LAPORAN PRAKTIKUM
SPERMATOGENESIS
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktikum Matakuliah Embriologi
Dosen: 1. Sumiyati Saadah, [Link], [Link]
2. Epa Paujiah, [Link]
Asisten Praktikum: - Andini Eka Putri
- Eka
Oleh :
Nama : Ismail Fadlurrohman (1142060041)
Kelas/Smst : A/V
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
SPERMATOGENESIS
Ismail Fadlurrohman
Program Studi Pendidikan, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Tarbiyah Dan
Keguruasn, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
Jln. A.H. Nasution No. 105 Bandung
e-mail: ismailfadlurrohman665@[Link]
I. PENDAHULUAN
1.1. Landasan Teori
Spermatogenesis adalah proses pembentukan sperma yang terjadi di dalam
tubulus seminiferus tetis. Testis memiliki empat ruang fungsional atau kompartemen
: adluminal, basal, vaskular dan interstitial. Kompartemen adluminal dan basar
terletak di dalam tubulus tempak dihasilkannya spermatozoa, kompartemen vaskular
dan interstitial terletak diantara tubulus tempat dihasilkannya hormon androgen,
seperti testoteron. Hormon ini dihasilkan oleh sel leydig yang berperan untuk
menginduksi spermatogenesis (Tim Pengajar. 2017: 19).
Spermatogenesis merupakan proses yang fundamental didalam sistem
reproduksi pria yang melibatkan serangkaian peristiwa genetik dan epigenetik
tingkat tinggi didalam sel-sel germinal yang berperan penting mengubah
spermatogonia menjadi spermatozoa dan dikendalikan oleh hormon gonadotropin
yaitu follicle stimulating hormon (FSH) dan luteiniing hormon (LH) (Aulanniam,
et al. 2011: 78).
Spermatogenesis adalah proses terbentuknya sermatozoa dari spermatogonium,
melalui perkembangan yang kompleks dan teratur. Spermatogenesis terjadi didalam
tubulus seminiferus testis, melalui beberapa proses, yaitu proliferasi, diferensiasi dan
transformasi. Pada tubulus seminiferus terdapat beberapa kelompok sel yang
mempunyai sel germinal yang menyusun beberapa lapisan, setiap lapisan
menunjukkan perbedaan generasi. Bagian lamina basalis sampai lumen tubulus
seminiferus akan terlihat lapisan spermatogonia, spermatosit, spermatid dan
spermatozoa yang dekat dengan lumen (Widotama. 2008: 117-124).
Sel-sel sperma sebenarnya hanya merupakan inti yang berflagelum. Sperma
dihasilkan dalam testis oleh sel-sel khusus yang disebut spermatogonia.
Spermatogonia yang bersifat diploid ini dapat membelah diri secara mitosis
membentuk spermatogonia atau dapat berubah menjadi spermatosit. Meiosis dari
setiap spermatosit menghasilkan empat sel haploid ialah, spermatid. Spermatid ini
dalam proses tersebut, kemudian kehilangan banyak sitoplasma dan berkembang
menjadi sperma (Kimball, 1996: 360).
Proses pembentukannya disebut spermatogenesis. Spermatogonium yang
terletak di paling luar tubulus seminifirus dan yang melekat pada membrane basalis,
mengalami mitosis berulang-ulang. Ini tumbuh menjadi spermatosit. Spermatosit
mengalami meiosis menjadi spermatid. Spermatid mengalami spermiogenesis
menjadi sperma, yang dipelihara oleh sel Sertoli. Satu sel Sertoli memelihara
berpuluh spermatid, terletak di daerah puncaknya (Yatim, 1994: 11).
Spermatogenesis, atau produksi sel-sel sperma dewasa, adalah proses yang
terus-menerus dan prolific pada jantan dewasa. Setiap ejakulasi laki-laki
mengandung 100 sampai 650 juta sel sperma, dan seorang laki-laki dapat mengalami
ejakulasi setiap hari dengan kemampuan untuk membuahi yang hanya berkurang
sedikit (Campbell, 2004: 160).
Pembentukan sel sperma terjadi di dalam testis atau buah zakar. Sperma atau
spermatogonium yang bersifat diploid. Selanjutnya, spermatogonium membelah
secara mitosis menghasilkan spermatozoidprimer yang juga bersifat diploid.
