0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
230 tayangan39 halaman

Langkah Perhitungan Debit Rencana Metode Rasional

Perhitungan debit rencana menggunakan metode rasional melibatkan beberapa langkah seperti membagi daerah pengaliran menjadi sub-daerah, menghitung luas dan koefisien aliran masing-masing, menentukan waktu konsentrasi, dan menghitung debit rencana menggunakan rumus yang melibatkan intensitas hujan dan luas daerah pengaliran. Data curah hujan dan karakteristik daerah sangat diperlukan dalam perhitungan ini

Diunggah oleh

Mirnanda Cambodia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
230 tayangan39 halaman

Langkah Perhitungan Debit Rencana Metode Rasional

Perhitungan debit rencana menggunakan metode rasional melibatkan beberapa langkah seperti membagi daerah pengaliran menjadi sub-daerah, menghitung luas dan koefisien aliran masing-masing, menentukan waktu konsentrasi, dan menghitung debit rencana menggunakan rumus yang melibatkan intensitas hujan dan luas daerah pengaliran. Data curah hujan dan karakteristik daerah sangat diperlukan dalam perhitungan ini

Diunggah oleh

Mirnanda Cambodia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Langkah-langkah Perhitungan Debit Rencana dengan Metode Rasional

Bangunan-bangunan air yang berada di sungai yang peruntukannya sebagai bangunan

pengatur dan perbaikan sungai serta pengendalian banjir, dalam perencanaannya selalu

memperhitungkan debit rencana. Bangunan-bangunan air tersebut antara lain pintu air, kanal

banjir, tebing sungai, tanggul, kolam penampung banjir sementara, check dam, dll.

Apa yang dimaksud dengan debit rencana ? Debit rencana (QT) adalah debit dengan

periode ulang tertentu (T) yang diperkirakan akan melalui suatu sungai atau bangunan air.

Periode ulang sendiri adalah waktu hipotetik dimana suatu kejadian dengan nilai tertentu,

debit rencana misalnya, akan disamai atau dilampaui 1 kali dalam jangka waktu hipotetik

tersebut. Curah hujan itu sesuatu yang bersifat tidak pasti (probabilitas), otomatis kejadian

(debit) yang terjadi pada kurun waktu tertentu bukan berarti akan berulang secara teratur

setiap periode ulang tersebut. Misalnya, debit rencana dengan periode ulang 5 tahun (Q5) =

10 m3/detik, tidak berarti debit sebesar 10 m3/detik akan terjadi secara periodik 1 kali dalam

setiap 5 tahun. Dalam 5 tahun ada kemungkinan 1 kali terjadi debit yang besarnya sama atau

lebih dari 10 m3/detik. Dalam 10 tahun ada kemungkinan 2 kali terjadi debit yang besarnya

sama atau lebih dari 10 m3/detik.

Perhitungan debit rencana menjadi bagian yang sangat penting dalam perencanaan

teknis bangunan sungai, karena nilai (besar-kecilnya) debit rencana akan menentukan besar

kecilnya dimensi hidrolis suatu bangunan air. Dimensi hidrolis suatu bangunan air yang lebih

besar akan lebih aman dalam mengalirkan debit tertentu, namun dimensi yang lebih besar

akan berdampak pada pembengkakan biaya. Sebaliknya dimensi hidrolis bangunan air yang

lebih kecil akan menjadi kurang aman dalam mengalirkan debit tertentu. Muara dari

perhitungan debit rencana adalah mendapatkan dimensi hidrolis (kapasitas) yang ideal dan

terbaik, terbaik dari segi teknis maupun ekonomi.


Dalam melakukan perhitungan debit rencana, data atau informasi dasar yang minimal

harus ada dan sangat dibutuhkan adalah sebagai berikut :

a Data klimatologi yang terdiri dari data hujan, angin, kelembapan dan temperatur dari stasiun

BMKG terdekat. Data tersebut minimal data dalan kurun waktu 10 tahun terakhir.
b Data hidrologi, seperti karakteristik daerah aliran, debit sungai, laju sedimentasi, frekuensi

banjir, dll.
c Peta-peta yang representatif, seperti peta tata guna lahan, peta topografi, peta sistem jaringan

jalan, peta sistem drainase, dll.

Ada beberapa metode yang sering digunakan dalam menghitung atau memperkirakan

besarnya debit rencana, seperti Metode Rasional, Melchior, Weduwen, Haspers, dll. Namun

kali ini yang akan dibahas hanyalah langkah-langkah perhitungan debit rencana secara garis

besar dengan Metode Rasional.

Metode Rasional dapat digunakan untuk menghitung debit puncak sungai atau

saluran, namun dengan daerah pengaliran yang terbatas.

Rumus umum dari Metode Rasional adalah :

Q = 0,278 x C x I x A ............................... (I)

Keterangan :
Q = debit puncak limpasan permukaan (m3/det).
C = angka pengaliran (tanpa dimensi)
A = luas daerah pengaliran (Km2)
I = intensitas curah hujan (mm/jam).

Jika persamaan diatas digunakan untuk menghitung debit rencana dengan periode

ulang tertentu, maka persamaan tersebut menjadi :

QT= 0,278 x C x IT x A ................................... (II)

Keterangan :
QT = debit puncak limpasan permukaan dengan periode ulang T tahun (m3/det).
C = angka pengaliran (tanpa dimensi)
A = luas daerah pengaliran (Km2)
Dengan melihat kenyataan di lapangan dimana sangat sulit menemukan daerah

pengaliran yang homogen (tidak melulu aspal semua atau hutan semua, pasti merupakan

gabungan atau heterogen), nilai C dapat dihitung dengan persamaan berikut :

............................................ (III)

Cara lain menghitung debit rencana adalah mensubtitusikan persamaan II dan III

sehingga menjadi seperti ini :

Q = 0,278 x IT x ( Ai x Ci) ....................................... (IV)

Keterangan :
Ci = Koefisien limpasan sub daerah pengaliran ke i
Ai = luas sub daerah pengaliran ke i
n = jumlah sub daerah pengaliran

Metode Rasional bisa dikembangkan dengan asumsi sebagai berikut :

a Hujan yang terjadi mempunyai intensitas yang seragam dan merata di seluruh daerah
pengaliran selama paling sedikit sama dengan waktu konsentrasi (tc) daerah pengaliran.
b Periode ulang debit sama dengan periode ulang hujan.
c Koefisien pengaliran dari daerah pengaliran yang sama adalah tetap untuk berbagai periode
ulang.

