Karakteristik Dasar Matematika
Karakteristik Dasar Matematika
Secara umum karakteristik matematika adalah: (1) memiliki objek kajian yang abstrak, (2) mengacu pada
kesepakatan, (3) berpola pikir deduktif, (4) konsisten dalam sistemnya, (5) memiliki simbol yang kosong
dari arti, (6) memperhatikan semesta pembicaraan.
Objek matematika adalah objek mental atau pikiran. Oleh karena itu bersifat abstrak. Objek kajian
matematika yang dipelajari di sekolah adalah fakta, konsep, operasi (skill), dan prinsip.
Fakta adalah sebarang permufakatan atau kesepakatan atau konvensi dalam matematika. Fakta
matematika meliputi istilah (nama) dan simbol atau notasi atau lambang. Contoh: 2 adalah simbol untuk
bilangan dua. 2 < 3 adalah gabungan simbol dalam mengungkapkan fakta bahwa dua lebih kecil dari 3
atau dua lebih sedikit dari 3. Pernyataan bahwa 1 km = 1000 m adalah salah satu kesepakatan dalam
matematika. Kesepakatan lain misalnya pada garis bilangan, yaitu sebelah kanan 0 adalah bilangan
positif, sebelah kiri 0 adalah bilangan negatif.
Konsep adalah ide (abstrak) yang dapat digunakan atau memungkinkan seseorang untuk
mengelompokkan atau menggolongkan suatu objek, sehingga objek itu termasuk contoh konsep atau
bukan konsep. Suatu konsep dipelajari melalui definisi. Definisi adalah suatu ungkapan yang membatasi
konsep. Melalui definisi orang dapat menggambarkan, atau mengilustrasikan, atau
membuat skema, atau membuat simbol dari konsep itu. Contoh: Konsep lingkaran didefinisikan
sebagai kumpulan titik-titik pada bidang datar yang berjarak sama terhadap titik tertentu .
Selanjutnya disepakati bahwa titik tertentu itu disebut titik pusat lingkaran. Dengan definisi lingkaran itu
selanjutnya orang dapat, membuat sketsa lingkaran, menggambar bentuk lingkaran. Beberapa konsep
merupakan pengertian dasar yang dapat ditangkap secara alami (tanpa didefinisikan). Contoh: konsep
himpunan. Beberapa konsep lain diturunkan dari konsep-konsep yang mendahuluinya, sehingga
berjenjang. Konsep yang diturunkan tadi memperoleh elemen
dikatakan berjenjang lebih tinggi daripada konsep yang mendahuluinya. Contoh : konsep relasi fungsi
korespondensi satu-satu.
Operasi adalah aturan pengerjaan (hitung, aljabar, matematika, dll.). untuk tunggal dari satu atau lebih
elemen yang diketahui. Operasi yang dipelajari siswa SD adalah operasi hitung. Contoh: Pada 2 + 5 = 7,
fakta + adalah operasi tambah untuk memperoleh 7 dari bilangan 2 dan 5 yang diketahui. Elemen yang
dihasilkan dari suatu operasi disebut hasil operasi. Pada contoh, 7 adalah hasil operasi. Elemen hasil
operasi dan yang dioperasikan dapat mempunyai semesta sama atau berbeda. Pada contoh, bilangan
yang dioperasikan dan hasil operasi mempunyai semesta sama yaitu himpunan bilangan bulat. Operasi
uner adalah operasi terhadap satu elemen yang diketahui. Contoh: operasi pangkat . Operasi biner
adalah operasi terhadap dua elemen yang diketahui.
Contoh: operasi penjumlahan, perkalian. Operasi sering pula disebut skill. Skill adalah keterampilan
dalam matematika berupa kemampuan pengerjaan (operasi) dan melakukan prosedur yang harus
dikuasai oleh siswa dengan kecepatan dan ketepatan yang tinggi. Beberapa keterampilan ditentukan oleh
seperangkat aturan atau instruksi atau prosedur yang berurutan, yang disebut algoritma, misalnya
prosedur menyelesaikan penjumlahan pecahan berbeda penyebut.
Prinsip adalah hubungan antara berberapa objek dasar matematika sehingga terdiri dari beberapa fakta,
konsep dan dikaitkan dengan suatu operasi. Prinsip dapat berupa aksioma, teorema atau dalil, sifat, dll.
