Struktur dan Fungsi Genitalia Perempuan
Struktur dan Fungsi Genitalia Perempuan
Tinjauan Pustaka
ORGAN GENITALIA FEMININA
Organ Genitalia Eksterna
1. Vulva
Meliputi seluruh struktur eksternal yang dapat dilihat mulai dari pubis sampai perineum,
yaitu mons pubis, labia mayora dan labia minora, klitoris, hymen, vestibulum, muara
uretra, berbagai kelenjar, dan struktur vaskular.
1.
2.
3.
4.
5.
Glans Klitoridis
9. Ostium Vaginae
Labia mayora
10. Mons Pubis
Vestibulum Vaginae
Hymen
12. Preputium Klitoridis
Comissura Laborum posterior
7.
Labia minora
Suatu lipatan tipis dari kulit sebelah dalam labia mayora. Ke depan, labia minora bertemu
yang di atas klitoris membentuk preputium klitoridis dan di bawah klitoris membentuk
frenulum klitoridis. Ke belakang, preputium juga bertemu dan membentuk fossa
navikulare. Pada perempuan yang belum pernah bersalin, fossa navikulare tampak utuh,
cekung seperti perahu; pada perempuan yang sudah pernah bersalin nampak tebal dan
tidak rata. Kulit yang meliputi labia minora mengandung banyak glandula sebasea dan
juga ujung-ujung saraf yang menyebabkan struktur ini sangat sensitif. Jaringan ikatnya
mengandung banyak pembuluh darah dan beberapa otot polos yang menyebabkan labia
minora dapat mengembang.
5. Klitoris
Ukurannya kurang lebih sebesar kacang hijau, tertutup oleh preputium klitoridis dan
terdiri atas glans klitoridis, korpus klitoridis, dan dua krura yang menggantungkan klitoris
ke os pubis. Glans klitoridis terdiri atas jaringan yang dapat mengembang, penuh dengan
saraf sehingga sangat sensitif.
6. Vestibulum
Berbentuk lonjong dengan ukuran panjang dari depan ke belakang dan dibatasi di depan
oleh klitoris, kanan dan kiri oleh kedua labia minora dan di belakang oleh perineum.
Sekitar 1.5 cm di bawah klitoris ditemukan orifisium uretra eksternum berbentuk
membujur 45 mm dan tidak jarang sukar ditemukan oleh karena tertutup oleh lipatanlipatan selaput vagina. Tidak jauh dari lubang kemih, di kiri dan di kanan bawahnya dapat
terlihat dua ostia skene. Saluran skene analog dengan kelenjar prostat pada laki-laki. Di
kiri dan di kanan bawah di dekat fossa navikulare, terdapat kelenjar bartolin. Pada saat
coitus kelenjar bartolin mengeluarkan sekret.
7. Bulbus Vestibuli
Merupakan pengumpulan vena terletak di bawah mukosa vestibulum, di dekat ramus
ossis pubis. Panjangnya 34 cm, lebarnya 12 cm, dan tebalnya 0.51 cm. Bulbus
vestibuli mengandung banyak pembuluh darah, sebagian tertutup oleh muskulus ischiocavernosus vagina. Embriologik sesuai dengan korpus kavernosum pada penis. Pada
waktu persalinan biasanya kedua bulbus tertarik ke atas dan ke bawah arkus pubis, akan
tetapi bagian bawahnya yang melingkari vagina sering mengalami cedera dan sesekali
timbul hematoma vulva atau perdarahan.
8. Introitus Vagina
Ditutupi oleh hymen dan pada seorang perempuan yang virgin selalu ditutupi oleh labia
minora. Hymen memiliki bentuk yang bermacam-macam, dari yang semilunar sampai
yang berbentuk septum. Konsistensinya pun berbeda-beda, mulai dari yang kaku sampai
yang lunak sekali. Hiatus himenalis berukuran mulai dari seujung jari, hingga dapat
dimasuki oleh dua jari. Umumnya hymen robek pada coitus dan terjadi pada arah jam 5
atau jam 7 dan robekan sampai mencapai dasar hymen tersebut.
