0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
836 tayangan71 halaman

Proses Pembuatan Aqua Pro Injeksi

Modul ini membahas tentang air yang digunakan dalam industri farmasi, termasuk sumber air, jenis air yang sesuai untuk keperluan farmasi, proses pemurnian air, dan persyaratan penyimpanan air. Modul ini juga menjelaskan proses produksi air injeksi dan kontaminasi yang mungkin terjadi pada air serta cara menghindari kontaminasi.

Diunggah oleh

Nelly Situmorang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
836 tayangan71 halaman

Proses Pembuatan Aqua Pro Injeksi

Modul ini membahas tentang air yang digunakan dalam industri farmasi, termasuk sumber air, jenis air yang sesuai untuk keperluan farmasi, proses pemurnian air, dan persyaratan penyimpanan air. Modul ini juga menjelaskan proses produksi air injeksi dan kontaminasi yang mungkin terjadi pada air serta cara menghindari kontaminasi.

Diunggah oleh

Nelly Situmorang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pramono Abdullah

2016
Tujuan Dari Modul ini

1. Mengenal air yg dipakai dalam industry


farmasi .
2. Sumber dan jenis air yg dapat dipakai untuk
farmasi.
3. Menyimpanan air sebelum dan sesudah
dilakukan treatment .
4. Proses pembuatan Aqua Pro Injeksi
Dasar Pemikiran .
Air untuk di farmasi harus diperlakukan
sebagai bahan baku yg lain, harus memenuhi
syarat Farmakope dan CPOB.

Bahan baku air untuk farmasi harus memenuhi


standard air minum yg telah ditetapkan .
Dasar Pemikiran (2).

1. Potensial untuk tumbuhnya bakteri.


2. Air untuk produk parenteral dapat
terkontaminasi oleh pyrogen ataupun
endotoksin.
3. Sehingga diperlukan adanya spesifikasi
tertentu dan test secara periodik.
4. System treatment nya harus tervalidasi dengan
baik dan benar.
Jenis - jenis (Types) air yg dipakai di Industri Farmasi.

1. Purified Water ( demineral water )


2. Water for Injections WFI
3. Softened Water
4. Water for Final Rinse
5. Pure, or clean Steam
6. Water for cooling Autoclaves
Air yang dipakai sebagai pelarut dalam formulasi dari suatu
produk farmasi harus berkualitas Purified Water dan water
for Injection untuk produk parenteral.
Mengapa harus purify raw water ?

1. Tingkat kemurnian air sangat bervariasi.


2. Perbedaan/perubahan iklim dapat
mempengaruhi kualitas air.
3. Di beberapa tempat / negara , mempunyai
kualitas air yg jelek.
4. Untuk mencegah terjadinya kontaminasi
terhadap produk.
5. Kontrol mikroba diperlukan untuk menghindari
kontaminasi dari produk.
Kontaminasi Air (1).
Air murni (pure water) tidak tersedia di alam, air dari
alam biasanya mengandung kontaminan yang
dikelompokkan dalam :

1. Inorganic compounds
2. Organic compounds
3. Solids
4. Gases
5. Micro-organisms
Kontaminasi Air (2)
Problem mineral :.

1. Calcium/ Ca dan magnesium / Mg


2. Iron/Fe dan manganese/Mn
3. Silicates
4. Carbon dioxide
5. Hydrogen sulfide
6. Phosphates
7. Copper / Cu
8. Alluminium
9. Heavy metals : Arsenic, lead, cadmium.
10. Nitrates
Kontaminasi Air (3)
Micro-organisms Biofilm

Algae

Protozoa
Cryptosporidium
Giardia

Bacteria
Pseudomonas
Gram negative, non-fermenting bacteria
Escherichia coli and coliforms
Formasi Biofilm :
1. Mengambang di permukaan air,
menggunakan/mengeluarkan
polymucosaccharides untuk membentuk koloni.
2. Membentuk komplek koloni yg terdiri micro-
colonies dan bakteri.
Turbidity (kekeruhan) dapat disebabkan oleh :

