0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan55 halaman

Diagnosa dan Perawatan Kandidiasis Oral

Dokumen tersebut membahas kasus pasien dengan keluhan lapisan putih pada lidah selama 6 bulan. Pasien merupakan perokok berat dan pekerjaannya sebagai buruh panggul menyebabkan stres. Pemeriksaan menemukan plak putih pada lidah serta beberapa gigi yang membutuhkan perawatan. Diagnosa sementara adalah kandidiasis kronis hiperplastik.

Diunggah oleh

Icha Munthe
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
86 tayangan55 halaman

Diagnosa dan Perawatan Kandidiasis Oral

Dokumen tersebut membahas kasus pasien dengan keluhan lapisan putih pada lidah selama 6 bulan. Pasien merupakan perokok berat dan pekerjaannya sebagai buruh panggul menyebabkan stres. Pemeriksaan menemukan plak putih pada lidah serta beberapa gigi yang membutuhkan perawatan. Diagnosa sementara adalah kandidiasis kronis hiperplastik.

Diunggah oleh

Icha Munthe
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

OVERVIEW
1.1 Skenario kasus
I. Identitas Pasien
- Nama pasien : Ahmad Nasroni
- Tempat/tanggal lahir : Prabumulih, 12 Maret 1977
- Suku : Melayu
- Jenis kelamin : Laki-laki
- Status perkawinan : Sudah nikah
- Agama : Muslim
- Alamat : Desa Prabu Menang Merapi Timur Lahat
- Pendidikan terakhir : SLTA
II. Anamnesa
Keluhan Utama
Pasien datang sendiri dengan keluhan bahwa di lidahnya terdapat lapisan
putih, pasien menyadari keadaan tersebut kurang lebih 6 bulan yang lalu.
Pasien merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Pasien juga
merupakan perokok berat, pasien merokok dua bungkus per hari.
Riwayat perawatan gigi
Pasien pernah dicabut giginya gigi belakang kanan bawahnya kira-kira 2
tahun yang lalu dan pencabutan gigi belakang kiri kira-kira bulan yang
lalu di puskesmas
Kebiasaan buruk
Pasien merupakan perokok berat, pasien merokok tiap hari dan dapat
menghabiskan 20 batang rokok per hari. Pasien telah mulai merokok pada
saat umur 15 tahun
Riwayat sosial
Pekerjaan pasien adalah buruh panggul di pasar, pasien sering merasa
stress untuk memenuhi keuangan keluarga sehingga pasien lebih memilih
merokok untuk menghilangkan stressnya. Pasien memiliki profil tubuh
yang kurus. Diet pasien sering tidak teratur karena pekerjaan pasien.

III. Pemeriksaan Objektif


a Pemeriksaan Ekstra Oral
- Wajah : simetri
- Bibir : normal

1
- Kelenjar getah bening submandibula kanan dan kiri tidak teraba
dan tidak sakit
b Pemeriksaan Intra Oral
- Debris : positif
- Plak : positif
- Kalkulus : positif
- Gingiva : Gingiva tampak kehitaman pada daerah gingiva
cekat di regio dan gingiva mudah berdarah pada regio
- Mukosa : sehat
- Palatum : sehat
- Lidah : Terdapat plak putih pada dorsum dan lateral lidah
serta plak putih tersebut sulit terkelupas
- Dasar mulut : sehat
- Pemeriksaan gigi geligi dan jaringan penyangga :
Pada pemeriksaan ini diketahui bahwa terdapat stain pada
enam gigi anterior rahang atas dan rahang bawah.
Iritasi pulpa : 16,26
Hiperemi pulpa : 37
Pulpitis Irreversible akut : 47

IV. Diagnosa sementara


Chronic Hyperplastic Candidiasis
Diagnosa banding : White Sponge Nevus, Acute Pseudomembranous Candidiasis,
Leukoedema

V. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada kasus ini adalah pemeriksaan
Patologi Anatomi dimana sampel diambil dengan scrapping dari lidah.

VI. Rencana Perawatan


Fase I
Kontrol plak, DHE, scalling, medikasi antifungal, Pemeriksaan PA

Fase II
Perawatan restorative pada gigi geligi yaitu
Tumpatan GIC di gigi 16 dan 26

2
Tumpatan RK di gigi 37
Tumpatan Amalgam di gigi 47

Fase III
Kontrol plak, kontrol pengobatan kandidiasis
DHE

II. Tinjauan pustaka


Kandidiasis oral merupakan salah satu infeksi jamur yang umum
mempengaruhi mukosa mulut. Lesi ini disebabkan oleh ragi Candida albicans.
Candida albicans adalah salah satu komponen mikroflora normal mulut dan
sekitar 30% sampai 50% orang membawa organisme ini. [Link] adalah
organisme komensal rongga mulut yang paling banyak menyebabkan kandidiasis.
Ada hampir lima jenis kandida spesies yang terlihat di rongga mulut, yaitu :
1. Candida albicans
2. Candida tropicalis

3
3. Candida krusei
4. Candida parapsilosis
5. Candida guilliermondi

2.1 Definisi
Infeksi jamur yang disebabkan Candida Albicans dinamakan candidiasis
atau dalam bahasa inggris disebut dengan candidosis. Dahulu penyakit ini disebut
dengan monialisis karena organisme yang menyebabkan penyakit candidiasis
adalah Monialisis albicans. Oral candidiasis merupakan infeksi oportunistik yang
umum baik pada oral maupun perioral yang biasanya dihasilkan dari
perkembangan endogenik jamur candida secara berlebihan. Selain dari Candida
albicans, di dalam rongga mulut juga ditemukan spesies candida lainnya seperti
[Link], [Link], [Link], [Link]. Spesies-spesies dari candida
ini sering ditemukan dalam rongga mulut tetapi tidak menimbulkan penyakit.
Sampai saat ini organisme yang paling sering menimbulkan penyakit candidiasis
yaitu jenis Candida albicans.

2.2 Etiologi
Spesies candida adalah flora normal dalam rongga mulut, dalam jumlah
normal candida hadir dalam konsentras rendah,yaitu 200-500 jamur/mm saliva.
C. albicans akan berubah menjadi pathogen apabila terdapat faktor-faktor
predisposisi.
Faktor-faktor predisposisi dari oral kandidiasis adalah :
1 Perubahan dari flora normal (akibat pemberian antibiotik khususnya antibiotik
dengan spektrum luas, penggunaan berlebih dari obat kumur antibakterial,dan
xerostomia)
2 Iritan lokal yang kronis (gigi tiruan, alat ortodonti, perokok berat)
3 Pemberian kortikosteroid
4 kebersihan mulut yang buruk
5 kehamilan
6 defisiensi imunologi

4
7 malabsorpsi dan malnutrisi

2.3 Klasifikasi kandidiasis oral


Pembagian klasifikasi penyakit ini berdasarkan onset dan durasi ( akut dan
kronis); gambaran klinis termasuk, warna, lokasi dan keterlibatan kulit; dan yang
berhubungan dengan penyakit immunocompromised. Klasifikasi penyakit dapat
dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 1. Klasifikasi Kandidiasis

Acute

Pseudomembranous

Atrophic (erythematous)

Antibiotic stomatitis

Chronic

Atrophic

Denture sore mouth

Angular cheilitis

Median rhomboid glossitis

Hypertrophic/hyperplastic

Candidal leukoplakia

2.4 Gambaran klinis


a) Acute Pseudomembranous candidiasis (Thrush)
Thrush merupakan suatu infeksi superfisialis dari lapisan atas epithelium
mukosa mulut dan mengakibatkan terbentuknya plak atau flek putih pada
permukaan mukosa. Plak tersebut tersusun atas debris keratotik, sel inflamasi,
sel epitel deskuamasi, bakteri, fibrin. Bentuk plak pada trush adalah lembut,
mudah dilepaskan, dan creamy. Gambaran klinis yang dapat membedakan

5
trush dengan lesi putih lainnya adalah mudah dilepaskan dari mukosa mulut
dan meninggalkan permukaan yang eritematous.

Gambar 1. Oral Trush


b) Acute Athropic Candidiasis
Secara klinis acute athropic candidiasis berupa bercak kemerahan dari
mukosa yang kasar, atrofik, dan sakit seklai, menetap untuk beberapa waktu
lamanya disertai tanda-tanda yang minimal dari lesi pseudomembranous
(putih) dan terdapat antibody terhadap Candida albicans yang membedakan
dengan trush. Gejalanya berupa rasa terbakar., pengecapan berkurang dan sakit
kerongkongan selama masa penyembuhan setelah terapi antibiotik spektrum
luas.

Gambar 2 Acute Athropic Candidiasis


c) Chronic Athropic Candidiasis
Chronic Athropic Candidiasis termasuk denture stomatitis, angular
cheilitis dan median rhomboid glossitis.
a Denture stomatitis
Denture stomatitis merupakan suatu peradangan difus dari daerah
pendukung gigi tiruan atas, dengan atau tanpa disertai tanda pecah-pecah
dan peradangan dari sudut mulut. Biasanya disebabkan oleh gigi tiruan
rahang atas yang tidak beradaptasi dengan baik. Denture stomatitis sangat
jarang pada gigi tiruan rahang bawah karena gigi tiruan rahang atas

6
memberikan tekanan negative atau beradaptasi terlalu rapat sehingga
mencegah masuknya antibody saliva ke daerah ini sehingga banyak jamur
yang melekat pada gigi tiruan yang kontak dengan mukosa.

Gambar 3. Denture stomatitis


b Angular cheilitis
Adalah bentuk dari infeksi yang melibatkan sudut bibir dan berasa perih.
Selain spesien candida sebagai penyebabnya, kemungkinan penyebab yang
lain adalah kurangnyaa dimensi vertical gigi tiruan, defisiensi vitamin C
dan B kompleks, OH buruk.

Gambar 4. Angular cheilitis

c Median rhomboid glossitis


Adalah bercak licin, gundul, merah seperti daging tanpa papilla filiformis.
Lama kelamaan lesi tersebut menjadi bergranula, bulat, menonjol keras.
Lokasi paling umum adalah garis tengah dorsum lidah. Keadaan ini
umumnya tanpa gejala. Median rhomboid glossitis mudah dikenal melalui
gambaran klinisnya, lokasi khasnya dan sifat tanpa gejalanya.

7
Gambar 5. Median rhomboid glossitis
d) Chronic Hyperplastic Candidiasis
Meliputi berbagai macam kondisi dimana terjadinya invasi miselia dari
lapisan yang lebih dalam pada mukosa dan kulit, respon penjamu ditandai
dengan parakeratosis. Kandidiasis hiperplastik kronik biasanya muncul pada
mukosa bukal, atau tepi lateral lidah dengan gambaran berbintik-bintik atau
lesi putih yanghomogen. Lesi biasanya muncul pada mukosa bukal, atau tepi
lateral lidah. Kandidiasis tipe ini biasa dihubungkan dengan merokok dan
penyembuhan sempurna terjadi akibat penghentian merokok. Kondisi ini
dapat berlanjut menjadi displasia berat atau keganasan dan terkadang
mengarah ke kandida leukoplakia. Candida sp. tidak selalu dapat diisolasi
dari leukoplakia oral. Penemuan Candida sp pada keadaan premalignan ini
biasanya lebih dikarenakan komplikasinya dibandingkan sebagai penyebab.
Kondisi ini biasanya dibingungkan dengan lichen planus, pemfigus, dan
karsinoma sel skuamosa.

