0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan21 halaman

Penatalaksanaan Terapi ABK

Dokumen tersebut membahas tentang penatalaksanaan terapi yang dapat diberikan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Terapi-terapi yang disebutkan meliputi terapi okupasi, sensori integrasi, wicara, ADL, perilaku, orthopedagogik, fisioterapi, musik, dan akupresur serta akupuntur. Tujuan terapi-terapi tersebut adalah membantu perkembangan dan kemandirian anak ABK.

Diunggah oleh

Gleny Puspita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan21 halaman

Penatalaksanaan Terapi ABK

Dokumen tersebut membahas tentang penatalaksanaan terapi yang dapat diberikan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Terapi-terapi yang disebutkan meliputi terapi okupasi, sensori integrasi, wicara, ADL, perilaku, orthopedagogik, fisioterapi, musik, dan akupresur serta akupuntur. Tujuan terapi-terapi tersebut adalah membantu perkembangan dan kemandirian anak ABK.

Diunggah oleh

Gleny Puspita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENATALAKSANAAN TERAPI

PADA ANAK DENGAN


GANGGUAN TUMBUH
KEMBANG ABK
Posted on January 1, 2014
PENATALAKSANAAN TERAPI PADA ANAK DENGAN
GANGGUAN TUMBUH KEMBANG (ANAK BERKEBUTUHAN
KHUSUS).
Mengenal anak berkebutuhan khusus sangatlah luas terbentang dari
memahami siapa mereka, mengapa mereka seperti itu, bagaimana, dimana dan
kapan pendidikan mereka. Masalah lain adalah adanya pemahaman baru
bagaimana cara melihat mereka dipandang dari segi sosial pendidikan.
Untuk itu pergeseran paradigma Pendidikan Khusus ke Pendidikan Kebutuhan
Khusus seluruh stake holder pendidikan dan masyarakat perlu mengenal dan
memahami pendidikan kebutuhan khusus, diantaranya memahami apa itu Anak
Berkebutuhan Khusus. Karena dengan mengenal apa, siapa mengapa dan
bagaimana itu anak berkebutuhan khusus tidak ada lagi penolakan belajar
terhadap mereka oleh pihak sekolah reguler. Perihal pendidikan kebutuhan
khusus tersebut di atas diamanatkan oleh regulasi yang berlaku.
Berdasarkan UUD 1945 menyatakan bahwa seluruh warga negara berhak
mendapatkan pendidikan, berdasarkan UU Sisdiknas menyatakan bahwa
peserta didik berhak mendapatkan pembelajaran yang bermutu, mendapatkan
pelayanan secara khusus, dan berdasarkan Permendiknas 70 tahun 2009 setiap
kecamatan paling tidak harus ada satu sekolah inklusif yang menerima anak
berkebutuhan khusus, pemerintah daerah berkewajiban mengangkat guru
khusus di satuan pendidikan inlusif dan pembinaan sekolah inklusif oleh
pemerintah daerah P4TK dan LPMP.
Terapi dan Pendidikan
Tidak ada kata terlambat untuk melakukan terapi, usia berapun diketahui, sebaiknya lekas
dilkukan terapi. Namun untuk hasilnya jelas lebih baik untuk yang ditemukan sedini mungkin.
Anak yang tidak dilatih dan diterapi untuk mandiri semakin besar, akan semakin menjadi beban
bagi orang tua dan keluarganya.
Terapi bisa bermacam-macam tergantung jenis ABK nya, sebagai gambaran, untuk anak autis,
terapi yang dilakukan pertama adalah sensorik integrasi. Ini dilakukan sebagai upaya membuat
anak tersebut kembali kedunia kita, dengan cara menstimulus sensoriknya agar dia bisa bereaksi
sebagaimana mestinya dan berperilaku yang sesuai. Namun terapi yang dilakukan harus
berkesinambungan dan dilakukan dirumah selain diklinik. Karena waktu anak banyak dirumah.
Jika anak sudah waktunya untuk bersekolah, berilah kesempatan ia untuk mendapat pendidikan
disekolah. Terkadang orang tua malu menyekolahkan ABK. Usahakan anak disekolahkan di
sekolah inklusi , agar anak terbiasa untuk bergaul dengan anak tanpa kebutuhan khusus. Apalagi
jika intelegensinya tidak terganggu.
Sekolah Inklusi adalah sekolah regular yang menerima ABK , dengan menyediakan sistem
pendidikan yang sama seperti anak tanpa kebutuhan khusus, mulai dari kurikulum, pembelajaran
hingga penilaian. Disini Biasanya anak akan mendapat guru pembimbing khusus.
Sebenarnya kunci pengasuhan ABK ada di orang tua, jika orang tua/guru sudah terbiasa melatih
mandiri dia akan mudah menyesuaikan diri untuk bersekolah disekolah umum.
Namun demikian pada kesempatan kali ini kami ingin menguraikan bagaimana
penatalaksanaan terapi yang dapat diberikan untuk anak berkebutuhan khusus
(ABK).
Layanan terapi untuk anak berkebutuhan khusus tersebut meliputi Terapi
Okupasi, Terapi Sensori Integrasi, Terapi Wicara, Terapi ADL (Aktifitas
keseharian), Terapi Perilaku, Orthopedagogik (Remidial Teaching), Fisioterapi,
Terapi Musik dan Terapi Akupresur dan Akupuntur.
1. Terapi Okupasi
Terapi okupasi umumnya menekan pada kemampuan motorik halus,
selain itu terapi okupasi juga bertujuan untuk membantu seseorang agar dapat
melakukan kegiatan keseharian, aktifitas produktifitas dan pemanfaatan waktu
luang.
Terapi okupasi terpusat pada pendekatan sensori atau motorik atau
kombinasinyauntuk memperbaiki kemampuan anak untuk merasakan sentuhan,
rasa, bunyi, dan gerakan. Terapi juga meliputi permainan dan keterampilan
