Chapter 18
Chapter 18
PARTIKEL ELEMENTER
Dosen Pembina:
Oleh:
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ................................................................................................ i
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................ 1
18.1. PENGANTAR.......................................................................... 1
BAB II. PEMBAHASAN............................................................................. 3
18.2. Kinematika dari Tumbukan Berenergi Tinggi..................... 3
18.3. Produksi dan Sifat dari pi-meson.......................................... 6
18.4. pi-meson Netral....................................................................... 12
18.5. Muon dan sifat-sifatnya.......................................................... 16
18.6. Penemuan k-mesons dan hyperons....................................... 21
18.7. K-Meson................................................................................... 24
18.8 Hyperons................................................................................... 26
18.9. Interaksi Fundamental di alam............................................. 27
18.10 Klasifikasi Partikel Dasar.............................................................. 30
18.11 Hukum kekekalan.................................................................. 37
18.12 Anti nucleon............................................................................ 45
18.13 Paritas intrinsik pion............................................................. 48
18.14 Resonansi partikel.................................................................. 49
18.15 Klasifikasi simetri partikel elementer.................................. 57
18.16 Hipotesis Quark..................................................................... 64
18.17 Chromodinamika Quantum.................................................. 71
18.18 Daya Tarik Quark.................................................................. 74
18.19 Keindahan dan Kebenaran................................................... 75
18.20 Interaksi lemah....................................................................... 76
18.21 Gabungan interaksi lemah dan elektromagnetik................ 77
Grand Unification Theory................................................................ 80
BAB I
PENDAHULUAN
18.1. Pengantar
Definisi secara pasti yang menjelaskan tentang partikel elementer tidaklah
sederhana. Fakta yang menjelaskan tentang pernyataan ini mempunyai banyak
ragam. Filosofis kuno dari Yunani dan Hindu berspekulasi bahwa semua bahan
pengamatan yang berasal dari empat atau lima dasar elemen. Bagaimanapun
juga tidak ada data ilmiah yang mendasari spekulasi mereka.
Pada awal abad 19, untuk pertama kalinya dilakukan suatu percobaan
formulasi ilmiah dari struktur bahan dengan dasar dari konsep atom dan molekul.
Sampai akhir abad 19, gagasan dari atom-atom yang terbuang mengarahkan para
peneliti pada penembakan elektrisitas melalui gas. Pada saat itu, ditemukan suatu
partikel yaitu electron yang ditemukan oleh J. J. Thompson yang telah mengenali
secara keseluruhan pada atom. Kemudian penemuan sinar-x, radioaktivitas dan
penelitian terhadap sifat dasar dari parikel dan selama peluruhan
radioaktivitas yang membantu kita dalam mengklarifikasikan ide-ide kita
mengenai struktur bahan secara lebih lanjut mengenai model atom Bohr-
Rutherford.
Hasil dari studi mengenai sifat dari sinar positif membuka jalan dalam
penemuan proton dimana dikenal sebagai partikel elementer dimana menjadi inti
dengan atom yang ringan yaitu hydrogen. Penemuan dari proton sebagai partikel
elementer berasal dari hipotesis kuantum cahaya dari Einstein dan penghamburan
Compton dari energy tinggi seperti radiasi (sinar-x).
Selanjutnya neutron yang ditemukan (1931). Hipotesis proton-neutron
pada komposisi inti atom yang selanjutnya dijelaskan pada pengamatan sifat inti.
Prediksi Dirac mengenai keberadaan dari positron dengan dengan
penemuan Anderson (1933) yang menjadi bukti dari keberadaan pasangan partikel
dan anti partikel (lihat 19.6). Hipotesis neutrino yang dikemukakan oleh Pauli
(1931) menjelaskan tentang energy yang hilang pada peluruhan yang ditemukan
pada penemuan partkel elementer yang massanya hilang sekitar seperempat abad
kemudian.
Penemuan dari dua partikel yang berumur pendek yaitu muon dan pion
pada sinar kosmik berturut-turut pada tahun 1937 dan 1947.
Berdasarkan itu, para pengamatan partikel kurang lebih dilakukan
berdasarkan formula secara teoritis mengenai struktur atom dan inti.
Bagaimanapun, penemuan pertama kali pada sinar kosmik dan selanjutnya
dilakukan di laboratorium dengan mesin energy tinggi yang mengantarkan pada
revolusi konsep mengenai sifat dasar dari partikel elementer dan interaksi dasar.
2
BAB II
PEMBAHASAN
p p
hasil scalar (pada empat ruang) adalah invariant yang tegak lurus
terhadap waktu (lihat 15-17 vol. I):
p p =W 2 p2 =Invariant (18.2-
5)
p2 adalah akar dari vector momentum tiga dimensi. Untuk system partikel
(baik keadaan awal maupun keadaan akhir), kita peroleh
2 2
p p =
( W n) ( p n) =invariant
n n (18.2-
6)
Untuk keadaan awal (i), kita dapatkan
2 2
( p p )i=( W 1+W 2 ) + ( p 1+ p 2)
2 2
( p21 + M 21+ p22 + M 22 ) ( p 1+ p 2) (18.2-7)
M 21+ M 22 +2 M 2 ( M 1+ T 1 )
( M 1+ M 2 )2 +2 M 2 T 1 (18.2-
8)
Pers. (18.2-8) dapat digunakan untuk menghitung energy ambang untuk
reaksi (18.2-1). Pada energy ambang ini, partikel produk X 3 dan X4 mempunyai
momentum nol sehingga p3 = p4 = 0. Jadi kita dapatkan untuk keadaan akhirnya
adalah
2
( p p )f =( M 3+ M 4 ) (18.2-
9)
M i=M 1+ M 2
Persamaan (18.2-8) dan (18.2-9) diperoleh dan
M f =M 3 + M 4
M 2i +2 M 2 T 1=M 2f
5
( M 2f M 2i )
Atau, T1=
2M2
(18.2-10)
( Q/2 M 2 ) ( Q2 M i )
Q ( 2QM ( M + M ) /M )
2
1 2 2
(18.2-
12)
Kasus Non-relativistik
Pada kasus ini Q << M1 atau M2. Disini kita dapat mengabaikan
pernyataan pertama yang berada di sebelah kanan pada persamaan (18.2-12)
sehingga
Eth =Q ( M 1 + M 2 ) / M 2
(18.2-
13)
Ini sama dengan persamaan (10.5-14) pada bab X.
Kasus relativistic ekstrim
Dimana Q >> M1, *M2, diperoleh
Q2
Eth = (18.2-
2M2
14)
Q 2M2
2
Sehingga Eth = Q . Perbandingan = 1 sangatlah kecil, ini
E th Q
Jika X1 dan X2 adalah proton, M2 = 0,938 atau 9,38 GeV, sehingga Eth =
65,7 GeV. Dari energy 65,7 GeV hanya Q = 10 x 0,938 atau 9,38 GeV yang
terbuang dalam menghasilkan rekasi ini, sementara itu bagian yang tersisa E th (-
Q) = 65,7 9,4 = 56,3 GeV sebagai energy kinetic pusat massa partikel.
Jika kita menganggap rekasi yang sama dari sudut pengamat pada system
pusat massa pada keadaan diam maka energy ambang seharusnya sama dengan
energy reaksi.
ECM =Eth Q=0
(18.2-
15)
ECM =Q
Atau (18.2-
16)
Pada contoh yang diberikan diatas Eth = 9,38 GeV pada system C.
Pada contoh kedua, kita menganggap bahwa tumbukan antara dua
electron, dimana salah satu massa diam m 0 = 0,5 MeV. Kemudian rekasinya
e+ e X 3 +X 4
, jika Q = - 2000 m0 = -103 MeV, maka energy ambang untuk
system L adalah
Q
2 Q( M 1+ M 2) 6 3
Eth = =10 +2 x 10 MeV =1000 GeV
2 m2 M2
(lihat persamaan 18.2-13), sehingga yang paling banyak dari energy sinar pada
system laboratorium sesuai dengan energy reaksi.
+
p+ p n+ n+
p+n p+ p+
Pada bagian kedua terakhir, tumbukan antara dua proton dengan neutron
pada deuteron (d) menghasilkan meson .
Pion netral dihasilkan dengan tumbukan N-N atau dengan foton
berenergi tinggi dan dengan tumbukan - + p:
N + N N +N +0
p+ p+0 (18.3-
2)
0
+ p +
8
3)
Akhirnya neutron berenergi tinggi dapat digunakan untuk menghasilkan
muatan pion:
n+n n+ p+
+
n+ p n+ n+ (18.3-
4)
n+ p p+ p+
M 1 m
= =1+
M 0 1 2
2 M0 (18.3-
6)
Ketika M0 = 938 MeV dan m = 139 MeV diperoleh
1
=1,0741
1 2
Jadi 2 = 0,133 dan = 0,365.
Dengan demikian pada kerangka pusat massa untuk kecepatan awal
tumbukan untuk p1 dan p2 adalah v = c = 0,365c. Ketika kecepatan pada
kerangka pusat massa dan kerangka laboratorium v c = v = c diperoleh kecepatan
p1 dan p2 pada kerangka laboratorium dengan menggabungkan kecepatan v dan y
dari p1 dan p2 berturut-turut pada kerangka pusat massa dengan v c secara
relativistik:
v+v 2v
v 1 L=v 1= = , v 2 L =0
1+ vv /c 1+ v 2 /c 2
2 (18.3-
7)
v1 2 2 x 0,365
Sehingga 1 = = 2
= =0,644
c 1+ 1,133
1
=1,308
Dan 121
Jadi energy minimum dibutuhkan untuk menghasilkan pion pada
tumbukan p-p (energy ambang) adalah
2
M0c
T min= M 0 c 2=289 MeV
(18.3-
11 2
8)
T min=E th
Dengan memperkirakan hal yang diatas dapat diperoleh
secara langsung dari persamaan (18.2-12) dengan mensubtitusi Q = 139 MeV dan
M2 = M1 = 939 MeV.
Dengan demikian energy ambang untuk menghasilkan pion pada kerangka
laboratorium adalah ~ 290 MeV untuk proton. Ini cukup lebnih tinggi
dibandingkan energy pion dalam keadaan diam yaitu 139 MeV, energy diam
(~150 MeV) memberikan momen dari tiga hasil partikel
Pada laboratorium, pion dihasilkan dengan menembaki inti yang berbeda
dengan sinar proton yang bernergi tinggi dari akselerator. Pada kasus ini, energy
10
ambang lebih kecil dibandingkan dengan energy tumbukan antar inti. Ini
menandakan bahwa nucleon dalam inti mempunyai beberapa energy kinetic dan
momentum. Dalam keadaan, momentum nucleon yang datang ditambah dengan
momentum nucleon yang ada didlaam akan membuat energy ambang lebih kecil
pada tumbukan N-N.
Sebagai sinar proton pada akselerator yang mengenai target baik yang
dihasilkan + maupun - dimana bergerak sepanjang jalur lingkar pada medan
magnet akselerator. Ketika emisi terjadi pada arah maju, - keluar sedangkan +
tidak. Untuk emisi yang terbalik, maka yang terjadi pun sebaliknya.
Energy ambang untuk penciptaan pion dengan sinar diberikan
m
(
E=m c 2 1+ =m c 2
2 Mn ) (18.3-
9)
Dimana sekitar 140 MeV.
Dengan demikian energy ambang pada kasus ini lebih rendah.
Massa muatan pion:
Perkiraan awal dari massa pion termasuk pengukuran jarak, berat jenis dan
hamburan sudut kecil pada emulsi inti. Metode ini telah dibahas secara detail di
7.14 bab VII.
