0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
140 tayangan16 halaman

Penghitungan Balance Cairan Dewasa

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai penghitungan balance cairan pada orang dewasa dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti berat badan dan umur. Diberikan contoh kasus penghitungan balance cairan pasien dengan berbagai variabel seperti infus, urine, dan demam. Jika terjadi demam, perlu menghitung insensible water loss dengan rumus tertentu.

Diunggah oleh

NIDA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
140 tayangan16 halaman

Penghitungan Balance Cairan Dewasa

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai penghitungan balance cairan pada orang dewasa dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti berat badan dan umur. Diberikan contoh kasus penghitungan balance cairan pasien dengan berbagai variabel seperti infus, urine, dan demam. Jika terjadi demam, perlu menghitung insensible water loss dengan rumus tertentu.

Diunggah oleh

NIDA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tehnik menghitung Balance Cairan (Dewasa)

Menghitung balance cairan seseorang harus diperhatikan berbagai faktor, diantaranya Berat
Badan dan Umur..karena penghitungannya antara usia anak dengan dewasa berbeda.
Menghitung balance cairanpun harus diperhatikan mana yang termasuk kelompok Intake
cairan dan mana yang output cairan. Berdasarkan kutipan dari Iwasa M. Kogoshi S (1995)
Fluid Therapy do (PT. Otsuka Indonesia) penghitungan wajib per 24 jam bukan pershift.
PENGHITUNGAN BALANCE CAIRAN UNTUK DEWASA
Input cairan:
Air (makan+Minum) = ......cc
Cairan Infus
= ......cc
Therapi injeksi
= ......cc
Air Metabolisme
= ......cc (Hitung AM= 5 cc/kgBB/hari)
Output cairan:

Urine
= ......cc
Feses
= .....cc (kondisi normal 1 BAB feses = 100 cc)
Muntah/perdarahan
cairan drainage luka/
cairan NGT terbuka = .....cc
IWL
= .....cc (hitung IWL= 15 cc/kgBB/hari)
(Insensible Water Loss)

Contoh Kasus:
Tn Y (35 tahun) , BB 60 Kg; dirawat dengan post op Laparatomi hari kedua..akibat
appendix perforasi, Keadaan umum masih lemah, kesadaran composmentis..Vital sign TD:
110/70 mmHg; HR 88 x/menit; RR 20 x/menit, T 37 C: masih dipuasakan, saat ini terpasang
NGT terbuka cairan berwarna kuning kehijauan sebanyak 200 cc; pada daerah luka incici
operasi terpasang drainage berwarna merah sebanyak 100 cc, Infus terpasang Dextrose 5%
drip Antrain 1 ampul /kolf : 2000 cc/24 jam., terpasang catheter urine dengan jumlah urine
1700 cc, dan mendapat tranfusi WB 300 cc; mendapat antibiotik Cefat 2 x 1 gram yg
didripkan dalam NaCl 50 cc setiap kali pemberian, Hitung balance cairan Tn Y!
Input Cairan:

Output cairan:

Infus
= 2000 cc
Tranfusi WB = 300 cc
Obat injeksi = 100 cc
AM
= 300 cc (5 cc x 60 kg)
--------------------------------------------2700 cc

Drainage
= 100 cc
NGT
= 200 cc
Urine
= 1700 cc
IWL
= 900 cc (15 cc x 60 kg) +
---------------------------------------------2900 cc
Jadi Balance cairan Tn Y dalam 24 jam : Intake cairan - output cairan
2700 cc - 2900 cc
- 200 cc.

Bagaimana jika ada kenaikan suhu? maka untuk menghitung output terutama IWL gunakan
rumus :
IWL + 200 (suhu tinggi - 36,8 .C), nilai 36,8 C adalah konstanta
Andaikan suhu Tn Y adalah 38,5 C, berapakah Balance cairannya?
berarti nilai IWl Tn Y= 900 + 200 (38,5 C - 36,8 .C)
= 900 + 200 (1,7)
= 900 + 340 cc
= 1240 cc
Masukkan nilai IWL kondisi suhu tinggi dalam penjumlahan kelompok Output :
Drainage
= 100 cc
NGT
= 200 cc
Urine
= 1700 cc
IWL
= 1240 cc +
-------------------------3240 cc
Jadi Balance cairannya dalam kondisi suhu febris pada Tn Y adalah : 2700 cc - 3240 cc =
-540 cc

