Diagnosa dan Perawatan Kandidiasis Oral
Diagnosa dan Perawatan Kandidiasis Oral
OVERVIEW
1.1 Skenario kasus
I. Identitas Pasien
- Nama pasien : Ahmad Nasroni
- Tempat/tanggal lahir : Prabumulih, 12 Maret 1977
- Suku : Melayu
- Jenis kelamin : Laki-laki
- Status perkawinan : Sudah nikah
- Agama : Muslim
- Alamat : Desa Prabu Menang Merapi Timur Lahat
- Pendidikan terakhir : SLTA
II. Anamnesa
Keluhan Utama
Pasien datang sendiri dengan keluhan bahwa di lidahnya terdapat lapisan
putih, pasien menyadari keadaan tersebut kurang lebih 6 bulan yang lalu.
Pasien merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Pasien juga
merupakan perokok berat, pasien merokok dua bungkus per hari.
Riwayat perawatan gigi
Pasien pernah dicabut giginya gigi belakang kanan bawahnya kira-kira 2
tahun yang lalu dan pencabutan gigi belakang kiri kira-kira bulan yang
lalu di puskesmas
Kebiasaan buruk
Pasien merupakan perokok berat, pasien merokok tiap hari dan dapat
menghabiskan 20 batang rokok per hari. Pasien telah mulai merokok pada
saat umur 15 tahun
Riwayat sosial
Pekerjaan pasien adalah buruh panggul di pasar, pasien sering merasa
stress untuk memenuhi keuangan keluarga sehingga pasien lebih memilih
merokok untuk menghilangkan stressnya. Pasien memiliki profil tubuh
yang kurus. Diet pasien sering tidak teratur karena pekerjaan pasien.
1
- Kelenjar getah bening submandibula kanan dan kiri tidak teraba
dan tidak sakit
b Pemeriksaan Intra Oral
- Debris : positif
- Plak : positif
- Kalkulus : positif
- Gingiva : Gingiva tampak kehitaman pada daerah gingiva
cekat di regio dan gingiva mudah berdarah pada regio
- Mukosa : sehat
- Palatum : sehat
- Lidah : Terdapat plak putih pada dorsum dan lateral lidah
serta plak putih tersebut sulit terkelupas
- Dasar mulut : sehat
- Pemeriksaan gigi geligi dan jaringan penyangga :
Pada pemeriksaan ini diketahui bahwa terdapat stain pada
enam gigi anterior rahang atas dan rahang bawah.
Iritasi pulpa : 16,26
Hiperemi pulpa : 37
Pulpitis Irreversible akut : 47
V. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada kasus ini adalah pemeriksaan
Patologi Anatomi dimana sampel diambil dengan scrapping dari lidah.
Fase II
Perawatan restorative pada gigi geligi yaitu
Tumpatan GIC di gigi 16 dan 26
2
Tumpatan RK di gigi 37
Tumpatan Amalgam di gigi 47
Fase III
Kontrol plak, kontrol pengobatan kandidiasis
DHE
3
3. Candida krusei
4. Candida parapsilosis
5. Candida guilliermondi
2.1 Definisi
Infeksi jamur yang disebabkan Candida Albicans dinamakan candidiasis
atau dalam bahasa inggris disebut dengan candidosis. Dahulu penyakit ini disebut
dengan monialisis karena organisme yang menyebabkan penyakit candidiasis
adalah Monialisis albicans. Oral candidiasis merupakan infeksi oportunistik yang
umum baik pada oral maupun perioral yang biasanya dihasilkan dari
perkembangan endogenik jamur candida secara berlebihan. Selain dari Candida
albicans, di dalam rongga mulut juga ditemukan spesies candida lainnya seperti
[Link], [Link], [Link], [Link]. Spesies-spesies dari candida
ini sering ditemukan dalam rongga mulut tetapi tidak menimbulkan penyakit.
Sampai saat ini organisme yang paling sering menimbulkan penyakit candidiasis
yaitu jenis Candida albicans.
2.2 Etiologi
Spesies candida adalah flora normal dalam rongga mulut, dalam jumlah
normal candida hadir dalam konsentras rendah,yaitu 200-500 jamur/mm saliva.
C. albicans akan berubah menjadi pathogen apabila terdapat faktor-faktor
predisposisi.
Faktor-faktor predisposisi dari oral kandidiasis adalah :
1 Perubahan dari flora normal (akibat pemberian antibiotik khususnya antibiotik
dengan spektrum luas, penggunaan berlebih dari obat kumur antibakterial,dan
xerostomia)
2 Iritan lokal yang kronis (gigi tiruan, alat ortodonti, perokok berat)
3 Pemberian kortikosteroid
4 kebersihan mulut yang buruk
5 kehamilan
6 defisiensi imunologi
4
7 malabsorpsi dan malnutrisi
Acute
Pseudomembranous
Atrophic (erythematous)
Antibiotic stomatitis
Chronic
Atrophic
Angular cheilitis
Hypertrophic/hyperplastic
Candidal leukoplakia
5
trush dengan lesi putih lainnya adalah mudah dilepaskan dari mukosa mulut
dan meninggalkan permukaan yang eritematous.
6
memberikan tekanan negative atau beradaptasi terlalu rapat sehingga
mencegah masuknya antibody saliva ke daerah ini sehingga banyak jamur
yang melekat pada gigi tiruan yang kontak dengan mukosa.
7
Gambar 5. Median rhomboid glossitis
d) Chronic Hyperplastic Candidiasis
Meliputi berbagai macam kondisi dimana terjadinya invasi miselia dari
lapisan yang lebih dalam pada mukosa dan kulit, respon penjamu ditandai
dengan parakeratosis. Kandidiasis hiperplastik kronik biasanya muncul pada
mukosa bukal, atau tepi lateral lidah dengan gambaran berbintik-bintik atau
lesi putih yanghomogen. Lesi biasanya muncul pada mukosa bukal, atau tepi
lateral lidah. Kandidiasis tipe ini biasa dihubungkan dengan merokok dan
penyembuhan sempurna terjadi akibat penghentian merokok. Kondisi ini
dapat berlanjut menjadi displasia berat atau keganasan dan terkadang
mengarah ke kandida leukoplakia. Candida sp. tidak selalu dapat diisolasi
dari leukoplakia oral. Penemuan Candida sp pada keadaan premalignan ini
biasanya lebih dikarenakan komplikasinya dibandingkan sebagai penyebab.
Kondisi ini biasanya dibingungkan dengan lichen planus, pemfigus, dan
karsinoma sel skuamosa.