sosial, melatih Kekuatantangan, genggaman, kognitif dan mengikuti arah.
Terapi okupasi diperlukan oleh anak/orang dewasa yang mengalami
kesulitan belajar, hambatan motorik (cedera, stroke,traumatic brain injury),
autisme,sensory processing disorders, cerebral palsy, down syndrome, Attention
Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), genetic disorders, aspergers syndrome,
kesulitan belajar, keterlambatan wicara, gangguan perkembangan
(CerebalPalsy/CP), Pervasive Developmental Disorder (PDD)dan keterlambatan
tumbuh kembang lainnya.
2. Terapi Sensori Integrasi
Sensori integrasi berarti kemampuan untuk
mengolah dan mengartikan seluruhrangsang sensoris yang diterima dari tubuh
maupun lingkungan, dan kemudianmenghasilkan respons yang terarah.
Aktivitas fisik yang terarah, bisa menimbulkan respons yang adaptif yang makin
kompleks. Dengan demikianefisiensi otak makin meningkat.
Terapi sensori integrasi meningkatkan kematangan susunan saraf
pusat, sehinggaia lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan fungsinya.
Aktivitas sensori integrasi merangsang koneksi sinaptik yang lebih
kompleks, dengan demikian bisa meningkatkan kapasitas untuk belajar.
Layanan terapi ini dapat diterapkan pada:
Anak dengan gangguan perilaku, Autism Spectrum Disorder (ASD),Down
Syndrome, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADD/ADHD), Aspergers
Syndrome, Kesulitan Belajar, Keterlambatan wicara, Gangguan perkembangan
(Cerebal Palsy/CP), Pervasive Developmental Disorder (PDD) dan keterlambatan
perkembangan lainnya.
3. Terapi Wicara
Terapi Wicara adalah layanan terapi yang membantu bekerja pada
prinsip-prinsip dimana timbul kesulitan berkomunikasi atau ganguan pada
berbahasa dan berbicara bagi orang dewasa maupun anak.
Terapi wicara bertujuan untuk membantu seseorang yang mengalami
gangguan komunikasi, seperti :
Anak-anak dengan gangguan berbahasa reseptis (tidak mengerti)
Anak-anak dengan gangguan berbahasa ekspresif (sulit
mengungkapkan keinginannya dalam berbicara)
Anak-anak dengan gangguan tumbuh kembang khusus (autisme,
down syndrome, tuna rungu-wicara)
Anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara(speech delay).
Anak-anak yang mengalami gangguan artikulasi
gagap(stuttering), cadel, dst
Anak-anak dan orang dewasa yang baru selesai menjalani operasi
celah bibir (cleft lip/sumbing) dan celah langit-langit (cleft palate).
Serta gangguan bahasa pada orang dewasa seperti pasca stroke
yang mengalami kehilangan berbahasa (Afasia).
4. Terapi ADL (Aktifitas Keseharian)
Salah satu bentuk layanan terapi yang membantu anak-anak untuk
dapat melakukan aktifitas keseharian seperti makan, minum, berpakaian,
bersepatu, bersisir, mandi, aktifitas toileting, dst secara mandiri.
Layanan terapi ADL ini pada umumnya diberikan oleh seorang
Okupasi Terapis.
Layanan terapi ini dapat diterapkan bagi anak berkebutuhan khusus
sehingga anak dapat mandiri dalam kesehariannya.
5. Terapi Perilaku
Terapi perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak
autistik dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang
berkekurangan (belum ada) ditambahkan.
Terapi perilaku yang dikenal di seluruh dunia adalah Applied
Behavioral Analysis yang diciptakan oleh [Link] Lovaas, PhD dari University of
California Los Angeles (UCLA).
Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian
reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang
diberikan. Tidak adahukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila
anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali
maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut.
Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons
positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak
berespons) terhadap instruksi .
Layanan terapi ini umumnya diperuntukan untuk anak dengan
gangguan perilaku, pemusatan pemikiran dan hiperaktifitas (ADHD), ADD,
maupun autisme.
6. Orthopegagog(Remedial Teaching)
Orthopedagog adalah terapi untuk mengatasi kesulitan belajar khusus
pada anak. Kesulitan-kesulitan ini umum terjadi pada anak-anak usia sekolah
dan bisa dideteksi oleh orang tua atau guru, ketika anak menunjukkan beberapa
gejala tertentu.
Membimbing anak untuk menguasai logika dasar dan kemampuan
berpikir secaralebih optimal. Selain itu, remedial teachingjuga bermanfaat
untukmengembangkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung dasar.
Umumnya metode ini digunakan pada anak dengan Kesulitan Belajar
dan LambanBelajar.
Semua kesulitan belajar khusus ini bisa terjadi apa setiap anak, tidak
tergantung pada kondisi fisik maupun intelegensi semata. Sebab terjadinya
kesulitan belajarini bisa bermacam-macam, termasuk koordinasi pada otak,
motorik halus, faktor neurologis, faktor intelegensi, dst
Materi mengacu pada pembelajaran akademik dikelas.
Layanan terapi ini juga dapat diterapkan pada anak dengan
gangguan:

Disleksia (ketidakmampuan mengeja dan menulis)


Disgrafia (kesulitan menulis dan berbicara)
Diskalkulia (kesulitan berhitung)
Disfasia (kesulitan berbahasa verbal)
Disortografia (kesulitan dalam mengeja kata)
Disnomia (kesulitan dlm menggunakan kata yang tepat untuk
sebuah benda)
7. Fisioterapi
Fisioterapi merupakan salah satu jenis layanan terapi fisik yang
menitik beratkanuntuk menstabilkan atau memperbaiki gangguan fungsi alat
gerak/fungsi tubuhyang terganggu kemudian diikuti dengan proses/metode
terapi gerak.
Fisioterapi membantu anak mengembangkan kemampuan motorik
[Link] motorik kasar meliputi otot-otot besar pada seluruh tubuh
yang memungkinkan tubuh melakukan fungsi berjalan, melompat, jongkok, dst
Layanan fisioterapi juga bertujuan untuk membantu seseorang yang
mengalamigangguanfisik untuk memperbaiki gerak sendi (LGS) dan kekuatan
otot (KO) agar dapat berfungsi seperti semula.
Layanan fisioterapi umumnya bagi anak dengan keterbatasan fisik,
ketunaantubuh/tunadaksa serta anak cerebal palsy/CP dan untuk anak-anak
yangmengalami keterlambatan atau gangguan pada kemampuan motorik kasar,
pasien pasca stroke yang memerlukanpemulihan kondisi fisiknya serta trauma
lain yangmenyebabkan penampilan fisikterganggu.
8. Terapi Musik
rapi musik adalah salah satu bentuk terapi yang bertujuan
meningkatkan kualitas fisikdan mental dengan rangsangan suara yang terdiri
dari melodi, ritme,harmoni, timbre, bentuk dan gaya yang diorganisir
sedemikian rupa hinggatercipta musik yang bermanfaat untuk kesehatan fisik
dan mental.
Layanan terapi ini diperuntukkan bagi semua ketunaan yang ada serta
pada gangguan perkembangan anak seperti autisme, ADHD, Down Syndrom,
dst
9. Terapi Akupresur dan Akupuntur
Akupresur adalah salah satu bentuk terapi dengan memberikan
pemijatan danstimulasi pada titik-titik tertentu pada tubuh. Layanan terapi ini
bertujuan untuk mengurangi bermacam-macam sakit dan nyeri serta
mengurangi ketegangan, kelelahan dan penyakit.
Sedangkan akupuntur merupakan salah satu bentuk dari pembedahan
denganmenusukkan jarum-jarum ke titik-titik tertentu di badan.
Layanan akupresur dan akupuntur dapat menyembuhkan sakit dan
nyeri yangsukar disembuhkan seperti nyeri punggung, spondilitis, kram perut,
gangguanneurologis, artritis, serta gangguan dalam kesulitan tidur,
hiperaktifitas, kesulitan makan, obesitas, dst
Beberapa jenis layanan terapi yang telah diuraikan diatas merupakan salah satu dari sekian
banyak jenis terapi yang dapat dipilih bagi anak berkebutuhan khusus, terapi tersebut umumnya
bersifat individual, baik dalam kurikulum maupun tatacara teknik [Link] ini
dikarenakan oleh kebutuhan dan kareakteristik pada masing-masing anak berkebutuhan khusus
yang berbeda antara satu anak dengan anak lainnya, tingkat kemajuan terapi tergantung dari asset
limitasi yang ada pada anak. Orang tua banyak yang mengharapkan terapi instan yang cepat
membuahkan hasil, namun hal itu kembali pada karakteristik yang ada pada anak. Intinya tidak
ada program terapi instan yang langsung membuahkan hasil seketika, semua harus melalui
proses yang sedemikian rupa, kesabaran serta ketekunan.
Disampaikan Oleh *) M. Arief Budianto, [Link] Pada seminar umum Biro
Konsultasi Psikologi TAZKIA di Aula 1 STAIN Salatiga Tgl 18 Juni 2013
*) Ketua I Ikatan Okupasi Terapis Indonesia (IOTI) Pusat.
*) Majelis Tenaga Kesehatan Propinsi Jawa Tengah.

This entry was posted in Uncategorized by tazkia. Bookmark the permalink.

ONE THOUGHT ON PENATALAKSANAAN TERAPI PADA ANAK DENGAN GANGGUAN TUMBUH KEMBANG ABK

[Link]

Anak Hiperaktif : Hindari Menu Makanan dengan Zat Aditif


Pada beberapa tahun ini, terdapat peningkatan jumlah anak hiperaktif. Anak hiperaktif hanya mampu memperhatikan
sesuatu dalam jangka pendek dan sulit berkonsentrasi. Mereka sulit belajar, sulit duduk diam dan kadang tidak tidur sama sekali.

Dalam studi skala besar mengenai anak hiperaktif pada 1960-an oleh dokter Ben Feingold, satu grup senyawa kimia bernama
salisilat, ditemukan terutama di zat tambahan makanan, ternyata membuat anak-anak jadi lebih hiperaktif. Ketika anak-anak
tersebut diberi donat yang berisi selai mengandung rasa dan warna artifisial, perilaku mereka memburuk hanya dalam beberapa
jam.

Ia menyimpulkan bahwa banyak bahan kimia yang digunakan dalam makanan artifisial adalah salisilat. Ia menyatakan bahan-
bahan kimia itulah akar masalah bagi beberapa anak.

Anak ADHD atau attention-deficit hyperactivity disorder, terbukti pula sensitif terhadap beberapa jenis zat kimia. Salah satu yang
terburuk adalah pewarna tartrazine, dikenal dengan E102, parahnya zat pewarna ini menyebar di hampir seluruh jenis panganan
dan minuman moderen, termasuk gula-gula, kue dan roti yang kerap dikonsumi anak.

Sejak itu, studi lain kian memperkuat pengaruh buruk zat aditif pada makanan dan ADHD. Studi-studi tadi menyimpulkan bahwa
kombinasi pola makan berkualitas baik serta suplemen vitamin sederhana dapat mengubah kecerdasan dan perilaku anak-anak
yang sulit dikendalikan.

Asam lemak esensial omega-3 dan -6 yang ditemukan pada minyak ikan juga krusial bagi pembentukan fungsi otak normal. Studi
minyak ikan dari Universitas Oxford yang dipimpin Alex Richardson dengan reputasi mendunia, menyimpulkan bahwa enam puluh
hingga tujuh puluh persen anak hiperaktif dan masalah serupa akan membaik secara nyata bila mengonsusi suplemem ekstrak
minyak ikan murni dalam konsentrasi tinggi,

Pola makan ideal yang disarankan bagi anak-anak adalah makanan sehat yang bebas zat aditif, jika memungkinkan berbahan
organik dengan menu bervariasi. Semua anak menikmati santapan manis sesekali, jadi lebih baik sediakan kue, biskui, pai atau
pastri dan puding dalam rumah. Tentu lebih baik jika itu hasil karya orang tua sendiri, sehingga anda bisa memstikan mereka bebas
dari zat pewarna dan perasa aditif.

Bila anda ingin lebih ketat lagi, berikut adalah daftar zat aditif yang patut dihindari

Pewarna Artifisial
102 tartrazine
104 quinoline yellow
107 yellow 2G
110 sunset yellow
122 azorubine, carmoisine
124 ponceau, brilliant scarlet
127 erythrosine
128 merah 2G 129 allura red
132 indigotine, indigo carmine
133 brilliant blue
142 green S, food green, acid brilliant green
151 brilliant black
155 brown, chocolate brown

[Link]

3 Langkah Ajaib
Terima kasih atas kehadirannya ke blog ini. Saya akan memberikan 3 Langkah Ajaib Terapi Calistung yang merupakan intisari dari
pembelajaran Terapi Calistung untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Untuk mengerti isi tulisan mengenai Terapi Calistung, selalu kembali ke
halaman utama ini untuk menuju ke halaman lainnya. Isi dari tulisan ini akan disempurnakan dan ditulis satu persatu. Saya berharap, hingga
pertengahan 2014, seluruh tulisan inti sudah selesai ditulis.

Adapun untuk mengetahui isi tulisan saya lainnya, taruh pointer Anda ke Resources, lalu pilih topik yang diinginkan. Pada bagian bawah
akan berisikan jumlah halamannya pada masing-masing topik. Berikut ini akan saya uraikan 3 langkah ajaib Terapi Calistung.

