Cemburu Rio pada Keluarga Argario
Cemburu Rio pada Keluarga Argario
By: Frisca Ay
***
RIO! Pekikan dari perempuan cantik saat ini membuat Pria bertubuh tegap yang
tengah mengenakan kemeja birunya mau tidak mau memutar tubuh untuk menghadap ke arah
sang isteri yang masih mengenakan celemek memasak serta spatula di tangan kanannya,
belum lagi gadis kecilnya yang berada tepat disamping sang Isteri siapa lagi kalau bukan
anak perempuannya yang kini ikut syok mendengar teriakannya tadi. Kenapa kalian berdua
berbaris seperti itu? Tanya Rio dengan wajah polosnya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Aya menepuk dahinya sementara Ify melangkah cepat menuju Rio yang sedang
menggendong anak laki-laki mereka saat ini.
Delikan yang berasal dari kedua bola mata bulat milik Ify sama sekali tidak di
pedulikan oleh Rio, justru delikan itu disalah artikan olehnya. Rio mengartikan jika tatapan
mata Ify ingin menggodanya pagi ini. Dasar Tuan Arogan! Sebelum pikiran negative Rio
berkeliaran kemana-mana, Ify harus memusnahkannya dengan memukul pelan dada bidang
suaminya dengan menggunakan spatula.
Dan membiarkan posisi anak mu jungkir balik seperti itu terus sampai kau sadar
sendiri? Barulah Rio memandang ke arah gendongannya, Ia terkejut saat melihat sepasang
kaki mungil yang justru tepat di depan wajahnya bukan kepala atau tubuh anaknya. Jadi
Aldri?
Aku tidak yakin akan meninggalkan anak ku pada Ayah semacam dirimu, Tuan
Arga. Posisi Aldri yang saat ini terbalik, karena kepalanya yang justru di bawah dan kakinya
di atas, entah bagaimana Ayahnya bisa seteledor itu saat menggendong. Rio melepaskan
dengan sukarela ketika Ify merebut paksa gendongan Aldri dari tangannya. Ambil makanan
mu sekarang juga dan berangkat, aku memang harus mencari pengasuh bayi untuk Aldri
TIDAK! Aldri yang sejak tadi mengulum jari jempolnya tiba-tiba melepaskan itu
dan menatap ke arah sang Ayahyang sangat tidak menyetujui akan keputusan dari Ibunya.
Rio memang begitu, Ia sama sekali tidak menginginkan seorang babysitter khusus untuk
anak-anaknya, jika hanya sebagai pelayan sekedar menjaga ketika dia atau Ify lengah dengan
keadaan anaknya tidak apa-apa asal tidak terlalu berperan penting dalam pertumbuhan
anaknya. Rio hanya mengkhawatirkan satu hal, Ia takut banyak kejadian yang menimpa bayi
yang diasuh melalui jasa pengasuh bayi hanya akan bersifat fatal dalam pertumbuhan
anaknya, lebih aman jika anaknya ditangani langsung oleh Ify, Ibu dari anak-anaknya sendiri.
Banyak hal yang ku takutkan, kau pasti tahu itu sayang. Rio mengikuti Ify yang
berjalan lebih dulu keluar dari kamar Aldri, si bocah kecil tampan yang saat ini tengah
memperhatikan wajah frustasinya Ayahnya, sesekali tertawa seolah sang Ayah sedang
mengajaknya bermain. Aku tidak berbicara dengan mu ulat bumbum tapi Ibu mu. Ucap Rio
dengan tatapannya yang dibuat sesinis mungkin, Aya yang berada di belakang Rio hanya
cekikikan melihat tingkah sang Ayah yang selalu frustasi jika Ibunya sudah berubah dingin
seperti itu. Mendengar ucapan Rio tadi hanya membuat telinga Ify panas, bisanya Pria ini
berucap seperti itu pada anaknya sendiri. Dasar Rio!
Aku malas berdebat dengan mu pagi-pagi, cepat pergi ke meja makan bersama Aya
lalu kalian berangkat. Aku dan
Berjanji pada ku, kau tidak akan mencari pengasuh bayi? Rio segera menahan
lengan Ify lalu memutar tubuh perempuan mungil itu ke hadapannya. Aya yang masih berada
di belakang Ayahnya segera meraih Aldri dari gendongan Ibunya dengan perlahan, setelah
Aldri berada di gendongannya Aya pun mengedipkan sebelah matanya untuk memberikan
kode pada sang Ayah. Dalam hati Rio bersorak senang karena anak perempuannya itu
mengerti suasana sekali. Much love for you my little Princess!
Tapi sorakan di hatinya yang senang tiba-tiba muram saat mendengar bisikan dari
putrinya.
Sepatu baru sepertinya tidak masalah bagi, Dad. Ya kan? Ucap Aya dengan nada
dibuat pelan, Rio berdesis dan menatap sinis putrinya tetapi Aya tidak memperdulikan itu.
Dasar, bisanya dia meminta kesempatan dalam kesempitan juga. Jangan heran jika anak mu
seperti itu Rio, bukankah Ayahnya sendiri yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan
jika sudah berhadapan dengan Ibunya. Ckck
Ify yang cukup mendengar itu, hanya tersenyum gelid an menggelengkan kepalanya
ketika melihat raut wajah Rio tepat di hadapannya saat ini yang tengah kesal.
Itu benih mu, jadi kau tidak perlu menganggap putri atau putra mu menyebalkan.
Dengan pelan Ify mengendurkan tangan Rio yang masih menahan lengannya, Rio hanya
memperhatikan Ify yang mulai melangkah mundur untuk menuju ke dapur dan kembali pada
kegiatannya. Ia mengdengus kasar. Ini namanya belum berbuat sudah mendapat getah lebih
dulu. Ujar Rio lantas mengikuti Ify yang sudah lebih dulu berjalan menuruni anak tangga.
Fy
Hmm. Lagi dan lagi Rio mendengus sembari duduk di kursi meja makan, Ia
menumpang dagu sambil memperhatikan isterinya yang tengah menyalakan kembali kompor
untuk melanjutkan masakannya. Kau tidak berniat memberikan ku kiss morning?
Sepertinya tidak.
Kau tidak seperhatian dulu lagi pada ku setelah Aldri muncul, sepesona apa
memangnya Aldri dimata mu? Dengar itu? Dengar nada kecemburuan di Tuan Arogan yang
mulai membandingkan dirinya sendiri dengan putranya, sungguh pencemburu dingin sekali
Tuan satu ini.
Pastinya dia tidak semenyebalkan diri mu. Jawab Ify yang lai-lagi singkat, Rio
kembali mendengus.
Aku rasa dia menyebalkan apalagi saat menangis di malam hari dan membuat telinga
ku ingin pecah saja. Apa itu tidak menyebalkan?
Asal jangan dirimu yang menangis di malam hari, bukan hanya menyebalkan tapi
aneh dan aku menjadi ngeri pada mu. Akhirnya kesabaran Rio habis, Ia lantas beranjak dari
kursi dan bersiap untuk mendekti Ify kembali. Tapi niatnya itu harus kembali runtuh dan
hancur ketika mendengar bunyi bel rumah, Ify menoleh dan menyuruh Rio untuk
membukakan pintu. Dengan terpaksa Ia pun menurut saja, pagi ini sempurnalah ketidak
beruntungan menghampirinya. Sial.
Rio perlahan membuka pintu rumahnya dan mendapati seorang remaja laki-laki yang
menggunakan seragam sama seperti yang dikenakan oleh putrinya. Ia mengkerutkan kening
dan memasang wajah garang tanpa senyuman sedikit pun.
Kau siapa? Tanya Rio dengan nada dingin sembari memasukkan kedua tangannya
pada saku celana.
Owen Berth. Teman Aya disekolah. Remaja laki-laki di hadapan Rio itu
mengulurkan tangannya sembari tersenyum, Rio pun menyambut uluran tangan itu. Ayah
Aya, aku rasa kau tahu siapa aku.
Tentu. Om Argario Tersaa, Entrepreneur terkenal dalam bidang bisnis dan selalu
muncul dimajalah ternama dunia bisnis. Aku sangat menyukai kerja keras Om dalam
bekerja. Rio mengkerutkan kening, tahu apa anak kecil semacam dia ini dalam dunia bisnis?
Sok tahu sekali dia tentang diriku, mungkin itulah pemikiran Rio saat ini. Ckck
Terserah apa kata mu, jadi tujuan mu sepagi ini ke rumah ku untuk apa?
APA?! Wajah Rio sangat terlihat syok sekali mendengar ucapan itu dari remaja laki-
laki dihadapannya saat ini, Ify da Aya yang sedang menggendong Aldri langsung mendatangi
sumber suara.
Owen, kau sudah lama disitu? Kenapa tidak kau suruh masuk, Rio?
Kak Owen, Ayo masuk! Seolah tidak memperdulikan sosok tegap yang tengah
menatap sinis Owen saat ini, Ify dan Aya justru menyuruh owen masuk. Dengan ragu karena
delikan tajam mata Rio akhirnya Owen masuk juga dengan menunduk sopan.
***
Rio terus mencibir selama perjalanan menuju supermarket, tidak hentinya dia
bersikap jengkel pada Ify yang notebene adalah Isterinya sendiri. Bagaimana Ia tidak kesal,
setelah tahu ada tamu dirumahnya yaitu teman Aya dengan jenis kelamin laki-laki, langsung
saja pikiran Rio kemana-mana.