Selanjutnya langkah-langkah perhitungan debit rencana adalah sebagai berikut :


1 Jika koefisien limpasan dari suatu daerah pengaliran atau daerah aliran sungai (DAS) adalah
tidak seragam maka daerah pengaliran atau DAS tersebut dibagi-bagi terlebih dahulu menjadi
sub DAS (Ai) sesuai dengan tata guna lahan (Ci).
2 Ukur tiap-tiap luas Ai
3 Hitung C Rata-rata pakai persamaan III
4 Hitung Ai Ci
5 Hitung waktu konsentrasi menggunakan rumus Kirpich

.................................. (V)

Keterangan :
Tc = waktu konsentrasi (jam)
L = Panjang lintasan air dari titik terjauh sampai titik yang ditinjau (Km).
S = Kemiringan rata-rata daerah lintasan air

6 Hitung intensitas hujan (I)


Jika data hujan yang tersedia adalah data harian maka hitung dengan menggunakan metode
Mononobe :
Rumus Mononobe :

............................................................. (VI)

7 Setelah poin 1-6 hasilnya telah didapat, masukan dalam rumus untuk mendapatkan debit
rencana (Qt). Sesuaikan dengan ketersediaan data dan karakteristik daerah aliran, persamaan
mana yang dipakai, apakah persamaan II atau IV untuk mendapatkan nilai debit rencana ?
Hal yang sifatnya fundamental untuk diperhatikan dalam melakukan perhitungan

debit rencana adalah ketersediaan data, seperti harus tersedia data-data dalam periode waktu

yang panjang guna menjadi bahan kajian (data curah hujan, debit sungai, frekuensi banjir

misalnya).

Kira-kira seperti itu langkah-langkah perhitungan debit rencana secara garis besar

dengan Metode Rasional. Mungkin kelihatan agak rumit dan susah dicerna. Akan mudah

dipahami kalau ada datanya yang dibuat dalam contoh soal, umumnya debit rencana banyak

tabelnya dan perhitungannya panjang, namun ruang di blog ini terbatas. Jadi ringkasan

langkah-langkah perhitungan debit rencana dengan Metode Rasional demikian. (*)

Sumber Pustaka :

Kamiana, I Made. 2001. Teknik Perhitungan Debit Rencana Bangunan Air. Graha Ilmu. Yogyakarta
Perhitungan Dengan Metode Rasional

Diposkan oleh ze Juq di 03.35


Dalam perhitungan debit desain berdasarkan metode rasional, ada
beberapa asumsi yang dipakai, yaitu:
1. Debit aliran yang dihasilkan dari sembarang intensitas hujan mencapai
maksimum bilamana intensitas hujan ini berlangsung selama lebih lama
dari waktu tiba banjir.

2. Kekerapan debit maksimum sama dengan kekerapan intensitas hujan


untuk lamanya hujan tertentu.
3. Hubungan debit maksimum dengan luas DAS (daerah aliran sungai)
sama dengan hubungan antara lamanya hujan dengan intensitas hujan.
4. Koefisien aliran sama untuk berbagai kekerapan
5. Koefisien aliran sama untuk semua hujan pada suatu DAS

Debit desain metode rasional dihitung dengan menggunakan rumus


sebagai berikut:
Q = 0,278 x C x I x A

dengan :
Q = debit puncak banjir (m3/det)
C = koefisien aliran
I = intensites hujan selama waktu tiba banjir (mm/jam)
A = luas DPS (km2), diukur dari peta topografi

Koefisien aliran diperkirakan dengan Tabel Mononobe. Apabila tersedia


data aliran koefisien aliran dapat ditentukan dengan membandingkan
antara aliran langsung yang diakibatkan oleh hujan pada suatu periode
banjir dengan jumlah curah hujan rata-rata pada DAS yang
Thursday, 19 November 2015
PERHITUNGAN Debit Banjir Rencana, Debit Andalan (Q ANDALAN).

BAB II

ANALISIS DATA

2.1 Curah Hujan Harian

Curah hujan merupakan salah satu parameter hidrologi yang sangat


penting untuk perancangan jaringan irigasi selain evapotranspirasi, debit puncak
dan debit harian, serta angkutan sedimen.

Analisis mengenai curah hujan sangat penting dalam Perancangan bendung


untuk jaringan irigasi. Salah satu elemen penting dalam Perancangan bendung
tersebut adalah mengetahui debit banjir rancangan. Untuk menentukan debit
banjir rancangan yang dimaksud, maka diperlukan data hujan maksimum untuk
beberapa tahun. Data curah hujan diambil dari Kantor Dinas Perairan. Data yang
didapat berupa soft copy data curah hujan selama 12 tahun

2.2 Daerah Aliran Sungai ( DAS )

Peta batas DAS telah diberikan sebelumnya dengan skala 1:25000. Pertama
kali lokasi bendung ditentukan dahulu. Sehingga diperoleh batas DAS dari hulu
sampai lokasi bendung. Untuk mengetahui hujan maksimum setiap tahun dari 4
stasiun secara bersama diperlukan bobot yang dicari melalui pengukuran luas
DAS.

Terdapat tiga macam metode perhitungan luas DAS, yaitu Metode Poligon
Thiessen, Metode Aljabar, dan Metode Isohyet. Di antara ketiga metode tersebut
dipilih Metode Poligon Thiessen karena pengerjaannya lebih mudah dan hasil
yang diberikan lebih akurat.

Langkah-langkah perhitungan luas DAS adalah sebagai berikut:


1. Buat garis lurus yang menghubungkan setiap stasiun dan diusahakan
sedemikian rupa sehingga setiap ujungnya membentuk segitiga-segitiga (apabila
banyak stasiun) dengan sudut yang lancip dan tidak tumpul.

2. Dari bentuk segitiga tersebut untuk setiap sisinya dibuat garis tegak lurus tepat
pada pertengahan garis, maka akan didapatkan bentuk-bentuk luasan yang
dimiliki setiap stasiun.

