0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan13 halaman

Fungsi dan Komponen Sistem Rem ABS

1. Rem dan sistem ABS merupakan bagian penting pada kendaraan yang dapat mengatur kecepatan dan menghentikan laju kendaraan. 2. Sistem ABS bekerja dengan memantau kecepatan roda dan mengendalikan tekanan rem untuk mencegah roda terkunci selama pengereman mendadak. 3. Komponen utama ABS terdiri atas sensor kecepatan roda, kontrol modul, aktuator tekanan hidrolik, dan indikator kerusakan.

Diunggah oleh

FajarKhurniawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan13 halaman

Fungsi dan Komponen Sistem Rem ABS

1. Rem dan sistem ABS merupakan bagian penting pada kendaraan yang dapat mengatur kecepatan dan menghentikan laju kendaraan. 2. Sistem ABS bekerja dengan memantau kecepatan roda dan mengendalikan tekanan rem untuk mencegah roda terkunci selama pengereman mendadak. 3. Komponen utama ABS terdiri atas sensor kecepatan roda, kontrol modul, aktuator tekanan hidrolik, dan indikator kerusakan.

Diunggah oleh

FajarKhurniawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

sistem Rem
Rem merupakan salah satu bagian kendaraan yang sangat penting pada sebuah kendaraan baik
roda dua maupun roda empat yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat dari perkotaan
sampai pedesaaan.

Rem ini dapat mengatur kecepatan ataupun menghentikan lajunya kendaraan sesuai dengan yang
kita harapkan, pengaturan kecepatan ataupun diberhentikannya lajunya kendaraan ini diatur
melalui suatu gesekan antara komponen rem dengan roda yang berputar. Syaratsyarat sebuah
rem adalah sebagai berikut:
1. Dapat bekerja dengan cepat.
2. Apabila beban pada semua roda sama, maka daya pengereman harus sama dengan atau gaya
pengereman seimbang dengan beban yang di terima oleh masing-masing roda.
3. Dapat dipercaya dan mempunyai daya tahan cukup.
4. Mudah disetel dan diperbaiki pengemudi waktu pengereman
Cara kerja rem adalah pengubah tenaga mekanik menjadi tenaga gesekan dengan jalan menekan
sepatu rem (kanvas) terhadap tromol yang berputar

B. Sistem Rem ABS (Anti-Lock Brake System)


ABS (Anti-Lock Brake System) adalah sebuah sistem pada kendaraan bermotor yang mencegah
terjadinya roda menjadi terkunci pada saat pengereman. Tujuannya adalah memungkinkan
pengemudi untuk mempertahankan kontrol pengendalian pada saat pengereman mendadak dan
digunakan untuk memperpendek jarak pengereman (dengan memperbolehkan pengemudi
menginjak pedal rem secara penuh tanpa perlu khawatir kendaraan akan selip dan lepas kendali
seperti bila kita melakukan pengereman pada kendaraan non ABS (Anti-Lock Brake System ).
Cara kerjanya adalah pada kendaraan terdapat electronic unit, speed sensor dan hydraulic valve
pada brake circuit. Electronic unit memonitor kecepatan dari roda pada saat pengereman,jika
berbeda maka rem akan merelease, dan selanjutnya mengerem lagi. Hampir sama dengan
apabila kita melakukan pengereman sedikit-sedikit atau dalam artian tekan-lepas-tekan lepas.
ABS tersebut bisa melakukan pengereman dalam artian tekan-lepas sebanyak 20 kali per detik.
Jadi dengan teknologi ini berguna untuk mencegah ban terkunci.
Anti-lock Brake Systems dirancang untuk mencegah terjadinya penguncian roda (wheel lockup)
saat pengeman mendadak di segala medan jalan. Hasil saat pengeraman adalah:
1. Mobil tetap stabil.
2. Arah kemudi stabil (Vehicle Stability).
3. Mengerem lebih cepat (jarak pengereman lebih dekat, kecuali jalan tanah, bersalju).
4. Penguasaan kontrol kendaraan menjadi maksimal (tinggat kestabilan).
5. Jika roda depan terkuci, mobil tidak mungkin bisa di arahkan
6. Jika roda belakang terkunci, mobil bisa tidak stabil dan tergelincir ke salah satu sisi.
Jika permukaan jalan saat pengereman tidak rata, roda2 yang mengalami selip akan mudah
terkunci dan mobil akan berputar putar .namun dengan sistem ABS mobil akan tetap stabil
sampai mobil tersebut berhenti .

