05 MeV) adalah yang
( p )
diketahui juga dari observasi model peluruhan dalam keadan 66,3%, saat
31

( n 0 )
adalah observasi dalam keadaan 33,7%, keduanya non-leptonic. Ada
beberapa keadaan lebih dalam peluruhan leptonic (Pe Ve) dan (PV).

- Hyperon
Ada 3 tipe Hyperon yang diketahui +, - dan 0, ketiganya produksi dalam
interaksi kuat. Saat pion dalam energy tinggi atau kaon menabrak sebuah nucleon,
hyperon yang di produksi adalah :
n K 0
(18.8-
1)
K p

Sebelumnya, partikel asing di temukan dalam proses, pada bilangan


kuantum asing S = -1.
Mengikuti model peluruhan non leptonic pada perunahan sigmas adalah :
p 0
(53%), = 0,81 X 10-10s
n
(47%) (18.8-
2)
n _
(100%), = 1,48 x 10-10s (18.8-
2a)
0 sudah di prediksi secara teorikal dan ditemukan secara subtansi,
peluruhan oleh interaksi elektromagnetik.

0 ,
0 5,8 x 10-10s (18.8-
3)

(xi)
- Hyperon

hyperon sudah di temukan dari tahun 1952, itu adalah peluruhan
cascade
0 , 0 p
(18.8-
4)

0
Hyperon netral diketahui sebagai peluruhan cascade juga :
32

0 0 , 0 p
(18.8-
5)

- Hyperon
Ini adalah hyperon yang paling besar, prediksi nya di nyatakan pada dasar
dari SU3 simetri dan di temukan pada tahun 1964 merupakan teori yang sangat
penting. Ini mengikuti garis peluruhan cascade lemah.
(18.8-
0 , 0 0 0 , 0 p
6)

Chanel lainnya dari peluruhan, juga diketahui


0

0 K
(18.8-
7)

Semua hyperon yang di diskusikan di atas, semuanya lebih besar dari


nucleus, skema peluruhan hyperon di tunjukkan pada semua poin di perubahan
baranoic (lihat 18.11) dengan bilangan baryon B = 1. Merupakan setengah
integral spin dan even (+) paritas interinsik. Antipartikel pada semua hyperon
sudah di temukan.

18.9. Interaksi Fundamental di alam


Jumlah partikel elementer sejauh ditemukan sangat besar, melebihi 200.
Hanya sedikit yang stabil, seperti proton, elektron, positron, neutron dan foton.
sisanya semua tidak stabil. Beberapa waktu lama dari peluruhan lebih lama dari
waktu karakteristik nuklir. Sebagian besar peluruhan ini dengan interaksi lemah
rata-rata waktu berarti memperluas 10-13 dalam beberapa menit (dalam kasus
neutron). Seperti beberapa meson 0 dan 0 peluruhan hyperon oleh interaksi
elektromagnetik dengan rata-rata waktu ~10 -20 sampai 10-16 s. Semua partikel,
keduanya dalam keadaan lemah dan peluruhan elektromagnetik, yang disebut
semi-stabil.
Terlepas dari partikel stabil dan semi-stabil, sejumlah besar partikel yang
telah ditemukan meluruh oleh interaksi kuat dengan waktu rata-rata urutan
karateristik waktu nuklir (~10-23 s). partikel yang tidak stabil dikenal sebagai
resonansi partikel.
Untuk memahami pentingnya teori yang mendasari keberadaan seperti
sejumlah besar partikel dasar, kita akan membahas tentang interaksi pokok yang
bertindak antara partikel dasar yang semua terdiri dari materi.
33

Diketahui bahwa ada empat jenis interaksi pokok di alam, yang mengatur
perilaku dari semua sistem fisik yang dapat diamati. Ini adalah gravitasi
elektromagnetik, interaksi nuklir lemah dan nuklir kuat.
Gaya gravitasi bertindak antara semua benda yang memiliki massa. hal ini
dijelaskan oleh kebalikan hukum yang panjang jenis rentang persegi newtonian
gravitasi, kemudian broadned oleh einstein dalam teori relativitas umum, yang
describrs interaksi gravitasi dalam hal dimensi ruang. Jumlah berdimensi G me
Mp / biasanya diambil sebagai suatu contant, karakteristik interaksi ini. G
menjadi konstanta gravitasi. Interaksi gravitasi antara dua benda diyakini
dimediasi melalui kuantum dari interaksi yang disebut graviton yang belum
ditemukan. Sejauh sebagai partikel elementer yang bersangkutan, interaksi
gravitasi di antara mereka dapat sepenuhnya ditinggalkan, karena sangat lemah
dibandingkan dengan interaksi lainnya.
Interaksi elektromagnetik lebih kuat dari pada interaksi gravitasi. Ini
merupakan jenis interaksi kebalikan dari kuadrat jarak,. Kekuatannya ditentukan
e ~ 1 / 137
2
oleh konstanta struktur halus Sommerfeld / 4 interaksi
37
elektromagnetik antara proton dan electron sekitar 10 x lebih kuat dari gaya
gravitasi antara keduanya pada jarak yang sama. Dalam teori medan kuantum
modern interaksi elektromagnetik antar muatan partikel digambarkan dalam
terminology pertukaran foton yang sebenarnya merupakan besarnya medan ini.
Interaksi elektromagnetik dinyatakan dalam sifat kimia atom dan molekul,
hamburan Rutherford dan sebagainya.
Jenis ketiga interaksi mendasar adalah interaksi nuklir lemah yang
menentukan peluruhan beta nuklir dan peluruhan lemah partikel dasar tertentu
seperti muon, pion, K-meson dan beberapa hiperon. Tidak seperti interaksi
grafitasi atau interaksi elektromagnetik, interaksi lemah merupakan gaya yang
/ mw c ~ 2,4 10 18 m
rentangnya sangat pendek, yang rentangnya diberikan oleh
mw
. Disini merupakan massa W boson, yang menghubungkan gaya lemah.
g 1,4 10 62 Jm 3
Konstanta kopling interaksi lemah memiliki nilai . Jika
gw
ditunjukkan dalam bentuk dimensi konstanta interaksi lemah menjadi kecil
1
~ gw
137
dibandingkan konstanta struktur halus . Disini =
34

g / c 2 3 10 12 c c / 2 c
; ,
merupakan panjang gelombang Compton
untuk elektron. Perbandingan sifat untuk operasi interaksi lemah (~10 -10 s) dan interaksi
kuat (~10-23 s) memberikan rasio awal terhadap akhir ~10 -13. Interaksi lemah
W
dihubungkan melalui vector berat boson, dikenal sebagai dan Z0 boson ditemukan
oleh [Link] dkk menggunakan tumbukan p-p pada energi 540 GeV diperoleh dari
fasilitas SPS di Cern pada tahun 1983 (lihat bab XII). Besar massanya
m w c 2 80,9
GeV
m z c 93
2

GeV
Sifat yang penting dari interaksi lemah yang membedakan dari interaksi
mendasar lainnya adalah bahwa paritas tidak kekal pada interaksi lemah.
Di tahun terakhir ini, perkembangan yang paling penting dalam
mempelajari interaksi lemah adanya penggabungan interaksi elektromagnetik dan
interaksi lemah, yang dikenal sebagai interaksi elektro lemah (lihat sub bab
18.21).
Interaksi mendasar yang keempat adalah interaksi nuklir kuat antara
proton dan neutron, memiliki rentang pendek seperti interaksi nuklir lemah,
/ m c ~ 10 15 m
rentangnya . Dalam rentang ini yang menonjol di antara gaya
~ 0,3
lainnya antara neutron dan proton dengan sifat parameter kuat (lihat sub
~ 1 / 137
bab 17.23 pada bab XVII). Ini lebih besar dari parameter kuat dari
interaksi elektromagnetik. Waktu untuk interaksi kuat adalah urutan dari
karakteristik waktu nuklir (~10-23 s).
, 0
Gaya internukleon kuat dihubungkan melalui pertukaran pi-meson ( )
yang merupakan kuantum medan internukleon.
Sifat gaya nuklir kuat dinyatakan dalam pembentukan inti kompleks, yang telah
dibahas secara rinci sebelumnya (lihat bab II dan bab IX). Hubungan kuantitatif antara
gaya nuklir dan struktur nuklir belum sepenuhnya diketahui.
Metode penting untuk penyelidikan sifat gaya nuklir kuat adalah penelitian sifat
hiperinti dalam nukleon dalam sebuah inti yang dipindahkan oleh hiperon (lihat subbab
18.8). Hypernucleus pertama ditemukan pada tahun 1953, yaitu inti boron yang
0
neutronnya dipindahkan oleh hiperon . Hiperinti yang lainnya dihasilkan dan sifat-
35

0
sifatnya diselidiki. Misalnya inti tritium, yang meluruh berdasarkan skema


3
H 3 He Q 41,5
untuk MeV.
Sumber lain informasi tentang sistem ini adalah melalui studi atom luar biasa

dalam hiperon ditangkap oleh medan listrik dari inti. Karena besar massa sigma,
orbitnya sekitar inti memiliki jari-jari yang kecil. Pengukuran energi sinar X yang
dipancarkan selama transisinya dari satu orbit ke orbit yang lainnya memberikan
informasi penting tentang interaksi.
Seperti yang kita lihat sebelumnya, proton dan neutron dipercaya memberikan
sesuatu yang lebih mendasar dikenal sebagai quarks. Dalam analisis terakhir, gaya nuklir

kuat dipercaya dihubungkan melalui pertukaran jumlah massa spin dikenal sebagai
gluons antara quarks (lihat subbab 18.16). Baik quarks maupun gluons telah diteliti pada
keadaan bebas sebelumnya.
Pada tabel 18.1 ditunjukkan kekuatan relative dan sifat lainnya dari jenis interaksi
mendasar yang berbeda.
Tabel 18.1
Interaksi Kekuatan relative Ukuran Pergantian Kuantum
Kekuatan Internukleon 1 10-15 m Pion*
Elektromagnetik 10-1 Ukuran Panjang Photon
Nukleon lemah 10-13 10-18m W, Z0 boson
-37
Gravitasi 10 Ukuran Panjang Graviton

18.10 Klasifikasi Partikel Dasar


Seluruh partikel dasar dikelompokkan dalam tiga kelas, baryon, meson
dan lepton. Karakteristik utama dari dua yang pertama adalah bahwa partikel
tersebut mengalami interaksi nuklir kuat. Partikel seperti itu disebut hadron.
Lepton di sisi lain tidak mengalami interaksi nuklir kuat. Partikel tersebut untuk
interaksi nuklir lemah. Partikel yang termasuk dalam semua kelompok sudah
tentu mengalami interaksi gravitasi, jika partikel tersebut memiliki massa. Di
samping itu, muatan partikel dalam semua kelompok mengalami interaksi
elektromagnetik.
Baryon : meliputi nukleon (proton dan nukleon) dan hiperon, yang meliputi
0 , , 0 , , 0
hiperon dan dan anti partikelnya. Meraka adalah partikel asing.
Keadaan bilangan kuantum S adalah kekal selama produksi dengan interaksi kuat.
Namun, S tidak kekal dalam saat peluruhan lemah oleh partikel tinggi. Dalam peluruhan
0
elektromagnetik (sama dengan ) S adalah kekal.
36

Semua hyperons lebih besar dari nucleon. Yang penting bahan-bahan yang
dibahas dalam 18.8 dan dilihat di tabel 18.2
Baryon mempunyai spin setengah integral dan keadaan seimbang. Itu adalah
fermion, mematuhi statistic Fermi-dirac.
Semua baryon berkumpul oleh sebuah pertukaran baryonic (bilangan barion) B
= 1, dimana kekekalan dalam produksi dan peluruhan.
Dipercaya pada dampak bilangan baryon dalam alam adalah kualitas kekekalan.
Antibaryon mempunyai B = -1 jadi produksi baryon-antibaryon tidak memberikan efek
pada bilangan baryon.
Kita harus diskusi tentang struktur quark dari baryon 18.16.
Mesons: ini berada pada kelas hadron, dengan jumlah barionik B = 0. Meson

, (K , K 0 ) 0 (D , D 0 )
masuk dalam pion ( , kaons , dan . Pada kaons adalah

0 0
partikel kuat dengan S = 1. Non-starange diam (S = 0). peluruhan dan oleh
interaksi elektromagnetik. Diam saat peluruhan lemah.
Dalam pembahasan bab XVII, pion adalah kuantum medan nucleon kuat. Semua
mesons mempunyai spin keseimbangan yaitu 0 -. Termasuk boson mematuhi statistik
bose-einstein. D mesons lebih besar dari nucleon. Lainnya lebih terang dari nukleon.
Yang penting bahan-bahan mesons lihat ditabel 18.2 beberapa sudah dibahas
dalam 18.17.
Leptons : adalah interaksi partikel lemah dengan bilangan barion B = 0. Muatan
leptons juga ditunjukkan pada interaksi elektromagnetik. Semua bukti-bukti pada
kenyataan leptons tidak berada pada struktur internal dan jenis partikel. Mereka
diperlakukan lebih mendasar dari hadron yang mempunyai struktur internal (quark
struktur). Leptons dan quarks sepertinya sama tingkatannya dengan dasar.
_
Terlepas dari sepasang elektron positron (e+e -) dan , ketiga tipe lepton,

diketahui lepton atau tauon telah ditemukan sejak 1974-1975, keduanya di dapat
_
dan , dimana jenis lain dari anti partikel, mereka lebih besar dari nucleon.
Jenis tipe lepton hampir sama atau sejenis dengan neutrino, atau electron
neutrino (Ve) muon neutrino (V) dan tauon neutrino (V). Kesemuanya adalah
probalilitas massa nol partikel.
Pembentukan muatan leptons dengan neutrino (neutral) dapat dipercaya
membangun hukum empiris muatan leptonic (leptop number). Tiga tipe bilangan
lepton le, l dan l, ketiganya mempunyai nilai +1 untuk laptons dan -1 untuk
antileptons. Dari reaksi ini disertai leptons, tiga perbedaan bilangan lepton harus
e
+
di pisahkan, le antara electron dan e neutrino dan antipartikel (e dan )
37

Tabel 18.2
38
39
40
41

18.11 Hukum kekekalan


Kejadian dalam semua peristiwa fisika berkenaan dengan hukum
kekekalan. Misalnya hukum kekekalan energi, kekekalan momentum, kekekalan
momentum sudut, dan kekekalan muatan listrik dan lain-lain. Dalam kasus reaksi
yang melibatkan partikel elementer, beberapa hukum kekekalan lainnya, selain di
atas, diyakini terus, dalam rangka untuk menjelaskan terjadinya proses non fisik
tertentu, meskipun ini mungkin tidak melanggar hukum kekekalan yang lebih
dikenal dikutip di atas.
Sebagai contoh, pada kasus peluruhan radioaktif neutron berdasarkan
+ ve
skema reaksi n 0
n p+ e . Tetapi, proses + v tidak diamati, meskipun

proses tersebut tidak melanggar hukum kekekalan. Persamaan peluruhan


++

berdasarkan proses + e , tetapi proses tersbut tidak diamati, meskipun tidak

melanggar hukum kekekalan.


Perbedaan prinsip kekekalan adalah hubungan hukum fisika yang berbeda
tipe untuk operasi simetri. Tetapi, operasi simetri berhubungan dapat diamati
dengan hukum kekekalan tidak mudah dipahami.
(a) Hukum kekekalan energi
Ini berlaku untuk semua interaksi. Hukum ini berhubungan dengan semua
jenis interaksi. Hukum ini berdasarkan gerak translasi pada sumbu x (dengan
waktu yang homogen). Artinya, hukum ini hanya untuk interaksi yang tidak
dipengaruhi waktu dalam proses pengukurannya.
(b) Hukum kekekalan momentum linear
Ini yang berhubungan dengan semua jenis interaksi. Hukum ini
berdasarkan gerak translasi dalam jarak, oleh karena itu hukum ini tidak
tergantung pada pengukuran jarak, karena jaraknya semua sama. Sehingga,
dalam mekanika klasik, ditulis dengan persamaan Hamilton kononik yaitu:
H H
=qi , =pi
pi qi (18.11-

1)
Dimana qi dan pi adalah koordinat umum dan H adalah Hamilton untuk sebuah
pi
nomor partikel yang berinteraksi. Jika momentum tumbukan konstan, =

H
0. Maka qi = 0 dan Hamiltonian adalah terjemahan invariant (sepanjang

qi). Dimana qi diasumsikan sebagai koordinat linear.


