0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
490 tayangan19 halaman

Fungsi dan Jenis Rectifier di Gardu Listrik

Bab ini membahas fungsi rectifier di gardu-gardu listrik PT. PLN APD Bandung. Rectifier berfungsi untuk mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah yang digunakan untuk mengisi baterai. Terdapat dua jenis rectifier, yaitu rectifier satu fasa dan tiga fasa. Rectifier bekerja dengan mengubah tegangan masukan menjadi tegangan keluaran yang lebih rendah melalui trafo step-down dan dioda. Komponen-komponen

Diunggah oleh

Ivan Pasaribu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
490 tayangan19 halaman

Fungsi dan Jenis Rectifier di Gardu Listrik

Bab ini membahas fungsi rectifier di gardu-gardu listrik PT. PLN APD Bandung. Rectifier berfungsi untuk mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah yang digunakan untuk mengisi baterai. Terdapat dua jenis rectifier, yaitu rectifier satu fasa dan tiga fasa. Rectifier bekerja dengan mengubah tegangan masukan menjadi tegangan keluaran yang lebih rendah melalui trafo step-down dan dioda. Komponen-komponen

Diunggah oleh

Ivan Pasaribu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

27

BAB IV

FUNGSI RECTIFIER DI SETIAP GARDU LISTRIK PT. PLN APD

BANDUNG

4.1 Pengertian Rectifier

Rectifier merupakan suatu rangkaian alat listrik untuk mengubah arus listrik

bolak-balik/AC (Alternating Current) menjadi arus searah/DC (Direct Current)

yang berfungsi untuk memberikan tegangan DC. Di dalam rectifier trdapat sebuah

batere, yang berfungsi untuk menyimpan tegangan [Link] itu rectifier ini

harus disesuaikan kapasitasnya dengan kapasitas batere yang terpasang.

Gambar 4.1 Rectifier


28

Gambar 4.2 Skematik Rangkaian Rectifier

4.2 Jenis Rectifier

1. Rectifier 1 (satu) Fasa

Yang dimaksud dengan rectifier 1 fasa adalah rectifier yang rangkaian

inputnya menggunakan AC suplai 1 fasa. Rectifier jenis inilah yang

dipergunakan pada gardu yang ada di peralatan SCADATEL.

Rectifier akan bekerja apabila diberikan tegangan sekitar 220 VAC.

Tegangan tersebut dihasilkan dan tegangan pada SKTM (20kV) yang

diturunkan melalui trafo distribusi menjadi 22OVAC dengan cara

penyambungan fasa (R/S/T) ke N (netral) kemudian disearahkan

menggunakan rectifier menjadi 48 sehingga beban dapat dicatu.


29

2. Rectifier 3 (tiga) Fasa

Yang dimaksud dengan rectifier 3 fasa adalah rectifier yang rangkaian

inputnya menggunakan AC suplai 3 fasa (380 VAC). Agar dapat

menghasilkan tegangan sebesar 380 VAC, maka proses penyambungannya

yaitu dengan konfigurasi fasa ke fasa ( R-S/ R-T/ T-R), sehingga rectifier 3

fasa ini dapat bekerja. Hanya saja rectifier 3 fasa tidak dipergunakan pada

jaringan SCADATEL.

4.3 Prinsip Kerja

Sumber AC baik 1 fasa maupun 3 fasa masuk melalui terminal input

rectifier itu ke trafo step-down dan tegangan 220V / 380V menjadi tegangan DC

48V dengan sedikit ripple. Sehingga untuk memperbaiki ripple / gelombang DC

yang terjadi diperlukan suatu rangkaian penyaring (filter) yang dipasang sebelum

ke terminal output.

4.4 Bagian-bagian Rectifier

1. Trafo Utama

Trafo utama yang terpasang di rectifier merupakan trafo step-down

(penurun tegangan) dan tegangan AC 220V / 380V menjadi 48V, kemudian

masuk ke rectifier untuk didistribusikan ke beban dan batere. Besar

kapasitas tersebut tergantung dan kapasitas batere yang terpasang di gardu

induk atau gardu hubung yaitu paling tidak kapasitas arus output trafo harus

lebih besar 20 % dan arus pengisian batere.