C. Komponen-Komponen Rem ABS (Anti-Lock Brake System)


1. Master selinder
Master selinder berfungsi :
a. Membangun tekanan hidraulis sesuai dengan gaya tekan pengemudi.
b. Tekanan hidraulis ini mengalir ke unit tekanan.
2. Unit control tekanan (akuator)
Unit control tekanan (akuator) berfungsi mengatur tekanan hidraulis rem untuk setiap roda sesuai
dengan perintah computer.
3. ABS control module
ABS control module berfungsi :
a. Mendapat informasi dari sensor putaran.
b. Menghitung tekanan ideal pada roda.
c. Mengirimkan perintah pengatur ke unit control tekanan rem
d. ABS control module selalu memeriksa fungsi diri secara otomatis
e. Bila fungsinya salah, ABS control module akan member tahu aliran dengan lampu control
pengemudi.
4. Sensor putran roda
Sensor putran roda berfungsi menyensor kondisi putaran roda, dan dari sensor tersebut
menghasilkan signal.
5. Selinder roda
Selinder roda berfungsi untuk menggerakkan atau menekan sepatu rem. Selinder roda
dihubungkan dengan master selinder dengan menggunakan pipa-pipa.
6. Lampu control
Lampu control berfungsi sebagai indicator ABS, bila terjadi kerusakan pada sisitem rem ABS.
lampu indicator akan menyala.
7. Sensor putran aksel belakang
Sensor putran aksel belakang berfungsi menghitung putran roda secara induktif dan mengirim
signal ke ABS control module.

D. Jenis-jenis ABS (Anti-Lock Brake System)


Pada sistem rem yang menggunakan ABS terdapat bebrapa jenis ABS, dintaranya :
1. 4-Sensor 4-Chanel
Jenis ini umumnya dipakai untuk mobil FF (Front engine Front driving) yang memakai X-brake
lines. Roda depan dikontrol tersendiri dan kontrol roda belakang biasanya mengikuti select-low
logic agar mobil bisa stabil saat ABS bekerja.
Jenis ABS ini mempunyai empat wheel sensor dan 4 hydraulic control channel dan
masingmasing mengontrol secara tersendiri. Sistem ini mempunyai tingkat keamanan dan jarak
pemberhentian yang lebih pendek di berbagai macam kondisi jalan. Namun apabila permukaan
jalannya licin, besar gaya rem antara kanan dan kiri yang tidak rata akan mengakibatkan terjadi
gerakan Yawing pada bodi kendaraan sehingga bisa mengurangi kestabilan. Karena itulah,
kebanyakan mobil yang dilengkapi dengan tipe 4 channel ABS memasukkan satu select low
logic pada roda belakang agar mobil tetap stabil, di berbagai macam kondisi jalan.
2. 4-Sensor 3-Chanel
Jenis ini umumnya dipakai untuk mobil FR (Front engine Rear driving) yang memakai H-brake
lines. Roda depan dikontrol tersendiri dan roda belakang dikontrol secara bersamaan pada brake
pipe dengan dasar select-low logic.
Dipakai untuk mobil FF (Front engine Front driving), kebanyakan berat kendaraan terpusat di
roda depan dan berat titik tengah kendaraan saat direm juga berpindah ke depan hampir 70%,
gaya pengereman ini dikontol oleh roda depan. Artinya adalah kebanyakan tenaga pengereman
dibangkitkan oleh roda depan, sehingga agar ABS bisa efektif, maka diperlukan pengaturan
tersendiri (independent control) pada roda depan.
Namun demikian, roda belakang yang gaya pengeremannya lebih sedikit, juga sangat penting
untuk memastikan kendaraan aman saat dilakukan pengereman. Karena itulah apabila saat ABS
roda belakang bekerja di permukaan jalan yang licin, maka independent control pada roda
belakang mengatur agar gaya pengereman roda belakang tidak merata sehingga mobil
mengalami yawing.
Untuk menhindari gerakan yawing ini dan untuk menjaga agar mobil tetap aman saat ABS
bekerja di berbagai kondisi jalan, maka tekanan rem roda belakang diatur berdasarkan
kecenderungan roda mana yang mengalami lock-up. Konsep pengaturan ini dikenal dengan
Select-low control.

3. 3-Sensor 3-Chanel
Roda depan dikontrol tersendiri namun untuk roda belakang dikontrol secara bersamaan oleh
satu wheel speed sensor (khususnya differential ring gear).

Mobil yang dilengkapi dengan H-bake line system mempunyai sistem kontrol ABS jenis ini. 2
channel untuk roda depan dan satunya lagi untuk roda belakang. Roda belakang dikontrol
bersama dengan select low control logic. Untuk X-brake line system, diperlukan 2 channels (2
brake port di dalam unit ABS) untuk mengatur roda belakang dikarenakan masing-masing roda
belakang mempunyai jalur rem yang berbeda.

