Restorasi Rigid Inlay/Onlay Gigi
Restorasi Rigid Inlay/Onlay Gigi
PENDAHULUAN
Skenario
Seorang pasien wanita usia 27 tahun datang ke klinik RSGM UNEJ ingin merawatkan kembali gigi
belakang kiri atas yang pernah ditambal komposit klas II MO 5 tahun yang lalu. Pasien mengeluh ada gigi
yang gumpil sehingga tidak nyaman untuk dipakai makan. Bila berkumur-kumur terasa linu tetapi tidak
pernah merasakan sakit spontan (hilang timbul). Pada pemeriksaan tampak gigi 24 terdapat karies sekunder
antara tepi tumpatan dengan tepi gigi pada sisi proksimal bagian bukal. Dokter gigi melakukan
pembongkaran bahan tumpatannya sehingga tampak karies sekunder pada sisi proksimal yang menghadap
bukal dan melibatkan sebagian cupsnya. Gigi masih vital, pada pemeriksaan perkusi dan tekanan tdak
memberikan reaksi rasa sakit. Dokter gigi menyarankan kepada pasien untuk dibuatkan restorasi rigid.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bahan restorasi merupakan salah satu bahan yang banyak dipakai dibidang kedokteran gigi. Bahan
restorasi berfungsi untuk memperbaiki dan merestorasi gigi yang rusak atau mengganti gigi yang hilang,
sehingga dapat mengembalikan fungsi kunyah, fungsi bicara, dan fungsi estetika gigi tersebut.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran gigi telah menemukan teknik dan
bahan untuk merestorasi berbagai kelainan atau kerusakan gigi khususnya yang berkaitan dengan estetika
(T.R. Pitt Ford, 1993 : 61).
Secara garis besar bahan restorasi yang kini beredar dapat dibedakan menjadi dua golongan besar
berdasarkan keadaan saat akan ditambalkannya, yaitu bahan restorasi plastis dan restorasi non plastis (rigid).
Bahan restorasi plastis ditumpatkan ke kavitas ketika keadaannya masih lunak dan masih dapat dibentuk,
yakni masih dalam keadaan plastis, sebelum bahan tersebut berubah keadaannya menjadi masa keras dan
rigid. Bahan restorasi rigid dibuat di luar mulut dan setelah jadi baru ditumpatkan ke dalam kavitas. Jenis
bahan ini banyak digunakan bagi restorasi ekstrakorona yang retensinya ditentukan oleh bentuk preparasi
kavitas dan dibantu dengan penyemenan (T.R. Pitt Ford, 1993 : 61).
Restorasi rigid merupakan restorasi yang dibuat di laboratorium dental dengan menggunakan model
cetakan gigi yang dipreparasi kemudian disemenkan pada gigi. Umumnya restorasi ini membutuhkan
kunjungan berulang dan penempatan tumpatan sementara sehingga lebih mahal untuk pasien
Berlawanan dengan sifat bahan tumpatan plastis yang bisa dimanipulasi selama melakukan
penumpatan, ada sekelompok bahan restorasi yang harus dibentuk dan diselesaikan dahulu diluar mulut
sebelum ditumpatkan ke dalam gigi atau diatas gigi yang telah dipreparasi. Jika restorasinya cocok dengan
kavitas yang telah dipreparasi didalam gigi disebut restorasi intrakorona, sedangkan jika cocok menutupi
gigi yang telah dipreparasi disebut restorasi ekstrakorona. Sifat mekanik yang sangat baik dari bahan
restorasi kelompok ini telah menyebabkan meluasnya pemakaian restorasi ekstrakorona. Dalam restorasi
intrakorona bahan tersebut sedikit digunakan karena dengan bahan tumpatan plastis pekerjaan bisa lebih
mudah, lebih cepat, dan jauh lebih murah. Jika pada gigi terdapat kavitas yang sangat luas, maka lebih baik
menambal kavitas dengan bahan restorasi plastis yang memperoleh restorasi tambahannya misalnya dari pin,
lalu membuat restorasi ekstrakorona untuk melindungi tonjolnya yang telah lemah. Cara demikian lebih baik
daripada membuat restorasi rigid intrakorona misanya inlay emas yang tidak menyediakan perlindungan
yang diperlukan dan retensinya jelas
tidak memadai (Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi, edisi 3).
Retensi restorasi rigid diperoleh dari bentuk geometric preparasinya, dibantu oleh selapis tipis semen
perekat yang juga berfungsi mencegah bocornya tepi tumpatan atau masuknya bakteri (Buku Ajar Ilmu
Konservasi Gigi, edisi 3).
Bertahun-tahun lamanya bahan yang banyak digunakan untuk restorasi rigid adalah aloi emas tuang
dan kaca keramik atau porselen dental. Kedua bahan ini dalam bentuk modifikasinya dapat juga
dikombinasikan sehingga memiliki estetika yang baik yang disebabkan oleh porselen dental dan mempunyai
kekuatan seperti aloi metalnya, hasilnya adalah restorasi metal keramik atau sering disebut sebagai mahkota
bonded porcelain (Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi, edisi 3).
Pilihan bahan restorasi rigid antara lain logam tuang, porselen, resin komposit, porselen fused to
metal dan kombinasi keduanya. Logam merupakan bahan restorasi rigid dengan kekuatan tensil yang besar,
yang membutuhkan preparasi kavitas yang luas dan bevel sebagai retensi, tetapi memiliki masalah estetik.
Sedangkan porselen merupakan bahan restorasi rigid estetik yang paling unggul dengan kekuatan kompresif
yang tinggi. Porselen mebutuhkan biaya besar biasanya, dua sampai tiga kali lebih mahal dari restorasi rigid
logam atau komposit plastis selain waktu pembuatan di laboratorium.