42

Hasil di atas dapat dengan mudah ditransfer ke sistem mekanika kuantum.


Kita mengetahui bahwa nilai kuantitas fisika ekspektasi (harapan) diberikan
oleh
^ d

(18.11-
2)
Dimana ^ adalah mewakili operator besarnya . Dari mekanika kuantum
rumus Heinsenberg, dapat kita tulis
d ^ i ^
= [ H , ^ ] (18.11-
dt

3)
[^
H , ^ ] ^ ^
H
Dimana adalah operator pengganti dengan adalah

d ^
=0
Hamiltonian. Jika adalah sebuah gaya konstan, maka dt dan

^
H ^ = ^ ^
H . Jadi Hamiltonian tidak terpengaruhh oleh (i.e.,
diperoleh
^
invariant dari) operasi oleh ^ , dan H diganti dengan ^ :
H

]=0 (18.11-
^
3a)
Jika momentum linear p, maka operator koresponden adalah
^p = - i

^
H
Dari yang kita ketahui, Hamiltonian adalah invariant dibawah

operasi jika p = konstan. Dalam konteks lain, H tidak dipengaruhi oleh


jarak.
(c) Hukum kekekalan momentum sudut
Hukum ini merupakan hukum validitas umum untuk semua jenis interaksi.
Hukum ini berhubungan dengan hukum fisika tentang rotasi. Dari persamaan
Hamiltonian dalam mekanika klasik, koordinat sudut disimbolkan dengan i
dan momentum sudut Li. Dalam mekanika kuantum, momentum sudut
disimbolkan J harus bolak-balik dengan H jika tidak ada medan eksternal
43

H

hadir: ] = 0 .Operator momentum sudut (tentang sumbu z) diberikan
^
oleh
^Lz =i

Oleh karena itu, jika momentum sudut adalah gerakan konstan (dLz/dt = 0)

maka H invarians sisa di bawah operasi (rotasi dalam ruang).

Perlu dicatat bahwa momentum sudut total dilestarikan. Momentum sudut


orbital dan spin mungkin tidak secara terpisah dilestarikan.
(d) Hukum kekekalan paritas
Hukum kekekalan paritas merupakan hukum interaksi elektromagnetik
dan nuklir kuat, tetapi dilanggar dalam interaksi lemah. Hukum ini merupakan
inversi koordinat ruang, jadi x, y, z diganti dengan x, -y, -z. Ini sama dengan
refleksi dikombinasikan dan rotasi. Hukum-hukum fisika tidak bergantung
pada ruas kiri atau kanan dari sistem koordinat.
Persamaan (18.11-3a) menunjukkan bahwa untuk paritas yang
dipertahankan, maka operator paritas harus sebanding dengan Hamiltonian, di
dapat:
^ =^
^p H H ^p
Kita bisa melihat pada Bab 11 pada bagian I bahwa bahwa paritas spasial
tergantung pada momentum sudut orbital dan diberikan oleh P = (-1)l di mana
l adalah bilangan kuantum azimut (lihat 2.9 di Bab 2). Dengan demikian
keadaan l memiliki paritas (P = +1), sementara daerah l ganjil memiliki paritas
ganjil (P = -1).
Ini mengikuti dari kenyataan bahwa dua operasi berturut-turut membawa
sistem kembali ke keadaan awal sehingga P2 = 1 yang memberikan dua nilai
^
eigen yang mungkin 1 untuk P .
Jika (r) = (x, y, z) merupakan fungsi gelombang dari keadaan sistem,
maka kita memiliki hasil sebagai berikut:
Untuk daerah paritas genap, (-r) = + (r)
Untuk daerah paritas ganjil, (-r) = - (r)
Oleh karena paritas dipertahankan dalam interaksi elektromagnetik dan
nuklir kuat yang merupakan nomor terbaik kuantum dan merupakan sebuah
paritas keadaan eigen.
44

Jika perlu dicatat bahwa paritas operasi simetri diskrit respresnt simetri
(refleksi dan rotasi hingga 1800) tidak seperti simetri bawah perubahan sangat
kecil tersirat dalam tiga kasus sebelumnya (a ke c).
Dalam kasus untuk sebuah partikel elementer, konsep paritas memberikan
definisi yang lebih luas. Setiap partikel dengan massa tidak nol mempunyai
paritas intrinsik yang dapat menjadi +1 atau -1. Oleh karena itu, paritas total
sebuah sistem untuk partikel n menghasilkan paritas intrinsik dan orbital (-1)1
yang dapat ditulis dengan 1 2 3 . . . n(-1)1.
Paritas intrinsik dari proton, neutron dan elektron yang diambil untuk
menjadi lebih. Kemudian paritas intrinsik dari partikel dasar lainnya adalah
tetap, relatif terhadap paritas intrinsik dari nukleon. Paritas intrinsik dari pion
(, 0) aneh (lihat 18.13).
Paritas partikel biasanya ditunjuk oleh simbol (+) untuk genap atau (-)
untuk bilangan ganjil, ditulis sebagai superscript atas momentum sudut total
demikian: (Jp). Sebagai contoh, untuk nukleon kita menulis (Jp) = (1/2+), untuk
pion (Jp) = (0-).
(e) Hukum kekekalan muatan
Kata charge digunakan dalam makna yang lebih luas dalam partikel
elementer. Sebagian dari harga kelistrikan Q, didefinisikan sebagai harga
baryonik B untuk setiap baryon dan besarnya leptonik l untuk setiap lepton*.
Dimana B = +1 untuk baryon-baryon dan -1 untuk antibaryon. Untuk partikel
lain (meson, lepton) B = 0. Kesamaan l = 1 untuk lepton dan antilepton,
ketika baryon dan meson l = 0.
Sebenarnya ada tiga jenis muatan leptonic le, l, dan l terkait dengan tiga
kelompok lepton (lihat 18,10).
Muatan listrik Q kekal dalam interaksi semua. Hal ini terkait dengan
invarian mengukur medan elektromagnetik.
(f) Hukum kekekalan muatan paritas (paritas-C)
Hukum kekekalan ini berhubungan dengan besarnya invariant konjugasi
operasi C dalam seluruh partikel yang ditransformasikan ke dalam
antipartikel. Besarnya konjugasi yang dimaksud adalah kebalikan tanda semua
jenis harga (elektrik, baryon, dan lepton). Prinsip konjugasi menerapkan tidak
hanya pada besarnya partikel, tetapi juga pada partikel netral. Oleh karena itu,
neutrino yang elektriknya netral mempunyai antipartikel (anti-neutrino) yang
berbeda dari pembentukannya, besarnya lepton mempunyai dua kesamaan
dan perbedaan. Jadi berinteraksi secara berbeda dengan zat penyusunnya.
Di sisi lain, beberapa partikel seperti meson 0, foton, meson 0, partikel
J/ dan meson yang mana semua jenisnya berbeda mempunyai harga nol (Q
= 0, B = 0, l = 0) harus dapat diidentifikasikan dengan antipartikelnya.
Contoh lain dari sistem yang benar-benar netral adalah positronium di
mana sebuah elektron dan positron terikat bersama untuk membentuk
hidrogen seperti struktur (lihat 6.6).
45

Partikel-partikel yang benar-benar netral memiliki paritas C tertentu yang


dapat menjadi lebih (+) atau ganjil (-). Karena medan elektromagnetik ketika
semua elektron digantikan oleh positron, fungsi gelombang foton harus
mengubah tanda di bawah konjugasi muatan sehingga C aneh untuk foton.
Kesamaan paritas C untuk J/ dan meson adalah
C/ > = - >, CJ/ > = -J/ >, C > = - > (18.11-
4)
0
Jika diam dalam dua foton, paritas C harus menjadi genap. Ini juga terjadi
seperti pada kasus meson 0 (lihat sebagai berikut:
C0 > = 0 >, C 0 > =0 > (18.11-
5)
C bilangan kuantum tidak memiliki arti untuk partikel bermuatan seperti
: C +> ->. Demikian pula jumlah kuantum tidak memiliki arti bagi
negara B 0.
Interaksi nuklir elektromagnetik dan kuat yang lain di bawah C. Namun,
interaksi lemah tidak invarian dalam C yang dapat disimpulkan dari asimetri
dalam peluruhan kerusakan 60Co (lihat Bab V).

(g) Hukum kekekalan T


Kekekalan ini berhubung dengan invariansi waktu pembalikan. Operasi T
artinya mengubah waktu t menjadi t dalam semua persamaan gaya. Refleksi
dari sumbu waktu pada waktu asal koordinat (dalam relativistik kontinum
ruang-waktu). Dengan demikian perubahan diskrit seperti operasi paritas.
Oleh karena itu, sebuah dikrit yang berubah seperti pada operasi paritas.
Operasi waktu pembalikan mengandung pembalikan tanda pada kasus
momentum (p = dr/dt) dan momentum sudut (L = r x p). Selanjutnya, T juga
merupakan bentuk fungsi gelombang untuk konjugasi yang lebih kompleks.
Jika invariansi waktu pembalikan dilakukan (jika T dilestarikan), maka
waktu pembalikan persamaan gaya juga merupakan sebuah persamaan gaya
untuk sistem. Oleh karena itu, dapat diperoleh fungsi gelombang rev (t) = *
(-t) yang merupakan persamaan Schrodinger sebagai invariansi waktu
pembalikan.
(h) Teorema CPT
Menurut teorema ini, yang lebih dikenal dengan teorema Luder-Pauli
bahwa semua interaksi dalam alam adalah invariant oleh kombinasi sebuah
harga konjugasi (C), inverse koordinat ruang pada permulaannya (paritas p)
dan pembalikan waktu (T). Ketiga macam persamaan tersebut tidaklah
berhubungan. Invarian CPT mengimplementasikan bahwa jika interaksi tidak
invariant untuk satu jenis operasi (C, P, atau T), akibatnya harus
diseimbangkan dengan mengkombinasikan akibat dari dua operasi lain.
46

Selama ini, semua bukti menunjuk ke validitas universal dari teorema


CPT. Namun demikian, penemuan pelanggaran CP telah membuka pertanyaan
pelanggaran CPT. Hal ini diyakini bahwa kemungkinan CPT pelanggaran, jika
0
ada, dapat diamati dalam sifat-sifat meson K0 dan K .
(i) Pelanggaran invariansi CP
Jika waktu pembalikan invariansi dilakukan dengan teorema CPT, maka
invariansi CP harus dilakukan. Tetapi, menurut penemuan J. Chistensen, J.
Cronin, V. Fitch dan B. Turby tahun 1964 bahwa ada kecil invariansi CP
tetapi, definisi pelanggaran invariansi CP dalam peluruhan lemah untuk meson
KL0 dalam dua pion (+ - atau 00).
Karena semua tuduhan yang K0 adalah nol (Q = 0, B = 0, l = 0), harus
berperilaku seperti partikel konjugat diri. Satunya perbedaan mereka dari
0
antipartikel yang K terletak pada perbedaan keanehan mereka (S = 1

K ) yang tercermin dalam produksi mereka


0
untuk K0 dan S = -1 untuk
dengan interaksi kuat.
Untuk menentukan sifat operasi CP, maka harga konjugasi C membentuk
0
K0 ke dalam K ketika operasi paritas (P) membuatnya mengubah tanda
pada fungsi gelombang, karena kaon memiliki keasingan paritas intrinsic
0
(lihat Tabel 18.2). Oleh karena itu, dapat ditulis CK 0> = K dan PK0>
0
= - K0 yang memberikan CPK0 > = - CK0> = - K >. Kesamaan
0
CP K > = - K0>. Jika ditulis dua keadaan Ks0 dan KL0 sebagai berikut

|K >|K >
0 0

1
K 0S (18.11-
2

6)
|K 0 >+|K 0 >
1 (18.11-
K 0L
2
7)
0 0
Kita dapatkan CP K S > =+ K S > (18.11-
8)
47

0 0
dan CP K L > =- K L > (18.11-
9)
Oleh karena itu Ks0 adalah partikel CP genap, dimana KL0 adalah partikel
asing.
Jika invarian CP tetap yaitu, jika CP memiliki nilai tertentu, maka Ks0 dan
KL0 tidak dapat berubah menjadi satu sama lain sendiri.
Modus dominan Ks0 adalah proses dua pion (+ - atau 0 0). Ini konsisten
dengan fakta bahwa dua pion sistem seperti 0 0 (untuk l = 0) memiliki CP
bahkan (+1), 0 menjadi diri konjugat (C = 1) sedangkan P = -1 untuk setiap
0. Demikian pula dominan tiga pion peluruhan mode KL0 (0 0 0 atau + -
0) adalah consident dengan CP aneh untuk sistem pion tiga.
Percobaan Christensen dan kawan-kawan menunjukkan bahwa 0,2% kasus
partikel K 0 meluruh dengan dua bentuk pion K 0 0 0. Hal ini berarti
L L

hanya sebagian kecil pelanggaran CP dalam interaksi lemah.


(j) Hukum kekekalan isospin
Konsep isospin diperkenalkan dalam 2.13 Bab II dan 17.18 Bab XVII
dalam kasus nukleon dan sistem dari dua nukleon. Ide isospin berasal dari
muatan bebas atau invariance isotop gaya nuklir (lihat 17.17) yang
mengharuskan kita untuk menganggap neutron dan proton sebagai daerah
muatan yang sama seperti nukleon.
Kita mengambil isospin nucleon menjadi I = dengan dua komponen I 3 =
untuk proton dan I3 = - untuk neutron, sehingga diperoleh:
Q = (1 +2I3) (18.11-
10)
Catatan dalam menggunakan symbol I untuk isospin dalam T digunakan
lebih jelas. Hal ini adalah latihan bersama dalam fisika partikel. Isospin
diperoleh sebagai berikut:
M = 2I + I (18.11-
11)
Dengan M = 2 untuk nucleon, bersesuaian untuk proton dan neutron.
Dua nukleon yang berbeda dengan I3 yang keadaan memburuk dalam
keberadaannya dalam interaksi inti kuat. Keseimbangan telah hancur dengan
interaksi elektromagnetik yang membuat energi dalam dua keadaan (massa
proton dan neutron) yang hampir tidak ada perbedaan. Spin intrinsik dan
paritas ( +) adalah sama.
Jadi l kekal dalam interaksi yang kuat, tapi tidak dalam interaksi
elektromagnetik. Konservasi isospin yang berkaitan dengan invarian H bawah
rotasi sumbu di ruang isospin hipotetis, yang dengan demikian diasumsikan
bersifat isotropik. Hal ini menyiratkan bahwa H harus bolak-balik dengan I:
[H, I] = 0.
48

Dalam analogi dengan kasus nukleon, kita dapat memperkenalkan konsep


isospin untuk kelipatan partikel lainnya sangat berinteraksi memiliki massa
hampir sama. Karena properti simetri interaksi elektromagnetik, energi (yaitu,
massa) dari negara-negara berbeda muatan dengan I3 yang berbeda (sama
saya) berbeda. Contoh multiplet isospin tersebut adalah pion (+, 0, -)
dengan I = 1, I3 = +1, 0, -1 masing (M = 3); kaons (K+, K0) dengan I = , I3 =
+1/2, -1/2 masing-masing (M = 2), sigma hyperons (+, 0, -)dengan I = 1, I3
= +1, 0, -1 masing (M = 3). Contoh lain akan ditemukan di Tabel 18.2.
Jika multiplet partikel hanya memiliki satu partikel yang sesuai I = 0 dan I3
0
= 0. Contohnya adalah hyperon, 0 meson dll.
Seperti yang akan kita lihat nanti, partikel resonansi, yang dianggap
sebagai keadaan tereksitasi dari baryon dan meson, juga membentuk multiplet
isospin. Ini biasanya memiliki keanekaragaman isospin sama dengan partikel
yang sesuai dalam keadaan dasar mereka. Sebuah contoh dari quadruplet
isospin (M = 4) dengan I = 3/2 adalah - resonansi, yang dapat eksis di empat
negara berikut muatan:
++, +, 0, - dengan I3 = +3/2, +1/2, -1/2 dan -3/2 masing-masing (lihat
Gambar 18.13). Contoh lain diberikan pada Tabel (18.2).
(k) Hukum kekekalan keasingan (strangeness)
Ide keanehan dijelaskan dalam 18.6. Seperti yang dinyatakan
sebelumnya ide ini pertama kali diusulkan oleh Abraham Pais (1952) dan
kemudian lebih lengkap dikembangkan oleh M. Gell-Mann dan K. Nishijima
(1953).
Sebuah keasingan kuantum S digunakan untuk mendeskripsikan sifat
keasingan untuk menentukan keluarga partikel (partikel asing) dengan
pendahuluan interaksi kuat dan peluruhan interaksi lemah. Ketidakkonsistenan
dalam sifat partikel ditetapkan dengan penemuan produksi yang berkaitan.
Keasingan dipertahankan dalam interaksi kuat tetapi tidak dalam interaksi
lemah seprti meson K, hiperon dan lain-lain.
Hubungan antara sebuah partikel Q dan keasingan S sebagai berikut:
Q=I 3 +
[ ]
B+ S
2 (18.11-