Contoh: Pernyataan bahwa luas persegi panjang adalah hasil kali dari
panjang dan lebarnya merupakan prinsip. Pernyataan bahwa persegi panjang mempunyai 4 sudut
siku-siku, sepasang-sepasang sisi yang berhadapan sejajar dan sama panjang merupakan sifat persegi
panjang yang tergolong prinsip.
Fakta matematika meliputi istilah (nama) dan simbol atau notasi atau lambang. Fakta merupakan
kesepakatan atau permufakatan atau konvensi. Kesepakatan itu menjadikan pembahasan matematika
mudah dikomunikasikan. Pembahasan matematika bertumpu pada kesepakatan- kesepakatan. Contoh:
Lambang bilangan 1, 2, 3, ... adalah salah satu bentuk kesepakatan dalam matematika. Lambang
bilangan itu menjadi acuan pada pembahasan matematika yang relevan.
Matematika mempunyai pola pikir deduktif. Pola pikir deduktif didasarkan pada urutan kronologis dari
pengertian pangkal, aksioma (postulat), definisi, sifat-sifat, dalil-dalil (rumus-rumus) dan penerapannya
dalam matematika sendiri atau dalam bidang lain dan kehidupan sehari-hari. Pola pikir deduktif adalah
pola pikir yang didasarkan pada hal yang bersifat umum dan diterapkan pada hal yang bersifat khusus,
atau pola pikir yang didasarkan pada suatu pernyataan yang sebelumnya telah diakui kebenarannya..
Contoh: Bila seorang siswa telah belajar konsep persegi kemudian ia dibawa ke suatu tempat atau
situasi (baru) dan ia mengidentifikasi benda-benda di sekitarnya yang berbentuk persegi maka berarti
siswa itu telah menerapkan pola pikir deduktif (sederhana).
Pernyataan-pernyataan dalam matematika diperoleh melalui pola pikir deduktif, artinya kebenaran suatu
pernyataan dalam matematika harus didasarkan pada pernyataan matematika sebelumnya yang telah
diakui kebenarannya. Suatu pernyataan dalam matematika kadangkala diperoleh melalui pola pikir
induktif. Agar kebenaran pernyataan yang diperoleh secara induktif itu dapat diterima maka harus
dibuktikan terlebih dahulu dengan induksi matematika (dipelajari di SMA dan Perguruan Tinggi).
Tiap sistem dapat saling berkaitan namun dapat pula dipandang lepas (tidak berkaitan). Sistem yang
dipandang lepas misalnya sistem yang terdapat dalam Aljabar dan sistem yang terdapat dalam Geometri.
Di dalam geometri sendiri terdapat sistem-sistem yang lebih kecil atau sempit dan antar sistem saling
berkaitan.
Dalam suatu sistem matematika berlaku hukum konsistensi atau ketaatazasan, artinya tidak boleh terjadi
kontradiksi di dalamnya. Konsistensi ini mencakup dalam hal makna maupun nilai kebenarannya. Contoh:
Bila kita mendefinisikan konsep trapesium sebagai segiempat yang tepat sepasang sisinya sejajar
maka kita tidak boleh menyatakan bahwa jajaran genjang termasuk trapesium. Mengapa? Karena jajaran
genjang mempunyai dua pasang sisi sejajar.
Matematika memiliki banyak simbol. Rangkaian simbol-simbol dapat membentuk kalimat matematika
yang dinamai model matematika. Secara umum simbol dan model matematika sebenarnya kosong dari
arti, artinya suatu simbol atau model matematika tidak ada artinya bila tidak dikaitkan dengan konteks
tertentu. Contoh: simbol x tidak ada artinya. Bila kemudian kita menyatakan bahwa x adalah bilangan
bulat, maka x menjadi bermakna, artinya x mewakili suatu bilangan bulat. Pada model matematika x + y =
40, x dan y tidak berarti, kecuali bila kemudian dinyatakan konteks dari model itu., misalnya: x dan y
mewakili panjang suatu sisi bangun datar tertentu atau x dan y mewakili banyaknya barang jenis I dan II
yang dijual di suatu toko. Kekosongan arti dari simbol-simbol dan model-model matematika merupakan
kekuatanmatematika, karena dengan hal itu matematika dapat digunakan dalam berbagai bidang
kehidupan.
