PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
DIABETES MELITUS
Definisi : Suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh
hiperglikemia akibat defek pada:
1. Kerja insulin (resistensi insulin) di hati (peningkatan
produksi glukosa hepatik) dan di jaringan perifer (otot
dan lemak)
2. Sekresi insulin oleh sel beta prankeas
3. Atau keduanya
Klasifikas Diabetes Melitus
1. DM tipe 1 (destruksi sel beta, umumnya diikuti
defisiensi insulin absolut)
- Immune mediated
- Idiopatik
2. DM tipe 2 (bervariasi mulai dari predominan resistensi
insulin dengan defisiensi insulin relatif sampai pred
3. ominan defek sekretorik dengan resistensi insulin
dengan defisiensi insulin relatif sampai predominan
defek sekretorik dengar, resistensi insulin)
4. Tipe spesifik lain :
- Defek genetik pada fungsi sel beta pankreas
- Defek genetik pada kerja insulin
- Penyakit eksokrin pankreas
- Endokrinopati
- Diinduksi obat atau zat kimia
- Infeksi
- Bentuk tidak lazim dari immune mediated DM
- Sindrom genetik lain, yang kadang berkaitan dengan
DM
5. DM gestasional
Anamnesis : Keluhan khas DM : poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan
berat badan yang tidak dapt dijelaskan sebabnya.
Keluhan tidak khas DM : lemah, kesemutan, gatal, mata
kabur, disfungsi ereksi pada pria, pruritus vulva pada
wanita.
Faktor risiko DM tipe 2 :
- Usia > 45 tahun
- Berat badan lebih: > 110% berat badan idaman atau indeks
massa tubuh (IMT)
- Hipertensi (TD>140/90 mmHg)
- Riwayat DM dalam garis keturunan
250
PPK Penyakit Dalam
- Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau
BB lahir bayi >4000 gram
- Riwayat DM gestasional
- Riwayat toleransi gula terganggu (TGT) atau glukosa
darah puasa terganggu (GDPT)
- Penderita penyakit jantung koroner, tuberkolusis,
hipertiroidisme.
- Kolesterol HDL <35 mg/dl dan atau trigliserida >250
mg/dl
Pemeriksaan fisik : Pemeriksaan fisik lengkap, termasuk:
- Tinggi badan, berat badan, lingkar pinggang, Tensi,
Nadi, Suhu, Respirasi.
- Mata (visus, lensa mata dan retina)
- Keadaan kaki (termasuk rabaan nadi kaki) kulit, dan
kaki.
Kriteria diagnosis : Kriteria diagnosis
1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena)
>200 mg/dl, atau
Kadar glukosa darah puasa (plasma vena)
>126 mg/dl, atau
Kadar glukosa plasma >200 mg/dl pada 2 jam
sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO
HbA1C > 7%
Diagnosis kerja : Diabetes Melitus Tipe 1 (ICD 10:
Diabetes Melitus Tipe 2 (ICD 10:
Diabetes Melitus Tipe Lain (ICD 10:
Diabetes Melitus Gestasional (ICD 10:
Diagnosis banding : Hiperglikemia reaktif (ICD 10:
Toleransi glukosa terganggu (TGT) (ICD 10:
Glukosa darah puasa terganggu (GDPT) (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah Lengkap (ICD 9CM:
Laju Endap Darah (LED) (ICD 9CM:
- Gula darah puasa (ICD 9CM:
- Gula darah 2 jam sesudah makan (ICD 9CM:
- Urin Lengkap (ICD 9CM:
- Proteinuria 24 jam (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- SGOT (ICD 9CM:
- SGPT (ICD 9CM:
- Albumin (ICD 9CM:
- Globulin (ICD 9CM:
- Kolesterol Total (ICD 9CM:
- LDL (ICD 9CM:
- HDL (ICD 9CM:
- Trigliserida (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
- HBA1C (ICD 9CM:
EKG (ICD 9CM:
Foto toraks (ICD 9CM:
Funduskopi (Konsul Mata) (ICD 9CM:
Edukasi : Meliputi pemahaman tentang:
- Penyakit DM
- Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM
- Penyulit DM
- Hipoglikemia
- Cara menggunakan fasilitas perawatan kesehatan
Terapi Perencanaan Makan
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan
komposisis:
- Karbohidrat 60-70%
- Protein 10-15%
- Lemak 20-25%
Jumlah kandungan kolesterol disarankan <300 mg/hari.
Diusahakan lemak berasal dari sumber asam lemak tidak
jenuh (MUFA = Mono Unasaturated Fatty Acid), dan
membatasi PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid) dan asam
lemak jenuh. Jumlah kandungan serat 25 g/hari,
diutamakan seraat larut.
Jumlah kalori basal per hari
Laki-laki :30 kal/kg BB idaman
Wanita : 25 kal/kg BB idaman
Penyesuaian (terhadap kalori basal / hari)
Status gizi:
- BB gemuk = -20%
- BB lebih = -10%
- BB kurang = +20%
Umur >40 tahun = -5%
Stres metabolik (infeksi, operasi, dll) = +(10s/d 30%)
Aktivitas:
- Ringan = +10%
- Sedang = +20%
- Berat = +30%
Hamil:
- Trimester I, II = +300 kal
- Trimester III/laktasi = +500 kal
Rumus Broca
Berat badan idaman = (tinggi badan 100) 10%
Pria < 160 cm dan wanita < 150 cm , tidak dikurangi 10%
lagi
BB kurang = < 90% BB idaman
BB normal = 90-110% BB idaman
BB lebih = 110-120% BB idaman
Gemuk = >120% BB idaman
Latihan jasmani
Kegiatan jasmana sehari-hari dan latihan teratur (3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit). Prinsip:
250
PPK Penyakit Dalam
Continous-Rhytmical-Interval-Progressive-Endurance
Obat Hipoglikemia Oral (OHO):
Pemicu sekresi Insulin (Insulin secretagogue) :
sulfonilurea, glinid
Penambah sensitivitas terhadap insulin : metformin,
tiazolidindion
Penghambat absorpsi glukosa : Penghambat glukosidase
alfa
Insulin
Indikasi:
Penurunan berat badan yang cepat
Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
Ketoasidosis diabetik
Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
Hiperglikemia dengan asidosis laktat
Gagal dengan kombinasi OHO dengan dosis hampir
maksimal
Stress berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, strok)
Kehamilan dengan DM / diabetes melitus gestasional
yang tidak terkendali dengan perencanaan makan
Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
Terapi kombinasi
Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan
dosis rendah,kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai
dengan respon kadar gula darah. Bila dengan OHO
tunggal sasaran kadar glukosa darah belum tercapai, perlu
kombinasi dua kelompok obat hipoglikemik oral yang
berbeda mekanisme kerjanya.
Pengelolaan DM tipe 2 gemuk:
Non-farmakologis: evaluasi 2 - 4 minggu (sesuai klinis)
Sasaran tidak tercapai: Penekanan kembali tata laksana
non-farmakologis kemudian dievaluasi 2-4 minggu
(sesuai keadaan klinis)
Sasaran tidak tercapai: ditambah 1 macam OHO
(biguanid/ penghambat glukosidase alfa /glitiazon)
kemudian dievaluasi 2-4 minggu (sesuai keadaan klinis)
Sasaran tidak tercapai: kombinasi 2 macam OHO
(biguanid/ penghambat glukosidase alfa /glitiazon)
kemudian dievaluasi 2-4 minggu (sesuai keadaan klinis)
Sasaran tidak tercapai: kombinasi 3 macam OHO
(biguanid/ penghambat glukosidase alfa / glitiazon) atau
Terapi Kombinasi OHO siang hari ditambah Insulin
malam kemudian dievaluasi 2-4 minggu (sesuai
keadaan klinis)
Sasaran kombinasi 3 OHO tidak tercapai: kombinasi 4
macam OHO (biguanid, penghambat glukosidase alfa,
250
PPK Penyakit Dalam
glitiazon dan secretagogue atau terapi kombinasi OHO
siang hari ditambah insulin malam) kemudian dievaluasi
2-4 minggu (sesuai keadaan klinis)
Sasaran terapi kombinasi 4 OHO tidak tercapai: insulin
atau terapi kombinasi OHO siang hari ditambah insulin
malam
Sasaran terapi kombinasi OHO dan insulin bila tidak
tercapai diberikan insulin tanpa OHO.
Pengelolaan DM tipe 2 Tidak Gemuk:
Non farmakologis dievaluasi 2-4 minggu (sesuai
keadaan klinis)
Sasaran tidak tercapai: non farmakologis ditambah
secretagogue kemudian dievaluasi 2-4 minggu (sesuai
keadaan klinis)
Sasaran tidak tercapai: kombinasi 2 macam OHO
(secretagogue ditambah penghambat glukosidase alfa/
biguanid/ glitiazon) kemudian dievaluasi 2-4 minggu
(sesuai keadaan klinis)
Sasaran tidak tercapai: kombinasi 3 macam OHO
(secretagogue, penghambat glukosidase alfa, biguanid/
glitiazon, atau terapi kombinasi OHO siang hari
ditambah insulin malam) kemudian dievaluasi 2-4
minggu (sesuai keadaan klinis)
Sasaran kombinasi 3 OHO tidak tercapai: kombinasi 4
macam OHO (secretagogue, penghambat glukosidase
alfa, glitiazon dan biguanid atau terapi kombinasi OHO
siang hari ditambah insulin malam) kemudian dievaluasi
2-4 minggu (sesuai keadaan klinis)
Sasaran terapi kombinasi 4 OHO tidak tercapai: insulin,
atau terapi kombinasi OHO siang hari ditambah insulin
malam
Sasaran terapi kombinasi OHO dan insulin tidak
tercapai: diberikan insulin tanpa OHO.
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Diabetes Melitus dilakukan rawat jalan dengan
kriteria pengendalian DM:
1. Gula darah puasa (mg/dl) = 80-109
2. Gula darah 2 jam pp (mg/dl) = 80-144
3. HbA1C (%) < 6,5
4. Kolesterol total (mg/dl) < 200
5. Kolesterol LDL (mg/dl) < 100
6. Kolesterol HDL > 45
7. Trigliserida (mg/dl) < 150
8. IMT 18,5 22,9
9. Tekanan darah < 130 / 80
250
PPK Penyakit Dalam
Target 60% pasien tertangani
Pasien Diabetes Melitus dilakukan rawat inap bila: koma
hipoglikemi, ketoasidosis, koma hiperosmoler nonketotik,
diabetik foot dan infeksi akut lainnya, dirawat sampai
keadaan akut teratasi.
Target : 60% pasien dapat tertangani.
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Diabetes Mellitus; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.9-15.
2. Tjokroprawiro, A.,Hendromartono,Sutjahyo, A. dkk.
(2008) Diabetes Mellitus; Pedoman Diagnosis dan
Terapi Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya,
h.85-95.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
KETO ASIDOSIS DIABETIKUM (ICD 10:
Definisi : Kondisi dekompensasi metabolik akibat defisiensi insulin
absolut atau relatif dan merupakan komplikasi akut
diabetes melitus yang serius. Gambaran klinis utama
ketoasidosis diabetikum (KAD) adalah hiperglikemia,
ketosis, dan asidosis metabolik
Faktor pencetus: infeksi, infark miokard akut, pankreatitis
akut, penggunaan obat golongan steroid, penghentian atau
pengurangan dosis insulin.
Anamnesis : Poliuri, polidipsi, polifagi
Riwayat berhenti menyuntik insulin
Demam/ infeksi
Mual/muntah
Pemeriksaan fisik : Kesadaran: compos mentis, delirium, koma
Tensi normal atau turun
Nadi cepat
Suhu normal atau meningkat
Pernapasan cepat dan dalam (kussmaul)
Dehidrasi (turgor kulit menurun, lidah dan bibir kering)
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Ketoasidosis Diabetikum (ICD 10:
Diagnosis banding : Koma hiperosmolar non ketotik (ICD 10:
Koma laktoasidosis (ICD 10:
Ensefalopati uremikum (ICD 10:
Intoksikasi alkohol (ICD 10:
Ensefalopati karena infeksi (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah Lengkap (ICD 9CM:
- Gula darah sewaktu (ICD 9CM:
- Urin Lengkap (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- SGOT (ICD 9CM:
- SGPT (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
- Albumin (ICD 9CM:
- Kolesterol Total (ICD 9CM:
- LDL (ICD 9CM:
- HDL (ICD 9CM:
- Trigliserida (ICD 9CM:
- HBA1C (ICD 9CM:
EKG (ICD 9CM:
Foto toraks (ICD 9CM:
Elektrolit (ICD 9CM:
Aseton urin (ICD 9CM:
Analisis gas darah (ICD 9CM:
Kultur darah (sesuai indikasi) (ICD 9CM:
Kultur urin (sesuai indikasi) (ICD 9CM:
Kultur pus (sesuai indikasi) (ICD 9CM:
Terapi : 1. Cairan:
NaCl 0,9% diberikan 1-2 L pada 1 jam pertama, bila
perlu ditambah 1 L tiap jam, selanjutnya maintenance 2
L dalam 24 jam.
Jika Na > 155 meq/L diganti dengan NaCl 0,45%
2. Insulin (regular insulin/ RI)
Drip insulin 4-8 unit/ jam IV sampai gula darah 250
mg/dl.
Jika kadar gula darah stabil 200-250 mg/dl selama 12
jam diberikan drip insulin 1-2 unit/jam.
Jika kadar gula darah < 100 mg/ dl drip insulin
dihentikan.
Selanjutnya pemberian insulin diberikan dalam bentuk
basal bolus.
3. Kalium
Bila kadar K:
<3,0 Drip KCl 75 meq/ 24 jam
3,0 3,5 Drip KCl 50 meq/ 24 jam
3,5 4,0 Drip KCl 25 meq/ 24 jam
4. Natrium bikarbonat
Bila pH <7,0 diberikan drip natrium bikarbonat 50 meq
dalam 500 ml NaCl 0,9% 30 tetes per menit.
5. Tatalaksana umum
O2 bila PO2 <80 mmHg
Antibiotika adekuat
Edukasi Cek gula darah mandiri bila terdapat gejala: poliuri,
polidipsi, polifagi.
Bila menggunakan injeksi insulin tidak boleh dihentikan
kalau tidak ada tanda hipoglikemi atau tanpa instruksi
dari dokter.
Jika terdapat tanda demam/ infeksi segera periksa ke
dokter.
Prognosis Dubia ad malam. Tergantung pada usia, komorbid, adanya
infark miokard akut, sepsis, syok.
250
PPK Penyakit Dalam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Keto Asidosis Diabetes dilakukan rawat inap
sampai kesadaran membaik, sesak hilang dan gula darah
terkendali baik.
Target 70% pasien tertangani.
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Keto
Asidosis Diabetes; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.20-22.
2. Tjokroprawiro, A.,Hendromartono,Sutjahyo, A. dkk.
(2008) Keto Asidosis Diabetes; Pedoman Diagnosis dan
Terapi Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya,
h.91-95.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
KAKI DIABETES (ICD 10:
Definisi : Kaki diabetes merupakan salah satu komplikasi kronik DM
yang diawali adanya hiperglikemia pada penyandang DM
sehingga menyebabkan kelainan neuropati dan kelainan
pada pembuluh darah.
Klasifikasi Wagner (Klasifikasi yang saat ini masih banyak
dipakai) :
0. Kulit intak / utuh
l. Tukak superfisial
2. Tukak dalam (sampai tendon, tulang)
3. Tukak dalam dengan Infeksi
4. Tukak dengan gangren pada 1 jari kaki
5. Tukak dengan gangren luas lebih dari 1 jari kaki
Anamnesis : - Terdapat luka yang sulit sembuh
- Keluhan khas DM: poliuria, polidipsia, polifagia,
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
sebabnya.
- Keluhan tidak khas DM: lemah, kesemutan, gatal, mata
kabur, disfungsi ereksi pada pria, pruritus vulva pada
wanita.
Pemeriksaan fisik : Pemeriksaan fisik lengkap, termasuk:
- Tensi, nadi, suhu, respirasi
- Tinggi badan, berat badan, lingkar pinggang
- Mata (visus, lensa mata dan retina)
- Keadaan kaki: warna dan suhu kulit, perabaan arteri
dorsalis pedis dan arteri tibialis posterior.
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Kaki Diabetes (ICD 10:
Diagnosis banding : Burger Desease (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
Pemeriksaan penunjang : Darah Lengkap (ICD 9CM:
- Gula darah puasa (ICD 9CM:
- Gula darah 2 jam sesudah makan (ICD 9CM:
- Urin Lengkap (ICD 9CM:
- Proteinuria 24 jam (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- SGOT (ICD 9CM:
- SGPT (ICD 9CM:
- Albumin (ICD 9CM:
- Globulin (ICD 9CM:
- Kolesterol Total (ICD 9CM:
- LDL (ICD 9CM:
- HDL (ICD 9CM:
- Trigliserida (ICD 9CM:
- HBA1C (ICD 9CM:
EKG (ICD 9CM:
Foto toraks (ICD 9CM:
Funduskopi (Konsul Mata) (ICD 9CM:
Edukasi : Meliputi pemahaman tentang:
- Penyakit DM
- Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM
- Penyulit DM
- Cara menggunakan fasilitas perawatan kesehatan
- Periksa selalu kaki setelah melepaskan sepatu dan
kaus kakinya dan selalu memeriksakan kaki
- Memberikan alas kaki yang baik untuk meratakan
penyebaran tekanan pada kaki.
Terapi - Diet sesuai dengan penatalaksanaan pasien diabetes.
- Infus kristaloid 1500 cc per 24 jam
- Pemberian insulin bila gula darah tidak bisa terkontrol
dengan pemberian diet sampai gula darah teregulasi
baik
- Transfusi PRC bila Hb <9 g/dl
- Infus albumin sampai albumin >3 g/dl
- Rawat luka / debridement tiap 12 jam sampai keadaan
luka membaik
- Bila terjadi gangren grade IV dan grade V dikonsulkan
ke bedah untuk dilakukan amputasi dan debridement
luas
- Antibiotika sebelum ada hasil kultur: ceftriaxon 1x2
gram, metronidazol 3x500 mg drip, cyprofloxacin 2x200
mg drip, clindamicyn 3x300 mg.
- Bila sudah ada hasil kultur, antibiotika disesuaikan
dengan hasil tes sensitifitas
- Antiplatelet agregat: cilostazol 2x100 mg atau aspilet
1x80 mg
- Analgesik / antipiretik bila diperlukan (paracetamol
3x500 mg atau metamizol 3x1 ampul atau mefenamat
acid 3x500 mg)
250
PPK Penyakit Dalam
- B1, B6, B12: 2-3 kali satu
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Kaki Diabetes dilakukan rawat inap sampai
keadaan umum baik, gula darah teregulasi baik, luka
gangren membaik dan sudah mengalami granulasi.
Dirawat selama sekitar 10 hari.
Target 70% pasien dapat tertangani
Referensi Waspadji, S. Kaki Diabetes. Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B.,
Alwi. I. dkk. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Ed. IV.
Jakarta. h 1911-4.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
HIPOGLIKEMIA (ICD 10:
Definisi : Kadar glukosa darah < 60 mg/dl, atau kadar glukosa darah
< 80 mg/ dl dengan gejala klinis.
Hipoglikemia pada DM terjadi karena:
- Kelebihan obat/ dosis obat: terutama insulin atau obat
hiperglikemia oral.
- Kebutuhan tubuh akan insulin yang relatif menurun: gagal
ginjal kronik, paska persalinan
- Asupan makan yang tidak adekuat: jumlah kalori atau
waktu makan tidak tepat
Anamnesis : Penggunaan preparat insulin atau obat hipoglikemik
oral.
Jumlah asupan gizi kurang
Penyakit penyerta: ginjal, hati, dll
Penggunaan obat sistemik lainnya : penghambat beta,
dll
Whipple triad:
1. Gejala yang konsisten dengan hipoglikemia
(delirium, keringat dingin, tremor)
2. Kadar gula darah plasma rendah
3. Gejala mereda setelah kadar gula darah plasma
meningkat
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Gejala dan tanda klinis:
- Stadium parasimpatik : lapar, mual, tekanan darah
menurun
- Stadium gangguan otak ringan : lemah lesu, sulit bicara,
kesulitan menghitung sementara
- Stadium simpatik : keringat dingin pada muka, bibir, atau
tangan gemetar
- Stadium gangguan otak berat : tidak sadar, dengan atau
tanpa kejang
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
250
PPK Penyakit Dalam
Diagnosis kerja : Hipoglikemia (ICD 10:
Diagnosis banding : - Hiperinsulinisme endogen (ICD 10:
- Stroke (ICD 10:
- Encephalopati hepatikum (ICD 10:
- Encephalopati uremikum (ICD 10:
- Intoksikasi alkohol (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah Lengkap (ICD 9CM:
- Gula darah sewaktu (ICD 9CM:
- Urin Lengkap (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- SGOT (ICD 9CM:
- SGPT (ICD 9CM:
- Albumin (ICD 9CM:
- Kolesterol Total (ICD 9CM:
- LDL (ICD 9CM:
- HDL (ICD 9CM:
- Trigliserida (ICD 9CM:
- HBA1C (ICD 9CM:
EKG (ICD 9CM:
Foto toraks (ICD 9CM:
Elektrolit (ICD 9CM:
Terapi : Stadium permulaan (sadar)
- Berikan gula murni 30 gram (2 sendok makan) atau
sirup permen, gula murni dan makanan yang
mengandung karbohidrat
- Hentikan OHO, insulin
- Pantau gula darah sewaktu tiap 1-2 jam
- Pertahankan gula darah sekitar 200 mg/dl (bila
sebelumnya tidak sadar)
Stadium lanjut (koma hipoglikemia atau tidak sadar +
curiga hipoglikemia)
- Diberikan larutan dekstrosa 40% sebanyak 50 ml bolus
intravena
- Diberikan cairan dekstrosa 10% / infus, 8 jam per 500
ml
- Periksa gula darah sewaktu dengan glukometer tiap jam
Bila GDS < 30 mg/dl diberikan bolus dekstrosa 40% 75
ml IV
Bila GDS < 60 mg/dl diberikan bolus dekstrosa 40% 50
ml IV
Bila GDS < 80 mg/dl diberikan bolus dekstrosa 40% 25
ml IV
Bila GDS 80-100 mg/dl tanpa bolus dekstrosa 40%
Bila GDS > 100 mg/dl pertimbangkan untuk mengurangi
drip dekstrosa 10%
- Bila GDS > 100 mg/ dl sebanyak 3 kali berturut-turut,
pantau GDS tiap 2 jam, dengan protokol sesuai diatas.
- Bila GDS > 100 mg/ dl sebanyak 3 kali berturut-turut,
pantau GDS tiap 4 jam, dengan protokol sesuai diatas.
250
PPK Penyakit Dalam
- Bila > 200 mg/ dl pertimbangkan mengganti dengan
dekstrosa 5% atau NaCl 0,9%
- Bila hipoglikemia belum teratasi, pertimbangkan
pemberian antagonis insulin. Seperti: adrenalin, kortisol
dosis tinggi.
- Bila pasien belum sadar, GDS 200 mg/dl diberikan
hidrokortison 100 mg per 4 jam selama 12 jam atau
deksametason 10 mg IV bolus dilanjutkan 2 mg tiap 6
jam dan manitol 1,5 -2 g/kgBB IV setiap 6-8 jam. Dicari
etiologi lain penurunan kesadaran.
Edukasi Penggunaan preparat insulin atau obat hipoglikemik oral
harus sesuai dengan asupan gizi yang telah ditentukan.
Bila penderita DM yang disertai dengan penyakit ginjal
dan hati berat hindari penggunaan OHO.
Penggunaan obat sistemik seperti penghambat beta
sedapat mungkin dihindari.
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Hipoglikemia dilakukan rawat inap selama 2 hari
sampai kesadaran membaik dan gula darah >100 mg/dl
dalam waktu 4 jam berturut-turut.
Target 80% pasien tertangani.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Hipoglikemia; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.23-25.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
TIROTOKSIKOSIS (ICD 10:
Definisi : Suatu keadaan dimana didapatkan kelebihan hormon
tiroid.
Tirotoksikosis dibagi dalam 2 kategori:
1. Kelainan yang berhubungan dengan hipertiroidisme
2. Kelainan yang tidak berhubungan dengan
hipertiroidisme
Hipertiroidisme
- Tirotoksikosis sebagai akibat dari produksi hormon tiroid
- Merupakan akibat dari fungsi tiroid yang berlebihan
- Disebabkan oleh: Graves disease, struma multinodosa
toksik, adenoma toksik, tiroiditis, penyakit trofoblastik,
pemakaian yodium berlebihan, obat hormon tiroid.
Krisis Tiroid
- Suatu keadaan klinis yang paling berat dan mengancam
jiwa.
- Umumnya timbul pada pasien dengan dasar penyakit
Graves atau struma multinodosa toksik.
- Berhubungan dengan faktor pencetus: infeksi, operasi,
trauma, zat kontras ber yodium, hipoglikemia, partus,
stres emosi, penghentian obat anti tiroid, terapi iodium,
ketoasidosis diabetikum, tromboemboli paru, penyakit
serebrovaskular, palpasi tiroid terlalu kuat.
Anamnesis : Hiperaktivitas, berat badan turun, nafsu makan meningkat,
tidak tahan panas, berdebar-debar, banyak keringat,
mudah lelah, sering buang air besar, oligomenore /
amenore, dan libido menurun.
Pemeriksaan fisik : Takikardia, fibrilasi atrial, tremor halus, refleks meningkat,
kulit hangat dan basah, rambut rontok, bruit tiroid.
Gambaran Klinis Graves:
Struma difus, tirotoksikosis, oftalmopati / eksoftalmos.
Curiga krisis tiroid bila:
250
PPK Penyakit Dalam
- Gejala atau tanda hipertiroidisme
- Gejala sistem saraf pusat : koma, delirium
- Demam hingga 40 0C
- Takikardia 130-200 kali / menit
- Fibrilasi atrial dengan respon ventrikular cepat
- Dapat memperlihatkan gagal jantung kongestif
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Tirotoksikosis (ICD 10:
Diagnosis banding : Hipertiroidisme primer:
- Adenoma toksik
- Metastasis karsinoma tiroid fungsional
- Struma ovarii
- Kelebihan iodium (Jod Basedow)
Tirotoksikosis tanpa hipertiroidisme:
- Tiroiditis subakut
- Destruksi tiroid (karena amiodaron, radiasi, infark
adenoma), asupan hormon tiroid berlebihan
(tiroktoksikosis factitia)
Hipertiroidisme sekunder:
- Adenoma hipofisis yang mensekresi TSH
- Sindrom resistensi hormon tiroid
- Tirotoksikosis gestasional
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Gula darah sewaktu (ICD 9CM:
- SGOT (ICD 9CM:
- SGPT (ICD 9CM:
- TSHs (ICD 9CM:
- FT4 (ICD 9CM:
- EKG (ICD 9CM:
- Foto Toraks (ICD 9CM:
Terapi : Obat antitiroid
Propiltiourasil (PTU) dosis awal 300-600 mg/ hari
(maksimal 2000 mg/ hari)
Metimazol dosis awal 20-30 mg/ hari
Penyekat adrenergik beta
Propanolol 2-3 kali 10-40 mg.
- Pada awal pengobatan pasien kontrol setelah 1-4
minggu.
- Setelah eutiroid pemantauan setiap 3-6 bulan sekali
(memantau gejala dan tanda, lab FT4 dan TSHs.
- Setelah tercapai eutiroid, obat antitiroid dikurangi
dosisnya dan dipertahankan dosis terkecil yang masih
memberikan eutiroid selama 12-24 bulan.
- Dikatakan remisi bila setelah 1 tahun obat antitiroid
dihentikan, pasien masih eutiroid, walaupun kemudian
hari dapat tetap eutiroid atau terjadi relaps.
Tindakan pembedahan:
Pasien muda dengan struma besar dan tidak respon
250
PPK Penyakit Dalam
dengan antitiroid
Wanita hamil trimester kedua yang memerlukan obat
dosis tinggi
Alergi terhadap obat antitiroid dan tidak dapat
menerima yodium radioaktif
Adenoma toksis, struma multinodosa toksik
Graves yang berhubungan dengan satu atau lebih
nodul
Tatalaksana Krisis Tiroid
Terapi segera dimulai bila ada kecurigaan
1. Perawatan suportif:
Kompres dingin, antipiretik (asetaminofen)
Memperbaiki gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit: infus Dextrose 5% dan atau NaCl 0,9%
Mengatasi gagal jantung: O2, digitalis, diuretik
2. Antagonis aktivitas hormon tiroid:
Blokade produksi hormon tiroid:
PTU 300 mg/4-6 jam PO
Metimazol 20-30 mg / 4 jam PO.
Keadaan sangat berat diberikan per NGT, PTU 600-
1000 mg atau metimazol 60-100 mg
Penyekat beta: propanolol 60 mg tiap 6 jam PO,
dosis disesuaikan respon (target HR < 90 bpm)
Glukokortikoid: hidrokortison 100-500 mg IV tiap 12
jam
3. Pengobatan terhadap faktor presipitasi: antibiotik, dll
Edukasi Kontrol rutin sesuai dengan anjuran dokter
Obat harus diminum sesuai dengan indikasi
Prognosis Dubia ad bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Tirotoksikosis dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik, tidak didapatkan krisis tiroid, nadi <100 kali /
menit.
Dirawat selama 5 hari.
Target 70% pasien tertangani.
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Tirotoksikosis; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.16-19.
2. Tjokroprawiro, A.,Hendromartono,Sutjahyo, A. dkk.
(2008) Tirotoksikosis; Pedoman Diagnosis dan Terapi
Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.105-
114.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
STRUMA NODOSA NON TOKSIK (ICD 10:
Definisi : Pembesaran kelenjar tiroid yang teraba sebagai suatu
nodul, tanpa disertai tanda hipertiroidisme.
Berdasarkan jumlah nodul dibagi menjadi:
- Struma mononodosa non toksik
- Struma multinodosa non toksik
Berdasarkan konsistensinya:
- Nodul lunak
- Nodul kistik
- Nodul keras
- Nodul sangat keras
Anamnesis : Anamnesis umum:
Sejak kapan benjolan timbul
Rasa nyeri spontan atau tidak spontan, berpindah atau
tetap
Cara membesarnya: cepat atau lambat
Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar
menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran
leher saja
Riwayat keluarga
Riwayat penyinaran daerah leher pada waktu kecil/
muda
Perubahan suara
Gangguan menelan atau sesak
Penurunan berat badan
Keluhan tirotoksikosis
Pemeriksaan fisik : Status lokalis :
- Nodul tunggal atau majemuk, atau difus
- Nyeri tekan
- Konsistensi
- Permukaan
250
PPK Penyakit Dalam
- Perlekatan pada jaringan sekitarnya
- Pendesakan atau pendorongan trakea
- Pembesaran kelenjar getah bening regional
Penilaian risiko keganasan:
- Umur < 20 atau > 70
- Laki-laki
- Nodul dg disfagi, serak, atau obstruksi jalan nafas
- Pertumbuhan nodul cepat (minggu hingga bulan)
- Riwayat radiasi pada saat anak-anak atau dewasa
pada bagian leher
- Riwayat keluarga kanker tiroid meduler
- Nodul yang tunggal, berbatas tegas, keras, iregular,
dan sulit digerakkan
- Paralisis pita suara
- Temuan limfadenopati servikal
- Metastasi jauh (paru-paru, dll)
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik.
Langkah I: TSHs, FT4
Hasil: non toksik langkah diagnosis II: BAJAH nodul
tiroid
Hasil:
i. Ganas
ii. Curiga
iii. Jinak
iv. Tak cukup/ sediaan tak representatif (dilanjutkan di
kolom terapi)
Diagnosis banding : - Struma pada masa pertumbuhan (ICD 10:
- Struma pada pubertas (ICD 10:
- Struma pada laktasi (ICD 10:
- Struma pada menstruasi (ICD 10:
- Struma pada kehamilan (ICD 10:
- Struma pada menopause (ICD 10:
- Struma pada infeksi (ICD 10:
- Struma pada stres (ICD 10:
- Tiroiditis akut (ICD 10:
- Tiroiditis sub akut (ICD 10:
- Limfositik (hashimoto) (ICD 10:
- Fibrous invasif (riedel) (ICD 10:
- Simple goiter (ICD 10:
- Struma endemik (ICD 10:
- Kista tiroid (ICD 10:
- Kista degenerasi (ICD 10:
- Adenoma (ICD 10:
- Karsinoma tiroid primer (ICD 10:
- Karsinoma tiroid metastatik (ICD 10:
- Limfoma (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - FT4 (ICD 9CM:
- TSHs (ICD 9CM:
- Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
- USG tiroid (ICD 9CM:
- Pertanda keganasan tiroid (ICD 9CM:
- Pemeriksaan antitiroglobulin (ICD 9CM:
Terapi : A. Ganas: Operasi tiroidektomi near total
B. Curiga: Operasi dengan lebih dahulu melakukan
potong beku (VC): Bila hasil ganas maka tiroidektomi
near total. Bila hasil jinak operasi lobektomi, atau
tiroidektomi near total.
C. Tak cukup sediaan/ tak representatif
Jika nodul Solid (saat BAJAH): ulang BAJAH
Bila klinis curiga ganas tinggi: lobektomi
Bila klinis curiga ganas rendah: observasi
Jika nodul Kistik (saat BAJAH): aspirasi
Bila kista regresi: observasi
Bila kista rekurens, klinis curiga ganas rendah:
observasi
Bila kista rekurens, klinis curiga ganas tinggi: lobektomi
D. Jinak
- Terapi dengan levotiroksin (LT4) dosis subtoksis.
- Dosis dititrasi mulai 2 x25 mcg (3 hari)
- Dilanjutkan 3 x 25 mcg (3-4 hari)
- Bila tidak ada efek samping atau tanda toksis: dosis
menjadi 2 x 100 mcg sampai 4-6 minggu, kemudian
evaluasi TSH (target 0,1 0,03 uIU/L)
- Supresi TSH dipertahankan selama 6 bulan
- Evaluasi ulang dengan USG: apakah nodul mengecil
atau tidak (mengecil bila >50% volume awal)
- Bila nodul mengecil atau tetap: L tiroksin dihentikan dan
diobservasi
- Bila setelah itu membesar lagi, maka L tiroksin dimulai
lagi (target TSH 0,1 0,003 uIU/L)
- Bila setelah L tiroksin dihentikan, struma tidak berubah,
diobservasi saja
- Bila nodul membesar dalam 6 bulan atau saat terapi
supresi: obat dihentikan dan operasi tiroidektomi dan
dilakukan pemeriksaan histopatologi
Bila hasil PA:
- Jinak: terapi dengan L tiroksin, target TSH 0,5 3,0 uIU/L
- Ganas: terapi dengan L tiroksin pada individu berisiko
tinggi dengan target TSH <0,01 0,05 uIU/L dan pada
individu berisiko rendah dengan target TSH 0,05 0,1
uIU/L
Edukasi Kontrol rutin sesuai dengan anjuran dokter
Obat harus diminum sesuai dengan indikasi
Prognosis Tergantung jenis nodul dan tipe histopatologi
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
250
PPK Penyakit Dalam
Indikator medis Pasien Struma Nodusa Non Toksik dilakukan rawat inap
bila terdapat tanda krisis tiroid sampai keadaan membaik
(tidak didapatkan krisis tiroid, nadi <100 kali / menit).
Dirawat selama 5 hari.
Target 70% pasien tertangani.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Struma
Nodusa Non Toksik; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.31-34.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
DISLIPIDEMIA (ICD 10:
Definisi : Kelainan metabolisme lipid yang ditandai oleh kelainan
(peningkatan atau penurunan) fraksi lipid dalam plasma.
Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar
kolesterol total, kenaikan kadar trigliserida, kenaikan kadar
LDL dan penurunan kadar HDL. Dalam proses terjadinya
aterosklerosis, semuanya mempunyai peran penting dan
berkaitan.
Anamnesis : Berat badan bertambah, sering makan makanan berlemak.
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Tinggi badan, berat badan
Kriteria diagnosis : Klasifikasi kadar kolesterol:
Jenis Kadar Klasifikasi
LDL < 100 mg/dl Optimal
100 - 129 mg/ dl Hampir optimal
130 - 159 mg/ dl Borderline tinggi
160 -189 mg dl Tinggi
> 189 mg/ dl Sangat tinggi
Kolesterol total < 200 mg/ dl Idaman
200-239 mg/ dl Borderline tinggi
> 239 mg/ dl Tinggi
HDL < 40 mg/ dl Rendah
> 60 mg/ dl Tinggi
Trigliserida < 150 mg/ dl Normal
150 - 199 mg/ dl Borderline tinggi
200 - 499 mg/ dl Tinggi
> 499 mg/ dl Sangat tinggi
Diagnosis kerja : Dislipidemia (ICD 10:
Diagnosis banding : Hiperkolesterolemia sekunder: hipotiroidisme, sindrom
250
PPK Penyakit Dalam
nefrotik.
Hiperkolesterolemia sekunder: obesitas, DM, penyakit
ginjal kronik, alkohol, bedah bypass illeal, stress,
sepsis, kehamilan.
HDL rendah sekunder: karena malnutrisi, obesitas,
merokok, penghambat beta, steroid anabolik.
Pemeriksaan penunjang : Kolesterol total (ICD 9CM:
LDL (ICD 9CM:
HDL (ICD 9CM:
Trigliserida (ICD 9CM:
Gula darah puasa (ICD 9CM:
Gula darah 2 jam sesudah makan (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Ureum (ICD 9CM:
Kreatinin (ICD 9CM:
TSHS (ICD 9CM:
FT 4 (ICD 9CM:
Albumin darah (ICD 9CM:
Urin lengkap (ICD 9CM:
EKG (ICD 9CM:
Terapi : Perubahan gaya hidup:
- Diet dengan komposisi
Lemak jenuh < 7% kalori total
Lemak total 25-35 % kalori total
Karbohidrat 50 -60% kalori total
Protein 15% kalori total
Serat 20-30 g/ hari
Kolesterol < 200 mg/ hari
- Latihan jasmani
- Penurunan berat badan bagi yang gemuk
- Menghentikan merokok dan minum alkohol
- Bila 12 minggu perubahan gaya hidup tidak berespon
maka dilakukan teapi farmakologis
Terapi farmakologis hiperkolesterolemia:
Golongan statin:
- Simvastatin 5-40 mg
- Lovastatin 10-80 mg
- Pravastatin 10-40 mg
- Fluvastatin 20-40 mg
- Atorvastatin 10-80 mg
Terapi farmakologis hipertrigliseridemia:
Obat penurun kolesterol
Ditambah :
- Fibrat 1 x 200 mg
- Gemfibrozil 2 x 600 mg atau 1 x 900 mg
Edukasi - Diet rendah lemak
- Latihan jasmani
- Penurunan berat badan bagi yang gemuk
- Menghentikan merokok dan minum alkohol
250
PPK Penyakit Dalam
Prognosis Dubia ad bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Dislipidemia dilakukan rawat jalan sampai kadar
kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida terkendali baik.
Target 80% pasien tertangani.
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Dislipidemia; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.26-30.
2. Tjokroprawiro, A.,Hendromartono,Sutjahyo, A.
dkk. (2008) Dislipidemia; Pedoman Diagnosis dan Terapi
Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.96-
104.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
KISTA TIROID (ICD 10:
Definisi : Nodul kistik pada jaringan tiroid, merupakan 10 25 % dari
seluruh nodul tiroid. Insiden keganasan pada nodul kistik
kurang dibandingkan nodul solid. Pada nodul kistik
kompleks masih mungkin merupakan suatu keganasan.
Sebagian nodul kistik mempunyai bagian yang solid.
Anamnesis : - Sejak kapan benjolan timbul
- Rasa nyeri spontan atau tidak spontan, berpindah
atau tetap
- Cara membesarnya: cepat atau lambat
- Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar
menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran
leher saja
- Riwayat keluarga
- Riwayat penyinaran daerah leher pada waktu kecil/
muda
- Perubahan suara
- Gangguan menelan atau sesak
- Penurunan berat badan
- Keluhan tirotoksikosis
Anamnesis yang meningkatkan kecurigaan ke arah
keganasan tiroid :
- Umur < 20 tahun atau > 70 tahun
- Nodul disertai disfagi, serak, atau obstruksi jalan nafas
- Pertumbuhan nodul cepat (minggu hingga bulan)
- Riwayat radiasi pada saat anak-anak atau dewasa pada
bagian leher
- Riwayat keluarga kanker tiroid meduler
- Nodul yang tunggal, berbatas tegas, keras, iregular, dan
sulit digerakkan
250
PPK Penyakit Dalam
- Paralisis pita suara
- Temuan limfadenopati servikal
- Metastasi jauh (paru-paru, dll).
Pemeriksaan fisik : Nodul tunggal atau majemuk, atau difus
Nyeri tekan
Konsistensi
Permukaan
Perlekatan pada jaringan sekitarnya
Pendesakan atau pendorongan trakea
Pembesaran kelenjar getah bening regional
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis.
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik.
Diagnosis Kerja : Kista Tiroid (ICD 10:
Diagnosis banding : - Kista degenerasi (ICD 10:
- Karsinoma tiroid (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - FT4
- TSHs
- USG tiroid
- Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) pada bagian yang
solid
Terapi : Pungsi aspirasi seluruh cairan kista
- Bila kista regresi: observasi
- Bila kista rekuren, klinis kecurigaan ganas rendah: pungsi
aspirasi dan observasi
- Bila kista rekurens, klinis kecurigaan ganas tinggi: operasi
Lobektomi
Edukasi Kontrol rutin sesuai dengan anjuran dokter
Obat harus diminum sesuai dengan indikasi
Prognosis Dubia ad bonam. Tergantung jenis nodul dan tipe
histopatologi
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Kista Tiroid dilakukan rawat inap bila terdapat tanda
krisis tiroid sampai keadaan membaik (tidak didapatkan
krisis tiroid, nadi <100 kali / menit).
Dirawat selama 5 hari.
Target 70% pasien tertangani.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Kista
Tiroid; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.35-37.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
BRADIARITMIA (ICD 10:
Definisi : Perlambatan denyut jantung dibawah 50 kali/ menit yang
dapat disebabkan oleh disfungsi sinus node,
hipersensitivitas/ kelainan sistem persarafan dengan dan
atau adanya gangguan konduksi atrioventrikular. Dua
keadaan yang sering ditemukan:
1. Gangguan pada sinus (sick sinus syndrome)
2. Gangguan konduksi atrioventrikular/ blok AV
Anamnesis : Pening, letih, limbung, pingsan, sesak nafas, palpitasi,
angina, sinkop, lupa ingatan.
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Kriteria diagnosis : Heart rate kurang dari 50 kali/menit yang disebabkan
oleh:
- Blok AV derajat satu
Irama teratur dengan perpanjangan PR interval melebihi
0,2 detik
- Blok AV derajat dua terdiri dari:
a. Mobitz tipe I (Wenckebach)
Gelombang P normal dan irama atrium teratur,
pemanjangan PR yang progresif lalu terdapat gelombang P
yang tidak dihantarkan, sehingga terlihat interval RR
memendek dan kemudian siklus tersebut berulang lagi
b. Mobitz tipe II
Irama atrium teratur dengan gelombang P normal. Setiap
gelombang P diikuti QRS kecuali yang tidak dihantarkan
dan bisa lebih dari satu gelombang P berturut-turut yang
tidak dihantarkan. Irama QRS bisa teratur atau tidak teratur
tergantung pada denyut yang tidak dihantarkan. Kompleks
QRS bisa sempit bila hambatan terjadi pada berkas HIS,
namun bisa lebar seperti pada blok cabang berkas bila
250
PPK Penyakit Dalam
hambatan ini pada cabang berkas
- Blok Total AV
Hambatan total konduksi atrium dan ventrikel. Atrium dan
ventrikel masing-masing mempunyai frekuensi sendiri
(ventrikel lebih lambat dari atrium)
Diagnosis kerja
Diagnosis banding : Sinus aritmia (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - EKG 12 sadapan
- Rekaman EKG 24 jam
Terapi : Gangguan pada sinus node (sick sinus syndrome)
Pada keadan gawat darurat dapat diberikan sulfas atropin
0,5 1 mg IV (maksimal 0,04 mg/ kgBB) dan bila tidak
berrespon diberikan isoproterenol dimulai dengan dosis 1
ug/ menit sampai 10 ug/kg/ menit secara bertahap.
Kemudian dapat dilanjutkan dengan memasang pacu
jantung, tergantung saran yang tersedia (transcutan atau
transvena). Pada penatalaksanaan selanjutnya dapat
dilakukan pemasang PPM (rujuk)
Blok AV
Pengobatan hanya diberikan pada yang simtomatik.
Walaupun demikian etiologi penyakit dan riwayat alamiah
penyakit menentukan tindakan berikutnya. Bila
penyebabnya obat-obatan maka obat dihentikan. Bila
akibat faktor metabolik maka harus dikoreksi. Bila
penyebab hanya sementara dapat diberikan pacu jantung
sementara seperti pada IMA inferior. Pada penderita
simtomatik perlu dipertimbangkan pace maker permanen
(rujuk)
Blok AV total
Pada keadaan gawat darurat dapat diberikan sulfas atropin
sesuai pada gangguan sinus node atau isoproterenol. Bila
obat tidak menolong dipasang pacu jantung sementara lalu
permanen (rujuk)
Edukasi Tirah baring, menjelaskan tentang penyakitnya dan dirujuk
bila tidak berhasil dengan pengobatan simtomatis.
Prognosis Tergantung penyebab, beratnya gejala dan respon terapi
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien bradiaritmia dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (Klinis membaik dan heart rate diatas 50
kali/menit)
Dirawat selama 4 hari.
Target 50% pasien tertangani.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Bradiaritmia; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.41-43.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
EDEMA PARU AKUT (ICD 10:
Definisi : Akumulasi cairan di paru-paru secara tiba-tiba akibat
peninggian tekanan intravaskular.
Anamnesis : Sesak nafas yang berkurang bila posisi duduk, gelisah,
batuk, kadang dengan sputum kemerahan.
Pemeriksaan fisik : 1. Tekanan darah kadang turun, nadi yang cepat, respirasi
cepat.
2. Sianosis sentral.
3. Sesak nafas dengan bunyi nafas melalui mukus berbuih
4. Ronki basah nyaring di basal paru kemudian memenuhi
hampir seluruh lapangan paru; kadang-kadang disertai
ronki kering dan ekspirasi yang memanjang akibat
bronkospasme sehingga disebut asma kardial.
5. Takikardi dengan suara gallop S3.
6. Murmur bila ada kelainan katup.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis.
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik.
3. Elektrokardiogram
Bisa sinus takikardia dengan hipertrofi atrium kiri atau
fibrilasi atrium, tergantung penyebab gagal jantung
Gambaran infark, hipertrofi ventrikel kiri atau aritmia
bisa ditemukan
4. Foto Thorax
Opasifikasi hilus dan bagian basal paru kemudian makin
ke arah apeks paru kadang-kadang timbul efusi pleura.
Diagnosis kerja : Edema paru akut (ICD 10:
Diagnosis banding : CPCD (ICD 10:
Emboli paru (ICD 10:
Asma bronkial (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
Ureum (ICD 9CM:
Kreatinin (ICD 9CM:
Analisis gas darah (ICD 9CM:
Elektrolit (ICD 9CM:
Urin lengkap (ICD 9CM:
Foto toraks (ICD 9CM:
EKG (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
LDH (ICD 9CM:
CK-CKMB (ICD 9CM:
Troponin T (ICD 9CM:
Terapi : 1. Posisi duduk
2. Oksigen (40-50%) sampai 8 liter/menit bila perlu dengan
masker. Jika memburuk: pasien makin sesak, takipnu,
ronki bertambah, PaO2 tidak bisa dipertahankan 60
mmHg dengan O2 konsentrasi dan liran tinggi, retensi
CO2, hipoventilasi atau tidak mampu mengurangi cairan
edema secara adekuat: dilakukan intubasi endotrakeal,
suction dan ventilator/bipep.