Gambar 6. Chronic Hyperplastic Candidiasis


e) Chronic multifocal candidiasis
Pada pasien terdapat area chronic atropic candidiasis yang multiple.
Biasanya hal ini terjadi pada pasien yang mengalami immunocompromised.

8
Lesi ini biasanya terjadi pada dorsum lidah,midline pada palatum keras,sudut
mult, serta area dukngan mukosa pada gigi tiruan.
f) Chronic mucocutaneous candidiasis(CMC)
Infeksi yang persisten dari candidia dapat sebagai akibat dari kerusakan
imunitas seluler atau struktur eoidermis. Dua kategori CMC adalah sebagai
berikut:
(1) CMC yang berhubungn dengan sindroma.
(2) localized atau diffused CMC, apabila localized maka lesi dapat muncul
pada kuku dan kulit, sedangkan pada variasi yang diffused dapat terjadi
candidiasis mucocutaneous dalam derajat yang berat dan terjadi pada semua
kulit dan lesi dapat dimana saja. Biasanya hal ini terjadi pada pasien yang
mengalami kekurangan besi.

Gambar 7. Mukokutaneus Candidiasis

2.5 Saliva
Saliva merupakan salah satu dari cairan di rongga mulut yang diproduksi
dan diekskresikan oleh kelenjar saliva dan dialirkan ke dalam rongga mulut
melalui suatu saluran. Saliva terdiri dari 98% air dan selebihnya adalah elektrolit,
mukus dan enzim-enzim. Saliva diekskresi hingga 0.5 1.5 liter oleh tiga kelenjar
liur mayor dan minor yang berada di sekitar mulut dan tenggorokan untuk
memastikan kestabilan di sekitar rongga mulut. Saliva memiliki kandungan
antimikrobial yang dapat mengagregrasi bakteri dan mencegah kolonisasi dari

9
bakteri dan jamur. Saliva mempunyai peran penting dalam pertahanan di dalam
rongga mulut untuk menjaga kebersihan mulut.
Rongga mulut berisi bakteri patogen yang dengan mudah dapat merusak
jaringan, saliva membantu mencegah proses kerusakan melalui berbagai cara
antara lain:
1. Aliran saliva mampu membantu membuang bakteri patogen juga
partikel-partikel makanan yang memberi dukungan metabolik bagi
bakteri.
2. Saliva mengandung beberapa faktor yang mampu menghancurkan bakteri
dan jamur misalnya: lisosim, dll.
3. Saliva sering mengandung sejumlah besar antibodi protein yang dapat
menghancurkan bakteri dan jamur.

2.5.1 Komposisi saliva


Komponen-komponen saliva, yang dalam keadaan larut disekresi oleh
kelenjar saliva, dapat dibedakan atas komponen organik dan anorganik..
Komponen anorganik saliva antara lain : Sodium, Kalsium, Kalium, Magnesium,
Bikarbonat, Khlorida, Rodanida dan Thiocynate (CNS), Fosfat, Potassium dan
Nitrat. Sedangkan komponen organik pada saliva meliputi protein yang berupa
enzim amilase, maltase, serum albumin, kretinin, musin, beberapa asam amino,
dan lisosim.
Komponen Anorganik
Terdiri dari kation-kation seperti Sodium (Na+) dan Kalium (K+). Kadar
Kalsium dan Fosfat dalam saliva sangat penting untuk remineralisasi email
dan berperan penting pada pembentukan karang gigi dan plak bakteri.
Kadar Fluorida di dalam saliva sedikit dipengaruhi oleh konsentrasi
fluorida dalam air minum dan makanan. Bikarbonat adalah ion bufer
terpenting dalam saliva yang menghasilkan 85% dari kapasitas bufer.
Komponen Organik
Komponen organik dalam saliva yang utama adalah protein. Protein
tersebut tergolong ke dalam antimikrobial peptida. Antimikrobial peptida

10
terdiri dari histatin, laktoferin, cathelicidins, mucin, calprotectin, lisosim,
dan oral peroksidase.
Histatin
Histatin termasuk dalam kelompok antimikrobial peptida yang ditemukan
pada saliva manusia, histatin mempunyai fungsi sebagai antifungal yang
bekerja dengan cara berikatan dengan membran sel jamur dan kemudian
masuk ke sitoplasma jamur dan menyerang mitokondria sel jamur.
Lisozim
Pada penelitian in vitro lisozim memiliki akivitas bakteriostatik,
bakterisid, dan aktivitas anticandidal. Lisozim merusak ikatan N-
glycosidic, dari rantai polysacharida dan struktur protein sel ragi jamur
sehingga menghasilkan hidrolisis dari membran sel jamur.
Laktoferrin
Laktoferin terdapat di saliva, air mata, semen, dan cairan vagina.
Laktoferin memiliki efek bakteriosid dan bakteriostatik terhadap bakteri
gram positif dan gram negatif. Laktoferin juga memiliki efek antiviral dan
antifungal. Aksi antifungal dari laktoferin dengan menganggu dinding sel
jamur.
Cathelicidins
Cathelicidins dapat ditemukan pada kulit dan mukosa, serta dalam saliva.
Cathelicidins memiliki efek antimikroba seperti pada bakteri gram positif,
gram negatif, fungi, virus, dan parasit. Cathelicidins memiliki kemampuan
untuk berikatan dengan liposakarida pada membran bakteri dan
membentuk porus pada membran bakteri.
Mucin
Mucin atau mukus glikoprotein (MG) adalah mukus yang melindungi
saluran pencernaan, pernapasan, dan reproduksi. Sel acini dalam kelenjar
saliva memproduksi mucin. Mucin dibagi menjadi dua tipe, yaitu
molekular tinggi (MG1) dan molekular rendah (MG2).15 MG2 menunjukan
efek antifungal (Candida albican, Crytococcus neformans), bakteri gram
positif (Streptococcus mutans), dan Bakteri gram negatif (Porphyromonas
gingivalis).

Calprotectin

11
Calprotetin memiliki efek antibakterial dan antifungal yaitu dengan
mengikat seng, dimana seng berfungsi dalam metabolisme dan reproduksi
dari organisme. Calprotetin dalam saliva terutama berasal dari cairan gusi,
transudat mukosa, dan gusi berkeratinisasi.
2.5.2 Peran saliva pada candida sp
Aliran saliva yang berkelanjutan penting untuk mecegah kolonisasi
Candida albicans di dalam mulut, karena saliva dapat mencegah penempelan
candida albicans pada permukaan epitel mulut. Penelitian yang dilakukan pada
133 pasien yang menderita xerostomia menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
jumlah candida albicans dalam mulut mereka. Penurunan aliran saliva
menyebabkan penurunan fungsi antifungal dari saliva, sehingga hal ini
menyebabkan peningkatan infeksi candida.

2.6 Rokok
Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya
baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Rokok merupakan benda
yang sudah tak asing lagi bagi masyarakat. Merokok sudah menjadi kebiasaan
yang sangat umum dan meluas di masyarakat tetapi kebiasaan merokok sulit
dihilangkan dan jarang diakui orang sebagai suatu kebiasaan buruk. Sementara,
alasan utama merokok adalah cara untuk bisa diterima secara sosial, melihat orang
tuanya merokok, menghilangkan rasa jenuh, ketagihan dan untuk menghilangkan
stress.
2.6.1 Klasifikasi perokok dan jenis rokok
Pengukuran tentang prilaku merokok terhadap seseorang dapat ditentukan
pada suatu kriteria yang telah ada. Biasanya batasan yang digunakan adalah
berdasarkan jumlah rokok yang dihisap setiap hari atau lamanya kebiasaan
merokok. Perokok dibagi atas tiga kategori yaitu :
1 Bukan perokok atau non smokers, adalah seseorang yang belum pernah
mencoba merokok sama sekali
2 Perokok eksperimental atau eksperimental smoker adalah seseorang yang
telah mencoba merokok tapi tidak menjadikannya sebagai kebiasaan

12
3 Perokok tetap atau reguler smoker, adalah seseorang yang teratur dalam
merokok baik dalam hitungan mingguan atau intensitas yang lebih tinggi
lagi.
Perokok dibagi lagi atas empat tipe,yaitu:
1 Perokok ringan adalah seseorang yang merokok antara 2-10 batang per
hari
2 Perokok sedang adalah seseorang yang mengkonsumsi rokok sebanyak 11-
20 batang per hari
3 Perokok berat adalah seseorang yang mengkonsumsi rokok lebih dari 20
batang per hari
4 Perokok yang menghisap rokok dalam-dalam.

Rokok umunya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu rokok putih, rokok kretek dan
rokok cerutu. Rokok putih mempunyai kandungan 14-15 mg tar dan 5 mg nikotin
dimana kandungan tar dan nikotin tersebut lebih rendah daripada rokok kretek
yaitu 20 mg tar dan 4-5 mg nikotin.

2.6.2 Efek Merokok Terhadap Mukosa Mulut


Rongga mulut sangat mudah terpapar efek yang merugikan akibat
merokok. Rokok yang dihisap dengan tarikan berat dan panjang akan
menghasilkan lebih banyak asap rokok dibandingkan dengan rokok yang
dihisap dengan tarikan pelan dan tiupan cepat. Temperatur rokok pada bibir
adalah 30oC, sedangkan ujung rokok yang terbakar jauh lebih panas suhu
berkisar 900oC karena ditandai dengan bara api pada ujung yang dibakar.
Asap panas yang berhembus terus menerus ke dalam rongga mulut
merupakan rangsangan panas yang menyebabkan perubahan aliran darah dan
mengurangi pengeluaran ludah. Akibatnya rongga mulut menjadi kering dan
dapat mengakibatkan perokok berisiko lebih besar terinfeksi mikroba

13
penyebab penyakit jaringan pendukung gigi dibandingkan mereka yang
bukan perokok.
Pengaruh asap rokok secara langsung adalah iritasi terhadap rongga mulut
dan secara tidak langsung melalui produk-produk rokok seperti nikotin.
Penyempitan pembuluh darah yang disebabkan nikotin mengakibatkan
berkurangnya aliran darah. Iritasi menyebabkan jaringan pendukung gigi
yang sehat seperti gusi, selaput gigi, semen gigi dan tulang tempat
tertanamnya gigi menjadi rusak karena terganggunya fungsi normal
mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi dan dapat merangsang tubuh
untuk menghancurkan jaringan sehat di sekitarnya. Gusi seorang perokok
juga cenderung mengalami penebalan lapisan tanduk. Daerah yang
mengalami penebalan ini terlihat lebih kasar dibandingkan jaringan di
sekitarnya dan berkurang kekenyalannya.
Pada perokok terdapat penurunan zat kekebalan tubuh (antibodi) yang
terdapat di dalam ludah yang berguna untuk menetralisir mikroba dalam
rongga mulut dan terjadi gangguan fungsi sel-sel pertahanan tubuh.20 Sel
pertahanan tubuh tidak dapat mendekati dan memakan mikroba-mikroba
penyerang tubuh sehingga sel pertahanan tubuh tidak peka lagi terhadap
perubahan di sekitarnya juga terhadap infeksi.

2.6.3 Efek merokok pada saliva


Saliva adalah cairan biologi yang akan terpapar pertama kali dari
komposisi toksik rokok yang bertanggung jawab terhadap perubahan fungsi
saliva. Penelitian yang dilakukan oleh Maryam Rad,dkk dalam mengukur
saliva flow rate pada sampel yang merokok dan tidak merokok menunjukkan
bahwa pada sampel yang merokok memiliki saliva flow rate yang lebih kecil
daripada sampel yang tidak merokok.

