0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan17 halaman

Pengelompokan Sampah: Organik dan Anorganik

1. Sampah dapat dikelompokkan menjadi sampah organik dan anorganik berdasarkan asalnya, dimana sampah organik mudah diuraikan secara alami sedangkan sampah anorganik sulit diuraikan. 2. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang bersih dapat didaur ulang menjadi barang-barang lain atau dijual kepada pemulung. 3. Membuat kompos dari sampah organik di rumah

Diunggah oleh

RomdhonyKurniawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan17 halaman

Pengelompokan Sampah: Organik dan Anorganik

1. Sampah dapat dikelompokkan menjadi sampah organik dan anorganik berdasarkan asalnya, dimana sampah organik mudah diuraikan secara alami sedangkan sampah anorganik sulit diuraikan. 2. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang bersih dapat didaur ulang menjadi barang-barang lain atau dijual kepada pemulung. 3. Membuat kompos dari sampah organik di rumah

Diunggah oleh

RomdhonyKurniawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MENGENAL BERMACAM-

MACAM SAMPAH
27 May

Pada tanggal 19 Maret kemarin, siswa kelas


tiga sampai kelas enam mengadakan kunjungan ke Desa Sukunan. Mari sekarang kita
mengenal berbagai macam jenis sampah atau pengelompokan sampah. Karena sebenarnya
apabila sampah itu dikelompokkan mulai dari sumbernya.

Berdasarkan asalnya, sampah dapat digolongkan menjadi dua yaitu sampah organik dan
sampah anorganik.

A. Sampah Organik

Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari
alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan
mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan
organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit
buah, dan daun.

Sampah organik dibagi dua yaitu :

1. Sampah Organik Hijau (sisa sayur mayur dari dapur)


Contohnya : tangkai/daun singkong, papaya, kangkung, bayam, kulit terong, wortel,
labuh siam, ubi, singkong, kulit buah-buahan, nanas, pisang, nangka, daun pisang,
semangka, ampas kelapa, sisa sayur / lauk pauk, dan sampah dari kebum (rumput,
daun-daun kering/basah) .

2. Sampah Organik Hewan yang dimakan seperti ikan, udang, ayam, daging, telur dan
sejenisnya.

Sampah organik hijau dipisahkan dari sampah organik hewan agar kedua bahan ini bisa
diproses tersendiri untuk dijadikan kompos.

B. Sampah Anorganik
Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak
bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik
dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam,
sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah jenis
ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, kertas, karton,
kardus, styrofoam, kaleng dan lain-lain.

Sedangkan sampah anorganik berupa plastik dikurangi pemakaiannya, memakai ulang


barang-barang yang diperlukan, didaur ulang, yang masih bersih dikumpulkan dan diberikan
kepada pemulung.

Sampah anorganik yang dapat didaur ulang misalnya :

- kemasan-kemasan plastik untuk dijadikan tas, dompet, kantong HP dll.

- Botol plastik bekas dapat dibuat menjadi tutup gelas.

- Gelas plastik bekas dapat dibuat pot-pot tanaman.

- Styrofoam dapat digunakan sebagai campuran batako.

Sampah yang bersih dapat dijual/diberikan pada pemulung. Misalnya karton, kardus, besek,
botol, plastik-plastik kemasan makanan, kantong-kantong plastik, koran, majalah, kertas-
kertas, dan sebagainya. Jenis-jenis yang bersih ini pisahkan dalam satu kantong, langsung
saja diberikan pada pemulung tanpa dibuang ke bak sampah terlebih dahulu, atau bisa dijual
sendiri.

Sampah yang benar-benar kotor dan kita tidak bisa mendaur ulang, tidak layak diberikan
pada pemulung. Inilah yang dibuang dalam bak sampah. Dengan demikian kita dapat
membantu mengurangi volume sampah yang dibuang di TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Mari membuat kompos skala rumah tangga

Salah satu dari pola hidup hijau yang dapat kita laksanakan adalah mengelola sampah organik
rumah tangga, dengan membuatnya menjadi kompos.

Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik.


Pembuatannya tidak terlalu rumit, tidak memerlukan tempat luas dan tidak memerlukan
banyak peralatan dan biaya. Hanya memerlukan persiapan pendahuluan, sesudah itu kalau
sudah rutin, tidak merepotkan bahkan selain mengurangi masalah pembuangan sampah,
kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sendiri, tidak perlu membeli.

Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, zat makanan yang diperlukan tumbuhan
akan tersedia. Mikroba yang ada dalam kompos akan membantu penyerapan zat makanan
yang dibutuhkan tanaman. Tanah akan menjadi lebih gembur. Tanaman yang dipupuk dengan
kompos akan tumbuh lebih baik. Hasilnya bunga-bunga berkembang, halaman menjadi asri
dan teduh. Hawa menjadi segar karena oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan.

Bagaimana Kompos Terjadi


Sampah organic secara alami akan mengalami peruraian oleh berbagai jenis mikroba,
binatang yang hidup di tanah, enzim dan jamur. Proses peruraian ini memerlukan kondisi
tertentu, yaitu suhu, udara dan kelembaban. Makin cocok kondisinya, makin cepat
pembentukan kompos, dalam 4 6 minggu sudah jadi. Apabila sampah organic ditimbun
saja, baru berbulan-bulan kemudian menjadi kompos. Dalam proses pengomposan akan
timbul panas krn aktivitas mikroba. Ini pertanda mikroba mengunyah bahan organic dan
merubahnya menjadi kompos. Suhu optimal untk pengomposan dan harus dipertahankan
adalah [Link] terlalu panas harus dibolak-balik, setidak-tidaknya setiap 7 hari.

Peralatan

Di dalam rumah ( ruang keluarga, kamar makan ) dan di depan dapur disediakan 2 tempat
sampah yang berbeda warna untuk sampah organik dan sampah non-organik. Diperlukan bak
plastic atau drum bekas untuk pembuatan kompos. Di bagian dasarnya diberi beberapa
lubang untuk mengeluarkan kelebihan air. Untuk menjaga kelembaban bagian atas dapat
ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu. Dasar bak pengomposan dapat tanah atau
paving block, sehingga kelebihan air dapat merembes ke bawah. Bak pengomposan tidak
boleh kena air hujan, harus di bawah atap.

Cara Pengomposan

- Campur 1 bagian sampah hijau dan 1 bagian sampah coklat.


- Tambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dan dicampur. Tanah
atau kompos ini mengandung mikroba aktif yang akan bekerja mengolah sampah menjadi
kompos. Jika ada kotoran ternak ( ayam atau sapi ) dapat pula dicampurkan .
- Pembuatan bisa sekaligus, atau selapis demi selapis misalnya setiap 2 hari ditambah sampah
baru. Setiap 7 hari diaduk.
- Pengomposan selesai jika campuran menjadi kehitaman, dan tidak berbau sampah. Pada
minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos, sehingga suhu
menjadi sekitar 40C. Pada minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal, kompos sudah jadi.
- Jika perlu diayak untuk memisahkan bagian yang kasar. Kompos yang kasar bisa
dicampurkan ke dalam bak pengomposan sebagai activator.

Keberhasilan pengomposan terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu,


kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimal untuk
berkembang biak, ialah makanan cukup (bahan organik), kelembaban (30-50%) dan udara
segar (oksigen) untuk dapat bernapas.
Sampah organik sebaiknya dicacah menjadi potongan kecil. Untuk mempercepat
pengomposan, dapat ditambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism (EM)
yang dapat dibeli di toko pertanian.

dari berbagai sumber [p]


Definisi Sampah Dan Macam-Macam Sampah

Sampah
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya
suatu proses. Sampah merupakan didefinisikan oleh manusia menurut derajat
keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep
sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama
proses alam tersebut berlangsung. Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia
didefinisikan konsep lingkungan maka Sampah dapat dibagi menurut jenis-
jenisnya.

Berdasarkan sumbernya

1. Sampah alam

2. Sampah manusia

3. Sampah konsumsi

4. Sampah nuklir

5. Sampah industri

6. Sampah pertambanga

Berdasarkan sifatnya

1. Sampah organik - dapat diurai (degradable)

2. Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable)

1. Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan,
sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut
menjadi kompos;
2. Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik
wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman,
kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau
sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah
anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol
dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS,
maupun karton;

Berdasarkan bentuknya
Sampah adalah bahan baik padat atau cairan yang tidak dipergunakan lagi dan
dibuang. Menurut bentuknya sampah dapat dibagi sebagai:
Sampah Padat
Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan
sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah
kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini
dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik
Merupakan sampah yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan
organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari
peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu
pembersihan kebun dan sebagainya.
Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi
lagi menjadi:

1. Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh


proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa
hewan, sampah pertanian dan perkebunan.

2. Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses


biologi. Dapat dibagi lagi menjadi:

o Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali


karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian
dan lain-lain.

o Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak


dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs, carbon paper,
thermo coal dan lain-lain.

Sampah Cair
Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan
kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Limbah hitam: sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini
mengandung patogen yang berbahaya.

Limbah rumah tangga: sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar
mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung patogen.

Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika
dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah
dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi.
Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas
industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan,
manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah
pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah
konsumsi.
untuk mencegah sampah cair adalah pabrik pabrik tidak membuang limbah
sembarangan misalnya membuang ke selokan.
Sampah alam
Sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur
ulang alami, seperti halnya daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi
tanah. Di luar kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat menjadi masalah,
misalnya daun-daun kering di lingkungan pemukiman.

Sampah manusia
Sampah manusia (Inggris: human waste) adalah istilah yang biasa digunakan
terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah
manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan karena dapat digunakan
sebagai vektor (sarana perkembangan) penyakit yang disebabkan virus dan
bakteri. Salah satu perkembangan utama pada dialektika manusia adalah
pengurangan penularan penyakit melalui sampah manusia dengan cara hidup
yang higienis dan sanitasi. Termasuk didalamnya adalah perkembangan teori
penyaluran pipa (plumbing). Sampah manusia dapat dikurangi dan dipakai ulang
misalnya melalui sistem urinoir tanpa air.

Sampah Konsumsi
Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna
barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke tempat
sampah. Ini adalah sampah yang umum dipikirkan manusia. Meskipun demikian,
jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-
sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri.

Limbah radioaktif
Sampah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang menghasilkan
uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidupdan juga
manusia. Oleh karena itu sampah nuklir disimpan ditempat-tempat yang tidak
berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas tempat-tempat yang dituju biasanya
bekas tambang garam atau dasar laut (walau jarang namun kadang masih
dilakukan).
Proses daur ulang sampah adalah penjaga kelestarian alam. Sebenarnya sampah bukanlah
limbah, melainkan sumber daya bahan baku untuk proses daur ulang yang menghasilkan
humus atau kompos, pupuk ciptaan alam pelindung / pembangun kesuburan tanah. Terus
berputarnya siklus daur ulang alam yang merupakan kunci keselamatan bumi, sebenarnya
menjadi tanggung jawab manusia di lingkungannya masing-masing. Sehingga sampah
menjadi tanggung jawab kita semua untuk mendaur ulangnya menjadi kompos demi
keselamatan bumi.

Para ahli pertanian yakin bahwa kunci dari tanaman yang sehat adalah tanah yang sehat pula.
Tanah yang sehat adalah tanah yang kondisi fisik, kimia dan biologinya baik, tanpa faktor
penghambat yang berarti. Kondisi biologis yang baik berarti mempunyai populasi organisme
tanah optimal dalam ekosistem biologis yang sehat seimbang, yang dijamin oleh kadar bahan
organik tanah optimal + 5%. Mungkin kita akan berfikir 2 x untuk mengkonsumsi barang-
barang yang tidak bersahabat dengan lingkungan, setelah kita mengetahui bahwa waktu yang
dibutuhkan untuk menghancurkan sampah adalah sebagi berikut :
Jenis Sampah Lama Hancur
Kertas 2-5 bulan
Kulit Jeruk 6 bulan
Doos Karton 5 bulan
Filter Rokok 10-12 tahun
Kantong Plastik 10-20 tahun
Kulit Sepatu 25-40 tahun
Pakaian/Nylon 30-40 tahun
Plastik 50-80 tahun
Alumunium 80-100 tahun
Styrofoam tidak hancur

Dengan melihat tabel diatas maka tidak ada salahnya kalau kita mulai dari rumah kita
masing-masing untuk mengurangi sampah yang tidak dapat dipergunakan semaksimal
mungkin. Salah satu caranya adalah dengan mendaur ulang sampah yang dapat dimanfaatkan.