8
Lesi ini biasanya terjadi pada dorsum lidah,midline pada palatum keras,sudut
mult, serta area dukngan mukosa pada gigi tiruan.
f) Chronic mucocutaneous candidiasis(CMC)
Infeksi yang persisten dari candidia dapat sebagai akibat dari kerusakan
imunitas seluler atau struktur eoidermis. Dua kategori CMC adalah sebagai
berikut:
(1) CMC yang berhubungn dengan sindroma.
(2) localized atau diffused CMC, apabila localized maka lesi dapat muncul
pada kuku dan kulit, sedangkan pada variasi yang diffused dapat terjadi
candidiasis mucocutaneous dalam derajat yang berat dan terjadi pada semua
kulit dan lesi dapat dimana saja. Biasanya hal ini terjadi pada pasien yang
mengalami kekurangan besi.
2.5 Saliva
Saliva merupakan salah satu dari cairan di rongga mulut yang diproduksi
dan diekskresikan oleh kelenjar saliva dan dialirkan ke dalam rongga mulut
melalui suatu saluran. Saliva terdiri dari 98% air dan selebihnya adalah elektrolit,
mukus dan enzim-enzim. Saliva diekskresi hingga 0.5 1.5 liter oleh tiga kelenjar
liur mayor dan minor yang berada di sekitar mulut dan tenggorokan untuk
memastikan kestabilan di sekitar rongga mulut. Saliva memiliki kandungan
antimikrobial yang dapat mengagregrasi bakteri dan mencegah kolonisasi dari
9
bakteri dan jamur. Saliva mempunyai peran penting dalam pertahanan di dalam
rongga mulut untuk menjaga kebersihan mulut.
Rongga mulut berisi bakteri patogen yang dengan mudah dapat merusak
jaringan, saliva membantu mencegah proses kerusakan melalui berbagai cara
antara lain:
1. Aliran saliva mampu membantu membuang bakteri patogen juga
partikel-partikel makanan yang memberi dukungan metabolik bagi
bakteri.
2. Saliva mengandung beberapa faktor yang mampu menghancurkan bakteri
dan jamur misalnya: lisosim, dll.
3. Saliva sering mengandung sejumlah besar antibodi protein yang dapat
menghancurkan bakteri dan jamur.
10
terdiri dari histatin, laktoferin, cathelicidins, mucin, calprotectin, lisosim,
dan oral peroksidase.
Histatin
Histatin termasuk dalam kelompok antimikrobial peptida yang ditemukan
pada saliva manusia, histatin mempunyai fungsi sebagai antifungal yang
bekerja dengan cara berikatan dengan membran sel jamur dan kemudian
masuk ke sitoplasma jamur dan menyerang mitokondria sel jamur.
Lisozim
Pada penelitian in vitro lisozim memiliki akivitas bakteriostatik,
bakterisid, dan aktivitas anticandidal. Lisozim merusak ikatan N-
glycosidic, dari rantai polysacharida dan struktur protein sel ragi jamur
sehingga menghasilkan hidrolisis dari membran sel jamur.
Laktoferrin
Laktoferin terdapat di saliva, air mata, semen, dan cairan vagina.
Laktoferin memiliki efek bakteriosid dan bakteriostatik terhadap bakteri
gram positif dan gram negatif. Laktoferin juga memiliki efek antiviral dan
antifungal. Aksi antifungal dari laktoferin dengan menganggu dinding sel
jamur.
Cathelicidins
Cathelicidins dapat ditemukan pada kulit dan mukosa, serta dalam saliva.
Cathelicidins memiliki efek antimikroba seperti pada bakteri gram positif,
gram negatif, fungi, virus, dan parasit. Cathelicidins memiliki kemampuan
untuk berikatan dengan liposakarida pada membran bakteri dan
membentuk porus pada membran bakteri.
Mucin
Mucin atau mukus glikoprotein (MG) adalah mukus yang melindungi
saluran pencernaan, pernapasan, dan reproduksi. Sel acini dalam kelenjar
saliva memproduksi mucin. Mucin dibagi menjadi dua tipe, yaitu
molekular tinggi (MG1) dan molekular rendah (MG2).15 MG2 menunjukan
efek antifungal (Candida albican, Crytococcus neformans), bakteri gram
positif (Streptococcus mutans), dan Bakteri gram negatif (Porphyromonas
gingivalis).
Calprotectin
11
Calprotetin memiliki efek antibakterial dan antifungal yaitu dengan
mengikat seng, dimana seng berfungsi dalam metabolisme dan reproduksi
dari organisme. Calprotetin dalam saliva terutama berasal dari cairan gusi,
transudat mukosa, dan gusi berkeratinisasi.
2.5.2 Peran saliva pada candida sp
Aliran saliva yang berkelanjutan penting untuk mecegah kolonisasi
Candida albicans di dalam mulut, karena saliva dapat mencegah penempelan
candida albicans pada permukaan epitel mulut. Penelitian yang dilakukan pada
133 pasien yang menderita xerostomia menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
jumlah candida albicans dalam mulut mereka. Penurunan aliran saliva
menyebabkan penurunan fungsi antifungal dari saliva, sehingga hal ini
menyebabkan peningkatan infeksi candida.
2.6 Rokok
Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya
baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Rokok merupakan benda
yang sudah tak asing lagi bagi masyarakat. Merokok sudah menjadi kebiasaan
yang sangat umum dan meluas di masyarakat tetapi kebiasaan merokok sulit
dihilangkan dan jarang diakui orang sebagai suatu kebiasaan buruk. Sementara,
alasan utama merokok adalah cara untuk bisa diterima secara sosial, melihat orang
tuanya merokok, menghilangkan rasa jenuh, ketagihan dan untuk menghilangkan
stress.
2.6.1 Klasifikasi perokok dan jenis rokok
Pengukuran tentang prilaku merokok terhadap seseorang dapat ditentukan
pada suatu kriteria yang telah ada. Biasanya batasan yang digunakan adalah
berdasarkan jumlah rokok yang dihisap setiap hari atau lamanya kebiasaan
merokok. Perokok dibagi atas tiga kategori yaitu :
1 Bukan perokok atau non smokers, adalah seseorang yang belum pernah
mencoba merokok sama sekali
2 Perokok eksperimental atau eksperimental smoker adalah seseorang yang
telah mencoba merokok tapi tidak menjadikannya sebagai kebiasaan
12
3 Perokok tetap atau reguler smoker, adalah seseorang yang teratur dalam
merokok baik dalam hitungan mingguan atau intensitas yang lebih tinggi
lagi.
