0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan13 halaman

Penanganan dan Gejala Polip Gigi

Dokumen tersebut membahas tentang polip gigi, termasuk pengertian, gejala, penyebab, pencegahan, dan pengobatan polip gigi. Polip gigi adalah benjolan kecil yang tumbuh di gigi akibat iritasi berkepanjangan, yang dapat menyebabkan sakit kepala, wajah, atau gigi. Untuk mencegah polip gigi, perlu menjaga kebersihan mulut dengan menyikat gigi rutin dan memeriksakan gigi secara

Diunggah oleh

Roman
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan13 halaman

Penanganan dan Gejala Polip Gigi

Dokumen tersebut membahas tentang polip gigi, termasuk pengertian, gejala, penyebab, pencegahan, dan pengobatan polip gigi. Polip gigi adalah benjolan kecil yang tumbuh di gigi akibat iritasi berkepanjangan, yang dapat menyebabkan sakit kepala, wajah, atau gigi. Untuk mencegah polip gigi, perlu menjaga kebersihan mulut dengan menyikat gigi rutin dan memeriksakan gigi secara

Diunggah oleh

Roman
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Polip Gigi : Pengertian, Gejala, Penyebab, Pencegahan dan Obatnya

Polip Gigi : Pengertian, Gejala, Penyebab, Pencegahan dan Obatnya - Secara umum dari
kita masih sangat awam dengan istilah salah satu masalah gigi ini, padahal pada
kenyataannya tidak jarang orang yang mengalaminya.
InsyaAllah admin disini akan mengupas secara tuntas akan polip gigi ini secara singkat, padat
dan mudah dipahami. Berikut pengulasannya.