12)
Dimana I3 terdiri dari tiga komponen untuk isospin I dan B adalah nomor
baryon. Oleh karena itu, meson K+ dengan B = 0, S = +1, Q = +1 diperoleh I 3
= + . Disisi lain K0 ketika Q = 0, I3 = - . Oleh karena bentuk K+ dan K0
sebuah isospin ganda dengan I = . UNtuk ketidakasingan baryon, proton atau
neutron B = 1, S = 0, jadi Q = I 3 + B/2 = I3 + yang membutuhkan I3 = +
(atau ) untuk membuat Q = +1 (atau 0). Kita definisikan Y sebagai
49

Y= B+S (18.11-
13)
Dimana Q = I3 + Y/2 (18.11-
14)
Dimana B dan S dipertahankan dalam interaksi kuat, dan Y juga
dipertahankan. Aturan S = 0, 1 dipatuhi dalam peluruhan lemah semi stabil
untuk partikel yang asing. Contoh:
0 0+ (S = 0)
+ p+ 0
(S = +1)

0 0 + 0 (S = +1)

0+ (S = +1)


0+K (S = +1)


n+
Tetapi peluruhan tidak diobservasi. Dalam Tabel 18.3

ditunjukkan jumlah variasi yang dipertahankan atau selain itu (ya atau tidak)
dalam jenis interaksi yang berbeda.
Tabel 18.3
Besaran Kuat Elektromagnetik Lemah
Energi dan momentum (E, p) Ya Ya Ya
Momentum sudut (J) Ya Ya Ya
Paritas (P) Ya Ya Tidak
Isospin (I) Ya Tidak Tidak
Komponen ketiga (I3) Ya Ya Tidak
Konjugasi muatan (C) Ya Ya Tidak
Pembalikan waktu (T) Ya Ya Tidak
CP Ya Ya Ya
CPT Ya Ya Ya
Nomor baryon (B) Ya Ya Ya
Nomor Lepton (l) Ya Ya Ya
Muatan (Q) Ya Ya Tidak
Keasingan (S) Ya Ya Tidak
Muatan besar (Y) Ya Ya Tidak
50

Lemah (c)

18. 12 Anti nukleon


Keberadaan anti partikel yang diramalkan teori mekanika kuantum dari
relativistik elektron telah ditemukan oleh P.A.M Dirac pada tahun 1928 (lihat
6.5, Bab VI). Selanjutnya, antielektron atau positron yang diramalkan oleh Dirac
ditemukan pada sinar kosmik. Sebagaimana pada nilai operasi konjugasi C pada
fungsi gelombang partikel dan antipartikel yang dihasilkan. Jadi, semua partikel
yang ada di alam harus memiliki antipartikel.
Dalam kasus partikel konjugasi itu sendiri (yaitu o, o) yang partikel dan
antipartikel adalah identik. Berbagai jenis nilai (Q, B dan l untuk anti partikel
yang berlawanan dari mereka untuk partikel yang mempunyai massa identik,
peluruhan seumur hidup, spin, dan isospin). Momen magnetik memiliki nilai yang
sama tetapi berlawanan tanda untuk sebuah partikel.
Antiproton: antinukleon pertama yang ditemukan oleh Chamberlain,
Segre, Wiegand, dan T. Ypsilantis pada tahun 1956 dengan menggunakan 6 GeV
proton sinkrotron Berkely. Karena proton dan antiproton (p dan p ) berinteraksi
dengan partikel, maka pemusnahan bersama dapat menghasilkan pasangan
Hadron dan antihadron. Sebaliknya, tumbukan p - p pada energi tinggi dapat

menghasilkan sebuah pasangan p - p sesuai susunan berikut ini:

p+ p p+ p+ p+ p (18.12-1)

Maka nilai Q dari reaksi ini adalah


Q = - 2 Mp = - 2 x 0,939 = - 1,978 GeV.
Hasil eksperimen Chamberlain ditunjukkan pada Gambar 18.5a sebagai berikut:
51

Gambar 18.5 (a) Susunan eksperimen untuk penemuan antiproton

Proton 6 GeV, balok dari Bevatron jatuh pada T tembaga target yang
menghasilkan pasangan p p sesuai dengan skema (18.12-1). Karena
bermuatan negative, antiproton mengikuti jalur yang berlawanan
kelengkungannya relative terhadap proton di bidang Bevatron magnet dan keluar
dari kawasan target bersama dengan pion yang telah dihasilkan di target. Kedua
magnet M1 dan partikel M2 dari sebuah momentum tertentu dan pion yang
nampak memiliki kecepatan 0,99 c. Sementara antiproton memiliki kecepatan
0,78 c. Apabila S1, S2, dan S3 adalah bidang, sedangkan C1 dan C2 adalah dua
Cherenkov counter. Dimana C1 hanya mendeteksi partikel dengan kecepatan di
atas 0,79 c sehingga pion dapat dicatat olehnya. C 2 mendeteksi partikel dengan
kecepatan antara 0,75 c dan 0,79 c sehingga hanya antiproton yang dapat
terdeteksi.

Gambar 18.5 (b) Susunan eksperimen untuk pendeteksi antineutron


Jarak antara S1 dan S2 adalah 12 m. Pion membutuhkan waktu sekitar 40
ns (40 x 10-9 s) untuk melewati lintasan ini. Sementara antiproton membutuhkan
waktu sekitar 15 ns. Apabila S1, S2, S3, dan C2 terhubung dengan kebetulan,
sedangkan C1 tidak secara kebetulan. Jadi pion (terdeteksi oleh C1) tidak
menghasilkan pulsa secara kebetulan. Hanya yang kebetulan yang dihasilkan oleh
52

antiproton bisa terdeteksi oleh pengaturan ini. Merekam pulsa kebetulan ini
memberikan indikasi pasti tentang produksi antiproton.
Agar lebih pasti, antiproton diizinkan untuk masuk ke dalam bilik
gelembung (ruang emulsi) dimana mereka dimusnahkan dengan cara interaksi
dengan proton untuk menghasilkan beberapa pion (5 10) nukleon dan kaon.
p p pion+ n ukleon+ kaon

Sebagian pion adalah produk pokok, selanjutnya interaksi dengan nucleon


menghasilkan produk sekunder lain.
Antineutron:
Antineutron pertama kali diidentifikasi oleh Cork, Lambarton, Piccioni,
dan Wentzel pada tahun 1956. Pengaturan eksperimental ditunjukkan pada
Gambar 18.5 (b) dimana sinar antiproton yang dihasilkan dalam target berilium
oleh sinar proton 6,2 GeV dari Berkeley Bevatron diperbolehkan melewati
sintilator pertama S1 untuk memasuki converter (LS) yang merupakan sintilator
cair yang diamati empat pengali foto.
Yang pertama sintilator S1 mendeteksi antiproton berasal dari Bevatron,
yang memastikan bahwa hal ini mengikuti program yang tepat. Kemudian masuk
ke converter LS dimana mereka seharusnya dimusnahkan dengan proton untuk
menghasilkan sejumlah meson , meson K, dan kuanta dengan melepaskan
energi dari 1,88 GeV atau menghasilkan antineutron yang didapat dari pertukaran
muatan reaksi p p n +n . Pulsa pemusnahan yang kuat telah didaftarkan
pengganda pengubah foto. Antineutron menghasilkan pulsa dengan ukuran sama
dengan energi yang dilepaskan sebesar kurang dari 50 MeV.
Kilau Penghitung S2 mendeteksi partikel bermuatan yang dihasilkan oleh
penghancuran p di konverter, sedangkan S mendeteksi sinar yang
3

dihasilkan dalam proses yang sama dan konverter ke partikel bermuatan di blok
utama antara S2 dan S3.
Ketika S2 mendeteksi partikel bermuatan yang dihasilkan oleh
penghancuran dalam pengubahan, sedangkan S3 mendeteksi sinar yang
dihasilkan dalam proses yang sama dan diubah menjadi partikel bermuatan diblok
antara S2 dan S3.
Antineutron dan antiproton merupakan sepasang isospin, seperti sepasang
n p sehingga I = bagi mereka dengan I 3 = + dan - . Nilai I3 hanya
berlawanan dari partikel-partikel yang sesuai. Untuk p dan n memiliki
nomor baryon B = -1, spin S = dan paritas P = -1. Massa partikel sama dan
sesuai. Demikian pula kehidupan rata-rata untuk n adalah sama dengan n.
Skema peluruhannya adalah
53

+ +v e
n p + e

Antiproton seperti proton stabil. Antiproton telah digunakan untuk


berbagai percobaan, misalnya produksi boson W+ dan vektor Z0 di cincin collider
p p .

Antinuclei:
Antinuclei memproduksi pertama kali antideutron pada tahun 1965 dengan
menggunakan 30 GeV akselerator Brookhaven di Amerika. Antideutron dideteksi
dengan spectrometer massa yang melekat pada target berilium. Inti dari
antideuterium terdiri dari antiproton ( p dan antineutron ( n . Ini memiliki

muatan Z = -1, nilai baryonic B = -2 dan M ( d = M (d), karena jumlah inti
yang dihasilkan sangat kecil dan sifat-sifat lainnya tidak dapat dilakukan.

Dua antinuclei yaitu 3 H e dan 3 H telah dihasilkan oleh sekelompok
ilmuwan Rusia dengan menggunakan akselerator Serpukov pada tahun 1970 dan
1973. Tingkat produksi antinuclei terbenam cepat dengan meningkatkan massa.
Sebelum antinuclei diidentifikasi, ada spekulasi bahwa mungkin ada
antidunia berisi antimateri yang terdiri dari antiatom yang merupakan konjugasi
dari atom di dunia. Namun, ada beberapa alasan untuk percaya bahwa dari jumlah
yang sama dari materi dan antimateri diproduksi awalnya dalam ledakan mula-
mula (big bang) yang terjadi selama 10-38 S pertama penciptaan, karena perbedaan
yang dikenal sangat sedikit pada peluruhan materi dan antimateri yang merupakan
hasil dari kenyataan bahwa operasi gabungan konjugasi muatan dan paritas yaitu
operasi CP (lihat 18.11i)dilakukan tidak cepat.

18.13 Paritas intrinsik pion


Kita tunjukkan pertama kali bahwa paritas intrinsik - dan 0 adalah sama.
Hal ini dapat ditunjukkan pada reaksi berikut
0 0
+ p n+ , 2
(18.13-

1)
+ p n+
(18.13-

2)
Penangkapan - oleh proton terjadi di kulit K dari atom pion (L = 0) karena
kedekatannya dengan inti. Hal ini dikarenakan S dan Sp juga - dan p adalah 0
dan . Momentum sudut dari awal bagian adalah J = dimana J = L + S. Pada
54

keadaan akhir reaksi (18.13-2) ketika S n = dan S = 1 dan juga Lf = 0 untuk


menjaga momentum sudut total. Jadi transisi diperbolehkan L i = 0 sampai Lf = 0
karena probabilitas yang sama dari dua reaksi sehingga reaksi (18.13-1) juga
diperbolehkan. Jadi keadaan akhir (n +0) dalam reaksi ini harus memiliki Lf = 0,
sehingga ruang paritas (- + p) dan (n +0) adalah sama (genap). Karena p dan n
diasumsikan memiliki paritas intrinsik yang sama, maka paritas intrinsic - dan 0
harus sama.
Selanjutnya mempertimbangkan pengambilan - oleh deuteron:
+ d n+n


(18.13-

3)
Dalam hal ini juga - penangkapan berlangsung di orbit Li = 0 dari atom
pion. Jadi paritas spasial keadaan awal adalah genap, juga paritas dari ground
state deuteron adalah genap. Jadi total paritas keadaan awal ditentukan oleh
paritas -.
Sejak S = 0 dan Jd = 1, momentum sudut total keadaan awal adalah J i = 1.
Dalam keadaan akhir (n + n) bagian-bagian berikut ini diperbolehkan oleh prinsip
Pauli.
Daerah dalam: 1S0, 1D2, 1G4 dan seterusnya. Dengan L = 0, 2, 4, dan seterusnya.
Daerah kelipatan tiga: 3P012, 3F234, 3H456 dan seterusnya. Dengan L = 1, 3, 5, dan
seterusnya.
Untuk kelompok pertama, fungsi spin aneh, sedangkan fungsi spasial
bahkan, sehingga fungsi gelombang total bahkan, sehingga fungsi gelombang
total aneh, seperti yang diwajibkan oleh prinsip Pauli, karena neutron adalah
fermion. Untuk kelompok kedua, fungsi berputar bahkan, sedangkan fungsi
spasial yang aneh, sekali lagi membuat fungsi gelombang keseluruhan aneh.
Untuk menghemat momentum sudut total, keadaan akhir harus 3P1 yang
berarti L = 1 untuk keadaan akhir, memberikan ruang paritas ganjil, karena
neutron bahkan paritas intrinsik diasumsikan dari total paritas keadaan akhir harus
ganjil.
Jadi kekekalan paritas mensyaratkan bahwa - harus memiliki paritas
intrinsik ganjil. Untuk 0 juga merupakan intrinsik paritas ganjil. Hal ini
diasumsikan dengan + dengan antipartikel dari - harus memiliki paritas intrinsik
ganjil.

18.14 Resonansi partikel


Partikel stabil dan semi stabil sudah dibahas sebelumnya. Terlepas dari
partikel stabil dan semi stabil, partikel lainnya telah ditemukan mempunyai massa.
Hal ini berarti sebanding dengan waktu intrinsik nuklir, yang merupakan waktu
yang diambil oleh pion untuk melakukan perjalanan melewati proton (~ 4 x 10 -24).
55

Ini dikenal sebagai partikel resonansi yang umur hidup mereka terlalu pendek jika
di ukur secara langsung. Mereka biasanya (resonansi) muncul sebagai puncak
resonansi dalam grafik yang menunjukkan variasi penampang dari berbagai jenis
peristiwa selama tumbukan energi pada energi tertentu.
Resonansi partikel telah ditemukan baik antara meson-hiperon. Mereka
diproduksi dalam tumbukan energi tinggi antara interaksi hadron kuat dan diamati
selama hamburan atau reaksi yang diprakarsai oleh partikel energi dasar yang
sangat tinggi diperoleh dari akselerator.

Gambar 18.6 Arah melintang pion pembombardir proton sebagai fungsi energy.