Alasan Ify meminta Rio untuk mengantarnya ke Supermarket agar Pria ini tidak
mengganggu acara belajar Aya, bagaimana tidak setiap menit ada saja yang di lakukan oleh
Rio entah itu pura-pura membaca koran dan duduk dekat Aya, memperhatikan Owen dengan
begitu ketat takut saja laki-laki muda itu berbuat macam pada anaknya, yang terakhir sangat
membuat Ify naik pitam, hanya gara-gara Owen tidak sengaja menyentuh jemari Aya karena
ingin mengambil pensil yang di pegang oleh anaknya itu, Rio langsung menatap Owen tajam
lalu menarik kerah baju anak laki-laki itu, untung saja Ify cepat datanga dan menyeret Rio
paksa keluar. Entah bagaimana takutnya Owen setelah itu, terakhir kali yang Ify dapat wajah
Owen pucat pasi dibuat Rio. Anak laki-laki yang malang.
Seharusnya kau tidak perlu berlebihan seperti itu. Ucap Ify dan lagi, Rio mencibir
kesal.
Aku seratus persen berhak menjaga anak ku. Ify lantas menepuk jidatnya merasa
lelah untuk memberikan Rio pengertian. Sadarlah, Rio. Owen itu kakak kelas Aya yang
sekarang hampir lulus, dia ku pilih sebagai guru private Aya, selain pintar dan cerdas dia juga
dari keluarga yang tidak berkecukupan dan membutuhkan biaya lebih untuk kelulusannya
nanti ke Sekolah yang lebih atas. Kau paham maksud ku? Rio memutar bolamatanya, lalu
membuang muka ke arah luar kaca. Ia masih merasa kesal karena kejadian tadi.
Aku tahu kau sangat mencemaskan dan menyayangi anak mu, tapi ayolah mereka
hanya sekedar belajar dan mendapat keuntungan masing-masing.
Belajar pacaran maksud mu? Rio masih bernada ketus dan kesal, Ify tersenyum
kecil lalu menghapus kecil bahu suaminya itu. Di rumah ada pelayan, mereka pasti aman.
Lagi pula mereka juga masih kecil tidak akan mungkin seperti itu. Tidak ada yang perlu kau
cemaskan selagi aku yang turun tangan dalam kebaikan anak mu. Di perlakukan seperti itu
langsung saja Rio luluh, apalagi kepala Ify menyandar pada bahunya. CkckDasar Rio.
Kau memang selalu bisa membuat ku luluh dalam sekejap, aku yang awalnya berapi
langsung menjadi air. Aku coba untuk berusaha untuk mengerti, walaupun tetap saja curiga
pada anak itu. Ify tergelak.
Aku hanya tidak ingin kalian meninggalkan kulagi. Aku terlalu takut walau hanya
sekedar membayangkannya. Rio lantas menggenggam tangan Ify lalu mengecupnya.
Berjanji pada ku kalian tidak akan meninggalkan seperti dulu. Ify tersenyum manis
kemudian mengangguk.
Aku janji.
***
Ify tengah memilah-milih beberapa barang untuk kebutuhan dapur bahkan keperluan
keluarga, Ia mendorong trolli menuju ke bagian Rak popok lalu mengambil beberapa. Ketika
Ia menoleh ke belakang tidak ditemukannya Rio yang tadi terus membuntutinya, Ify tidak
ambil pusing bahkan kembali mendorong trolli barangnya. Ketika akan memutar balik untuk
menuju kasir, di lihatnya Rio tengah berbincang dengan seorang perempuan berpakaian seksi
dengan tampilan lipstick berwarna merah menyala yang begitu menggoda di bibirnya.
Ify menghela napas kesal, beberapa menit Ia masih tetap beridiri memperhatikan Rio
dan perempuan itu, seolah sahabat lama yang sudah begitu lama sekali tidak berjumpa,
mengabaikan orang-orang di sekitar mereka termasuk Ify saat ini. Ketika Rio sudah melihat
Ify, barulah mereka memberhentikan perbincangan. Ify bertambah kesal dan merasa panas
ketika perempuan itu bercipika-cipiki pada suaminya. Tidak ingin melihat itu, Ify akhirnya
cepat-cepat menuju kasir tidak ingin Rio mengajaknya berbicara walaupun nanti di mobil Rio
pasti melaporkan perbincangannya dengan perempuan tadi.
Baru saja ingin membayar semua barangnya, sebuah kartu atm sudah tersulur lebih
dulu kepada pelayan kasir. Ify menoleh dan mendapati Pria tampan bertubuh jangkung yaitu
suaminya sendiri tepat disampingnya. Ify mengangkat barangnya sendiri dan berlalu begitu
saja tanpa mengabaikan panggilan Rio yang terus menyerukan namanya.
Ify membanting pintu mobil ketika sudah masuk ke dalamnya kemudian disusul oleh
Rio.
Fy, kau kenapa?
Cepat saja jalan! Perintah Ify dingin, Rio mengkerutkan kening namun Ia tetap
menjalankan mobilnya seperti yang Ify minta. Selama di dalam perjalanan, Rio terus
mengajak Ify berbicara namun tidak digubris sama sekali oleh perempuan itu. Merasa
frustasi, Rio berusaha meraih tangan Ify namun di tepis.
Bisa katakan pada ku apa yang membuat mu seperti ini? Tak ada respon, Ify justru
bersedekap dan membuang muka ke luar jendela.
Fy, lihat aku. Rio menghirup oksigen lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Apa karena perempuan di Supermarket tadi? Tanya Rio hati-hati, akhirnya Ify menoleh
lantas tersenyum sinis.
Menurut mu?!
END
drabble] Lamaran
28 November 2014 pukul 18:14
"Hufffttttt..."
Hembusan nafas yang terdengar cukup keras ditelinganya membuat gadis manis berdagu tirus
itu tersadar akan sesuatu. Bahwa iya nyaris-sebenernya dengan sengaja melupakan pemuda
yang sejak tadi membuntuti kemanapun langkahnya pergi. Pun ketika ia telah mendaratkan
bokongnya dengan santai diperpustakaan kampus ini. Benar-benar kurang kerjaan! Pikirnya.
"Alyssa," pemuda itu menyerah dari aksi diamnya-yang lagi-lagi sebenarnya atas dasar
perintah dari gadis tirus yang ia panggil Alyssa ini. "Sampai kapan lo mau ngediemin gue
kayak gini?"
Gadis itu memasang tampang tak acuh dan menjawab sambil tetap sibuk pada layar laptop
didepannya. "Dan gue sudah sejak tadi mempersilahkan lo untuk pergi dari sini."
"Tapi lo belum jawab lamaran gue yang udah entah ke berapa ini."
Alyssa tahu, jika pemuda itu telah memanggilnya dengan nama kecil-yang khusus
diperuntukkan kepada orang-orang terdekatnya, itu artinya, ia sangat berharap.
"Berapa kali gue bilang, kalau jawaban gue yang entah untuk ke berapa kalinya ini nggak
akan pernah berubah." Jawabnya tegas.
"Say yes please..." pintanya lagi-lagi memohon, "kenapa sih lo nggak mau? Apa yang salah
dengan permintaan gue?!"
Alyssa menutup laptopnya kasar, lengkap dengan nafas yang ia hembuskan keras-keras.
Pertanda kekesalannya telah mencapai batas.
Tanpa menyahut ia segera menjejalkan segala benda yang berserakan diatas meja -seperti
pulpen, buku agenda, novel, hp, ipod, yang tentu saja miliknya- kedalam ransel dengan asal.
Pemuda itu menatap Alyssa dengan pandangan tak mengerti dan putus asa.
Berjam-jam di diamkan, terus memohon meski diacuhkan, kemudian ditinggal pergi begitu
saja? Hei! Alyssa pikir dia itu siapa?!
Dengan kesal ia memukul meja dihadapannya, hingga membuat pandangan dengan berbagai
arti mengarah padanya. Sedikit malu ia membungkuk kan tubuhnya, meminta maaf. Detik
berikutnya ia justru tersadar akan selembar kertas yang -sebenarnya memang dengan sengaja-
tertinggal di atas meja.
Satu kalimat, namun cukup untuk membuatnya mengerti. Gadis itu menginginkan ia,
untuknya. Bukan ayahnya, untuk menjadi pendamping hidup ibunya.
--- F I N ---
Gaje ya? Inti dari semua ini adalah, lagi-lagi gue bilang, gue kangen nulis bgt! Haha ya
pokoknya sebenernya ide ini datang begitu aja, gatau kenapa bisa terpikir seperti ini wkwk
Semoga pada ngeh yaa haha
#muchlove!
Jam menunjukkan pukul sepuluh. Tapi gadis itu masih setia mengetik dengan
laptop putihnya tanpa memperhatikan sekeliling kelasnya yang ramai akibat jam kosong.
Ifyyyy! Kok lo hobi banget nulis sih? seketika gadis itu menghentikan aktivitasnya dan
melirik sahabatnya yang terlihat bosan.
Karena kalo gue nulis gue bisa hidup. Jawab gadis yang bernama Ify itu sambil
melanjutkan ketikannya lagi.
Emang kalo lo nggak nulis lo mati? ucapan polos sahabatnya membuat Ify, gadis 16 tahun
itu gemas juga.
Bukan gitu, Siv. Gue kan cinta nulis. Kalo gue hidup tanpa cinta, gimana gue hidup coba?
jawab Kesha sambil terkekeh melihat ekspresi Dira yang begitu polosnya.
Berarti kalo gue putus sama Iyel, gue nggak bisa hidup ya Fy? tanya Sivia lagi dengan
wajah yang sekarang tampak khawatir.
Emang kalo lo putus lo udah nggak cinta lagi sama Iyel? Ify malah balik bertanya.
Kayaknya gue tetep cinta sama Iyel deh Fy, gue nggak mau kehilangan dia.