Langkah 1: Lakukan Terapi Dasar


Terapi Dasar untuk Persiapan Terapi Calistung

Seperti kita ketahui bersama, Terapi Akademik merupakan puncak dari piramida terapi yang harus dilakukan oleh anak berkebutuhan
khusus. Jadi, sebelum memulai terapi calistung, sebaiknya melakukan terapi dasar terlebih dahulu. Hal ini penting dilakukan, untuk mencapai
hasil yang maksimal. Tetapi banyak juga terapis mengatakan, sebaiknya jangan melakukan terapi edukasi, sampai terapi dasar dilakukan
dengan baik. Menurut Saya, itu kurang tepat. Sebaiknya pararel dilakukan antara terapi dasar dan terapi pendidikan. Mengapa demikian?
Saya banyak melihat, demi melatih terapi dasar yang demikian lama, sehingga saat anak berumur 10 tahun baru dilatih terapi akademik. Itu
sungguh terlambat. Pada bagian selanjutnya akan saya jelaskan mengenai terapi calistung buat anak yang masih sangat lemah dan belum
bisa menulis. Tapi untuk saat ini, penjelasan mengenai bagaimana melakukan terapi dasar dapat di KLIK DISINI.

Langkah 2: Terapi Calistung


Pentingnya Terapi Calistung

Setelah melakukan terapi dasar, barulah bisa dilakukan terapi secara pararel. Artinya, terapi dasar dilakukan berbarengan atau bersamaan
dengan Terapi Calistung. Adapun terapi calistung itu sendiri terdiri dari 3 bagian utama yang penting. Semuanya berjalan secara terstruktur
dan berurutan. Seperti kita ketahui, bahwa calistung artinya adalah: membaca,menulis dan berhitung. Untuk melakukan hal ini haruslah
dilakukan terlebih dahulu tes Diagnostis. Apa dan bagaimana kelanjutan mengenai Terapi Calistung ini, dapat di KLIK DISINI.

Langkah 3: Jadilah Terapis


Orangtua adalah terapis yang terbaik buat anaknya. Itu adalah prinsip yang saya adopsi dari buku Glenn Doman. Dari prinsip itulah, maka terapi calistung
diarahkan untuk melatihorangtua menjadi terapis buat anaknya. Apa dan bagaimana menjadi terapis calistung yang baik dan benar? Teruskan membaca
penjelasannya, KLIK DISINI.

Demikianlah, 3 langkah ajaib terapi calistung agar anak mahir Edukasi. Semoga penjelasan ini dapat membantu Bapak dan Ibu untuk memberikan yang
terbaik buat putra/putri-nya. Tentu saja, apa yang baik dan menolong anak berkebutuhan khusus, dapat juga dilakukan untuk pendidikan anak normal yang
mempunyai kesulitan belajar. Tulisan ini bermanfaat juga bagi orang tua yang mempunyai anak normal untuk meningkatkan prestasi Akademik di rumah.

[Link]

[Link], JAKARTA -- Musik memang ajaib. Tidak hanya bermanfaat untuk anak-anak normal, American Music Therapy
Association (AMTA) menyatakan bahwa musik bisa menjadi terapi efektif bagi anak-anak berkebutuhan khusus, seperti down syndrome,
autisme, cerebal palsy, dan cedera otak.

Selaras dengan AMTA, Uttara Sharma, psikolog anak di Bangalore, India mengatakan bahwa terapi musik bertujuan membantu perilaku
sosial anak-anak berkebutuhan khusus.
"Musik menurunkan perilaku sulit konsentrasi dan mendorong anak bekerja sama, hidup mandiri hingga memiliki keterampilan motorik halus
dan kasar," katanya.

Inilah beberapa manfaat yang bisa didapatkan anak berkebutuhan khusus dari terapi musik seperti dikutip dari [Link].

Melatih motorik
Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki kelemahan fisik. Salah satunya adalah jari-jarinya terlalu rekat dan sulit dilebarkan. Dengan
bermain piano, anak-anak terlatih untuk membuka jarinya saat menekan tuts piano. Rupanya, kebiaaan itu membantu motorik anak, sepert
buka tutup jari yang berguna untuk menunjuk sesuatu atau berhitung dengan jari. Selain itu, koordinasi tubuh anak juga akan terlatih karena
mereka terbiasa memainkan melodi dengan tangan kanan dan kord dimainkan dengan tangan kiri yang memengaruhi kerja otaknya.

Membangun komunikasi
Bermain musik akan menghasilkan bunyi-bunyian, dan inilah yang menarik perhatian anak-anak spesial. Sebelum mengenal musik biasanya
anak berkebutuhan khusus cenderung kurang peduli dengan lingkungannya. Namun begitu mereka diperdengarkan lagu-lagu, mereka mulai
mendekat dan mencoba memainkannya dengan cara mereka. Inilah cara mereka berkomunikasi.

Meredam emosi
Emosi anak berkebutuhan khusus mudah bergolak, mulai dari tenang hingga marah yang meledak-ledak. Dengan memainkan lagu yang
disukainya, banyak dari mereka merasa nyaman dan bahagia. Bahkan mereka lebih memilih memainkan musik untuk menyalurkan
perasaannya.

Mengembangkan kognitif
Mengajarkan anak berkebutuhan khusus bermusik haruslah dengan cara khusus juga. Anak berkebutuhan khusus akan kesulitan
memahami not balok, cobalah mengajarkan mereka menggunakan angka dan simbol. Tujuannya supaya anak terbiasa dengan angka
sekaligus berimajinasi dengan simbol.

Meningkatkan percaya diri


Ketika anak berkebutuhan khusus berhasil memainkan beberapa lagu pendek dan tampil di depan umum, baik orangtua dan anak itu sendiri
merasakan bahwa dia dihargai. Sebab orang lain merasakan betapa keras perjuangan anak-anak berkebutuhan khusus ini yang dengan
segala keterbatasannya mampu memainkan lagu sebaik anak normal.

[Link]
musik-pada-anak-berkebutuhan-khusus-dapat-melatih-sistem-motorik

Kamis, 16 Desember 2010

Terapi Untuk Tunagrahita

Pengertian

Tuna grahita adalah istilah yang digunakan untuk anak atau individu yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata

Klasifikasi:

1. Tuna grahita ringan(mampu didik).

Kelompok ini mempunyai IQ [Link] masih dapat belajar membaca,menulis dan berhitung [Link] juga masih bisa dididik

menjadi tenaga kerja semi skilled seperti pekerjaan laundry,bertani,peternakan dan pekerjaan rumah tangga.

