II.
KONSEP TERJADINYA PENYAKIT TANAMAN
1. Pendahuluan
Penyakit tumbuhan sebenarnya sudah ada sejak benih ditebar atau sejak awal tumbuh.
Penyakit tumbuhan selalu bertambah jenis dan tingkat serangannya, selain itu penyakit yang
dulu tidak ada dan tidak dikenal sekarang menjadi ada dan menjdi dikenal, yang dulu tidak
merugikan sekarang merugikan. Hal tersebut terjadi karena patogen bisa terbawa melalui
bahan tanam (benih, umbi, batang) dan tersebar melalui transportasi, manusia, alat pertanian
yang memungkinkan perpindahan patogen yang semakin luas. Contoh : umbi kentang dari
Amerika Serikat yang dibawa ke Eropa ternyata sakit lanas (cendawan Phytophora infestans).
Saat ini banyak dihasilkan dan dikembangkan tanaman dengan kuantitas dan kualitas
termasuk tanaman tahan terhadap penyakit. Dengan meluasnya lahan tanaman tahan terhadap
penyakit maka organisme (mikroba) yang dulunya bukan patogen dan tidak atau kurang
merusak tanaman sekarang bersifat sebagai patogen dan merusak tanaman. Cara bercocok
tanam yang dilakukan sering menimbulkan dan memicu timbulnya penyakit baru, seperti
sistem monokultur, pemupukan yang intensif dan penggunaan varietas baru Selain
menimbulkan penyakit baru, cara bercocok tanam juga menyebabkan timbulnya ras baru dari
patogen, misal cendawan Phyllosticta syzygii penyebab penyakit cacar teh pada cengkeh
merupakan cendawan baru yang ditemukan di Lampung pada tahun 1974 dan sebelumnya di
Indonesia belum ada.
Penyakit tumbuhan dapat menyebabkan kerugian secara langsung adalah menurunnya
kuantitas dan kualitas hasil pertanian, biaya produksi meningkat, kemampuan usaha tani
menurun. Kerugian secara tidak langsung adalah harga hasil pertanian menjadi lebih mahal,
pendukung usaha tani menjadi lesu, kualitas lingkungan munurun, keracunan pada manusia.
Penyakit tumbuhan menurunkan jumlah atau kuantitas hasil pertanian karena serangannya
dapat merusak dan bahkan menghancurkan total tanaman sehingga jumlah hasil panen
menurun atau tidak panen. Contoh : penyakit hawar dengan patogen bakteri Xanthomonas
campestris pv. manihotis pada ubikayu dapat menurunkan hasil panen sebesar 50-90 persen
dan pada serangan berat tanaman mati, penyakit karat dengan patogen cendawan Phakopsora
pachyrrhizi pada kedele dapat menurunkan hasil panen sebesar 40-9- persen. Selain itu,
kualitas atau mutu hasil panen juga dapat menurun karena penyakit tumbuhan, contoh :
penyakit kudis dengan patogen Streptomyces scabies pada kentang akan mempengaruhi
penampilan umbi sehingga konsumen menghindari untuk membelinya meskipun sebenarnya
masih dapat dikonsumsi.
Kerugian lain akibat penyakit tanaman adalah. Biaya produksi meningkat,
kemampuan usaha tani menurun, harga hasil pertanian menjadi lebih mahal, pendukung
usaha tani menjadi lesu.. Kualitas lingkungan menurun dan keracunan pada manusia.
Masalah ini sering terjadi karena residu pestisida yang digunakan sering mencemari
lingkungan seperti sungai, sistem pengairan. Selai itu, penyakit tumbuhan yang patogennya
terbawa atau bertahan dalam benih dapat mengakibatkan keracunan pada manusia karena
menghasilkan toksin. Contoh : cendawan Aspergillus flavus dalam benih kacang
menghasilkan aflatoksin yang menyebabkan keracunan pada manusia.
Tujuan dari uraian konsep terjadinya penyakit ini adalah mahasiswa mampu
menjelaskan faktor utama penyebab terjadinya penyakit pada tumbuhan dan
mengembangkan pengetahuan keberadaan penyakit tanaman pada lahan tanaman, daerah
tertentu.