30

Gambar 4.3 Trafo Utama

2. Penyearah Dioda

Dioda digunakan sebagai penyearah arus yang keluar dan trafo. Hal

ini dikarenakan beban yang akan dicatu menggunakan tegangan arus searah

hasil dan penyearahan dioda serta menghilangkan ripple menggunakan

filter.

Gambar 4.4 Dioda

1. Auto Voltage Regulator (AVR)

Auto Voltage Regulator yang terpasang pada rectifier merupakan

suatu rangkaian yang terdiri dan komponen elektronik yang berfungsi untuk

memberikan trigger positif pada gate thyristor sehingga pengaturan arus


31

maupun tegangan output suatu rectifier bisa dilakukan sedemikian rupa

sehingga pengendalian arus pengisian ke batere bisa disesuaikan dengan

arus kapasitas batere yang terpasang.

Rangkaian elektronik AVR ini sendiri sangat peka terhadap kenaikan

tegangan yang terjadi pada rangkaian input.

Gambar 4.5 Auto Voltage Regulator

4.5 Komponen Pengatur Pada Rectifier

1. Komponen Pengaturan Tegangan Floating

Untuk memenuhi standar pengisian batere secara Floating maka

pengaturan setting tegangannya perlu dilakukan pada rectifier, hal ini dapat

dilakukan dengan mengatur Variabel Resistor pada PCB rangkaian

elektronik AVR, dengan cara memutar ke kiri atau ke kanan sesuai dengan

spesifikasi batere yang terpasang. Biasanya VR tersebut diberi indikasi /

tulisan Floating .
32

2. Komponen Pengaturan Tegangan Equalizing

Untuk memenuhi standar pengisian batere secara Equalizing maka

pengaturan setting tegangannya perlu dilakukan path rectifier, hal mi dapat

dilakukan dengan mengatur Variabel Resistor pada PCB rangkaian

elektronik AVR, dengan cara memutar ke kin atau ke kanan sesuai dengan

spesifikasi batere yang terpasang. Biasanya VR tersebut diberi indikasi /

tulisan Equalizing .

3. Komponen Pengaturan Tegangan Manual / Boosting

Untuk memenuhi standar pengisian batere secara Boosting maka

pengaturan setting tegangannya perlu dilakukan path rectifier, hal ini dapat

dilakukan dengan mengatur Variabel Resistor path PCB rangkaian

elektronik AVR, dengan cara memutar ke kiri atau ke kanan sesuai dengan

spesifikasi batere yang terpasang. Biasanya VR tersebut diberi indikasi /

tulisan Boosting .

4. Komponen Pengaturan Arus (Current Limiter)

Komponen pengaturan atau seting arus biasanya dilakukan untuk

membatasi arus maksimum output rectifier agar tidak terjadi over load atau

over charge pada batere. Hal ini dapat dilakukan juga dengan mengatur

Variabel Resistor (VR) pada PCB rangkaian elektronik AVR dengan cara

memutar ke kiri atau ke kanan sesuai dengan spesifikasi batere yang

terpasang. Biasanya VR tersebut diberi indikasi / tulisan Current Limiter


33

5. Filter ( Penyaring)

Seperti halnya pada catu daya, filter ( penyaring) disini digunakan

untuk menghilangkan ripple sebagai hasil dan penyearahan melalui dioda.

Sehingga filter sangat penting penggunaannya.

4.6 Pengoperasian Rectifier

Rectifier dioperasikan untuk memberikan catuan DC ke beban dan juga

untuk melakukan pengisian pada battere. Untuk mempermudah pengoperasiannya,

hampir setiap charger dilengkapi dengan indikator, display. tombol, alarm, saklar,

dan MCB (berdasarkan pada merk CDP, Satel, Masarel, dan Socomec).

