Langkah Perhitungan Debit Rencana Metode Rasional
Langkah Perhitungan Debit Rencana Metode Rasional
pengatur dan perbaikan sungai serta pengendalian banjir, dalam perencanaannya selalu
memperhitungkan debit rencana. Bangunan-bangunan air tersebut antara lain pintu air, kanal
banjir, tebing sungai, tanggul, kolam penampung banjir sementara, check dam, dll.
Apa yang dimaksud dengan debit rencana ? Debit rencana (QT) adalah debit dengan
periode ulang tertentu (T) yang diperkirakan akan melalui suatu sungai atau bangunan air.
Periode ulang sendiri adalah waktu hipotetik dimana suatu kejadian dengan nilai tertentu,
debit rencana misalnya, akan disamai atau dilampaui 1 kali dalam jangka waktu hipotetik
tersebut. Curah hujan itu sesuatu yang bersifat tidak pasti (probabilitas), otomatis kejadian
(debit) yang terjadi pada kurun waktu tertentu bukan berarti akan berulang secara teratur
setiap periode ulang tersebut. Misalnya, debit rencana dengan periode ulang 5 tahun (Q5) =
10 m3/detik, tidak berarti debit sebesar 10 m3/detik akan terjadi secara periodik 1 kali dalam
setiap 5 tahun. Dalam 5 tahun ada kemungkinan 1 kali terjadi debit yang besarnya sama atau
lebih dari 10 m3/detik. Dalam 10 tahun ada kemungkinan 2 kali terjadi debit yang besarnya
Perhitungan debit rencana menjadi bagian yang sangat penting dalam perencanaan
teknis bangunan sungai, karena nilai (besar-kecilnya) debit rencana akan menentukan besar
kecilnya dimensi hidrolis suatu bangunan air. Dimensi hidrolis suatu bangunan air yang lebih
besar akan lebih aman dalam mengalirkan debit tertentu, namun dimensi yang lebih besar
akan berdampak pada pembengkakan biaya. Sebaliknya dimensi hidrolis bangunan air yang
lebih kecil akan menjadi kurang aman dalam mengalirkan debit tertentu. Muara dari
perhitungan debit rencana adalah mendapatkan dimensi hidrolis (kapasitas) yang ideal dan
a Data klimatologi yang terdiri dari data hujan, angin, kelembapan dan temperatur dari stasiun
BMKG terdekat. Data tersebut minimal data dalan kurun waktu 10 tahun terakhir.
b Data hidrologi, seperti karakteristik daerah aliran, debit sungai, laju sedimentasi, frekuensi
banjir, dll.
c Peta-peta yang representatif, seperti peta tata guna lahan, peta topografi, peta sistem jaringan
Ada beberapa metode yang sering digunakan dalam menghitung atau memperkirakan
besarnya debit rencana, seperti Metode Rasional, Melchior, Weduwen, Haspers, dll. Namun
kali ini yang akan dibahas hanyalah langkah-langkah perhitungan debit rencana secara garis
Metode Rasional dapat digunakan untuk menghitung debit puncak sungai atau
Keterangan :
Q = debit puncak limpasan permukaan (m3/det).
C = angka pengaliran (tanpa dimensi)
A = luas daerah pengaliran (Km2)
I = intensitas curah hujan (mm/jam).
Jika persamaan diatas digunakan untuk menghitung debit rencana dengan periode
Keterangan :
QT = debit puncak limpasan permukaan dengan periode ulang T tahun (m3/det).
C = angka pengaliran (tanpa dimensi)
A = luas daerah pengaliran (Km2)
Dengan melihat kenyataan di lapangan dimana sangat sulit menemukan daerah
pengaliran yang homogen (tidak melulu aspal semua atau hutan semua, pasti merupakan
............................................ (III)
Cara lain menghitung debit rencana adalah mensubtitusikan persamaan II dan III
Keterangan :
Ci = Koefisien limpasan sub daerah pengaliran ke i
Ai = luas sub daerah pengaliran ke i
n = jumlah sub daerah pengaliran
a Hujan yang terjadi mempunyai intensitas yang seragam dan merata di seluruh daerah
pengaliran selama paling sedikit sama dengan waktu konsentrasi (tc) daerah pengaliran.
b Periode ulang debit sama dengan periode ulang hujan.
c Koefisien pengaliran dari daerah pengaliran yang sama adalah tetap untuk berbagai periode
ulang.
