0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan16 halaman

Panduan Lengkap Rhinitis: Gejala dan Penanganan

Laporan pendahuluan membahas tentang rhinitis yang meliputi konsep dasar medis, klasifikasi, etiologi, stadium, patofisiologi, manifestasi klinis, dan pemeriksaan diagnostik rhinitis. Rhinitis adalah peradangan membran mukosa hidung yang dapat disebabkan oleh virus atau bakteri dan memiliki berbagai gejala seperti bersin, hidung tersumbat, dan ingus.

Diunggah oleh

Andi Rahmayani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan16 halaman

Panduan Lengkap Rhinitis: Gejala dan Penanganan

Laporan pendahuluan membahas tentang rhinitis yang meliputi konsep dasar medis, klasifikasi, etiologi, stadium, patofisiologi, manifestasi klinis, dan pemeriksaan diagnostik rhinitis. Rhinitis adalah peradangan membran mukosa hidung yang dapat disebabkan oleh virus atau bakteri dan memiliki berbagai gejala seperti bersin, hidung tersumbat, dan ingus.

Diunggah oleh

Andi Rahmayani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

RHINITIS

Oleh:

Andi Rahmayani, [Link]


NIM : 70900116030
Preseptor Lahan Preseptor
Institusi

(.........................................)
(.........................................)

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2016

Asuhan Keperawatan Pada Ny H dengan Diagnosa


Rinitis Di

POLI MATA RSUD SYEKH YUSUF GOWA

Oleh:

Andi Rahmayani, [Link]


NIM : 70900116030

Preseptor Lahan Preseptor


Institusi

(.........................................)
(.........................................)
PROGRAM PROFESI NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2016

RHINITIS
I. KONSEP DASAR MEDIS
A. Definisi
Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada
membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005 ). Rhinitis adalah
peradangan selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 ). Rinitis
adalah suatu inflamasi membran mukosa hidung dan mungkin
dikelompokan baik sebagai rinitis alergik atau non-alergik.
(Keperawatan Medikal-Bedah: Suzanne C. Smeltzer dan
Brenda G. Bare, 2013).

Rinitis akut adalah radang akut mukosa nasi yang


ditandai dengan gejala-gejala rinorea, obstruksi nasi,
bersin-bersin dan disertai gejala umum rasa tidak enak
badan dan suhu tubuh meningkat.