Indikator Operasi terdiri dari:

Indikator LED AC ON

Indikator LED RECT ON

Indikator LED FLOAT

Indikator LED EQUAL

Indikator LED Manual Charging

Sedangkan indikator gangguan terdiri dan:

Indikator LED Over Volt input

Indikator LED Under Volt Input

Indikator LED Over Volt Output

Indikator LED Under Volt Output

Indikator LED Over Load

Indikator Lampu Under Voltage Battery


34

Sedangkan untuk display terdiri dari dua, yaitu Display Volt Meter dan

Display Ampere Meter. Selain itu juga terdapat tombol-tombol untuk

merubah mode operasi dan changer, yaitu tombol Float, Equal, Manual

Charging, danjugatombol Reset.

4.7 Pemeliharaan Rectifier / Charger

Seperti halnya peralatan pada umumnya charger juga harus dipelihara. Hal

ini harus dilakukan agar charger dapat beroperasi secara andal dan optimal.

Pemeliharaan charger ada beberapa langkah yang harus dilakukan yang dijelaskan

pada uraian berikut ini.

4.8 Pengukuran Pada Rectifier

1. Pengukuran Tegangan dan Arus Input

Pengukuran tegangan dan arus input dilakukan path titik input charger

bertujuan untuk mengetahui besarnya tegangan dan arus masing-masing

fasa.

Pelaksanaan pengukuran dilakukan pada rangkaian input charger.

Cara pelaksanaan pengukuran tegangan menggunakan Voltmeter AC

standar.

Standar :

Tegangan input 220 VAC +-10 % / 380 VAC +-10 %.

Frekuensi tegangan input 50 Hz +- 6 %


35

2. Pengukuran Tegangan dan Arus Output

Tegangan output dan charger digunakan untuk mensuplai beban DC

dan juga digunakan untuk pengisian batere. Pada rangkaian control charger

dilengkapi dengan rangkaian sensor arus dan tegangan yang akan

mendeteksi arus pengisian dan tegangan output.

Tujuan pengukuran tegangan dan arus output charger adalah:

1. Mengetahui tegangan dan arus output di setiap mode operasi

2. Pembanding hasil pengukuran meter terpasang.

Pengukuran tegangan dan arus output dilakukan pada saat floating,

equalizing, dan boosting / manual. Pengukuran dilakukan path titik-titik

terminal batere dan terminal beban.

Pelaksanaan pengukuran dilakukan dengan cara:

1. Pengisian Floating

Posisikan selector switch mode operasi pada posisi floating.

Catat hasil pengukuran.

Bandingkan hasil pengukuran dengan setting floating.

Lakukan reset bila tidak sesuai.

2. Pengisian Equalizing

Posisikan selector switch mode operasi pada posisi equalizing.

Catat hasil pengukuran.

Bandingkan hasil pengukuran dengan setting equalizing.

Lakukan reset apabila tidak sesuai.


36

3. Pengisian Boosting

Posisikan selector switch mode operasi pada posisi boosting.

Catat hasil pengukuran.

Bandingkan hasil pengukuran dengan setting boosting.

Lakukan reset bila tidak sesuai.

Standar pengukuran tegangan output sangat tergantung pada merk dan

tipe batere yang terpasang, dalam pelaksanaan menggunakan standar JEC

623 atau sesuai dengan buku manual seperti pada tabel Tegangan per Sel,

sebagai contoh batere alkali merk Saft.

Arus keluaran charger tergantung pada beban ( dibatasi oleh arus

maksimum charger).

3. Pengukuran Arus Output Maksimum

Tujuan pengukuran adalah untuk mengetahui apakah charger masih

dapat bekerja optimal dengan arus output sesuai dengan yang dibutuhkan

(kapasitas batere). Pengukuran arus maksimum juga dilakukan saat

komisioning untuk mengetahui apakah arus maksimum charger sudah sesuai

spesifikasi. Apabila hasil pengukuran terjadi perbedaan antara besaran arus

output dengan arus yang dibutuhkan, maka perlu dilakukan pengaturan

ulang (reset) pada charger.


37

Pengukuran arus output maksimum atau sesuai kebutuhan batere

dilakukan dengan cara:

1. Lepaskan charger dan batere dan beban.

2. Kosongkan energi batere dengan dummy load.

3. Pasang amperemeter secara seri pada titik output charger.

4. Posisikan charger pada mode boost ( manual).

5. Hubungkan charger dengan batere yang telah dikosongkan atau

menggunakan dummy load.