Selanjutnya, spermatozoid*primer membelah reduksi (meiosis) menghasilkan
spermatozoid skunder yang haploid. Setelah itu spermatzoid sekunder membelah
menhhaslkan spermatid, yaitu calon sperma yang belum mempunyai ekor. Sperma
berkembang menjadi spermatozoa yang telah dilengkapi ekor. Setiap spermatozoa
terdiri tas bagian ujung yang disebut dengan kepala. Pucuk kepala ini mengandung
akrosom yang berisi enzim hialuronidase dan proteinase yang berperan untuk
menembus lapisan pelindung sel telur. Bagian temgahnya banyak mengandung
mitikondria yang oenting untuk memeobolisasi energi (Slamet, 2007: 303).
Ketika spermatid di bentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-
sel epitel. Namun setelah spermatid memanjang menjadi sperma akan terlihat bentuk
yang terdiri dari kepala dan ekor. Kepala sperma terdiri dari sel berinti tebal dengan
hanya sedikit sitoplasma. Pad bagian membrane permukaan di ujung kepala sperma
terdapat selubung tebal yang disebut akrosom yang berfungsi menembus lapisan
ovum (Diah, 2004: 267).
Jumlah sel spermatogenik adalah jumlah sel spermatogonia, spermatosit primer,
spermatosit sekunde, spermatid dan spermatozoa yang terletak pada tubulus
seminiferus yang menandakan adanya proses spermatogenesis yang terjadi didalam
testis. Jumlah sel spermiogenesis adalah jumlah sel spermatid dan spermatozoa.
Waktu yang diperlukan untuk pembentukan spermatogonia 3 hari, spermatosit
primer selama 16 hari, spermatosit II 26 hari, spermatid 36 hari, dan spermatozoa 49
hari. Spermatozoa yang terbentuk didalam testis disalurkan ke saluran epididimis
untuk mengalami proses pematangan (Susetyarini, E. 2011: 2).
1.2. Tujuan Praktikum : - Mempelajari perkembangan atau diferensiasi sel sperm.
- Komponen sel somatik yang berperan dalam spermatogenesis.
- Kompartemen testis, serta asosiasi sel dan siklus epitelium
seminiferus.
II. METODE PENELITIAN
2.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakukan pada hari Kamis, 23 Maret 2017 pukul 07:30 WIB dan
bertempatan di laboratorium terpadu Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Bandung.
2.2. Alat dan Bahan
No. Alat Bahan
1. Atlas Histologi testis Preparat testis
2. Mikroskop Preparat spermatozoa
3. Pensil Preparat testis epididimis
4. Penghapus Preparat kelenjar testis
2.3. Langkah Kerja
1. Kompartemen testis
a. Mintalah preparat permanen dari sayatan seri testis tikus kepada
pembimbing. Jangan lupa catatlah keadaan preparat saudara pinjam
sebelum dan sesudah saudara gunakan pada formulir yang disediakan
pembimbing.
b. Ambillah mikroskop dari lemari, periksalah kelengkapan dan keadaan
mikroskop yang saudar pinjam. Sesuaikan jenis mikroskop dengan
keperluan praktikum yang akan dilakukan. Untuk pengamatan jaringan
testis diperlukan objektif 10x40.
c. Tempatkan sayatan testis pada meja mikroskop dengan objekid 10x
beberapa tubulus seminiferus yang berbentuk bulatan-bulatan karena
tersayat melintang. Dapatkan jaringan yang menghubungkan dua atau tiga
tubuli, sehingga diketahui dan dibedakan bagin intratubular dari
intertubular testis.
d. Fokuskan pengamatan pada bagian intratubular testis yang memiliki
kompartemen, yaitu kompartemen adluminal yang meliputi bagian lumen
tubulus testis hingga yang ditempati spermatosit primer, serta
kompartemen basal pada bagian basal tubuli yang ditempati sel sertoli.
Batas kedua kompartemen ini akan terlihat jelas dengan mikroskop
elektron sebagai zonular junction, suatu hubungan kompleks dari sel
sertoli yang berdekatan.
e. Geserlah preparat dan fokuskan pada bagian intertubular testis yang juga
mempunyai dua kompartemen, yaitu kompartemen vaskular dan interstial.
Kompartemen vaskular terdiri dari pembuluh-pembuluh limfa dan sel
Leydig.
f. Buatlah sketsa yang menggambarkan keempat kompartemen testis
berdasarkan preparat yang saudara amati (TUGAS III-1).
2. Diferensiasi sel spermatozoa.
a. Catatlah dan amati tubulus seminiferus yang didalamnya terdapat sel-sel
spermatogonia, dalam hal ini tentukan spermatogonium A, In dan B.