Identitas Penanggung Jawab


Nama : Ny. C
Umur : 35 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Petani
Hubungan dengan klien : Istri
Alamat : Ds. Kluwih RT. 07 RW. 03 Bandar, Batang
III. STATUS FUNGSI KESEHATAN
1. Persepsi Kesehatan
a. Alasan masuk Rumah Sakit
Klien mengatakan bahwa dirinya sesak napas dan seluruh badannya bengkak
sehingga klien memutuskan untuk periksa di rumah sakit untuk mendapatkan
perawatan lebih lanjut
b. Keluhan utama
Klien merasa seluruh badannya lemas untuk beraktivitas.
c. Riwayat penyakit sekarang
Menurut keterangan klien, kurang lebih 5 bulan yang lalu tubuh klien tiba tiiba
membengkak. Daerah yang pertama terlihat bengkak adalah kaki. Setelah dua
bulan, bengkak nya menjalar ke daerah muka, genital dan kedua tangan. Selain
itu, perutnya makin membesar. Sejak tanggal 12 juli hingga tanggal 15 juli 2006,
klien merasakan sesak napas yang diakibatkan oleh perutnya yang membesar.
Pada tanggal 16 juli, klien periksa ke Rumah Sakit Batang. Klien masuk IGD RSUD
Batang dengan keluhan sesak napas , setelah dilakukan penanganan sementara
di IGD, klien langsung dikirim ke Ruang Melati. Keadaan umum waktu masuk
ruang melati, kesadaran composmentis. T : 130 / 90 mmHg, N : 72 X permenit,
S : 37,8C, RR : 30 X permenit. Klien masuk ke ruang Melati tanggal 16 Juli 2006
jam 13.30 WIB
Keluhan saat pengkajian hari rabu tanggal 26 juli 2006 jam 08.00 WIB adalah
klien mengeluh seluruh tubuhnya terasa lemas, kulit terasa meregang, TD : 110 /
70 mmHg, S : 37 C, N : 64 x / mnit, RR : 20 X permenit, terpasang infus D5 % 10
tetes / menit di tangan kiri, terpasang DC sudah 10 hari belum diganti, klien
mendapat terapi injeksi Cefotaxim 2 x 1 gram, Lasix 2 x 40 mg, albumin fl 100cc/
hari, obat oral : letonal 3 x 100 mg, prednison 3-2-0 atau pagi 3 x 5 mg, siang
2x5 mg.
d. Riwayat penyakit dahulu
Klien menuturkan bahwa klien belum pernah menderita penyakit seperti ini,
penyakit yang sering diderita oleh klien adalah pusing, meriang dan pegel
[Link] klien belum pernah dirawat di Rumah Sakit.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Menurut keterangan klien, dalm keluarga klien tidak ada yang menderita
penyakit seperti yang diderita klien dan tidak ada yang menderita penyakit
menular.
f. Riwayat alergi
Klien menuturkan bahwa dirinya tidak mempunyai alergi terhadap makanan,
minuman dan obat obatan.
g. Preventif kesehatan gaya hidup
Menurut keterangan klien, klien mempunyai kebiasaan minum kopi, selain itu
klien mempunyai aktivitas yang padat sebagai seorang petani dan klien jarang
minum air [Link] sebelum sakit mempunyai kebiasaan merokok sehari bisa

menghabiskan sebungkus rokok.