Pengertian Polip Gigi


Polip gigi adalah suatu reaksi tubuh terhadap organisme atau benda asing berupa
daging/pulpa aktif atau benjolan kecil yang disebabkan oleh suatu pembukaan karies luas
(pembusukan atau perusakan pd tulang atau gigi) pada pulpa muda. Gangguan ini biasa
disebut juga pulpa gigi yang ditandai oleh perkembangan jaringan granulasi (pembentukan
keristal kecil), kadang-kadang tertutup oleh epitelium (jaringan biologis yang terdiri dari
banyak sel yang membentuk rongga-rongga terstruktur) dan disebabkan karena iritasi tingkat
rendah yang berlangsung lama.
Secara histopatologis (kondisi dan fungsi jaringan), permukaan polip pulpa ditutup epitelium
skuamus menyerupai sisik yang bertingkat-tingkat. Polip pulpa gigi decidui lebih mungkin
tertutup oleh epitelium skuamus yang bertingkat-tingkat atau berstrata daripada polip pulpa
pada gigi permanen.
Epitelium semacam itu dapat berasal dari gingiva atau sel epitel mukosa atau lidah yang baru
saja mengalami deskuamasi. Jaringan di dalam kamar pulpa sering berubah menjadi jaringan
granulasi, yang menonjol dari pulpa masuk ke dalam lesi karies.
Jaringan granulasi adalah jaringan penghubung vaskular muda dan berisi neutrofil
polimorfonuklear (pelepasan elemen epitel, terutama kulit, dl bentuk sisik atau lembaran
halus), limfosit (salah satu jenis sel darah putih) dan sel-sel plasma (jenis sel darah putih yang
menghasilkan antibodi). Jaringan pulpa mengalami inflamasi kronis. Serabut saraf dapat
ditemukan pada lapisan epitel/salah satu dari empat jaringan dasar (lainnya: Jaringan Ikat,
jaringan otot, jaringan saraf).
Gejala Polip Gigi
Pada kasus dengan polip yang kecil, biasanya tidak menimbulkan gejala, tapi jika polip
berukuran besar bisa mengakibatkan beberapa gejala:
Sakit pada bagian wajah
Sakit kepala
Bersin
Indera penciuman dan indera perasa berkurang atau bahkan mati rasa
Hidung berair atau tersumbat
Lendir yang jatuh dari belakang hidung ke tenggorokan
Mendengkur
Rasa gatal di sekitar mata
Sakit pada gigi rahang atas
Beberapa gejala utama dari polip hidung mirip dengan gejala flu dan pilek. Tapi gejala flu
dan pilek akan menghilang setelah beberapa hari. Gejala polip hidung tidak akan menghilang
jika tidak ditangani. Segera temui dokter THT jika Anda merasa mengalami gejala polip
hidung.
Penyebab Polip Gigi
Polip dapat tumbuh dibagian tubuh mana saja, termasuk gigi. Gigi berlubang adalah tempat
yang nyaman bagi polip untuk tumbuh. Polip gigi adalah jenis yang tidak biasa respon
jaringan granulasi hiperplastik dalam gusi yang ditandai oleh pertumbuhan berlebih dari
jaringan di luar batas dari ruang pulpa sebagai benjolan.
Jaringan yang meradang merah muda bengkak yang bisa dilihat tumbuh ke dalam rongga
mulut dari ruang terbuka pada bagian luar gigi. Ini akhirnya dapat menutupi permukaan
terbuka dari gigi yang terkena. Munculnya polip gigi berlubang dapat sangat bervariasi.
Mungkin halus, lembut dan kenyal, atau bergelombang. Beirkut penyebab munculnya polip
pada gigi berlubang:
Gigi berlubang
Kehilangan restorasi gigi yang menghasilkan paparan pulpa
Retak gigi karena trauma dengan paparan pulpa
Gangguan jaringan pulpa
Pengaruh hormonal (estrogen dan progesteron)
Reaksi hipersensitivitas
Pencegahan Polip Gigi
Untuk pembahasan terakhir untuk menutup artikel ini adalah langkah-langkah untuk
mencegah polop gigi sebagai berikut:
Gunakan pasta gigi khusus berlubang yang mengandung fluoride untuk mencegah
pembesaran lubang pada gigi. Gigi yang berlubang dan dibiarkan begitu saja rentan
akan timbulnya polip pada gigi.
Konsumsi multivitamin yang dapat membantu penyerapan kalsium untuk menguatkan
gigi yang berlubang.
Hindari makan dan minuman manis atau asam guna mencegah terjadinya rasa ngilu.
Sikat gigi secara perlahan, gerakannya mulai dari bawah ke atas. Lakukan minimal
dua kali sehari yakni pagi dan malam hari. Setelah sarapan dan malam hari menjelang
tidur.
Periksakan gigi secara rutin setiap enam bulan sekali guna memastikan kebersihan
dan kesehatan gigi.
Gunakan sikat gigi dengan bulu sikat yang lembut untuk menjangkau bagian
terdalam.
Tahap selanjutnya, dokter akan melakukan pengobatan. Jika kondisinya sudah
membaik maka rasa ngilu sudah tidak dirasakan lagi dan dokter akan melakukan
penambalan pada gigi guna mencegah timbulnya polip pada gigi Anda.
Lihat juga:
Obat Tradisional Sakit Gigi
Obat Sakit Gigi Alami
Obat Sakit Gusi
Menghilangkan Karang Gigi
Obat Polip Gigi
Polip gigi umumnya bersifat jinak (non-kanker), tetapi anda harus tetap waspada, karena
bukan tidak mungkin polip tersebut menjadi parah. Bila anda menemukan benjolan pada gigi,
terutama pada bagian yang berlubang atau gusi, segera lakukan pengobatan sejak dini, karena
semakin cepat penanganannya, semakin cepat juga proses penyembuhannya.
1. Penanganan Awal Polip Gigi
Perawatan awal yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian analgesik / antibiotik untuk
membantu dalam menghilangkan faktor penyebabnya terlebih dahulu. Jika infeksi yang
terjadi semakin parah, sebaiknya lakukan pengobatan tahap serius. Jika tidak ingin
melakukan operasi ringan (pencabutan gigi) atau Anda terlalu takut untuk mendapatkan efek
samping setelahnya, tidak perlu khawatir lagi. Dengan penanganan ini diharapkan polip pulpa
dapat mengecil, namun bila tidak mengecil diperlukan penanganan operasi dengan
melakukan pengangkatan polip tersebut.
2. Operasi
Jika Anda terus masih mengalaminya dan tidak ada perubahan dengan ditangani oleh
antibioti, maka sebaiknya Anda melakukan penanganan secara menyeluruh pada dokter gigi,
karena penanganan polip pulpa umumnya diperlukan juga perawatan perbaikan gigi atau
dengan pencabutan bila keadaan gigi sudah sangat rusak dan tidak memungkinkan untuk
dilakukan perbaikan. Untuk mencegah terjadinya polip pulpa, jaga higiensi mulut dengan
cara menggosok gigi minimal 2 kali sehari, hindari makanan manis, tidak merokok, dan
periksakan ke dokter gigi secara rutin setiap 6 bulan.
Informasi dan Pengetahuan Polip Pulpa

Hiperplastik Pulpitis Kronis

Hiperplastik pulpitis kronis adalah suatu kondisi jaringan pulpa vital yang mengalami radang
kronis sebagai respon pertahanan jaringan pulpa terhadap infeksi bakteri. Respon pertahanan
jaringan pulpa membentuk jaringan granulasi. Kondisi yang memungkinkan pembentukan
jaringan granulasi hanya pada pulpa muda yang terinfeksi dengan kavitas yang besar. Pada
pulpa muda vaskularisasi yang masih baik (jumlah dan kualitas yang baik) memungkinkan
terbentuknya jaringan granulasi saat terjadi invasi bakteri pada jaringan pulpa. Namun tidak
menutup kemungkinan pada pasien muda dengan kavitas besar tidak terjadi polip pulpa
dikarenakan kualitas vaskularisasi pada jaringan pulpa tersebut tidak sebaik pasien dengan
kondisi polip pulpa. Hiperplastik pulpitis kronis juga dikenal dengan polip pulpa.
[Link]: px 12th, elemen 36

Karakteristik polip pulpa yaitu sukar berdarah, tenderness dan dengan kondisi gigi yang
masih vital atau nekrosis parsial. Seringkali polip pulpa dibedakan dengan polip gingiva.
Pada kondisi polip gingiva terjadi dikarenakan iritasi akibat gesekan dengan tepi permukaan
gigi yang tajam dan dengan ketinggian hampir sama atau dibawah crest gingiva, sehingga
memungkinkan terbentukmya polip gingiva. Polip gingiva sendiri memiliki karakteristik
mudah berdarah namun tidak sakit jika ditekan.