Massa muatan pion juga telah diperkirakan dari muon dimana dihasilkan
(18.3-12)
Tapi E=T +m c 2=4,2+105,77=109,86 MeV
Ruas sebelah kanan sama dengan kuadrat enenrgi total muon. Jadi
diperoleh
m2 c 4 2 M c 3 p+ p2 c 2=E21 L =m2 c 4 + p 2 c 2
2 2
( m c 2 ) 2 ( m c 2 ) ( p c ) ( m c 2 ) =0
Ini memberikan
2
2 2 2
m c = p c+ ( p c ) + ( m c ) = p c+ E (18.3-13)
(l = 0 +1 -1)
Muatan peluruhan pion adalah dua proses partikel dengan kesimpulan
bahwa salah satu hasil peluruhan () selalu diemisikan dengan energy kinetic
yang sama (~ 4,2 MeV). Ini dapat dicek bahwa dua partikel peluruhan saat diam,
kekekalan energy dan momentum memerlukan kedua hasil peluruhan yang
diemisikan dengan energy kinetic tertentu.
13
Pengamatan sifat pion sedikit berbeda dengan prediksi Yukawa (lihat bab
XVII). Karena meluruhnya menjadi elektron, prediksi Yukawa untuk menjelaskan
pelutuhan inti , peluruhan pion menjadi muon yang lebih besar dimana interaksi
secara lemah seperti elektron dan termasuk kelompok lepton.
Untuk melengkapi gambaran, dapat kemudian harapan bahwa pion
negative seharusnya lebih kuat dalam menyerap inti untuk menghasilkan
bintang. Seperti bintang yang dihasilkan sebagai hasil dari peluruhan yang
meledak menjadi banyak bagian dari inti karena pelepasan energy yang tinggi (~
140 MeV) pada penangkapan - dengan interaksi kuat. Kebanyakan pion positif
mengalami peluruhan radioaktivitas sebagaimana pernyataan diatas.
Ada beberapa model peluruhan muatan pion. Bagaimanapun
probabilitasnya sangatlah kecil.
Spin dan paritas muatan pion:
Spin pion positif telah ditentukan dengan membandingkan probabilitas
hasil deuteron dan + di reaksi p-p dan proses inverse dimana tumbukan deuteron
dan + menghasilkan dua proton:
H + 21 +
p+ p (18.3-14)
++ 21 H p+ p
(18.3-
15)
Berdasarkan prinsip yang mendetail yang didiskusikan di 11.2 bab XI,
cross section dari prekasi X Y berhubungan dengan proses inverse dengan
rekasi Y X berdasarkan persamaan (11.2-4):
YX p2x ( 2 I x +1 ) ( 2 I x +1 )
=
XY p 2y ( 2 I y +1 ) ( 2 I y +1 )
(18.3-16)
Kita dapat mengaplikasikan hubungan diatas dengan kasus reaksi timbal
balik dengan persamaan (18.3-14) dan (18.3-15). Karena dua proton pada reaksi
ini adalah partikel yang identik maka factor muncul secara factor statitik. Jadi
dapat diperoleh
1 2 2
2
( 2 I p +1 ) ( 2 I p +1 ) p p pp=( 2 I d +1 ) ( 2 I +1 ) p d (18.3-17)
14
d pp /d
Dengan membandingkan turunan dari cross section dan
d d /d
yang diukur pada sudut yang berbeda, nilai dari spin instrinsik dari
pion (s) dapat ditentukan dari hubungan
2
d pp 2 ( 2l d +1 ) ( 2 s n+1 ) pn d d
= 2 2
.
d ( 2 s p +1 ) pp d
3 p2 d d
2 (
2 s p +1 )2
2 pd d (18.3-18)
d pp /d
Dapat ditulis Id = 1 dan sp= 1/2 . pengukuran dari cross section
dibuat oleh R. Durbin dan yang lainnya dengan membandingkannya dengan
d d /d
pengukuran cross section sebelumnya oleh W. Panofsky dan yang
lainnya di Berkeley pada energy pusat massa yang sama dan ditarik kesimpulan
bahwa s = 0 untuk meson +.
Spin dari meson - dimaan merupakan antipartikel dari + juga bernilai
nol. Spin dari pion netral (0) juga bernilai nol.
Paritas instrinsik dari pi-meson bernilai ganjil.
Jadi dengan mengukur energy dari dua sinar dimana setiap energinya 70
0
MeV, massa pion netral m ( ) dapat diketahui.
Gambar 18.1. Spektrum energy dari peluruhan sinar pada pion netral.
Suatu keadaan dimana sebelum dua sinar diemisi dari tingkat pergeseran
Doppler 0 dan mempunyai energy dari perumusan pergeseran Doppler relativistic
seperti pada kesimpulan bab XV vol I. Dengan menggunakan pernyataan tersebut,
frekuensi sudut f dan b dari sinar yang teremisi pada proses timbal balik
diberikan
f =0
1
1+
, b= 0
1
1+ (18.4-
1)
Dimana 0 adalah frekuensi diam. Konservatif energy diberikan
m ( 0 ) c2 2 0
e= = ( f + b )=
1 2
1 2
E
0=
2
1 2
E E
Ef = f = ( 1+ ) , Eb= 0= (1 )
Dan 2 2
2
3
E f Eb = ( 1 2 ) ={m ( 0 ) c2 } 4
4
Atau, m ( 0 ) c 2=2 Ef E b
(18.4-2)
17
E
pn= p=
c
(18.4-5)
Energy kinetic dari emisi neutron adalah
En= p 2n /2 M n= p2/2 M n (18.4-
6)
Berdasarkan dari ketiga persamaan diatas, ini memungkinkan untuk
menentukan massa - di eksperimen yang sama mendekati nilai massa 0.
Pada eksperimen ini, biasanya digunakan untuk menggunakan selisih
antara m(-) m(0) dimana dapat dilakukan secara akurat. Nilai m(0) dapat
ditemukan dengan diketahuinya nilai dari m(-):
m
Peluruhan meson 0
Peluruhan muatan pion () dengan interaksi lemah. Di sisi lain, peluruhan
pion netral (0)dengan interaksi elektromagnetik menjadi dua foton sinar .
Karena itu, peluruhan waktu paruh dari peluruhannya lebih singkat dibandingkan
. Waktu paruh 0 telah ditentukan dengan mengamati peluruhan meson K + (akan
dibahas kemudian) didalam plat emulsi inti:
18
++ 0
+
K
e
Pelepasan momen magnetik dari nilai Dirac 2 m karena reaksi radiasi
lama dibandingkan muatan pion, mereka dapat diamati dengan intensitas yang
lebih besar di laut dalam dan level sinar kosmik atau komponen penetrasi yang
paling akhir. Pada ekperimen berbasis akselerator, muon diperoleh sebagai hasil
peluruhan dari hasil pion pada tumbukan N-N berenergi tinggi.
Muon juga dihasilkan pada peluruhan lemah dari meson K: K +v
(akan dibahas lebih lanjut).
memerlukan kita untuk mengasumsikan bahwa muon adalah lepton. Jadi kita
dapat menentukan l = +1 untuk - dan l = -1 untuk + dimana ini adalah
anti partikel dari -. Kita dapat mengasumsikan bahwa satu dari neutrino pada
+ v + v
e
(l = 1, +1, +1, -1)
++ v+ v
+ e
(l = -1, -1, +1, -1)
Pada penambahan untuk membedakan antara v dan v , kita juga
2)
+
p+ v n+ (18.5-
3)
Ini menunjukkan bahwa ve dan v (dan antipartikelnya) adalah partikel
yang berbeda. Jadi kita dapat mempostulatkan dua bilangan lepton yang berbeda
le dan l. untuk electron (e-) dan anti neutrino electron (ve), le = +1 sementara itu
22
v e
antipartikelnya (e+ dan ) le = -1. Di sisi lainnya, untuk muon negative (-)
dan neutrino muon (v), l = +1 sementara itu untuk antipartikelnya (+ dan v), l
= -1. Dengan asumsi ini, kekekalan bilangan lepton pada peluruhan muon dapat
ditulis sebagai berikut:
v
- e- + e +v
(le = 0 +1 - -1 0) (18.5-
4)
(l = +1 0 0 +1
+ e+ ve v
Interaksi muon:
Kita telah melihat bahwa muon berinteraksi sangat lemah dengan bahan
seperti electron termasuk kelompok yang sama dengan partikel elementer
(lepton). Muon diharapkan dapat berlaku seperti electron pada saat berinteraksi
dengan partikel lainnya.
Atom :
Muon negatif (-) dapat digantikan dengan electron pada orbit Bohr
menjadi muonic atom. Jari-jari dari orbit pada atom sangatlah kecil dengan
factor me / m ~ 1/207 dibandingkan dengan jari-jari orbit electron dalam atom.
Dengan demikian inilah adalah keadaan loncatan di atom muonik, - bisa saja
sangatlah dekat dengan inti khususnya pada atom yang lebih berat. Jadi
kemungkinan cukup besar dari penangkapan inti dengan interaksi
elektromagnetik, sebuah proses yang sama untuk penangkapan orbital electron
oleh inti.
23
proses ini sekitar 106 MeV dilepaskan untuk memberikan peningkatan eksitasi
dari keadaan inti dan emisi dari sinar dari keadaan ini dimana telah dideteksi.
Probabilitas dari penangkapan dengan inti (c) sebanding dengan Z4 dan
berbeda dengan Z3-tergantung dengan probabilitas penangkapan electron (ec)
karena haruslah proton yang berinteraksi. Probabilitas ini sebanding dengan Z.
Dengan demikian c pada unsur Z besar dan mempunyai waktu paruh
dengan order 10-12 dimana waktu paruhnya lebih singkat dari peluruhan muon (
~ 2 x 10-6). Untuk unsure Z rendah (Z < 10), waktu penangkapan dapat
dibandingkan dengan . Untuk peluruhan muon yang negatif biasanya tidak
teramati pada unsure Z yang besar, penangkapannya (dengan interaksi
elektromagnetik) menjadi terganggu dari inti (hasil bintang) karena pelepasan
energy yang sangat tinggi. Bagaimanapun, probabilitas terganggunya dari inti Z
yang kecil adalah sangatlah kecil terjadi, sehingga sebagian besar - mengalami
peluruhan radioaktivitas pada kasus ini.
Di sisi lainnya sebagian besar muatan muon yang bersifat positif
mengalami peluruhan radioaktivitas pada penyerapan Z yang kecil dan besar
ketika tidak terjadi penangkapan pada orbit atom muonik karena gaya
elektrostatik inti.
Perbedaan ini karena sifat dari - dan + di bahan yang ditemukan oleh
saintis Italia (Conversi, Pancini, dan Piccioni) yang menunjukkan eksperimen
bahwa muon berbeda dengan partikel Yukawa.
Dengan catatan pengukuran energi transisi pada atom muonik memberikan
metode yang sangat kuat untuk menentukan jari-jari inti.
Muonium:
Muon positif dapat berasal dari system quasi atomic dengan sebuah
electron yang beredar mengelilinginya di orbit seperti hydrogen yang dikenal
dengan muonium (+ e- atau Mu) sama dengan positronium yang telah dibahas di
6.6. Muonium tidak stabil dan waktu paruh peluruhannya adalah 2 s.
Keadaan dasar muonium mempunyai dua kemungkinan momen anguler J
= 0 dan 1 sesuai dengan orientasi spin + dan e-. Ketika berada di medan magnet,
struktur halus dari keadaan dasar dari muonium dapat dikalkulasikan, dapat
24
tidak terdapat peniadaan antara + dan e-. Walaupun tidak adanya peniadaan
menurut hokum elektromagnetik karena tidak adanya hal yang melanggar dalam
prinsip kekekalan bilangan lepton.