***
Ify Anjani, gadis kelas dua SMA Nusantara. Tubuhnya mungil. Wajahnya manis,
dengan kacamata yang membingkai wajahnya. Rambutnya lurus. Hampir semua orang
mengenalnya karena dia sering sekali mengirim cerita untuk majalah sekolahnya. Baik
cerpen, cerbung, atau sekedar puisi. Ify sangat suka menulis. Bahkan dia ingin menjadi
penulis terkenal seperti JK Rowling. Setidaknya ini langkah awalnya untuk menjadi penulis.
Ify anak yang ramah, dan tentunya berambisius tinggi. Dia bersahabat dengan Sivia,
kawannya sejak SMP.
Berbeda dengan Ify, Sivia gadis yang ramah dan sedikit drama queen. Tubuhnya
lebih tinggi daripada Ify. Wajahnya cantik, dengan mata yang sedikit sipit karena mamanya
Chinese. Suaranya sedikit cempreng, namun jika dia bernyanyi indah luar biasa. Dan dia
memiliki seorang kekasih bernama Gabriel Saputra. Mereka memang berpacaran sejak kelas
tiga SMP. Orang tua mereka pun sudah tahu. Dan banyak orang bilang, Iyel dan Sivia sangat
serasi. Yah, mungkin dilihat dari segi sifatnya seperti siang hari ini.
Iya sayang, maafin aku ya. Aku kan udah jarang banget main sama mereka.
Iya maaf sayang. Aku janji deh nggak akan kayak gini lagi. Udah ya, jangan
marah.
Nggak tahulah kamu nyebelin! Sana main aja terus sama temen-temenmu. Nggak
usah urusin aku. Aku bisa pulang sendiri! dan BLAM! Pintu mobil itu ditutup dengan Sivia
keras-keras.
Sontak seluruh siswa SMA Nusantara yang masih menunggu jemputan di luar
melihat kejadian itu dengan wajah tak heran. Beberapa menit lagi, pasti akan terjadi drama
telenovela dadakan di sini. Dan, benar saja! Iyel keluar dari mobilnya dan berusaha mengejar
Sivia yang hendak memanggil taksi. Memohon-mohon, aksi gombal romantis, daan Sivia pun
berhasil digandeng Iyel lagi menuju mobilnya. Dan drama berakhir bahagia. Begitulah
seterusnya.
***
Sore ini, Sivia sedang menemani Iyel latihan sepak bola di sekolahnya. Sambil
mendengarkan musik kesukaannya dengan earphone yang menggantung di telinganya.
Sambil menyusuri koridor sekolahnya, langkahnya terhenti di papan mading yang dipenuhi
karya sahabatnya, Ify. Dipandanginya beberapa karangan puisi dan cerita Ify, bibir Sivia tak
henti menahan senyum. Tiba-tiba Sivia baru tersadar jika di sebelahnya ada seorang laki-laki
yang ikut memandangi karya Ify.
Eh, Rio kan? Kok di sini? Nggak ikut latihan sama yang lain? tanya Sivia kaget.
Iya, gue mau kesana. jawab laki-laki itu dingin, dan akhirnya dia pergi
meninggalkan Sivia sendiri.
Sivia hanya mengedikkan bahunya. Rio. Ya, laki-laki itu sahabat Iyel karena
mereka satu klub sepak bola. Namun sifat Rio 180 derajat berbeda sekali dengan Iyel. Rio
sangat pendiam dan dingin. Ya, walaupun Rio tampan tetapi tetap saja wajahnya kaku dan
dingin. Sivia saja heran bagaimana bisa Iyel betah bersahabat dengan orang seperti Rio. Sivia
pun memutuskan kembali ke lapangan melihat aksi pangerannya yang akan bermain bola.
Perasaan gue Rio kok berkepribadian ganda ya! Kalo sama anak cowok gampang
berbaurnya, kalo sama cewek-cewek sok dingin gitu! batin Sivia.
Tanpa sadar, Iyel sudah duduk di sebelah Sivia yang pikirannya masih melayang
entah kemana. Iyel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya geli. Tadi minta nungguin,
sekarang malah melamun sendiri. batin Iyel dalam hati
Siviaa, kamu kok melamun sih? panggil Iyel sambil mengibaskan tangannya di
wajah Sivia. Seketika Sivia terperanjat kaget melihat Iyel yang sudah duduk di sampingnya.
Lho, kok udahan pemanasannya? Kamu nggak latihan? tanya Sivia sambil
menyodorkan botol minuman ke Iyel.
Hari ini pelatih lebih fokus sama anak kelas sepuluh. Buat cari bibit baru katanya,
makannya yang senior dibebasin. jawab Iyel.
Mau di sini aja sama kamu. Hehe. Kamu kenapa sih kok aneh gitu? jawab Iyel
sambil terkekeh pelan.
Mikir apa? Sampe melamun gitu. Iyel memainkan rambut Sivia yang digerai.
Maksud kamu aneh? Enggak ah! sanggah Iyel. Kaget juga dia mendengar
perkataan pacarnya itu.
Iya dia tuh aneh. Kenapa dia kalau sama anak cewek dingin banget? Jangan-
jangan, dia sukanya sama anak cowok lagi! Sivia berbisik pelan namun nadanya
menyiratkan bahwa dia tak terlalu suka dengan Rio.
Hush! Sembarangan banget deh. Kamu belum tahu dia sih. Dia sebenernya asyik
kok orangnya. Cuma memang keluarganya kaku semua jadi dia seperti itu. Kok tiba-tiba
kamu nanya itu sih, sayang? Rio itu baik dan nggak munafik. Makannya aku suka temenan
sama dia. jelas Iyel.
Nggak munafik gimana, dia aja tertutup gitu. Apalagi kalo ngelihat fans-fansnya
kan cantik semua tuh, dia dingin banget padahal fansnya udah dukung dia lahir batin. balas
Sivia tak mau kalah. Ya memang selama ini setiap setiap Sivia melihat tim sepak bola
sekolahnya bertanding, banyak sekali anak-anak perempuan juga menonton aksi para pemain
kebanggaan sekolah mereka. Dan kebanyakan, mereka fans Rio.
Ya sudahlah nggak usah bahas Rio lagi. Yang jelas dia orangnya baik kok. Udah
ya, jangan marah-marah terus dong. Ntar cantiknya hilang lagi. goda Iyel sambil mengacak
rambut Sivia. Sivia pun akhirnya bisa tertawa juga mendengar gombalan pacarnya itu.
***
Jadi gitu Fy, gue sebel banget deh sama Rio. Orangnya tuh ya, uuuh! Pengen gue
hancurin tuh mukanya! Sivia tampak berapi-api.
Hahahaha, kalo denger cerita lo gue pengen ketawa deh Siv. Mungkin dia emang
pembawaannya kayak gitu. Udah deh, nggak usah urusin cowok lain. Ntar Iyel-nya gimana-
gimana. jawab Ify sambil tertawa geli.
Tapi gue nggak suka sama dia. Dia ketawa tuh kayak mikir-mikir dulu gitu,
sekalinya ketawa kayak maksa banget. Pokoknya gue nggak suka sama dialah! ucap Sivia.
Ya iyalah lo kan sukanya cuma sama Iyel, bukan sama Rio. Hahaha. Ify masih
tidak berhenti tawanya melihat kelaukuan absurd sahabatnya itu.
Tapi anehnya tuh Fy, dia kemarin baca karya lo di mading lho. Aneh kan? Dia
baca cerpen punya lo Fy, yang notabene sad ending gitu menye-menye. Jangan-jangan dia
suka sama lo Fy? Sivia mulai berkhayal tingkat tinggi bagaimana kalo sosok Rio menyukai
Ify.
Jangan mikir aneh-aneh deh Siv. Gue tuh mau fokus sama karier gue. Inget tuh!
ujar Ify sambil noyor kepala Sivia, berharap Sivia bisa berpikir normal lagi.
Iyalah, gue juga nggak rela kalo lo jadian sama Rio. Pokoknya awas aja kalo lo
naksir sama Rio juga! ancam Sivia dengan mata yang kian menyipit itu. Biasanya kalau
seperti itu, Sivia sedang serius.
Iya, iyaaa. Tahu orangnya aja enggak ngapain naksir-naksir! keluh Ify sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
Ya udah deh gue pulang dulu ya. Capek juga gue cerita sambil marah-marah gitu.
ucap Sivia sambil beranjak dari duduknya.
Iya siapa suruh lo cerita sambil marah-marah ke gue. Lo dijemput Iyel atau supir
lo? tanya Ify sambil menemani Sivia keluar dari rumahnya.
Gue dijemput supir nih. Tuh udah di depan, gue duluan ya. Bye Fy! pamit Sivia.
Ify pun mengangguk saja sambil melambaikan tangannya.
Setelah mobil Sivia berlalu dari pandangannya, Ify pun memutuskan masuk ke
dalam kamarnya. Memandang langit dari balkonnya. Langit terlihat gelap, mendung, dan
perlahan gerimis turun membasahi tanah. Ify mendesah pelan. Terkadang, dia merasa hujan
ini mengingatkannya pada masa kecilnya. Dia sangat menyukai hujan, dulu. Dulu sekali
sebelum akhirnya semuanya berubah. Ah, tapi Ify tak mau mengingat kejadian itu lagi. Itu
sudah menjadi masa lalu.