Teknik restorasi rigid dibagi atas tiga metode yaitu direct, semidirect, dan indirect. Teknik semidirect
intraoral merupakan pembuatan inlay/ onlay resin komposit satu kali kunjungan, resin komposit langsung
ditumpatkan pada gigi, disinar dari setiap arah dan kemudian di post-cured sebelum dibonding pada gigi.
Teknik semidirect ekstraoral merupakan pembuatan restorasi rigid satu kali kunjungan yang dibuat
menggunakan die fleksibel dan berfungsi untuk mengoreksi kontak marginal. Teknik indirect merupakan
pembuatan restorasi rigid yang dilakukan dalam laboratorium dental dengan menggunakan model dari
kavitas gigi yang dipreparasi, membutuhkan tumpatan sementara dan kunjungan berulang.
Kekurangan:
1. Membutuhkan pekerjaan laboratorium, dan
2. Biaya lebih mahal.
Tahap Preparasi
a. Dinding dinding sejajar dan undercut dihilangkan,
b. Slice pada permukaan proksimal (lurus atau miring sedikit dengan disk atau tappered),
c. Dibuat parit pada 2/3 buccal groove dan 2/3 lingual groove diteruskan ke oklusal,
d. Dibuat sampai daerah self cleansing daerah bawah free gingival margin, dan
e. Tepi proksimal dihaluskan dengan diamond disk.
Inlay Klas I
Inlay Klas II
A. Outline form
Secara umum outline form inlay klas II sesuai dengan outline kavitas untuk amalgam kelas II.
Outline form dibuat dengan memperhatikan resistence form, retention form, extention for prevention dan
convenience form nya
B. Tahap preparasi kavitas
Preparasi dinding oklusal
- melakukan preparasi dengan mengikuti bentukan outline form yang telah dibuat sedalam 2-2,5 mm
dengan menggunakan tapered fissure flat end
- membentuk dinding kavitas divergen 3-5 derajat ke arah oklusal. Tidak ada undercut dan line angle
dibuat tajam
Preparasi bidang proksimal
- Melanjutkan preparasi bagian oklusal ke arah proksimal sampai batas daerah yang mudah
dibersihkan (interdental papila)
- Membentuk dinding bukal dan lingual divergen 3-5 derajat ke arah oklusal
- Membuat dinding gingiva sampai batas papila interdental, datar, tegak lurus dengan sumbu gigi ( -+
2mm diatas garis servikal)
- Membuat bevel yang membentuk sudut 45 derajat terhadap permukaan pada axio-pulpal line angel
dan permukaan cavo surface enamel margin
- Dinding bukal dan lingual pada bagian proksimal bebas kontak sebesar ujung sonde
- Menghaluskan semua bidang preparasi menggunakan finishing bur
- Membuat cetakan percobaan pada malam tuang untuk melihat apakah hasil preparasi sudah baik atau
belum
Cara mencetak percobaan
- memanaskan malam tuang diatas api sampai lunak (jangan sampai meleleh) kemudian memilinnya
sampai panjang dan lurus
- selanjutnya menekan malam tersebut kedalam kavitas sampai menutupi seluruh kavitas dan
permukaan oklusal gigi. Pada saat menekan mengusahakan supaya searah dengan sumbu gigi
Cara menilai hasil cetakan percobaan
- hasil cetakan halus dan tidak ada undercut
- channel, dovetail dan bevel terlihat
2.2.2 Onlay
Onlay merupakan modifikasi dari MOD inlay dimana telah terjadi kerusakan mengenai lebih dari 1
cups atau lebih dari 2/3 dataran oklusal. Biasanya lebih luas dari inlay dan menutupi salah satu atau lebih
tonjol gigi tersebut.
Tahapan Pekerjaan:
1. Pemasangan isolator karet
2. Akses ke karies
Tahap ini dilakukan untuk memperoleh akses ke dentin karies. Alat yang digunakan adalah bur fisur
tungsten carbide pendek-kuncup dengan kekuatan tinggi.
3. Menentukan luas karies
Setelah akses diperoleh, kavitas bisa dilebarkan sampai dicapai pertautan email-dentin yang sehat.
4. Keyway
Keyway dapat mempengaruhi retensi onlay dan ketahanan terhadap kemungkinan bergesernya
restorasi. Keyway dibuat dengan kemiringan minimal sekitar 6-10o terhadap sumbu gigi dengan
menggunakan bur fisur kuncup dan dijaga agar sumbu bur sejajar dengan sumbu gigi. Setelah membuat
keyway, kavitas dikeringkan untuk memeriksa ada tidaknya sisa karies dan kavitasnya sedikit membuka
dengan sumbu yang benar.
5. Pembuatan boks aproksimal
Di bagian ini kavitas harus didalamkan memakai bur bulat kecepatan rendah dan dengan cara yang
sama dengan preparasi untuk amalgam dengan jalan membuang dentin karies pada pertautan email-dentin.
Ketika dentin karies pada pertautan email-dentin telah dibuang, dinding email dapat dipecahkan dengan
pahat dan tepi kavitasnya dihaluskan dengan pahat pemotong tepi gingiva. Preparasi dibuat miring 10 o
terhadap sumbu gigi dengan bur fisur tunsten carbide kecepatan tinggi.
6. Pembuangan karies dalam
Karies mungkin tertinggal di dinding aksial dan paling baik dibuang dengan bur ukuran medium
(ISO 012) dalam kecepatan rendah. Jika dentin karies telah dibuang, periksa kembali untuk memastikan
tidak adanya undercut. Jika masih ada undercut, maka undercut tersebut ditutup dengan semen pelapik pada
tahap preparasi berikutnya sehingga preparasi mempunyai kemiringan yang dikehendaki.
7. Pembuatan bevel
Garis sudut aksio-pulpa hendaknya dibevel, baik dengan memakai bur pengakhir kecepatan rendah
maupun dengan bur pengakhir kecepatan tinggi yang sesuai. Bevel hendaknya diletakkan di tepi email, agar
tepi tipis hasil tuangan dapat dipaskan seandainya kerapatan hasil tuangan dengan gigi tidak baik.