Sebuah bagian dari interaksi elektromagnetik dengan muatan elektrik,
interaksi lemah pada muon seperti electron pada peluruhan beta. Seperti yang kita
lihat di 5.7, kekuatan dari interaksi lemah menyebabkan peluruhan beta
mempunyai nilai.
g =1,4 x 1062 J m3
Kedua nilai yang hampir sama mengasusmsikan ada interaksi lemah secara
umum untuk semua peluruhan lemah. Ini terlihat dengan bentuk segitiga yang
dikenal dengan Puppi-triangle seperti pada gambar 18.3 dimana semua sisi-
sisinya sama besar yang memperlihatkan kekuatan interaksi pada tiga proses yang
+ v e + p n+ v
sama: e + v e +v ,
n p+ e ; ; sehingga
g =g p=g e
.
Dalam waktu yang sama dalam pergantian poin dimana ditemuakan oleh
powell dan teman-temanya (lihat 19.12), dua Bristol fisika universitas . mereka
menenukan sinar cosmic yang dikendalikan counter di atas awan.
Ditemukan bahwa di antara partikel dalam memproduksi penetral yang
menggunakan sinar cosmic dalam energy tinggi dekat ruangan, kadang jenis trek
ini ditampilkan dalam gambar 18.4a untuk memproduksi. dua traks dapat
diamati dengan lempeng setebal 3 cm di dalam ruang yang ditunjukkan gambar
18.4a diinterpretasikan sebagai peluruhan produk pengisi dari partikel netral
meluruh di bawah lempeng timah. karena karakteristik dari dua traks yang
diamati, partikel netral yang diproduksi disebut V-partikel.
K
+ -
(Kaon) + (18.6-
1)
26
A p
-
(Hyperon) (18.6-
2)
Memungkinkan determinan massa dari K0 dan A0 dari kinamatik untuk
peluruhan, dikatakan semua produksi peluruhan menjadi hamburan ( and 0)
dan proton. Rata-rata peluruhan di temukan untuk menjelaskan tentang 10-10s .
kaons mempunyai massa 494 MeV (mendekati 1000 me) sedangkan massa dari A0
adalah 1115 MeV yang mana lebih tinggi dari massa inti.
Kemudian, dengan energi yang tinggi dihasilkan pancaran partikel
dilaboratorium dibagian berbeda didunia, pengisian kaon (K ) dan hyperon ,
dan ( semua lebih berat dari inti) ditemukan. Massa dan alat-alat lain seperti
yang ada dalam peluruhan, putaran, keseimbangan dll). Dari semua partikel
tersebut telah ditentukan dan terdaftar ditabel 18.2.
Telah terealisasi setelah ditemukan kemudian baru ditemukan partikel
bertindak diantara cara penggunaaannya. Meskipun demikian produksi dalam
interaksi yang kuat. Rata- rata peluruhan paling tinggi (10-8 ke 10-10s) dalam skala
waktu inti (- 10-23s). selanjutnya tidak pernah produksi sendiri tetapi berpasangan
untuk memproduksi sesuatu dalam perkumpulan lainnya (associated production).
Pada karateristik partikel baru yang diuraikan dalam terminology sebuah alat-alat
baru, disebut strangeness, sebuah konsep pertama mooted oleh Abraham pais dan
setelah berkembang dengan sendirinya oleh [Link]-Mann dan K. Nishijima
ditahun 1953. Sejak partikel mereka mengetahui strange particles.
1
-+p + K0 (18.6-
4)
(S=0 0 -1 +1)
27
Di temukan produk peluruhan untuk kedua dan memiliki nol orbital
sudut momentum, jadi keseimbangan orbital tersebut harus sama (+). Seperti yang
kita lihat, partikel dasar seperti inti dan meson ditugaskan untuk intrinsic parity
untuk menjelaskan produksi dan peluruhan (lihat 18.11 dan 18.13). demikian
pion mempunyai zero spin dan intrinsik keseimbangan ganjil (-) yang dinyatakan
Jp = 0-. Sejak keseimbangan adalah perkalian, jelas bahwa keseimbangan produk
peluruhan pada adalah ganjil (-) x (-) x (-) = (-). Disisi lain, keseimbangan
produk peluruhan pada adalah : (-) x (-) = (+). Jadi spin-parity dan yaitu
masing-masing 0- dan 0+ . ditemukan bahwa meskipun kedua partikel ( dan )
memiliki massa yang sama dan mean-lives peluruhan sama, hal tersebut memiliki
dua alternatif model peluruhan. Kedua saintis amerika kelahiran cina, T.D Lee dan
C.N Yang memberikan tanggapan dan adalah satu dan partikel yang sama
(kemudian dinamai kaon) yang memiliki dua model alternatif peluruhan di mana
keseimbangan tidak kekal. ini dikenal sebagai teka-teki dan . Lee dan Yang
memeriksa pertanyaan seluruh konservasi keseimbangan di interaksi partikel
elementer dan sampai pada kesimpulan bahwa meskipun paritas tampaknya
dilestarikan dalam interaksi nuklir kuat, tidak ada bukti langsung yang telah
dilestarikan dalam interaksi lemah. sehingga mereka mengusulkan bahwa jika
28
paritas tidak kekal dalam peluruhan dan , itu tidak mungkin dilestarikan
dalam proses lain yang melibatkan interaksi lemah misalnya, inti peluruhan .
mereka menyarankan percobaan untuk demonstrasi non-konservasi paritas di
peluruhan . yang dilakukan oleh C.S Wu dan lainnya, yang terbukti secara
meyakinkan bahwa paritas tidak kekal dalam interaksi lemah. (lihat bab V untuk
lebih jelasnya).
18.7. K-Meson
K-meson atau koans adalah produksi interaksi kuat, tiap benturan N-N (inti-inti)
atau dalam benturan N.
terlepas dari proses yang digambarkan pada persamaan (18.6-3) dan (18.6-4)
reaksi yang telah di hitung.
p p p p K K
p p p n K K0
p p p p K0 K0
(18.7-1)
dalam semua reaksi, keanehan yg kekal, jika K- dan anti-partikel K0 mempunyai
S=-1.
Terlepas dari dan model peluruhan dibahas sebelumnya, sejumlah model
peluruhan lain dari kaon dikenal. Peluruhan yang berbeda dari K -meson positif
dengan masing-masing relatif bercabang (BR) yang diberikan di atas.
29
m(K+) = 966,078 me
K-meson netral :
Disini pertama K-meson ditemukan (lihat persamaan 18.6-1). Kedua
model peluruhan yang di dapat dan . Dalam penambahan model juga
diamati, pertama dari dua non leptonic saat akhir dari peluruhan leptonic.
Keseluruhan peluruhan lemah.
0
K
Antipartikel K0 adalah . Bersamaan dari awal diartikan itu sepasang.
0
Meson adalah hanya kaon netral yang diamati dalam alam. Saat prosuksi
30
p A0 0
dalam eaksi menyerupai K0. Tetapi kedua peluruhan pion
0 ( _ ) ( 0 0 )
digambarkan atau ditunjukkan pada tidak simple nya
peluruhan K . Meson netral yang lain, diketahui K L0 dengan penjangnya relatif
0
K L0 _ ; 0 0 0 ( 5,71x10 8 s
Akan sama dengan yang kita lihat nanti, ini penegasan penting di kekekalan CP
(lihat 18.11).
18.8 Hyperons
0
- Hyperon
Dari melihat persamaan 18.6 pertama kali hyperon ditemukan oleh
0
Roshester dan Butler dalam sinar cosmic. Semua mengetahui hyperon . Dari
0 p
analisis peroduk peluruhan ( ) di pelajari dalam ruang bergelembung
dan juga dalam emulsi nuklir, nilai Q dari proeses peluruhan menjadi determinasi
yang relative akurat. Telah ditemukan bahwa Q = 37,76 meV dan massa
ditulis :
m(
0) = 2183,16me ; m( 0)c2 = 1115,6MeV
0 n 0
Model peluruhan lainnya (Q= 39,05 MeV) adalah yang
( p )
diketahui juga dari observasi model peluruhan dalam keadan 66,3%, saat
31
( n 0 )
adalah observasi dalam keadaan 33,7%, keduanya non-leptonic. Ada
beberapa keadaan lebih dalam peluruhan leptonic (Pe Ve) dan (PV).
- Hyperon
Ada 3 tipe Hyperon yang diketahui +, - dan 0, ketiganya produksi dalam
interaksi kuat. Saat pion dalam energy tinggi atau kaon menabrak sebuah nucleon,
hyperon yang di produksi adalah :
n K 0
(18.8-
1)
K p
0 ,
0 5,8 x 10-10s (18.8-
3)
(xi)
- Hyperon
hyperon sudah di temukan dari tahun 1952, itu adalah peluruhan
cascade
0 , 0 p
(18.8-
4)
0
Hyperon netral diketahui sebagai peluruhan cascade juga :
32
0 0 , 0 p
(18.8-
5)
- Hyperon
Ini adalah hyperon yang paling besar, prediksi nya di nyatakan pada dasar
dari SU3 simetri dan di temukan pada tahun 1964 merupakan teori yang sangat
penting. Ini mengikuti garis peluruhan cascade lemah.
(18.8-
0 , 0 0 0 , 0 p
6)
0 K
(18.8-
7)
Diketahui bahwa ada empat jenis interaksi pokok di alam, yang mengatur
perilaku dari semua sistem fisik yang dapat diamati. Ini adalah gravitasi
elektromagnetik, interaksi nuklir lemah dan nuklir kuat.
Gaya gravitasi bertindak antara semua benda yang memiliki massa. hal ini
dijelaskan oleh kebalikan hukum yang panjang jenis rentang persegi newtonian
gravitasi, kemudian broadned oleh einstein dalam teori relativitas umum, yang
describrs interaksi gravitasi dalam hal dimensi ruang. Jumlah berdimensi G me
Mp / biasanya diambil sebagai suatu contant, karakteristik interaksi ini. G
menjadi konstanta gravitasi. Interaksi gravitasi antara dua benda diyakini
dimediasi melalui kuantum dari interaksi yang disebut graviton yang belum
ditemukan. Sejauh sebagai partikel elementer yang bersangkutan, interaksi
gravitasi di antara mereka dapat sepenuhnya ditinggalkan, karena sangat lemah
dibandingkan dengan interaksi lainnya.
Interaksi elektromagnetik lebih kuat dari pada interaksi gravitasi. Ini
merupakan jenis interaksi kebalikan dari kuadrat jarak,. Kekuatannya ditentukan
e ~ 1 / 137
2
oleh konstanta struktur halus Sommerfeld / 4 interaksi
37
elektromagnetik antara proton dan electron sekitar 10 x lebih kuat dari gaya
gravitasi antara keduanya pada jarak yang sama. Dalam teori medan kuantum
modern interaksi elektromagnetik antar muatan partikel digambarkan dalam
terminology pertukaran foton yang sebenarnya merupakan besarnya medan ini.
Interaksi elektromagnetik dinyatakan dalam sifat kimia atom dan molekul,
hamburan Rutherford dan sebagainya.
Jenis ketiga interaksi mendasar adalah interaksi nuklir lemah yang
menentukan peluruhan beta nuklir dan peluruhan lemah partikel dasar tertentu
seperti muon, pion, K-meson dan beberapa hiperon. Tidak seperti interaksi
grafitasi atau interaksi elektromagnetik, interaksi lemah merupakan gaya yang
/ mw c ~ 2,4 10 18 m
rentangnya sangat pendek, yang rentangnya diberikan oleh
mw
. Disini merupakan massa W boson, yang menghubungkan gaya lemah.
g 1,4 10 62 Jm 3
Konstanta kopling interaksi lemah memiliki nilai . Jika
gw
ditunjukkan dalam bentuk dimensi konstanta interaksi lemah menjadi kecil
1
~ gw
137
dibandingkan konstanta struktur halus . Disini =
34
g / c 2 3 10 12 c c / 2 c
; ,
merupakan panjang gelombang Compton
untuk elektron. Perbandingan sifat untuk operasi interaksi lemah (~10 -10 s) dan interaksi
kuat (~10-23 s) memberikan rasio awal terhadap akhir ~10 -13. Interaksi lemah
W
dihubungkan melalui vector berat boson, dikenal sebagai dan Z0 boson ditemukan
oleh [Link] dkk menggunakan tumbukan p-p pada energi 540 GeV diperoleh dari
fasilitas SPS di Cern pada tahun 1983 (lihat bab XII). Besar massanya
m w c 2 80,9
GeV
m z c 93
2
GeV
Sifat yang penting dari interaksi lemah yang membedakan dari interaksi
mendasar lainnya adalah bahwa paritas tidak kekal pada interaksi lemah.