4. 1-Sensor 1-channel
Hanya mengatur tekanan roda belakang oleh satu [Link] Untuk mobil yang dilengkapi
dengan H-bake line system, hanya untuk mengontrol tekanan [Link] rear diffirential
dipasang satu wheel speed sensor yang berfungsi untuk mendeteksi kecepan roda.
Cara kerjanya adalah saat dilaukan pengeraman mendadak roda depan akan terkunci, sehingga
kestabilan kemudi mobil akan hilang dan jarak henti pada permukaan jalan yang mempunyai
daya gesek rendah (low- ) juga akan bertambah jauh. Sistem ini hanya akan membantu untuk
penghentian lurus.

E. ABSCM (Anti-Lock Brake System Control Module)

ABS terdiri dari wheel speed sensor yang berfungsi untuk mendeteksi kecenderungan suatu roda
mengalami penguncian, HCU (Hydraulic Control Unit) mensuplai tekanan rem ke setiap roda
berdasarkan output signal dari ABSCM (control module).
Dari sinyal wheel speed sensor, ABSCM akan menghitung dan memperkirakan akselerasi,
deselerasi dan slip rasio, pengaturan solenoid valve dan return pump, gunanya adalah adalah
untuk mencegah terjadinya wheel lock-up. ABSCM dapat mengatur sistem monitoring pada
sirkuit dan mematikan dirinya sendiri apabila sistem mengalami [Link] dapat
mengetahui adanya kegagalan sistem pada ABS apabila lampu peringatan ABS menyala.

1. Komposisi Dasar ABSCM (Anti-Lock Brake System Control Module)


Apabila ABS mengalami kegagalan, ABSCM akan mematikan kerja sistem untuk memastikan
keselamatannya. Karena apabila kerja dari solenoid valve tidak normal, dapat mempengaruhi
tekanan rem terhadap [Link] alasan inilah ABSCM dapat menganalisa dan mengantisipasi
semua kemungkinan kegagalan pada sistem. Untuk memasang ABSCM secara langsung pada
HCU (Hydraulic Control Unit), semiconductor yang ada di dalam ABSCM harus tahan pada
suhu antara 40 s/d 125 derajat celsius.
Berkat pengembangan teknologi semiconductor dan ukurannya yang kecill, sekarang ini yang
popular banyak dipakai adalah tipe (ABSCM + HCU). Misalnya Bosch ABS versi 5.0 atau yang
lebih tinggi, versi MK-20i atau yang lebih tinggi keluaran TEVES dan EBC 325 Kelsey Hayes
mewakili integrated ABS. Semua masukan merupakan double-monitored dan double-calculated.
Input-nya juga [Link] menghindari kesalahan pengoperasian pada ECU, maka
dipasang dua microprocessor yang membandingkan dan memonitor hasilnya, dan ECU sebagai
tambahan dimonitor oleh SAS (Safety Assurance System) atau intelligent Watch-Dog untuk
mencegah kesalahan pengoperasian pada ECU.
Satu IC mengatur solenoid2 untuk setiap channel-nya dan Power MOSFET dengan proteksi
sirkuit yang bisa diandalkan sebagai pengganti relay yang mengatur kerja solenoid dan arus
besar saat motor bekerja. Selanjutnya untuk mengurangi pumping dan pengaruh kick-back yang
berlebihan, maka dipakai motor speed control dengan mircopocessor 16 bit agar perhitungan
kecepatan roda dan performa ABS menjadi lebih baik, dengan kemampuan 5 millidetik per siklus
kerja.

[Link] penguat input wheel speed sensor


Dari setiap wheel speed sensor yand dipasang pada roda, di dalam sirkuitnya dipasang bentuk
gelombang arus. Bentuk gelombang tersebut dikuatkan dan dirubah menjadi bentuk gelombang
persegi, dan dikirim ke Microcontroller. Sesuai dengan jenis ABS, jumlah wheel speed sensor
akan berubah dan jumlah sirkuit penguatnya juga akan berubah.
b. Microcontroler
Acuan kecepatan, rasio selip, rata2 akslerasi/deselerasi dan kerja solenoid dan motor dihitung
berdasarkan informasi dari setiap rodanya. Sirkuit ini mendeteksi gelombang sensor kecepatan
roda setiap [Link] menghitung acuan kecepatan berdasarkan kecepatan
rodanya, kemudian membandingkan kecepatan referensi dan momen kecepatan roda untuk
memperkirakan rasio selip dan rata2 akselerasi dan deselerasinya. Solenoid valve mengaktifkan
output sirkuit untuk pressure dump, hold, menaikkan sinyal ke solenoid pada roda yang terkunci
sesuai dengan perkiraan sinyal pengaturan seperti slip ratio, akselerasi/deselerasi.
c. Sirkuit Mengaftikan Solenoid Valve
Sirkuit ini gunanya adalah untuk mengatur arus solenoid valve dan menghidupkan atau
mematikan pressure dump, hold, menaikkan sinyal Microcontroller.
d. Voltage Regulator, Motor Relay dan Failsafe Driver Circuit, Lamp Driver circuit,
Communication Circuit
Memonitor tegangan suplai (5V, 12V) yang sedang dipakai untuk ABSCM dalam keadaan stabil
berdasarkan batasan [Link] ini dapat mendeteksi adanya kegagalan sistem dan
mengaktifkan valve relay, motor relay. Apabila ada kerusakan pada sistem ABS, maka sistem
akan dihentikan dikarenakan valve/motor relay menjadi off dan lampu peringan ABS akan
menyala untuk memberitahukan kepada si pengemudi bahwa ada kerusakan pada sistem ABS.
Bila adakerusakan pada ABS, maka rem yang bekerja adalah normal, seperti pada rem biasanya.