B. Klasifikasi
Rinitis akut terdiri atas 3 tipe, yaitu:
1.
Rinitis Virus
Rinitis virus terbagi 3, yaitu:
a.
Rinitis Simplek (Pilek, Selesema, Comman Cold,
Coryza)
Rinitis simplek disebabkan oleh virus. Infeksi
biasanya terjadi melalui droplet di udara. Beberapa
jenis virus yang berperan antara lain, adenovirus,
picovirus, dan subgrupnya seperti rhinovirus,
coxsakievirus, dan ECHO. Masa inkubasinya 1-4 hari
dan berakhir dalam 2-3 minggu.
Pada awalnya terasa panas di daerah belakang
hidung, lalu segera diikuti dengan hidung tersumbat,
rinore, dan bersin yang berulang-ulang. Pasien
merasa dingin, dan terdapat demam ringan. Mukosa
hidung tampak merah dan membengkak. Awalnya,
secret hidung (ingus) encer dan sangat banyak.
Tetapi bisa jadi mukopurulen bila terdapat invasi
sekunder bakteri, seperti Streptococcus
Haemolyticus, pneumococcus, staphylococcus,
Haemophillus Influenzae, Klebsiella Pneumoniae, dan
Mycoplasma Catarrhalis.
b. Rinitis Influenza
Virus influenza A,B atau C berperan dalam penyakit
ini. Tanda dan gejalanya mirip dengan common cold.
Komplikasi sehubungan dengan infeksi bakteri sering
terjadi.
c. Rinitis Eksantematous
Morbili, varisela, variola, dan pertusis, sering
berhubungan dengan rinitis, dimana didahului dengan
eksantemanya sekita 2-3 hari. Infeksi sekunder dan
komplikasi lebih sering dijumpai dan lebih berat.
2. Rinitis Bakteri
Rinitis bakteri dibagi 2, yaitu:
a. Infeksi Non-spesifik
Infeksi non-spesifik dapat terjadi secara primer
ataupun sekunder.
1) Rinitis Bakteri Primer
Tampak pada anak dan biasanya akibat dari
infeksi pneumococcus, streptococcus atau
staphylococcus. Membrane putih keabu-abuan
yang lengket dapat terbentuk di rongga hidung,
yang apabila diangkat dapat menyebabkan
pendarahan.
2) Rinitis Bakteri Sekunder
Merupakan akibat dari infeksi bakteri pada rinitis
viral akut
b. Rinitis Difteri
Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium
diphteriae. Rinitis difteri dapat bersifat primer pada
hidung atau sekunder pada tenggorokan dan dapat
terjadi dalam bentuk akut atau kronis. Dugaan
adanya rinitis difteri harus dipikirkan pada penderita
dengan riwayat imunisasi yang tidak lengkap.
Penyakit ini semakin jarang ditemukan karena
cakupan program imunisasi yang semakin
meningkat.
Gejala rinitis akut ialah demam, toksemia,
terdapat limfadenitis, dan mungkin ada paralisis otot
pernafasan. Pada hidung ada ingus yang bercampur
darah. Membrane keabu-abuan tampak menutup
konka inferior dan kavum nasi bagian bawah,
membrannya lengket dan bila diangkat dapat terjadi
perdarahan. Ekskoriasi berupa krusta coklat pada
nares anterior dan bibir bagian atas dapat terlihat.
Terapinya meliputi isolasi pasien, penisilin sistemik,
dan antitoksin difteri.
3. Rinitis Iritan
Tipe rinitis akut ini disebabkan oleh paparan
debu, asap atau gas yang bersifat iritatif seperti
ammonia, formalin, gas asam dan lain-lain. Atau bisa
juga disebabkan oleh trauma yang mengenai mukosa
hidung selama masa manipulasi
intranasal,contohnya pada pengangkatan corpus
alienum. Pada rinitis iritan terdapat reaksi yang
terjadi segera yang disebut dengan immediate
catarrhal reaction bersamaan dengan bersin, rinore,
dan hidung tersumbat. Gejalanya dapat sembuh
cepat dengan menghilangkan faktor penyebab atau
dapat menetap selama beberapa hari jika epitel
hidung telah rusak. Pemulihan akan bergantung pada
kerusakan epitel dan infeksi yang terjadi karenanya.
C. Etiologi
Secara umum Rhinitis akut (coryza, commond cold)
merupakan peradangan membran mukosa hidung dan
sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan
bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang
pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim
dingin dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan
dan musim semi. Rinitis disebabkan oleh infeksi virus
yakni:
1. Rhinovirus
2. Myxovirus
3. Virus Coxsakie
4. Virus ECHO