6. Memperhatikan semesta pembicaraan
Karena simbol-simbol dan model-model matematika kosong dari arti, dan akan bermakna bila dikaitkan
dengan konteks tertentu maka perlu adanya lingkup atau semesta dari konteks yang dibicarakan. Lingkup
atau semesta dari konteks yang dibicarakan sering diistilahkan dengan nama
semesta pembicaraan. Ada-tidaknya dan benar-salahnya penyelesaian permasalahan dalam
matematika dikaitkan dengan semesta pembicaraan. Contoh: Bila dijumpai model matematika 4x = 10,
kemudian akan dicari nilai x, maka penyelesaiannya tergantung pada semesta pembicaraan. Bila
semesta pembicaraannya himpunan bilangan bulat maka tidak ada penyelesaiannya. Mengapa? Karena
tidak ada bilangan bulat yang bila dikalikan 4 hasilnya 10. Bila semesta pembicaraannya bilangan
rasional maka penyelesaian dari permasalahan adalah x = 10 : 4 = 2,5.
Pengertian Matematika ( Mathematics Definition of Mathematics)
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan mulai dari tingkat terendah
hingga tingkat tertinggi yakni perguruan tinggi. Matematika memiliki peranan penting dalam
kehidupan manusia, namun tidak semua orang mengerti atau memahami apa matematika itu.
Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau yang
dipelajari, sedangkan matematika dalam bahasa belanda disebutwiskunde yang berarti ilmu pasti
(dalam Shodiq, 2007:4). Mustangin (2002:3) mengungkapkan bahwa matematika sebagai ilmu
mengenai struktur dan hubungan-hubungannya, yang memerlukan simbol-simbol.
National Research Council (NRC)(dalam Shadiq, 2007:6) mengemukakan bahwa: Mathematics
is a science of patterns and order. Artinya, matematika adalah ilmu yang membahas pola atau
keteraturan (pattern) dan tingkatan (order). De Lange (2004:8) mengemukakan bahwa
matematika dapat dilihat sebagai bahasa yang menjelaskan tentang pola-pola baik di alam dan
maupun pola yang ditemukan melalui pikiran. Pola-pola tersebut bisa berbentuk real (nyata)
maupun berbentuk imajinasi, dapat dilihat atau dapat dalam bentuk mental, statis atau dinamis,
kualitatif atau kuantitatif, asli berkait dengan kehidupan nyata sehari-hari atau tidak lebih dari
hanya sekedar untuk keperluan rekreasi. Hal-hal tersebut dapat muncul dari lingkungan sekitar,
dari kedalaman ruang dan waktu, atau dari hasil pekerjaan pikiran insani (Shadiq, 2007:6).
Sumardyono (2004:8) mengemukakan bahwa definisi matematika secara umum
dideskripsikan sebagai berikut:
1. Matematika sebagai struktur yang terorganisasi
Agak berbeda dengan beberapa ilmu pengetahuan lain, matematika merupakan suatu bangunan
struktur yang terorganisir. Sebagai sebuah struktur, ia terdiri atas beberapa komponen yang antara
[Link] juga dipandang sebagai alat mencari solusi berbagai masalah kehidupan
sehari-hari.
Matematika merupakan pengetahuan yang berpola piker deduktif, artinya suatu teori atau
pernyataan dalam matematika diterima kebenarannya bila telah dibuktikan secara deduktif (umum).
Matematika dapat juga dipandang sebagai cara bernalar, paling tidak karena beberapa hal, seperti
matematika memuat cara pembuktian yang sohih (valid), rumus-rumus atau aturan yang umum,
Symbol merupakan ciri yang menonjol dalam [Link] matematika adalah bahasa
symbol yang bersifat artificial, yang baru memiliki arti bila dikenakan pada suatu konteks.
Penalaran yang logis dan efisien serta perbendaharaan ide-ide dan pola-pola yang kreatif dan
menakjubkan, maka matematika sering pula disebut sebagai seni, khususnya merupakan seni yang
kretif.
Wardhani (2010:3) mengemukakan bahwa matematika merupakan buah pikiran manusia
yang kebenarannya bersifat umum atau deduktif dan tidak tergantung dengan metode ilmiah
yang memuat proses induktif. Kebenaran matematika bersifat koheren, artinya didasarkan pada
kebenaran-kebenaran yang telah diterima sebelumnya. Kebenaran matematika bersifat universal
sesuai dengan semestanya.