2. Safety Circuit
Saat Ignition switch diputar ke ON, ABSCM akan melakukan self-test sampai kecepatan
kendaraan mencapai batas kecepatan normal dan juga memonitor sistem saat mobil melaju. Jika
terdeteksi ada kerusakan, pertama yang dilakukannya adalah menghentikan fungsi ABS dan
menyalakan lampu peringatan ABS. Meskipun ABS tidak dapat bekerja, namun rem
konvensional mesih tetap [Link] terdeteksi lagi adanya kerusakan pada sistem,
maka lampu peringatan akan mati dan sistem kembali berjalan normal.
a. Initial Self-Testing setelah IG ON (mobil berhenti)
Ketika kunci kontak diputar ke ON maka arus akan mengalir ke ABSCM, dan melakukan
prosedur kerja sebagai berikut :
1) Mengecek fungsi microprocessor
a) Membuat Watchdog Error dan memeriksa jika ada kesalahan
b) Memeriksa data ROM
c) Memeriksa data RAM apakah penulisan dan membacaan data normal
d) Memeriksa kerja converter A/D (Analog /Digital)
e) Memeriksa komunikasi diantara dua microprocessor
2) Memeriksa fungsi valve relay
a) Mengaktifkan valve relay dan memeriksa kerjanya
3) Memeriksa fungsi fail memory circuit microprocessor
b) Memeriksa fail memory circuit microprocessor
b. Initial Self-Testing saat mobil bergerak
Ketika mobil mulai bergerak, ABSCM akan melakukan tes fungsi actuator sebagai berikut :
1) Tes fungsi solenoid valve
Memeriksa fungsi solenoid valve dan memonitor kerjannya.
2) Tes fungsi motor
Menjalankan motor dan memeriksa kondisinya. Tergantung dari si pembuat ABS, waktu self
testing pada motor dapat berbeda, namun kebanyakan self testing dilakukan saat mobil mulai
berjalan atau pada akhir ABS bekerja.
3) Memeriksa sinyal wheel speed sensor
Memeriksa semua sinyal wheel speed sensor

c. Tes sistem saat mobil melaju


Setelah proses inisial self-test selesai, sistem ABS diperiksa oleh dua microprocessor dan sirkuit
lain disekitarnya. Jika ada kesalahan, microprocessor akan mengkonfirmasikannya dan kode
kesalahan tersebut akan disimpan di dalam ABSCM.
1) Tes tegangan (12V, 5V)
Periksa apakah suplai tengannya 12volt dan tegangan di dalam ABSCM adalah 5 volt. Namun
perlu diperhatikan suatu saat tegangan bisa turun dikarenakan beroperasinya ABS atau motor
saat sedang memonitor tegangan.
2) Tes kerja valve relay
Saat ABS bekerja, valve relay [Link] menjaga kerja valve relay.
3) Perhitungan menghasilkan perbandingan antara dua microprocessor
Biasanya ada dua microprocessor di dalam ABSCM dan melakukan fungsi kerja dalam waktu
yang sama. Keduanya saling membandingkan hasil satu sama lainnya dan mengenalikesamaan
diantara keduanya. Konsep perbandingan ini bisa menjamin bahwa sistemberjalan sebagaimana
mestinya dan dapat mendeteksi secara dini adanya kerusakan.
4) Tes kerja microprocessor
Memonitor microprocessor
5) Memeriksa data ROM
Melakukan pemeriksaan jumlah data ROM dan memastikan bahwa program berjalan dengan

d. Menampilkan Self Diagnosis


Apabila ada kesalahan yang dideteksi oleh safety circuit, fungsi ABS akan berhenti dan lampu
peringatan ABS menyala. ABSCM akan menampilkan kode kerusakan melalui alat Scan. Alat
scan dapat mengaktifkan solenoid valves dan motor.

