0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan25 halaman

Ketegangan di Kelas Sepi Malam

Seorang gadis kembali ke kampusnya di malam hari untuk mengambil data penting yang tertinggal. Di lantai empat, dia menemukan temannya terbaring tak bergerak di lantai. Dia juga melihat sosok lain dengan balok kayu berdarah di dekat temannya. Gadis itu lalu berlari ketakutan meninggalkan kampus.

Diunggah oleh

Fatimah Ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan25 halaman

Ketegangan di Kelas Sepi Malam

Seorang gadis kembali ke kampusnya di malam hari untuk mengambil data penting yang tertinggal. Di lantai empat, dia menemukan temannya terbaring tak bergerak di lantai. Dia juga melihat sosok lain dengan balok kayu berdarah di dekat temannya. Gadis itu lalu berlari ketakutan meninggalkan kampus.

Diunggah oleh

Fatimah Ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

WHICH ONE

PROLOG

Dia menghela napas pelan sambil menatap jam dinding yang berdetak dengan keras. Mengisi
kesunyian ruang kelas yang ditempatinya juga memecahkan konsentrasinya menatap layar
laptopnya.

Jam tujuh malam dan dia masih berada di dalam kelas seorang diri. Ditemani musik
menghentak dari laptopnya yang sengaja di pasang untuk sedikit menghiburnya. Sambil
merenggangkan bahunya yang kaku dia kembali menatap layar laptopnya lalu memutuskan
untuk menghentikan pekerjaannya. Sebaiknya dia pulang sebelum ibunya khawatir dan mulai
menerornya melalui handphone. Lagipula dia juga tak berniat untuk pulang larut hari ini, dia
hanya sedang mengerjakan tugasnya hingga tanpa sadar lupa waktu. Dia bahkan tak ingat kapan
teman-temannya yang lain pulang lebih dulu. Meninggalkannya sendirian di dalam kelas.

Kembali menghela napas, dia membereskan barang-barangnya. Memasukkannya ke


dalam tas sambil memastikan tak ada yang tertinggal. Dia lalu menggunakan tas ranselnya,
memasang earphone di telinganya dan kembali mendengarkan musik dengan irama yang
menghentak kemudian berjalan perlahan keluar dari kelas.

Sekilas dia menatap koridor di depan kelasnya yang tampak lenggang dan gelap. Lampu-
lampu di ruangan lain sepertinya sengaja dimatikan untuk menghemat energi hingga satu-satunya
cahaya hanya berasal dari ruang kelasnya. Langit di luar juga sudah menghitam seluruhnya dan
hanya dihiasi oleh bulan purnama.

Dia menelan ludah gugup, entah kenapa tiba-tiba merasa tak nyaman. Seolah seseorang
sedang mengawasinya dengan tatapan tajam dari dalam kegelapan. Sungguh, dia merasa konyol.
Apa-apan pikirannya tadi. Seseorang sedang mengawasinya? Yang benar saja. Memangnya dia
siapa sampai membuat seseorang repot-repot mengawasinya dari tempat yang tersembunyi.
Rasanya dia ingin menertawakan dirinya sendiri karena pikiran konyolnya.

Menghela napas, dia berjalan pelan menyusuri koridor sambil sesekali mengikuti irama
musik yang didengarkannya. Tapi, meskipun volume musiknya sudah dia keraskan hingga
membuat telinganya sakit, bersikap santai seolah tak peduli pada apapun, tetap saja rasa tak
nyaman itu tetap menghantuinya. Dia bahkan merasa seseorang sedang mengikutinya walaupun
saat menoleh dengan cepat dia tak melihat apapun. Rasanya dia mulai ketakutan hingga ingin
berlari secepat mungkin tapi diurungkannya.

Dia cuma berhalusinasi. Tak perlu sampai panik. Lagipula kalau dia berlari tanpa tau apa
alasannya, dia hanya akan membuat dirinya tampak konyol. Imagenya sebagai seorang pria akan
runtuh begitu seseorang melihatnya ketakutan tanpa alasan yang jelas. Dia hanya akan berakhir
mempermalukan dirinya sendiri.
Tapi, semakin cepat dia melangkah tetap saja dia merasa seseorang sedang mengikutinya.
Dia bahkan mengecilkan volume musiknya agar dapat mendengar langkah kaki orang yang
mengikutinya, namun dia tak mendengarkan apapun selain suara musik. Dia menghentikan
langkahnya. Kesal pada dirinya sendiri yang bersikap konyol. Kalau sampai sekali lagi dia
berbalik dan tak menemukan apapun dia akan benar-benar memukul kepalanya sendiri. Berharap
hal itu dapat mengusir pikiran-pikiran konyol hasil imajinasinya dari dalam kepalanya.

Namun belum sempat dia menoleh, dia merasakan pukulan kuat di kepalanya. Begitu
kuatnya hingga kepalanya serasa meledak. Dia bahkan tak sempat mengeluarkan suara apapun
selain rintihan kecil. Pandangannya berubah gelap dan dia merasakn dirinya tersungkur di lantai
yang dingin.

Sekuat tenaga dia berusaha membuka matanya sendiri. Setidaknya dia harus tau siapa
orang yang berani membuatnya seperti ini. Tapi, rasa sakit di kepalanya membuatnya hanya
mampu membuka matanya sesaat. Dan yang mampu dilihatnya dalam waktu singkat itu
hanyalah sepasang sepatu sneaker dengan warna hitam dengan corak putih yang tak mencolok
sama sekali. Lalu pandangannya kembali gelap dan kesadarannya menghilang bersamaan dengan
kedua matanya yang menutup.

***
Gadis itu melepaskan helm dan masker yang digunakannya lalu menatap sekilas kearah gedung
berlantai empat tak jauh darinya. Dia menghela napas pelan lalu menatap jam tangannya. Jam
tujuh malam dan dia harus kembali ke kampus yang sudah sepi karena barangnya tertinggal di
dalam kelas.

Seandainya barang itu tak begitu berguna mungkin dia akan membiarkannya dan
mengambilnya keesokan hari. Masalahnya barang yang dia tinggalkan adalah data penting untuk
tugasnya. Tanpa data itu dia tak dapat menyelesaikan tugas yang harus dikumpulkannya
beberapa hari lagi. Bodohnya, dia baru ingat meninggalkan data tersebut tanpa sengaja di
kampus saat dia baru akan mulai mengerjakan tugasnya dan tak menemukan data itu di
manapun. Semoga saja cleaning service belum membuang lembaran datanya itu. Kalau sudah,
habislah dia.

Menghela napas sekali lagi, dia kembali menatap gedung berlantai empat itu sambil
menelan ludah gugup. Gelap sekali, membuatnya sedikit khawatir. Bagaimana kalau ada sesuatu
yang menunggu di sana? Bagaimana kalau saat dia sedang menyusuri koridor yang sepi dan
gelap sendirian tiba-tiba sesuatu muncul dan mengejutkannya? Dia tak yakin jantungnya akan
tetap berada di tempatnya. Ugh, dia merasa takut.

Dia tidak berani masuk ke sana sendirian. Apa sebaiknya dia meminta seseorang
menemaninya, tapi siapa?? Besok akhir pekan dan temannya yang dia tau tinggal di dekat sini
sudah kembali ke kampung halamannya tadi sore, memutuskan menghabiskan akhir pekan di
tempat asalnya. Sementara yang lain, dia tidak enak mengganggu malam tenang mereka.

Membulatkan tekad, dia memutuskan untuk masuk ke dalam sendirian. Lagipula dia
membawa senter di dalam tasnya. Setidaknya hal itu bisa membuatnya sedikit tenang. Baiklah,
dia mengangguk yakin. Dia siap menghadapi apapun yang akan ditemukannya nanti. Dia hanya
perlu bergegas masuk, mengambil data yang tertinggal di dalam kelasnya lalu segera keluar.
Hanya itu. Tak akan menghabiskan waktu yang lama kalau dia berlari.