Dari beberapa pendapat diatas, peneliti mengambil kesimpulan bahwa matematika adalah
bahasa yang menjelaskan tentang pola-pola baik di alam dan maupun pola yang ditemukan
melalui pikiran, simbol-simbol yang berkenaan dengan konsep abstrak, penalarannya bersifat
deduktif dan kebenarannya bersifat universal sesuai dengan semestanya.
Karakteristik Matematika (Characteristics of Mathematics)
Berikut ini beberapa ciri-ciri atau karakteristik matematika secara umum adalah sebagai
berikut (sumardyono, 2004:30):
1. Memiliki objek kajian abstrak
Dalam matematika objek dasar yang dipelajari adalah abstrak, sering juga disebut objek mental.
Objek-objek itu merupakan objek pikiran. Objek dasar itu meliputi (1) fakta, (2) konsep, (3) operasi
ataupun relasi dan (4) prinsip. Dari objek dasar itulah dapat disusun suatu pola dan struktur
matematika.
2. Bertumpu pada kesepakatan
Dalam matematika kesepakatan merupakan tumpuan yang amat penting. Kesepakatan yang amat
mendasar adalah aksioma dan konsep primitif. Aksioma diperlukan untuk menghindarkan berputar-
putar dalam pembuktian. Sedangkan konsep primitif diperlukan untuk menghindarkan berputar-putar
dalam pendefinisian.
3. Berpola pikir deduktif
Matematika merupakan pengetahuan yang memiliki pola pikir deduktif, artinya suatu teori atau
pernyataan dalam matematika dapat diterima kebenarannya apabila telah dibuktikan secara
deduktif.
4. Memiliki simbol yang kosong dari arti
Dalam matematika jelas terlihat banyak sekali simbol yang digunakan, baik berupa huruf ataupun
bukan huruf rangkaian simbol-simbol dalam matematika dapat membentuk suatu model matematika.
Model matematika dapat berupa persamaan, pertidaksamaan, bangun geometrik tertentu, dsb.
Huruf-huruf yang dipergunakan dalam model persamaan, misalnya x + y = z belum tentu bermakna
atau berarti bilangan, demikian juga tanda (+) belum tentu berarti operasi tambah untuk dua
bilangan. Makna huruf dan tanda itu tergantung dari permasalahan yang mengakibatkan
tidaknya penyelesaian suatu model matematika sangat ditentukan oleh semesta pembicaraannya.
6. Konsisten dalam sistemnya.
Dalam matematika terdapat banyak sistem. Ada sistem yang mempunyai kaitan satu sama lain,
tetapi juga ada sistem yang dapat dipandang terlepas satu sama lain. Misal dikenal sistem-sistem
aljabar, sistem-sistem geometri. Sistem aljabar dan sistem geometri tersebut dipandang terlepas
satu sama lain, tetapi di dalam sistem aljabar sendiri terdapat sistem yang lebih kecil yang terkait
Melihat bahwa matematika itu merupakan hasil buah pikir manusia, dimana buah pikir ini
merupakan proses dari penalaran deduktif dan sebuah ilmu pengetahuan yang tersusun
secara hierarki, tidak heran jika matematika memiliki konsep-konsep yang abstrak.
Keabstrakan matematika ini bukan sebagai indikator untuk menjadikan kita anti
terhadapnya, akan tetapi hal ini merupakan penguat bahwa matematika itu memiliki ciri-ciri
atau karakteristik sendiri. Karakteristik atau ciri-ciri matematika itu sendiri menurut
Soedjadi, (2000: 13-19) antara lain (1) memiliki objek kajian abstrak; (2) bertumpu pada
kesepakatan; (3) berpola pikir deduktif; (4) memiliki simbol yang kosong dari arti; (5)
memperhatikan semesta pembicaraan; dan (6) konsisten dalam sistemnya.
Kajian dasar dari objek (pokok pembicaraan) matematika itu adalah abstrak. Akan tetapi,
sebagian ahli mengatakan bahwa objek matematika itu konkret. Anggapan ini tidak salah,
karena dalam menyempurnakan pemahaman mengenainya (terutama memahami yang
abstrak) harus diawali dengan hal-hal yang konkret. Akibatnya, ketajaman pengertian
terhadap hal yang abstrak tersebut dapat tercapai, yakni dapat menangkap sebuah
pengertian sebagai suatu konsep yang abstrak. Karena sifatnya yang demikian ini, objek
matematika itu berkenaan dengan pikiran atau mental. Objek-objek dasar yang sering
dipelajari dalam matematika meliputi beberapa hal, yakni (1) fakta, (2) konsep, (3) Operasi
ataupun relasi, dan (4) prinsip. Dari objek dasar itulah dapat disusun suatu pola dan struktur
matematika.