3. Infus emergensi
4. Monitor tekanan darah, monitor EKG, oksimetri
5. Isosorbid dinitrate (ISDN) sublingual atau intravena.
ISDN per oral 5-10 mg tiap 5-10 menit. Jika tekanan
darah sistolik > 95 mmHg bisa diberikan ISDN intravena
mulai dosis 10-20 ug/menit.
6. Morfin sulfat 2,5 mg iv (diencerkan hingga 10 cc), dapat
diulang tiap 30 menit sampai total dosis 10 mg.
7. Diuretik: furosemid 40-80 mg IV bolus dapat diulangi
atau dosis ditingkatkan tiap 4 jam atau dilanjutkan drip
kontinu sampai dicapai produksi urin 1 ml/kgBB/jam
8. Bila perlu (tekanan darah turun/tanda hipoperfusi):
Dopamin 2-15 ug/kgBB/menit atau dobutamin 2-30
ug/kgBB/menit untuk menstabilkan hemodinamik. Dosis
dapat ditingkatkan sesuai respon klinis atau keduanya.
9. Trombolitik atau revaskularisasi pada pasien infark
miokard akut
10. Intubasi dan ventilator pada pasien dengan hipoksia
berat, asidosis atau tidak berhasil dengan terapi oksigen
[Link] aritmia
12. Operasi pada komplikasi akut infark jantung akut,
seperti regurgitasi, VSD, dan ruptur dinding ventrikel
atau korda tendinae (rujuk).
Edukasi Memberitahu mengenai penyakit kepada pasien atau
keluarga pasien.
Prognosis Tergantung penyebab, beratnya gejala dan respon terapi
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
250
PPK Penyakit Dalam
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien edem paru akut dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (Klinis membaik, tidak ada sesak nafas,
ronkhi di paru menghilang)
Dirawat selama 5 hari.
Target 60% pasien tertangani.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Edema
Paru Akut; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.44-46.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
ENDOKARDITIS INFEKTIF (ICD 10:
Definisi : Infeksi pada endokard yang biasanya melibatkan katup dan
jaringan sekitarnya yang terkait dengan agen penyebab
infeksi.
Anamnesis : Panas, penggunaan obat intravena,
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi,
Adanya Murmur sistolik di katup mitral
Kriteria diagnosis : EI definite:
Kriteria patologis
Mikroorganisme : ditemukan dengan kultur atau histologi
dalam vegetasi yang mengalami emboli atau dalam suatu
abses intrakardiak
Lesi patologis : vegetasi atau terdapat abses intrakardiak
yang dikonfirmasi dengan histologis yang menunjukkan
endokarditis aktif.
Kriteria klinis : menggunakan definisi spesifik, 2 mayor atau
1 mayor dengan 3 minor, atau 5 minor.
Kriteria Mayor:
1. Kultur darah positif untuk Endokarditis Infektif:
A. Mikroorganisme khas dari 2 kultur terpisah:
(i) Streptococci viridans, Streptococcus bovis, atau
grup HACEK atau
(ii) Community acquired Staphylococcus aureus
atau enterococci tanpa ada fokus primer atau
B. Mikroorganisme konsisten dengan EI dari kultur
darah positif persisten didefinisikan sebagai:
(i) Lebih dari 2 kultur dari sampel darah yang
250
PPK Penyakit Dalam
terpisah >12 jam atau
(ii) Semua dari 3 atau mayoritas dari lebih dari 4
kultur darah terpisah (dengan sampel awal dan
akhir terpisah dalam 1 jam)
2. Bukti keterlibatan kardial
A. Ekokardiografi positif untuk EI didefinisikan sebagai:
(i) Massa intrakardiak yang oscilating pada katup
atau struktur yang menyokong, di jalur aliran jet
regurgitasi atau pada material yang
diimplantasikan tanpa ada alternatif anatomi
yang dapat menerangkan atau
(ii) Abses, atau
(iii) Tonjolan baru, atau
B. Regurgitasi valvular baru
Kriteria Minor:
1. Predisposisi: predisposisi kondisi jantung atau
intravenous drug user
2. Demam : suhu lebih dari sama dengan 38C
3. Fenomena vaskular: emnboli arteri ebsar, infark
pulmonal septik, aneurisma mikotik, perdarahan
intrakranial, perdarahan konjungtiva, lesi Janeway
4. Fenomena imunologis : glomerulonefritis, oslers
node, Roth spots, dan faktor rheumatoid
5. Bukti mikrobiologi : kultur darah positif namun tidak
seperti mayor (spesifik EI)
6. Temuan kardiografi :konsisten dengan EI tapi tidak
memenuhi syarat mayor
EI possible
Temuan konsisten dengan EI turun dari kriteria definite
tetapi tidak memenuhi rejected
EI rejected
Diagnois alternatif tidak memenuhi maifestasi endokarditis
atau resolougsi manifestasi dengan antibiotik selama
kurang dari sama dengan 4 hari atau tidak ditemukan bukti
patologis EI pada saat operasi atau otopsi setelah antibiotik
lebih dari sama dengan 4 hari.
Diagnosis Kerja : Endokarditis Infektif (ICD 10:
Diagnosis banding : - Demam rematik akut dengan karditis (ICD 10:
- Sepsis TB milier (ICD 10:
- SLE (ICD 10:
- Pielonefritis (ICD 10:
- Poliarteritis nodosa (ICD 10:
- Reaksi obat (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
EKG (ICD 9CM:
Foto thoraks (ICD 9CM:
Ekokardiografi (rujuk) (ICD 9CM:
Kultur darah (rujuk) (ICD 9CM:
Terapi : Oksigenasi, cairan intravena yang cukup, antibiotik,
250
PPK Penyakit Dalam
antipiretik, dan regimen yang dianjurkan AHA
1. Endokarditis katup asli karena Streptococcus viridans
dan Str. Bovis
- Penisilin G kristal 12-28 juta unit / 24 jam iv kontinu
atau 6 dosis terbagi selama 4 minggu atau
seftriakson 2g 1 kali perhari atau IM selama 4
minggu
- Penisilin G kristal 12-28 juta unit/ 24 jam iv kontinu
atau 6 dosis terbagi selama 2 minggu dengan
gentamicin sulfat 1 mg/kgBB im atau IV tiap 8 jam
selama 2 minggu
- Vankomisin hidroklorida 30 mg/kgBB iv dalam 2
dosis terbagi, tidak > 2g/24 jam kecuali kadar serum
dipantau selama 4 minggu
2. Endokarditis katup asli karena Str. viridans dan
bovis tetapi resisten Penisilin G
- Penisilin G kristal 18 juta unit/24 jam iv kontinu atau
dalam 6 dosis terbagi sealama 4 minggu dengan
gentamicin sulfat 1 mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam
selama 2 minggu
- Vankomisin hidroklorida 30 mg/kgBB/24 jam iv
dalam 2 dosis terbagi, tidak > 2g/24 jam kecuali
kadar serum dipantau selama 4 minggu
3. Endokarditis karena Enterococci
- Penisilin G kristal 18-30 juta unit/24 jam iv kontinu
atau dalam 6 dosis terbagi selama 4-6 minggu
dengan gentamicin sulfat 1 mg/kgBB im atau iv tiap
8 jam selama 4-6 minggu
- Ampisilin 12g/24 jam atau iv kontinu atau dalam 6
dosis terbagi selama 4-6 minggu dengan gentamicin
sulfat 1mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam selama 4-6
minggu
- Vankomisin hidroklorida 30mg/kgBB/24jam iv dalam
2 dosis terbagi, tidak >2g/24 jam selama 4-6 minggu
dengan gentamisin sulfat 1 mg/kgBB im atau iv tiap
8 jam selama 4-6 minggu.
4. Endokarditis karena stafilokokus tanpa prostetik
a. Regimen untuk Methicilin Succeptible
Staphylococci: Nafsilin atau oksasilin 2g IV tiap 4
jam selama 4-6 minggu dengan opsional ditambah
gentamicin 1mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam sealma
3-5 hari
b. Regimen untuk alergi beta laktam:
- Cefazolin (atau cefalosporin generasi satu lain
dalam dosis setara) 2 g iv tiap 8 jam sealam 4-6
minggu dengan opsional ditambah gentamisin
sulfat 1 mg/kgBB im atau iv tiap 8 jam selama 3-5
hari
- Vankomisin hidroklorida 30mg/kgBB/24jam iv
dalam 2 dosis terbagi, tidak >2g/24 jam selama 4-
250
PPK Penyakit Dalam
6 minggu
Operasi (rujuk) bila:
- Bakteremia yang menetap setelah pemberian terapi
medis yang adekuat
- Gagal jantung kongestif yang tidak responsif
terhadap terapi medis
- Vegetasi yang menetap setelah emboli sistemik
- Ekstensi perivalvular
Edukasi Memberitahu tentang penyakit kepada keluarga atau
pasien
Prognosis Tergantung penyebab, beratnya gejala dan komplikasi
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Endokarditis Infektif dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (Klinis membaik, tidak ada panas,
murmur membaik)
Dirawat selama 7 hari.
Target 50% pasien tertangani.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Endokarditis Infektif ; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.47-50.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
FIBRILASI ATRIAL (ICD 10:
Definisi : Adanya ireguleritas kompleks QRS dan gambaran
gelombang P dengan frekuensi antara 350-650/ menit
Klasifikasi :
- Primer: apabila ada kelainan struktural jantung dan
keadaan sistemik yang menimbulkan aritmia
- Sekunder: apabila tidak ditemukan kelainan struktur
jantung tetapi ada kelainan sistemik yang dapat
menimbulkan aritmia
Berdasar waktu timbulnya dibagi menjadi:
- Paroksismal : < 7 hari, berhenti sendiri tanpa intervensi
pengobatan maupun tindakan
- Persisten : > 48 jam, hanya dapat berhenti dengan
intervensi dan ataupun tindakan
- Permanen : > 7 hari, dengan intervensi dan tindakan
tidak berubah
Anamnesis : Berdebar, rasa tidak enak di dada
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi (terdapat pulsus defisit), irama jantung
(irreguler)
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis.
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik.
3. Adanya ireguleritas kompleks QRS dan gambaran
gelombang P dengan frekuesni antara 350-650/ menit
Diagnosis Kerja : Fibrilasi atrial (ICD 10:
Diagnosis banding : Supra ventrikular takikardi (ICD 10:
Ventrikel ekstrasistol (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
Pemeriksaan penunjang : EKG (ICD 9CM:
Holter Monitoring (bila AF paroksismal) (ICD 9CM:
Foto toraks (ICD 9CM:
Ekokardiografi (rujuk) (ICD 9CM:
Terapi : AF paroksismal:
1. Bila asimtomatik, tidak diberikan obat antiaritmia, hanya
diberi penjelasan
2. Bila simtomatik dan memerlukan pengobatan tetapi
tanpa kelainan atau dengan kelainan minimal dapat
diberi penyekat beta
3. Bila dengan obat tidak berhasil, berikan amiodaron
4. Bila masih tidak berhasil pertimbangkan ablasi (rujuk)
5. Bila ada kelainan jantung yang signifikan, amiodaron
merupakan pilihan utama.
AF persisten:
1. Dilakukan kardioversi dengan obat-obatan atau elektrik
tanpa pemberian antikoagulan sebelumnya. Setelah
kardioversi diberikan antikoagulan minimal 4 minggu.
2. Bila tidak diketahui lamanya maka pasien diberi
antikoagulan oral 3 minggu sebelum kardioversi
farmakologis atau elektrik. Selama periode tersebut
dapat diberikan digoksin, penyekat beta, atau antagonis
kalsium untuk mengontrol laju irama ventrikel. Alternatif
lain yaitu dilakukan pemberian heparin.
3. Bila relaps dan perlu kardioversi dapat diberikan
propafenon, flekainid, penyekat beta, sotalol, atau
amiodaron.
AF permanen:
1. Kardioversi tidak efektif
2. Kontrol laju ventrikel dengan digoksin, penyekat beta,
atau antagonis kalsium.
3. Bila tidak berhasil dapat dipertimbangkan ablasi nodus
AV atau pemasangan PPM
4. AF persisten perlu pemberian antitromboemboli
Edukasi Memberitahu penyakit kepada pasien dan
keluarganya.
Kontrol teratur ke dokter
Minum obat sesuai dengan anjuran dokter
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Fibrilasi Atrial dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (Klinis membaik, heart rate <100x/mnt)
Dirawat selama 4 hari.
Target 70% pasien tertangani.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Fibrilasi
Atrial; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.51-53.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
GAGAL JANTUNG KRONIK (ICD 10:
Definisi : Sindrom klinis yang kompleks akibat kelainan fungsi atau
struktural jantung yang mengganggu kemampuan jantung
untuk berfungsi sebagai pompa
Anamnesis : Sesak saat beraktifitas, posisi duduk lebih enak daripada
posisi tidur, terbangun malam hari karena sesak.
Pemeriksaan fisik : Takikardia
Irama gallop
Peningkatan tekanan vena jugularis
Pulsus alternans
Kardiomegali
Ronkhi basah halus di basal paru dan bisa meluas di
kedua lapang paru bila gagal jantung berat
Edema pretibial pada pasien rawat jalan dan edema sakral
pada pasien tirah baring
Efusi pleura, lebih sering pada paru kanan daripada paru
kiri. Asites sering terjadi pada pasien dengan penyakit
katup mitral dan perikarditis konstriktif
Hepatomegali
Dapat teraba pulsasi hati yang berhubungan dengan
hipertensi vena sistemi
Ikterus berhubungan dengan peningkatan kedua bentuk
bilirubin Ekstremitas dingin, pucat , dan berkeringat.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis.
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik.
3. Kriteria Framingham:
Diagnosa ditegakkan bila paling sedikit 1 kriteria mayor dan
250
PPK Penyakit Dalam
2 kriteria minor.
- Kriteria Mayor :
Paroxysmal nocturnal dyspnea
Distensi vena-vena leher
Peningkatan vena jugular
Ronki
Kardiomegali
Edema paru akut
Gallop
Refluks hepatojugular positif
- Kriteria Minor:
Edema ekstremitas
Batuk malam
Sesak pada aktivitas
Hepatomegali
Efusi pleura
Kapasitas vital berkurang 1/3 dari normal
Takikardia (>120x/m)
- Baik kriteria mayor maupun minor, penurunan berat
badan 4kg dalam 5 hari terapi.
Diagnosis kerja : Gagal Jantung Kronik (ICD 10:
Diagnosis banding : - Pneumonia (ICD 10:
- Asma eksaserbasi akut (ICD 10:
- ARDS (ICD 10:
- Emboli paru (ICD 10:
- Gagal ginjal kronis (ICD 10:
- Sindrom nefrotik (ICD 10:
- Sirosis hepatis (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Foto thorak
EKG
Darah lengkap
Ureum
Kreatinin
Glukosa
Elektrolit
FT4
TSHS
SGOT
SGPT
Bilirubin total
Bilirubin direct
Albumin
Kolesterol total
HDL
LDL
Trigliserida
Ekokardiografi (rujuk)
Terapi : - Diuretik : kebanyakan pasien dengan gagal jantung
membutuhkan diuretik dosis rendah. Tujuan untuk
mencapai tekanan JVP normal dan menghilangkan edema.
250
PPK Penyakit Dalam
Permulaan digunakan loop diuretik atau tiazid, bila respon
kurang dinaikkan dosis, berikan intravena, kombinasi
keduanya. Spironolakton dengan dosis 25 50 mg per hari
dapat mengurangi mortalitas pada pasien dengan gagal
jantung sedang dan berat yang disebabkan gagal jantung
sistolik.
- Penghambat ACE : bermanfaat untuk menekan aktivitas
neurohormonal dan pada gagal jantung yang disebabkan
disfungsi sistolik ventrikel kiri. Pemberian dimulai dengan
dosis rendah dan titrasi sampai dengan dosis yang efektif.
- Penyekat beta : diberikan mulai dosis kecil, kemudian
titrasi selama beberapa minggu dan kontrol ketat
terahadap tanda gagal jantung. Biasanya diberikan pada
pasien yang sudah stabil (FC II dan III). Bisa diberikan
bersama ACE inhibitor dan diuretik.
- Angiotensin II antagonis reseptor : bila ada kontraindikasi
penggunaan penghambat ACE.
- Kombinasi hidralazine dan ISDN : memiliki hasil yang baik
pada yang intoleran ACE inhibitor.
- Digoksin : untuk gagal jantung simtomatik disfungsi
ventrikel kiri, terutama dengan AF dapat digunakan
bersama diuretik, penghambat ACE, dan penyekat beta.
- Antikoagulan dan antiplatelet : aspirin diindikasikan untuk
pencegahan emboli serebral pada pasien AF dengan
penurunan fungsi ventrikel. Antikoagulan perlu diberikan
untuk pasien AF kronis, adanya riwayat emboli, trombosis,
dan TIA, trombus intrakardiak, dan aneurisma ventrikel.
- Antiaritmia tidak direkomendasikan pada pasien yang
asimtomatik atau aritmia ventrikel yang tidak menetap.
Antiaritmia kelas I harus dihindari, kecuali pada keadaan
yang mengancam nyawa. Antiaritmia kelas III terutama
amiodarone dapat digunakan untuk terapi aritmia atrial,
dan tidak digunakan untuk mencegah kematian mendadak.
- Antagonis kalsium dihindari. Jangan menggunakan
kalsium antagonis untuk mengobati angina atau hipertensi
pada gagal jantung.
Edukasi 1. Anjuran umum :
- Edukasi : terangkan hubungan keluhan, gejala,
dengan pengobatan
- Aktivitas sosial dan pekerjaan diusahakan agar dapat
dilakukan seperti biasa
- Sesuaikan kemampuan fisik dengan profesi yang
masih bisa dilakukan
- Gagal jantung berat harus menghindari penerbangan
panjang
- Vaksinasi terhadap infeksi influenza dan
pneumokokus bila mampu
- Kontrasepsi IUD pada gagal jantung sedang dan
berat
- Penggunaan hormon dosis rendah masih dapat
250
PPK Penyakit Dalam
dianjurkan
[Link] umum :
- Diet (hindarkan obesitas, rendah garam 2 gr pada
gagal jantung ringan, dan 1 gr pada gagal jantung
berat, jumlah cairan 1,5 liter pada gagal jantung
ringan, 1 liter pada gagal jantung berat)
- Hentikan rokok
- Hentikan alkohol pada kardiomoiopati, batasi 20 30
gr pada yang lainnya
- Aktivitas fisik (jalan 3 5 kali seminggu selama 20
30 menit, atau sepeda statis 5 kali per minggu
selama 20 menit dengan beban 70 80 % denyut
jantung maksimal pada gagal jantung ringan dan
sedang.
- Tirah baring pada gagal jantung akut, berat, dan
eksaserbasi akut.
Prognosis Tergantung klas fungsionalnya.
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Gagal jantung kronik dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (Sesak nafas membaik, respirasi <24
kali/mnt)
Dirawat selama 7 hari.
Target 70% pasien tertangani.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Gagal
Jantung Kronik; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.54-57.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
TAKIKARDIA ATRIAL PAROKSISMAL (ICD 10:
Definisi : Takikardi yang terjadi karena perangsangan yang berasal
dari AV node di mana sebagian rangsangan antegrad ke
ventrikel, sebagian ke atrium.
Anamnesis : Berdebar, rasa tidak enak di dada, kadang sesak nafas
Pemeriksaan fisik : Tensi kadang menurun, nadi tak teratur, respirasi bisa
meningkat
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis.
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik.
3. Gelombang P dapat negatif di depan kompleks QRS,
terletak di belakang kompleks QRS, atau sama sekali tidak
ada karena berada di belakang kompleks QRS. Jarak R-R
teratur, kompleks QRS teratur.
Diagnosis kerja : Takikardia Atrial Paroksismal (ICD 10:
Diagnosis banding : - Fibrilasi atrial (ICD 10:
- Atrial flutter (ICD 10:
- Atrial ekstra sistol (ICD 10:
- Ventrikel ekstra sistol (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : EKG 12 sandapan (ICD 9CM:
Rekaman EKG 24 jam (ICD 9CM:
Pemeriksaan elektrofisiologi (ICD 9CM:
Ekokardiografi (ICD 9CM:
Angiografi koroner (ICD 9CM:
Terapi : 1. Manipulasi saraf otonom : manuver valsava, pemijitan
sinus karotikus
2. Pemberian obat yang menyekat nodus AV : adenosine
atau ATP iv (obat ini harus diberikan secara iv dan
250
PPK Penyakit Dalam
cepat), verapamil iv, obat penyekat beta, digitalisasi.
Pilihan utama : ATP dan verapamil.
3. Bila sering berulang dapat dilakukan ablasi dengan
terlebih dahulu EPS untuk menentukan lokasi bypass
tract atau ICD (inracardiac defibrillator) (dirujuk)
Edukasi Memberitahu penyakit kepada pasien dan
keluarganya.
Kontrol teratur ke dokter
Minum obat sesuai dengan anjuran dokter
Prognosis Tergantung gejala, penyebab, dan respons terapi.
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien takikardi atrial paroksismal dilakukan rawat inap
sampai keadaan membaik (Klinis membaik, heart rate
<100x/mnt)
Dirawat selama 4 hari.
Target 70% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)Takikardi
Atrial Paroksismal; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.58-59.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PERIKARDITIS (ICD 10:
Definisi : Peradangan pada perikard parietalis, visceralis atau kedua-
duanya, yang dapat bermanifestasi sebagai:
1. Perikarditis akut
2. Efusi perikard tanpa tamponade
3. Efusi perikard dengan tamponade
4. Perikarditis konstriktiva
Anamnesis : Nyeri dada substernal atau prekordial tiba-tiba, berkurang
bila duduk dan bertambah sakit bila tarik nafas.
Pemeriksaan fisik : - Friction rub
- Peningkatan tekanan vena jugularis
- Kusmaull sign (peninggian tekanan vena jugularis pada
saat inspirasi)
- Pulsus paradoksus (penurunan tekanan darah > 12-15
mmHg pada inspirasi, terlihat pada arterial line atau
tensimeter)
- Penurunan tekanan darah umumnya disertai: Pekak hati
yang meluas, bunyi jantung melemah, friction rub,
takikardi.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis.
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik.
3. Tergantung manifestasi klinis perikarditis:
- Perikarditis Akut
Sakit dada tiba-tiba substernal atau prekordial, yang
berkurang bila duduk dan bertambah sakit bila menarik
nafas (sehingga perlu dibedakan dengan pleuritis).
Pemeriksaan fisik: friction rub 2-3 komponen EKG: ST
elevasi cekung (bedakan dengan infark jantung akut
250
PPK Penyakit Dalam
dan repolarisasi dini) Foto jantung normal atau
membesar
- Tamponade
Awal: peninggian tekanan vena jugularis dengan
cekungan X prominen dan hilangnya cekungan Y
(ajuga terlihat pada CVP) Kemudian: Kusmaull sign
(peninggian tekanan vena jugularis pada saat inspirasi)
Pulsus paradoksus (penurunan tekanan darah > 12-15
mmHg pada inspirasi, terlihat pada arterial line atau
tensimeter) Penurunan tekanan darah umumnya
disertai: Pekak hati yang meluas, bunyi jantung
melemah, friction rub, takikardi. Foto toraks
menunjukkan:
- Paru normal kecuali bila sebabnya kelainan paru
seperti tumor
- Jantung membesar membentuk kendi (bila cairan >
250ml)
- EKG low voltage, elektrikal alternans (gelombang
QRS saja, atau P, QRS dan T)
- Ekokardiografi: efusi perikard moderat sampai berat,
twinging heart dengan kompresi diastolik vena kava
inferior, atrium kanan dan ventrikel kanan
- Kateterisasi: peninggian tekanan atrium kanan
dengan gelombang prominen serta gelombang Y
menurun atau menghilang. Pulsus paradoksus dan
ekualisasi tekanan diastolik di ke-4 ruang jantung
(atrium kanan, ventrikel kanan, ventrikel kiri dan
PCW)
- Perikarditis Konstriktiva:
- Kelelahan, denyut jantung cepat dan bengkak
- Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda gagal jantung
seperti peningkatan tekanan vena jugularis dengan
cekungan X dan Y yang prominen, hepatomegali,
asites dan edema
- Pulsus paradoksus (pada bentuk subakut)
- End diastolic sound (knock) (lebih sering pada
kronik)
- Kumaull sign (peninggian tekanan vena jugularis
pada inspirasi) terutama pada yang kronik
- Foto toraks: kalsifikasi perikard, jantung bisa
membesar atau normal
- CT Scan dan MRI bisa mengkonfirmasi foto toraks.
Bila CT Scan/MRI normal maka diagnosis
perikarditis konstriktiva hampir pasti sudah bisa
disingkirkan.
- Kateterisasi menunjukkan perbedaan tekanan
atrium kanan, diastolik ventrikel kanan, ventrikel kiri
dan rata-rata PCW < 5 mmHg. Gambaran dip dan
plateu pada tekanan ventrikel.
250
PPK Penyakit Dalam
Diagnosis kerja : Perikarditis (ICD 10:
Diagnosis banding : - infark jantung akut (ICD 10:
- emboli paru akut (ICD 10:
- pleuropneumonia (ICD 10:
- diseksi aorta akut abdominalis (ICD 10:
- gagal jantung (ICD 10:
- kardiomiopati restriktif (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : EKG
Foto toraks
Ekokardiografi (rujuk)
Kateterisasi (rujuk)
CT Scan (rujuk)
MRI (rujuk)
Terapi : Perikarditis Akut:
- Pasien harus dirawat inap dan istirahat baring untuk
memastikan diagnosis dan diagnosis banding serta
melihat kemungkinan terjadinya tamponade
- Simptomatik dengan aspirin 650 mg/4 jam atau
OAINS indometasin 25-50 mg/6 jam. Dapat
ditambahkan morfin 2-5 mg/6 jam atau petidin 25-50
mg/4 jam, hindarkan steroid karena sering
menyebabkan ketergantungan. Bila tidak membaik
dalam 72 jam, maka prednison 60-80 mg/hari dapat
dipertimbangkan selama 5-7 hari dan kemudian
tappering off.
- Cari etiologi/kausal
Efusi perikard:
- Sama dengan perikarditis akut, disertai pungsi
perikard untuk diagnostik
Tamponade Jantung:
- Perikardiosintesis perkutan
- Bila belum bisa dilakukan perikardiosintesis
perkutan, infus normal salin 500 ml dalam 30-60
menit disertai dobutamin 2-10 ug/kgBB/menit atau
isoproterenol 2-20 ug/menit
- Tindakan pembedahan (dirujuk)
Perikarditis Konstriktiva
- Bila ringan diberikan diuretika atau dapat dicoba
OAINS
- Bila progresif, dapat dilakukan perikardiektomi
Edukasi - Memberitahu penyakit kepada pasien dan keluarga
- Tirah baring
- Mengikuti terapi dan tindakan sesuai dengan instruksi
dokter
Prognosis Tergantung penyebab, beratnya gejala dan komplikasi
yang terjadi
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
250
PPK Penyakit Dalam
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien perikarditis dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (nyeri dada hilang, tensi baik, tidak ada
tamponade jantung)
Dirawat selama 7 hari.
Target 50% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Perikarditis ; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.60-62.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
SINDROM KORONER AKUT (ICD 10:I24.9)
Definisi : Suatu keadaan darurat jantung dengan manifestasi klinis
perasaan tidak enak di dada atau gejala-gejala lain sebagai
akibat iskemia miokard. Sindrom Koroner Akut mencakup:
1. Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST
2. Infark miokard akut tanpa elevasi segmen ST
3. Angina pektoris tak stabil (unstable angina pectoris)
Anamnesis : Nyeri dada tipikal (angina) berupa nyeri dada substernal,
retrosternal, dan prekordial. Nyeri seperti ditekan, ditindih
benda berat, rasa terbakar, seperti ditusuk, rasa diperas
dan dipelintir. Nyeri menjalar ke leher, lengan kiri,
mandibula, gigi, punggung/interskapula, dan dapat juga ke
lengan kanan. Nyeri membaik atau hilang dengan istirahat
atau obat nitrat, atau tidak. Nyeri dicetuskan oleh latihan
fisik, stress emosi, udara dingin dan sesudah makan.
Dapat disertai gejala mual, muntah, sulit bernafas, keringat
dingin dan lemas.
Pemeriksaan fisik : -Tensi, nadi, suhu, respirasi.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis.
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik.
3. Elektrokardiogram
Angina pektoris tidak stabil: depresi segmen ST dengan
atau tanpa inversi gelombang T, kadang-kadang elevasi
segmen ST sewaktu ada nyeri, tidak dijumpai
gelombang Q
Infark miokard ST elevasi: hiperakut T, elevasi segmen
ST, gelombang Q inversi
Infark miokard non ST elevasi: depresi segmen ST,
250
PPK Penyakit Dalam
inversi gelombang T dalam
4. Petanda Biokimia
SGOT, LDH, CK, CKMB, Troponin T
Enzim meningkat minimal 2 kali nilai batas atas normal
Diagnosis Kerja : Sindrom Koroner Akut (ICD 10:I24.9)
Diagnosis banding : - Angina pektoris tak stabil (ICD 10:
- Diseksi aorta (ICD 10:
- Perikarditis akut (ICD 10:
- Emboli paru akut (ICD 10:
- Penyakit dinding dada (ICD 10:
- Sindrom Tietze (ICD 10:
- Hiatus hernia (ICD 10:
- Refluks esofagitis (ICD 10:
- Spasme esofagus (ICD 10:
- Ruptur esofagus (ICD 10:
- Kolesistitis akut (ICD 10:K81.0)
- Ulkus Peptikum (ICD 10:K27.9)
- Pankreatitis akut (ICD 10:K85)
Pemeriksaan penunjang : - EKG (ICD 9CM:
- Foto thoraks (ICD 9CM:
- Darah Lengkap (ICD 9CM:
- CKMB (ICD 9CM:
- LDH (ICD 9CM:
- SGOT (ICD 9CM:
- Troponin T (ICD 9CM:
- Kolesterol Total (ICD 9CM:
- LDL (ICD 9CM:
- HDL (ICD 9CM:
- Trigliserida (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- Ekokardiografi (ICD 9CM:
- Tes Treadmill (ICD 9CM:
Terapi : - Tirah baring di ruang rawat intensif (ICU)
- Pasang infus intravena dengan NaCl 0,9% atau
dextrosa 5%
- Oksigenasi 2-6 liter/menit
- Diet: puasa sampai bebas nyeri, kemudian diet cair,
selanjutnya diet jantung
- Pasang monitor EKG secara kontinu
- Atasi nyeri dengan:
Nitrat sublingual / ISDN intravena titrasi (kontraindikasi
bila TD sistolik <90 mmHg), bradikardia (<50 kali/menit),
takikardia
Morfin 2,5 mg (2-4 mg) intravena, dapat diulang tiap 5
menit sampai dosis total 20 mg atau petidin 25-50 mg
intravena atau tramadol 25-50 mg intravena
- Antitrombotik dengan Aspirin (160-345 mg), bila
alergi atau intoleransi/tidak responsif diganti dengan
250
PPK Penyakit Dalam
tiklopidin
- Klopidogrel
- Trombolitik dengan streptokinase 1,5 juta U dalam 1
jam atau aktivator plasminogen jaringan (t-PA) bolus 15
mg, dilanjutkan dengan 0,75mg/kgBB (maksimal 50 mg)
dalam jam pertama dan 0,5 mg/kgBB (maksimal 35 mg)
dalam 60 menit jika elevasi segmen ST > 0,1 mv pada
dua atau lebih sadapan ekstremitas berdampingan atau
> 0,2 mv pada dua atau lebih sadapan prekordial
berdampingan, waktu mulai nyeri dada sampai terapi <
12 jam, usia < 75 tahun.
- Antikoagulan (LMWH)
- Atasi rasa takut atau cemas dengan diazepam 3 x 2-
5 mg oral atau IV
- Pelunak tinja dengan laktulosa (laksadin) 2 x 15 ml
- Penyekat beta diberikan bila tidak ada kontraindikasi
- Penghambat ACE diberikan bila keadaan
mengizinkan terutama pada infark miokard akut yang
luas, atau anterior, gagal jantung tanpa hipotensi,
riwayat infark miokard
- Antagonis kalsium dengan verapamil untuk infark
miokard non ST elevasi atau angina pektoris tak stabil
bila nyeri tidak teratasi
- Atasi Komplikasi:
1. Fibrilasi Atrium
Kardioversi elektrik untuk pasien dengan
gangguan hemodinamik berat atau iskemia
intraktabel
Digitalisasi cepat
Penyekat Beta
Diltiazem atau verapamil bila penyekat beta
dikontraindikasikan
Heparinisasi
2. Fibrilasi Ventrikel
DC Shock unsynchronized dengan energi awal
200J, jika tak berhasil harus diberikan shock
kedua 200-300J dan jika perlu shock ketiga 360J.
3. Takikardi Ventrikel
VT polimorfik menetap (>30 detik) atau
menyebabkan gangguan hemodinamik: DC
Shock unsynchronized dengan energi awal 200 J,
jika gagal harus diberikan shock kedua 200-300 J
dan jika perlu shock ketiga 360 J.
VT monomorfik yang menetap diikuti angina,
edema paru atau hipertensi harus diterapi
dengan DC shock synchronized energi awal
100J. Energi dapat ditingkatkan jika dosis awal
gagal.
VT monomorfik yang tidak disertai angina, edema
250
PPK Penyakit Dalam
paru atau hipotensi dapat diberikan: Lidokain
bolus 1-15 mg/kgBB. Bolus tambahan 0,5-0,75
mg/kgBB tiap 5-10 menit sampai dosis loading
total maksimal 3 mg/kgBB. Kemudian loading
dilanjutkan dengan infus 2-4 mg/menit (30-50
ug/kgBB/menit); Amiodaron 150 mg infus selama
10-20 menit atau 5 ml/kgBB 20-60 menit
dilanjutkan infus tetap 1 mg/menit selama 6 jam
dan kemudian infus pemeliharaan 0,5 mg/menit
atau Kardioversi elektrik synchronized dimulai
dosis 50 J (anestesi sebelumnya).
4. Bradiaritmia dan blok
Bradikardia sinus simtomatik (frekuensi jantung <
50 kali/menit disertai hipotensi, iskemia aritmia
ventrikel escape)
Asistol ventrikel
Blok AV simtomatik terjadi pada tingkat nodus AV
(derajat dua tipe 1 atau derajat tiga dengan ritme
escape kompleks sempit)
Terapi dengan sulfas atropine 0,5-2 mg.
Isoproterenol 0,5-4 ug/menit bila atropin gagal,
sementara menunggu pacu jantung sementara
5. Gagal jantung akut, edema paru, syok kardiogenik
diterapi sesuai standar pelayanan medis kasus ini
6. Perikarditis
Aspirin (160-325 mg)
Indometasin
Ibuprofen
Kortikosteroid
7. Komplikasi mekanik
Ruptur muskulus papilaris, ruptur septum ventrikel, ruptur
dinding ventrikel (dilakukan tindakan bedah, rujuk)
Edukasi - Memberitahukan tentang penyakitnya kepada
pasien dan atau keluarganya.
- Tirah baring di ruang ICU
- Mengikuti petunjuk yang dilakukan di ICU
Prognosis Tergantung daerah jantung yang terkena, beratnya gejala,
ada tidaknya komplikasi
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Sindrom Koroner Akut dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (nyeri dada hilang, tensi baik, tidak ada
gagal jantung, aritmia malignan sudah teratasi)
Dirawat selama 10 hari.
Target 70% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Sindrom
Koroner Akut ; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
250
PPK Penyakit Dalam
h.63-66.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
SYOK KARDIOGENIK (ICD 10:
Definisi : Kegagalan sirkulasi akut karena ketidakmampuan daya
pompa jantung.
Anamnesis : Sesak nafas yang memberat dengan posisi tidur terlentang
dan berkurang bila duduk, rasa tidak enak di dada,
berdebar-debar, kadang nyeri dada, kaki dan tangan
dingin, produksi urin menurun.
Pemeriksaan fisik : 1. Tekanan darah < 100 mmHg, Nadi cepat, respirasi
meningkat
2. Tanda-tanda gagal jantung:
- Irama gallop
- Peningkatan tekanan vena jugularis
- Pulsus alternans
- Kardiomegali
- Ronkhi basah halus di basal paru dan bisa meluas
di kedua lapang paru bila gagal jantung berat
- Edema pretibial pada pasien rawat jalan dan edema
sakral pada pasien tirah baring
- Efusi pleura, lebih sering pada paru kanan daripada
paru kiri.
- Asites sering terjadi pada pasien dengan penyakit
katup mitral dan perikarditis konstriktif
- Hepatomegali
- Ikterus berhubungan dengan peningkatan kedua
bentuk bilirubin Ekstremitas dingin, pucat , dan
250
PPK Penyakit Dalam
berkeringat.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis.
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik.
3. Elektrokardiogram:
- Tanda iskemia, infark, hipertrofi, low voltage
- Aritmia: AV blok, bradiaritmia, takiaritmia
Diagnosis Kerja : - Syok Kardiogenik (ICD 10:
Diagnosis banding : - Syok hipovolemik (ICD 10:
- Syok anafilaktik (ICD 10:
- Syok septik (ICD 10:
- Syok karena emboli paru (ICD 10:
- Syok karena Tension Pneumotoraks (ICD 10:
- Syok karena overdosis obat (ICD 10:
- Syok karena Infark ventrikel kanan (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah Lengkap
- Ureum
- Kreatinin
- Analisis gas darah
- Elektrolit
- Foto toraks
- EKG
- SGOT
- LDH
- CKMB
- Troponin T
- Ekokardiografi transtorakal (Rujuk)
- Angiografi koroner (Rujuk)
Terapi : 1. Posisi duduk bila ada edema paru kecuali hipotensi
berat
2. Oksigen (40-50%) sampai 8 liter/menit bila perlu dengan
masker. Jika memburuk: pasien makin sesak, takipneu,
ronki bertambah, PaO2 tidak bisa dipertahankan 60
mmHg dengan O2 konsentrasi dan aliran tinggi, retensi
CO2, hipoventilasi atau tidak mampu mengurangi cairan
edema secara adekuat: dilakukan intubasi endotrakeal,
suction dan ventilator.
3. Infus emergensi
4. Bila ada tension pneumotoraks segera diidentifikasi dan
ditatalaksana untuk dekompresi dengan chest tube
torakotomi
5. Atasi segera aritmia dengan obat atau DC
6. Jika ada defisit volume yang ikut berperan berikan
normal salin 250-500 ml kecuali ada edema paru akut.
Jika terapi cairan gagal pasang kateter Swan Ganz.
7. EKG prekordial kanan untuk deteksi gagal jantung
kanan bila ada infark akut inferior
8. Jika tekanan darah sudah stabil dapat diberikan
vasodilator untuk mengurangi afterload dan
memperbaiki fungsi pompa terutama berguna pada
250
PPK Penyakit Dalam
hipertensi berat, edema paru, dekompensasi katup.
9. Nitrat sublingual atau ISDN sublingual 5 mg tiap 5-10
menit. Jika tekanan darah sistolik > 95 mmHg dan bisa
diberikan ISDN intravena mulai dosis 10-20 ug/menit.
10. Dopamin 2-20 ug/kgBB/menit atau dobutamin 2-30
ug/kgBB/menit untuk menstabilkan hemodinamik. Dosis
dapat ditingkatkan sesuai respon klinis.
[Link] atau revaskularisasi pada pasien infark
miokard.
12. Intubasi dan ventilator pada pasien dengan hipoksia
berat, asidosis atau tidak berhasil dengan terapi
oksigen. (konsul anastesi).
13. Atasi aritmia atau gangguan konduksi.
Edukasi - Istirahat dengan posisi 1/2 duduk
- Memberitahukan penyakitnya kepada pasien dan
atau keluarga
Prognosis Tergantung penyebab, beratnya gejala dan respon terapi
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Syok Kardiogenik dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (tidak ada sesak nafas, nyeri dada
hilang, tensi > 100 mmHg, tidak ada aritmia yang
malignan)
Dirawat selama 5 hari.
Target 50% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Syok
Kardiogenik ; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.67-69.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
TAKIKARDI VENTRIKULAR (ICD 10:I47.2)
Definisi : Tiga atau lebih kompleks yang berasal dari ventrikel secara
berurutan dengan laju lebih dari 100 kali per menit.
Anamnesis : Berdebar-debar, rasa tidak enak di dada
Pemeriksaan fisik : - Tekanan darah sering < 100 mmHg
- Heart rate 150-200 kali/menit
- Akral dingin
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis.
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik.
3. Elektrokardiogram
- Frekuensi kompleks QRS meningkat, 150-200
kali/menit
- Kompleks QRS melebar
- Hubungan gelombang P dan kompleks QRS tidak
tetap
Diagnosis Kerja : Takikardi Ventrikular (ICD 10:I47.2)
Diagnosis banding : Supraventrikular takikardi dengan konduksi aberans (ICD
10:
Pemeriksaan penunjang : - EKG 12 sandapan
- Rekaman EKG 24 jam
- Ekokardiografi dan angiografi koroner (rujuk)
Terapi : 1. Atasi penyakit dasar: bila iskemia maka dilakukan
revaskularisasi koroner, bila payah jantung maka diatasi
payah jantungnya
2. Pada keadaan akut:
- Bila mengganggu hemodinamik: dilakukan DC
Shock
250
PPK Penyakit Dalam
- Bila tidak mengganggu hemodinamik: dapat
diberikan antiaritmia dan bila tidak berhasil dilakukan
DC Shock
3. DC Shock diberikan dan dievaluasi sampai 3 kali (200
Joule, 200-300 Joule, 360 Joule atau bifasik ekuivalen).
4. Antiaritmia: lidokain atau amiodaron. Lidokain diberikan
mulai dengan bolus 1 mg/kgBB (50-75 mg dilanjutkan
dengan rumatan 1-4 mg/kgBB). Bila masih timbul bisa
diulangi bolus 50 mg/kgBB. Untuk amiodaron dapat
diberikan 15 mg/kgBB bolus 1 jam dilanjutkan 5
mg/kgBB bolus/drip dalam 24 jam sampai dengan 1000
mg/24 jam.
Terapi Jangka Panjang
- Bilamana selama takikardi tidak memberikan gangguan
hemodinamik maka dapat dilakukan tindakan ablasi
kateter dari ventrile kiri maupun ventrikel kanan. Hal ini
terutama untuk ventrikular takikardi reentran cabang
berkas. Bilamana selama takikardi memberikan
gangguan hemodinamik diperlukan tindakan koversi
dengan defibrilator, kalau perlu pemasangan defibrilator
jantung otomatik. (Rujuk)
Edukasi - Tirah baring di ruang ICU
- Memberitahukan penyakitnya kepada pasien dan
atau keluarganya
Prognosis Tergantung penyebab, beratnya gejala dan respon terapi
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Takikardi Ventrikular dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (tidak ada berdebar-debar, tensi > 100
mmHg, tidak ada aritmia yang malignan)
Dirawat selama 3 hari.
Target 50% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Takikardia Ventrikular ; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.72-73.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
EKSTRASISTOL VENTRIKULAR (ICD 10:I49.4)
Definisi : Suatu kompleks ventrikel prematur timbul secara dini di
salah satu ventrikel akibat cetusan dini dari suatu fokus
yang otomatis atau melalui mekanisme reentri.
Anamnesis : Berdebar-debar, rasa tidak enak di dada
Pemeriksaan fisik : Nadi tidak teratur, terdapat denyut jantung yang kuat di
apeks pada saat timbulnya ekstrasistol ventrikular.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis.
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Elektrokardiogram
P sinus biasanya terbenam dalam kompleks QRS,
segmen ST atau gelombang T
Kompleks QRS muncul lebih awal dari seharusnya
QRS melebar ( 0,12 detik)
Gambaran QRS wide and bizzare
Segmen ST dan gelombang T berlawanan arah dengan
kompleks QRS
Bila karena mekanisme reentri maka interval antara
kompleks QRS normal yang mendahuluinya dengan
komples ekstrasistole ventrikel akan selalu sama. Bila
berbeda maka asalnya dari fokus ventrikel yang berbeda.
Diagnosis Kerja : Ekstrasistol Ventrikular (ICD 10:I49.4)
Diagnosis banding : Takikardia ventrikular (ICD 10:I47.2)
Supraventrikular takikardi ekstrasistol (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang :- EKG (ICD 9CM:
- Rekaman EKG 24 jam (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
- Ekokardiografi (ICD 9CM: (Rujuk)
- Angiografi koroner (ICD 9CM: (Rujuk)
Terapi : 1. Tidak perlu diobati jika jarang, timbul pada pasien
tanpa/tidak dicurigai kelainan jantung organik
2. Perlu pengobatan bila terdapat pada keadaan iskemia
miokard akut, bigemini, trigemini atau multifokal, salvo
ventrikel.
3. Koreksi gangguan elektrolit, gangguan keseimbangan
asam basa dan hipoksia
4. Obat: yang sering digunakan adalah xilokain yang
diberikan secara intravena dengan dosis 1-2 mg/kgBB
dilanjutkan dengan infus 2-4 mg/menit. Obat alternatif:
prokainamid, disopiramid, amiodaron, meksiletin. Bila
pengobatan tidak perlu segera, obat-obat tersebut
dapat diberikan secara oral.
Edukasi Istirahat (mengurangi aktivitas)
Bila terdapat denyutan di dada yang keras > 5 kali/menit
harus minum obat dan kontrol ke dokter.
Prognosis Tergantung penyebab, beratnya gejala dan respon terapi
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Ekstrasistol Ventrikular dilakukan rawat inap
sampai keadaan membaik (tidak ada berdebar-debar,
tensi > 100 mmHg, tidak ada aritmia yang malignan)
Dirawat selama 3 hari.
Target 80% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Ekstrasistol Ventrikular ; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.74-75.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
FIBRILASI VENTRIKULAR (ICD 10:
Definisi : Kelainan irama jantung dengan tidak ditemukan
depolarisasi ventrikel yang terorganisasi sehingga ventrikel
tidak mampu berkontraksi sebagai suatu kesatuan dengan
irama yang sangat kacau serta tidak terlihat gelombang P,
QRS maupun T.
Anamnesis : Pasien tidak sadar, henti nafas
Pemeriksaan fisik : Koma, tekanan darah tidak terukur, nadi tidak teraba, henti
nafas.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis.
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Elektrokardiogram
- Kompleks QRS sudah berubah sama sekali
- Amplitudo R sudah mengecil sekali
Diagnosis Kerja : Fibrilasi Ventrikular ( ICD 10:
Diagnosis banding : Takikardia Ventrikular (ICD 10:I47.2)
Pemeriksaan penunjang : - EKG (ICD 9CM:
- Rekaman EKG 24 jam (ICD 9CM:
- Ekokardiografi (ICD 9CM: (Rujuk)
- Angiografi koroner (ICD 9CM: (Rujuk)
Terapi : 1. DC Shock sampai tiga kali dengan
evaluasi, jika perlu dimulai dengan 200 J, kemudian
200-300 J dan 360 J.
2. Resusitasi jantung paru selama tidak
ada irama jantung yang efektif (pulsasi di pembuluh
nadi besar tidak teraba).
3. Bila teratasi penatalaksanaan seperti
250
PPK Penyakit Dalam
takikardia ventrikular.
Edukasi Memberitahukan penyakitnya kepada keluarga bahwa
pasien dalam kondisi kritis.
Prognosis Tergantung penyebab, beratnya gejala dan respon terapi
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien fibrilasi ventrikular dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (nafas spontan, nyeri dada hilang, tensi
> 100 mmHg, tidak ada aritmia yang malignan)
Dirawat selama 5 hari.