Dengan penuh tekad, dia mengambil senter di dalam tasnya lalu turun dari motor.
Memastikan senternya berfungsi dengan baik lalu melangkah perlahan, sedikit ragu memasuki
gedung itu. Ruang kelasnya berada di lantai empat, membuatnya menggerutu dalam hati.
Mengutuk siapapun yang mengatur penempatan kelasnya di lantai empat, toh dia hanya
mengutuk di dalam hati jadi tak masalah. Tak akan terdengar oleh siapapun hingga tak akan ada
yang tau kecuali dirinnya sendiri dan Tuhan.

Menarik napas panjang, dia mulai menaiki anak tangga satu per satu dengan langkah
pelan. Niat awalnya untuk berlari diurungkannya begitu saja. Suasanya begitu sunyi dan
mencekam, membuatnya merasa takut sendiri saat menimbulkan suara sekecil apapun. Bahkan
walaupun itu adalah suara dari langkah kakinya sendiri.

Semakin jauh dia melangkah, perasaannya semakin tak enak. Dia merasa seseorang
sedang mengawasinya dari balik kegelapan. Pikiran seperti itu membuat tubuhnya terasa dingin
walaupun dia sudah menggunakan jaket. Suara langkah pelannya yang memecahkan kesunyian
di sekitanya bahkan semakin memperburuk suasana.

Dia menghentikan suaranya begitu mendengar suara keras. Seperti suara sesuatu yang
dipukul dan suara benda jatuh yang kemudian disusul dengan suara rintihan. Tanpa sadar dia
mempererat genggaman pada senternya yang langsung dia arahkan pada kakinya sendiri. Dia tak
ingin menarik perhatian apapun yang menimbulkan suara itu tapi dia juga terlalu takut untuk
mematikan senternya karena itu dia hanya berani mengarahkan cahaya senter itu kearah kakinya
sendiri. Paling tidak hal itu tak akan membuat apapun yang menimbulkan suara tadi menyadari
kehadirannya.

Sekilas dia menatap sekelilingnya. Menyadari kalau kini dia telah berada di lantai empat.
Dia hanya perlu berjalan sedikit lagi dan berbelok untuk mencapai kelasnya tapi yang
dilakukannya justru bersembunyi di balik dinding. Suara keras tadi berasal dari belokan yang
ingin ditujunya dan hal itu semakin membuatnya takut. Mungkin saja suara tadi hanya
imajinasinya karena terlalu tegang. Mungkin saja tadi dia hanya salah dengar, tapi tetap saja dia
takut untuk melanjutkan langkahnya.

Dia kembali menghela napas pelan. Menunggu beberapa saat hingga yakin dia tak
mendengar suara apapun sambil menenangkan debaran jantungnya yang menggila, dia
memutuskan untuk kembali melangkah. Mengarahkan senter ke depannya sambil berharap tak
ada apapun selain dirinya di tempat ini.

Namun sepertinya harapan itu sia-sia saja. Dia hampir menjerit dengan keras saat cahaya
senternya menyinari sosok tubuh pemuda yang terbaring di lantai dan tak bergerak. Dia
mengenali tubuh pemuda itu sebagai salah satu teman sekelasnya. Tapi apa yang dilakukan
pemuda itu di tempat ini dan kenapa tubuh itu tak bergerak? Dia bahkan tak melihat gerakan
tarikan napas pemuda itu. Apakah pemuda itu baik-baik saja?

Dia baru akan menggerakkan kakinya untuk mendekati pemuda itu sebelum cahaya
senternya menangkap sosok lain yang juga berada di tempat itu. Sedikit jauh dari tubuh sang
pemuda hingga membuat cahaya dari senter yang diarahkannya tepat ke tubuh tak bergerak
pemuda itu hanya mampu memperlihatkan sepasang sepatu sneaker berwarna hitam dengan
corak putih juga balok kayu dengan bercak darah yang menempel.

Tanpa sadar senter yang digenggamnya terlepas. Dia bahkan tak ingat apakah dia masih
menghirup napas atau tidak. Yang dia ingat hanyalah dia membalikan tubuhnya dengan cepat
lalu berlari. Berlari sekencang mungkin dalam kegelapan. Menuruni tangga dengan cepat sambil
sesekali menengok ke belakang. Memastikan sosok dengan balok kayu tadi tak mengikutinya.

Dia bahkan tak ingat lagi dengan nasib temannya yang terbaring di lantai. Dia hanya
terus berlari walaupun napasnya mulai putus-putus dan kedua kakinya mulai sakit. Berusaha
menyelamatkan dirinya sendiri. Dia tak ingat bagaimana dia berhasil sampai ke tempat motornya
terparkir. Dia bahkan tak ingat apakah dia menggunakan masker dan helmnya dengan benar.
Yang diingatnya adalah saat menyalakan motornya denga terburu-buru, cahaya lampu depan
motornya menangkap sosok yang tadi dilihatnya sedang berjalan dengan pelan ke arahnya.
Membuatnya semakin panik, tak menyangka sosok itu berada tak jauh darinya.

Sambil berdoa dalam hati, berharap hal itu dapat mengusir sosok menakutkan yang
dilihatnya, dia dengan cepat mengeluarkan motornya dari parkiran dan langsung melajukan
motornya dengan kecepatan tinggi. Pergi dari tempat itu secepat mungkin. Dari kaca spion
motornya dia sempat melihat sosok itu menghentikan langkahnya dan hanya berdiri menatap
kepergiannya. Membuatnya sedikit merasa lega namun tetap tak menurunkan kecepatan
motornya.

***
BAB 1

Berita tentang kejadian itu muncul tak lama kemudian. Memenuhi halaman depan koran lokal
juga menjadi bahasan menarik di beberapa situs internet. Dengan judul yang berukuran besar,
sengaja dibuat untuk menarik perhatian orang-orang. Membahas tentang kematian seorang
mahasiswa di wilayah kampusnya sendiri dengan luka pukulan di kepala yang menewaskannya.
Menariknya lagi, senjata pembunuhnya tak ditemukan di manapun. Yang ditemukan di tempat
kejadian hanyalah sebuah senter yang masih menyala dan mengarah ke tubuh tak bernyawa sang
mahasiswa. Menyinarinya dengan cahaya kuning yang perlahan menghilang karena kehabisan
daya.

Berita itu membuat wilayah kampus ramai. Cleaning servis yang menemukan tubuh tak
bernyawa itu di pagi hari dengan panik menghubungi pihak kepolisian. Membuat mahasiswa dan
mahasiswi yang tak mengetahui apapun menjadi panik saat melihat gerombolan polisi yang
berlalu lalang dan menanyai siapapun yang mereka temui dengan pertanya-pertanyaan
membingungkan.

Pihak kampus juga tampak heboh berkeliaran. Sebagian menghalau para wartawan yang
entah muncul dari mana sementara yang lain ikut membantu penyelidikan polisi. Seorang
mahasiswi dibawa oleh beberapa polisi untuk menemui pimpinan mereka dan hal itu tak luput
dari perhatian orang-orang yang ingin mencari tau. Mahasiswi itu ditanya beberapa pertanyaan
yang menghabiskan cukup banyak waktu. Walaupun akhirnya gadis itu hanya ditetapkan sebagai
seorang saksi tapi hal itu tak membuatnya lepas dari tatapan curiga orang-orang. Bahkan ada
yang terang-terangan menunjuknya sebagai seorang pelaku. Apalagi saat benda yang menjadi
alasan gadis itu berada di tempat kejadian saat waktu pembunuhan itu terjadi tak ditemukan di
manapun.