3. Hitung luas masing-masing stasiun.

4. Hitung bobot setiap stasiun dengan cara :

Contoh perhitungan:

Dari hasil perhitungan luas, diketahui luas Stasiun Prumpung sebesar


2 2
20,6278125 km sedangkan total luas DAS adalah 59,56875 km . Sehingga
diperoleh bobot untuk Stasiun Prumpung adalah:

Bobot Stasiun Prumpung=

Perhitungan bobot masing-masing stasiun disajikan dalam Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Luas DAS dan Bobot Masing-masing Stasiun

2.3 Data Hujan Harian Rata Rata dan Maksimum Daerah


Jumlah bobot harus 1 atau dalam persen harus 100%. Bobot inilah yang
kemudian dikalikan dengan data hujan harian setiap stasiun untuk setiap hari
pada setiap tahun, dari data hujan harian rata-rata daerah maka akan dihasilkan
data hujan maksimum (Hmaks) daerah setiap tahun (1988-2004). Untuk
menghitung hujan harian rata-rata daerah digunakan rumus:

Keterangan :

L1 = Luas wilayah stasiun 1

L2 = Luas wilayah stasiun 2

L3 = Luas wilayah stasiun 3

Ln = Luas wilayah stasiun ke-n

R1 = Curah hujan pada stasiun 1 pada suatu tanggal tertentu

R2 = Curah hujan pada stasiun 2 pada suatu tanggal tertentu

R3 = Curah hujan pada stasiun 3 pada suatu tanggal tertentu

Rn = Curah hujan pada stasiun ke-n pada suatu tanggal tertentu

= Curah hujan harian rata rata daerah pada tanggal ybs

Contoh perhitungan hujan harian rata-rata daerah pada 05 Februari 1988;

L. Santan x R Santan = 63,756

L. Kemput x R Kemput = 18,3456

L. Prumpung x R Prumpung = 6,934

L. Bronggang x R. Bronggang = 0 +

Total = 89,0356 mm.km2

Hujan rata-rata ( ) = 89,0356mm.km2/Luas Das

= 89,0356/59,56875
= 1,4947 mm

Maka hujan harian rata-rata daerah pada tanggal 5 Februari 1988 adalah
1,4947 mm. Data curah hujan hujan maksimum daerah didapat dengan mencari
nilai maksimum dari curah hujan harian rata-rata daerah pada setiap tahunnya.

Tabel 2.2 Hujan Harian Maksimum Daerah

Hujan
No Tahun
(mm)

1 1988 89,0356

2 1989 78,5385

3 1990 46,6747

4 1991 79,8789

5 1992 68,4085

6 1993 45,8742

7 1994 45,4063

8 1995 78,4154

9 1997 70,6674

10 2000 92,1903

11 2003 58,2555

12 2004 47,6414

Rata-rata 66,7488

2. 4 Pengujian Statistika Data Hujan


2.4.1 Analisa Frekuensi Hujan Rencana

Ada beberapa jenis distribusi statistik yang dapat dipakai untuk menentukan
besarnya

curah hujan rencana, seperti distribusi Gumbel, Log Pearson III, Log Normal, dan
beberapa

cara lain. Metodemetode ini harus diuji mana yang bisa dipakai dalam perhitungan.

1. Distribusi normal
Distribusi normal adalah simetris terhadap sumbu vertikal dan berbentuk
lonceng yang juga disebut distribusi Gauss. Distribusi normal mempunyai dua
parameter yaitu rerata dan deviasi standar dari [Link] analisis
hidrologi distribusi normal banyak digunakan untuk menganalisis frekuensi curah
hujan, analisis statistik dari distribusi curah hujan tahunan, debit rata-rata
tahunan. Distribusi normal atau kurva normal disebut pula distribusi Gauss.

Xt = X + KT S
dimana,
XT : Perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T.
X : Nilai rata rata hitung varian.
S : Deviasi standar nilai varian.
KT : Faktor frekuensi,
Nilai factor frekuensi dapat dilihat pada tabel reduksi Gauss:

Tabel 2.3 Reduksi Gauss

PUH peluang KT

1,0014 0,999 -3,05

1,005 0,995 -2,58

1,01 0,99 -2,33

1.05 0,95 -1,64

1,11 0,9 -1,28

1,25 0,8 -0,84

1,33 0,75 -0,67

1,43 0,7 -0,52

1,67 0,6 -2,5

2 0,5 0
2,5 0,4 0,25

3,33 0,3 0,52

4 0,25 0,67

5 0,2 0,84

10 0,1 1,28

20 0,05 1,64

50 0,02 2,05

100 0,01 2,33

200 0,005 2,58

500 0,002 2,88

1000 0,001 3,09

2. Distribusi Log normal


Distribusi Log normal digunakan apabila nilai-nilai dari variabel random tidak
mengikuti distribusi normal,tetapi nilai logaritmanya memenuhi distribusi
normal.
Distribusi Log Normal, merupakan hasil transformasi dari distribusi Mengubah
data X kedalambentuklogaritmik Y = log X
Rumus yang digunakan dalam perhitungan metode ini adalah sebagai berikut :
Xt = X + Kt . Sx

dimana,
Xt = besarnya curah hujan yang mungkin terjadi pada periode ulang T tahun
(mm/hari).
Sx = Standar deviasi = 2
X = curah hujan rata-rata (mm/hari)
Kt = Standar variabel untuk periode ulang tahun

3. Distribusi Gumbel

Distribusi Gumbel banyak digunakan untuk analisis data maksimum,seperti


untuk analisis frekuensi banjir.
K = Faktor probabilitas.

Untuk harga ektrim dapt dinyatakan dengan persamaan berikut:

Metode Distribusi Frekuensi Gumbel

keterangan:
XT = besarnya curah hujan yang terjadi dengan kala ulang T tahun
X = rata-rata x maksimum dari seri data Xi
k = faktor frekuensi
Yn, Sn = besaran yang mempunyai fungsi dari jumlah pengamatan
Yt = reduksi sebagai fungsi dari probabilitas
n = jumlah data

Tabel 2.4 Hubungan antara deviasi Standar dan reduksi variant dengan
jumlah data

N Sn n Sn n Sn n Sn

10 0,949 22 1,075 55 1,168 90 1,200


6 4 1 7

11 0,967 25 1,091 60 1,174 100 1,266


6 5 7 5

12 0,993 30 1,112 65 1,180


3 4 3

13 0,997 35 1,128 70 1,185


1 5 4

14 1,009 40 1,141 75 1,189


5 3 3

15 1,020 45 1,151 80 1,193


6 9 8

20 1,062 50 1,169 85 1,197


8 7 3

Sumber : Soewarno,1995
Tabel 2.5 Hubungan Reduksi Variat Rata-Rata(Yn) dengan jumlah data

N Yn n Yn n Yn

10 0,4952 36 0,5410 62 0,5527

11 0,4996 37 0,5418 82 0,5572

12 0,5053 38 0,5421 83 0,5574

13 0,5070 58 0,5518 84 0,5576

14 0,5100 59 0,5518 85 0,5578

34 0,5396 60 0,5521 86 0,5580

35 0,5402 61 0,5524

Sumber : Soewarno,1995

4. Distribusi Log-Pearson Tipe III

Distribusi Log-Pearson Tipe III banyak digunakan dalam analisis hidrologi,


terutama dalam analisis data maksimum (banjir) dan minimum (debit minimum)
dengan nilai [Link] komulatif dari distribusi Log-Pearson Tipe III dengan
nilai variatnya X apabila digambarkan pada kertas peluang logaritmik
(logarithmic probability paper) akan merupakan model matematik persamaan
garis lurus. Persamaan garis lurusnya adalah:

Dengan:

Y = nilai logarimik dari X

= nilai rata-rata dari Y

S = standart deviasi dari Y

K = karakteristik dari distribusi Log-Pearson Tipe III

Tahapan untuk menghitung hujan rancangan maksimum dengan metode Log-


Pearson Tipe III adalah sebagai berikut (Suwarno, 1995: 142):

a. Hujan harian maksimum diubah dalam bentuk logaritma.

b. Menghitung harga logaritma rata-rata dengan rumus

c. Menghitung harga simpangan baku dengan rumus :

d. Menghitung harga koefisien asimetri dengan rumus :

e. Menghitung logaritma hujan rancangan dengan kala ulang tertentu dengan


rumus:
f. Menghitung antilog XT untuk mendapatkan curah hujan rancangan dengan kala
ulang tertentu atau dengan membaca grafik pengeplotan X T dengan peluang
pada kertas logaritma.

Tabel 2.6 Faktor frekuensi (K) fungsi dari nilai koefisien asimetri (Cs)
dan kala ulang (T)

Pengujian Der Weduwen tersebut melalui perhitungan dispersi. Langkah


langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

Perhitungan Dispersi:

Tabel 2.7 perhitungan dispersi

(Xi- (Xi- (Xi-


X=Hujan(m Xrata2)^ Xrata2)^ Xrata2)^
No Tahun m) (Xi-Xrata2) 2 3 4

22,2867083 496,69736 11069,74 246708,27


1 1988 89,0356 3 83 938 57

11,7896083 138,99486 1638,695 19319,572


2 1989 78,5385 3 47 015 4

- -
20,0741916 402,97317 8089,360 162387,37
3 1990 46,6747 7 11 67 66

13,1300083 172,39711 2263,575 29720,766


4 1991 79,8789 3 88 607 58

1,65960833 2,7542998 4,571058 7,5861674


5 1992 68,4085 3 2 934 99

- -
20,8746916 435,75275 9096,204 189880,46
6 1993 45,8742 7 22 34 1

- -
21,3425916 455,50621 9721,683 207485,91
7 1994 45,4063 7 91 23 56

11,6665083 136,10741 1587,898 18525,228


8 1995 78,4154 3 67 311 88

3,91850833 15,354707 60,16754 235,76704


9 1997 70,6674 3 56 952 42

10 2000 92,1903 25,4414083 647,26525 16467,33 418952,31


3 8 973 42

- -
8,49339166 612,6937 5203,8480
11 2003 58,2555 7 72,137702 57 5

- -
19,1074916 365,09623 6976,073 133295,26
12 2004 47,6414 7 78 32 28

-
3341,0371 1404,018 1431722,3
Jumlah 800,9867 0 16 68 75

Setelah diketahui nilai dari faktor faktor dari perhitungan di atas dapat
ditentukan metode distribusi mana yang dapat dipakai, seperti disajikan dalam
tabel berikut :

Tabel 2.8 syarat penentuan distribusi

Jenis Syarat Perhitungan Kesimpulan


Distribusi

Normal Cs 0 Cs = -0,0214 Tidak

Ck = 3 Ck = 0,7871 memenuhi

Gumbel Cs 1,1396 Cs = -0,0214 Memenuhi

Ck 5,4002 Ck = 0,7871

Log Pearson Cs 0 Cs = -0,0214 Tidak


III Memenuhi

Log Normal Cs 3Cv + Cv2 = 3Cv + Cv2 = Tidak


3 0,9493
memenuhi
Ck = 5,383 Ck= 0,7871

Koef. Skewness (Cs) -0,0214

Koef. Kurtosis (Ck) 0,7871

Koef. Variasi (Cv) 0,2886

Dari tabel diatas maka yang memenuhi syarat adalah dengan menggunakan
Distribusi Gumbel. Untuk memastikan pemilihan distribusi tersebut, perlu
dilakukan perbandingan hasil perhitungan statistik dengan ploting data diatas
kertas. probabilitas dan uji Der Weduwen.

2.5 Uji Kebaikan Suai

Diperoleh jenis sebaran termasuk jenis Normal. Setelah diperoleh jenis


sebaran dilakukan uji kebaikan suai dengan metode uji chi-kuadrat. Perhitungan
uji chi-kuadrat dapat dilihat di Tabel di bawah ini.

Perhitungan uji chi-kuadrat

Interval dibagi 4 kelas (G=4). Kemudian dicari derajat kebebasan (DK) dengan
menggunakan rumus:

Tabel 2.9 perhitungan chi kuadrat

(Of-
P Ef Of Ef)^2 (Of-Ef)2/Ef

37,6089X53,203
63 3 4 1 0,333333

53,2036368,79
830 3 2 1 0,333333

68,7983084,39
297 3 4 1 0,333333

84,3929799,98
763 3 2 1 0,333333

X2 = 1,333333

DK=2

chi-kritik= 5,9918

X2<chi kritik ok!

Dari hasil perhitungan di atas didapat nilai X2 sebesar 1,3333yang kurang


dari nilai X2 pada tabel uji chi kuadrat yang besarnya adalah 5,99148. Maka dari
pengujian kecocokan penyebaran distribusi Gumbel dapat diterima.

2.6 Analisis Debit Banjir Metode der Weduwen


Analisis metode ini hampir sama dengan Metode Haspers hanya saja
rumusan koefisiennya yang berbeda

Qn =C..q.A

1. Koefisien Aliran (C) dihitung dengan rumus

C =

dengan, = koefisien reduksi

2. Koefisien Reduksi () dihitung dengan rumus

dengan, = koefisien reduksi

t = waktu konsentrasi (jam)

A = luas DAS (km2)

3. Modul banjir maksimum menurut der Weduwen dirumuskan

q =

dengan t = waktu konsentrasi / lama hujan terpusat (jam)

4. Waktu konsentrasi (t) dihitung dengan

t = 0,25 L Qn-0,125 i-0,25

dengan i = kemiringan sungai rata-rata

L = panjang sungai (km)

Metode ini harus dihitung dengan trial and error sehingga ketepatan antara
waktu konsentrasi dengan debit sama atau mendekati sama. Hasil kali dari Qn
dengan hujan rencana kala ulang T tahun (RT) merupakan debit banjir yang
dicari.