.................................. (V)
Keterangan :
Tc = waktu konsentrasi (jam)
L = Panjang lintasan air dari titik terjauh sampai titik yang ditinjau (Km).
S = Kemiringan rata-rata daerah lintasan air
............................................................. (VI)
7 Setelah poin 1-6 hasilnya telah didapat, masukan dalam rumus untuk mendapatkan debit
rencana (Qt). Sesuaikan dengan ketersediaan data dan karakteristik daerah aliran, persamaan
mana yang dipakai, apakah persamaan II atau IV untuk mendapatkan nilai debit rencana ?
Hal yang sifatnya fundamental untuk diperhatikan dalam melakukan perhitungan
debit rencana adalah ketersediaan data, seperti harus tersedia data-data dalam periode waktu
yang panjang guna menjadi bahan kajian (data curah hujan, debit sungai, frekuensi banjir
misalnya).
Kira-kira seperti itu langkah-langkah perhitungan debit rencana secara garis besar
dengan Metode Rasional. Mungkin kelihatan agak rumit dan susah dicerna. Akan mudah
dipahami kalau ada datanya yang dibuat dalam contoh soal, umumnya debit rencana banyak
tabelnya dan perhitungannya panjang, namun ruang di blog ini terbatas. Jadi ringkasan
Sumber Pustaka :
Kamiana, I Made. 2001. Teknik Perhitungan Debit Rencana Bangunan Air. Graha Ilmu. Yogyakarta
Perhitungan Dengan Metode Rasional
dengan :
Q = debit puncak banjir (m3/det)
C = koefisien aliran
I = intensites hujan selama waktu tiba banjir (mm/jam)
A = luas DPS (km2), diukur dari peta topografi
BAB II
ANALISIS DATA
Peta batas DAS telah diberikan sebelumnya dengan skala 1:25000. Pertama
kali lokasi bendung ditentukan dahulu. Sehingga diperoleh batas DAS dari hulu
sampai lokasi bendung. Untuk mengetahui hujan maksimum setiap tahun dari 4
stasiun secara bersama diperlukan bobot yang dicari melalui pengukuran luas
DAS.
Terdapat tiga macam metode perhitungan luas DAS, yaitu Metode Poligon
Thiessen, Metode Aljabar, dan Metode Isohyet. Di antara ketiga metode tersebut
dipilih Metode Poligon Thiessen karena pengerjaannya lebih mudah dan hasil
yang diberikan lebih akurat.
2. Dari bentuk segitiga tersebut untuk setiap sisinya dibuat garis tegak lurus tepat
pada pertengahan garis, maka akan didapatkan bentuk-bentuk luasan yang
dimiliki setiap stasiun.
Contoh perhitungan:
Keterangan :
L. Bronggang x R. Bronggang = 0 +
= 89,0356/59,56875
= 1,4947 mm
Maka hujan harian rata-rata daerah pada tanggal 5 Februari 1988 adalah
1,4947 mm. Data curah hujan hujan maksimum daerah didapat dengan mencari
nilai maksimum dari curah hujan harian rata-rata daerah pada setiap tahunnya.
Hujan
No Tahun
(mm)
1 1988 89,0356
2 1989 78,5385
3 1990 46,6747
4 1991 79,8789
5 1992 68,4085
6 1993 45,8742
7 1994 45,4063
8 1995 78,4154
9 1997 70,6674
10 2000 92,1903
11 2003 58,2555
12 2004 47,6414
Rata-rata 66,7488
Ada beberapa jenis distribusi statistik yang dapat dipakai untuk menentukan
besarnya
curah hujan rencana, seperti distribusi Gumbel, Log Pearson III, Log Normal, dan
beberapa
cara lain. Metodemetode ini harus diuji mana yang bisa dipakai dalam perhitungan.