Atau infeksi bakteri yakni:
1. Haemophylus Influensa
2. Steptococcus
3. Pneumococcus dan sebagainya
D. Stadium Rhinitis Akut
1. Stadium prodromal, pada hari pertama:
1) Rasa panas dan kering pada cavum nasi.
2) Bersin-bersin.
3) Hidung tersumbat.
4) Sekret encer jernih seperti air.
Pemeriksaan (rhinoskopi anterior/RA) cavum nasi sempit, terdapat
sekret serous dan mukosa udem dan hiperemis.
2. Stadium akut, hari kedua sampai keempat:
1) Bersin-bersin berkurang.
2) Obstruksi nasi bertambah, akibat obstruksi nasi akut terjadi
hiposmia, gangguan gustateris, rasa makanan tidak enak.
3) Sekret kental kuning.
4) Badan tak enak.
Pemeriksaan cavum nasi lebih sempit, sekret mukopurulen. Mukosa
lebih udem dan hiperemis.
3. Stadium Penyembuhan (resolusi) hari kelima sampai ketujuh:
Gejala-gejala di atas berkurang (udem dan hiperemis berkurang,
obstruksi berkurang, sekret berkurang).
E. Patofisiologi
Virus atau bakteri penyebab Rhinitis terhirup oleh hidung. Pada
stadium permulaan terjadi vasokonstriksi yang akan diikuti vasodilatasi,
udem, dan meningkatnya aktifitas kelenjar seromucinous dan goblet sel,
kemudian terjadi infiltrasi leukosit dan deskuamasi epitel. Sekret mula-
mula encer dan jernih kemudian berubah menjadi kental dan lekat (mukoid)
berwarna kuning mengandung nanah dan bakteri (mukopurulen). Toksin
yang berbentuk terbentuk terserap dalam darah dan limfe, menimbulkan
gejala-gejala umum. Pada stadium resolusi terjadi proliferasi sel epitel yang
telah rusak dan mukosa menjadi normal kembali.
F. Manifestasi klinis
Rinitis akut pada dasarnya memiliki tanda dan gejala yang sulit
dibedakan antara tipe yang satu dengan tipe yang lainnya. Rasa panas,
kering dan gatal di dalam hidung, bersin, hidung tersumbat, dan
terdapatnya ingus yang encer hingga mukopurulen. Mukosa hidung dan
konka berubah warna menjadi hiperemis dan edema. Biasanya diikuti juga
dengan gejala sistemik seperti demam, malaise dan sakit kepala.
Pada rinitis influenza, gejala sistemik umumnya lebih berat disertai
sakit pada otot. Pada rinitis eksantematous, gejala terjadi sebelum tanda
karekteristik atau ruam muncul. Ingus yang sangat banyak dan bersin dapat
dijumpai pada rinitis iritan.
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan kadar IgE pada serum serta hitung jenis
oesinofil pada spesimen sekret hidung.
2. Tes Alergi
Tes ini dilakukan untuk menegakkan bukti secara
objektif akan adanya penyakit atopi. Ia juga dapat
menentukan agen penyebab reaksi alergitersebut, yang
akan dapat membantu dalam penanganan secara
[Link] dua tipe pemeriksaan yang sering
digunakan bagi menilai secarakausatif maupun
kuantitatif sensitifitas suatu alergen: tes kulit dan esai
serumin vitro (in vitro serum assay).
a. Tes Kulit
Dapat dilakukan secara epikutan, intradermal atau
kombinasi keduanya. Tes cukit kulit merupakan tes kulit
secara epikutan yang palingsering digunakan. Secara
umumnya tes ini tergolong cepat,spesifik, aman dan
[Link] adanya sistem tesmultipel yang
tersedia, tes ini mudah dilaksanakan danprosedurnya
selalu tidak pernah [Link] bila hasil tesini
diragukan, selanjutnya dilakukan tes secara intradermal.
Tes cukit kulit secara intradermal menggunakan
pengenceranberseri yang kuantitatif 1:5 merupakan tes
pilihan bagikebanyakan ahli spesialis THT setelah
dilakukan tes cukit kulitsecara epikutan. Tipe tes yang
dikenal sebagaiintradermaldilutional testing (IDT),
dulunya dikenal sebagaiserialendpoint titration (SET) ini
sangat berguna dalam menentukantahap sensitifitas
alergen, dan dalam rangka itu, amatbermanfaat dalam
penentuan terapi imunal yang tepat danaman bagi
penderita rhinitis alergi.
b. Tes in vitro:
Tes ini melibatkan IgE serum yang spesifik dengan
alergen danmerupakan teknik yang mudah dikerjakan
serta akurat dalam mendeteksiadanya pengaruh atopi
pada pasien dengan rhinitis alergi. Teknologi in vitrojuga