2. Nutrisi dan Metabolik
a. Klien sedang menjalani diet tinggi protein dan diet rendah garam
b. Kebiasaan makan :
Sebelum sakit : klien makan 3 xsehari dengan menu nasi, lauk - pauk, sayur dan
kadang kadang [Link] menuturkan selalu habis 1 porsi
Selama sakit : klien makan 3 x sehari dengan menu nasi, lauk - pauk, sayur,
buah yang disediakan oleh Rumah [Link] ini menurut data instalasi gizi
terdiri dari menu tinggi protein dan rendah [Link] makan habis 1 porsi.
c. Nafsu makan klien baik, klien menghabiskan 1 porsi makanan dengan lahap.
d. Kemampuan mengunyah klien baik, dan klien tidak mengalami gangguan
menelan.
e. Asupan cairan didapat dari infus D5% 10 tts/mnit dan klien mengatakan
minum air putih maksimal 3 gelas sehari ( gelas belimbing @ 200ml ).saat
pengkajian klien baru minum satu gelas
f. Status nutrisi
Penampilan umum : gemuk karena ada edema
Rambut : pirang, hitam, bersih
Kulit : turgor kulit jelek, klien mengatakan kulit terasa meregang.
3. Pola Eliminasi
a. Bak
Sebelum sakit : klien mengatakan kalau bak sakit, frekuensi 4 x sehari warna
kuning jernih
Selama sakit : saat pengkajian, klien terpasang DC jumlah urine 500 ml selama
2 jam. DC sudah 10 hari terpasang.
b. Bab
Sebelum sakit : klien Bab 1 x sehari, konsistensi lunak warna kuning.
Selama sakit : klien bab 2 hari sekali, saat pengkajian klien bab baru 1 x, warna
kuning konsistensi lunak.
4. Pola Aktivitas
a. keadaan umum : sedang, klien mengatakan lemas, dalam beraktivitas klien
dibantu oleh keluarga.
b. Mobilisasi
Klien belum bisa melakukan aktivitas sambil berdiri. Klien bisa duduk, tapi kalau
duduk klien menjadi sesak napas sehingga klien lenih memilih untuk berbaring di
tempat tidur.
c. Pernapasan
RR 20 x / menit, tidak terdapat wheezing dan ronchi.
d. Kesadaran : composmentis
e. Kebutuhan personal hygiene dibantu keluarga.
5. Kebutuhan Istirahat Tidur
Kebiasaan tidur selama sakit : klien mengatakan tidur malam pukul 21.00 WIB
dan Bangun Pukul 05.00WIB, saat siang klien lebih sering tidur dikarenakan
tubuhnya lemas.
Klien menuturkan tidak mengalami kesulitan tidur

6. Persepsi / Kognitif
a. Klien dapat melihat dengan baik, klien mampu menyebutkan jenis benda yang
ditunjuk oleh perawat serta klien mampu melihat dengan jelas tulisan dari jarak
kurang lebih 25 cm
b. Indra perasa klien juga berfungsi baik, klien dapat mengecap rasa asin, manis
dan pahit.
c. Klien mengatakan kurang tahu tentangpenyakit yang dideritanya
d. Klien sering bertanya - tanya kepada perawat tentang penyakit yang
diideritanya.
e. Klien tidak mampu menjawab pertanyaan perawat berkaitan dengan
penyakitnya
7. Persepsi Diri dan Konsep Diri
a. body image : klien tidak merasa malu dengan kondisi tubuhnya
b. identitas diri : klien mampu mengenali dirinya dengan baik.
c. Harga diri : klien tidak merasa rendah diri dengan penyakit yang dideritanya.
d. Ideal diri : klien selalu berharap agar bisa sembuh dari penyakitnya.
e. Peran diri : peran klien sebagai seorang suami dan ayah dari kedau anaknya
terganggu dikarenakan proses hospitalisasi.
8. Pola Hubungan Sosial
orang terdekat klien adalah istrinya yang selalu merawatnya dan memperhatikan
dirinya. Klien tidak mengalami gangguan komunikasi dengan orang lain dank lien
mudah diajak komunikasi oleh perawat dan klien yang lain.
9. Pola Seksual Reproduksi
klien adalah seorang laki laki, suami dari istrinya dan ayah dari kedua
[Link] sakit klien tidak bisa melakukan aktivitas seks dengan
[Link] menuturkan tidak mempunyai penyakit yang berhubungan dengan
seks.
10. Mekanisme Koping
Klien mengatakan bahwa dirinya pasrah dengan apa yang menimpanya, klien
mengatakan akan sabar dalam menghadapi penyakitnya ini. Bila ada masalah,
klien selalu membicarakannya dengan istrinya.
11. Pola Spiritual
Klien adalah seorang muslim, klien menyadari bahwa penyakitnya adalah ujian
dari Allah SWT. Klien selalu berdoa agar penyakitnya cepat sembuh. Selama
sakit, klien tidak bisa melaksanakan sholat.