9. Perineum
Terletak di antara vulva dan anus, panjangnya rata-rata 4 cm. Jaringan yang mendukung
perineum terutama adalah diafragma pelvis dan diafragma urogenitalis. Diafragma pelvis
terdiri atas M. Levator Anii dan M. Coccygis Posterior serta fasia yang menutupi kedua
otot ini. Diafragma pelvis letaknya lebih eksternal disbanding diafragma urogenitalis
meliputi M. Transversus Perineii Profunda, M. Constrictor Uretra, dan fasia interna
maupun eksterna yang menutupinya. Perineum mendapat pasokan darah dari A. Pudenda
Interna dan cabang-cabangnya. Persarafan perineum terutama oleh N. Pudendus dan
cabang-cabangnya. Oleh sebab itu, dalam menjahit robekan perineum, dapat dilakukan
anestesi blokk pudendus. M. Levator anii kiri dan kanan bertemu di tengah-tengah di
antara anus dan vagina yang diperkuat oleh tendon sentral perineum. Di tempat ini
bertemu dengan otot-otot bulbo kavernosus, M. Transversus Perineii Superfisialis, dan m.
Sfingter Anii Eksternal. Struktur ini membentuk perineal body, yang memberi dukungan
pada perineum. Dalam persalinan sering mengalami laserasi, kecuali dilakukan
episiotomi yang adekuat.
2. Letak Simfisis Pubis
3. Klitoris
6. M. Ischiocavernosus
9. M. Levator Ani
11. M. Sphincter Ani Eksternus
12. M. Gluteus Maksimus
13. Os. Coccygis
15. Ostium Urethrae Eksternum
16. Diafragma perlvis et fascia musculi
transversi perinei profunda
17. Ostium vaginae
18. M. Transversus Perinei Superficialis
20. M. Bulbospongiosus
21. M. Obturator Internus
2. Crus klitoridis
3. Bulbus vestibuli
5. Glans klitoridis
28. Anus
7. Labia minora
8. Ostium vaginae
9. Gld. Vestibularis mayor
17. M. Transversus perinei profundus et fascia
18. A. profunda klitoridis
19. M. Transversus perinei superficialis
20. M. levator Ani
tengahnya ada bagian yang keras, disebut kolumna rugarum. Lipatan-lipatan ini
memungkinkan pelebaran vagina dalam proses persalinan sesuai dengan fungsinya
sebagai bagian lunak dari jalan lahir.
Di vagina tidak terdapat kelenjar bersekresi. Epitel vagina terdiri atas epitel gepeng tanpa
lapisan tanduk dan di bawahnya terdapat jaringan ikat yang banyak mengandung
pembuluh darah. Pada kehamilan terdapat hipervaskularisasi jaringan tersebut, sehingga
dinding vagina tampak kebiru-biruan (livide). Di bawah jaringan ikat terdapat otot-otot
yang susunannya sesuai dengan susunan otot usus. Bagian dalamnya terdiri atas M.
Sirkularis dan bagian luarnya M. Longitudinalis. Di sebelah luar otot-otot ini terdapat
fasia yang pada usia lanjut akan berkurang elastisitasnya. Bagian atas vagina berasal dari
duktus mulleri, sedangkan bagian bawahnya dibentuk oleh sinus urogenitalis.
Di sebelah depan, dinding vagina berhubungan dengan uretra dan vesika urinaria yang
dipisahkan oleh jaringan ikat yang biasa disebut septum vesikovaginalis. Di sebelah
belakang, di antara dinding vagina bagian bawah dan rektum terdapat jaringan ikat yang
disebut septum rektovaginalis. Seperempat bagian atas dinding vagina belakang terpisah
dari rektum oleh kantong rektouterina yang sering disebut sebagai cavum douglasi.