Metode Analisis: Gambar 18.6 menunjukkan variasi penampang total utuk


membombardir pion nukleon. Kurva untuk - + n adalah sama dengan + + p*,
begitu juga + + n dan kurva - + p mirip satu sama lain. Semua ini menunjukkan
kurva puncak di 190, 600, 900 dan 1400 MeV. Selain kejadian mereka pada energi
tertentu, puncak dicirikan oleh nilai-nilai yang pasti.
Kita dapat menerapkan teori hamburan resonansi pada Bab XI (lihat
11.5) untuk kasus hamburan p, dimana hamburan silang elastis maksimum
sebagai berikut:
maks =4 2 g (18.14-
1)
Dimana g adalah faktor statistik dengan benar
56

(2 J +1) 2J+1
g= =
( 2 S +1 ) (2 S p +1) 2 (18.14-

2)

Dimana J adalah momentum sudut dari negara senyawa yang terbentuk (


+ p C *) sementara s = 0 dan sp = 1/2 adalah spin dari proton dan pion
masing-masing. = /2 dimana adalah Panjang Gelombang Broglie pion.
Penampang eksperimen untuk hamburan (-p) adalah 70 mb (lihat gambar) pada
energi pion dari 190 MeV.
Persamaan (18.14-1) dan persamaan (18.14-2) menghasilkan hamburan (
p) sebagai berikut:
2
maks =4 (2 J +1) (18.14-
3)
Karena pada 190 MeV energi pion = 0,833 x 10-15 m, nilai mak menjadi
sekitar 175 mb untuk J = 3/2. Nilai J lainnya yang mungkin bagi senyawa
memberikan max yang hanya dari itu dalam kasus sebelumnya.
Jadi kita menyimpulkan bahwa partikel resonansi terbentuk memiliki J = 3/2. L
momentum sudut orbital tidak dapat nol, karena itu akan membuat penampang
independen dari sudut (daerah S).
Isospin: sekarang kita membahas tentang isospin (I) dari keadaan
resonansi. I = 1 dan IN = adalah isospins dari pion nukleon dan masing-
masing. Mari kita mempertimbangkan empat kasus berikut:
++ p C
(i)

(I = 1 3/2)
(I3 = +1, + , +3/2)
++n C
(ii)
(I = 1 3/2, 1/2)
(I3 = +1 - 1/2)

++ p C
(iii)

(I = 1 , 3/2, 1/2)
(I3 = -1, + , -1/2)
++n C
(iv)
(I = 1 3/2)
(I3 = -1, - , -3/2)
57

Dimana C * menunjukkan keadaan senyawa yang terbentuk. Para isospins


I dan I3 komponen ketiga mereka untuk partikel yang berbeda akan ditampilkan di
bawah reaksi dalam setiap kasus. Dalam kasus (i) dan (iv), daerah senyawa dapat
memiliki isospin 3/2 atau . Vektor isospin senyawa seperti biasa vektor
momentum sudut. Kami mendapatkan keadaan senyawa I = I + IN dan I3 = I3 +
IN3.
Kita bisa menerapkan hasil dari penambahan dua vektor momentum sudut
dalam mekanika kuantum untuk mengungkapkan probabilitas untuk terjadinya
keadaan yang berbeda isospin resultan dari segi Clebsch-Gordan koefisien
CJ J
1 2
(J, M; m1, m2),, di mana
J = J1 + J2 dan M = m1 + m2 (lihat Appendix A-V)
Kemudian, untuk keadaan dimana I = 3/2, I3 = + 3/2 untuk sistem (+ p) dengan I3
= +1 dan Ip3 = + .
C (3/2, 3/2; 1, )2 = 1 (18.14-
3/2 1,

4)
Kesamaan untuk sistem (+ p) menghasilkan keadaan I = 3/2, I 3 = - dengan I3 =
-1 dan Ip3 = + diperoleh:
C (3/2, - ; -1, )2 = 1/3 (18.14-
3/2 1,

5)
sehingga rasio dua arah melintang adalah
3/2(+ p) / 3/2 (- p) = 3 (18.14-
6)
Nilai yang diukur dari rasio di resonansi keluar menjadi
( + p) / (-p) = 200/70 3
Jadi kita memberikan nilai I = 3/2 untuk keadaan resonansi pada energi
kinetik pion dari T = 190MeV untuk kedua ( + p) dan (-p) hamburan.
Jadi dalam semua empat kasus tersebut ( proses (i) sampai (iv) di atas),
daerah bagian isospin I = 3/2 dengan I3 = +3/2, +1/2, -1/2 dan -3/2 masing-masing
diproduksi, yang dengan demikian merupakan suatu quadruplet isospin (M = 2I +
1 = 4).
Karena muatan Q diberikan oleh (lihat persamaan 18,11-10)
Q = (1 + I3)
Keempat keadaan memiliki muatan +2e, +e, 0 dan e. Mereka biasanya
dinyatakan dengan symbol ++, +, 0, dan - secara berturut-turut dan constitute
sehingga disebut (1232) dalam bentuk massanya 1232 MeV.
Massa dari resonansi : ini dapat diturunkan dari hubungan relativistic
energi total E dan momentum P dari system (p):
58

E2 = P2 c2+ + M2()c4 (18.14-


7)

Dimana M() adalah massa resonansi .


Energi total adalah jumlah dari energi total dan p:
E= E + Ep = p2 c 2 +m2 c 4 + Mpc2
(18.14-8)
Catat bahwa proton target pada mulanya diam. Juga P c= pc. Energi kinetic pion
adalah
T= E - mc2 = p2 c 2 +m2 c 4 mc2
(18.14-9)
Ini memberikan
E = p2 c 2 +m2 c 4 = 190+140=330 MeV

pc = E2+ m2 c 4 = 299 MeV


Energi total system (p) adalah
E = E + Ep
= 330 + 939 =1269 MeV
Sehingga akhirnya kita dapatkan
M()c2 = E2 p2 c 2 = 12692+299 2 =1232 MeV
Resonansi memiliki massa 1232 MeV, paritas spin 3/2 +, isospin 3/2.
Resonansi memiliki lebar pengukuran 120 MeV, sehingga masa hidup keadaan ini
adalah = /E=0,55 x 10-23 s. (1232 adalah baryon dan meluruh melalui saluran
(N).
-N resonan yang lain: Seperti dinyatakan sebelumnya tiga resonansi yang
lain pada energi kinetic pion 600, 900, dan 1400 MeV telah diamati dalam
hamburan (N). Dengan menggunakan metode untuk (1232) sebagaimana
dijelaskan di atas ditemukan bahwa resonansi (p) 600 dan 900 MeV memiliki
isospin (muatan doublet) dan paritas spin 3/2 - dan 5/2+ respectively. Mereka
ditandai dengan N*(1515) dan N*(1690) berturut-turut and constitute d3/2 dan f5/2
keadaan tereksitasi nucleon.
Resonansi (+p) 1400MeV memiliki isospin 3/2 dan paritas spin 7/2+ dan
constitute resonansi (1950). Kemudian kita dapatkan empat resonansi baryonic:
59

Resonansi mesonik: teramati selama tumbukan (N) dalam proses yang tak
elastis, seperti
+ N N + () (18.14-
9)
+ (18.14-
9a)
() adalah resonansi mesonic yang setelah itu meluruh dengan interaksi
kuat menjadi dua pion. Dengan cara lain kita peroleh
+NN++ (18.14-
10)

Pada kasus ini tiga partikel dihasilkan secara simultan/serempak pada


keadaan akhir sehingga partikel yang dihasilkan memiliki distribusi energi yang
kontinyu seperti ditunjukkan oleh kurva pada gambar 18.7.
60

Meskipun begitu, apabila proses tak elastis menghasilkan formasi ()


atau resonansi pionic pada keadaan akhir (persamaan 18.14-9) kemudian ini pada
dasarnya adalah proses dua bentuk, sehingga distribusi energi seharusnya
menunjukkan puncak energi yang tak terbatas yang dapat dilihat pada gambar
18.7. Puncak ini ditumpangkan pada latar belakang yang kontinyu.
Satu bagian dengan pionic resonance () seperti didiskusikan di atas,
baryonic resonance (N) mungkin juga akan teramati pada kasus ini. Keadaan
akhir kemudian dapat dituliskan sebagai
+N (N) + (18.14-11)

(N) N + (18.14-11a)

Resonansi () dan (N) keduanya telah diamati dalam proses tak elastis.
-meson: Resonansi seperti ditunjukkan pada gambar 18.7 disebut -
meson. Ini adalah sebuah meson, saat pecah menjadi dua pion : (+0), (-+) atau
(-0). Massanya adalah 769 MeV. Lebar 124 MeV menunjukkan bahwa waktu
peluruhannya adalah 10-23 s. Menunjukkan bahwa peluruhan terjadi dengan
interaksi yang kuat. Ini memiliki tiga keadaan muatan +e, 0, -e. Sehingga
isospinnya adalah I=1. Studi tentang distribusi angular hasil peluruhan
menghasilkan J=1. Saat pion masing-masing memiliki spin paritas nol atau ganjil.
Total spin dan paritas dari I dan -meson adalah 0 dan genap. Sehingga
menghasilkan keadaan l=1 dan harus memiliki paritas ganjil saat Jp=(1-)
61

-meson: dua dan tiga resonansi pion telah diteliti dalam reaksi pion deuteron:
++d p+p+(3) (18.14-12)
3 ++-+0 (18.14-12a)

Resonansi terjadi pada massa 783 MeV dan 549 MeV. Keduanya hanya
terjadi pada keadaan netral, sehingga isospin I=0 untuk keduanya.
Partikel 549 MeV dikenal sebagai -meson. Lebar puncak hanya dalam 10
keV menunjukkan bahwa waktu hidupnya sekitar 6 x 10 -20. Ini adalah peluruhan
elektromagnetik yang memiliki JP=0-. Peluruhan elektromagnetik

2(31%) bersaing dengan mode peluruhan lain yang lebih kuat seperti

(30), (+-0) dan yang lainnya. Ini diyakini terjadi disebabkan oleh
keanehan dari paritas G dalam peluruhan 3.
G-parity: Berdasarkan operasi konjugasi muatan C dan rotasi 1800 di
sekitar dua sumbu ruang isospin. Kombinasi operasi dikenal sebagai operasi G-
parity. G-parity hanya terjadi pada interaksi kuat. Rotasi di sekitar dua sumbu
dalam ruang isospin merubah tanda komponen ketiga isospin I 3. Kemudian
berdasarkan persamaan (18.11-12) apabila B+S=0 (untuk sebuah pion), tanda
muatan Q tidak berubah dengan operasi G-parity. Ini berdasarkan fakta bahwa
operasi C merubah tanda muatan (muatan antipartikel berlawanan dengan
partikel). Sehingga operasi gabungan menghasilkan tanda I3yang tidak berubah.
Sehingga kita dapat mencatat bahwa G-parity dari yang berputar bertanda
negative. Ini memberikan konsekuensi bahwa interaksi kuat tidak dapat merubah
bilangan genap pion menjadi bilangan ganjil. Saat 0-meson memiliki G-parity
genap, meluruh dalam tiga pion . Sehingga dua foton meluruh 0 menyerupai
peluruhannya menjadi tiga pion. Ini kemungkinan disebabkan mode tiga pion dari
peluruhan 0, mengisyaratkan bahwa G-parity adalah efek virtual
elektromagnetik.

Resonanansi meson yang lain:


-meson: -meson ini diteliti oleh Maglic, Alvarez dan Rosenfeld (juga
oleh Stevenson) dalam analisis reaksi
p + p + + + +- + - + 0

(18.14-13)

Kejadian ini diteliti melalui ruang gelembung hydrogen cair sepanjang 72


inchi di Barkeley, menggunakan berkas antiproton dari bevatron. Dalam reaksi
yang rumit seperti ditunjukkan pada persamaan (18.14-13) lintasan dari semua
partikel bermuatan diteliti dengan preminary scanning fotografi dari kejadian
62

yang disebabkan oleh keberadaan p dalam chamber. Saat 0 tidak dapat


diamati secara langsung, reaksi diidentifikasi dari kinematika yang berhubungan.
Data yang diperoleh biasanya dimasukkan dalam computer dan diproses dengan
program yang sangat rumit.
Analisis dari hasil distribusi massa efektif hasil (+0-) menunjukkan
puncak pada 783 MeV dengan lebar 9,9 MeV. Ini disebut dengan 0 meson (783)
untuk I=0 (isospin singlet) dan Jp=(1-). Produksi dan peluruhan mengikuti
skema
p + p + + - +

+ + - + 0 (89,9%)
Masa hidup peluruhan sekitar 7x10-23 s dimana sedikit lebih panjang
dibanding karakteristik waktu nuklir.
Model peluruhan yang lain dari melibatkan +- (1,3%), +(8,8 %).
Sebagaimana diyatakan sebelumnya (783) juga dihasilkan dalam reaksi (+d).
-meson: yang memiliki massa 1020 MeV, I= 0 dan J p=1-). Dua yang

terakhir adalah sama seperti pada -meson. (1020) meluruh dalam K K
dengan lebar puncak 4,2 MeV. Model peluruhan ini termasuk K +K-(48,6%),
KLKS(35,1%), +-0 (14,7%), 0(1,6%), 0(0,14%) dan beberapa peluruhan
minor leptonic.
K* meson: Keadaan tereksitasi dari K-meson telah diteliti. Bahwa K *adalah
meson vector dengan hypercharge Y=1 adalah reosnansei K dengan massa 892
MeVdan lebar 50 MeV , Jp=(1-) dan l=1/2 untuk itu. Terdapat beberapa jenis dari
peluruhan model K.
(769), K*(892), (783) dan (1020) adalah vector meson yang paling
ringan (lihat berikutnya). Beberapa resonansi meson yang lain telah ditemukan.
Penemuan penting yang lain adalah yang disebut dengan partikel J/ yang
mendukung gagasan charmed quark c bagian dari tiga postulat sebelumnya u,s,d.
Ini akan didiskusikan secara detil pada bagian 18.18.
Tabel A-IX pada apendiks memberikan daftar resonansi mesonik dan
propertinya. Lihat juga table 18.5.
Beberapa keadaan Baryonic: Beberapa keadaan baryonic yang lebih tinggi telah
ditemukan dimana merupakan kondisi tereksitasi dari N, , , , dan -. Lebih
detil dilihat pada daftar table 18.5.

Regge recurrences:
Sistematisasi dari kedaan tereksitasi baryonic menunjukkan kerapatan keadaan
eksitasi per unit energi interval meningkat denga cepat dengan bertambahnya
63

massa. Keadaan eksitasi tertinggi sejauh yang telah ditemukan mengindikasikan


bahwa terdapat perbedaan mekanisme eksitasi.
(i) Eksitasi rotasional low lying multiplet; (ii) Eksitasi vibrasional dari keadaan
dasar multiplet ; (iii) Eksitasi melibatkan momentum orbital angular internal,
sebagaimana yang diharapkan dari model quark hadron.
Seperti yang kan kita lihat, bahwa hadron memiliki struktur. Mereka
bukanlah partikel titik seperti lepton (lihat bagian 18.16). Maka hadron dapat
memiliki rotasi dan keadaan eksitasi lain seperti sebuah molekul. Beberapa
keadaan tereksitasi akan berputar melalui resonansi hadron sembari meningkatkan
energinya (masses) dan spin (J). Bilangan kuantum yang lain akan sama kecuali
untuk paritas P, C, G. Ini disebut dengan Regge recurences. Hubungan antara
energi dan spin diketahui sebagai Regge trajectory.

Gambar 18.8 Regge trajectory menunjukkan plot kuadrat massa dari keadaan
nucleonic l=3/2 terhadap spin J
Salah satu contoh Regge trajectory untuk beberapa keadaan nucleon
roatasi prominent dengan isospin I=3/2 seperti ditunjukkan pada gambar 18.8.
menunjukkan variasi m2(J) berbeda dengan J sebesar 2 dua satuan. Garis lurus
dari titik-titik dapat direpresentasikan dengan hubungan empiris dalam bentuk
m2(J)=b(J-0)dimana b=1 GeV2. Regge trajectory yang sama juga diteliti untuk
resonansi meson.