Penatalaksanaan polip pulpa adalah dengan cara melakukan perawatan saluran akar seperti
halnya pada diagnosis pulpitis, hanya saja didahului dengan pengangkatan jaringan polip.
Pengangkatan jaringan polip dilakukan dengan cara:
1. Anastesi jaringan polip
2. Oleskan larutan povidone iodine diatas permukaan polip
3. Angkat polip menggunakan eskavator yg tajam mulai dari tepi polip hingga seluruh polip
terangkat seluruhnya (pada saat polip terangkat akan terjadi perdarahan dari dalam saluran
akar)
4. Irigasi saluran akar dengan larutan NaOCl 2,5% untuk membersihkan sisa-sisa jaringan
polip serta jaringan darah
5. Segera lakukan ekstirpasi (pembersihan jaringan pulpa) dengan menggunakan panjang
kerja estimasi terlebih dahulu
6. Ketika perdarahan sudah dapat terkontrol, lanjutkan dengan pemeriksaan panjang kerja
sebenarnya,
kemudian tahapan sama dengan perawatan pulpitis
Berbeda dengan penatalaksanaan polip gingiva, polip gingiva dapat melibatkan gigi vital
tanpa harus dilakukan perawatan saluran akar pada gigi di dekat polip gingiva tersebut.

KONSERVASI GIGI

Tujuan Intruksional Khusus:


Setelah mengikuti kuliah mahasiswa diharapkan mampu:
1. Menjelaskan sebab-sebab penyakit pulpa
2. Menjelaskan mekanisme terjadinya penyakit pulpa
3. Menjelaskan klasifikasi penyakit pulpa
4. Menjelaskan gejala klinis dan histopatologis penyakit pulpa
5. Menjelaskan rencana perawatan penyakit pulpa

Pokok Bahasan:
I. Pendahuluan
II. Penyakit Jaringan Pulpa:
II.1. Faktor-faktor penyebab penyakit pulpa
II.2. Mekanisme terjadinya inflamasi pulpa
II.3. Klasifikasi penyakit pulpa
II.4. Pulpitis Reversibel
II.5. Pulpitis Irreversibel
II.5.1. Pulpitis Kronis Hiperplastik
II.5.2. Resorpsi Internal
II.6. Degeneratif Pulpa
II.7. Nekrosis Pulpa

I. PENDAHULUAN

Telah diketahui bahwa secara histologis jaringan pulpa mempunyai fungsi induktif, formatif,
nutritif, defensif dan sensatif. Adapun pengertian dari masing-masing fungsi tersebut adalah:
- Fungsi Induksif: yaitu pulpa berpartisipasi dalam induksi dan pengembangan odontoblas
dan dentin. Bila ini terbentuk maka menginduksi pembentukan enamel.
- Fungsi Formatif: yaitu fungsi odontoblas yang khusus dalam pembentukan dentin
- Fungsi Nutritif: yaitu mensuplai nutrisi dalam rangka pembentukan dentin lewat tubulus
dentin.
- Fungsi Defensif: oleh odontoblas akan mempengaruhi dentin terhadap rangsangan dan oleh
sel-sel radang yang memiliki imunokompeten terhadap respon radang dan imunologik
- Fungsi Sensatif: yaitu melalui sistem saraf mengirim rangsangan ke SSP yang
manifestasinya berupa rasa nyeri.
Salah satu fungsi utama jaringan pulpa adalah formatif yang diperankan oleh odontoblas
untuk membentuk dentin primer, sekunder maupun dentin reparatif. Dentin primer terbentuk
di saat gigi dalam pertumbuhan, dentin sekunder terbentuk setelah gigi erupsi, sedangkan
dentin tersier atau reparatif dibentuk sebagai repons terhadap rangsangan.
Jaringan pulpa mudah merespon dengan adanya rangsangan, baik rangsangan fisis, kimia
maupun bakteri. Jaringan pulpa membentuk dentin reparatif sebagai respon, selain itu juga
menimbulkan rasa nyeri yang merupakan sinyal sebagai tanda bahwa jaringan pulpa dalam
keadaan terancam. Oleh karena adanya hubungan timbal balik antara jaringan pulpa dan
periapikal, maka jaringan pulpa yang mengalami keradangan dan tidak dirawat atau
perawatannya kurang baik maka penyakit pulpa dapat menjalar ke daerah periapikal.
Pada bab ini akan dibahas mengenai faktor-faktor penyebab, klasifikasi dan mekanisme
penyakit pulpa, yang sangat diperlukan untuk menentukan rencana perawatan saluran akar
yang akan dilakukan.