Berita menggemparkan itu bertahan cukup lama. Walaupun waktu telah berlalu selama
setahun tapi masih ada yang membicarakannya. Merasa tak puas karena sang pelaku masih
belum ditemukan. Bahkan motif pembunuhannya pun masih tak jelas hingga orang-orang mulai
membuat pendapat mereka masing-masing. Yang terkadang hanya berisi pendapat-pendapat
konyol dan menuduh.

***
Gadis itu menatap keluar jendela dari tempatnya duduk lalu menghela napas pelan. Jam
perkuliahan sudah selesai dari tadi dan dia tak punya kepentingan lagi namun dia masih tetap
duduk di tempatnya. Menunggu kelas sepi lalu dia akan membereskan barang-barangnya
kemudian pulang. Selalu seperti itu selama setahun ini.

Dia kembali menghela napas pelan. Walaupun setahun telah berlalu tapi tak ada yang
berubah. Tatapan-tatapan menuduh dari orang-orang masih sering didapatkannya. Cemohan
dengan kata-kata kasar juga sering dilontarkan padanya saat dia berjalan. Bahkan teman-teman
sekelasnya sendiri tak ada lagi yang menganggap kehadirannya. Semua menjauh seolah dia
wabah penyakit. Semua menatapnya dengan curiga dan terkadang dengan takut seolah dia
psikopat gila yang sedang mencari mangsa berikutnya.

Sekali lagi dia menghela napas pelan. Yah, dia hanya perlu bertahan seperti yang selama
ini sudah dilakukannya. Menulikan telinganya dari kata-kata kasar penuh tuduhan yang sering
dilontarkan orang-orang dan membutakan matanya dari tatapan-tatapan tajam penuh tuduhan
yang sering diterimanya. Dia hanya perlu bertahan untuk beberapa tahun lagi sebelum
kelulusannya. Mungkin saja setelah lewat beberapa waktu lagi orang-orang akan mulai
melupakan berita itu dan dia akan kembali mendapatkan kehidupan normalnya. Walaupun saat
yang ditungggunya bukanlah hari ini.

Dia berbalik perlahan saat seseorang menyentuh bahunya pelan. Dia lalu tersenyum kecil
pada orang yang kini berdiri di hadapannya sambil bersandar pada dinding dengan santai. Sosok
yang merupakan satu dari sedikit orang yang mempercayainya dan masih ingin berada di
dekatnya tanpa diminta dan hal itu sedikit membuatnya terhibur. Setidaknya masih ada sedikit
orang yang tetap mendukungnya dan percaya padanya. Itu saja sudah cukup untuk membuatnya
tetap bertahan menghadapi tuduhan orang lain padanya.

Fatimah:"Ada apa, Tiara? Kau kelihatan murung. Yah, walaupun kau selalu murung belakangan
ini." Whats wrong, Tiara? You look so sad. Well even you always look sad back then.

Tiara, gadis itu menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja. Hanya sedang berpikir." Nothing. Im
just thinking.

Fatimah: "Tentang kejadian malam itu lagi?" What? About that night?

Fatimah: "Sudah lewat setahun dan kau masih memikirkannya. Kau tau itu hanya akan
membebani pikiranmu. Kenapa tak kau lupakan saja? Lagipula kau hanya kebetulan berada di
tempat kejadian di waktu yang salah. Pihak kepolisian juga tak menetapkanmu sebagai tersangka
jadi seharusnya kau bisa tenang." Its been a year and you still thinking about it. You know it
will make you under pressure. Just forget about it. In that night you just in the wrong place at
the wrong time. The police also didnt set you as a suspect so you should be calm.

Tiara: "Mudah untuk mengatakannya, Fatimah. Tapi tidak mudah untuk melakukannya. Kau bisa
mengatakan hal itu pada orang-orang yang masih dengan setia menuduhku dan kalau mereka
berhenti baru aku akan kembali menjalani hariku seperti biasanya." Its easy to say, Fatimah.
But its hard to do. You can say about that to people who still judge me as a suspect and if they
stop, I can back to my normal life.

Fatimah:"Kalau soal orang-orang itu aku tak bisa melakukan apapun. Sudah beberapa kali aku
menjelaskan pada mereka tentang yang terjadi tapi mereka sama sekali tak mendengarkan. Aku
justru dituduh membelamu tanpa tau kejadian sebenarnya padahal mereka juga sama.
Membuatku kesal dan terkadang ingin memukul wajah tak peduli mereka sekali saja." I cant
do anything about that. I explained about it so many times to them but no one who heard me. I
was also accused of defending you without know the truth even they are same. Makes me piss out
and want to punch their annoying face.
Tiara: "Sudah kubilang, mudah untuk mengatakannya. Kau lihat sendiri mereka tak akan
mempercayaimu walaupun sekeras apapun kau mencoba menjelaskan kejadiannya karena
memang kau tak ada di sana. Kau tak melihat langsung bagaimana tubuh Whilly terbaring kaku,
tak bergerak sama sekali. Kau tak tau bagaimana rasanya saat menyadari pelakunya berada
begitu dekat denganmu dan mungkin saja berencana untuk menghabisimu sekalian karena sudah
menangkap basah dirinya. Kau tak merasakan bagaimana jadi diriku saat itu, Fatimah. Jadi
percuma saja kau menjelaskan semuanya pada orang lain." I told you its easy to said. You see
even though they will not believe you no matter how hard you try to explain what happened
because you were not there . You dont see directly how Whillys body not moving at all . You
dont know what its like when you realized the culprit was so close , and maybe planning to kill
you because you caught him . You dont know how it feels to be me, Fatimah . So it's useless you
explain about it to the others.

Fatimah: "Kau membuatku merasa bersalah, Tiara. Seharusnya saat itu aku menemanimu dan
bukannya menghabiskan akhir pekanku di rumah. Kalau seandainya aku menemanimu mungkin
kau tak akan melewati hal ini sendirian. Setidaknya aku juga akan mengalami hal yang sama jadi
aku akan mengetahui apa yang kau rasakan." You make me guilty, Tiara. I supposed to be with
you and not waste my weekend at home. If I am with you maybe this is not gonna happen. It will
make me feel the same thing so I know whats your feelling.

Tiara: "Kenapa kita tiba-tiba jadi melankolis seperti ini? Sama sekali tak cocok untukmu." Why
we become so melancholy like this? Its not match with you at all.

Fatimah: "Kau benar. Anggap saja hal ini tak pernah terjadi." You right. Lets just say it never
happen.

Tiara: "Tentu." Sure. Tiara menyahut pelan lalu ikut tertawa.

Fatimah: "Bagaimana kalau kita menyelidikinya?" How about we investigate it?

Tiara: "Hah??" Huh? Dia menatap Fatimah dengan tatapan bingung

Fatimah: "Kita menyelidiki tentang apa yang terjadi malam itu. Mungkin saja kita akan
menemukan petunjuk baru yang berharga. Bagaimana?" We investigate what happened that
night. Maybe we will get some clue. What do you think?

Tiara: "Kau mau kita menyelidiki kejadian setahun yang lalu?" You want us to investigate what
happened a year ago?

Fatimah mengangguk dengan semangat. "Yap. Tak ada salahnya, kan. Lagipula kalau kita
menemukan petunjuk baru hal itu juga bisa sedikit membantumu." Yap. Thats not wrong, right.
Even if we found any clue that things gonna help you.
Tiara: "Memangnya apa yang akan kita dapatkan dari menyelidiki kejadian setahun yang lalu?
Kau yakin kita akan menemukan sesuatu?" You think what will we got from that? You sure we
well found something?