18.15 Klasifikasi simetri partikel elementer

Kita telah melihat bahwa dalam jumlah besar partikel elementer ditemukan
dalam beberapa tahun terakhir dapat diklasifikasikan berdasarkan interaksinya.
Saat seluruh partikel bermuatan menjadi subyek interaksi elektromagnetik,
interaksi yang menjadi dasar klasifikasi yang utama adalah interaksi inti kuat dan
64

inti lemah. Partikel yang masuk dalam kelompok inti interaksi kuat
dikelompokkan sebagai hadron dan inti interaksi lemah dikelompokkan dalam
lepton. Hadron dapat dikelompokkan lagi menjadi dua kelompok yaitu baryon dan
meson. Baryon mengikuti aturan statistic Fermi-Dirac adalah fermion sedangkan
meson yang mengikuti aturan statistic Bose-Einstein adalah boson. Meson
mengikuti aturan kuanta medan internukleon.
Hadron termasuk dua kelompoknya dia atas dapat dikelompokkan
berdasarkan isospin (l) yang menurunkan multiplisitas M=2l+1. Untuk setiap
kelompok partikel berdasarkan l, memiliki komponen ketiga l 3 dengan nilai l, l-
1-l. Untuk system dengan partikel lebih dari satu, vector isospin dapat
digabungkan dengan metode penjumlahan vector dengan menjumlahkan
komponen ketiganya l3 secara aljabar. Sebagai contoh, jika terdapat dua isospin
doublet masing-masing dengan l=1/2 dan l3=+1/2 dengan menggunakan metode
penggabungan di atas,kitamendapatkan isospin multiplisitas kelompok partikel
dibentuk dari dua isospin doublet di atas. Proses pembentukan multiplet isospin
yang berbeda dari sejumlah isospin doublet seperti di atas menggunakan aturan
transformasi khusus yang dikenal sebagai Special Unitary Groups tingkat 2 atau
SU2. Generator beberapa transformasi adalah matrik hermitian 2x2. Anggota dari
doublet di atas adalah p dan n yang ditransformasikan satu dengan yang lain
menggunakan transformasi SU2.
Ada metode grafik yang sederhana untuk menurunkan multiplisitas system
komposit yang dibuat berdasarkan isospin doublet seperti p dan n. Metode yang
dimaksud seperti diilustrasikan pada gambar 18.9 yang dikenal sebagai weight
diagram. Garis paling bawah menunjukkan dua komponen isospin dengan l3
=+1/2 dan -1/2 saling berhubungan. Kemudian kita superposisikan di sini doublet
yang kedua dalam beberapa cara sehingga pusat simetri dari bentuk ini dibentuk
dari coincide dengan posisi dua komponen +1/2 dan -1/2 dari tingkat yang
pertama seperti ditunjukkan pada garis yang ada di tengah .
65

Gambar 18.9 Weight diagram untuk membangkitkan sebuah isospin triplet dan
sebuah isospin singlet dari dua isospin doublet

Hasil akhir dapat dilihat pada garis paling atas yang menunjukkan empat
nilai l3 dari system komposit yang menunjukkan +1, 0, -1 (sebuah triplet) dan 0
(adalah sebuah singlet). Yang pertama menunjukkan simetri triplet isospin dimana
l=1 dan yang kedua menunjukkan antisimetri isospin singlet dengan l=0. Hasil di
atas dituliskan secara simbolis sebagai
22=31
Untuk mendapat multiplisitas yang lebih tinggi, metode di atas dapat
diulang dengan superposisi weight diagram berdasarkan isospin doublet yang
pertama kemudian isospin triplet ditunjukkan di atasnya dan kemudian pada
isospin singlet untuk membangkitkan sebuah quadruplet dan dua doublet:
23=42
21=2

Apabila partikel gabungan dalam isospin multiplet adalah subyek dari


kekuatan gaya nuklir maka partikel-partikel tersebut memiliki massa yang sama.
Namaun begitu, keberadaan interaksi elektromagnetik merusak simetri sehingga
partikel gabungan memiliki sedikit perbedaan massa. Sebagai contoh proton dan
netron pada isospin doublet nucleon yang memiliki yang berbeda sedikit
massanya disebabkan muatan pada proton. Contoh lain adalah pion , 0 yang
sedikit berbeda massanya karena simetrinya dirusak oleh hukum interaksi
elektromagnetik.
Situasi ini sama dengan efek gaya spin-orbit yang memecah tingkat energi
yang diberikan oleh L dan S menjadi (2S+1) untuk (L>S)., yang dikenal sebagai
pemisahan struktur halus tingkat energi atomic. Simetri menjadi rusak karena
kehadiran gaya L-S.
M. Gell-Mann and Y. Neeman yang tidak bergantung pada skema
klasifikasi partikel elementer (1962) berdasarkan harga l3 dan hypercgarge Y=B+S
(lihat persamaan 18.11-13), yang dikenal sebagai Unitary Group tingkat 3 atau
simetri SU3 (juga dikenal sebgai simetri octet atau eight-fold way).
66

Di tempat isotopic sederhana yang diasumsikan dalam SU 2, Gell-Mann


dan Neeman mengusulkan keberadaan sebuah kelompok eight baryon pada super
multiplet dalam skema SU3. Baryon ini adalah p, n, , +, 0, -, - dan 0. Ini
dapat dilihat pada table 18.2 bahwa seluruh ini memiliki J p=(1/2+). Perbedaan
kelompok baryon memiliki perbedaan isospin l maupun kekuatan S atau kedua-
duanya. Mereka memiliki massa yang berbeda pada kelompok yang berbeda
sekitar 15%.

Gambar 18.10. Weight diagram (l3-Y plot) untuk baryon octet

Ini dapat diasumsikan bahwa eight baryon seperti di atas dibentuk sebagai
hasil dari interaksi yang sangat kuat yang seluruh massanya sama (eight fold
degenerasi dalam kekuatan dan muatan). Simetri octet ini rusak akibat aksi
interaksi kuat (yang bergantung pada kekuatannya). Ini memindahkan degenerasi
kekuatan antara kelompok yang berbeda S dalam supermultiplet. Akhirnya
masing-masing kelompok memberikan S, degenerasi muatan dipindahkan oleh
interaksi elektgromagnetik. Sehingga komponen dengan l yang sama dengan
perbedan l3 memiliki perbedaan massa yang kecil. Pemisahan yang pertama
(karena interaksi kuat) dalam orde M/M 10% sampai 20% dan pemisahan yang
kedua disebabkan interaksi elektromagnetik pada masing-masing kelompok
dengan S yang sama dalam orde M/M 1%.
67

Gambar 18.11. Weight diagram untuk meson octet

Skema klasifikasi ini berdasarkan simetri octet didemonstrasikan dengan


sangat baik dengan mebuat plot garif (weight-diagram) baryon octet dalam bidang
l3-Y seperti ditunjukkan pada gambar 18.10. Anggota dari super multiplet octet
membentuk simetri heksagonal dengan satu baryon pada setiap sudut dan dua
pada pusat heksagonal. Seperti dapat dilihat pada gambar, dua nucleon (S=0)
dengan l3 =1/2 jatuh pada garis Y=B+S=1; tiga -hyperon (S=-1)dengan l3=1,0
jatuh pada garis Y=0; dan dua -hyperon (S=-2)dengan l3=1,0 jatuh pada garis
Y=-1. Akhirnya single -hyperon (S=-1) dengan l3=0 pada pusat gambar dengan
Y=0 segaris dengan 0
Super-multiplet yang sama untuk meson seperti ditunjukkan pada gambar
18.11 berisi anggota sebagai berikut: dua kaon (S=1) dengan l 3=1/2 pada garis
Y=1; tiga pion (S=0) dengan l3=1,0 pada garis Y=0; dan dua antikaon (S=-1)
dengan l3=1/2 pada garis Y=-1. Delapan anggota pada octet adalah isospin
singlet 0-meson (l3=0, Y=0). Harus dicatat bahwa weight diagram dari meson
octet pada gambar 18.11, kita telah melibatkan partikel resonansi 0(958) dengan
Jp=(0-) menjadikan sebuah nonet essensial. Seluruh meson pada diagram adalah
pseudoscalar.
Tabel 18.6 mendaftar dua octet (baryonic dan mesonic) dengan property
yang relevan pada masing-masing komponen.

Massa yang ditunjukkan pada table adalah massa rata-rata untuk isospin
multiplet pada tiap kasus.
68

Weight diagram yang sama pada bidang Y-l3 dapat dibentuk untuk partikel
resonan. Dua contoh ditunjukkan pada gambar 18.12 dan 18.13. Yang pertama
adalah octet resonan meson dengan Jp=(1-)dan yang kedua adalah decuplet dengan
Jp=(3/2+). Seperti pada kasus meson octet seperti didiskusikan di atas, octet
direpresentasikan oleh heksagon pada gambar 18.12 adalah esensial nonet yang
diakibatkan inklusi dari yang memiliki Jp=(1-).
Keberadaan baryonic decuplet telah diprediksikan oleh simetri SU3.
Weight diagram ini adalah sebuah segitiga sama kaki. Segitiga ini berisi sebuah
isotopic quadruplet (1232) dengan S=0, Y=1 dan I=3/2; sebuah triplet 0(1385)
dengan S=-1, Y=0 dan I=1/2 serta sebuah singlet - (1632) dengan S=-3, Y=-2
dan l=0.
Pada saat itu decuplet telah diprediksikan, keberadaan - tidak diketahui. Properti
- telah diprediksikan oleh teori SU3 telah diverifikasi. Antipartikel - juga telah
ditemukan.

Gambar 18.12. Weight diagram resonansi meson octet


69

Gambar 18.13. Weight diagram untuk resonansi baryo decuplet

Gell-Man dihadiahi Nobel Prize pada 1964 untuk SU3 skema klasifikasi.

Penemuan Hyperion -
Hyperion - ditemukan pada 1964 di Brookhaven menggunakan ruang
gelembung hydrogen 2 m K- meson dengan momentum 5 GeV/c.
Seperti ditunjukkan pada diagram skematik fotografi ruang gelembung
pada gambar 18.14 insident K- meson berhubungan dengan produksi proton -
menurut persamaan

Gambar 18.14. Penemuan - Hyperion

Kekuatan bilangan kuantum pada insiden dan produksi partikel


ditunjukkan pada partikel berikut. K0 netral tidak teramati, tetapi keberadaannya
teramati dari analisis energi kesetimbangan momentum. - meluruh berdasarkan
70

skema - 0+-.0 yang tak teramati melintasi sejumlah jarak sebelum


meluruh menjadi produk netral 0+0. terdeteksi dari peluruhan 0 P+0
meluruh menjadi dua foton 1+2 masing-masing menghasilkan pasangan e+ dan e-
Pada diagram garis putus-putus menunjukkan lintasan yang tak teramati
dari partikel netral dedus dari pengukuran pada lintasan partikel tampak.
Prediksi simetri SU3: (i) satu dari prediksi adalah bahwa massa
supermultipletseharusnya dihubungkan dengan hubungan berikut:
Mn+M ()0 = {M(0) + 3M(0)}/2
Substitusi nilai massa diberikan pada table 18.2 menunjukkan bahwa
hubungan dijaga pada tingkat akurasi 1%.
(ii) prediksi penting yang lain adalah
Mn Mp + M (- ) M (0 ) + M (+ ) M (- ) =0
Beberapa prediksi tidak cocok. Mungkin disebutkan bahwa unitary
symmetry terlalu luas jangkauannya dibanding isotopic invariant berdasarkan
simetri SU2.
Deskripsi matematika dari unitary symmetri diperoleh dengan bantuan
kelompok SU3untuk matrik 3 baris. SU3yang paling sederhana sebuah triplet
sedangkan multiplet SU2 yang paling sederhana adalah doubletseperti kita lihat
sebelumnya. Berikutnya representasi yang lebih rumit dari kelompok SU 3 adalah
baryon oktet.

18.16 Hipotesis Quark


Jumlah yang sangat besar dari partikel elementer yang telah ditemukan
dalam beberapa tahun terakhir menunjuk pada kebutuhan membuat postulat
tentang keberadaan sub struktur untuk nucleon dan hadron lain hanya sebagai
jumlah besar atom komposit dari unsur-unsur dalam system table periodic
menunjuk pada kebutuhan menyatakan keberadaan substruktur untuk atom yang
pada akhirnya berujung pada pemahaman kita saat ini tentang struktur atom dalam
bentuk lebih dasar tentang satuan electron, proton dan netron.
Kita lihat bagian sebelemnya bahwa representasi yang paling sederhana dari
kelompok SU3 adalah triplet. Representasi yang lain dihasilkan dari teori SU 3
adalah octet dan decuplet. Ini telah diidentifikasikan sebagai meson dan baryon
octet satuan dan baryon sebagai decuplet satuan (lihat gambar 18.10, 18.11 dan
18.13). triplet satuan masih belum ditemukan.

Multiplet satuan meson diperoleh dengan menggabungkan triplet dasar


dengan antitripletnya:
33=9=18.
Multiplet satuan baryon diperoleh dari kombinasi triplet dasar
333=27=1810
71

Ini telah diidentifikasikan (lihat pada bagian sebelumnya)


Sekarang kita akan menyelidiki identitas dari triplet dasar skema SU 3. Pada
tahun 1964, Gell-Mann dan G. Zweig secara bebas mengusulkan bahwa semua
partikel terhubung dengan sangat kuat dan resonansinya membentuk triplet
satuan, hitherto partikel yang ditemukan dikenal sebagai quark (atau ace),
memiliki fraksi muatan dan bilangan pecahan baryon serta spin masing-masing .
Partikel-partikel tersebut adalah fermion.
Berdasarkan pada Gell-Mann dan Zweig, terdapat tiga tipe quark dan
seluruh baryon dan meson dibangkitkan oleh kombinasi yang cocok ini. Dari
ketiga quark, dua adalah isospin doublet, dengan kekuatan S=0. Yang ketiga
adalah isospin singlet, partikel asing dengan S=-1. Notasi yang berbeda digunakan
untuk merepresentasikannya. Kita akan menggunakan notasi yang berbeda untuk
merepresentasikannya. Kita akan menggunakan notasi u(up) d(down) dan
s(strange). Bilangan kuantum yang berbeda untuk quark didaftar pada table 18.7.

Bilangan kuantum l3, S, B, Y, Q dan Cdari antiquark adalah negative


quark-quark tersebut.
Tabel 18.7 melibatkan tiga quark yang lain yang dikenal sebagai charmed
bottom(b) dan top(t) yang memiliki bilangan kuantum tambahan charm (c)
beauty(b) dan truth (t). Aturannya akan didiskusikan berikutnya. Nilai Q pada
table di atas dihitung dengan menggunakan ekspresi umum untuk melibatkan c
dan b yang diberikan pada bagian 18.8 dan 18.19.
72

Gambar 18.15a. a, b, dan c menunjukkan weight diagram untuk quark u, d, s


dan antipartikelnya

Dapat dicatat bahwa quark ini belum ditemukan di laboratorium. Karena


fraksi muatan quark, semestinya tidak sulit untuk meneliti dan
mengidentifikasikannya. Sekarang dipercaya bahwa quark-quark tersebut diteliti
sejak mereka tidak ditemukan dalam keadaan bebas. Mereka tidak hanya
membentuk kombinasi yang diamati sebagai tipe yang berbeda dari hadron.
Apabila energi ikat dari quark diasumsikan kecil dibanding massanya
kemudian kita dapatkan mu=md=0,39 GeV dan ms= 0,51 GeV. Massa yang
diharapkan dari tiga yang alain adalah: mc=1,55 GeV, mb=4,72 GeV dan mt=30
sampai 50 GeV.

Struktur quark meson dan baryon:

Jika partikel-partikel yang diamati tersebut merupakan kombinasi lebih


dari satu kuark, maka kuark-kuark tersebut harus digabungkan, sehingga
kombinasi seperti qq tidak akan ada selama muatannya tidak di non-
integralkan dalam kombinasi.