II. PENYAKIT JARINGAN PULPA


II.1. Faktor-faktor penyebab penyakit pulpa
Faktor-faktor penyebab terjadinya penyakit pulpa dapat dikelompokkan sebagai berikut:
II.1.1. Fisis
A. Mekanis
1. Trauma
a. Kecelakaan (olah raga kontak)
b. Prosedur gigi iatrogenik (pemasangan alat ortho pada gigi, preparasi gigi atau
mahkota, dan lain-lain)
2. Pemakaian patologik (atrisi, abrasi, dll)
3. Retak melalui badan gigi (sindroma gigi retak)
4. Perubahan barometrik (barodontalgia)
B. Termal
1. Panas berasal dari preparasi kavitas pada kecepatan rendah atau tinggi
2. Panas eksotermik karena menjadi kerasnya (setting) semen.
3. Konduksi panas dan dingin melalui tumpatan yang dalam tanpa suatu bahan dasar protektif
4. Panas friksional (pergesekan) yang disebabkan oleh pemolesan restorasi
C. Listrik (arus galavanik dari tumpatan metalik yang tidak sama)

II.1.2. Kimiawi
A. Asam fosfat, monomer akrilik, dll
B. Erosi (asam)

II.1.3. Bakterial
A. Toksin yang berhubungan dengan karies
B. Invasi langsung pulpa dari karies atau trauma
C. Kolonisasi mikrobial di dalam pulpa oleh mikro organisme bloodbone (anakerosis)

II.2. Mekanisme Terjadinya Inflamasi Pulpa


Pulpitis atau inflamasi pulpa dapat akut atau kronis, sebagian atau seluruhnya, dan pulpa
dapat terinfeksi atau steril. Keradangan pulpa dapat terjadi karena adanya jejas yang dapat
menimbulkan iritasi pada jaringan pulpa. Jejas tersebut dapat berupa kuman beserta
produknya yaitu toksin, dan dapat juga karena faktor fisik dan kimia (tanpa adanya kuman).
Namun kebanyakan inflamasi pulpa disebabkan oleh kuman dan merupakan kelanjutan
proses karies, dimana karies ini proses kerusakannya terhadap gigi dapat bersifat lokal dan
agresif. Apabila lapisan luar gigi atau enamel tertutup oleh sisa makanan, dalam waktu yang
lama maka hal ini merupakan media kuman sehingga terjadi kerusakan di daerah enamel
yang nantinya akan terus berjalan mengenai dentin hingga ke pulpa.

Ada tiga bentuk pertahanan dalam menanggulangi proses karies yaitu:


1. Penurunan permebilitas dentin
2. Pembentukan dentin reparatif
3. Reaksi inflamasi secara respons immunologik

Apabila pertahanan tersebut tidak dapat mengatasi, maka terjadilah radang pulpa yang
disebut pulpitis. Radang adalah merupakan reaksi pertahanan tubuh dari pembuluh darah,
syaraf dan cairan sel di jaringan yang mengalami trauma.

II.3. Klasifikasi Penyakit Pulpa


Kalsifikasi penyakit pulpa telah banyak dibuat dan beberapa kali mengalami penyempurnaan,
dengan tujuan untuk memudahkan dalam menentukan rencana perawatan secara tepat
sehingga didapatkan hasil perawatan yang optimal.

Klasifikasi Menurut Grossman (1988) sebagai berikut:


I. Pulpitis (inflamasi)
A. Reversibel
1. Dengan gejala/simtomatik (akut)
2. Tanpa gejala/asimtomatik (kronis)

B. Irreversibel
1. Akut
a. Luar biasa responsif terhadap dingin
b. Luar biasa responsif terhadap panas
2. Kronis
a. Tanpa gejala dengan terbukanya pulpa
b. Pulpitis hiperplastik
c. Resorpsi internal

II. Degenerasi pulpa


A. Mengapur (kalsifikasi)/diagnosis radiografik
B. Lain-lain (diagnosa histopatologik)

III. Nekrosis pulpa


Pada pembagian terdahulu klasifikasi Grossman (1981) masih didapatkan adanya hiperemia
pulpa sebelum infeksi menjalar lebih lanjut ke arah pulpitis, tetapi hal ini telah diperbaharui
oleh Grossman di tahun 1988 seperti klasifikasi tersebut di atas.
Perlu diketahui bahwa pada kasus hiperemia pulpa didapatkan adanya jumlah volume aliran
darah ke pulpa yang cukup banyak tetapi belum terjadi radang, sebenarnya pada keadaan ini
sudah mengalami radang hal ini ditandai dengan adanya perubahan pada pembuluh darah
dengan terjadinya peningkatan permiabilitas dan juga oleh peran mediator kimia. Sejak
lapisan enamel mengalami cedera sampai dentin, telah terjadi perubahan pada jaringan pulpa
berupa proses radang yang diawali dengan vasodilatasi pembuluh darah.
Pengelompokkan penyakit pulpa menurut Walton (1998) agak sedikit berbeda, yaitu sebagai
berikut:
1. Pulpitis reversibel
2. Pulpitis Irreversibel
3. Pulpitis hiperplastik
4. Nekrosis pulpa