1. Distribusi normal
Distribusi normal adalah simetris terhadap sumbu vertikal dan berbentuk
lonceng yang juga disebut distribusi Gauss. Distribusi normal mempunyai dua
parameter yaitu rerata dan deviasi standar dari [Link] analisis
hidrologi distribusi normal banyak digunakan untuk menganalisis frekuensi curah
hujan, analisis statistik dari distribusi curah hujan tahunan, debit rata-rata
tahunan. Distribusi normal atau kurva normal disebut pula distribusi Gauss.
Xt = X + KT S
dimana,
XT : Perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T.
X : Nilai rata rata hitung varian.
S : Deviasi standar nilai varian.
KT : Faktor frekuensi,
Nilai factor frekuensi dapat dilihat pada tabel reduksi Gauss:
PUH peluang KT
2 0,5 0
2,5 0,4 0,25
4 0,25 0,67
5 0,2 0,84
10 0,1 1,28
20 0,05 1,64
50 0,02 2,05
dimana,
Xt = besarnya curah hujan yang mungkin terjadi pada periode ulang T tahun
(mm/hari).
Sx = Standar deviasi = 2
X = curah hujan rata-rata (mm/hari)
Kt = Standar variabel untuk periode ulang tahun
3. Distribusi Gumbel
keterangan:
XT = besarnya curah hujan yang terjadi dengan kala ulang T tahun
X = rata-rata x maksimum dari seri data Xi
k = faktor frekuensi
Yn, Sn = besaran yang mempunyai fungsi dari jumlah pengamatan
Yt = reduksi sebagai fungsi dari probabilitas
n = jumlah data
Tabel 2.4 Hubungan antara deviasi Standar dan reduksi variant dengan
jumlah data
N Sn n Sn n Sn n Sn
Sumber : Soewarno,1995
Tabel 2.5 Hubungan Reduksi Variat Rata-Rata(Yn) dengan jumlah data
N Yn n Yn n Yn
35 0,5402 61 0,5524
Sumber : Soewarno,1995
Dengan:
Tabel 2.6 Faktor frekuensi (K) fungsi dari nilai koefisien asimetri (Cs)
dan kala ulang (T)
Perhitungan Dispersi:
- -
20,0741916 402,97317 8089,360 162387,37
3 1990 46,6747 7 11 67 66
- -
20,8746916 435,75275 9096,204 189880,46
6 1993 45,8742 7 22 34 1
- -
21,3425916 455,50621 9721,683 207485,91
7 1994 45,4063 7 91 23 56
- -
8,49339166 612,6937 5203,8480
11 2003 58,2555 7 72,137702 57 5
- -
19,1074916 365,09623 6976,073 133295,26
12 2004 47,6414 7 78 32 28
-
3341,0371 1404,018 1431722,3
Jumlah 800,9867 0 16 68 75
Setelah diketahui nilai dari faktor faktor dari perhitungan di atas dapat
ditentukan metode distribusi mana yang dapat dipakai, seperti disajikan dalam
tabel berikut :
Ck = 3 Ck = 0,7871 memenuhi
Ck 5,4002 Ck = 0,7871
Dari tabel diatas maka yang memenuhi syarat adalah dengan menggunakan
Distribusi Gumbel. Untuk memastikan pemilihan distribusi tersebut, perlu
dilakukan perbandingan hasil perhitungan statistik dengan ploting data diatas
kertas. probabilitas dan uji Der Weduwen.
Interval dibagi 4 kelas (G=4). Kemudian dicari derajat kebebasan (DK) dengan
menggunakan rumus:
(Of-
P Ef Of Ef)^2 (Of-Ef)2/Ef
37,6089X53,203
63 3 4 1 0,333333
53,2036368,79
830 3 2 1 0,333333
68,7983084,39
297 3 4 1 0,333333
84,3929799,98
763 3 2 1 0,333333
X2 = 1,333333
DK=2
chi-kritik= 5,9918
Qn =C..q.A
C =
q =
Metode ini harus dihitung dengan trial and error sehingga ketepatan antara
waktu konsentrasi dengan debit sama atau mendekati sama. Hasil kali dari Qn
dengan hujan rencana kala ulang T tahun (RT) merupakan debit banjir yang
dicari.