Perokok dibagi lagi atas empat tipe,yaitu:
1 Perokok ringan adalah seseorang yang merokok antara 2-10 batang per
hari
2 Perokok sedang adalah seseorang yang mengkonsumsi rokok sebanyak 11-
20 batang per hari
3 Perokok berat adalah seseorang yang mengkonsumsi rokok lebih dari 20
batang per hari
4 Perokok yang menghisap rokok dalam-dalam.
Rokok umunya dibagi menjadi 3 kelompok yaitu rokok putih, rokok kretek dan
rokok cerutu. Rokok putih mempunyai kandungan 14-15 mg tar dan 5 mg nikotin
dimana kandungan tar dan nikotin tersebut lebih rendah daripada rokok kretek
yaitu 20 mg tar dan 4-5 mg nikotin.
13
penyebab penyakit jaringan pendukung gigi dibandingkan mereka yang
bukan perokok.
Pengaruh asap rokok secara langsung adalah iritasi terhadap rongga mulut
dan secara tidak langsung melalui produk-produk rokok seperti nikotin.
Penyempitan pembuluh darah yang disebabkan nikotin mengakibatkan
berkurangnya aliran darah. Iritasi menyebabkan jaringan pendukung gigi
yang sehat seperti gusi, selaput gigi, semen gigi dan tulang tempat
tertanamnya gigi menjadi rusak karena terganggunya fungsi normal
mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi dan dapat merangsang tubuh
untuk menghancurkan jaringan sehat di sekitarnya. Gusi seorang perokok
juga cenderung mengalami penebalan lapisan tanduk. Daerah yang
mengalami penebalan ini terlihat lebih kasar dibandingkan jaringan di
sekitarnya dan berkurang kekenyalannya.
Pada perokok terdapat penurunan zat kekebalan tubuh (antibodi) yang
terdapat di dalam ludah yang berguna untuk menetralisir mikroba dalam
rongga mulut dan terjadi gangguan fungsi sel-sel pertahanan tubuh.20 Sel
pertahanan tubuh tidak dapat mendekati dan memakan mikroba-mikroba
penyerang tubuh sehingga sel pertahanan tubuh tidak peka lagi terhadap
perubahan di sekitarnya juga terhadap infeksi.
2.7 DIAGNOSA
Untuk menegakkan diagnosa yang tepat maka diperlukan langkah-langkah
sebagai berikut yaitu: (1). Melakukan anamnesis dan gejala klinis yang khas, (2).
Melakukan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan
14
langsung dengan larutan KOH 10-20% dan/atau dengan pengecatan gram, apabila
hasilnya positif diagnosa dapat ditegakkan, apabila hasilnya negatif dilakukan
pemerikasaan laboratorium lanjutan dengan teknik kultur untuk memastikan
spesies penyebab, (3). Melakukan histo PA apabila diagnosa
15
a. Itrakonazole : menguraikan ergosterol di dalam sel-sel jamur.
b. Vorikonazole : menghambat pembentukan sterol pada membran sel
jamur.
c. Flukonazole : spesifik menghambat pembentukan sterol pada
membran sel jamur.
2. Golongan Polien : mengikat ergosterol di sel membran jamur yang akan
menyebabkan kerusakan permeabilitas sel
- Amfoterisin B : mengikat ergosterol pada membran sel jamur.
- Nistatin : mengikat ergosterol pada membran sel jamur
3. Golongan lain :
- Golongan Ekinokandin : menghambat pembentukan 1,3 glukan tetapi
tidak secara kompetitif. Sehingga apabila glukan tidak terbentuk,
integritas struktural dan morfologi sel jamur akan mengalami lisis :
a. Caspofungin : menghambat sintesis glukan (unsur utama dinding sel).
- Golongan Alilamin : mekanisme kejanya mensintesis ergesterol.
a. Naftifin
b. Terbinafin
16
terhadap ginjal seringkali menimbulkan nefrotoksik. Sediaan berupa
lozenges (10 ml) dapat digunakan sebanyak 4 kali /hari.
17
bentuk capsul 50 mg, 100mg, 150mg dan 200mg Single dose dan intra
vena. Kontra indikasi pada wanita hamil dan menyusui.
Lini kedua pengobatan, garis kedua dari perawatan ini digunakan untuk
kasus yang parah, pasien imunosupresi dan pasien yang merespon secara
buruk pada lini utama dari pengobatan. Obat yang terutama digunakan dalam
baris kedua pengobatan yaitu ketoconazole, flukonazol, itrakonazol.
Tabel 2: Daftar nama obat, dosis, serta efek samping dari penggunaan obat
untuk penanganan penyakit Oral candidiasis
18
Nystatin 1-2 pastilles Menyebabkan Hirup perlahan,
(mycostatin) 4-5 x sehari radang pada mulut, jangan dikunyah
Pastilles mual atau langsung
ditelan
Ketonacozole 200 mg/hari, 7-14 Mual, muntah, sakit Periksa fungsi hati
(nizoral) tablet hari; perut, meracuni hati saat menggunakan
400 mg /hari, 14-21 obat ini, berikan
hari bersama makanan.
PENGOBATAN LAIN
19
Gentian violet Diberikan pada Menimbulkan Berguna untuk
(1% larutan daerah yang pembengkakan infeksi yang
pada air) terinfeksi, 2x sehari kambuhan,
untuk 3 hari
*Esophageal candidiasi
2. Non Medikamentosa
a. Mencegah/menghindari faktor predisposisi kandidiasis:
1) Mengurangi rokok dan konsumsi karbohidrat
2) Menunda pemberian antibiotik dan kortikosteroid
3) Menangani penyakit yang memicu kemunculan kandidiasis,
seperti penanggulangan penyakit DM, HIV, dan leukemia
b. Menjaga kebersihan rongga mulut:
1) Menyikat gigi
2) Menyikat daerah bukal dan lidah dengan sikat lembut
3) Pembersihan dan penyikatan gigi tiruan secara rutin dengan
4) menggunakan cairan pembersih, seperti klorheksidin
1. NISTATIN
a. Gambaran Umum Nistatin
20
Untuk pengobatan kandida, nistatin dapat digunakan secara topikal dan
dapat juga diberikan secara oral. Nistatin biasanya tidak bersifat toksik tetapi
kadang-kadang dapat timbul mual, muntah, dan diare jika diberikan dengan dosis
tinggi.