Pertama, dijelaskan bahwa fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi yang diungkap dengan
simbol tertentu. Misalnya, simbol 13 secara umum dipahami sebagai bilangan tiga
belas, begitu juga dengan fakta-fakta yang lain, yang terdapat dalam matematika.
Simbolisme dalam matematika tidak tersusun dengan sendirinya, akan tetapi merupakan
buah pikir bahwa tiap bahasa yang mewakili fakta matematika haruslah syarat makna,
sehingga mudah untuk dipahami dan berlaku secara umum. Rubenstein & Thompson, (2000:
268) mengingatkan bahwa Symbolism is a form of mathematical language that is compact,
abstract, specific, and formaltherefore, opportunities to use that language should be
regular, rich, meaningful, and rewarding. Simbolisme merupakan bentuk bahasa
matematika yang rapi, abstrak, khusus, dan formal. Karenanya, penggunaan bahasa
seharusnya secara bertahap, kaya, penuh arti, dan bermakna.
Kedua, Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau
mengklasifikasikan sekumpulan objek. Misalnya, segi empat merupakan suatu konsep.
Dengan konsep ini, dapat dibedakan mana contoh yang merupakan segi empat dengan
yang bukan termasuk sebagai segi empat.
Ketiga, Operasi (abstrak) adalah pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar dan pengerjaan
matematika yang lain. Misalnya, penjumlahan, perpangkatan, gabungan, irisan. Pada
umumnya, operasi dalam matematika merupakan aturan khusus atau relasi khusus dalam
memperoleh elemen tunggal dari satu atau lebih elemen yang diketahui.
Keempat, Prinsip, yaitu pernyataan yang menyatakan berlakunya suatu hubungan antara
beberapa konsep. Pernyataan itu dapat menyatakan sifat-sifat suatu konsep, atau hukum-
hukum atau teorema atau dalil yang berlaku dalam konsep itu. Dapat juga dikatakan, bahwa
prinsip ini bisa juga berupa aksioma, atau teorema. Misalnya, teorema tentang Pythagoras,
atau sifat-sifat dalam operasi penjumalahan dan pengurangan.
Matematika dikatakan sebagai ilmu yang berkembang dari hasil pikiran manusia memiliki
pola pikir yang deduktif. Artinya, setiap konsep atau pernyataan yang diperoleh dalam
matematika memperlihatkan bahwa sesuatu itu berangkat dari hal yang masih bersifat
umum menuju kepada yang lebih khusus lagi. Dengan kata lain, setiap konsep atau
pernyataan dalam matematika haruslah bisa diterima oleh pikiran logis manusia. Suatu
konsep atau pernyataan yang diperoleh akibat logis dari kebenaran sebelumnya,
menyebabkan hubungan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat
konsisten. Proses pembuktian secara deduktif ini akan melibatkan suatu formula matematika
lainnya yang sebelumnya sudah dibuktikan secara deduktif juga. Sebagai contoh, ketika
seorang anak dari sebelumnya telah memahami konsep tentang lingkaran, maka ketika
anak tersebut berada pada suatu tempat, tentu anak tersebut akan mudah membedakan
dan menggolongkan mana saja benda-benda yang berbentuk lingkaran dengan benda-
benda yang bukan berbentuk lingkaran. Disini, anak tersebut menggunakan pola pikir
secara sederhana.
Tidak dapat dihindari lagi, bahwa dalam matematika banyak terdapat simbol sebagai akibat
dari simbolisme. Simbol-simbol ini, ada yang berupa huruf, ada pula yang berupa sebuah
lambang khusus. Namun, ketika simbol-simbol dan lambang-lambang matematika ini
dirangkaikan, akan membentuk suatu model. Pada matematika model-model yang dimaksud
bisa berupa persamaan, pertidaksamaan, kesebangunan, dan sebagainya. Dalam
menjelaskan maksud dari karakteristik ini,
Jadi, secara umum suatu model dalam matematika akan bermakna khusus ketika ia
dikaitkan dengan hal atau konteks tertentu. Dengan simbol-simbol matematika inilah yang
kemudian membedakannya dengan simbol bukan matematika. Selain itu, dengan
karakteristiknya ini matematika menjadi memiliki kekuatan, dimana ia dapat memasuki
ataupun dimasuki oleh berbagai cabang keilmuan, seperti bidang psikologi, ataupun oleh
bidang ekonomi.