2.7 DIAGNOSA
Untuk menegakkan diagnosa yang tepat maka diperlukan langkah-langkah
sebagai berikut yaitu: (1). Melakukan anamnesis dan gejala klinis yang khas, (2).
Melakukan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan

14
langsung dengan larutan KOH 10-20% dan/atau dengan pengecatan gram, apabila
hasilnya positif diagnosa dapat ditegakkan, apabila hasilnya negatif dilakukan
pemerikasaan laboratorium lanjutan dengan teknik kultur untuk memastikan
spesies penyebab, (3). Melakukan histo PA apabila diagnosa

3.1 PENATALAKSANAAN ORAL CANDIDIASIS


1. Medikamentosa
Kandidiasis pada rongga mulut umumnya ditanggulangi dengan
menggunakan obat antijamur, dengan memperhatikan faktor predisposisisnya
atau penyakit yang menyertainya. Hal ini sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan pengobatan atau penyembuhan.
1. Golongan Azol : menghambat biosintesis ergosterol. Bekerja dengan cara
menginhibisi enzim sitokrom P450, C-14--demethylase yang
bertanggung jawab merubah lanosterol menjadi ergosterol.
- Golongan Imidazol :
a. Mikonazole : menghambat biosintesa ergosterol.
b. Ketokonazole : Dekstruksi dinding sel jamur
c. Klotrimazol : mengganggu sintesis ergosterol, yang merupakan bagian
dari membran sel jamur.
- Golongan Triazol :

15
a. Itrakonazole : menguraikan ergosterol di dalam sel-sel jamur.
b. Vorikonazole : menghambat pembentukan sterol pada membran sel
jamur.
c. Flukonazole : spesifik menghambat pembentukan sterol pada
membran sel jamur.
2. Golongan Polien : mengikat ergosterol di sel membran jamur yang akan
menyebabkan kerusakan permeabilitas sel
- Amfoterisin B : mengikat ergosterol pada membran sel jamur.
- Nistatin : mengikat ergosterol pada membran sel jamur
3. Golongan lain :
- Golongan Ekinokandin : menghambat pembentukan 1,3 glukan tetapi
tidak secara kompetitif. Sehingga apabila glukan tidak terbentuk,
integritas struktural dan morfologi sel jamur akan mengalami lisis :
a. Caspofungin : menghambat sintesis glukan (unsur utama dinding sel).
- Golongan Alilamin : mekanisme kejanya mensintesis ergesterol.
a. Naftifin
b. Terbinafin

Gambar 8. Obat-obatan antijamur

Dari beberapa golongan antijamur tersebut diatas, yang efektif untuk


kasus kasus pada rongga mulut, sering digunakan antara lain
amfotericine B, nystatin, miconazole, clotrimazole, ketokonazole,
itrakonazole dan flukonazole.

Amfoterisin B dihasilkan oleh Streptomyces nodusum, mekanisme kerja


obat ini yaitu dengan cara merusak membran sel jamur. Efek samping

16
terhadap ginjal seringkali menimbulkan nefrotoksik. Sediaan berupa
lozenges (10 ml) dapat digunakan sebanyak 4 kali /hari.

Nystatin dihasilkan oleh streptomyces noursei, mekanisme kerja obat


ini dengan cara merusak membran sel yaitu terjadi perubahan
permeabilitas membran sel. Sediaan berupa suspensi oral 100.000 U/5ml
dan bentuk cream 100.000 U/g, digunakan untuk kasus denture stomatitis.

Miconazole mekanisme kerjanya dengan cara menghambat enzim


cytochrome P 450 sel jamur, lanosterol 14 demethylase sehingga terjadi
kerusakan sintesa ergosterol dan selanjutnya terjadi ketidaknormalan
membran sel. Sediaan dalam bentuk gel oral (20 mg/ml), digunakan 4
kali /hari setengah sendok makan, ditaruh diatas lidah kemudian
dikumurkan dahulu sebelum ditelan.

Clotrimazole, mekanisme kerja sama dengan miconazole, bentuk


sediaannya berupa tablet 10 mg, sehari 3 4 kali. Ketokonazole adalah
antijamur spektrum luas. Mekanisme kerjanya dengan cara menghambat
cytochrome P450 sel jamur, sehingga terjadi perubahan permeabilitas
membran sel, Obat ini dimetabolisme di hepar. Efek sampingnya berupa
mual / muntah, sakit kepala, parestesia dan rontok. Sediaan dalam bentuk
tablet 200mg Dosis satu kali /hari dikonsumsi pada waktu makan.

Itrakonazole, efektif untuk pengobatan kandidiasis penderita


imunokompromis. Sediaan dalam bentuk tablet , dosis 200mg/hari. selama
3 hari, bentuk suspensi (100-200 mg) / hari, selama 2 minggu. Efek
samping obat berupa gatal-gatal, pusing, sakit kepala, sakit di bagian
perut (abdomen),dan hypokalemi.

Flukonazole, dapat digunakan pada seluruh penderita kandidiasis


termasuk pada penderita immunosupresif. Efek samping mual, sakit di
bagian perut, sakit kepala,eritme pada kulit. Mekanisme kerjanya dengan
cara mempengaruhi Cytochrome P 450 sel jamur, sehingga terjadi perubahan
membran sel. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan. Sediaan dalam

17
bentuk capsul 50 mg, 100mg, 150mg dan 200mg Single dose dan intra
vena. Kontra indikasi pada wanita hamil dan menyusui.

Selalu melanjutkan pengobatan selama 2 minggu setelah resolusi lesi.


Ketika terapi topikal gagal maka harus memulai terapi sistemik karena
kegagalan respon obat adalah tanda awal yang mendasari sistemik penyakit.
Tujuan utama dari pengobatan :

a. Untuk mengidentifikasi & menghilangkan faktor penyebab yang


mungkin
b. Untuk mencegah penyebaran sistemik
c. Untuk menghilangkan ketidaknyamanan terkait
d. Untuk mengurangi beban candida

Pilihan pengobatan terutama dikategorikan ke dalam lini primer dan


sekunder pengobatan.

Lini primer pengobatan meliputi : nistatin adalah obat pilihan sebagai


garis utama pengobatan. Biasanya untuk kandidiasis ringan dan lokal. Obat-
obatan lainnya termasuk klotrimazol yang dapat diambil seperti Lozenge dan
Amphotercin B sebagai suspensi oral.

Lini kedua pengobatan, garis kedua dari perawatan ini digunakan untuk
kasus yang parah, pasien imunosupresi dan pasien yang merespon secara
buruk pada lini utama dari pengobatan. Obat yang terutama digunakan dalam
baris kedua pengobatan yaitu ketoconazole, flukonazol, itrakonazol.

Penatalaksaan oral candidiasis juga dapat dilakukan dengan tiga


teknik pengobatan berdasarkan jenisnya sebagai berikut:

Tabel 2: Daftar nama obat, dosis, serta efek samping dari penggunaan obat
untuk penanganan penyakit Oral candidiasis

NAMA OBAT DOSIS EFEK SAMPING KETERANGAN


PENGOBATAN TOPIKAL : Pemberian obat secara lokal

18
Nystatin 1-2 pastilles Menyebabkan Hirup perlahan,
(mycostatin) 4-5 x sehari radang pada mulut, jangan dikunyah
Pastilles mual atau langsung
ditelan

Nystatin 5 ml 4X sehari Menyebabkan sakit Gerakan di sekitar


(mycostatin) Untuk 7-14 hari perut/mulas mulut sebelum
Oral suspension ditelan

Clotrimazole 10 mg 4-5 x sehari


Menyebabkan rasa Hirup perlahan,
(mycelex) Oral Untuk 1-2 minggu
berubah dan sakit jangan dikunyah
Trohes perut/mulas atau langsung
ditelan
PENGOBATAN SISITEMIK :Pemberian obat secara sistemik

Ketonacozole 200 mg/hari, 7-14 Mual, muntah, sakit Periksa fungsi hati
(nizoral) tablet hari; perut, meracuni hati saat menggunakan
400 mg /hari, 14-21 obat ini, berikan
hari bersama makanan.

Itraconazole 100 mg/hari,7-14 Mual, muntah, sakit Periksa fungsi hati


(sporanox) hari perut, meracuni hati saat menggunakan
200 mg/hari, 14-21 obat ini, berikan
hari* bersama makanan.
Amphotericin B 100 mg/hari,4x Untuk bentuk Untuk oral
(fungizone) sehari (oral intravena : susupension :
susupension) meracuni ginjal, Gerakan di sekitar
kehilangan mulut sebelum
elektrolit, demam, ditelan; periksa
kedinginan, fungsi ginjal
berkeringat
Amphotericin B 0,5 mg/hari, untuk
lipid complex 14-21 hari
(intravena)
Fluconazole 200 mg/hari, 7-14 Mual, muntah, sakit Periksa fungsi hati
(diflucan) hari perut, meracuni hati saat menggunakan
200 mg/hari, 14-21 obat ini, berikan
hari* bersama makanan.

PENGOBATAN LAIN

19
Gentian violet Diberikan pada Menimbulkan Berguna untuk
(1% larutan daerah yang pembengkakan infeksi yang
pada air) terinfeksi, 2x sehari kambuhan,
untuk 3 hari
*Esophageal candidiasi

2. Non Medikamentosa
a. Mencegah/menghindari faktor predisposisi kandidiasis:
1) Mengurangi rokok dan konsumsi karbohidrat
2) Menunda pemberian antibiotik dan kortikosteroid
3) Menangani penyakit yang memicu kemunculan kandidiasis,
seperti penanggulangan penyakit DM, HIV, dan leukemia
b. Menjaga kebersihan rongga mulut:
1) Menyikat gigi
2) Menyikat daerah bukal dan lidah dengan sikat lembut
3) Pembersihan dan penyikatan gigi tiruan secara rutin dengan
4) menggunakan cairan pembersih, seperti klorheksidin

Gambar 9 . Pengaruh antimikotik pada dinding sel

1. NISTATIN
a. Gambaran Umum Nistatin

Nistatin merupakan obat yang tergolong kelompok antijamur. Pengobatan


oral nistatin dalam bentuk cair sering digunakan untuk merawat infeksi jamur di
mulut. Ini terjadi ketika jamur yang dikenal sebagai Candida albicans tumbuh
berlebih di saluran cerna akibat dari penggunaan antibiotik atau kortikosteroid.

20
Untuk pengobatan kandida, nistatin dapat digunakan secara topikal dan
dapat juga diberikan secara oral. Nistatin biasanya tidak bersifat toksik tetapi
kadang-kadang dapat timbul mual, muntah, dan diare jika diberikan dengan dosis
tinggi.
Nistatin belum dikaitkan dengan efek yang merugikan pada janin, namun
nistatin hanya direkomendasikan untuk digunakan selama kehamilan ketika
manfaat melebihi risiko. Hal ini didukung dengan penelitian systematic review
yang dilakukan Cochrane ditemukan bahwa tidak ada efek yang signifikan secara
statistik terhadap mortalitas neonatus setelah pemberian nistatin.

b. Farmakodinamik Nistatin

Nistatin merupakan antijamur yang bekerja lokal, tidak diabsorpsi


sistemik, diisolasi dari bakteri Streptomyces noursei pada tahun 1950. Nistatin
bekerja dengan mengikat ergosterol yang merupakan komponen utama dinding sel
jamur. Hasil dari ikatan ini membuat membran tidak dapat berfungsi lagi sebagai
rintangan yang selektif (selective barrier), dan kalium serta komponen sel yang
lainnya akan hilang. Pada konsentrasi yang cukup, akan membentuk pori pada
membran sel jamur yang menyebabkan kebocoran kalium dan kematian sel jamur.