Daur ulang adalah penggunaan kembali material / barang yang sudah tidak digunakan untuk
menjadi produk lain. Selain berfungsi untuk mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang
ke tempat pembuangan akhir (TPA). Daur ulang bermanfaat memenuhi kebutuhan akan
bahan baku suatu produk. Dan dari segi penggunaan bahan bakar adanya daur ulang dapat
menghemat energi yang harus dikeluarkan suatu pabrik.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk daur ulang : Pemisahan. Pisahkan barang-
barang / material yang dapat didaur ulang dengan sampah yang harus dibuang ke
pembuangan sampah. Pastikan material tersebut kosong dan akan lebih baik jika dalam
keadaan bersih. Penyimpanan. Simpan barang / material kering yang sudah dipisahkan tadi ke
dalam boks / kotak tertutup tergantung jenis barangnya, misalnya boks untuk kertas bekas,
botol bekas, dll. Jika akan membuat kompos, tumpuk sampah rumah tangga pada lokasi
pembuatan kompos. Pengiriman / Penjualan Barang yang terkumpul dijual ke pabrik yang
membutuhkan material bekas tersebut sebagai bahan baku dijual ke pemulung.
Secara garis besarnya, sampah dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :

I. Sampah An Organik Sampah tidak mudah hancur / lapuk bukan berupa cairan & gas dan
sering disebut sebagai sampah kering. Sampah an organik dibedakan menjadi 2 bagian yaitu :

a. Barang lapuk. Barang yang dapat di daur ulang kembali dalam keadaan bersih dan tidak
rusak, mempunyai nilai ekonomis tinggi. Contoh : Logam, besi, kaleng, plastik, karet, dll.
b. Bukan barang lapuk Sampah an organik yang betul-betul rusak dan tdk dapat
diperjualbelikan sehingga tidak memiliki nilai ekonomis.

II. Sampah Organik Sampah yang mudah lapuk / hancur, bukan berbentuk cairan / gas dan
sering disebut sampah basah. Sampah organik terdiri dari 3 bagian :
a. Sampah organik segar, seperti : sampah dapur, kebun, pasar dan restoran.
b. Sampah organik oleh seperti : kertas, kardus, dll.
c. Sampah organik pilihan untuk daur ulang menjadi kompos dipilih sampah organik yang
segar dan lunak tidak termasuk yang keras dan berbentuk basah seperti sisa sayuran, rempah-
rempah & sisa buah.

III. Sampah Berbahaya Sampah yang harus ditangani secara khusus untuk menetralisir akibat
pencemaran. Sampah ini harus dipisahkan dari yang lainnya sehingga proses daur ulang lebih
cepat dan menghasilkan produk yang bebas dari bahan berbahaya. Contoh: pecahan kaca &
gelas, sisa bahan kimia, baterai, botol obat nyamuk & paku.

LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3)

Limbah B3 banyak terdapat disekitar kita misalnya obat nyamuk/ pestisida, oli bekas, sisa
tinta, batu baterai, dll. Jika limbah ini dibuang dalam TPA yang tidak dilengkapi persyaratan
khusus maka racun yang ada dalam limbah tersebut dapat meresap ke tanah dan mencemari
air tanah maupun tanaman yang akan dikonsumsi manusia. Oleh sebab itu, pisahkan limbah
B3 dari sampah lain.

Bagaimana meminimalkan timbunan sampah? Menggunakan barang seefisien dan


semaksimal mungkin. Contohnya : Penggunaan plastik pembungkus selama dapat digunakan
kembali. Pergunakan botol lama tanpa harus membeli baru. Memperbaiki perabot lama
dengan cara memberi design baru dengan upaya pemakaian kembali. Sadar dan cinta akan
lingkungan dan memahami berbagai permasalahan dan cara mengatasinya sangat penting.

PEMBUATAN KOMPOS RUMAH TANGGA

Prinsip pengomposan Sampah rumah tangga mengandung bahan organik + 75%. Proses
pengomposan menyesuaikan diri dengan tersedianya bahan baku, yang tidak sekaligus
terkumpul dalam jumlah besar, melainkan sedikit demi sedikit setiap hari. Kondisi ini seperti
terjadi di alam di lantai hutan, dimana sisa-sisa organik jatuh keatas tanah selapis demi
selapis sampai menjadi tebal.
Proses perombakan-fermentasi organisme tanah terjadi dari bawah merambat ke atas
mengejar bahan baku yang baru jatuh, diikuti terbentuknya humus dari bawah ke atas pula.
Kecepatan pengomposan sangat tergantung a.1. pada komposisi bahan baku, perbandingan
kadar C (bahan berserat tinggi) dengan kadar N (jenis kacangan, pupuk kandang, dsb.).
Untuk bahan baku kompos yang optimal perbandingan C/N = + 30, hasil akhir humus atau
kompos yang matang C/N = 12-15 Cara dan Alat Membuat kompos yang sebenarnya mudah
dan sederhana, tetapi karena lokasinya di pekarangan rumah harus bebas dari polusi bau,
lalat, binatang berbahaya dan bebas dari gangguan ayam, anjing, kucing, dsb. Apalagi sisa-
sisa organik tidak terkumpul sekaligus tetapi berangsur setiap hari dari buangan dapur dan
kotoran pekarangan.