Nistatin belum dikaitkan dengan efek yang merugikan pada janin, namun
nistatin hanya direkomendasikan untuk digunakan selama kehamilan ketika
manfaat melebihi risiko. Hal ini didukung dengan penelitian systematic review
yang dilakukan Cochrane ditemukan bahwa tidak ada efek yang signifikan secara
statistik terhadap mortalitas neonatus setelah pemberian nistatin.
b. Farmakodinamik Nistatin
Nystatin
21
(sistemik), murah, mudah diberikan, dan aman, meskipun pemakaiannya sebagai
prosedur rutin masih memerlukan uji klinis lebih lanjut.
Indikasi
[Link] usus
2. Candidiasis orofaringeal
3. Candidiasis mulut
4. Profilaksis candidiasis
5. Untuk pencegahan bagi pasien yang rentan infeksi jamur topikal.
Kontraindikasi
Pasien yang hipersensitif terhadap Nystatin
Efek Samping:
Nystatin dapat ditolerir oleh semua umur, termasuk untuk pemakaian jangka
lama. Reaksi tubuh seseorang terhadap sebuah obat berbeda-beda. Beberapa
efek samping yang mungkin terjadi adalah:
Iritasi mulut.
Merasa mual atau ingin muntah.
Sakit perut.
Diare.
Iritasi kulit dan kulit berwarna kemerahan.
Interaksi Obat
Nistatin bersinergi dengan antibiotik lain seperti tetrasiklin tetapi mekanisme
yang mendasari masih belum jelas, mungkin sebagian disebabkan oleh
peningkatan permeabilitas membran yang disebabkan oleh polene.
Hal tersebut mendukung pandangan bahwa tidak ada efek merusak yang
diharapkan jika agen terapi itu harus dipakai bersamaan dengan nistatin.
Peringatan:
Bagi wanita hamil, merencanakan kehamilan, atau sedang menyusui,
tanyakan pada dokter sebelum menggunakan obat ini.
Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.
Dosis Nystatin
1. Untuk bentuk tablet
a) Dewasa dan anak > 5 tahun: 1 atau 2 tablet hisap atau 1 tablet 3-5
kali sehari sampai 14 hari
b) Anak-anak 0-5 tahun
22
anak-anak dalam usia ini mungkin tidak dapat menggunakan tablet
hisap atau tablet dengan aman. Anak pada usia ini lebih baik
mengonsumsi nystatin dalam bentuk suspensi.
2. Untuk bentuk sediaan suspensi
a. Dewasa dan anak > 5 tahun: 4-6ml (sekitar 1 sendok teh) 4 kali sehari
b. Balita : 2 ml 4 kali sehari
c. Untuk bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah
1 ml 4 kali sehari.
Menggunakan Nystatin dengan Benar
Untuk nystatin cair, kocok obat sebelum digunakan. Tentukan waktu konsumsi
obat ini secara merata dalam satu hari dan konsumsi pada waktu yang sama
tiap hari. Disarankan mengonsumsi obat ini setelah makan atau minum. Setelah
mengonsumsi obat ini, dilarang makan atau minum setidaknya selama 30
menit. Hal ini bertujuan agar obat tetap di dalam mulut.
Lanjutkan mengggunakan obat ini sesuai dosis yang diberikan oleh dokter,
meski gejalanya sudah menghilang setelah beberapa hari. Menghentikan
pemakaian obat ini terlalu cepat bisa menyebabkan infeksi berlanjut atau
muncul kembali.
Bagi pasien yang memakai gigi palsu, disarankan untuk membersihkan dan
melepaskan gigi palsunya pada malam hari. Gigi palsu juga bisa direndam
dengan nystatin cair untuk menghilangkan jamur dari gigi palsu dan jangan
lupa untuk mencucinya sebelum digunakan kembali. Tidak melepas gigi palsu
pada malam hari menjadi salah satu faktor yang menyebabkan munculnya
kandidiasis mulut.
Bagi penderita diabetes, lakukan pemeriksaan kadar gula darah secara rutin.
Kadar gula darah yang terkontrol bisa mengurangi risiko terkena infeksi jamur.
Berhenti merokok juga menghindarkan risiko terkena kandidiasis mulut. Bagi
pasien yang lupa mengonsumsi nystatin jenis obat cair, konsumsi obat cair
sesuai jadwal berikutnya, jangan menggandakan dosis yang terlewat.
c. Farmakokinetik Nistatin
Nistatin adalah antibiotik makrolida polene dari Streptomyces noursei. Struktur
nistatin mirip dengan struktur amfoterisin B. Nistatin tidak diserap di membran
mukosa atau kulit. Obat ini terlalu toksik untuk pemberian parenteral. Bila
diberikan per oral, absorpsinya sedikit sekali dan kemudian diekskresi melalui
23
feses. Spektrum antijamurnya sebenarnya juga mencakup jamur-jamur
sistemik, namun karena toksisitasnya, nistatin hanya digunakan untuk terapi
infeksi kandida pada kulit, membran mukosa dan saluran cerna. Nistatin efektif
untuk kandidiasis oral, kandidiasis vaginal dan esofagitis karena kandida.
Nistatin terdapat dalam sediaan obat tetes atau suspensi, tablet oral, tablet
vagina, dan suppositoria. Berikut rincian farmakokinetik dari nistatin sediaan
oral dan topikal.
Sedian topikal
Absorpsi
Nistatin dalam bentuk pasta digunakan topikal pada daerah kulit yang
terinfeksi dan tidak ada indikasi penyerapan di kulit yang menyebabkan
paparan sistemik terhadap nistatin. Hal ini sejalan dengan pengamatan untuk
antibiotik polene lainnya. Nistatin tidak diserap di lapisan mukosa ketika
dioleskan sehingga toksisitas sistemik tidak diharapkan dari sediaan topikal.
Distribusi
Nistatin tidak dipenetrasi di kulit sehingga penentuan evaluasi distribusi
farmakokinetik standar tidak akan sesuai, karena tidak akan ada paparan
sistemik terhadap nistatin.
Metabolisme
Belum ada systemic review pada metabolisme nistatin. Pada dasarnya,
berdasarkan pengalaman klinis panjang dengan senyawa ini fakta ini dianggap
tidak penting dalam klinis.
Ekskresi
Nistatin tidak dipenetrasi di kulit, penentuan standar farmakokinetik eliminasi
tidak akan sesuai, karena tidak akan ada paparan sistemik terhadap nistatin.
Sediaan Oral
Absorpsi
Ada penyerapan langsung di mukosa sehingga terdapat paparan sistemik
terhadap nistatin. Penyerapan langsung yang terbatas tersebut tidak cukup
untuk menghasilkan efek baik efek kemoterapi sistemik atau toksisitas apapun.