Nystatin

Gambar 10 Farmakodinamik Nistatin

Nistatin oral menjadi pilihan alternatif utama sebagai profilaksis infeksi


jamur sistemik karena sifat yang dimiliki yaitu bereaksi lokal dan tidak diabsorpsi

21
(sistemik), murah, mudah diberikan, dan aman, meskipun pemakaiannya sebagai
prosedur rutin masih memerlukan uji klinis lebih lanjut.

Indikasi
[Link] usus
2. Candidiasis orofaringeal
3. Candidiasis mulut
4. Profilaksis candidiasis
5. Untuk pencegahan bagi pasien yang rentan infeksi jamur topikal.
Kontraindikasi
Pasien yang hipersensitif terhadap Nystatin

Efek Samping:
Nystatin dapat ditolerir oleh semua umur, termasuk untuk pemakaian jangka
lama. Reaksi tubuh seseorang terhadap sebuah obat berbeda-beda. Beberapa
efek samping yang mungkin terjadi adalah:

Iritasi mulut.
Merasa mual atau ingin muntah.
Sakit perut.
Diare.
Iritasi kulit dan kulit berwarna kemerahan.

Interaksi Obat
Nistatin bersinergi dengan antibiotik lain seperti tetrasiklin tetapi mekanisme
yang mendasari masih belum jelas, mungkin sebagian disebabkan oleh
peningkatan permeabilitas membran yang disebabkan oleh polene.
Hal tersebut mendukung pandangan bahwa tidak ada efek merusak yang
diharapkan jika agen terapi itu harus dipakai bersamaan dengan nistatin.
Peringatan:
Bagi wanita hamil, merencanakan kehamilan, atau sedang menyusui,
tanyakan pada dokter sebelum menggunakan obat ini.
Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.
Dosis Nystatin
1. Untuk bentuk tablet
a) Dewasa dan anak > 5 tahun: 1 atau 2 tablet hisap atau 1 tablet 3-5
kali sehari sampai 14 hari
b) Anak-anak 0-5 tahun

22
anak-anak dalam usia ini mungkin tidak dapat menggunakan tablet
hisap atau tablet dengan aman. Anak pada usia ini lebih baik
mengonsumsi nystatin dalam bentuk suspensi.
2. Untuk bentuk sediaan suspensi
a. Dewasa dan anak > 5 tahun: 4-6ml (sekitar 1 sendok teh) 4 kali sehari
b. Balita : 2 ml 4 kali sehari
c. Untuk bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah
1 ml 4 kali sehari.
Menggunakan Nystatin dengan Benar
Untuk nystatin cair, kocok obat sebelum digunakan. Tentukan waktu konsumsi
obat ini secara merata dalam satu hari dan konsumsi pada waktu yang sama
tiap hari. Disarankan mengonsumsi obat ini setelah makan atau minum. Setelah
mengonsumsi obat ini, dilarang makan atau minum setidaknya selama 30
menit. Hal ini bertujuan agar obat tetap di dalam mulut.
Lanjutkan mengggunakan obat ini sesuai dosis yang diberikan oleh dokter,
meski gejalanya sudah menghilang setelah beberapa hari. Menghentikan
pemakaian obat ini terlalu cepat bisa menyebabkan infeksi berlanjut atau
muncul kembali.
Bagi pasien yang memakai gigi palsu, disarankan untuk membersihkan dan
melepaskan gigi palsunya pada malam hari. Gigi palsu juga bisa direndam
dengan nystatin cair untuk menghilangkan jamur dari gigi palsu dan jangan
lupa untuk mencucinya sebelum digunakan kembali. Tidak melepas gigi palsu
pada malam hari menjadi salah satu faktor yang menyebabkan munculnya
kandidiasis mulut.
Bagi penderita diabetes, lakukan pemeriksaan kadar gula darah secara rutin.
Kadar gula darah yang terkontrol bisa mengurangi risiko terkena infeksi jamur.
Berhenti merokok juga menghindarkan risiko terkena kandidiasis mulut. Bagi
pasien yang lupa mengonsumsi nystatin jenis obat cair, konsumsi obat cair
sesuai jadwal berikutnya, jangan menggandakan dosis yang terlewat.

c. Farmakokinetik Nistatin
Nistatin adalah antibiotik makrolida polene dari Streptomyces noursei. Struktur
nistatin mirip dengan struktur amfoterisin B. Nistatin tidak diserap di membran
mukosa atau kulit. Obat ini terlalu toksik untuk pemberian parenteral. Bila
diberikan per oral, absorpsinya sedikit sekali dan kemudian diekskresi melalui

23
feses. Spektrum antijamurnya sebenarnya juga mencakup jamur-jamur
sistemik, namun karena toksisitasnya, nistatin hanya digunakan untuk terapi
infeksi kandida pada kulit, membran mukosa dan saluran cerna. Nistatin efektif
untuk kandidiasis oral, kandidiasis vaginal dan esofagitis karena kandida.
Nistatin terdapat dalam sediaan obat tetes atau suspensi, tablet oral, tablet
vagina, dan suppositoria. Berikut rincian farmakokinetik dari nistatin sediaan
oral dan topikal.

Sedian topikal

Absorpsi
Nistatin dalam bentuk pasta digunakan topikal pada daerah kulit yang
terinfeksi dan tidak ada indikasi penyerapan di kulit yang menyebabkan
paparan sistemik terhadap nistatin. Hal ini sejalan dengan pengamatan untuk
antibiotik polene lainnya. Nistatin tidak diserap di lapisan mukosa ketika
dioleskan sehingga toksisitas sistemik tidak diharapkan dari sediaan topikal.
Distribusi
Nistatin tidak dipenetrasi di kulit sehingga penentuan evaluasi distribusi
farmakokinetik standar tidak akan sesuai, karena tidak akan ada paparan
sistemik terhadap nistatin.
Metabolisme
Belum ada systemic review pada metabolisme nistatin. Pada dasarnya,
berdasarkan pengalaman klinis panjang dengan senyawa ini fakta ini dianggap
tidak penting dalam klinis.
Ekskresi
Nistatin tidak dipenetrasi di kulit, penentuan standar farmakokinetik eliminasi
tidak akan sesuai, karena tidak akan ada paparan sistemik terhadap nistatin.

Sediaan Oral

Absorpsi
Ada penyerapan langsung di mukosa sehingga terdapat paparan sistemik
terhadap nistatin. Penyerapan langsung yang terbatas tersebut tidak cukup
untuk menghasilkan efek baik efek kemoterapi sistemik atau toksisitas apapun.

24
Interaksi nistatin dan polene lain dengan garam empedu yang menyebabkan
bioavailabilitas oral yang buruk untuk senyawa ini.
Distribusi
Paparan sistemik setelah pemberian oral adalah minimal sebagaimana
dibuktikan oleh pemulihan sangat rendah di urin 1,0% pada 24 jam (dosis
tidak diberikan), dan konsentrasi rendah dan tidak menentu dalam serum.
Metabolisme
Konsentrasi nistatin bertahan dalam air liur selama kurang lebih 2 jam setelah
mulai larutnya 400.000 unit nistatin secara langsung. Belum ada systemic
review yang dilakukan terhadap metabolisme nistatin.
Ekskresi
Proporsi nistatin lebih tinggi di feses dan ini adalah kasus dalam penelitian
yang dilaporkan oleh Drouhet; 32% dari dosis nistatin itu dalam tinja dan
<1,0% dalam urin. Dalam penelitian in vitro, ditunjukkan bahwa nistatin
kehilangan aktivitas dalam plasma, darah dan larutan air.

d. Sediaan Obat Nistatin di Pasaran

Candistin
Nistatin 100.000 UI yang diindikasikan untuk terapi kandidiasis pada
rongga mulut. Kontraindikasi pada hipersensitif. Dosis untuk bayi 4x1-2 ml
sehari; anak dan dewasa: sehari 4x1-6 ml diteteskan ke dalam mulut dan ditahan
beberapa waktu sebelum ditelan; bayi dan anak diberikan setengah dosis
diteteskan pada masing-masing sisi mulut; pengobatan sebaiknya dilanjutkan
hingga 48 jam setelah gejala menghilangdan kultur normal kembali. Bila keluhan
dan gejala memburuk atau menetap (hingga 14 hari pengobatan), penderita harus
dievaluasi dan dipertimbangkan untuk diberikan pengobatan alternatif. Kemasan
candistin dalam bentuk botol tetes 12 ml.
Cazetin
Nistatin 100.000 UI/ml suspensi diindikasikan untuk kandidiasis pada
rongga mulut dan saluran pencernaan. Dosis untuk dewasa sehari 4x1-2 ml; bayi
dan anak-anak, sehari 3-4x1 ml. Dosis untuk profilaksis sehari 1x1 ml. Obat
cazetin tersedia dalam kemasan botol 15 ml dan 1 pipet tetes.
Enystin

25
Nistatin 100.000 UI/ml diindikasi sebagai pengobatan kandidiasis oral dan
intestinal. Kontraindikasi terhadap hipersensitivitas. Dosis obat enystin pada
orang dewasa dan anaka-anak sebesar sehari 4x1-2 ml (100.000-200.000 u).
Terapi sebaiknya dilanjutkan sampai 48 jam setelah gejala menghilang.
Kemasannya dalam bentuk botol 12 ml (drops+pipet 1 ml) Rp. 19.500,-
Fungatin
Nistatin 100.000 UI/ml indikasi untuk pengobatan infeksi kandida pada
mulut, esofagus, usus, kandidiasis oral pada bayi baru lahir dari kandidiasis
vagina. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat fungatin adalah tidak
diperuntukkan untuk infeksi jamur sistemik. Efek samping yang ditimbulkan
berupa mual, muntah, diare, nyeri abdomen berat, iritasi atau sensitasi oral,
urtikaria atau kemerahan pada kulit. Sangat jarang menyebabkan sindroma Steve-
Johson. Dosis orang dewasa yang sariawan dan infeksi rongga mulut karena
Candida albicans 1-4 ml pada lesi 4 kali/hari. Kandidiasis intestinal dan oral 1-
sehari 4x2 ml. Lama terapi selama 14 hari. Kemasan obat ini dalam bentuk
suspensi 12 ml.
Kandistatin
Nistatin 100.000 UI/ml suspensi indikasi untuk pengobatan kandidiasis
pada rongga mulut, kandidiasis pada kerongkongan dan saluran cerna. Profilaksis
oral trush pada bayi baru lahir. Efek samping obat ini adalah diare dan gangguan
gastrointestinal. Dosis pada orang dewasa sebesar 4x1-2 ml sehari, untuk anak-
anak 3-4x1ml. Sebagai profilaksis, dosisnya sebesar 1x1 ml sehari. Kemasan obat
ini dalam bentuk botol 12 ml suspensi 100.000 UI/ml x 12 ml.
Mycostatin
Nistatin 100.000 UI/ml; 500.000 UI indikasi untuk pengobatan kandidiasis
mulut dan usus yang kontraindikasi hipersensitivitas. Hal yang perlu diperhatikan
dalam penggunaan obat mycostatin adalah pernah dilaporkan adanya sindrom
Steven Johson. Dosis mycostastin sebagai pengobatan kandidiasis mulut dan usus
sebesar sehari 3x 1-2 tab atau sehari 4x1 ml untuk kandidiasis mulut. Suspensi
obat ini sebaiknya dikulum sebelum ditelan. Profilaksis pada bayi baru lahir
terutama bayi prematur sehari 1x1 ml. Kemasan obat ini dalam bentuk botol 12
ml; 100 tab.
Nymiko

26
Nistatin 100.000 UI/ml suspensi indikasi disesuaikan dengan dosis.
Kontraindikasi hipersensitivitas. Perlu diperhatikan bahwa obat ini sebaiknya
tidak diberikan pada ibu hamil dan menyusui. Efek samping yang ditimbulkan
berupa gangguan saluaran cerna, diare, mual, dan muntah. Dosis untuk infeksi
rongga mulut yang disebabkan Candida albicans (agar dikunur dahulu sebelum
ditelan). Bayi, anak-anak, dan dewasa sehari 4x1 ml suspensi. Obat ini dikemas
dalam bentuk botol 12 ml suspensi dengan harga Rp. 26.930,-.