***
Huft akhirnyaaa. Haha, hai semuaaa! Gue balik lagi bawa cerbung ini. Doain moga selesai
ya. Sebenernya ini cerbung yang dulu gue buat tugas sekolah, dan nama pemerannya bukan
Idola Cilik tapi nama-nama umum gitu. Jadi kalo ada typo mohon di maklumi. Tapi ini murni
hasil karya gue dan gue harap kalian semua suka yaaa. BTW, gue nulis judulnya kok
kayaknya agak gimana gitu ya. Mohon di maklumi.
Alyssas View
Aku tersenyum sekaligus menahan geli ketika mendapati Suami ku tengah mengganti
pakaian putra kami yang baru saja Ia mandikantentu saja itu atas permintaan ku.
Dia tidak akan mungkin mau melakukan hal yang selalu Ia anggap menjijikan jika tidak ku
paksa, ku akui Suami ku memang tipikal Pria yang lebih banyak action dibandingkan
berkomentar jika dalam masalah pekerjaan, tapi berbeda kalau sudah berhubungan dengan
mengasuh anaknya sendiri, Suami ku pasti akan banyak beromentar daripada bekerjanya.
Itu bisa dilihat sekarang, ketika AldriPutra kedua kami sangat rewel karena tidak ingin
diurus oleh Ayahnya sendiri. CkckLucu sekali Anak dan Ayah satu ini.
Berdiamlah, kau akan masuk angin jika tidak berpakaian, Ulat pucuk! Aku hanya bisa
menggelengkan kepala ketika mendengar ujaran Rio pada kata terakhirnya. Bisanya dia
mengatai anaknya sendiri Ulat pucuk, Astaga Rio!
Sayang, apa yang harus ku lakukan untuk Bayi nakal ini? Dia mengejek ku terus, kau lihat
itu. Aku kembali tersenyum geli ketika melihat Aldri yang hanya mengenakan popok saat itu
mencoba untuk berdiri di ranjangnya agar tidak tertangkap oleh Ayahnya sendiri.
Sesekali Aldri menoleh ke arah Rio sembari tertawa lucu dengan wajah polosnya yang
memerlihatkan 2 gigi atas depan dan 2 gigi bawah depannya yang sangat terlihat
menggemaskan. Rio sendiri terlihat frustasi, setiap dia ingin menangkap anaknya, Aldri selalu
saja bisa menghindar dari sang Ayah.
Astaga, berhenti bermain-main dengan ku Monster kecil! Ujar Rio kemudian yang
sepertinya sangat kelelahan sekali menghadapi Aldri, padahal hanya sekedar memandikan
dan mengganti pakaian anaknya, Rio sudah seperti kebakaran jenggot.
Akhirnya ku putuskan untuk mendekati merekakarena saat itu aku berada di ambang pintu
kamar, Rio sudah terkapar alias terbaring karena lelah di ranjang sedangkan putranya justru
memainkan kotak bedak, segera ku ambil alih pekerjaan Rio yang satu ini dan belum selesai
satu pun.
Apa yang susah, Rio? Kau lihat, dia diam saja ditangan ku. Mendengar suara ku, Rio
berubah posisi menjadi telungkup dan memperhatikan ku yang masih memakaikan pakaian
pada Aldri, Ia mendengus. Kau Ibunya dan sudah pasti sangat berpengalaman.
Memangnya aku tidak pernah lembut pada anak-anak ku? Aku hanya mengangkat bahu tak
acuh, Rio mendengus kesal. Baiklah, abaikan pertanyaan ku tadi. Ucapnya dan segera
beranjak dan menyambar handuk putih untuk mandi.
Hm, Fy. Aku mendongak dan mentapnya, dia balik menatap ku tidak ku tahu apa makna
dari sorot matanya saat ini. Tapi yang jelas tatapan itu begitu sendu dan menyedihkan,
entahlah mungkin saja perkiraan ku itu salah. Ku lihat dia tersenyum kecil tanpa makna
sekali pun, aku sangat bisa merasakan itu karena senyum Rio sekarang sangat begitu berbea
sekali daripada biasanya.
Aku mengkerutkan kening pertanda bingung. Darimana kau tahu? Sempat aku terkejut
mendengar pertanyaan itu, entah darimana dia tahu jika beberapa hari ini Aya memang
membawa teman laki-lakinya ke rumah, tujuan mereka tidak lebih sekedar untuk belajar
bersama saja sebetulnya.
Jadi, tidak ada yang membuat ku curiga sedikit punwalaupun ku tahu Aya sudah remaja
saat ini hampir kelas 8. Tentu saja aku bingung darimana Rio tahu itu, karena setiap Aya
membawa temannya itu ke rumah Rio pasti tidak ada karena sibuk bekerja dan aku pun tidak
pernah bercerita apapun soal itu padanya.
Tadi malam, aku masuk ke kamar Aya seperti biasanya. Aku hanya aneh kenapa Ponselnya
yang selalu Ia letakkan di meja samping ranjang beralih di bawah bantal tidur, tidak sengaja
aku melihat sebuah pesan dari laki-laki mungkin temannya yang mengatakan akan kerumah
hari ini untuk belajar bersama.
Menurut mu apakah itu wajar? Aku tertawa kecil sembari menggendong Aldri dan
melangkah mendekat ke arahnya.
Itu wajar, kau tidak perlu secemas itu. Aldri tengah memainkan kancing baju yang ku
kenakan, Rio ikut memperhatikan itu dan segera melepaskan jari mungil Aldri yang sejak tadi
berada di kancing baju ku.
Jangan. Itu milik ku! Teriak Rio dengan nada yang cukup nyaring, bukan hanya aku yang
terkejut Aldri pun ikut terkejut sampai menangis seperti ini. Langsung saja ku pukul bahu Rio
lalu menghindar dan pergi menjauh darinya. Perilaku Rio yang cemburuan satu itu sepertinya
memang tidak bisa pernah lepas darinya, Rio tetap Rio. Pria Aroga dan pencemburu dingin.
Kau harus bersabar sayang punya Ayah seperti Pria itu. Gumaman ku ternyata di dengar
oleh Tuan kejam satu itu, Rio justru tertawa nyaring sekali di dalam kamar mandi. Dia pikir
membuat anaknya takut sampai menangis seperti ini adalah sebuah lelucon? Rio memang
tipikal Ayah yang aneh. Sifat mu memang tidak pernah berbubah untuk satu itu, Rio.
SELESAI...
Seperti biasanya, seusai upacara, SMA Negeri 77 itu membersihkan lingkungan sekolah dari
sampah. Atau yang sering mereka sebut dengan Operasi Semut. Kegiatan itu memakan
waktu sekitar 10 menit, hingga selesai mereka kembali ke kelas untuk memulai akitvitas
wajib mereka sebagai seorang pelajar.
Kelas XII IPA 2 terdengar masih ramai, menandakan belum adanya guru yang datang untuk
mengajar. Ada yang mengobrol, selfie bareng, tidur, menonton film bareng dari laptop,
bergosip ria, mencoret-coret papan tulis, membaca buku bagi yang rajin, dan sebagainya.
Mereka tidak berani untuk keluar kelas. Keluar sedikit saja, terlihat guru berjaga di luar,
jangan berharap bisa lolos dari hukuman.
Tepat di belakang kelas terdapat segerombol siswa yang berkumpul entah membicarakan apa.
Di sebelah yang tak jauh dari mereka, terdapat tiga orang siswi yang sedang bergosip. Salah
satu dari mereka bertiga itu berseru ke arah segerombol siswa tersebut.
Heh, cowok-cowok ganteng, bisa kecilin dikit gak sih volume suara kalian itu? Bisa budek
gue. Mereka menoleh serempak. Yang lainnya hanya menoleh sekilas, mereka sudah
terbiasa dengan genk cowok dan genk cewek kelas ini, setiap bertemu pasti ada saja adu
mulut dari mereka. Entah itu dari pihak cowok atau pihak cewek yang memulai.
Yaelah , Fy, kita bersuara merdu kali. Apa lagi gue sahut salah satunya. Jangkung, hitam
manis. Lawan adu mulut dari Zilify Kiran. Setiap Ify berbicara, pemuda itu tidak pernah
absen untuk menyahutinya. Gandrio Putra.
Ify bergidik geli mendengarnya. Apanya yang merdu? Kaleng rombeng iya.
Lo kalo marah nambah cantik deh. Ify mendelik dibuatnya. Malu. Ucapan Rio tadi
mengundang sorakan heboh dari seisi kelas. Gadis itu memilih diam dan kembali menghadap
teman-temannya.
Elo juga sih malah ngerusuhin mereka. Udah tau ada Rio disana ujar Diagni Agni. Ify
memajukan mulutnya.
Iya nih si Ify cemong, tuh kunyuk mana bisa denger suara lo sekecil apapun sambung
Sabrina Dilsivia Via.
Cinta kali tuh ujar Agni yang diikuti tawanya, juga Via. Ify bertambah merengut dibuatnya.
Bukannya dibantuin malah diledekin, keki berat.
**
Ify terlihat mencari-cari sesuatu. Wajahnya panik. Semua murid sudah berhamburan keluar
kelas untuk pulang. Agni dan Via masih setia menemani Ify.
Emangnya lo taruh mana tadi tuh kunci? tanya Agni.
Seinget gue, gue taruh tas, Ag. Seriusan deh, gue inget banget jawab Ify masih dalam
keadaan panik.
Lo gak nyimpen kunci cadangan gitu? kali ini Via bertanya.
Ada. Tapi ya di rumah. Gadis itu sudah lemas karena kunci motornya hilang entah kemana.
Pikirannya sudah kemana-mana saat itu. Bagaimana dia bisa pulang. Ada salah satu cara,
namun tidak terlalu efektif bagi dia, karena dia pasti kena amuk sang Bunda. Ia terduduk
lemas di bangku nya. Matanya sudah berlinang. Agni dan Via masih mencari-cari kunci
motor di laci-laci meja, mungkin saja ada yang jahil dan menyembunyikannya.