Fatimah: "Mungkin saja. Apa salahnya kita mencobanya. Lagipula beberapa kasus justru
terpecahkan saat beberapa tahun telah berlalu." Maybe we will. Some case are revealed after
years.

Tiara: "Kau terlalu banyak membaca komik Conan." You read Conan to much.

Fatimah: "Yah setidaknya ada beberapa pelajaran yang kudapatkan dari membaca serial komik
itu selain hiburan yang menegangkan." Yeah, I got some lesson from that comic.

Tiara: "Dan kau ingin mempraktekan apa yang sudah kau pelajari dari komik itu?" And do you
want to try whats you got?

Fatimah: "Tepat sekali. Jadi bagaimana? Kau mau?" Exactly. So? You want it?

Tiara menggeleng pelan. Tak menyangka dengan jalan pikiran temannya itu. "Kau terdengar tak
masuk akal." You sounds crazy.

Fatimah: "Jadi, kau mau atau tidak?" So, you want it or not?

Tiara: "Baiklah." Okey. Dia berkata pasrah. "Kapan kau ingin kita menyelidikinya?" When
we start?

Fatimah: "Malam ini." Tonight.

***

Nopal: Ada apa? Kau sakit? What happen? Are you okey?

Fanida: Gadis itu menggeleng pelan. Tidak. Aku baik-baik saja. Nope. Im fine.

Nopal: Benarkah? Lalu kenapa kau tak menyentuh makananmu sama sekali, Fanida? Kau tidak
suka dengan makanannya? Really? Then why you not eat your food, Fanida? Dont you like
your food?

Fanida, gadis itu kembali menggeleng pelan. Aku baik-baik saja, Nopal. Sungguh. Aku hanya
sedang memikirkan sesuatu. Im fine, Nopal. Really. Im just thinking about something.

Nopal: Tentang kematian Whilly? About Whilly?


Nopal: Sampai kapan kau akan seperti ini terus, Fanida? Kejadian itu sudah berlalu setahun
yang lalu. How long you will act like this, Fanida? The incident was over a year ago.

Fanida: Aku tidak bisa. Fanida berkata dengan pelan. Hampir seperti berbisik dengan nada
putus asa. Seharusnya waktu itu kita tak meninggalkannya sendirian. Seharusnya waktu itu kita
tetap bersama dengannya hingga kejadian ini tak akan terjadi. I cant. Supposedly at that time
we didnt leave him alone . Supposedly that time we stayed with him until this incident would not
have happened

Nopal:Sudah kukatakan itu bukan kesalahanmu, Fan. Dia sendiri yang ingin tinggal lebih lama
di kelas. Kau juga sudah membujuknya berulang kali tapi dia tetap menolak, kan. Jadi semuanya
bukan kesalahan kita. I told you that was not your foult, Fan. He decide to stay longer in the
[Link] also had persuade him many times but he didnt heard you, right. So its not our foult.

Fanida: Tapi tetap saja aku merasa bersalah. Kejadian itu tidak akan terjadi kalau kita tetap
tinggal. Whilly akan tetap bersama kita sekarang kalau saat itu kita menemaninya sampai dia
selesai mengerjakan tugasnya. But I still feel guilty.

Nopal: Kau tak akan membuat hal ini menjadi lebih mudah, kan. You're not going to make it
easier, right

Nopal: Lalu kau mau aku melakukan apa, Fan? So, what do you want me to do, Fan?

Fanida: "Aku tidak tau, Nopal. Aku tidak tau." gadis itu berkata dengan begitu frustasi. I dont
know, Nopal. I dont know.

Nop: "Baiklah." Nopal kembali menghela napas, entah untuk yang keberapa kali. "Kalau kau
mau, kita bisa menyelidiki kasus kematiannya lagi. Mungkin saja kita akan menemukan
sesuatu." Okey. If you want, we can investigate the case again. Maybe we can find something.

Fan : "Kapan??" When?

Nop: "Malam ini. Bagaimana?" Tonight. What do you think?

Fanida diam. Tampak sedang memikirkan usulan sang pacar itu lalu mengangguk. "Baiklah."
Okey.

***
Riska :"Argh, sial!!" Gadis itu langsung melemparkan berkas-berkas yang di bawanya ke atas
meja dengan kesal lalu menghempaskan tubuhnya sendiri ke kursi kerjanya. Tampak begitu
marah dan frustasi di saat yang bersamaan. Membuat kedua temannya yang lain menatap dirinya
dengan aneh. Argh, crap!!

Khol: "Ada apa, Riska?" Whats wrong, Risk?


Risk: "Pak tua itu benar-benar membuatku kesal." That old man really make me upset. Riska
mendengus lalu merebahkan kepalanya di atas meja. Merasa lelah setelah menghadapi
kemarahan sang atasan yang menyebalkan.

Kris: "Apa yang terjadi?" Whats going on?

Risk: "Pak tua itu mau berita baru yang menghebohkan untuk edisi mendatang sementara kita
hanya memiliki berita-berita biasa tentang hal-hal yang sering terjadi di lingkungan masyarakat.
Hal itu membuatnya tak puas." That old man want a new big news for next edition and we just
have a regular news about things that often happens in the community. It made him not happy

Kris: "Mau bagaimana lagi toh akhir-akhir ini memang tak ada kasus baru yang menghebohkan.
Kebanyakan hanya gosip tak penting yang ada di kalangan para artis."

Risk: "Argh, kau benar." Argh, youre right. Riska menggerang frustasi. "Aku juga sudah
menjelaskan seperti itu tapi si bos besar tak mau tau. Dia bilang kalau kita tak bisa menemukan
berita baru yang menghebohkan maka kita harus membuatnya." I told him like that but he
doesnt hear me. He said if we cant find a big news then we can make it.

Kris: "Membuat berita? Maksudnya kita mengarang berita untuk edisi bulan depan?" Make a
news? Thats mean you want us to write a fake news for next edition?

Risk: "Entahlah, Kristin. Aku juga tak benar-benar mengerti jalan pikiran pak tua pemarah itu."
I dont know, Kristin. I never understand that old mans mind.

Khol: "Guys. Kalian tau tentang gedung yang ditutup di salah satu kampus karena kejadian
setahun yang lalu?" Guys, do you know about building on one campus where was close because
of the incident a year ago?

Kristin mengangguk pelan. "Yang kau maksud itu kasus pembunuhan seorang mahasiswa di
wilayah kampusnya setahun yang lalu, kan. Kasus yang sampai sekarang belum terpecahkan itu."
That you mean is the murder of a student in campuss area a year ago, right. The unsolved case
until now.

Kholis mengangguk pelan sementara Riska masih menatapnya dengan kening berkerut.

Risk : "Memangnya ada apa dengan gedung itu?" So, what was wrong with that building?

Khol: "Bagaimana kalau kita ke sana? Mungkin saja kita bisa menemukan sesuatu yang bisa
dijadikan berita." How if we go there? Maybe we can get something for news. Pemuda itu
memberikan usulnya sambil meletakkan kamera yang dipegangnya di atas meja lalu fokus
menatap wajah kedua temannya.

Kristin : "Memangnya apa yang akan kita temukan di sana? Tak akan ada yang menarik." What
will we get if we go there? Thats will be nothing interesting.
Kholis: "Setidaknya aku sudah memberikan ideku. Terserah kalian mau menerimanya atau tidak.
Lagipula tak ada masalahnya kita mengangkat kembali berita tentang kasus itu. Dengan sedikit
tambahan dari hasil penyelidikan kita mungkin saja bisa membuat berita itu kembali
menghebohkan." Well at least I give an idea. Its up to you guys want to accept it or not.
Moreover there isnt problem if we rewrite a news about that case with a new version.