Gunakan dengan pemutar halus, spermatogonium A memiliki inti besar
berbentuk lonjong dan berwarna pucat. Spermatogonium in intinyanya
lebih kecil dari inti A dengn membran inti terdapat bintik-bintik semacam
sisik berwarna gelap. Spermatogonium terletak pada bagian basal tubulus.
b. Lanjutkan pengamatan pada tubulus anda, apakah ada spermatosit primer
R, L, Z atau Di yang dapat diketahui dari karakteristik bentuk inti selnya.
Jika tidak ditemukan, carilah pada tubulus lain. Spermatosit primer R
adalah sel dalam keadaan interfase (R, resting) sehingga inti yang bulat
berwarna pucat tidak menampakkan benang kromatin. Hal ini berbeda
dengan spermatosit primer lain yang pada intinya terlihat variasi
penampakan benang kromatin. Spermatosit primer L dan Z merupakan sel
claim fase leptoten dan zigoten yang masing-masing mamiliki inti bulat,
namun warna inti Z lebih gelap dari L. Sedangkan spermatosit primer P
dan Di warna intinya hampir sama sangat gelap dan kasar namun ukuran
inti Di satu setengah lebih besar dari inti P.
c. Untuk mengetahui sel spermatid sekunder, spermatid dan spermatozoa,
fokuskan pengamatan pada bagian tengah epitel tubulus seminiferus.
Gunakan lensa objektif 40x, lalu sambil mengatur pemutar halus amatilah
inti spermatosit sekunder yang besarnya hampir seperdua dari inti
spermatosit primer diploten (Di) dengan membran inti sangat jelas.
Perubahan dari spermatosit sekunder menjadi spermatid terjadi amat
cepat, sehingga pada bagian ini pun terlihat sel-sel spermatid bulat dengan
inti kecil, bulat dan jernih. Bentuk spermatid selanjutnya sangat variasi
hingga akhirnya terjadi bentuk paling ekstrim pada spermatozoa.
d. Gambarlah masing-masing sel dengan memperhatikan bentuk, ciri dan
proporsi yang sesuai dengan hasil pengamatan pada preparat saudara
(TUGAS III-2).
3. Komponen sel somatik.
a. Sel Sertoli dan sel Leydig adalah dua macam sel somatik yang sangat
berperan dalam proses spermatogenesis. Sel Leydig berada diluar tubulus
dan berperan dalam menghasilkan hormon testosteron, sedangkan sel
sertoli yang berada didalam tubulus selain berfungsi sebagai tempat
berkembangnya sel-sel sperma, juga diketahui menghasilkan suatu
senyawa yang dinamakan antigen binding protein atau ABP.
b. Dengan objektif 10x dapatkanlah sel Sertoli pada sebarang tubulus
seminiferus. Secara utuh sel ini tidak terlihat jelas karena umumnya
tertutup sel-sel sperma, namun inti selnya yang berbentuk lonjong dan
sebagian sitoplasmanya dapat ditemukan pada bagian basal tubulus.
Setelah diketahui, gantilah dengan objektif 40x untuk memastikan dan
mengamati lebih rinci.
c. Dengan cara seperti diatas lakukanlah pengamtan untuk sel Leydig pada
jaringan intertubular. Sel ini dengan mudah dapat diketahui, mempunyai
bentuk sel iregular atau poligonal dengan inti sel kecil yang terletak
perifer.
d. Gambarlah kedua sel somatik tersebut dengan memperhatikan bentuk,
ciri, dan proporsi yang sesuai dengan hasil pengamatan dari pengamtan
saudara, gambarkanlah pula bentuk seharusnya untuk sel sertoli (TUGAS
III-3).
4. Asosiasi sel dan siklus epitelium seminiferus
a. Perhatikan, bahwa sel-sel yang terdapat pada sayatan melintang tubulus
seminiferus tersusun seperti suatu susunan jaringan epitel, sehingga
disebut epitelium seminiferus. Susunan radier epitelium ini
menggambarkan asosiasi sel dengan tipe khas pada tiap sayatannya.
Seperti pada asosiasi tipe spenuatogonium Al, Spermatosit primer L dan
P, serta spermatid yang memanjang tersusun radier dari basal ke lumen.
Demikian pula untuk asosiasi tipe 2 hingga 8, dengan catatan makin besar
nomor tipe, asosiasi disusun oleh sel-sel yang lebih matang.
b. Siklus epitelium seminiferus didasarkan pada perkembangan spermatid,
sehingga terdapat 14 stadium dalam tiap siklusnya. Jadi dalam hal ini
kriteria penentuan stadium tidak melihat asosiasi sel.
c. Pilihlah lima variasi sayatan tubulus dengan menggunakan objektif 10x
dan 40x. Gambarlah kelima epitelium seminiferus, kemudian tentukan
masing-masing tipe berada asosiasi selnya dan stadium berapa siklus
epiteliumnya (Tugas III-4).