Target 20% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Fibrilasi
Ventrikular ; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.70-71.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
ULKUS PEPTIKUM (ICD 10:K27.9)
Definisi : Ulkus peptikum adalah penyakit saluran cerna bagian atas
akut maupun kronis yang mengenai mukosa dan otot dari
gaster, atau duodenum
Anamnesis : 1. terdapat nyeri saat perut kosong dan atau setelah
makan
2. Nyeri dibagian epigastrium berulang
3. Nausea, vomitus, anoreksia dan kembung.
4. Makan sedikit perut terasa penuh
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Konjungtiva anemis, ikterus
Cor : murmur (+)
Abdomen nyeri tekan atau spontan pada epigastrium
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Ulkus Peptikum (ICD 10:K27.9)
Diagnosis banding : 1. Batu empedu (ICD 10:K80.2)
2. GERD (ICD 10 :K21.9)
3. Dyspepsia fungsional (ICD 10:K30)
Pemeriksaan penunjang : 1. Darah Lengkap (ICD 9CM:90.59)
2. Barium inloop (ICD 9CM:87.61)
3. USG Abdomen (ICD 9CM:88.76)
Terapi : Tanpa komplikasi
250
PPK Penyakit Dalam
1. Suportif : nutrisi
2. Memperbaiki / menghindari faktor risiko
3. Pemberian obat-obatan : Antasida sirup 3 kali satu
sendok makan atau tablet 3kali1 selama 3 hari,
ranitidin 2 kali satu ampul selama 3 hari dilanjutkan
oral selama 1 bulan.
Bila ada perdarahan diberikan PPI injeksi 2 kali satu
vial selama 3 hari atau sampai perdarahan berhenti
dilanjutkan dengan oral selama 1 bulan
4. Pemberian prokinetik (ondansentron atau
metokloperamide atau domperidom bila ada mual
dan atau muntah
5. Mukoprotektor (bila penyebabnya NSAID atau
bahan korosif lainnya.(sulkralfat 3 kali satu sendok
makan, mukosta 3 kali 1 tablet, fukoidan 1 kali 1
tablet)
6. Bila Tukak peptic yang berdarah diberikan
traneksamid acid 3 kali 500 mg intravena atau drip
sampai perdarahan berhenti
7. Terapi bedah bila curiga terjadi ruptur atau
perdarahan masih tetap masif dalam waktu 3 hari
(dikonsulkan ke dokter spesialis bedah)
8. Transfusi PRC bila hasil HB < 9 gr%
Edukasi (Primary Health Menghindari NSAID atau bahan korosif lainnya
Promotion) Menghindari makanan asam atau pedas
Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis [Link] dilakukan rawat inap bila terjadi hematemesis dan
atau melena, dirawat sampai berhenti perdarahan dan
anemia sudah terkoreksi (selama sekitar [Link])
2. Pasien dengan keluhan nyeri epigastrium berat sampai
nyeri berkurang atau hilang (selama 3 hari)
Target : 80% pasien dapat tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Ulkus Peptikum; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.266-267
2. Kusumobroto, H.O., Oesman, N., Adi, P., dkk. (2008)
Tukak Peptik; Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.124-126
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
GASTRITIS (ICD 10: )
Definisi : Gastritis adalah proses inflamasi pada mukosa dan
submukosa lambung.
Anamnesis : 1. Terdapat nyeri perut di bagian epigastrium.
2. Nausea, vomitus, anoreksia dan kembung.
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Konjungtiva anemis bila terjadi perdarahan
Abdomen nyeri tekan atau spontan pada epigastrium
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Gastritis (ICD 10:
Diagnosis banding : 1. Batu empedu (ICD 10:K80.2)
2. GERD (ICD 10 :K21.9)
3. Dyspepsia fungsional (ICD 10:K30)
4. Ulkus Peptikum (ICD 10:K27.9)
Pemeriksaan penunjang : 1. Darah Lengkap (ICD 9CM:90.59)
2. Barium inloop (ICD 9CM:87.61)
3. Esofagogastrodeudenoskopi (ICD 9CM: (Rujuk)
Terapi : 1. Pemberian obat-obatan : Antasida sirup 3 kali satu
sendok makan atau tablet 3kali1 selama 3 hari,
ranitidin 2 kali satu ampul selama 3 hari dilanjutkan
oral selama 1 bulan. Bila ada perdarahan diberikan
PPI injeksi 2 kali satu vial selama 3 hari atau sampai
perdarahan berhenti dilanjutkan dengan oral selama
1 bulan
2. Pemberian prokinetik (ondansentron atau
metokloperamide atau domperidom bila ada mual
dan atau muntah
250
PPK Penyakit Dalam
3. Mukoprotektor (bila penyebabnya NSAID atau
bahan korosif lainnya.(sulkralfat 3 kali satu sendok
makan, mukosta 3 kali 1 tablet, fukoidan 1 kali 1
tablet)
4. Bila gastritis dengan perdarahan diberikan
traneksamid acid 3 kali 500 mg intravena atau drip
sampai perdarahan berhenti
5. Transfusi PRC bila hasil HB < 9 gr%
Edukasi (Primary Health Menghindari NSAID atau bahan korosif lainnya
Promotion) Menghindari makanan asam atau pedas
Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis 1. Pasien dilakukan rawat inap bila terjadi hematemesis
dan atau melena, dirawat sampai berhenti perdarahan
dan anemia sudah terkoreksi (selama sekitar [Link])
2. Pasien dengan keluhan nyeri epigastrium berat sampai
nyeri berkurang atau hilang (selama 3 hari)
Target : 80% pasien dapat tertangani
Referensi 1. Hirlan. Gastritis. Dalam: Sudoyo, A. W., Setyohadi,
B., Alwi, I. dkk (2009) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Ed.5. Jakarta, h. 509-512.
2. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Ulkus Peptikum; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.266-267.
3. Kusumobroto, H.O., Oesman, N., Adi, P., dkk. (2008)
Tukak Peptik; Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.124-126.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
DISPEPSIA (ICD 10:K30)
Definisi : Dispepsia merupakan kumpulan gejala atau sindrom yang
terdiri atas nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa
penuh atau cepat kenyang dan sendawa .
Anamnesis : Nyeri ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh atau
cepat kenyang dan sendawa.
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Abdomen nyeri tekan atau spontan pada epigastrium
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Dispepsia (ICD 10:K30)
Diagnosis banding : 1. Penyakit refluk gastroesofageal (ICD 10:K21.9)
2. Irritable Bowel Syndrome (ICD 10:K58.9)
3. Karsinoma saluran cerna bagian atas (ICD 10:C78.8)
4. Pancreastitis akut (ICD 10:K85.9)
5. Hepatitis akut (ICD 10:B17.9)
Pemeriksaan penunjang : 1. Darah Lengkap (ICD 9CM:90.59)
2. Barium inloop (ICD 9CM:87.61)
3. USG Abdomen (ICD 9CM:88.76)
Terapi : Tanpa komplikasi
1. Suportif : nutrisi
2. Memperbaiki / menghindari faktor risiko
3. Pemberian obat-obatan : Antasida sirup 3 kali satu
sendok makan atau tablet 3kali1 selama 3 hari, ranitidin
2 kali satu ampul selama 3 hari dilanjutkan oral selama
1 bulan atau
PPI injeksi 1 kali satu vial selama 3 hari atau sampai
keluhan berkurang , dilanjutkan dengan oral selama 1
bulan.
250
PPK Penyakit Dalam
4. Pemberian prokinetik (ondansentron atau
metokloperamide atau domperidom bila ada mual dan
atau muntah
5. Mukoprotektor (bila penyebabnya NSAID atau bahan
korosif lainnya.(sulkralfat 3 kali satu sendok makan,
mukosta 3 kali 1 tablet, fukoidan 1 kali 1 tablet)
Edukasi Menghindari NSAID atau bahan korosif lainnya
Menghindari makanan asam atau pedas
Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Tingkat Evidense IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien dengan keluhan nyeri epigastrium berat dan atau
mual muntah berat sampai nyeri berkurang atau hilang
(selama 3 hari)
Target : 80% pasien dapat tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Dispepsia; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.301.
2. Kusumobroto, H.O., Oesman, N., Adi, P., dkk. (2008)
Dispepsia; Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.122-123
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
KANKER LAMBUNG (ICD 10:C16.9)
Definisi : Pertumbuhan ganas lambung, sebagian besar
dalam bentuk adenokarsinoma, sebagian kecil
berupa limfoma, leimiosarkoma, dan liposarkoma.
Anamnesis : Rasa tidak enak epigastrium, nyeri, kembung
setelah makan, disfagia, muntah, kadang melena,
hematemesis.
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Konjungtiva anemis
Teraba tumor dan nyeri tekan di epigastrium
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Kanker Lambung (ICD 10:C16.9)
Diagnosis banding : 1. Ulkus peptikum (ICD 10:
2. Penyakit refluk gastroesofageal (ICD 10:
3. Dispepsia (ICD 10:K30)
Pemeriksaan penunjang : 1. Darah Lengkap (ICD 9CM:
2. Barium inloop (ICD 9CM:
3. USG Abdomen (ICD 9CM:
4. Esofago-gastro-deodenuskopi (EGD) (ICD
9CM: (dirujuk)
5. Biopsi lambung (ICD 9CM: (dirujuk)
6. CT-scan abdomen (ICD 9CM: (dirujuk)
Terapi : Tanpa komplikasi
250
PPK Penyakit Dalam
1. Infus Kristaloid 1500cc/hari
2. Nutrisi Parenteral
3. Transfusi PRC bila hasil HB < 9 gr%
4. Pemberian obat-obatan : Antasida sirup 3
kali satu sendok makan atau tablet 3kali1
selama 3 hari
5. Pemberian prokinetik (ondansentron atau
metokloperamide atau domperidom bila
ada mual dan atau muntah)
6. Bila kanker lambung yang berdarah
diberikan traneksamid acid 3 kali 500 mg
intravena atau drip sampai perdarahan
berhenti
7. Terapi bedah (dikonsulkan ke dokter
spesialis bedah)
8. Kemoterapi (dirujuk)
Edukasi (Primary Health Menjelaskan penyakit kepada pasien dan
Promotion) keluarga.
Prognosis Malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien kanker lambung dilakukan rawat inap bila
terjadi hematemesis, melena, dan tidak bisa
makan, dirawat sampai perdarahan berhenti dan
anemia sudah terkoreksi.
Target : 60% pasien dapat tertangani.
Referensi 3. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Kanker Lambung; Panduan Pelayanan
Medis PAPDI, Jakarta, h.304.
4. Kusumobroto, H.O., Oesman, N., Adi, P., dkk.
(2008) Kanker Lambung; Pedoman Diagnosis
dan Terapi Penyakit Dalam RSUD dr.
Soetomo, Surabaya, h.127-130.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PENYAKIT REFLUKS GASTRO-ESOFAGEAL (ICD 10:K21.9)
Definisi : Kelainan Esofagus akibat refluk gastro esofageal berulang
dalam wakyu lama
Anamnesis : 1. Rasa panas seperti terbakar di dada, mungkin disertai
regurgitasi asam .
2. Nyeri telan.
3. Sulit menelan.
4. Mulut penuh cairan akibat sekresi ludah berlebihan
5. Perdarahan saluran cerna atas
6. Keluhan saluran nafas seperti batuk lama, asma, suara
serak, batuk darah, pnemonia aspirasi berulang.
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Abdomen nyeri tekan atau spontan pada epigastrium
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Penyakit Refluk Gastro-Esofageal (ICD 10:K21.9)
Diagnosis banding : 1. Ulkus Peptikum (ICD 10:K27.9)
2. Dyspepsia fungsional (ICD 10:K30)
Pemeriksaan penunjang : 1. Darah Lengkap (ICD 9CM:90.59)
2. EKG (ICD 9CM:89.52)
3. Foto Thorak (ICD 9CM:87.49)
Terapi : 1. Pemberian prokinetik (ondansentron atau
metokloperamide atau domperidom bila ada mual dan
atau muntah
2. Antasida 3 kali 1 sendok makan
250
PPK Penyakit Dalam
3. Antagonis H2 reseptor seperti :Cimetidin 3 kali 1 tablet ,
ranitidin 2 kali 1 ampul, famotidin 3 kali 1 tablet.
4. Mukoprotektor (sulkralfat 3 kali satu sendok makan)
5. PPI injeksi 2 kali satu vial atau oral 2 kali 1 selama 2
minggu atau keluhan hilang
6. Terapi bedah : bila terapi medikamentosa gagal, terjadi
perdarahan berulang, dan bila terjadi striktura esofagus
Edukasi (Primary Health 1. Bila gemuk berat badan diturunkan
Promotion) 2. Tidur dengan lambung tidak terisi penuh dan kepala
ditinggikan
3. Hindari rokok, alkohol, kopi, coklat, makan terlalu
kenyang, makanan berlemak yang dibumbui rempah-
rempah
4. Hindari pakaian ketat terutama di daerah pinggang
5. Hindari mengangkat barang berat
6. Hindari obat-obat yang menurunkan tonus spinter
esofagus bawah seperti theophyillin, kafein, morphin,
dopamin, diazepam, kalsium antagonis.
Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan kasus Penyakit Refluk Gastro-Esofageal
dilakukan rawat inap bila terjadi nyeri dada seperti terbakar,
nyeri telan, sulit menelan dirawat sampai keluhan hilang
selama sekitar [Link]
Target : 80% pasien dapat tertangani
Referensi Kusumobroto, H.O., Oesman, N., Adi, P., dkk. (2008)
Penyakit Refluks Gastro-Esofageal; Pedoman Diagnosis
dan Terapi Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya,
h.119-120
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
HEMATEMESIS (ICD 10:K92.0)
Definisi : Hematemesis adalah muntah darah berwarna merah
kehitaman yang berasal dari saluaran cerna bagian atas,
proksimal ligamentum Treit, mulai dari jejunum proksimal,
duodenum, gaster dan esophagus.
Anamnesis : Muntah darah warna merah kehitaman,
Riwayat minum obat NSAID, jamu pegal linu, alcohol
Riwayat sakit kuning hepatitis.
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Anemia, Ikterik, Spider naevi, Ascites, Vena kolateral,
Hepatosplenomegali, eritema palmaris, oedem tungkai
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Hematemesis (ICD 10:K92.0)
Diagnosis banding : Hemoptisis (ICD 10:R04.2)
Pemeriksaan penunjang : 1. Darah Lengkap (ICD 9CM:90.59)
2. SGOT, SGPT, Bil Total, Bil Direck, Hbs ag, Anti
HCV,
3. Esofago-gastro-deudonoskopi= EGD (Rujuk)
4. USG Abdomen
5. Faal hemostasis
250
PPK Penyakit Dalam
Terapi : 1. Rehidrasi dengan cairan kristaloid atau koloid
2. PPI injeksi 2 kali satu vial atau sampai perdarahan
berhenti dilanjutkan peroral 2 kali 1 selama 4
minggu atau keluhan hilang
3. Bila penyebabnya karena sirosis hepatis PPI bisa
diganti dengan Antagonis H2 reseptor (Cimetidin 3
kali 1amp atau ranitidin 2 kali 1 ampul).
4. Pemberian prokinetik (ondansentron atau
metokloperamide atau domperidom bila ada mual
dan atau muntah
5. Antasida 3 kali 1 sendok makan
6. Bila penyebabnya karena gastritis erosifa atau
ulkus peptikum diberikan Mukoprotektor (sulkralfat 3
kali satu sendok makan)
7. Terapi bedah : bila terjadi ruptur gaster (konsul
bedah)
Edukasi Hindari minum obat NSAID, jamu pegal linu dan alcohol
Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Komplikasi IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis 1. Penatalaksanaan kasus Hematemesis dilakukan
rawat inap sampai Hematemesis berhenti selama
sekitar 5 hari
2. Vital sign stabil, Hb diatas 9mg/dl untuk penyebab
sirosis hepatis dan Hb diatas 10 mg/dl untuk
penyebab non sirosis
Target : 80% pasien dapat tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Hematemesis melena; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.305-306.
2. Kusumobroto, H.O., Oesman, N., Adi, P., dkk. (2008)
Dispepsia; Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.122-123
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
MELENA (ICD 10:K92.1)
Definisi : Melena yaitu buang air besar berwarna hitam konsistensi
lembek yang berasal dari saluaran cerna bagian atas
proksimal ligamentum Treit, mulai dari jejunum proksimal,
duodenum, gaster dan esophagus.
Anamnesis : BAB darah warna hitam konsistensi lunak
Riwayat minum obat NSAID, jamu pegal linu, alcohol
Riwayat sakit kuning hepatitis.
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Anemia, Ikterik, Spider naevi, Ascites, Vena kolateral,
Hepatosplenomegali, eritema palmaris, oedem tungkai
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Melena (ICD 10:K92.1)
Diagnosis banding : Hemoptisis (ICD 10:R04.2)
Pemeriksaan penunjang : 1. Darah Lengkap (ICD 9CM:90.59)
2. SGOT, SGPT, Bil Total, Bil Direck, Hbs ag, Anti
HCV
3. Esofago-gastro-deudonoskopi= EGD (Rujuk)
4. USG Abdomen
5. Faal hemostasis
Terapi : 1. Rehidrasi dengan cairan kristaloid atau koloid
2. PPI injeksi 2 kali satu vial atau sampai perdarahan
250
PPK Penyakit Dalam
berhenti dilanjutkan peroral 2 kali 1 selama 4 minggu
atau keluhan hilang
3. Bila penyebabnya karena sirosis hepatis PPI bisa
diganti dengan Antagonis H2 reseptor (Cimetidin 3 kali
1amp atau ranitidin 2 kali 1 ampul).
4. Pemberian prokinetik (ondansentron atau
metokloperamide atau domperidom bila ada mual dan
atau muntah
5. Antasida 3 kali 1 sendok makan
6. Bila penyebabnya karena gastritis erosifa atau ulkus
peptikum diberikan Mukoprotektor (sulkralfat 3 kali
satu sendok makan)
7. Terapi bedah : bila terjadi ruptur gaster (konsul bedah)
Edukasi Hindari minum obat NSAID, jamu pegal linu dan alcohol
Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Komplikasi IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis 1. Penatalaksanaan kasus Melena dilakukan rawat
inap sampai Melena berhenti selama sekitar 5 hari
2. Vital sign stabil, Hb diatas 9mg/dl untuk penyebab
sirosis hepatis dan Hb diatas 10 mg/dl untuk
penyebab non sirosis
Target : 80% pasien dapat tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Hematemesis melena; Panduan
Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.305-306.
2. Kusumobroto, H.O., Oesman, N., Adi, P., dkk.
(2008) Dispepsia; Pedoman Diagnosis dan
Terapi Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo,
Surabaya, h.122-123
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PANKREATITIS AKUT (ICD 10:K.85)
Definisi : Pankreatitis akut yaitu reaksi peradangan pancreas yang
akut
Anamnesis : Nyeri perut hebat, timbul mendadak di daerah
epigastrium,kuadran kiri atas dan periumbilkal
Nyeri menjalar ke punggung disertai mual dan muntah
Rasa nyeri menetap sampai beberapa hari bahkan sampai
satu minggu
Nyeri berkurang bila duduk agak membungkuk
Pemeriksaan fisik : 1. Tensi, nadi, suhu, respirasi
2. Tampak gelisah, demam, takikardi. Takipneu, hipertensi
atau hipotensi sampai syok
3. Kadang terjadi distensi perut sebagai akibat ileus,
psudokista atau phlegmon.
4. Pankreatisis hemorragik dapat timbul ekimosis yang
terlihat berwarna biru keunguan di daerah pinggang
(gret turner sign) dan sekitar umbilikus (cullen sign)
5. Kadang ditemukan efusi pleura (terutama kiri)
pneumonitis, atalektasis, ARDS, dan nekrosis
perlemakan subkutan menyerupai eritema nodusum
6. Dapat terjadi tetani karena hipokalsemia
Kriteria diagnosis : 1 sesuai kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Pankreatitis akut (ICD 10:K.85)
Diagnosis banding : 1. Ulkus peptikum (ICD 10:K27.9)
2. Kolesistitis akut (ICD 10:K81.9)
3. Kolelitiasis (ICD 10:K80.2)
250
PPK Penyakit Dalam
Pemeriksaan penunjang : 1. Darah Lengkap (ICD 9CM:90.59)
2. Amilase serum dan Lipase serum (rujuk)
3. SGOT, SGPT, Bil Total, Bil Direck
4. GDA, kalsium, ALP
5. BOF/BNO
6. Foto thorak
7. USG Abdomen
8. CT scan (rujuk)
Terapi : 1. Puasa
2. Infus untuk nutrisi parenteral sampai amilase dan
lipase mendekati normal, produksi NGT kurang
dari 300 cc dan nyeri berkurang
3. Analgesik dan sedatif.
4. Antibiotik bila infeksi
5. Penghambat sekresi asam pankreas
6. Pada infeksi berat dilakukan tindakan
pembedahan untuk drainase cairan (konsul
bedah)
Edukasi 1. Puasa
2. Istirahat dengan posisi duduk agak membungkuk
Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan Pankreatitis akut dilakukan rawat inap
sampai nyeri hilang atau amilase serum mendekati normal
atau produksi NGT kurang dari 300cc
Target : 80% pasien dapat tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009)Pankreatitis akut; Panduan Pelayanan
Medis PAPDI, Jakarta, h.309-310.
2. Kusumobroto, H.O., Oesman, N., Adi, P., dkk.
(2008) Pankreatitis akut; Pedoman Diagnosis
dan Terapi Penyakit Dalam RSUD dr.
Soetomo, Surabaya, h.135-136
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
DIARE KRONIK (ICD 10:K52.9)
Definisi : Diare yang berlangsung lebih dari 15 hari sejak awal diare
Anamnesis : Diare lebih dari 15 hari
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Kriteria diagnosis : Diare dengan lama lebih dari 15 hari
Diagnosis kerja : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis banding : Pancreastitis akut (ICD 10:K85)
Carsinoma Kolon (ICD 10:C26.0)
Tirotoksitosis ( ICD 10:E05)
Sindrom kolon iritabel tipe diare (ICD 10:K58.0)
Pemeriksaan penunjang : Feses lengkap (ICD 9CM:90.99)
Darah lengkap (ICD 9CM:90.59)
Kadar ferritin (ICD 9CM:
Albumin serum (ICD 9CM:
Darah samar (ICD 9CM:
BNO (ICD 9CM:88.76)
Barium enema (ICD 9CM:87.61)
Kolonoskopi (dirujuk) (ICD 9CM:45.23)
USG abdomen (ICD 9CM:88.76)
CTScan abdomen (dirujuk) (ICD 9CM:87.03)
Terapi : Non farmakologis :
Diet lunak tidak merangsang, tinggi kalori, tinggi
protein,
250
PPK Penyakit Dalam
Bila tidak tahan laktosa diberikan rendah laktosa
Bila maldigesti lemak diberikan rendah lemak.
Bila penyakit Crohn dan kolitis ulserosa diberikan
rendah serat pada keadaan akut.
Farmakologis :
- Bila sesak napas dapat diberikan oksigen,
- Infus untuk memberikan cairan dan elektrolit
- Antibiotik bila terdapat infeksi
- Bila penyebab amuba/parasite/giardia dapat
diberikan metronidazole 3 kali 500 mg
- Bila alergi makanan/obat/susu, diobati dengan
menghentikan makanan/obat penyebab alergi
tersebut
- Keganasan/polip diobati dengan pengangkatan
kanker/polip
- TB usus diobati dengan OAT
- Diare karena kelainan endokrin, diobati dengan
kelainan endokrinnya
- Malabsori diatasi dengan pemberian enzim
- Kolitis diatasi sesuai jenis kolitis
Edukasi Diet lunak tidak merangsang, tinggi kalori, tinggi protein,
Bila tidak tahan laktosa diberikan rendah laktosa
Bila maldigesti lemak diberikan rendah lemak.
Bila penyakit Crohn dan kolitis ulserosa diberikan rendah
serat pada keadaan akut.
Prognosis Dubia ad bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan Diare Kronik dilakukan rawat inap
sampai Diare berkurang
Target : 60% pasien dapat tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009)Diare Kronis; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.307-308.
2. Kusumobroto, H.O., Oesman, N., Adi, P., dkk. (2008)
Kolitis; Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.141-158
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
ILEUS PARALITIK (ICD 10:K56.0)
Definisi : Ileus paralitik adalah keadaan abdomen akut berupa
kembung/distensi usus karena usus tidak dapat bergerak
(mengalami dismotilitas), pasien tidak dapat buang air
besar.
Anamnesis : Perut kembung (distensi), bising usus menurun dan
menghilang
Muntah, bisa disertai diare, tak bisa buang air besar
Dapat disertai demam
Adanya penyakit yang meningkatkan risiko : batu empedu,
trauma, tindakan bedah di abdomen, DM, hypokalemia,
obat spasmolitik, pankreastitis akut dan pneumonia.
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Keadaan umum pasien sakit ringan sampai berat
Bisa disertai penurunan kesadaran.
Dapat disertai demam, tanda dehidrasi, syok.
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan distensi, bising
usus yang menurun sampai hilang.
Pada colok dubur : rectum tidak kolaps, tidak ada kontraksi
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Ileus paralitik (ICD 10:
Diagnosis banding : Ileus obstruktif (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
Gula darah, (ICD 9CM:
Elektrolit (ICD 9CM:
Analisis gas darah. (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
Foto abdomen 3 posisi (ICD 9CM:
Terapi : - Puasa dan nutrisi parental total sampai bising usus
positif atau dapat buang angin melalui dubur
- Pasang selang lambung dan dekompresi
- Pasang kateter urin
- Infus cairan, rata-rata 2,5-3 liter/hari disertai elektrolit
- Natrium dan kalium sesuai kebutuhan / 24 jam
- Nutrisi parental yang adekuat sesuai kebutuhan kalori
basal ditambah kebutuhan lain
- Terapi etiologi
Edukasi - Puasa dan nutrisi parental total sampai bising usus
positif atau dapat buang angin melalui dubur
Prognosis Dubia ad bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan Ileus Paralitik dilakukan rawat inap sampai
bising usus positif atau dapat buang angin melalui dubur
Target : 60% pasien dapat tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)Ileus
Paralitik; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.311-312.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
HEMATOSKEZIA
Definisi : Hematoskezia adalah buang air besar berupa darah segar
berwarna merah yang berasal dari saluran cerna bagian
bawah
Anamnesis : Buang air besar berupa darah merah segar sampai merah
tua
Demam bila penyebabnya infeksi usus
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Nyeri perut di atas umbilikus seperti kejang/kolik, atau
perut kanan bawah yang hilang timbul dapat akut atau
kronik, dapat ditemukan massa
Dapat disertai diare sampai dehidrasi, dapat terjadi syok
hipovolemik
Bising usus menurun atau menghilang
Berat badan dapat menurun
Ada riwayat kontak pasien lain, memakan makan yang
tidak biasanya, mendapat terapi antibiotik, penyakit
kardiovaskular, dapat disertai gejala ekstraintestinal seperti
kelainan kulit, sendi dan adang mata.
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Hematoskezia (ICD 10:
Diagnosis banding : Melena (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
Elektrolit (ICD 9CM:
Feses rutin (ICD 9CM:
Kolonoskopi (dirujuk) (ICD 9CM:
Foto abdomen 3 posisi(ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
Colon in loop (ICD 9CM:
USG abdomen (ICD 9CM:
CT Scan abdomen (dirujuk) (ICD 9CM:
Foto thorak (ICD 9CM:
Terapi : puasa, perbaikan hemodinamik. Jika hemodinamik stabil
dapat diberikan nutrisi enteral
Infus cairan kristaloid
Tranfusi darah PRC/WB sampai dengan Hb 10 gr%
Pengobatan infeksi sesuai penyebab
Bila ada kelainan hemostasis diobati sesuai penyebabnya
Edukasi puasa, perbaikan hemodinamik. Jika hemodinamik stabil
dapat diberikan nutrisi enteral
Prognosis Dubia ad bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan Hematoskezia dilakukan rawat inap
sampai berhenti dan Hb 10 g/dl
Target : 80% pasien dapat tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009)Hematoskezia; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.313-314.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
SIROSIS HATI (ICD 10:
Definisi : Penyakit hati fase lanjut dimana seluruh kerangka hati
menjadi rusak disertai dengan adanya nekrosis dan
pembentukan jaringan ikat disertai nodul
Anamnesis : Penurunan nafsu makan, mual, kembung, sebah,
kelemahan, malaise dan kekuningan.
Pemeriksaan fisik : Tensi, nadi, suhu, respirasi
Kegagalan parenkim hati:
- Produksi protein rendah
- Gangguan mekanisme pembekuan darah
- Gangguan keseimbangan hormonal (eritema palmaris,
spider nevi, ginekomastia, atrofi testis, gangguan siklus
haid).
- Ikterik
- Prekoma sampai dengan koma
Hipertensi portal:
- Splenomegali
- Asites
- Vena kolateral
- Caput Medusa
- Varises esofagus
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Sirosis hati (ICD 10:
Diagnosis banding : Hepatitis kronik aktif (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Bilirubin total (ICD 9CM:
Bilirubin direc (ICD 9CM:
Albumin (ICD 9CM:
Globulin (ICD 9CM:
PT (ICD 9CM:
HbsAg (ICD 9CM:
HbeAg (ICD 9CM:
Anti HCV (ICD 9CM:
USG abdomen (ICD 9CM:
Biopsy hati (dirujuk) (ICD 9CM:
Esofago-gastro-duodenoskopi (EGD) (ICD 9CM:
Analisis cairan asites (ICD 9CM:
Terapi : Istirahat cukup (mengurangi aktivitas fisik)
Diet kaya serat dan kaya protein (kecuali bila ada
penyulit ensefalopati hepatik)
Tidak minum alkohol
Menghindari obat-obatan dan bahan hepatotoksis
Roboransia
Mengatasi perdarahan sesuai dengan PPK
hematemesis dan atau melena.
Bila ada edema dan asites:
- Diet tinggi kalori dan protein, rendah garam (300-
500mg/hari)
- Pembatasan cairan terutama bila ada hipernatremia
- Furosemid dosis awal 40 mg/hari 320 mg (evaluasi
kalium)
- Spironolaktone 25 mg 400 mg
- Albumin (bila terapi konvensional tidak memberikan
hasil)
- Parasintesis (bila asites permagna)
Transfusi PRC bila terdapat perdarahan aktif
Edukasi Istirahat cukup (mengurangi aktivitas fisik)
Diet kaya serat dan kaya protein (kecuali bila ada
penyulit ensefalopati hepatik)
Tidak minum alkohol
Menghindari obat-obatan dan bahan hepatotoksis
Bila ada asites dan edema tungkai diet rendah garam
(300-500mg/hari) dan pembatasan cairan terutama bila
ada hipernatremia
Prognosis Dubia ad malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
250
PPK Penyakit Dalam
Indikator medis Penatalaksanaan Sirosis hepatis dilakukan rawat inap
sampai asites berkurang, perdarahan berhenti, Hb
terkoreksi (> 9 g/dl), ensefalopati membaik.
Target : 60% pasien dapat tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Sirosis Hati; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.317.
2. Setiawan, P.B., Nusi, I.A., dkk. (2008) Sirosis Hati;
Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam RSUD
dr. Soetomo, Surabaya, h.211-214
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
HEPATOMA (ICD 10:
Definisi : Tumor ganas hati primer
Anamnesis : Penurunan berat badan, nyeri perut kanan atas, anoreksia,
malaise, benjolan perut kanan atas, rasa penuh setelah
makan kadang disertai mual atau muntah.
Pemeriksaan fisik : Hepatomegaly berbenjol-benjol, ikterus, asites,
splenomegali, spider nevi, eritema palmaris, edema.
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Hepatoma (ICD 10:
Diagnosis banding : Abses hati (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Bilirubin total (ICD 9CM:
Bilirubin direc (ICD 9CM:
Albumin (ICD 9CM:
Globulin (ICD 9CM:
PT (ICD 9CM:
HbsAg (ICD 9CM:
HbeAg (ICD 9CM:
Anti HCV (ICD 9CM:
AFP (ICD 9CM:
USG abdomen (ICD 9CM:
Biopsy hati (dirujuk) (ICD 9CM:
Esofago-gastro-duodenoskopi (EGD) (ICD 9CM:
Analisis cairan asites (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
CT scan (ICD 9CM:
Terapi : Diet tinggi kalori tinggi protein (kecuali encefalopati
hepatikum tanpa protein)
Parasetamol 3-6 kali 500mg
Kodein 3-6 kali 10mg
Pembedahan/reseksi tumor (bila tumor mengenai 1 lobus,
ukuran <3 cm) (dirujuk)
Injeksi etanol perkutan dengan tuntunan USG (bila tumor <
3 buah, ukuran < 3 cm, tumor yang residif pasca reseksi
hati, tumor residual pasca embolisasi) (dirujuk)
Edukasi : Diet tinggi kalori tinggi protein (kecuali encefalopati
hepatikum tanpa protein)
Bila nyeri diberikan parasetamol 500mg dan kodein 10mg
Prognosis Malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan hepatoma dilakukan rawat inap sampai
nyeri perut berkurang, perdarahan berhenti, Hb terkoreksi
(> 9 g/dl), ensefalopati membaik.
Target : 60% pasien dapat tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Hepatoma; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.318.
2. Setiawan, P.B., Nusi, I.A., dkk. (2008) Hepatoma;
Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam RSUD
dr. Soetomo, Surabaya, h.208-210
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
HEPATITIS VIRUS AKUT (ICD 10:
Definisi : Infeksi hati akibat infeksi virus hepatitis yang berlangsung
selama <6 bulan yang disebabkan oleh virus hepatitis A,
hepatitis B, virus non A sampai non B, virus delta, virus
Epstein Barr, virus sitomegalo.
Anamnesis : Terdapat 4 tahap :
Masa inkubasi tergantung dari jenis virus.
Masa prodromal/ preikterik 3-10hari: rasa lesu/lemah
badan, panas, mual sampai muntah, anoreksia, perut
kanan nyeri.
Masa ikterik: kencing berwarna coklat, sklera kuning,
seluruh badan kuning, puncaknya dalam 1-2minggu
pembesaran hati.
Masa penyembuhan: kuning, mual, nafsu makan menurun,
lemah badan berangsur hilang dalam 2-6minggu.
Pemeriksaan fisik : Ikterik, hepatomegali
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Hepatitis Virus Akut (ICD 10:
Diagnosis banding : Hepatitis akibat obat (ICD 10:
Hepatitis alkoholik (ICD 10:
Penyakit saluran empedu (ICD 10:
Leptospirosis (ICD 10:
Toksoplasmosis (ICD 10:
Hepatitis iskemik (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Bilirubin total (ICD 9CM:
Bilirubin direc (ICD 9CM:
HbsAg (ICD 9CM:
Ig M anti HBc (ICD 9CM:
Ig M anti HAV (ICD 9CM:
Ig M anti HCV (ICD 9 CM:
Ig M anti HEV (ICD 9 CM:
USG abdomen (ICD 9CM:
Terapi : Tirah baring pada masa masih banyak keluhan
Mobilisasi berangsur jika keluhan berkurang
Diet tinggi kalori tinggi protein
Infus dekstrosa 1500 kalori/hari
Bila mual, muntah diberikan prokinetik (ondansetron 3 kali
1 ampul)
Bila panas diberikan antipiretik (ibuprofen 2 kali 200-
400mg)
Roboransia
Prognosis Bonam
Edukasi Tirah baring pada masa masih banyak keluhan
Mobilisasi berangsur jika keluhan berkurang
Diet tinggi kalori tinggi protein
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan hepatitis virus akut dilakukan rawat inap
sampai rasa lesu/lemah badan, panas, mual sampai
muntah, anoreksia, perut kanan nyeri berkurang
SGOT, SGPT <5x dari kadar tertinggi
Bilirubin total kurang dari 3mg/dl
Target : 80% pasien dapat tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
hepatitis virus akut; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.319.
2. Setiawan, P.B., Nusi, I.A., dkk. (2008) Hepatitis virus
akut; Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam
RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.194-198
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
HEPATITIS VIRUS KRONIK (ICD 10:
Definisi : Sindrom klinis dan patologis yang disebabkan oleh
bermacam-macam etiologi ditandai oleh berbagai tingkat
peradangan dan nekrosis pada hati yang berlangsung lebih
dari 6 bulan
Anamnesis : Umumnya keluhan ringan: lemah, lekas capai, sebah, rasa
tak enak di daerah ulu hati.
Pemeriksaan fisik : Tensi, Nadi, Suhu, Respirasi
Didapatkan hepatomegali (sering hanya teraba tepi)
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Hepatitis Virus Kronik (ICD 10:
Diagnosis banding : Perlemakan hati (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Bilirubin total (ICD 9CM:
Bilirubin direc (ICD 9CM:
HbsAg (ICD 9CM:
HbeAg (ICD 9CM:
HBV-DNA (ICD 9CM:
Ig M anti HBc (ICD 9CM:
Anti HCV (ICD 9CM:
USG abdomen (ICD 9CM:
Biopsi hati (ICD 9CM:
Terapi : Istirahat cukup
250
PPK Penyakit Dalam
Infus Kristaloid 1500cc/hari
Curcuma 3x1
Diet khusus tidak diperlukan
hepatitis B kronik : lamivudin (dirujuk)
hepatitis C kronik : interferon + ribavirin (dirujuk)
Prognosis Malam
Edukasi Tirah baring
Mobilisasi berangsur jika keluhan berkurang
Diet tinggi kalori tinggi protein
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan hepatitis virus kronis dilakukan rawat
inap sampai rasa lesu/lemah badan, anoreksia berkurang
Target : 60% pasien dapat tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
hepatitis virus kronis; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.320.
2. Setiawan, P.B., Nusi, I.A., dkk. (2008) Hepatitis virus
kronis; Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam
RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.199-207.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
KOLESISTITIS AKUT (ICD 10:
Definisi : Reaksi inflamasi kandung empedu akibat infeksi bakterial
akut yang disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri
tekan, demam.
Anamnesis : Nyeri epigastrium atau perut kanan atas yang dapat
menjalar ke skapula kanan, demam.
Pemeriksaan fisik : - Teraba massa kandung empedu.
- Nyeri tekan disertai tanda-tanda peritonitis lokal
- Tanda Murphy (+)
- Ikterik
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Kolesistitis Akut (CM 10:
Diagnosis banding : - Angina pektoris (CM 10:
- IMA (CM 10:
- Appendisitis akut retrosaekal (CM 10:
- Tukak peptik perforasi (CM 10:
- Pankreatitis akut (CM 10:
- Obstruksi intestinal (CM 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Bilirubin total (ICD 9CM:
Bilirubin direct (ICD 9CM:
USG abdomen (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
Biopsi hati (ICD 9CM:
Terapi : tirah baring
puasa sampai nyeri berkurang/hilang
pengobatan suportif (antipiretik, analgetik, pemberian
cairan infus dan mengoreksi kelainan elektrolit)
antibiotik parenteral
kolesistektomi bila diperlukan
Prognosis Bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan kolesistitis akut dilakukan rawat inap
sampai nyeri perut kanan atas berkurang, demam
menghilang, leukosit normal.
Target : 80% pasien dapat tertangani.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
kolesistitis akut; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.323-324.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PERLEMAKAN HEPATITIS NON ALKOHOLIK (ICD 10:
Definisi : Sindrom klinis dan patologis akibat perlemakan hati,
ditandai oleh berbagai tingkat perlemakan, peradangan
dan fibrosis pada hati.
Anamnesis : Rasa mengganjal di perut kanan atas
Pemeriksaan fisik : Kelebihan berat badan
Hepatomegali
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Perlemakan Hepatitis Non Alkoholik (CM 10:
Diagnosis banding : Hepatitis virus kronik (CM 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
Gula darah (ICD 9CM:
Profil lipid (ICD 9CM:
Gamma GT (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Bilirubin total (ICD 9CM:
Bilirubin direc (ICD 9CM:
Alkali fosfatase (ICD 9CM:
HbsAg (ICD 9CM:
HbeAg (ICD 9CM:
HBV-DNA (ICD 9CM:
Ig M anti HBc (ICD 9CM:
Anti HCV (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
USG abdomen (ICD 9CM:
Biopsi hati (ICD 9CM:
Terapi : - Mengoreksi faktor risiko ( BB, kontrol gula darah,
memperbaiki profil lipid dan olahraga)
- Infus kristaloid 1500cc/hari
- Curcuma 3x1
Edukasi Tirah baring
Mobilisasi berangsur jika keluhan berkurang
Prognosis Bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan perlemakan hepatitis non alkoholik
dilakukan rawat inap sampai nyeri perut kanan atas
berkurang, hepatomegali berkurang.
Target : 60% pasien dapat tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
perlemakan hepatitis non alkoholik; Panduan Pelayanan
Medis PAPDI, Jakarta, h.325.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
ABSES HATI (ICD 10:
Definisi : Rongga patologis berisi jaringan nekrotik yang timbul
dalam jaringan hati akibat infeksi amoeba atau bakteri.
Anamnesis : Demam, nyeri perut kanan atas.
Pemeriksaan fisik : - Hepatomegali yang nyeri tekan
- Ikterus
- Nyeri perut kanan atas
- Aspirasi pus.
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Abses hati (ICD 10:
Diagnosis banding : Hepatoma (ICD 10:
Kolesistitis (ICD 10:
Tuberculosis hati (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Bilirubin total (ICD 9CM:
Bilirubin direc (ICD 9CM:
HbsAg (ICD 9CM:
HbeAg (ICD 9CM:
Anti HCV (ICD 9CM:
AFP (ICD 9CM:
USG abdomen (ICD 9CM:
Pungsi hati (ICD 9CM:
Terapi : Tirah baring
Diet tinggi kalori tinggi protein
Infus Kristaloid 1500cc/hari
Pada abses amoeba Metronidazol 4x500-750mg (selama
250
PPK Penyakit Dalam
5-10 hari)
Pada abses piogenik antibiotik spektrum luas atau sesuai
hasil kultur kuman
Pada abses campuran kombinasi metronidazol dan
antibiotik spektrum luas
Drainase abses (bila gagal dengan terapi konservatif atau
bila ukuran abses >5cm) (konsul bedah)
Analgesik / Antipiretik (bila nyeri atau demam)
Edukasi : Diet tinggi kalori tinggi protein
Prognosis Bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan abses hati dilakukan rawat inap sampai
nyeri perut berkurang dan ukuran abses mengecil
Target : 80% pasien dapat tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Abses
hati; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.321-
322.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
ENCEFALOPATI HEPATIK (ICD 10:
Definisi : Suatu sindrom neuro psikiatrik sekunder akibat:
1. penyakit hati akut (hepatitis fulminant akut, hepatitis
toksik, perlemakan hati pada kehamilan).
2. Penyakit hati menahun.
Anamnesis : Kelainan neurologi, kelainan mental yang terdiri dari 4
derajat
- Derajat 1 (euforia/kadang depresi, kebingungan
ringan, gangguan pembicaraan, gangguan irama tidur).
- Derajat 2 (lambat bereaksi, mengantuk, disorientasi,
amnesia, gangguan kepribadian, reflek hipoaktif, ataksia).
- Derajat 3 (tidur yang dalam, sangat pusing, reflek
hiperaktif, flaping tremor).
- Derajat 4 (tidak bereaksi pada gangguan apapun,
reflek okuler yang lemah, kekakuan otot, kejang
menyeluruh).
Pemeriksaan fisik : - Tensi, nadi, suhu, respirasi
- Kesadaran menurun
- Kegagalan parenkim hati
- Produksi protein rendah
- Gangguan mekanisme pembekuan darah
- Gangguan keseimbangan hormonal (eritema palmaris,
spider nevi, ginekomastia, atrofi testis, gangguan siklus
haid).
- Ikterik
- Anemia
- Hipertensi portal
- Splenomegali
- Asites
- Vena kolateral
- Caput Medusa
250
PPK Penyakit Dalam
- Varises esofagus
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Encefalopati hepatik (ICD 10:
Diagnosis banding : Koma hipoglikemik (ICD 10:
Koma hiperglikemik (ICD 10:
Stroke (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Bilirubin total (ICD 9CM:
Bilirubin direc (ICD 9CM:
Albumin (ICD 9CM:
Globulin (ICD 9CM:
PT (ICD 9CM:
HbsAg (ICD 9CM:
HbeAg (ICD 9CM:
Anti HCV (ICD 9CM:
USG abdomen (ICD 9CM:
Terapi : Akut:
[Link] faktor pencetus
Perdarahan (tranfusi darah)
Infeksi (beri antibiotik)
Alkohol (dihentikan)
Gangguan keseimbangan elektrolit (koreksi)
[Link] usus dari bahan-bahan yang mengandung
nitrogen (hentikan obat-obat yang mengandung nitrogen,
enema)
[Link] tanpa protein
[Link] usus dengan neomisin / kanamisin oral
[Link] diuretik / pemeriksaan serum elektrolit
[Link] keseimbangan kalori, cairan dan elektrolit
Kronik:
[Link] obat-obat yang mengandung nitrogen
[Link] rendah protein (50gram/hari)
[Link] 10-30ml 3kali sehari
Edukasi Akut:
[Link] faktor pencetus
Perdarahan (tranfusi darah)
Infeksi (beri antibiotik)
Alkohol (dihentikan)
Gangguan keseimbangan elektrolit (koreksi)
[Link] usus dari bahan-bahan yang mengandung
nitrogen (hentikan obat-obat yang mengandung nitrogen,
enema)
[Link] tanpa protein
Kronik:
[Link] obat-obat yang mengandung nitrogen
[Link] rendah protein (50gram/hari)
Prognosis Dubia ad malam
250
PPK Penyakit Dalam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penatalaksanaan Encefalopati hepatik dilakukan rawat
inap sampai kesadaran membaik.
Target : 50% pasien dapat tertangani.
Referensi Setiawan, P.B., Nusi, I.A., dkk. (2008) Encefalopati Hepatik;
Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam RSUD dr.
Soetomo, Surabaya, h.218-220.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PENYAKIT GINJAL KRONIK (ICD 10:N18.9)
Definisi : 1. Kerusakan ginjal selama 3 bulan, berupa kelainan
sruktur atau fungsi ginjal, dengan atau tanpa penurunan
laju filtrasi glomerulus (LFG), berdasarkan :
kelainan patologik, atau
petanda kerusakan ginjal, termasuk kelainan pada
komposisi darah/urin atau kelainan pada
pemeriksaan pencitraan
2. LFG <60 ml/menit/1,73 m2 yang terjadi selama 3
bulan, dengan atau tanpa kerusakan ginjal.