Perhitungan der weduwen

Dicoba t = 3,95 jam

( 4 + 1)

= 120 + ( 4 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7951
qn = 67,65

3,95 + 1,45

qn = 12,5278 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7951 x 12,5278 + 7

= 0,7583

Qn = 0,7583 x 0,7951 x 12,5278 x 59,5688

Qn = 449,9000 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (449,9)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 3,9416 jam

Dicoba t = 3,9458 jam

( 3,9458 + 1)

= 120 + ( 3,9458 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

3,9458 + 1,45

qn = 12,5375 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,5375 + 7

= 0,7412

Qn = 0,7412 x 0,7051 x 12,5375 x 59,5688

Qn = 390,3152 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (390,3152)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)


t = 4,0122 jam

Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rat a-
rata

Dicoba t = 3,979 jam

( 3,979 + 1)

= 120 + ( 3,979 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

3,9790 + 1,45

qn = 12,4608 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,4608 +7

= 0,7403

Qn = 0,7403 x 0,7051 x 12,4608 x 59,5688

Qn = 387,4631 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (387,4631)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0159 jam

Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata

Dicoba t = 3,9975 jam

( 3,9975 + 1)

= 120 + ( 3,9975 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051
qn = 67,65

3,9975 + 1,45

qn = 12,4186 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,4186 + 7

= 0,7398

Qn = 0,7398 x 0,7051 x 12,4186 x 59,5688

Qn = 385,8952 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (385,8952)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0179 jam

Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata

Dicoba t = 4,0077 jam

( 4,0077 + 1)

= 120 + ( 4,0077 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

4,0077 + 1,45

qn = 12,3953 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,3953 + 7

= 0,7395

Qn = 0,7395 x 0,7051 x 12,3953 x 59,5688


Qn = 385,0297 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (385,0297)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0191 jam

Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata

Dicoba t = 4,0134 jam

( 4,0134 + 1)

= 120 + ( 4,0134 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

4,0134 + 1,45

qn = 12,3824 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,3824 + 7

= 0,7394

Qn = 0,7394 x 0,7051 x 12,3824 x 59,5688

Qn = 384,5507 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (384,5507)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0197 jam

Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata

Dicoba t = 4,0165 jam

( 4,0165 + 1)

= 120 + ( 4,0165 + 9) 59,56875


120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

4,0165 + 1,45

qn = 12,3753 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,3753 + 7

= 0,7393

Qn = 0,7393 x 0,7051 x 12,3753 x 59,5688

Qn = 384,2854 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (384,2854)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,02 jam

Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata

Dicoba t = 4,0183 jam

( 4,0183 + 1)

= 120 + ( 4,0183 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

4,0183 + 1,45

qn = 12,3713 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,3713 + 7
= 0,7392

Qn = 0,7392 x 0,7051 x 12,3713 x 59,5688

Qn = 384,1382 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (384,1382)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0202 jam

Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata

Dicoba t = 4,0193 jam

( 4,0193 + 1)

= 120 + ( 4,0193 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

4,0193 + 1,45

qn = 12,3691 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,3691 + 7

= 0,7392

Qn = 0,7392 x 0,7051 x 12,3691 x 59,5688

Qn = 384,0566 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (384,0566)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0203 jam

Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata

Dicoba t = 4,0198 jam


( 4,0198 + 1)

= 120 + ( 4,0198 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

4,0198 + 1,45

qn = 12,3679 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,3679 + 7

= 0,7392

Qn = 0,7392 x 0,7051 x 12,3679 x 59,5688

Qn = 384,0114 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (384,0114)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0204 jam

Ok, maka

Qn = 1,6000 x Rn

Dicoba t = 4,0201 jam

( 4,0201 + 1)

= 120 + ( 4,0201 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

4,0201 + 1,45

qn = 12,3672 m3/det.km2
= 1- 4,1

0,7051 x 12,3672 + 7

= 0,7392

Qn = 0,7392 x 0,7051 x 12,3672 x 59,5688

Qn = 383,9862 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (383,9862)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0204 jam

Ok, maka

Qn = 1,5999 x Rn

Dicoba t = 4,0203 jam

( 4,0203 + 1)

= 120 + ( 4,0203 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

4,0203 + 1,45

qn = 12,3668 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,3668 + 7

= 0,7392

Qn = 0,7392 x 0,7051 x 12,3668 x 59,5688

Qn = 383,9723 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (383,9723)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0205 jam
Ok, maka

Qn = 1,5999 x Rn

Dicoba t = 4,0204 jam

( 4,0204 + 1)

= 120 + ( 4,0204 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

4,0204 + 1,45

qn = 12,3666 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,3666 + 7

= 0,7392

Qn = 0,7392 x 0,7051 x 12,3666 x 59,5688

Qn = 383,9646 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (383,9646)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0205 jam

Ok, maka

Qn = 1,5999 x Rn

Dicoba t = 4,0204 jam

( 4,0204 + 1)

= 120 + ( 4,0204 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051
qn = 67,65

4,0204 + 1,45

qn = 12,3665 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,3665 + 7

= 0,7392

Qn = 0,7392 x 0,7051 x 12,3665 x 59,5688

Qn = 383,9603 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (383,9603)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0205 jam

Ok, maka

Qn = 1,5998 x Rn

Dicoba t = 4,0204 jam

( 4,0204 + 1)

= 120 + ( 4,0204 + 9) 59,56875

120 + 59,56875

= 0,7051

qn = 67,65

4,0204 + 1,45

qn = 12,3665 m3/det.km2

= 1- 4,1

0,7051 x 12,3665 + 7

= 0,7392

Qn = 0,7392 x 0,7051 x 12,3665 x 59,5688


Qn = 383,9579 m3/det

t = 0,125 x 29,8125 x (383,9579)^(-0,125) x (0,0377)^(-0,25)

t = 4,0205 jam

Ok, maka

Qn = 1,5998 x Rn

2.7 Perhitungan Nilai Hujan Rencana (Rn)

Penentuan hujan (R) kala ulang ini digunakan untuk menentukan debit banjir
rencana (Q) kala ulang 1 tahun (Q2), 10 tahun (Q10), 25 tahun (Q25), 50 tahun
(Q50), 100 tahun (Q100),dan 200 tahun (Q200). Cara mendapatkan besarnya hujan
dengan kala ulang 1 tahun (R2), 10 tahun (R10), 25 tahun (R25), 50 tahun (R50),
100 tahun (R100) ,dan 200 tahun (R200) adalah sebagai berikut :

Perhitungan CH kala ulang untuk kala ulang 2 tahun) :

Rata-rata (X) = 66,7489

S = 19,2672

Yt = 0,3665

Yn = 0,5053

Sn = 0,9933

CH kala ulang = Rata-rata + S/Sn x (Yt Yn)

= 66,74889 + 19,2672/0,9933 (0,3665 0,5053)

= 64,05718728

Tabel 2.10 Besarnya Hujan (Rn)

Yn Hujan
No X S Yt Sn
Periode ulang Maksimum

66,748 19,267 0,505 0,993


1 89 24 -0,834 3 3 40,77021837

1 2 66,748 19,262 0,366 0,505 0,993 64,05718728


89 74 5 3 3

66,748 19,267 1,499 0,505 0,993


2 5 89 24 9 3 3 86,04134136

66,748 19,267 2,250 0,505 0,993


3 10 89 24 2 3 3 100,5950577

66,748 19,267 2,970 0,505 0,993


4 20 89 24 2 3 3 114,5610389

66,748 19,267 3,901 0,505 0,993


5 50 89 24 9 3 3 132,6334067

66,748 19,267 0,505 0,993


6 100 89 24 4,605 3 3 146,2715753

2.8 Debit Banjir Rencana

Sebelum menghitung debit, dilakukan trial and error untuk mendapatkan


Qn. Setelah melakukan trial didapatkan nilai Qn =1,6.