Dinding kanan dan kiri vagina berhubungan dengan M. Levator Anii. Puncak vagina
dipisahkan oleh serviks, terbentuk forniks anterior, posterior, dan lateralis kiri dan kanan.
Oleh karena puncak vagina belakang lebih tinggi daripada puncak vagina bagian depan.
Maka forniks posterior lebih dalam dari forniks anterior.
Forniks memiliki arti klinis karena organ internal pelvis dapat dipalpasi melalui dinding
forniks yang tipis. Selain itu, forniks posterior dapat digunakan sebagai akses bedah
untuk masuk ke dalam rongga peritoneum. Vagina mendapat perdarahan dari A. Uterina,
yang melalui cabangnya ke serviks dan vagina bagian 1/3 atas, A. Vesikalis Inferior, yang
melalui cabangnya memberikan darah ke vagina bagian 1/3 tengah. Dan A. Hemoroidalis
Mediana dan A. Pudendus Interna, yang memberikan darah ke vagina bagian 1/3 bawah.
Darah kembali melalui pleksus vena yang ada, antara lain pleksus pampiniformis ke V.
Hipogastrika dan V. Iliaka ke atas.
Getah bening yang berasal dari 2/3 bagian atas vagina akan melalui kelenjar getah bening
di daerah vasa iliaka, sedangkan yang berasal dari 1/3 bagian bawah akan melalui
kelenjar getah bening di regio inguinalis.
8. Uterus
9. Excavatio Vesikouterina
[Link] rekti
29. Vagina
33. Ureter
13. Urethra
34. Peritoneum
14. Klitoris
35. Ureter
38. Fimbriae
2. Uterus
Bentuknya seperti buah avokad atau buah pir yang sedikit gebeng ke arah depan
belakang. Ukurannya sebesar telur ayam dan memiliki rongga. Dindingnya terdiri atas
otot-otot polos. Ukuran panjang uterus adalah 77.5 cm, lebar di atas 5.25 cm, tebal 2.5
cm, dan tebal dinding 1.25 cm. Letak uterus dalam keadaan fisiologis adalah
anteversiofleksio (serviks ke depan dan membentuk sudut dengan vagina, sedangkan
korpus uteri ke depan dan membentuk sudut dengan serviks uteri).
Uterus terdiri atas fundus, korpus, dan serviks. Fundus adalah bagian uterus proksimal, di
situ ketika kedua falloppii masuk ke uterus. Di dalam klinik penting untuk diketahui
sampai di mana fundus uteri berada, oleh karena tuanya kehamilan dapat diperkirakan
dengan perabaan pada fundus uteri. Korpus uteri adalah bagian uterus yang terbesar. Pada
kehamilan bagian ini memiliki fungsi utama sebagai tempat janin berkembang. Rongga
yang terdapat di korpus uteri disebut kavum uteri. Serviks uteri terdiri dari pars vaginalis
servisis uteri yang dinakan sebagai porsio dan pars supravaginalis servisis uteri yaitu
bagian serviks yang berada di atas vagina.
Saluran yang terdapat dalam serviks disebut kanalis servikalis, berbentuk seperti saluran
lonjong dengan panjang 2.5 cm. Saluran ini dilapisi oleh kelenjar-kelenjar serviks,
berbentuk sel-sel torak bersilia dan berfungsi sebagai reseptakulum seminis. Pintu ostium
uteri eksternum. Kedua pintu penting dalam klinik, misalnya penilaian terhadap jalannya
persalinan, dan abortus. Secara histologic dari dalam ke luar, uterus terdiri atas
endometrium di korpus uteri dan endoserviks di serviks uteri, otot-otot polos, dan lapisan
serosa, yakni peritoneum viserale. Endometrium terdiri dari sel epitel kubus, kelenjarkelenjar dan jaringan dengan banyak pembuluh darah yang berlekuk-lekuk. Endometrium
melapisi seluruh kavum uteri yang memiliki arti penting dalam siklus haid perempuan
dalam masa reproduksi. Dalam masa haid, endometrium sebagian besar dilepaskan, untuk
kemudian tumbuh lagi dalam masa proliferasi yang selanjutnya diikuti dengan masa
sekretori. Masa-masa ini dapat diperiksa dengan melakukan biopsi endometrium.