II.4. Pulpitis Reversibel


Definisi pulpitis reversibel adalah suatu kondisi inflamasi pulpa ringan sampai sedang yang
disebabkan oleh adanya jejas, tetapi pulpa masih mampu kembali pada keadaan tidak
terinflamasi setelah jejas dihilangkan. Rasa sakit biasanya sebentar, yang dapat dihasilkan
oleh karena jejas termal pada pulpa yang sedang mengalami inflamasi reversibel, tetapi rasa
sakit ini akan hilang segera setelah jejas dihilangkan. Pulpitis reversibel yang disebabkan
oleh jejas ringan contohnya erosi servikal atau atrisi oklusal, fraktur email.
Pulpitis reversibel dapat disebabkan oleh apa saja yang mampu melukai pulpa, antara lain:
trauma, misalnya dari suatu pukulan atau hubungan oklusal yang terganggu; syok termal,
seperti yang timbul saat preparasi kavitas dengan bur yang tumpul, atau membiarkan bur
terlalu lama berkontak dengan gigi atau panas yang berlebihan saat memoles tumpatan;
dehidrasi kavitas dengan alkohol atau kloroform yang berlebihan, atau rangsangan pada leher
gigi yang dentinnya terbuka, adanya bakteri dari karies.
Kadang-kadang setelah insersi suatu restorasi, pasien sering mengeluh tentang sensitivitas
ringan terhadap permukaan temperatur, terutama dingin. Hal ini dapat berlangsung dua
sampai tiga hari atau satu minggu, tetapi berangsur-angsur akan hilang. Sensitivitas ini adalah
gejala pulpitis reversibel. Rangsangan tersebut di atas dapat menyebabkan hiperemia atau
inflamasi ringan pada pulpa sehingga menghasilkan dentin sekunder, bila rangsangan cukup
ringan atau bila pulpa cukup kuat untuk melindungi diri sendiri. Jadi dapat disimpulkan
bahwa penyebab terjadinya pulpitis reversibel bisa karena trauma yaitu apa saja yang dapat
melukai pulpa. Seperti telah diterangkan di atas bahwa sejak lapisan terluar gigi terluka sudah
dapat menyebabkan perubahan pada pulpa.
Pulpitis reversibel simtomatik ditandai oleh rasa sakit tajam yang hanya sebentar. Lebih
sering diakibatkan oleh makanan atau minuman dingin daripada panas, tidak timbul secara
spontan dan tidak berlanjut bila penyebabnya ditiadakan. Perbedaan klinis antara pulpitis
reversibel dan irreversibel adalah kuantitatif; rasa sakit pulpitis irreversibel adalah lebih parah
dan beralngsung lebih lama.
Pada pulpitis reversibel penyebab rasa sakit umumnya peka terhadap suatu stimulus, seperti
air dingin atau aliran udara, sedangkan irreversibel rasa sakit dapat datang tanpa stimulus
yang nyata. Pulpitis reversibel asimtomatik dapat disebabkan karena karies yang baru mulai
dan menjadi normal kembali setelah karies dihilangkan dan gigi direstorasi dengan baik.
Pulpitis reversibel dapat berkisar dari hiperemia ke perubahan inflamasi ringan hingga sedang
terbatas pada daerah dimana tubuli dentin terlibat. Secara mikroskopis terlihat dentin
reparatif, gangguan lapisan odontoblas, pembesaran pembuluh darah dan adanya sel inflamasi
kronis yang secara imunologis kompeten. Meskipun sel inflamasi kronis menonjol dapat
dilihat juga sel inflamasi akut.
Pulpitis reversibel yang simtomatik, seacara klinik ditandai dengan gejala sensitif dan rasa
sakit tajam yang hanya sebentar. Lebih sering diakibatkan oleh rangsangan dingin daripada
panas. Ada keluhan rasa sakit bila kemasukan makanan, terutama makanan dan minuman
dingin. Rasa sakit hilang apabila rangsangan dihilangkan, rasa sakit yang timbul tidak secara
spontan.
Cara praktis untuk mendiagnosa pulpitis reversibel adalah:
- Anamnesa: ditemukan rasa sakit / nyeri sebentar, dan hilang setelah rangsangan dihilangkan
- Gejala Subyektif: ditemukan lokasi nyeri lokal (setempat), rasa linu timbul bila ada
rangsangan, durasi nyeri sebentar.
- Gejala Obyektif: kariesnya tidak dalam (hanya mengenai enamel, kadang-kadang mencapai
selapis tipis dentin), perkusi, tekanan tidak sakit.
- Tes vitalitas: gigi masih vital
- Terapi: jika karies media dapat langsung dilakukan penumpatan, tetapi jika karies porfunda
perlu pulp capping terlebih dahulu, apabila 1 minggu kemudian tidak ada keluhan dapat
langsung dilakukan penumpatan.

Perawatan terbaik untuk pulpitis reversibel adalah pencegahan. Perawatan periodik untuk
mencegah perkembangan karies, penumpatan awal bila kavitas meluas, desensitisasi leher
gigi dimana terdapat resesi gingiva, penggunaan pernis kavitas atau semen dasar sebelum
penumpatan, dan perhatian pada preparasi kavitas dan pemolesan dianjurkan untuk mencegah
pulpitis lebih lanjut. Bila dijumpai pulpitis reversibel, penghilangan stimulasi (jejas) biasanya
sudah cukup, begitu gejala telah reda, gigi harus dites vitalitasnya untuk memastikan bahwa
tidak terjadi nekrosis. Apabila rasa sakit tetap ada walaupun telah dilakukan perawatan yang

tepat, maka inflamasi pulpa dianggap sebagai pulpitis irreversibel, yang perawatannya adalah
eksterpasi, untuk kemudian dilakukan pulpektomi.
Prognosa untuk pulpa adalah baik, bila iritasi diambil cukup dini, kalau tidak kondisinya
dapat berkembang menjadi pulpitis irreversibel.