Contoh Perhitungan (untuk periode ulang 50 tahun pada) :

Qn = 1,6 x Rn

= 1,6x 133,6334067

= 212,21345

2.9 Perhitungan Nilai Hujan Rencana Minimum

Penentuan hujan (R) kala ulang ini digunakan untuk menentukan debit banjir
minimum rencana (Q) kala ulang 1 tahun (Q2), 10 tahun (Q10), 25 tahun (Q25), 50
tahun (Q50), 100 tahun (Q100),dan 200 tahun (Q200). Cara mendapatkan besarnya
hujan dengan kala ulang 1 tahun (R2), 10 tahun (R10), 25 tahun (R25), 50 tahun
(R50), 100 tahun (R100) ,dan 200 tahun (R200) adalah sebagai berikut :

Perhitungan CH kala ulang untuk kala ulang 2 tahun) :

Rata-rata (X) = 8,05719

S = 2,30997

Yt = 0,3665
Yn = 0,5053

Sn = 0,9933

CH kala ulang = Rata-rata + S/Sn x (Yt Yn)

= 8,05719 + 2,30997/0,9933 (0,3665 0,5053)

= 7,736343579

Tabel 2.11 Besarnya Hujan (Rn)

Periode Hujan
No ulang X S Yt Yn Sn Maksimum

8,057 2,309 0,505 0,999


1 1 19 97 -0,834 3 3 4,961280042

8,057 2,309 0,366 0,505 0,999


2 2 19 97 5 3 3 7,736343579

8,057 2,309 1,499 0,505 0,999


3 5 19 97 9 3 3 10,35630156

8,057 2,309 2,250 0,505 0,999


4 10 19 97 2 3 3 12,09068877

8,057 2,309 2,970 0,505 0,999


5 20 19 97 2 3 3 13,75503476

8,057 2,309 3,901 0,505 0,999


6 50 19 97 9 3 3 15,9087447

8,057 2,309 0,505 0,999


7 100 19 97 4,605 3 3 17,53402479

2.10 Debit Andalan

Sebelum menghitung debit, dilakukan trial and error untuk mendapatkan


Qn. Setelah melakukan trial didapatkan nilai Qn =1,6.

Contoh Perhitungan (untuk periode ulang 1 tahun pada) :

Qn = 1,6 x Rn

= 1,6 x 4,961280042

= 7,9380481
KESIMPULAN

1. Dari hasil perhitungan CV,CS dan CK yaitu 0,288652509, -0,021414269 dan


0,787059018 diatas lalu dibandingkan dengan syarat yang ada pada masing-
masing disribusi peluang, maka distribusi peluang yang dipakai adalah distribusi
Gumbel ,uji Chi kuadrat, dan Der Weduwen.

2. Dari hasil analisis hujan rencana pada bab II diperoleh besarnya hujan dengan
kala ulang 1 tahun (R1), 2 tahun (R2), 5 tahun (R5), 10 tahun (R10), 25 tahun (R25),
50 tahun (R50), 100 tahun (R100). Besar kala ulang 1 tahun < 2 tahun < 5 tahun <
10 tahun < 25 tahun < 50 tahun < 100 tahun .

DAFTAR PUSTAKA

Triatmodjo, Bambang. 2008. Hidrologi Terapan. Beta Offset: Yogyakarta.

Tata cara untuk menentukan debit andalan

By Seiyacrush
Untuk menentukan debit andalan, dapat digunakan beberapa metode, hal ini tergantung dari
data yang tersedia. Data tersebut bisa berupa data hujan tengah bulan atau debit sungai tengah
bulan atau bulanan. Jika kedua data tersebut tersedia, maka dapat diambil salah satu saja. Jika
ada data banjir prosedurnya dengan analisa probabilitas data debit sedang jika menggunakan
data curah hujan tengah bulanan atau bulanan maka prosedurnya adalah sebagai berikut:

1. Tentukan stasiun hujan yang berpengaruh di daerah aliran tersebut


2. Catat data hujan tengah bulanan atau bulanan pada rentang waktu yang dikehendaki
3. Hitung curah hujan rata-rata daerah
4. Mentranformasikan data curah hujan daerah menjadi debit sesuai metode yang dikuasai
(Mock, Nreca, Simple Water Balance)
5. Analisis distribusi frekuensi untuk menentukan tahun atau bulan dasar rencana sesuai
dengan metode dan tingkat keandalan yang dikehendaki.
6. Analisis basic month/Basic year diuraikan sebagai berikut.
- Hasil perhitungan debit.
- Jumlahkan semua data.
- Urutkan data tersebut dari besar ke kecil.
7. Hitung probabilitasnya dengan rumus :
P(%) = x 100
dengan,
P = probabilitas kejadian (%)
m = nomor urut data
n = jumlah data dalam analisis (bulan)
Urutkan data sesuai dengan probabilitas dari ter kecil ke terbesar, pilih besarnya harga debit
sesuai dengan tingkat probabilitas yang dikehendaki (dapat menggunakan interpolasi)
atau khusus untuk probabilitas keberhasilan 80 % dapat dengan rumus:
Q80 = 0,[Link]
dengan,
= rata-rata data
Sd = standart deviasi
8. Infromasi debit andalan dapat ditentukan setiap satuan data yang dihitung (misalkan tengah
bulan atau bulanan)