6. Amati besaran arus pada amperemeter.

7. Bila terdapat perbedaan antara hasil pengukuran dengan besarnya arus

output yang dibutuhkan, maka lakukan penyetelan arus output charger

menggunakan potensiometer.

[Link] tipe / merk charger telah mempunyai standar

kapasitas arus maksimum yang diizinkan.

4. Pengukuran Rangkaian Dropper

Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah rangkaian Dropper dapat

bekerja normal.

Cara pengukuran tegangan dropper dilakukan dengan pengecekan

tegangan rangkaian ke beban untuk masing-masing posisi selector switch,

seperti sebagai berikut:

1. Tentukan besar tegangan yang diperlukan pada rangkaian ke beban.

2. Hubungkan voltmeter pada output charger dan rangkaian ke beban.


38

3. Posisikan selector switch pada Floating, amati tegangan pada rangkaian

ke beban.

4. Posisikan selector switch pada Equalizing, amati tegangan pada

rangkaian ke beban.

5. Posisikan selector switch pada Boosting, amati tegangan pada rangkaian

ke beban.

Apabila hasil pengukuran tegangan pada rangkaian ke beban saat

posisi floating, equalizing, dan boosting tetap ( 10 % ), maka rangkaian

dropper bekerja normal.

Pada saat ini pengukuran rangkaian tegangan dropper mengacu pada

pengalaman lapangan dan buku manual dan masing-masing merk charger.

4.9 Pengecekan Meter-Meter

Tujuan pengecekan meter adalah untuk mengetahui akurasi dan meter -

meter terpasang ( arus batere, arus beban, dan tegangan beban).

Pada charger batere pada umurnnya memiliki tiga buah alat ukur yang

terdiri dari meter untuk pengukuran arus batere, arus beban, dan tegangan beban.

Pengecekan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Ukur besaran arus dan tegangan di terminal meter menggunakan alat ukur.

2. Bandingkan hasil pengukuran alat ukur standar dengan penunjukkan meter.

3. Apabila terdapat perbedaan dan hasil pengukuran dengan toleransi lebih dari

15 %, maka meter terpasang harus dikalibrasi.

Standar akurasi meter yaitu 0,5 % -5 %.


39

4.10 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan secara fisik bertujuan untuk mengetahui kondisi cubicle

charger dan fuse box apakah dalam keadaan baik dan bersih.

Cara pelaksanaan pemeriksaan fisik adalah sebagai berikut:

1. Buka pintu panel charger.

2. Perhatikan kondisi kebersihan peralatan elektronik, meter-meter dan fuse.

3. Bersihkan bila terdapat kotoran dengan alat dan cairan pembersih. Untuk

membersihkan peralatan elektronik gunakan kompressor.

4. Periksa kondisi baut dan jika perlu dikencangkan.

Standar pemeriksaan fisik adalah peralatan dalam kondisi baik dan bersih.

4.11 Pengujian Indikator Charger

Pengujian indikator pada charger bertujuan untuk mengetahui apakah

indikator tersebut bekerja sesuai dengan fungsinya.

Cara pengujiannya adalah sebagai berikut:

1. Low Batere Indicator

Untuk pengujian dilakukan dengan cara menurunkan tegangan keluaran

melalui rangkaian control charger.

2. Over Voltage Batere

Untuk pengujian dilakukan dengan cara menaikkan tegangan keluaran

melalui rangkaian control charger.


40

3. AC Power Failure

Untuk pengujian dilakukan dengan cara melepas (off) MCB input AC ke

charger.

4. Charger Failure

Untuk pengujian dilakukan dengan cara melepas (off) MCBoutput DC ke

batere.

5. Hubungkan charger dengan batere yang telah dikosongkan atau

menggunakan dummy load.

6. Amati besaran arus pada amperemeter.

7. Bila terdapat perbedaan antara hasil pengukuran dengan besarnya arus

output yang dibutuhkan, maka lakukan penyetelan arus output charger

menggunakan potensiometer.