Anamnesis : Lemas, pucat
Mual, muntah
Sesak nafas, BAK berkurang
Pemeriksaan fisik : Tekanan darah meningkat, anemis, kulit kering, edema
tungkai atau palpebra, tanda bendungan paru
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. batasan & Stadium Penyakit Ginjal Kronik
Dengan
LFG Tanpa kerusakan ginjal
kerusakan ginjal
(ml/menit/
Dengan Tanpa
1,73 m2) Dengan HT Tanpa HT
HT HT
90 1 1 HT Normal
60-89 2 2 HT + LFG LFG
30-59 3 3 3 3
15-29 4 4 4 4
<15
(atau 5 5 5 5
dialisis)
250
PPK Penyakit Dalam
Diagnosis kerja : Penyakit ginjal kronik (ICD 10: N18.9)
Diagnosis banding : Gagal ginjal akut (ICD 10: N17.9)
Pemeriksaan penunjang : Darah Lengkap (ICD 9CM:
Urin Lengkap (ICD 9CM:
Ureum (ICD 9CM:
Kreatinin (ICD 9CM:
Asam urat serum (ICD 9CM:
CCT ukur (ICD 9CM:
Elektrolit (ICD 9CM:
Kolesterol total (ICD 9CM:
HDL (ICD 9CM:
LDL (ICD 9CM:
Trigliserida (ICD 9CM:
Gula darah (ICD 9CM:
Analisa Gas Darah (ICD 9CM:
SI (ICD 9CM:
TIBC (ICD 9CM:
Feritin serum (ICD 9CM:
Albumin (ICD 9CM:
Globulin (ICD 9CM:
Foto polos abdomen (ICD 9CM:
USG abdomen (ICD 9CM:
EKG (ICD 9CM:
Foto thoraks (ICD 9CM:
Ekokardiografi (ICD 9CM: (Rujuk)
HbsAg (ICD 9CM:
Anti HCV (ICD 9CM:
Anti HIV (ICD 9CM:
Terapi : Pengaturan asupan protein :
- pasien non-dialisis 0,6-0,75 gram/kgBB ideal/hari
sesuai dengan CCT dan toleransi pasien
- pasien HD 1-1,2 gram/kgBB ideal/hari
- pasien peritoneal dialisis 1,3 gram/kgBB/hari
Pengaturan asupan kalori : 35 kal/kgBB ideal/hari
Pengaturan asupan lemak : 30-40% dari kalori total
dan mengandung jumlah yang sama antara asam
lemak bebas jenuh dan tidak jenuh
Pengaturan asupan karbohidrat : 50-60% dari kalori
total
Garam : 2-3 gram/hari
Kalium : 40-70 mEq/kgBB/hari
Fosfor : 5-10 mg/kgBB/hari. pasien HD : 17 mg/hari
Kalsium ; 1400-1600 mg/hari
Besi : 10-18 mg/hari
Magnesium : 200-300 mg/hari
Asam folat pasien HD : 5 mg
Air : jumlah urin 24 jam + 500 ml (IWL)
pada pasien CAPD, air disesuaikan dengan jumlah
250
PPK Penyakit Dalam
dialisat yang keluar. Kenaikan BB diantara waktu HD
<5% BB kering
Kontrol Tekanan Darah
- penghambat ACE atau antagonis reseptor
Angiotensin II dievaluasi kreatinin dan kalium
serum, bila terdapat peningkatan kreatinin >35%
atau timbul hiperkalemi harus dihentikan
- penghambat kalsium
- diuretik
Pada pasien DM, kontrol gula darah dan hindari
pemakaian metformin dan sulfonilurea dengan masa
kerja panjang. target HbA1C untuk DM tipe 1 0,2 di
atas nilai normal tertinggi, untuk DM tipe 2 adalah 7%
Koreksi anemia dengan target Hb 9 g/dl
Kontrol hiperfosfatemi: kalsium karbonat atau kalsium
asetat
Kontrol osteodistrofi renal: kalsitrol
Koreksi asidosis metabolik dengan target HCO 3 20-22
mEq/l
Koreksi hiperkalemia
Kontrol dislipidemia dengan target LDL < 100 mg/dl,
dianjurkan golongan statin
Terapi ginjal pengganti
Edukasi - Memberikan penjelasan tentang penyakitnya kepada
pasien dan keluarganya
- Batasi minum
- Batasi garam
- Diet tanpa buah-buahan
- Minum obat teratur
- Bila HD harus taat sesuai dengan jadwal yang diberikan
- Hindari obat-obatan yang mengganggu fungsi ginjal
antara lain golongan NSAID dan aminoglikosida
- Pengaturan asupan protein :
- pasien non-dialisis 0,6-0,75 gram/kgBB ideal/hari
sesuai dengan CCT dan toleransi pasien
- pasien HD 1-1,2 gram/kgBB ideal/hari
- pasien peritoneal dialisis 1,3 gram/kgBB/hari
- Pengaturan asupan kalori : 35 kal/kgBB ideal/hari
- Pengaturan asupan lemak : 30-40% dari kalori total dan
mengandung jumlah yang sama antara asam lemak
bebas jenuh dan tidak jenuh
- Pengaturan asupan karbohidrat : 50-60% dari kalori total
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Penyakit ginjal kronik dilakukan rawat inap sampai
dengan keadaan membaik (tidak ada edema paru,
250
PPK Penyakit Dalam
hiperkalemia teratasi, asidosis metabolik teratasi, dan Hb >
9 g/dL)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi 5. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Penyakit Ginjal Kronik; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.157-159.
6. Suwanto,Yogiyantoro,N., Pranawa, dkk. (2008) Penyakit
Ginjal Kronik; Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.222-236.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
SINDROMA NEFROTIK (ICD 10:N04)
Definisi : Merupakan salah satu gambaran klinik penyakit glomerular
yang ditandai dengan proteinuria masif >3,5
2
gram/24jam/1,73 m , disertai hipoalbuminemia, edema
anasarka, hiperlipidemia, lipiduria, dan hiperkoagulabilitas.
Anamnesis : Bengkak seluruh tubuh, BAK keruh berbusa.
Pemeriksaan fisik : Edema anasarka, asites.
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. diagnosis :
- proteinuria (>3,5 gram/24jam/1,73 m2)
- hipoalbuminemia (<3,5 g/dl)
- edema anasarka
- hiperlipidemia (hiperkolesterolemia)
Diagnosis kerja : Sindroma nefrotik (ICD 10:N04)
Diagnosis banding : - Sirosis Hepatis (ICD 10:
- Penyakit ginjal kronik (ICD 10:
- Penyakit Jantung Kongestif (ICD 10:
- Malnutrisi (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah Lengkap (ICD 9CM:
Urin Lengkap (ICD 9CM:
Ureum (ICD 9CM:
Kreatinin (ICD 9CM:
Protein urin kuantitatif (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
Bilirubin total (ICD 9CM:
Bilirubin direct (ICD 9CM:
Elektrolit (ICD 9CM:
Kolesterol Total (ICD 9CM:
HDL (ICD 9CM:
LDL (ICD 9CM:
Trigliserida (ICD 9CM:
Gula darah (ICD 9CM:
Terapi : - istirahat
- restriksi protein dengan diet protein 0,8 g/kgBB
ideal/hari ditambah ekskresi protein dalam urin/24
jam. Bila fungsi ginjal menurun diet protein
disesuaikan hingga 0,6 g/kgBB ideal/hari ditambah
ekskresi protein urin/24 jam.
- diet rendah kolesterol <600 mg/hari
- berhenti merokok
- diet rendah garam, restriksi cairan pada edema
- pengobatan edema : diuretik loop
- pengobatan proteinuria dengan penghambat ACE
dan/atau antagonis reseptor angiotensin II
- pengobatan dislipidemia dengan golongan statin
- pengobatan HT dengan target TD < 125/75 mmHg.
penghambat ACE dan antagonis reseptor
Angiotensin II sebagai pilihan obat utama
- pengobatan kausal sesuai etiologi SN
Edukasi - istirahat
- restriksi protein dengan diet protein 0,8 g/kgBB
ideal/hari ditambah ekskresi protein dalam urin/24
jam. Bila fungsi ginjal menurun diet protein
disesuaikan hingga 0,6 g/kgBB ideal/hari ditambah
ekskresi protein urin/24 jam.
- diet rendah kolesterol <600 mg/hari
- berhenti merokok
- diet rendah garam, restriksi cairan pada edema
Prognosis Tergantung jenis kelainan glomerular
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Sindroma Nefrotik dilakukan rawat inap sampai
dengan keadaan membaik (edema berkurang)
Dirawat selama 7 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Sindroma Nefrotik; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.160-161.
2. Suwanto,Yogiyantoro,N., Pranawa, dkk. (2008) ;
Sindroma Glomerular. Pedoman Diagnosis dan Terapi
Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.237-
250.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PENYAKIT GLOMERULAR (ICD CM:N00)
Definisi : Penyakit ginjal berupa peradangan pada glomerulus, dapat
merupakan penyakit glomerulus primer atau sekunder
Penyakit glomerular primer :
1. kelainan minimal
2. glomerulosklerosis fokal segmental
3. glomerulonefritis (GN) difus :
a. GN membranosa (nefropati membranosa)
b. GN proliferatif : sedimen eritrosit (+), hematuria
(+) :
- GN proliferatif mesangial
- GN proliferatif endokapiler
- GN membranoproliferatif (mesangiokapiler)
- GN kresentik dan necrotizing
c. GN sclerosing
4. nefropati IgA
Penyakit glomerular sekunder :
1. nefropatik diabetik
2. nefritik lupus
3. GN pasca infeksi
4. GN terkait hepatitis
5. GN terkait HIV
Keterangan :
difus : lesi mencakup >80% glomerulus
fokal : lesi mencakup <80% glomerulus
segmental : lesi mencakup sebagian gelung
250
PPK Penyakit Dalam
glomerulus
global : lesi mencakup keseluruhan gelung
glomerulus
Anamnesis : Bengkak seluruh tubuh, BAK keruh berbusa.
Pemeriksaan fisik : Edema anasarka, asites.
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Manifestasi klinis penyakit glomerular dapat berupa:
- sindroma nefrotik
- hematuria persisten
- proteinuria persisten
- sindroma nefritik (HT, hematuria, azotemia)
- rapid progressive glomerulonephritis (RPGN)
Diagnosis kerja : Penyakit Glomerular (ICD CM:N00)
Diagnosis banding : - Sirosis Hepatis (ICD 10:
- Penyakit ginjal kronik (ICD 10:
- Penyakit Jantung Kongestif (ICD 10:
- Malnutrisi (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah Lengkap (ICD 9CM:
Urin Lengkap (ICD 9CM:
Ureum (ICD 9CM:
Kreatinin (ICD 9CM:
Protein urin kuantitatif (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Bilirubin total (ICD 9CM:
Bilirubin direct (ICD 9CM:
Elektrolit (ICD 9CM:
Kolesterol Total (ICD 9CM:
HDL (ICD 9CM:
LDL (ICD 9CM:
Trigliserida (ICD 9CM:
Gula darah (ICD 9CM:
Biopsi ginjal (ICD 9CM:
Terapi : Sesuai etiologi
2. kelainan minimal
Prednison 60 mg/m2 (maksimal 80 mg) selama 4-6
minggu
setelah 4-6 minggu dosis prednison 40 mg/m2 selang
sehari selama 4-6 minggu
relaps: dosis prednison kembali 60 mg/m2 setiap hari
sampai 3 hari bebas proteinuria, kemudian kembali
selang sehari dengan dosis 40 mg/m2 selama 4 minggu
sering relaps ( 2 kali ): prednison selang sehari
ditambah siklofosfamid 2 mg/kgBB atau klorambusil 0.15
mg/kgBB selama 8 minggu. bila gagal diberikan
siklosporin 5 mg/kgBB selama 6-12 bulan
bila tergantung steroid diberikan siklofosfamid 2
mg/kgBB selama 8-12 minggu. bila gagal diberikan
siklosporin 5 mg/kgBB selama 6-12 bulan.
250
PPK Penyakit Dalam
bila resisten terhadap steroid diberikan siklosporin 5
mg/kgBB selama 6-12 bulan
2. Glomerulo Nefritis fokal segmental
Prednison 60 mg/hari selama 6 bulan
- Bila resisten atau tergantung steroid diberikan
siklosporin 5 mg/kgBB selama 6 bulan
- Bila terjadi remisi, dosis siklosporin diturunkan 25%
tiap 2 bulan
- Bila gagal siklosporin dihentikan
2. Nefropati membranosa
- Metilprednisolon bolus IV 1 gram/hari selama 3 hari
- Kemudian diberikan steroid yang setara prednison 0,5
mg/kgBB/hari selama 1 bulan lalu diganti dengan
klorambusil 0,2 mg/kgBB/hari atau siklosfosfamid 2
mg/kgBB/hari selama 1 bulan
- prosedur kedua diulang kembali sampai seluruhnya dari
prosedur kedua sebanyak 3x.
2. Glomerulo Nefritis membranoproliferatif
- Steroid tidak terbukti efektif pada pasien dewasa
- Dianjurkan pemberian aspirin 325 mg/hari atau
dipiridamol 3x75-100 mg/hari atau kombinasi keduanya
selama 12 bulan. bila dalam 12 bulan tidak memberikan
respon, pengobatan dihentikan sama sekali
2. Nefropati IgA
- Bila proteinuria <1 gram hanya diobservasi
- Bila proteinuria 1-3 gram, dengan fungsi ginjal normal,
hanya observasi. Bila dengan gangguan fungsi ginjal,
diberikan minyak ikan
- Bila proteinuria >3 gram dengan CCT >70 ml/menit
diberikan steroid yang setara dengan prednison 1
mg/kgBB selama 2 bulan kemudian tappering off
perlahan sampai dengan 6 bulan. Bila CCT >70
ml/menit, hanya diberikan minyak ikan.
- Suplementasi kalsium selama terapi dengan steroid
Edukasi - istirahat
- restriksi protein dengan diet protein 0,8 g/kgBB
ideal/hari ditambah ekskresi protein dalam urin/24
jam. Bila fungsi ginjal menurun diet protein
disesuaikan hingga 0,6 g/kgBB ideal/hari ditambah
ekskresi protein urin/24 jam.
- diet rendah kolesterol <600 mg/hari
- berhenti merokok
- diet rendah garam, restriksi cairan pada edema
Prognosis tergantung jenis kelainan glomerular
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Penyakit Glomerular dilakukan rawat inap sampai
dengan keadaan membaik (edema berkurang)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z,
250
PPK Penyakit Dalam
dkk.(2009) Penyakit Glomerular; Panduan Pelayanan
Medis PAPDI, Jakarta, h.162-164.
2. Suwanto,Yogiyantoro,N., Pranawa, dkk.
(2008) ; Sindroma Glomerular. Pedoman Diagnosis dan
Terapi Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya,
h.237-250.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
GAGAL GINJAL AKUT (ICD CM:N17.9)
Definisi : Gagal ginjal akut (GGA) adalah sindrom yang ditandai oleh
penurunan laju filtrasi glomerulus yang mendadak dan
cepat (hitungan jam-minggu) yang mengakibatkan
terjadinya retensi produk sisa nitrogen seperti ureum dan
kreatinin.
Peningkatan kreatinin serum 0,5 mg/dl dari nilai
sebelumnya, penurunan CCT hitung sampai 50% atau
penurunan fungsi ginjal yang mengakibatkan kebutuhan
akan dialisis.
Anamnesis : Buang air kecil berkurang
Kekurangan cairan (akibat dehidrasi dan perdarahan)
Mual, muntah, tangan dan kaki dingin
Sesak nafas
Pemeriksaan fisik : Tekanan darah bisa menurun, akral dingin
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Terdapat kondisi yang dapat menyebabkan GGA :
- Pre-renal: akibat hipoperfusi (dehidrasi, perdarahan,
penurunan curah jantung dan hipotensi oleh sebab lain)
- Renal: akibat kerusakan akut parenkim ginjal (obat, zat
kimia/toksin, iskemi ginjal, penyakit glomerular)
- Post-renal: akibat obstruksi akut traktus urinarius (BSK,
BPH, keganasan ginekologis)
4. Fase anuria (produksi urin <100 mg/24jam), oliguria
(produksi urin <400ml/24jam), poliuria (produksi urin
250
PPK Penyakit Dalam
>3500 ml/24 jam)
Diagnosis kerja : Gagal ginjal akut (ICD CM:N17.9)
Diagnosis banding : Episode akut pada penyakit ginjal kronik (ICD CM:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
Ureum (ICD 9CM:
Kreatinin (ICD 9CM:
Urin lengkap (ICD 9CM:
Elektrolit (ICD 9CM:
Analisa gas darah (ICD 9CM:
Gula darah (ICD 9CM:
Terapi : 1. Asupan nutrisi
kalori 30 Kal/kgBB ideal/hari pada GGA tanpa
komplikasi, kebutuhan ditambah 15-20% pada GGA
berat
protein 0,6-0,8 gram/kgBB ideal/hari pada GGA tanpa
komplikasi 1-1,5 gram/kgBB ideal/hari pada GGA berat
perbandingan karbohidrat dan lemak 70 : 30
suplementasi asam amino tidak dianjurkan
2. Asupan cairan tergantung status hidrasi pasien, catat
cairan yang masuk dan keluar tiap hari, pengukuran
BB/hari dan pengukuran tekanan vena sentral bila ada
fasilitas
hipovolemia: rehidrasi sesuai kebutuhan
- bila akibat perdarahan diberikan transfusi PRC dan
cairan isotonik, hematokrit dipertahankan sekitar
30%
- bila akibat diare, muntah, atau asupan cairan yang
kurang diberikan cairan kristaloid
normovolemia: cairan seimbang
hipervolemia: restriksi cairan
fase anuria/oliguria: cairan seimbang; fase poliuria: 2/3
dari cairan yang keluar.
Dalam keadaan Insensible Water Loss (IWL) yang
normal, pasien membutuhkan 300-500 ml electrolyte
free water perhari sebagai bagian dari total cairan yang
diperlukan.
koreksi gangguan asam basa
koreksi gangguan elektrolit :
- asupan kalium dibatasi <50 mEq/hari
- hipokalsemia ringan dilakukan koreksi per oral 3-4
gram/hari dalam bentuk kalsium bikarbonat. bila
sampai timbul tetani diberikan kalsium glukonas
10% IV
- hiperfosfatemia diberikan obat pengikat fosfat
seperti aluminium hidroksida atau kalsium
karbonat yang diminum bersamaan dengan
makan.
furosemid bersamaan dengan dopamin dapat
250
PPK Penyakit Dalam
membantu pemeliharaan fase non-oligurik, tapi terapi
harus dihentikan bila tidak memberikan hasil yang
diinginkan
indikasi dialisis :
- oliguria, anuria
- hiperkalemia (K >6,5 mEq/l)
- asidosis berat (pH <7,1)
- azotemia (ureum >200 mg/dl)
- edema paru
- ensefalopati uremikum
- perikarditis uremikum
- neuropati/miopati uremikum
- disnatremia berat (Na>160 mEq/l atau <115 mEq/l)
- hipertermia
- kelebihan dosis obat yang dapat didialisis
Edukasi 1. Asupan nutrisi
kalori 30 Kal/kgBB ideal/hari pada GGA tanpa
komplikasi, kebutuhan ditambah 15-20% pada GGA
berat
protein 0,6-0,8 gram/kgBB ideal/hari pada GGA tanpa
komplikasi 1-1,5 gram/kgBB ideal/hari pada GGA berat
perbandingan karbohidrat dan lemak 70 : 30
suplementasi asam amino tidak dianjurkan
2. Asupan cairan tergantung status hidrasi pasien, catat
cairan yang masuk dan keluar tiap hari, pengukuran
BB/hari dan pengukuran tekanan vena sentral bila ada
fasilitas
Prognosis Dubia ad Bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Gagal Ginjal Akut dilakukan rawat inap sampai
dengan keadaan membaik (produksi urin normal, kadar
ureaum dan kreatinin normal, tidak ada gangguan
elektrolit)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Gagal
Ginjal Akut; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.165-167.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
HIPERTENSI (ICD CM:I10)
Definisi : Tekanan darah yang sama atau melebihi 140 mmHg sistolik
dan/atau sama atau melebihi 90mmHg diastolik pada
seseorang yang tidak sedang minum obat antihipertensi
Anamnesis : Sakit kepala
Berdebar-debar
Pemeriksaan fisik : Klasifikasi berdasarkan hasil rata-rata
pengukuran tekanan darah yang dilakukan minimal 2 kali
tiap kunjungan pada 2 kali kunjungan atau lebih dengan
menggunakan cuff yang meliputi minimal 80% lengan atas
pada pasien dengan posisi duduk dan telah beristirahat 5
menit
Tekanan sistolik : suara fase 1 dan tekanan
diastolik : suara fase 5
Pengukuran pertama harus pada kedua sisi
lengan untuk menghindarkan kelainan pada pembuluh
darah perifer
Pengukuran tekanan darah pada waktu berdiri
diindikasikan pada pasien dengan risiko hipotensi postural
(lanjut usia, pasien DM, dll)
Klasifikasi tekanan darah berdasarkan JNC VII :
- Normal : TD sistolik <120 dan TD diastolik <80
250
PPK Penyakit Dalam
- Pre-hipertensi : TD sistolik 120-139 atau TD diastolik
80-89
- Hipertensi st 1 : TD sistolik 140-159 atau TD diastolik
90-99
- Hipertensi st 2 : TD sistolik 160 atau TD diastolik
100
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Hipertensi (ICD CM:I10)
Diagnosis banding : Peningkatan tekanan darah akibat:
- white coat hypertension
- Rasa nyeri
- Peningkatan tekanan intraserebral
- Ensefalitis
- Akibat obat
Pemeriksaan : - Darah lengkap
penunjang - Urin lengkap
- Ureum
- Kreatinin
- Gula darah
- Elektrolit
- Kolesterol total
- HDL
- LDL
- Trigliserida
- Foto toraks
- EKG
- Asam urat
- USG ginjal
- Ekokardiografi
Terapi : - Pada penggunaan penghambat ACE atau antagonis
reseptor AII : evaluasi kreatinin dan kalium serum, bila
terdapat peningkatan kreatinin >35% atau timbul
hiperkalium harus dihentikan
- Obesitas dan sindrom metabolik (terdapat 3 atau lebih
keadaan berikut : lingkar pinggang laki-laki >102 cm atau
perempuan >89 cm, toleransi glukosa terganggu dengan
gula darah puasa 3 110 mg/dl, tekanan darah minimal
130/85 mmHg, trigliserida tinggi 3 150 mg/dl, kolesterol HDL
rendah <40 mg/dl pada laki-laki atau <50 mg/dl pada
perempuan) dilakukan modifikasi gaya hidup secara intensif
dengan pilihan terapi utama golongan penghambat ACE,
pilihan lain adalah antagonis reseptor AII, penghambat
kalsium dan penghambat
- Hipertrofi ventrikel kiri dilakukan tatalaksana tekanan
darah yang agresif termasuk penurunan berat badan,
retriksi asupan natrium, dan terapi dengan semua kelas
hipertensi kecuali vasodilator langsung, hidralazin dan
minoksidil
- Penyakit arteri perifer diberikan terapi semua kelas
250
PPK Penyakit Dalam
hipertensi, tatalaksana faktor risiko lain, dan pemberian
aspirin
- Usia lanjut termasuk penderita hipertensi sistolik
terisolasi diberikan diuretika (tiazid) sebagai lini pertama,
dimulai dengan dosis rendah 12,5 mg/hari, penggunaan
antihipertensi lain dengan mempertimbangkan penyakit
penyerta
- Pada kehamilan pilihan terapi adalah golongan
metildopa, penyekat reseptor , antagonis kalsium dan
vasodilator. Penghambat ACE dan antagonis reseptor AII
tidak boleh digunakan selama kehamilan.
Edukasi Diet rendah garam, olahraga yang teratur sesuai dengan
kemampuan.
Prognosis Bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Hipertensi dilakukan rawat inap bila terdapat
hipertensi emergensi (encefalopati hipertensi, hipertensi
dengan perdarahan) sampai tekanan darah <160/100 mmHg,
kondisi klinis membaik, dan penyakit penyerta membaik.
Dirawat selama 5 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi .1 Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Hipertensi; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.168-170.
2. Suwanto,Yogiyantoro,N., Pranawa, dkk. (2008);
Hipertensi. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.258-270.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
KRISIS HIPERTENSI (ICD CM:I10)
Definisi : Keadaan hipertensi yang memerlukan penurunan tekanan
darah segera karena akan mempengaruhi keadaan pasien
selanjutnya. Tingginya tekanan darah bervariasi, yang
penting adalah cepat naiknya tekanan darah. Dibagi menjadi
dua :
1. Hipertensi emergency : situasi dimana diperlukan
penurunan tekanan darah yang segera dengan obat
antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ
target akut atau progresif
2. Hipertensi urgency : situasi dimana terdapat
peningkatan tekanan darah yang bermakna tanpa adanya
gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif
dan tekanan darah perlu diturunkan dalam beberapa jam.
Penyebab hipertensi emergency :
Hipertensi maligna terakselerasi dan papiledema
- Kondisi serebrovaskular: ensefalopati hipertensi, infark
otak aterotrombotik dengan hipertensi berat, perdarahan
intraserebral, perdarahan subarhnoid dan trauma kepala
- Kondisi jantung: diseksi aorta akut, gagal jantung kiri
akut, infark miokard akut, pasca operasi bypass koroner
- Kondisi ginjal: GN akut, hipertensi renovaskular, krisis
250
PPK Penyakit Dalam
renal penyakit kolagen-vaskular, hipertensi berat pasca
transplantasi ginjal
- Akibat katekolamin disirkulasi: krisis feokromositoma,
interaksi makanan atau obat dengan MAO inhibitor,
penggunaan obat simpatomimetik, mekanisme re-bound
akibat penghentian mendadak obat antihipertensi,
hiperrefleksi otomatis pasca cedera korda spinalis
- Eklampsia
- Kondisi bedah: hipertensi berat pada pasien yang
memerlukan operasi segera, hipertensi pasca operasi,
perdarahan pasca operasi dari garis jahitan vaskular
- Luka bakar berat
- Epistaksis berat
- Thrombotic thrombocytopenic purpura
Anamnesis : - Riwayat hipertensi dan terapinya
- Kepatuhan minum obat pasien
- Tekanan darah rata-rata
- Riwayat pemakaian obat-obat simpatomimetik dan
steroid
- Kelainan hormonal
- Riwayat penyakit kronik lain
- Gejala-gejala serebral
- Jantung
- Gangguan penglihatan
Pemeriksaan fisik : - Tekanan darah pada kedua ekstremitas
- Perabaan denyut nadi perifer
- Bunyi jantung
- Bruit pada abdomen
- Adanya edema atau tanda penumpukan caira
- Funduskopi
- Status neurologis
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Krisis hipertensi (ICD CM:I10)
Diagnosis banding : Tidak ada
Pemeriksaan : - Darah lengkap
penunjang - Urin lengkap
- Ureum
- Kretainin
- Gula darah
- Elektrolit
- EKG
- Foto toraks
- Ekokardiografi
- USG abdomen
- Ct scan
- MRI
Terapi : - Target terapi hipertensi emergency sampai tekanan
darah diastolik kurang lebih 110 mmHg atau
berkurangnya mean arterial blood pressure 25% (pada
250
PPK Penyakit Dalam
stroke penurunannya hanya boleh 20%. Khusus pada
stroke iskemik, tekanan darah baru diturunkan secara
bertahap bila tekanan darah > 220/130 mmHg) dalam
waktu 2 jam. Setelah diyakinkan tidak ada tanda
hipoperfusi organ, penurunan dapat dilanjutkan dalam
12-16 jam selanjutnya sampai mendekati normal.
Penurunan tekanan darah pada hipertensi urgency
dilakukan secara bertahap dalam waktu 24 jam.
- Hipertensi urgency
Captopril 6,25-50 mg per oral atau sublingual.
Labetalol 100-200 mg per oral.
Furosemid 20-40mg peroral
- Hipertensi emergency
Diuretik
- Furosemid 20-40mg. Hanya diberikan bila terdapat
retensi cairan.
Vasodilator
- ISDN infus 5-40 mcg/ menit, dosis awal 5 mcg/menit
dapat ditingkatkan 5 mcg/menit tiap 3-5 menit.
- Diltiazem bolus IV 10 mg (0,25 mg/kgBB), dilanjutkan
infus 5-10mg/jam.
- Nitoprusid infus 0,25-10 mcg/kgBB/menit (maksimum
10 menit).
Edukasi Menjelaskan tentang penyakit kepada pasien dan/atau
keluarga
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Krisis Hipertensi dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (klinis membaik, penyakit penyerta
membaik, tekanan darah <160/100 mmHg)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi .1 Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Krisis Hipertensi; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.171-173.
2. Suwanto,Yogiyantoro,N., Pranawa, dkk. (2008);
Hipertensi. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.258-270.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
INFEKSI SALURAN KEMIH (ICD 10:N39.0)
Definisi : Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi akibat terbentuknya
koloni kuman di saluran kemih. Kuman mencapai saluran
kemih melalui cara hematogen dan asending.
ISK sederhana/ tak berkomplikasi : ISK yang terjadi pada
perempuan yang tidak hamil dan tidak terdapat disfungsi atau
struktural ginjal.
ISK berkomplikasi : ISK yang berlokasi selain di vesika
urinaria, ISK pada anak-anak, laki-laki dan ibu hamil.
Anamnesis : - ISK bawah : frekuensi sering, disuria terminal,
polaksiuria, nyeri suprapubik
- ISK atas : nyeri pinggang, demam, menggigil, mual,
muntah, hematuria
Pemeriksaan fisik : - Suhu tinggi, nyeri tekan suprapubik, nyeri ketok sudut
kostovertebra
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium: leukositosis, leukosituria, kultur urin (+),
bakteriuria >105/ml urin
Diagnosis kerja : Infeksi Saluran Kemih (ICD 10:N39.0)
Diagnosis banding : - Batu saluran kemih (ICD 10:N21.0)
- Tumor kandung kemih (ICD 10:
Pemeriksaan : - Darah lengkap (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
penunjang - Urin lengkap (ICD 9CM:
- Kultur urin (ICD 9CM:
- Tes resistensi kuman (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- Gula darah (ICD 9CM:
- Foto polos abdomen (ICD 9CM:
- IVP (ICD 9CM:
- USG abdomen (ICD 9CM:
Terapi : Nonfarmakologi
- Banyak minum bila fungsi ginjal masih baik
- Menjaga higiene genitalia eksterna
Farmakologi
- Antimikroba berdasarkan pola kuman yang ada ; Bila
hasil tes resistensi kuman sudah ada pemberian
antimikroba disesuaikan
Antimikroba pada ISK bawah tak berkomplikasi
- Trimetropin-sulfametoksazol 2x160/800 mg,
diberikan selama 3 hari
- Trimetropin 2x100 mg selama 3 hari
- Ciprofloksasin 2x500 mg selama 3 hari
- Levofloksasin 1x500 mg selama 3 hari
- Cefixim 200 mg/hari selama 3 hari
- Nitrofurantion makrokristal 4x50 mg selama 7 hari
- Nitrofurantion monohidrat makrokristal 2x100 mg
selama 7 hari
- Amoksisilin/klavulanat 2x500mg selama 7 hari
Obat parenteral pada ISK atas akut berkomplikasi
- Cefepim 1 gram, interval 12 jam
- Ciprofloksasin 400mg , interval 12 jam
- Levofloksasin 500mg, interval 24 jam
- Ofloksasin 400mg, interval 12 jam
- Gentamisin (+ ampisilin) 3-5 mg/kgBB interval 24
jam, 1 mg/kgBB interval 8 jam
- Ampisilin (+gentamisin) 1-2 gram interval 6 jam
- Tikarsin-klavulanat 3,2 gram interval 8 jam
- Piperasilin-tazobaktam 3,375 gram interval 2-8 jam
- Imipenem-silastatin 250-500 mg interval 6-8 jam
Edukasi - Banyak minum bila fungsi ginjal masih baik
- Menjaga higiene genitalia eksterna
Prognosis Bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Infeksi Saluran Kemih dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (keluhan tidak ada, pemeriksaan fisik
membaik, laboratorium membaik)
250
PPK Penyakit Dalam
Dirawat selama 5 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi .1 Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Infeksi Saluran Kemih; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.174-178.
2. Suwanto,Yogiyantoro,N., Pranawa, dkk. (2008); Infeksi
Saluran Kemih. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.251-257.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
BATU SALURAN KEMIH (ICD 10:N21.0)
Definisi : Batu ditraktus urinarius
Anamnesis : - Nyeri/kolik ginjal dan saluran kemih
- Pinggang pegel
- Gejala infeksi saluran kemih
- Hematuria
- Riwayat keluarga
Pemeriksaan fisik : - Nyeri ketok sudut kostovertebra
- Nyeri tekan perut bagian bawah
- Terdapat tanda balotemen
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium : hematuria, bayangan radio opak pada foto
BNO, filling defect pada IVP atau pielografi
antegrad/retrograd. Gambaran batu ginjal atau kandung
kemih serta hidronefrosis pada USG
Diagnosis kerja : Batu saluran kemih (ICD 10:N21.0)
Diagnosis banding : 1. Nefrokalsinosis (ICD 10:
2. Infeksi Saluran Kemih (ICD 10:N39.0)
3. Tumor pada saluran kemih (ICD 10:
Pemeriksaan : 1. Darah lengkap (ICD 9CM:
penunjang 2. Urin lengkap (ICD 9CM:
3. kultur urin (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
4. Tes resistensi kuman (ICD 9CM:
5. Ureum (ICD 9CM:
6. Kreatinin (ICD 9CM:
7. Elektrolit darah (kalsium, fosfor) (ICD 9CM:
8. Urin 24 jam (kalsium, sitrat, oksalat, asam urat) (ICD 9CM:
9. Asam urat darah (ICD 9CM:
10. Hormon paratiroid (ICD 9CM:
11. Foto BNO (ICD 9CM:
12. IVP (ICD 9CM:
13. USG abdomen (ICD 9CM:
14. Analisis batu (ICD 9CM:
Terapi : Nonfarmakologi
15. Batu kalsium : kurangi asupan garam dan protein hewani
16. Batu urat : diet rendah asam urat
17. Minum banyak (2,5 l/hari) bila fungsi ginjal masih baik
Farmakologi
18. Antispasmodik bila ada kolik
19. Antimikroba bila ada infeksi
20. Batu kalsium: kalium sitrat
21. Batu urat: alopurinol
Bedah (konsul)
22. Pielotomi
23. ESWL
24. nefrostomi
Edukasi 25. Batu kalsium : kurangi asupan garam dan protein hewani
26. Batu urat : diet rendah asam urat
27. Minum banyak (2,5 l/hari) bila fungsi ginjal masih baik
Prognosis Bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Batu Saluran Kemih dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (keluhan membaik, bila ada indikasi
pembedahan sudah dikonsulkan ke bedah untuk dilakukan
tindakan pembedahan)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi .1 Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Batu Saluran Kemih; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.179-180.
2. Suwanto,Yogiyantoro,N., Pranawa, dkk. (2008); Batu
Saluran Kemih. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.271-276.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
NEFRITIS LUPUS (ICD 10:
Definisi : Lupus eritematosus sistemik (LES) yang disertai keterlibatan
ginjal
Kelas 1
1. Histopatologi: glomeruli normal
2. Gejala klinis: hanya proteinuria, kelainan sedimen urin
tidak ada
Kelas II
1. Histopatologi: perubahan pada mesengial
2. Gejala klinis: kelas II a: Hanya proteinuria, kelainan
sedimen urin tidak ada. Kelas II b: hematuria mikroskopik
dan/atau proteinuria, tanpa hipertensi, tidak pernah terjadi
SN atau gangguan fungsi ginjal
Kelas III
1. Histopatologi: glomerulonefritis fokal segmental
2. Gejala klinis: hematuria dan proteinuria pada seluruh
pasien. HipertensiSN, dan penurunan fungsi ginjal pada
hampir seluruh pasien
Kelas IV
1. Histopatologi: glomerulonefritis difus
2. Gejala klinis: hematuria dan proteinuria pada seluruh
pasien. HipertensiSN, dan penurunan fungsi ginjal pada
hampir seluruh pasien
Kelas V
1. Histopatologi: glomerulonefritis membranosa difus
250
PPK Penyakit Dalam
2. Gejala klinis: SN pada seluruh pasien, sebagian dengan
hematuria atau hipertensi, namun fungsi ginjal masih
normal atau sedikit menurun
Kelas VI
1. Histopatologi: glomerulonefritis sklerotik lanjut
2. Gejala klinis: penurunan fungsi ginjal yang lambat dengan
kelainan urin yang relatif normal.
Anamnesis : - Bengkak seluruh tubuh
- Kencing berbusa
Pemeriksaan fisik : - Bisa didapatkan hipertensi
- Edema anasarka
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Memenuhi kriteria LES menurut ACR 1997
4. Diagnosis klinis ditegakkan bila pada pasien LES terdapat
proteinuria 1 gram/24 jam dengan/atau hematuria (>8
eritrodit/LPB) dengan atau penurunan fungsi ginjal sampai
30%
5. Biopsi ginjal harus dilakukan bila tidak ada kontraindikasi,
untuk menentukan pilihan pengobatan berdasarkan kelas
nefritis lupus
Diagnosis kerja : Nefritis lupus (ICD 10:
Diagnosis banding : Glomerulonefritis oleh sebab lain
Pemeriksaan : 1. Darah lengkap (ICD 9CM:
penunjang 2. Urin lengkap (ICD 9CM:
3. Protein urin kuantitatif 24 jam (ICD 9CM:
4. ureum (ICD 9CM:
5. kreatinin (ICD 9CM:
6. Biopsi ginjal (rujuk) (ICD 9CM:
7. Albumin serum (ICD 9CM:
8. Kholesterol total (ICD 9CM:
9. Komplemen C3 C4 (ICD 9CM:
10. Anti ds-DNA (ICD 9CM:
Terapi : Tujuan pengobatan untuk memperbaiki fungsi ginjal atau
setidaknya mempertahankan fungsi ginjal agar tidak
bertambah buruk
Penatalaksanaan Umum
1. Diet rendah garam bila terdapat hipertensi, rendah lemak
bila terdapat dislipidemia atau sindrom nefritik, rendah
protein sesuai derajat penyakit
2. Diuretik dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan
3. Tatalaksana hipertensi dengan baik
4. Pemeriksaan rutin periodik meliputi: sedimen urin, protein
urin kuantitatif 24 jam, tes fungsi ginjal, albumin serum,
komplemen C3 C4, Anti ds-DNA
5. Monitor efek samping steroid dan imunosupresan serta
komplikasi selama pengobatan. Suplementasi kalsium
untuk mengurangi efek osteoporosis karena steroid
6. Hindari pemberian salisilat dan obat anti-inflamasi
nonsteroid yang akan memperberat fungsi ginjal. Aspirin
250
PPK Penyakit Dalam
hanya diberikan selektif bila ada sindrom antifosfolipid
7. Hindari kehamilan bila nefritis lupus masih aktif
Edukasi Diet rendah garam bila terdapat hipertensi, rendah lemak bila
terdapat dislipidemia atau sindrom nefritik, rendah protein
sesuai derajat penyakit
Prognosis Tergantung kelas nefritis lupus:
- Kelas I dan II prognosis baik.
- Kelas III dan IV hampir seluruhnya akan menimbulkan
penurunan fungsi ginjal.
- Kelas V prognosis cukup baik
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Nefritis Lupus dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (keluhan membaik, edema berkurang, fungsi ginjal
tidak memburuk secara progresif)
Dirawat selama 7 hari
Target 60% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Nefritis
Lupus; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.181-
182.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
LIMFOMA NON HODGKIN (ICD 10:C85.9)
Definisi : Penyakit keganasan primer jaringan limfoid padat
Anamnesis : -Tumor pada kelenjar getah bening atau diluar kelenjar getah
bening (tulang intra abdomen, hidung, lambung, dsb)
- Gejala tergantung pada organ yang diserang
- Gejala sistemik adalah panas tanpa sebab yang jelas,
keringat malam banyak tanpa sebab yang sesuai,
penurunan berat badan (10% dalam satu bulan).
Pemeriksaan fisik : - Limfadenopati
- Hepatomegali
- Splenomegali
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan histopatologi tumor : sesuai dengan limfoma
non hodgkin (LNH)
Diagnosis kerja : Limfoma non hodgkin (ICD 10:C85.9)
Diagnosis banding : Limfoma hodgkin (ICD 10:
Limfadenitis (ICD 10:
Tuberkulosis (ICD 10:
Toksoplasmosis (ICD 10:
Filariasis (ICD 10:
Pemeriksaan : 1. Darah lengkap (ICD 9CM:
penunjang 2. Gula darah (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
3. SGOT (ICD 9CM:
4. SGPT (ICD 9CM:
5. Bilirubin total (ICD 9CM:
6. Bilirubin direk (ICD 9CM:
7. Ureum (ICD 9CM:
8. Kreatinin (ICD 9CM:
9. Foto thorax (ICD 9CM:
10. Esofagogastrodeodenoskopi (ICD 9CM: (rujuk)
11. Pemeriksaan THT (ICD 9CM: (konsul THT)
12. USG abdomen (ICD 9CM:
13. CT Scan (ICD 9CM: (rujuk)
14. Bone scan (ICD 9CM:
15. Foto bone survey (ICD 9CM:
16. Pemeriksaan sitologi kelenjar/ massa tumor (ICD 9CM:
17. Biopsi sumsum tulang (ICD 9CM: (rujuk)
Terapi : Derajat keganasan rendah
1. Kemoterapi obat tunggal atau ganda, peroral
2. Radioterapi paliatif
Derajat keganasan menengah
1. Stadium I s.d. IIa : radioterapi atau kemoterapi
parenteral kombinasi
2. Stadium IIb s.d. IV : kemoterapi parenteral kombinasi,
radioterapi berperan untuk tujuan paliatif
Derajat keganasan tinggi
1. Selalu kemoterapi parenteral kombinasi (lebih agresif)
2. Raditerapi hanya berperan unuk tujuan paliatif
Reevaluasi hasil pengobatan
1. Setelah siklus kemoterapi kedua, keempat
2. Setelah selesai pengobatan lengkap
Edukasi Memberitahu tentang penyakitnya kepada
pasien dan atau keluarganya
Mengikuti petunjuk terapi yang dianjurkan oleh
dokter
Prognosis Bergantung pada derajat keganasan, tingkat penyakit, bulky
mass, keadaan umum pasien dan ada tidaknya gangguan
organ yang mempengaruhi pengobatan.
1. Derajat keganasan rendah : tidak sembuh, namun
dapat hidup lama
2. Derajat keganasan menengah : sebagian dapat
disembuhkan
3. Derajat keganasan tinggi : dapat disembukan, cepat
meninggal apabila tidak diobati
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Limfoma Non Hodgkin dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (keluhan membaik, bila telah dilakukan
kemoterapi dievaluasi sampai efek kemoterapinya membaik)
Dirawat selama 7 hari
250
PPK Penyakit Dalam
Target 60% pasien tertangani
Referensi .1 Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Limfoma Non Hodgkin; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.185-186.
2. Soebandiri, Boediwarsono, Sugiyanto, dkk.
(2008);Limfoma Maligna. Pedoman Diagnosis dan Terapi
Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.176-181.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
ANEMIA APLASTIK (ICD 10:D61.9)
Definisi : Anemia akibat aplasia sumsum tulang di mana jaringan
hemopoiesis diganti oleh jaringan lemak, dibagi menjadi 2
yaitu:
1. Anemia aplastik berat
Selularitas sumsum tulang <25% dan terdapat 2 dari 3
gejala berikut
- Granulosit <500/ul
- Trombosit <20.000/ul
- Retikulosit <10%
2. Anemia aplastik
- Sumsum tulang hipoplastik
- Pansitopenia dengan satu dari tiga pemeriksaan darah
seperti pada anemia aplastik berat
Anamnesis : - Riwayat paparan terhadap zat toksik (obat, lingkungan
kerja, hobi), menderita infeksi virus 6 bulan terakhir
(hepatitis, parvovirus), pernah mendapat transfusi darah.
- Gejala anemia: rasa lemas/lemah, pucat, pusing, sesak
nafas/gagal jantung, berkunang-kunang.
- Tanda-tanda infeksi: sering demam
- Akibat trombositopenia: perdarahan (menstruasi lama,
epistaksis, perdarahan gusi, perdarahan di bawah kulit,
hematuria, buang air besar campur darah, muntah darah)
Pemeriksaan fisik : - Konjungtiva pucat, takikardi, tanda perdarahan, sering
250
PPK Penyakit Dalam
panas.
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan Penunjang: darah tepi lengkap ditemukan
pansitopenia, serologi virus (hepatitis, parvovirus)
4. Diagnosis pasti: Sitologi dan histopatologi sumsum tulang
Diagnosis kerja : Anemia aplastik (ICD 10:D61.9)
Diagnosis banding : - Mielofibrosis (ICD 10:
- Anemia hemolitik (ICD 10:
- Anemia defisiensi besi (ICD 10:
- Anemia karena penyakit kronik (ICD 10:
- Anemia karena penyakit keganasan sumsum tulang (ICD 10:
- Hipersplenisme (ICD 10:
- Leukemia akut (ICD 10:C95.0)
Pemeriksaan : 1. Darah lengkap (ICD 9CM:
penunjang 2. Serologi virus (ICD 9CM:
3. Biopsi sumsum tulang (ICD 9CM:
Terapi : - Transfusi komponen darah (PRC dan/atau TC) sesuai
indikasi
- Menghindari dan mengatasi infeksi
- Kortikosteroid: Prednison 1-2 mg/kgBB/hari
- Splenektomi, bila tidak berespons dengan steroid.
- Bila menolak splenektomi dapat diberikan terapi
imunosupresif:
Siklosporin 5mg/kgBB/hari
ATG (anti thymocyte globulin) 15mg/ kgBB/ hari
intravena selama 5 hari
Transplantasi sumsum tulang, bila tidak ditemukan
HLA yang cocok
Respon terapi
- Komplit: granulosit > 1000/ul, trombosit > 100.000/ul,
Hb Normal
- Parsial: granulosit > 500/ul, tidak membutuhkan
transfusi darah merah dan trombosit
- Minimal: granulosit > 500/ul, membutuhkan transfusi
darah merah dan trombosit
- Tidak berespon: anemia aplastik berat menetap
Edukasi Memberitahukan tentang penyakitnya kepada
pasien dan atau keluarganya.
Mengikuti petunjuk yang diberikan oleh dokter.
Prognosis 1. Dubia, tergantung tingkat hipoplasianya
2. Pada umumnya pasien meninggal karena infeksi,
perdarahan atau komplikasi transfusi.
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien anemia aplastik dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (keluhan membaik, anemia terkoreksi, perdarahan
250
PPK Penyakit Dalam
berhenti, tidak ada infeksi)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi .1 Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Anemia Aplastik; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.187-188.
2. Soebandiri, Boediwarsono, Sugiyanto, dkk.(2008);
Anemia. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam
RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.160-168.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
SINDROM LISIS TUMOR (ICD 10:
Definisi : Sindrom yang ditandai berbagai kombinasi antara
hiperurisemia, hiperkalemia, hiperfosfatemia, asidosis laktat
dan hipokalsemia yang disebabkan oleh pengrusakan
sejumlah besar sel neoplasma yang sedang berproliferasi
secara cepat.
Anamnesis : Riwayat mendapat kemoterapi dalam 1 sampai 5 hari terakhir,
jenis tumor yang diderita (limfoma burkitt, leukemia
limfoblastik akut dan limfoma derajat tinggi lainnya)
Pemeriksaan fisik : Tidak khas, sesuai dengan kelainan yang terjadi (misalnya:
pernapasn kussmaul pada asidosis laktat, oliguria/ anuria bila
terjadi gagal ginjal, aritmia ventrikel pada hiperkalemia)
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium: Peningkatan LDH, asam urat darah, kalium
darah, fosfat darah, penurunan kalsium darah, analisis
gas darah (AGD) menunjukkan asidosis metabolik,
urinalisa menunjukkan pH urin <7 dan/ terdapat kristal
asam urat
Diagnosis kerja : Sindroma lisis tumor (ICD 10:
Diagnosis banding : Gagal ginjal akut (ICD 10:N17.9)
Pemeriksaan : Darah lengkap (ICD 9CM:
penunjang Ureum (ICD 9CM:
Kreatinin (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
LDH (ICD 9CM:
Kalium (ICD 9CM:
Fosphat (ICD 9CM:
Calsium (ICD 9CM:
Asam urat (ICD 9CM:
Analisa Gas Darah (ICD 9CM:
Urin lengkap (ICD 9CM:
Terapi : Mencegah dan mendeteksi faktor resiko lebih penting
Hidrasi adekuat 3000 ml/m2 perhari
Memperhatikan pH urin >7 dengan pemberian Na
bikarbonat
Allopurinol 300 mg/m2 per hari
Monitor fungsi ginjal, elektrolit, AGD dan asam urat
Bila secara konservatif tidak berhasil dan ditemukan tanda-
tanda sebagai berikut (K>6 meq/l, asam urat > 10mg/dl,
kreatinin >10 mg/dl, F>10mg/dl atau semakin meningkat,
hipokalsemia simtomatik) maka dilakukan hemodialisa
Edukasi Memberitahu penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarganya
Prognosis Malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Sindrom Lisis Tumor dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (ureum, kreatinin, LDH, K, F, Ca, asam
urat membaik)
Dirawat selama 7 hari
Target 50% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Sindrom
Lisis Tumor; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.192-193.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
LEUKEMIA AKUT (ICD 10:C95.0)
Definisi : Penyakit proliferasi neoplastik yang sangat progresif sehingga
susunan sumsum tulang normal digantikan oleh sel primitif
dan sel induk darah (sel blas dan atau satu tingkat diatasnya).