B. Cara untuk menentukan debit banjir rencana


Untuk menentukan debit banjir rencana, dapat digunakan beberapa metode, hal ini tergantung
dari data yang tersedia. Data tersebut bisa berupa data debit sungai harian atau data curah
hujan harian. Jika kedua data tersebut tersedia, maka dapat diambil salah satu saja. Jika ada
data banjir prosedurnya dengan analisa frekuensi data debit sedang jika menggunakan data
curah hujan harian maka prosedurnya adalah sebagai berikut:
Langkah-langkah perhitungan adalah :
1. Ditentukan stasiun hujan saat terjadi curah hujan harian maksimum.
2. Dicari besarnya curah hujan pada tanggal yang sama untuk stasiun hujan lainnya.
3. Dengan salah satu metode misalkan poligon Thiessen dihitung rerata curah hujan tersebut.
4. Ditentukan curah hujan maksimum harian (seperti langkah no 1) pada tahun yang sama
untuk stasiun hujan yang lain.
5. Ulangi langkah no. 2 sampai no. 3 untuk setiap tahun.
6. Dari hasil rata-rata Thiessen pilih salah satu tertinggi pada setiap tahun.
7. Data curah hujan yang terpilih setiap tahun itu merupakan hujan daerah harian maksimum.
8. Menghitung besarnya curah hujan rata-rata (Xn).
9. Menghitung curah hujan rerata tanpa memasukkan data-data hujan yang maksimum (Xn-
m).
10. Menghitung simpangan baku (Sn).
11. Menghitung simpangan baku tanpa memasukkan data-data hujan yang maksimum (Sn-
m).
12. Mencari harga faktor koreksi Xn.
13. Mencari harga koreksi Sn.
14. Mencari harga faktor koreksi Sn dan Xn.
15. Menghitung X terkoreksi = Xn.
16. Menghitung Sn terkoreksi = Sn.
17. Mencari harga Km.
18. Menghitung Curah hujan rencana.
19. Mencari faktor reduksi luas DAS.
20. Mencari faktor reduksi yang dipengaruhi oleh lamanya pencatat curah hujan.
21. Menghitung Debit dengan salah satu metode yang diusulkan misalkan gama 1.
REKAYASA HIDROLOGI

REKAYASA HIDROLOGI
Rangkuman, UTS 20 April 2012
Terdapat banyak surah dalam Al-Quran yang menyebutkan dan atau menjelaskan tentang
siklus hidrologi/ siklus air, diantaranya:
Q.S 15 ayat 22, Q.S 23 ayat 18, Q.S 35 ayat 91, Q.S 39 ayat 21, Dan sebagainya.
Berikut ini adalah salah satu dari surah diatas, yaitu Q.S 23 ayat 18,
Artinya:
Dan Kami menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu kami jadikan air itu menetap
di bumi, dan pasti kami berkuasa melenyapkannya.

Pengertian Siklus Hidrologi


Air yang menguap dari permukaan tanah, laut dan sungai terangkat
keatas akibat perbedaan temperatur yang sangat tinggi, kemudian
bercampur dengan debu dan partikel-partikel lain membentuk awan yang
akan terus mengalir dimana temperatur udara lebih rendah yang akhirnya
terkondensasi dan dapat membentuk awan hujan (mendung). Selanjutnya
dari awan menurunkan hujan yang jatuh ke permukaan bumi, sebagian
terhalang oleh tumbuhan, sebagian masuk ke permukaan tanah, dan
sebagian langsung masuk ke sungai, selanjutnya mengalir kembali ke laut
sehingga tercipta siklus hidrologi.

Unsur-unsur Siklus Hidrologi


a) Perkolasi yaitu proses berubahnya air menjadi uap air karena pengaruh sinar / radiasi
matahari
b) Rembesan (Infiltrasi) yaitu proses meresapnya air kedalam tanah karena tanah yang
bersangkutan mempunyai porositas / pori-pori /permiabel
c) Intersepsi yaitu proses tertahannya air oleh tumbuh-tumbuhan / tanam-tanaman sebelum air
tersebut jatuh keatas permukaan tanah
d) Angin yaitu udara yang bergerak sejajar permukaan bumi atau pergerakan massa udara dari
tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah
e) Kondensasi yaitu proses pendinginan uap air sehingga mengalami sublimasi kembali menjadi
butiran air, es/salju
f) Aliran Permukaan (Runn Off) yaitu aliran air diatas permukaan tanah menuju tempat yang
lebih rendah
g) Tampungan (Retensi) yaitu air hujan yang tertahan di daratan baik pada sebuah cekungan
(danau) maupun air tanah
h) Hujan (Prespirasi) yaitu proses jatuhnya hasil kondensasi uap air berupa massa air, es atau
salju dari atmosfer ke daratan ataupun ke laut
i) Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu suatu sungai apabila semua curah hujan yang jatuh di
daerah tersebut akan menyebabkan terjadinya aliran permukaan sungai yang bersangkutan
j) Evaporasi yaitu proses berubahnya air menjadi uap air akibat radiasi matahari
k) Transpirasi yaitu berlangsungnya proses penguapan akibat proses metabolisme tumbuhan
(fotosintesis)
Metode/ Formula Talbot

Dimana : I = Intensitas curah hujan (mm/jam)


t = lamanya curah hujan
a dan b = konstanta yang tergantung pada lamanya curah hujan yang terjadi di daerah
aliran dan dapat dicari sbb :

Contoh Tabel perhitungan persamaan IDF untuk T = 5 tahun memakai Metode Talbot adalah
sbb :
NO. t (menit) I I.t I2 I2.t
1 5 271.2 1356 73549.4 367747.2
2 10 193.8 1938 37558.4 375584.4
3 15 165.2 2478 27291.0 409365.6
4 20 174.0 3480 30276.0 605520
5 45 87.7 3948 7697.1 346371.2
6 60 74.3 4458 5520.5 331229.4
7 120 43.4 5202 1879.2 225506.7
8 180 31.0 5580 961.0 172980
9 360 18.2 6546 330.6 119028.1
10 720 11.6 8352 134.6 96883.2
Jumlah ( ) 1070.4 43338 185197.96 3050215.8

Dari metode Talbot diperoleh persamaan Intensitas untuk tahun ulang T = 5 tahun, yaitu :

Sehingga untuk masing-masing durasi hujan diperoleh besaran sbb :

Sehingga untuk masing-masing durasi hujan diperoleh besaran sbb :


Evapotranspirasi Metode Thornwaite
Metode Thornthwaite
Rumus :
1. Contoh soal (evapotranspirasi model Thornthwaite) :
Kita akan menghitung evapotranspirasi potensial cara Thornthwaite untuk bulan Juli 1947
dengan suhu rata-rata bulanan sebesar 30oC. Dari pengamatan bertahun-tahun didapat suhu
rata-rata bulanan, yang dengan demikian dapat dihitung indeks panasnya
seperti berikut :
Bulan troC I atau j
1 -5 0,00
2 0 0,00
3 5 1,00
4 9 2,43
5 13 4,25
6 17 6,38
7 19 7,55
8 17 6,38
9 13 4,25
10 9 2,43
11 5 1,00
12 0 0,00
Jumlah 35,67