Ada apaan sih? Mereka semua menoleh ke ambang pintu. Terlihat Gabriel yang
menyembulkan kepala-nya ke dalam kelas.
Kunci motornya Ify hilang jawab Agni dan kemudian kembali mencari-cari. Gabriel
mengerutkan kening bingung.
Kunci motor Ify? Gabriel beralih ke Ify yang sudah bersiap menangis. Gabriel menggaruk
kepalanya. Motor lo matic kan? Beat biru-putih? Ify mendongak dan mengangguk
semangat. Bukannya udah dibawa Rio ya? Tuh udah parkir di depan kelas sepuluh. Ify
melongo begitu juga Agni dan Via.
Serius? tanya Ify yang langsung bangkit dan keluar kelas, melihat ke arah bawah. Dan
ternyata benar. Rio melambai-lambaikan tangannya sembari tersenyum manis tanpa dosa.
Saat itu, Ify sudah mengeluarkan asap. Bersiap menyemprot Rio. Dasar tuyul!! Seru nya
dalam hati.
Eh, Ag, Vi, makasih udah bantu nyariin. Si tuyul pelakunya ujar Ify sambil mengambil
tasnya di meja dan menyandangnya. Gab, thanks ya.
Yeah, no problem. Hati-hati ya kalo sama Rio.
Emang kenapa?
Lo kayak gak tau Rio aja sih, Fy. Dia kan liar hahaha.
GABRIEEELL. Mereka semua cengo. Rio kok bisa mendengar dengan jarak yang
terbilang agak cukup jauh.
Buset, dia denger. Gue duluan ya. Gabriel berlalu dengan berlari dari sana.
Pulang yuk.
**
Ify menghampiri Rio yang masih asik bertengger di atas motornya. Pemuda itu tidak
mengetahui kedatangan Ify karena ia tepat membelakanginya. Ify menghampirinya dengan
kesal. Dia berdiri di hadapan Rio dengan berkacak pinggang dan memasang wajah sangar.
Rio yang tengah menatap ke arah jalan, melirik ketika ia merasakan ada seseorang yang
sedang memperhatikannya. Kemudian menoleh sepenuhnya ke arah Ify dengan tampang tak
berdosa.
Ayo pulang ajak Rio seenaknya, seakan dia lah tuan dari kendaraan itu. Rio sudah bersiap
menyalakan motor.
Iiihhhh, Rioooooooooooo.
Apa sih, Fy? Gue gak budek kali. Ify bertambah geram dibuatnya. Ia mencubit-cubit lengan
Rio.
Ih, ih, ih tuh rasain. Rio meringis dibuatnya.
Aw aw aw aw, sakit woy. Apaan sih? Ify menyudahi aksi cubitannya dan kembali menatap
Rio geram. Kemudian ekspresinya berubah menjadi menahan tangis, dan akhirnya air mata
Ify keluar. Rio tersentak. Oy, kok lo nangis sih? Ada yang jahatin elo ya? Siapa? Bilang ke
gue. Biar gue kasih bogem. Tangis Ify makin kencang. Rio makin panik melihatnya. Aduh,
kok makin nangis sih. Ia menggaruk-garuk kepalanya bingung.
Elo yang jahatin gue tau ujar Ify kesal disela isakannya. Rio menatapnya heran.
Kok gue? Emang gue ngapain lo? Ada perasaan dalam hati Ify ingin mencekik Rio. Namun
perbuatan itu dapat membuatnya dikenai hukuman dan dikeluarkan dari sekolah. Ify
menghapus air matanya.
Gue udah panik nyariin kunci motor gue tadi. Dan tanpa dosa-nya elo yang ngebawa motor
gue. Rio menatapnya datar.
Lah? Gue kan tadi udah bilang ke elo.
Bilang apaan?
Gue bilang kalo gue mau pulang bareng elo, terus gue bilang kalo gue ngambil kunci motor
lo. Elo sih, sibuk ngegosip mulu. Ify memicingkan matanya. Beneran.
Kenapa lo asal ambil aja tanpa seizin gue? Gue kan belum tentu ngizinin elo pulang bareng
gue. Lo itu nyebelin. Rio tertawa dibuatnya. Gadis ini memang masih memiliki sifat kanak-
kanak. Lucu juga.
Abisnya elo diem aja. Dan diem berarti setuju. Yaudah, gue ambil. Ify mengangkat kedua
tangannya seakan ingin mencekik Ify dengan memasang wajah geramnya. Rio terkekeh.
Pemuda itu menangkap lembut tangan kiri Ify dan menyeretnya ke belakang. Ayo naik, kita
pulang. Ify mendelik ke arahnya. Rio menoleh. Gue tinggal nih.
Emangnya tuh motor punya siapa? Seenak udelnya aja lo. Rio kembali tertawa dibuatnya.
Beberapa anak kelas sepuluh yang belum pulang dan masih menunggu jemputan di beranda
kelasnya, memperhatikan mereka dengan menahan tawa. Dua kakak kelasnya itu memang
akan kocak jika dipertemukan. Semua sudah tahu pada saat MOS berlangsung saat itu.
Ify menaiki boncengan motor. Ia sedikit mendongak, melihat parameter bensin motornya.
Eh, isi bensin dulu. Sekarat tuh. Rio melihat parameter bensinnya dan tanpa mengangguk
atau menjawab iya, Rio kemudian menstrater motor Ify. Lo denger gue gak sih, Yo? ucap
Ify yang sedikit berteriak di telinga Rio. Pemuda itu refleks menutup telinga kirinya.
Gue gak budek wooyyy! balas Rio teriak.
Lo sih, gak jawabin gue. Rio memutar bola matanya dan geleng-geleng kepala, tak habis
pikir dengan sikap Ify. Memang dasar gadis satu ini sangat menguji kesabarannya. Ayo
jalan. Jangan berasa jadi pembalap lo di jalan. Gue gak mau kalo nanti gue yang cantik ini
bakal ada lecet-lecet. Bunda gue bisa ngamuk. Dan kalo itu terjadi, lo yang...RIOOOOOO.
Ify refleks mencengkram baju Rio atau pinggang Rio, karena dengan sengaja Rio meng-gas
motornya tiba-tiba.
**
**
Hari ini entah kenapa Ify merasa tubuhnya sedikit lemas. Dia berpikir, apa mungkin akibat
bergadang semalaman kemarin? Yang biasanya menjawab sapaan teman maupun juniornya
dengan ceria, kini dia hanya membalasnya hanya dengan senyuman.
Ify sapa Agni yang baru datang. Ify menoleh dan berhenti melangkah.
Hey. Agni mengamatinya seksama. Kenapa lo?
Lo kali yang kenapa?
Gue?
Iya. Tuh muka lo pucet. Dan gak biasanya lo lemes gini. Sahabat satunya ini memang
sangat peka dengan sahabatnya sendiri. Padahal Ify sudah berusaha menutupi kondisinya saat
ini, tapi masih dapat diketahui oleh Agni. Dia mana bisa bohong dengan Agni yang kepo-nya
pakai banget. Jawab gakpapa, dia akan terus mendesak hingga orang tersebut mengatakan
yang sebenarnya.
Gak tau, Ag. Badan gue lemes. Apa karena gue begadang semalem ya? ucap Ify lemas.
Agni memegang pipi kanan Ify.
Rada anget. Pusing?
Lumayan.
Lo gak usah apel deh. Daripada ambruk. Ify menggeleng. Sendirian dalam kelas? Mana
mau. Guru-nya bisa saja tidak percaya dengan alasan Ify. Lo begini mau apel?
Ada apaan sih? Ngobrol di tengah koridor ujar Via yang baru datang.
Si Ify nih. Via menoleh ke arah Ify yang tengah menutup mulutnya karena menguap.
Lo pucet deh, Fy.
Iya tuh. Badannya rada anget lagi. Keras kepala mau tetep ikut apel. Ify menyeringai.
Udah ah, yuk ke kelas. Udah mau mulai tuh.
Via dan Agni pasrah. Mereka memilih untuk menurut. Ify tidak ingin dibantah. Bisa-bisa dia
marah. Yang penting mereka harus siaga jika terjadi apa-apa pada sahabat mereka itu.
Pembina apel mereka hari ini ternyata bukan dari pihak sekolah, melainkan dari pemerintah
kota mereka. Memberikan amanat yang cukup panjang. Ify terlihat terus menunduk, menahan
badannya yang sudah sangat lemas seakan ingin terjatuh dan pusingnya yang terus
menyerang.
Vi panggil Ify pada Via yang di sebelah kirinya dengan nada yang lemas. Via menoleh dan
terkejut.
Ify, kenapa? Pusing ya? Lo pucet banget, Fy ujar Via panik. Rio yang saat itu baris pada
barisan ketiga, dan tak sengaja terdengar suara Via yang panik menyebut-nyebut nama Ify,
menoleh ke belakang. Ia melihat wajah Ify yang sudah pucat. Entah kenapa, ia menjadi kuatir
dan panik. Rio yang berniat ingin mundur begitu saja ditegur temannya yang berdiri tepat di
belakang Rio.
Oy, ngapain lo? tanyanya berbisik pada Rio.
Gue mau ke belakang.
Sstt, lo diliatin Pak Kemas tuh. Rio dengan langsung berbalik badan ke depan kembali.
Mendengar nama bapak itu sungguh menakutkan, lebih baik jangan disebut namanya, seperti
dalam film Harry Potter, dia layaknya Voldemort bagi murid-murid SMA itu. Rio terlihat
gelisah.
