0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan18 halaman

Uji Keterkerasan Baja AISI 4140

Laporan ini memberikan ringkasan singkat tentang uji keterkerasan baja AISI 4140 dengan metode Jominy. Uji dilakukan dengan memanaskan spesimen kemudian mendinginkan salah satu ujungnya (end-quench) untuk mengukur variasi kekerasan sepanjang spesimen. Hasilnya menunjukkan kekerasan berkurang seiring bertambahnya jarak dari ujung yang didinginkan, dengan nilai maksimum 43 HRC pada jarak 5 mm.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan18 halaman

Uji Keterkerasan Baja AISI 4140

Laporan ini memberikan ringkasan singkat tentang uji keterkerasan baja AISI 4140 dengan metode Jominy. Uji dilakukan dengan memanaskan spesimen kemudian mendinginkan salah satu ujungnya (end-quench) untuk mengukur variasi kekerasan sepanjang spesimen. Hasilnya menunjukkan kekerasan berkurang seiring bertambahnya jarak dari ujung yang didinginkan, dengan nilai maksimum 43 HRC pada jarak 5 mm.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Akhir

Praktikum Rekayasa Material


Modul E Keterkerasan Baja ( Hardenability of Steels)

Oleh:
Nama : A Farid Khoirudin Muhyi
NIM : 13114072
Kelompok :8
Anggota : Hutomo Adi Nugroho (13114046)
Indones Junior (13114048)
Hanifianto Inarwan (13114051)
Muhammad Rizki Nasution (13114070)
Raviandri (13114095)
Pandi Uwieto (13113023)
Tanggal Praktikum : 2 November 2016
Tanggal Penyerahan Laporan : 7 November 2016
Asisten (NIM) : Wanda Yusuf A (13711055)

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material


Kelompok Keahlian Ilmu dan Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1
1 Latar Belakang
Kemajuan pengetahuan dan teknologi di zaman modern sangatlah cepat dan
memberikan tuntutan di berbagai bidang. Salah satunya adalah tuntutan akan
kebutuhan material dan komponen yang berkekuatan dan kekerasan tinggi serta
mempunyai sifat-sifat khusus . Performa suatu material menjadi hal yang sangat
krusial dalam menentukan material yang akan digunakan.
Keterkerasan suatu material merupakan salah satu parameter yang
menentukan kemampuan suatu material untuk dapat dikeraskan. Melalui proses
heat treatment, perubahan karakteristik suatu material dapat diketahui. Namun,
tidak semua material dapat diberikan perlakuan panas yang sama, karena setiap
material memiliki respon tersendiri. Oleh karena itu, maka diperlukan suatu uji
keterkerasan yang bertujuan agar kita dapat menentukan peningkatan kekerasan
yang dapat dicapai oleh suatu material dan bagaimana perlakuan yang tepat untuk
mencapai sifat yang diinginkan.
Untuk dapat mengetahui sifat keterkerasan dari logam dengan proses heat
treatment ini , telah dikembangkan beberapa metode. Metode itu antara lain
adalah Metode Grossman dan Metode Jominy.

2 Tujuan Praktikum
1. Menentukan batas-batas peningkatan kekerasan yang bisa dicapai oleh
suatu baja.
2. Menentukan peningkatan harga kekerasan serta kedalaman kenaikan
kekerasan spesimen baja .
BAB II
DASAR TEORI

Kekerasan adalah kemampuan material untuk menahan deformasi secara


local. Sedangkan keterkerasan adalah kemampuan suatu material untuk dapat
mencapai suatu nilai kekerasan tertentu, atau untuk dapat ditingkatkan
kekerasannya.
Berikut adalah hubungan antara kurva cct dengan hardenability baja

Gambar 2.1 kurva cct vs hardenability


Dapat dilihat pada grafik diatas bahwa semakin jauh dari end quench maka
nilai kekerasan material menurun seperti ditunjukkan fasa akhir yang
terbentuknya. Dimana untuk a terbentuk martensit seluruhnya, sedangkan b ada
martensite dan perlite dan sebagaianya.

Proses quenching merupakan proses pendinginan cepat pada media


quenching (quenchant) berupa fluida cair dengan laju pendinginan tertentu. Air,
air garam, oli, minyak, dan sebagainya sering digunakan sebagai quenchant.
Adapun dalam memilih quenchant ditentukan beberapa kriteria yaitu :
Temperature dari medium
Panas spesifik : panas yang diperlukan untuk menaikkan
temperature sebesar 10 temperatur per satuan massa
Panas penguapan
Konduktivitas termal dari medium Quenchant
Viskositas
Agitasi : Perlakuan proses pendinginan, seperti di goyang goyang
dan lain lain.