Lapisan otot polos uteri di sebelah dalam berbentuk sirkular dan sebelah luar berbentuk
longitudinal. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan otot oblik, berbentuk
anyaman. Lapisan ini paling penting dalam persalinan oleh karena sesudah plasenta lahir,
otot lapisan ini berkontraksi kuat dan menjepit pembuluh-pembuluh darah yang terbuka
di tempat itu, sehingga perdarahan terhenti.
Uterus sebenarnya terapung-apung dalam rongga pelvis, terapi terfiksasi dengan baik
oleh jaringan ikat dan ligamenta yang menyokongnya. Ligamenta yang memfiksasi
uterus adalah sebagai berikut :
a. Ligamentum Kardinal (Mackenrodt) kiri dan kanan, yakni ligamentum yang
terpenting yang mencegah uterus tidak turun. Terdiri atas jaringan ikat tebal yang
berjalan dari serviks dan puncak vagina ke arah lateral dinding pelvis. Di
dalamnya ditemukan banyak pembuluh darah, antara lain vena dan arteri uterine.
b. Ligamentum Sakro-Uterina kiri dan kananm, yakni ligamentum yang menahan
uterus supaya tidak banyak bergerak. Berjalan dari serviks bagian belakang kiri
dan kanan, ke arah os sakrum kiri dan kanan.
c. Ligamentum rotundum kiri dan kanan, yakni ligamentum yang menahan uterus
dalam posisi antefleksi. Berjalan dari sudut fundus uteri kiri dan kanan, ke daerah
inguinal kiri dan kanan. Pada kehamilan kadang-kadang terasa sakit di daerah
inguinal waktu berdiri cepat, karena uterus berkontraksi kuat dengan ligamentum
Di samping ligamenta tersebut di atas ditemukan pada sudut kiri dan kanan belakang
fundus uteri ligamentum ovarii proprium kiri dan kanan yang menahan ovarium. Ismus
adalah bagian uterus antara serviks dan korpus uteri, diliputi oleh peritoneum viserale
yang mudah sekali digeser atau digerakkan di daerah plika vesikouterina. Di tempat yang
longgar inilah dinding uterus dibuka jika melakukan seksio saesaria trans peritoneal
profunda. Dinding belakang uterus seluruhnya diliputi oleh peritoneum vise3rale yang di
bagian bawah membentuk suatu kantong yang disebut kavum douglasi. Di dalam klinik
rongga ini memilik arti penting. Kavum Douglasi akan menonjol jika terdapat cairan atau
tumor di situ.
Uterus diperdarahi oleh arteria uterine kiri dan kanan yang terdiri atas ramus asendens
dan ramus desendens. Pembuluh darah ini berasal dari arteria iliaka interna (arteria
hipogastrika) yang melalui dasar ligamentum latum masuk ke dalam uterus di daerah
serviks kira-kira 1.5 cm di atas forniks lateralis vagina.
Kadang-kadang dalam persalinan terjadi perdarahan banyak oleh karena robekan serviks
ke lateral sampai mengenai cabang-cabang arteria uterine. Robekan ini antara lain
disebabkan oleh pimpinan persalinan yang salah, persalinan dengan alat misalnya
ekstraksi cunam yang dilakukan kurang cermat dan sebagainya. Dalam hal ini penjahitan
robekan serviks harusnya dilakukan dengan hati-hati. Kadang-kadang disangka bahwa
robekan tersebut sudah dijahit dengan baik oleh karena perdarahan tidak lagi tampak,
padahal perdarahan tetap berlangsung ke dalam parametrium. Timbullah hematoma di
dalam parametrium yang sulit didiagnosis dan dapat mengakibatkan ibu jatuh dalam
keadaan syok. Kita harus berhati-hati pula jangan sampai ureter yang dekat di daerah
tersebut ikut terjahit, sehingga terjadi anuria yang disusul dengan uremia dan berakhir
dengan kematian.