Untuk pembuatan kompos di pekarangan rumah, dibutuhkan dua macam wadah :


1. Wadah besar, penampung bahan baku dan tempat terjadinya proses pengomposan, yang
disebut "Komposter" dan ditaruh di pekarangan di tempat teduh.
2. Wadah kecil berupa ember plastik kecil bertutup, tempat penampungan sementara sisa
organik dapur.

Alat Komposter paling praktis dan aman adalah alat yang direkomendasikan STU Campbell
(buku "let It Rot", Storey Books, Vermont 1998) untuk dipakai di pekarangan rumah.
Komposter ini dibuat dari drum bekas 200 liter, dinding atas dibuang, dan dinding dasar pada
tengahnya dilobangi untuk dapat dimasuki pipa PVC 3-4 inci, yang juga berfungsi drainase.
Pada pipa PVC berjarak 5 cm dibuat lobang (bor) sepanjang empat sisinya. Drum dipasang
berdiri, diberi ganjal 2-3 lapis batu bata. Pipa PVC dimasukkan ke lobang dasar, sampai
ujung bawah menyentuh tanah dan ujung atas menonjol keatas drum + 10 cm, menembus
tengah-tengah tutup tambahan (bisa dibuat dari tripleks). Ember Kecil Ember plastik 5 l - 10 l
yang ada tutupnya, disediakan khusus untuk penampungan sementara (1-2 hari) sisa organik
dapur dan selalu ditaruh di dapur dalam keadaan tertutup.
Cara Kerja Komposter (drum) ditaruh di pekarangan di tempat teduh. Sebaiknya dibuatkan
tutup atas dari tripleks yang tengahnya berlobang tempat munculnya pipa PVC. Setiap kali
pembersihan halaman, kotoran berupa rontokan daun, potongan pagar rumput, dll
dimasukkan ke dalam komposter, diratakan, sedikit dipadatkan dan diatasnya ditaburi selapis
kotoran ternak lama, kompos baru atau setengah matang, tanah subur hitam, dsb. sebagai
starter penambah N dan organisme tanah.

Kalau terlalu kering diberi air agar lembab dan ditutup untuk mencegah dari hujan
berlebihan, terik matahari dan pencemaran lalat. Untuk memudahkan didekat komposter
disediakan wadah berisi starter (kotoran ternak, dll) yang selalu ditutup. Setiap satu atau dua
hari sekali, kotoran dapur dalam ember kecil yang sudah penuh, juga dimasukkan, diratakan
dan dilapisi starter.

Demikian pengisian dilakukan setiap kali terkumpul sisa organik atau kotoran dapur baru,
sampai komposter penuh, yang memakan waktu 1 bulan - 2 bulan untuk keluarga sedang.
Setelah penuh, ditutup dan dibiarkan tidak dibalik-balik selama + 1 bulan yang diperkirakan
pengomposan sudah selesai menjadi matang berupa kompos berwarna hitam, remah dan
berbau segar. Komposter dikosongkan, isinya diangin-anginkan, langsung dapat
dipergunakan sendiri atau disaring (saringan kawat kasa) dibungkus dan dijual.
Proses pengomposan terjadi sejak awal bahan organik dimasukkan, dan merambat keatas
mengikuti bahan organik baru. Disini akan terjadi proses fermentasi panas oleh bakteri
termofilik, karena suhu dapat meningkat didalam komposter tertutup, yang juga berguna
membunuh bibit hama- penyakit dan gulma. Komposter I yang sudah penuh dan sedang
dalam proses pemasakkan, digantikan komposter II yang sudah disiapkan dan nanti setelah
komposter I selesai dokosongkan, disiapkan untuk menggantikan komposter II bila sudah
penuh, dst.