Kris: "Itu pun kalau kita berhasil menemukan sesuatu. Kalau kita tidak menemukan apapun di
sana sama saja kita membuang-buang waktu." Well, it will be work out if we can find
something. But if we cant it will be useless.

Risk: "Menurutku ide Kholis bagus juga. Kita bisa mencoba ke sana dan menyelidiki kasus itu
kembali. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang menarik." I think Kholis idea quite
interesting. We can try to go there and investigate that case again. Maybe we will get something
interesting.

Kris: "Tapi kemungkinan itu masih belum tentu ada, Riska. Kita hanya membuang-buang
waktu." But its almost imposibble, Riska. We just waste our time.

Risk: "Kita pasti akan menemukan sesuatu, Kristin. Aku bisa menjamin hal itu. Kita akan
menemukan berita besar." We will get something, Kristin. Trust me. We will get a big news.

Kris: "Baiklah." Kristin memilih mengalah daripada harus kembali berdebat melawan kedua
temannya itu. Hanya membuang-buang energinya saja. "Kapan kita akan mulai menyelidiki
gedung itu??" Alright. When we will investigate that building?

Risk: "Malam ini." Toninght. Riska berujar dengan pasti. Sementara Kholis hanya kembali
mengangkat bahunya dengan acuh lalu kembali meraih kameranya di atas meja.

***
Asri : "Hei, besok sudah akhir pekan, kan. Kalian tak ada rencana ingin pergi ke suatu tempat??"
Hey, tomorrow is weekend, right. Do you have plan to spent your weekend?

Lilik: menggeleng pelan. "Entahlah." I dont know. katanya sambil meletakkan handphonenya
di atas meja. "Aku mungkin hanya akan berada di rumah sepanjang akhir pekan." Maybe I will
just at home

Reza: "Kau tidak kembali ke tempat asalmu?" Do you not go back to your hometown? Reza
bertanya sambil tetap menatap handphonenya. Sibuk membalas pesan dari pacarnya yang
perhatian.

Lilik, gadis itu kembali menggeleng. "Tidak. Minggu kemarin aku sudah pulang, jadi minggu ini
aku akan tetap di sini. Kau sendiri??" Nope. I did it last week so for this week I will still here.
What about you?
Reza: "Aku juga akan tetap di sini." Me too. I will still here. Reza menjawab singkat.

Asri: "Kalau begitu, bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bersama. Berlibur ke suatu
tempat mungkin." Well, how about we spent our time together? Maybe like go to holiday. Asri
mengungkapkan usulannya. Membuat teman-temannya kembali fokus menatap dirinya.

Eca : "Ke mana??" Where? Reza bertanya sambil meletakkan handphonenya

Asri menggeleng pelan. "Aku belum sempat memikirkannya. Usulan tadi juga langsung datang
begitu saja ke otakku jadi aku belum sempat memikirkan tempat yang bagus." Well, I still not
thinking about it.

Nul: "Hei, kalian masih ingat dengan kasus setahun yang lalu? Kasus yang menyebabkan gedung
putih dengan empat lantai di kampus kita di tutup?" Hey, guys do you remember about the case
a year ago? Because that case, the white building in our campuss was closed. Khusnul yang dari
tadi diam, membuka suaranya. Membuat ketiga temannya yang lain menatapnya dengan
bingung.

Lik: "Kasus tentang pembunuhan mahasiswa dari jurusan lain itu, kan." The case about murder
of student from another department, right. ujar Lilik yang langsung mendapatkan anggukan dari
Khusnul "Ada apa memangnya dengan kasus itu?" So, whats wrong with that case?
sambungnya dengan penasaran.

Khusnul : tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kita menghabiskan akhir pekan di gedung itu?
Kita bisa melakukan uji nyali di sana. Aku dengar semenjak gedung itu di tutup banyak kejadian
aneh di sana. Kita bisa membuktikan keaslian kabar yang aku dengar. Apakah hanya rumor atau
memang ada sesuatu di sana." How if we spend our weekend in that building? We can do guts's
test. I heard since that building was closed, there are so many weird thing there. We can prove
the authenticity of the things I heard. Is it just a rumor or there is a something there.

Eca: "Ah, itu ide yang bagus. Kita juga belum pernah mencobanya, kan. Ayo kita lakukan." Reza
berseru dengan girang. Ah, thats a good idea. We never try to do it, right. So Lets we do it

Asri menggeleng pelan diikuti oleh Lilik. "Tidak." No. seru mereka berbarengan. "Aku tidak
akan melakukannya." I want not do it. tegas Lilik dan disetujui oleh Asri. "Kalian saja yang
lakukan." You guys do it. But Lilik and I never want to do it.

Eca: "Kenapa? Bukannya tadi kau yang memberikan usul untuk menghabiskan akhir pekan kita
bersama." Why? This is your idea to spend our weekend together.

Aci: "Tapi, kan aku mengusulkan untuk berlibur bersama, Za. Bukannya melakukan uji nyali
yang konyol seperti usul Khusnul." But I said holiday, Ca. Not absurd gutss test like Khusnuls
idea.
Nul : "Liburan bersama itu biasa saja, Asri. Lebih seru kalau kita melakukan hal lain yang lebih
menantang." Its boring, Asri. Its more exciting if we do something else more challenging.

Lilik menggeleng dengan pasti. "Aku lebih setuju dengan Asri. Uji nyali itu hanya membuang-
buang waktu saja." I more agree with Asri. Doing a gusts test is just waste our time.

Khusnul mendengus pelan. "Kalian tidak seru sama sekali." You are not fun at all.

Reza mengangguk setuju. "Penakut." Coward.

Wil: "Hei." Hi. Mereka berempat menoleh bersamaan menatap gadis lain yang sedang berjalan
ke arah mereka sambil tersenyum. Lalu duduk di samping Khusnul dan menatap wajah mereka
satu per satu. "Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya seru." What are you guys talking
about? Its sounds interesting.

Eca: "Bukan sesuatu yang penting." Not something important. Reza menjawab. "Hanya sedang
membahas rencana untuk uji nyali." We just talk about gusts test plan.

Wilda: "Uji nyali? Di mana?" Gusts test? Where?

Nul: "Kau tau gedung putih yang ditutup itu?" Do you know the white building closed? Wilda
mengangguk mendengar pertanyaan Khusnul. "Rencananya kami akan melakukannya di sana."
Well, the plan we will do gusts test there.

Lik: "Bukan kami tapi kalian." Not us. Just you. Lilik membantah dengan keras.

Wil:"Ah, itu rencana yang bagus. Boleh aku ikut?" Ah, thats a good idea. Can I join? Wilda
bertanya yang langsung diangguki oleh Khusnul dan Reza lengkap dengan senyum puas di wajah
mereka.

Aci: "Kalian gila." You guys are crazy. Asri berkata pelan.

Lik: "Benar. Kalian hanya akan mendapatkan masalah kalau ke sana." Thats true. You will get
trouble if go there.

Wil: "Kenapa?" Why? Wilda bertanya sambil tersenyum. "Kalian takut?" Are you scared?
dia bertanya dengan nada mengejek.

Aci,lik: "Tidak." No, Iam not. Asri dan Lilik menjawab bersamaan. Menimbulkan tawa kecil
diantara teman-temannya yang lain.

Wil: "Kalau begitu tak ada masalah, kan. Kalian akan tetap ikut bersama kami." Well, if that so,
there is not problem, right. You guys will go with us. Wilda memutuskan secara sepihak yang
langsung disetujui oleh Khusnul dan Reza. Sementara Lilik dan Asri hanya menghela napas
pelan. Merasa kalah melawan tiga orang sekaligus.
Wil :"Jadi, kapan kita mulai?" So, when we will start? Wilda kembali bertanya.