1. Lumpur dan tanah liat serta material yg tersuspensi


dapat menyebabkan kekeruhan.
2. Partikel partikel halus termasuk "colloids"
Penghilangan benda benda koloidal biasanya merupakan
langkah awal dalam water treatment
Water hardness
Tingkat kekerasan /
kesadahan air

Water hardness mg/L or ppm


classification as CaCO3
Soft
0-60
Moderate 61-120

Hard 121-180

Very Hard > 180


Source of raw water (sumber air baku)

1. Rain water ( air hujan )


2. Surface or ground water ( air permukaan / air tanah)
3. Well or borehole ( air sumur / sumur bor )
4. Municipal or civil tap water (air PAM)
5. Purchased in bulk
Well water ( air sumur )
1. Inspect exposed parts of the well (Inspeksi kondisi
sekitarnya )
2. Kedalaman dari sumur

Check:
1. Nearby septic systems ( kedekatannya dengan system
pembuangan limbah septic )
2. Penggunaan bahan berbahaya disekitarnya (pesticides,
fertilizers, etc)
3. Well maintenance / perawatan dari sumur itu sendiri
Raw water storage / penyimpanan air baku
1. Persyaratan/ketentuan untuk air sebelum dilakukan
pre-treatment .
2. Check material dari konstruksi:
1. Concrete, steel are acceptable but check corrosion
2. Plastics or plastic linings may leach (penggunaan plastic
sebaiknya dihindari )
3. Pada tutup tangki harus dijaga dari masuknya insek,
burung dan binatang lain
4. Check proses disinfection
WHO water treatment guidance
harus selalu dilakukan monitoring terhadap :
Sources of water (sumber air)
Treatment procedures
Water treatment equipment
Treated water tests
Monitoring records required
Pre-treatment steps

1. Primary filtration and multi-media filter (


menyaringan awal menggunakan multimedia
filter)
2. Coagulation atau pun flocculation dari benda
benda koloidal ( lumpur dsb)
3. Desalination (penghilangan garam u/ air laut)
4. Softening / pelunakan air ( kesadahan )
Chlorine removal
Activated-carbon (AC) filtration
or bisulphite
1. AC removes chlorine but bacteria can then grow
2. AC filtration can remove organic impurities
3. Bisulphite leaves sulphate residues but is
4. anti-microbial
Pretreatment
schematic drawing
float
operated excess water recycled activated
carbon
To water
valve from deioniser
air filter sand filter filter softener &
DI plant
spray ball

Water is kept raw water in break tank


circulating

cartridge
filter
centrifugal pump 5 micrometers
air break to drain

S trap to sewer
Water Softener schematic drawing
"soft" water to deioniser
by pass valve

brine and salt tank

zeolite water softener


-exchanges
brine
-Ca and Mg for Na

"hard" water
in

drain
Water pre-treatment
complex
External raw water storage

Pretreatment room
Proses Pemurnian
dan
PenyulinganAir
Tujuan

Mempelajari dasar-dasar teknologi dan persyaratan


untuk :
1. Water treatment systems
2. Storage requirements (persyaratan dan cara
penyimpanannya)
3. Sampling dan testing
4. Different types of water used in pharmaceuticals
5. Microbial limits, disinfection
Water system design
1. Pipes sloped so water does not pool and can drain easily
(kemiringan pipa tidak boleh terlalu tajam dan tidak
menghambat aliran air ,air harus dapat mengalir dengan
bebas).
2. Sanitary fittings & connections (menggunakan system
sambungan dan koneksi yg mudah dibersihkan )
3. Constructed of suitable materials such as stainless steel
4. Circulate the water ( air harus selalu tersirkulasi )
Langkah selanjutnya setelah pretreatmen adalah :

1. Filtration

2. Disinfection

1. Reverse osmosis or de-ionization/de-mineralisasi.

1. Distillation or ultra-filtration
Water system design (1)
There should be no dead legs
Tidak boleh ada belokan mati

D
If D=25mm & distance X is
greater than 50mm, we have
a dead leg that is too long. Flow direction arrows
on pipes are important

Deadleg section

X <2D

Sanitary Valve
Water scours deadleg
Water system design (2)
1. Ball valves are unacceptable
2. Bacteria can grow when
the valve is closed

3. The water is contaminated


as it passes through the valve Stagnant water
inside valve
Water system design (3)