Sisa organik dapur terdiri dari potongan / kulit sayuran, kulit buah lunak, daun pembungkus,
kertas, sisa lauk-pauk, dipisahkan dari sisa / sampah non organik. Sisa dapur tersebut
dimasukkan kedalam ember kecil dan yang non organik ditampung dalam wadah lain untuk
dibuang di bak sampah. Setiap kali memasukkan sisa organik dapur yang mudah busuk (sisa
lauk-pauk), diatasnya langsung ditaburi selapis serbuk gergaji halus rapat-rapat. Maka di
dapur selalu disediakan serbuk gergaji halus dalam wadah khusus. Ember kecil harus selalu
ditutup rapat dan biasanya dalam 1-2 hari sudah penuh, lalu langsung dibawa ke kebun
dimasukkan ke dalam komposter, dan ditaburi selapis starter diatasnya.

Agar ember plastik tidak kotor, sebaiknya dilapisi kantong plastik sehingga sisa organik
dapur yang mudah busuk dapat ditampung dengan aman dan rapat. Apabila dapat terwujud
setiap rumah tangga mau dan mampu mendaur ulang sampah organik pekarangan, dan
dapurnya menjadi kompos, maka sampah rumah tangga yang dibuang tinggal sedikit dan
tidak menimbulkan polusi lingkungan.

Sampah yang dibuang tinggal berupa limbah non-organik seperti barang-barang bekas
plastik, kaleng, besi, dll dan sedikit limbah organik keras seperti barang-barang bekas dari
kayu, bambu, kardus, kulit buah keras dan kebanyakan barang-barang tersebut dapat
dimanfaatkan lewat para pemulung. Dengan cara ini hampir semua bahan organik dapat
didaur ulang sehingga masalah sampah kota dapat diatasi secara sehat dan mendukung
keselamatan bumi.

Tinggal satu hal, dimana manusia belum berhasil menyambung siklus daur ulang yang
terputus, yaitu masalah kotoran (taeces) dan urine manusia karena masih terbentur pada
masalah budaya.

Metode Pengelolaan Sampah Kota


OPINI | 30 June 2010 | 23:40 Dibaca: 2154 Komentar: 12 1 dari 2 Kompasianer
menilai Aktual

Pilah Sampah dari Hulu (Rumah Tangga).dok_rul_kencana

Setelah UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah pada 7 Mei 2008


diundangkan/disahkan. Maka paling lambat pada 2013, tidak diperbolehkan lagi mengelola
sampah dengan penumpukan sampah secara open dumping atau model tempat pembuangan
akhir (TPA) seperti sekarang ini. TPA yang diperbolehkan hanyalah yang berbasis sanitary
landfill atau semi sanitary landfill. Pemerintah daerah atau pengelola sampah di TPA tinggal
menghitung hari untuk segera mengimplementasikan secara total UU tersebut. Dalam
mengimplementasi penanganan sampah ini, pemerintah bisa menggandeng perusahaan
dengan memanfatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Berkenaan dengan kondisi di atas, perlu kiranya dilakukan pengkajian mendalam terhadap
berbagai metode pengelolaan sampah yang ditawarkan oleh investor. Pengkajiannya tentu
saja meliputi empat aspek utama yang harus diperhatikan yaitu:

1) aspek lingkungan,

2) aspek teknologi,

3) aspek ekonomi dan

4) aspek sosial.
Khusus pada aspek teknologi, yaitu mengenai perlakuan terhadap sampah, jenis sampah dan
output-nya, secara normatif harus sudah bisa dipaparkan secara jelas oleh para investor
sebelum FS. Jika dalam aspek ini tidak bisa dipaparkan oleh investor , maka bisa disimpulkan
bahwa penawarannya patut dipertanyakan. Ada beberapa metode pengelolaan sampah beserta
kelebihan serta kekurangannya yang bisa jadi telah atau akan ditawarkan oleh para investor.

Pilihan metode :

1. Metode open dumping. Metode ini adalah penimbunan sampah di lokasi TPA tanpa
aplikasi teknologi yang memadai. Metode ini memungkinkan adanya perembesan air lindi
(cairan yang timbul akibat pembusukan sampah) melalui kapiler-kapiler air dalam tanah
hingga mencemari sumber air tanah, terlebih di musim hujan. Efek pencemaran bisa
berakumulasi jangka panjang dan pemulihannya bisa membutuhkan puluhan tahun.
Metode ini sudah tidak populer karena selain sudah tidak akan diperbolehkan lagi juga
berpotensi pada pencemaran lingkungan.