III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
TUGAS III-1. Kompartemen Testis.
TUGAS III-2. Diferensiasi Sel Spermatozoa
TUGAS III-3. Komponen Sel Somatik.
Pada praktikum kali ini tentang spermatogenesis dimana kita mengamati preparat.
Beberapa tugas pengamatan yang harus dikerjakan diantaranya: Kompartemen Testis;
Diferensiasi Sel Spermatozoa; dan Komponen Sel Somatik nya.
Pada kompartemen testis didapat ada nya kompartemen yang terdiri dari
kompartemen adluminal dan kompartemen basal. Dua kompartemen terletak di dalam
tubulus seminiferus. Kompartemen interstitial dan basal dipisahkan oleh membran
basement acellular dikelilingi eksternal oleh sel myoid dan diinvestasikan dengan mantel
longgar brocytes fi interstitial (lihat box insert yang lebih rendah). Sel-sel Myoid
dihubungkan satu sama lain dengan persimpangan belang-belang. Tidak ada pembuluh
darah, pembuluh limfatik atau saraf melintasi batas ini ke dalam tubulus seminiferus.
Dalam tubulus, basal dan adluminal kompartemen dipisahkan oleh deretan zonula ketat,
adherens dan kompleks kesenjangan junctional (lihat box insert atas), yang
menghubungkan bersama-sama sel-sel Sertoli yang berdekatan putaran lingkar lengkap
mereka dan membentuk penghalang darah-testis. Intraseluler untuk ini kompleks
junctional adalah bundel dari aktin fi ratapan berjalan sejajar dengan permukaan sekitar
pinggang 'dari Sertoli yang sel, dan internal untuk tangisan fi cisternae dari retikulum
endoplasma kasar. Dalam kompartemen basal adalah spermatogonium, sementara
spermatosit, bulat dan memanjangkan spermatid dan spermatozoa berada di
kompartemen adluminal, kontak intim dengan sel-sel Sertoli yang mereka membentuk
persimpangan khusus (Johnson. 2007: 61-62).
Pada pengamatan diferensiasi sel spermatozoa pada gambar proses pembentukan
spermatogenesis. Panel atas menggambarkan bagian dari satu tikus spermatogonium
melalui proses spermatogenik. Panjang blok yang menggambarkan setiap tahap seluler
sebanding dengan jumlah waktu yang dihabiskan di tahap itu. Ketika tipe sel baru muncul
dengan pembagian, bar putih vertikal memisahkan blok yang berdekatan (M, mitosis).
Selama profase meiosis dan spermiogenesis, Namun, sel-sel mengubah morfologi oleh
diferensiasi progresif, tidak melompat quantal. kontinum perubahan ini ditunjukkan
dengan penggunaan garis putih vertikal rusak untuk menggambarkan blok. A, Di dan B,
spermatogonium; R, L, Z, P dan Di, beristirahat, leptotene, zygotene, pakiten dan
spermatosit primer diplotene; II, spermatosit sekunder. Masing-masing dari bawah panel
menunjukkan sejarah spermatozoa lainnya, yang dimulai pembangunan oleh generasi
siklik dari jenis baru A spermatogonium dari populasi sel induk di progresif kemudian
interval waktu. Interval antara masing-masing peristiwa ini adalah sekitar 12 hari.
Perhatikan bahwa empat peristiwa tersebut terjadi sebelum spermatozoon atas (dan
saudara kandung dalam keluarga) memiliki menyelesaikan pembangunan dan telah
dirilis. Seperti sel-sel maju melalui spermatogenesis, mereka bergerak secara progresif
dari tubulus basal ke pusat luminal. Dengan demikian, beberapa sel yang berbeda jenis
akan hadir dalam satu penampang dari tubulus pada saat yang sama, meskipun di
berbagai titik pada sumbu radial melalui tubulus. Fitur ini digambarkan lebih kompak di
Ara. 4.8, di mana bagian yang ditunjukkan oleh garis putus-putus bernomor 1-8
diringkas.
Putaran spermatogenesis diawali pada saat interval yang konstan dan karakteristik
untuk setiap spesies Sejauh ini kita telah dianggap sebagai proses spermatogenesis dari
sudut pandang satu jenis spermatogonium A, menghasilkan keluarga spermatozoa
keturunan pada konstan dan karakteristik tingkat. Setelah proses ini telah dimulai pada
titik tertentu dalam tubulus apapun, spermatogonium baru sel induk pada titik yang sama
tidak memulai generasi klon mereka sendiri sampai beberapa hari memiliki berlalu.