2. Tuna grahita sedang(mampu latih)

Kelompok ini mempunyai IQ [Link] masih dapat menulis sendiri secara socia nama dan alamatnya .Dapat dididik dalam hal bina diri

seperti mandi,makan,berpakaian dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga ringan seperti menyapu,membersihkan perabot rumah tangga
lainya.

3. Tuna grahita berat

Kelompok ini mempunyai IQ [Link] grahita berat membutuhkan bantuan perawatan secara total dalam hal berpakaian ,mandi,makan

[Link] merekan membutuhkan perlindungan dari bahaya sepanjang hidupnya.

Baca selengkapnya

Diposkan oleh Dyah noervia/PLB di 20.11 1 komentar

Terapi Untuk anak Tunadaksa

Pengertian
Anak tuna daksa adalah individu yang mempunyai gangguan gerak yang
disebabkan oleh kelainan neuromaskular dan struktur tulang yang bersifat
bawaan,sakit atau akibat kecelakaan.

Klasifikasi

1. Kerusakan yang di bawa sejak lahir


Co:Club-foot(kaki menyerupai tongkat),Club-hand(tangan menyerupai
tongkat),Polydactilis(jari kaki atau tangan lebi dari lima),Spina difida(sebagian dari
sumsum tulang belakang tertutup),dll
2. Kerusakan pada waktu kelahiran
Co:Erbs palsy(kerusakan pada syaraf lengan akibat tertekan atau tertarik waktu
kelahiran)
Fragilitas osium(tulang yang rapuh dan mudah patah)
3. Infeksi
Co:Tuberkolosis tulang(menyerang sendi paha sehingga pah menjadi
kaku),Osteomsis(radang di dalam dan di sekililing sumsung tulang karena
bakteri),Polimelytys(infeksi yang menyebabkan kelumpuhan),dll
4. Kondisi traumatic
Co:Amputasi,kecelakaan akibat luka bakar,patah tulang
5. Kondisi-kondisi lainya
Co:Flatfeet(kondisi kaki rata tidak ada lekukannya),Kypoosis(bagian tulang belakng
melekung),Scilosis(tulang belakang yang berputar,bahu dan paha miring)
6. Tumor
Co:Oxostosis(tumor tulang),Osteosis fibrosa cyscita(kista atau kantang berisi cairan
dalam tulang)

Baca selengkapnya

Diposkan oleh Dyah noervia/PLB di 19.55 1 komentar

Terapi Untuk Tuna Rungu

Pengertian
Tuna rungu dapat di artikan sebagai keadaan kehilangan pendengaran yang
mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan,terutama
melalui indra pendengaran.
Klasifikasi
a. Tingkat I:kehilangan kemampuan mendengar antara [Link] hanya
memerlukan latihan berbicara dan bantuan mendengar secara khusus.
b. Tingkat II:Kehilangan kemampuan mendengar antar [Link]
memerlukan tempat sekolah yang khusus dalam kebiasaan sehari-hari
memerlukan latihan berbicara dan bantuan latihan berbahasa secara khusus
c. Taingkat III:Kehilangan kemampuan pendengaran antara 70-89dB
d. Tingkat IV:Kehilangan kemampuan mendengar 90dB keatas.
Terapi Untuk Anak Tuna Rungu Dan Wicara
Terapi wicara
Terapi ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berbicara atau bahasanya
secara baik sesuai dengan norma bahasanya yang ada di lingkungan bahasanya
.demikian juga supaya anak dapat mengekpresikan perasaan serta kemauannya
sacara maupun tertulis.
Metode dan teknik terapi wicara
Metode stimulasi:dengan memberi rangsangan berupa rangsangan visual
,audiotoris,taktil yang cukup mudah dan kuat sehingga mudah diterima dengan
mudah.
Metode Psikuedokasi:Memberi pengertian agr enderita memiliki siakap positif
terhadap perilku komunikasinya sehinnga dapat berintaksi terhadap lingkungannya.
Metode Monokinestik:Dilakukan untuk melatih penderita agar mampu menepatkan
organ atau otot yang benar.
Penempatan Fonetik: agar penderita mampu menepatkan organ bicara pada
tempat yang tepat sehingga dapat mengucapkan bunyi yang benar.

[Link]

PENGOBATAN ALTERNATIF ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS :


KLIK : [Link]
VERSI TERBARU

PENDAHULUAN

Pada masa sekarang banyak dijumpai anak dengan kelainan wicara dan perilaku, banyak orangtua
mengenali anaknya dengan kelainan tersebut saat anak telah menginjak usia 2 tahun yang pada saat
tersebut si anak seharusnya sudah bisa menunjukkan perkembangan yang ke arah anak normal, baik
wicara ataupun perilaku.
Anak dengan lazim disebut Special Needs atau anak dengan kebutuhan khusus termasuk anak yang
mengalami kekurangan dalam pertumbuhan menginjak dewasa, hal ini sangat berpengaruh. Adakalanya
kelainan wicara dan perilaku diikuti dengan kelainan mental yang akan menambah komples
permsalahannya.
Sebagai orangtua yang berhubungan langsung dengan si anak hendaknya akan sangat baik apabila dapat
sedini mungkin mendeteksi terhadap anaknya sehingga dapat dilakukan tindakan terapi yang sesuai.
Anak-anak dengan kelainan tersebut dapat digolongkan antara lain Auitisma, Apsergers disease Attention Deficit
(hyperaktif), Disorder (ADHD,ADD), Speech Delay, [Link] special needs atau anak dengan kebutuhan khusus
termasuk anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya, yang antara lain terdiri
dari wicara dan okupasi, tidak berkembang seperti anak yang normal.
Jenis Kelainan pada anak-anak dengan kebutuhan khusus ini dapat berupa Autisma infantil, Aspergers
Disease, Attention Deficit (Hyperactive ) Disorder atau AD (H)D, Speech Delay, Dyspraxia, dsb.

Jumlah anak special needs ini semakin hari semakin bertambah banyak , namun di Indonesia sayangnya
tidak pernah ada penelitian khusus mengenai anak kebutuhan khusus ini.
Di Pensylvania, AS, jumlah anak autisma mengalami peningkatan yang dramatis dalam 5 tahun terakhir.
Jumlah anak autisma saja meningkat 500 % menjadi 40 dari 10.000 kelahiran.

Akan tetapi kita tahu bahwa faktor-faktor penyebab hambatan perkembangan perilaku anak ini
lebih tinggi di Indonesia dibandingkan di Amerika Serikat, maka dapat diperkirakan bahwa jumlah
anak dengan kelainan ini pasti akan jauh lebih banyak daripada di Amerika Serikat.