Sebagai akibat dari pengakuan atas karakteristiknya (simbol yang memiliki arti kosong), tiap
model/simbol dalam matematika tidaklah memiliki arti apa-apa ketika semuanya
dibicarakan lepas begitu saja tanpa ada batasan-batasan seperti semesta pembicaraan.
Semesta pembicaraan ini menjadi sangat penting dalam model/simbol matematika agar
kebenaran hasil akhir darinya (model matematika) dapat diterima secara logis oleh pikiran.
Semesta pembicaraan ini bisa saja bersifat luas, bisa juga bersifat lebih sempit.
Model/simbol dalam matematika merupakan unsur yang secara teratur saling berkaitan
sehingga membentuk suatu totalitas. Keteraturan model/simbol dalam setiap pembahasan,
menjadikan matematika anti terhadap kontradiksi. Sehingga makna dan kebenarannya
selalu dapat diterima secara logis. Misalnya, ketetapan suatu model seperti 3x + 7x = 10x
dan 10x + 5x = 15x, maka 3x + 7x + 5x harus sama dengan 15x.
Secara terminologi, kata komunikasi berarti hubungan timbal balik antar orang dengan
menggunakan bahasa (dan alat); hubungan; kontak; perhubungan. Antara komunikasi
dengan belajar memiliki hubungan yang sangat erat, yakni dalam belajar apapun tak
terkecuali matematika diperlukan keterampilan dalam berkomunikasi, sehingga apa yang
ingin dicapai dapat terwujud dengan maksimal. Dengan komunikasi, seseorang akan dapat
dengan mudah menjawab atau menyesuaikan diri dari segala bentuk dan jenis setiap
perkembangan. Karenanya, keterampilan dalam hal komunikasi penting untuk dikuasai
untuk kemudian dimanfaatkan dalam memenuhi segala kebutuhan hubungannya dengan
hidup bermasyarakat.
Dalam dunia pendidikan, Matematika merupakan salah satu mata pelajaran diberikan
kepada anak didik sejak usia dini sampai pada pendidikan tinggi (sesuai dengan
perkembangannya saat ini). Untuk dapat mengikuti perkembangan zaman, berbagai upaya
telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam memperbaiki dan menyesuaikan materi-materi
matematika hubungannya dengan berbagai hal termasuk anak didik dalam mempelajarinya,
salah satunya adalah organisasi yang disebut NCTM (National Council of Teachers
Mathematics). Van de Walle, (2008: 4) memberikan penjelasan tentang perannya dalam
dunia matematika, bahwa Struktur dari prinsip-prinsip dan standar dari NCTM menekankan
pada keberlanjutan matematika pada semua kelas, dari Pra-TK sampai kelas 12. Porsi
terbesar dari prinsip-prinsip dan standar dikembangkan atas dasar sepuluh standar: lima
standar isi dan lima standar proses.
Perihal komunikasi itu sendiri dalam belajar matematika, merupakan salah satu bagian
dalam prinsip-prinsip dan standar yang disusun NCTM ini, yakni termasuk dalam standar
proses, diantaranya: pemecahan soal, pemahaman dan bukti, komunikasi, hubungan, dan
penyajian (van de Walle, 2008: 4). Standar proses itu sendiri merujuk pada proses
matematika dimana melalui proses tersebut, anak didik diharapkan dapat memperoleh dan
menggunakan pengetahuan matematika. Dokumen-dokumen seperti ini dirancang dan
dikembangkan untuk mendorong baik guru maupun anak didik dapat berinteraksi dengan
mudah dalam proses pembelajaran matematika itu sendiri. Adapun standar proses (untuk
poin standar komunikasi) dari prinsip-prinsip dan standar matematika sekolah menurut
NCTM, adalah:
Program pengajaran dari Pra-TK sampai kelas 12 harus memungkinkan semua anak didik
untuk:
Komunikasi matematis merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam belajar
matematika. Oleh karena itu, mempelajari matematika, anak didik diharuskan memiliki
kompetensi yang memadai. Kompetensi dalam komunikasi matematis ini nantinya akan
memberikan kemampuan anak didik dalam berbicara, menulis, menggambarkan, dan
menjelaskan konsep-konsep matematika serta membawa anak didik pada pemahaman yang
mendalam tentang matematika. Proses berkomunikasi dalam matematika diperlukan alat
berupa bahasa dan matematika merupakan alat bahasa yang digunakan untuk
berkomunikasi. Selain itu, matematika merupakan bahasa yang universal, yang mana satu
simbol saja dalam matematika dapat dipahami oleh setiap orang di dunia ini, sehingga
menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Barton, (2008: 152) menjelaskan ide-ide
matematika yang akan dikomunikasikan harus sistematis, sehingga matematika dihasilkan.