( 4 + 1)
= 120 + ( 4 + 9) 59,56875
120 + 59,56875
= 0,7951
qn = 67,65
3,95 + 1,45
qn = 12,5278 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7951 x 12,5278 + 7
= 0,7583
Qn = 449,9000 m3/det
t = 3,9416 jam
( 3,9458 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
3,9458 + 1,45
qn = 12,5375 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,5375 + 7
= 0,7412
Qn = 390,3152 m3/det
Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rat a-
rata
( 3,979 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
3,9790 + 1,45
qn = 12,4608 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,4608 +7
= 0,7403
Qn = 387,4631 m3/det
t = 4,0159 jam
Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata
( 3,9975 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
3,9975 + 1,45
qn = 12,4186 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,4186 + 7
= 0,7398
Qn = 385,8952 m3/det
t = 4,0179 jam
Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata
( 4,0077 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
4,0077 + 1,45
qn = 12,3953 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,3953 + 7
= 0,7395
t = 4,0191 jam
Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata
( 4,0134 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
4,0134 + 1,45
qn = 12,3824 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,3824 + 7
= 0,7394
Qn = 384,5507 m3/det
t = 4,0197 jam
Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata
( 4,0165 + 1)
= 0,7051
qn = 67,65
4,0165 + 1,45
qn = 12,3753 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,3753 + 7
= 0,7393
Qn = 384,2854 m3/det
t = 4,02 jam
Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata
( 4,0183 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
4,0183 + 1,45
qn = 12,3713 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,3713 + 7
= 0,7392
Qn = 384,1382 m3/det
t = 4,0202 jam
Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata
( 4,0193 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
4,0193 + 1,45
qn = 12,3691 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,3691 + 7
= 0,7392
Qn = 384,0566 m3/det
t = 4,0203 jam
Karena setelah di trial beda t terlalu besar maka di trial lagi dengan nilai t rata-
rata
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
4,0198 + 1,45
qn = 12,3679 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,3679 + 7
= 0,7392
Qn = 384,0114 m3/det
t = 4,0204 jam
Ok, maka
Qn = 1,6000 x Rn
( 4,0201 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
4,0201 + 1,45
qn = 12,3672 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,3672 + 7
= 0,7392
Qn = 383,9862 m3/det
t = 4,0204 jam
Ok, maka
Qn = 1,5999 x Rn
( 4,0203 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
4,0203 + 1,45
qn = 12,3668 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,3668 + 7
= 0,7392
Qn = 383,9723 m3/det
t = 4,0205 jam
Ok, maka
Qn = 1,5999 x Rn
( 4,0204 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
4,0204 + 1,45
qn = 12,3666 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,3666 + 7
= 0,7392
Qn = 383,9646 m3/det
t = 4,0205 jam
Ok, maka
Qn = 1,5999 x Rn
( 4,0204 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
4,0204 + 1,45
qn = 12,3665 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,3665 + 7
= 0,7392
Qn = 383,9603 m3/det
t = 4,0205 jam
Ok, maka
Qn = 1,5998 x Rn
( 4,0204 + 1)
120 + 59,56875
= 0,7051
qn = 67,65
4,0204 + 1,45
qn = 12,3665 m3/det.km2
= 1- 4,1
0,7051 x 12,3665 + 7
= 0,7392
t = 4,0205 jam
Ok, maka
Qn = 1,5998 x Rn
Penentuan hujan (R) kala ulang ini digunakan untuk menentukan debit banjir
rencana (Q) kala ulang 1 tahun (Q2), 10 tahun (Q10), 25 tahun (Q25), 50 tahun
(Q50), 100 tahun (Q100),dan 200 tahun (Q200). Cara mendapatkan besarnya hujan
dengan kala ulang 1 tahun (R2), 10 tahun (R10), 25 tahun (R25), 50 tahun (R50),
100 tahun (R100) ,dan 200 tahun (R200) adalah sebagai berikut :
S = 19,2672
Yt = 0,3665
Yn = 0,5053
Sn = 0,9933
= 64,05718728
Yn Hujan
No X S Yt Sn
Periode ulang Maksimum
Qn = 1,6 x Rn
= 1,6x 133,6334067
= 212,21345
Penentuan hujan (R) kala ulang ini digunakan untuk menentukan debit banjir
minimum rencana (Q) kala ulang 1 tahun (Q2), 10 tahun (Q10), 25 tahun (Q25), 50
tahun (Q50), 100 tahun (Q100),dan 200 tahun (Q200). Cara mendapatkan besarnya
hujan dengan kala ulang 1 tahun (R2), 10 tahun (R10), 25 tahun (R25), 50 tahun
(R50), 100 tahun (R100) ,dan 200 tahun (R200) adalah sebagai berikut :
S = 2,30997
Yt = 0,3665
Yn = 0,5053
Sn = 0,9933
= 7,736343579
Periode Hujan
No ulang X S Yt Yn Sn Maksimum
Qn = 1,6 x Rn
= 1,6 x 4,961280042
= 7,9380481
KESIMPULAN
2. Dari hasil analisis hujan rencana pada bab II diperoleh besarnya hujan dengan
kala ulang 1 tahun (R1), 2 tahun (R2), 5 tahun (R5), 10 tahun (R10), 25 tahun (R25),
50 tahun (R50), 100 tahun (R100). Besar kala ulang 1 tahun < 2 tahun < 5 tahun <
10 tahun < 25 tahun < 50 tahun < 100 tahun .