Di tahun terakhir ini, perkembangan yang paling penting dalam
mempelajari interaksi lemah adanya penggabungan interaksi elektromagnetik dan
interaksi lemah, yang dikenal sebagai interaksi elektro lemah (lihat sub bab
18.21).
Interaksi mendasar yang keempat adalah interaksi nuklir kuat antara
proton dan neutron, memiliki rentang pendek seperti interaksi nuklir lemah,
/ m c ~ 10 15 m
rentangnya . Dalam rentang ini yang menonjol di antara gaya
~ 0,3
lainnya antara neutron dan proton dengan sifat parameter kuat (lihat sub
~ 1 / 137
bab 17.23 pada bab XVII). Ini lebih besar dari parameter kuat dari
interaksi elektromagnetik. Waktu untuk interaksi kuat adalah urutan dari
karakteristik waktu nuklir (~10-23 s).
, 0
Gaya internukleon kuat dihubungkan melalui pertukaran pi-meson ( )
yang merupakan kuantum medan internukleon.
Sifat gaya nuklir kuat dinyatakan dalam pembentukan inti kompleks, yang telah
dibahas secara rinci sebelumnya (lihat bab II dan bab IX). Hubungan kuantitatif antara
gaya nuklir dan struktur nuklir belum sepenuhnya diketahui.
Metode penting untuk penyelidikan sifat gaya nuklir kuat adalah penelitian sifat
hiperinti dalam nukleon dalam sebuah inti yang dipindahkan oleh hiperon (lihat subbab
18.8). Hypernucleus pertama ditemukan pada tahun 1953, yaitu inti boron yang
0
neutronnya dipindahkan oleh hiperon . Hiperinti yang lainnya dihasilkan dan sifat-
35
0
sifatnya diselidiki. Misalnya inti tritium, yang meluruh berdasarkan skema
3
H 3 He Q 41,5
untuk MeV.
Sumber lain informasi tentang sistem ini adalah melalui studi atom luar biasa
dalam hiperon ditangkap oleh medan listrik dari inti. Karena besar massa sigma,
orbitnya sekitar inti memiliki jari-jari yang kecil. Pengukuran energi sinar X yang
dipancarkan selama transisinya dari satu orbit ke orbit yang lainnya memberikan
informasi penting tentang interaksi.
Seperti yang kita lihat sebelumnya, proton dan neutron dipercaya memberikan
sesuatu yang lebih mendasar dikenal sebagai quarks. Dalam analisis terakhir, gaya nuklir
kuat dipercaya dihubungkan melalui pertukaran jumlah massa spin dikenal sebagai
gluons antara quarks (lihat subbab 18.16). Baik quarks maupun gluons telah diteliti pada
keadaan bebas sebelumnya.
Pada tabel 18.1 ditunjukkan kekuatan relative dan sifat lainnya dari jenis interaksi
mendasar yang berbeda.
Tabel 18.1
Interaksi Kekuatan relative Ukuran Pergantian Kuantum
Kekuatan Internukleon 1 10-15 m Pion*
Elektromagnetik 10-1 Ukuran Panjang Photon
Nukleon lemah 10-13 10-18m W, Z0 boson
-37
Gravitasi 10 Ukuran Panjang Graviton
Semua hyperons lebih besar dari nucleon. Yang penting bahan-bahan yang
dibahas dalam 18.8 dan dilihat di tabel 18.2
Baryon mempunyai spin setengah integral dan keadaan seimbang. Itu adalah
fermion, mematuhi statistic Fermi-dirac.
Semua baryon berkumpul oleh sebuah pertukaran baryonic (bilangan barion) B
= 1, dimana kekekalan dalam produksi dan peluruhan.
Dipercaya pada dampak bilangan baryon dalam alam adalah kualitas kekekalan.
Antibaryon mempunyai B = -1 jadi produksi baryon-antibaryon tidak memberikan efek
pada bilangan baryon.
Kita harus diskusi tentang struktur quark dari baryon 18.16.
Mesons: ini berada pada kelas hadron, dengan jumlah barionik B = 0. Meson
, (K , K 0 ) 0 (D , D 0 )
masuk dalam pion ( , kaons , dan . Pada kaons adalah
0 0
partikel kuat dengan S = 1. Non-starange diam (S = 0). peluruhan dan oleh
interaksi elektromagnetik. Diam saat peluruhan lemah.
Dalam pembahasan bab XVII, pion adalah kuantum medan nucleon kuat. Semua
mesons mempunyai spin keseimbangan yaitu 0 -. Termasuk boson mematuhi statistik
bose-einstein. D mesons lebih besar dari nucleon. Lainnya lebih terang dari nukleon.
Yang penting bahan-bahan mesons lihat ditabel 18.2 beberapa sudah dibahas
dalam 18.17.
Leptons : adalah interaksi partikel lemah dengan bilangan barion B = 0. Muatan
leptons juga ditunjukkan pada interaksi elektromagnetik. Semua bukti-bukti pada
kenyataan leptons tidak berada pada struktur internal dan jenis partikel. Mereka
diperlakukan lebih mendasar dari hadron yang mempunyai struktur internal (quark
struktur). Leptons dan quarks sepertinya sama tingkatannya dengan dasar.
_
Terlepas dari sepasang elektron positron (e+e -) dan , ketiga tipe lepton,
diketahui lepton atau tauon telah ditemukan sejak 1974-1975, keduanya di dapat
_
dan , dimana jenis lain dari anti partikel, mereka lebih besar dari nucleon.
Jenis tipe lepton hampir sama atau sejenis dengan neutrino, atau electron
neutrino (Ve) muon neutrino (V) dan tauon neutrino (V). Kesemuanya adalah
probalilitas massa nol partikel.
Pembentukan muatan leptons dengan neutrino (neutral) dapat dipercaya
membangun hukum empiris muatan leptonic (leptop number). Tiga tipe bilangan
lepton le, l dan l, ketiganya mempunyai nilai +1 untuk laptons dan -1 untuk
antileptons. Dari reaksi ini disertai leptons, tiga perbedaan bilangan lepton harus
e
+
di pisahkan, le antara electron dan e neutrino dan antipartikel (e dan )
37
Tabel 18.2
38
39
40
41
1)
Dimana qi dan pi adalah koordinat umum dan H adalah Hamilton untuk sebuah
pi
nomor partikel yang berinteraksi. Jika momentum tumbukan konstan, =
H
0. Maka qi = 0 dan Hamiltonian adalah terjemahan invariant (sepanjang
3)
[^
H , ^ ] ^ ^
H
Dimana adalah operator pengganti dengan adalah
d ^
=0
Hamiltonian. Jika adalah sebuah gaya konstan, maka dt dan
^
H ^ = ^ ^
H . Jadi Hamiltonian tidak terpengaruhh oleh (i.e.,
diperoleh
^
invariant dari) operasi oleh ^ , dan H diganti dengan ^ :
H
]=0 (18.11-
^
3a)
Jika momentum linear p, maka operator koresponden adalah
^p = - i
^
H
Dari yang kita ketahui, Hamiltonian adalah invariant dibawah
H
hadir: ] = 0 .Operator momentum sudut (tentang sumbu z) diberikan
^
oleh
^Lz =i
Oleh karena itu, jika momentum sudut adalah gerakan konstan (dLz/dt = 0)
maka H invarians sisa di bawah operasi (rotasi dalam ruang).
Jika perlu dicatat bahwa paritas operasi simetri diskrit respresnt simetri
(refleksi dan rotasi hingga 1800) tidak seperti simetri bawah perubahan sangat
kecil tersirat dalam tiga kasus sebelumnya (a ke c).
Dalam kasus untuk sebuah partikel elementer, konsep paritas memberikan
definisi yang lebih luas. Setiap partikel dengan massa tidak nol mempunyai
paritas intrinsik yang dapat menjadi +1 atau -1. Oleh karena itu, paritas total
sebuah sistem untuk partikel n menghasilkan paritas intrinsik dan orbital (-1)1
yang dapat ditulis dengan 1 2 3 . . . n(-1)1.
Paritas intrinsik dari proton, neutron dan elektron yang diambil untuk
menjadi lebih. Kemudian paritas intrinsik dari partikel dasar lainnya adalah
tetap, relatif terhadap paritas intrinsik dari nukleon. Paritas intrinsik dari pion
(, 0) aneh (lihat 18.13).
Paritas partikel biasanya ditunjuk oleh simbol (+) untuk genap atau (-)
untuk bilangan ganjil, ditulis sebagai superscript atas momentum sudut total
demikian: (Jp). Sebagai contoh, untuk nukleon kita menulis (Jp) = (1/2+), untuk
pion (Jp) = (0-).
(e) Hukum kekekalan muatan
Kata charge digunakan dalam makna yang lebih luas dalam partikel
elementer. Sebagian dari harga kelistrikan Q, didefinisikan sebagai harga
baryonik B untuk setiap baryon dan besarnya leptonik l untuk setiap lepton*.
Dimana B = +1 untuk baryon-baryon dan -1 untuk antibaryon. Untuk partikel
lain (meson, lepton) B = 0. Kesamaan l = 1 untuk lepton dan antilepton,
ketika baryon dan meson l = 0.
Sebenarnya ada tiga jenis muatan leptonic le, l, dan l terkait dengan tiga
kelompok lepton (lihat 18,10).
Muatan listrik Q kekal dalam interaksi semua. Hal ini terkait dengan
invarian mengukur medan elektromagnetik.
(f) Hukum kekekalan muatan paritas (paritas-C)
Hukum kekekalan ini berhubungan dengan besarnya invariant konjugasi
operasi C dalam seluruh partikel yang ditransformasikan ke dalam
antipartikel. Besarnya konjugasi yang dimaksud adalah kebalikan tanda semua
jenis harga (elektrik, baryon, dan lepton). Prinsip konjugasi menerapkan tidak
hanya pada besarnya partikel, tetapi juga pada partikel netral. Oleh karena itu,
neutrino yang elektriknya netral mempunyai antipartikel (anti-neutrino) yang
berbeda dari pembentukannya, besarnya lepton mempunyai dua kesamaan
dan perbedaan. Jadi berinteraksi secara berbeda dengan zat penyusunnya.
Di sisi lain, beberapa partikel seperti meson 0, foton, meson 0, partikel
J/ dan meson yang mana semua jenisnya berbeda mempunyai harga nol (Q
= 0, B = 0, l = 0) harus dapat diidentifikasikan dengan antipartikelnya.
Contoh lain dari sistem yang benar-benar netral adalah positronium di
mana sebuah elektron dan positron terikat bersama untuk membentuk
hidrogen seperti struktur (lihat 6.6).
45
|K >|K >
0 0
1
K 0S (18.11-
2
6)
|K 0 >+|K 0 >
1 (18.11-
K 0L
2
7)
0 0
Kita dapatkan CP K S > =+ K S > (18.11-
8)
47
0 0
dan CP K L > =- K L > (18.11-
9)
Oleh karena itu Ks0 adalah partikel CP genap, dimana KL0 adalah partikel
asing.
Jika invarian CP tetap yaitu, jika CP memiliki nilai tertentu, maka Ks0 dan
KL0 tidak dapat berubah menjadi satu sama lain sendiri.