Deteksi dini yang berhasil mengenali kelainan perilaku ini dapat mempercepat langkah-langkah yang
harus diambil, terkadang orang tua baru menyadari kelainan pada anaknya setelah anak berusia lebih
dari 5 tahun , bahkan lebih.
MAKSUD DAN TUJUAN
Seperti kita ketahui bahwa manusia terdiri dari jiwa dan raga, manusia lahir dari bayi kecil hingga
membesar dewasa karena adanya pertumbuhan sel baik secara kuantitas maupun kualitas yang
dibutuhkan agar terjadi pertumbuhan sel yang normal adalah suplai nutrisi lewat pembuluh darah dan
aliran sistem syaraf berupa gelombang elektromagnetik ke semua sistem syaraf secara stabil.

Dari beberapa sampel anak yang mengalami gangguan pertumbuhan baik wicara maupun perilaku saat
menjalani uji rekam otak terlihat adanya ketidakstabilan induksi gelombang elektromagnetik yang bisa
terjadi pada syaraf feriver maupun syaraf pusat, hal ini jelas sangat berpengaruh terhadap
ketidaknormalan si penderita khususnya pada sistem syaraf motorik halus dan kasar.

Maksud dan tujuan terapi ini adalah memberikan stimulan gelombang elektromagnetik yang
menginduksi pada semua sistem syaraf agar tercapai kondisi perkembangan pada semua sistem
yang normal.

METODE TERAPI
Dengan sistem stimulai penyinaran/ gelombang elektromagnetik.
Induksi gelombang elektromagnetis antara penyembuh/ penghusada dengan pasien.
Perendaman kaki dengan larutan neurotransmitter yang berguna untuk menyeimbangkan sistem syaraf
kanan dan kiri (Symphatetik Kiri dan Kanan).
Tanpa menggunakan obat-obatan ataupun jamu ataupun benda pembantu lainnya seperti jarum .

WAKTU DAN LAMA TERAPI


Terapi diusahakan pada kondisi pasien tenang (tidak banyak bergerak) bisa dilakukan saat pasien
duduk atau tidur (tidur siang / tidur malam).
Terapi oleh penghusada dilakukan seminggu 2 x dengan lama terapi 30 menit, termasuk
konsultasi dengan orangtua pasien.
Terapi perendaman kaki dengan larutan hangat neurotransmitter dilakukan pasien dirumah
sebanyak 2 x, satu kali saat tidur malam, satu kali pagi atau sore. Lama perendaman 10 s.d. 15
menit.

PREDIKSI KESEMBUHAN
Dari semua pasien yang telah ditrapi menunjukkan perubahan ke arah anak normal, perubahan tercepat
pada 2 bulan pertama setelah terapi. Pada bulan-bulan selanjutnya tetap ada perubahan tetapi tidak
secepat saat 2 bulan pertama terapi. Terapi bisa berlangsung antara 2 bulan hingga 6 bulan tergantung
derajat kelainan/ kekurangan pasien.

TINGKAT KESEMBUHAN
Analisa terhadap semua pasien yang telah diterapi menunjukkan perubahan ke arah anak normal
dengan tingkat kesembuhan 60% hingga 99% tergantung derajat kelainan/ kekurangan pasien.

FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN


Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan baik saat dalam masa terapi mapun setelah terapi.

Masa terapi
Pasien harus secara rutin mengikuti terapi, tanpa terputus.
Saat terapi diusahakan pasien dalam kondisi tenang (tidak stress, menangis, dll).
Perendaman kaki dirumah dilakukan secara terus menerus, rutin.

Setelah Terapi
Pasien harus tetap dijaga ketenangan dan ketentraman psikologisnya, jangan sampai terjadi stress
pada pasien yang terus-menerus karena akan berpengaruh terhadap kondisi anak.
Menjaga ketentraman di lingkungan anak berada, khususnya hubungan antara anak dengan orang
tua mapun diantara orang tua, karena hubungan bathin antara anak dengan orang tua tetap ada dan
sangat berpengaruh terhadap kondisi anak.

BIAYA
Biaya terapi kami sediakan dalam sistem paket terapi yaitu selama 2 bulan, dan besarnya biaya dapat
anda berkomunikasi langsung (TELPON/ SMS) dengan Bpk. GUNTUR HAKTITA dengan no. HP : 0274-780 6 555 ,
setiap saat (24 jam).

TEMPAT TERAPI
Untuk wilayah Jakarta, kami menyediakan waktu 3 hari antara hari Senin s.d Rabu setiap minggunya,
selanjutnya kami berada di Yogyakarta.

Untuk email , dapat anda kirimkan ke email : autiscare@[Link]. Setiap email yang masuk akan kami
tanggapi setiap hari Senin dan Hari Kamis setiap minggunya, sehingga apabila sangat mendesak , anda
dapat menghubungi telpon kami diatas.

__________________________________________________________________

PENGOBATAN ALTERNATIF UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS :


AUTIS, HIPERAKTIF, HYPOAKTIF, INFEKSI VIRUS :TOKSO,RUBELLA,CMV
TANPA MENGGUNAKAN OBAT-OBATAN, TUSUK JARUM, DLL
Bpk. GUNTUR HAKTITA, (UGM Alumni)
Warung Boto , Yogyakarta
Jakarta : Kompleks AJB BUMIPUTERA
[Link] III No.8 Ciputat
(Konfirmasi terlebih dahulu)
Telp : 0274- 7806555
____________________________________________________________________
Selain itu, para orang tua hendaknya mengenal lebih jauh mengenai kebutuhan anaknya dengan
mendapatkan informasi lain autis dan kebutuhan khusus di :
[Link]
[Link]
[Link]

Dapatkan juga info autis seperti :Treatment for Autism,Mild Autism,Autism Causes,Autism Behavior,
dll dengan icon link yang telah tersedia pada bagian paling bawah web ini atau gunakan search
...ketik autisma
___________________________________________________________________
KISAH NYATA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK AUTISMA/ ADHD setelah diterapi [Link] Haktita

Anak pertama kami, Diajeng Desiana Nindyasari, lahir bulan Desember 1997 di Yogyakarta.
Secara pisik pertumbuhannya sangat baik dan secara phisik, Ajeng, tidak memiliki kekurangan, dia
tumbuh dengan pesat, namun sejak umur 4 bulan sudah merangkak dan gerakannya sangat cepat
namun tanpa makna dan tidak merasa lelah .
Hingga akhirnya, diusia 2 tahun, ajeng kami baru menyadari bahwa ada kelainan pada anak kami,
antara lain :