[Link] tipe 1 merk charger telah mempunyai standar kapasitas

arus maksimum yang diizinkan.

4.12 Pengecekan Meter-Meter

Tujuan pengecekan meter adalah untuk mengetahui akurasi dan meter-

meter terpasang ( arus batere, arus beban, dan tegangan beban).

Pada charger batere pada umurnnya memiliki tiga buah alat ukur yang

terdiri dari meter untuk pengukuran arus batere, arus beban, dan tegangan beban.
41

Pengecekan dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Ukur besaran arus dan tegangan di terminal meter gunakan alat ukur

beban.

2. Bandingkan hasil pengukuran alat ukur standar dengan penunjukkan

meter.

3. Apabila terdapat perbedaan dan hasil pengukuran dengan toleransi lebih

dan 15 %, maka meter terpasang harus dikalibrasi.

Standar akurasi meter yaitu 0,5 % -5 %.

4.13 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan secara fisik bertujuan untuk mengetahui kondisi cubicle

charger dan fuse box apakah dalam keadaan baik dan bersih.

Cara pelaksanaan pemeriksaan fisik adalah sebagai berikut:

1. Buka pintu panel charger.

2. Perhatikan kondisi kebersihan peralatan elektronik, meter-meter dan fuse.

3. Bersihkan bila terdapat kotoran dengan alat dan cairan pembersih. Untuk

membersihkan peralatan elektronik gunakan kompressor.

4. Periksa kondisi baut danjika perlu dikencangkan.

Standar pemeriksaan fisik adalah peralatan dalam kondisi baik dan bersih.

4.14 Pengujian Indikator Charger

Pengujian indikator pada charger bertujuan untuk mengetahui apakah

indikator tersebut bekerja sesuai dengan fungsinya.


42

Cara pengujiannya adalah sebagai berikut:

1. Low Batere Indicator

Untuk pengujian dilakukan dengan cara menurunkan tegangan keluaran

melalui rangkaian control charger.

2. Over Voltage Batere

Untuk pengujian dilakukan dengan cara menaikkan tegangan keluaran

melalui rangkaian control charger.

3. AC Power Failure

Untuk pengujian dilakukan dengan cara melepas (off) MCB input AC ke

charger.

4. Charger Failure

Untuk pengujian dilakukan dengan cara melepas (off) MCB output DC

ke batere.

Dalam pelaksanaan di lapangan alarm indikasi charger dapat dikatakan

sesuai standar bila dilakukan pengujian pada salah satu bagian charger maka

alarm tersebut muncul dengan baik.

4.15 Kondisi Gangguan dan Penanganannya

1. Over Volt Input

Kondisi gangguan ini terjadi karena tegangan input masukan 220 Vac lebih

tinggi dan tegangan masukan tertinggi yang diperbolehkan. Selama

tegangan masukan lebih tinggi, maka indikator LED Over Volt Input akan

menyala dan charger akan shutdown (mati). Kondisi mi juga menyebabkan

alarm berbunyi. Jika tegangan masukan sudah normal kembali, maka


43

indikator LED dan alarm akan mati dengan sendirinya dan charger akan

beroperasi normal kembali.

2. Under Volt Input

Kondisi gangguan mi disebabkan karena tegangan input 220 Vac lebih

rendah dan tegangan masukan terendah yang diperbolehkan. Kondisi ini

menyebabkan indikator LED dan alarm akan menyala sehingga charger

akan shutdown. Jika tegangan masukan sudah normal, maka indikator akan

mati dan charger akan beroperasi lagi.

3. Over Volt Output

Kondisi ini disebabkan karena tegangan output melebihi tegangan

output tertinggi yang diperkenankan. Jika terjadi Over Volt Output, charger

akan seketika shutdown, dan indikator LED dan alarm akan menyala serta

relay akan membuka untuk mencegah tegangan yang terlalu tinggi pada

keluaran.

Charger akan mencoba hidup kembali setelah interval waktu sekitar

30 detik. Jika masih terjadi Over Volt Output, charger akan shutdown. Jika

gangguan ini tidak hilang selama interval waktu tertentu dan charger sudah

mencoba untuk aktif sebanyak empat kali, maka charger akan shutdown

permanen. Jika sebelum empat kali gangguan telah hilang, maka charger

akan beroperasi normal kembali.