1. Sanitary pumps
2. Clamps and O rings
versus threaded fittings
3. Heat exchangers
4. Side arm level measuring devices are
unacceptable (system pengontrol
ketinggian/volume air tidak
dibenarkan)
Skema proses deionisasi / reverse osmosis

Typical de-ionizer schematic


from water softener
HCl NaOH

6 6
5 5
4 4
3 3
2 2
1 1

Water
must be Cationic column Anionic column Cartridge Cartridge
kept UV light filter 5 m filter 1 m

circulating Eluates to Ozone generator


neutralization
plant
Hygienic pump
Return to de-ioniser

Outlets or storage.
Drain line

Air break to sewer


Typical 2-stage RO schematic
Water from softener or de-ioniser

Second stage reject water goes back to first stage buffer tank
1st stage buffer tank
Branch First stage RO cartridge
1st stage reject concentrate

Branch

First stage filtrate feeds second stage RO


. excess back to 1st stage buffer tank
with
Air break
to sewer 2nd stage buffer tank
Second stage RO cartridge

High pressure
pump
Cartridge
filter 1 m Hygienic pump
Second stage RO water
meets Pharmacopoeia Water returns to 1st stage buffer tank
standards Outlets or storage
Penggunaan reverse osmosis bertujuan
untuk :
Mendapatkan purified water / demineralized
water
Sebagai bahan baku untuk proses destilasi atau
ultra filtrasi untuk pembuatan Water for Injection
Air untuk pembilasan akhir untuk produk non
steril.
Ultra-filtration
Dapat dugunakan sebagai aqua pro Injeksi
ataupun Air Untuk pembilasan Akhir untuk
proses manufacturing produk parenteral. ( Can
be used for WFI or for Water For Final Rinsing
for parenteral manufacturing )
Removes organic contaminants, such as
endotoxins
Operation at 80C, and sterilization at 121 C
Proses Destilasi
1. Single-effect distillation
simple distillation, single effect
vapour compression, thermo compression
2. Multi effect distillation
multiple effect stills
3. Clean steam generators
used where steam can come into contact with product contact
surfaces, e.g. sterilization-in-place (SIP)
Typical water storage and distribution schematic
Hydrophobic air filter
Feed Water & burst disc
from
DI or RO Cartridge
filter 1 m Spray ball

Optional
Water must in-line filter
be kept 0,2 m

circulating
UV light
Outlets

Heat Exchanger
Ozone Generator Hygienic pump Air break
to drain

Aqua Pro Injeksi harus selalu tersirkulasi pada temperatur 800C


Disinfection (1)
Heat
One of the most reliable methods of disinfection
of water systems
Ozone
Produced easily
Leaves no residue
Disinfection (2)
UV
1. UV does not sterilize
2. Flow rate critical
3. Post-irradiation recontamination may be an issue
4. Lamps have finite life

Other chemicals
1. XO2
2. Halogen
3. Formaldehyde
Sampling (1)
1. There must be a sampling procedure
2. Sample integrity must be assured
3. Sampler training
4. Sample point
5. Sample size
Sampling (2)
1. Sample container
2. Sample label
3. Sample storage and transport
4. Arrival at the laboratory
5. Start of test
Testing - setting specifications for purified water
or WFI - (1)
Ph. Eur. JP USP Int. Ph.
pH 5.0-7.0 5.0-7.0 5.0-7.0 pass test
Cl < 0.5 pass test - pass test
SO4 pass test pass test - pass test
NH4 < 0.2 < 0.05 - pass test
Ca/Mg pass test - - pass test
Nitrates < 0,2 pass test - pass test
Nitrites - pass test - -
Testing - setting specifications for purified water
or WFI (2)
Ph. Eur. JP USP Int. Ph
Conductivity (S/cm) - - < 1.3 -
Oxidizable subs. pass test pass test - pass test
Solids (ppm) < 10 < 10 - nmt(*) 10
TOC (ppm) - < 0.5 < 0.5 -
Heavy metals - - - pass test
CO2 - - - pass test
Testing
1. Method verification
2. Chemical testing
3. Microbiological testing
test method
types of media used
incubation time and temperature
objectionable and indicator organisms
manufacturer must set specifications
Water for Injections