Hendaknya bevel tidak diluaskan lebih ke dalam karena akan mengurangi retensi dari suatu restorasi. Bur
lain yang dapat digunakan adalah bur fisur kuncup untuk preparasi kavitas. Tepi luar bevel harus halus dan
kontinyu untuk mempermudah penyelesaian restorasi dan supaya tepi tumpatannya beradaptasi dengan baik
dengan gigi.
Bevel biasanya tidak dibuat di dinding aproksimal karena akan menciptakan undercut, mengingat
sebagian besar tepi kavitas terletak di bawah bagian gigi yang paling cembung. Akan tetapi dinding gingiva
dapat dan harus dibevel. Bur yang paling cocok adalah bur Baker Curson halus dan kuncup dalam kecepatan
tinggi. Bevel gingiva sangat penting karena akan meningkatkan kecekatan tuangan yang biasanya
merupakan hal yang paling kritis. ( Baum, Lloyd dkk. 1997 : 374)
8. Finishing
Hasil preparasi diperiksa dalam keadaan kering dan pencahayaan baik sehingga dapat dilihat
langakah sudah tepat atau belum. Hasil preparasi mempunyai kemiringan antar dinding sebanyak 6-10
derajat. Jika ada undercut atau keleihan haris diperbaiki. Penghalusan dilakukan dengan poin atau roda caret
abrasif.
Permukaan dalam kavitas yang kasar akibat bur intan silindris, dihaluskan dengan bur pengakhir
dalam kecepatan tinggi yaitu bur tungsten carbide dan bur baker curson.
9. Pencetakan gigi
Mula-mula membuat dahulu cetakan akurat dari gigi yang telah dipreparasi dalam lengkung giginya
untuk membuat model bagi pembuatan restorasinya. Untuk itu biasanya diperlukan suatu sendok cetak
khusus, yang pada umumnya dibuat dari resin akrilik pada model studi, sebelum pasien dijanjikan untuk
preparasi gigi. Biasanya pencetakan dilakukan dengan memakai bahan cetak elastomer seperti bahan vynil
polysiloxane, karena keelastikan dan kestabilannya yang baik.
10. Prosedur Laboratorium
Hasil cetakan diisi oleh gips keras untuk die sampai sebatas 2 mm dari tepi gingiva ke arah apeks.
Kemudian hasil pengecoran dikirim ke laboratorium untuk dibuatkan onlay jadinya.
11. Percobaan pada pasien
Kontak aproksimal harus diperksan dan disesuaikan sebelumnya. Pas tidaknya restorasi harus dinilai
jika banyak kekurangan pembuatan onlay harus diulang sedangkan jika belebihan dapat di potong dan
disesuaikan. Sebelum penyemenan restorasi di poles kembali.
Indikasi:
1. Untuk karies yang besar dan dalam, terutama yang meuluas sampai ke aproksimal
2. Sebagai penyangga bridge
3. Gigi yang mengalami abrasi yang luas atau pada karies yang lebar meskipun masih dangkal
4. Pada gigi yang menerima tekanan oklusi yang besar,
5. Pada kasus kasus dimana di perlukan :
- Perlindungan terhadap jaringan periodontal
- kontak yang lebih baik dengan gigi tetangga
- menghindari terjadinya penimbunan sisi makanan
6. untuk menambah tambalan padakelas IV
7. Bila keadaan sosial ekonomi pasien mengijinkan
Kontraindikasi:
Kunjungan pertama
1. Akses Ke Karies
Tahap pertama preparsi adalah memperoleh akses ke dentin karies dengan menggunkan bur fisur
tungsten carbide pendek-kuncup dengan kecepatan tinggi. Penggunaan bur kuncup dan bukan bur fisur
sejajar adalah untuk mencegah terbentuknya undercut.
2. Menentukan Luas Karies
Jika akses telah diperoleh, kavitas bisa dilebarkan kearah bukopalatal sampai dicapai pertautan
email-dentin yang sehat. Hal ini menentukan lebar boks arah bukopalatal.
3. Keyway
Keyway dibuat dengan kemiringan minimal sekitar 100 memakai bus fisur kuncup dan dijaga agar
sumbu bur sejajar dengan sumbu gigi. Lebar keyway diantara tonjol merupakan daerah yang paling sempit
dan melebar kearah yang berlawanan dengan letak karies aproksimalnya dan dengan mengikuti kontur
fisurnya. Setelah membuat keyway, kavitas dikeringkan untuk memeriksa ada tidaknya sisa karies dibagian
ini dan bahwa kavitasnya sedikit membuka dengan sumbu yang benar. Jika kemiringan dinding tidak tepat,
maka ketidaktepatan itu harus diperbaiki.
4. Boks Aproksimal
Kini perhatian dapat dialihkan kembali ke lesi aproksimalnya. Dibagian ini kavitas harus di
dalamkan memakai bur bulat kecepatan rendah dan dengan cara yang sama dengan jalan membuang dentin
karies pada daerah pertautan email-dentin. Ketika dentin karies pada pertautan email-dentin telah dibuang,
dinding email dapat dipecahkan dengan pahat pemotong tepi gingiva. Preparasi dibuat miring sebesar 10
derajat dengan bur fisur
runcing. Gigi tetangga dilindungi dengan lempeng matriks untuk melindunginya dari kemungkinan terkena
bur. Menjaga agar sumbu bur sejajar dengan waktu pembuatan keyway merupakan hal yang sangat penting
sehingga bagian boks dan keywaynya mempunyai kemiringan yang sama. Pelebaran ke arah gingiva hanya
dilakukan seperlunya saja sekedar membebaskan pertautan email-dentin dari karies, demikian juga halnya
dalam arah bukolingual. Setiap email yang tak terdukung dentin sehat, hendaknya dibuang dengan bur fisur
kecepatan tinggi.