24
Interaksi nistatin dan polene lain dengan garam empedu yang menyebabkan
bioavailabilitas oral yang buruk untuk senyawa ini.
Distribusi
Paparan sistemik setelah pemberian oral adalah minimal sebagaimana
dibuktikan oleh pemulihan sangat rendah di urin 1,0% pada 24 jam (dosis
tidak diberikan), dan konsentrasi rendah dan tidak menentu dalam serum.
Metabolisme
Konsentrasi nistatin bertahan dalam air liur selama kurang lebih 2 jam setelah
mulai larutnya 400.000 unit nistatin secara langsung. Belum ada systemic
review yang dilakukan terhadap metabolisme nistatin.
Ekskresi
Proporsi nistatin lebih tinggi di feses dan ini adalah kasus dalam penelitian
yang dilaporkan oleh Drouhet; 32% dari dosis nistatin itu dalam tinja dan
<1,0% dalam urin. Dalam penelitian in vitro, ditunjukkan bahwa nistatin
kehilangan aktivitas dalam plasma, darah dan larutan air.
Candistin
Nistatin 100.000 UI yang diindikasikan untuk terapi kandidiasis pada
rongga mulut. Kontraindikasi pada hipersensitif. Dosis untuk bayi 4x1-2 ml
sehari; anak dan dewasa: sehari 4x1-6 ml diteteskan ke dalam mulut dan ditahan
beberapa waktu sebelum ditelan; bayi dan anak diberikan setengah dosis
diteteskan pada masing-masing sisi mulut; pengobatan sebaiknya dilanjutkan
hingga 48 jam setelah gejala menghilangdan kultur normal kembali. Bila keluhan
dan gejala memburuk atau menetap (hingga 14 hari pengobatan), penderita harus
dievaluasi dan dipertimbangkan untuk diberikan pengobatan alternatif. Kemasan
candistin dalam bentuk botol tetes 12 ml.
Cazetin
Nistatin 100.000 UI/ml suspensi diindikasikan untuk kandidiasis pada
rongga mulut dan saluran pencernaan. Dosis untuk dewasa sehari 4x1-2 ml; bayi
dan anak-anak, sehari 3-4x1 ml. Dosis untuk profilaksis sehari 1x1 ml. Obat
cazetin tersedia dalam kemasan botol 15 ml dan 1 pipet tetes.
Enystin
25
Nistatin 100.000 UI/ml diindikasi sebagai pengobatan kandidiasis oral dan
intestinal. Kontraindikasi terhadap hipersensitivitas. Dosis obat enystin pada
orang dewasa dan anaka-anak sebesar sehari 4x1-2 ml (100.000-200.000 u).
Terapi sebaiknya dilanjutkan sampai 48 jam setelah gejala menghilang.
Kemasannya dalam bentuk botol 12 ml (drops+pipet 1 ml) Rp. 19.500,-
Fungatin
Nistatin 100.000 UI/ml indikasi untuk pengobatan infeksi kandida pada
mulut, esofagus, usus, kandidiasis oral pada bayi baru lahir dari kandidiasis
vagina. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat fungatin adalah tidak
diperuntukkan untuk infeksi jamur sistemik. Efek samping yang ditimbulkan
berupa mual, muntah, diare, nyeri abdomen berat, iritasi atau sensitasi oral,
urtikaria atau kemerahan pada kulit. Sangat jarang menyebabkan sindroma Steve-
Johson. Dosis orang dewasa yang sariawan dan infeksi rongga mulut karena
Candida albicans 1-4 ml pada lesi 4 kali/hari. Kandidiasis intestinal dan oral 1-
sehari 4x2 ml. Lama terapi selama 14 hari. Kemasan obat ini dalam bentuk
suspensi 12 ml.
Kandistatin
Nistatin 100.000 UI/ml suspensi indikasi untuk pengobatan kandidiasis
pada rongga mulut, kandidiasis pada kerongkongan dan saluran cerna. Profilaksis
oral trush pada bayi baru lahir. Efek samping obat ini adalah diare dan gangguan
gastrointestinal. Dosis pada orang dewasa sebesar 4x1-2 ml sehari, untuk anak-
anak 3-4x1ml. Sebagai profilaksis, dosisnya sebesar 1x1 ml sehari. Kemasan obat
ini dalam bentuk botol 12 ml suspensi 100.000 UI/ml x 12 ml.
Mycostatin
Nistatin 100.000 UI/ml; 500.000 UI indikasi untuk pengobatan kandidiasis
mulut dan usus yang kontraindikasi hipersensitivitas. Hal yang perlu diperhatikan
dalam penggunaan obat mycostatin adalah pernah dilaporkan adanya sindrom
Steven Johson. Dosis mycostastin sebagai pengobatan kandidiasis mulut dan usus
sebesar sehari 3x 1-2 tab atau sehari 4x1 ml untuk kandidiasis mulut. Suspensi
obat ini sebaiknya dikulum sebelum ditelan. Profilaksis pada bayi baru lahir
terutama bayi prematur sehari 1x1 ml. Kemasan obat ini dalam bentuk botol 12
ml; 100 tab.
Nymiko
26
Nistatin 100.000 UI/ml suspensi indikasi disesuaikan dengan dosis.
Kontraindikasi hipersensitivitas. Perlu diperhatikan bahwa obat ini sebaiknya
tidak diberikan pada ibu hamil dan menyusui. Efek samping yang ditimbulkan
berupa gangguan saluaran cerna, diare, mual, dan muntah. Dosis untuk infeksi
rongga mulut yang disebabkan Candida albicans (agar dikunur dahulu sebelum
ditelan). Bayi, anak-anak, dan dewasa sehari 4x1 ml suspensi. Obat ini dikemas
dalam bentuk botol 12 ml suspensi dengan harga Rp. 26.930,-.
2. AMFOTERISIN B
Indikasi
27
yang mengancam kehidupan biasanya diberikan sebagai terapi awal untuk infeksi
jamur yang serius dan selanjutnya diganti dengan salah satu azole baru untuk
pengobatan lama atau pencegahan kekambuhan. Obat ini digunakan untuk
pengobatan infeksi jamur seperti oksidioidomikosis, parakosidioidomikosis,
aspergilosis, kromoblastomikosis dan kandidiosis. Amfoterisin B merupakan obat
terpilih untuk blastomikosis selain hidroksistilbamidin yang cukup efektif untuk
sebagian besar pasien dengan lesikulit yang tidak progresif. Toksisitas
hidrosisistilbamidin diduga lebih rendah dari pada amfoterisinB.