1. International pharmacopoeia requirements for


WFI are those for purified water plus it must be
free from pyrogens
2. Usually prepared by distillation
3. Storage time should be less than 24 hours
4. Microbial limits must be specified
Water for Final Rinse
Water for final rinse must be of the
same quality as the water required
for pharmaceutical preparation
Pyrogens and endotoxins
1. Any compound injected into mammals which gives
rise to fever is a Pyrogen
2. Endotoxins are pyrogenic, come from Gram negative
bacterial cell wall fragments
3. Detect endotoxins using a test for lipopolysaccharides
(LPS)
rabbit test detects pyrogens
LAL ( Limulus Amebocyte Lysate ) test detects endotoxins
4. Ultrafiltration, distillation, & RO may remove
pyrogens
Suggested bacterial limits (CFU /mL)

Sampling location Target Alert Action

Raw water 200 300 500


Post multimedia filter 100 300 500
Post softener 100 300 500
Post activated carbon filter 50 300 500
Feed to RO 20 200 500
RO permeate 10 50 100
Points of Use 1 10 100
Commissioning,
Qualification and
validation of Water
systems
Water for Pharmaceutical Use

Tujuan
Untuk dapat memahami :

i. Start up, commissioning and qualification


ii. Monitoring
iii. Maintenance
iv. System reviews
Water for Pharmaceutical Use

Start up and commissioning

Precursor to qualification and validation

Should be planned, well defined, well documented

Includes setting to work

Includes system set-up

Includes recording of system performance parameters

Controls loop tuning


Water for Pharmaceutical Use

Qualification
WPU systems merupakan "direct impact systems"
Tahap tahap yang harus dipertimbangkan pada proses
Kualifikasi adalaha : DQ, IQ, OQ, PQ
DQ: harus mencakup sumber air dan persyaratan dari
kualitas air yg dikehendaki.
IQ: Installation verification dari system
Water for Pharmaceutical Use

Qualification

OQ: operational qualification


Presentation focusing on PQ
PQ demonstrates consistent and reliable performance of the
system
Three phase approach recommended over extended period
proves reliability and robustness
Water for Pharmaceutical Use

Phase 1
1. A test period of 24 weeks - monitoring the system
intensively
2. System to operate continuously without failure or
performance deviation (system dioperasikan terus
menerus tanpa ada kegagalan dan tidak terdapat
hasil yang penyimpang )
The following should be included in the testing
approach:
Undertake chemical and microbiological testing in
accordance with a defined plan 7.2
Water for Pharmaceutical Use

Phase 1
Sample daily:
incoming feed-water
after each step in the purification process (tiap step dari proses
pemurnian )
each point of use and at other defined sample points (tiap titik
pemakaian/kran atau tempat lain yg ditentukan )
Develop:
appropriate operating ranges
and finalize operating, cleaning, sanitizing and maintenance
procedures
Water for Pharmaceutical Use

Phase 1
Demonstrate production and delivery of product water
of the required quality and quantity
Use and refine the standard operating procedures
(SOPs) for operation, maintenance, sanitization and
troubleshooting
Verify provisional alert and action levels
Develop and refine test-failure procedure
Water for Pharmaceutical Use

Phase 2
A further test period of 24 weeks further intensive
monitoring the system
Deploying all the refined SOPs after the satisfactory
completion of phase 1 (dibuat SOP setelah hasil dari Fase
1 memuaskan )
Sampling scheme generally the same as in phase 1
Water can be used for manufacturing p urposes during
this phase ( pada fase ini Air sudah dapat dipakai untuk
proses manufacturing )
Water for Pharmaceutical Use

Phase 2
Demonstrate (harus menunjukkan )
Consistent operation within established ranges
Consistent production and delivery of water of the required
quantity and quality when the system is operated in
accordance with the SOPs.
Water for Pharmaceutical Use

Phase 3
Over one year after the satisfactory completion of phase 2
Water can be used for manufacturing purposes during this phase
Demonstrate:
extended reliable performance
that seasonal variations are evaluated
Sample locations, sampling frequencies and tests should be
reduced to the normal routine pattern based on established
procedures proven during phases 1 and 2
Water for Pharmaceutical Use