2. AMFOTERISIN B

Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi streptomyces nodusus pada


tahun 1955. 98% campuran ini terdiri dari amfoterisin B yang mempunyai
aktifitas anti jamur. Berbentuk kristal seperti jarum atau prisma berwarna kuning
jingga, tidak berbau dan tidak berasa, amfotericin B ini merupakan antibiotik
polien yang bersifat basa amfoter lemah, tidak larut dalam air, tidak stabil, tidak
tahan suhu di atas 37 oC tetapi stabil sampai berminggu-minggu pada suhu 4 oC.
(Gambar )

Amfoterisin B merupakan obat antijamur yang sering digunakan secara intravena


untuk infeksi jamur sistemik yang serius dan merupakan satu-satunya pengobatan
yang efektif untuk beberapa infeksi jamur.

Gambar 11 . Struktur molekul Amfoterisin B

Indikasi

Amfoterisin B sebagai antibiotika berspektrum lebar yang bersifat


fungsidal dapat digunakan sebagai obat pilihan untuk hampir semua infeksi jamur

27
yang mengancam kehidupan biasanya diberikan sebagai terapi awal untuk infeksi
jamur yang serius dan selanjutnya diganti dengan salah satu azole baru untuk
pengobatan lama atau pencegahan kekambuhan. Obat ini digunakan untuk
pengobatan infeksi jamur seperti oksidioidomikosis, parakosidioidomikosis,
aspergilosis, kromoblastomikosis dan kandidiosis. Amfoterisin B merupakan obat
terpilih untuk blastomikosis selain hidroksistilbamidin yang cukup efektif untuk
sebagian besar pasien dengan lesikulit yang tidak progresif. Toksisitas
hidrosisistilbamidin diduga lebih rendah dari pada amfoterisinB.

Tetesan topikal amfoterisin B efektif untuk korneal dan kreatitis mikotik.


Untuk endoftalmitis, obat jamur ini harus disuntikan secara intraorbital. Bila perlu
pemeriksaan laboratorium di ulangi 2-3 kali seminggu dan bila terjadi insufisiensi
ginjal sebaiknya pengobatan ini dihentikan sampai fungsi ginjal normal kembali.

Sediaan

Amfoterisin B injeksi tersedia dalam vial yang mengandung 50 mg bubuk

Dosis

Pada umumnya dimulai dengan dosis yang kecil (kurang dari 0,25
mg/kgBB) yang dilarutkan dalam dekstrose 5 % dan ditingkatkan bertahap
sampai 0,4-0,6 mg/kgBB sebagai dosis pemeliharaan.

Secara umum dosis 0,3-0,5 mg/kgBB cukup efektif untuk berbagai infeksi
jamur, pemberian dilakukan selama 6 minggu dan bila perlu dapat
dilanjutkan sampai 3-4 bulan

Farmakokinetik
Absorbsi : Amfoterisin B sedikit sekali di serap melalui saluran cerna.
Suntikan yang dimulai dengan dosis 1,5 mg/kg BB/ hari akan memberikan
kadar puncak antara 0,5-2 /ml pada kadar mantap.
Distribusi : Obat ini didistribusikan keseluruh jaringan. Kira-kira 95%
obat beredar dalam plasma, terikat pada lipoprotein. Kadar amfitorisin B
dalam cairan pleura, peritoneal, sinovial dan akuosa yang mengalami
peradangan hanya kira-kira 2/3 dari kadar terendah dalam plasma.

28
Amfoterisin B mungkin dapat menembus sawar uri. Sebagian kecil
mencapai CSS, humor vitreus dan cairan amnion.
Ekskresi : melalui ginjal berlangsung lambat sekali, hanya 3% dari jumlah
yang diberikan selama 24 jam sebelumnya ditemukan dalam urin.

Farmakodinamik
Mekanisme kerja
Amfoterisin B berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran
sel jamur sehingga membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan
intrasel dan menyebabkan kerusakan yang tetap pada sel.
Salah satu penyebab efek toksik yang ditimbulkan disebabkan oleh
pengikatan kolesterol pada membran sel hewan dan manusia. Resistensi
terhadap amfoterisin B mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan
reseptor sterol pada membran sel.

Gambar 12. (A) struktur molekul dari AmB, Natamycin, dan serangkaian
kelompok turunan melalui sintesis kimia. (B) Representasi dari dua
mekanisme untuk aktivitas antijamur AmB: pengikatan ergosterol dan
Permeabilisasi membran. (C) Representasi dari dua model terkemuka
untuk struktur saluran ion AmB. Kedua model memprediksi bahwa gugus
hidroksil pada C35 sangat penting untuk saluran ion self-assembly. (D)

29
Iteratif cross-coupling, molekul strategi sintesis kecil, analog dengan
kopling peptida berulang, di mana blok bangunan bifunctional secara
berurutan dihubungkan menggunakan hanya satu reaksi rekursif..

Aktivitas antijamur
Amfoterisin B menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel matang.
Aktivitas anti jamur nyata pada Ph 6,0-7,5 tapi berkurang pada pH yang
lebih rendah. Antibiotik ini bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung
pada dosis dan sensitivitas jamur yang dipengaruhi.
Efek samping

Infus : kulit panas, keringatan, sakit kepala, demam, menggigil, lesu,


anoreksia, nyeri otot, flebitis, kejang dan penurunan faal ginjal. nyeri otot,
flevitis, kejang

50% penderita yang mendapat dosis awal secara IV akan mengalami


demam dan menggigil. Keadaan ini hampir selalu terjadi pada penyuntikan
amfoterisin B tapi akan berkurang pada pemberian berikutnya. Reaksi ini
dapat ditekan dengan memberikan hidrokortison 25-50 mg dan dengan
antipiretik serta antihistamin sebelumnya

Flebitis dapat dikurangi dengan menambahkan heparin 1000 unit kedalam


infus .

Belum ada data yang jelas terhadap efek hepatotoksik amfoterisin B.


Penurunan fungsi ginjal terjadi pada lebih dari 80% pasien yang diobati
dengan amfoterisin B. Keadaan ini akan kembali normal bila terapi
dihentikan tetapi kepada kebanyakan pasien yang mendapat dosis penuh
mengalami penurunan filtrasi glomerulus menetap.

Derajat kerusakan yang terjadi tergantung dari jumlah dosis amfoterisin B


yang diterima, bukan dari kreatinin darah. Meskipun demikian,
peningkatan kadar kreatinin darah sampai 3,5 mg/ml merupakan tanda
perlunya pengurangan dosis amfoterisin B untuk mencegah timbulnya
uremia.

30
Asidosis tubuler ringan dan hipokalemia sering dijumpai dan keadaan ini
dapat diatasi dengan pemberian kalium. Efek toksik terhadap ginjal dapat
ditekan bila amfoterisin B diberikan bersama flusitosin. Anemia
normositik normokrom hampir selalu ditemukan pada pemakaian jangka
panjang.

Interaksi obat
Beberapa obat dapat berinteraksi dengan amfoterisin B :

Azole (misal ketoconazole), efektifitas amphotericin B akan menurun.

Antibiotik Aminoglycoside (misal, gentamicin), obat-obatan


antineoplastic, cyclosporine, or pentamidine mempunyai efek samping
yaitu timbulnya masalah pada ginjal.

Corticosteroids (misal prednisone) or corticotropin (ACTH) dapat


menyebabkan masalah pada hati.

Digoxin, flucytosine, atau skeletal muscle relaxants (misal, tubocurarine)


meningkatkan efek samping dan efek toksik.

3. KETOKONAZOL.
Azole adalah kelompok agen fungistatik sintetis dengan spectrum luas
berdasarkan dari inti imidazole (clotrimazole, econazole, fenticonazole,
ketoconazole, miconazole, tioconazole, sulconazole) atau inti triazole
(itraconazole, voriconazole dan fluconazole ).
Azole menghambat enzim sitokrom P450 3A jamur, lanosine 14 alfa
demethylase yang bertanggung jawab dalam mengubah lanosterol
menjadiergosterol, sterol utama dalam membrane sel jamur. Deplesi
ergosterol menganggu stabilitas membrane dan hal ini mengganggu enzim
membrane. Hasil akhirnya yaitu inhibisi dari replikasi.
Ketoconazole adalah azole pertama yang dapat diberikan secara oral untuk
menangani infeksi jamur sistemik. Efektif melawan beberapa macam tipe
organisme.

31
Gambar 13. Struktur Ketokonazol

Farmakokinetik
Obat ini terikat kuat pada protein plasma. Walaupun penetrasi kedalam jaringan
terbatas, efektif juga untuk tetapi histoplasmosis pada paru-paru,tulang, kulit,
dan jaringan lunak. Ketoconazole tidak dapat melewati sawar darahotak
sehingga tidak efektif untuk infeksi jamur pada otak

Absorbsi

Ketoconazole diserap dengan sangat baik pada perut kosong, diserap baik
melalui saluran cerna dan menghasilkan kadar plasma yang cukup untuk
menekan aktivitas berbagai jenis jamur. Penyerapan melalui saluran cerna
akan berkurang pada penderita dengan pH lambung yang tinggi, pada
pemberian bersama antasid Makanan, antasida, simetidin, rifampin.
Ketoconazole hanya diberikan dalam bentuk oral, terlarut dalam asam
lambung dan diserap melalui mukosa lambung.

Distribusi

Ketokonazol didistribusikan secara luas pada jaringan dan cairan jaringan


namun tidak mencapai dosis terapeutik pada sistem saraf pusat kecuali
diberikan dalam dosis tinggi. Diinaktivasi di hati kedalam getah empedu
dan dalam urin. Waktu paruhnya adalah 8 jam.

Ekskresi

Diduga ketokonazol diekskresikan bersama cairan empedu ke lumen


usus dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin,
semuanya dalam bentuk metabolit yang tidak aktif.

32
Metabolisme
Metabolisme terjadi di hati. Induksi sitokrom P-450 di hati mempercepat
waktu paruh dari ketoconazole. Namun obat ini juga dapat menghambat
beberapa enzim sitokrom P-450 tertentu untuk mempotensiasi efek obat
lainnya. Eksresi terutama melalui getah lambung. Kadarnya pada urin
sangat rendah sehinggatidak efektif untuk menangani infeksi jamur pada
saluran kemih

Farmakodinamik
Mekanisme kerja

Seperti azole jenis yang lain, ketoconazole berinterferensi dengan


biosintesis ergosterol, sehingga menyebabkan perubahan sejumlah
fungsi sel yang berhubungan dengan membran.

Indikasi

Ketokonazol terutama efektif untuk histoplasmosis paru, tulang, sendi


dan jaringan lemak.