ABS (AntiLocking Brake System) Pada Sepeda Motor

Sekarang-sekarang ini, teknologi keselamatan piranti pengereman Anti Lock Bracking System
(ABS) tidak hanya melulu untuk mobil. Motor pun sudah mulai menerapkannya, meskipun para
pembalap tampaknya akan sedikit pesimis dengan adanya teknologi ABS di motor mereka,
karena kesulitan memahami penggunaannya di roda dua. Namun, hasil penelitian yang dilakukan
oleh lembaga asuransi dan keselamatan jalan raya Amerika, Insurance Institute for Highway
Safety, mengungkapkan, motor dengan rem ABS 37 persen lebih rendah untuk terlibat dalam
kecelakaan fatal, dibandingkan motor tanpa rem ABS.
Jadi, bagaimana ABS membantu pengendara motor? Tidak seperti mobil yang memiliki kontrol
terpisah pada roda depan dan belakang, rem motor bekerja bersamaan depan dan belakang. ABS
berfungsi untuk mengurangi tekanan rem ketika mendeteksi gejala sliding, dan akan
menigkatkan pengereman setelah traksi ban dipulihkan. Tekanan rem akan dievaluasi beberapa
kali per detik, sehingga pengendara dapat mengerem sepenuhnya tanpa takut roda terkunci, dan
jelas itu mengurangi resiko kecelakaan. Sehingga, kami menyarankan pada para bikers baru
untuk memiliki motor yang sudah mengaplikasikan rem ABS.

Teknologi Antilock Braking System (ABS)


Sistem ABS sendiri terdiri dari tiga bagian :

1. Sensor kecepatan

2. Pengendali Katup Tekanan

3. Electronic Control Unit (ECU)

Bagian terpenting yang merupakan otak dari sistem ini adalah sang ECU. ECU dengan parameter
kecepatan yang diperolehnya dari sensor kecepatan akan mengetahui bilamana akan terjadi
sebuah kejadian deselerasi yang ekstrim (kecepatan turun secara ekstrim dan tiba-tiba) yang
dapat menyebabkan rem cakram nge-lock . Sebelum hal ini terjadi (nge-lock) ECU secara
otomatis akan menutup katup tekanan pada PCV yang membuat minyak rem yang menuju
kaliper akan terhambat dan tekanan piston kaliper berkurang sehingga gejala nge-lock dapat
dihindari. Setelah ECU mendeteksi kecepatan telah berkurang dan aman dari gejala deselerasi
ekstrim, perlahan-lahan katub kembali akan dibuka untuk dapat membuat tekanan kembali pada
kaliper sehingga motor dapat dihentikan. Secara garis besar cara kerja ABS adalah seperti itu,
tetapi untuk membahasnya lebih detail, disini akan mengambil contoh sepeda motor yang sudah
memiliki teknologi Combine ABS pada sistem pengeremannya, yaitu Honda CBR250R.
Manfaat Fitur ABS

Kesalahan persepsi pada fungsi rem menyebabkan redahnya pemahaman konsumen pada
manfaat rem ABS (Anti-lock Braking System). Karena itu, tak mengherankan bila masih banyak
konsumen yang menganggap sepele fungsi fitur rem ABS. Padahal, fitur ABS sangat besar
manfaatnya bagi keselamatan berkendara, terutama saat pengereman mendadak, terlebih
dilakukan di jalan yang licin. Mungkin sudah terdapat banyak kasus kecelakaan yang disebabkan
oleh slip ban karena ban tersebut terkunci oleh rem yang ditekan terlalu dalam saat melakukan
pengereman mendadak dan jalan licin.

Sampai detik ini pun banyak di antara pengemudi yang memahami rem sebagai penghenti laju
kendaraan. Padahal, fungsi rem hanyalah mengurangi putaran roda. Cobalah Anda bayangkan,
mengapa motor yang berlari kencang masih meluncur ketika rem sudah diinjak sedemikian
dalamnya. Apalagi bila dilakukan dalam kondisi lintasan basah atau berpasir.
Penyebab masih meluncurnya motor setelah di rem bukan karena roda yang masih berputar, tapi
diakibatkan oleh gaya sentrifugal. Semakin kencang pergerakan motor maka semakin besar
potensi gaya sentrifugal yang diterimanya ketika dilakukan penghentian mendadak. Pada motor
tanpa fitur ABS gaya sentrifugal yang besar bahkan mampu menyeret ban yang terkunci oleh
rem. Efek dari gaya sentrifugal memang hanya melempar motor. Namun bisa dibayangkan,
bagaimana bila ketika gaya sentrifugal diterima motor posisi roda depan sedang dalam keadaan
miring. Ya, motor akan meluncur tak terkendali, bahkan paling fatal mengakibatkan motor
terbalik dan terjatuh.
Untuk mengurangi gaya sentrifugal itulah maka tercipta rem ABS. Namun jauh sebelum ABS
ditemukan para pembalap telah menerapkan prinsif kerja rem ABS secara manual. Para
pembalap biasanya melakukan pengereman dari kecepatan tinggi dengan cara menekan pedal
rem secara bertahap, dalam reflek tinggi dan bobot tekanan yang berbeda-beda. Namun
terkadang, tanpa di sadari, banyak pengendara motor berfitur ABS masih memperlakukan gaya
pengereman mengocok. Tindakan ini sama sekali tidak dibutuhkan. Sebaliknya bila hal ini
dilakukan maka hanya akan membingungka sensor ABS yang pada ujungnya mengurangi
sensitifitas pengereman.
Jadi secara garis besar ABS (Antolocking Brake System) berfungsi untuk mengatur tekanan yang
diterima oleh piston saat pengereman mendadak atau jalan licin untuk mencegah terjadinya rem
terkunci yang dapat menyebabkan ban slip atau sliding dan kemungkinan terjatuh.