Ongoing system monitoring


After Phase 3 system review needed
Based on review including results, establish a routine
monitoring plan
Monitoring to include a combination of on-line
monitoring and off- line sample testing
Data analysed for trends
Water for Pharmaceutical Use

Ongoing system monitoring

Monitoring parameters to include:


flow, pressure, temperature, conductivity, TOC
Samples taken:
From points of use, and specific sample points
In a similar way how water is used in service
Tests to include physical, chemical and microbial attributes
Water for Pharmaceutical Use

Maintenance
A controlled, documented maintenance programme covering:
Defined frequency with plan and instructions
Calibration programme
SOPs for tasks
Control of approved spares
Record and review of problems and faults during maintenance
Water for Pharmaceutical Use

System review

WPU (PW, HPW and WFI) systems to be reviewed at


appropriate regular intervals
Review team includes engineering, QA, operations and
maintenance
Water for Pharmaceutical Use

System review
The review to cover, e.g.
changes made since the last review;
system performance;
reliability;
quality trends;
failure events;
investigations;
out-of-specifications results from monitoring;
changes to the installation;
updated installation documentation;
log books; and
the status of the current SOP lists
PIROGEN
PIROGEN

Pirogen merupakan senyawa dengan berat molekul tinggi


yang dinyatakan sebagai senyawa lipopopisakarida-
lipoprotein-lipoid-komplek yang diproduksi kira kira 5 10%
dari masa total bakteri.

Pirogen berukuran 0.05 1.0 m dan dapat tersaring.

Pirogen tahan terhadap panas pendidihan dan panas


pengeringan sampai suhu 180oC ,oleh karena itu pembebasan
terhadap pirogen merupakan hal yang tidak mudah.

Pirogen dapat berada di Air Suling, bahan obat, bahan


pembantu, wadah dan selang infus.
PIROGEN

Adanya Pirogen dapat menyebabkan hiperthermi yaitu


kenaikan temperatur badan / demam yang ditandai dengan
leukopeni dan diikuti dengan laukositosis sehingga dapat
menyebabkan kematian.

Pirogen merupakan endotoksin yaitu hasil produksi bakteri


yang melekat kuat pada permukaan bakteri, belakangan
diketahui bahwa sifat pirogen juga terdapat pada beberapa
virus, ragi dan jamur, namun struktur kimia pirogen belum
diketahui.

Hampir semua farmakope mencantumkan syarat bebas


pirogen pada sediaan yang digunakan secara parenteral,
walaupun ada perbedaan pendapat misalnya ada yg
mempersyaratkan injeksi dosis tunggal volume 10 ml tetapi
ada yang mempersyaratkan 100 ml sekali pakai.
PIROGEN
Penyebab hipertemi selain pirogen diantaranya :
Senyawa seng dari tutup karet.
Logam berat seperti ion besi dan ion tembaga
Sejumlah besar senyawa senyawa organic.

Beberapa bahan yang harus dibebaskan dari pirogen

1. Air atau larutan air.


Dengan bantuan filter absorpsi (SEITZ)
Hal tersebut terjadi melalui absorbs pirogen pada material penyaring
dengan menggunakan lapisan asbes seluloarsa.
Kolom aluminium oksida atau karbon aktif 0.1% dari volume larutan.
Sinar ( Cobalt 60 )
Ditambahkan H2O2 0.1% dan dipanaskan selama 1 jam.
Ditambahkan 10 ml larutan KMnO4 0.1 N dan larutan NaOH 1N perliter
air yang disuling.
PIROGEN

Beberapa bahan yang harus dibebaskan dari pirogen

[Link] Obat dan bahan pembantu .

Melalui pemanasan selama 30 menit pada suhu 250 0C atau pada suhu 200
0C selama satu jam.

Dilarutkan kemudian dibebas pirogenkan.

[Link] , bahan tutup, dan sebagainya.

Gelas piala, corong, ampul, botol infus, dibebaspirogenkan dengan cara


sterilisasi.
Metode kimia dengan menggunakan asam kromsulfat atau asan nitrat pekat
kemudian dibilas dengan akuades bebas pirogen.
Autoclav pada suhu 121 124 0C selama 20 menit
Diseterilkan secara dingin yaitu dengan penyinaran sinar terionisasi atau
dengan etilen oksida.
PIROGEN

PENGUJIAN BEBAS PIROGEN.