Gambar : Proses Quenching

Berbagai metode untuk menentukan hardenability diantaranya


Metode Grossman, diperlukan beberapa silinder baja dengan diameter
yang berbeda, kemudian silinder baja tersebut dipanaskan kemudian dilakukan di-
quenching menggunakan medium quenching yang sesuai. Selanjutnya ditentukan
diameter kritis (dc) yang merupakan diameter maksimum silinder yang
menghasilkan 50% martensit pada proses quenching. Kemudian diameter ideal
(DI) ditentukan dari kurva. Metode ini membuthkan beberapa austenitization dan
perawatan pendinginan pada spesimen dari berbagai diameter hanya untuk
mengukur penegerasan dari single material. Sifat mampu keras yang baik dari
material, dapat diindikasikan dengan presentase martensit yang terbentuk dan
diukur dari diameter batang baja.

Gambar 2.3 pengaruh diameter silinder

Gambar 2.3 pengaruh komposisi terhadap diameter.

Metode Jominy EQ test telah distandarkan dalam ASTM A255 dan


merupakan metode yang banyak digunakan untuk mengukur keterkerasan.
Karenahubunganempirisdan perbandingan data menjadi lebih handal yang
disebabkan data yang diakumulasikan lebih banyak. Metode Jominy EQ tunggal
dapat digunakan untuk memperkirakan dc dan DI pada metode Grossman untuk
baja tertentu. Sebuah silinder baja dari ukuran standar untuk tes Jominy
ditransformasikan ke 100% melalui perlakuan panas, kemudian dilakukan quench
pada salah satu ujungnya dengan air pada suhu kamar. Laju pendinginan tertinggi
berada pada bagian ujung yang dilakukan quenching. Keterkerasan dari baja
didapatkan dengan mengukur kekerasan di sepanjang silinder baja, semakin jauh
dari ujung yang di-quenching apabila kekerasannya naik semakin luas di daerah
yang diuji kekerasan, maka semakin tinggi keterkerasan dari material tersebut.

Gambar dari spesimen Uji Jominy EQ


Yang terkahir adalah metoda pendekatan, dimana dengan bebrapa data didapatkan
nilai kekerasanya, data yang diperlukan adalah sbb :

Persen carbon Grain size Persen unsur paduan


Tabel 2.1 Data yang diperlukan untuk metode pendekatan

Keterkerasan dari baja dipengaruhi oleh kadar karbon, hal ini dikarenakan
shear transformation dari oerubahan fasa austenit menjadi fasa martensit. Dimna
seharusnya terbentuk BCC karena adanya karbon malah terbentuk BCT.

Keterkerasan dari baja pun dipengaruhi oleh unsur paduan. Pada grafik di
atas pada posisi ujung yang mengalami proses end-quenching semua paduan
memiliki kekerasan yang sama. Keterkerasan dari 1040 rendah dikarenakan
kekerasan dari paduan ini menurun secara cepat pada Jominy distance. Sementara
untuk paduan lain kekerasan menurun secara bertahap mengikuti Jominy distance.
Unsur paduan memperlambat reaksi dari austenite-pearlte dan/atau bainit,
sehingga membiarkan lebih banyak martensit terbentuk dari kecepatan
pendinginan partikel, yang menyebabkan kekerasan meningkat.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

1.1 Alat & Bahan


Bahan :

1 Spesimen uji berbentuk tube

Alat :

1 Tungku pemanas
2 Pemegang benda kerja
3 Kikir
4 Tempat pendinginan
5 Kran air
6 Penguji keras
7 Penggaris
8 Tipe x
125))).M.SLeeabnkyuliuampnkpenmbdeaankdeasrkjnrpjimdbaaestuuukpgaknjpeebmtuearngksntupkelmmabane3.s0,beendiatpkadrjemikrarttuelbihdaul ntkmeghilank ratpdbgiany kandilukanjiekrasn
678))..BAemrsbihilkaenndakokrjsidyanpgemsubdakharinpdnesgalamuentgkuanakpnditemrapndiga,kemudianlrk aimelukran,tgusekitar30menitagrbendakrj ing.
91180)0.))L..LeankadkuunnUjiakleisrdastnydaenggdaipeirnodleht&ortariakn,edsemgpullaonadseb r150kg.
BAB IV
DATA PENGAMATAN
Spesimen : Baja AISI 4140
HRC Load : 150 kg
Indentor : Diamond