sudah sangat dikembangkan sedemikian rupa sehingga
efektifitasnyasudah kurang lebih sama dengan tes cukit
kulit. Tes ini aman, murah dancukup spesifik sehingga
penderita tidak perlu bebas dari pengaruhantihistamin
atau obat-obat lain pada saat pada saat pemeriksaan
dijalankan,yang kalau pada tes cukit kulit, dapat
mengganggu [Link] ini juga sangat mudah dan
cepat dikerjakan sehingga menjadi pilihan
dalammenangani pasien anak-anak maupun dewasa
yang disertai gangguananxietas.
Walaupun tes in vitro yang pertama
yaituradioallergosorbent test(RAST) sudah tidak
dikerjakan lagi, terminologiRAST ini masih
digunakansecara umum dalam menjelaskan
pemeriksaan IgE spesifik darah. Saat ini,sudah banyak
tipe esai in vitro yang ditinggalkan, karena peralihan ke
tipebaru yang lebih cepat, dapat diandalkan dan lebih
efisien contohnya Immuno Cap. Dengan tidak
menggunakan tes yang dapat diandalkan,
dapatberakibat buruk kepada diagnosis atopi yang
seterusnya membawa kepadapenanganan yang tidak
adekuat. Dibawah merupakan bagan pelaksanaan tesin
vitro
H. Komplikasi
1 Polip hidung. Rinitis alergi dapat menyebabkan atau
menimbulkan kekambuhan polip hidung.
2 Otitis media.
Rinitis alergi dapat menyebabkan otitis media yang
sering residif dan terutama kita temukan pada pasien
anak-anak. Otitis media dan sinusitis kronik ini
disebabkan penyumbatan pada hidung sehingga
menghambat drainase.
3 Sinusitis rhinogenik
Otitis media dan sinusitis rhinogenik bukanlah akibat
langsung dari rinitis alergi melainkan adanya sumbatan
pada hidung sehingga menghambat drainase.
4. Infeksi traktus respiratorius bagian bawah seperti laring, tracho
bronchitis, pneumonia.
5. Akibat tidak langsung pada penyakit-penyakti lain yaitu jangung dan
asma bronkhial
I. Penatalaksanaan
Rinitis akut merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri secara
spontan setelah kurang lebih 12 minggu. Karena itu umumnya terapi yang
diberikan lebih bersifat simptomatik, seperti analgetik, antipiretik, nasal
dekongestan dan antihistamin disertai dengan istirahat yang cukup. Terapi
khusus tidak diperlukan kecuali bila terdapat komplikasi seperti infeksi
sekunder bakteri, maka antibiotik perlu diberikan.
Dekongestan oral mengurangi sekret hidung yang banyak, membuat
pasien merasa lebih nyaman, namun tidak menyembuhkan.4 Tetes hidung
efedrin 1 % sangat menolong, bila hidung tersumbat. Oleh karena lisozim
dinonaktifkan dalam suasana basa, maka setiap obat hidung harus
mempunyai pH asam untuk mencegah terjadinya aktivitas silia dan lisozim.
Pemberian obat simtomatik oral sangat efektif dengan diberikan 4 jam
sekali, suatu kapsul yang terdiri dari :2
Efedrin sulfat 0,015 g
Pentobarbital 0,015 g
Asam asetil salisilat 0,300 g atau dapat digantikan dengan 300 mg
Asetaminofen.
Preparat analgetik-antipiretik dapat meringankan gejala, dimana antipiretik
terpilih adalah asetaminofen.
J. Pencegahan
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadnya rinitis akut
adalah dengan menjaga tubuh selalu dalam keadaan sehat. Dengan begitu
dapat terbentuknya system imuitas yang optimal yang dapat melindungi
tubuh dari serangan za-zat asing. Istirahat yang cukup, mengkonsumsi
makanan dan minuman yang sehat dan olahraga yang teraturjuga baik untuk
menjaga kebugaran tubuh. Selain itu, mengikuti program imunisasi lengkap
juga dianjurkan, seperti vaksinasi MMR untuk mencegah terjadinya rinitis
eksantematous. Pencegahan tergantung kepada :
1. Lebih sering mencuci tangan, terutama sebelum menyentuh wajah.
2. Memperkecil kontak dengan orang-orang yang telah terinfeksi.
3. Tidak berbagi sapu tangan, alat makan, atau gelas minum.
4. Menutup mulut ketika batuk dan bersin.
K. Prognosis
Kebanyakan pasien yang diobati memiliki prognosis
yang baik. Rinitis akut merupakan self limiting disease umumnya
sembuh dalam 7 -10 hari. Tapi dapat lebih lama 3 minggu bila ada faringitis,
laringitis atau komplikasi lain.