DAFTAR PUSTAKA
By Seiyacrush
Untuk menentukan debit andalan, dapat digunakan beberapa metode, hal ini tergantung dari
data yang tersedia. Data tersebut bisa berupa data hujan tengah bulan atau debit sungai tengah
bulan atau bulanan. Jika kedua data tersebut tersedia, maka dapat diambil salah satu saja. Jika
ada data banjir prosedurnya dengan analisa probabilitas data debit sedang jika menggunakan
data curah hujan tengah bulanan atau bulanan maka prosedurnya adalah sebagai berikut:
REKAYASA HIDROLOGI
Rangkuman, UTS 20 April 2012
Terdapat banyak surah dalam Al-Quran yang menyebutkan dan atau menjelaskan tentang
siklus hidrologi/ siklus air, diantaranya:
Q.S 15 ayat 22, Q.S 23 ayat 18, Q.S 35 ayat 91, Q.S 39 ayat 21, Dan sebagainya.
Berikut ini adalah salah satu dari surah diatas, yaitu Q.S 23 ayat 18,
Artinya:
Dan Kami menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu kami jadikan air itu menetap
di bumi, dan pasti kami berkuasa melenyapkannya.
Contoh Tabel perhitungan persamaan IDF untuk T = 5 tahun memakai Metode Talbot adalah
sbb :
NO. t (menit) I I.t I2 I2.t
1 5 271.2 1356 73549.4 367747.2
2 10 193.8 1938 37558.4 375584.4
3 15 165.2 2478 27291.0 409365.6
4 20 174.0 3480 30276.0 605520
5 45 87.7 3948 7697.1 346371.2
6 60 74.3 4458 5520.5 331229.4
7 120 43.4 5202 1879.2 225506.7
8 180 31.0 5580 961.0 172980
9 360 18.2 6546 330.6 119028.1
10 720 11.6 8352 134.6 96883.2
Jumlah ( ) 1070.4 43338 185197.96 3050215.8
Dari metode Talbot diperoleh persamaan Intensitas untuk tahun ulang T = 5 tahun, yaitu :
Jawab :
Dik : to = 30oC
I = indeks panas total = 35,67
a = 675 x 10-9 I3 771 x 10-7 I2 + 178 x 10-4 I + 0,498
= 1,6 x 10-2 I + 0,5
= 1,6 x 10-2 x 35,67 + 0,5
a = 1,070
Dit : Ep ?