Namun kombinasi dari kuark dan antikuark (q q ) dapat menghasilkan


partikel yang dapat diamati secara nyata. Metode ini dapat dilakukan dengan
bantuan diagram berat kuark dan antikuark ditunjukkan pada Gambar. 18.15c.
Dalam gambar tersebut pusat simetri diagram berat antikuark secara berturut-turut

diletakkan pada posisi tiga kuark u , d , s dan positon dari antikuark u , d , s
Y I 3
ditandai dalam setiap bagian di sumbu . Misalnya, jika diagram berat

antikuark ditekankan pada posisi kuark u maka posisi tiga antikuark


73

memberikan nilai yang sesuai dari Y dan


I3
dari kombinasi u u , u d

dan u s . Jatuh pada tiga poin sudut segitiga di sisi kanan atas dari segi enam

di Gambar 18.15c. Mengikuti prosedur yang sama diagram berat antikuark secara
berturut-turut diletakkan pada posisi d dan s untuk menghasilkan nilai-nilai
Y I3
dan untuk kombinasi d u , d d , d s , s u , s d , s s .
Dari Gambar 18.15 c dapat dilihat bahwa dalam diagram berat
heksagonal, kombinasi q q pada titik sudut yang berbeda ditempati oleh

kombinasi u s ,u d , d s , d u , s u dan s d . Tiga kombinasi lainnya u u , d d

dan s s terletak di pusat hexagonal. Dengan cara ini kombinasi 3x3 atau 9
dapat diperoleh oktet SU3 dan singlet SU3. Hal ini dapat dinyatakan dalam bahasa
teoritis sebagai 3 3 = 8 1.
Dua kombinasi di pusat heksagon adalah bagian dari oktet SU3. Salah
satunya milik sebuah triplet isospin dan lainnya adalah milik singlet isospin.
Kombinasi ketiga adalah singlet SU3. Hal tersebut diidentifikasikan sebagai
resonansi (958).
Karena kuark dan antikuark memiliki paritas yang berlawanan dengan spin

q q o 1
masing-masing, maka kombinasi memiliki p atau pada
J =


o
kondisi l=0 . Pada p kombinasi q q telah diidentifikasi dengan
J =


q q 1
delapan meson dalam Tabel 18.6, dimana kombinasi dengan p
J =

telah diidentifikasi dengan cara mengamati resonansi meson.


Dalam tabel 18.8 tercantum bilangan kuantum dari peluang yang berbeda
dari kombinasi q q . Dari sini, sebanyak enam macam dapat diidentifikasi
sebagai partikel yang tercantum dalam kolom terakhir dari tabel. Untuk ketiga

sisanya ( u u , d d , s s ) semua bilangan kuantum sama. Hal ini telah ditunjukkan

secara teoritis bahwa fungsi gelombang dari 0 , 0 dan 0 (958) dapat


74

dinyatakan sebagai kombinasi linear dari tiga kombinasi di atas. Untuk alasan
inilah, semua partikel yang ditampilkan pada tiga kombinasi di atas.
75

Tabel 18.8

Tiga kombinasi kuark: sekarang kita harus mempertimbangkan tiga


kemungkinan kombinasi 27 kuark yang secara simbolis dinyatakan sebagai

3 3 3=10+8 8 1

Hal ini sangat mungkin untuk memiliki nomor baryon B = 1 dan Q muatan
terpisahkan dengan tiga quark. Seperti dalam kasus kombinasi q q , kombinasi
qqq juga dapat diwakili dengan bantuan diagram berat untuk quark. Dimulainya
dengan diagram berat untuk quark pertama diagram berat untuk kedua ditekankan
pada posisi tiga quark u, d, s dari diagram pertama berturut-turut, memberikan
sembilan titik seperti uu ,ud , us dll
Selanjutnya diagram berat untuk quark ketiga berturut-turut diletakkan
Y I 3
pada sembilan poin pada bidang yang diperoleh sebelumnya. Dengan
cara inilah dua puluh tujuh poin yang menyatakan bberapa kemungkinan
kombinasi qqq yang berbeda diperoleh. Hal ini termasuk oktet dari baryon
+
1 /2
yang tercantum dalam Tabel 18.6, yaitu dan oktet dari antibaryons yang
J P =

sesuai. Selain itu, ada docuplet berisi sepuluh baryon seperti yang ditunjukkan
76

+
3 /2
pada Gambar 18.13, . Fungsi gelombang dari partikel berbeda yang
J P =

diamati, kombinasi qqq diperoleh sebagai kombinasi linear dari fungsi


gelombang.
77

Oktet Baryon: struktur kuark dari nukleon diberikan oleh persamaan

P = ( uud ) n = ( udd )

Sebagaimana yang dapat divarifikasi sebelumnya, dengan mengacu pada


nilai-nilai bilangan kuantum untuk kuark seperti yang tercantum dalam Tabel
18.7. Fungsi gelombang untuk p dan n benar antisymmetris dengan

memperkenalkan fungsi gelombang warna dalam teori chromodynamic (QCD)


dari struktur kuark pada hadron (lihat di bawah). Penggantian kuark d oleh
+
s 1 /2
quark di nukleon, menghasilkan keadaan baryon dengan dan
J P =

keanehan S = -1. Prosedur ini menghasilkan keadaan baru seperti di bawah ini
(yaitu isotriplet dan isosinglet):

+ , 0 ,

{
= uus ,
( ud+ du ) s
2
, ds}

=( uddu ) s / 2

Jika di sisi lain kuark u dan kuark d masing-masing digantikan oleh

kuark s isodoublet maka diperoleh:



0


Kondisi dan tersebut akan menghasilkan S = -1 dan


menghasilkan S = -2 sebagaimana yang diperlukan. Berbagai macam fungsi
gelombang ( sss ) akan simetris dengan spin total J = 1/2.
+
1 /2
Delapan kondisi baryonik diatas, semua memiliki dan
J P =

membentuk oktet baryonik sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 18.10.

3/2+ baryon decuplet:


78

Tiga kuark ( uuu ) dengan spin 3/2 adalah model simetris dan simetris spin yang

memiliki L=0 fungsi ruang yang membuat fungsi gelombang total


antisymetric (termasuk fungsi warna). Hal tersebut adalah kondisi nonstrange.
Ada empat dari mereka yang diidentifikasi sebagai partikel dengan I =3/2
yang struktur kuarknya diberikan di bawah ini:
+=( uud )

++= (uuu )

=( ddd )
0
=( udd )


Isoptriplet yang , isodoublet yang dan isosinglet yang

merupakan penyelesaian decuplet tersebut. Struktur kuark mereka ditunjukkan


berikut ini:
+ =(uus)
=( dds ) 0=( uds )

=( dss ) 0=( uss )



=( sss )

Decuplet ini ditunjukkan pada Gambar 18.13

Akhirnya terdapat singlet SU3 yang dibentuk dari tiga kombinasi kuark yang telah
diidentifikasi dengan (1405) sebagai fungsi gelombang yang memiliki
campuran sedikit dengan yang (1675).
Salah satu keberhasilan utama dari teori struktur kuark partikel elementer
adalah bahwa kemungkinan untuk memastikan resonansi yang diamati dalam
skema klasifikasi partikel berdasarkan model tiga kuark. Selanjutnya adalah
kemungkinan untuk memprediksi beberapa sifat penting dari hadrons dari
pengetahuan tentang fungsi gelombang quark.
Kita telah melihat sebelumnya bahwa perbedaan massa antara partikel
isospins berbeda dalam supermultipet yang asal mereka dalam jenis interaksi yang
kuat antara gaya. Meskipun asal-usul interaksi simetri ini tidak jelas, adalah
mungkin untuk menunjukkan dasar model ikatan yang lemah antara kuark bahwa
79

massa kuark u dan d harus sama sedangkan quark s harus lebih berat. Massa
diperkirakan mu md ms telah diberikan di atas. Menurut teori quark massa
( 1232 ) ( 1385 ) ( 1530 ) ( 1672 )
, , dan harus equispaced.

=149 =145

Hasil Pengukuran memberikan MeV; MeV dan

=142
MeV. Observasi ini mendukung kesimpulan di atas.

Eksperimen yang mendukung hipotesis kuark:


Ini berasal dari proses yang kuat dalam hamburan pion-nukleon (-N),
proses electromagnetis dari penghancuran sebuah pasangan elektron-positron
dalam hadrons dan dua proses yang lemah dalam peluruhan -dari neutron.
Perkiraan kuantitatif ini dan beberapa proses lain dalam perjanjian baik dengan
hasil eksperimen.
Bukti paling meyakinkan dari kebenaran model kuark ini berasal dari
pengamatan pada hamburan inelastik elektron energi tinggi dengan proton. Hasil
pada pengukuran lintas hamburan bagian inelastis untuk elektron dengan energi
hingga 10 GeV baik dengan proton dan neutron menunjukkan penurunan lambat
dalam penampang dengan energi telah ditafsirkan oleh R. Feynman atas dasar
model parton. Menurut Feynman, sebuah nukleon saat istirahat adalah partikel
kompleks yang terdiri dari partikel titik virtual yang dikenal sebagai partons. Para
partons diyakini sama dengan kuark. Dalam radius terbatas nukleon, para partons
terkonsentrasi sebagai massa-poin. Dapat dicatat bahwa perilaku ini merupakan
ciri dari hadron. Para lepton, di sisi lain, tampaknya tidak memiliki ekstensi
terbatas dan dianggap sebagai titik-partikel.
Confirations penting lainnya dari model kuark berasal dari pengukuran

penampang total untuk proses N-N, N N dan N . Rasio diperkirakan

( NN + N N ) / N =3 kali dengan nilai yang terukur.


Model weak-bond telah digunakan untuk menghitung rasio momen magnetik dari
n n
nukleon: =2/3 . Nilai eksperimental adalah =0.68 . Perjanjian
p p

sangat baik.
80

Kuark Non-observansi:
Dari hasil penelitian bersama dalam laboratorium yang berbeda di dunia,
kuark belum diamati dalam keadaan bebas.
Upaya telah dilakukan untuk menghasilkan kuark dalam energi tumbukan
tinggi dengan menggunakan lucutan proton dari akselerator. Dengan demikian
reaksi tersebut dapat diselidiki sebagai berikut:
p+ p p+ p+q+q

p+ p p+ 2u+ d

Beberapa percobaan awal melaporkan keberhasilan. Namun, pada


penelitian yang selanjutnyan pernyataan ini menjadi salah.
Sejak kuark membawa fraksi listrik dan baryonik, diharapkan paling
ringan dari mereka harus stabil. Jadi jika mereka diproduksi melalui tumbukan
energi yang sangat tinggi (dalam sinar kosmik) harus ada akumulasi kuark di
kerak bumi atau di dalam air laut atau dalam tubuh kosmis (misalnya,
meteorities). Namun, semua upaya untuk mendeteksi kehadiran mereka dalam
tubuh menunjukkan bahwa tidak mungkin ada lebih dari satu kuark per 1019
proton dalam air atau 1 di 1015 di meteorit.
Tidak adanya bukti yang menyatakan keberadaan kuark bebas mungkin
karena massa mereka sangat besar sehingga energi yang tersedia dari accelerator
tidak cukup tinggi untuk menghasilkannya. Pandangan kedua, mempertahankan
model yang weak-bond yang didukung oleh berbagai eksperimen.
Model weak-bond mengasumsikan bahwa kuark agak terikat lemah dalam
hadrons (parton model). Oleh karena itu sulit untuk melihat mengapa mereka
tidak keluar dalam tabrakan energi tinggi.

18.17 Chromodinamika Quantum


Anomali jelas telah berusaha untuk dihapus atas dasar teori kuantum
chromodinamika pertama kali dikemukakan pada tahun 1973.
Salah satu masalah utama dalam merumuskan struktur kuark dari hadron
adalah kegagalan nyata dari prinsip eksklusi pauli itu.
Karena quark adalah partikel dengan spin , mereka patuh pada statistik
++

Fermi-Dirac. Struktur kuark diusulkan mengharuskan tiga partikel dengan

spin identik harus dikombinasikan untuk menghasilkan keadaan dasar secara


simetris (uuu) yang mereproduksi semua sifat-sifat yang dikenal . Jelas
seperti kombinasi melanggar prinsip eksklusi pauli itu. Hal ini juga berlaku untuk
struktur kuark diusulkan dari proton p ( uud ) dan neutron n ( udd ).
81

Selanjutnya meskipun urutan diamati baryon, meson dan antibaryons


dengan benar direproduksi oleh struktur quark qqq , qq q , dan q q ,

kombinasi yang mungkin lainnya seperti qq , q q dan lain-lain, atau kuark


tunggal tidak diamati.
Untuk mendapatkan lebih dari kesulitan-kesulitan ini, hal baru (atau
nomor kuantum) dari quark, yang dikenal sebagai warna, diusulkan oleh Gell-
mann dan Zweig pada tahun 1963. Hal ini diasumsikan bahwa quark dapat
memiliki tiga warna primer, merah (R), hijau (G) dan biru (B) masing-masing,
q R , qG , q B
seperti . Dalam skema ini partikel - akan direpresentasikan sebagai
++=u R uG u B

Warna dapat dihasilan dengan menjumlahkan bilangan kuantum.


Namun, ini masih belum cocok dengan pertanyaan mengapa kemungkinan
kombinasi (dua atau tiga) warna tidak diamati di alam. Jadi meskipun representasi
uRuG dB u R u G dG uRuR dR
, , dll Bisa mengamati sifat mereproduksi
proton, hal itu yang pertama diterima sebagai proton. Jawaban atas pertanyaan ini
terletak pada asumsi bahwa hanya posisi partikel kuark yang ada di alam yang
tidak berwarna.
Analogi dengan konsep warna dalam optik sekarang jelas. Mengacu pada Gambar
18.16, dapat dilihat bahwa kombinasi dari tiga warna primer R, G dan B
menghasilkan putih atau patch berwarna di pusat. Kombinasi dari dua dari warna
primer menghasilkan warna sekunder yang berbeda seperti yang ditunjukkan pada
gambar. Warna-warna sekunder dapat melengkapi warna-warna primer. Dengan
demikian magenta dihasilkan oleh kombinasi R + B adalah melengkapi hijau G.
Jadi kombinasi magenta dan hijau tidak berwarna dan karena itu ditampilkan

sebagai G (komplemen dari G).
Sebagaimana dinyatakan di atas, hanya kombinasi tanpawarna diwujudkan
di alam. Dengan demikian kita memiliki berikut ini:
Proton p=RGB

Antiproton p= R G
G

G G+B
=R R B
Pion
Dan lainnya.
82

Dapat dicatat bahwa kombinasi R R +G G+


B B
tidak berubah oleh
rotasi dalam ruang warna R, G, B dan merupakan representasi singlet dari
kelompok warna. Representasi singlet warna tersebut yang memberikan fungsi
gelombang dari partikel yang diamati dan dikenal sebagai takbewarna.

Meskipun kombinasi R R ,G G

atau B B secara individual berwarna,
mereka tidak mewakili fungsi gelombang dari setiap partikel yang diamati. Selain
itu, kombinasi yang berwarna atau kuark individu yang berwarna tidak mewakili
fungsi gelombang setiap partikel yang diamati sehingga mereka
menyembunyikannya dari kita.
Teori kuantum chromodinamika, (QDS) menggambarkan perilaku kuark
ditandai dengan warna yang berbeda. Teori ini telah dikembangkan, mengikuti
formalisme teori elektrodinamika kuantum (QED). Kedua teori ini merupakan
versi khusus dari teori medan relativistik. Perkembangan terbaru dari fisika
partikel telah menunjukkan kebutuhan untuk kelas khusus dari teori, yang dikenal
sebagai teori gauge.
Elektrodinamika kuantum yang paling sederhana dari teori gauge
menggambarkan interaksi antara partikel bermuatan listrik seperti elektron dalam
hal pertukaran foton virtual (lihat teori kuantum radiasi oleh W. Heitler). Sebuah
elektron seharusnya memancarkan dan menyerap kembali seperti proton dalam
waktu yang ditentukan oleh prinsip ketidakpastian Heisenberg. Daya tarik
coulomb atau repulson antara partikel bermuatan digambarkan dengan bantuan
diagram Feynman (lihat kuark dan lepton oleh F. Halzen dan AD Martin).
Daya tarik yang kuat antara dua kuark tidak dapat dijelaskan oleh teori di
atas karena dua quark membawa muatan positif (lihat Tabel 18.7) akan mengalami
gaya coulomb. Gaya yang kuat mengalahkan gaya tolak ini untuk mengikat kuark
di hadrons. sehingga disebut muatan warna dari kuark yang bertanggung jawab di
medan warna seperti muatan listrik bertanggung jawab atas medan
elektromagnetik.
Interaksi yang kuat antara beberapa kuark dimediasi melalui pertukaran partikel
gauge dikenal sebagai gluon (c.f. menunjukkan gambaran foton dalam kasus
interaksi elektromagnetik). Dengan demikian gluon adalah kuanta dari medan
warna yang mengikat kuark dalam beberapa hadron (misalnya, nukleon) dan juga
nukleon dalam nukleus.
Sebagaimana dinyatakan di atas Teori Q.C.D. dikembangkan dalam
analogi teori Q.E.D. Namun, analogi ini tidak dapat diperpanjang terlalu jauh
karena teori harus menjelaskan bidang warna yang kuat yang menarik dalam
kasus kuark.
83

Gluon itu sendiri adalah suatu partikel yang berwarna yang wiwakili oleh

simbol R R , R B , R G , G R , G B , G G , B R , B B ,

RG , antara lain mereka adalah objek dengan dua warna. Ada sembilan

kombinasi yang mungkin seperti tertera di atas. Kombinasi R R +G G+


B B
,
adalah warna singlet yang tidak memiliki warna yang bersih dan karenanya tidak
dapat dianggap sebagai gloun yang harus membawa muatan warna antara dua
kuark. Dengan demikian chromodinamika kuantum digambarkan dalam delapan

gluon. Ini terdiri dari semua enam elemen nondiagonal R B , R G dll, selain
R R +G G2
B B . Karena masing-
dua elemen diagonal R RG G dan
masing dari mereka membawa muatan-warna, akan ada interaksi warna antara
mereka, seperti dalam kasus foton dalam teori elektromagnetik yang tidak
berinteraksi antara mereka (teori di mana kuanta lapangan dapat berinteraksi
langsung dikenal sebagai non-Abelian dalam bahasa kelompok teoritis).
Dengan diperkenalkannya bilangan kuantum warna, setiap kuark ditandai
oleh dua sifat rasa dan warna. Karena ada empat rasa yang berbeda (u, d, s, c) dan
tiga warna yang berbeda (R, G, B) ada 12 jenis quark dan 12 antiquark yang
sesuai.
Warna dari kuark adalah penjumlahan bilangan quantum. Untuk rasa
tetap, kuantum yang berbeda angka yang tertera dalam Tabel 18.7 untuk warna
yang berbeda adalah identik.