Ajeng telat dalam bicara dan bila minta sesuatu benda maka ajeng hanya menarik tangan kami dan
menunjuk barang yang dimaksud

Kontak mata terasa sangat kurang kurang bila diajak bicara


Gerakan sangat banyak namun tanpa maksud, dan asik dengan dirinya sendiri.
Bila pintu pagar terbuka , maka dia akan lari keluar dan sangat sulit dikejar karena larinya sangat
cepat.
Siklus tidur yang tidak teratur,, bila tidur siang hari maka ajeng akan tidur jam 2 pagi, atau
sebaliknya.
Setiap terjaga, banyak sekali kegiatannya ; seperti bermain sabun cuci dicemplungkan ke sumur, molto
di buang ke bak mandi, naik jendela, guntingin baju, guntingin rambutnya dll.
Pemeriksaan di RS Sardjito Yogyakarta dengan banyak rujukan dari dokter dan ahli lain yang dijalani
sampai dengan scan Otak (EEG). Hasil scan otak, kami mengetahui bahwa ajeng ada kelainan di bagian
otak kanannya dan ada indikasi terkena virus burung (sejenis CMV). Selain terbentur biaya, kami juga
mengetahui secara medis belum ada pengobatan untuk anak seperti ajeng, kalaupun ada hanya bersifat
menenangkan saja. Sehingga terfikir bahwa kami harus mencari pengobatan alternatif dan tentu saja
yang tidak bertentangan dengan Agama.
PENGOBATAN ALTERNATIF 2000 2005
Kami mencoba untuk datang ke Bpk. [Link] Danudiningrat, di [Link] Jeroni 21 A
Yogyakarta, dari beliau juga kami mengetahui bahwa anak kami Autisma, hal ini dikarenakan kelainan
fungsi otak akibat virus burung. Ada persamaan antara diagnosa dokter dengan beliau. Obat yang beliau
berikan berupa jamu dari tanaman obat dan pengobatan ini berlangsung selama 5 tahun.

TAMAN KANAK-KANAK.
Di TK, ajeng sudah banyak bicara namun belum mampu menyusun kalimat dengan baik, emosinya masih
labil, siklus tidur masih tidak normal, gerakan masih banyak. Di TK pun , ibunya harus menunggui
didalam kelas, bila tidak ajeng akan keluar kelas atau lari. Namun di TK, ajeng sudah lancar membaca,
hal ini tidak banyak di ketahui oleh para guru. Ajeng hoby dalam menggambar, dan objek yang sering
digambar adalah orang, dalam hitungan detik ajeng bisa membuat sktesa gambar yang baik. Namun
kalau matematika sangat tidak tertarik walaupun sebenarnya ia mampu.

Di sekolah ajeng sangat sulit bersosialisasi dengan teman-temannya. Sebagian besar menganggap ajeng
anak nakal...bodoh..dll. Begitu juga dengan para sebagian guru dan maupun orangtua murid lain .
Namun kami yakin bahwa ini kehendakNya ..dan tetap ikhtiar untuk menyembuhkan ajeng.

Pernah kami mencoba berobat ke dokter , namun baru 3 hari, kami harus kembali ke dokter karena
ajeng menjadi diam dan mengeluh pusing. Kembali ke dokter, akhirnya dosisnya diturunkan lagi,
namun tetap terulang. Akhirnya kami menghentikan upaya ini.
Diumur 5 tahun , adiknya lahir Juli 2002, namanya Diannisa Alya Maharani. Sejak dalam kandungan,
kami selain memeriksakan ajeng ke Bpk. KRT Gembong, juga mengkonsultasikan tentang anak kami
yang masih dalam kandungan. Sempat khawatir juga karena istri penulis juga terkena CMV, namun
menginjak bulan ke 6, beliau menyatakan anak kami di kandungan dalam kedaan baik dan tidak seperti

kakaknya.
Kehadiran adiknya, Nisa, ternayata dapat menjadi semacam terapi sosial bagi ajeng dan ini terbukti
sejak umur 3 tahun Nisa selalu mengajak ajeng bermain.

SEKOLAH DASAR (SD)


Setamat TK, kami bingung kemana harus menyekolahkan ajeng, dan kami minta surat pengantar dari
psikolog dari tumbuh kembang anak, dengan diagnosis, ajeng ADHD (gangguan pemusatan perhatian
dan hiperaktif).
Hingga kami menyekolahkannya di sebuah SD Negeri yang muridnya sedikit ( kurang dari12 orang),
dengan harapan lebih mudah diawasi. Hingga kelas 2 semester 1 masih ditunggui ibunya didalam kelas.

Dikelas 1, nilai ujiannya sangat baik, dengan nilai diatas 8 dan sering 10, yang dikejakan hanya dalam 5
menit, selanjutnya ajeng akan bermain maupun menggambari buku-buku pelajarannya. Sering ia naik
pagar sekolah hanya untuk jajan diluar tanpa membawa uang, sehingga ibunya bingung harus bayar
kemana.

Dikelas 2 semester 1 , raport ajeng nilainya paling rendah walau hail ujiannya baik, dan kami maklum
kalau kurikulum KBK sulit untuk diterapkan pada ajeng.
Januari 2006, kami memindahkan ajeng ke sekolah SIB Taruna Imani , Jl. Tegal Mlati, Sinduadi Mlati
Sleman, Yogyakarta. Sejak sekolah disana ajeng sudah bisa ditinggal. Sekolah tersebut sering
menangani anak yang berkebutuhan [Link] masuk kelas observasi, dan ia sangat senang sekolah
disana, karena setelah selesai sekolah bisa bermain sepuasnya, bahkan pada saat pentas seni bulan Juni
2006, ajeng sempat naik panggung dengan teman-temannya , dan tidak berlarian kesana kemari.

TERAPI 2006
Pada akhir bulan januari 2006, ajeng mulai diterapi Bpk. Guntur. Beliau sering menangani anak-anak
seperti ajeng, bahkan pasien-pasien beliau rata-rata almunus luar negeri yang tidak tersembuhkan,
ataupun melalui terapi-terapi lain.
Secara sejak itu secara rutin , ajeng diterapi dalam kondisi tidur dan setiap malam, kaki ajeng
direndam dengan air hangat yang telah dicampur dengan CRYSTAL . Empat bulan kemudian, banyak
kemajuan yang dialami ajeng, antaranya : emosinya sudah banyak stabilnya, siklus tidur sudah teratur
(tidur jam 9 malam), dan sudah senang bermain seperi jigsaw, interaktif cd, bahkan matematika . Pada
saat pntas seni ,Juli 2006, ajeng senpat ikut naik panggung dan alhamdulillah ia bisa tenag dipanggung,
namun sempat membuat deg-degan juga. Ternyata ajeng sudah semakin baik sekarang, bahkan para
guru heran dengan perubahan ajeng yang cukup baik bila dibayangkan dengan pada saat ia dulu mulai
sekolah .