Cara Kerja Combined ABS Honda CBR250R

Fitur pengereman ini, membuat roda belakang tidak terkunci yang menyebabkan ban slip atawa
sliding ketika diajak ngerem mendadak. Tapi, sebelum bicara banyak Combined ABS (C-ABS),
baiknya bahas asal-mula ABS dulu. Tanpa ABS, pengereman yang diterima sesuai gaya inersia
yang dihasilkan. Maka itu, ABS berfungsi mengurangi tekanan fluida alias minyak rem dari
kaliper dalam kondisi tertentu.

Misalnya, ketika roda mulai mengunci. Tekanan akan berkurang sesuai kebutuhan agar ban tidak
locking. Tekanan kembali naik dan normal ketika ketika penguncian berkurang, ujar Sarwono
Edhi, Manager Technical Service Training Division PT Astra Honda Motor (AHM). Sistem ABS,
butuh part buat mengirim sinyal, kalau tekanan yang ada di kaliper itu sudah tinggi. Maka itu,
ABS tidak lepas dari peran wheel speed sensor, ECU (Electronik Control Unit) dan juga
modulator. Wheel speed sensor berfungsi membaca kecepatan putaran roda yang akan dideteksi
ECU. Dari ECU ini akan mengirim sinyal ke ABS modulator. ABS modulator ini yang akhirnya
berfungsi mengatur tekanan fluida di dalam kaliper.

ABS Modulator Punya Fungsi Vital


ECU ABS sendiri, terpisah dari ECU kelistrikan. ECU ABS CBR250R terletak bersamaan
ABS modulator yang di dalamnya terdapat pompa, reservoir dan katup selenoid in dan out.
Pengurangan tekanan fluida seperti katup buka-tutup. Proses sangat cepat. Mengurangi, tahan
dan menaikkan tekanan fluida sekitar 50 kali/ detik. Metode ini yang bikin roda tidak terkunci.
Paham cara kerja ABS, kini beralih ke C-ABS. Combined ABS merupakan paduan dari kinerja
rem ABS dengan Combi Brake System (CBS). Pengereman CBS sendiri, seperti misalnya yang
diaplikasi di Honda Vario Techno CBS. "Jika hanya depan saja yang aktif, itu berarti kerja ABS
saja. Tapi, kalau belakang juga, jadi C-ABS, ungkap Edhi lagi. Maka itu, buat menggabungkan
sistem kerja kedua rem ini, butuh part tambahan lagi. Yaitu, delay valve dan PCV. Delay valve
dan PCV berfungsi atur tekanan hidraulik yang dihasilkan rem belakang. Sehingga di tekanan
tertentu, mampu aktifkan rem depan meski cuma injak pedal rem belakang. Maka itu juga, C-
ABS butuhkan 3 pot kaliper. Pedal rem belakang, aktifkan piston tengah di kaliper. So, hadirnya
C-ABS, tidak akan membuat roda belakang terkunci.

