31
2.7 Rough Cut Capacity Planning (RCCP)
2.7.1 Definisi Rough Cut Capacity Planning (RCCP)
RCCP (perencanaan kapasitas kasar) ini termasuk dalam perencanaan kapasitas jangka panjang.
RCCP menentukan kebutuhan kapasitas yang diperlukan untuk melaksanakan MPS. Horizon
waktu atau MPS, biasanya 1 sampai dengan 3 [Link] ini akan diperkenalkan tiga teknik
RCCP, yaitu: (Dimyati dan Tardilah D Tjuju, 2002 [7])
a) Pendekatan total faktor (Capacity Planning Using Overall Factor Approach).
b) Pendekatan daftar tenaga kerja (Bill of Labour Approach = BOLA).
c) Pendekatan profil sumber (Resource Profile Approach = RPA).
CRP merupakan teknik perhitungan kapasitas rinci yang dibutuhkan oleh MRP. CRP
memverifikasi apakah kapasitas yang tersedia mencukupi selama rentang perencanaan. Berikut ini
data-data yang diperlukan untuk perhitungan CRP:
a) BOM.
b) Data induk setiap komponen.
c) MPS untuk setiap komponen.
d) Routing setiap komponen.
e) Work center master file.
Rough Cut Capacity Planning (RCCP) yaitu urutan kedua dari hierarki perencanaan prioritas
kapasitasyang berperan dalam mengembangkan MPS. RCCP melakukan validasi terhadap MPS
yang juga menempati urutan kedua hierarki perencanaan prioritas produksi. Guna menempatkan
sumber-sumber spesifik tertentukhususnya yang diperkirakan akan menjadi hambatan potensial
(potential bottlenecks)adalah cukup untuk melaksanakan MPS. Dengan demikian kita dapat
membantu manajemen untuk melaksanakan RCCP, dengan memberikan informasi tentang tingkat
produksi dimasa mendatang yang akan memenuhi permintaan total itu. (Dimyati dan Tardilah D
Tjuju, 2002 [7])
a) CPOF (Capacity Planning Overall Factor)
CPOF membutuhkan tiga masukan yaitu MPS, waktu total yang diperlukan untuk
memproduksi suatu produk dan proporsi waktu penggunaan sumber. CPOF mengalikan waktu
total tiap family terhadap jumlah MPS untuk memperoleh total waktu yang diperlukan pabrik
untuk mencapai MPS. Total waktu ini kemudian dibagi menjadi waktu penggunaan masing-
masing sumber dengan mengalikan total waktu terhadap proporsi penggunaan sumber
b) BOLA (Bill of Labour Approach)
Jumlah kebutuhan kapasitas yang diperlukan diperoleh dengan mengkalikan waktu tiap
komponen yang tercantum pada daftar tenaga kerja dengan jumlah produk dari MPS.
c) RPA (Resource Profile Approach)
Merupakan teknik perencanaan kapasitas kasar yang paling rinci tetapi tidak serinci
perencanaan kebutuhan kapasitas (Capacity Requiremenst Planning).
d) CRP (Capacity Requirement Planning)
CRP adalah merupakan fungsi untuk menentukan, mengukur dan menyesuaikan tingkat
kapasitas atau proses untuk menentukan jumlah tenaga kerja dan sumber daya mesin yang
diperlukan untuk melaksanakan produksi.