Sekarang ajeng sudah mulai sekolah lagi di kelas 2, semoga ajeng semangat belajar dan hari kehari
semakin baik...dan jadi anak yang sholihah. Amin ya Allah.

Banyak terima kasih atas banyak kepada pihak-pihak yang sangat membantu kami dalam upaya
penyembuhan ajeng, terutama kepada :

Bpk. [Link] Danudiningrat


[Link] Haktita , Yogyakarta 0274- 7806555
SIB (Sekolah Islam Berbakat) Taruna Imani, Yogyakarta beserta para pendidik yang telah sabar
membimbing ajeng dalam belajar, 0274 - 7410063, 7101200
Teman, sahabat, keluarga yang dapat memaklumi kondisi anak kami, karena tidak banyak diantara kita
yang dapat memaklumi kondisi anak kami.

Semoga Allah memberikan balasannya. Amin.


Salam hangat dari Yogyakarta
Keluarga Riswanto 0274-714 0 638

[Link]

Terapi Pendidikan Untuk Anak Berkebutuhan Khusus Disgrafia


BisaMandiri 18/11/2014
Kesulitan belajar pada anak-anak jika tidak dideteksi sejak usia dini dan tidak dilakukan penanganan dengan
upaya terapi yang benar, maka bisa menyebabkan kegagalan dalam proses pendidikan anak. Untuk itu
kepedulian yang tinggi dari orangtua sangat dibutuhkan dalam membantu mendeteksi dini kesulitan belajar
anak.

Faktor yang berisiko terjadinya kesulitan belajar pada anak diantaranya adalah anak pernah mengalami sakit
keras hingga demam tinggi maupun anak yang terlahir prematur. Gangguan kesulitan belajar yang berat
akan mudah teridentifikasi sehingga bisa terdeteksi sejak usia dini. Namun, pada anak dengan gangguan
ringan, mungkin saja hal ini baru teridentifikasi pada saat anak usia sekolah.

Gangguan kesulitan belajar anak umumnya adalah pada bidang membaca, menulis dan matematika.
Beberapa anak yang mengalami kesulitan menulis disebut dengan disgrafia. Disgrafia menurut John W.
Santrock adalah kesulitan belajar pada anak yang ditandai dengan adanya kesulitan dalam mengungkapkan
sebuah pemikiran dalam bentuk tulisan.
Umumnya, istilah disgrafia digunakan untuk mendeskripsikan sebuah tulisan tangan yang sangat buruk.
Anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki disgrafia mungkin akan menulis dengan sangat pelan dan
hasil tulisannya sangat tidak bisa terbaca bahkan mereka banyak melakukan kesalahan dalam ejaan karena
ketidakmampuan anak dalam memadukan bunyi dan huruf.

Ciri khusus untuk anak berkebutuhan khusus dengan gangguan disgrafia diantaranya adalah sebagai berikut
:

1. Adanya ketidakkonsistenan bentuk huruf di dalam tulisan

2. Saat menulis, penggunaan huruf kecil dan juga huruf besar masih tercampur

3. Bentuk serta ukuran dalam tulisannya tidak proporsional

4. Anak akan tampak berusaha dengan sangat keras pada saat mengkomunikasikan suatu ide,
pengetahuan maupun pemahaman ke dalam sebuah tulisan.

5. Anak mengalami kesulitan dalam memegang pena atau pensil dengan mantap. Biasanya anak
memegang alat tulis terlalu dekat bahkan hampir menempel pada kertas.

6. Sering berbicara pada diri sendiri pada saat sedang menulis atau justru memperhatikan tangan yang
digunakan untuk menulis.

7. Cara anak menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis pada kertas dengan tepat dan
proporsional.

8. Tetap mengalami kesulitan meskipun mereka hanya diminta untuk menyalin tulisan yang telah ada.

Untuk membantu anak yang mengalami gangguan disgrafia, orangtua dapat melakukan beberapa cara
diantaranya :

1. Pahami keadaan anak


Sebaiknya orangtua, guru maupun pendamping harus bisa memahami kesulitan serta keterbatasan yang
dimiliki oleh anak disgrafia. Berusahalah untuk tidak membanding-bandingkan antara anak disgrafia dengan
anak normal lainnya. Sikap tersebut hanya akan membuat orangtua dan anak mengalami stress. Jika
memungkinkan, lakukan terapi pendidikan pada anak disgrafia dengan cara memberikan tugas-tugas
menulis yang singkat saja.

2. Menyajikan tulisan cetak


Berikan kesempatan dan kebebasan pada anak disgrafia untuk belajar menuangkan ide dan konsep yang
ada dalam pikirannya dengan menggunakan komputer maupun mesin ketik. Ajari anak disgrafia untuk
menggunakan alat-alat tersebut agar bisa mengatasi hambatannya dalam menulis. Dengan memanfaatkan
komputer, anak dapat memanfaatkan sarana korektor sehingga mereka dapat mengetahui letak
kesalahannya.

3. Membangun rasa percaya diri anak


Berikan sebuah pujian yang wajar pada setiap usaha yang telah dilakukan oleh anak. Jangan pernah
menyepelekan atau melecehkan hasil kerja anak karena hal itu hanya akan membuat anak frustasi.
Kesabaran orangtua dan juga guru akan membuat anak merasa tenang dan sabar dalam menghadapi dirinya
sendiri atas usaha yang sedang dilakukannya.

4. Latih anak untuk terus menulis


Libatkan anak secara bertahap, gunakan strategi yang sesuai dengan tingkat kesulitan yang dialami anak
dalam mengerjakan tugas menulis. Berikan juga tugas yang menarik dan diminati oleh anak, seperti
misalnya menulis surat untuk teman, menulis pesan untuk orangtua, menulis dalam selembar kartu pos dan
lain sebagainya. Cara ini dapat meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia dan membantu mereka
dalam menuangkan konsep abstrak mengenai huruf dan kata dalam bentuk tulisan yang konkret.

Lakukanlah terapi pendidikan atau pelatihan tersebut secara berulang-ulang pada tiap-tiap kesalahan yang
dialami oleh anak berkebutuhan khusus disgrafia sehingga mereka mendapatkan perubahan.

[Link]
khusus-disgrafia/

Anda mungkin juga menyukai