Sediaan
Dosis
Pada umumnya dimulai dengan dosis yang kecil (kurang dari 0,25
mg/kgBB) yang dilarutkan dalam dekstrose 5 % dan ditingkatkan bertahap
sampai 0,4-0,6 mg/kgBB sebagai dosis pemeliharaan.
Secara umum dosis 0,3-0,5 mg/kgBB cukup efektif untuk berbagai infeksi
jamur, pemberian dilakukan selama 6 minggu dan bila perlu dapat
dilanjutkan sampai 3-4 bulan
Farmakokinetik
Absorbsi : Amfoterisin B sedikit sekali di serap melalui saluran cerna.
Suntikan yang dimulai dengan dosis 1,5 mg/kg BB/ hari akan memberikan
kadar puncak antara 0,5-2 /ml pada kadar mantap.
Distribusi : Obat ini didistribusikan keseluruh jaringan. Kira-kira 95%
obat beredar dalam plasma, terikat pada lipoprotein. Kadar amfitorisin B
dalam cairan pleura, peritoneal, sinovial dan akuosa yang mengalami
peradangan hanya kira-kira 2/3 dari kadar terendah dalam plasma.
28
Amfoterisin B mungkin dapat menembus sawar uri. Sebagian kecil
mencapai CSS, humor vitreus dan cairan amnion.
Ekskresi : melalui ginjal berlangsung lambat sekali, hanya 3% dari jumlah
yang diberikan selama 24 jam sebelumnya ditemukan dalam urin.
Farmakodinamik
Mekanisme kerja
Amfoterisin B berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran
sel jamur sehingga membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan
intrasel dan menyebabkan kerusakan yang tetap pada sel.
Salah satu penyebab efek toksik yang ditimbulkan disebabkan oleh
pengikatan kolesterol pada membran sel hewan dan manusia. Resistensi
terhadap amfoterisin B mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan
reseptor sterol pada membran sel.
Gambar 12. (A) struktur molekul dari AmB, Natamycin, dan serangkaian
kelompok turunan melalui sintesis kimia. (B) Representasi dari dua
mekanisme untuk aktivitas antijamur AmB: pengikatan ergosterol dan
Permeabilisasi membran. (C) Representasi dari dua model terkemuka
untuk struktur saluran ion AmB. Kedua model memprediksi bahwa gugus
hidroksil pada C35 sangat penting untuk saluran ion self-assembly. (D)
29
Iteratif cross-coupling, molekul strategi sintesis kecil, analog dengan
kopling peptida berulang, di mana blok bangunan bifunctional secara
berurutan dihubungkan menggunakan hanya satu reaksi rekursif..
Aktivitas antijamur
Amfoterisin B menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel matang.
Aktivitas anti jamur nyata pada Ph 6,0-7,5 tapi berkurang pada pH yang
lebih rendah. Antibiotik ini bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung
pada dosis dan sensitivitas jamur yang dipengaruhi.
Efek samping
30
Asidosis tubuler ringan dan hipokalemia sering dijumpai dan keadaan ini
dapat diatasi dengan pemberian kalium. Efek toksik terhadap ginjal dapat
ditekan bila amfoterisin B diberikan bersama flusitosin. Anemia
normositik normokrom hampir selalu ditemukan pada pemakaian jangka
panjang.
Interaksi obat
Beberapa obat dapat berinteraksi dengan amfoterisin B :
3. KETOKONAZOL.
Azole adalah kelompok agen fungistatik sintetis dengan spectrum luas
berdasarkan dari inti imidazole (clotrimazole, econazole, fenticonazole,
ketoconazole, miconazole, tioconazole, sulconazole) atau inti triazole
(itraconazole, voriconazole dan fluconazole ).
Azole menghambat enzim sitokrom P450 3A jamur, lanosine 14 alfa
demethylase yang bertanggung jawab dalam mengubah lanosterol
menjadiergosterol, sterol utama dalam membrane sel jamur. Deplesi
ergosterol menganggu stabilitas membrane dan hal ini mengganggu enzim
membrane. Hasil akhirnya yaitu inhibisi dari replikasi.
Ketoconazole adalah azole pertama yang dapat diberikan secara oral untuk
menangani infeksi jamur sistemik. Efektif melawan beberapa macam tipe
organisme.
31
Gambar 13. Struktur Ketokonazol
Farmakokinetik
Obat ini terikat kuat pada protein plasma. Walaupun penetrasi kedalam jaringan
terbatas, efektif juga untuk tetapi histoplasmosis pada paru-paru,tulang, kulit,
dan jaringan lunak. Ketoconazole tidak dapat melewati sawar darahotak
sehingga tidak efektif untuk infeksi jamur pada otak
Absorbsi
Ketoconazole diserap dengan sangat baik pada perut kosong, diserap baik
melalui saluran cerna dan menghasilkan kadar plasma yang cukup untuk
menekan aktivitas berbagai jenis jamur. Penyerapan melalui saluran cerna
akan berkurang pada penderita dengan pH lambung yang tinggi, pada
pemberian bersama antasid Makanan, antasida, simetidin, rifampin.
Ketoconazole hanya diberikan dalam bentuk oral, terlarut dalam asam
lambung dan diserap melalui mukosa lambung.
Distribusi
Ekskresi
32
Metabolisme
Metabolisme terjadi di hati. Induksi sitokrom P-450 di hati mempercepat
waktu paruh dari ketoconazole. Namun obat ini juga dapat menghambat
beberapa enzim sitokrom P-450 tertentu untuk mempotensiasi efek obat
lainnya. Eksresi terutama melalui getah lambung. Kadarnya pada urin
sangat rendah sehinggatidak efektif untuk menangani infeksi jamur pada
saluran kemih
Farmakodinamik
Mekanisme kerja
Indikasi
Kontraindikasi
Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil dan menyusui,
karena pada percobaan tikus, dosis 80 mg/kgBB/hari dapat
menimbulkan cacat pada jari hewan percobaan tersebut.
Penderita penyakit hati yang akut atau kronik.
Hipersensitif terhadap ketoconazole atau salah satu komponen obat ini.
Pada pemberian peroral ketoconazole tidak boleh diberikan bersama
sama dengan terfenadin, astemizol, cisaprid dan triazolam.
Dosis
Dosis oral pada orang dewasa adalah single dose 200 mg per hari.
Lamapengobatan tergantung pada penyakit.
33
Interaksi Obat
Efek samping
34
piperazin padastruktur kimia ketoconazole. Diantaranya yaitu
ginekomastia, penurunan libido, impotensi dan iregularitas menstruasi.