Pembersihan Karies Dalam
Karies mungkin masih tertinggal di dinding aksial. Jika dinding karies telah terbuang, periksalah
kemungkinan masih adanya daerah undercut. Undercut padadaerah pertautan email-dentin seharusnya telah
dibersihkan. Jika masih terdapat undercut pada dinding aksial, maka undercut tersebut biasanya terletak
seluruhnya pada dentin dan ditutup dengan semen pelapik pada tahap preparasi berikutnya sehingga
preparasi mempunyai kemiringan yang dikehendaki.
5. Bevel
Garis sudut aksiopulpa hendaknya dibevel, dengan menggunkan bur fisur. Hal ini untuk
memungkinka diperolehnya ketebalan yang cukup bagi pola malam yang kelak akan dibuat di daerah yang
dinilai kritis. Bevel hendaknya diletakkan di tepi email agar tepi tipis hasil tuangan dapat dipaskan
seandainya kerapatan hasil tuangan dengan gigi tidak baik. Hendaknya bevel tidak diluaskan lebih ke dalam
lagi karena retensi restorasi akan berkurang. Tepi luar bevel harus halus dan kontinyu untuk memudahkan
penyelesaian restorasi dan supaya tepi tumpatannya beradapatsi baik dengan gigi. Bevel biasanya tidak
dibuat didinding aproksimal karena akan menciptakan undercut, mengingat sebagian besar tepi kavitas
terletak di bawah bagian gigi yang paling cembung. Akan tetapi dinding gingiva dapat dan harus dibevel.
Bevel gingiva sangat penting karena akan menigkatkan kecekatan tuangan yang biasanya merupakan hal
yang paling kritis.
6. Pelapikan
Setelah preparasi selesai, meletakkan pelapik semen pada dinding aksial kavitas terutama dikavitas
yang dalam. Selain itu pelapikan akan sekaligs menghilangkan undercut yang mungkin ada dan mengurangi
badan tuang yang tidak perlu. Bahan pelapik yaitu ZEO, yang cepat mengeras, SIK, semen seng fosfat dan
semen polikarboksilat. Pelapik semen kalsium hidroksida tidak cocok digunakan disini karena semen akan
terelepas saat percobaan pola malam
- Semen diaduk pada glass plate sampai kental.
- Sejumlah kecil semen diambil dengan ujung sonde dan diletakkan di dinding aksial kavitas
- Semen dipadatkan pada dinding tadi dengan instrumen penghalus berbentuk buah pir yang
diolesi dahulu dengan bahan separator yang cocok (alkohol 10% untuk semen OSE atau spirtus
bagi semen yang lain)
- Kelebihan semen dibuang dengan eskavator tajam sebelum mengeras
7. Pola malam
Kavitas dilapisi selapis tipis bahan separator misalnya microfilm (Kerr, Romulus, Michigan,
Amerika Serikat). Ujung malam inlay untuk penggunaan klinik dipanaskan perlhan-lahan diatas api bunsen.
Ketika malam melunak, malam dimanipulasi oleh jari operator. Ujung malam dipotong dan diletakkan diatas
jari operator dan lewatkan sebentar diatas nyala api sebelum dibawa ke rongga mulut dan ditekankan masuk
kavitas, ditekan sampai malam mendingin. Pola malam kemudian diangkat dengan menusukkan sonde atau
instrumen plastis datar pada kelebihan malam di ridge tepi. Permukaan dalam pola malam diperiksa. Jika
pola malam sudah baik, dikembalikan lagi kedalam kavitas.
Tahapan selanjutnya adalah memberikan sprue pada pola malam. Sprue terbuat dari kawat bulat
lurus berdiameter sekitar 1mm dan panjang 15mm. Sprue dipanaskan dan setelah ditambah selapis malam
inlay disekelilingnya, sprue ditusukkan ditengah pola malam dan dibiarkan sampai dingin. Sprue berfungsi
sebagai pegangan untuk menarik pola malam dari kavitas dan untuk membentuk saluran tempat mengalirnya
logam setelah pola ditanam dan spruenya diangkat
8. Tumpat sementara
Setelah itu kavitas ditumpat dengan restorasi sementara. Selama menunggu selesainya restorasi, restorasi
sementara dapat dipasang dengan tujuan untuk:
1. Mencegah timbulnya kepekaan gigi yang dipreparasi
2. Mencegah penetrasi bakteri pada dentin yang baru dipotong yang bisa membahayakan pulpa
3. Memugar oklusi gigi dan mencegah over erupsi dan bergesernya gigi
4. Mencegah kerusakan sisa gigi seperti tonjol yang mungkin bisa fraktur
5. Memugar kontak aproksimal sehingga dapat mencegah terselipnya makanan diantara gigi yang bisa
merusak jaringan periodonsiumnya
6. Memugar penampilan
Bahan untuk restorasi sementara hendaknya mudah digunakan, efektif, tidak iritan, dan murah
harganya. Sementara berbagai restorasi sementara siap pakai mudah diperoleh, yang paling baik adalah
membuat restorasi sementara sendiri dengan cetakan alginate sebelum preparasi sebagai mold. Tuangkan
bahan restorasi secukupnya pada pengaduk kertas, lalu tambahkan katalis dalam jumlah yang sesuai. Bahan
tersebut diaduk dengan sempurna lalu masukkan ke cetakan gigi dengan instrument plastis datar, hati-hati
jangan sampai ada udara yang terjebak. Cetakan dicetakkan kembali ke gigi dan tahan sampai bahan cetak
menjadi elastic dan tidak dapat diubah-ubah. Cetakan dibuka dan periksa restorasinya apakah ada udara
yang terjebak. Restorasi sementara biasanya mempunyai kelebihan diatas region gingival dan gigi
sebelahnya. Kelebihan tersebut dibersihkan dengan hati-hati menggunakan instrument plastis datar dan
restorasi biasanya akan keluar dari gigi yang dipreparasi bersama-sama dengan kelebihannya, tetapi hati-hati
jangan sampai merusak restorasi yang belum mengaras [Link] sementara harus diangkat dari
gigi selama keadaannya masih elastic untuk mencegah terjebaknya restorasi, kemudian dibiarkan mengeras;
pengerasan dapat dipercepat dengan mencelupkannya pada air panas . kelebihan bahan pada mahkota
sementara didaerah tepi gingival atau dibawah kontak aproksimal dibuang setelah keras, paling baik dengan
disk ampelas dengan kekasaran medium, lalu restorasi dicpbakan pada gigi. Setiap kelebihan di daerah
gingival harus dibuang agar tidak menyebabkan iritasi pada jaringan gingival setalah dipasang. Oklusi dicek
dan keprematuran oklusi antar tonjol dan dalam gerak mandibula lateral dan protusi diperiksa dengan kertas
artikulasi dan dihilangkan;hampir tak dapat dihindarkan pasti ada keprematuran di oklusal yang harus
dibuang. Restorasi jangan sampai sama sekali tidak ada oklusi karena bisa timbul overerupsi.