Dibagi dua yaitu :
1. Leukimia mieblastik akut
2. Leukemia limfoblastik akut
Anamnesis : Gejala anemia: rasa lemas/lemah, pucat, pusing sesak
napas/gagal jantung, berkunang-kunang
Tanda-tanda infeksi: sering demam
Akibat trombositopenia: perdarahan (menstruasi lama,
epistaksis, perdarahan gusi, perdarahan dibawah kulit,
hematuria, buang air besar campur darah, muntah darah)
Pemeriksaan fisik 4
:. Pucat, demam
Pembesaran kelenjar getah bening (KGB) superfisial
Organomegali
Petekie/purpura/ekimosis
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan Penunjang: aspirasi sumsum tulang: hitung
jenis sel blas dan/atau progranulosit >30%
Diagnosis kerja : Leukemia Akut (ICD 10:C95.0)
Diagnosis banding :4. MDS (sindrom mielodisplasia) (ICD 10:
5. Reaksi leukemoid (ICD 10:
6. Leukemia kronis (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
Pemeriksaan :7. Darah lengkap (ICD 9CM:
penunjang 8. LDH (ICD 9CM:
9. asam urat (ICD 9CM:
10. Ureum (ICD 9CM:
11. Kreatinin (ICD 9CM:
12. SGOT (ICD 9CM:
13. SGPT (ICD 9CM:
14. Sitologi aspirasi sumsum tulang (rujuk) (ICD 9CM:
Terapi : Perawatan di ruang rawat isolasi imunitas menurun :
Persiapan pengobatan sitoreduksi
15. Central venous line
16. Anti emetik
17. Profilaksis asam urat (allopurinol sesuai CCT, hidrasi cukup >
2000 ml/24 jam, alkalinisasi urine dengan natrium bikarbonat
oral 4x500 -1000 mg/ hari (target pH urin >7)
18. Tunda haid (lynestrenol)
19. Antibiotika sesuai indikasi
20. Profilaksis streptokokus (benzylpeniciline 4x1 gr)
21. Asam folat 1x5 mg/hari dan vit B12 1000 ug/minggu
22. Leukoferesis untuk mencegah leukostasis jika leukosit >
100.000/uL dikombinasikan metilpredinisolon 5 mg/kg/hari
23. Sitoreduksi dengan sitostatika mulai dari yang ringan hingga
yang agresif dengan membutuhkan rescue sel induk darah
pasien dari perifer untuk penyelamatan pada ablasi sumsum
tulang
24. Transplantasi sel induk darah alogenik atau autogenik dari
darah perifer, sumsum tulang atau tali pusar
Respon terapi
Komplit:
Hitung jenis sel blas dan atau progranulosit <5% pada sitologi
aspirat sumsum tulang
Pada darah tepi tidak ditemukan blas, leukosit >3000/ul,
granulosit > 1500/ul dan trombosit > 100.000/ul
Parsial:
Hitung jenis sel blas dan atau paragranulosit 5-10% pada
sitologi aspirat sumsum tulang
Pada darah tepi ditemukan sel blas
Tidak berespon:
Hitung jenis sel blas dan atau paragranulosit >10% pada
sitologi aspirat sumsum tulang
Edukasi Menjelaskan tentang penyakitnya kepada
pasien dan atau keluarganya
Mengikuti petunjuk terapi seperti yang
dianjurkan oleh dokter.
Prognosis Malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
250
PPK Penyakit Dalam
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien leukemia akut dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (keluhan membaik, anemia terkoreksi, perdarahan
berhenti, tidak ada infeksi)
Dirawat selama 10 hari
Target 60% pasien tertangani
Referensi .1 Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Leukemia Akut; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.189-191.
2. Soebandiri, Boediwarsono, Sugiyanto, dkk.(2008);
Leukemia Akut. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.182-187.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
LEUKEMIA KRONIK (ICD 10:
Definisi : Leukimia kronik adalah kelainan mieloproliferatif yang
menahun dan bersifat klonal, yang ditandai dengan
leukositosis tinggi dan terdiri atas sel sel matur dan imatur.
Kelainan proliferatif dan diferensiasi dijumpai pada jumlah
meningkat pada semua jenis sel
(mieloblas,promielosit,mielosit, stab, dan segmen),
peningkatan sel sel tersebut dapat menginfiltrasi organ organ
seperti hepar, lien, dll.
Leukimia kronik dibagi dua:
1. Leukimia mieloblastik kronik (CML)
2. Leukimia limfoblastik kronik (CLL)
Anamnesis : Mulainya secara berlahan (menahun).
Keluhan seperti badan lelah, lekas lelah, berat badan
menurun, dan perut membesar serta merongkol.
Pemeriksaan fisik 5
:. Pucat, demam bila terdapat tanda infeksi
6. Hepatomegali
7. Splenomegali
8. petekie/purpura/ekimosis didapatkan bila terdapat
trombositopenia
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium: anemia, leukositosis, trombositopeni
kadang didapatkan, Pada pemeriksaan apusan darah tepi
250
PPK Penyakit Dalam
didapatkan sel-sel muda (mieloblas,promielosit, mielosit)
4. pemeriksaan sitogenik didapatkan kromosom
philadelphia
Diagnosis kerja : Leukemia Kronik (ICD 10:
Diagnosis banding : MDS (sindrom mielodisplasia) (ICD 10:
Mielofibrosis (ICD 10:
Reaksi leukemoid (ICD 10:
Leukemia akut (ICD 10:C95.0)
Pemeriksaan : Darah lengkap (ICD 9CM:
penunjang Hapusan darah tepi (ICD 9CM:
LDH (ICD 9CM:
asam urat (ICD 9CM:
Ureum (ICD 9CM:
Kreatinin (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Sitologi aspirasi sumsum tulang (rujuk) (ICD 9CM:
Terapi : Transfusai darah sesuai indikasi
Antibiotik sesuai indikasi
Antipiretik sesuai indikasi
Terapi anti leukemik yang dianjurkan:
a. Fase kronis:
Bulsufan 3x2 mg, Hydrokxyurea 3x500 mg
b. Fase krisis blastik:
Penatalaksanaan sesuai dengan leukemia akut
c. Terapi mutakir yang saat ini dikerjakan adalah cangkok
sumsum tulang (dirujuk)
Edukasi a. Menjelaskan tentang penyakitnya kepada
pasien dan atau keluarganya
b. Mengikuti petunjuk terapi seperti yang
dianjurkan oleh dokter.
Prognosis Malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien leukemia kronik dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (keluhan membaik, anemia terkoreksi, perdarahan
berhenti, tidak ada infeksi)
Dirawat selama 5 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi Soebandiri, Boediwarsono, Sugiyanto, dkk.(2008); Leukemia
Kronik. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam
RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.188-192.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
IDIOPHATIC THROMBOCYTOPENIA PURPURA (ITP) (ICD 10:D69.3)
Definisi : Purpura trombositopenik idiopatik adalah sindroma yang
ditandai dengan trombositopenia akibat destruksi
trombosit yang meningkat karena proses imunologik.
Anamnesis : 1. Riwayat obat-obatan (heparin, alkohol,
sulfonamides, kuinidin/kuinin, aspirin), dan bahan
kimia
2. Gejala sistemik: pusing, demam, penurunan berat
badan
3. Gejala penyakit autoimun: artralgia, rash kulit,
rambut rontok
4. Riwayat perdarahan, risiko infeksi HIV, status
kehamilan, riwayat transfusi, riwayat pada keluarga
(trombositopenia, gejala perdarahan, dan kelainan
autoimun)
5. Penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko
perdarahan (kelainan gastrointestinal, sistem saraf
pusat, dan urologi)
6. Kebiasaan/hobi: aktivitas yang traumatik
Pemeriksaan fisik : 1. Perdarahan
2. Jarang ditemukan organomegali, tidak ditemukan
250
PPK Penyakit Dalam
jaundice atau stigmata penyakit hati kronik
3. Tanda infeksi (bakteremia/infeksi HIV)
4. Tanda penyakit autoimun (artritis, goiter, nefritis,
vaskulitis)
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. pemeriksaan penunjang:
- Trombosit kurang 150.000/uL dengan tidak dijumpai
sitogen lainnya, pemeriksaan morfologi darah tepi
dapat dijumpai trombosit muda yang berukuran lebih
besar.
- pemeriksaan hemostasis normal bila tidak ada
komplikasi, kecuali masa perdarahan yang
memanjang
- pemeriksaan fungsi sumsum tulang didapatkan
megakariosit normal atau meningkat.
Diagnosis kerja : ITP (ICD 10:D69.3)
Diagnosis banding : 1. Aplasia megakariosit (ICD 10:
2. Hiperslenisme (ICD 10:
3. Trombositopenia karena drug induced (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : 1. Darah lengkap (ICD 9CM:
2. Hapusan darah tepi (ICD 9CM:
3. SGOT (ICD 9CM:
4. SGPT (ICD 9CM:
5. Bilirubin total (ICD 9CM:
6. Bilirubin direk (ICD 9CM:
7. imunoelektroforesis protein (ICD 9CM:
8. Bleeding time (ICD 9CM:
9. Cloting time (ICD 9CM:
10. Pemeriksaan pungsi sumsum tulang (ICD 9CM:
Terapi : ITP akut:
1. Trombosit >30.000/uL, asimtomatik/ purpura minimal
(tidak diterapi rutin)
Trombosit <20.000/uL dengan perdarahan
bermakna atau <10.000/uL dengan purpura minimal
diberikan prednison 1-2 mg/kgBB/hari
2. Mengingat ITP akut bersifat self limiting, maka lama
terapi dibatasi selama 21 hari. Dapat juga diberi IV
Ig 1gr/kg 1 hari
3. Perdarahan yang mengancam jiwa dirawat inap,
steroid injeksi dosis tinggi (metilprednisolon 30
mg/kg/hari) atau steroid oral dosis tinggi (prednosin
4-8 mg/kg/hari) dan transfusi thrombosis
ITP kronik:
Terapi suportif :
1. Membatasi aktivitas yang berisiko trauma
2. Menghindari obat-obat yang mengganggu fungsi
trombosit
3. Transfusi PRC sesuai kebutuhan
250
PPK Penyakit Dalam
4. Transfusi trombosit bila:
a. Perdarahan massif
b. Adanya ancaman perdarahan otak/SSP
c. Persiapan untuk operasi besar
Perawatan RS untuk pasien dengan:
1. Perdarahan berat yang mengancam jiwa
2. Trombosit <20.000/uL dengan perdarahan mukosa
yang bermakna
3. Trombosit >50.000/uL asimtomatik dengan purpuran
minimal (tidak diterapi)
4. Trombosit <30.000/uL dengan/tanpa gejala, 30.000-
50.000/uL dengan perdarahan bermakna, kadar
trombosit berapa saja dengan perdarahan yang
mengancam jiwa diterapi:
prednisone 1-2 mg/kgBB/hari, dipertahankan 3-4
minggu lalu tapp down, maksimal selama 6 bulan.
Prednison tidak boleh diberikan dalam jumlah tinggi
lebih dari 4 minggu pada pasien tidak respon.
Indikasi splenektomi:
1. Gagal remisi dengan terapi steroid dalam 6
bulan observasi
2. Memerlukan dosis maintenance steroid yang
tinggi
3. Adanya kontraindikasi/intoleransi terhadap
steroid
Pilihan terapi yang lain:
1. Obat-obatan imunosupresan (siklofosfamid,
azatioprin, vinkristin)
2. Preparat androgen (danazol)
3. Exchange plasmapharesis pada pasien
dengan keadaan sakit berat
4. Hormonal anuvolatoir
Edukasi Menjelaskan penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarganya
Hindari aktivitas yang berisiko tinggi untuk terjadi
trauma
Prognosis ITP akut bonam
ITP kronik dubia ad malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien ITP dilakukan rawat inap sampai keadaan membaik
(perdarahan berhenti, anemia terkoreksi, trombosit
membaik)
Dirawat selama 5 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi .1 Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) ITP; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.194-196.
250
PPK Penyakit Dalam
2. Soebandiri, Boediwarsono, Sugiyanto, dkk.(2008);ITP.
Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam RSUD
dr. Soetomo, Surabaya, h.169-173.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
TROMBOSIS VENA DALAM (ICD 10:
Definisi : Trombosis Vena Dalam adalah pembekuan darah di dalam
pembuluh darah vena terutama pada vena tungkai bawah.
Gejala Klinik bervariasi (90% tanpa gejala klinik)
Pasien dengan risiko tinggi yaitu apabila:
Riwayat thrombosis, stroke
Pasca tindakan bedah terutama bedah ortopedi
Imobilisasi lama terutama pasca trauma/ penyakit
berat
Luka bakar
Gagal jantung akut/kronik
Penyakit keganasan baik tumor solid maupun
keganasan hematologi
Infeksi baik jamur, bakteri, atau virus terutama yang
disertai syok
Penggunaan obat-obatan yang mengandung
hormon estrogen
Kelainan darah bawaan atau didapat yang menjadi
predisposisi untuk trombosis
Anamnesis : Nyeri lokal, bengkak, perubahan warna, dan fungsi
250
PPK Penyakit Dalam
berkurang pada anggota tubuh yang terkena
Riwayat thrombosis, stroke
Pasca tindakan bedah terutama bedah ortopedi
Imobilisasi lama terutama pasca trauma/ penyakit berat
Luka bakar
Gagal jantung akut/kronik
Penyakit keganasan baik tumor solid maupun keganasan
hematologi
Infeksi baik jamur, bakteri, atau virus terutama yang disertai
syok
Penggunaan obat-obatan yang mengandung hormon
estrogen
Kelainan darah bawaan atau didapat yang menjadi
predisposisi untuk thrombosis
Pemeriksaan fisik : Edem, eritem, peningkatan suhu local tempat yang
terkena, pembuluh darah vena teraba, Homans sign (+)
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Trombosis vena dalam (ICD 10:
Diagnosis banding : Flebitis (ICD 10:
Varises (ICD 10:
Gagal jantung kongestif (ICD 10:
Trauma refluks vena (ICD 10:
Selulitis (ICD 10:
Limfangitis (ICD 10:
Abses inguinal (ICD 10:
Keganasan dengan sumbatan kelenjar limfe atau vena
(ICD 10:
Gout Artritis (ICD 10:
Dermatitis kontak (ICD 10:
Eritem nodusum (ICD 10:
Kehamilan dengan edema tungkai (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : 1. Darah Lengkap (ICD 9CM:
2. Kadar AT III (ICD 9CM:
3. Protein C (ICD 9CM:
4. Protein S (ICD 9CM:
5. Antibodi Kardiolipin (ICD 9CM:
6. Kolesterol Total (ICD 9CM:
7. HDL (ICD 9CM:
8. LDL (ICD 9CM:
9. Trigliserida (ICD 9CM:
10. Agregasi Trombosit (ICD 9CM:
11. venografi/flebografi (ICD 9CM:
12. USG vena B mode atau colour duplex (ICD 9CM:
Terapi : Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena untuk
melancarkan aliran darah vena
Kompres hangat untuk meningkatkan sirkulasi
mikrovaskuler
Latihan lingkup gerak sendi (range of motion) seperti
gerakan fleksi-ekstensi, menggenggam dll, tindakan ini
250
PPK Penyakit Dalam
akan meningkatkan aliran darah di vena-vena yang
masih terbuka (patent)
Pemakaian kaus kaki elastic (elastic stocking), alat ini
dapat meningkatkan aliran darah vena
Antikoagulan
Heparin (unfractionated)
Bolus iv 100 IU/kg dilanjutkan drip mulai 1000 IU/jam
Target aPTT 1,5-2,5 x control, bila
aPTT <1,5x control, dosis 100-200 IU/jam
aPTT 1,5-2,5x control, dosis tetap
aPTT >2,5x control, dosis 100-200 IU/jam
Hari I : aPTT diperiksa tiap 6 jam
Hari II : aPTT diperiksa tiap 12 jam
Hari III : aPTT diperiksa tiap 24 jam
LMWH (low molecular weight heparin) tidak perlu
pemantauan
Nadroparin 0,1 ml/kg/12 jam
Enoxaparin 1 mg/kg/12 jam
Parnaparin 0,1 mg/kg/12 jam
Warfarin
Dapat dimulai segera sesudah pemberian heparin.
Dosis hari I 6-10 mg malam hari, hari II diturunkan.
INR diperiksa setelah 4-5 hari kemudian dengan target
2-3.
Bila target INR tercapai, heparin dapat dihentikan 24
jam berikutnya.
Lama pemberian tergantung ada tidaknya faktor risiko.
Bila tidak ada faktor risiko, dapat distop dalam 3-6
bulan.
Bila ada faktor risiko dapat diberikan lebih lama atau
bahkan seumur hidup.
Cara penyesuaian dosis INR:
INR 1,1-1,4:
Hari I dinaikkan 10-20% dari total dosis mingguan
Mingguan dinaikkan 10-20% dari total dosis mingguan
Kembali 1 minggu
INR 1,5-1,9:
Hari I dinaikkan 5-10% dari total dosis mingguan
Mingguan dinaikkan 5-10% dari total dosis mingguan
Kembali 2 minggu
INR 2,0-3,0:
Tidak ada perubahan kembali 1 minggu
INR 3,1-3,9:
Hari I dikurangi 5-10% dari total dosis mingguan
Mingguan dikurangi 5-15% dari total dosis mingguan
Kembali 2 minggu
INR 4,0-5,0:
Hari I tidak dapat obat
Mingguan dikurangi 10-20% dari dosis total mingguan
250
PPK Penyakit Dalam
Kembali 1 minggu
INR >5,0:
Stop warfarin, pantau sampai INR 3,0
Mulai dengan dosis kurang 20-50%
Kembali tiap hari
Trombolisis (streptokinase, tPA)
Terapi ini dapat dipertimbangkan sampai 2 minggu
setelah pembentukan thrombus (thrombosis vena
iliaka atau vena femoralis akut atau subakut)
Tidak dianjurkan untuk thrombus yang berusia lebih
dari 4 minggu
Antiagregasi trombosit (aspirin, dipiridamol,
sulfinpirazin)
Bukan merupakan terapi utama
Pemakaiannya dapat dipertimbangkan 3-6 minggu
setelah terapi standar heparin atau warfarin
Edukasi Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena untuk
melancarkan aliran darah vena
Kompres hangat untuk meningkatkan sirkulasi
mikrovaskuler
Latihan lingkup gerak sendi (range of motion) seperti
gerakan fleksi-ekstensi, menggenggam dll, tindakan ini
akan meningkatkan aliran darah di vena-vena yang
masih terbuka (patent)
Pemakaian kaus kaki elastic (elastic stocking), alat ini
dapat meningkatkan aliran darah vena
Prognosis Tergantung penyebab, pada yang tidak disertai komplikasi
baik
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien trombosis vena dalam dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (nyeri dan bengkak berkurang)
Dirawat selama 7 hari
Target 60% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Trombosis Vena Dalam; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.197-200.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
KOAGULASI INTRAVASKULAR DISEMINATA (ICD 10:
Definisi : Koagulasi intravaskular diseminata adalah aktivasi sistem
koagulasi dan fibrinolisis secara berlebihan dan terjadi
pada waktu yang bersamaan.
Merupakan akibat dari kausa primer yang lain:
- Bidang obstetri (emboli cairan amnion, kematian janin
intra-uterin, abortus septik)
- Bidang hematologi (reaksi transfusi, hemolisis berat,
leukemia)
- Infeksi (septikemi, gram -, gram +, virus HIV, hepatitis,
dengue, parasit malaria)
- Trauma, penyakit hati akut, luka bakar
Anamnesis : Dapat ditemukan gejala umum seperti demam, hipotensi,
asidosis, hipoksia, proteinuria dll
Pemeriksaan fisik : Adanya tanda-tanda perdarahan (petekie, purpura,
ekimosis, hematoma, hematemesis-melena, hematuria,
epistaksis dll)
Manifestasi trombosis: gagal organ (paru, ginjal, hati dll)
250
PPK Penyakit Dalam
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Koagulasi intravaskuler diseminata (ICD 10:
Diagnosis banding : Fibrinolisis primer (ICD 10:
Penyakit hati berat (ICD 10:
Pseudo KID (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM :
PT (ICD 9CM :
aPTT (ICD 9CM :
Fibrinogen (ICD 9CM :
d-dimer (ICD 9CM :
Terapi : - Memperbaiki dan menstabilkan hemodinamik
- Memperbaiki dan menstabilkan tekanan darah
- Membebaskan jalan napas
- Memperbaiki dan menstabilkan keseimbangan asam
basa
- Memperbaiki dan menstabilkan keseimbangan elektrolit
- Mengobati penyakit primer
- Menghambat proses patologis
- Antikoagulan
Heparin IV bolus tiap 6 jam dosis 5000 IU, evaluasi
aPTT dengan target 1,5-2,5x control pada jam kedua
dan keempat
Bila pada jam kedua:
aPTT <1,5x control, heparin dinaikkan jadi 7500 U
aPTT 1,5-2,5x control, dosis heparin tetap
aPTT >2,5x control, evaluasi aPTT pada jam
keempat, bila:
aPTT <1,5x control, heparin dinaikkan jadi 7500 U
aPTT >2,5x control, heparin dikurangi jadi 2500 U
- Transfusi sesuai komponen darah dan sesuai indikasi
(PRC, TC, FFP, kriopresipitat)
Edukasi Menjelaskan penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarga.
Prognosis Malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien koagulasi intravaskular diseminata dilakukan rawat
inap sampai keadaan membaik dan tanda-tanda
perdarahan membaik.
Dirawat selama 10 hari
Target 40% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Koagulasi Intravaskular Diseminata; Panduan Pelayanan
Medis PAPDI, Jakarta, h.201-202.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
TROMBOSITOSIS PRIMER (ICD 10:
Definisi : Trombositosis adalah bila jumlah trombosit lebih dari
jumlah normal tertinggi (450.000/uL)
Trombositosis primer adalah kelainan klonal dari stem sel
multipotensial hemopoietik
Anamnesis : - Sakit seperti terbakar pada telapak tangan dan kaki serta
berdenyut, cenderung timbul kembali disebabkan panas,
pergerakan jasmani dan hilang bila kaki ditinggikan
(eritromialgia)
- Gejala iskemia serebrovaskular kadang tidak spesifik
seperti sakit kepala, pusing, defisit neurologi fokal,
serangan iskemia sepintas, kejang atau oklusi arteri retina
- Pada wanita hamil dapat ditemukan riwayat abortus
berulang, pertumbuhan fetus terhambat
Pemeriksaan fisik : Splenomegali (40%), tanda perdarahan atau thrombosis
sesuai lokasi yang terkena
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
250
PPK Penyakit Dalam
Diagnosis kerja : Trombositosis Primer (ICD 10:
Diagnosis banding : Trombositosis reaktif (ICD 10:
Trombositosis sekunder (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM :
Morfologi trombosit (ICD 9CM :
Laju endap darah (ICD 9CM :
Masa perdarahan (ICD 9CM :
Faktor VIII/von willebrand (ICD 9CM :
Tes agregasi trombosit dengan epinefrin (ICD 9CM :
Terapi : Tujuan pengobatan untuk menurunkan jumlah trombosit
dan menurunkan fungsi trombosit
Untuk menurunkan trombosit:
1. Hydroxyuria: 15
mg/kgBB/hari
2. Anagrelide (agrylin): 4
kali 1,5-2,5 mg sehari, dimulai dosis rendah dan
dinaikkan secara bertahap tiap minggu
3. Thromboreduction
4. Interferon alfa 3 juta IU,
tiga kali satu minggu
5. Fosphorous-32
Untuk menurunkan fungsi trombosit:
1. Aspirin
2. Tiklopidin
3. Klopidogrel
Edukasi Menjelaskan penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarganya.
Prognosis Ad vitam: bonam
Ad fungsionam: dubia
Ad sanasionam: malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien trombositosis primer dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (rasa nyeri berkurang, gejala iskemia
serebrovaskuler membaik dan trombosit membaik).
Dirawat selama 7 hari
Target 60% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Trombositosis Primer; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.203-204.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
SINDROM VENA KAVA SUPERIOR (ICD 10:I87.1)
Definisi : Sindrom vena kava superior adalah kumpulan gejala yang
disebabkan obstruksi vena kava superior oleh tumor di
mediastinum.
Anamnesis : Keluhan sakit kepala, mual, muntah, gangguan
penglihatan, sinkop, suara serak, sesak napas, disfagia,
dan sakit punggung
Pemeriksaan fisik : Distensi tubuh sebelah atas, edema muka, leher, lengan
dan dada atas, sianosis
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Sindrom vena kava superior (ICD 10:I87.1)
Diagnosis banding : Tumor mediastinum (ICD 10:
Tumor paru (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Foto thoraks (ICD 9CM:
CT scan dada (ICD 9CM:
Terapi : - Radioterapi pada kasus darurat dapat meringankan gejala
pada 70% kasus. Dimulai dosis harian dengan dosis
250
PPK Penyakit Dalam
tinggi (400 cGy) untuk mendapatkan pengecilan masa
tumor yang dibutuhkan
- Pada limfoma malignum atau kanker paru jenis SCLC,
kemoterapi akan sama efektifnya dengan radioterapi
Edukasi Menjelaskan penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarga.
Prognosis Ad vitam: dubia ad malam
Ad fungsionam: malam
Ad sanasionam: malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien sindrom vena kava superior dilakukan rawat inap
sampai keadaan membaik (sesak nafas berkurang, edema
muka dan leher berkurang)
Dirawat selama 10 hari
Target 40% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Sindrom
Vena Kava Superior ; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.205-206.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
HIPERKALSEMIA (ICD 10:E83.5)
Definisi : Hiperkalsemia adalah kedaruratan onkologi yang sering
ditemukan sebagai akibat metabolik dari keganasan
Anamnesis : Anoreksia, mual, muntah, polyuria
Pemeriksaan fisik : Penurunan kesadaran
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Hiperkalsemia (ICD 10:E83.5)
Diagnosis banding : -
Pemeriksaan penunjang : Kadar kalsium darah (ICD 9CM:
Ureum (ICD 9CM:
Kreatinin (ICD 9CM:
Terapi : - Diuresis paksa dengan larutan salin (200-250 ml/jam)
dan furosemide disertai monitor ketat balans cairan dan
fungsi kardiopulmoner
- Mithramycin 25 ug/kg intravena. Tidak boleh digunakan
250
PPK Penyakit Dalam
pada gagal ginjal dan trombositopenia
- Kortikosteroid, efek terapi dicapai setelah 5-10 hari
pengobatan. Berguna pada hiperkalsemia pada limfoma
malignum, myeloma multiple dan karsinoma payudara
- Difosfat (penghambat osteoklas) bila hiperkalsemia
refrakter terhadap cara-cara sebelumnya atau terdapat
kontraindikasi
- Kunci keberhasilan dalam mengendalikan hiperkalsemia
adalah kemoterapi yang efektif
Edukasi Menjelaskan penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarganya.
Prognosis. Ad vitam: dubia
Ad fungsionam: dubia ad malam
Ad sanasionam: malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien hiperkalsemia dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (anoreksia dan mual berkurang,
kesadaran membaik)
Dirawat selama 7 hari
Target 40% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Hiperkalsemia ; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta,
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
HIPERURISEMIA (ICD 10:
Definisi : Hiperurisemia adalah kelainan yang terjadi akibat
pengobatan pada leukemia, gangguan mieloproliferatif
limfoma atau myeloma yaitu ketika sel-sel tumor
mengalami penghancuran selama kemoterapi di mana
purin akan dilepaskan dalam jumlah banyak untuk
kemudian mengalami katabolisme menjadi asam urat.
Timbulnya uremia, hematuria dan rasa nyeri menandakan
adanya batu ginjal.
Oliguria atau anuria dengan atau tanpa adanya kristal
asam urat. Kadar nitrogen darah dan serum kreatinin
meningkat
Perbandingan asam urat dengan kreatinin >1, dihitung
menurut sample acak, mendukung diagnosis nefropati
akibat hiperurisemia
Anamnesis : Nyeri pada sendi, terutama pada kaki dan tangan.
250
PPK Penyakit Dalam
Pemeriksaan fisik : Oedema, kemerahan, panas, dan nyeri pada sendi yang
terkena
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. kadar asam urat melebihi 10 mg/dl dan rata-rata 20
mg/dl.
Diagnosis kerja : Hiperurisemia (ICD 10:
Diagnosis banding : -
Pemeriksaan penunjang : Kadar asam urat darah,
Ureum
Kreatinin
Urin Lengkap
Terapi : - Allopurinol, hidrasi dan alkalinisasi urin seperti pada
sindrom lisis tumor
- Hemodialisis jika diperlukan, dapat menurunkan kadar
asam urat dan memperbaiki fungsi ginjal
Edukasi Menjelaskan penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarganya
Prognosis Ad vitam: malam
Ad fungsionam: malam
Ad sanasionam: malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien hiperurisemia dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (nyeri sendi berkurang dan kadar asam urat
darah membaik)
Dirawat selama 5 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Hiperurisemia ; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.209-210.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
POLISITEMIA VERA (ICD 10:
Definisi : Polisitemia merupakan kelainan sistem hemopoesis yang
dihubungkan dengan peningkatan jumlah dan volume sel
darah merah (eritrosit) secara bermakna mencapai 6-10
juta/ml diatas ambang batas nilai normal dalam sirkulasi
darah, tanpa memperdulikan jumlah leukosit dan trombosit.
Disebut polisitemia vera bila sebagian populasi eritrosit
berasal dari suatu klon sel induk darah yang abnormal
(tidak membutuhkan eritropoetin untuk proses
pematangannya). Berbeda dengan polisitemia sekunder
dimana eritropoetin meningkat secara fisiologis sebagai
kompensasi atas kebutuhan oksigen yang meningkat atau
eritropoetin meningkat secara non fisiologis pada sindrom
paraneoplastik sebagai manifestasi neoplasma lain yang
mensekresi eritropoetin.
Perjalanan klinis:
250
PPK Penyakit Dalam
[Link] eritrositik atau fase polisitemia
Berlangsung 5-25 tahun, membutuhkan flebotomi teratur
untuk mengendalikan viskositas darah dalam batas
normal
2. Fase burn out atau spent out
Kebutuhan flebotomi menurun jauh, kesannya seperti
remisi, kadang timbul anemia
3. Fase mielofibrotik
Bila terjadi sitopennia dan splenomegali progresif,
menyerupai mielofibrosis dan metaplasia mieloid
4. Fase terminal
Anamnesis : Sakit kepala, vertigo, tinitus, gangguan penglihatan, gatal-
gatal.
Pemeriksaan fisik : Tanda-tanda perdarahan: petekie, ekimosis, epistaksis,
perdarahan gusi, dan perdarahan saluran cerna.
Splenomegali
Hepatomegali
Hipertensi
Facial plethora (muka merah abu-abu)
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. International Polycytemia Study Group II
Diagnosis polisitemia dapat ditegakkan jika memenuhi
criteria
a. A1+A2+A3 atau
b. A1+A2+2 kategori B
Kategori A
[Link] massa sel darah merah diukur dengan
krom radioaktif Cr-51. Pada pria 36ml/kg dan pada
wanita 32 ml/kg.
[Link] oksigen arterial 92% (pada polisitemia vera,
saturasi oksigen tidak menurun)
[Link]
Kategori B
1. Trombositosis : trombosit 400.000/ml
2. Leukositosis : leukosit 12.000/ml (tidak ada infeksi)
3. Leukosit alkali fosfatase (LAF) score meningkat
>100 (tanpa ada panas/infeksi)
4. Kadar vitamin B12>900pg/ml dan atau UB12BC
dalam serum 2200 pg/ml
Diagnosis kerja : Polisitemia vera (ICD 10:
Diagnosis banding : Polisitemia sekunder (ICD 10:
Sindrom paraneoplastik (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah Lengkap (ICD 9CM:
Kadar B12 serum (ICD 9CM:
Saturasi O2 (ICD 9CM:
Aspirasi sumsum tulang (ICD 9CM:
Terapi : Prinsip pengobatan:
1. Menurunkan viskositas darah sampai ke tingkat
normal dan mengendalikan eritropoesis dengan
250
PPK Penyakit Dalam
flebotomi
2. Menghindari pembedahan elektif pada fase
eritrositik/polisitemia yang belum terkendali
3. Menghindari pengobatan berlebihan
4. Menghindari obat yang mutagenic, teratogenik, dan
berefek sterilisasi pada pasien usia muda
5. Mengontrol panmielosis dengan fosfor radioaktif
dosis tertentu atau kemoterapi sitostatik pada pasien
diatas 40 tahun bila didapatkan:
- Trombositosis persisten diatas 800.000/ml
terutama jika disertai gejala thrombosis
- Leukositosis progresif
- Splenomegali simtomatik atau menimbulkan
sitopenia problematic
- Gejala sistemik yang tidak terkendali seperti
pruritus yang sukar dikendalikan, penurunan BB
atau hiperurikosuria yang sulit diatasi.
A. Flebotomi
Pada Polisitemia Vera tujuan prosedur flebotomi adalah
mempertahankan hematokrit 42% pada wanita dan
47% pada pria untuk mencegah timbulnya
hiperviskositas dan penurunan shear rate. Indikasi
flebotomi terutama untuk semua pasien pada
permulaan penyakit dan yang masih dalam usia subur.
Indikasi;
1. Polisitemia vera fase polisitemia
2. Polisitemia sekunder fisiologis hanya dilakukan jika
Ht >55% (target Ht 55%)
3. Polisitemia sekunder nonfisiologis bergantung
pada derajat beratnya gejala yang ditimbulkan
akibat hiperviskositas dan penurunan shear rate
B. Kemoterapi sitostatika
Tujuannya adalah sitoreduksi
Indikasi:
- Hanya untuk polisitemia rubra primer
- Flebotomi sebagai pemeliharaan dibutuhkan >2kali
sebulan
- Trombositosis yang terbukti menimbulkan
thrombosis
- Urtikaria berat yang tidak dapat diatasi dengan
antihistamin
- Splenomegali simtomatik/mengancam rupture
limpa
Cara pemberian:
Hidroksiurea 800-1200 mg/m2/hari atau 10-15
mg/kg/kali diberikan dua kali sehari. Bila mencapai
target dilanjutkan pemberian secara intermiten untuk
pemeliharaan.
Klorambusil dengan dosis induksi 0,1-0,2 mg/kg/hari
selama 3-6 minggu dan dosis pemeliharaan 0,4
250
PPK Penyakit Dalam
mg/kgBB tiap 2-4 minggu.
Busulfan 0,06 mg/kgBB/hari atau 1,8 mg/m2/hari. Bila
tercapai target dilanjutkan pemberian secara
intermiten untuk pemeliharaan.
C. Fosfor radioaktif
P32 pertama kali diberikan dengan dosis 2-3 mCi/m2,
bila per oral dinaikkan 25%. Selanjutnya bila setelah 3-4
minggu pemberian P32 pertama:
- Mendapatkan hasil, reevaluasi setelah 10-12 minggu.
Dapat diulang jika diperlukan
- Tidak berhasil, dosis kedua dinaikkan 25% dari dosis
pertama, diberikan setelah 10-12 minggu dosis
pertama
Pasien diperiksa setiap 2-3 bulan setelah keadaan
stabil
D. Kemoterapi biologi (sitokin)
E. Pengobatan suportif
- Hiperurisemia :allopurinol 100-600 mg/hari
- Pruritus dengan urtikaria:antihistamin
- Gastritis/ulkus peptikum:antagonis reseptor H2
- Antiagregasi trombosit anagrelid
Edukasi 1. Menghindari pengobatan berlebihan
2. Menghindari obat yang mutagenic, teratogenik, dan
berefek sterilisasi pada pasien usia muda.
Prognosis Ad vitam: dubia ad malam
Ad fungsionam: malam
Ad sanasionam: malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien polisitemia vera dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (sakit kepala berkurang, tidak ada
perdarahan, hematokrit membaik)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Polisitemia Vera; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.216-218.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSUD dr .SOEROTO
ARTRITIS PIRAI (ICD 10:
Definisi : Artritis Pirai adalah penyakit yang disebabkan oleh deposisi
kristal-monosidium urat (MSU) yang terjadi akibat
supersaturasi cairan ekstra selular dan mengakibatkan
satu atau beberapa manifestasi klinik.
Anamnesis : Nyeri pada sendi perifer di kaki dan atau tangan
Pemeriksaan fisik : Oedema, kemerahan, panas, dan nyeri pada sendi tangan
dan atau kaki.
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. kriteria ACR (1977):
a. Didapatkan kristal monosodium urat di dalam cairan
sendi, atau
b. Didapatkan kristal monosodium urat di dalam tofus,
atau
c. Didapatkan 6 dari 12 kriteria berikut:
250
PPK Penyakit Dalam
1. Inflamasi maksimal pada hari pertama
2. Serangan arthritis akut lebih dari 1 kali
3. Atritis monoartikular
4. Sendi yang terkena berwarna kemerahan
5. Pembengkakan dan sakit pada sendi MTP I
6. Serangan pada sendi MTP unilateral
7. Serangan pada sendi tarsal unilateral
8. Tofus
9. Hiperurisemia
10. Pembengkakan sendi asimetris pada gambaran
radiologik
11. Kista subkortikal tanpa erosi pada gambaran
radiologik
12. Kultur bakteri cairan sendi negative
Diagnosis kerja : Artritis Pirai (ICD 10:
Diagnosis banding : Pseudogout (ICD 10:
Atritis septic (ICD 10:
Arthritis rheumatoid (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - LED (ICD 9CM:
- CRP (ICD 9CM:
- Analisis cairan sendi (ICD 9CM:
- Asam urat darah dan urin 24 jam (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- CCT (ICD 9CM:
- Radiologi sendi (ICD 9CM:
Terapi : 1. Penyuluhan
2. Pengobatan fase akut:
a. Kolkisin. Dosis 0,5 mg diberikan tiap jam
sampai terjadi perbaikan inflamasi atau terdapat
tanda-tanda toksik atau dosis tidak melebihi 8 mg/ 24
jam.
b. Obat antiiflamasi non-steroid
c. Glukokortikoid dosis rendah bila ada
kontraindikasi dari kolkisin dan obat antiinflamasi non-
steroid.
3. Pengobatan hiperurisemia:
a. diet rendah purin
b. obat penghambat santin oksidase (untuk tipe produksi
berlebih), misalnya Allopurinol
c. obat Uricosurik (untuk tipe sekresi rendah) obat anti
hiperurisemik tidak boleh diberikan pada stadium akut.
Edukasi Menghindari makanan dengan kandungan purin tinggi,
antara lain: udang, kepiting, cumi, kerang, jeroan, daging,
kedelai, bayam, emping.
Prognosis Bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
250
PPK Penyakit Dalam
Indikator medis Pasien Artritis Pirai dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (nyeri sendi berkurang)
Dirawat selama 3 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi 2. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Artritis Pirai ; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.123-124.
2. Soeroso,J., Juliasih.(2008);Artritis Pirai. Pedoman
Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam RSUD dr.
Soetomo, Surabaya, h.313-319.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
ARTRITIS REUMATOID (ICD 10:
Definisi : Penyakit inflamasi sistemik kronik yang terutama mengenai
sendi diartrodial, termasuk penyakit autoimun dengan
etiologi yang tidak diketahui.
Anamnesis : Kaku sendi pada waktu pagi hari yang simetris kebanyakan
pada jari tangan. Pada fase lanjut dapat menyerang sendi
kaki, bahu dan vertebra.
Pemeriksaan fisik : Deformitas sendi, sinovitis, nodul rematoid, vaskulitis, bisa
menyerang organ vital misalnya nefritis.
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Kriteria diagnosis (ACR, 1987):
a) Kaku pagi, sekurangnya 1 jam
b) Artritis pada sekurangnya 3 sendi
250
PPK Penyakit Dalam
c) Artritis pada sendi pergelangan tangan,
metacarpophalanx (MCP) dan Proximal
Interphalanx (PIP)
d) Artritis yang simetris
e) Nodul rheumatoid
f) Faktor rheumatoid serum positif
g) Gambaran radiologic yang spesifik
Untuk diagnosis AR diperlukan 4 dari 7 kriteria tersebut di
atas. Kriteria 1 4 harus minimal diderita selama 6
minggu.
Diagnosis kerja : Artritis reumatoid (ICD 10:
Diagnosis banding : Spondiloartropati seronegatif (ICD 10:
Sindrom Sjogren (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - LED (ICD 9CM:
- CRP (ICD 9CM:
- Faktor reumatoid serum (ICD 9CM:
- Analisis cairan sendi (ICD 9CM:
- Radiologi tangan dan kaki (ICD 9CM:
- Biopsi sinovium/ nodul reumatoid (ICD 9CM:
Terapi : 1. Penyuluhan
2. Proteksi sendi, terutama pada stadium akut
3. Obat anti inlamasi non-steroid
4. Obat remitif (DMARD), misalnya:
- Klorokuin dengan dosis 1x250 mg/hari
- Metotreksat dosis 7,5 20 mg sekali seminggu
- Salazopirin dosis 3-4 x 500 mg/hari
- Garamemas per oral dosis 3-9 mg/hari, atau
subkutan dosis awal 10 g, dilanjutkan seminggu
kemudian dengan dosis 25 mg/minggu, dan
dinaikkan menjadi 50 mg/minggu selama 20
minggu, selanjutnya diturunkan setiap 4 minggu
sampai dosis kumulatif 2 g.
5. Glukokortikoid, dosis seminimal mungkin dan sesingkat
mungkin, untuk mengatasi keadaan akut atau
kekambuhan. Dapat diberikan prednisone dengan dosis
20 mg dosis terbagi dan segera tapering off.
6. Bila terdapat peradangan yang terbatas hanya pada 1-2
sendi, dapat diberikan injeksi steroid intraartikular
seperti triamcinolon acetonide 10 mg atau
metilprednisolon 20-40 mg.
7. Fisioterapi, terapi okupasi, bila perlu dapat diberikan
ortosis.
8. Operasi untuk memperbaiki deformitas.
Edukasi Menjelaskan penyakitnya kepada pasien dan atau keluarga
pasien
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
250
PPK Penyakit Dalam
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Artritis Rematoid dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (nyeri sendi berkurang)
Dirawat selama 5 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi 2. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Artritis Rematoid; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.125-126.
2. Soeroso,J., Juliasih.(2008); Artritis Rematoid. Pedoman
Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam RSUD dr.
Soetomo, Surabaya, h.291-300.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
LUPUS ERITEMATOUS SISTEMIK (ICD 10:
Definisi : Penyakit autoimun yang ditandai produksi antibodi
terhadap komponen-komponen inti sel yang
mengakibatkan manifestasi klinis yang luas.
Anamnesis : Manifestasi klinis sangat luas tergantung pada organ
mana yang terlibat.
Pada awal penyakit gejala klinis tidak spesifik (lesu,
panas, mual, nafsu makan menurun, dan berat badan
menurun).
Pada fase awal bisa ringan berupa rash dengan
artritis.
Selanjutnya gejala berat yang menyerang organ-
250
PPK Penyakit Dalam
organ vital berupa lupus nefritis, lupus cerebral, dan
pneumonitis
Pemeriksaan fisik : Manifestasi pemeriksaan fisik tidak khas tergantung organ
yang terkena (ruam malar, ruam discoid, fotosensitive,
ulserasi mulut atau nasofaring, artritis, dan serositis)
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Kriteria Diagnosis ACR 1982. Diagnosis ditegakkan
bila didapatkan 4 dari 11 kriteria dibawah ini:
a) Ruam malar
b) Ruam discoid
c) Fotosensitivitas
d) Ulserasi di mulut atau nasofaring
e) Artritis
f) Serositis (pleuritis atau perikarditis)
g) Kelainan ginjal (proteinuria > 0,5 g/hari, atau silinder
sel)
h) Kelainan neurologi, kejang-kejang atau psikosis
i) Kelainan hematologi, anemia hemolitik, atau
lekopenia, atau limfopenia, atau trombopenia
j) Kelainan imunologik, sel LE positif atau anti DNA
positif, atau anti Sm positif, tes serologis untuk sifilis
positif palsu
k) Antibodi antinuklear (ANA) positif.
Diagnosis kerja : Lupus eritematous sistemik (ICD 10:
Diagnosis banding : Mixed connective tissue disease (ICD 10:
Sindrom vaskulitis (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - LED (ICD 9CM:
- CRP (ICD 9CM:
- C3 (ICD 9CM:
- C4 (ICD 9CM:
- ANA test (ICD 9CM:
- Anti dsDNA (ICD 9CM:
- Coomb test (ICD 9CM:
- Biopsi kulit (ICD 9CM:
Terapi : - Penyuluhan
- Proteksi terhadap sinar matahari, sinar ultraviolet,
dan sinar fluoresein
- Pada manifestasi non-organ vital (kulit, sendi,
fatigue) dapat diberikan klorokuin 4 mg/kgBB/ hari
- Bila mengenai organ vital, berikan prednisone 1-1,5
mg/kgBB/hari selama 6 minggu, kemudian tapering off
- Bila terdapat peradangan terbatas pada 1-2 sendi,
dapat diberikan injeksi steroid intraartikular.
- Pada kasus berat atau mengancam nyawa
dapatdiberikan metilprednison 1 gr/hari IV selama 3 hari
berturut-turut, lalu prednisone 40-60 mg/hari per oral.
- Bila pemberian glukokortikoid selama 4 minggu tidak
memuaskan, maka dimulai pemberian imunosupresif
lain, missal siklofosfamid 500-1000 mg/m sebulan
250
PPK Penyakit Dalam
sekali selama 6 bulan, kemudian tiap 3 bulan sampai 2
tahun.
- Imunosupresan lain yang dapat diberikan adalah
azatioprin, siklosporin-A
Edukasi - Menjelaskan penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarganya
- Proteksi terhadap sinar matahari, sinar ultraviolet,
dan sinar fluoresein
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Lupus Eritematosus Sistemik dilakukan rawat inap
sampai keadaan membaik (keadaan umum membaik, nyeri
sendi berkurang)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Lupus Eritematosus Sistemik; Panduan
Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.127-128.
2. Soeroso,J., Juliasih.(2008); Lupus
Eritematosus Sistemik. Pedoman Diagnosis dan Terapi
Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.320-
333.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
ARTRITIS SEPTIK (ICD 10:
Definisi : Artritis yang disebabkan oleh adanya infeksi berbagai
mikroorganisme (bakteri, non-gonokokal)
Anamnesis : Nyeri dan bengkak pada sendi
Umumnya terdapat penyakit lain yang mendasari
Pemeriksaan fisik : Nyeri, kemerahan, panas, dan bengkak pada sendi
Nyeri sendi akut, umumnya monoartikular
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Ditemukan bakteri dari kultur cairan sendi
Diagnosis kerja : Artritis septik (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
Diagnosis banding : Artritis gonokokal (ICD 10:
Bursitis septic (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Analisis cairan sendi (ICD 9CM:
- Pewarnaan Gram (ICD 9CM:
- Kultur cairan sendi (ICD 9CM:
- Radiografi sendi yang terserang (ICD 9CM:
- LED (ICD 9CM:
- CRP (ICD 9CM:
- Kultur darah (ICD 9CM:
Terapi : 1. Aspirasi cairan sendi
2. Antibiotik berspektrum luas sebelum ada hasil kultur dan
diubah setelah hasil kultur diperoleh
3. Drainase sendi yang terinfeksi
4. Indikasi tindakan bedah:
a. Infeksi koksa pada anak-anak
b. Infeksi mengenai sendi yang sulit dilakukan drainase
secara adekuat
c. Terdapat bukti ostomielitis
d. Infeksi berkembang ke jaringan lunak sekitarnya
Edukasi Menjelaskan tentang penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarga
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Artritis Septik dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (keadaan umum membaik, nyeri sendi berkurang,
tanda radang membaik)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Artritis
Septik; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.129-
130.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
OSTEOARTRITIS (ICD 10:
Definisi : Osteoartritis (OA) merupakan penyakit degeneratif yang
mengenai rawan sendi. Penyakit ini ditandai oleh
kehilangan sendi progresifitas dan terbentuknya tulang
baru pada trabekula subkondral dan tepi tulang (osteofit).