Uji Pirogen bertujuan membatasi reaksi demam ( hipertermi ) pada tingkat
yang dapat diterima oleh pasien pada pemberian sediaan parenteral.

1. Test terhadap kelinci..

Uji progen menggunakan kelinci sehat yang telah diperlakukan dalam


lingkunan dan makanan yang tepat sebelum dilakukan uji.
Temperatur normal atau temperatur control diukur untuk setiap hewan uji
yang akan digunakan.
Temperatur yg terukur digunakan sebagai dasar penentuan setiap kenaikan
temperatur yang ditimbulkan akibat penyuntikan larutan yang akan diuji.
Temperatur kelinci kelinci yang digunakan tidak boleh berbeda lebih dari 1
derajat dan temperatur tubuh hewan uji tersebut diperkirakan tidak
berubah.
Larutan uji yang diteliti diinjeksikan ke dalam vena telinga kelinci dan
peningkatan suhu diukur melalui rektal, hasil negative pada kelinci
membuktikan bahwa hipertermi pada manusia tidak akan terjadi.
PIROGEN

Tes untuk pirogen menurut Farmakope Indonesia Ed. III sebagai berikut :

Tes menggunakan sekelompok hewan uji yaitu 3 ekor kelinci yang


memenuhi syarat dan suhu larutan yang diuji adalah 38.5 0C.

Suntikkan produk yang akan diuji pada vena telinga setiap kelinci tidak
kurang dari 0.5 ml dan tidak lebih dari 10 ml per kg berat badan.

Selesaikan setiap suntikan dalam waktu 4 menit dihitung dari awal


pemberian, jika gagal dapat diulang hingga 4 kali.

Setiap kali tes menggunakan sekelompok kelinci yang terdiri 3 ekor


kelinci.

Catat temperatur tubuh kelinci pada jam ke 1, 2 dan 3 setelah


penyuntikan.

Syarat hasil uji dapat dilihat pada table.


PIROGEN

Jumlah Larutan uji memenuhi syarat Larutan uji tidak


kelinci bila jumlah respon tidak memenuhi syarat bila
melebihi ( 0C ) jumlah respon tidak
melebihi ( 0C )
3 1.2 2.7
6 2.8 4.3
9 4.5 6.0
12 6.6 6.6
PIROGEN

[Link] Limulus.

Tes ini menggunakan lisat yang diperoleh dari butir darah kepiting (
Limulus polyphemus ) yang mengandung enzim dan protein.

Apabila ada senyawa lipopolisakarida dalam jumlah kecil dari pirogen


bakteri gram negative maka akan terjadi penggumpalan.

Test ini hanya memerlukan waktu 90 menit dan tidak positif terhadap
seluruh pirogen hasi reaksi.
Hasil test positif menunjukkan adanya pirogen , tetapi hasil negative tidak
menjamin bebas pirogen .

Pada perkembangan selanjutnya uji ini disebut sebagai uji Limulus


Amebocyte Lysate ( LAL ) oleh FDA.

Common questions

Didukung oleh AI

Kontaminasi pirogen dapat berasal dari air suling, bahan obat, bahan pembantu, wadah, dan selang infus. Untuk mengecek keberadaan pirogen, digunakan dua metode utama: uji pada kelinci dan uji Limulus Amebocyte Lysate (LAL). Uji kelinci mengevaluasi reaksi demam yang dapat diterima, sementara uji LAL mendeteksi keberadaan lipopolisakarida yang menyebabkan penggumpalan bila terkontaminasi. Hasil uji LAL tidak selalu menunjukkan kebebasan pirogen secara menyeluruh .

Pemanasan dianggap andal karena mampu menghancurkan mikroorganisme dengan meningkatkan suhu air hingga mencapai tingkat yang mematikan bagi bakteri dan virus. Cara ini sudah digunakan secara luas dan terbukti efektif dalam memastikan tidak ada organisme hidup yang tersisa dalam sistem air, seperti yang dilakukan pada proses sterilisasi maupun desinfeksi sistem air .