Pembuluh darah lain yang memperdarahi uterus adalah arteria ovarika kiri dan kanan.
Pembuluh darah ini berjalan dari lateral dinding pelvis, melalui ligamentum infundibulopelvikum mengikuti tuba falloppii, beranastomosis dengan ramus asendens arteria uterine
di sebelah lateral, kanan dan kiri uterus. Bersama-sama dengan arteri tersebut di atas
terdapat vena-vena yang kembali melalui pleksus vena ke vena hipogastrika.
1. Uterus
2. Ovarium
12. A. Ovarika
3. Tuba Uterina
5. Porsio
6. Vagina
7. Klitoris
17. A. Uterina
9. Ostium Vaginae
10
2. Ovarium
3. Tuba Uterina
4. Ligamentum Round
13. Ligamentum Suspensorium
14. A. Iliaka Interna
22. Limfonodus Lumbal
23. Limfonodus Iliaka Eksternal
24. Limfonodus Inguinal
25. Aorta Abdominal
26. A. Iliaka Eksterna
27. Limfonodus Sakral
28. Limfonodus Iliaka Internal
11
Saraf yang berasal dari T11 dan T12 mengandung saraf sensorik dari uterus dan
meneruskan perasaan sakit dari uterus ke pusat saraf. Saraf sensorik daru serviks dan
bagian atas vagina melalui nervus pudendus dan nervus ileoinguinalis.
3. Tuba Falloppii
Tuba Falloppii terdiri atas :
a. Pars Interstisialis yang terdapat pada dinding uterus
b. Pars Ismika yang merupakan bagian medial tuba yang sempit seluruhnya
c. Pars Ampullaris yaitu bagian yang berbentuk sebagai saluran agak lebar, tempat
konsepsi terjadi
d. Infundibulum yaitu bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan
memiliki fimbria. Fimbria penting artinya bagi tuba untuk menangkap telur dan
selanjutnya menyalurkan telur ke dalam tuba.
Bagian luar tuba diliputi oleh peritoneum viserale yang merupakan bagian dari
ligamentum latum. Otot dinding tuba terdiri atas (dari luar ke dalam) otot longitudinal
dan otot sirkular. Lebih dalam lagi didapatkan selaput yang berlipat-lipat dengan sel-sel
yang bersekresi dan bersilia yang khas, berfungsi untuk menyalurkan telur atau hasil
konsepsi ke arah kavum uteri dengan arus yang ditimbulkan oleh getaran rambut getar
tersebut.
1. Ovarium
11. Infundibulum
2. Mesovarium
3. Fundus Uteri
13. Mesosalping
4. Excavatio Vesicouterina
5. Serviks Uteri
6. Porsio
7. Vagina
8. Crus Klitoridis
9. Labia Minora
[Link] Klitoridis
10. Fimbriae
20. Hymen
dalam tjngkat perkembangan yang berbeda, yaitu dari satu sel telur yang dikelilingi oleh
satu lapisan sel-sel saja sampai menjadi Folikel De Graaf yang matang terisi dengan
liquor folikuli, mengandung estrogen dan siap untuk berovulasi.