Anamnesis : Nyeri sendi yang meningkat saat beraktivitas
Kaku sendi <30 menit setelah beristirahat lama
Pemeriksaan fisik : Nyeri gerak sendi
Terdapat krepitasi
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Osteoartritis sendi lutut
a) Nyeri lutut, dan
250
PPK Penyakit Dalam
b) Salah satu dari 3 kriteria berikut :
- Usia > 50 tahun
- Kaku sendi < 30 menit
- Krepitasi + osteofit
4. Osteoartritis sendi tangan
a) Nyeri tangan atau kaku, dan
b) Tiga dari 4 kriteria berikut :
- Pembesaran jaringan keras dari 2 atau lebih
dari 10 sendi tangan tertentu (DIP II dan III kiri
dan kanan, CMC I ki&ka)
- Pembesaran jaringan keras dari 2 atau lebih
sendi DIP
- Pembengkakan pada < 3 sendi MCP
- Deformitas pada minimal 1 dari 10 sendi tangan
tertentu
5. Osteoartritis sendi pinggul
a) Nyeri pinggul, dan
b) Minimal 2 dari 3 kriteria berikut :
- LED < 20 mm/jam
- Radiologi : terdapat osteofit pada femur atau
asetabulum
- Radiologi : terdapat penyempitan celah sendi
(superior, aksial, dan atau medial)
Diagnosis kerja : Osteoartritis (ICD 10:
Diagnosis banding : Artritis rematoid (ICD 10:
Arthritis gout (ICD 10:
Arthritis septic (ICD 10:
Spondilitis ankilosa (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - LED (ICD 10:
- Analisis cairan sendi (ICD 10:
- Radiografi sendi yang terserang (ICD 10:
- Artroskopi (ICD 10:
Terapi : - Menjelaskan tentang penyakitnya kepada pasien
dan keluarganya
- Proteksi sendi, terutama pada stadium akut
- Obat antiinflamasi non steroid, diantaranya : sodium
diklofenak 50 mg t.i.d, piroksikam 20 mg o.d,
meloksikam 7,5 mg o.d,dan sebagainya
- Steroid intraartikular untuk OA inflamasi
- Fisioterapi, terapi okupasi, bila perlu diberikan
ortosis
- Operasi untuk memperbaiki deformitas
Edukasi Menjelaskan tentang penyakitnya kepada pasien dan
keluarganya
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - Dr. Suprayitno, [Link]
-
250
PPK Penyakit Dalam
Indikator medis Pasien Osteoartritis dilakukan rawat inap bila nyeri berat
sampai keadaan membaik (keadaan umum membaik, nyeri
sendi berkurang)
Dirawat selama 5 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Osteoartritis; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.131-132.
2. Soeroso,J., Juliasih.(2008); Osteoartritis.
Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam RSUD
dr. Soetomo, Surabaya, h.301-312.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
SKLEROSIS SISTEMIK (ICD 10:
Definisi : Merupakan penyakit kronik yang mengenai berbagai
sistem organ dan terutama ditandai dengan penebalan
kulit. Penyakit ini dapat difus, terbatas, atau berupa
sindrom tumpang tindih.
Anamnesis : Nyeri sendi yang tidak spesifik
Pemeriksaan fisik : Penebalan kulit
Pencekungan jari atau hilangnya substansi jari
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Kriteria mayor
Skleroderma proksimal
4. Kriteria minor
a) Sklerodaktil
250
PPK Penyakit Dalam
b) Pencekungan jari atau hilangnya substansi jari
c) Fibrosis basal di kedua paru
Diagnosis ditegakkan bila didapat 1 kriteria mayor dan 2
kriteria minor atau lebih.
Diagnosis kerja : Sklerosis Sistemik (ICD 10:
Diagnosis banding : Mixed Connective Tissue Disease (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - LED (ICD 9CM:
- CRP (ICD 9CM:
- ANA test (ICD 9CM:
- Radiologi tangan (ICD 9CM:
- Foto thoraks (ICD 9CM:
- Uji fungsi paru (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- Biopsi kulit (ICD 9CM:
Terapi : - Penyuluhan dan dukungan psikososial
- Proteksi terhadap suhu dingin untuk mengatasi
fenomena Raynaud
- Bila terdapat ulkus atau gangren, harus dirawat
dengan baik dan diberikan antibiotik yang adekuat.
Dapat dicoba D-penisilamin 3x250 mg. Bila gagal dapat
diberikan H2 antagonis, omeprazol, dan obat-obat
prokinetik.
- Pada keadaan krisis renal, dapat diberikan captopril.
Bila fungsi ginjal memburuk, dapat dilakukan dialisis.
- Pada pneumonitis, dapat diberikan glukokortikoid
atau siklofosfamid.
Edukasi - Penyuluhan dan dukungan psikososial
- Proteksi terhadap suhu dingin untuk mengatasi
fenomena Raynaud
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Skelosis Sistemik dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (keadaan umum membaik)
Dirawat selama 7 hari
Target 60% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Skelosis
Sistemik; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.133-
134.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
DEMAM TYPOID (ICD 10:
Definisi : Penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi kuman
Salmonella typhi atau Salmonella partatyphi
Anamnesis : Demam naik secara bertangga pada minggu pertama lalu
demam menetap (kontinyu) atau remiten pada minggu
kedua. Demam terutama sore/ malam hari, sakit kepala,
nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare.
Pemeriksaan fisik : Febris, kesadaran berkabut, bradikardia relatif
(peningkatan suhu 1C tidak diikuti peningkatan denyut
nadi 8x/ menit), lidah yang berselaput (kotor di tengah, tepi
dan ujung merah, serta tremor), hepatomegali,
splenomegali, nyeri abdomen, roseolae (jarang pada orang
Indonesia.
250
PPK Penyakit Dalam
Kriteria diagnosis : [Link] kriteria anamnesis
[Link] kriteria pemeriksaan fisik
[Link]:
Dapat ditemukan lekopeni,lekositosis,atau leukosit
normal,aneosinofilia,limfopenia, peningkatan LED,anemia
ringan,trombositopenia,gangguan fungsi hati. Kultur darah
(biakan empedu) positif atau peningkatan titer uji widal 4
x lipat setelah satu minggu memastikan diagnosis. Kultur
darah negatif tidak menyingkirkan diagnosis. Uji Widal
tunggal dengan titer antibodi O 1/320 atau H 1/640 disertai
gambaran klinis khas menyokong diagnosis
Hepatitis Tifosa
Bila memenuhi 3 atau lebih kriteria Khosia (1990) :
hepatomegali, ikterik, kelainan laboratorium (bilirubin >
30,6 umol/l, peningkatan SGOT /SGPT, penurunan
indeks PT), kelainan histopatologi
Tifoid Karier
Ditemukannya kuman Salmonella typhi dalam biakan
feses atau urin pada seorang setelah 1 tahun pasca
demam tifoid
Diagnosis kerja : Demam tifoid (ICD 10:
Diagnosis banding : - DHF (ICD 10:
- Influenza (ICD 10:
- Malaria (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap (ICD 9CM:
SGOT (ICD 9CM:
SGPT (ICD 9CM:
Bilirubin total (ICD 9CM:
Bilirubin direct (ICD 9CM:
Widal (ICD 9CM:
kultur darah (ICD 9CM:
Terapi : -Tirah baring, makanan lunak rendah serat
-Kloramfenikol 2 gr/hari (4 x 500 mg) diberikan sampai 7
hari bebas demam
Alternatif lain:
- Tiamfenikol 4 x 500 mg
- kotrikmoksazol 2 x 2 tablet selama 2 minggu
- ampisilin dan amoksisilin 50-150 mg/kgBB selama 2
minggu
- Sefalosporin generasi ke III, seftriakson 3-4 gram
dalam dekstrose 100 cc selama 1/2 jam per infuse
sekali sehari, selama 3-5 hari
- Fluorokuinolon: norfloksasin 2 x 400 mg/hari selama
14 hari
- Levofloksasin 1x500 mg
- Kasus toksik tifoid (demam tifoid disertai gangguan
kesadaran dengan atau tanpa kelainan neurologis lainnya
dan hasil pemeriksaan cairan otak masih dalam batas
normal) langsung diberikan kombinasi kloramfenikol 4 x
500 mg dengan ampicilin 4 x 1 gram dan deksametason 3
250
PPK Penyakit Dalam
x 5 mg.
- Kombinasi antibiotika hanya diindikasikan pada toksik
tifoid, peritonitis atau perforasi, renjatan septic.
- Steroid hanya diindikasikan pada toksik tifoid atau demam
tifoid yang mengalami renjatan septik dengan dosis 3 x 5
mg.
- Kasus tifoid Karier:
Tanpa kolelitiasis: pilihan rejimen terapi selama 3 bulan
- Ampisilin 100 mg/kgBB/hari +Probenesid 30
mg/kgBB/hari
- Amoksisilin 100 mg/kgBB/hari + Probenesid 30
mg/kgBB/hari
- Kotrikmosasol 2 x 2 tablet/hari
Dengan kolelitiasis: kolesisitektomi+regimen tersebut
diatas 28 hari atau kolesistektomi + salah satu rejimen
berikut:
- Siprofloksasin 2 x 750 mg/hari
- Norfloksasin 2 x 400 mg/hari
Dengan infeksi Schistosoma haematobium pada
traktus urinarius: Eradikasi Schistosoma haematobium:
- Prazikuantel 40 mg/kgBB dosis tunggal atau
- Metrifonat 7,5-10 mg/kgBB bila perlu diberikan 3
dosis,interval 2 [Link] eradikasi berhasil,
diberikan rejimen terapi untuk tifoid karier seperti diatas.
Perhatian:
Pada kehamilan fluorokuinolon dan kotrimoksasol tidak
boleh digunakan. Kloramfenikol tidak dianjurkan pada
trimester III. Tiamfenikol tidak dianjurkan pada trimester I.
Obat yang dianjurkan golongan beta laktam: ampisilin,
amoksisilin, dan sefalosporin generasi III (seftriakson)
Edukasi - Tirah baring, makanan lunak rendah serat
Prognosis Baik. Bila penyakit berat, pengobatan terlambat/tidak
adekuat atau ada komplikasi berat, prognosis
meragukan/buruk
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Demam Tyfoid dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (keadaan umum membaik, bebas panas
selama 7 hari)
Dirawat selama 10 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.
(2009) Demam Tifoid; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.139-141.
2. Soewandojo,E., Suharto, Hadi,U., dkk.(2008);
Demam Tifoid. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.362-366.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
DEMAM BERDARAH DENGUE (ICD 10:A91)
Definisi : Penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue
dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty dan
Aedes albopictus serta memenuhi criteria WHO untuk
demam berdarah dengue (DBD)
Anamnesis : - Demam atau riwayat demam akut, antara 2 7 hari,
biasanya bifasik
Pemeriksaan fisik : Terdapat minimal satu dari manifestasi pendarahan berikut
ini:
- Uji tourniquet positif (> 20 petekie dalam 2,54 cm)
- Petekie, ekimosis, atau purpura
- Perdarahan mukosa saluran cerna, bekas suntikan,
atau tempat lain
250
PPK Penyakit Dalam
- Hematemesis atau melena
Kriteria diagnosis : Kriteria diagnosis WHO 1997 untuk DBD harus memenuhi:
1. Demam atau riwayat demam akut, antara 2 7 hari,
biasanya bifasik
2. Terdapat minimal satu dari manifestasi pendarahan
berikut ini:
- Uji tourniquet positif (> 20 petekie dalam 2,54 cm)
- Petekie, ekimosis, atau purpura
- Perdarahan mukosa saluran cerna, bekas suntikan,
atau tempat lain
- Hematemesis atau melena
3, Trombositopenia (100.000/mm3)
4. Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage:
- Hematokrit meningkat 20% dibanding hematokrit
rata-rata pada usia, jenis kelamin, dan populasi
yang sama.
- Hematokrit turun hingga 20% dari hematokrit awal,
setelah pemberian cairan
- Terdapat efusi pleura, efusi perikard, asistes, dan
hipoproteinemia
Derajat DHF:
1. Demam disertai gejala konstitusional yang tidak khas,
manifestasi perdarahan hanya berupa uji torniquet
positif dan/ atau mudah memar
2. Derajat I disertai pedarahan spontan
3. Terdapat kegagalan sikulasi: nadi cepat dan lemah
atau hipotensi, disertai kulit dingin dan lembab serta
gelisah
4. Renjatan: tekanan darah dan nadi tidak teratur DBD
derajat III dan IV digolongkan dalam sindrom renjatan
dengue
Diagnosis kerja : Demam Berdarah Dengue (ICD 10:A91)
Diagnosis banding : 1. Demam tifoid (ICD 10:A01.0)
2. Malaria (ICD 10:B54)
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap
Serologi DHF
Terapi : 1. Tirah baring, makanan lunak
2. Parasetamol bila demam
3. Cairan intravena: Ringer laktat atau ringer asetat 4-6
jam/kolf
4. Koloid/ plasma ekspander pada DBD stadium III dan
IV bila diperlukan
5. Transfusi trombosit dan komponen darah sesuai
indikasi
6. Pertimbangan heparinisasi pada DBD stadium III
atau IV dengan koagulasi intravascular diseminata
(KID)
Edukasi : Tirah baring, makanan lunak
Prognosis Bonam
Tingkat evidence IV
250
PPK Penyakit Dalam
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Demam Berdarah Dengue dilakukan rawat inap
sampai keadaan membaik (keadaan umum membaik, sakit
>7 hari, trombosit >100.000/mm3, hemokonsentrasi sudah
membaik)
Dirawat selama 7 hari
Target 90% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Demam Berdarah Dengue; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.137-138.
2. Soewandojo,E., Suharto, Hadi,U., dkk.(2008);
Demam Berdarah Dengue. Pedoman Diagnosis dan
Terapi Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya,
h.353-357.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
LEPTOSPIROSIS (ICD 10:
Definisi : Penyakit zoonosis yang disebabkan oleh spirokaeta
pathogen dari family Leptorpiraceae
Anamnesis : Demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, mual,
muntah, diare.
Pemeriksaan fisik : Injeksi konjungtiva, ikterik, fotofobia, hepatomegali,
splenomegali, penurunan kesadaran.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium: Dapat ditemukan lekosistosis,
peningkatan amilase, lipase, dan CK, gangguan fungsi hati,
gangguan fungsi ginjal. Serologi leptospira positif (titer 1/
100 atau terdapat peningkatan 4 kali pada titer ulangan)
Diagnosis kerja : Leptospirosis (ICD 10:
Diagnosis banding : 1. Hepatitis tifosa (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
2. Ikterus obstruktif (ICD 10:
3. Malaria (ICD 10:B54)
4. Kolangitis (ICD 10:
5. Hepatitis fulminan (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM
- SGOT (ICD 9CM
- SGPT (ICD 9CM
- Ureum (ICD 9CM
- Kreatinin (ICD 9CM
- Elektrolit (ICD 9CM
- Amilase (ICD 9CM
- Lipase (ICD 9CM
- Serologi leptospira (ICD 9CM
Terapi : Tirah baring, makanan/ cairan tergantung pada
komplikasi organ yang terlibat.
Simtomatis
Antimikroba:
- Pilihan utama: Penisilin G 4 x 1,5 juta unit selama 5-
7 hari
- Alternatif: tertrasiklin, eritromisin, doksisiklin,
sefalosporin generasi III, fluorokuinolon
Edukasi Tirah baring, makanan/ cairan tergantung pada komplikasi
organ yang terlibat.
Prognosis Bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Leptospirosis dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (keadaan umum membaik, bebas panas, fungsi
ginjal membaik dan fungsi hati membaik)
Dirawat selama 10 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Leptospirosis; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.142-143.
2. Soewandojo,E., Suharto, Hadi,U., dkk.(2008);
Leptospirosis. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.358-361.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
SEPSIS DAN RENJATAN SEPTIK (ICD 10:A41.9)
Definisi : Sepsis: sindrom respon inflamasi sistemik (SRIS) yang
disebabkan oleh infeksi
Renjatan Septik: sepsis dengan hipotensi, ditandai
dengan penurunan TDS <90 mmHg atau penurunan >40
mmHg dari TD awal, tanpa adanya obat-obatan yang
dapat menurunkan TD
Sepsis berat: gangguan fungsi organ atau kegagalan
fungsi organ termasuk penurun kesadaran, gangguan
fungsi hati, ginjal, paru-paru, dan asidosis metabolik
Anamnesis : Demam, berdebar-debar, akral dingin, produksi urin
menurun
Pemeriksaan fisik : Tekanan darah menurun, nadi cepat, suhu meningkat atau
dibawah normal, dan nafas cepat
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
250
PPK Penyakit Dalam
3. SRIS ditandai dengan 2 gejala atau lebih berikut:
Suhu badan >38C atau <36C
Frekuensi denyut jantung <90x/menit
Frekuensi pernapasan >24x/menit atau PaCO2 <32
Hitung leukosit >12.000/mm3 atau <4.000/mm3, atau
adanya >10% sel batang
4. Ada fokus infeksi yang bermakna
Diagnosis kerja : Sepsis dan renjatan septik (ICD 10:A41.9)
Diagnosis banding : Renjatan kardiogenik (ICD 10:
Renjatan hipovolemik (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap
- SGOT
- SGPT
- Ureum
- Kreatinin
- Gula darah
- AGD
- Elektrolit
- Kultur darah
- Kultur urin
- Kultur sputum
- Kultur pus
- Bakteriogram
- Foto toraks
Terapi : 1. Eradikasi fokus infeksi
2. Antimikroba empiris, sesuai dengan:
Tempat infeksi
Dugaan kuman penyebab
Profil antimikroba (farmakokinetik dan
farmakodinamik)
Keadaan fungsi ginjal dan fungsi hati
Antimikroba definitive bila hasil kultur mikroorganisme telah
diketahui, antimikroba dapat diberikan sesuai hasil uji
kepekaan mikroorganisme
3. Suportif: resusitasi ABC, oksigenasi, terapi cairan,
vasopresor/inotropik, dan transfusi (sesuai indikasi)
pada renjatan septik diperlukan untuk mendapatkan
respon secepatnya.
Resusitasi cairan
Hipovolemia pada sepsis segera ditangani dengan
pemberian cairan kristaloid atau koloid. Volume
cairan yang diberikan mengacu pada respon klinis
(respon terlihat dari peningkatan tekanan darah,
penurunan frekuensi jantung, kecukupan isi nadi,
perabaan kulit dan ekstremitas, produksi urin dan
perbaikan kesadaran) dan perlu diperhatikan ada
tidaknya tanda kelebihan cairan (peningkatan JVP,
ronki, gallop S, dan penurunan saturasi oksigen).
250
PPK Penyakit Dalam
Sebaiknya dievaluasi dengan CVP (dipertahankan 8-
12 mmHg) dengan mempertimbangkan kebutuhan
kalori perhari
Oksigenasi sesuai kebutuhan. Ventilator diindikasikan
pada hipoksemia yang progresif, hiperkapnia,
gangguan neurologis, atau kegagalan otot
pernapasan
Bila hidrasi cukup tapi pasien tetap hipotensi,
diberikan vasoaktif untuk mencapai tekanan darah
sistolik >90mmHg atau MAP 60 mmHg dan urin
dipertahankan >30 ml/jam. Dapat digunakan
vasopressor seperti dopamin dengan dosis >8
mcg/kgBB/menit, norepinefrin 0,03-1,5
mcg/kgBB/menit. Fenilefrin 0,5-8 mcg/kgBB/ menit,
atau epinefrin 0,1-0,5 mcg/kgBB/mennit. Bila terdapat
disfungsi miokard dapat digunakan inotropik seperti
dobutamin dengan dosis 2-28 mcg/ kgBB/menit,
dopamin 3-8 mcg/kgBB/menit, epinefrin 0,1-0,5
mcg/kgBB/menit, atau fosfodiesterase inhibitor
(amrinon dan milrinon).
Transfusi komponen darah sesuai indikasi
Koreksi gangguan metabolic: elektrolit, gula darah,
dan asidosis metabolic (secara empiris dapat
diberikan bila pH <7,2 atau bikarbonat serum
<9mEq/l, dengan disertai upaya perbaikan
hemodinamik)
Nutrisi yang adekuat
Terapi suportif terhadap gangguan fungsi ginjal
Kortikosteroid bila ada kecurigaan insufisiensi adrenal
Bila terdapat KID dan didapatkan bukti terjadinya
tromboemboli, dapat diberikan heparin dengan dosis
100 IU/kgBB bolus, dilanjutkan 15-25 IU/kgBB/jam
dengan infuse kontinu, dosis lanjutan disesuaikan
untuk mencapai target aPTT 1,5-2 kali kontrol atau
antikoagulan lainnya.
Edukasi Menjelaskan tentang penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarganya
Prognosis Dubia ad malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Sepsis dan renjatan syok dilakukan rawat inap
sampai keadaan membaik (keadaan umum membaik,
tanda SIRS tidak ditemukan, gangguan fungsi organ
membaik)
Dirawat selama 10 hari
Target 40% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Sepsis
250
PPK Penyakit Dalam
dan renjatan syok; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.144-147.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
FEVER OF UNKNOWN ORIGIN (FUO) (ICD 10:R50.9)
Definisi : FUO klasik: demam >38,30C selama lebih dari 3 minggu,
sudah dilakukan pemeriksaan intensif selama 3 hari bila
pasien dirawat atau minimal 3 kali kunjungan pasien
rawat jalan tetapi belum dapat ditemukan penyebab
demam, penyebab: infeksi, neoplasma, penyakit kolagen
dan vaskuler.
FUO pada pasien HIV: demam >38,30C selama 4 minggu
atau lebih pada pasien rawat jalan atau minimal 4 hari
pada pasien yang dirawat dengan hasil pertumbuhan
mikroorganisme negative dari dugaan fokus infeksi,
penyebab: infeksi, obat, sarcoma, limfoma.
FUO pada pasien netropenia (jumlah lekosit PMN
<500/mm3): demam >38,30C dalam 3 hari perawatan
pertumbuhan mikroorganisme masih negative dari
dugaan fokus infeksi, penyebab: infeksi.
250
PPK Penyakit Dalam
FUO pada pasien pediatri (usia <18 tahun): demam
>38,30C selama lebih dari 8 hari, sudah dilakukan
pemeriksaan intensif selam 3 hari bila pasien dirawat
atau minimal 3 kali kunjungan pasien rawat jalan tetapi
belum dapat ditemukan penyebab demam, penyebab:
infeksi, penyakit kolagen, neoplasma.
FUO pada pasien nosokomial: demam >38,30C timbul
pada pasien yang dirawat di RS pada saat mulai dirawat
serta pada masa permulaan perawatan tidak terjangkit
infeksi, penyebab demam tidak diketahui dalam waktu 3
hari termasuk hasil pertumbuhan mikroorganisme
negative dari dugaan fokus infeksi, penyebab: infeksi.
FUO iatrogenik: demam >38,30C akibat penggunaan
obat: penisilin, sefalosporin, sulfonamide, atropine,
fenitoin, prokainamida, amfoterisin, interferon, interleukin,
rifampisin, INH, makrolida, klindamisin, vankomisin,
aminogliksida, allopurinol.
Anamnesis : - Anamnesis cermat, teliti dan berulang
- Riwayat penyakit secara terperinci: pola demam,
ada tidaknya infeksi saluran napas atas, infeksi saluran
napas bawah, kaku leher, nyeri perut, disuria, sakit
pinggang, diare, abses atau radang tonsil dan otot, nyeri
dan pembengkakan sendi, atau tanpa kelainan spesifik
- Riwayat pekerjaan, perjalanan, kontak dengan
orang sakit atau hewan, trauma fisik atau bedah, obat-
obatan (termasuk rokok, alkohol, narkoba), keadaan kulit
pasien, kelenjar getah bening, lubang orifices pasien
Pemeriksaan fisik : Pemeriksaan fisik cermat, teliti dan berulang
Tekanan darah bisa menurun
Nadi cepat
Suhu >38,5oC
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium
Diagnosis kerja : FUO (ICD 10:R50.9)
Diagnosis banding : Sepsis (ICD 10:A41.9)
Penyakit kolagen (ICD 10:
Neoplasma (ICD 10:
Efek samping obat (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Bakteriogram (ICD 9CM:
- Darah lengkap (ICD 9CM:
- Urin lengkap (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- SGOT (ICD 9CM:
- SGPT (ICD 9CM:
- Imunologi (ICD 9CM:
- Foto thorax (ICD 9CM:
- Biopsi jaringan tubuh (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
- USG (ICD 9CM:
- EKG (ICD 9CM:
- CT scan (ICD 9CM:
- Endoskopi / peritoneoskopi (ICD 9CM:
- Limfografi (ICD 9CM:
- Tindakan bedah (laparotomi) (konsul bedah) (ICD
9CM:
- Uji pengobatan (ICD 9CM:
Terapi : Simtomatis
Uji terapeutik dengan antibiotika, kortikosteroid, atau obat
antiinflamasi non steroid tidak dianjurkan kecuali bila
penyakit progresif dan potensial fatal sehingga terapi
empiric dibutuhkan
Edukasi Menjelaskan penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarganya
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien FUO dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (keadaan umum membaik, demam tidak
ditemukan)
Dirawat selama 10 hari
Target 50% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Sepsis
FUO; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.146-
147.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
MALARIA (ICD 10:B54)
Definisi : Penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit
plasmodium falsiparum, plasmodium vivax, plasmodium
ovale, atau plasmodium malariae dan ditularkan melalui
gigitan nyamuk anopheles
Anamnesis : - Riwayat demam intermiten atau terus menerus
- Riwayat dari atau pergi ke daerah endemik malaria
- Trias malaria (keadaan menggigil yang diikuti
dengan demam kemudian timbul keringat yang banyak;
pada daerah endemik malaria trias malaria mungkin tidak
ada, diare dapat merupakan gejala utama)
Pemeriksaan fisik : - Konjungtiva pucat
- Sclera ikterik
- Splenomegali
250
PPK Penyakit Dalam
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium
Malaria Berat: ditemukannya [Link] dalam stadium
aseksual disertai satu atau lebih gejala berikut:
1. Malaria serebral: koma dalam yang tak dapat/sulit
dibangunkan dan bukan disebabkan penyakit lain
2. Anemia berat (normositik) pada keadaan hitung
parasit >10.000; (Hb<5 g/dl atau hematokrit <15%)
3. Gagal ginjal akut (urin <400 ml/24 jam pada orang
dewasa, atau <12 ml/KgBB pada anak-anak
setelah dilakukan rehidrasi disertai kreatinin >3
mg/dl)
4. Edema paru/ acute respiratory distress syndrome
(ARDS)
5. Hipoglikemia (gula darah <40 mg/dl)
6. Gagal sirkulasi atau syok(tekanan sistolik <70
mmHg, disertai keringat dingin atau perbedaan
temperatur kulit mukosa >10C)
7. Perdarahan spontan dari hidung, gusi , saluran
cerna, dan/atau disertai gangguan koagulasi
intravaskuler
8. Kejang berulang lebih dari 2 kali dalam 24 jam
setelah pendinginan pada hipertermia
9. Asidemia (pH <7,25) atau asidosis (bikarbonat
plasma <15 mEq/l)
10. Hemoglobin makroskopik oleh karena infeksi
malaria akut (bukan karena efek samping obat
antimalaria pada pasien dengan defisiensi G6PD)
11. Diagnosis pasca kematian dengan ditemukannya
[Link] yang padat, pada pembuluh darah
kapiler otak
Beberapa keadaan juga digolongkan malaria berat sesuai
dengan gambaran klinis daerah setempat:
1. Gangguan kesadaran
2. Kelemahan otot tanpa kelainan neurologis (tak
bisa duduk/jalan)
3. Hiperparasitemia >5% pada daerah hipoendemik
atau daerah tak stabil malaria
4. Ikterus (bilirubin >3 mg/dl). Hiperpireksia
(temperatur rektal >400C)
Diagnosis kerja : Malaria (ICD 10:B54)
Diagnosis banding : Infeksi virus (ICD 10:
Demam tifoid toksik (ICD 10:
Hepatitis fulminan (ICD 10:
Leptospirosis (ICD 10:
Ensefalitis (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Urin lengkap (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
- Darah tetes tebal malaria (ICD 9CM:
- Darah tetes tipis malaria (ICD 9CM:
- Serologi malaria (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- SGOT (ICD 9CM:
- SGPT (ICD 9CM:
- Gula darah (ICD 9CM:
- AGD (ICD 9CM:
- Elektrolit (ICD 9CM:
- Foto toraks (ICD 9CM:
- EKG (ICD 9CM:
Terapi : 1. Infeksi P. vivax atau P. ovale
a. Daerah sensitive klorokuin
Klorokuin basa 150 mg:
Hari I: 4 tablet +2 tablet (6 jam kemudian),
Hari II dan III: 2 tablet, atau
Hari I dan II: 4 tablet
Hari III: 2 tablet
Terapi radikal: primakuin 1 x 15 mg selama 14 hari
Bila gagal dengan terapi klorokuin, kina sulfat 3 x
400-600 mg/hari selama 7 hari
b. Daerah resisten klorokuin
Kina 3x400-600mg selama 7 hari
Terapi radikal ditambah primakuin 1x15mg selama
14 hari
2. Infeksi [Link] ringan/sedang, infeksi campuran
[Link] dan [Link]:
a. Klorokuin basa 150 mg:
Hari I: 4 tablet +2 tablet (6 jam kemudian),
Hari II dan III: 2 tablet, atau
Hari I dan II: 4 tablet
Hari III: 2 tablet
b. Bila perlu terapi radikal falciparum diberikan
primakuin 45 mg (dosis tunggal), infeksi campuran
diberikan primakuin 1x15 mg selama 14 hari, bila
resisten dengan pengobatan tersebut diberikan
Sulfadoxin Pirimetamin 3 tablet (dosis tunggal) atau
kina sulfat 3x400-600 mg/hari selama 7 hari
3. Malaria berat
a. Artesunat IV/IM 2,4 mg/kgBB diberikan pada jam
ke-0, 12, 24, dilanjutkan 1 kali per hari
b. Drip kina HCL 500 mg (10 mg/kgBB) dalam 500 ml
D5% diberikan dalam 6-8 jam (maksimum 2000 mg)
dengan pemantauan EKG dan kadar gula darah tiap
8-12 jam sampai pasien dapat minum obat per oral
atau sampai hitung parasit malaria sesuai target
(total pemberian parenteral dan per oral selama 7
hari dengan dosis per oral 10 mg/kg BB/24 jam
diberikan 3 kali sehari)
250
PPK Penyakit Dalam
c. Pengobatan dengan kina dapat dikombinasikan
dengan tetrasiklin 94 mg/kgBB diberikan 4 kali
sehari atau dosisiklin 3 mg/kgBB sekali sehari
Perhatian: Sulfadoxin Pirimetamin tidak boleh diberikan
pada bayi dan ibu hamil. Primakuin tidak boleh diberikan
pada ibu hamil, bayi, dan penderita defisiensi G6PD.
Klorokuin tidak boleh diberikan pada perut kosong. Pada
pemberian kina parenteral, bila obat sudah diterima selama
48 jam tetapi belum ada perbaikan dan atau terdapat
gangguan fungsi ginjal, maka dosis selanjutnya diturunkan
sampai 30-50%. Kortikosteriod merupakan kontraindikasi
pada malaria serebral.
Pemantauan pengobatan: hitung parasit minimal tiap 24
jam, target hitung parasit pada H1 50% dari H0 dan
H3<25% dari H0. Pemeriksaan diulang sampai dengan
tidak ditemukan parasit malaria dalam 3 kali pemeriksaan
berturut-turut.
Pencegahan: klorokuin basa 5 mg/kgBB, maksimal
300mg/minggu diminum tiap minggu sejak 1 minggu
sebelum masuk daerah endemic sampai dengan 4 minggu
setelah meninggalkan daerah endemic atau dosisiklin 1,5
mg/kgBB/hari dimulai satu hari sebelum pergi ke daerah
endemis malaria s/d 4 minggu setelah meninggalkan
daerah endemis.
Edukasi - Menjelaskan tentang penyakitnya kepada pasien dan
atau keluarganya.
- Mengikuti petunjuk yang diberikan oleh dokter
Prognosis Malaria falsiparum ringan/sedang, malaria vivax, malaria
ovale: bonam
Malaria berat: dubia ad malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Malaria dilakukan rawat inap bila malaria berat,
dirawat sampai keadaan membaik (keadaan umum
membaik, bebas panas, tidak ditemukan parasit dalam
darah)
Dirawat selama 5 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Malaria; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.148-150.
2. Soewandojo,E., Suharto, Hadi,U., dkk.(2008); Malaria.
Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam RSUD
dr. Soetomo, Surabaya, h.378-382.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
DIARE AKUT (ICD 10:
Definisi : Suatu keadaan dimana frekuensi buang air besar
>3x/hari atau >200g dalam 24 jam dengan konsistensi
tinja berbentuk cair.
Anamnesis : - Buang air besar >3x/hari atau >200g dalam 24 jam
- Konsistensi tinja berbentuk cair
Pemeriksaan fisik : - Tekanan darah bisa menurun
- Nadi cepat bila terjadi dehidrasi
- Suhu bisa meningkat
- Terdapat tanda dehidrasi (mata cowong, lidah
kering, turgor kulit menurun , produksi urin menurun,
akral dingin)
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Diare Akut (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
Diagnosis banding : Hiperdefekasi (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Feses lengkap (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- Gula darah (ICD 9CM:
- Elektrolit (ICD 9CM:
Terapi : - Istirahat
- Diit TKTP lunak
- Rehidrasi dapat per oral pada dehidrasi ringan, dan
parenteral pada dehidrasi sedang dan berat
- Antibiotika:
a. Tetrasiklin 4x500mg/hari selama 3hari
b. Ciprofloksasin 2x500mg/hari selama 3-5hari
c. Bila curiga shigelosis diberikan ampicilin 4x1g
selama 5hari
d. Bila curiga amoebiasis diberikan metronidazol
4x500mg/hari selama 7hari
e. Bila penyebabnya jamur diberikan antijamur
Edukasi - Menjelaskan tentang penyakitnya kepada pasien dan
atau keluarganya.
- Mengikuti petunjuk yang diberikan oleh dokter
- Istirahat
- Diit TKTP lunak
Prognosis Bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Diare akut dilakukan rawat inap bila terdapat tanda
dehidrasi atau pasien muntah dan tidak bisa minum,
dirawat sampai keadaan membaik, tidak ada dehidrasi, dan
diare membaik.
Dirawat selama 3 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi Soewandojo,E., Suharto, Hadi,U., dkk.(2008); Diare akut.
Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam RSUD dr.
Soetomo, Surabaya, h.367-369.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
DIFTERI (ICD 10:
Definisi : Penyakit menular akut yang disebabkan oleh
Corynebacterium diphtheriae, khas ditandai dengan lesi
radang lokal yang biasa terdapat di saluran nafas bagian
atas dan efek toksinya terutama mengenai otot jantung
dan saraf perifer, kadang-kadang ginjal. Infeksi dapat
pula terjadi di kulit, mukosa pipi, vagina, dan konjungtiva.
Anamnesis : - Demam ringan
- Badan lemah
- Nyeri tenggorokan
- Muka pucat
- Sulit bernafas
Pemeriksaan fisik : - Tampak pseudomembran pada tonsil atau
nasofaring
- Bull neck
- Nadi cepat
- Sulit bernafas
- Nafas berbunyi (stridor respiratoir)
250
PPK Penyakit Dalam
- Bila berat dapat timbul sianosis, koma, dan renjatan
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium: Sediaan langsung dan biakan hapus dari
tenggorokan, hidung atas kuman corynebacterium
diphtheriae
Diagnosis kerja : Difteri (ICD 10:
Diagnosis banding : - Tonsilofaringitis streptokokus (ICD 10:
- Tonsilofaringitis adenovirus (ICD 10:
- Mononukleosis infeksiosa (ICD 10:
- Laringitis obstruktif akut (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Sediaan langsung dan biakan hapus (ICD 9CM:
Terapi : - Isolasi penderita di RS
- Serum anti difteri (SAD) setelah dilakukan tes
kepekaan kulit terhadap serum kuda, dengan dosis
SAD: ringan 10.000-20.000 unit, sedang 20.000-40.000
unit, berat 50.000-100.000 unit, sebaiknya diberikan
dosis tunggal IM/IV.
- Antibiotika: Penisilin procaine-G 600.000 unit
IM/12jam selama 10hari, eritromisin 4x250mg/hari
selama 7hari, klindamisis 4x150mg/hari selama 7hari,
rifampisin 600mg dosis tunggal selama 7hari.
- Trakeostomi bila ada obstruksi laring, alat pacu
jantung bila ada blok hantaran total, neurotropik bila ada
kelainan saraf.
- Imunisasi sebagai tindakan pencegahan.
Edukasi - Menjelaskan tentang penyakitnya kepada pasien dan
atau keluarganya.
- Mengikuti petunjuk yang diberikan oleh dokter
- Isolasi penderita di RS
Prognosis Bonam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Difteri dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (bebas panas, tidak ada nyeri tenggorokan,
pseudomembran menghilang, komplikasi ke jantung, saraf,
dan ginjal membaik)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi Soewandojo,E., Suharto, Hadi,U., dkk.(2008); Difteri.
Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam RSUD dr.
Soetomo, Surabaya, h.383-384.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
INFEKSI HIV/AIDS (ICD 10: B20)
Definisi : Pasien yang terbukti terinfeksi HIV dari pemeriksaan
penunjang
Anamnesis : - Terdapat faktor risiko terjadinya infeksi HIV
- Asimptomatis (pada stadium I)
- Berat badan turun <10%
- Adanya infeksi saluran nafas atas yang rekuren
- Diare >1bulan yang tidak diketahui penyebabnya
- Demam >1bulan
- Batuk lama
Pemeriksaan fisik : - Limfadenopati generalisata
- Manifestasi mukokutan minor (dermatitis seboroik,
prurigo, infeksi jamur kuku, ulkus oral rekuren,
chelitis angularis)
- Kandidiasi oral
- Oral hairy leucoplakia
250
PPK Penyakit Dalam
- Infeksi herpes simpleks, mukokutan (> 1bulan) atau
visceral
- Kandidiasis esophagus, trakea, dan bronkus
- Tuberkulosis ekstrapulmoner
- Limfoma
- Sarcoma Kaposi
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium: Tes ELISA 3 kali reaktif dengan
reagen yang berbeda
Stadium HIV menurut WHO:
1. Stadium 1
- Asimtomatik
- Limfadenopati generalisata
2. Stadium 2
- Berat badan turun <10%
- Manifestasi mukokutan minor (dermatitis seboroik,
prurigo, infeksi jamur kuku, ulkus oral rekuren,
chelitis angularis)
- Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
- Infeksi saluran napas atas rekuren
3. Stadium 3
- Berat badan turun >10%
- Diare yang tidak diketahui penyebab > 1 bulan
- Demam berkepanjangan (intermiten atau konstan)
>1 bulan
- Kandidiasi oral
- Oral hairy leucoplakia
- Tuberkulosis paru
- Infeksi bakteri berat (pneumonia, piomiostitis)
4. Stadium 4
- HIV wasting syndrome
- Pneumonia pneumocyststis carinii
- Toksoplasma serebral
- Kriptosporidiosis dengan diare >1 bulan
- Sitomegalovirus pada organ selain hati, limpa atau
kelenjar getah bening (misalnya retinitis CMV)
- Infeksi herpes simpleks, mukokutan (> 1bulan) atau
visceral
- Progressive multifocal leucoencephalopathy
- Mikosis endemic diseminata
- Kandidiasis esophagus, trakea, dan bronkus
- Mikobakteriosis atipik, diseminata, atau paru
- Septicemia salmonella non-tifosa
- Tuberkulosis ekstrapulmoner
- Limfoma
- Sarcoma Kaposi
- Ensefalopati HIV
Diagnosis kerja : HIV (ICD 10: B20)
Diagnosis banding : Penyakit imunodefisiensi primer (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Urin lengkap (ICD 9CM:
- Gula darah (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- SGOT (ICD 9CM:
- SGPT (ICD 9CM:
- Bilirubin total (ICD 9CM:
- Bilirubin direct (ICD 9CM:
- BTA sputum (ICD 9CM:
- Kultur sputum (ICD 9CM:
- Swab tenggorok dengan KOH (ICD 9CM:
- Foto thorak (ICD 9CM:
- Anti-HIV ELISA (ICD 9CM:
- Anti-HIV western Blot (ICD 9CM:
- Antigen p-24 (ICD 9CM:
- Hitung CD4 (ICD 9CM:
- Jumlah virus HIV dengan RNA-PCR (ICD 9CM:
Terapi : 1. Konseling, dukungan psikososial, menerapkan prinsip
kewaspadaan universal.
2. Terapi suportif: diet TKTP, vitamin dan mineral, susu
proten 3 kali 20gr, koreksi albumin, elektrolit, hb,
asidosis
3. Terapi infeksi oportunistik:
- TBC paru: OAT
- Pneumonia pneumokistik karinii: trimethropin
160mg-sulfometoxazole 800mg selama 21 hari.
- Toxoplasmosis: Primetamin 25-75mg sekali
dilanjutkan 25-50mg dan sulphadiazine 500-1000mg
selama 28hari.
Alternatifnya clindamicyn 300-450mg tiap 8 jam,
Pirimetamin 25-75mg perhari.
- Diare karena isospora belli: trimethropine 160mg-
sulfametoxazole 800mg selama 10hari.
- Candidiasis oral: gentian violet atau nystatin
500.000unit, 4 kali sehari atau ketokonazole 200-
400mg sehari selama 7-10hari.
- Infeksi CMV: acyclovire 5mg/kgBB 2kali sehari
selama 14-21hari atau Ganciclovir 5-6mg/kgBB 5-
7hari.
- Sepsis: ceftazidime 2gr tiap 8jam. Bila alergi dengan
betalactam dapat diberikan ciprofloxacine 400mg
tiap 12jam ditambah vancomicine 15mg/kgBB tiap
12jam
4. Terapi antiretrovirus kombinasi, efek samping dan
penanganannya:
- Terapi antiretroviral:
a. Obat penghambat reverse transcriptase
nucleosida
1. Zidovudine
250
PPK Penyakit Dalam
2. Didanosin
3. Zalcitabin
4. Stavudin, d4T
5. Lamivudin, 3TC
b. Obat penghambat reverse transcriptase
nonnucleosida
1. Nevirapin, Delavirdin, Loviride
2. Efavirenz
c. Obat penghambat protease
1. Indinavir
2. Saquinavir
3. Ritonavir
4. Nelvinavir
Obat antiretroviral sebaiknya diberikan kombinasi,
misalnya: zidovudine 200mg, 3kali sehari+
Lamivudin 150mg, 2 kali sehari, Indinavir 800mg,
3kali sehari.
5. Vaksinasi pada penderita HIV/AIDS (kontroversi)
6. Terapi pasca paparan HIV (post-exposure prophylaxis)
7. Penatalaksanaan HIV pada kehamilan
8. Penatalaksanaan konfeksi HIV dengan hepatitis C dan
B
Edukasi : Menjelaskan penyakit kepada pasien atau keluarga
penderita
Menghentikan aktifitas yang berisiko tinggi
Makan cukup, olahraga cukup, dan istirahat cukup
Prognosis Tergantung stadium penyakit
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien HIV dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik, infeksi oportunistik teratasi
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) HIV;
Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.287-288.
2. Soewandojo,E., Suharto, Hadi,U., dkk.(2008); HIV.
Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam RSUD
dr. Soetomo, Surabaya, h.348-352.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
INTOKSIKASI OPIAT (ICD 10:T65.9)
Definisi : Intoksikasi akibat penggunaan obat golongan opiate:
morfin, petidin, heroin, opium, kodein, loperamid,
dekstrometrofan
Anamnesis : - Informasi mengenai seluruh obat yang digunakan
- Sisa obat yang ada
Pemeriksaan fisik : - Pupil miosis-pin point pupil, depresi napas,
penurunan kesadaran, nadi lemah, hipotensi, tanda
edema paru, needle track sign, sianosis, spasme saluran
cerna dan bilier, kejang
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium: opiate urin positif atau kadar dalam darah
tinggi
Diagnosis kerja : Intoksikasi opiat (ICD 10:T65.9)
Diagnosis banding : Intoksikasi obat barbiturate (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
Intoksikasi obat benzodiazepine (ICD 10:
Intoksikasi etanol (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Kadar opiat darah (ICD 9CM:
- Kadar opiat urin (ICD 9CM:
- AGD (ICD 9CM:
- Elektrolit (ICD 9CM:
- Gula darah (ICD 9CM:
- Rontgen toraks (ICD 9CM:
Terapi : 1. Resusitasi A-B-C (airway- Penanganan kegawatan:
breathing-circulation) dengan memperhatikan prinsip
kewaspadaan universal. Bebaskan jalan napas, berikan
oksigen sesuai kebutuhan, pemasangan infuse dan
pemberian cairan sampai kebutuhan
2. Pemberian antidote nalokson
Tanpa hipoventilasi: dosis awal diberikan 0,4 mg IV
pelan-pelan atau diencerkan
Dengan hipoventilasi: dosis awal diberikan 1-2 mg
IV pelan-pelan atau diencerkan
Bila tak ada respon, diberikan nalokson 1-2 mg IV
tiap 5-10 menit hingga timbul respons (perbaikan
kesadaran, hilangnya depresi pernapasan, dilatasi
pupil) atau telah mencapai dosis maksimal 10 mg.
bila tetap tidak ada respon, diagnosis intoksikasi
opiate perlu dikaji ulang
Efek nalokson berkurang dalam 20-40 menit dan
pasien jatuh kedalam keadaan overdosis kembali,
sehingga perlu pemantauan ketat tanda vital,
kesadaran, dan perubahan pupil selama 24 jam.
Untuk pencegahan dapat diberikan drip nalokson
satu ampul dalam 500 ml D5% atau NaCL 0,9%
diberikan dalam, 4-6 jam
Simpan sampel urin untuk pemeriksaan opiate urin
dan dilakukan foto toraks
Pertimbangkan pemasangan ETT bila: pernafasan
tidak adekuat setelah pemberian nalokson yang
optimal, oksigenisasi kurang meski ventilasi cukup
atau hipoventilasi menetap setelah 3 jam
pemberian nalokson yang optimal.