Jawab :
dimana :
Q : Debit (m3/detik)
Cj : Koefisien aliran subarea
I : Intensitas curah hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)
Aj : Luas daerah subarea (km2)
Biasanya dalam perencanaan bangunan pengairan (misalnya drainase), debit rencana sangat diperlukan untuk mengetahui
kapasitas yang seharusnya dapat ditampung oleh sebuah drainase, agar semua debit air dapat ditampung dan teralirkan. Oke
kita masuk ke intinya, metode yang biasa digunakan dalam perhitungan intensitas curah hujan adalah sebagai berikut:
Metode Mononobe
_
dimana :
I : Intensitas curah hujan (mm/jam)
t : Lamanya curah hujan / durasi curah hujan (jam)
R24 : Curah hujan rencana dalam suatu periode ulang, yang nilainya didapat dari tahapan sebelumnya (tahapan analisis frekuensi)
Keterangan :
R24 , dapat diartikan sebagai curah hujan dalam 24 jam (mm/hari)
Contoh kasusnya seperti ini, jika anda ingin mengetahui intensitas curah hujan dari data curah hujan harian selama 5 menit,
pengerjaannya adalah sebagai berikut (jika diketahui curah hujan selama satu hari bernilai 56 mm/hari) :
_
Ket :
Ubah satuan waktu dari menit menjadi jam. Contoh durasi selama 5 menit menjadi durasi selama 5/60 atau selama 0,833
jam.
Gampang kan bagaimana cara mendapatkan intensitas curah hujan dari curah hujan harian. Sekarang kita masuk ke metode
kedua, yaitu :
Metode Van Breen
Berdasarkan penelitian Ir. Van Breen di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, curah hujan terkonsentrasi selama 4 jam dengan
jumlah curah hujan sebesar 90% dari jumlah curah hujan selama 24 jam (Anonim dalam Melinda, 2007).
Perhitungan intensitas curah hujan dengan menggunakan Metode Van Breen adalah sebagai berikut :
dimana :
IT : Intensitas curah hujan pada suatu periode ulang (T tahun)
RT : Tinggi curah hujan pada periode ulang T tahun (mm/hari)
Oke, dengan nilai yang sama dengan nilai yang digunakan dalam Metode Mononobe, maka perhitungan intensitas curah
hujan dengan Metode Van Breen, menghasilkan nilai sebagai berikut :
_
Udah liat kan, ternyata nilai intensitas curah hujan selama 5 menit dengan nilai curah hujan harian mencapai 56 mm/hari
dengan menggunakan Metode Van Breen, nilainya lebih besar dibandingkan dengan perhitungan intensitas curah hujan
menggunakan Metode Mononobe.
Oke, metode ketiga adalah sebagai berikut :
Metode Haspers dan Der Weduwen
Metode ini berasal dari kecenderungan curah hujan harian yang dikelompokkan atas dasar anggapan bahwa curah hujan
memiliki distribusi yang simetris dengan durasi curah hujan lebih kecil dari 1 jam dan durasi curah hujan lebih kecil dari 1
sampai 24 jam ( Melinda, 2007 )
Perhitungan intensitas curah hujan dengan menggunakan Metode Haspers & der Weduwen adalah sebagai berikut :
_
dimana :
I : Intensitas curah hujan (mm/jam)
R, Rt : Curah hujan menurut Haspers dan Der Weduwen
t : Durasi curah hujan (jam)
Xt : Curah hujan harian maksimum yang terpilih (mm/hari)
Dengan nilai contoh yang sama, akan tetapi dengan ditambah dengan durasi 60 menit :
Yups, yang terakhir ini agak ribet dikarenakan metode ini mempunyai dua persamaan yang berbeda tergantung durasi yang
akan dicari.
Oh, iya intensitas curah hujan sendiri dapat diartikan sebagai berikut :
Intensitas curah hujan adalah jumlah curah hujan yang dinyatakan dalam tinggi hujan atau volume hujan tiap satuan
waktu, yang terjadi pada satu kurun waktu air hujan terkonsentrasi (Wesli, 2008). Besarnya intensitas curah hujan berbeda-
beda tergantung dari lamanya curah hujan dan frekuensi kejadiannya. Intensitas curah hujan yang tinggi pada umumnya
berlangsung dengan durasi pendek dan meliputi daerah yang tidak luas. Hujan yang meliputi daerah luas, jarang sekali
dengan intensitas tinggi, tetapi dapat berlangsung dengan durasi cukup panjang. Kombinasi dari intensitas hujan yang
tinggi dengan durasi panjang jarang terjadi, tetapi apabila terjadi berarti sejumlah besar volume air bagaikan ditumpahkan
dari langit. (Suroso, 2006)