II.5. Pulpitis Irreversibel


Definisi pulpitis irreversibel adalah suatu kondisi inflamasi pulpa yang persisten, dapat
simtomatik atau asimtomatik yang disebabkan oleh suatu stimulus/jejas, dimana pertahanan
pulpa tidak dapat menanggulangi inflamasi yang terjadi dan pulpa tidak dapat kembali ke
kondisi semula atau normal.
Pulpitis irreversibel akut menunjukkan rasa sakit yang biasanya disebabkan oleh stimulus
panas atau dingin, atau rasa sakit yang timbul secara spontan. Rasa sakit bertahan untuk
beberapa menit sampai berjam-jam, dan tetap ada setelah stimulus/jejas termal dihilangkan.
Pulpitis irreversibel kebanyakan disebabkan oleh kuman yang berasal dari karies, jadi sudah
ada keterlibatan bakterial pulpa melalui karies, meskipun bisa juga disebabkan oleh faktor
fisis, kimia, termal, dan mekanis. Pulpitis irreversibel bisa juga terjadi dimana merupakan
kelanjutan dari pulpitis reversibel yang tidak dilakukan perawatan dengan baik.
Pada awal pemeriksaan klinik pulpitis irreversibel ditandai dengan suatu paroksisme
(serangan hebat), rasa sakit dapat disebabkan oleh hal berikut: perubahan temperatur yang
tiba-tiba, terutama dingin; bahan makanan manis ke dalam kavitas atau pengisapan yang
dilakukan oleh lidah atau pipi; dan sikap berbaring yang menyebabkan bendungan pada
pembuluh darah pulpa. Rasa sakit biasanya berlanjut jika penyebab telah dihilangkan, dan
dapat datang dan pergi secara spontan, tanpa penyebab yang jelas. Rasa sakit seringkali
dilukiskan oleh pasien sebagai menusuk, tajam atau menyentak-nyentak, dan umumnya
adalah parah. Rasa sakit bisa sebentar-sebentar atau terus-menerus tergantung pada tingkat
keterlibatan pulpa dan tergantung pada hubungannya dengan ada tidaknya suatu stimulus
eksternal. Terkadang pasien juga merasakan rasa sakit yang menyebar ke gigi di dekatnya, ke
pelipis atau ke telinga bila bawah belakang yang terkena.
Secara mikroskopis pulpa tidak perlu terbuka, tetapi pada umunya terdapat pembukaan
sedikit, atau kalau tidak pulpa ditutup oleh suatu lapisan karies lunak seperti kulit. Bila tidak
ada jalan keluar, baik karena masuknya makanan ke dalam pembukaan kecil pada dentin, rasa
sakit dapat sangat hebat, dan biasanya tidak tertahankan walaupun dengan segala analgesik.
Setelah pembukaan atau draenase pulpa, rasa sakit dapat menjadi ringan atau hilang sama
sekali. Rasa sakit dapat kembali bila makanan masuk ke dalam kavitas atau masuk di bawah
tumpatan yang bocor.
Cara praktis untuk mendiagnosa pulpitis ireversibel adalah:
- Anamnesa: ditemukan rasa nyeri spontan yang berkepanjangan serta menyebar
- Gejala Subyektif: nyeri tajam (panas, dingin), spontan (tanpa ada rangsangan sakit), nyeri
lama sampai berjam-jam.
- Gejala Obyektif: karies profunda, kadang-kadang profunda perforasi, perkusi dan tekan
kadang-kadang ada keluhan.
- Tes vitalitas: peka pada uji vitalitas dengan dingin, sehingga keadaan gigi dinyatakan vital.
- Terapi: pulpektomi

Dengan pemeriksaan histopatologik terlihat tanda-tanda inflamasi kronis dan akut. Terjadi
perubahan berupa sel-sel nekrotik yang dapat menarik sel-sel radang terutama leukosit
polimorfonuklear dengan adanya kemotaksis dan terjadi radang akut. Terjadi fagositosis oleh
leukosit polimorfonuklear pada daerah nekrosis dan leukosit mati serta membentuk eksudat
atau nanah. Tampak pula sel-sel radang kronis seperti sel plasma, limfosit dan makrofag.
Perawatan terdiri dari pengambilan seluruh pulpa, atau pulpektomi, dan penumpatan suatu
medikamen intrakanal sebagai desinfektan atau obtuden (meringankan rasa sakit) misalnya
kresatin, eugenol, atau formokresol. Pada gigi posterior, dimana waktu merupakan suatu
faktor, maka pengambilan pulpa koronal atau pulpektomi dan penempatan formokresol atau
dressing yang serupa di atas pulpa radikuler harus dilakukan sebagai suatu prosedur darurat.
Pengambilan secara bedah harus dipertimbangkan bila gigi tidak dapat direstorasi.
Prognosa gigi adalah baik apabila pulpa diambil kemudian dilakukan terapi endodontik dan
restorasi yang tepat.