Pasien dipuasakan 6 jam untuk menghindari
aspirasi akibat spasme pilorik
Bila diperlukan dapat dipasang NGT untuk
mencegah aspirasi atau bilas lambung pada
intoksikasi opiate oral
Activated charcoal dapat diberikan pada
intoksikasi peroral dengan memberikan 240 ml
cairan dengan 30 gram charcoal, dapat diberikan
sampai 100 gram
Bila terjadi kejang dapat diberikan diazepam IV 5-
250
PPK Penyakit Dalam
10 mg dan dapat diulang bila perlu
Pasien dirawat untuk penilaian keadaan klinis dan rencana
rehabilitasi
Edukasi 1. Menjelaskan tentang penyakitnya kepada keluarganya
dan kepada pasien bila sudah sadar
2. Kepada pasien dianjurkan untuk tidak menggunakan
opiate lagi
3. Menyarankan pasien atau keluarga agar dilakukan
rehabilitasi
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien intoksikasi opiate dilakukan rawat inap sampai
tanda-tanda intoksikasi opiate menghilang (kesadaran
membaik, diameter pupil membaik, respirasi normal
Dirawat selama 2 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Intoksikasi Opiate; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.151-152.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
INTOKSIKASI ORGANOFOSFAT (ICD 10:
Definisi : Intoksikasi akibat zat yang mengandung organofosfat
Anamnesis : - Riwayat minum/kontak dengan zat yang
mengandung organofosfat, muntah
Pemeriksaan fisik : - Bradikardia, Pupil miosis, penurunan kesadaran,
tanda-tanda aspirasi
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium: pemeriksaan bahan muntah atau darah
mengandung organofosfat
Diagnosis kerja : Intoksikasi organofosfat (ICD 10:
Diagnosis banding : - Intoksikasi organoklorin (ICD 10:
- Intoksikasi opiate (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
- Intoksikasi hidrokarbon (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Elektrolit (ICD 9CM:
- Foto toraks (ICD 9CM:
- EKG (ICD 9CM:
- Pemeriksaan organofosfat (ICD 9CM:
Terapi : Bilas lambung melalui NGT
Atropinisasi
Edukasi 1. Menjelaskan tentang penyakitnya kepada keluarganya
dan kepada pasien bila sudah sadar
2. Kepada pasien dianjurkan untuk tidak menggunakan
Organofosfat atau obat beracun lainnya.
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien intoksikasi organofosfat dilakukan rawat inap
sampai keadaan membaik (kesadaran membaik, nadi
membaik, diameter pupil normal, tanda aspirasi membaik)
Dirawat selama 3 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Intoksikasi Organofosfat; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.153.
2. Kusumobroto, H. O., Nusi, I. A. (2008); Intoksikasi
Organofosfat. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.391-394.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
INTOKSIKASI OBAT AKUT (ICD 10:
Definisi : Intoksikasi akibat insektisida fosfat organik, sedativ-
hipnotik dan analgetik, minyak tanah, bahan korosif, dan
pestisida lain (hidrokarbon klorin dan racun tikus)
Anamnesis : - Riwayat minum insektisida fosfat organik, sedativ-
hipnotik dan analgetik, minyak tanah, bahan korosif, dan
pestisida lain (hidrokarbon klorin dan racun tikus)
- Riwayat perselisihan dengan keluarga, teman dekat,
teman sekantor atau ada tidaknya masalah ekonomi
yang berat.
Pemeriksaan fisik : - Bradikardia, Pupil miosis, penurunan kesadaran,
hipersalivasi, hiperhidrosis, bau nafas yang khas.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
250
PPK Penyakit Dalam
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium:
- Pemeriksaan bahan muntah, bahan bilas lambung,
urine dan darah tanpa antikoagulan.
- Pemeriksaan kadar kholinesterase plasma.
Diagnosis kerja : Intoksikasi obat akut (ICD 10:
Diagnosis banding : - Intoksikasi organoklorin (ICD 10:
- Intoksikasi opiate (ICD 10:
- Intoksikasi hidrokarbon (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Elektrolit (ICD 9CM:
- Foto toraks (ICD 9CM:
- EKG (ICD 9CM:
- Pemeriksaan organofosfat (ICD 9CM:
Terapi : Bilas lambung melalui NGT
Infus cairan kristaloid 1500 cc/24 jam
Antidotum
Edukasi 1. Menjelaskan tentang penyakitnya kepada keluarganya
dan kepada pasien bila sudah sadar
2. Kepada pasien dianjurkan untuk tidak menggunakan
Organofosfat atau obat beracun lainnya.
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien intoksikasi obat akut dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (kesadaran membaik, nadi membaik,
diameter pupil normal, tanda aspirasi membaik)
Dirawat selama 3 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi Kusumobroto, H. O., Nusi, I. A. (2008); Intoksikasi Obat
Akut. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam
RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.386-390.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
INTOKSIKASI INSEKTISIDA HIDROKARBON IKLORIN (ICD 10:
Definisi : Intoksikasi akibat bahan pelarut maupun insektisidanya
sendiri.
Anamnesis : - Riwayat minum/kontak dengan zat yang
mengandung bahan pelarut maupun insektisida, muntah
Pemeriksaan fisik : - Muntah-muntah, tremor, kelemahan otot, dan
kejang-kejang.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium: pemeriksaan bahan dalam urin, serum
maupun biopsi jaringan lemak
Diagnosis kerja : Intoksikasi insektisida hidrokarbon iklorin (ICD 10:
Diagnosis banding : - Intoksikasi organoklorin (ICD 10:
- Intoksikasi opiate (ICD 10:
- Intoksikasi hidrokarbon (ICD 10:
250
PPK Penyakit Dalam
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Urin lengkap (ICD 9CM:
- Elektrolit (ICD 9CM:
- Foto toraks (ICD 9CM:
- EKG (ICD 9CM:
- Pemeriksaan hidrokarbon iklorin (ICD 9CM:
Terapi : Resusitasi: Nafas buatan + oksigen.
Infus cairan kristaloid 1500 cc/24 jam
Eliminasi: Bilas lambung dengan 2-4 liter air, emesis dan
katarsis
Terapi penunjang: Diazepam 5-10 mg IV, phenobarbital
50-100 mg IV, bila perlu dengan sodium tiopental 500 mg
IV perlahan-lahan
Edukasi 1. Menjelaskan tentang penyakitnya kepada keluarganya
dan kepada pasien bila sudah sadar
2. Kepada pasien dianjurkan untuk tidak menggunakan
Obat insektisida atau obat beracun lainnya.
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien intoksikasi insektisida hidrokarbon iklorin dilakukan
rawat inap sampai keadaan membaik
Dirawat selama 3 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi Kusumobroto, H. O., Nusi, I. A. (2008); Intoksikasi
Insektisida Hidrokarbon Iklorin. Pedoman Diagnosis dan
Terapi Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya,
h.395-396.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
KERACUNAN BAHAN HIPNOTIKA-SEDATIVA DAN ANALGETIKA (ICD 10:
Definisi : Keracunan yang disebabkan karena obat yang
menimbulkan sedasi dan hipnotis dengan cara menekan
susunan saraf pusat.
Macam-macam obat:
- Golongan barbiturat: Phenobarbital, amobarbital,
pentobarbital, tiopental.
- Non barbiturat: Meprobamat, metakualon,
glutbetinide.
- Anti epilepsi: Phenitoin, carbamazepin.
- Antihistamin: Antazolin, diphenhidramin.
- Phenothiazin dan derivatnya: Chlorpromazine,
chordiazepoxide, diazepam, lorazepam, haloperidol.
- Bromidum: NaBr, KBr, NH4Br
- Analgetika: Asam salisilat, acetaminophen
(paracetamol), metampiron (antalgin, novalgin).
- Analgetik narkotik: Morphine, codeine, heroin,
250
PPK Penyakit Dalam
meperidine, opium, loperamide.
Anamnesis : - Rasa ngantuk, bingung, penurunan keseimbangan
- Riwayat minum/kontak dengan zat yang
mengandung obat yang menimbulkan sedasi dan hipnotis
Pemeriksaan fisik : - Nafas pelan dan dangkal
- Hipotensi
- Sianosis
- Hipotermi atau hipertermi
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium:
- Hipokalemia
- PCO2 darah dapat meningkat
Diagnosis kerja : Keracunan Bahan Hipnotika-Sedativa dan Analgetika (ICD
10:
Diagnosis banding : - Intoksikasi organoklorin (ICD 10:
- Intoksikasi opiate (ICD 10:
- Intoksikasi hidrokarbon (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Urin lengkap (ICD 9CM:
- Elektrolit (ICD 9CM:
- Foto toraks (ICD 9CM:
- EKG (ICD 9CM:
- Pemeriksaan bahan hipnotika sedativ dan
analgetika (ICD 9CM:
Terapi : Resusitasi: intubasi endotrakeal, hisap lendir dalam
saluran nafas, masker oksigen (2-4liter/menit)
Infus cairan kristaloid 1500 cc/24 jam
Eliminasi:
- Pada penderita sadar: diberikan norit dan laksans.
- Koma derajat ringan sedang: Bilas lambung
dengan NGT diikuti diuresis paksa selama 12 jam.
- Koma derajat berat: Bilas lambung dengan pipa
endotrakeal berbalon untuk mencegah aspirasi ke
dalam paru.
Edukasi 1. Menjelaskan tentang penyakitnya kepada keluarganya
dan kepada pasien bila sudah sadar
2. Kepada pasien dianjurkan untuk tidak menggunakan
obat hipnotika sedativa dan analgetika.
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien keracunan bahan hipnotika-sedativa dan analgetika
dilakukan rawat inap sampai keadaan membaik
Dirawat selama 3 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi Kusumobroto, H. O., Nusi, I. A. (2008); Keracunan Bahan
250
PPK Penyakit Dalam
Hipnotika-Sedativa dan Analgetika. Pedoman Diagnosis
dan Terapi Penyakit Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya,
h.397-400.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
INTOKSIKASI BAHAN KOROSIF (ICD 10:
Definisi : Intoksikasi akibat zat yang mengandung asam kuat dan
basa kuat.
Macam macam:
- Asam kuat: asam oksalat, asam asetat glasial, asam
sulfat, HCI (air keras), asam format, asam laktat dan
lain-lain.
- Basa kuat: KOH, NaOH, amonium hidroksida,
CaOH, K atau Na karbonat, Na fosfat dan lain-lain
Anamnesis : - Riwayat minum/kontak dengan zat yang
mengandung asam kuat atau basa kuat.
- Nyeri yang hebat seperti terbakar disekitar mulut,
faring dan abdomen.
- Muntah-muntah dan diare.
Pemeriksaan fisik : - Sekitar mulut dapat ditemukan luka bakar yang
berwarna coklat kekuningan.
- Dapat timbul gejala-gejala asfiksia akibat edema
250
PPK Penyakit Dalam
glotis.
- Demam tinggi dapat disebabkan akibat perforasi
esofagus atau lambung.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Laboratorium: pemeriksaan bahan muntah atau darah
mengandung asam kuat atau basa kuat
Diagnosis kerja : Intoksikasi bahan korosif (ICD 10:
Diagnosis banding : - Intoksikasi organoklorin (ICD 10:
- Intoksikasi opiate (ICD 10:
- Intoksikasi hidrokarbon (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Urin lengkap (ICD 9CM:
- Elektrolit (ICD 9CM:
- Foto toraks (ICD 9CM:
- EKG (ICD 9CM:
- Pemeriksaan bahan korosif (ICD 9CM:
Terapi : Bilas lambung dan emesis merupakan kontra indikasi.
Penderita diminta minum air atau air susu sebanyak
mungkin.
Infus dextrose 5% 15-20 tetes per menit, kalau perlu
cairan koloid 500-1000 ml/24jam, atau tranfusi darah.
Kortikosteroid intravena (Dexamethason 5 mg tiap 6 jam)
selama 4-7 hari pertama kemudian dosis diturunkan
secara bertahap hingga 10-20 hari.
Antibiotik (Ampiciline 500-1000 mg tiap 6-8 jam, selama
5-7 hari) untuk pencegahan infeksi sekunder.
Pemberian diit atau obat-obat oral ditunda sampai dapat
dilakukan pemeriksaan laringoskopi direkta atau
esofagoskopi. Kalau perlu penderita dirujuk.
Edukasi - Menjelaskan tentang penyakitnya kepada keluarga
pasien.
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien intoksikasi bahan korosif dilakukan rawat inap
sampai keadaan membaik
Dirawat selama 3 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi Kusumobroto, H. O., Nusi, I. A. (2008); Intoksikasi Bahan
Korosif. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Dalam
RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.401-403.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
RENJATAN ANAFILAKSIS
Definisi : Keadaan gawat darurat yang ditandai dengan (hipotensi)
penurunan tekanan darah sistolik <90mmHg akibat
hipersensitivitas tipe I (adanya reaksi antigen dengan
antibodi Ig E)
Anamnesis : - Riwayat menggunakan obat atau injeksi obat atau
makanan.
- Palpitasi, akral dingin, kencing berkurang yang
dapat disertai gejala klinis lain berupa: rasa geli/gatal
serta hangat, rasa penuh di mulut sampai tenggorokan,
hidung tersumbat dan terjadi edema di sekitar mata,
kulit gatal, mata berair, bersin-bersin, onset biasanya 2
jam setelah paparan antigen. Sesak, mengi, batuk,
mual, muntah, gatal, badan terasa hangat, gelisah.
250
PPK Penyakit Dalam
Suara serak, henti napas. Sakit menelan, kejang perut,
diare, dan kejang uterus, kejang umum, tidak sadar.
Pemeriksaan fisik : Hipotensi, takikardia, akral dingin, oliguria yang dapat
disertai gejala klinis lain berupa: Terjadi edema di sekitar
mata onset biasanya 2 jam setelah paparan antigen.
Spasme bronkus dan atau edema saluran napas,
angioedema, urtikaria menyeluruh. Spasme bronkus,
edema laring, stridor, sianosis, henti napas. Kejang perut,
diare, dan muntah, kejang uterus, kejang umum.
Gangguan kardiovaskuler, aritmia, koma.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Hipotensi, takikardia, akral dingin, oliguria yang dapat
disertai gejala klinis lain berupa:
- Reaksi sistemik ringan: rasa geli/gatal serta hangat,
rasa penuh di mulut san tenggorokan, hidung
tersumbat dan terjadi edema di sekitar mata, kulit
gatal, mata berair, bersin-bersin, onset biasanya 2
jam setelah paparan antigen
- Reaksi sistemik sedang: seperti reaksi sistemik
ringan ditambah dengan spasme bronkus danatau
edema saluran napas, sesak, mengi, batuk,
angioedema, urtikaria menyeluruh, mual, muntah,
gatal, badan terasa hangat, gelisah, onset seperti
reaksi anafilaktik ringan
- Reaksi sistemik berat: terjadi mendadak, seperti
raksi sistemik ringan dan sedang yang bertambah
berat/ spasme bronkus, edema laring, suara serak,
stridor, sesak napas, sianosis, henti napas. Edema
dan hipermotilitas salurann cerna sehingga sakit
menelan, kejang perut, diare, dan muntah, kejang
uterus, kejang umum. Gangguan kardiovaskuler,
aritmia, koma.
Diagnosis kerja : Renjatan anafilaksis (ICD 10:
Diagnosis banding : Renjatan kardiogenik (ICD 10:
Renjatan hipovolemik (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- Elektrolit (ICD 9CM:
- Analisa gas darah (ICD 9CM:
- EKG (ICD 9CM:
Terapi : Untuk renjatan
1. Adrenalin larutan 1:1000, 0,3:0,5 ml
subkutan/intramuscular pada lengan atas atau paha.
Bila renjatan anafilaktik disebabkan sengatan serangga
berikan suntikan adrenalin kedua 0,1-0,3 ml pada
tempat sengatan, kecuali bila sengatan di kepala, leher
tangan dan kaki. Dapat dilanjutkan infus adrenalin 1 ml
(1 mg) dalam dekstrosa 5% 250 cc dimulai dengan
250
PPK Penyakit Dalam
kecepatan 1 ug/menit dapat ditingkatkan sampai 4
ug/menit sesuai keadaan tekanan darah. Hati-hati pada
orang tua dengan kelainan jantung dan gangguan
kardiovaskuler lainnya.
2. Pasang tournikuet proksimal dari suntikan atau gigitan
serangga, dilonggarkan 1-2 menit setiap 10 menit
3. O2 bila sesak, mengi, sianosis 3-5 l/menit dengan
sungkup atau kanul nasal
4. Antihistamin intravena, intramuscular, oral
Rawat ICU bila dengan tindakan diatas tidak membaik,
dilanjutkan dengan:
1. IVFD Dekstrosa 5% dalam 0,45% NaCL 2-3 l/m2
permukaan tubuh
2. Dopamin 0,3-1,2 mg/kgBB/jam bila tekanan
darah tidak membaik
3. Kortikosteroid 7-10 mg hidrokortison/kgBB
intravena dilanjutkan 5 mg/kgBB tiap 6 jam, yang
dihentikan setelah 72 jam
Bila disertai spasme bronkus maka dapat diberikan
1. Agonis inhalasi beta-2
2. Jika spasme bronkus menetap aminofilin 4-6
mg/kgBB dilarutkan dalam NaCl 0,9% 10 ml
diberikan perlahan-lahan dalam 20 menit, bila
perlu dilanjutkan dengan infuse aminofilin 0,2-
1,2 mg/kgBB/jam
Bila disertai edema hebat saluran napas: Intubasi dan
trakeostomi
Edukasi - Menghindari obat atau makanan yang menimbulkan
alergi
- Selalu memberitahu dokter bahwa penderita alergi
dengan obat tertentu.
Prognosis Tergantung organ yang terlibat dan beratnya gejala
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien renjatan anafilaksis dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik dan tekanan darah membaik
Dirawat selama 3 hari
Target 80% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Renjatan Anafilaksis; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.289-290.
2. Konthen, P. G.,Effendi, C., Soegiarto, G. dkk.(2008);
Anafilaksis . Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.32-43.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
ASMA BRONKIAL (ICD 10:
Definisi : Penyakit inflamasi kronik saluran napas yang ditandai
dengan obstruksi jalan napas yang dapat hilang dengan
atau tanpa pengobatan akibat hiperreaktivitas bronkus
terhadap berbagai rangsangan yang melibatkan sel-sel
dan elemen seluler terutama mastosit, eusinofil, limfosit T,
makrofag, netrofil dan epitel.
Anamnesis : Episode berulang sesak napas, dengan atau tanpa mengi
dan rasa berat di dada akibat faktor pencetus.
Pemeriksaan fisik : - Tekanan darah, nadi cepat, suhu meningkat bila
disertai dengan infeksi, respirasi meningkat.
- Pemeriksaan paru: suara bronkial (ekspirasi
memanjang), wheezing diseluruh lapangan paru.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
250
PPK Penyakit Dalam
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Berdasarkan episode sesak nafas, asma bronkial dibagi
menjadi:
- Asma intermiten, gejala asma <1 kali/minggu,
asimtomatik, APE diantara serangan normal, asma
malam <2 kali/bulan, APE>80%, variabilitas <20%
- Asma persisten ringan, gejala asma>1 kali/minggu,
<1kali/hari, asma malam >2 kali/bulan, APE >80%
variabilitas 20-30%
- Asma persisten sedang, gejala asma tiap hari, tiap
hari menggunakan beta 2 agonis kerja singkat,
aktivitas terganggu saat serangan, asma malam >1
kali/minggu, APE >60% dan <80% prediksi, atau
variabilitas >30%
- Asma persisten berat: gejala asma terus menerus,
asma malam sering, aktivitas terbatas dan APE
<60% prediksi atau variabilitas >30%. Asma
eksaserbasi akut dapat terjadi pada semua
tingkatan derajat asma
Diagnosis kerja : Asma bronkial (ICD 10:
Diagnosis banding : PPOK (ICD 10:
Oedem paru (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Jumlah eusinofil darah (ICD 9CM:
- Jumlah eusinofil sputum (ICD 9CM:
- Foto toraks (ICD 9CM:
- Spirometri (ICD 9CM:
- Uji tusuk kulit (ICD 9CM:
- Uji bronkodilator (ICD 9CM:
- Uji provokasi bronkus (ICD 9CM:
- Analisi gas darah (ICD 9CM:
Terapi : Asma intermiten tidak memerlukan obat pengendali
Asma persisten ringan memerlukan obat pengendali
kortikosteroid inhalasi (500 ug BDP atau ekuivalennya)
atau pilihan lainnya: teofilin lepas lambat, kromolin,
antileukotrien
Asma persisten sedang memerlukan obat pengendali
berupa kortikosteroid inhalasi (200-1000 ug BDP atau
ekuivalennya) ditambah dengan beta-2 agonis aksi lama
(LABA) atau pilihan kortikosteroid inhalasi (500-1000 ug
BDP atau ekuivalennya) + teofilin lepas lambat atau
kortikosteroid inhalasi (500-1000 ug BDP atau
ekuivalennya) + LABA oral atau kortikosteroid inhalasi
dosis ditinggikan (>1000 ug BDP atau ekuivalennya)
atau kortikosteroid inhalasi (500-1000 ug BDP atau
ekuivalennya) + antileukotrien
Asma persisten berat memerlukan kortiko steroid inhalasi
(>1000 ug BDP atau ekuivalennya)+LABA inhalasi +
salah satu pilihan berikut:
250
PPK Penyakit Dalam
Teofilin lepas lambat
Leukotrien
LABA oral
BDP (Budesonide Propionat)
Sedangkan untuk penghilang sesak dapat diberikan beta-
2 agonis kerja singkat inhalasi tetapi tidak boleh lebih dari
3-4 kali sehari. Antikolinergik inhalasi, agonis beta-2 kerja
singkat oral dan teofilin lepas lambat dapat diberikan
sebagai pilihan lain selain agonis beta-2 kerja singkat
inhalasi. Bila terjadi eksaserbasi akut maka tahap
penatalaksanaannya adalah sebagai berikut:
1. Oksigen
2. Inhalasi agonis beta-2 tiap 20 menit smpai 3 kali
selanjutnya tergantung respon terapi awal
3. Inhalasi antikolinergik (ipatropium bromide) setiap 4-6
jam terutama pada obstruksi berat (atau dapat
diberikan bersama-sama dengan agonis beta-2)
4. Kortikosteroid oral atau parenteral dengan dosis 40-
60 mg/hari setara dengan prednisone
5. Aminofilin tidak dianjurkan (bila diberikan dosis awal
5-6 mg/kgBB dilanjutkan infuse aminofilin 0,5-0,6
mg/kgBB/jam)
6. Antibiotic bila ada infeksi sekunder
7. Pasien diobservasi tiap 1-3 jam kemudoan dengan
pemberian agonis beta-2 tiap 60 menit. Bila setelah
masa observasi terus membaik, pasien dapat
dipulangkan dengan pengobatan (3-5 hari) : inhalasi
agonis beta-2 diteruskan, steroid oral diteruskan,
penyuluhan dan pengobatan lanjutan, antibiotic
diberikan bila ada indikasi, perjanjian kontrol berobat
8. Bila setelah observasi 1-2 jam tidak ada perbaikam
atau pasien termasuk golongan risiko tinggi:
pemeriksaan fisik tambah berat, APE (arus puncak
ekspirasi) >50% dan <70% dan tidak ada perbaikan
hipoksemia (dari hasil analisa gas darah) pasien
harus dirawat
Pasien dirawat di ICU bila tidak berespon terhadap upaya
pengobatan di unit gawat darurat atau bertambah beratnya
sserangan/ buruknya keadaan setelah perawatan 6-12 jam,
adanya penurunan kesadaran atau tanda-tanda henti
napas, hasil pemeriksaan analisis gas darah menunjukkan
hipoksemia dengan kadar pO2< 60 mmHg dan/atau pCO2
> 45 mmHg walaupun mendapat pengobatan oksigen yang
adekuat.
Edukasi - Menjelaskan penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarga pasien.
- Mengikuti petunjuk penatalaksanaan seperti yang
dianjurkan oleh dokter.
Prognosis Tergantung beratnya gejala
Tingkat evidence IV
250
PPK Penyakit Dalam
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Asma bronkial dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik, sesak nafas berkurang, wheezing
membaik.
Dirawat selama 5 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Asma
Bronkial; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.291-293.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
URTIKARIA KARENA OBAT (ICD 10:
Definisi : Kelainan kulit dan mukosa yang diinduksi obat berupa
papul kemerahan yang cepat berubah menjadi lepuhan
Anamnesis : Riwayat minum obat sebelumnya yang dapat
menginduksi penyakit missal: NSAID, sulfonamide,
antikonvulsan, penisilin, dan tetrasiklin
Gejala prodormal berupa gejala radang saluran napas,
demam, batuk, sakit kepala, malaise, nyeri menelan.
Pemeriksaan fisik : Papul kemerahan yang cepat menjadi lepuhan. Dalam
beberapa hari terjadi erosi multiple pada membrane
mukosa, lepuhan, macula purpura. Daerah yang terkena
250
PPK Penyakit Dalam
lepuhan dan pelepasan kullit <10%
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Urtikaria karena obat (ICD 10:
Diagnosis banding : Toxic epidermal necrolysis (ICD 10:
Eritema multiformis (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Hitung eusinofil (ICD 9CM:
- Elektrolit (ICD 9CM:
- Foto toraks (ICD 9CM:
- Kultur pus dari kulit (ICD 9CM:
- Kultur sputum (ICD 9CM:
Terapi : Hentikan obat penyebab
Rawat di pusat luka bakar, skin graft dini untuk mencegah
invasi bakteri
Monitor cairan dan elektrolit, termasuk monitor jumlah
urin
Monitor infeksi sekunder dengan melakukan kultur
berkala dari darah dan mukokutan
Pemberian makan tinggi kalori
Penggantian cairan elektrolit
Suction, postural drainage, nebulizer, terapi infeksi paru
segera
Konsultasi mata
Irigasi mata dengan salin hangat, caran lubrikan mata
Antasida cairan dan antagonis H2 bila ada ulserasi
gastrointestinal
Antibiotika (tergantung hasil kultur)
Edukasi Menjelaskan tentang penyakitnya kepada pasien dan atau
keluarganya
Prognosis Tergantung beratnya gejala
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien Urtikaria Karena Obat dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik, urtikaria membaik
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi 1. Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Urtikaria Karena Obat; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.294-295.
2. Konthen, P. G.,Effendi, C., Soegiarto, G. dkk.(2008);
Alergi Obat . Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit
Dalam RSUD dr. Soetomo, Surabaya, h.2-20.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
HEMOPTISIS (ICD 10:
Definisi : Ekspektorasi darah dari saluran nafas.
Darah bervariasi dari dahak disertai bercak/lapisan darah
hingga batuk berisi darah saja. Batuk darah masif adalah
batuk darah lebih dari 100ml hingga lebih dari 600ml darah
dalam 24 jam.
Klasifikasi hemoptisis berdasarkan sumber perdarahan:
Sumber trakeobronkial :
- Neoplasma (karsinoma bronkogenik, tumor
metastasis endobronkial, dll)
- Bronchitis (akut dan kronik)
- Bronkiolitiasis
250
PPK Penyakit Dalam
- Trauma
- Benda asing
Sumber parenkim paru:
- Tuberkulosis paru
- Pneumonia
- Abses paru
- Mycetoma (fungus ball)
- Sindrom goodpasture
- Granulomatosis Wegener
- Pneumonitis lupus
- Sumber vaskuler
- Stenosis mitral
- Emboli paru
- Malformasi AV
- Hematemesis
- Perdarahan nasofaring
- Koagulopati
Anamnesis : - Batuk darah berwarna segar, bercampur busa
- Riwayat batuk sebelumnya dengan dahak (jumlah, bau,
penampilan), demam, sesak, nyeri dada, riwayat
penyakit paru, penurunan berat badan, anoreksia.
- Penyakit komorbid, riwayat penyakit sebelumnya
- Kelainan perdarahan, penggunaan obat antikoagulan/
obat yang dapat menginduksi trombositopenia
- Kebiasaan merokok.
Pemeriksaan fisik : - orofaring, nasofaring: tidak ada sumber perdarahan.
- Paru: ronki basah atau kering, pleural friction rub.
- Jantung: tanda-tanda hipertensi pulmonal, mitral
stenosis, gagal jantung.
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai dengan kriteria anamnesis
2. Sesuai dengan kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Hemoptisis (ICD 10:
Diagnosis banding : Hematemesis (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- LED (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Kreatinin (ICD 9CM:
- Urine lengkap (ICD 9CM:
- Hemostasis (ICD 9CM:
- BTA sputum (ICD 9CM:
- Pewarnaan Gram(ICD 9CM:
- Foto toraks(ICD 9CM:
- Bronkoskopi(ICD 9CM:
- CT scan(ICD 9CM:
Terapi : Hemoptisis massif:
Tujuan terapi adalah mempertahankan jalan napas,
proteksi paru yang sehat,dan menghentikan perdarahan.
- Istirahat baring, kepala direndahkan tubuh miring ke sisi
sakit
- Oksigen
250
PPK Penyakit Dalam
- Infus cairan kristaloid 1500 cc/ 24 jam
- bila perlu ditranfusi darah
- Antibiotika
- Kodein tablet
- Koreksi koagulopati: vitamin K dan asam traneksamat.
- Indikasi operasi pada pasien batuk darah masif (konsul
bedah):
- Batuk darah 600cc/24 jam, dan pada observasi
tidak berhenti
- Batuk darah 100-250 cc/24 jam, Hb < 10 g/dL, dan
pada observasi tidak berhenti.
- Batuk darah 100-250 cc/24 jam, Hb >10 g/dL dan
pada observasi 48 jam tidak berhenti
Edukasi - Istirahat baring, kepala direndahkan tubuh miring ke sisi
sakit
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien hemoptisis dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (batuk darah berhenti, Hb >10 g/dL)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Hemoptisis; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.79-81.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PNEUMONIA DIDAPAT DI MASYARAKAT (ICD 10:
Definisi : - Pneumonia adalah inflamasi parenkim paru yang
disebabkan mikroorganisme selain Mikobakterium TB.
- Pneumonia Didapat Di Masyarakat (Community-
acquired Pneumonia,CAP):
- Pneumonia pada individu yang menjadi sakit di luar
rumah sakit, atau dalam 48 jam sejak masuk rumah
sakit.
- infeksi akut pada parenkim paru yang berhubungan
dengan beberapa gejala infeksi akut, disertai
adanya gambaran infiltrat akut pada radiologi toraks
250
PPK Penyakit Dalam
atau temuan auskultasi yang sesuai dengan
pneumonia (perubahan suara napas dan atau
ronkhi setempat) pada orang yang tidak dirawat di
rumah sakit atau tidak berada pada fasilitas
perawatan jangka panjang selama 14 hari sebelum
timbulnya gejala ( IDSA 2000).
Anamnesis : - Batuk, panas, sesak napas yang terjadi sebelum
masuk rumah sakit sampai 48 jam setelah masuk rumah
sakit.
Pemeriksaan fisik : - Nadi cepat, suhu meningkat, respirasi meningkat.
- Sianosis, ditemukan ronkhi.
Kriteria diagnosis : 4. Sesuai kriteria anamnesis
5. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
6. Diagnostik adanya CAP
- Foto paru terdapat infiltrat baru atau infiltrat yang
bertambah
- Terdapat 2 dan 3 gejala berikut:Demam, batuk
dengan sputum produktif, leukositosis (pada
penderita usia lanjut: gejala dapat tidak
khas/tersamar, seperti lesu, tidak mau makan, dll)
7. Pengkajian awal derajat berat penyakit dengan The
Pneumonia PORT prediction rule atau Pneumonia
Severity of Illness Index (PSI Berdasarkan proses dua
Iangkah yang mengevaluasi faktor demografis, penyakit
komorbid, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium
dan radiologis, pasien distratifikasi menjadi lima kelas
risiko mortalitas dan outcome
8. Identifikasi penyebab:
- Pewarnaan Gram sputum
- Kultur sputum
- Kultur darah
- Pemeriksaan serologis, pemeriksaan antigen,
pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR), dan
tes invasif (torakosentesis, aspirasi transtrakheal,
bronkoskopi, aspirasi jarum transtorakal, biopsi paru
terbuka dan torakoskopi): bila diperlukan.
Diagnosis kerja : Pneumonia Didapat Di Masyarakat (ICD 10:
Diagnosis banding : Tuberkulosis paru (ICD 10:
Infeksi jamur (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- LED (ICD 9CM:
- Gula darah (ICD 9CM:
- Ureum (ICD 9CM:
- Creatinin (ICD 9CM:
- SGOT (ICD 9CM:
- SGPT (ICD 9CM:
- Foto toraks (ICD 9CM:
- Analisis gas darah (ICD 9CM:
- Elektrolit (ICD 9CM:
- Pewamaan Gram sputum (ICD 9CM:
250
PPK Penyakit Dalam
- Kultur sputum (ICD 9CM:
- Kultur darah (ICD 9CM:
- Pemeriksaan serologis (ICD 9CM:
- Pemeriksaan antigen (ICD 9CM:
- Pemeriksaan polymerase chain reaction ( PCR)
(ICD 9CM:
Terapi : - Rawat jalan:
Dianjurkan untuk tidak merokok, beristirahat, dan
minum banyak cairan
Nyeri pleuritik/demam diredakan dengan parasetamol
Ekspektoran/mukolitik
Nutrisi tambahan pada penyakit yang berkepanjangan
Kontrol setelah 48 jam atau lebih awal bila diperlukan
Bila tidak membaik dalam 48 jam: dipertimbangkan
untuk
dirawat di rumah sakit, atau dilakukan foto toraks
- Keputusan merawat pasien di RS ditentukan oleh:
Derajat berat CAP
Penyakit terkait,
Faktor prognostik lain,
Kondisi dan dukungan orang di rumah
Kepatuhan, keinginan pasien.
- Rawat inap di RS:
Oksigen, bila perlu dengan pemantauan saturasi
oksigen dan konsentrasi oksigen inspirasi. Tujuannya:
mempertahankan Pa02 8 kPa dan Sa02 92 %
Terapi oksigen pada pasien dengan penyakit dasar
PPOK dengan komplikasi gagal napas dituntun dengan
pengukuran analisis gas darah berkala
Cairan: bila perlu dengan cairan intravena
Nutrisi
Nyeri pleuritik/demam diredakan dengan parasetamol
Ekspektoran/mukolitik
Foto toraks diulang pada pasien yang tidak
menunjukkan perbaikan yang memuaskan.
- Terapi Antibiotika
Pemilihan antibiotik dengan spektrum sesempit
mungkin, berdasarkan perkiraan etiologi yang
menyebabkan CAP pada kelompok pasien tertentu,
sesuai pedoman terapi empirik inisial ATS 2001
- Syarat untuk alih terapi (ATS 2001 ) :
berkurangnya keluhan batuk dan sesak napas,
suhu afebris ( < 100F) pada dua pengukuran yang
terpisah 8 jam lamanya,leukosit berkurang / menjadi
normal,
saluran gastrointestinal berfungsi baik, masukan oral
adekuat.
Syarat untuk pemulangan dapat merujuk pada kriteria
Weingarten atau Rainirez .
Edukasi Dianjurkan untuk tidak merokok, beristirahat, dan minum
250
PPK Penyakit Dalam
banyak cairan
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien pneumonia didapat di masyarakat dilakukan rawat
inap sampai keadaan membaik (sesak napas, batuk, panas
membaik)
Dirawat selama 7 hari
Target 60% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Pneumonia didapat di Masyarakat; Panduan Pelayanan
Medis PAPDI, Jakarta, h.90-99.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PNEUMONIA ATIPIK (ICD 10:
Definisi : Pneumonia yang disebabkan infeksi bakterial, tapi
mempunyai gambaran klinis radiologis tersendiri yang
berbeda dari pneumonia umumnya, yakni onset yang tidak
jelas,demam ringan sampai berat, batuk tanpa produksi
sputum, dan tidak berespons dengan terapi antibiotik -
laktam
Anamnesis : - Batuk tanpa sputum, kecuali bila penyakit
memberat/ infeksi sekunder.
- Demam ringan dapat dengan cepat meningkat
250
PPK Penyakit Dalam
hingga menggigil.
- Malaise, kelemahan seluruh anggota tubuh.
- Sakit kepala, nyeri otot.
- Nyeri dada (jarang), sesak nafas (bila berat)
Pemeriksaan fisik : Tanda-tanda radang dan konsolidasi paru: suara napas
bronkial, ronkhi.
Efusi pleura, abses paru ( bila berat).
Gejala gangguan ekstra paru ( terutama oleh Legionella
dan Mycoplasma):
- lnfeksi saluran napas atas: laryngitis, faringitis,
rhinitis
- Saluran gastrointestinal: diare, muntah, nyeri
perut, hepato-splenomegali
- Sistem kardiovaskular: bradikardia relatif,
miokarditis, perikarditis
- Gangguan sistem saraf: confusion, ensefalitis,
meningismus, paralisis Guillan Barre,
kelumpuhan saraf kranial, neuropati perifer
- Gangguan dermato-muskuloskeletal : rash,
eritema, myalgia, artritis, arthralgia,
- Gangguan sistem urogenital: glomerulonefritis,
gagal ginjal akut, abses tubo-ovarian
- Mata: bullous myringiris
- Telinga: otitis media
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Pneumonia Atipik (ICD 10:
Diagnosis banding : Pneumonia didapat di masyarakat (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Retikulosit (ICD 9CM:
- LED (ICD 9CM:
- SGOT (ICD 9CM:
- SGPT (ICD 9CM:
- Serologis (ICD 9CM:
- Foto thoraks (ICD 9CM:
Terapi : - Antibiotika dengan spektrum sesempit mungkin:
Makrolid :
- Eritromisin
- Claritomisin 2x500mg
- Azitromisin 1 x 500mg
- Roksitromisin 2 x 500 mg
Doksisiklin
Respiratory Fluorokuinolon
+ Rifampisin (bila curiga Legionella)
- Rawat jalan
Dianjurkan untuk tidak merokok, beristirahat, dan
minum banyak cairan
Nyeri pleuritik/demam diredakan dengan parasetamol
Ekspektoran/mukolitik
250
PPK Penyakit Dalam
Nutrisi tambahan pada penyakit yang berkepanjangan
Kontrol setelah 48 jam atau lebih awal bila diperlukan
Bila tidak membaik dalam 48 jam: dipertimbangkan
untuk dirawat di rumah sakit, atau dilakukan foto toraks
- Keputusan merawat pasien di RS ditentukan oleh
derajat berat
penyakit terkait faktor prognostik lain
kondisi dan dukungan orang di rumah
kepatuhan, keinginan pasien
- Rawat inap di RS
Oksigen, bila perlu dengan pemantauan saturasi
oksigen dan konsentrasi oksigen inspirasi. Tujuannya:
mempertahankan Pa02 8 kPa dan SaO2 92%.
Terapi oksigen pada pasien dengan penyakit dasar
PPOK dengan komplikasi gagal napas dituntun dengan
pengukuran analisis gas darah berkala
Cairan: bila perlu dengan cairan intravena
Nutrisi
Nyeri pleuritik/demam diredakan dengan parasetamol
Ekspektoran/mukolitik
Foto toraks diulang pada pasien yang tidak
menunjukkan perbaikan yang memuaskan
Edukasi Dianjurkan untuk tidak merokok, beristirahat, dan minum
banyak cairan
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien pneumonia atipik dilakukan rawat inap sampai
keadaan membaik (sesak napas, batuk, panas membaik)
Dirawat selama 7 hari
Target 70% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Pneumonia Atipik; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.100-102.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
GAGAL NAPAS (ICD 10:
Definisi : Ketidakmampuan mempertahankan nilai pH (keasaman),
oksigen (O2), dan karbondioksida (CO2) darah arteri
supaya tetap dalam batas normal.
Anamnesis : - Sesak napas berat, batuk, sianosis, pulsus
paradoksus, stridor, aritmia, takikardia, konstriksi pupil.
Pemeriksaan fisik : Gagal napas tipe I:
- PCO2 normal atau meningkat
- PO2 turun
250
PPK Penyakit Dalam
- Umumnya kurus
- Warna kulit pink puffer
- Hiperventilasi
- Pernafasan purse-lips
Gagal napas tipe II:
- PCO2 meningkat
- PO2 turun
- Sianosis
- Umumnya kegemukan
- Hipoventilasi
- Tremor CO2
- Edema
Kriteria diagnosis : 1. Sesuai kriteria anamnesis
2. Sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Gagal napas (ICD 10:
Diagnosis banding : Edema Paru (ICD 10:
ARDS (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : Analisa gas darah (ICD 9CM:
Foto thoraks (ICD 9CM:
Kateter Swan Ganz (ICD 9CM:
EKG (ICD 9CM:
Terapi : Tahap I:
- Perbaiki gangguan hipoksemia dengan terapi O 2
- Bronkodilator nebulizer
- Humidifikasi
- Fisioterapi dada
- Antibiotika
Tahap II:
- Bronkodilator parenteral
- Kortikosteroid
Tahap III:
- Stimulan pernapasan
- Mini trakeostomi jika retensi sputum
Tahap IV:
- Ventilasi mekanik
Edukasi Menjelaskan penyakitnya kepada pasien dan atau keluarga
pasien
Prognosis Malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien gagal napas dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (sesak napas membaik, tanda gagal napas
menghilang)
Dirawat selama 10 hari
Target 40% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Gagal
Napas; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.103-
250
PPK Penyakit Dalam
104.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (ICD 10:
Definisi : Penyakit yang ditandai dengan adanya perlambatan aliran
udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Perlambatan
aliran udara umumnya bersifat progresif dan berkaitan
dengan respons inflamasi yang abnormal terhadap partikel
atau gas iritan (GOLD 2001).
Anamnesis : - Sesak napas, batuk-batuk kronis, sputum yang
produktif.
- Riwayat paparan dengan faktor risiko
- Riwayat keluarga PPOK
- Riwayat eksaserbasi dan perawatan di RS
sebelumnya, komorbiditas, dampak penyakit terhadap
aktivitas.
250
PPK Penyakit Dalam
Pemeriksaan fisik : - Pernapasan pursed lips,
- Takipnea,
- Dada emfisematous atau barrel cest
- Tampilan fisik pink puffer atau blue bloater
- Bunyi napas vesikuler melemah
- Ekspirasi memanjang
- Ronki kering atau wheezing
- Bunyi jantung jauh.
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
3. Diagnosis pasti dengan uji spirometri:
- FEV1/FVC<70%
- Uji bronkodilator (saat diagnosis ditegakkan) : FEV 1
pasca bronkodilator < 80% prediksi
4. Uji coba kortikosteroid
5. Analisis gas darah pada:
- Semua pasien dengan VEP1 <40% prediksi
- Secara klinis diperkirakan gagal napas atau payah
jantung kanan.
Diagnosis kerja : Penyakit Paru Obstruktif Kronik (ICD 10:
Diagnosis banding : - Asma bronkial (ICD 10:
- Bronkiektasis (ICD 10:
- Gagal jantung kongestif(ICD 10:
- Pneumonia (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Spirometri (ICD 9CM:
- Foto toraks(ICD 9CM:
- Darah lengkap (ICD 9CM:
- Analisis gas darah(ICD 9CM:
- Sputum Gram(ICD 9CM:
- Kultur (ICD 9CM:
Terapi : - Usaha mengurangi faktor risiko
Edukasi-motivasi berhenti merokok
- Terapi PPOK StabiI
a. Bronkodilator
- Secara inhalasi (MDI), kecuali preparat tak
tersedia / tak terjangkau
- Rutin (bila gejala menetap) atau hanya bila
diperlukan (gejala intermitten)
- Golongan agonis 2: fenopterol, salbutamol,
albuterol, terbutalin, formoterol, salmeterol.
- Antikolinergik : ipratropium bromid,oksitroprium
bromid
- Metilxantin: teofilin lepas lambat, bila kombinasi
-2 dan steroid belum memuaskan
- Dianjurkan bronkodilator kombinasi daripada
meningkatkan dosis bronkodilator monoterapi
b. Steroid:
- PPOK yang menunjukkan respons pada uji
steroid
- PPOK dengan FEV1 <50% prediksi ( stadium IIB
250
PPK Penyakit Dalam
dan III)
- Eksaserbasi akut
c. Obat-obat tambahan lain
- Mukolitik (mukokinetik, mukoregulator):
ambroksol, karbosistein, gliserol iodida
- Antioksidan: N-aseti1-sistein
- Imunoregulator(imunostimulator,
imunomodulator): tidak rutin
- antitusif: tidak rutin
- vaksinasi: influenza, pneumokok
Terapi Non-farmakologis.
a. Rehabilitasi: latihan fisik, latihan pernapasan,
rehabilitasi psikososial
b. Terapi oksigen jangka panjang (>15jam sehari): Pada
PPOK stadium III,
AGD =
- PaO2< 55 mm Hg, atau SaO2 88% dengan /
tanpa hiperkapnia
- PaO2 55 60mmHg, atau SaO2 88 % diserta
hipertensi pulmonal, edema perifer karena gagal
jantung, polisitemia.
c. Nutrisi
d. Pembedahan: pada PPOK berat, (bila dapat
memperbaiki fungsi paru atau gerakan mekanik paru)
- Terapi PPOK Eksaserbasi Akut
Terapi Eksaserbasi Akut di rumah sakit:
Terapi oksigen terkontrol, melalui kanul nasal atau
venturi mask.
Bronkodilator inhalasi agonis 2 (dosis & frekuensi
ditingkatkan) + antikolinergik.
Pada eksaserbasi akut berat: + Aminofilin
(0,5mg/kgbb/jam)
Steroid: Prednisolon 30-40mg P0 selama 10 - 14
hari
Steroid intra vena: pada keadaan berat
Antibiotika terhadap S pneumonie, H influenza, M
catarrhalis.
Ventilasi mekanik pada gagal napas akut atau
kronik.
Edukasi Motivasi untuk berhenti merokok
Prognosis Dubia
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien penyakit paru obstruktif kronik dilakukan rawat inap
sampai keadaan membaik (sesak napas berkurang, batuk
membaik)
Dirawat selama 7 hari
250
PPK Penyakit Dalam
Target 70% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Penyakit
Paru Obstruktif Kronik; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.105-108.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
EMBOLI PARU (ICD 10:
Definisi : Emboli paru adalah kelainan jaringan paru yang
disebabkan oleh embolus pada arteri pulmonalis paru.
Bekuan vena sistemik yang menyangkut di percabangan
arteri pulmonalis, merupakan komplikasi thrombosis vena
dalam (DVT) yang umumnya terjadi pada kaki atau
panggul.
Anamnesis : - Sesak napas, nyeri dada, batuk darah
Pemeriksaan fisik : - Takipneu
- Takikardi
250
PPK Penyakit Dalam
- Pleural rub
- Tanda-tanda efusi pleura
- Tanda-tanda gagal jantung kanan akut (JVP meningkat,
bunyi P2 mengeras, murmur sistolik daerah katup
pulmonal)
Kriteria diagnosis : 1. sesuai kriteria anamnesis
2. sesuai kriteria pemeriksaan fisik
Diagnosis kerja : Emboli Paru (ICD 10:
Diagnosis banding : - Pneumonia (ICD 10:
- Bronkitis (ICD 10:
- Asma bronkial (ICD 10:
- Bronkitis kronis eksaserbasi akut (ICD 10:
- Infark miokard (ICD 10:
- Edema paru (ICD 10:
- Kanker paru (ICD 10:
- Pneumotoraks (ICD 10:
- Tamponade (ICD 10:
- Fraktur iga (ICD 10:
- Hipertensi pulmoner primer (ICD 10:
- Nyeri muskuloskeletal (ICD 10:
Pemeriksaan penunjang : - Darah lengkap (ICD 9CM:
- Urin lengkap (ICD 9CM:
- Analisis gas darah (ICD 9CM:
- D-dimer plasma (ICD 9CM:
- Hemostasis(PT, aPTT, INR, aktivitas protombin, kadar
fibrinogen)(ICD 9CM:
- Kadar protein C dan S (ICD 9CM:
- Ventilation/perfusion lung scan (ICD 9CM:
- EKG (ICD 9CM:
- Angiografi pulmoner (ICD 9CM:
Terapi : - Terapi primer
Obat trombolitik diindikasikan pada emboli paru
massif yang menyebabkan instabilitas
hemodinamik atau gagal napas, streptokinase:
dosis loading 250.000 IU drip Iv dalam 30 menit.
Dilanjutkan 100.000 IU perjam drip IV selama total
24 jam.