Andaikata ada bagian gigi yang hilang sebelum preparasi, teknik ini masih dapat digunakan.
Pertama-tama buatlah dahulu cetakan alginate sebelum gigi dipreparasi. Setelah cetakan diangkat dari
mulutalginat didaerah sasaran diambil dengan eskavator lebar baru kemudian dibuat konstruksi restorasi
sementaranya. Jika restorasi sementara sedikit lebih besar sebagai akibat terlalu banyaknya pengambilan
alginate, kelebihan tersebut dapat dengan mudah dikoreksi kembali ampai bentuknya benar dengan disk
ampelas. Metode lain adalah memugar defek pada model studi dengan malam, masahi model dengan air,
buat cetakannya dan buat mahkota sementaranya seperti yang telah diuraikan sebelumnya.
Setelah restorasi sementaranya dibetulkan, permukaannya dihaluskan menggunakan bur roda karet
sebelum disemenkan dengan penyemenan sementara Zn.O-eugenol. Semen biasanya disajikan dalam
kemasan dua pasta. Masing-masing pasta dalam jumlah yang sama diadukan di kertas pengaduk yang
disediakan. Semen kemudian dilapiskan pada permukaan dalam restorasi dengan instrument plastis datar,
kemudian dimasukkan ke gigi pada posisi yang tepat dan semen dibiarkan mengeras serta kelebihan semen
dibuang dengan eskavator. Membuang kelebiahn semen di interprosimal dengan benag gigi sangat penting
dilakukan karena akan mencegah timbulnya iritasi pada jaringan gingival.
Pada kunjungan berikut, restorasi sementara dapat diangkat dengan mudah denmgan menempatkan
pahat di tepi gingival, mendorongnya kearah gigi untuk mengangkat puncaknya kearah belakang preparasi
champer dan putar pegangannya. Dengan cara ini, semen pelekat dapat dilepaskan secara efektif, dan
mahkota akan lepas. Kelebihan semen yang tersisa dibuang dengan eskavator dan kapas sebelum restorasi
dicoba.
Restorasi sementara normalnya bertahan beberapa minggu tetapi sebagian bahkan dapat bertahan
lebih lama. Jika restorasi sementara tipis dan menjadi sasaran beban oklusal yang berat, restorasi tersebut
dapat pecah dalam kurun waktu yang tidak lama. Keprematuran oklusal dapat pula menyebabkan hilangnya
retensi atau fraktur (Ford, 1993).
Prosedur laboratorium
Sprue dan pola diletakkan pada cone-shaped form, ditutup dengan bumbung tuang lalu dituangi
dengan bahan investmen dan dibiarkan mengeras. Jika telah mengeras, cone-shaped form dan sprue diangkat
dengan pinset. Bumbung tuang kemudian diletakkan dalam pembakaran (temperatur bumbung tuang dalam
pembakaran mencapai 7000C yang dinaikkan perlahan-lahan) sampai malam meleleh dan menguap atau
akriliknya terbakar habis lalu logam cair dicorkan dan dibiarkan mengeras. Ketika masih panas bumbung
tuang dicelupkan kedalam air sehingga investmen akan pecah dan mudah dibuka. Sprue dipotong, biasanya
disisakan sedikit sebagai pegangan ketika mencoba inlay dalam kavitas. Inlay direk yang kecil biasanya
tidak dipoles sampai dicobakan di dalam mulut (Kidd, 2000).
Kunjungan Kedua
Restorasi sementara dibuka dan kavitas dibersihan serta diperiksa dari sisa-sisa tambalan sementara.
Untuk sebagian besar inlay kecil dianjurkan memakai isolator karet agar bila terjatuh tidak ada resiko
tertelan (Kidd, 2000). Sebelum dicobakan kedalam kavitas, permukaan dalam inlay harus diperiksa dengan
teliti memakai alat pembesar. Kemudian inlay dicobakan kedalam kavitas. Jika restorasinya telah pas, tepi
inlay diburnis dengan burnisher tangan dengan gerakan dari inlay ke gigi. Suatu daerah tepi yang tampak
terlalu tebal dapat dikurangi dengan finishing bur baja bulat dan kecil atau dengan stone putih low speed.
Jika telah ditipiskan, logam dapat diburnis kembali. Tepi inlay dipoles dengan poin karet pumis dan caret.