Kontraindikasi
Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil dan menyusui,
karena pada percobaan tikus, dosis 80 mg/kgBB/hari dapat
menimbulkan cacat pada jari hewan percobaan tersebut.
Penderita penyakit hati yang akut atau kronik.
Hipersensitif terhadap ketoconazole atau salah satu komponen obat ini.
Pada pemberian peroral ketoconazole tidak boleh diberikan bersama
sama dengan terfenadin, astemizol, cisaprid dan triazolam.
Dosis

Dosis oral pada orang dewasa adalah single dose 200 mg per hari.
Lamapengobatan tergantung pada penyakit.

Dosis anak berdasarkan berat badan. Berat badan 15-30 kg 100 mg


perhari, 30-50 kg 100-200mg per hari, >50 kg 200 mg per hari.

33
Interaksi Obat

Ketoconazole bekerja dengan menghambat sitokrom P-450, khususnya


sitokrom P-450 CYP3A. Ketoconazole merupakan inhibitor yang poten
untuk enzim ini. Sedangkan untuk obat yang menginduksi enzim CYP3A
adalah phenobarbitoin, rifabutin, rifampisin.

Ketoconazole dapat mempotensiasi toksisitas dari siklosporin,


phenytoin,dan antagonis H1-histamin, terfenadin, astemizole. Dapat juga
meningkatkan kadar sucralfat, tolbutamide, dan warfarin.

Obat yang menginduksi sitokrom P-450 misalnya rifampin, dapat


memperpendek durasi kerja ketoconazole dan azole lainnya. Obat-obatan
yang dapat menurunkan keasamaan lambung seperti H2-reseptor bloker
dan antasida mengurangi absorpsi ketoconazole.

Siklosforin dan astemizole semua mengganggu kerja enzim sitokrom


P450, meningkatkan konsentrasi ketoconazole atau obat yang berinteraksi
atau keduanya. Rifampicin, histamine H2 reseptor antagonis dan antacid
menurunkan absorpsi dari ketoconazole

Efek samping

Efek toksik lebih ringan daripada Amfoterisin B.

Efek Gastrointestinal seperti mual dan muntah merupakan ESO paling


sering dijumpai

ESO jarang: sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia,


parestesia, gusi berdarah, erupsi kulit, dan trombositopenia.

Efek endokrin Inhibisi dari sintesis steroid adrenokortikal dan


testosterone telahdiketemukan dalam penggunaan dosis tinggi, yang
akhirnya akan mengakibatkan ginekomastia. Efek ini dihasilkan dari
penghambatan androgen dan sintesis steroid adrenal oleh gugus

34
piperazin padastruktur kimia ketoconazole. Diantaranya yaitu
ginekomastia, penurunan libido, impotensi dan iregularitas menstruasi.

Disfungsi hepatic. Bahaya utama penggunaan ketoconazole adalah


hepatotoksisitas, yangwalaupun jarang ditemukan namun terbukti dapat
berakibat [Link] insidensinya rendah, disfungsi hepatic dengan
peningkatan serum transaminase adalah manifestasi toksik yang
[Link] dapat berakumulasi pada pasien dengan
disfungsihepatic. Konsentrasi plasma harus dimonitor pada keadaan
seperti ini.

Pengawasan dan Peringatan

Penting memberikan penjelasan kepada pasien yang diterapi untuk jangka


panjang mengenai gejala penyakit hati seperti letih tidak normal yang
disertai dengan demam, urine berwarna gelap, tinja pucat atau ikterus.
Faktor yang meningkatkan risiko hepatitis: wanita berusia di atas 50 tahun,
pernahmenderita penyakit hati, diketahui mempunyai intoleransi dengan
obat, pemberian jangka lama dan pemberian obat bersamaan dengan obat
yang mempengaruhi fungsi hati. Tes fungsi hati dilakukan pada
pengobatan dengan ketoconazole lebih dari 2 minggu. Apabila telah
didiagnosis sebagai penyakit hati, pengobatan harus dihentikan.

Fungsi adrenal harus dimonitor pada pasien yang menderita insufisiensi


adrenal atau fungsi adrenal yang "border line" dan pada pasien dengan
keadaan stres yang panjang (bedah dasar, intensive care, dll). Tidak boleh
digunakan untuk anak dibawah umur 2 tahun. Jangan diberikan pada
wanita hamil, kecuali kemungkinan manfaatnya lebih besardari risiko pada
janin. Kemungkinan diekskresikan pada air susu ibu, maka ibu yang
diobati dengan ketoconazole dianjurkan untuk tidak menyusui

4. Itrakonazol

35
Itraconazole adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi
jamur, terutama infeksi jamur sistemik seperti aspergillosis, kandidiasis, dan
kriptokokosis, di mana obat antijamur lain tidak lagi efektif. Obat ini termasuk
golongan triazole yang memiliki spektrum yang lebih luas dari fluconazole.
Seperti semua agen antijamur kelas azole, itraconazole mengganggu
sintesis membran sel jamur dengan cara menghambat enzim sitokrom P450
14-demethylase (P45014DM). Penghambatan ini mencegah konversi
lanosterol ke ergosterol, komponen penting dari membran sitoplasma
[Link] adalah agen lipofilik dan penyerapan karena itu miskin dan
variabel.
Itraconazole merupakan golongan obat antijamur (antifungal). Itraconazole
digunakan untuk mengobati infeksi jamur yang parah, seperti oropharyngeal
candidiasis, Oesophageal candidiasis (candida esophagitis), Blastomycosis
(penyakit Gilchrist), dan lain-lain.
Karena lipofilisitasnya, itraconazole tidak ditemukan dalam cairan tubuh,
seperti cairan serebrospinal, cairan mata dan air liur, tetapi dalam banyak organ
dan jaringan (kulit, paru-paru, ginjal, hati, lemak, limpa, otak, otot, tulang).
Obat ini dapat diberikan secara oral atau intravena, biasanya dipasarkan berupa
itraconazole 100 mg kapsul dan 10 mg / ml larutan oral.
Farmakokinetik
Absorbsi
Itrakonazol cepat diserap setelah pemberian oral. konsentrasi plasma
puncak Itrakonazol dicapai dalam waktu 2 sampai 5 jam setelah dosis
kapsul oral. bioavailabilitas oral yang diamati pada Itrakonazol adalah
sekitar 55%.
Bioavailabilitas oral Itrakonazol maksimal ketika Itraconazole kapsul
diambil segera setelah makan. Penyerapan kapsul Itrakonazol berkurang
pada tingkat keasaman lambung yang kurang,
Distribusi
Sebagian besar Itrakonazol dalam plasma terikat dengan protein (99,8%),
dengan albumin menjadi komponen yang mengikat utama (99,6% untuk
hidroksi-metabolit). Hanya 0,2% dari Itrakonazol dalam plasma hadir
sebagai obat bebas. Itrakonazol didistribusikan dalam volume yang besar
dalam tubuh (lebih besar dari 700 L), menunjukkan distribusi yang luas

36
ke dalam jaringan. Konsentrasi dalam paru-paru, ginjal, hati, tulang,
perut, limpa dan otot ditemukan dua sampai tiga kali lebih tinggi dari
konsentrasi dalam plasma, dan penyerapan ke dalam jaringan keratinous,
kulit khususnya, hingga empat kali lebih tinggi. Konsentrasi dalam cairan
serebrospinal yang jauh lebih rendah daripada di plasma.
Metabolisme
Itrakonazol secara ekstensif dimetabolisme di hati dalam bentuk
metabolit. Penelitian in vitro menunjukkan bahwa CYP3A4 merupakan
enzim utama yang terlibat dalam metabolisme Itrakonazol. Metabolit
utama adalah hidroksi-Itrakonazol, yang memiliki aktivitas in vitro
antijamur sebanding dengan Itraconazole; konsentrasi plasma melalui
metabolit ini sekitar dua kali orang-orang dari Itrakonazol.
Ekskresi

Itrakonazol diekskresikan terutama sebagai metabolit tidak aktif dalam


urin (35%) dan di feses (54%) dalam waktu satu minggu dari dosis larutan
oral. Eksresi Itrakonazol dan metabolit aktif hidroksi-Itrakonazol
jumlahnya kurang dari 1% dari dosis intravena, ekskresi obat dalam tinja
tidak berubah berkisar dari 3% sampai 18% dari dosis.

Itrakonazol dari jaringan keratinosit tampaknya diabaikan, penghilangan


Itrakonazol dari jaringan ini terkait dengan regenerasi epidermis. Berbeda
dengan plasma, konsentrasi di kulit tetap selama 2 sampai 4 minggu
setelah penghentian pengobatan 4 minggu dan keratin kuku - dimana
Itrakonazol dapat dideteksi dini 1 minggu setelah dimulainya pengobatan -
setidaknya enam bulan setelah akhir dari masa pengobatan 3 bulan.

Sediaan dan dosis

Itrakonazol tersedia dalam kapsul 100 mg.

Untuk dermatofitosis diberikan dosis 1 x 100mg/hari selama 2-8 minggu

Kandidiasis vaginal diobati dengan dosis 1 x 200 mg/hari selama 3 hari.

Pitiriasis versikolor memerlukan dosis 1 x 200 mg/hari selama 5 hari.

37
Infeksi berat mungkin memerlukan dosis hingga 400 mg sehari.

Farmakodinamik
Efek samping

Kemerahan,

pruritus,

lesu,

pusing,

edema,

parestesia

10-15% penderita mengeluh mual atau muntah tapi pengobatan tidak perlu
dihentikan

Indikasi

Itrakonazol memberikan hasil memuaskan untuk indikasi yang sama


dengan ketokonazol antara lain terhadap blastomikosis, histoplasmosis,
koksidiodimikosis, parakoksidioidomikosis, kandidiasis mulut dan
tenggorokan serta tinea versikolor.

Kontraindikasi
Jangan digunakan untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif
pada itraconazole atau obat golongan triazole lainnya.
Jangan menggunakan obat ini untuk pengobatan onychomycosis pada
pasien yang memiliki disfungsi ventrikel seperti gagal jantung kongestif
(CHF) atau riwayat CHF, wanita hamil atau yang berencana hamil.
Jangan menggunakan obat ini pada pasien yang sedang menggunakan
obat lain yang dimetabolisme melalui enzim CYP3A4 seperti metadon,
disopiramid, dofetilide, dronedarone, quinidine, alkaloid ergot (seperti
dihydroergotamine, ergometrine (ergonovin), ergotamine,
metilergometrin (metilergonovin)), irinotecan, lurasidone, midazolam
oral, pimozide, triazolam, felodipin, nisoldipin, ranolazine, eplerenone,

38
cisapride, lovastatin, simvastatin, ticagrelor, colchicine, fesoterodine,
telitromisin dan solifenacin karena konsentrasi plasma obat-obat
tersebut meningkat sehingga efek farmakologi dan efek sampingnya
meningkat misalnya terjadi perpanjangan QT dan ventrikel takiaritmia
termasuk kejadian torsade de pointes
Interaksi Obat

Penggunaan bersamaan dengan obat-obat yang dimetabolisme melalui


enzim CYP3A4 seperti metadon, disopiramid, dofetilide, dronedarone,
quinidine, alkaloid ergot (seperti dihydroergotamine, ergometrine
(ergonovin), ergotamine, metilergometrin (metilergonovin)), irinotecan,
lurasidone, midazolam oral, pimozide, triazolam, felodipin , nisoldipin,
ranolazine, eplerenone, cisapride, lovastatin, simvastatin, ticagrelor,
colchicine, fesoterodine, telitromisin dan solifenacin berpotensi
meningkatkan risiko cardiotoxicity (interval QT yang berkepanjangan,
torsade de pointes) dan kematian jantung mendadak. Kombinasi ini adalah
kontraindikasi.