II.5.1. Pulpitis Kronis Hiperplastik (Pulpa Polip)


Pulpitis kronis hiperplastik atau pulpa polip adalah suatu inflamasi pulpa produktif yang
disebabkan oleh suatu pembukaan karies yang besar pada pulpa muda. Pada pemeriksaan
klinis terlihat adanya pertumbuhan jaringan granulasi dalam kavitas yang besar. Gangguan ini
ditandai oleh perkembangan jaringan granulasi, kadang-kadang tertutup oleh epithelium dan
disebabkan karena iritasi tingkat rendah yang berlangsung lama.
Terbukanya pulpa karena karies yang lambat dan progresif merupakan penyebanya. Untuk
pengembangan pulpitis hiperplastik diperlukan suatu kavitas besar yang terbuka, pulpa muda
yang resisten, dan stimulus tingkat rendah yang kronis misalnya tekanan dari pengunyahan.
Pada pulpitis hiperplastik kronis tidak mempunyai gejala, kecuali selama mastikasi bila
tekanan bolus makanan menyebabkan rasa yang tidak menyenangkan. Pada polip ini dapat
ditemukan melalui pemeriksaan klinik tetapi perlu dipastikan melalui pemeriksaan radiologi
untuk melihat tangkai dari polip, berasal dari ruang pulpa,perforasi bifurkasi atau gingiva.
Warna pulpa polip agak kemerahan mudah berdarah dan sensitif bila disentuh. Sedangkan
warna gingiva polip lebih pucat dan biasanya timbul pada karies besar yang mengenai
proksimal (kavitas kelas II). Polip berasal dari perforasi bifurkasi terdiri dari jaringan ikat,
biasanya giginya sudah mati, kalau pada pulpa polip giginya masih hidup (vital).
Pada pemeriksaan histopatologi terlihat pertumbuhan jaringan granulasi berupa pulpa polip
yang permukaannya ditutup oleh lapisan epithelium skuamus yang bertingkat-tingkat.
Jaringan granulasi ini merupakan jaringan penghubung vaskuler, berisi polimorfonuklear,
limfosit dan sel plasma.
Usaha perawatan harus ditunjukkan pada pembuangan jaringan polipoid diikuti oleh
eksterpasi pulpa, jika masa pulpa hiperplastik telah diambil dengan kuret periodontal atau
eksavator sendok, perdarahan biasanya banyak dan dapat dikendalikan dengan tekanan.
Kemudian jaringan yang terdapat pada kamar pulpa diambil seluruhnya, dan atau dressing
formonukresol ditempatkan berkontak dengan jaringan pulpa. Hal terbaik yang dapat
dilakukan setelah pulpa polip terambil adalah dengan pulpectomy yaitu prosedur
pengambilan jaringan pulpa secara menyeluruh dalam satu kali kunjungan (one visit).
Harapan bagi pulpa tidak baik, tetapi prognosis gigi baik setelah perawatan endodontik dan
restorasi yang memadai.

II.5.2. Resorpsi Internal


Resorpsi internal adalah suatu proses idiopatik progresif resorptif yang lambat atau cepat
yang timbul pada dentin kamar pulpa atau saluran akar gigi.
Penyebab resorpsi internal masih belum diketahui secara pasti, namun seringkali penderita
mempunyai riwayat trauma. Ada yang beranggapan bahwa resorpsi internal dapat terjadi
sebagai akibat inflamasi pulpa.
Resorpsi internal pada akar gigi adalah asimtomatik. Pada mahkota gigi, resorpsi internal
dapat terlihat sebagai daerah yang kemerah-merahan disebut bintik merah muda (pink
spot). Daerah kemerah-merahan ini menggambarkan jaringan granulasi yang terlihat melalui
daerah mahkota yang teresorpsi.
Pada pemeriksaan histipatologi, tidak seperti karies, resorpsi internal adalah hasil aktivitas
osteoklastik. Ciri proses resorpsi adalah lakuna yang mungkin terisi oleh jaringan osteoid.
Jaringan osteoid dapat dianggap sebagai usaha perbaikan. Adanya jaringan granulasi
menyebabkan perdarahan banyak bila pulpa diambil. Dijumpai sel-sel raksasa bernukleus
banyak atau dentinoklas. Pulpa biasanya menderita inflamasi kronis. Kadang-kadang terjadi
metaplasia pulpa yaitu transformasi ke jenis jaringan lain seperti tulang atau sementum.
Perawatan yang dapat dilakukan pada kasus resorpsi internal adalah eksterpasi pulpa untuk
menghentikan proses resorpsi internalnya. Diindikasikan perawatan endodontik rutin, tetapi
obturasi kerusakan memerlukan suatu bahan khusus, lebih diutamakan dengan cara guta-
percha. Pada kebanyakan pasien, resorpsi internal berkembang tanpa terlihat karena tidak
menimbulkan rasa sakit, sampai akar berlubang. Dalama kasus seperti ini, pasta kalsium
hidroksida dimampatkan pada saluran akar dan diperbaharui secara periodik sampai
kerusakan menjadi baik. Perbaikan selesai bila terjadi rintangan atau karies mengapur, baru
kemudian diisi dengan gutta-percha.
Prognosis adalah terbaik sebelum terjadi perforasi akar atau mahkota. Jika telah terjadi
perforasi akar-mahkota, prognosisnya berhati-hati dan tergantung pada terbentuknya
rintangan mengapur atau pembukaan ke perforasi yang memungkinkan perbaikan secara
bedah.