Modus dominan Ks0 adalah proses dua pion (+ - atau 0 0). Ini konsisten
dengan fakta bahwa dua pion sistem seperti 0 0 (untuk l = 0) memiliki CP
bahkan (+1), 0 menjadi diri konjugat (C = 1) sedangkan P = -1 untuk setiap
0. Demikian pula dominan tiga pion peluruhan mode KL0 (0 0 0 atau + -
0) adalah consident dengan CP aneh untuk sistem pion tiga.
Percobaan Christensen dan kawan-kawan menunjukkan bahwa 0,2% kasus
partikel K 0 meluruh dengan dua bentuk pion K 0 0 0. Hal ini berarti
L L
12)
Dimana I3 terdiri dari tiga komponen untuk isospin I dan B adalah nomor
baryon. Oleh karena itu, meson K+ dengan B = 0, S = +1, Q = +1 diperoleh I 3
= + . Disisi lain K0 ketika Q = 0, I3 = - . Oleh karena bentuk K+ dan K0
sebuah isospin ganda dengan I = . UNtuk ketidakasingan baryon, proton atau
neutron B = 1, S = 0, jadi Q = I 3 + B/2 = I3 + yang membutuhkan I3 = +
(atau ) untuk membuat Q = +1 (atau 0). Kita definisikan Y sebagai
49
Y= B+S (18.11-
13)
Dimana Q = I3 + Y/2 (18.11-
14)
Dimana B dan S dipertahankan dalam interaksi kuat, dan Y juga
dipertahankan. Aturan S = 0, 1 dipatuhi dalam peluruhan lemah semi stabil
untuk partikel yang asing. Contoh:
0 0+ (S = 0)
+ p+ 0
(S = +1)
0 0 + 0 (S = +1)
0+ (S = +1)
0+K (S = +1)
n+
Tetapi peluruhan tidak diobservasi. Dalam Tabel 18.3
ditunjukkan jumlah variasi yang dipertahankan atau selain itu (ya atau tidak)
dalam jenis interaksi yang berbeda.
Tabel 18.3
Besaran Kuat Elektromagnetik Lemah
Energi dan momentum (E, p) Ya Ya Ya
Momentum sudut (J) Ya Ya Ya
Paritas (P) Ya Ya Tidak
Isospin (I) Ya Tidak Tidak
Komponen ketiga (I3) Ya Ya Tidak
Konjugasi muatan (C) Ya Ya Tidak
Pembalikan waktu (T) Ya Ya Tidak
CP Ya Ya Ya
CPT Ya Ya Ya
Nomor baryon (B) Ya Ya Ya
Nomor Lepton (l) Ya Ya Ya
Muatan (Q) Ya Ya Tidak
Keasingan (S) Ya Ya Tidak
Muatan besar (Y) Ya Ya Tidak
50
Lemah (c)
p+ p p+ p+ p+ p (18.12-1)
Proton 6 GeV, balok dari Bevatron jatuh pada T tembaga target yang
menghasilkan pasangan p p sesuai dengan skema (18.12-1). Karena
bermuatan negative, antiproton mengikuti jalur yang berlawanan
kelengkungannya relative terhadap proton di bidang Bevatron magnet dan keluar
dari kawasan target bersama dengan pion yang telah dihasilkan di target. Kedua
magnet M1 dan partikel M2 dari sebuah momentum tertentu dan pion yang
nampak memiliki kecepatan 0,99 c. Sementara antiproton memiliki kecepatan
0,78 c. Apabila S1, S2, dan S3 adalah bidang, sedangkan C1 dan C2 adalah dua
Cherenkov counter. Dimana C1 hanya mendeteksi partikel dengan kecepatan di
atas 0,79 c sehingga pion dapat dicatat olehnya. C 2 mendeteksi partikel dengan
kecepatan antara 0,75 c dan 0,79 c sehingga hanya antiproton yang dapat
terdeteksi.
antiproton bisa terdeteksi oleh pengaturan ini. Merekam pulsa kebetulan ini
memberikan indikasi pasti tentang produksi antiproton.
Agar lebih pasti, antiproton diizinkan untuk masuk ke dalam bilik
gelembung (ruang emulsi) dimana mereka dimusnahkan dengan cara interaksi
dengan proton untuk menghasilkan beberapa pion (5 10) nukleon dan kaon.
p p pion+ n ukleon+ kaon
dihasilkan dalam proses yang sama dan konverter ke partikel bermuatan di blok
utama antara S2 dan S3.
Ketika S2 mendeteksi partikel bermuatan yang dihasilkan oleh
penghancuran dalam pengubahan, sedangkan S3 mendeteksi sinar yang
dihasilkan dalam proses yang sama dan diubah menjadi partikel bermuatan diblok
antara S2 dan S3.
Antineutron dan antiproton merupakan sepasang isospin, seperti sepasang
n p sehingga I = bagi mereka dengan I 3 = + dan - . Nilai I3 hanya
berlawanan dari partikel-partikel yang sesuai. Untuk p dan n memiliki
nomor baryon B = -1, spin S = dan paritas P = -1. Massa partikel sama dan
sesuai. Demikian pula kehidupan rata-rata untuk n adalah sama dengan n.
Skema peluruhannya adalah
53
+ +v e
n p + e
Antinuclei:
Antinuclei memproduksi pertama kali antideutron pada tahun 1965 dengan
menggunakan 30 GeV akselerator Brookhaven di Amerika. Antideutron dideteksi
dengan spectrometer massa yang melekat pada target berilium. Inti dari
antideuterium terdiri dari antiproton ( p dan antineutron ( n . Ini memiliki
muatan Z = -1, nilai baryonic B = -2 dan M ( d = M (d), karena jumlah inti
yang dihasilkan sangat kecil dan sifat-sifat lainnya tidak dapat dilakukan.
Dua antinuclei yaitu 3 H e dan 3 H telah dihasilkan oleh sekelompok
ilmuwan Rusia dengan menggunakan akselerator Serpukov pada tahun 1970 dan
1973. Tingkat produksi antinuclei terbenam cepat dengan meningkatkan massa.
Sebelum antinuclei diidentifikasi, ada spekulasi bahwa mungkin ada
antidunia berisi antimateri yang terdiri dari antiatom yang merupakan konjugasi
dari atom di dunia. Namun, ada beberapa alasan untuk percaya bahwa dari jumlah
yang sama dari materi dan antimateri diproduksi awalnya dalam ledakan mula-
mula (big bang) yang terjadi selama 10-38 S pertama penciptaan, karena perbedaan
yang dikenal sangat sedikit pada peluruhan materi dan antimateri yang merupakan
hasil dari kenyataan bahwa operasi gabungan konjugasi muatan dan paritas yaitu
operasi CP (lihat 18.11i)dilakukan tidak cepat.
1)
+ p n+
(18.13-
2)
Penangkapan - oleh proton terjadi di kulit K dari atom pion (L = 0) karena
kedekatannya dengan inti. Hal ini dikarenakan S dan Sp juga - dan p adalah 0
dan . Momentum sudut dari awal bagian adalah J = dimana J = L + S. Pada
54
3)
Dalam hal ini juga - penangkapan berlangsung di orbit Li = 0 dari atom
pion. Jadi paritas spasial keadaan awal adalah genap, juga paritas dari ground
state deuteron adalah genap. Jadi total paritas keadaan awal ditentukan oleh
paritas -.
Sejak S = 0 dan Jd = 1, momentum sudut total keadaan awal adalah J i = 1.
Dalam keadaan akhir (n + n) bagian-bagian berikut ini diperbolehkan oleh prinsip
Pauli.
Daerah dalam: 1S0, 1D2, 1G4 dan seterusnya. Dengan L = 0, 2, 4, dan seterusnya.
Daerah kelipatan tiga: 3P012, 3F234, 3H456 dan seterusnya. Dengan L = 1, 3, 5, dan
seterusnya.
Untuk kelompok pertama, fungsi spin aneh, sedangkan fungsi spasial
bahkan, sehingga fungsi gelombang total bahkan, sehingga fungsi gelombang
total aneh, seperti yang diwajibkan oleh prinsip Pauli, karena neutron adalah
fermion. Untuk kelompok kedua, fungsi berputar bahkan, sedangkan fungsi
spasial yang aneh, sekali lagi membuat fungsi gelombang keseluruhan aneh.
Untuk menghemat momentum sudut total, keadaan akhir harus 3P1 yang
berarti L = 1 untuk keadaan akhir, memberikan ruang paritas ganjil, karena
neutron bahkan paritas intrinsik diasumsikan dari total paritas keadaan akhir harus
ganjil.
Jadi kekekalan paritas mensyaratkan bahwa - harus memiliki paritas
intrinsik ganjil. Untuk 0 juga merupakan intrinsik paritas ganjil. Hal ini
diasumsikan dengan + dengan antipartikel dari - harus memiliki paritas intrinsik
ganjil.
Ini dikenal sebagai partikel resonansi yang umur hidup mereka terlalu pendek jika
di ukur secara langsung. Mereka biasanya (resonansi) muncul sebagai puncak
resonansi dalam grafik yang menunjukkan variasi penampang dari berbagai jenis
peristiwa selama tumbukan energi pada energi tertentu.
Resonansi partikel telah ditemukan baik antara meson-hiperon. Mereka
diproduksi dalam tumbukan energi tinggi antara interaksi hadron kuat dan diamati
selama hamburan atau reaksi yang diprakarsai oleh partikel energi dasar yang
sangat tinggi diperoleh dari akselerator.
Gambar 18.6 Arah melintang pion pembombardir proton sebagai fungsi energy.
(2 J +1) 2J+1
g= =
( 2 S +1 ) (2 S p +1) 2 (18.14-
2)
(I = 1 3/2)
(I3 = +1, + , +3/2)
++n C
(ii)
(I = 1 3/2, 1/2)
(I3 = +1 - 1/2)
++ p C
(iii)
(I = 1 , 3/2, 1/2)
(I3 = -1, + , -1/2)
++n C
(iv)
(I = 1 3/2)
(I3 = -1, - , -3/2)
57
4)
Kesamaan untuk sistem (+ p) menghasilkan keadaan I = 3/2, I 3 = - dengan I3 =
-1 dan Ip3 = + diperoleh:
C (3/2, - ; -1, )2 = 1/3 (18.14-
3/2 1,
5)
sehingga rasio dua arah melintang adalah
3/2(+ p) / 3/2 (- p) = 3 (18.14-
6)
Nilai yang diukur dari rasio di resonansi keluar menjadi
( + p) / (-p) = 200/70 3
Jadi kita memberikan nilai I = 3/2 untuk keadaan resonansi pada energi
kinetik pion dari T = 190MeV untuk kedua ( + p) dan (-p) hamburan.
Jadi dalam semua empat kasus tersebut ( proses (i) sampai (iv) di atas),
daerah bagian isospin I = 3/2 dengan I3 = +3/2, +1/2, -1/2 dan -3/2 masing-masing
diproduksi, yang dengan demikian merupakan suatu quadruplet isospin (M = 2I +
1 = 4).
Karena muatan Q diberikan oleh (lihat persamaan 18,11-10)
Q = (1 + I3)
Keempat keadaan memiliki muatan +2e, +e, 0 dan e. Mereka biasanya
dinyatakan dengan symbol ++, +, 0, dan - secara berturut-turut dan constitute
sehingga disebut (1232) dalam bentuk massanya 1232 MeV.
Massa dari resonansi : ini dapat diturunkan dari hubungan relativistic
energi total E dan momentum P dari system (p):
58
Resonansi mesonik: teramati selama tumbukan (N) dalam proses yang tak
elastis, seperti
+ N N + () (18.14-
9)
+ (18.14-
9a)
() adalah resonansi mesonic yang setelah itu meluruh dengan interaksi
kuat menjadi dua pion. Dengan cara lain kita peroleh
+NN++ (18.14-
10)
(N) N + (18.14-11a)
Resonansi () dan (N) keduanya telah diamati dalam proses tak elastis.