1. Pabiotik/enyakit Tumbuhan
2. Penyakit Tumbuhan Infeksius
Penyakit tumbuhan sebenarnya merupakan aktivitas fisiologi tumbuhan yang
merugikan, disebabkan oleh adanya gangguan dari suatu penyebab primer atau pathogen
atyang terus menerus dan ditunjukkan melalui aktivitas seluler yang abnormal dan
diekspresikan dalam kondisi patologik yang khas dan disebut gejala (symptom) (Agrios,
1997). Penyakit tumbuhan juga didefinisikan sebagai gangguan yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan normal dari struktur dan fungsi tumbuhan yang
diekspresikan sebagai gejala (symptom), juga mempengaruhi nilai ekonomis dan kualitas
produk atau tumbuhan.
Pada tumbuhan sakit aktivitas fisiologi tumbuhan seperti penyerapan air dan hara oleh
akar, pengangkutan air dan hara dari tanah ke daun, aktivitas fotosintesa, sintesis protein,
aktivitas pembentukan buah dan lainnya menjadi terganggu.
Sementara itu, penyebab penyakit atau patogen dibedakan menjadi 2 yaitu biotik,
contoh : bakteri, virus, cendawan yang menyebabkan penyakit infeksius dan abiotik.
Kekurangan unsur hara, pengaruh lingkungan (pH, temperatur, kelembaban, sinar), polusi
udara yang menyebabkan penyakit non infeksius dan berdasar periode kejadiannya
dikelompokkan menjadi penyakit yang terjadi di pertanaman dan penyakit pasca panen
(selama pengiriman/transportasi, pemasaran, penyimpanan/gudang).
Beberapa penyakit pada tanaman yang telah dibudidayakan dan dapat menyebabkan
kerugian hasil,
a. Penyakit layu fusarium merupakan salah satu penyakit penting di antara penyakit lainnya
yang menimbulkan kerugian pada tanaman tomat. Penyakit layu fusarium yang
disebabkan oleh F. oxysporum, dapat menyerang bermacam-macam tanaman seperti
pisang, semangka, cabe, tomat, dan famili Solanaceae yang lainnya.
Gejala permulaan dari serangan F. oxysporum adalah terjadinya pemucatan daun dan
tulang daun, diikuti dengan merunduknya daun. Daun menjadi layu dan lambat laun
berwarna kuning, kelayuan terjadi mulai dari daun terbawah, terus ke daun bagian atas.
Infeksi oleh F. oxysporum pada tanaman muda dapat menyebabkan semai busuk sebelum atau
sesudah muncul dari tanah atau tanaman tumbuh menjadi tanaman kerdil. Pada tanaman
dewasa infeksi menyebabkan daun menjadi pucat, sedikit demi sedikit tanaman layu dan
akhirnya mati. Pada batang yang terserang terdapat bercak yang panjangnya dapat mencapai
60 cm, menjadi nekrotik dan mempunyai masa spora berwarna merah muda. Bila pada bagian
pangkal batang diiris akan terlihat warna coklat pada pembuluh kayu. Akar tanaman yang
diserang menjadi rusak dan busuk, tanaman menjadi layu dan mati. Berbeda dengan layu
bakteri, layu fusarium ini tidak menyebabkan keluarnya lendir. Biasanya layu total dapat
terjadi antara 23 minggu setelah terinfeksi..
b. Penyakit Kerdil rumput (grassy stunt)).pada tanaman padi penyakit ini ditularkan oleh
wereng coklat (Nilaparvata lugens) . Penyakit ini menunjukkan gejala kerdil daun kecil-kecil
menyempit dan runcing seperti rumput, banyak anakan seperti kipas atau rumput. Diduga
penyakit ini disebabkan oleh virus. Zarah virus berbentuk isometrik dengan garis tengah
20nm dan virus tidak terbawa oleh biji.. Penyakit ini menyerang di segala umur padi dan
mudah berkembang seiring meningkatnya populasi vektor.
c. Penyakit Hawar Bakteri Hawar bakteri dianggap sebagai penyakit terpenting ubi kayu
di negara-negara penghasil ubi kayu seperti Afrika, Asia dan Amerika latin. Jika keaadan
membantu penyakit ini menyebabkan kerugia 90-100 %, namun demikian di Indonesia
penyakit ini masih belum [Link] ini disebabkan oleh bakteri Xantomonas
campestris pv. Manihot. Gejala hawar bakteri pada ubikayu, pada daun terdapat bercak
kebasa-basahan berbentuk tidak teratur bersudut-sudut. Bercak berubah coklat muda
mengeriput dan akhirnya layu. Jika batang dibelah akan terdapat massa bakteri.