44

4. Under Volt Output

Kondisi ini disebabkan karena tegangan keluaran lebih rendah dan

tegangan yang sudah ditetapkan. Jika terjadi gangguan ini, indikator LED

Under Volt Output dan alarm akan menyala. Gangguan ini tidak

menyebabkan charger shutdown. Jika tegangan keluaran sudah normal

kembali, maka indikator LED dan alarm akan mati sehingga rectifier akan

terhubung kembali ke beban.

5. Over Load

Jika arus charger melebihi arus yang diperbolehkan, maka proteksi arus

akan bekerja sehingga menyebabkan charger akan bekerja pada mode Arus

Konstan dan indikator LED Over Load akan menyala sampai arus charger

kembali normal.

6. Under Voltage Battery

Selama kondisi tegangan masukan tidak ada atau charger shutdown

terjadi, beban akan dicatu oleh battere. Jika tegangan battere dibawah

tegangan terendah yang diperbolehkan, maka indikator lampu Under

Voltage Battery dan alarm akan menyala, sehingga beban dilepas oleh

battery.

7. MCB Trip

Selama charger beroperasi normal, jika satu atau lebih MCB

mengalami trip atau dibuka ( di-off-kan), maka alarm akan berbunyi.


45

4.16 Fungsi Rectifier Di Gardu Listrik PT. PLN

Setiap gardu listrik memiliki rectifier. Dimana fungsi rectifier tersebut

adalah untuk memberikan suplay tegangan kepada perangat lain

yangmembutuhkan tegangan. Dengan adanya rectifier di setiap gardu,pihak PLN

tidak akan resah jika terjadi gangguan. Karena fungsi rectifier tersebut adalah

penyimpan tegangan, dimana pada saat terjadi listrik mati, rectifier tersebut akan

bekerja. Sehingga perangkat lainpun akan bekerja dan tidak akan terjadi

pemadaman listrik di daerah yang terjadi gangguan.

Namun tidak selamanya rectifier tersebut bisa melakukan suplay tegangan.

Kemampuan rectifier untuk melakukan suplay tegangan biasanya tergantung dari

kemampuan tiap tiap rectifier tersebut. Rata rata rectifier memiliki

kemampuan memberikan suplay tegangan selama 8 jam. Dan setelah itu akan

habis.

Maka dari itu, selama gangguan terjadi, pihak dari PLN akan segera

memperbaiki kerusakan yang terjadi. Karena jika kerusakan tersebut belum

diperbaiki dan kemampuan rectifier sudah hampir habis, maka akan terjadi

pemadaman listrik di daerah yang terkena gangguan tersebut. Dan kerugianpun

tak bisa dicegah.

Common questions

Didukung oleh AI

Accurate measurement of input and output voltages in a rectifier system involves specific methods and equipment. For input voltage, a standard AC voltmeter is used to measure voltage across input terminals, adhering to the typical operational standard of 220 VAC ±10% or 380 VAC ±10% with a frequency of 50 Hz ±6%. Output voltage measurement requires connecting voltmeters to terminal points during operational modes, recording readings during Floating, Equalizing, and Boosting to ensure conformity with specified voltage levels. Discrepancies from expected values prompt adjustments via controllers on the rectifier. Regular calibration against benchmarks is necessary to ensure measurement accuracy .

Filtering in the rectifier's output process involves removing ripple from the DC signal after conversion from AC. Diodes act as rectifying components converting AC to a pulsating DC, which inherently contains ripple—an unwanted oscillating component that results in voltage and current instability. Filters, composed of capacitive or inductive elements, smooth out this ripple, producing a steady DC output essential for sensitive electronic equipment and effective battery charging. This filtering process ensures a higher quality and more reliable DC supply .