4. Itrakonazol
35
Itraconazole adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi
jamur, terutama infeksi jamur sistemik seperti aspergillosis, kandidiasis, dan
kriptokokosis, di mana obat antijamur lain tidak lagi efektif. Obat ini termasuk
golongan triazole yang memiliki spektrum yang lebih luas dari fluconazole.
Seperti semua agen antijamur kelas azole, itraconazole mengganggu
sintesis membran sel jamur dengan cara menghambat enzim sitokrom P450
14-demethylase (P45014DM). Penghambatan ini mencegah konversi
lanosterol ke ergosterol, komponen penting dari membran sitoplasma
[Link] adalah agen lipofilik dan penyerapan karena itu miskin dan
variabel.
Itraconazole merupakan golongan obat antijamur (antifungal). Itraconazole
digunakan untuk mengobati infeksi jamur yang parah, seperti oropharyngeal
candidiasis, Oesophageal candidiasis (candida esophagitis), Blastomycosis
(penyakit Gilchrist), dan lain-lain.
Karena lipofilisitasnya, itraconazole tidak ditemukan dalam cairan tubuh,
seperti cairan serebrospinal, cairan mata dan air liur, tetapi dalam banyak organ
dan jaringan (kulit, paru-paru, ginjal, hati, lemak, limpa, otak, otot, tulang).
Obat ini dapat diberikan secara oral atau intravena, biasanya dipasarkan berupa
itraconazole 100 mg kapsul dan 10 mg / ml larutan oral.
Farmakokinetik
Absorbsi
Itrakonazol cepat diserap setelah pemberian oral. konsentrasi plasma
puncak Itrakonazol dicapai dalam waktu 2 sampai 5 jam setelah dosis
kapsul oral. bioavailabilitas oral yang diamati pada Itrakonazol adalah
sekitar 55%.
Bioavailabilitas oral Itrakonazol maksimal ketika Itraconazole kapsul
diambil segera setelah makan. Penyerapan kapsul Itrakonazol berkurang
pada tingkat keasaman lambung yang kurang,
Distribusi
Sebagian besar Itrakonazol dalam plasma terikat dengan protein (99,8%),
dengan albumin menjadi komponen yang mengikat utama (99,6% untuk
hidroksi-metabolit). Hanya 0,2% dari Itrakonazol dalam plasma hadir
sebagai obat bebas. Itrakonazol didistribusikan dalam volume yang besar
dalam tubuh (lebih besar dari 700 L), menunjukkan distribusi yang luas
36
ke dalam jaringan. Konsentrasi dalam paru-paru, ginjal, hati, tulang,
perut, limpa dan otot ditemukan dua sampai tiga kali lebih tinggi dari
konsentrasi dalam plasma, dan penyerapan ke dalam jaringan keratinous,
kulit khususnya, hingga empat kali lebih tinggi. Konsentrasi dalam cairan
serebrospinal yang jauh lebih rendah daripada di plasma.
Metabolisme
Itrakonazol secara ekstensif dimetabolisme di hati dalam bentuk
metabolit. Penelitian in vitro menunjukkan bahwa CYP3A4 merupakan
enzim utama yang terlibat dalam metabolisme Itrakonazol. Metabolit
utama adalah hidroksi-Itrakonazol, yang memiliki aktivitas in vitro
antijamur sebanding dengan Itraconazole; konsentrasi plasma melalui
metabolit ini sekitar dua kali orang-orang dari Itrakonazol.
Ekskresi
37
Infeksi berat mungkin memerlukan dosis hingga 400 mg sehari.
Farmakodinamik
Efek samping
Kemerahan,
pruritus,
lesu,
pusing,
edema,
parestesia
10-15% penderita mengeluh mual atau muntah tapi pengobatan tidak perlu
dihentikan
Indikasi
Kontraindikasi
Jangan digunakan untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif
pada itraconazole atau obat golongan triazole lainnya.
Jangan menggunakan obat ini untuk pengobatan onychomycosis pada
pasien yang memiliki disfungsi ventrikel seperti gagal jantung kongestif
(CHF) atau riwayat CHF, wanita hamil atau yang berencana hamil.
Jangan menggunakan obat ini pada pasien yang sedang menggunakan
obat lain yang dimetabolisme melalui enzim CYP3A4 seperti metadon,
disopiramid, dofetilide, dronedarone, quinidine, alkaloid ergot (seperti
dihydroergotamine, ergometrine (ergonovin), ergotamine,
metilergometrin (metilergonovin)), irinotecan, lurasidone, midazolam
oral, pimozide, triazolam, felodipin, nisoldipin, ranolazine, eplerenone,
38
cisapride, lovastatin, simvastatin, ticagrelor, colchicine, fesoterodine,
telitromisin dan solifenacin karena konsentrasi plasma obat-obat
tersebut meningkat sehingga efek farmakologi dan efek sampingnya
meningkat misalnya terjadi perpanjangan QT dan ventrikel takiaritmia
termasuk kejadian torsade de pointes
Interaksi Obat
Mekanisme kerja
39
Tabel 2 Indikasi untuk itraconazole
a
Capsules must be swallowed whole immediately after food
b
In AIDS and neutropenic patients, blood level monitoring and, if necessary, an increase in
itraconazole dose to 200 mg bd is recommended
5. Flukonazol
Fluconazole adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi
jamur, terutama infeksi candida pada vagina, mulut, tenggorokan, dan aliran
darah. Obat ini termasuk golongan triazole generasi pertama.
Flukonazol memiliki aktivitas yang baik secara in-vitro terhadap C.
Albicans, flukonazol juga dapat efektif terhadap beberapa non-albicans Candida,
termasuk Candida parapsilosis, tropicalis Candida dan Candida glabrata,
meskipun dibutuhkan dosis yang lebih tinggi.
Seperti semua agen antijamur kelas azole, fluconazole mengganggu sintesis
membran sel jamur dengan cara menghambat enzim sitokrom P450 14-
demethylase (P45014DM). Penghambatan ini mencegah konversi lanosterol ke
ergosterol, komponen penting dari membran sitoplasma jamur.
Farmakokinetik
40
Fluconazole larut dalam air dan tersedia dalam bentuk kapsul lisan, cair
dan larutan saline intravena. Semua formulasi menunjukkan
farmakokinetik yang berbeda. Ketika diberikan secara oral, flukonazol
cepat diserap, dengan tingkat puncak plasma terjadi 1-3 jam setelah
pemberian dosis.
Konsentrasi plasma puncak sebanding dengan dosis melalui berbagai (25-
400 mg).
Senyawa induk aktif dan memiliki eliminasi paruh plasma sekitar 30 jam.