3. Proses Terjadinya Penyakit Tumbuhan
Penyakit tumbuhan terjadi karena adanya proses interaksi yang saling mendukung
atau kompatibel dari ketiga komponen yaitu patogen yang virulen, inang yang peka dan
lingkungan yang mendukung perkembangan penyakit dan ketiga komponen tersebut disebut
konsep segitiga penyakit (Gambar 2.1).
Patogen
Inang
Penyakit Lingkungan
Gambar 2.1. Konsep Segitiga Penyakit
Namun demikian saat ini ketiganya selalu dihadapkan pada campur tangan komponen
keempat yaitu manusia sebagai factor dominan terjadinya penyakit tumbuhan sehingga
disebut konsep tetrahedron penyakit (Gambar 2.2), contoh : pengolahan tanah, penggunaan
varietas unggul, penggunaan pestisida, pengaturan suhu di lahan.
Manusia
Konsep Tetrahedron Penyakit
Patogen
Lingkungan Inang
Gambar 2.2. Konsep Tetrahedron Penyakit
Komponen 1 : penyebab penyakit. Penyebab penyakit dapat berupa faktor abiotik seperti
kelebihan unsur hara, polusi air irigasi, iklim yang ekstrim, pemupukan yang berlebih. Selain
itu penyebab penyakit dapat berupa faktor biotik atau organisme hidup seperti cendawan,
bakteri, virus, nematoda dan yang dipelajari adalah faktor biotik yang sering disebut sebagai
patogen. Patogen dalam patogenesisnya atau kemampuan menimbulkan penyakit ada
beberapa istilah yang digunakan yaitu :
a. Patognesis atau patogenisitas yaitu ukuran kualitatif dari kemampuan patogen untuk
menimbulkan penyakit pada tanaman sehingga dikenal istilah patogenik dan non-patogenik.
b. Virulensi yaitu ukuran kuantitatif untuk membedakan tingkat patogenisitas patogen
dengan kisaran avirulen sampai virulen. Sebagian besar patogen bersifat parasit karena
memperoleh nutrisi dari sel tumbuhan sehingga sifat patogen dibedakan menjadi :
- Parasit obligat : patogen yang hanya dapat hidup sebagai parasit atau hanya dapat hidup
pada bahan organik.
b. Saprofit fakultatif : patogen yang dapat meneruskan kehidupan pada sisa tanaman yang
terserang patogen.
c. Parasit fakultatif : patogen yang sebagian besar hidup secara saprofit tetapi pada keadaan
tertentu hidup sebagai parasit.
Komponen 2 ; tanaman inang.
a. Ketahanan tanaman inang terhadap OPT. Tanaman inang yang dapat berinteraksi
dengan patogen disebut peka/rentan/susceptible sedangkan tanaman inang yang tahan
terhadap infeksi patogen disebut tahan/resistant dan tanaman inang yang tidak terinfeksi oleh
patogen disebut kebal/immune.
Gambar 2.3. Penyakit Embun Tepung
1. perkembangan spora jamur powdery mildew
menjadi houstorium pada tanaman tanahan
2. perkembangan spora jamur powdery mildew
b. Populasi dan sebaran keragaman inang. Penanaman tanaman monokultur lebih
menguntungkan OPT dan populasi tanaman yang tinggi memberikan ketersediaan makanan
yang melimpah bagi OPT, Populasi yang padat juga menyebabkan lingkungan mikro yang
menguntungkan bagi OPT dimana kelembapan menjadi lebih tinggi canopy tanaman yang
saling berdekatan sehingga pathogen lebih mudah menyebar dalam satu areal kebun seperti
halnya penyakit patek/antraknosa pada lahan cabai .
Komponen 3 : lingkungan.
Lingkungan yang terdiri dari temperatur, kelembaban, pH tanah, lapisan air pada
daun, cahaya/sinar sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan patogen, contoh :
cendawan Puccinia graminis tritici penyebab penyakit gosong pada gandum mampu
melakukan infeksi dan berkembang dalam satu siklus selama 22 hari pada 5C atau 15 hari
pada 10C dan 5 sampai 6 hari pada 23C; cendawan Plasmodiophora brassicae penyebab
akar gada pada tanaman kubis berkembang antara pH 5,7 sampai pH 6,2 dan berspora penuh
pada pH 7,8.