Kenapa gue gelisah begini? Kenapa gue panik banget begini? Kenapa gue kuatir banget
dengan dia sekarang? batin Rio meracau.
PMR sekolah itu yang memang berjaga di setiap barisan kelas-kelas, mendatangi Via dan Ify
yang menurut mereka mencurigakan. Rio masih bisa mendengar omongan-omongan yang
terdengar dari mulut Via dan seseorang yang ia tak tahu. Namun, ia sama sekali tidak
mendengar suara Ify yang sangat ia kenali.
**
Sampai jam pelajaran kedua, Ify juga belum kembali ke kelas. Hingga salah satu anggota
pengurus UKS datang ke kelasnya. Ia terlihat berbincang dengan guru yang mengajar di kelas
itu. Semua perhatian di kelas itu tertuju ke mereka terutama Via, Agni dan Rio yang
sepertinya tahu bahwa petugas itu memberitahu keadaan Ify.
Seusai berbincang dan menulis sesuatu tadi, petugas UKS itu bertanya pada salah satu murid.
Murid itu menunjuk ke arah bangku Ify yang kosong. Petugas itu berterima kasih dan
kemudian melangkah menuju bangku Ify dan kemudian membawa tas Ify dan jaket biru
langit yang tergeletak asal di mejanya.
Bu, Ify gakpapa? tanya Via yang memang sebangku dengan Ify. Petugas yang dipanggil Ibu
tadi menoleh dan tersenyum menenangkan.
Dia pingsan di jalan sewaktu ke UKS. Dan belum sadar sampai sekarang ucapan itu yang
mungkin dapat didengar semuanya, membuat seisi kelas terkejut. Kalian doakan saja dia
tidak apa-apa. Via yang masih shock hanya mengangguk. Tidak biasanya Ify seperti itu. Ify
gadis kuat. Bukan seseorang yang lemah. Dia tidak pernah seperti ini. Begitupun Agni yang
berada di belakangnya. Tak jauh beda, Rio pun sama. Permisi, Pak pamit petugas itu. Guru
itu mengangguk tersenyum.
Kita doakan saja yang terbaik. Semua mengangguk setuju. Baiklah, kita lanjutkan
pelajaran tadi..
Via menoleh ketika pundaknya dicolek oleh seseorang dari belakang.
Pulang sekolah kita langsung jenguk Ify bisik Agni. Via mengernyit bingung.
Kita gak tahu mereka bawa Ify kemana bisik Via balik.
Agni, Via, sedang apa kalian? tegur bapak itu. Agni dan Via langsung diam. Via langsung
menghadap ke depan kembali.
Nggak ada apa-apa, Pak jawab Agni dengan menunduk.
**
Oy, Yo. Daritadi gue liat lo letoy banget deh. Kenapa sih? tanya Cakka, sahabat sekaligus
teman sebangku Rio. Pemuda itu hanya menggeleng lesu. Gara-gara gak ada rival lo itu ya?
Cieeeee. Beneran cinta lo? Wajah Rio seketika memanas. Ia mengelak.
Sok tau lo. Rio bangkit dan melangkah keluar kelas setelah menoyor kepala Cakka terlebih
dulu. Cakka meringis sambil mengelus-ngelus kepalanya.
Mau kemana lo? teriak Cakka.
Minggat. Cakka mendelik dan segera menyusul Rio. Sesampai ambang pintu, ia melihat
Rio yang berdiri di batas dinding lantai dua itu. Menatap lurus ke depan. Entah apa yang ia
pikirkan.
Gue kira lo seriusan minggat ujar Cakka sambil mengambil posisi berdiri di sebelah Rio.
Pemuda itu tidak menyahut, masih dengan fokusnya. Cakka yang tak ingin mengganggu, juga
ikutan menatap lurus ke depan. Sebenarnya, dia ingin sekali melihat ke bawah, ke arah
junior-junior cantik yang berlalu lalang. Dari bawah pun, para junior perempuan pun selalu
melirik ke atas karena ada pemandangan paling indah menurut mereka. Jarang-jarang dua
cowok ganteng berdiri disitu. Itu peristiwa langka menurut mereka. Karena yang mereka
tahu, cowok-cowok itu hanya betah di dalam kelas atau duduk di beranda kelas mereka yang
terhalang oleh dinding pembatas sehingga tak terlihat dari bawah.
Cakka dan Rio kaget tatkala seseorang berseru di belakang mereka.
Gabriel, kurang kerjaan lo!! kesal Cakka. Dia menggulat Gabriel. Rio hanya geleng-geleng
kepala melihat tingkah laku mereka.
Mana sipit? tanya Rio.
Ada tuh tunjuk Gabriel setelah lepas dari gulatan Cakka. Ia membenarkan pakaian dan
dasinya.
Hoy! seru seseorang yang dipanggil sipit oleh Rio tadi. Mereka bertos-ria. Oh ya, Yo,
nih dia menyerahkan sebuah kunci. Rio seperti mengenali kunci motor itu. Dia mengernyit
bingung.
Kenapa nih?
Gue tadi ketemu Via sama Agni di kantin, mereka ngasih ini. Agni bilang, buat kasihin ke
elo. Rio menerimanya. Dia terus menatap kunci motor itu dan mengingat-ingat kunci motor
siapa. Kemudian, terlintas bayangan wajah Ify, dan dia pun mengingatnya. Katanya tolong
anterin ke rumahnya. Soalnya tadi petugas UKS gak sempet buat nganterin. Rio heran.
Bukannya petugas itu bisa mengantar Ify ke rumahnya dengan membawa motor itu? Kecuali
Ify dilarikan ke rumah sakit. Seketika Rio tersentak dengan pemikirannya saat itu.
Kenapa, Yo? tanya Gabriel bingung. Rio menggeleng.
Emang punya siapa sih, Yo? Siapa yang sakit? tanya Alvin yang memang sudah gatal ingin
bertanya. Rio hanya diam.
Kayaknya punya Ify deh jawab Cakka menebak.
Dia kenapa? Kok motornya dititipin gitu? kini Gabriel bertanya.
Ify tadi sakit. Pendengaran gue kalo emang gak salah nih ya, dia pingsan sewaktu jalan ke
UKS, dan belum sadar-sadar. Gabriel dan Alvin sedikit kaget. Mereka mengenal bagaimana
sosok gadis itu.
Becanda lo, Kka?
Gue seriuuss, sipiiitt.
Gue gak percaya. Yang gue tau Ify itu gak pernah deh kayak gitu ujar Gabriel.
Yaah, Iel mah, Ify kan juga manusia kali. Gak selamanya dia selalu kuat.
Tumben lo bener, Kka. Cakka menjitak Alvin, tidak terima. Alvin meringis-ringis dan
menjitak balik kepala Cakka.
Rio sedari tadi hanya diam. Pikirannya telah bercabang kemana-mana. Kunci motor itu
semakin erat ia genggam. Ia tidak memperdulikan ocehan-ocehan dari para sahabatnya saat
itu.
**
Ternyata, Ify dibawa ke rumah sakit dari sekolah tadi karena belum juga siuman. Orang
tuanya pun telah dikabari oleh pihak sekolah. Via dan Agni yang berniat menjenguk ke rumah
diurungkan karena Ify masih belum kembali ke rumahnya. Mereka belum sempat untuk ke
rumah sakit tempat Ify berada saat itu, karena masing-masing mereka masih ada kegiatan
yang tak bisa ditunda.
Begitu pun Rio yang diberi amanat untuk mengantar pulang motor Ify ke rumahnya. Yang ia
lihat hanya tukang kebun Ify yang saat itu sedang bekerja. Sebenarnya, ia sangat ingin
menjenguk Ify saat itu, tetapi kegiatan pula lah yang menghambatnya.
Hingga satu minggu, Rio belum sempat-sempat untuk menjenguk Ify. Dia hanya
mendapatkan kabar dari Via dan Agni yang waktu itu sempat menjenguk. Gadis itu ternyata
sakit tifus. Rio sedikit bernafas lega ketika Ify sudah dikabarkan telah pulang ke rumahnya,
namun rasa pilu masih merayap karena Ify belum juga masuk sekolah. Apa benar rasa itu
telah tumbuh untuk gadis itu? Ia terus bertanya-tanya.
**
Hari ini, kakak Rio pulang dari Bogor tempat ia bekerja, sehingga membuat Rio bahagia
karena ia dapat membawa motor dan tidak perlu mencari-cari teman untuk mengantarnya
pulang maupun menjemputnya sekolah.
Dengan langkah santai sambil bersiul, kedua tangannya dimasukkan ke kedua kantong
celananya. Saat menaiki tangga menuju lantai dua tempat kelasnya itu, ia melihat Via dan
Agni yang berdiri sambil memicing-micingkan mata mereka. Rio menatap mereka heran.
Dan kemudian ia tersentak tatkala kedua gadis itu berseru.
Ify!! teriak mereka bersamaan. Entah kenapa Rio mematung mendengar nama itu. Ada
desiran halus dalam dadanya. Rio yang berniat ingin memastikan apakah mereka hanya
bercanda atau memang benar-benar ada, membalikkan tubuhnya tiba-tiba.
Eh. Rio sedikit terlonjak ketika membalikkan badannya, hampir saja menabrak seorang
gadis yang belakangan ini telah mengganggu pikirannya. Seorang gadis yang telah
menumbuhkan rasa rindu dalam hatinya.
Gadis yang juga tersentak itu sedikit terhuyung ke belakang. Kaki kirinya yang akan
melangkah menaiki satu anak tangga tadi, menjadi menyangga tubuhnya agar tidak terjatuh
dengan menapak di anak tangga sebelum anak tangga yang dipijaki kaki kanannya.