32
Pada dasarnya RCCP didefinisikan sebagai proses konversi dari rencana produksi dan atau
MPS kedalam kebutuhan kapasitas yang berkaitan dengan sumber-sumber daya kritis seperti:
tenaga kerja, mesin dan peralatan, kapasitas gudang, kapabilitas pemasok material dan parts
dan sumber daya keuangan. RCCP adalah serupa dengan perencanaan kebutuhan sumber daya
(Resource Requirements Planning= RRP), kecuali bahwa RCCP adalah lebih terperinci
daripada RRP dalam beberapa hal seperti: RCCP didisagregasikan kedalam level item atau
SKU (Stockeeping Unit); RCCP didisagregasikan berdasrkan periode waktu harian atau
mingguan dan RCCP mempertimbangkan lebih banyak sumber daya produksi. Pada dasarnya
terdapat empat langkah yang diperlukan untuk melakukan RCCP yaitu: (Dimyati dan Tardilah
D Tjuju, 2002 [7])
a) Memperoleh informasi tentang rencana produksi dari MPS.
b) Memperoleh informasi tentang struktur produk dan waktu tunggu (lead times).
c) Menentukan Bill of Resources.
d) Menghitung kebutuhan sumber daya spesifik dan membuat laporan RCCP.
[Link] Load Levelling
Hasilhasil dari Rough Cut Capacity Planning (RCCP) ditampilkan dalam suatu diagram yang
dikenal sebagai load profile. Load Profile merupakan metode yang umum dpergunakan untuk
menggambarkan kapasitas yang dibutuhkan versus kapasitas yang tersedia. Dengan demikian load
profile didefinisikan sebagai tampilan dari kebutuhan kapasitas diwaktu mendatang berdasarkan
pesananpesanan yang direncanakan dan dikeluarkan sepanjang suatu periode waktu tertentu.
Sebelum melaksanakan produksi, diusahakan agar kapasitas yang dibutuhkan kirakira sama
dengan kapasitas yang tersedia. Load Leveling disini berupa grafik perbandingan antara kapasitas
yang dibutuhkan dengan kapasitas yang [Link] Cut Capacity Planning menetapkan
kapasitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan Master Schedule atau MS.
Perencanaan ini lebih spesifik bila dibandingkan dengan informasi dari Resource Planning, karena
Master Schedule memerlukan penjadwalan yang lebih spesisifik bagi setiap end item-nya, dimana
productian planning telah dihitung berdasarkan product families. Rough Cut Capacity Planinng
memperlihatkan bagaimana operator dan jam mesin ditetapkan bagi setiap departemen atau work
centre setiap periodenya. Dalam jangka panjang, perhitungan dan perencanaan kebutuhan
kapasitas dilakukan dengan menggunakan metode Rough Cut Capacity Planning. Analisis ini
dilakukan untuk menguji ketersediaan kapasitas fasilitas produksi yang tersedia di dalam
memenuhi jadwal induk produksi (MPS) yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, proses ini akan
menghasilkan jadwal induk produksi (MPS) yang telah disesuaikan atau direvisi, karena telah
memberikan gambaran tentang ketersediaan kapasitas untuk memenuhi target produksi yang
disusun dalam jadwal induk produksiatauMaster Production Schedule (MPS).
Hal ini dilakukan mengingat rencana induk produksi diturunkan dari optimasi ongkos-ongkos
produksi sehingga tidak mencerminkan realita kebutuhan kapasitas sebenarnya. Pada
kenyataannya, keputusan-keputusan penambahan fasilitas baru atau lembur atau subkontrak pada
hakikatnya dihasilkan pada tahap ini. Untuk melakukan perhitungan kebutuhan kapasitas dengan
menggunakan Rough Cut Capacity Planning (RCCP) dibutuhkan masukan berupa: (Dimyati dan
Tardilah D Tjuju, 2002 [7])
a) Ramalan permintaan dan rencana produksi yang dihasilkan dari proses peramalan, perencanaan
agregat, serta proses disagregasi.
b) Struktur produk dan Bill of Material-nya.
33
c) Waktu set-up dan waktu proses suatu produk di suatu departemen.
d) Jumlah produksi yang ekonomis dari produk tersebut.