IV. Pemeriksaan fisik , laboratorium, pemeriksaan penunjang, terapi


1. pemeriksaan fisik
a. tanda vital : TD : 110 /70 mmHg N : 64 x/mnit
S: 37C RR : 20 x/mnit
b. inspeksi

rambut : pendek, warna hitam, bersih, tak rapi


wajah : simetris, edema, tampak lesu
mata : sklera ikterik, konjungtiva anemis
hidung : bersih, tidak ada polip
mulut : gigi kuning, kotor, ada caries gigi
telinga : tidak ada OMA, tidak ada serumen
leher : tidak nampak pembesaran kelenjar tiroid
dada : pergerakan dada simetris
abdomen : ada asites/ perut membesar.
Genetalia : ada edema, terpasang DC, DC kotor
Tangan : terpasang infuse D5% pada tangan kiri
edema pada kedua tangan, kasa pembungkus infuse kotor.
Kaki : edema pada kedua kaki.
Kulit : warna sawo matang, meregang

c. Palpasi
Kepala : tidak ada benjolan
Leher : tidak teraba pembesaran kelenjar tyroid
Abdomen : kulit kencang, turgor jelek
d. Perkusi
Abdomen : suara pekak
e. Auskultasi
Bunyi napas normal, tidak ada wheezing dan ronchi, RR 20 x /menit.
Terdengar bising usus.

Pengelompokan Data

Data Subjektif
melaporkan sesak saat
bernafas
melaporkan saat BAK
volume urinnya sedikit
dan berwarna gelap dan
berbau buah
melaporkan BB
meningkat dalam periode
singkat
Melaporkan mual,

muntah, anoreksia

melaporkan diare
melaporkan cepat merasa
letih saat beraktivitas,
badan terasa lemah, lesu
melaporkan
ketidaknyamanan atau
kesulitan beraktivitas
akibat adanya edema

Data Objektif
auskultasi bunyi nafas tidak
normal (dispnea/dangkal)
tampak adanya edema
(ekstremitas/periorbital/abdomen)
pemeriksaan urinalisis didapatkan
proteinuria > 3,5 gr/hr,
hipoalbuminemia < 30 gr/I
timbang BB didapatkan BB
meningkat di atas normal
tampak lemah
timbang BB didapatkan BB
dibawah normal
tampak kelemahan fisik
saat pemeriksaan fisik didapatkan
adanya edema
(periorbital/ekstremitas/abdomen)
Tampak gelisah, berkeringat

Melaporkan cemas,
khawatir, takut terhadap
kondisinya
Melaporkan tidak bisa tidur
2.3.3. Analisa Data
Problem

DS:
melaporkan sesak saat
bernafas
melaporkan saat BAK
volume urinnya
sedikit dan berwarna
gelap dan berbau buah
melaporkan BB
meningkat dalam
periode singkat
DO:
auskultasi bunyi nafas
tidak normal
(dispnea/dangkal)
tampak adanya edema
(ekstremitas/periorbita
l/abdomen)
pemeriksaan urinalisis
didapatkan proteinuria
> 3,5 gr/hr,
hipoalbuminemia < 30
gr/I
timbang BB
didapatkan BB
meningkat di atas
normal

Etiologi
Gangguan
permeabilitas selektif
kapiler glomerulus

Symptom
Kelebihan
volume cairan

P
roduksi albumin
dalam darah tidak
seimbang dg
kehilangan albumin
yg keluar dari
glomerulus
Hipoalbuminemi
a
Penurunan tekanan
onkotik

Aktivasi SRAA
(system renin
angiotensin
aldosteron)