2. Mekanisme Infeksi Patogen Tumbuhan
Mekanisme infeksi patogen khususnya cendawan ke dalam tumbuhan melalui suatu
rangkaian proses patogenesis yang terdiri dari beberapa fase (Gambar 2.5) berikut :
1. Inokulasi
Waktu Periode
Generasi Inkubasi 2. Perkecambahan spora Fase Pra Penetrasi
[Link] buluh kecambah
[Link] apresorium
5. Penetrasi Fase Penetrasi
[Link]
[Link] awal Fase Pasca Penetrasi
[Link]/Penyebaran Inokulum
Periode
Infeksius 9. Kematian Patogen/Sporulasi Berhenti
Gambar 2.5. Proses Patogenesis dalam Mekanisme Infeksi Patogen Tumbuhan
(Khususnya Cendawan)
Inokulasi
Inokulasi merupakan proses jatuhnya inokulum pada permukaan tumbuhan inang. Bila
pada permukaan terdapat embun/air dan suhu udara saat inokulasi mendukung maka akan
terjadi proses patogenesis tersebut di atas. Inokulum dibedakan menjadi dua berdasar tipenya
yaitu inokulum primer dan sekunder. Inokulum primer melakukan infeksi pada awal musim
(infeksi primer) dan berasal dari patogen dorman (tidak aktif/masa bertahan). Inokulum
sekunder dihasilkan dari penyakit hasil inokulum primer dan menimbulkan infeksi sekunder
pada penyakit bersiklus banyak (polisiklik).
Sementara itu, berdasar sumbernya, inokulum dapat diperoleh/berasal dari lahan
pertanian yang terinfeksi patogen, sisa tumbuhan sakit, inang akternatif, inang perantara,
sedang berdasar cara terbawanya dapat melalui bahan perbanyakan vegetatif (stek, umbi, akar
tinggl), benih, serangga vektor, angin, air.
Penetrasi
Penetrasi adalah proses masuknya patogen ke dalam jaringan/sel tanaman. Proses
infeksi tidak akan terjadi jika patogen tidak berhasil menembus jaringan tanaman.. Tanaman
secara alami memiliki penghambat masuknya patogen ke dalam tanaman baik secara fisik
atau morfologi tanaman yang memiliki lapisa lilin atau secara kimia dimana tanaman
memiliki zat-zat tertentu yang menyebabkan patogen tidak mampu menembus jarianagan
tanaman.
Kemampuan patogen mengadakan penetrasi ditentukan oleh konstitusi genetik dan
faktor luar yaitu kondisi lingkungan. Penetrasi dapat terjadi dengan beberapa mekanisme:
a. Menggunakan konstruksi genetik yaitu apresorium atau ujung penetrasi (penetration peg)
menembus epidermis atau kutikula tanaman namun demikian belum diketahui apakah
menembus secara mekanis dengan bagian penetrasi yag keras ataukah adanya enzim yang
dihasilkan dapat mendegradasi selulose dan pektin dinding sel tanaman. Seperti Alternaria
melea
b. Melalui lubang-lubang alami tanaman seperti stomata, lentisel, hidatoda dan extodesmata.
Stomata adalah lubang pada daun yang digunakan untuk respirasi patogen masuk pada
saat stomata membuka, seperti Puccinia graminis, Rizoctonia solani. Lenti sel adalah
lubang kecil pada batang atau akar tempat pertukaran gas dari tanaman keluar atau dari
luar ke tanaman, Streptomyces scabies pada kentang dan Sclerotium fructicola penyebab
akar coklat pada tanaman buah batu
c. Melalui lubang yang terjadi karena luka/lubang yang disebabkan alat-alat pertanian,
contohnya adalah kanker batang penyakit ini tidak akan timbul jika tidak ada luka.
disease resistance against
haustorium
formingpathogens in plants
Proses Infeksi
Setelah berada di permukaan tumbuhan patogen memerlukan kondisi (temperatur,
kelembaban, air) yang sesuai untuk memulai aktifitasnya. Aktifitas dilakukan dengan cara
menembus langsung permukaan tumbuhan atau mendegradasi dinding sel menggunakan
enzim. Selanjutnya di dalam sel tumbuhan patogen melakukan hubungan makan (hubungan
patogenik) dengan menghasilkan senjata kimia berupa enzim, toksin, hormon pengatur
pertumbuhan.