Hasil Uji Kekerasan


Jarak ke Jarak (mm) HRC
1 5 43
2 10 45
3 15 43
4 20 42
5 25 40
6 30 39
7 35 36
8 40 34
9 45 33
10 50 39
11 55 30
12 60 27
13 65 25
14 70 26
15 75 23
16 80 24
17 85 21
18 90 19
19 95 20
20 100 18

Keterangan: Jarak dihitung dari ujung bagian spesimen yang akan di End-Quench

Data hardenability band dari ASTM untuk material baja 4140, yang akan
digunakan sebagai referensi berikut :
Hardenability Band
Jarak (mm) Max HRC Min HRC
1.5 60 53
3 60 52
5 60 52
7 59 51
9 59 50
11 58 48
13 57 46
15 57 43
20 55 38
25 53 35
30 51 33
35 49 32
40 48 32
45 46 31
50 45 30
sumber :
[Link]
specification_f

Sehingga didapat kurva sebagai berikut :

Grafik HRC terhadap jarak dari End-Quench


70
HRC
60 hasil percobaan

50

40
Nilai HRC HRC maksimum dari referensi ASTM
30

20

10
HRC minimum dari referensi ASTM
0
0 20 40 60 80 100 120

Jarak (mm)
BAB V
ANALISIS
Semakin jauh jarak antara titik dengan end quench, maka nilai kekerasan
menurut dasar teori akan semakin lemah. Namun pada hasil pengujian yang sudah
kami lakukan, terdapat beberapa kali naik turunya nilai kekerasan pada benda
kerja. Seperti ditunjukkan pada gambar berikut :
Grafik HRC terhadap jarak dari End-Quench
70
HRC hasil percobaan
60
50
40
Nilai HRCHRC
30maksimum dari referensi ASTM
20
10
0
HRC minimum
0 20 dari40
referensi
60 ASTM
80 100 120

Jarak (mm)

Hal seperti ini terjadi karena adanya kesalahan pengujian kekerasan


yang disebabkan adanya lapisan oksida, sehingga hasil pengujian menjadi kurang
valid.
Berdasarkan kurva diatas, dapat kita lihat bahwa hasil pengujian
kami masih cenderung berada dalam band yang diperbolehkan, sehingga hal ini
normal. Karena jika menuruti ASTM maka band tersebut artinya nilai kekerasan
kita harus berada diantara jarak maksimum dan jarak minimum.

BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
1. Batas batas peningkatan kekerasan untuk praktikum kali ini ditunjukkan
katalog yang dikeluarkan oleh ASTM

Hardenability Band
Jarak (mm) Max HRC Min HRC
1.5 60 53
3 60 52
5 60 52
7 59 51
9 59 50
11 58 48
13 57 46
15 57 43
20 55 38
25 53 35
30 51 33
35 49 32
40 48 32
45 46 31
50 45 30

2 Peningkatan harga kekerasan tentunya berhubungan dengan


keterkerasn dari baja itu sendiri, sehinngga harus memperhatikan
bend-nya dari bend tesebut kita memiliki rentang maksimum dan
minimumnya.
5.2 Saran

1. Sebaiknya ketika pendinginan end-quenching kecepatan dari air serta


temperatur dapat diatur sehingga waktu dari proses pendinginan yang diperlukan
tidak terlalu lama, dan sesuai dengan standar uji.
DAFTAR PUSTAKA
Callister, Materials Science and Engineering, 7th ed. John Willey and Sons.
2006.
[Link]
LAMPIRAN
TUGAS DAN PERTANYAAN
1. Buat grafik dari hasil percobaan dan berikan analisisnya!

2. Buat kurva grafik hardenability band dengan perhitungan dari baja yang
ditentukan setelah praktikum!

3. Apa penyebab secondary hardening dan temper embrittlement pada proses


penemperan baja?

Jawab:

1. Untuk grafik serta analisis sudah dijelaskan pada bab 4


2. Untuk kurva serta perbandingan dengan hardenability band sudah di jelaskan
di bab 4
3. Penyebab dari secondary hardening adalah penemperan tahap ketiga dengan
temperature lebih tinggi dari 400C ini diakibatkan adanya inklusi/unsur
paduan lain yang bereaksi membentuk senyawa karbida yang keras sehingga
kekerasan meningkat ketika dilakukan tempering. Penyebab temper
embrittlement adalah paduan baja yang dipanaskan atau didinginkan secara
perlahan pada temperatur 400-600C ,sehingga terjadi penurunan ketangguhan
pada specimen tersebut.

Anda mungkin juga menyukai