Folikel De Graaf yang matang terdiri atas :
a. Ovum yakni suatu sel besar dengan diameter 0.1 mm yang mempunyai nukleus
dengan anyaman kromatin yang jelas sekali dan satu nucleolus pula
b. Stratum Granulosum yang terdiri atas sel-sel granulosa
c. Teka Interna suatu lapisan yang melingkari stratum granulosum dengan sel-sel
lebih kecil daripada sel granulosa
d. Teka Eksterna di luar teka interna yang terbentuk oleh stroma ovarium yang
terdesak
Setelah ovulasi, sel-sel stratum granulosum di ovarium mulai berproliferasi dan masuk ke
ruangan bekas tempat ovum dan liquor folikuli. Demikian pula jaringan ikat dan
pembuluh-pembuluh darah kecil yang ada di situ. Biasanya timbul perdarahan sedikit,
yang menyebabkan bekas folikel berwarna merah dan disebut sebagai korpus rubrum.
Umur korpus rubrum ini hanya sebentar. Di dalam sel-selnya timbul pigmen kuning dan
korpus rubrum menjadi korpus luteum. Sel-selnya membesar dan mengandung lutein
dengan banyak kapilar dan jaringan ikat di antaranya. Di tengah-tengah masih terdapat
bekas perdarahan. Jika tidak ada pembuahan ovum, sel-sel yang besar serta mengandung
lutein mengecil dan menjadi atrofik, sedangkan jaringan ikatnya bertambah. Korpus
luteum lambat laun menjadi korpus albikans. Jika pembuahan terjadi, korpus luteum tetap
ada, malahan menjadi lebih besar, sehingga memiliki diameter 2.5 cm pada kehamilan 4
bulan.
1. Fundus Uteri
2. Tuba Uterina
4. Ovary
5. Infundibulum
10. Vesika Urinaria
19. Kanalis servikalis
20. Porsio
21. Vagina
22. Membran mukosa uterus
23. Forniks Anterior
14
15
16
Gambar 2.2. Gambaran tiga diameter anteroposterior pintu atas panggul: konjugata vera,
konjugata obstetris dan konjugata diagonalis yang dapat diukur secara klinis. Diameter
anteroposterior panggul tengah juga diperlihatkan. (P = promontorium sakrum; Sim =
simfisis pubis). Sumber: Cunningham, et al. Williams Obstetrics, 23rd ed.
b. Bidang panggul tengah (dimensi panggul terkecil).
Panggul tengah diukur setinggi spina iskiadika, atau bidang dimensi panggul terkecil. Memiliki
makna khusus setelah engagement kepala janin pada partus macet. Diameter interspinosus,
berukuran 10 cm atau sedikit lebih besar, biasanya merupakan diameter pelvis terkecil. Diameter
anteroposterior setinggi spina iskiadika normal berukuran paling kecil 11, 5cm.
17
Gambar 2.3. Panggul wanita dewasa yang memperlihatkan diameter anteroposterior dan
transversal pintu atas panggul serta diameter transversal (interspinosus) panggul tengah.
Konjugata obstetris normalnya lebih dari 10 cm. Sumber: Cunningham, et al. Williams
Obstetrics, 23rd ed.
c. Bidang pintu bawah panggul (apertura pelvis inferior).
Pintu bawah panggul terdiri dari dua daerah yang menyerupai segitiga. Area-area ini memiliki
dasar yang sama yaitu garis yang ditarik antara dua tuberositas iskium. Apeks dari segitiga
posteriornya berada di ujung sakrum dan batas lateralnya adalah ligamentum sakroiskiadika dan
tuberositas iskium. Segitiga anterior dibentuk oleh area di bawah arkus pubis. Tiga diameter
pintu bawah panggul yang biasa digunakan yaitu: anteroposterior, transversal, dan sagital
posterior.
18
Gambar 2.4. Pintu bawah panggul dengan diameter-diameter yang penting. Perhatikan
bahwa diameter anteroposterior dapat dibagi menjadi diameter sagital anterior dan
posterior. Sumber: Cunningham, et al. Williams Obstetrics, 23rd ed.
d. Bidang dengan dimensi panggul terbesar (tidak memiliki arti klinis).