Kemudian inlay diangkat dan sprue dipotong dengan disk karborondum dan sisa permukaan dipoles dengan
roda karet abrasif. (Kidd, 2000)
Kavitas lebih dahulu dicuci, diisolasi dan dikeringkan untuk penyemenan dalam kavitas. Semen yang
digunakan adalah semen ionomer kaca. Campuran semen dilapiskan ke permukaan dalam inlay lalu ke
dinding-dinding kavitas. Inlay kemudian dimasukkan dan tekan dengan burnisher yang diletakkan di tengah-
tengah inlay. Setelah itu gulungan kapas diletakkan di permukaan oklusal dan pasien diminta menggigit
keras-keras sehingga inlay terdorong ke posisi yang tepat dan mengurangi ketebalan semen perekat.
Permukaan oklusal dipoles dengan pasta pumis yang diletakkan pada bur sikat, diikuti oleh whiting pada but
caret supaya kemengkilatan sempurna.
Inlay Logam Indirek
Teknik preparasi inlay logam indirek sama dengan inlay logam direk, yang membedakan keduanya
adalah pada proses pencetakan. Pencetakan pada inlay logam indirek menggunakan bahan cetak elastomer.
Cetakan dari rahang antagonis dibuat dengan alginat. Syarat penting dari cetakan adalah semua permukaan
oklusal gigi tercetak tanpa gelembung udara sehingga model atas dan bawah bisa diartikulasikan dengan
benar (Kidd, 2000).
Rekaman hubungan antaroklusal dibutuhkan jika cukup banyak gigi yang
beroklusi. Tapi jika oklusi diragukan, bisa dibuat rekaman antaroklusal yang baik pada posisi intercuspal,
dengan menggunakan malam yang dilunakkan dengan pemanasan dan digigitkan. Bahan cetak elastomer
bersifat hidrofobik oleh karena itu permukaan gigi yang dipreparasi harus kering. Gigi diisolasi dengan
kapas serta bisa menggunakan saliva ejector. Rincian permukaan oklusal dari seluruh cetakan harus
diperiksa karena lubang kosong akibat gelembung udara nantinya akan terisi gips dan menghalangi oklusi
model (Kidd, 2000).
Indikasi
1. Restorasi yang berukuran kecil dan sedang, terutama dengan margin email
2. Kebanyakan restorasi pada premolar atau molar pertama, terutama ketika mempertimbangkan segi
estetik
3. Restorasi yang tidak menyediakan seluruh kontak oklusal
4. Restorasi yang tidak memiliki kontak oklusal yang berat
5. Restorasi yang dapat diisolasi selama prosedur dilakukan
6. Sebagian besar restorasi yang digunakan untuk memperkuat sisa struktur gigi yang melemah
7. Beberapa restorasi yang dapat berfungsi sebagai landasan untuk mahkota
Kontraindikasi
1. Gigi tidak dapat diisolasi dari kontaminasi cairan mulut
2. Semua kontak oklusi terletak pada bahan restorasi komposit
3. Insidensi karies tinggi serta kebersihan mulut tidak terjaga
4. Pasien dengan kebiasaan bruxism
5. Ketika terjadi tekanan oklusal yang berat
6. Pada restorasi yang meluas ke permukaan akar. Kebanyakan, perluasan ke permukaan akar dengan
restorasi komposit akan terbentuk V-shaped gap (celah kontraksi) di antara akar dan komposit. Celah
ini muncul akibat dari penyusutan polimerisasi komposit lebih besar daripada initial bond strength
komposit terhadap dentin pada akar. V-shaped gap terdiri atas komposit pada sisi restorasi dan denti
yang terhibridisasi pada sisi akar. Efek jangka panjang dari timbulnya celah tersebut masih belum
diketahui
7. Pasien yang memiliki kebiasaan grinding atau clenching
Kelebihan :
- Menghasilkan derajat polimerisasi yang lebih tinggi
- Memperbaiki sifat fisik dan ketahanannya terhadap kehausan
- Tidak abrasif untuk struktur gigi yang berlawanan
- estetik
- pengurangan struktur gigi secara konservatif (pengurangan struktur gigi minimal)
- mudah, preparasi gigi tidak terlalu kompleks/rumit
- ekonomis (bila dibandingkan dengan mahkota dan restorasi gigi secara tidak langsung)
- insulasi
- keuntungan bonding
- microleakage berkurang
- mengurangi terjadinya karies sekunder
- mengurangi sensitifitas post operative
- meningkatkan retensi
- meningkatkan kekuatan struktur gigi yang tersisa
- mudah dipolish
- tidak mengalami diskolorasi
- melekat pada permukaan gigi secara mekanis, yaitu melalui mikropit yang ada pada permukaan email
Kekurangan
- Kemungkinan besar penggunaannya terlokalisir
- Adanya efek pengerutan polimerisasi (shrinkage polymerisation)
- Tidak diketahuinya biokompatibilitas dari beberapa komponen
- Membutuhkan waktu lebih untuk restorasi
- Elastisitas rendah
- Dapat terjadi fraktur pada marginal ridge
- Adanya beberapa teknik yang sensitive, seperti:
- etching, priming, penempatan bahan adhesif
Inlay atau onlay porselen yang modern mempunyai permukaan dalam (pit surface) yang dietsa atau
sekurang-kurangnya dikasarkan. Inlay ini disemenkan dengan semen komposit terhadap email yang sudah
dietsa atau ke basis semen ionomer kaca yang dietsa. Jadi, desain retentif dari kavitas kurang penting
dibandingkan untuk inlay logam tuang konvensional. Disini karies dan restorasi yang lama harus dibuang,
tetapi basis ionomer kaca umumnya dibuat cukup tebal, kadang-kadang di atas subpelapik hidroksida
kalsium, dan berfungsi sebagai pembonding dan penguat dentin yang masih ada pada tonjol gigi. Inlay atau
onlay porselen disini terutama berfungsi untuk memberikan lapisan permukaan oklusal yang tahan
keausan(Sturdevant, 2006; Baum, 1985).