Hal ini yang menyebabkan mengapa matematika dan bahasa harus berkembang bersama.
Beberapa pandangan tentang komunikasi, seperti yang oleh Polla, (1999) yang menyatakan
bahwa komunikasi merupakan hal yang penting dalam proses pembelajaran (matematika)
sebagai dasar untuk memperoleh perbendaharaan informasi. Pendapat lain mengatakan
Mathematical communication is an essential process for learning mathematics because
through communication, students reflect upon, clarify and expand their ideas and
understanding of mathematical relationships and mathematical arguments. (Ontario
Ministry of Education, 2005). Komunikasi matematis merupakan satu proses penting dalam
belajar matematika karena melalui komunikasi, anak didik dapat mencerminkan,
menjelaskan dan memperluas ide-ide mereka dan cpemahaman dari hubungan matematis
dan argumen matematis. Sudrajat, (2001: 18) memberikan pandangannya juga tentang
komunikasi dalam pembelajaran itu sendiri. Ia mengatakan, bahwa komunikasi itu
merupakan:
Sementara itu, Kennedy, Tipps & Johnson, (2008: 21) menerangkan bahwa Komunikasi
merupakan hal yang sangat mendasar dalam belajar matematika. Dalam setiap proses
pembelajaran, anak didik akan berbagi pemikiran dan meningkatkan penalaran mereka
melalui diskusi-diskusi lisan maupun tertulis. Beberapa hal yang termasuk komunikasi
matematik menurut Utari-Sumarmo, (2005: 7), diantaranya adalah:
1. Menyatakan suatu situasi, gambar, diagram, atau benda nyata ke dalam bahasa,
simbol, ide, atau model matematika.
2. Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematika secara lisan atau tulisan.
3. Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika.
4. Membaca dengan pemahaman suatu representasi matematika tertulis.
5. Membuat konjektur, merumuskan definisi, dan generalisasi.
6. Mengungkapkan kembali suatu uraian atau paragraf matematika dalam bahasa
sendiri.
Tanpa komunikasi dalam matematika, kita hanya akan sedikit memiliki keterangan, data,
dan fakta tentang pemahaman anak didik dalam melakukan proses dan aplikasi
matematika. Pendapat ini menyiratkan makna bahwa dengan komunikasi matematik, guru
tertolong untuk dapat lebih memahami kemampuan anak didik pada saat
menginterpretasikan dan mengungkapkan pemahamannya tentang ide matematika yang
sedang atau telah mereka pelajari selama proses pembelajaran. Komunikasi juga dapat
meningkatkan dan menuntun pada perkembangan pemikiran, sehingga memungkinkan
untuk guru dan anak didik dalam meningkatkan kualitas komunikasinya atau komunikasi
diantaranya akan semakin kuat.
Pola pikir matematika sekolah; Jika dengan mempelajari matematika akan membiasakan
berpikir tiap individu secara deduktif, maka tidak demikian dengan mempelajari matematika
di sekolah. Tahap perkembangan dan kemampuan berpikir anak didik harus tetap menjadi
perhatian utama. Artinya, bahwa membelajarkan matematika di sekolah dapat dilakukan
dengan pola deduktif ataupun pola induktif, sesuai dengan kebutuhan dari pokok
pembicaraannya. Dengan demikian, anak didik dapat dengan mudah mencerna, mendalami
dan mengembangkan pengetahuannya dalam menerima materi-materi matematika.
Misalnya, dalam membelajarkan materi tentang bangun ruang, anak didik dapat dibawa
pada keadaan dimana mereka bisa menyaksikan langsung contoh-contoh bangun ruang
yang ada disekitar mereka. Sehingga, guru dapat mengetahui anak didik mana yang sudah
mampu dan belum mampu membedakan yang namanya bangun ruang dan bukan bangun
ruang.