1. Enzim : menghancurkan/mendegradasi senyawa komponen dinding sel (kitin, pektin,
selulosa, hemiselulosa) dan senyawa dalam sel inang (protein, karbohidrat, lemak),
contoh : kutinase (mendegradasi kutin)
2. Toksin/racun : mengganggu permeabilitas membran, inaktivasi enzim dalam sel
tumbuhan, contoh : tabtoksin dan phaseolotoksin (menghambat enzim normal sel inang
sehingga terjadi penimbunan substrat beracun
3. Hormon Pengatur Pertumbuhan/fitohormon : Mengganggu keseimbangan sistem
hormon dan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan inang, contoh gangguan pada
hormon : auksin (IAA), gibberelin, sitokinin, dll.
PATOGENESITAS PENYAKIT LAYU FUSARIUM
F. oxysporum merupakan parasit fakultatif yang dapat hidup sebagai
parasit dan saprofit pada berbagai tanaman seperti: tomat, kacang panjang,
kubis, dan ketimun. Serangan patogen, terutama yang terjadi pada bagian
pembuluh, menyebabkan tanaman menjadi mati karena tersumbatnya jaringan
oleh toksin. Senyawa beracun yang dikeluarkan oleh jamur patogen F.
oxysporum adalah mikotoksin fusaric acid, dehydrofucaric acid,
lycomarasmin. Selain asam fusarik, dinding sel banyak mengandung enzim
xylanase, amylase, pectinase dan kitin yang merupakan homopolimer dari
1,4--N-acetyl-n-glucoseamine yang berfungsi untuk mendegradasi sel
tanaman, (Haran et al.,1996). Struktur enzim pada jamur patogen hampir sama
dengan struktur enzim pada akar dan batang tanaman, dimana berdasarkan hasil
penelitian membuktikan bahwa jumlah enzim yang hampir sama tersebut
meningkat sebanding dengan tingkat serangan penyakit pada akar dan batang
(Brown et al., 2012).
Perkembangan patogen dipengaruhi oleh suhu tanah yang tinggi dan pH
tanah yang rendah, bila suhu tidak sesuai, maka patogen tidak dapat
menginfeksi tanaman. Pada suhu 18 C sedikit terjadi infeksi, antara 25-28 C
patogen akan menjadi virulen, sedangkan pada suhu 25-30 C spora akan
berkecambah. Pada suhu yang rendah di bawah 18 C proses
perkecambahannya akan terhambat (Sastrahidayat, 1994). Klamidospora
patogen ini lebih tahan panas daripada miseliumnya (Agrios, 1994).
Kelembaban optimal untuk pertumbuhan jamur dalah antara 70-80 %.
Kandungan unsur hara juga berpengaruh terhadap perkembangan penyakit,
terutama kandungan nitrogen, kalium dan fosfor. Perkembangan penyakit
menjadi tinggi bila kalium rendah, dan nitrogen tinggi. Sebaliknya
perkembangan penyakit akan terhambat bila kandungan fosfor tinggi (Bilgrami
dan Vorma, 1978). Keasaman tanah berperan cukup besar dalam memacu
perkembangan penyakit. Jamur tersebut cocok hidup pada tanah-tanah asam
yang mempunyai kisaran pH 4,5 dan 6,0, pada pH di bawah 7,0 terjadi sporulasi
secara melimpah pada semua jenis tanah, tetapi tidak terjadi pada pH 3,6 atau di
atas pH 8,8 (Sastrahidayat, 1994)
(Dikutip Dari Desertasi Penta Suryaminarsih)
DISKUSI
1. Jelaskan Difinisi Penyakit Tanaman dan proses terjadinya
2. Sebutkan dan jelaskan kerugian akibat penyakit tanaman
3. Penyakit pada tanaman dapat terjadi karena interaksi antara 4 faktor limas penyakit.
Sebutkan dan jelaskan keempat factor tersebut disertai contoh satu penyakit tertentu