2. Metode sanitary landfill. Metode ini mengelola sampah dengan melakukan pelapisan
geotekstil yang tahan karat pada permukaan tanah sebelum ditimbuni sampah. Geotekstil
berfungsi mengalirkan air lindi ke bak penampungan agar tidak mancemari air tanah. Air
lindi selanjutnya diolah menjadi pupuk organik cair (POC). Setelah sampah ditimbun,
kemudian dilapisi lagi dengan geotekstil di bagian atasnya dan ditutup dengan tanah.
Metode ini lebih bagus daripada sekedar open dumping. Namun memerlukan lahan yang
luas, biaya maintenance yang mahal serta risiko besar atas kebocoran zat atau gas beracun.

3. Metode rooftiling, floortiling, walling. Metode ini mengkonversi sampah menjadi


material untuk atap (genteng), lantai (tegel/keramik), dan atau bahan-bahan untuk tembok.
Dengan sistem reuse dan recycle ini, permasalahannya adalah pada biaya investasi yang
besar dan output yang masih terlalu mahal dan kalah kualitas dibandingkan dengan produk
regular darimaterial nonsampah pada umumnya.

4. Metode insenerator. Metode ini dilakukan dengan memasukkan sampah (disortir


maupun tanpa disortir) ke dalam unit pembakaran dalam suhu 800C-1.200C. Metode ini
bisa mereduksi sampah 80%100%. Panas yang dihasilkan bisa digunakan untuk
pembangkit listrik. Lahan yang diperlukan untuk sistem ini relatif lebih kecil daripada
metode sanitarylandfill tetapi berbiaya mahal. Metode ini sudah tidak akan diizinkan
karena kontribusinya yang sangat besar pada efek gas rumah kaca.

5. Metode gas metana. Metode ini menggunakan teknik fermentasi secara anaerobik
terhadap sampah organik. Secara teknis sampah disortir menjadi sampah organik dan
anorganik. Sampah organik dicampur dengan air dan digester (dimasukkan dalam tempat
kedap udara) selama kurang lebih dua pekan dan akan menghasilkan gas metana (CH4)
yang bisa digunakan sebagai energi listrik. Metode ini menguntungkan karena bisa
menghasilkan energi terbarukan.

6. Metode autoclave. Metode ini relatif baru walaupun secara teknis sebetulnya sangat
sederhana. Sistemnya adalah melakukan pembongkaran langsung dari dump truk masuk
ke mesinautoclave. Di dalam autoclave sampah diinjeksi dengan uap bersuhu 160C
selama 2 jam. Sampah kemudian secara otomatis disalurkan melalui belt conveyor ke
mesin penyortiran. Proses pada sistem ini ramah lingkungan dan berpeluang mendapatkan
kredit karbon.
7. Metode komposting. Metode ini menggunakan sistem dasar pendegradasian bahan-
bahan organik secara terkontrol menjadi pupuk dengan memanfaatkan aktivitas
mikroorganisme. Aktivitas mikroorganisme bisa dioptimalisasi pertumbuhannya dengan
pengkondisian sampah dalam keadaan basah (nitrogen), suhu dan kelembaban udara (tidak
terlalu basah dan atau kering), dan aerasi yang baik (kandungan oksigen). Secara umum,
metode ini bagus karena menghasilkan pupuk organik yang ekologis (pembenah lahan)
dan tidak merusak lingkungan. Serta sangat memungknkan melibatkan langsung
masyarakat sebagai pengelola (basis komunal) dengan pola manajemen sentralisasi
desentralisasi (se-Desentralisasi) atau metode Inti (Pemerintah/Swasta)-Plasma (kelompok
usaha di masyarakat). Hal ini pula akan berdampak pasti terhadap penanggulangan
pengangguran. Metode ini yang perlu mendapat perhatian serius/penuh oleh pemerintah
daerah (kab/kota). Untuk methode ini, silakan klik di sini (gerai online PT. Cipta Visi Sinar
Kencana), prihal proses, sarana dan prasarana yang berbasis teknologi tepat guna (basis
komunal klik di sini)

Pemerintah kabupaten/kota di Indonesia, sepantasnya mulai dari sekarang merubah (revisi)


perda persampahan yang mengacu pada UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, karena
banyak disana bisa tercipta sumber PAD baru serta menjadi peluang usaha baru di
masyarakat, disamping mensukseskan gerakan indonesia hijau (Indonesia Go Green), menuju
pembangunan infrastruktur pertanian organic.

Anda mungkin juga menyukai