Nul: "Malam ini." Tonight. Khusnul berkata dengan pasti. "Malam ini adalah waktu yang
paling tepat." Tonight is the perfect time.

***
BAB 2

Fatimah: pelan lalu mengusap tengkuknya. "Hanya perasaanku saja atau gedung ini tambah
menyeramkan."

Tiara: "Sepertinya yang kedua. Gedung ini memang terlihat lebih menyeramkan saat malam."

Fat: "Bagaimana kalau kita pulang saja?"

Tiara: "Kenapa?" Dia, Tiara balas bertanya sambil merapatkan jaketnya. Angin malam
membuatnya kedinginan. "Kau yang mengajakku ke sini, kan. Untuk menyelidiki kembali kasus
kematian Whilly."

Fatimah: "Benar. Tapi itu sebelum aku tau kalau gedung ini akan terlihat semakin menyeramkan
saat malam."

"Kau takut?" Tiara bertanya setengah mengejek.

Fatimah menggeleng pelan. "Tidak. Aku hanya merasa sedikit aneh."

Tiara: "Aneh kenapa?"

Fat: "Rasanya sesuatu yang buruk akan terjadi malam ini. Ugh seharusnya tadi aku menelpon
ibuku dulu sebelum ke sini tapi handphone ku mati dan aku kehilangan charger ku."

Tiara: "Memangnya ada apa dengan ibumu? Dia sakit?"

Fat: "Tidak. Aku hanya khawatir tak bisa menelpon ibuku lagi nanti."

Tiara: "Fatimah?" Panggilnya pelan. "Kau baik-baik saja?"

Fatimah mengangguk. "Memangnya aku terlihat seperti orang sakit??"

"Tidak." Tiara menjawab pelan. "Hanya saja, kau terdengar berbeda. Seperti bukan dirimu. Kau
yakin baik-baik saja?"

Fatimah tertawa pelan, membuat Tiara semakin menatapnya dengan khawatir. "Aku baik-baik
saja. Tadi sebelum ke sini aku sempat menonton film yang terakhirnya sang tokoh utama
menghilang tanpa jejak. Jadi aku sedikit berpikir tentang keluarga ku kalau hal yang sama terjadi
padaku."
Ra: "Film apa?"

Fat: "Aku lupa judulnya. Bukan hal yang penting juga karena itu hanya film sementara kita di
dunia nyata. Di dunia nyata tak akan ada orang yang menghilang begitu saja, kan."

Tiara menghela napas pelan. "Kupikir tadi kau kerasukan. Mau pinjam handphone ku dulu untuk
menelpon ibumu?"

Fat: "Memangnya kau bawa handphone?"

Tiara langsung memeriksa saku jaketnya dan juga tas ranselnya namun tak menemukan apapun.
Dia tampak berpikir sejenak lalu senyum bersalah terukir di wajahnya. "Sepertinya aku
meninggalkan handphoneku di rumah."

Fat: "Sudahlah." Fatimah berkata pelan sambil membuka ranselnya dan mengeluarkan santer dari
dalam ransel hitamnya. "Aku bisa melakukannya nanti saat kembali. Sebaiknya kita masuk
sekarang sebelum satpam menemukan kita dan mengusir kita dari sini."

Tiara mengangguk pelan sambil mengeluarkan senternya dari dalam tas. "Ayo kita selesaikan ini
secepatnya dan segera pulang. Lama-lama di sini hanya membuatku mengingat kenangan
buruk."

***
"Jam berapa sekarang?" Gadis itu bertanya pelan sambil menatap sekelilingnya. Lalu menggeser
perlahan mendekati pemuda di sampingnya. Suasana kampus yang begitu sunyi membuatnya
takut. Membuatnya merasa berada di tempat yang asing padahal setiap hari dia selalu
menghabiskan waktunya di sini hingga sore sebelum memutuskan untuk pulang setelah jam
kuliahnya selesai.

"Tidak tau." Pemuda itu menjawab pelan. "Kenapa tidak lihat jam tanganmu?"

"Aku lupa pakai jam tangan."

"Kalau begitu lihat di handphone saja."

"Aku juga lupa bawa handphone."

Pemuda itu menghela napas pelan lalu menatap gadis di sampingnya dengan datar. "Kau
benar-benar menakjubkan, Fanida. Melupakan semuanya dengan mudah."

Fanida menggerutu sambil memukul bahu pemuda di sampingnya itu pelan. "Semuanya
salahmu, Nopal."

"Kenapa jadi salahku?"


"Saat kau menjemputku, aku sedang bersiap-siap sambil mencharger handphoneku. Kau
benar-benar tak sabaran tadi jadi aku buru-buru dan melupakan hal-hal penting."

"Alasan. Kau saja yang suka berlama-lama melakukan sesuatu."

"Nopal, kau benar-benar mengesalkan." Fanida menggerutu kesal sementara pemuda di


sampingnya itu tertawa pelan lalu menggenggam tangannya dengan erat. Seolah tak ingin
melepaskannya. "Kau lucu sekali kalau sedang kesal."

Fanida mendengus. "Lepas. Aku tidak mau disentuh olehmu."

Nopal kembali tertawa. "Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali kau selucu ini.
Rasanya aku merindukan omelanmu."

"Nopal!! Seriuslah sedikit. Kau membuatku mulai jengkel."

"Iya, sayang. Aku minta maaf tapi aku benar-benar merindukan dirimu yang lucu seperti
ini. Semenjak Whilly meninggal, kau selalu murung dan melamun. Membuatku selalu
mencemaskanmu."

"Nopal, seriuslah."

"Baiklah." Nopal mengalah lalu melirik jam tangannya sekilas. "Tadi kau bertanya
tentang jam, kan. Sekarang sudah jam tujuh lewat lima menit. Memangnya kenapa?"

Fanida menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Hanya saja rasanya aneh. Baru jam tujuh lewat
tapi rasanya seperti tengah malam. Gelap sekali."

"Kau takut?"

"Sedikit. Apalagi gedung putih itu terlihat lebih menyeramkan. Rasanya aku ingin
pulang."

"Ayo kalau kau memang ingin pulang. Tapi setelah itu kita tidak akan pernah mencoba
untuk melakukan hal ini lagi, bagaimana?"

Fanida kembali menggeleng. "Aku tidak ingin pulang sebelum berhasil menemukan hal
baru tentang kasus Whilly."

Nopal mengangguk lalu mengambil senter dari dalam tasnya. "Baiklah. Ayo kita mulai
penyelidikan kita."

***
"Sial."
Kholis menoleh dari kesibukannya menatap gedung menyeramkan di depannya dan
menatap datar gadis berambut panjang di sampingnya yang sibuk mengguncang handphonenya
dengan keras. "Kau sedang apa, Kristin?"

"Aku tidak dapat sinyal." Kristin menjawab kesal. "Bagaimana bisa di wilayah kampus
seperti ini handphoneku tak dapat sinyal."

"Simcard mu saja yang jelek."

"Memangnya kau dapat sinyal, Kholis??"

Kholis menggeleng dengan santai. "Handphoneku ketinggalan di kantor."

"Ck." Kristin semakin kesal. "Bagaimana bisa kau meninggalkan handphone mu di


kantor? Memangnya kau hidup di jaman apa?? Riska juga belum terlihat sama sekali padahal dia
yang paling bersemangat untuk mendatangi tempat ini. Kalau sampai lima menit lagi dia belum
datang, aku akan pulang."

Kholis kembali menggeleng pelan melihat kelakuan temannya itu lalu kembali fokus
menatap gedung di depannya. "Kau lagi pms ya? Dari tadi kerjaanmu hanya marah-marah tak
jelas."