II.6. Degenerasi Pulpa


Degenarasi pulpa ini jarang ditemukan namun perlu diikutkan pada suatu deskripsi penyakit
pulpa. Degenerasi pulpa pada umunya ditemui pada penderita usia lanjut yang dapat
disebabkan oleh iritasi ringan yang persisten. Kadang-kadang dapat juga ditemukan pada
penderita muda seperti pengapuran. Degenerasi pulpa ini tidak perlu berhubungan dengan
infeksi atau karies, meskipun suatu kavitas atau tumpatan mungkin dijumpai pada gigi yang
terpengaruh. Tingkat awal degenerasi pulpa biasanya tidak menyebabkan gejala klinis yang
nyata. Gigi tidak berubah warna, dan pulpa bereaksi secara normal tehadap tes listrik dan tes
termal. Ada beberapa macam degenerasi pulpa yaitu degenerasi kalsifik, degenerasi atrofik,
degenerasi fibrous.
Degenerasi kalsifik ditandai dengan perubahan sebagian jaringan pulpa digantikan oleh bahan
mengapur, yaitu terbentuk batu pulpa (dentikel), yang biasanya disebut sebagai pulpa stone.
Kalsifikasi ini dapat terjadi baik di dalam kamar pulpa. Bahan mengapur mempunyai struktur
berlamina seperti kulit bawang dan terletak tidak terikat di dalam kamar pulpa. Diduga bahwa
batu pulpa dijumpai pada lebih dari 60% gigi penderita usia lanjut. Pada beberapa pasien batu
pulpa terkadang menimbulkan rasa sakit yang menyebar (refered pain), dan dicurigai sebagai
fokus infeksi oleh beberapa klinisi.
Degenerasi atrofik, tidak ada diagnosis kliniknya, pada jenis degenerasi ini sering terjadi pada
penderita usia lanjut. Secara histopatologis dijumpai lebih sedikit sel-sel skelat, dan cairan
interselular meningkat. Jaringan pulpa kurang sensitif daripada normal. Yang disebut atrofi
retikuler adalah suatu artifiak (artifact) dihasilkan oleh penundaan bahan fiksatif dalam
mencapai pulpa. Biasanya terlihat saluran akarnya sempit dan seringkali menyulitkan bila
dilakukan perawatan saluran akar.
Degenerasi fibrous, bentuk degenerasi pulpa ini ditandai dengan pergantian elemen selular
oleh jaringan penghubung fibrus. Dapat terlihat jelas pada saat pengambilan jaringan pulpa
berupa jaringan keras. Penyakit ini tidak menyebabkan gejala khusus untuk membantu dalam
diagnosa klinik.

II.7. Nekrosis Pulpa


Nekrosis pulpa adalah matinya pulpa, dapat sebagian atau seluruhnya, tergantung pada
apakah sebagian atau seluruh pulpa yang terlibat. Nekrosis, meskipun suatu inflamasi dapat
juga terjadi setelah jejas traumatik yang pulpanya rusak sebelum terjadi reaksi inflamasi.
Nekrosis ada dua jenis yaitu koagulasi dan likuefaksi (pengentalan dan pencairan). Pada jenis
koagulasi, bagian jaringan yang dapat larut mengendap atau dirubah menjadi bahan solid.
Pengejuan adalah suatu bentuk nekrosis koagulasi yang jaringannya berubah menjadi masa
seperti keju, yang terdiri atas protein yang mengental, lemak dan air. Nekrosis likuefaksi
terjadi bila enzim proteolitik mengubah jaringan menjadi massa yang melunak, suatu cairan
atau debris amorfus.
Nekrosis pulpa dapat disebabkan oleh jejas yang membahayakan pulpa seperti bakteri,
trauma dan iritasi kimiawi. Gigi yang kelihatan normal dengan pulpa nekrotik tidak
menyebabkan gejala rasa sakit. Sering adanya perubahan warna pada gigi keabu-
abuan/kecoklat-coklatan adalah indikasi pertama bahwa pulpa mati.
Pada pemeriksaan histopatologis tampak debris seluler dan mikroorganisme mungkin terlihat
di dalam kavitas pulpa. Jaringan periapikal mungkin normal atau menunjukkan sedikit
inflamasi yang dijumpai pada ligamen periodontal.
Perawatan yang perlu dilakukan adalah preparasi dan obturasi saluran akar. Prognosis bagi
gigi baik, apabila dilakukan terapi endodontik yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Grossman LI. 1998. Endodontic Practice. 8th ed. Philadelphia, London: Lea and Febiger.
2. Walton and Torabinajed. 1996. Prinsip dan Praktik Endodonsi. Edisi ke-2. JakarTA : EGC

Anda mungkin juga menyukai