Bisa Lacak Kerusakan


Jika terjadi trouble dalam kinerja ABS dan C-ABS, itu bisa dipantau dari indikator lampu ABS
yang terdapat di panel spidometer. Sejatinya ketika kunci kontak dinyalakan, lampu indikator
menyala diam. Lalu, di kecepatan 6 km/jam, pompa ABS menyala untuk [Link] Speed
Sensor, induksi atntara magnet dan pulser ring cakram (kiri). Jika terjadi trouble di ABS, bisa di
pantau lewat kedipan indikator (kanan). Di kecepatan 10 km/jam atau lebih, indikator ABS pun
akan mati. Tapi, jika tidak mati atau berkedip, berarti ada masalah. Tapi, rem masih tetap bekerja.
Hanya saja tidak dalam mode ABS.
Buat mendiagnosa kegagalan fungsi ABS, mudah. Cukup baca kedipan lampu indikator. Tapi,
ada cara yang harus dilakukan sebelumnya. Dalam kondisi motor tidak jalan, lepaskan konektor
ABS service check dari konektor. Jumper kabel terminal konektor (abu-abu dan merah-silver).
Kemudian putar kunci kontak ke ON. ABS indikator akan menyala selama 2 detik. Lalu, mati
selama 3,6 detik. Setelah itu, indikator akan memberitahukan sumber masalah. Kedipan panjang
menandakan puluhan, sedang kedipan cepat merupakan satuan. Misal, satu kedipan panjang dan
tiga kedipan cepat. Itu artinya 13. 13 menandakan rangkaian speed sensor belakang tidak
berfungsi dengan baik.

ABS Masa Depan Untuk Sepeda Motor Makin Simpel


Antilock Braking System (ABS) sudah banyak diaplikasikan pada sepeda motor. Salah satunya
adalah di Honda CBR250R, tapi bila melihat secara detail perangkat ABS ini ternyata ribet! Tapi
tenang, Bosch Jepang sedang mengembangkan perangkat ABS yang lebih simpel. Pada Honda
CBR250R ada ECU (electronic control unit) khusus ABS yang terpisah dengan ECU pengapian,
lalu ada juga modulator yang mengatur tekanan fluida di masing-masing roda. Modulator ini
diletakan di bawah jok pengendara dan cukup membutuhkan ruang.
Tapi Bosch Jepang, perusahaan yang khusus mengembangkan teknologi-teknologi terbaru ini
mencoba menggabungkan semuanya dalam sebuah kesatuan. Pada gambar yang didapat dari
Visor Down ini bisa dilihat ada sebuah master rem depan lengkap dengan tuasnya. Bukan hanya
master rem dengan katup solenoida saja, tapi juga sudah ada ECU dan sebuah pompa ABS yang
terintegrasi jadi satu. Hasilnya, ukurannya hanya sedikit lebih besar dari master rem
konvensional kan? Hal yang sama juga tentunya bisa diaplikasikan pada ABS di roda belakang.
Tapi yang menjadi kekhawatiran adalah, saat terjadi kecelakaan tuas rem dengan dan master rem
sering kali mengalami kerusakan. Nah, kalau yang ini yang rusak pasti akan jadi mahal biaya
perbaikannya, di master rem-nya sudah ada ECU ABS-nya.

Kelebihan Fitur ABS pada Sepeda Motor


Dari segi manfaat dan teknologi mungkin fitur ABS ini sangat berguna bagi pengendara di
Indonesia yang lalu lintasnya padat dan jalan yang licin serta bergelombang. Selain itu juga dapat
mengurangi resiko kecelakaan akibat pengereman mendadak terlebih jalanan licin karena
manuver motor masih bisa dikendalikan dan ban tidak terkunci.

Kekurangan Fitur ABS pada Sepeda Motor


Salah satu kekurangan fitur ABS ini adalah harganya yang masih mahal untuk ukuran konsumen
Indonesia yang notabanenya menengah ke bawah, tetapi mungkin bagi sebagian kalangan fitur
ini cukup puas dengan teknologi yang disuguhkan, karena bisa membuat rider yang mengendarai
motor dengan fitur ABS akan lebih percaya diri karena setidaknya keamanan karena slip ban bisa
dihindari.
Bobot motor juga akan bertambah seiring dengan ditanamnya piranti-piranti untuk menjalankan
fitur ABS tersebut. Bahkan dari contoh Honda CBR250R yang dikeluarkan AHM dengan 2
varian yaitu dengan fitur ABS dan tanpa fitur ABS, konsumen lebih memilih membeli yang
tanpa fitur ABS karena selisih harga keduanya lumayan jauh, bahkan ada yang berfikir selisih
diantara keduanya bisa dipakai untuk memodifikasi CBR non ABS-nya.

Sumber

[Link]

[Link]
system/

Common questions

Didukung oleh AI

The ABS warning light plays a critical role in notifying the driver of potential issues with the ABS system. When a fault is detected, the warning light illuminates, indicating that the system has switched off to prevent malfunction during driving. The diagnostic process is then initiated, which involves checking system components such as wheel speed sensors and the ECU to locate the source of the fault. This diagnostic process often includes observing the indicator light's specific blinking pattern to identify the error code related to the fault, enabling targeted maintenance and repairs, thus ensuring the ABS's reliability and safety .