18.18 Daya Tarik Quark

Beberapa partikel elementer baru ditemukan telah menunjuk adanya kuark


keempat, selain tiga (u, d dan s) sudah dipostulatkan. Ini dikenal sebagai kuark
mempesona ditandai dengan simbol c. terlepas dari sifat yang biasa tercantum
dalam Tabel 18.7 untuk kuark, hal itu diberkahi dengan tambahan bilangan
kuantum pesona C = 1. The antikuark c memiliki C=-1. C-kuark memiliki
massa 1,55 GeV dan berat melebihi kuark u, d, atau s.

Kebutuhan untuk hipotesis dari quark pesona muncul dari nonoccurrence dari

+ + e
peluruhan leptonic , dll
K 0 n e

Untuk menjelaskan Ketidak pastian dalam peluruhan ini, Glashow, J. Illiopoulos


dan L. Maiani menyarankan adanya kuark rasa keempat, yang dikenal sebagai
84

kuark pesona (c) yang kehadirannya di antara bagian-bagian akan membatalkan


arus netral yang tidak teramati dalam peluruhan K (lihat nanti) hal ini memberikan
massa kuark c yang tidak jauh berbeda dari kuark u . Secara umum persamaan
(18.11-12) untuk memasukkan C mengarah ke bentuk persamaan berikut.
B+S+C
Q=I 3 +
2

Kuark pesona c kekal dalam kekuatan dan interaksi elektromagnetik


seperti keanehan S dan perubahannya oleh kesatuan dalam interaksi lemah.
Bukti eksperimental pertama untuk mendukung c-quark adalah penemuan
partikel J / oleh dua kelompok peneliti yang berbeda (1974). Dalam salah
satu eksperimen yang dilakukan di Laboratorium Nasional Brookhaven di
Amerika Serikat, SCC. Ting keturunan Cina dan rekan-rekannya menggunakan
sinar proton intensitas tinggi 30 GeV untuk membombardir target berilium dan
mengamati produksi partikel massa invarian yang meluruh menjadi pasangan e +e-.
Mereka menyebutnya J-partikel. Dalam percobaan lainnya B. Richter dan kawan-
kawan dengan menggunakan berkas elektron-positron coliding (Spear) di Stanford
dengan energi antara 2,8-8 GeV mengamati produksi resonansi yang meluruh

menjadi pasangan e+e- yang mereka sebut partikel . Energi di mana puncak

muncul adalah sekitar 3,1 GeV dalam kedua kasus. Lebar puncak hanya sekitar 2
MeV menunjukkan bahwa waktu hidup negara itu sekitar 10 3 kali lebih panjang
daripada partikel stabil normal. Kemudian pengukuran telah memberikan lebar
puncak kurang dari 0,1 MeV memberikan 1020 s. Partikel ini sekarang

disebut J / .
Meson dan barion yang mengandung kuark c telah ditemukan dan
dipelajari. Diagram dua dimensi pada Gambar 18.11 dapat diperpanjang dengan
menambahkan dimensi ketiga sesuai dengan bilangan kuantum pesona, untuk
membentuk polyhedron yang terhubung sesuai dengan prediksi meson pesona.
Para anggota keluarga partikel pesona terbagi dalam dua kelas, mereka
dengan pesona tertutup dan pesona terbuka di mana bagian-bagian pesona terlihat
dengan jelas. Kelompok pertama mencakup partikel J / yang diyakini
menjadi kombinasi kuark dan anti kuark pesona (c,c ), yang dikenal sebagai
charmonium (c.f. positronium). Menyatakan pesona terbuka termasuk dalam
2+
kelompok D+ meson ( c , d ) dengan JP = (0-) dan JP = (1+); baryon (
85

+
cuu ); baryon ( cud ). Waktu paruh dari pesona terbuka ini adalah dari

urutan dari 10-13 s.

18.19 Keindahan dan Kebenaran


Pada tahun 1977, LM Lederman dan lainnya menemukan keadaan
resonansi baru pada massa 9,460 GeV, dengan menggunakan 400 GeV sinar
proton di laboratorium akselerator nasional Fermi dekat Chicago yang ditemukan

+
meluruh menjadi pasangan . Studi rinci oleh kelompok atas dan juga di

deutsches elektronen synchroton (DESY) telah menunjukkan bahwa partikel-


partikel baru, yang dikenal sebagai partikel (Upsilon) yang terdiri dari jenis
beberapa muatan kuark -1/3 yang dikenal sebagai bagian bawah atau b quark.
Sebuah bilangan kuantum baru b (kecantikan) dikaitkan dengan mereka. b = 1

untuk quark cantik dan b = -1 untuk anti-kuark b . kuark b memiliki massa 4,72
GeV. Mereka memiliki b = 1. Kedudukan tertinggi dari meson Upsilon yang telah
diamati. Kedudukan-kedudukan yang lebih rendah memiliki lebar resonansi
berkisar 44-18 keV. Kedudukan-kedudukan yang lebih tinggi memiliki lebar
dalam kisaran puluhan MeV.
Selain lima quark (u, d, s, c dan b) keberadaan yang telah dikonfirmasi
secara eksperimen, yaitu mengenai keberadaan kuark keenam, yang dikenal
sebagai quark atas atau kuark t telah diprediksi atas dasar teoritis. Indikasi
pertama ini kuark berat disediakan pada percobaan, vektor boson baru ditemukan
0
( W , Z ). Massa kuark t diperkirakan sekitar 30 sampai 50 GeV. Sebuah
bilangan kuantum yang baru yaiu t (kebenaran) yang diasosiasikan dengan itu. T =
1 untuk kuark atas dan t = -1 untuk antipartikel nya.
Secara umum Q yang menyertai b, dan t diberikan oleh persamaan:
B+ S+Cb +t
Q=I 3 + (18.19-
2

1)

18.20 Interaksi lemah


Interaksi lemah terutama bertanggung jawab dalam peluruhan partikel
dasar dan inti semi-stabil. Telah kami bahas secara singkat tentang karakteristik
utama mereka di sub bab 18.9.
Sebagai acuan, dapat dinyatakan bahwa peluruhan disebabkan oleh
interaksi lemah hanya jika itu tidak dapat disebabkan oleh interaksi kuat dan
86

elektromagnetik. Peluruhan akan lemah jika setidaknya satu dari kondisi berikut
ini dipenuhi: (i) keanehan hukum konservasi tidak memuaskan, (ii) pesona hukum
konservasi tidak memuaskan, (iii) neutrino yang diasosiasikan dengan peluruhan.

+ 0

Jadi dalam peluruhan + , keanehan tidak kekal. Kemungkinannya sebesar
K

+ v

21%. Peluruhan + memiliki kemungkinan 64% yang hUbungannya
K

dengan kedua pelanggaran konservasi keanehan dan emisi neutrino. Peluruhan



(e v e v ) yang diasosiasikan dengan emisi dari neutrino. Tidak ada
pelanggaran konservasi keanehan terjadi di sini. Akhirnya peuruhan meson yang


+

K 1013
terpesona dengan s terjadi karena pelanggaran hukum
+

D

konservasi pesona. C = 1 dalam keadaan awal, sementara C = 0 dalam keadaan


akhir dalam peluruhan ini.
Sebagaimana kedudukan diatas peluruhan nuklir juga merupakan

contoh dari peluruhan lemah. Konstanta kopling di proses peluruhan hampir


sama dengan konstanta kopling dalam peluruhan muon murni leptonic yang diatur
oleh interaksi V-A (vektor dikurangi vektor aksial) (lihat Ch. V).
Aturan seleksi penting yang mengatur peluruhan lemah adalah sebagai
berikut: (a) perubahan keanehan tidak dapat melebihi satuan; | S | = 0,1. Aturan
0
ini terpenuhi dalam proses peluruhan partikel aneh , dan .

Tidak ada pelanggaran aturan yang pernah teramati. Misalnya dalam proses

n , n ,
peluruhan berikut , dan , S=-2 untuk dan S=-3 untuk

87


; S=0 di tiap kedudukan akhir dalam kedua kasus tersebut. (b) perubahan

spin isotop I dalam peluruhan melibatkan perubahan dalam S selalu 1/2; | I | =


1/2. (c) menyatakan aturan ketiga seleksi bahwa dalam peluruhan melibatkan
lepton, perubahan muatan Q diberikan oleh Q = S.
Ketidakkekalan paritas dalam peluruhan lemah secara erat diasosiasikan
dengan peran neutrino yang telah dibahas secara rinci dalam bab V, dapat dicatat
bahwa peluruhan lemah terjadi jika konservasi paritas dilanggar bahkan jika
jumlah lainnya, seperti S, C, dan muatan paritas dilestarikan. jika paritas kekal
bersama dengan kekekalan jumlah di atas, tidak ada peluruhan lemah yang dapat
terjadi.
Pada pembahasan 18.5 kita berbicara tentang interaksi Fermi universal
(interaksi lemah) yang digambarkan dalam bentuk segitiga Puppi. Diasumsikan

v e
p e
bahwa kekuatan interaksi di semua yaitu tiga proses, dan
+ p ( n , v )
n

(e v e v ) adalah sama. Namun, tekad lebih tepat


g g
dan
gp

menunjukkan bahwa kekuatan interaksi lemah berbagai sedikit berbeda satu sama
lain. Fakta ini dianggap oleh N. Cabbio yang terhubung semua konstanta melalui

parameter tunggal yang dikenal sebagai sudut cabbio ( c 140 ) .

Teori umum menyiratkan bahwa seiring dengan lemahnya arus, juga harus
ada arus netral lemah (lihat 18.21) yang belum lama ini telah ditemukan. Namun,
seperti yang dinyatakan beberapa observasi yang tidak diamati di alam, misalnya,

+
yang disebut teori peningkatan dan diperlukan pengenalan kuark
+
K

keempat (c-quark).

18.21 Gabungan interaksi lemah dan elektromagnetik


Keempat interaksi fundamental yang dibahas dalam bab 18.9 dikenal
sebagai interaksi gauge. Semua interaksi ini dimediasi oleh perantara kuanta
(partikel gauge) menimbulkan dan memaksa antara dua partikel sebanding dengan
produk dari 'muatan partikel-partikel. Untuk elektromagnetik, interaksi lemah dan
88

kuat nuklir, partikel gauge secara berturut-turut adalah -foton, menengah vektor
0
boson ( W , Z ) dan gluon. Mereka semua mempunyai spin partikel 1. Yang
sesuai muatan' adalah muatan listrik (), secara berturut-turut adalah biaya weak-
nuklir dan warna. Untuk interaksi gravitasi, partikel gauge adalah hipotetis
graviton tak bermassa pada spin 2, 'muatan' menjadi massa partikel.
Ini telah menjadi tujuan para fisikawan partikel yaitu untuk menyatukan
empat jenis interaksi sebagai aspek yang berbeda dari satu interaksi fundamental,
yang mengatur perilaku semua materi. Upaya yang pertama adalah penyatuan
interaksi sebagaimana Clerk Maxwell dan lainnya pada abad sembilan belas, yang
berhasil melakukan penyatuan interaksi listrik dan magnetik ke dalam interaksi
elektromagnetik tunggal.

Einstein juga berusaha untuk menyatukan interaksi gravitasi dan


elektromagnetik, tapi tidak sukses dalam upayanya.
S. Glashow dan Abdus Salam (Pakistan) dan JC Ward secara mandiri
menyarankan penggunaan ide-ide gauge untuk penyatuan interaksi
elektromagnetik dan lemah (1959) yang akhirnya dicapai oleh Abdus Salam dan
S. Weinberg (1967). Dengan asumsi bahwa interaksi lemah dimediasi oleh
beberapa partikel hipotetis W , Glashow dan lainnya dapat menyimpulkan

bahwa hal tersebut harus memiliki spin intrinsik seperti foton 1 dan harus
memiliki massa lebih besar dari sekitar 37,4 GeV, dengan asumsi kopling sama
konstan (1/137) untuk kedua interaksi elektromagnetik dan lemah.
Namun ada satu masalah yaitu viz , interaksi elektromagnetik memiliki
simetri kiri-kanan dalam constrast interaksi lemah untuk paritas yang tidak
terkonservasi. Hal itu menunjukkan bahwa alat penggabungan seperti tampak
dalam interaksi yang berbeda, mungkin terjadi jika diasumsikan dengan
menambahkan muatan listrik netral antara dalam kuantum lemah Z 0 juga ada.