Obat-obatan yang dapat menurunkan konsentrasi plasma itraconazole :


Obat yang mengurangi keasaman lambung (antasida, antagonis reseptor
H2 (cimetidine, ranitidine) dan inhibitor pompa proton seperti
lansoprazole dan omeprazole).

Mekanisme kerja

Seperti halnya azole yang lain, itraconazole berinterferensi dengan enzim


yang dipengaruhi oleh cytochrome P-450, 14(-demethylase. Interferensi
ini menyebabkan akumulasi 14-methylsterol dan menguraikan ergosterol
di dalam sel-sel jamur dan kemudian mengganti sejumlah fungsi sel yang
berhubungan dengan membran.

39
Tabel 2 Indikasi untuk itraconazole

Indication Recommended dose regimena


Oropharyngeal candidosis 100 mg od for 15 days (200 mg od
for15 days in AIDS or neutropenic
patients)
Vulvo-vaginal candidosis 200 mg bd for 1 day
Onychomycosis 200 mg od for 3 months
Candidosis 100200 mg od (200 mg od in the
case of invasive or disseminated
disease)
Maintenance in AIDS 200 mg odb
Prophylaxis in neutropenia 200 mg odb

a
Capsules must be swallowed whole immediately after food
b
In AIDS and neutropenic patients, blood level monitoring and, if necessary, an increase in
itraconazole dose to 200 mg bd is recommended

5. Flukonazol
Fluconazole adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi
jamur, terutama infeksi candida pada vagina, mulut, tenggorokan, dan aliran
darah. Obat ini termasuk golongan triazole generasi pertama.
Flukonazol memiliki aktivitas yang baik secara in-vitro terhadap C.
Albicans, flukonazol juga dapat efektif terhadap beberapa non-albicans Candida,
termasuk Candida parapsilosis, tropicalis Candida dan Candida glabrata,
meskipun dibutuhkan dosis yang lebih tinggi.
Seperti semua agen antijamur kelas azole, fluconazole mengganggu sintesis
membran sel jamur dengan cara menghambat enzim sitokrom P450 14-
demethylase (P45014DM). Penghambatan ini mencegah konversi lanosterol ke
ergosterol, komponen penting dari membran sitoplasma jamur.
Farmakokinetik

40
Fluconazole larut dalam air dan tersedia dalam bentuk kapsul lisan, cair
dan larutan saline intravena. Semua formulasi menunjukkan
farmakokinetik yang berbeda. Ketika diberikan secara oral, flukonazol
cepat diserap, dengan tingkat puncak plasma terjadi 1-3 jam setelah
pemberian dosis.
Konsentrasi plasma puncak sebanding dengan dosis melalui berbagai (25-
400 mg).
Senyawa induk aktif dan memiliki eliminasi paruh plasma sekitar 30 jam.
Bioavailabilitas tinggi secara konsisten (sekitar 90%) dan distribusi ke
situs tubuh dan jaringan yang luas dan cepat, profil farmakokinetik
flukonazol ini memungkinkan kenyamanan dosis sekali sehari, dan
pengobatan kedua infeksi albicans C. lokal dan sistemik.
Obat ini diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi adanya
makanan ataupun keasaman lambung.
Kadar puncak 4-8 g dicapai setelah beberapa kali pemberian 100 mg.
Waktu paruh eliminasi 25 jam sedangkan ekskresi melalui ginjal melebihi
90% bersihan ginjal.

Sediaan dan dosis

Flukonazol tersedia untuk pemakaian per oral dalam kapsul yang


mengandung 50 dan 150mg.

Tablets: 50, 100, 150 and 200 mg. Oral Suspension: 10 mg/ml and 40
mg/ml. Injection: 2 mg/ml

Dosis yang disarankan 100-400 mg per hari.

Dewasa : 50 mg / hari. Bisa ditingkatkan menjadi 100 mg / hari untuk


infeksi yang lebih parah. Umumnya diberikan selama 7-14 hari. Durasi 14-
30 hari untuk esofagitis, kandiduria, infeksi bronkopulmoner noninvasif.
Obat diberikan secara oral.

Anak : 3-6 mg / kg BB pada hari pertama, kemudian 3 mg / kg BB / hari.


Obat diberikan setiap 72 jam pada neonatus usia sampai 2 minggu, dan

41
setiap 48 jam pada neonatus usia 2-4 minggu. Obat diberikan secara oral
atau infus intravena.

Farmakodinamik
Efek samping
Efek samping yang umum diantaranya ruam, sakit kepala, pusing, mual,
muntah, sakit perut, diare, dan peningkatan kinerja enzim hati.
Efek samping yang lebih jarang misalnya anoreksia, tubuh yang lelah, dan
sembelit.
Efek samping yang sangat jarang seperti oliguria, hipokalemia, parestesia,
kejang, alopecia, angioudem, anafilaksis, lesi bulosa, nekrolisis epidermal
toksik, sindrom Stevens-Johnson, trombositopenia, diskrasia darah lainnya,dan
hepatotoksisitas serius termasuk gagal hati.
Pada pasien AIDS pernah dilaporkan terjadi reaksi kulit yang parah.

Indikasi

Berikut ini adalah beberapa kegunaan fluconazole :

Fluconazole digunakan untuk pengobatan infeksi non-sistemik oleh jamur


candida pada vagina, tenggorokan, dan mulut. Digunakan juga untuk infeksi
jamur seperti orofaringeal dan kandidiasis esofagus.

Untuk mencegah infeksi jamur pada orang-orang dengan sistem


kekebalan tubuh lemah, termasuk orang-orang dengan neutropenia akibat
kemoterapi kanker, orang-orang dengan infeksi HIV lanjut, pasien
transplantasi, dan bayi prematur.

Di beberapa negara anti jamur golongan triazole seperti fluconazole lebih


dipilih dibandingkan ketoconazole untuk penggunaan sebagai anti jamur
sistemik, karena memiliki afinitas yang lebih besar terhadap membran sel
jamur dan memiliki toksisitas yang lebih kecil.

Flukonazol dapat mencegah relaps meningitis oleh kriptokokus pada


penderita AIDS setelah pengobatan dengan Amfoterisin B. Obat ini juga

42
efektif untuk pengobatan kandidiasis mulut dan tenggorokan pada penderita
AIDS

Kontra indikasi
Jangan digunakan untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif pada
fluconazole atau obat golongan triazole lainnya.
Jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang memiliki gangguan hati
dan pasien yang sedang diterapi dengan terfenadin atau astemizol,
terutama jika dosis fluconazole 400 mg atau lebih.
Pasien yang sedang menggunakan obat lain yang diketahui bisa
memperpanjang interval QT dan yang dimetabolisme melalui enzim
CYP3A4 seperti cisapride, astemizol, erythromycin, pimozide, dan
quinidine tidak boleh menggunakan fluconazole.
Kontraindikasi untuk pasien yang sedang menggunakan obat fluoxetine
atau sertraline
Interaksi obat

Penggunaan bersamaan dengan obat-obat seperti cisapride, astemizol,


erythromicin, pimozide, dan quinidine berpotensi meningkatkan risiko
cardiotoxicity (interval QT yang berkepanjangan, torsade de pointes) dan
kematian jantung mendadak. Kombinasi ini adalah kontraindikasi.

Pada dosis 400 mg atau lebih besar tidak boleh digunakan bersamaan
dengan terfenadine karena menyebabkan hal yang sama.

Fluconazole mengurangi metabolisme tolbutamid, glibenclamide, dan


glipizide sehingga meningkatkan konsentrasinya di plasma darah.
Konsentrasi glukosa darah harus dipantau secara seksama dan dosis obat-
obat ini harus disesuaikan seperlunya.

Penggunaan dengan antikoagulan warfarin atau kumarin bisa


meningkatkan protrombin time sehingga meningkatkan potensi terjadinya
perdarahan. Penyesuaian dosis antikoagulan mungkin diperlukan.

43
Fluconazole meningkatkan konsentrasi plasma fenitoin, teofilin,
siklosporin, rifabutin, midazolam, tacrolimus, dan metadon.

Rifampisin meningkatkan metabolisme fluconazole sehingga menurunkan


efek farmakologisnya. Peningkatkan dosis fluconazole mungkin
diperlukan untuk beberapa indikasi.

Fluconazole memiliki potensi untuk meningkatkan eksposur sistemik obat


golongan calcium chanel blocker (nifedipin, isradipin, amlodipine,
verapamil, dan felodipin). Pemantauan efek samping dianjurkan.

Penurunan dosis celecoxib mungkin diperlukan bila dikombinasikan


dengan fluconazole.

Tabel 3 . Indikasi dan dosis yang direkomendasikan untuk fluconazole

Indication Recommended dose regimen


Adults
Vaginal candidosis, acute or recurrent 150 mg single oral dose
Mucosal candidosis
oropharyngeal candidosis 50 mg od for 7-14 days
atrophic oral candidosis 50 mg od for 14 days
other 50 mg od for 14-30 days
Dermal candida infections 50 mg od for 26 weeks
Systemic candidosis 400 mg on day 1, then 200400 mg od until
clinical response achieved
Prophylaxis in neutropenia 50400 mg daily from several days before
anticipated neutropenia to 7 days after neutrophil.
count rises above 1000 cells/mm3

44
Childrena 3 mg/kg daily; loading dose of 6 mg daily may be
Mucosal candidosis used on day 1
612 mg/kg daily
Systemic candidosis 312 mg/kg daily
Prophylaxis in neutropenia
a
In the first 2 weeks of life, the same mg/kg dosing as in older children should be used but administered
every 72 h; during weeks 24 of life, the same dose should be given every 48 h.

Interaksi obat

Penggunaan bersamaan dengan obat-obat seperti cisapride, astemizol,


erythromicin, pimozide, dan quinidine berpotensi meningkatkan risiko
cardiotoxicity (interval QT yang berkepanjangan, torsade de pointes) dan
kematian jantung mendadak. Kombinasi ini adalah kontraindikasi.

Pada dosis 400 mg atau lebih besar tidak boleh digunakan bersamaan
dengan terfenadine karena menyebabkan hal yang sama.

Fluconazole mengurangi metabolisme tolbutamid, glibenclamide, dan


glipizide sehingga meningkatkan konsentrasinya di plasma darah.
Konsentrasi glukosa darah harus dipantau secara seksama dan dosis obat-
obat ini harus disesuaikan seperlunya.

Penggunaan dengan antikoagulan warfarin atau kumarin bisa


meningkatkan protrombin time sehingga meningkatkan potensi terjadinya
perdarahan. Penyesuaian dosis antikoagulan mungkin diperlukan.

Fluconazole meningkatkan konsentrasi plasma fenitoin, teofilin,


siklosporin, rifabutin, midazolam, tacrolimus, dan metadon.

Rifampisin meningkatkan metabolisme fluconazole sehingga menurunkan


efek farmakologisnya. Peningkatkan dosis fluconazole mungkin
diperlukan untuk beberapa indikasi.

45
Fluconazole memiliki potensi untuk meningkatkan eksposur sistemik obat
golongan calcium chanel blocker (nifedipin, isradipin, amlodipine,
verapamil, dan felodipin). Pemantauan efek samping dianjurkan.

Penurunan dosis celecoxib mungkin diperlukan bila dikombinasikan


dengan fluconazole.