Keduanya saling menatap. Menyelami kehangatan satu sama lain. Gadis itu tersadar dan
memalingkan wajahnya yang merona.
Fy sapa Rio pada Ify gadis tadi. Ify tersenyum.
Hai, Yo. Apa kabar?
Seharusnya gue yang tanyain itu ke elo. Gimana keadaan lo sekarang? Ify mengendikkan
kedua bahunya.
Yah, yang pasti lebih baik daripada kemarin jawabnya sembari memberi cengiran khasnya.
Bagus lah. Ify tersenyum. Gue harap akan selalu baik-baik aja gumam Rio pelan, namun
masih dapat terdengar oleh Ify.
Makasih doanya, Yo. Rio tersentak dan menyeringai. Ia menggaruk-garuk kepalanya.
Kedengaran rupanya, batinnya.
Oh ya, Fy, maaf gue gak sempat jenguk lo kemarin ujar Rio dengan perasaan bersalah. Ify
tersenyum tulus ke arahnya.
Gakpapa, Yo. Gue ngerti kok. Santai aja lagi. Ify terkekeh dan menepuk-nepuk pundak
kanan Rio.
Ifyyyy teriak Via dan Agni yang masih berdiri disana. Mereka sengaja memberi waktu
untuk Rio berbicara dengan Ify.
Ify menoleh. Dengan senyum lebar ia melambaikan tangannya pada dua sahabatnya itu. Eh,
Yo, gue duluan ya. Rio mengangguk. Ia masih terus menatap Ify yang berlalu di
hadapannya, sampai gadis itu merentangkan tangannya di depan Via dan Agni, membuat
kedua gadis itu menghambur ke pelukan Ify. Mereka berpelukan hangat. Rio tersenyum tipis
melihatnya. Memang keabsenan gadis itu selama satu minggu ini telah membuat banyak
orang kehilangan akan dirinya. Termasuk dia sendiri. Rio mengakui itu. Ia menghela nafas
lega, dia masih dapat melihat senyuman hangat Ify walaupun rona wajahnya masih pucat.
**
Kedatangan Ify ternyata disambut hangat oleh teman-teman sekelasnya. Bukan hanya teman
sekelasnya, tetapi juga semua yang mengenalnya, termasuk guru-guru dan para pekerja di
sekolah ini yang sangat mengenal gadis itu dengan baik.
Sapaan hangat dan juga pertanyaan gimana keadaan lo? itu selalu terlontar dari teman-
temannya yang kebetulan berpapasan maupun yang memang sengaja ingin melihat Ify.
Entahlah, Ify seakan sudah menjadi bagian dari mereka. Gadis itu adalah anak yang supel,
ramah, sopan sehingga disenangi banyak orang. Tak ayal jika penjual di kantin sekolahnya
pun merasa kehilangan sosok itu ketika seminggu kemarin ia absen dari sekolah.
Hai, Fy. Udah baikan? sapa dan tanya Alvin yang memang sengaja ingin ke kelasnya.
Sebenarnya dia ingin menghampiri para sahabatnya, namun melihat kehadiran gadis itu, ia
mampir ke mejanya terlebih dulu. Ditemani Gabriel.
Ify, Via dan Agni mendongak ke arah sumber suara.
Hai, Vin. Yah, lebih baik dari kemarin jawab Ify sama.
Syukur deh.
Eh, Fy, sorry banget nih kita gak jenguk lo kemarin timpal Gabriel dengan wajah sesalnya.
Mereka sudah cukup mengenal Ify dekat semenjak kelas XI kemarin. Ify tertawa kecil.
Santai kali, Yel. Gakpapa kok. Gabriel menyeringai, Alvin tersenyum. Via dan Agni masih
sibuk berceloteh.
Eh, kita kesana dulu ye. Ify mengangguk sembari tersenyum.
**
Ify yang sedang menunggu jemputan, duduk di bangku koridor kelas sepuluh. Ia menatap
sekitarnya. Masih ada beberapa siswa-siswi yang berada disana. Tak terlalu banyak yang
masih menunggu jemputan. Ia sedikit tersentak ketika melihat Rio yang masih stay di atas
motornya yang terparkir di depan salah satu kelas sepuluh. Ia bertanya-tanya, sedang apa
pemuda itu disana? Menunggu seseorang untuk diantar pulang kah?
Satu-persatu murid-murid yang menunggu jemputan itu berkurang. Tak lama pula, Rio
melajukan motornya pelan hingga tepat berhenti di hadapan Ify. Gadis itu menatap Rio
bingung.
Nungguin siapa, Yo? tanya Ify. Rio membuka kaca helmnya.
Nungguin lo.
Ha? Rio tersenyum yang seketika membuat dadanya berdesir halus. Perasaan itu kembali
hadir. Jantungnya berpacu sedikit lebih kencang dari biasanya. Kok?
Daerah disini sedikit gak aman. Apalagi lo perempuan nunggu jemputan sendirian disini.
Ify merasakan wajahnya memanas kali ini. Menunduk malu. Memainkan handphone-nya
mencari kesibukan sendiri untuk menutup kesalah tingkahannya itu. Rio yang melihatnya
terkekeh.
Masih di atas motor cagiva-nya, Rio menatap sekeliling. Ternyata sekolah ini sudah benar-
benar sepi. Apa benar Ify akan dijemput? Rio jadi curiga, kalau Ify tidaklah dijemput, atau
yang menjemputnya ada kendala sehingga tidak bisa menjemput Ify. Ia melirik gadis itu
melalui ekor matanya. Gadis itu terlihat memainkan handphone, menekan-nekan tombol
qwerty layar sentuh itu. Dia mendengar helaan nafas Ify. Rio melipat kedua tangannya di
dada. Masih setia menunggu.
Rio yang merasakan Ify beranjak dari tempat duduknya, menoleh. Menatapnya seakan
bertanya gimana?-. Ify menggeleng lemah. Gadis itu mendekat ke arah Rio. Dengan guratan
wajah yang terlihat sedikit lelah.
Supir gue gak bisa jemput. Dia mesti nganter papa ke bandara. Rio mengangguk mengerti.
Ya udah, naik gih. Ify menatapnya.
Eng...gak ngerepotin, Yo? Rio terkekeh.
Kalo gue repot, gak mungkin nawarin elo. Lagian lo mau pulang naik apa? Ify menatap
sekitarnya. Benar-benar sepi. Ojek, taksi, angkot ataupun bis tidak terlihat. Entah kenapa
sudah sepi seperti ini. Ify mengangguk kecil dan kemudian menaiki ke boncengan Rio.
**
Ify mengernyit heran. Benaknya bertanya-tanya. Mengapa Rio mengajaknya kesini? Apa dia
lupa harus mengantarkan anak gadis orang terlebih dulu?
Yo, lo kok.. belum selesai Ify berbicara, pemuda hitam manis itu telah memotongnya
terlebih dulu.
Makan dulu lah sebentar. Laper nih.
Makan di rumah kan bisa, Tem.
Sialan lo. Ify cengengesan. Rio sedikit bernafas lega ketika melihat respon gadis itu yang
seperti dulu. Bukan Ify yang lemah. Gue lagi ngidam pengen makan bakso nih lanjut Rio
sembari menstandarkan motornya yang kemudian melepas helm dan bergegas turun. Ify
melengos. Ada-ada saja pemuda satu ini. Gadis itu tersentak dan kemudian turun dari motor
Rio ketika pemuda itu berseru menyuruhnya untuk turun.
**
Ngidam beneran lo? tanya Ify heran ketika melihat Rio yang lahap menyantap semangkuk
bakso dihadapannya. Rio hanya mengangguk tanpa bersuara. Terus menyuap bulatan-bulatan
daging kecil itu ke dalam mulutnya. Udah berapa bulan? tanyanya lagi yang mulai
ngelantur.
Rio menyeruput es jeruknya 9 bulan.
Wah, bentar lagi lahiran dong.
Masih lama. Jangka waktu gue mencapai 12 bulan. Ify tergelak mendengarnya dan
menepuk pundak pemuda itu yang tepat berada di sampingnya. Rio meringis yang kemudian
mengusap-ngusap pundaknya yang sedikit ngilu akibat tepukan yang lumayan keras dari
gadis manis itu.
Lo beneran gak mau pesen? Ify hanya menggeleng. Sakit baru tau lo. Ify terkekeh geli
mendengarnya.
Gue udah nginap kok di sana, satu minggu.
Seenggaknya lo makan satu nih. Aakkk.. Ify menggeleng dan menjauhkan kepalanya dari
Rio yang berusaha untuk menyuapkan satu pentol bakso kecil. Satu aja. Ify masih
menggeleng. Rio mendengus sebal melihatnya. Makan atau gue tinggal? Ify tertawa
melihat ekspresi Rio saat itu. Dengan perlahan Ify membuka mulutnya. Rio tersenyum dan
memasukkan bakso kecil itu yang ditusuk garpu olehnya ke dalam mulut Ify. Enak kan?
Daripada kambuh gara-gara lo gak makan. Apa kata orang tua lo nanti? Diamukin deh gue.
Ify hanya tertawa geli melihatnya.
Bawel banget sih, Yo. Udah cepetan makannya, udah mau hujan tuh.
**
Dua insan itu masih diam. Hanya bisingnya hujan yang terdengar. Sedari mereka berteduh di
emperan toko itu, belum ada topik pembicaraan yang tercipta di antara keduanya.
Hujan, Yo.