-meson: Resonansi seperti ditunjukkan pada gambar 18.7 disebut -
meson. Ini adalah sebuah meson, saat pecah menjadi dua pion : (+0), (-+) atau
(-0). Massanya adalah 769 MeV. Lebar 124 MeV menunjukkan bahwa waktu
peluruhannya adalah 10-23 s. Menunjukkan bahwa peluruhan terjadi dengan
interaksi yang kuat. Ini memiliki tiga keadaan muatan +e, 0, -e. Sehingga
isospinnya adalah I=1. Studi tentang distribusi angular hasil peluruhan
menghasilkan J=1. Saat pion masing-masing memiliki spin paritas nol atau ganjil.
Total spin dan paritas dari I dan -meson adalah 0 dan genap. Sehingga
menghasilkan keadaan l=1 dan harus memiliki paritas ganjil saat Jp=(1-)
61
-meson: dua dan tiga resonansi pion telah diteliti dalam reaksi pion deuteron:
++d p+p+(3) (18.14-12)
3 ++-+0 (18.14-12a)
Resonansi terjadi pada massa 783 MeV dan 549 MeV. Keduanya hanya
terjadi pada keadaan netral, sehingga isospin I=0 untuk keduanya.
Partikel 549 MeV dikenal sebagai -meson. Lebar puncak hanya dalam 10
keV menunjukkan bahwa waktu hidupnya sekitar 6 x 10 -20. Ini adalah peluruhan
elektromagnetik yang memiliki JP=0-. Peluruhan elektromagnetik
2(31%) bersaing dengan mode peluruhan lain yang lebih kuat seperti
(30), (+-0) dan yang lainnya. Ini diyakini terjadi disebabkan oleh
keanehan dari paritas G dalam peluruhan 3.
G-parity: Berdasarkan operasi konjugasi muatan C dan rotasi 1800 di
sekitar dua sumbu ruang isospin. Kombinasi operasi dikenal sebagai operasi G-
parity. G-parity hanya terjadi pada interaksi kuat. Rotasi di sekitar dua sumbu
dalam ruang isospin merubah tanda komponen ketiga isospin I 3. Kemudian
berdasarkan persamaan (18.11-12) apabila B+S=0 (untuk sebuah pion), tanda
muatan Q tidak berubah dengan operasi G-parity. Ini berdasarkan fakta bahwa
operasi C merubah tanda muatan (muatan antipartikel berlawanan dengan
partikel). Sehingga operasi gabungan menghasilkan tanda I3yang tidak berubah.
Sehingga kita dapat mencatat bahwa G-parity dari yang berputar bertanda
negative. Ini memberikan konsekuensi bahwa interaksi kuat tidak dapat merubah
bilangan genap pion menjadi bilangan ganjil. Saat 0-meson memiliki G-parity
genap, meluruh dalam tiga pion . Sehingga dua foton meluruh 0 menyerupai
peluruhannya menjadi tiga pion. Ini kemungkinan disebabkan mode tiga pion dari
peluruhan 0, mengisyaratkan bahwa G-parity adalah efek virtual
elektromagnetik.
(18.14-13)
+ + - + 0 (89,9%)
Masa hidup peluruhan sekitar 7x10-23 s dimana sedikit lebih panjang
dibanding karakteristik waktu nuklir.
Model peluruhan yang lain dari melibatkan +- (1,3%), +(8,8 %).
Sebagaimana diyatakan sebelumnya (783) juga dihasilkan dalam reaksi (+d).
-meson: yang memiliki massa 1020 MeV, I= 0 dan J p=1-). Dua yang
terakhir adalah sama seperti pada -meson. (1020) meluruh dalam K K
dengan lebar puncak 4,2 MeV. Model peluruhan ini termasuk K +K-(48,6%),
KLKS(35,1%), +-0 (14,7%), 0(1,6%), 0(0,14%) dan beberapa peluruhan
minor leptonic.
K* meson: Keadaan tereksitasi dari K-meson telah diteliti. Bahwa K *adalah
meson vector dengan hypercharge Y=1 adalah reosnansei K dengan massa 892
MeVdan lebar 50 MeV , Jp=(1-) dan l=1/2 untuk itu. Terdapat beberapa jenis dari
peluruhan model K.
(769), K*(892), (783) dan (1020) adalah vector meson yang paling
ringan (lihat berikutnya). Beberapa resonansi meson yang lain telah ditemukan.
Penemuan penting yang lain adalah yang disebut dengan partikel J/ yang
mendukung gagasan charmed quark c bagian dari tiga postulat sebelumnya u,s,d.
Ini akan didiskusikan secara detil pada bagian 18.18.
Tabel A-IX pada apendiks memberikan daftar resonansi mesonik dan
propertinya. Lihat juga table 18.5.
Beberapa keadaan Baryonic: Beberapa keadaan baryonic yang lebih tinggi telah
ditemukan dimana merupakan kondisi tereksitasi dari N, , , , dan -. Lebih
detil dilihat pada daftar table 18.5.
Regge recurrences:
Sistematisasi dari kedaan tereksitasi baryonic menunjukkan kerapatan keadaan
eksitasi per unit energi interval meningkat denga cepat dengan bertambahnya
63
Gambar 18.8 Regge trajectory menunjukkan plot kuadrat massa dari keadaan
nucleonic l=3/2 terhadap spin J
Salah satu contoh Regge trajectory untuk beberapa keadaan nucleon
roatasi prominent dengan isospin I=3/2 seperti ditunjukkan pada gambar 18.8.
menunjukkan variasi m2(J) berbeda dengan J sebesar 2 dua satuan. Garis lurus
dari titik-titik dapat direpresentasikan dengan hubungan empiris dalam bentuk
m2(J)=b(J-0)dimana b=1 GeV2. Regge trajectory yang sama juga diteliti untuk
resonansi meson.
Kita telah melihat bahwa dalam jumlah besar partikel elementer ditemukan
dalam beberapa tahun terakhir dapat diklasifikasikan berdasarkan interaksinya.
Saat seluruh partikel bermuatan menjadi subyek interaksi elektromagnetik,
interaksi yang menjadi dasar klasifikasi yang utama adalah interaksi inti kuat dan
64
inti lemah. Partikel yang masuk dalam kelompok inti interaksi kuat
dikelompokkan sebagai hadron dan inti interaksi lemah dikelompokkan dalam
lepton. Hadron dapat dikelompokkan lagi menjadi dua kelompok yaitu baryon dan
meson. Baryon mengikuti aturan statistic Fermi-Dirac adalah fermion sedangkan
meson yang mengikuti aturan statistic Bose-Einstein adalah boson. Meson
mengikuti aturan kuanta medan internukleon.
Hadron termasuk dua kelompoknya dia atas dapat dikelompokkan
berdasarkan isospin (l) yang menurunkan multiplisitas M=2l+1. Untuk setiap
kelompok partikel berdasarkan l, memiliki komponen ketiga l 3 dengan nilai l, l-
1-l. Untuk system dengan partikel lebih dari satu, vector isospin dapat
digabungkan dengan metode penjumlahan vector dengan menjumlahkan
komponen ketiganya l3 secara aljabar. Sebagai contoh, jika terdapat dua isospin
doublet masing-masing dengan l=1/2 dan l3=+1/2 dengan menggunakan metode
penggabungan di atas,kitamendapatkan isospin multiplisitas kelompok partikel
dibentuk dari dua isospin doublet di atas. Proses pembentukan multiplet isospin
yang berbeda dari sejumlah isospin doublet seperti di atas menggunakan aturan
transformasi khusus yang dikenal sebagai Special Unitary Groups tingkat 2 atau
SU2. Generator beberapa transformasi adalah matrik hermitian 2x2. Anggota dari
doublet di atas adalah p dan n yang ditransformasikan satu dengan yang lain
menggunakan transformasi SU2.
Ada metode grafik yang sederhana untuk menurunkan multiplisitas system
komposit yang dibuat berdasarkan isospin doublet seperti p dan n. Metode yang
dimaksud seperti diilustrasikan pada gambar 18.9 yang dikenal sebagai weight
diagram. Garis paling bawah menunjukkan dua komponen isospin dengan l3
=+1/2 dan -1/2 saling berhubungan. Kemudian kita superposisikan di sini doublet
yang kedua dalam beberapa cara sehingga pusat simetri dari bentuk ini dibentuk
dari coincide dengan posisi dua komponen +1/2 dan -1/2 dari tingkat yang
pertama seperti ditunjukkan pada garis yang ada di tengah .
65
Gambar 18.9 Weight diagram untuk membangkitkan sebuah isospin triplet dan
sebuah isospin singlet dari dua isospin doublet
Hasil akhir dapat dilihat pada garis paling atas yang menunjukkan empat
nilai l3 dari system komposit yang menunjukkan +1, 0, -1 (sebuah triplet) dan 0
(adalah sebuah singlet). Yang pertama menunjukkan simetri triplet isospin dimana
l=1 dan yang kedua menunjukkan antisimetri isospin singlet dengan l=0. Hasil di
atas dituliskan secara simbolis sebagai
22=31
Untuk mendapat multiplisitas yang lebih tinggi, metode di atas dapat
diulang dengan superposisi weight diagram berdasarkan isospin doublet yang
pertama kemudian isospin triplet ditunjukkan di atasnya dan kemudian pada
isospin singlet untuk membangkitkan sebuah quadruplet dan dua doublet:
23=42
21=2
Ini dapat diasumsikan bahwa eight baryon seperti di atas dibentuk sebagai
hasil dari interaksi yang sangat kuat yang seluruh massanya sama (eight fold
degenerasi dalam kekuatan dan muatan). Simetri octet ini rusak akibat aksi
interaksi kuat (yang bergantung pada kekuatannya). Ini memindahkan degenerasi
kekuatan antara kelompok yang berbeda S dalam supermultiplet. Akhirnya
masing-masing kelompok memberikan S, degenerasi muatan dipindahkan oleh
interaksi elektgromagnetik. Sehingga komponen dengan l yang sama dengan
perbedan l3 memiliki perbedaan massa yang kecil. Pemisahan yang pertama
(karena interaksi kuat) dalam orde M/M 10% sampai 20% dan pemisahan yang
kedua disebabkan interaksi elektromagnetik pada masing-masing kelompok
dengan S yang sama dalam orde M/M 1%.
67
Massa yang ditunjukkan pada table adalah massa rata-rata untuk isospin
multiplet pada tiap kasus.
68
Weight diagram yang sama pada bidang Y-l3 dapat dibentuk untuk partikel
resonan. Dua contoh ditunjukkan pada gambar 18.12 dan 18.13. Yang pertama
adalah octet resonan meson dengan Jp=(1-)dan yang kedua adalah decuplet dengan
Jp=(3/2+). Seperti pada kasus meson octet seperti didiskusikan di atas, octet
direpresentasikan oleh heksagon pada gambar 18.12 adalah esensial nonet yang
diakibatkan inklusi dari yang memiliki Jp=(1-).
Keberadaan baryonic decuplet telah diprediksikan oleh simetri SU3.
Weight diagram ini adalah sebuah segitiga sama kaki. Segitiga ini berisi sebuah
isotopic quadruplet (1232) dengan S=0, Y=1 dan I=3/2; sebuah triplet 0(1385)
dengan S=-1, Y=0 dan I=1/2 serta sebuah singlet - (1632) dengan S=-3, Y=-2
dan l=0.
Pada saat itu decuplet telah diprediksikan, keberadaan - tidak diketahui. Properti
- telah diprediksikan oleh teori SU3 telah diverifikasi. Antipartikel - juga telah
ditemukan.
Gell-Man dihadiahi Nobel Prize pada 1964 untuk SU3 skema klasifikasi.