Combined ABS (C-ABS) systems integrate the functionality of traditional ABS with a Combi Brake System (CBS), enhancing safety by distributing braking force between the front and rear wheels. In systems like the Honda CBR250R, C-ABS ensures that when the rear brake is applied, it can simultaneously activate the front brake under certain conditions, using delay valves and pressure control valves (PCV). This system provides improved braking balance and reduces the likelihood of rear wheel lock-up, which is crucial for maintaining stability during sudden stops. The blend of ABS and CBS in C-ABS offers enhanced safety by allowing more controlled stops and reducing stopping distances, particularly useful on wet or slippery roads .

Implementing ABS in motorcycles faces the challenge of maintaining control during emergency braking due to differences in mass distribution and wheel contact compared to vehicles. Unlike cars, motorcycles have a higher risk of skidding due to their two-wheel design. ABS in motorcycles works by modulating brake pressure to prevent wheel lock-up, particularly crucial for preventing rear-wheel skidding during sudden stops. The advantage of motorcycle ABS includes a significant reduction in the risk of fatal crashes by ensuring that braking force is effectively distributed, helping maintain stability and traction on both dry and slippery surfaces, improving overall safety during emergency maneuvers .

The main components of the Anti-lock Brake System (ABS) include wheel speed sensors, the Electronic Control Unit (ECU), solenoid valves, and the hydraulic control unit. Wheel speed sensors detect the rotational speed of each wheel and send this data to the ECU. The ECU processes this information to determine if any wheels are at risk of locking up. Based on this analysis, the ECU controls the solenoid valves to adjust the brake fluid pressure applied to the wheels, either reducing or maintaining pressure as needed to prevent lock-up. The Hydraulic Control Unit executes these adjustments to the brake pressure, ensuring optimal braking performance and maintaining traction .

The initial self-test of the Anti-lock Brake System Control Module (ABSCM) involves multiple checks to ensure system reliability and safety. When the ignition switch is turned on, the ABSCM performs tests on the microprocessor functions, including error detection through the watchdog mechanism and memory checks of the RAM and ROM. It also checks analog-to-digital converters and the communication between microprocessors. These processes identify faults early, stopping the ABS functions if errors are detected, and alerting the driver through the ABS warning light, thus preventing unsafe ABS operation while allowing the conventional braking system to function .

Manual braking techniques like threshold braking, where drivers manually modulate brake pressure to maintain control just before wheel lock-up, can interfere with ABS functionality by prematurely cycling the system on and off. This can cause confusion in the system, reducing ABS efficiency and increasing stopping distances. To enhance safety, drivers should apply firm and continuous pressure on the brake pedal allowing the ABS to properly modulate braking pressure and maintain stability without driver interference. This approach maximizes the ABS's ability to prevent wheel lock-up, particularly on slippery surfaces, thereby improving overall vehicle control during emergency stops .

The microcontroller in the Anti-lock Brake System (ABS) plays a crucial role in calculating and controlling various parameters to maintain vehicle control during braking. It receives signals from wheel speed sensors and processes this data to evaluate the reference speed, slip ratio, and average acceleration/deceleration of each wheel. Using this information, the microcontroller manages the solenoid valve operations that adjust the brake pressure in real-time. This continuous modulation prevents wheel lock-up and maintains optimal traction, thus providing better steering control and vehicle stability during braking .

Despite the safety benefits of ABS, some consumers remain hesitant to adopt these systems due to factors such as cost and misconceptions about braking performance. ABS-equipped vehicles may come with a higher price tag, which can be a barrier for price-sensitive markets. Additionally, there are common misconceptions that ABS might increase stopping distances or that traditional braking techniques are sufficient. However, as understanding of ABS's role in improving vehicle control and reducing accident risks grows, and as more affordable options become available, consumer adoption is likely to increase. Safety improvements and regulations may further drive the uptake of ABS systems .

The anti-lock braking system (ABS) prevents wheel locking by adjusting the brake fluid pressure during braking. When the wheel speed sensor detects a tendency for the wheels to lock, the Electronic Control Unit (ECU) sends signals to reduce brake pressure by closing the solenoid valves. This reduction is achieved through continuous modulation of the brake pressure, thereby ensuring the wheels maintain traction and preventing skidding. The ABS system evaluates wheel speed several times per second to maintain vehicle stability, especially on slippery surfaces, by preventing loss of steering control due to locked wheels .

Advancements in semiconductor technology have enabled the Anti-lock Brake System Control Module (ABSCM) to be more efficient and compact. Modern semiconductors withstand a wide temperature range (-40 to 125 degrees Celsius), crucial for ABS's reliable operation under varying conditions. Technological improvements have allowed the integration of the ABSCM with the Hydraulic Control Unit (HCU), reducing the system's size and complexity while enhancing performance. Integrated systems such as Bosch's ABS version 5.0 benefit from these advancements, enabling more precise and faster processing of sensor data and control signals, resulting in improved ABS performance and reliability .

Anda mungkin juga menyukai