Rectifiers for battery charging support multiple distinct modes of operation—Floating, Equalizing, and Boosting. The mode selection is facilitated by adjusting the selector switch on the rectifier's control panel. Floating mode maintains a continuous low-level charge to compensate for the battery's self-discharge, ensuring full charge without overcharging. Equalizing mode is periodically used to balance the charge across all battery cells, avoiding stratification and imbalance. Boosting mode quickly charges the battery to the desired level, used in cases where rapid battery recovery is necessary. Each mode switch adjusts the voltage output settings to meet mode-specific requirements .

Potential indications of operational issues within a rectifier system include LED indicators and alarms signaling overvoltage, undervoltage, or overload conditions. For example, an LED may indicate 'Over Volt Input' when the input voltage exceeds permitted levels, causing the rectifier to shut down. Similarly, 'Under Volt Input' alerts denote voltage drops below minimum levels, prompting shutdowns to prevent equipment damage. To address these issues, operators should stabilize the input voltage before restarting the rectifier. Additionally, checking and resetting voltage and current settings via the AVR can resolve discrepancies in output levels. Regular calibration of meters and physical inspections ensure rectifiers operate within standard parameters, minimizing alarm triggers .

The rectifier ensures stable DC output voltage suitable for battery charging using an Auto Voltage Regulator (AVR). AVR comprises electronic components that generate a positive trigger for thyristor gates, enabling the precise control of both current and voltage output. This system allows the rectifier to adjust charging current to match the battery's capacity. Moreover, variable resistors on the AVR circuit board can be finely tuned according to specific battery requirements, further enhancing voltage regulation during different charging modes—Floating, Equalizing, and Boosting .

Challenges arising from an overloaded rectifier include excessive current draw, potentially leading to overheating and damage to downstream components. To mitigate these, rectifiers utilize a Current Limiter that restricts output above a threshold level, preventing overload. During an overload, an indicator alerts operators, and the rectifier adjusts to a Constant Current mode, maintaining safe output levels. Operators can manually fine-tune current settings using Variable Resistors on AVR circuits to align them with battery specifications, thus preventing sustained overload conditions .

To ensure optimal performance, rectifiers in electrical substations require routine maintenance, including physical inspections, calibration, and testing. Physical inspections involve checking the cleanliness and mechanical integrity of components like meters and fuse boxes, using tools like compressors for cleaning. Calibration ensures that meters provide accurate readings compared to standards; deviations exceeding 15% necessitate recalibration. Functional tests involve triggering known issues such as power cuts to verify the responsiveness of indicators and alarms, ensuring normally accurate triggers. Furthermore, checking and adjusting voltage and current settings on AVR circuits to meet the operational specifications rounds off the maintenance process .

The primary function of a rectifier in electrical substations operated by PT. PLN APD Bandung is to transform AC (Alternating Current) into DC (Direct Current), thereby providing a stable DC voltage supply. It contributes to the power supply's stability during service interruptions by acting as a voltage backup system. When an outage occurs, the rectifier uses stored DC power to supply necessary electrical devices, thus preventing electrical outages in affected areas. This functionality implies that PLN is not concerned about short-duration power disruptions, as the rectifier can maintain supply for an average of 8 hours. However, repairs must be completed within this time frame to avoid broader power outages once rectifier capacity is depleted .

Rectifiers ensure power supply integrity during outages by maintaining a stored DC voltage that acts as an emergency reserve. This ability allows rectifiers to supply DC energy to dependent systems in case of primary power loss, supporting equipment continuity. However, their limitations include finite capacity, typically determined by the installed battery size and rectifier rating, permitting operation for up to 8 hours on average. Consequently, extended outages beyond this period can result in energy depletion, unless repairs restore standard power input beforehand. Thus, strategic outage management includes efficient load distribution and timely rectification of main disruptions .

Calibration is crucial for rectifier volt and amp meters to ensure measurement accuracy and operational reliability. Non-calibrated meters can provide erroneous readings, misinforming operators about voltage and current settings, which can lead to improper adjustments, potential overcharging, undercharging, or unsafe operating conditions. Accurate calibration aligns meter readings with standards, within a 0.5% - 5% accuracy range. It prevents inefficiencies in power supply and assists in diagnosing technical issues accurately, helping maintain safe and optimal rectifier operation .

Anda mungkin juga menyukai