Gue juga tau kali kalo hujan. Kecuali kalo gue amnesia, sampe lupa sama yang namanya
hujan. Ify cemberut. Ia memukul-mukuli lengan Rio. Rio tertawa sembari meringis. Udah
woy, sakit nih. Ify memeletkan lidahnya kepada Rio. Lagi-lagi gadis itu menghadirkan
buncahan tersendiri dalam hatinya.
Dingin gak?
Ya iyalah. Pakai nanya lagi jawab Ify senewen. Gadis itu kaget ketika sesuatu berada di
atas kepalanya. Sebagian menutupi penglihatannya. Seperti pakaian. Dia mengambil benda
tersebut. Jaket! Sepertinya ia pernah lihat jaket ini. Ify menoleh ke arah Rio yang berdiri
tegak disampingnya. Ah! Baru ingat, jaket ini punya Rio. Pemuda itu kini hanya berbalutkan
seragam sekolahnya saja.
Merasa diperhatikan, Rio menoleh. Kala itu, pandangan mereka bersirobok. Dan kala itu
pula, pacuan jantung keduanya berada diatas normal. Tidak seperti biasanya. Rio yang dahulu
tersadar, memecah keheningan.
Pakai aja ujar Rio sambil melemparkan senyum manisnya. Ify tersentak dari lamunan dan
kemudian merona ketika melihat senyuman itu. Dia kembali menghadap depan dan
menunduk. Dengan perasaan campur aduk, Ify memakai jaket itu.
Wangi tubuh Rio menyergap indera penciumannya. Tanpa sadar, Ify memeluk dirinya sendiri,
seakan memeluk tubuh tegap itu.
Fy panggil Rio yang kembali menyentak dirinya dari lamunan.
Ify berdehem kecil meresponnya.
Kalo seandainya gue suka sama lo, gimana? Ify mendelik. Dan dengan gerakan cepat ia
menoleh ke arah Rio yang juga menatapnya dengan tatapan penuh arti. Ify kemudian tertawa.
Rio melihatnya heran. Pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya. Kayaknya sih nih anak
belum sepenuhnya sehat. Diajak serius, malah ketawa, batinnya berdumel.
Candaan lo lucu banget, Yo. Rio mendengus sebal.
Gue serius. Ucapan itu membuat Ify terdiam. Kembali ia menoleh ke arah Rio. Kini dengan
perlahan. Gue waktu itu bingung, kenapa gue sebegitu khawatirnya disaat lo sakit. Gue juga
bingung, kenapa gue selalu deg-degan dan nyaman sewaktu dekat dengan lo. Ternyata gue
punya rasa sama lo. Ify menunduk. Tak sanggup melihat tatapan tajam mata Rio yang
berhasil membuat kerja jantungnya menjadi gila-gilaan seperti saat ini. Fy, mau gak lo..
sebelum Rio menyelesaikan kalimatnya. Ify mengangguk perlahan. Rio yang melihatnya
terbelalak kaget. Serius? Lagi-lagi Ify hanya mengangguk.
Dengan cepat, Rio merengkuh tubuh mungil itu. Didekapnya erat, seakan tak ingin
melepaskannya. Seakan anak kecil yang tak ingin mainannya diambil orang lain. Pemuda itu
merasakan adanya balasan dari Ify. Walaupun tampak ragu.
Pelukan Ify mengerat dan lebih menenggelamkan wajahnya dalam dekapan Rio tatkala suara
petir terdengar memekakkan telinga. Rio tersenyum dan juga mengeratkan pelukannya.
Meyakinkan bahwa ada dirinya disana yang senantiasa menjaga.
Gumaman kecil Ify yang tak terdengar jelas, namun cukup tertangkap dalam indera
pendengaran Rio, membuat pemuda itu terkekeh kecil dan kemudian berujar.
I love you too.
-Fin
+++
Mata kuliah pagi ini dimulai sejak setengah jam yang lalu, dan Ify belum menampakkan
dirinya di sudut manapun. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Maksudku,
aku cukup yakin dia ingat akan dihadapkan dengan Dosen siapa pagi ini. Dosen Yang Tidak
Boleh Disebutkan Namanya. Di luar hujan, dan kuharap Dosen itu bisa berbaik hati untuk
memaafkan dosa Ify.
Kecemasanku sempat teralihkan untuk sesaat ketika mendengar suara ambulans dari arah luar
gedung kampus. Detik berikutnya, pintu kelas berderit terbuka dan memperlihatkan wajah
pucat Ify dari sela-sela pintu dan tembok. Yah, sudah sepantasnya Ify memasang tampang
seperti itu.
Dosen Yang Tidak Boleh Disebutkan Namanya itu menoleh dengan tatapan tajam, membuat
aku (dan mungkin seluruh mahasiswa di kelas ini) meremang. Tapi, di luar dugaan, Ify malah
bisa-bisanya tersenyum lebar di balik wajah pucatnya. Kalau aku jadi dia, aku lebih memilih
mati.
Maaf, Pak, motor saya rusak sewaktu jalan ke sini. Jadi saya numpang mobil ambulans.
Oke. Suasana yang sejak tadi hening terdengar semakin suram setelah ify menamatkan
kalimatnya. Bahkan suara detik jam yang bergaung di ruangan ini pun ikut teredam karena
suasana yang mencekam.
Baiklah, aku tahu Ify tidak begitu pintar. Tapi apakah dia harus menampilkan kebodohannya
di saat seperti ini?
Dosen Yang Tidak Boleh Disebutkan Namanya itu tetap bergeming di kursinya. Aku menelan
ludah (aku bersumpah hanya itu satu-satunya suara yang bisa kudengar) sambil berharap
setengah mati tidak akan ada huruf E di Kartu Hasil Study milik Ify dalam mata kuliah ini.
Apa saya masih boleh ikut kuliah Bapak? tanya Ify sembrono. Nggak dibolehin tanda
tangan juga nggak apa-apa, Pak, asal saya bisa ikut kuliah Bapak. Saya mohon, Pak.
Kalau kalian membayangkan akan mendengar nada mengemis dalam suara Ify barusan,
kalian salah besar. Ify mengatakan kalimatnya dengan nada ceria tanpa rasa takut sedikitpun.
Kecuali wajah pucatnya yang memang membuatku iba. Dia pasti berlari untuk bisa sampai di
sini. Bagaimanapun, dia sahabatku.
Atau nggak, saya mau kok nyanyi sekarang sebagai hukuman. Gimana, Pak?
Tawaran Ify itu benar-benar gila. Dan yang lebih gila, Dosen Yang Tidak Boleh Disebutkan
Namanya itu menerima tawaran Ify!
Ify menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Semuanya dia lakukan dengan mata
terpejam. Kemudian, di depan kelas, Ify mulai menyapukan pandangannya ke semua pasang
mata, yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman sekelas kami sejak semester 1. Kami
semua sudah nyaris tiga tahun bersama, dan hanya Ify yang berani melakukan hal nekat
seperti ini. Kalau ini sih namanya bunuh diri!
Untuk semuanya, maaf aku udah ganggu waktu kalian selama ini. Dan terimakasih sudah
mau menerimaku sampai sekarang, kata Ify, membuatku mengernyitkan dahi. Kalian pasti
kaget banget dengan apa yang aku lakuin barusan. Maksudku, walau terlambat dengan suatu
alasan, kalian pasti nggak akan berani masuk kelas ketika mata kuliah yang Dosennya galak,
kan?
Cetelukan Ify sontak membuat semua yang ada di kelas ini menganga parah. Kecuali Dosen
itu, yang malah tersenyum kecil. Aku ulangi, tersenyum! Otak Ify pasti bergeser hingga ke
pusar.
Tapi aku menyukainya. Kalian tahu, maksudku, sensasi ketika jantung kalian berdebar-
debar. Menakutkan tapi itulah satu-satunya bukti kalau kalian masih hidup. Dan sekarang aku
merindukannya...
Kalian tahu? Aku pernah takut tiap kali memikirkan tentang apa yang kulakukan saat ini,
maksudku, untuk siapa dan untuk apa aku ada di dunia ini? Di sini. Detik ini...
Apa kalian pernah memikirkannya? Tentang segala rencana yang ingin kalian capai, tapi
sesuatu membuat kalian harus menghentikan rencana itu sebelum semuanya bisa tercapai?
Aku harap aku telah cukup meninggalkan hal-hal baik untuk orang-orang yang pernah
mengenalku.
Aku dan yang lain sempat mengernyitkan dahi, tapi tak bertahan lama karena pada saat itu Ify
tersenyum ke arahku. Entah kenapa, aku baru merasakan ada sesuatu yang salah di sini.
Sebelum aku sempat mencari tahu apa itu, Ify segera menggerakan bibirnya untuk bernyanyi.
Uh Oh, Uh Oh
Di tengah merdunya suara Ify, ponselku bergetar. Pesan singkat dari Cakka, tetangga Ify
sekaligus teman kuliahku. Aku mengernyitkan dahi. Sambil curi-curi pandang ke depan kelas,
aku membaca pesan tersebut.
Air mataku mengalir tak tertahankan. Dengan bahu berguncang, aku mengangkat wajahku.
Kesedihan mulai menjalar di setiap aliran darahku. Di sana, Ify masih bernyanyi dengan
tenang, sambil tersenyum padaku.
If I die young, bury me in satin, lay me down on a bed of roses, sink me in a river at dawn,
send me away with the words of love song...
+++
Hai siapapun yang baca tulisan ini! Haha. Aku kangen nulisssss banget tapi rutinitas kuliah
bikin otak jundet dan nggak ada waktu buat berangan-angan lagi:(
Anyway, belakangan aku merasa... somehow, kehilangan diriku yang dulu. Terimakasih
sudah baca!