Perpindahan cairan
dari sist. vaskular ke
ruangan cairan
ekstraseluler

Edema
DS:
Melaporkan mual,
muntah, anoreksia
melaporkan diare

Gangguan
permeabilitas selektif
kapiler glomerulus

Ketidakseimban
gan nutrisi
kurang dari
kebutuhan

DO:
tampak lemah
timbang BB
didapatkan BB
dibawah normal

Protein dan albumin


bocor melalui
glomerulus
Proteinuria
Sindrom nefrotik

Respon sistemik
Mual
Muntah
Anoreksia

DS:
melaporkan cepat
merasa letih saat
beraktivitas,
badan terasa lemah,
lesu
melaporkan
ketidaknyamanan atau
kesulitan beraktivitas
akibat adanya edema
DO:
tampak kelemahan
fisik
saat pemeriksaan fisik
didapatkan adanya
edema
(periorbital/ekstremita
s/abdomen)

Gangguan
permeabilitas selektif
kapiler glomerulus
Pr
oduksi
albumin dalam darah
tidak seimbang dg
kehilangan albumin
yg keluar dari
glomerulus
Hipoalbuminemi
a
Penurunan tekanan
onkotik

Aktivasi SRAA
(system renin
angiotensin
aldosteron)

Gangguan ADL

Perpindahan cairan
dari sist. vaskular ke
ruangan cairan
ekstraseluler

Edema
Respon sistemik
Keletihan umum
DS:
Melaporkan cemas,
khawatir, takut
terhadap kondisinya
Melaporkan tidak bisa
tidur
DO:
Tampak gelisah,
berkeringat

Gangguan
permeabilitas selektif
kapiler glomerulus
Produksi albumin
dalam darah tidak
seimbang dg
kehilangan albumin
yg keluar dari
glomerulus

Hipoalbuminemi
a
Penurunan tekanan
onkotik

Aktivasi SRAA
(system renin
angiotensin
aldosteron)

Perpindahan cairan
dari sist. vaskular ke
ruangan cairan
ekstraseluler

Kece

Edema
R
espon sistemik
Respon psikologis

Pemeriksaan Fisik Paru


Posted by Tarlis Irawan on Januari 4, 2012

Untuk memeriksa daerah thorax, diperlukan ingatan kembali tentang garis-garis imaginer.

Linea mid-sternalis di buat melalui bagian tengah sternum.

Linea sternalis

Linea medio-clavicularis adalah garis yang dibuat melalui bagian tengah


klavikula dan sejajar dengan garis mid-sternal.

Linea axillaris anterior, adalah garis vertical yamg dibuat sepanjang


lipatan aksilaris anterior dan sejajar dengan garis mid-strenal. Media
dibuat melalui tap puncak aksila sejajar dengan garis mid-sternal, dan
posterior sejajar dengan garis mid sternal dan berjalan vertical
sepanjang lipatan aksilaris posterior.

Linea scapularis sejajar dengan garis mid-sternal dan berjalan melalui


sudut bawah scapula.

Linea vertebralis

Angulus

ludovisi,

Angulus

costae

dan

Arcus

costae

Secara berurutan pemeriksaan thorax harus meliputi; inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi.
Inspeksi
1. Diamati bentuk thorax, apakah biasa/normal ataukah ada kelainan bentuk seperti;

Kifosis, Iordosis, scoliosis gibbus (kiposis yang ekstrim).

Bentuk dada burung (pigeon chest)-sternum menonjol

Bentuk dada tukang sepatu/cekung (funnel chest)

Barrel chest (besar-mengembung muka-belakang)

2. Diamati pernapasan pasien seperti:

Terdengar stridor inspirasi/ekspirasi

Menghitung frekuensi pernapasan, yang normalnya 16-24x/menit dan juga


ada perbandingan frekuensi napas, dengan HR yang kira-kira 1 : 4. Napas
lebih dari 24x/menit disebut Tachypnea. Bila kurang dari 16 disebut
Bradipnea.

Catat pola/irama pernapasannya. Teratur, periodic ceynes stokes, periodic


biot, Kussmaul ( cepat-dalam), Hiperventilasi (hanya dalam) atau irama
satu-satu pada pasien sebelum meninggal.

Amati ada tidaknya Dyspnea (setiap ketidaknyamanan bernapas dalam


bentuk apapun);

Tanda-tanda retraksi intercostals


Tanda-tanda retraksi supra sterna
Pernapasan cuping hidung
Deffort inspirasi seperti pada disteria.
Deffort ekspirasi seperti pada asthma bronchiale
Orthopnea, lebih nyaman bernapas pada posisi duduk.
3. Ada 2 hal lain yang dihubungkan dengan fungsi pernapasan adalah;

Pengamatan Cyanosis disekitar bibir, mulut dan dasar kuku

Clubbing of the fingers (seperti ujung pemukul genderang).