Hebatnya, telah ditemukan bahwa interval ini antara entri berturut-turut dalam
spermatogenesis juga konstan dan juga karakteristik untuk setiap spesies.
Entah bagaimana, langkah-langkah populasi sel induk, atau diceritakan, panjang
interval waktu ini. inisiasi siklik ini spermatogenesis disebut siklus spermatogenik.
Dalam kasus tikus, siklus spermatogenik adalah tentang 12 hari yang panjang. Periode
ini adalah salah satu-seperempat dari 48-49 hari diperlukan untuk produksi selesai
spermatozoal matang, sehingga berikut bahwa empat proses spermatogenik berturut-
turut harus terjadi pada waktu yang sama. Itu sel maju, di keluarga-keluarga
spermatogenik yang dimulai awal, mengungsi progresif oleh berikutnya putaran
mengembangkan sel-sel spermatogenik dari pinggiran menuju lumen tubulus. Dengan
demikian, melintang sebuah Bagian melalui tubulus akan mengungkapkan
spermatogenik sel pada empat tahap khas dalam perkembangan menuju spermatozoa,
masing-masing jenis sel mewakili tahap di terpisah, siklus berturut-turut. Karena kedua
siklus spermatogenik dan spermatogenik yang Proses yang panjang konstan, maka bahwa
sel-sel dalam siklus berturut-turut akan selalu mengembangkan secara paralel.
Pada pengamatan komponen sel somatik dilakukan pengamatan pada preparat testis
dan kelenjar testis karena tampak sel sertoli dan Leydagnya. Kaca preparat yang
digunakan merupakan spesimen dari tikus testis dewasa 4 minggu setelah hipofisektomi.
Hal tersebut dapat diperhatikan bahwa spermatogenesis gagal selama meiosis awal
panggung dengan tidak ada sel-sel yang lebih matang daripada hadiah spermatosit
primer. Perhatikan juga kurangnya lumen tubular, menunjukkan penghentian fl sekresi
cairan. Sel Sertoli berfungsi memberi makan spermatozoa sedangkan sel Leydig yang
terdapat di antara tubulus seminiferus berfungsi menghasilkan testosteron. Sel sertoli Sel
Sertoli juga memungkinan penyelenggara. Dengan demikian, sitoplasma sel Sertoli yang
berdekatan dalam kontinuitas dengan satu sama lain melalui luas gap junction kontak.
Ini secara efektif memberikan sitoplasma terus menerus jaringan bersama dan sekitar
tubulus melalui mana komunikasi dan sinkronisasi mungkin terjadi
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan pada
setiap bagiannya, diantaranya:
Kompartemen testis terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya kompartemen
adluminal; kompartemen basa dan kompartemen.
Diferensiasi sel spermatozoa berlangsung dengan tahap yang rumit/ kompleks
dan berlangsung secara bersamaan atau pararel, tapi tidak terjadi kesalahan atau
bertabrakan sehingga pembentukan spermatogenesis dapat berlangsung dengan
baik.
Sel Sertoli berfungsi memberi makan spermatozoa sedangkan sel Leydig yang
terdapat di antara tubulus seminiferus berfungsi menghasilkan testosteron.
V. DAFTAR PUSTAKA
Tim pengajar. 2017. Penuntun Praktikum Embriologi. Bandung : Tim pengajar.
Aulanniam, et al. 2011. INHIBIN B MENGHAMBAT EKSPRESI MOLEKUL
PROTAMINE P2 DI DALAM KEPALA SPERMATOZOA TIKUS (Rattus
norvegicus). Jurnal kedokteran hewan. Vol.5 No.2. ISSN: 1978-225X.
Widotama, G. 2008. PENGARUH ISOLAT HERBA VERNONIA CINEREA
TERHADAP SPERMATOGENESIS TIKUS PUTIH. Jurnal kimia. Vol.2 No.2 :
117-124.
Kimball, W. John. 1994. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Wildan, Yatim. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito.
Campbell, Neil. 2004. Biologi edisi kedelapan. Bandung: Erlangga.
Aryulina, Diah. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Prawirohartono, Slamet. 2007. Sains Biologi. Jakarta: Erlangga.
Susetyarini, E. 2011. JUMLAH SEL SPERMIOGENESIS TIKUS PUTIH YANG
DIBERI TANIN DAUN BELUNTAS (Pluchea indica) SEBAGAI SUMBER
BELAJAR. Seminar nasional X pendidikan biologi FKIP UNS.
Johnson, M & Everit. 2007. Essential Reproduction sixth [Link]: Blackwell
Publishing.