6. IMIDAZOL DAN TRIAZOL

Anti jamur golongan imidazol mempunyai spektrum yang luas. Yang termasuk
kelompok ini ialah mikonazol, klotrimazol, ekonazol, isokonazol, tiokonazol,
dan bifonazol.

MIKONAZOL

Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang relatif stabil,


dikembangkan pertama kali oleh Janssen Pharmacetical mempunyai
spektrum yang lebih baik terhadap jamur sistemik maupun jamur
dermatofit.

Mikonazol biasanya digunakan secara topikal (seperti kulit) atau pada


membran mukosa untuk mengobati infeksi yang disebabkan fungi,
memiliki aktivitas antifungi terhadap dermatofit dan khamir, serta
memiliki aktivitas antibakteri terhadap basil dan kokus gram positif.
Mikonazol melakukan penetrasi ke dinding sel fungi, mengubah membran
sel dan mempengaruhi enzim intraseluler dan biosentesa ergosterol

46
Gambar 14. Struktur Mikonazol

Farmakokinetik
Absorbsi

Daya absorbsi Miconazole melalui pengobatan oral kurang baik..

Miconazole sangat terikat oleh protein di dalam serum. Konsentrasi di


dalam CSF tidak begitu banyak, tetapi mampu melakukan penetrasi yang
baik ke dalam peritoneal dan cairan persendian.

Ekskresi

Kurang dari 1% dosis parenteral diekskresi di dalam urin dengan


komposisi yang tidak berubah, namun 40% dari total dosis oral dieliminasi
melalui kotoran dengan komposisi yang tidak berubah pula.

Metabolisme

Miconazole dimetabolisme oleh liver dan metabolitnya diekskresi di


dalam usus dan urin. Tidak satupun dari metabolit yang dihasilkan bersifat
aktif.

Farmakodinamik
Indikasi

Diindikasikan untuk dermatofitosis, tinea versikolor, dan kandidiasis


mukokutan.

47
Kontraindikasi
- Bayi di bawah usia empat bulan, atau mereka yang refleks menelan belum
sepenuhnya dikembangkan (misalnya bayi lahir prematur yang mungkin
tidak sepenuhnya mengembangkan refleks menelan sampai mereka lima
atau enam bulan usia).
- Orang dengan masalah hati.
- Orang dengan kelainan darah herediter langka yang disebut porfiria.
- Orang yang alergi terhadap bahan apapun.

Sediaan dan dosis

Tabel 4 . Tabel. Berikut ini adalah dosis umum penggunaan miconazole dalam
berbagai bentuk:

Bentuk obat Pengguna Dosis

Oleskan secukupnya
Krim dan salep Dewasa pada bagian yang
terinfeksi 2-3 kali sehari

Taburi secukupnya
Bedak Dewasa bagian yang terinfeksi 2
kali sehari

Oleskan ke bagian mulut


yang mengalami infeksi
Oral gel Dewasa
4 kali sehari setelah
makan

Mekanisme Kerja

Mikonazol menghambat sintesis ergosterol yang menyebabkan


permeabilitas membran sel jamur meningkat.

Obat antijamur ini membunuh jamur dan ragi dengan menyebabkan


lubang muncul di membran sel. Membran sel jamur sangat penting untuk
kelangsungan hidup. Membran ini menjaga zat yang tidak diinginkan dari
memasuki sel dan menghentikan isi sel bocor keluar. Dengan membuat

48
lubang di membran, miconazole memungkinkan konstituen penting dari
sel jamur bocor keluar, yang membunuh jamur dan membersihkan infeksi.

Miconazole juga memiliki beberapa tindakan antibakteri dan membunuh


bakteri tertentu yang mungkin juga akan hadir dalam infeksi.

Peringatan

Bagi wanita yang sedang hamil atau menyusui, sesuaikan dosis


miconazole dengan anjuran dokter.

Tanyakan dosis miconazole untuk anak-anak kepada dokter.

Harap berhati-hati bagi pasien yang menderita gangguan hati, porfiria,


mengonsumsi obat lain seperti warfarin, serta bagi pasien yang berusia di
bawah 18 tahun.

Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Mengonsumsi Miconazole dengan Benar


Oral gel digunakan untuk mengobati infeksi jamur di mulut, sebaiknya
jangan makan atau minum dahulu setengah jam setelah menggunakannya. Hal ini
dimaksudkan agar efek obat dapat maksimal karena tidak tersapu oleh makanan
atau minuman yang kita konsumsi. Jika infeksi jamur telah menyebar ke
tenggorokan, kemungkinan dokter akan menganjurkan Anda untuk menelan oral
gel tersebut. Untuk mengurangi risiko terkena infeksi jamur di mulut, sebaiknya
tidak diperkenankan untuk merokok, mengontrol diabetes, dan membersihkan
mulut setelah menggunakan inhaler steroid jika menderita sakit asma. Apabila
Jika menggunakan gigi palsu, copot gigi tersebut menjelang tidur dan bersihkan
gel miconazole. Jangan pakai gigi palsu saat tidur malam untuk mencegah risiko
terkena infeksi jamur.

Efek samping

49
Mikonazol dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan meskipun
tidak semua orang mengalaminya. Hal di bawah ini berisi beberapa yang paling
umum yang terkait dengan miconazole, meskipun gejala biasanya ringan dan tidak
berlangsung lama. Beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah menggunakan
obat anti jamur ini adalah:

Diare

Sakit kepala

Sakit gigi

Mulut terasa kering

Nyeri dan bengkak pada gusi

Adanya perubahan rasa di lidah

Kulit terasa gatal

Mual

iritasi dan rasa terbakar dan maserasi.

Interaksi obat

Miconazole dapat meningkatkan risiko efek samping obat-obatan di bawah ini,


bila digunakan bersama:

astemizole

cisapride

ergot alkaloids, eg ergotamine, methysergide

50
midazolam taken by mouth

mizolastine

pimozide

quetiapine

quinidine

sertindole

statins for lowering cholesterol, eg atorvastatin, simvastatin and lovastatin


(except pravastatin which is unaffected).

terfenadine

triazolam.

Miconazole meningkatkan efek anti-pembekuan darah obat antikoagulan seperti


warfarin, nicoumalone dan phenindione, yang dapat meningkatkan risiko
perdarahan. Miconazole dapat meningkatkan kadar dalam darah dari obat-obatan
berikut, yang dapat meningkatkan risiko efek samping mereka:

benzodiazepines such as alprazolam

buspirone

busulfan

calcium channel blockers misalnya felodipine, nifedipine

carbamazepine

51
ciclosporin

cilostazol

disopyramide

nateglinide

phenytoin

protease inhibitors for HIV infection, seperti saquinavir

ranolazine

reboxetine

rifabutin

sirolimus

sulphonylureas untuk diabetes, seperti glibenclamide, gliclazide, glipizide


and tolbutamide (Gula darah akan meningkatkan penurunan efek obat,
yang dapat menyebabkan hipoglikemi)

tacrolimus.

4. Kesimpulan

Setiap jenis manifestasi dari oral candidiasis memiliki karakteristik


masing-masing. Sebagian besar dari jenis tersebut memiliki gejala dan tanda-
tanda yang mirip seperti terbentuknya lesi putih di dalam rongga mulut dan
adanya sensasi terbakar di dalam mulut. Kasus yang terjadi di dunia klinis

52
menunjukkan bahwa oral candidiasis sering timbul sebagai akibat dari kelainan
fungsi sistemik.

Kelainan sistemik seperti penurunan sistem imunitas dapat menyebabkan


mikroorganisme yang kurang patogen yang berada di dalam mulut memiliki
peluang untuk berkembang dan bertambah banyak yang lambat laun
menyebabkan infeksi di sekitar rongga mulut. Perkembangan mikroorganisme
tersebut akan menjadi semakin banyak dan akan menjadi ganas. Oleh karena itu
pengobatan dalam bentuk topikal maupun sistemik dilakukan. Penggunaan obat
anti jamur dapat menimbulkan efek samping. Oleh karena itu cara yang terbaik
mengatasi oral candidiasis yaitu dengan menjaga kesehatan mulut secara teratur
sehingga keseimbangan flora dalam mulut menjadi lebih baik.

Jadi gejala dan tanda-tanda dari menifestasi oral candidiasis harus dikenali
dan diingat agar memudahkan dalam penegakkan diagnosa. Oral candidiasis
sebenarnya dapat dicegah dengan perawatan kesehatan mulut secara teratur tetapi
apabila sudah terjadi infeksi dapat ditanggulangi dengan pemberian anti jamur
baik secara topikal maupun secara sistemik.

Obat anti jamur merupakan obat yang digunakan untuk menghilangkan


organisme mikroskopis tanaman yang terdiri dari sel, seperti cendawan dan ragi,
atau obat yang digunakan untuk menghilangkan [Link]-macam obat anti
jamur yaitu Amfoterisin B, Flusitosin, Ketokanazol dan lain-lain. Adapun efek
samping dari penggunaan setiap jenis obat anti jamur yaitu gangguan saluran
cerna merupakan ESO paling banyak, reaksi alergi pada kulit, eosinofilia, sindrom
stevensJohnson, Rhinitis,Salivasi, lakrimasi, rasa terbakar pada mulut dan
tenggorokan, iritasi pada mata,sialodenitis dan akne pustularis pada bagian atas
[Link] atau cara mengatasi efek samping dari obat anti jamur dapat
dilakukan dengan cara terapi atau konsumsi obat yang tidak berlebihan atau sesuai
resep dokter.

53
DAFTAR PUSTAKA

1 [Link] Diunggah tanggal 5-11-2016. 17:18


2 Martin V Michael. The use of fluconazole and itraconazole in the treatment of
Candida albicans infections: a review. J. Antimicrob. Chemother. (1999) 44 (4):
429-437.
3 Lynch MA, Brightman VJ, Greenberg MS. Burket ilmu penyakit mulut:
diagnosa & terapi. Alih Bahasa. PP. Sianita Kurniawan. Grogol: Binarupa
Aksara, 1994: 267-287.
4 Farmer ED, Lawton FF. Stones oral and mouth diseases. 5th ed. Great Britain:
The English Language Book Society and E&S Livingstone LTD, 1966 : 634-
637.
5 Bag / SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNAIR / RSU Dr. Soetomo.
Atlas penyakit kulit dan kelamin. 5 th ed. Surabaya: Airlangga University
Press, 2008: 86-91.
6 Gupta LC, Gupta A, Gupta A. Oral medicine. 1st ed. Delhi: A.I.T.B.S
Publishers & Distributors, 1999: 13-16.
7 Neville BW, Damm DD, Allen CM, Bouquot JE. Oral & maxillofacial
pathology. 2nd ed. Pennsylvania: Saunders, 2002: 187-199.
8 Gayford JJ, Harskell R. Penyakit mulut: clinical oral medicine. Alih Bahasa.
Lilian Yuwono. 2nd ed. Jakarta: EGC, 1979: 56-63.
9 Rossie K, Guggenheimer J. Oral candidiasis: clinical manifestations, diagnosis,
and treatment. PP&A. 1997; Vol. 9 (6): 635-641.
10 Zunt SL. Oral candidiasis: diagnosis & treatment. < http ://www. Mmcpub
.com/.pdf> (3 Oktober 2009).

54
11 Anonymous. Oral candidiasis and HIV diseases. <http ://www .projectinform
.org /.pdf> (3 Oktober 2009).
12 Anderson KM. Diagnosis and treatment of oral candidiasis infection. <http://
[Link]/.pdf> (3 Oktober 2009).

55

Anda mungkin juga menyukai