II. KONSEP KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Identitas
2. Keluhan utama
Bersin-bersin, hidung mengeluarkan sekret, hidung
tersumbat, dan hidung gatal
3. Riwayat peyakit dahulu
Pernahkan pasien menderita penyakit THT sebelumnya.
4. Riwayat keluarga
Apakah keluarga adanya yang menderita penyakit yang
di alami pasien
5. Pemeriksaan fisik :
Inspeksi : permukaan hidung terdapat sekret mukoid
Palpasi : nyeri, karena adanya inflamasi
6. Pemeriksaan penunjang :
a. Pemeriksaan nasoendoskopi
b. Pemeriksaan sitologi hidung
c. Hitung eosinofil pada darah tepi
d. Uji kulit allergen penyebab
B. Diagnosa Keperawatan
1. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan
tentang penyakit dan prosedur tindakan medis
2. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan
obstruksi /adanya secret yang mengental
3. Gangguan pola istirahat berhubungan dengan
penyumbatan pada hidung
4. Hipertemia b/d proses peradangan
5. Nyeri kepala b/d

C. D. DIAGNO E. TUJUAN F. INTERVENSI


N SA

G. H. Cemas J. Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang 1. Kaji tingkat kec


K. Kriteria Hasil :
1 berhubun N. Ras
L. Klien akan menggambarkan
gan tindakan selanj
tingkat kecemasan dan pola kopingnya,
dengan 2. Berikan kenyam
Klien mengetahui dan mengerti tentang
Kurangny pada klien
penyakit yang dideritanya serta
a. Temani k
a
pengobatannya. b. Perlihatka
Pengetah M.
dengan m
uan
O. Rasional
tentang
klien terhadap
penyakit
3. Berikan penjela
dan
penyakit yang
prosedur
tenang seta gu
tindakan
singkat mudah
medis. P. Rasional: Meni
tentang penya
I.
penyakit terse
kooperatif
4. Singkirkan stim
misalnya :
a. Tempatka
lebih tena
b. Batasi ko
/klien lain
mengalam
Q. Rasional:
klien tentang p
penyakit terseb
kooperatif
5. Bila perlu , kola
R. Rasional: Obat
kecemasan kli
S. T. Ketidakef V. NOC : 1. Auskultasi suara nafas
W. Respiratory status : Ventilation AB. Rasional : Penu
2 ektifan
X. Respiratory status : Airway patency
menunjukkan atelektas
jalan Y. Aspiration Control
Z. 2. Buka jalan nafas
nafas AA. Kriteria Hasil : AC. Rasional: M
berhubun 1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas jalan napas
3. Posisikan pasien untuk
gan yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu AD. Rasional: Posisi m
dengan (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas menurunkan upaya per
obstruksi dengan mudah, tidak ada pursed lips) Keluarkan sekret deng
4.
2. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak AE. Rasional : M
/adanya 5. Atur intake untuk cairan m
secret merasa tercekik, irama nafas, frekuensi AF. Rasional: Pem
yang pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara untuk
nafas abnormal) AG. mengencerkan
mengent
3. Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor
al
yang dapat menghambat jalan nafas
U.

AH. AI. Ganggua AK. Tujuan : klien dapat istirahat dan tidur 1. Kaji kebutuhan tid
AN. Rasional:
3 n pola dengan nyaman
AL. Kriteria :Klien tidur 6-8 jam sehari klien dalam peme
istirahat
AM.
tidur
berhubun
2. Anjurkan pasien m
gan
dengan nyaman.
AO. Rasional:
penyumb
dengan tenang
atan
3. Anjurkan klien ber
pada AP. Rasional: Perna
4. Kolaborasi dengan
hidung
AQ. Rasional:
AJ.
kembali lewat hidu
AR.
AS. PENYIMPANGAN KDM RHINITIS
AT.

DAFTAR PUSTAKA
AU.
AV. Adib. 2011. Pengetahuan praktis ragam penyakit mematikan
yang paling sering menyerang kita. Buku Biru. Jokjakarta.
AW. Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi.
EGC: Jakarta.
AX. Khasanah, [Link] Beragam Penyakit
Degeneratif Akibat Pola [Link]:Laksana
AY. Mansjoer, A. 2007. Kapita selekta kedokteran. Media
aeskulapius. Jakarta.
AZ.
BA.

Anda mungkin juga menyukai