Penemuan Hyperion -
Hyperion - ditemukan pada 1964 di Brookhaven menggunakan ruang
gelembung hydrogen 2 m K- meson dengan momentum 5 GeV/c.
Seperti ditunjukkan pada diagram skematik fotografi ruang gelembung
pada gambar 18.14 insident K- meson berhubungan dengan produksi proton -
menurut persamaan
dan u s . Jatuh pada tiga poin sudut segitiga di sisi kanan atas dari segi enam
di Gambar 18.15c. Mengikuti prosedur yang sama diagram berat antikuark secara
berturut-turut diletakkan pada posisi d dan s untuk menghasilkan nilai-nilai
Y I3
dan untuk kombinasi d u , d d , d s , s u , s d , s s .
Dari Gambar 18.15 c dapat dilihat bahwa dalam diagram berat
heksagonal, kombinasi q q pada titik sudut yang berbeda ditempati oleh
dan s s terletak di pusat hexagonal. Dengan cara ini kombinasi 3x3 atau 9
dapat diperoleh oktet SU3 dan singlet SU3. Hal ini dapat dinyatakan dalam bahasa
teoritis sebagai 3 3 = 8 1.
Dua kombinasi di pusat heksagon adalah bagian dari oktet SU3. Salah
satunya milik sebuah triplet isospin dan lainnya adalah milik singlet isospin.
Kombinasi ketiga adalah singlet SU3. Hal tersebut diidentifikasikan sebagai
resonansi (958).
Karena kuark dan antikuark memiliki paritas yang berlawanan dengan spin
q q o 1
masing-masing, maka kombinasi memiliki p atau pada
J =
o
kondisi l=0 . Pada p kombinasi q q telah diidentifikasi dengan
J =
q q 1
delapan meson dalam Tabel 18.6, dimana kombinasi dengan p
J =
dinyatakan sebagai kombinasi linear dari tiga kombinasi di atas. Untuk alasan
inilah, semua partikel yang ditampilkan pada tiga kombinasi di atas.
75
Tabel 18.8
3 3 3=10+8 8 1
Hal ini sangat mungkin untuk memiliki nomor baryon B = 1 dan Q muatan
terpisahkan dengan tiga quark. Seperti dalam kasus kombinasi q q , kombinasi
qqq juga dapat diwakili dengan bantuan diagram berat untuk quark. Dimulainya
dengan diagram berat untuk quark pertama diagram berat untuk kedua ditekankan
pada posisi tiga quark u, d, s dari diagram pertama berturut-turut, memberikan
sembilan titik seperti uu ,ud , us dll
Selanjutnya diagram berat untuk quark ketiga berturut-turut diletakkan
Y I 3
pada sembilan poin pada bidang yang diperoleh sebelumnya. Dengan
cara inilah dua puluh tujuh poin yang menyatakan bberapa kemungkinan
kombinasi qqq yang berbeda diperoleh. Hal ini termasuk oktet dari baryon
+
1 /2
yang tercantum dalam Tabel 18.6, yaitu dan oktet dari antibaryons yang
J P =
sesuai. Selain itu, ada docuplet berisi sepuluh baryon seperti yang ditunjukkan
76
+
3 /2
pada Gambar 18.13, . Fungsi gelombang dari partikel berbeda yang
J P =
P = ( uud ) n = ( udd )
keanehan S = -1. Prosedur ini menghasilkan keadaan baru seperti di bawah ini
(yaitu isotriplet dan isosinglet):
+ , 0 ,
{
= uus ,
( ud+ du ) s
2
, ds}
=( uddu ) s / 2
Tiga kuark ( uuu ) dengan spin 3/2 adalah model simetris dan simetris spin yang
=( ddd )
0
=( udd )
Isoptriplet yang , isodoublet yang dan isosinglet yang
=( sss )
Akhirnya terdapat singlet SU3 yang dibentuk dari tiga kombinasi kuark yang telah
diidentifikasi dengan (1405) sebagai fungsi gelombang yang memiliki
campuran sedikit dengan yang (1675).
Salah satu keberhasilan utama dari teori struktur kuark partikel elementer
adalah bahwa kemungkinan untuk memastikan resonansi yang diamati dalam
skema klasifikasi partikel berdasarkan model tiga kuark. Selanjutnya adalah
kemungkinan untuk memprediksi beberapa sifat penting dari hadrons dari
pengetahuan tentang fungsi gelombang quark.
Kita telah melihat sebelumnya bahwa perbedaan massa antara partikel
isospins berbeda dalam supermultipet yang asal mereka dalam jenis interaksi yang
kuat antara gaya. Meskipun asal-usul interaksi simetri ini tidak jelas, adalah
mungkin untuk menunjukkan dasar model ikatan yang lemah antara kuark bahwa
79
massa kuark u dan d harus sama sedangkan quark s harus lebih berat. Massa
diperkirakan mu md ms telah diberikan di atas. Menurut teori quark massa
( 1232 ) ( 1385 ) ( 1530 ) ( 1672 )
, , dan harus equispaced.
=149 =145
Hasil Pengukuran memberikan MeV; MeV dan
=142
MeV. Observasi ini mendukung kesimpulan di atas.
sangat baik.
80
Kuark Non-observansi:
Dari hasil penelitian bersama dalam laboratorium yang berbeda di dunia,
kuark belum diamati dalam keadaan bebas.
Upaya telah dilakukan untuk menghasilkan kuark dalam energi tumbukan
tinggi dengan menggunakan lucutan proton dari akselerator. Dengan demikian
reaksi tersebut dapat diselidiki sebagai berikut:
p+ p p+ p+q+q
p+ p p+ 2u+ d
Antiproton p= R G
G
G G+B
=R R B
Pion
Dan lainnya.
82
Meskipun kombinasi R R ,G G
atau B B secara individual berwarna,
mereka tidak mewakili fungsi gelombang dari setiap partikel yang diamati. Selain
itu, kombinasi yang berwarna atau kuark individu yang berwarna tidak mewakili
fungsi gelombang setiap partikel yang diamati sehingga mereka
menyembunyikannya dari kita.
Teori kuantum chromodinamika, (QDS) menggambarkan perilaku kuark
ditandai dengan warna yang berbeda. Teori ini telah dikembangkan, mengikuti
formalisme teori elektrodinamika kuantum (QED). Kedua teori ini merupakan
versi khusus dari teori medan relativistik. Perkembangan terbaru dari fisika
partikel telah menunjukkan kebutuhan untuk kelas khusus dari teori, yang dikenal
sebagai teori gauge.
Elektrodinamika kuantum yang paling sederhana dari teori gauge
menggambarkan interaksi antara partikel bermuatan listrik seperti elektron dalam
hal pertukaran foton virtual (lihat teori kuantum radiasi oleh W. Heitler). Sebuah
elektron seharusnya memancarkan dan menyerap kembali seperti proton dalam
waktu yang ditentukan oleh prinsip ketidakpastian Heisenberg. Daya tarik
coulomb atau repulson antara partikel bermuatan digambarkan dengan bantuan
diagram Feynman (lihat kuark dan lepton oleh F. Halzen dan AD Martin).
Daya tarik yang kuat antara dua kuark tidak dapat dijelaskan oleh teori di
atas karena dua quark membawa muatan positif (lihat Tabel 18.7) akan mengalami
gaya coulomb. Gaya yang kuat mengalahkan gaya tolak ini untuk mengikat kuark
di hadrons. sehingga disebut muatan warna dari kuark yang bertanggung jawab di
medan warna seperti muatan listrik bertanggung jawab atas medan
elektromagnetik.
Interaksi yang kuat antara beberapa kuark dimediasi melalui pertukaran partikel
gauge dikenal sebagai gluon (c.f. menunjukkan gambaran foton dalam kasus
interaksi elektromagnetik). Dengan demikian gluon adalah kuanta dari medan
warna yang mengikat kuark dalam beberapa hadron (misalnya, nukleon) dan juga
nukleon dalam nukleus.
Sebagaimana dinyatakan di atas Teori Q.C.D. dikembangkan dalam
analogi teori Q.E.D. Namun, analogi ini tidak dapat diperpanjang terlalu jauh
karena teori harus menjelaskan bidang warna yang kuat yang menarik dalam
kasus kuark.
83
Gluon itu sendiri adalah suatu partikel yang berwarna yang wiwakili oleh
simbol R R , R B , R G , G R , G B , G G , B R , B B ,
RG , antara lain mereka adalah objek dengan dua warna. Ada sembilan
Kebutuhan untuk hipotesis dari quark pesona muncul dari nonoccurrence dari
+ + e
peluruhan leptonic , dll
K 0 n e
muncul adalah sekitar 3,1 GeV dalam kedua kasus. Lebar puncak hanya sekitar 2
MeV menunjukkan bahwa waktu hidup negara itu sekitar 10 3 kali lebih panjang
daripada partikel stabil normal. Kemudian pengukuran telah memberikan lebar
puncak kurang dari 0,1 MeV memberikan 1020 s. Partikel ini sekarang
disebut J / .
Meson dan barion yang mengandung kuark c telah ditemukan dan
dipelajari. Diagram dua dimensi pada Gambar 18.11 dapat diperpanjang dengan
menambahkan dimensi ketiga sesuai dengan bilangan kuantum pesona, untuk
membentuk polyhedron yang terhubung sesuai dengan prediksi meson pesona.
Para anggota keluarga partikel pesona terbagi dalam dua kelas, mereka
dengan pesona tertutup dan pesona terbuka di mana bagian-bagian pesona terlihat
dengan jelas. Kelompok pertama mencakup partikel J / yang diyakini
menjadi kombinasi kuark dan anti kuark pesona (c,c ), yang dikenal sebagai
charmonium (c.f. positronium). Menyatakan pesona terbuka termasuk dalam
2+
kelompok D+ meson ( c , d ) dengan JP = (0-) dan JP = (1+); baryon (
85
+
cuu ); baryon ( cud ). Waktu paruh dari pesona terbuka ini adalah dari
1)
elektromagnetik. Peluruhan akan lemah jika setidaknya satu dari kondisi berikut
ini dipenuhi: (i) keanehan hukum konservasi tidak memuaskan, (ii) pesona hukum
konservasi tidak memuaskan, (iii) neutrino yang diasosiasikan dengan peluruhan.
+ 0
Jadi dalam peluruhan + , keanehan tidak kekal. Kemungkinannya sebesar
K
+ v
21%. Peluruhan + memiliki kemungkinan 64% yang hUbungannya
K
Tidak ada pelanggaran aturan yang pernah teramati. Misalnya dalam proses
n , n ,
peluruhan berikut , dan , S=-2 untuk dan S=-3 untuk
87
; S=0 di tiap kedudukan akhir dalam kedua kasus tersebut. (b) perubahan
v e
p e
bahwa kekuatan interaksi di semua yaitu tiga proses, dan
+ p ( n , v )
n
menunjukkan bahwa kekuatan interaksi lemah berbagai sedikit berbeda satu sama
lain. Fakta ini dianggap oleh N. Cabbio yang terhubung semua konstanta melalui
Teori umum menyiratkan bahwa seiring dengan lemahnya arus, juga harus
ada arus netral lemah (lihat 18.21) yang belum lama ini telah ditemukan. Namun,
seperti yang dinyatakan beberapa observasi yang tidak diamati di alam, misalnya,
+
yang disebut teori peningkatan dan diperlukan pengenalan kuark
+
K
keempat (c-quark).
kuat nuklir, partikel gauge secara berturut-turut adalah -foton, menengah vektor
0
boson ( W , Z ) dan gluon. Mereka semua mempunyai spin partikel 1. Yang
sesuai muatan' adalah muatan listrik (), secara berturut-turut adalah biaya weak-
nuklir dan warna. Untuk interaksi gravitasi, partikel gauge adalah hipotetis
graviton tak bermassa pada spin 2, 'muatan' menjadi massa partikel.