Filter berperan penting dalam menghilangkan partikel halus, koloid, dan kontaminan lainnya dari air. Pada tahap pretreatment, digunakan multi-media filter untuk penyaringan awal dan cartridge filter 5 micrometer serta 1 micrometer untuk memisahkan partikel-partikel lebih halus. Filter aktif-karbon digunakan untuk menghilangkan klorin dan kotoran organik, sementara penyerapan koloid merupakan langkah awal dalam water treatment .

Air dalam industri farmasi diperlakukan sebagai bahan baku lain karena harus memenuhi syarat Farmakope dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Ini penting karena air berpotensi menjadi media pertumbuhan bakteri dan dapat terkontaminasi oleh pirogen atau endotoksin. Oleh karena itu, spesifikasi tertentu harus dipenuhi dan pengujian berkala perlu dilakukan untuk mencegah kontaminasi produk farmasi .

Penyimpanan air yang telah diolah sangat penting untuk mencegah kontaminasi ulang dan menjaga kemurnian air. Desain sistem penyimpanan harus memastikan air selalu tersirkulasi, mencegah tempat stagnasi yang dapat menjadi lokasi pertumbuhan bakteri. Penggunaan bahan seperti baja tahan karat dan aliran balik udara hingga drainase dipertimbangkan untuk memastikan kebersihan dari sistem penyimpanan ini .

Langkah-langkah utama dalam pretreatment air termasuk filtrasi awal menggunakan multi-media filter, koagulasi atau flokulasi benda koloidal, desalinisasi untuk air laut, dan pelunakan air. Filtrasi awal menghilangkan partikel besar dan koloid, koagulasi atau flokulasi membantu mengikat partikel yang tersisa untuk dihilangkan, sedangkan desalinisasi penting untuk mengurangi garam dan pelunakan diperlukan untuk mengendalikan kesadahan air. Langkah-langkah ini penting untuk menjaga efektivitas proses pemurnian lebih lanjut agar air memenuhi standar untuk penggunaan di industri farmasi .

Sistem air farmasi didesain agar tidak ada dead legs, karena area ini dapat menjadi tempat pertumbuhan bakteri bila terdapat air yang stagnan. Pipa harus miring agar air bisa mengalir dan tidak ada air yang menggumpal. Selain itu, sistem ini menggunakan pompa sanitasi, sambungan yang mudah dibersihkan, dan sirkulasi air yang konstan untuk menghindari pertumbuhan mikroorganisme. Kombinasi penggunaan sinar UV dan ozon sebagai metode disinfeksi juga memastikan bahwa kontaminasi mikroba dapat diminimalisasi .

Jenis air yang digunakan di industri farmasi antara lain Purified Water (air demineral), Water for Injections (WFI), Softened Water, Water for Final Rinse, dan Pure atau Clean Steam. Purified Water digunakan sebagai pelarut dalam formulasi non-parenteral, sementara Water for Injection digunakan untuk produk parenteral. Air murni juga digunakan untuk pembilas akhir dan untuk mendinginkan autoclaves .

Proses reverse osmosis dalam industri farmasi digunakan untuk mendapatkan air murni atau demineralisasi yang memenuhi standar farmakope. Tujuan utamanya adalah menyediakan air baku untuk distilasi atau ultrafiltrasi dalam pembuatan Water for Injection (WFI) serta untuk pembilasan akhir produk non steril. Proses ini juga efektif menghilangkan kontaminan organik, seperti endotoksin, guna memastikan kualitas air tinggi .

"Dead legs" adalah bagian dari pipa yang tidak memiliki aliran air sehingga air dapat menggenang di sana, ini meningkatkan risiko pertumbuhan mikroorganisme karena air yang stagnan dapat menjadi tempat berkembang biak bakteri. Untuk mencegah kontaminasi dan menjaga kualitas air, desain sistem distribusi air harus meminimalkan atau menghilangkan dead legs. Jika jarak lebih dari dua kali diameter pipa, maka dianggap sebagai dead leg terlalu panjang dan harus diperbaiki agar aliran air tidak terhalang .

Anda mungkin juga menyukai