- Terapi preventif
Antikoagulan Unfractionated heparin secara
intravena, diberikan kontinyu atau intermiten, bolus
inisial IV 80 IU/kgBB atau sekitar 5000 IU,
dilanjutkan dengan drip 18 IU/kgBB/jam IV
- Pematauan dengan pemeriksaan aPTT setiap 6
jam: target 1,5-2,5 x kontrol. Bila hasil aPTT >
2,5 x kontrol dosis diturunkan 100-200 IU/jam,
bila hasil aPTT <1,5 x kontrol dosis dinaikkan
100-200 IU/jam, bila aPTT 1,5-2,5 x kontrol dosis
dipertahankan. Pemantauan aPTT hari ke II tiap
12 jam, hari III setiap 24 jam.
- Setelah 7 hari heparinisasi: ditambahkan
250
PPK Penyakit Dalam
antikoagulan oral selama kurang lebih 5 hari,
hingga tercapai target INR pada 2 kali
pemeriksaan berturut-turut.
- Selama pemberian antikoagulan, perlu
diperhatikan lesi fokal di tempat lain, prosedur
invasive yang direncanakan, dipantau jumlah
trombosit.
Antikoagulan Low Molecular Weight Heparin
(LMWH) diberikan subkutan tiap 12 jam. Dosis
LMWH yaitu enoxaparin 1 mg/kgBB sedangkan
nadroparin 0,1 mL/kgBB. Pada obesitas, BB <50 kg,
gagal ginjal kronik, kehamilan, dapat diperiksakan
anti factor Xa; target 0,3-0,7 IU.
Antikoagulan oral (warfarin) dimulai sesudah 7 hari
pemberian heparin dengan dosis awal 5 mg/hari.
Pemantauan dengan pemeriksaan INR tiap 1-3 hari:
target INR 2-3. Bila INR <2 dosis dinaikkan
tablet/hari, bila INR >3 dosis diturunkan, bila INR 2-3
dosis dipertahankan.
- Terapi suportif
Oksigen
Infus cairan kristaloid
Inotropik: dobutamin drip bila hipotensi atau tanda-
tanda gagal jantung akut lain.
Vasopressor sesuai indikasi
Anti aritmia sesuai indikasi
Analgetika
Edukasi Menjelaskan tentang penyakitnya kepada keluarga dan
atau pasien.
Prognosis Malam
Tingkat evidence IV
Tingkat rekomendasi C
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pasien emboli paru dilakukan rawat inap sampai keadaan
membaik (sesak napas menghilang, nyeri dada membaik,
batuk darah berhenti)
Dirawat selama 7 hari
Target 40% pasien tertangani
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Emboli
Paru; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta, h.117-
120.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR KARDIOVERSI
Definisi : Upaya konversi secara elektrik pada aritmia atrial atau
ventrikular memakai DC (Direct Current) shock yang
synchronized dan DC shock nonsynchronized yang juga
disebut defibrillation. Saat kejutan yang synchronized yaitu
pada awal gelombang T kira-kira 30 ms sebelum apeks
gelombang T.
Tujuan : Menghentikan aritmia yang mengancam menjadi irama
sinus yang normal.
250
PPK Penyakit Dalam
Indikasi : Fibrilasi ventrikular, fluter atrial atau fibrilasi atrial yang
menyebabkan gangguan hemodinamik dan tak
responsif dengan terapi farmakologis
Takikardia supraventrikular yang menyebabkan
gangguan hemodinamik dan tak responsif dengan obat
antiaritmia atau manuver vagal
Takikardia ventrikular yang menyebabkan gangguan
hemodinamik dan tak responsif dengan obat antiaritmia.
Kontraindikasi : Fibrilasi atrial kronik pada stenosis mitral atau
regurgitasi mitral dan tirotoksikosis
Fibrilasi atrial dengan slow ventricular rate
Hipokalemia
Keracunan digitalis
Persiapan : 1. Penjelasan seperlunya kepada pasien dan keluarga
2. Alat kardioversi dan monitor jantung berfungsi baik
3. Sebaiknya puasa untuk menghindari regurgitasi/asfiksia
4. Pemakaian digitalis dihentikan 1-2 hari sebelum
tindakan
5. Kadar elektrolit serum harus optimal
6. Oksigen terpasang
7. Premedikasi meperidin 100 mg atau diazepam 5 mg IV.
Prosedur tindakan : Fluter atrial dimulai dengan dosis 20 joule bila gagal
diulang memakai 50 atau 100 joule
Fibrilasi atrial diawali dengan dosis 100 joule bila gagal
bisa 200-300 joule. Sehari sebelumnya pasien diberi
kuinidin oral tiap 6 jam kadangkala obat ini diperlukan
untuk jangka waktu lama. Prokainamid dapat dipakai
bila pasien tak toleran dengan kuinidin
Takikardia supraventrikular 10 joule biasanya efektif.
100 joule hampir selalu efektif
Fibrilasi ventrikular dosis awal 200 joule bila gagal
segera pakai 360 joule.
Lama tindakan : 15 menit
Komplikasi Bradiaritmia atau asistol sehingga perlu disiapkan
atropin, isoproterenol, dan pacu jantung sementara
Takiaritmia ventrikular atau fibrilasi ventrikular, pasien
perlu dimonitor kira-kira 8 jam pasca tindakan.
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Tindakan kardioversi dilakukan selama sekitar 15 menit
dan dievaluasi sampai dengan 24 jam.
Target 50% pasien terjadi konversi dari aritmia yang
mengancam menjadi irama sinus normal.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Kardioversi; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.331-332.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR PENYUNTIKAN INTRA-ARTIKULAR
Definisi : Suatu terapi lokal dengan tujuan memberikan efek
analgesik anti inflamasi di daerah sendi.
Tujuan : Memberikan efek analgesik antiinflamasi di daerah sendi.
Indikasi : 1. Aspirasi cairan sendi: tindakan ini penting dalam rangka
memastikan diagnosis jika penyebab efusi sendi berupa
sepsis, deposit kristal, atau pendarahan. Juga berguna
dalam membedakan kelainan sendi inflamatif atau
noninflamatif. Aspirasi juga mempunyai arti terapeutik
250
PPK Penyakit Dalam
dengan jalan mengeluarkan darah, pus, cairan sendi
yang terlalu banyak atau yang mengandung kristal.
2. Suntikan/pemberian obat: penyuntikan bahan tertentu
ke dalam ruang sendi merupakan prosedur terapeutik,
dan dilakukan dalam keadaan-keadaan sebagai berikut,
dengan syarat infeksi harus telah disingkirkan:
a. Hanya 1 atau beberapa sendi yang meradang
b. Hanya 1 atau beberapa sendi yang lebih meradang
dari yang lain
c. Jika terapi sistemik dikontraindikasikan
d. Sebagai pelengkap terapi sistemik terhadap
kelainan/keradangan sendi yang sulit diatasi
e. Membantu mobilisasi dan mencegah deformitas
sendi, bersama-sama dengan program rehabilitasi
f. Keluhan reumatik ekstra-artikular: bursitis,
tenosinovitis, nerve entrapement syndrome dsb
g. Menghilangkan nyeri dengan cepat
h. Biasanya tidak diberikan pada osteoartritis, kecuali
pada kasus tertentu yaitu untuk menghilangkan
nyeri pada osteoartritis yang menunjukkan tanda
inflamasi lokal.
Kontraindikasi : 1. Infeksi lokal
2. Hipersensitifitas terhadap bahan yang disuntikkan
3. Diatesa hemoragik
4. Sendi yang tidak stabil
5. Fraktur intra-artikuler
6. Sendi yang tidak dapat dicapai
7. Osteoporosis juxta-artikuler
8. Kegagalan suntikan terdahulu
9. Tidak ada indikasi yang tepat
10. Lesi yang mungkin tidak akan memberikan respons
terhadap suntikan
11. Psikologis: penderita neurosis mungkin akan
bergantung kepada suntikan
12. Penderita yang takut disuntik
Persiapan : Semua perlengkapan yang dipakai harus steril. Umumnya
dipakai spuit dan jarum yang disposable. Ukuran jarum
yang dipakai disesuaikan dengan besar sendi yang akan
disuntik. Misalnya jarum nomor 19 atau 21 untuk sendi
besar, sedangkan untuk sendi kecil jarum nomor 23 atau
25. Perlengkapan lain ialah bolpen untuk menandai titik
yang akan disuntik, anestetik lokal (lidokain atau spray
etilklorida), kapas alkohol, kain kasa, dan larutan
pembersih kulit (misalnya larutan yang mengandung
yodium). Juga tidak boleh dilupakan botol kecil tempat
menampung aspirat guna pemeriksaan cairan sendi lebih
lanjut.
Prosedur tindakan : Sebaiknya penyuntikan dilakukan dengan lingkungan yang
aseptik. Hendaklah ditimbulkan kesan pada penderita
bahwa prosedur ini bukan prosedur yang sulit. Jarang
250
PPK Penyakit Dalam
diperlukan obat penenang. Penentuan tempat yang tepat
sangat penting. Keberhasilan suntikan lokal sangat
bergantung kepada pengetahuan anatomis daerah yang
bersangkutan. Sebelum melakukan penyuntikan, dokter
harus mempunyai gambaran yang jelas tentang tempat
yang akan disuntik (diperjelas dengan penekanan ujung
ballpoint atau diberi tanda dengan kuku) dan jalur yang
akan dilalui oleh jarum suntik. Penderita harus dalam posisi
sedemikian rupa, sehingga struktur di sekitar sasaran
suntikan dalam keadaan rileks. Kemudian dilakukan
pembersihan serta tindakan asepsis dan antisepsis pada
tempat yang akan disuntik. Draping hanya dilakukan pada
penderita imunokompromis atau jika diperkirakan prosedur
akan berlangsung lama atau sulit. Tindakan untuk
mengurangi sensasi tusukan jarum (misalnya semprotan
etilklorida atau anestesi lokal dengan infiltrasi lidokain
melalui jarum yang sangat halus) kadang-kadang
diperlukan.
Lama tindakan : 10 menit
Komplikasi Komplikasi suntikan lokal:
1. Infeksi, dengan insidensi 1 dari 1000-16000 pada
dokter yang berpengalaman
2. Perdarahan, jika merata harus dicurigai trauma atau
gangguan mekanisme perdarahan. Lalu lakukan
aspirasi, dan jangan lakukan penyuntikan.
3. Kerusakan rawan sendi, dapat terjadi akibat trauma
oleh ujung jarum suntik
4. Nekrosis aseptik, terjadi akibat infark tulang
subkhondral
5. Atrofi kulit dan jaringan subkutan
6. Sinovitis kristal
7. Ruptur tendo/ligamen
8. Supresi korteks adrenal.
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Penyuntikan intra artikular dilakukan selama 10 menit
dengan tujuan:
1. Aspirasi cairan sendi untuk diagnostik dan terapi
untuk mengurangi nyeri. Target 70% nyeri berkurang
setalah dilakukan aspirasi.
2. Suntikan untuk pemberian obat. Target 70% nyeri
berkurang setelah dilakukan suntikan.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Penyuntikan Intra-Artikular; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.377-379.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR ASPIRASI CAIRAN SENDI/ARTROSENTESIS
Definisi : Merupakan tindakan yang sering dilakukan di bidang
reumatologi untuk mengeluarkan cairan sendi.
Tujuan : Tindakan aspirasi dan analisis cairan sendi sangat penting
artinya dalam diagnosis dan tata laksana beberapa
penyakit sendi seperti arthritis septik dan arthritis gout.
Sendi-sendi tertentu seperti sendi lutut lebih sering
mengalami efusi daripada sendi lainnya.
250
PPK Penyakit Dalam
Indikasi : - Diagnostik
1. Membantu diagnosis arthritis
2. Memberikan konfirmasi diagnostik klinik
3. Selama pengobatan arthritis septik, dilakukan
secara serial untuk menghitung jumlah leukosit,
pengecatan gram, dan kultur cairan sendi.
- Terapeutik
1. Artrosentesis adalah evakuasi kristal untuk
mengurangi inflamasi pada pseudogout akut dan
crystal induced arthritis yang lain, evakuasi serial
pada arthritis septik untuk mengurangi destruksi
(drainase)
2. Pemberian kortikosteroid intrartikular untuk
mengontrol inflamasi steril pada sendi-sendi secara
maksimal, merupakan kunci di mana obat
antiinflamasi nonsteroid telah gagal, kemungkinan
akan gagal atau merupakan kontraindikasi untuk
mempersingkat periode kesakitan, pada inflamasi
yang self-limited (gout), untuk menghilangkan nyeri
inflamasi dengan cepat dan membantu terapi fisik
pada kontraktur sendi.
Kontraindikasi : - Diagnostik: infeksi jaringan lunak yang menutupi
sendi, bakteremia, anatomis tidak bisa dilakukan,
pasien tidak kooperatif
- Terapeutik: kontraindikasi diagnostik, instabilitas
sendi, nekrosis avaskular, arthritis septik,
osteonekrosis, sendi neurotropik.
Persiapan : Bahan dan alat:
Spuit sesuai keperluan
Jarum spuit: no.25 untuk sendi kecil, no.21 untuk
sendi lain, no.15-18 untuk efusi yang padat (pus)
Desinfektan iodine (betadine), alkohol
Kasa steril
Anestesi lokal
Sarung tangan
Ballpoint (untuk penanda)
Plester
Tabung gelas
Tabug steril untuk kultur
Kortikosteroid
Media kultur
Lain-lain sesuai kebutuhan
Prosedur tindakan : Umum:
1. Sebelum melakukan aspirasi cairan sendi, dilakukan
pemeriksaan fisis sendi dan bila diperlukan periksa
foto sendi yang akan dilakukan aspirasi, dan harus
dikuasai anatomi regional sendi yang akan
diaspirasi untuk menghindari kerusakan struktur-
250
PPK Penyakit Dalam
struktur vital seperti pembuluh darah dan saraf. Hati-
hati jangan sampai mencongkel rawan sendi karena
tidak dapat sembuh sendiri.
2. Harus dilakukan teknik yang steril untuk
menghindari terjadinya arthritis septik. Untuk
desinfeksi perlu dipakai iodine dan alkohol. Dokter
harus memakai sarung tangan untuk menghindari
kontak dengan darah dan cairan sendi pasien.
3. Untuk mengurangi nyeri dapat digunakan semprotan
etilklorida. Bila diperlukan dapat digunakan prokain
untuk anestesi lokal.
4. Selama dilakukan prosedur aspirasi, harus
diingatkan kepada pasien untuk selalu rileks dan
tidak banyak menggerakkan sendi.
Khusus:
1. Sendi lutut, pada efusi yang besar, tusukan dari
lateral secara langsung pada tengah-tengah tonjolan
supra patella lebih mudah dan lebih enak untuk
pasien. Tonjolan pada kantung supra patella ini
dapat diperjelas dengan menekan ke lateral bagian
medial. Dengan ujung ballpoint dilakukan pemberian
tanda pada daerah target yaitu lebih kurang pada
tepi atas patella (cephalad border of patella). Tanda
ini akan masih tetap terlihat dalam waktu yang
cukup untuk melakukan desinfeksi, anestesi, dan
artrosentesis. Pada efusi sendi yang sedikit lebih
baik dilakukan tusukan dari medial di bawah titik
tengah patella.
2. Bahu, pada pasien duduk lakukan palpasi pada
tonjolan korakoid. Pada 45 derajat inferior dan
lateral dari tonjolan tersebut akan didapatkan sendi
glenohumeral. Pada lokasi tersebut tusukan jarum
lurus ke posterior ke ruang sendi.
3. Subtalar, pada pasien posisi terlentang kaki 90
derajat terhadap tungkai bawah, tusukan jarum
secara horizontal ke ruang sendi di inferior dari
ujung maleolus lateral dan posterior dari sinus
tarsus.
4. Metatarsofalangeal, untuk mengidentifikasi garis
sendi ini dapat dilakukan dengan fleksi dan ekstensi
sendi. Untuk mempermudah memasuki sendi ini
dilakukan tarikan dan plantar fleksi 30 derajat.
Tusukan jarum pada garis sendi pada posisi 90
derajat.
5. Pergelangan tangan, sendi perg langan tangan
terletak di antara prosesus stiloideus radius dan
ulna. Ruang sendi ini dapat dicapai melalui salah
satu sisi pada bagian dorsal yaitu sedikit di sebelah
distal radius atau sedikit distal ulna.
Lama tindakan : 15 menit
250
PPK Penyakit Dalam
Komplikasi Infeksi iatrogenik
Perdarahan pada tempat aspirai
Hemartrosis
Luka pada rawan sendi
Episode vasovagal pada saat atau setelah tindakan
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Tindakan aspirasi cairan sendi/ artrosentesis dilakukan
dengan tujuan untuk diagnostik dan terapi. Target 70%
setelah dilakukan artrosentesis nyeri sendi berkurang.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Aspirasi
Cairan Sendi/Artrosentesis; Panduan Pelayanan Medis
PAPDI, Jakarta, h.380-382.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR PUNGSI SUMSUM TULANG
Definisi : Pungsi sumsum tulang adalah aspirasi cairan sumsum
tulang.
Tujuan : Diagnosis sitomorfologi/evaluasi produk pematangan
sel asal darah (stem cell)
Penilaian terhadap simpanan besi
250
PPK Penyakit Dalam
Pengumpulan colony forming unit (CFU-GM) pada
transplantasi sumsum tulang
Mendapatkan spesimen untuk pemeriksaan
bakteriovirologis
Indikasi : Anemia dan sitopenia lainnya yang tidak dapat
diterangkan
Leukositosis dan atau trombositosis yang tidak dapat
diterangkan.
Dugaan leukemia atau mieloptisis.
Kontraindikasi : Keadaan umum yang buruk
Persiapan : - Bahan dan alat:
Bahan tindakan antiseptik
Povidon iodine
Kapas lidi steril dan kapas steril
Prokain/lidokain 3% dan spuit 5cc, spuit 20cc dan
jarum hipodermik 23-25 gaus
Sarung tangan steril dan duk lubang steril
Set jarum aspirasi sumsum tulang 14-16 G) yang
sesuai dengan tempat yang akan dilakukan dan
spuit yang sesuai dengan jarum aspirasi sumsum
tulang.
Botol bersih untuk koleksi aspirat, gelas obyek untuk
blood film.
Antikoagulan titriplex, heparin atau EDTA
Perlengkapan untuk mengatasi renjatan neurogenik
dan renjatan anafilaksis seperti adrenalin, atropine
sulfat dan cairan infus.
- Tempat aspirasi:
Spina iliaka posterior superior (SIPS)
Krista iliaka
Spina iliaka anterior superior (SIAS)
Sternum di antara iga 2 dan 3 garis mid sternal atau
sedikit di kanannya (jangan lebih dari 1 cm)
Spina dorsalis/prosessus spinosus vertebra lumbalis
(jarang dilakukan karena alatnya tidak ada, sekitar
18 gaus)
Prosedur tindakan : Pasien diminta untuk buang air besar/kecil sebelum
tindakan.
Periksa kelengkapan dan kelayakan bahan dan alat
tindakan
Cuci tangan yang bersih dan keringkan
Pakai sarung tangan steril
Periksa kelengkapan dan kesesuaian jarum aspirasi
dan spuitnya. Isi spuit untuk aspirasi tersebut dengan
sedikit antikoagulan titriplex/EDTA untuk pemeriksaan
sitology dan imunologi atau heparin tanpa pengawet
untuk sitogenetik.
250
PPK Penyakit Dalam
Lakukan tindakan antiseptik daerah tindakan dan
prosedur terjaga aseptik.
Tentukan titik tindakan.
Lakukan anestesi lokal tegak lurus permukaan mulai
dari subkutis sampai periosteal.
Lakukan penetrasi jarum aspirasi tegak lurus dengan
diputar kiri kanan secara lembut menembus kulit
sampai membentur tulang/ periosteum kemudian
perhatikan tingginya jarum, untuk jarum sternal
disesuaikan pembatas/pengaman setinggi 0,3-0,5 cm
dari kulit, kemudian lanjutkan penetrasi jarum untuk
menembus tabula eksterna dengan memberikan
tekanan lebih besar secara mantap dan lembut setelah
terasa seperti menembus kertas pada saat menembus
diploe dan perbedaan tinggi jarum yang masuk 0,3-
0,5 cm untuk sternum, 0,5-1,5 cm untuk
SIPS/SIAS/krista iliaka, selanjutnya cabut madrein dan
pasang spuit 20cc yang sudah dibilas antikoagulan tadi
kemudian lakukan aspirasi perlahan tapi mantap
(pasien akan merasa sakit) sebanyak 1-2cc (untuk
sitomorfologi saja), 2cc dengan heparin (untuk
pemeriksaan sitogenetik), jika terlalu banyak akan
terencerkan dengan darah perifer yang akan
menyulitkan penilaian, kemudian spuit dicabut, jarum
biarkan saja.
Teteskan aspirat secukupnya ke gelas obyek, diratakan
diatas kaca slide, maka akan terlihat partikel sumsum
tulang.
Sisanya masukkan ke dalam botol koleksi kemudian
dikirim ke laboratorium.
Jika diperlukan untuk alasan lain dapat dilakukan
aspirasi dengan spuit yang lain yang telah dibasahi
antikoagulan, kemudian dikoleksi pada tempat lain yang
telah diisi antikoagulan.
Setelah selesai jarum aspirasi dicabut pelan-pelan
tetapi mantap dengan cara diputar seperti ketika
memasukkannya.
Daerah perlukaan dilakukan penutupan luka dengan
kassa yang telah diberi antiseptik jika diperlukan.
Bila ada trombositopenia atau fragilitas kapiler yang
meningkat (defisiensi hemostasis primer) dilakukan
penekanan dulu sekitar 10-15 menit, setelah yakin tidak
ada perdarahan baru dilakukan dressing.
Daerah perlukaan jangan dibasahi selama 3 hari dan
dressing dibuka setelah 3 hari.
Lama tindakan : 30 menit
Komplikasi Pneumomediastinum jika dilakukan pada sternum,
perdarahan.
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
250
PPK Penyakit Dalam
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Tindakan pungsi sumsum tulang dikerjakan untuk tujuan
diagnostik.
Target 80% cairan sumsum tulang teraspirasi.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Pungsi
Sumsum Tulang; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.400-402.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR BIOPSI SUMSUM TULANG
Definisi : Biopsi sumsum tulang adalah pengambilan sebagian
sumsum tulang secara utuh.
Tujuan : Menilai selularitas sumsum tulang
250
PPK Penyakit Dalam
Menentukan adanya keganasan hematologi dan non
hematologi (metastasis)
Menentukan adanya fibrosis sumsum tulang
Indikasi : Kecurigaan adanya gangguan produksi sel darah.
Menentukan stadium keganasan nonhematologi.
Kontraindikasi : Tidak ada kontraindikasi mutlak
Pada trombositopenia berat (<20.00) pemberian
tranfusi trombosit sebelum tindakan akan lebih baik
Melakukan biopsi sumsum tulang pada sternum.
Persiapan : Bahan dan alat:
Jarum biopsi jamshidi atau sejenis
Perlengkapan standar minor set sederhana yaitu
antiseptik, alkohol 70%, kapas lidi, duk lubang,
semprit 5 cc, lidokain, sarung tangan steril, kasa
steril, plester, botol kaca, formalin 10%.
Prosedur tindakan : Pasien diminta untuk buang air besar/kecil sebelum
tindakan dimulai
Pasien pada posisi tengkurap
Antisepsis pada daerah sekitar lokasi yaitu krista
iliaka superior posterior
Setiap tindakan dilakukan secara steril
Pasang duk lubang
Anestesi dengan lidokain 2% pada krista iliaka
posterior 3-6 cc sampai mencapai periostenum
Suntikan jarum biopsi dengan cara twisting morion
sambil melakukan penekanan sampai terasa
menembus tulang dan dilanjutkan sepanjang 1-2
cm.
Melakukan gerakan 4 arah (atas, bawah, kiri, kanan)
setelah itu jarum diangkat
Luka biopsi ditutup dengan kasa steril yang dibasahi
povidone iodine dan tidak boleh dibasahi selama 3
hari.
- Pembuatan preparat: Gosokkan bahan/jaringan
sumsum tulang yang didapat pada kaca objek (slide)
sebanyak 2-3 buah dan biarkan kering dengan
pewarnaan. Pewarnaan bisa berupa pewarnaan wright
atau giemsa.
Lama tindakan : 30 menit
Komplikasi Perdarahan, infeksi.
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Tindakan biopsi sumsum tulang dikerjakan untuk tujuan
diagnostik.
Target 70% cairan sumsum tulang terambil.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Biopsi
Sumsum Tulang; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
250
PPK Penyakit Dalam
Jakarta, h.403-404.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR TRANSFUSI DARAH
Definisi : Memasukkan darah secara keseluruhan atau komponen
darah ke dalam tubuh melalui vena.
Tujuan : Memberikan kebutuhan darah atau komponen darah
sesuai indikasi.
Indikasi : Sesuai dengan komponen darah yang ditansfusikan:
Darah lengkap (whole blood) 250-300 cc/unit:
250
PPK Penyakit Dalam
meningkatkan volume darah merah dan volume
plasma pada perdarahan akut dan pada kehilangan
darah >25% volume darah total
Darah merah pekat (packed red blood cells) 150-
250 cc/unit: meningkatkan massa sel darah merah
dan kapasitas oksigen pada anemia normovolemik
simtomatik termasuk anemia kronik pada kelainan
ginjal kronik dan kanker
Darah merah dicuci (saline washed red blood cells)
180 cc/unit: meningkatkan massa sel darah merah,
mengurangi risiko reaksi alergi terhadap protein
plasma
Trombosit konsetrat (platelet concentrate) 50 cc/unit:
perdarahan karena trombositopenia atau trombopati
Trombosit aferesis (platelet aferesis) 300 cc/unit:
perdarahan karena trombositopenia atau trombopati,
kecocokan HLA
Plasma beku (fresh frozen plasma) 220 cc:
pengobatan beberapa gangguan koagulasi
Kriopresipitat (cryoprecipitate/antihemophili factor)
15 cc/unit: defisiensi faktor VIII, faktor XIII,
fibrinogen, pengobatan penyakit von willebrand.
Darah merah minim leukosit (leucocyte poor RBC)
200 cc/unit: meningkatkan massa sel darah merah,
mencegah reaksi demam karena antibodi leukosit,
menurunkan kemungkinan aloimunisasi terhadap
leukosit atau antigen HLA.
Kontraindikasi : Sesuai dengan komponen darah:
Darah lengkap: anemia kronik normovolemik yang
hanya memerlukan peningkatan massa sel darah
merah
Darah merah dicuci: bila sudah lebih dari 24 jam
karena teknik pencucian sistem terbuka
menyebabkan penggunaannya terbatas 24 jam
(risiko kontaminasi bakterial)
Darah merah pekat dan darah minim leukosit: hati-
hati risiko reaksi transfusi hemolitik, transmisi infeksi
virus, reaksi alergi, dan demam.
Trombosit konsentrat dan trombosit aferesis: tidak
efektif untuk pasien dengan destruksi trombosit yang
cepat, termasuk ITP dan KID yang tidak diobati
(kecuali pada perdarahan aktif), septikemia, dan
hipersplenisme.
Plasma beku: jangan diberikan bila tujuannya
menambha volume darah
Kriopresipitat: untuk kasus selain indikasi
Persiapan : Bahan dan alat:
Untuk tranfusi darah lengkap, darah merah pekat,
250
PPK Penyakit Dalam
darah merah dicuci, plasma beku, dan kriopresipitat,
gunakan set transfusi khusus dengan
penyaring/filter atau blood set.
Untuk tranfusi trombosit konsentrat atau trombosit
aferesis, gunakan infus set khusus untuk transfusi
trombosit
Hanya infus NaCl 0,9% yang diizinkan untuk
diberikan bersama darah/komponen darah
Bila tersedia, dapat digunakan alat pemompa darah
elektronik untuk transfusi darah
Prosedur tindakan : Permintaan darah atau komponen
Formulir permintaan darah diisi lengkap, termasuk
golongan darah ABO-Rh yang selama ini diketahui,
nama pasien dan nama orang tua atau suami, reaksi
transfusi yang pernah dialami, indikasi, dll.
Formulir tersebut ditandatangani oleh dokter yang
meminta, sedangkan perawat ruangan menilai ulang
kelengkapan dan kebenaran pengisian formulir
tersebut
Perawat mengambil sampel darah minimal 2 cc,
paling baik 5 cc. Pada sampeldarah ini harus
ditempelkan label yang kuat bertuliskan nama
lengkap (sesuai formulir), jenis kelamin, umur,
nomor rekam medik, tanggal pengambilan, dan
ruang perawatan.
Pemberian transfusi darah atau komponene
identifikasi secara benar dan cermat bahwa nama
pasien dan data lainnya cocok dengan label pada
darah/komponen darah yang akan diberikan, begitu
juga kebenaran indikasi transfusi darah pada pasien
ini.
Pada saat dimulai pemberian tranfusi, pasien harus
diawasi selama 5-10 menit pertama, kemudian
diawasi secara periodik sampai tindakan transfusi
selesai.
Dokter harus berapa di area yang terjangkau (di RS)
selama pemberian transfusi, sehingga bila timbul
keadaann darurat dapat segera hadir
menanganinya.
Bila alatnya tersedia, darah/komponen darah
dihangatkan dulu dengan alat blood warmer,
terutama pada kasus-kasus khusus antara lain
pasien dewasa yang menerima transfusi cepat dan
berulang (>50cc/kg/jam), exchange transfusion pada
bayi, anak-anak yang menerima transfusi dengan
volume besar (>15ml/kg/jam) dan infus cepat
melalui kateter vena sentral.
Pada orang dewasa kecepatan transfusi
darah/komponen jangan melebihi 100ml/menit,
250
PPK Penyakit Dalam
karena berkaitan dengan risiko tinggi henti jantung.
Jangan menyimpan darah pada suhu kamar lebih
lama.
Bila kondisi klinik memerlukan waktu tranfusi lebih
dari 4 jam, darah/komponen harus dicicil
pengembakiannya, sisanya disimpan di bank darah
RS sampai saat yang diperlukan
Jangan menambah obat-obat ke dalam
darah/komponen. Jaga jangan memberikan obat
suntik bersamaan dengan pelaksanaan transfusi
darah.
Lama tindakan : Tergantung banyaknya komponen darah yang
ditransfusikan. Antara 30 menit sampai dengan 6 jam
Komplikasi Reaksi transfusi cepat:
- Reaksi hemolitik kuat, reaksi demam, reaksi
alergi
- Hipervolemia, edema paru non kardiogenik
- Hemolisis nonimun, sepsis bakterial
Reaksi transfusi lambat:
- Reaksi hemolitik lambat
- Penyakit infeksi (hepatitis B, C, HIV, EBV, HTLV-
1, CMV, malaria, toksoplasmosis).
- Reaksi lambat lainnya.
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Transfusi darah dilakukan untuk memasukkan darah
secara keseluruhan atau komponen darah.
Target 80% darah yang dimasukkan akan memperbaiki
komponen darah yang dibutuhkan.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Transfusi Darah; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.405-407.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR FLEBOTOMI
Definisi : Suatu tindakan menurunkan volume darah dengan cara
250
PPK Penyakit Dalam
mengeluarkannya melalui pembuluh vena secara bertahap
dan cepat.
Tujuan : Menghilangkan gejala-gejala distres dan fletora
Indikasi : Polisitemia vera, eritrositosis, hemokromatosis, porfiria
cutanea tarda.
Kontraindikasi : Gagal jantung
Persiapan : Bahan dan alat:
Tensimeter dan stetoskop untuk memantau status
hemodinamik sebelum, selama dan sesudah
tindakan dan juga untuk menbendung vena pada
vena seksi
Tempat tidur untuk berbaring pasien
Set donor
Botol (plaboof) atau kantong penampung darah
dengan skala volume
Set infus/kateter intravena dan cairan plasma atau
dekstran (sebagai persiapan) terutama pada pasien
di atas 65 tahun atau adanya penyakit/penyulit
kardiovaskuler atau gejala-gejala hipervikositas
Perangkat standar antiseptik antara lain gauge steril,
povidone iodine, alkohol dan plester.
Prosedur tindakan : Pasien diminta untuk buang air besar/kecil sebelum
tindakan
Pasien pada posisi berbaring dilakukan evaluasi
status hemodinamik, sedang untuk pasien di atas 65
tahun sebaiknya pemeriksaan tekanan darah
dilakukan dalam posisi duduk/berdiri karena
mencerminkan tekanan darah yang sebenarnya
Bila status hemodinamik stabil, pasien berbaring di
tempat tidur
Dilakukan tindakan antisepsis pada lengan daerah
venaseksi yang dilanjutkan dengan pembendungan
vena dengan tensimeter tekanan 60 mmHg (atau di
antara sistolik dan diastolik)
Pada orang tua di atas 65 tahun atau pasien dengan
kecenderungan penyakit kardiovaskuler, di sisi
lengan yang satunya dipasang infus set dengan
cairan pengganti plasma (plasma expander) atau
dekstran yang dimulai secara bersamaan dengan
tindakan flebotomi dengan jumlah yang sama
seperti darah yang dikeluarkan
Kebanyakan pasien dapat menerima pengeluaran
darah sebanyak 3 unit (kira-kira 450-600 cc) per
minggu, bahkan ada yang melakukan sebanyak 500
cc dengan interval 1-3 hari. Untuk usia lanjut dan
pasien dengan penyakit kardiovaskuler dianjurkan
sekitar 200-300 cc.
Setelah tercapai target pengobatan yaitu hematokrit
250
PPK Penyakit Dalam
antar 40-45%, maka kekerapan flebotomi biasanya
dapat diturunkan antara 1 atau 2 kali tiap 3-4 bulan
tergantung evaluasi rutin yaitu nilai hematokrti atau
serum feritinin dalam batas normal rendah 10-40
g/mL untuk pasien-pasien dengan
hemokromatosis.
Lama tindakan : 2 sampai 6 jam
Komplikasi Perdarahan/hematom, gangguan hemodinamik
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Flebotomi dilakukan untuk menurunkan volume darah
dengan cara mengeluarkan melalui pembuluh darah vena
secara bertahap dan cepat.
Target 70% gejala distres dan fletora berkurang.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Flebotomi; Panduan Pelayanan Medis PAPDI, Jakarta,
h.411-412.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR TES TUSUK (SKIN PRICK TEST)
250
PPK Penyakit Dalam
Definisi : Tes kulit yang pada umumnya dilakukan di bagian volar
lengan bawah dengan memasukkan allergen melalui
tusukan jarum di kulit.
Tujuan : Mengetahui adanya sensitisasi terhadap allergen
Indikasi : Pasien asma, rhinitis, konjungtivitis alergi, dermatitis atopi,
dan urtikaria.
Kontraindikasi : Pasien dalam serangan asma, pasien yang sedang minum
obat antihistamin dan steroid.
Persiapan : - Bahan dan alat: ekstrak allergen yang sering
menimbulkan alergi, jarum khusus skin prick test atau
dapat juga jarum G 26 x 0,5, kapas dan alcohol 70%.
- Pasien: tidak minum antihistamin dan steroid, tes
dilakukan setelah wash out period (3 hari sampai 1
bulan tergantung dari jenis obat yang diminum)
Prosedur tindakan : Tes dilakukan di volar lengan bawah.
Bersihkan bagian bawah yang akan dites dengan
alcohol 70% tunggu sampai kering.
Gambar batas tiap allergen dengan pulpen
sebanyak jumlah allergen yang akan dites.
Teteskan allergen ditempat yang telah ditandai.
Jarak setiap tetesan allergen 1,5-2,5cm untuk
menghindari bercampurnya dua allergen yang
kemungkinan bereaksi positif.
Tes dibaca setelah 15 menit.
Penilaian:
(-) tak ada reaksi
+ indurasi 1-2mm
++ indurasi 3-5mm
+++ indurasi 6-9mm
++++ indurasi >9mm
Lama tindakan : 15-30 menit
Komplikasi Reaksi alergi berupa asma, rhinitis, urtikaria, syok
anafilaksis.
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Tes tusuk dilakukan dengan memasukkan allergen untuk
mengetahui adanya sensitisasi terhadap allergen.
Target 70% sensitisasi terhadap allergen diketahui.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Tes
Tusuk (Skin Prick Test); Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.417-418.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR TES PROVOKASI OBAT
Definisi : Tes yang dilakukan mulai dengan memberikan obat
dengan dosis yang lebih kecil dari dosis yang diduga akan
menimbulkan reaksi berat, kemudian dosis ditingkatkan
dan diberikan jarak tertentu sampai tercapai dosis penuh
sesuai dengan yang diharapkan.
Tujuan : Mengetahui adanya sensitivitas terhadap obat tersebut.
250
PPK Penyakit Dalam
Bila terjadi reaksi, masih dalam tahap ringan sehingga
prosedur dihentikan dan gejala dapat diobati. Biasanya
digunakan untuk menguji obat anestesi local sebelum
digunakan dosis penuh.
Indikasi : Jika dalam riwayat penyakit ada tanda-tanda yang
mengarah ke alergi obat.
Kontraindikasi : Pasien yang sudah jelas diketahui alergi terhadap
obat tertentu tidak perlu dites lagi.
Pasien yang sedang minum obat antihistamin dan
steroid.
Pasien penyakit jantung dan penyakit berat lainnya.
Persiapan : - Bahan dan alat: kit anafilaksis, infus set, obat/bahan
yang akan dites.
- Pasien: tidak minum obat antihistamin dan steroid,
tes dilakukan setelah wash out period.
Prosedur tindakan : Tes dilakukan dengan jumlah yang sesuai dengan
kadar yang akan digunakan dan jangan
menggunakan bahan yang mengandung epinefrin.
Mula-mula dilakukan dengan prick test dengan
anestesi yang diencerkan sebanyak satu tetes.
Bila negatif, lanjutkan dengan 0,1ml larutan 1:100
subkutan.
Bila negatif, lanjutkan dengan 0,1ml larutan 1:10
Bila negatif, lanjutkan dengan 0,5ml tidak
diencerkan subkutan.
Bila negatif, lanjutkan dengna 1ml larutan tidak
diencerkan subkutan.
Bila negatif, lanjutkan dengan 2ml larutan tidak
doencerkan subkutan.
Suntikan diberikan dengan jarak 15 menit.
Penilaian: dianggap negatif bila pasien telah menerima 3ml
anestesi lokal tanpa reaksi yang berarti, tidak menunjukkan
risiko yang lebih besar dibandingkan dengan populasi
dalam masyarakat.
Lama tindakan : - 2 jam
Komplikasi Reaksi alergi ringan, sedang, berat. Anafilaksis sampai
kematian.
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Tes provokasi obat dilakukan dengan memberikan obat
dosis yang lebih kecil dari dosis yang digunakan, dengan
tujuan untuk mengetahui adanya sensitifitas terhadap obat
tersebut.
Target 70% diketahui bahwa obat yang diberikan itu sensitif
atau tidak.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Tes
Provokasi Obat; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
250
PPK Penyakit Dalam
Jakarta, h.421-422.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR PEMASANGAN SELANG NASOGASTRIK
Definisi : Pemasangan selang nasogastrik (NGT) ke dalam lambung
melalui hidung pada keadaan pasien tidak dapat menelan
makanan untuk menjamin pemberian nutrisi enteral.
Pemasangan NGT juga dilakukan pada pasien dengan
perdarahan saluran cerna bagian atas, pankreatitis akut,
ileus paralitik/ileus obstruktif untuk tujuan dekompresi.
Tujuan : Pemberian nutrisi enteral pada pasien yang tidak
dapat menelan oleh berbagai sebab.
Dekompresi/menyalurkan cairan lambung keluar
pada ileus paralitik/obstruktif dan pankreatitis akut.
Bilas lambung pada perdarahan SCBA.
250
PPK Penyakit Dalam
Indikasi : Pasien tidak dapat menelan oleh berbagai sebab,
perdarahan saluran cerna bagian atas, pankreatitis akut,
ileus obstruktif/paralitik.
Kontraindikasi : Pasien tidak kooperatif.
Persiapan : - Informed consent
- Persiapan alat dan bahan
- Cuci tangan dan memakai handschoon
Prosedur tindakan : Pasien posisi terlentang atau miring ke kiri/kanan
dengan kepala sedikit di tekuk ke depan.
Selang dimasukkan ke hidung setelah ujungnya
diberi jeli.
Setelah mencapai lambung, biasanya pada tanda 3
strip hitam yaitu kira-kira 50 cm dari lambung
dimasukkan udara melalui selang. Hal ini biasanya
menimbulkan suara yang dapat didengar dengan
stetoskop yang ditempelkan kira-kira di atas
lambung (perut kiri atas/sedikit di atas epigastrium).
Jika terdapat banyak cairan lambung, biasanya
cairan lambung keluar melalui selang.
Lama tindakan : 15 menit
Komplikasi Erosi pada esophagus dan lambung.
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Pemasangan selang NGT dilakukan dengan memasukkan
NGT melalui hidung ke dalam lambung dengan tujuan
untuk nutrisi, dekompresi dan bilas lambung.
Target 80% NGT terpasang sempurna.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Pemasangan Selang Nasogastrik; Panduan Pelayanan
Medis PAPDI, Jakarta, h.433-434.
250
PPK Penyakit Dalam
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR BIOPSI JARUM HALUS
Definisi : Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) atau fine needle
aspiration biopsy (FNAB) adalah suatu tindakan untuk
menetapkan diagnosis jaringan dengan menggunakan
jarum halus tanpa melalui prosedur pembedahan.
Tujuan : Untuk menetapkan diagnosis lesi-lesi maligna organ
intra abdomen seperti hati, pankreas, dan limpa
Untuk menentukan stadium suatu keganasan
Indikasi : Tempat lesi fokal di hati
Terdapat dugaan adanya keganasan pada korpus dan
kauda pankreas
Limfadenopati peripankreatik atau para aorta
250
PPK Penyakit Dalam
Kontraindikasi : Gangguan hemostasis, pasien tidak kooperatif, asites
Persiapan : Bahan dan alat:
Alat USG yang dilengkapi dengan probe yang
khusus digunakan sebagai penuntun biopsi aspirasi
Jarum chiba no.22G-23G dengan panjang 15 atau
20 cm
Gelas objek
Lidokain 2% 5 ampul
Alkohol 96%
Betadine. Spuit disposable 10cc dan 20cc masing-
masing 1 buah
Aspirator
Sarung tangan steril
Kain duk steril
Pasien:
Pasien rawat inap
Pasien tidak dipuasakan
Diperiksa masa perdarahan, masa pembekuan, dan
masa protrombin
Vitamin K 10 mg mulai 1 hari sebelum tindakan
Terpasang infus NaCl 0,9% atau dextrose 5%
Surat persetujuan tindakan
Prosedur tindakan : Tindakan dilakukan secara lege artis meliputi:
1. Persiapan periksa kembali perlengkapan bahan dan
alat periksa pasien tidak ada kontraindikasi sudah
ada persetujuan tindakan.
2. Teknik puncture
Antisepsis lapangan kerja dengan larutan
betadine
Tentukan titik puncture dengan USG
Infiltrasi anestesi lokal dengan lidokain 2% 6-
10 cc dari titik puncture yang ditentukan
sampai daerah kapsul hati atau peritoneum
Lakukan puncture dengan jarum chiba
dengan dipandu USG sampai ke daerah
sasaran
3. Teknik aspirasi
Setelah jarum mencapai sasaran yang dituju
lepaskan mandrin di dalamnya
Lakukanlah aspirasi dengan spuit disposable
20cc dengan cara membuat tekanan negatif
serta menarik dan mendorong jarum ke atas
dan ke bawah
Setelah didapat aspirat, tekanan negatif spuit
dinetralkan kembali dan jarum kemudian
ditarik
250
PPK Penyakit Dalam
4. Pembuatan slide
Keluarkan aspirat dari jarumnya dengan
mendorongnya dengan mandrin atau spuit
disposable ke atas gelas objek
Buatlah sediaan apus. Preparat direndam
dalam alkohol 96% selama 5 menit
5. Pengawasan paska tindakan
Setelah luka dirawat periksa tekanan darah
dan pulsasi
Lama tindakan : 30 menit
Komplikasi Perdarahan, nyeri daerah tusukan, peradangan, seeding
sepanjang tract jarum
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Biopsi aspirasi jarum halus dilakukan untuk menetapkan
diagnosis jaringan dengan menggunakan jarum halus
tanpa melalui prosedur pembedahan.
Target 70% jaringan yang dikehendaki dapat terambil
dengan sempurna.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009) Biopsi
Aspirasi Jarum Halus; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.439-440.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSI AT-TIN HUSADA
RSI AT-TIN HUSADA
PROSEDUR PARASENTESIS ABDOMEN
Definisi : Suatu tindakan untuk mengeluarkan cairan asites
Tujuan : Untuk membantu menegakkan diagnosis
Sebagai terapi, bila pengobatan dengan
medikamentosa tidak memberi respons
Indikasi : Diagnostik: untuk memastikan penyebab asites atau
menentukan asites yang terinfeksi seperti SBP pada
pasien sirosis hati
Untuk mengatasi distensi abdomen atau sesak
napas akibat tekanan asites
Kontraindikasi : Gangguan pembekuan darah, masa protrombin
memanjang >5 detik kontrol, trombosit <50.000/mm,
250
PPK Penyakit Dalam
ileus obstruktif, infeksi pada dinding perut
Relatif: pasien tidak kooperatif, riwayat operasi
laparotomi berulang
Persiapan : Bahan dan alat:
Sarung tangan steril
Betadine, alkohol
Kasa steril
Kain duk steril
Lidokain 1% (10cc)
Spuit disposable 10cc (2 buah), 50cc (2 buah)
IV cath no.14 atau 16
Blood set
Tabung steril
Pasien:
Diperiksa darah perifer lengkap, masa perdarahan,
dan masa protrombin (paling lama 48 jam terakhir)
Surat persetujuan tindakan
Prosedur tindakan : Vesika urinaria harus kosong
Pasien tidur berbaring dengan posisi kepala 45-90
Identifikasi tempat aspirasi (A,B,C). Hindari vena-
vena kolateral, pembuluh darah epigastrika inferior,
lokasi bekas operasi dan limpa yang membesar
Pakai sarung tangan steril
Bersihkan lokasi tindakan dengan antiseptik
Pasang duk steril
Anestesi lokal dengan lidokain 1% sampai dengan
peritoneum
Pasang iv-cath no.14 atau 16 secara zigzag, sedot
cairan dengan spuit 10cc dan 50cc untuk
pemeriksaan
Untuk tujuan terapi pasang set infus, lalu alirkan
cairan keluar
Tidak ada batas pasti jumlah maksimal yang boleh
dikeluarkan, rata-rata 3-4 liter masih cukup aman
Pada pasien sirosis hati sebaiknya ditambahkan 6-8
gram albumin intravena untuk setiap liter cairan
asites yang dikeluarkan
Lama tindakan : Parasentesis diagnosis: 15 menit
Parasentesis terapeutik: tergantung jumlah cairan
asites yang dikeluarkan antara 2 sampai 6 jam
Komplikasi Lokal: perdarahan, infeksi dinding perut, peritonitis,
perforasi usus atau vesika urinaria
Umum: hipovolemia, hipotensi, gagal ginjal,
ensefalopati portosistemik.
Tingkat rekomendasi Kesepakatan ahli
Penelaah kritis - dr. Suprayitno, [Link]
250
PPK Penyakit Dalam
- dr. Sutowo, [Link]
Indikator medis Parasentesis abdomen merupakan tindakan untuk
mengeluarkan cairan asites dengan tujuan diagnostik atau
terapi.
Target 80% cairan asites dapat terambil tanpa komplikasi.
Referensi Rani, A.A., Soegondo, S., Nasir, A.U.Z, dkk.(2009)
Parasentesis Abdomen; Panduan Pelayanan Medis PAPDI,
Jakarta, h.441-442.
250