Ada dua masalah lain. Yang dan Mills telah menunjukkan bahwa teori
gauge didasarkan pada gagasan partikel gauge tak bermassa seperti foton -(dalam
0
kasus interaksi elektromagnetik) berbeda dengan partikel W dan Z yang
dibutuhkan untuk menjelaskan secara singkat berbagai karakter gaya lemah.
Masalah yang kedua adalah bahwa renormalisasi seperti dalam teori
elektromagnetik yang dikembangkan oleh H. Bethe, S. Tomonaga, Schwinger J.,
R. Feynman, F. Dyson dan lainnya yang menunjukkan bagaimana cara untuk
menyingkirkan yang tak terbatas dalam perhitungan yang melibatkan gangguan
orde tinggi.
89

Weinberg dan salam menggabungkan teori interaksi lemah dengan teori


elektromagnetisme. Teori terpadu ini didasarkan pada prinsip simetri gauge lokal.
Teori simetri merupakan persamaan invarian dalam beberapa transformasi
khusus. Jika transformasi tersebut tidak tergantung pada koordinat ruang dan
waktu, maka simetri yang sesuai adalah 'global'. Namun jika transformasi tersebut
tergantung pada persamaan yang bersifat tetap, maka simetri ini adalah 'lokal'.
Invarian dalam hal ini hanya mungkin jika alat pengukur kompensasi terpisah
diperkenalkan. Dengan demikian keberadaan simetri lokal dihubungkan dengan
adanya lapangan tambahan. Yang dan Mills menyelidiki masalah ini (1954) dan
menyimpulkan bahwa teori invarian lokal harus selalu mengarah pada asumsi
bidang kompensasi dengan kuanta baru (boson gauge).
Atas dasar isotop lokal invarian dan Mills dibangunlah teori dengan tiga
bidang kompensasi dengan tiga boson gauge, Namun tak bermassa. Jadi itu tidak
dapat diterima untuk kasus interaksi nuklir kuat atau lemah. Masalah ini
diselesaikan dengan berkembangnya teori kuantum chromodinamika (QCD).
Dalam kasus interaksi nuklir lemah, Weinberg dan salam mempunyai gagasan
simetri spontan dengan memperkenalkan apa yang disebut boson Higgs spinless
massa tidak sama dengan nol. Bidang ini bertanggung jawab atas pelanggaran
simetri. Interaksi dengan medan Higgs boson bisa mengukur massa mereka. Teori
ini ditampilkan sebagai renormalizable oleh G. 't Hooft (1971) dan karenanya
dihitung seperti dalam elektrodinamika. Hal ini kemudian diikuti sebagai prediksi
dari model Weinberg-salam.
0
Penemuan boson W dan Z (lihat 18.9) memberikan tanggapan
besar untuk model Weinberg-Salam (1983). Massa partikel-partikel ini masing-


ev
masing adalah 80,9 dan 93 GeV. Model peluruhannya adalah + ,

W


(ev ) +
W
dan .
Z 0

Leptonic ini meluruh lemah mungkin hanya beberapa persen dari jumlah
total peluruhan. Spin W adalah 1 sebagaimana diungkapkan oleh arah dari produk
peluruhan.
Teori Weinberg-Salam membuat prediksi untuk massa W dan Z sebagai
berikut:
90

37.4
mW = GeV , mZ =37.4 sin W cos W GeV
sin W

W
Sudut Weinberg adalah parameter campuran yang dapat ditentukan
dari eksperimen:
2
sin W =0.218 0.010

mW
Secara teori massa W dan Z yang diperkirakan ( = 80 GeV and
mZ
= 91 GeV) sesuai dengan nilai-nilai eksperimental yang mendukung atas
dasar kebenaran model Weinberg-Salam untuk elektro-lemah.
Bukti tidak langsung menegakkan validitas ide-ide dasar di balik teori
unifikasi elektro-lemah yang diberikan pada tahun 1978. Sebuah percobaan di
Stanford menunjukkan adanya efek interferensi antara partikel-partikel proton ()
dan Z0 dalam hamburan elektron yang terpolarisasi dalam reaksi

+ p

+ p e telah memberikan dukungan secara tidak langsung tetapi secara
e

kuantitatif untuk teori elektro-lemah .


Arus netral: Penemuan interaksi lemah arus netral saat ini serta beberapa
perjanjian sifat partikel tersebut dengan prediksi teoritis di mana langkah yang
paling penting dalam membangun keabsahan teori elektro-lemah.
+ 0
+
di mana 0 netral terbentuk dari muatan K . Hal ini
+
K

adalah keanehan dari sebuah peluruhan.


Contoh dari interaksi netral lemah adalah sebagai berikut:
v e v e
Hamburan Neutro-lepton :
v N v N ; eN eN
Hamburan Lepton-neucleon :

+

Hamburan Lepton- lepton :
+ e
e
91

Hamburan Hadron-hadron : NN NN
Perhatikan bahwa tidak ada perubahan dalam salah satu transformasi di
atas. Studi interferensi antara interaksi lemah elektromagetik dan arus netral saat
ini dalam hamburan elektron yang terpolarisasi pada deuterium yang
menghasilkan informasi berharga tentang sifat arus netral. Efek paritas melanggar
arus netral dalam transisi atom juga telah diamati.
Arus netral merupakan campuran dari vektor (V) dan vektor aksial (A)
yaitu, mereka mengubah seperti vektor dan vektor aksial dibawah rotasi koordinat
spasial. Mereka juga merupakan campuran isoscalar (I = 0) dan isovector (I = 1).
Konstanta pasangan yang menentukan kekuatan relatif dari vektor, vektor
isoskalar aksial, dan isovektor telah diukur dan sesuai dengan nilai-nilai yang
diprediksi oleh model Weinberg-Salam.
Teori elektro-lemah sekarang diperkuat Salam, Weinberg dan Glashow
yang bersama sama diberikan penghargaan Nobel pada tahun 1979 atas kerja
keras mereka.
Konfirmasi akhir dari teori elektro-lemah unifikasi menunggu penemuan
Higgs scalar bosson dengan perkiraan massa 103 GeV akan sangat
bermanfaat yang mengatur kuark dan lepton dalam keadaan yang sama.
Standard Model: model Weinberg - Salam bersama dengan skema pesona
Glashow-Iliopoulos-Maiani (lihat 18.18), dikenal sebagai model standar adalah
dasar dari pemahaman saat fisika partikel. Pernyataan umum dalam model ini
e , e , , , ,
adalah enam kuark (u, d, s, c, b, t) dan enam lepton ( ).
Kuark berinteraksi antara interaksi kuat dan elektro-lemah. Lepton hanya
memiliki interaksi elektro-lemah. Kuanta dari interaksi yang kuat adalah boson
warna yang berbeda yang dikenal sebagai gluon dan ide teoritis ini dikembangkan
dalam Chromodinamika Kuantum (QCD). Kuanta dari interaksi elektro-lemah
adalah foton () dan vektor boson menengah (W , Z0) dan teori didasarkan pada
model Weinberg - Salam. Perlu dicatat bahwa foton juga vektor boson.

Grand Unification Theory (G.U.T.):


Keberhasilan penyatuan elektro-lemah telah mendorong para fisikawan
dengan semangat penuh untuk upaya pemersatu di lokasi nuklir dan elektro-lemah
kuat. Seperti halnya penyatuan besar akan jauh dengan perbedaan antara kuark
dan lepton pada energi yang cukup tinggi. Semua tiga interaksi tersebut kemudian
diharapkan menjadi manifestasi dari aspek yang berbeda dalam mengukur gaya

tunggal universal dengan kekuatan universal yang primitif /sin2 w .

Kemungkinan seperti itu muncul karena nilai yang sama dari spin untuk
mengukur partikel dalam tiga kasus. Para fisikawan mengamati kekuatan yang
92

berbeda pada hasil energi rendah dari yang berbeda renormalizations karena
simetri spontan berturut-turut.
Teori unifications besar harus memerlukan kelompok simetri tinggi seperti
yang dipertimbangkan dalam teori Weinberg-Salam. Hal ini diyakini bahwa
kelompok yang dikenal sebagai SU5 akan sesuai dengan tujuan yang
memperlakukan kuark dan lepton sejajar.
Konsekuensi mengejutkan dari teori ini adalah hilangnya distiton antara
kuark dan lepton yang menimbulkan kemungkinan transformasi proton dalam
lepton dan pion, pertama ditunjukkan oleh JC Paty dari India dan A. Salam dari
Pakistan. Proton kemudian tidak menjadi partikel stabil. Beberapa perhitungan
telah memberikan keterangan bahwa waktu hidup dari peluruhan proton menjadi
0
+
1029 tahun untuk modus peluruhan e . Belum ada bukti eksperimental yang
p

mendukung hal ini.


Konsekuensi penting lainnya dari teori unifikasi agung adalah adanya
monopole magnetik yang sangat besar (massa ~ 1016 GeV).
Implikasi kosmologis: Grand Unification Theory (GUT) memiliki
implikasi yang luas dalam kosmologi. Teori kosmologi modern menganggap awal
alam semesta sekitar 1010 tahun yang lalu terjadi karena ledakan dahsyat
primordial yang dikenal sebagai teori big-bang. Spekulasi tentang kejadian segera
muncul setelah teori big-bang (pada waktu nol) menunjukkan bahwa alam
semesta mendingin dengan cepat dalam beberapa saat pertama. Jadi pada saat +
10-43s setelah waktu nol suhu sekitar 1032 K (energi 1019GeV). Antara +10-43s dan
+10-35 hanya dua interaksi fundamental yang operatif. Hal ini adalah gaya kuat-
elektro-lemah yang bersatu dengan gaya gravitasi. Jenis partikel yang sangat berat
disebut X-boson ada selama periode ini, yang membantu mengubah kuark
menjadi lepton dan sebaliknya. Interaksi seperti bilangan baryon dalam periode
ini mungkin terhitung dalam jumlah kecil dapat diamati jumlah baryon dalam
10
kepadatan jumlah foton ( n B /n 10 ) pada saat ini (lihat di atas).
Peristiwa penting lainnnya pada periode adalah produksi magnet besar
monopoles.
Saat kita mendekati waktu +10 -35 s, suhu turun menjadi 1027 K (energi ~
1014GeV). Hal ini menyebabkan ekspansi eksponensial alam semesta dengan
faktor ~ 1030 di 1032s, yang mengakibatkan fase transisi menghasilkan distribusi
seragam sebesar 2,7 K gelombang mikro yang diamati saat ini. Penemuan radiasi
ini secara kebetulan di temukan oleh Arno Penzias dan Robert Wilson pada tahun
1965 yang merupakan bukti penting dalam mendukung teori big-bang.
93

Ketika kita mendekati waktu +10-10 s hal ini mengalami pembekuan kuat
dari interaksi elektro-lemah dan dua interaksi yang sekarang muncul dengan
pendekatan yang berbeda. Jadi sekarang ada tiga dasar interaksi yaitu, gravitasi,
0
operasi nuklir dan elektro-lemah. Muncullah boson W dan Z .
Pada + 10-10s, interaksi elektro-lemah mulai defreeze, elektromagnetik dan
gaya lemah menjadi terpisah, seperti yang kita amati saat ini. Sehingga kita
seekarang memiliki semua keempat operasi dengan interaksi yang berbeda.
Antara 10-6 untuk 10-4 s tiga adalah transisi yang lain. Neutron dan proton
mulai terbentuk karena kombinasi dari kuark, sehingga partikel dasar yang kita
kenal di alam semesta saat ini mulai muncul.
Pada sekitar 10-3 s, suhu turun menjadi 8 x 10 10K. Ratusan partikel dasar
yang berbeda dihasilkan oleh tabrakan pada tingkat energi yang tersedia.
Sebuah tonggak penting tercapai pada waktu nol lebih tiga menit. Suhu
mencapai sekitar 70 kali dari inti matahari. Hal ini terjadi ketika proton dan
neutron mulai bergabung untuk membentuk inti yang kompleks.
Informasi mengenai atom kemudian mulai datang. Pada saat waktu nol
ditambah 500.000 tahun, alam semesta cukup dingin sehingga elektron dan inti
bisa bergabung bersama untuk membentuk atom. Tabrakan antara inti dan
elektron mengambang dalam lautan radiasi panas dan atom mereka tidak dapat
lagi disipisahkan menjadi beberapa unsur penyusunnya.
Didalam inti atom memberikan gambaran peristiwa awal alam semesta.
Jika teori besar penyatuan menemukan sebuah eksperimen dasar, seperti dalam
penemuan radioaktivitas proton atau monopoles magnetik yang berat, itu akan
memberikan dukungan yang kuat untuk teori big-bang dari penciptaan alam
semesta. Teori-teori terkecil dari materi diamati dengan demikian dianggap
memiliki implikasi yang mendalam dalam kosmologi.
94

BAB III

PENUTUP (KESIMPULAN)

1. Pada awal abad 19, ditemukan suatu partikel yaitu electron yang
ditemukan oleh J. J. Thompson. Kemudian penemuan sinar-x,
radioaktivitas dan penelitian terhadap sifat dasar dari parikel dan
selama peluruhan radioaktivitas mengenai model atom Bohr-Rutherford.
.
2. neutron yang ditemukan selannjutnya (1931). Hipotesis proton-neutron
pada komposisi inti atom yang selanjutnya dijelaskan pada pengamatan
sifat inti.
3. Prediksi Dirac mengenai keberadaan dari positron dengan dengan
penemuan Anderson (1933) yang menjadi bukti dari keberadaan pasangan
partikel dan anti partikel. Hipotesis neutrino yang dikemukakan oleh Pauli
(1931) menjelaskan tentang energy yang hilang pada peluruhan yang
ditemukan pada penemuan partkel elementer yang massanya hilang.
4. Penemuan dari dua partikel yang berumur pendek yaitu muon dan pion
pada sinar kosmik berturut-turut pada tahun 1937 dan 1947. Seperti yang
terlihat, pion dan interaksi partikel yang kuat (meson dan hyperon) berasal
dari tumbukan energy yang kuat.
5. Pi-meson atau pion adalah partikel dengan massa diantara electron dan
proton
6. Muon () seperti muatan pion adalah partikel dengan massa diantara
electron dan proton. Beberapa diantaranya lebih ringan dibandingkan
[Link] pion bersifat listrik dimana mempunyai satu muatan elektron
positif atau negatif dan tidak stabil.
7. K-meson atau koans adalah produksi interaksi kuat, tiap benturan N-N
(inti-inti) atau dalam benturan N.
0 (xi)
8. Hyperon terdiri dari: - Hyperon, - Hyperon, - Hyperon, -
Hyperon
9. Ada empat jenis interaksi pokok di alam, yang mengatur perilaku dari
semua sistem fisik yang dapat diamati. Ini adalah gravitasi
elektromagnetik, interaksi nuklir lemah dan nuklir kuat.
10. Seluruh partikel dasar dikelompokkan dalam tiga kelas, baryon, meson dan
lepton. Karakteristik utama dari dua yang pertama adalah bahwa partikel tersebut
mengalami interaksi nuklir kuat. Partikel seperti itu disebut hadron. Lepton di sisi
lain tidak mengalami interaksi nuklir kuat. Partikel tersebut untuk interaksi nuklir
lemah.
95

11. Kejadian dalam semua peristiwa fisika berkenaan dengan hukum


kekekalan. Misalnya hukum kekekalan energi, kekekalan momentum,
kekekalan momentum sudut, dan kekekalan muatan listrik dan lain-lain.
12. Semua partikel yang ada di alam harus memiliki antipartikel.
13. Kekekalan paritas mensyaratkan bahwa - harus memiliki paritas intrinsik
ganjil.
14. Resonansi diproduksi dalam tumbukan energi tinggi antara interaksi
hadron kuat dan diamati selama hamburan atau reaksi yang diprakarsai
oleh partikel energi dasar yang sangat tinggi diperoleh dari akselerator.
15. Partikel elementer berdasarkan interaksi elektromagnetik dibagi menjadi
dua yakni hadron dan lepton, sedangkan hadron dapat dikelompokkan lagi
menjadi dua kelompok yaitu baryon dan meson. Baryon mengikuti aturan
statistic Fermi-Dirac adalah fermion sedangkan meson yang mengikuti
aturan statistic Bose-Einstein adalah boson.
16. Gell-Mann dan G. Zweig (1964) secara bebas mengusulkan bahwa semua
partikel terhubung dengan sangat kuat dan resonansinya membentuk
triplet satuan, hitherto partikel yang ditemukan dikenal sebagai quark (atau
ace), memiliki fraksi muatan dan bilangan pecahan baryon serta spin
masing-masing . Partikel-partikel tersebut adalah fermion
17. Teori kuantum chromodinamika, (QDS) menggambarkan perilaku kuark
ditandai dengan warna yang berbeda. Teori ini telah dikembangkan,
mengikuti formalisme teori elektrodinamika kuantum (QED). Kedua teori
ini merupakan versi khusus dari teori medan relativistic
18. Bukti eksperimental pertama untuk mendukung c-quark adalah penemuan
partikel J / , eksperimen ini dilakukan di Laboratorium Nasional

Brookhaven di Amerika Serikat.


19. Teori Weinberg-Salam membuat prediksi untuk massa W dan Z sebagai
berikut:
37.4
mW = GeV , mZ =37.4 sin W cos W GeV
sin W

20. Grand Unification Theory (GUT) memiliki implikasi yang luas dalam
kosmologi. Teori kosmologi modern menganggap awal alam semesta
sekitar 1010 tahun yang lalu terjadi karena ledakan dahsyat primordial yang
dikenal sebagai teori big-bang. Spekulasi tentang kejadian segera muncul
setelah teori big-bang (pada waktu nol) menunjukkan bahwa alam semesta
mendingin dengan cepat dalam beberapa saat pertama.
Daftar Pustaka
96

Ghoshal, S. N. 2002. Nuclear Physics. New Delhi: Chand & Company Ltd.

Anda mungkin juga menyukai