2.7.2 Master Production Schedule (MPS)
MPS atau jadwal induk produksi adalah suatu set perencanaan yang mengidentifikasikan kuantitas
dari item tertentu yang dapat dan akan dibuat oleh suatu perusahaan manufaktur (dalam satuan
waktu). Informasi yang dibutuhkan untuk membuat MPS, yaitu: (Dimyati dan Tardilah D Tjuju,
2002 [3])
a) Production Plan.
b) Demand Data.
c) Inventory Status.
d) Ordering Policy.
MPS merupakan suatu pernyataan tentang produk akhir (termasuk parts pengganti dan suku
cadang) dari suatu perusahaan industry manufaktur yang merancang memproduksi output
berkaitan dengan kuantitas dan periode waktu. MPS mendisagregasikan dan
mengimplementasikan rencana produksi. Apabila rencana produksi yang merupakan hasil dari
proses perencanaan produksi dinyatakan dalam bentuk agregat, jadwal induk produksi yang
merupakan hasil dari proses penjadwalan induk produksi dinyatakan dalam konfigurasi spesifik
dengan nomor-nomor item yang ada dalam Item Master dan BOM (Bill of Material) Files.
Aktivitas penjadwalan induk produksi berkaitan dengan bagaimana menyusun dan memperbaharui
jadwal induk produksi. Seperti: memproses transaksi, memelihara catatan-catatan, mengevaluasi
efektivitas dari MPS, dan memberikan laporan evaluasi dalam periode waktu yang teratur untuk
keperluan umpan-balik dan tinjauan ulang. (Dimyati dan Tardilah D Tjuju, 2002 [7])
Berdasarkan uraian di atas, kita mengetahui bahwa MPS berkaitan dengan pernyataan tentang
produksi, bukan pernyataan tentang permintaan pasar. MPS sering didefinisikan sebagai
Anticipated Build Schedule untuk item-item yang disusun oleh perencana jadwal induk produksi
(Master schedule). MPS berkaitan dengan aktivitas melakukan empat fungsi utama berikut:
a) Menyediakan atau memberikan input utama kepada sistem perencanaan kebutuan material
dan kapasitas (material and capacity requirements planning = M&CRP).
b) Menjadwalkan pesanan-pesanan produksi dan pembelian (production and purchase orders)
untuk item-item MPS.
c) Memberikan landasan untuk penentuan kebutuhan sumber daya dan kapasitas.
d) Memberikan basis untuk pembuatan janji tentang penyerahan produk (delivery promises)
kepada pelanggan.
Berikut merupakan fungsi dan tujuan dari MPS, yaitu:
a) Menjadwalkan jumlah tiap enditem yang akan diproduksi.
b) Memberikan input bagi MRP (Material Requirement Planning).
c) Sebagai dasar bagi pembuatan perencanaan sumber daya (RCCP).
d) Merupakan dasar untuk menentapkan janji pengiriman pada konsumen.
Adapun yang menjadi tujuan dari MPS, yaitu:
34
a) Mencapai target tingkat produksi tertentu.
b) Memenuhi target tingkat pelayanan terhadap konsumen.
c) Efisiensi penggunaan sumber daya produksi.
Istilah-istilah yang sering digunakan dalam MPS:
a) Time Bucket.
b) Merupakan pembagian planning periode yang digunakan dalam MPS atau MRP.
c) Time Phase Plan.
d) Merupakan penyajian pelaksanaan dimana semua (Demand, Order, Inventory) disajikan
dalam Time Bucket.
e) Time Fences.
f) Merupakan batas waktu penyesuaian pesanan.
g) Planning Horizon adalah jangka waktu perencanaan yang dipakai.
Beberapa pertimbangan dalam desain MPS, yaitu:
Ketika akan mendesain MPS, perlu dipehatikan beberapa faktor utama yang menentukan proses
penjadwalan induk produksi (MPS). Beberapa faktor utama itu adalah:
a) Lingkungan Manufakturing.
b) Struktur Produk.
c) Horizon Perencanaan, waktu tunggu produk (product lead time) dan production time fences.
d) Pemilihan item-item MPS.