Bioavailabilitas tinggi secara konsisten (sekitar 90%) dan distribusi ke
situs tubuh dan jaringan yang luas dan cepat, profil farmakokinetik
flukonazol ini memungkinkan kenyamanan dosis sekali sehari, dan
pengobatan kedua infeksi albicans C. lokal dan sistemik.
Obat ini diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi adanya
makanan ataupun keasaman lambung.
Kadar puncak 4-8 g dicapai setelah beberapa kali pemberian 100 mg.
Waktu paruh eliminasi 25 jam sedangkan ekskresi melalui ginjal melebihi
90% bersihan ginjal.
Tablets: 50, 100, 150 and 200 mg. Oral Suspension: 10 mg/ml and 40
mg/ml. Injection: 2 mg/ml
41
setiap 48 jam pada neonatus usia 2-4 minggu. Obat diberikan secara oral
atau infus intravena.
Farmakodinamik
Efek samping
Efek samping yang umum diantaranya ruam, sakit kepala, pusing, mual,
muntah, sakit perut, diare, dan peningkatan kinerja enzim hati.
Efek samping yang lebih jarang misalnya anoreksia, tubuh yang lelah, dan
sembelit.
Efek samping yang sangat jarang seperti oliguria, hipokalemia, parestesia,
kejang, alopecia, angioudem, anafilaksis, lesi bulosa, nekrolisis epidermal
toksik, sindrom Stevens-Johnson, trombositopenia, diskrasia darah lainnya,dan
hepatotoksisitas serius termasuk gagal hati.
Pada pasien AIDS pernah dilaporkan terjadi reaksi kulit yang parah.
Indikasi
42
efektif untuk pengobatan kandidiasis mulut dan tenggorokan pada penderita
AIDS
Kontra indikasi
Jangan digunakan untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif pada
fluconazole atau obat golongan triazole lainnya.
Jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang memiliki gangguan hati
dan pasien yang sedang diterapi dengan terfenadin atau astemizol,
terutama jika dosis fluconazole 400 mg atau lebih.
Pasien yang sedang menggunakan obat lain yang diketahui bisa
memperpanjang interval QT dan yang dimetabolisme melalui enzim
CYP3A4 seperti cisapride, astemizol, erythromycin, pimozide, dan
quinidine tidak boleh menggunakan fluconazole.
Kontraindikasi untuk pasien yang sedang menggunakan obat fluoxetine
atau sertraline
Interaksi obat
Pada dosis 400 mg atau lebih besar tidak boleh digunakan bersamaan
dengan terfenadine karena menyebabkan hal yang sama.
43
Fluconazole meningkatkan konsentrasi plasma fenitoin, teofilin,
siklosporin, rifabutin, midazolam, tacrolimus, dan metadon.
44
Childrena 3 mg/kg daily; loading dose of 6 mg daily may be
Mucosal candidosis used on day 1
612 mg/kg daily
Systemic candidosis 312 mg/kg daily
Prophylaxis in neutropenia
a
In the first 2 weeks of life, the same mg/kg dosing as in older children should be used but administered
every 72 h; during weeks 24 of life, the same dose should be given every 48 h.
Interaksi obat
Pada dosis 400 mg atau lebih besar tidak boleh digunakan bersamaan
dengan terfenadine karena menyebabkan hal yang sama.
45
Fluconazole memiliki potensi untuk meningkatkan eksposur sistemik obat
golongan calcium chanel blocker (nifedipin, isradipin, amlodipine,
verapamil, dan felodipin). Pemantauan efek samping dianjurkan.
Anti jamur golongan imidazol mempunyai spektrum yang luas. Yang termasuk
kelompok ini ialah mikonazol, klotrimazol, ekonazol, isokonazol, tiokonazol,
dan bifonazol.
MIKONAZOL
46
Gambar 14. Struktur Mikonazol
Farmakokinetik
Absorbsi
Ekskresi
Metabolisme
Farmakodinamik
Indikasi
47
Kontraindikasi
- Bayi di bawah usia empat bulan, atau mereka yang refleks menelan belum
sepenuhnya dikembangkan (misalnya bayi lahir prematur yang mungkin
tidak sepenuhnya mengembangkan refleks menelan sampai mereka lima
atau enam bulan usia).
- Orang dengan masalah hati.
- Orang dengan kelainan darah herediter langka yang disebut porfiria.
- Orang yang alergi terhadap bahan apapun.
Tabel 4 . Tabel. Berikut ini adalah dosis umum penggunaan miconazole dalam
berbagai bentuk:
Oleskan secukupnya
Krim dan salep Dewasa pada bagian yang
terinfeksi 2-3 kali sehari
Taburi secukupnya
Bedak Dewasa bagian yang terinfeksi 2
kali sehari
Mekanisme Kerja
48
lubang di membran, miconazole memungkinkan konstituen penting dari
sel jamur bocor keluar, yang membunuh jamur dan membersihkan infeksi.
Peringatan
Efek samping
49
Mikonazol dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan meskipun
tidak semua orang mengalaminya. Hal di bawah ini berisi beberapa yang paling
umum yang terkait dengan miconazole, meskipun gejala biasanya ringan dan tidak
berlangsung lama. Beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah menggunakan
obat anti jamur ini adalah:
Diare
Sakit kepala
Sakit gigi
Mual
Interaksi obat
astemizole
cisapride
50
midazolam taken by mouth
mizolastine
pimozide
quetiapine
quinidine
sertindole
terfenadine
triazolam.
buspirone
busulfan
carbamazepine
51
ciclosporin
cilostazol
disopyramide
nateglinide
phenytoin
ranolazine
reboxetine
rifabutin
sirolimus
tacrolimus.
4. Kesimpulan
52
menunjukkan bahwa oral candidiasis sering timbul sebagai akibat dari kelainan
fungsi sistemik.
Jadi gejala dan tanda-tanda dari menifestasi oral candidiasis harus dikenali
dan diingat agar memudahkan dalam penegakkan diagnosa. Oral candidiasis
sebenarnya dapat dicegah dengan perawatan kesehatan mulut secara teratur tetapi
apabila sudah terjadi infeksi dapat ditanggulangi dengan pemberian anti jamur
baik secara topikal maupun secara sistemik.
53
DAFTAR PUSTAKA
54
11 Anonymous. Oral candidiasis and HIV diseases. <http ://www .projectinform
.org /.pdf> (3 Oktober 2009).
12 Anderson KM. Diagnosis and treatment of oral candidiasis infection. <http://
[Link]/.pdf> (3 Oktober 2009).
55