Prinsip desain kavitasnya adalah harus masih ada cukup email atau permukaan ionomer kaca untuk
dietsa dan tepinya tidak dibevel. Teknik pencetakannya sama untuk logam tuang indirek. Untuk
penyemenan digunakan resin komposit khusus. Inlay dikembalikan dari laboratorium dengan permukaan
dalam yang telah dietsa menggunakan asam hidrofluorik atau hanya dibiarkan kasar setelah dilepas dari die
refraktori dengan cara sandblasting. Gigi diisolasi dengan isolator karet, inlay sementara dilepas, dan email
serta setiap semen ionomer kaca yang membentuk bagian preparasi dietsa, dicuci dan dikeringkan.
Resin kemudian diaplikasikan menurut petunjuk pabrik. Pada pemakaian beberapa semen perekat
reaksi pengerasan bisa dipercepat dengan penyinaran dan reaksi pengerasan akan berlanjut secara kimia.
Kelebihan semen akan lebih mudah dibersihkan pada saat semen belum mengeras sempurna. Jika semen
sudah mengeras, isolator karet dilepas dan oklusi dicek dengan kertas artikulasi serta diasah dengan bur
intan kecil. Permukaan yang diasah bisa dipoles dengan disk pemoles komposit atau dengan roret dan poin
yang khusus dibuat untuk memoles porselen (Kidd, 2000).
Indikasi:
Kontraindikasi :
1. Padakelas I, II, IV
Kelebihan :
Kekurangan :
Kunjungan Pertama
1. Tumpatan amalgam dibongkar
2. Kavitas dibersihkan
3. Preparasi kavitas
Akses Ke Karies
Tahap pertama preparsi adalah memperoleh akses ke dentin karies dengan menggunkan bur fisur
tungsten carbide pendek-kuncup dengan kecepatan tinggi. Penggunaan bur kuncup dan bukan bur fisur
sejajar adalah untuk mencegah terbentuknya undercut.
Menentukan Luas Karies
Jika akses telah diperoleh, kavitas bisa dilebarkan kearah bukopalatal sampai dicapai pertautan
email-dentin yang sehat. Hal ini menentukan lebar boks arah bukopalatal.
Desain Preparasi Kavitas
Desain preparasi kavitas harus memastikan retensi seperti dinding vertikal kavitas utama yang
hampir sejajar dan sedut divergensi dinding bukal dan lingual pada bagian proksimal masing-masing adalah
50-100. Jika sudut kurang 50, struktur gigi yang masih ada berada pada keadaan yang terlalu banyak tekanan
selama prosedur sementasi dan jika sudut lebih dari 100, retensinya bermasalah.
Keyway
Keyway dibuat dengan kemiringan minimal sekitar 100 memakai bus fisur kuncup dan dijaga agar
sumbu bur sejajar dengan sumbu gigi. Lebar keyway diantara tonjol merupakan daerah yang paling sempit
dan melebar kearah yang berlawanan dengan letak karies aproksimalnya dan dengan mengikuti kontur
fisurnya. Setelah membuat keyway, kavitas dikeringkan untuk memeriksa ada tidaknya sisa karies dibagian
ini dan bahwa kavitasnya sedikit membuka dengan sumbu yang benar. Jika kemiringan dinding tidak tepat,
maka ketidaktepatan itu harus diperbaiki.
Boks Aproksimal
Kini perhatian dapat dialihkan kembali ke lesi aproksimalnya. Dibagian ini kavitas harus di
dalamkan memakai bur bulat kecepatan rendah dan dengan cara yang sama dengan jalan membuang dentin
karies pada daerah pertautan email-dentin. Ketika dentin karies pada pertautan email-dentin telah dibuang,
dinding email dapat dipecahkan dengan pahat pemotong tepi gingiva. Preparasi dibuat miring sebesar 10
derajat dengan bur fisur
runcing. Gigi tetangga dilindungi dengan lempeng matriks untuk melindunginya dari kemungkinan terkena
bur. Menjaga agar sumbu bur sejajar dengan waktu pembuatan keyway merupakan hal yang sangat penting
sehingga bagian boks dan keywaynya mempunyai kemiringan yang sama. Pelebaran ke arah gingiva hanya
dilakukan seperlunya saja sekedar membebaskan pertautan email-dentin dari karies, demikian juga halnya
dalam arah bukolingual. Setiap email yang tak terdukung dentin sehat, hendaknya dibuang dengan bur fisur
kecepatan tinggi.
Pembuangan Karies Dalam
Karies mungkin masih tertinggal di dinding aksial. Jika dinding karies telah terbuang, periksalah
kemungkinan masih adanya daerah undercut. Undercut padadaerah pertautan email-dentin seharusnya telah
dibersihkan. Jika masih terdapat undercut pada dinding aksial, maka undercut tersebut biasanya terletak
seluruhnya pada dentin dan ditutup dengan semen pelapik pada tahap preparasi berikutnya sehingga
preparasi mempunyai kemiringan yang dikehendaki.
Bevel
Garis sudut aksiopulpa hendaknya dibevel, dengan menggunkan bur fisur. Hal ini untuk
memungkinka diperolehnya ketebalan yang cukup bagi pola malam yang kelak akan dibuat di daerah yang
dinilai kritis. Bevel hendaknya diletakkan di tepi email agar tepi tipis hasil tuangan dapat dipaskan
seandainya kerapatan hasil tuangan dengan gigi tidak baik. Hendaknya bevel tidak diluaskan lebih ke dalam
lagi karena retensi restorasi akan berkurang. Tepi luar bevel harus halus dan kontinyu untuk memudahkan
penyelesaian restorasi dan supaya tepi tumpatannya beradapatsi baik dengan gigi. Bevel biasanya tidak
dibuat didinding aproksimal karena akan menciptakan undercut, mengingat sebagian besar tepi kavitas
terletak di bawah bagian gigi yang paling cembung. Akan tetapi dinding gingiva dapat dan harus dibevel.