Keterbatasan semesta; Dengan tetap tidak mengurangi perhatian pada kebutuhan dan
menyesuaikan dengan tujuan yang ada, semesta pembicaraan pada matematika sekolah
lebih diperkecil cakupannya dan lebih disederhanakan. Semesta pembicaraan harus tetap
menjadi perioritas utama, karena berhubungan dengan usia dan tingkat pemahaman anak
didik. Semakin tinggi tingkat usia anak didik, maka semakin tinggi pula tahapan
perkembangannya. Misalnya saja pada pembelajaran tentang geometri dan pengukuran.
Anak didik yang berada pada jenjang sekolah dasar kelas IV masih dibatasi pada materi
tentang bangun ruang sederhana seperti balok dan kubus, tidak dengan bangun ruang yang
lain, seperti tabung, ataupun prisma.
Di sekolah dasar (SD), lebih diutamakan kepekaan terhadap bilangan (sense of numbers).
Pengertian kepekaan terhadap bilangan lebih luas daripada sekedar keterampilan berhitung.
Ini juga meliputi aspek perkiraan hasil hitungan, kelayakan penggunaan bilangan dan satuan
dalam pengukuran, serta penghargaan terhadap manfaat bilangan dan keindahan pola-pola
bilangan.
Penyesuaian ini juga harus memperhatikan kenetralan matematika itu sendiri. Hal ini akan
memberikan beberapa dampak terutama kepada guru yang berperan sebagai motivator,
dan fasilitator. Beberapa hal yang menjadi dampak dari terjaganya kenetralan matematika,
antara lain: 1) Membantu guru memahami matematika itu sendiri, 2) Membantu guru
memahami bagaimana anak didik dalam belajar matematika, 3) Membantu guru dalam
memahami konsep matematika yaitu konsep yang sesuai dengan tahapan perkembangan
anak didik, dan 4) Membantu guru dalam menyediakan ide-ide atau gagasan-gagasan guna
untuk aktivitas dalam membelajarkan matematika.
Materi matematika sekolah masih bersifat elementer (tidak kompleks), tetapi merupakan
konsep yang esensial sebagai dasar untuk prasyarat konsep yang berikutnya (konsep yang
lebih tinggi). Peranan matematika di sekolah sangatlah penting, baik untuk guru yang akan
membelajarkan maupun anak didik yang akan mempelajarinya. Anak didik sangat
memerlukan matematika di sekolah, sebagai bahan untuk memenuhi kebutuhan mereka
yang tergolong praktis dalam memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari. Selain
itu, pemberian matematika di sekolah juga akan mendukung anak didik dalam membangun
dan membantu perkembangan pengetahuannya pada bidang yang lain serta agar anak didik
dapat berpikir logis dan kritis. Peranan lain dari diberikannya matematika di sekolah adalah
untuk matematika itu sendiri. Jika matematika ini tidak lagi diberikan pada lingkungan
pendidikan (di sekolah), maka perkembangan matematika itu menjadi terganggu dan tidak
mustahil pada akhirnya akan mengakibatkan kepunahan.
Pendidikan matematika ini menjadi penting karena perannya yang sangat vital. Meskipun
pendidikan matematika di sekolah berbeda dengan pendidikan matematika sebagai ilmu,
akan tetapi secara umum dampak yang dapat diperoleh oleh pembelajarnya pada dasarnya
akan tetap sama. Pendidikan matematika diberikan pada semua jenjang sekolah, baik itu
sekolah formal maupun sekolah informal, bahkan dimulai dari sejak dini (Taman Kanak-
Kanak), pendidikan dasar hingga pendidikan menengah. Secara umum tujuan diberikannya
pendidikan matematika pada dunia pendidikan terutama pada jenjang pendidikan dasar dan
pendidikan umum, adalah:
Rumusan tujuan dari pendidikan sekolah, baik itu pada jenjang pendidikan dasar maupun
pendidikan menengah harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak serta
karakteristik dari matematika itu sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya
kebutuhan yang praktis akibat dari mempelajari matematika. Penyesuaian ini, dalam dunia
pendidikan biasanya tertuang dalam kurikulum pembelajaran. Dengan demikian, apa yang
menjadi tujuan awal serta fungsi yang diharapkan dari hasil mempelajari matematika ini
menjadi tercapai, yakni anak didik sejak dini memiliki pengetahuan dalam mempersiapkan
dirinya sendiri menjadi dewasa.