"Lebih baik marah-marah tak jelas daripada memandangi gedung menyeramkan itu.
Memangnya apa yang sedang kau lihat?"

Kholis mengangkat bahunya. "Entahlah. Tapi sepertinya tadi aku melihat cahaya dari
lantai empat."

"Mungkin kau salah lihat." Kristin berkata dengan tak peduli.

"Hei, kalian."

Kristin dan Kholis menoleh bersamaan menatap gadis yang berlari ke arah mereka
dengan terburu-buru. "Maaf aku telat. Tadi ada sedikit urusan."

Kristin kembali mendengus. "Alasan."

Riska membungkukan tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada lutut.
Berusaha untuk mengatur napasnya yang memburu. "Kau bisa menyimpan omelanmu dulu,
Kristin. Lagipula aku hanya terlambat lima menit." Gadis itu lalu mengangkat kepalanya dan
menatap Kholis yang sudah sibuk mengeluarkan senter dan kamera dari dalam tasnya. "Untuk
apa kamera itu?"

Kholis memandang Riska dengan datar. Tampak bosan dengan pertanyaan konyol dari
gadis itu. "Memangnya untuk apalagi kalau bukan untuk merekam. Mungkin saja kita akan
menemukan sesuatu yang menarik, jadi aku harus merekam semuanya dari awal."
Riska mengangguk mengerti lalu ikut mengambil santer dari dalam tasnya. "Kalau begitu
apalagi yang kita tunggu? Ayo kita mulai penyelidikannya."

***
"Sudah kubilang ini ide yang buruk." Lilik berkomentar pelan sambil menatap gedung tinggi di
depannya yang gelap gulita sementara kedua tangannya menggenggam senter dengan ragu. "Bisa
kita pulang saja??"

Khusnul mendengus pelan. "Kita sudah sampai di sini, Lilik. Sia-sia saja kalau kita tidak
masuk."

"Kenapa bukan kalian saja yang masuk? Aku dan Lilik akan menunggu di sini. Berjaga-
jaga kalau ada sesuatu yang terjadi." Asri membuka suaranya tanpa mengalihkan tatapannya dari
gedung di depannya.

Reza tertawa pelan. "Aku tau kau tidak akan melakukannya, Asri. Kalian berdua pasti
akan langsung pulang begitu kami masuk ke dalam."

"Tepat sekali." Lilik dan Asri menjawab bersamaan. Membuat Wilda yang daritadi sibuk
dengan handphonenya terkekeh pelan.

"Kalau kalian berdua benar-benar takut, kenapa tetap datang?" Wilda bertanya sambil
menyimpan kembali handphonenya di dalam tas. Lalu tertawa saat melihat Lilik dan Asri hanya
saling menatap. Seolah baru menyadari kebodohan yang mereka lakukan.

Khusnul dan Reza juga ikut tertawa saat Lilik dan Asri tak menjawab sama sekali.
"Kalian benar-benar lucu."

Reza mengangguk setuju. "Padahal kalian bisa saja tak datang."

"Kalau begitu, boleh kami pulang?"

Wilda menggeleng. "Karena kalian sudah di sini, kalian tidak bisa mundur lagi."

"Benar." Tambah Khusnul. "Jadi, ayo kita mulai petualangan kita."

Asri dan Lilik kembali saling menatap lalu menghela napas. Pasrah mengikuti ketiga
teman mereka yang sudah lebih dulu melangkah menuju gedung gelap gulita itu sambil
menyalakan senter mereka masing-masing.

***
BAB 3
Kedua gadis itu melangkah pelan menyusuri kegelapan dengan mengandalkan pencahayaan dari
senter mereka masing-masing. Tak ada diantara mereka yang berbicara. Seolah takut suara
apapun yang mereka timbulkan akan menarik sesuatu yang tak diinginkan.

Salah satu dari kedua gadis itu menghentikan langkahnya. Padahal mereka baru saja
sampai di lantai tiga. Entah karena mereka yang berjalan terlalu lambat atau memang tangga di
gedung itu yang terlalu banyak hingga beberapa menit telah berlalu mereka baru sampai di lantai
tiga.

"Ada apa?" Tiara ikut menghentikan langkahnya dan berbalik. Menatap bingung sosok
Fatimah yang menatap lekat tangga yang baru saja mereka lalui.

Fatimah menoleh menatap Tiara dan menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Mungkin aku
hanya salah dengar."

"Memangnya apa yang kau dengar?"

"Langkah kaki. Sepertinya bukan hanya kita yang berada di sini. Tapi itu juga kalau aku
tidak salah dengar."

Tiara terdiam. Ikut mendengarkan lalu menatap Fatimah dengan ragu. "Aku juga
mendengarnya. Jadi sepertinya itu bukan salah dengar."

Fatimah langsung menghampiri Tiara saat langkah-langkah kaki itu terdengar makin
jelas. "Sebaiknya kita bersembunyi dulu. Bisa jadi suara langkah kaki itu milik pelaku yang
pernah kau lihat." katanya tegang sambil menarik tangan Tiara. Membawa gadis itu
mengikutinya ke ruangan terdekat yang berada di lantai itu.

"Mungkin saja itu suara langkah kaki milik cleaning servis."

Fatimah menggeleng pelan. "Gedung ini sudah tidak dipakai lagi, Tiara. Jadi mustahil
kalau itu cleaning servis."

"Kau benar. Aku lupa kalau gedung ini sudah tak dipakai."

"Kita sembunyi dulu. Setidaknya sampai kita tau siapa pemilik suara langkah itu.
Mungkin saja kita mengenalnya."

"Kalau tidak?"

Fatimah menghela napas pelan. "Berarti kita hanya bisa berdoa dia tak akan menemukan
kita."

***
"Gelap sekali. Aku takut."
Nopal tersenyum kecil lalu menepuk pelan tangan Fanida yang melingkari lengannya.
"Tenanglah." Hiburnya. "Kau aman bersamaku."

"Tapi aku takut, Nopal. Bagaimana kalau tiba-tiba ada hal buruk yang muncul?"

"Jangan khawatir, aku ada di sini. Aku yang akan melindungimu kalau ada sesuatu yang
terjadi."

Fatiimah terus mengamati suara langkah kaki yang semakin mendekat dan melihat dua orang
muncul, Fatimah bergerak mundur untuk bersembunyi ketika kaki nya tidak sengaja menginjak
kaki Tiara. auu jerit tiara, Fatimah reflex membekap mulut sahabatnya itu. Ngapain kalian di
sini? suara berat seorang laki-laki terdengar tidak bersahabat.

Fanida kaget melihat dua orang di hadapannya. kamu! Apa kamu juga akan membunuh kami
berdua setelah kamu membunuh Whilly? ujar Fanida dengan emosi.

Tiara hanya diam saja tidak berusaha membela diri karena dia tau pembelaan nya akan percuma.

Fatimah melepas tangannya dari mulut tiara Tunggu dulu, kalian berdua apa yang kalian
lakukan di sini? Aku dan tiara di sini untuk menyelidiki kasus kematian teman kalian dan
menangkap pembunuh sebenarnya. Sahutnya sambil menatap tajam kearah nopal dan fanida.

percuma kamu mencari pelaku sebenarnya, karena pelaku sebenarnya selalu bersama kamu.

Fatimah tidak terima mendengar perkataan fanida terserah apa kata mu fanida, yang harus kamu
tahu bahwa status sahabatku ini adalah saksi bukan tersangka, ingat itu! Fatimah kesal dan
bkierjalan melewati fanida dan nopal sambil menarik tangan tiara yang hanya terdiam di
tempatnya.

pal, ayo kita ikuti mereka. Fanida berjalan beriringan dengan nopal mengikuti Fatimah dan
tiara.