Bevel gingiva sangat penting karena akan menigkatkan kecekatan tuangan yang biasanya merupakan hal
yang paling kritis.
4. Pola Malam
Pola malam dibuat secara:
- Direct : pembuatan restorasi rigid secara langsung dalam satu kali kunjungan.
- Indirect : pembuatan restorasi rigid yang dilakukan di laboratorium dan berkali-kali kunjungan
5. Restorasi sementara
Gigi direstorasi rigid sementara dengan menggunakan semen perekat sementara, seperti zinc oksid
eugenol.
Kunjungan Kedua
6. Tumpatan rigid sementara dibongkar
7. Setelah preparasi selesai, aplikasikan lapisan tipis lubricant larut air atau separating medium (cairan
agar atau gliserin) pada gigi. Kemudian tempatkan matriks band, wedge atau cincin penahan untuk
menghasilkan kontak proksimal yang baik.
8. Lalu tumpat dengan porselen. Sesuaikan anatomi oklusal dengan menggunkan bur untuk
menghasilkan pit dan fisur, inklinasi tonjol dan batas margin yang baik dan sistemis.
9. Trial Inlay/ Onlay porselen pada pasien
10. Jika kedudukannya baik, restorasi rigid yang sudah ditrial disemenkan pada gigi tersebut.
11. Kelebihan semen dari tepi-tepi yang dapat dijangkau dibersihkan dengan eskavator sementara
benang gigi digunakan untuk membuang kelebihan di aproksimal. Tepi-tepi restorasi harus dilapisi
dua lapisan pernis copalite untuk mengurangi pelarutan semen selama jam-jam pertama pengerasan.
Setelah itu, Permukaan oklusal harus dipoles dengan pasta pumis yang diletakkan pada bur sikat,
diikutu oleh whiting yang diletakkan pada berbagai sikat.
3.4 Inlay/Onlay Porcelain fused to metal (PFM)
Restorasi PFM adalah tipe porselen gigi yang paling umum digunakan. Berdasarkan perbedaan
temperature ada tiga tipe porselen gigi yaitu :
PFM terdiri atas beberapa lapisan yang difusikan secara kimia pada dasar kerangka metal. Substruktur metal
mendukung keramik dan membuat keramik bertahan lama terhadap beban dari kekuatan mulut.
Indikasi
- Restorasi pada gigi posterior yang memburuhkan kekuatan dan estetik
- Penambalan kavitas kelas II yang dalam dan meluas sampai CEJ, misal karies yang dalam pada area
proksimal prmolar dan molar
- Keadaan sosial ekonomi pasien memungkinkan
Kontraindikasi
- Tidak dianjurkan bila terdapat banyak karies atau tekanan oklusal yang besar
- Pada prparasi subgingiva yang dalam
- Pada pasien yang memiliki kebiasaan bruxism, clenching dan excessive water
- Daerah yang tidak dapat diisolasi secara adekuat
- Alergi terhadap logam
Secara umum bentuk preparasi gigi pada restorasi rigid harus mempunyai ketinggian maksimum dan
keruncingan yang minimum mengikuti anatomi gigi yang terlibat untuk memperoleh retensi dan resistensi
yang optimal.
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Restorasi rigid adalah Restorasi yang dibuat diluar Rongga Mulut dari bahan yang rigid disemen
pada preparasi kavitas gigi dengan bahan perantara golongan semen. Macam-macam restorasi rigid
antara lain inlay, onlay, veneer, full crown, mahkota pasak.
2. Bahan restorasi rigid yang digunakan yaitu logam tuang, komposit, porselen dan porselain fused to
metal.
3. Indikasi dari restorasi rigid antara lain:
Sebagai restorasi single unit / untuk retainer jembatan
Dipakai pada gigi P atau M yang tidak memerlukan estetik
Gigi dengan karies servikal luas (sirkuler)
Dekalsifikasi / Enamel Hipoplasi
Untuk memperbaiki F/ kunyah :
Mahkota klinis pendek
Membentuk kembali anatomi gigi yang hilang
Bila mahkota sebagian / Pinledge / inlay merupakan kontra indikasi
Untuk gigi yang dilingkari Clasp
4. Kontra indikasi :
Sisa mahkota kurang
Restorasi yang perlu estetik
OH buruk
Gusi sensitif terhadap logam
Indeks karies meningkat
5. Ringkasan preparasi inlay dan onlay
1. Dengan menggunakan bur no 170, potong ragangan oklusal
2. Membuat kedalaman dinding pulpa
3. Dinding email memerlukan dukungan dentin yang kuat
4. Preparasi bias meliputi boks proksimal
5. Bur no 169/170 digunakan untuk membentuk boks proksimal
6. Kontak dengangigi tetangga dipreparasi dari seluruh arah
7. Pahat bersudut 2/hatchet email digunakan untuk memperluas/menghaluskan dinding-dinding
yang dipreparasi,
8. Seluruh dinding proksimal dan oklusal harus memberikan kemudahan pada waktu memasang
restorasi tuang,
9. Bevel gingiva ditempatkan pada semua dinding gingival denganmenggunakan pembentuk sudut,
pengasah tepi/bur nyala api
10. Preparasi bisa memerlukan basis tambahan
11. Dengan roda intan yang kecil/bur bilah lurus, permukaan oklusal dikurangi minimal 10 mm
untuk mendapatkan jarak yang bagus, dan
12. Bevel oklusal dan lingual dibentuk dengan menggunakan bur email pengakhir.
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan R., 1993, Tambalan Inlay, Penerbit Buku kedokteran EGC. Jakarta
Anusavice, Kenneth J. (2003). Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. (Johan
Sturdevant, CM. (2006) The Art and Science of Operative Dentistry, ed.5. St
Louis Mosby.