Jawab :
Dik : to = 30oC
I = indeks panas total = 35,67
a = 675 x 10-9 I3 771 x 10-7 I2 + 178 x 10-4 I + 0,498
= 1,6 x 10-2 I + 0,5
= 1,6 x 10-2 x 35,67 + 0,5
a = 1,070
Dit : Ep ?
Jawab :

Posted by Handy Hamdany at 5:06:00 AM


PERHITUNGAN METODE INTENSITAS CURAH HUJAN
Salah satu metode yang umum digunakan untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit banjir atau debit rencana) yaitu
Metode Rasional USSCS (1973). Metode ini digunakan untuk daerah yang luas pengalirannya kurang dari 300 ha
(Goldman [Link]., 1986, dalam Suripin, 2004). Metode Rasional dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa curah hujan yang
terjadi mempunyai intensitas seragam dan merata di seluruh daerah pengaliran selama paling sedikit sama dengan waktu
konsentrasi (tc). Persamaan matematik Metode Rasional adalah sebagai berikut :
Q=0,278.C.I.A
dimana :
Q : Debit (m3/detik)
0,278 : Konstanta, digunakan jika satuan luas daerah menggunakan km2
C : Koefisien aliran
I : Intensitas curah hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)
A : Luas daerah aliran (km2)
Di wilayah perkotaan, luas daerah pengaliran pada umumnya terdiri dari beberapa daerah yang mempunyai karakteristik
permukaan tanah yang berbeda (subarea), sehingga koefisien pengaliran untuk masing-masing subarea nilainya berbeda,
dan untuk menentukan koefisien pengaliran pada wilayah tersebut dilakukan penggabungan dari masing-masing subarea.
Variabel luas subarea dinyatakan dengan Aj dan koefisien pengaliran dari tiap subarea dinyatakan dengan C j, maka untuk
menentukan debit digunakan rumus sebagai berikut :

dimana :
Q : Debit (m3/detik)
Cj : Koefisien aliran subarea
I : Intensitas curah hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)
Aj : Luas daerah subarea (km2)
Biasanya dalam perencanaan bangunan pengairan (misalnya drainase), debit rencana sangat diperlukan untuk mengetahui
kapasitas yang seharusnya dapat ditampung oleh sebuah drainase, agar semua debit air dapat ditampung dan teralirkan. Oke
kita masuk ke intinya, metode yang biasa digunakan dalam perhitungan intensitas curah hujan adalah sebagai berikut:
Metode Mononobe

_
dimana :
I : Intensitas curah hujan (mm/jam)
t : Lamanya curah hujan / durasi curah hujan (jam)
R24 : Curah hujan rencana dalam suatu periode ulang, yang nilainya didapat dari tahapan sebelumnya (tahapan analisis frekuensi)
Keterangan :
R24 , dapat diartikan sebagai curah hujan dalam 24 jam (mm/hari)

Contoh kasusnya seperti ini, jika anda ingin mengetahui intensitas curah hujan dari data curah hujan harian selama 5 menit,
pengerjaannya adalah sebagai berikut (jika diketahui curah hujan selama satu hari bernilai 56 mm/hari) :

_
Ket :
Ubah satuan waktu dari menit menjadi jam. Contoh durasi selama 5 menit menjadi durasi selama 5/60 atau selama 0,833
jam.
Gampang kan bagaimana cara mendapatkan intensitas curah hujan dari curah hujan harian. Sekarang kita masuk ke metode
kedua, yaitu :
Metode Van Breen
Berdasarkan penelitian Ir. Van Breen di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, curah hujan terkonsentrasi selama 4 jam dengan
jumlah curah hujan sebesar 90% dari jumlah curah hujan selama 24 jam (Anonim dalam Melinda, 2007).
Perhitungan intensitas curah hujan dengan menggunakan Metode Van Breen adalah sebagai berikut :

dimana :
IT : Intensitas curah hujan pada suatu periode ulang (T tahun)
RT : Tinggi curah hujan pada periode ulang T tahun (mm/hari)
Oke, dengan nilai yang sama dengan nilai yang digunakan dalam Metode Mononobe, maka perhitungan intensitas curah
hujan dengan Metode Van Breen, menghasilkan nilai sebagai berikut :

_
Udah liat kan, ternyata nilai intensitas curah hujan selama 5 menit dengan nilai curah hujan harian mencapai 56 mm/hari
dengan menggunakan Metode Van Breen, nilainya lebih besar dibandingkan dengan perhitungan intensitas curah hujan
menggunakan Metode Mononobe.
Oke, metode ketiga adalah sebagai berikut :
Metode Haspers dan Der Weduwen
Metode ini berasal dari kecenderungan curah hujan harian yang dikelompokkan atas dasar anggapan bahwa curah hujan
memiliki distribusi yang simetris dengan durasi curah hujan lebih kecil dari 1 jam dan durasi curah hujan lebih kecil dari 1
sampai 24 jam ( Melinda, 2007 )
Perhitungan intensitas curah hujan dengan menggunakan Metode Haspers & der Weduwen adalah sebagai berikut :
_
dimana :
I : Intensitas curah hujan (mm/jam)
R, Rt : Curah hujan menurut Haspers dan Der Weduwen
t : Durasi curah hujan (jam)
Xt : Curah hujan harian maksimum yang terpilih (mm/hari)
Dengan nilai contoh yang sama, akan tetapi dengan ditambah dengan durasi 60 menit :

Yups, yang terakhir ini agak ribet dikarenakan metode ini mempunyai dua persamaan yang berbeda tergantung durasi yang
akan dicari.
Oh, iya intensitas curah hujan sendiri dapat diartikan sebagai berikut :
Intensitas curah hujan adalah jumlah curah hujan yang dinyatakan dalam tinggi hujan atau volume hujan tiap satuan
waktu, yang terjadi pada satu kurun waktu air hujan terkonsentrasi (Wesli, 2008). Besarnya intensitas curah hujan berbeda-
beda tergantung dari lamanya curah hujan dan frekuensi kejadiannya. Intensitas curah hujan yang tinggi pada umumnya
berlangsung dengan durasi pendek dan meliputi daerah yang tidak luas. Hujan yang meliputi daerah luas, jarang sekali
dengan intensitas tinggi, tetapi dapat berlangsung dengan durasi cukup panjang. Kombinasi dari intensitas hujan yang
tinggi dengan durasi panjang jarang terjadi, tetapi apabila terjadi berarti sejumlah besar volume air bagaikan ditumpahkan
dari langit. (Suroso, 2006)

Anda mungkin juga menyukai