4. Amati suara batuk yang kita dengar (produktif, kering, whooping, pendek-pendek/dehemdehem)
Palpasi
Palpasi pada dinding thorax menggunakan seluruh telapak tangan dan jari kiri dan kanan
dengan maksud meraba dan merasakan getaran dinding dada sewaktu pasien mengucapkan
kata tujuh puluh tujuh. berulang-ulang.
Getaran yang dirasakan disebut: Vocal fremitus, perabaan dilakukan diseluruh permukaan
dada (kiri, kanan, depan dan belakang).
Umumnya pemeriksaan ini bersifat membandingkan bagian mana yang lebih bergetar atau
kurang bergetar. Pemadatan jaringan baru (Pneumonia, keganasan) akan terasa lebih bergetar.
Pleural effusion dan pneumo thorax akan terasa kurang bergetar.
Perkusi
Perkusi dinding thorax, dengan cara mengetuk dengan jari tengah tangan kanan pada jari
tengah-tangan kiri yang ditempelkan dengan erat di dinding dada dicelah intercosta (kecuali
pemeriksa kidal tentu sebaliknya). Ilmu ini meniru para pembuat anggur yang bisa
memeriksa tong-tong anggur yang mereka perkusi dan memastikan dimana batas permukaan
cairan anggur mereka karena memberikan getaran suara yang jelas berbeda.
Pada praktek laboratorium dan bangsal, diminta berlatih baik sampai trampil dengan cara
yang benar. Penilaian suara yang ditimbulkan oleh perkusi:
1.
Sonor
adalahsuara
perkusi
jaringan
paru
yang
normal.
2. Redup adalahsuara perkusi jaringan yang lebih padat/konsolidasi paru-paru seperti
pneumonia.
3. Pekak adalahsuara perkusi jaringan yang padat seperti pada;

Adanya cairan di rongga pleura

Perkusi daerah jantung

Perkusi daerah hepar

4. Hipersonor/tympany adalah suara perkusi pada daerah yang lebih berongga kosong
seperti : daerah Caverne-caverne paru, penderita asthma kronik terutama dengan bentuk dada
barrel-chest akan terdengar seperti ketukan benda-benda kosong, bergema. Perkusi dilakukan
dengan cara membandingkan kiri-kanan pada setiap daerah permukaan thorax.
Catatan:
1. Dengan perkusi juga bisa diperiksa tentang turunnya diafragma, sejak akhir ekspirasi
sampai inspirasi maksimal yang normalnya berkisar 3-5cm. Rentang turunnya diafragma
diperiksa di :

Thorax bagian belakang

Atas di batas paru-hepar/ICS-4 kanan

Bila paru-paru collaps, maka diafragma sisi yang bersangkutan tidak turun pada inspirasi
maksimal
2. Dengan perkusi thorax-depan, sekaligus menilai batas-batas jantung (perkusi di atas
jantung terdengar pekak). Pada keadaan normal :

Batas atas jantung ICS 2-3

Batas kanan jantung linea sternalis kanan

Batas kiri jantung linea medio-clavicularis kiri (pada pasien dengan dada
lebar batas kiri jantung : 1 jari medial dari linea mid-clav kiri).

Auskultasi
Auskultasi paru adalah mendengarkan suara pada dinding thorax dengan menggunakn
stetoskop, caranya : pasien diminta bernafas cukup dalam dengan mulut terbuka dan letakan
stetoskop secara sistematik dari atas kebawah dengan membandingkan kiri-kanan.
Ada 3 suara yang di dengar pada pemeriksaan auskultasi :
1. Suara nafas :

Vesicular, suara nafas vesicular terdengar di semua lapangan paru yang


normal. Barsifat halus, nada rendah, inspirasi lebih panjang dari ekspirasi.

broncho-vesicular, suara nafas broncho-vesicular terdengar di daerah


percabangan broncus dan trache. Jadi sekitar sternum dan region
interscapular, nadanya sedang lebih kasar di bandingkan vesicular,
inspirasi sama panjang dengan ekspirasi.

bronchial, suara nafas bronchial terdengar di daerah trachea (leher) dan


supra sternal notch. Bersifat kasar, nada tinggi/inspirasi lebih pendek di
bandingkan dengan ekspirasi.