Ini telah menjadi tujuan para fisikawan partikel yaitu untuk menyatukan
empat jenis interaksi sebagai aspek yang berbeda dari satu interaksi fundamental,
yang mengatur perilaku semua materi. Upaya yang pertama adalah penyatuan
interaksi sebagaimana Clerk Maxwell dan lainnya pada abad sembilan belas, yang
berhasil melakukan penyatuan interaksi listrik dan magnetik ke dalam interaksi
elektromagnetik tunggal.
bahwa hal tersebut harus memiliki spin intrinsik seperti foton 1 dan harus
memiliki massa lebih besar dari sekitar 37,4 GeV, dengan asumsi kopling sama
konstan (1/137) untuk kedua interaksi elektromagnetik dan lemah.
Namun ada satu masalah yaitu viz , interaksi elektromagnetik memiliki
simetri kiri-kanan dalam constrast interaksi lemah untuk paritas yang tidak
terkonservasi. Hal itu menunjukkan bahwa alat penggabungan seperti tampak
dalam interaksi yang berbeda, mungkin terjadi jika diasumsikan dengan
menambahkan muatan listrik netral antara dalam kuantum lemah Z 0 juga ada.
Ada dua masalah lain. Yang dan Mills telah menunjukkan bahwa teori
gauge didasarkan pada gagasan partikel gauge tak bermassa seperti foton -(dalam
0
kasus interaksi elektromagnetik) berbeda dengan partikel W dan Z yang
dibutuhkan untuk menjelaskan secara singkat berbagai karakter gaya lemah.
Masalah yang kedua adalah bahwa renormalisasi seperti dalam teori
elektromagnetik yang dikembangkan oleh H. Bethe, S. Tomonaga, Schwinger J.,
R. Feynman, F. Dyson dan lainnya yang menunjukkan bagaimana cara untuk
menyingkirkan yang tak terbatas dalam perhitungan yang melibatkan gangguan
orde tinggi.
89
(ev ) +
W
dan .
Z 0
Leptonic ini meluruh lemah mungkin hanya beberapa persen dari jumlah
total peluruhan. Spin W adalah 1 sebagaimana diungkapkan oleh arah dari produk
peluruhan.
Teori Weinberg-Salam membuat prediksi untuk massa W dan Z sebagai
berikut:
90
37.4
mW = GeV , mZ =37.4 sin W cos W GeV
sin W
W
Sudut Weinberg adalah parameter campuran yang dapat ditentukan
dari eksperimen:
2
sin W =0.218 0.010
mW
Secara teori massa W dan Z yang diperkirakan ( = 80 GeV and
mZ
= 91 GeV) sesuai dengan nilai-nilai eksperimental yang mendukung atas
dasar kebenaran model Weinberg-Salam untuk elektro-lemah.
Bukti tidak langsung menegakkan validitas ide-ide dasar di balik teori
unifikasi elektro-lemah yang diberikan pada tahun 1978. Sebuah percobaan di
Stanford menunjukkan adanya efek interferensi antara partikel-partikel proton ()
dan Z0 dalam hamburan elektron yang terpolarisasi dalam reaksi
+ p
+ p e telah memberikan dukungan secara tidak langsung tetapi secara
e
Hamburan Hadron-hadron : NN NN
Perhatikan bahwa tidak ada perubahan dalam salah satu transformasi di
atas. Studi interferensi antara interaksi lemah elektromagetik dan arus netral saat
ini dalam hamburan elektron yang terpolarisasi pada deuterium yang
menghasilkan informasi berharga tentang sifat arus netral. Efek paritas melanggar
arus netral dalam transisi atom juga telah diamati.
Arus netral merupakan campuran dari vektor (V) dan vektor aksial (A)
yaitu, mereka mengubah seperti vektor dan vektor aksial dibawah rotasi koordinat
spasial. Mereka juga merupakan campuran isoscalar (I = 0) dan isovector (I = 1).
Konstanta pasangan yang menentukan kekuatan relatif dari vektor, vektor
isoskalar aksial, dan isovektor telah diukur dan sesuai dengan nilai-nilai yang
diprediksi oleh model Weinberg-Salam.
Teori elektro-lemah sekarang diperkuat Salam, Weinberg dan Glashow
yang bersama sama diberikan penghargaan Nobel pada tahun 1979 atas kerja
keras mereka.
Konfirmasi akhir dari teori elektro-lemah unifikasi menunggu penemuan
Higgs scalar bosson dengan perkiraan massa 103 GeV akan sangat
bermanfaat yang mengatur kuark dan lepton dalam keadaan yang sama.
Standard Model: model Weinberg - Salam bersama dengan skema pesona
Glashow-Iliopoulos-Maiani (lihat 18.18), dikenal sebagai model standar adalah
dasar dari pemahaman saat fisika partikel. Pernyataan umum dalam model ini
e , e , , , ,
adalah enam kuark (u, d, s, c, b, t) dan enam lepton ( ).
Kuark berinteraksi antara interaksi kuat dan elektro-lemah. Lepton hanya
memiliki interaksi elektro-lemah. Kuanta dari interaksi yang kuat adalah boson
warna yang berbeda yang dikenal sebagai gluon dan ide teoritis ini dikembangkan
dalam Chromodinamika Kuantum (QCD). Kuanta dari interaksi elektro-lemah
adalah foton () dan vektor boson menengah (W , Z0) dan teori didasarkan pada
model Weinberg - Salam. Perlu dicatat bahwa foton juga vektor boson.
Kemungkinan seperti itu muncul karena nilai yang sama dari spin untuk
mengukur partikel dalam tiga kasus. Para fisikawan mengamati kekuatan yang
92
berbeda pada hasil energi rendah dari yang berbeda renormalizations karena
simetri spontan berturut-turut.
Teori unifications besar harus memerlukan kelompok simetri tinggi seperti
yang dipertimbangkan dalam teori Weinberg-Salam. Hal ini diyakini bahwa
kelompok yang dikenal sebagai SU5 akan sesuai dengan tujuan yang
memperlakukan kuark dan lepton sejajar.
Konsekuensi mengejutkan dari teori ini adalah hilangnya distiton antara
kuark dan lepton yang menimbulkan kemungkinan transformasi proton dalam
lepton dan pion, pertama ditunjukkan oleh JC Paty dari India dan A. Salam dari
Pakistan. Proton kemudian tidak menjadi partikel stabil. Beberapa perhitungan
telah memberikan keterangan bahwa waktu hidup dari peluruhan proton menjadi
0
+
1029 tahun untuk modus peluruhan e . Belum ada bukti eksperimental yang
p
Ketika kita mendekati waktu +10-10 s hal ini mengalami pembekuan kuat
dari interaksi elektro-lemah dan dua interaksi yang sekarang muncul dengan
pendekatan yang berbeda. Jadi sekarang ada tiga dasar interaksi yaitu, gravitasi,
0
operasi nuklir dan elektro-lemah. Muncullah boson W dan Z .
Pada + 10-10s, interaksi elektro-lemah mulai defreeze, elektromagnetik dan
gaya lemah menjadi terpisah, seperti yang kita amati saat ini. Sehingga kita
seekarang memiliki semua keempat operasi dengan interaksi yang berbeda.
Antara 10-6 untuk 10-4 s tiga adalah transisi yang lain. Neutron dan proton
mulai terbentuk karena kombinasi dari kuark, sehingga partikel dasar yang kita
kenal di alam semesta saat ini mulai muncul.
Pada sekitar 10-3 s, suhu turun menjadi 8 x 10 10K. Ratusan partikel dasar
yang berbeda dihasilkan oleh tabrakan pada tingkat energi yang tersedia.
Sebuah tonggak penting tercapai pada waktu nol lebih tiga menit. Suhu
mencapai sekitar 70 kali dari inti matahari. Hal ini terjadi ketika proton dan
neutron mulai bergabung untuk membentuk inti yang kompleks.
Informasi mengenai atom kemudian mulai datang. Pada saat waktu nol
ditambah 500.000 tahun, alam semesta cukup dingin sehingga elektron dan inti
bisa bergabung bersama untuk membentuk atom. Tabrakan antara inti dan
elektron mengambang dalam lautan radiasi panas dan atom mereka tidak dapat
lagi disipisahkan menjadi beberapa unsur penyusunnya.
Didalam inti atom memberikan gambaran peristiwa awal alam semesta.
Jika teori besar penyatuan menemukan sebuah eksperimen dasar, seperti dalam
penemuan radioaktivitas proton atau monopoles magnetik yang berat, itu akan
memberikan dukungan yang kuat untuk teori big-bang dari penciptaan alam
semesta. Teori-teori terkecil dari materi diamati dengan demikian dianggap
memiliki implikasi yang mendalam dalam kosmologi.
94
BAB III
PENUTUP (KESIMPULAN)
1. Pada awal abad 19, ditemukan suatu partikel yaitu electron yang
ditemukan oleh J. J. Thompson. Kemudian penemuan sinar-x,
radioaktivitas dan penelitian terhadap sifat dasar dari parikel dan
selama peluruhan radioaktivitas mengenai model atom Bohr-Rutherford.
.
2. neutron yang ditemukan selannjutnya (1931). Hipotesis proton-neutron
pada komposisi inti atom yang selanjutnya dijelaskan pada pengamatan
sifat inti.
3. Prediksi Dirac mengenai keberadaan dari positron dengan dengan
penemuan Anderson (1933) yang menjadi bukti dari keberadaan pasangan
partikel dan anti partikel. Hipotesis neutrino yang dikemukakan oleh Pauli
(1931) menjelaskan tentang energy yang hilang pada peluruhan yang
ditemukan pada penemuan partkel elementer yang massanya hilang.
4. Penemuan dari dua partikel yang berumur pendek yaitu muon dan pion
pada sinar kosmik berturut-turut pada tahun 1937 dan 1947. Seperti yang
terlihat, pion dan interaksi partikel yang kuat (meson dan hyperon) berasal
dari tumbukan energy yang kuat.
5. Pi-meson atau pion adalah partikel dengan massa diantara electron dan
proton
6. Muon () seperti muatan pion adalah partikel dengan massa diantara
electron dan proton. Beberapa diantaranya lebih ringan dibandingkan
[Link] pion bersifat listrik dimana mempunyai satu muatan elektron
positif atau negatif dan tidak stabil.
7. K-meson atau koans adalah produksi interaksi kuat, tiap benturan N-N
(inti-inti) atau dalam benturan N.
0 (xi)
8. Hyperon terdiri dari: - Hyperon, - Hyperon, - Hyperon, -
Hyperon
9. Ada empat jenis interaksi pokok di alam, yang mengatur perilaku dari
semua sistem fisik yang dapat diamati. Ini adalah gravitasi
elektromagnetik, interaksi nuklir lemah dan nuklir kuat.
10. Seluruh partikel dasar dikelompokkan dalam tiga kelas, baryon, meson dan
lepton. Karakteristik utama dari dua yang pertama adalah bahwa partikel tersebut
mengalami interaksi nuklir kuat. Partikel seperti itu disebut hadron. Lepton di sisi
lain tidak mengalami interaksi nuklir kuat. Partikel tersebut untuk interaksi nuklir
lemah.
95
20. Grand Unification Theory (GUT) memiliki implikasi yang luas dalam
kosmologi. Teori kosmologi modern menganggap awal alam semesta
sekitar 1010 tahun yang lalu terjadi karena ledakan dahsyat primordial yang
dikenal sebagai teori big-bang. Spekulasi tentang kejadian segera muncul
setelah teori big-bang (pada waktu nol) menunjukkan bahwa alam semesta
mendingin dengan cepat dalam beberapa saat pertama.
Daftar Pustaka
96
Ghoshal, S. N. 2002. Nuclear Physics. New Delhi: Chand & Company Ltd.