***
kita turun aja yuk, gak usah naik ke lantai atas lagi. Ajak Asri yang sudah mulai keringat
dingin.

Lilik berusaha menenangkan asri sedangkan reza hanya tertawa melihat tingkah kedua
temannya itu. Husnul berjalan paling depan memimpin teman-temannya dan wilda maih sibuk
berkutat dengan hp nya. Husnul masuk ke dalam salah satu ruang kelas yang sudah sangat
berdebu diikuti oleh teman-temannya yang lain. apa ada yang kau temukan husnul? suara
wilda memecah keheningan. BRAAKK. Pintu ruangan itu tertutup. Sekilas husnul melihat
bayangan seseorang menutup pintu tersebut. Mereka semua berlari ke arah pintu kecuali wilda
yang tetap tenang.
hey buka pintu nya. Teriak lilik. jika kau berani hadapi kami semua jangan bermain-main
seperti ini.

Asri semakin panik siapa pun di luar sana tolong bukakan pintu ini untuk kami, aku harus
pulang ke rumah ibuku pasti mencariku.

Husnul terus memukul pintu tersebut, tolong bukakan pintunya

hey pembunuh sialan buka pintunya, malam ini aku akan bertemu dengan pacarku, aku tidak
punya banyak waktu untuk bermain-main denganmu seru reza dengan emosi

Sementara wilda hanya menatap keempat temannya dengan wajah datar. sudahlah kalian hanya
membuang-buang tenaga, lebih baik kita memikirkan bagaimana cara membuka pintu ini.

apa kamu punya ide, wil?

hemm, pecahkan saja kaca pintunya.

apa kamu gila? Kita akan dapat masalah kalau sampai memecahkan kaca pintu ini. Aku tidak
ingin mendapat masalah dengan pihak kampus.

atau kita dobrak saja pintunya?

tenaga kita tidak cukup kuat untuk mendobrak pintu ini.

aaargh, dasar pembunuh sialan.

Asri merengek2

***
Kristin, kholis, dan riska menaiki anak tangga. Kristin masih sibuk mencari signal ponselnya. Ini
ini aneh, kenapa di kampus seperti ini tidak ada signal?

Kholis masih mengutak-atik kameranya. sepertinya kita tidak akan mendapatkan informasi
apapun hari ini. Bagaimana jika kita pulang saja besok kita lanjutkan lagi.

oke lis, aku sudah sangat lelah hari ini.

Riska hanya menatap datar kedua temannya dan terus menyusuri [Link] kalian berdua
tidak mendengarkan suara wanita?

jangan bercanda riska,sebaiknya kita pulang saja. Ini sudah sangat sore. Kholis berbalik arah
diikuti Kristin. Langkah mereka terhenti ketika mendengar jeritan wanita.
aku nggak bercanda kholis, kamu dengar sendiri kan? Tapi sepertinya suara itu dari lanta atas.
Riska berjalan melewati kholis dan berlari ke lantai atas disusul oleh Kristin. Kholis langsung
menyalakan kamera dan merekam kedua temannya.

Mereka bertiga sudah sampai di lantai atas.

apa kamu gila? Kita akan dapat masalah kalau sampai memecahkan kaca pintu ini. Aku tidak
ingin mendapat masalah dengan pihak kampus.

atau kita dobrak saja pintunya?

tenaga kita tidak cukup kuat untuk mendobrak pintu ini.

aaargh, dasar pembunuh sialan.

Asri merengek2

hei apa ada orang di dalam?

iya, siapapun di luar sana tolong bukakan pintunya!

Ceklek

Kristin :apa yang kalian semua lakukan di sini?

Husnul, reza :kami penasaran dengan kematian salah satu mahasiswa di kampus kami. Kami
penasaran dengan rumor kalau pembunuh sebenarnya adalah orang yang menjadi saksi. jadi
kami ke gedung ini.

Asri, lilik :kami berdua hanya menemani teman2 kami saja, iya kan lik? Iya, sebenarnya aku
juga tidak terlalu penasaran dengan kasus pembunuhan itu.

Riska :kalian itu hanya anak kecil, bahkan polisi saja belum bisa memecahkan kasus ini. Lebih
baik kalian pulang saja ke rumah kalian, kalian di sini hanya membuang2 waktu.

Fanida :kalian siapa? Kalian tidak punya hak untuk menyuruh kami pulang. Kami harus
mencari pembunuh sahabat kami.

Kholis :kami bertiga wartawan, kami juga ingin mengungkap kasus pembunuhan setahun lalu
yang belum terungkap.

fatimah :intinya kita semua disini punya tujuan yang sama kan, yaitu mencari tahu tentang
kasus pembunuhan setahun yang lalu. Bagaimana kalau kita pergi bersama2.

Tiara : aku setuju denganmu Fatimah, setidaknya jika kita pergi bersama2 pembunuh itu akan
berpikir dua kali sebelum menyerang kita.
Nopal :sebaiknya kita bergegas sekarang sebelum malam. Jika sudah malam kita sama saja
masuk ke sarang singa.

Wilda: ayo kita pergi sebelum semakin gelap!

***
Reza :nul bisa antarkan aku ke toilet, aku kebelet banget nih.

Husnul :lik, aku antar reza ke toilet dulu ya.

Lilik:ok. Hati-hati.

Eca masuk ke toilet, husnul cuci tangan sambil nyanyi.

Reza: aaaaa

Husnul:rez, reza kamu baik2 saja ? Reza (menggedor pintu toilet) darah mengalir dari toilet
reza husnul berlari kearah teman-teman nya berkumpul

Tiara:kenapa nul? Kamu kelihatan panik

Husnul: reza terkunci di toilet ada darah mengalir seru husnul terbata2

Mereka semua langsung pergi ke toilet dan mendobrak pintu toilet, tapi tidak ada reza, dan ada
sedikit percikan darah.

Nopal:kita harus cari reza, jangan sampai dia yang jadi korban lagi.

Riska:sebaiknya kita bagi jadi 2 kelompok. Aku, kholis, Kristin, Fanida, dan asri kearah kiri,
sisanya kearah kanan.

Fatimah: ayo kita berangkat. Keluarkan senter kalian semua!

Nopal, Fatimah, tiara, wilda, husnul, lilik berjalan beriringan, husnul berjalan paling belakang.

Wilda:kalian yakin bisa menemukan reza dengan cara seperti ini?

Husnul :aku tidak terlalu yakin, karena sampai sekarang kita belum menemukan tanda-tanda
keberadaan reza.

Lilik :apa kaliian punya ide yang bisa membantu menemukan reza?

Mulut husnul dibekap dengan obat bius dan husnul di bawa pergi

Tiara:menurutku kita tidak seharusnya berpisah seperti sekarang, karena itu akan
mempermudah pembunuh itu melakukan rencana jahatnya pada kita.
Lilik:iya ra, kamu benar, pembunuh itu pasti sedang berkeliaran sekarang dan mengincar kita
semua, kita harus tetap waspada.

Nopal:kita istirahat dulu 15 menit.. semuanya duduk kecuali nopal yang mulai menyadari
anggota kelompoknya ada yang kurang dimana husnul?

Lilik : husnul tadi di belakangku.

Fat:kita harus kembali ke jalan tadi untuk mencarinya, sebelum terlambat.

Mereka berlari ke tempat yang mereka lewati.

***

Fanida, nopal berlari

Fanida:itu jalan keluarnya pal, kita harus cepat sebelum pembunuh itu datang

Nopal :ayo fan, BUGH sebuah balok menghantam tubuh nopal hingga terjatuh

Fanida:nopal.

Eca
Lilik
Husnul
Tiara
Titin
Fatimah
Aci
Ending: fanida, nopal, riska, kholis, wilda

Anda mungkin juga menyukai