Catatan :

bila didapat suara broncho-vesicular atau bronchial dilapangan paru (yang


semestinya vesicular), tentu merupakan suatu kelainan

bila tidak terdengar suara sama sekali, hal ini bisa karna paru-parunya
colaps/atelektasis atau pleural effusion yang banyak jumlahnya. Jumlah
cairan pleura yang tidak banyak bisa menimbulkan suara vesicular yang
melemah.

Bila terdengar suara seperti tiupan pada mulut botol, disebut suara
amforik merupakan suara resonansi dari rongga-rongga Caverne yang ada
dalam paru-paru.

2. Suara ucapan (= vocal resonans)


Penderita diminta mengucapkan tujuh puluh tujuh berulang-ulang setiap sesudah
inspirasi secara berbisik dengan intonasi yang sama kuat. Pemeriksa mendengarkan dengan
stetoskop secara sistematik di semua lapangan paru serta membandingkannya kiri dankanan.

Suara normal, perlu mengenal atau membiasakan mendengar pada orang


sehat. Intensitas dan kualitas di kiri sama dengan kanan

Brochoponi, suara terdengar jelas ucapannya dan lebih keras


dibandingkan daerah sisi lain. Umumnya, ini akibat dari adanya proses
pemadatan/konsolidasi paru.

Pectoriloquy, suara terdengar jauh dan tidak jelas (= ngereyem). Bisa


terdapat pada effusion atau atelaktasis.

Egophony, sura bergema seperti seorang yang hidungnya tersumbat(=


bindeng) dan terasa dekat. Suara semacam ini bisa didapat pada
pemadatan paru yang disertai caverne/berongga-rongga besar.

Tidak jarang ditemui pada sebuah paru sekaligus ada daerah effusion, ada daerah konsolidasi,
mempunyai caverne ada daerah yang masih normal maka vocal resonansnya bercampur
sesuai distribusi kelainan parunya.
3. Suara tambahan
Pada pernfasan normal tidak didapati suara tambahan. Suara tambahan menun jukan ada
kelainan. Macam-macam suara tambahan :

Rales, bunyi yang dihasilkan oleh exudat lengket saat saluran-saluran


halus pernfasan mengembang pada inspirasi :

1. Rales halus, terdengar meritik halus pada akhir inspirasi jadi pendek
saja.
2. Rales sedang, terdengar lebih kasar dan di tengah fase akhir inspirasi.
3. Rales kasar, terdengar lebih lama, yaitu pada seluruh fase inspirasi

Suara rales tidak hilang bila pasien disuruh batuk. Rales seringkali ditemui pada peradangan
jaringan paru (pneumonia t.b.c).

Ronchi, ciri khas ronchi adalah pada rendah dan sangat kasar terdengar
baik pada inspirasi maupun ekspirasi. Ciri lain ronchi adalah akan hilang
bila pasien disuruh batuk. Ronchi terjadi akibat terkumpulnya cairan

mucus dalam trachea atau bronchus-bronchus besar (misalnya pada


edema paru).

Wheezing, adalah bunyi musical terdengar [Link] atau pendek ngiik.


Yang bisa didapat pada fase inspirasi dan atau ekspirasi, bahkan biasanya
lebih jelas pada ekspirasi. Wheezing terjadi karena adanya exsudat
lengket tertiup aliran udara dan bergetar nyaring.

Pleural Friction-Rub, suatu bunyi yang terdengar kering persis seperti


suara gosokan Amplas pada kayu. (catatan;Rales dan Ronchi terdengar
basah karena seperti gemercik cairan), pleural friction rub terjadi
karena peradangan pleura terdengar sepanjang fase pernapasan
(inspirasi sepenuhnya). Paling jelas suara ini terdengar di daerah posterilateral bawa

Anda mungkin juga menyukai