(Cunningham, et al., 2010)
Bentuk-bentuk Panggul
Caldwell dan Moloy mengembangkan suatu klasifikasi panggul yang masih digunakan hingga
saat ini. Klasifikasi Caldwell-Molloy didasarkan pada pengukuran diameter transversal terbesar
di pintu atas panggul dan pembagiannya menjadi segmen anterior dan posterior. Bentuk segmensegmen ini menentukan klasifikasi panggul menjadi: panggul ginekoid, anthropoid, android,
ataupun platipeloid. Karakter segmen posterior menentukan tipe panggulnya, dan karakter
segmen anterior menetukan kecenderungannya. Kedua hal ini ditentukan karena kebanyakan
panggul bukan merupakan tipe murni, melainkan campuran, misalnya, panggul ginekoid dengan
kecenderungan android berarti panggul posteriornya berbentuk ginekoid dan panggul anteriornya
berbentuk android. (Cunningham, et al., 2010)
Panggul ginekoid dianggap sebagai panggul normal wanita, sementara panggul android
merupakan varian dari panggul pria. Panggul android lebih sering ditemukan pada wanita dengan
akitvitas fisik yang berat selama masa remaja. Panggul android juga ditemukan pada wanita yang
mengalami keterlambatan dalam posisi tegak, yaitu setelah usia 14 bulan, sementara panggul
platipeloid lebih sering ditemukan pada wanita yang memiliki kemampuan posisi tegak sebelum
umur 14 bulan (Leong, 2006).
19
PERSALINAN NORMAL
Partus adalah suatu proses pengeluaran konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus
melalui vagina ke dunia luar. Kelahiran adalah proses di mana janin dan ketuban keluar melalui
jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang
berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. Persalinan
normal adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala yang dapat hidup dengan tenaga
ibu sendiri dan uri, tanpa alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang pada umumnya berlangsung
kurang dari 24 jam melalui jalan lahir.
Partus biasa (Normal) disebut juga partus spontan, adalah proses lahirnya bayi pada LBK
dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang
umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
Partus Luar Biasa (Abnormal) adalah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat atau
melalui dinding perut dengan operasi caesarea.
20
Kala I Persalinan
Tanda dan gejala inpartu
menit)
Cairan lendir bercampur darah (show) melalui vagina
serviks
secara bertahap
Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap (kontraksi dianggap
adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung
selama 40 detik atau lebih)
Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm, akan terjadi
dengan kecepatan rata-rata 1 cm perjam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1cm
hingga 2 cm (multipara)
Pada fase ini berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 subfase, yaitu :
o Periode akselerasi, berlangsung 2 jam pembukaan menjadi 4 cm
21
o Periode dilatasi maksimal (steady) : selama 2 jam pembukaan berlangsung cepat menjadi
9 cm
o Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam pembukaan jadi 10 cm atau
lengkap
Manajemen Aktif kala I
Menentukan Presentasi
3
Menentukan Penurunan Bagian Terbawah Janin
Periksa Dalam
22
Kala II Persalinan
Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam yang hasilnya :
Penurunan Kepala Bayi setiap 30 menit melalui pemeriksaan (pemeriksaan luar) dan
pemeriksaan dalam setiap 60 menit atau jika ada indikasi, hal ini dilakukan lebih cepat
Warna cairan ketuban jika selaputnya sudah pecah (jernih atau bercampur mekonium atau
darah)
4
Apakah ada presentasi majemuk atau tali pusat di samping atau terkemuka
Massase fundus
Kala IV Persalinan
Pemantauan Pada Kala IV
Massase uterus
Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan anda secara melintang dengan
pusat sebagai patokan.
Dengan cara melihat volume darah yang terkumpul dan memperkirakan berapa banyak
botol 500ml dapat menampung semua darah itu. Bisa juga dengan cara tidak langsung
dengan cara melalui penampakan gejala dan tekanan darah
24
Terdapat lima aspek dasar yang penting dan saling terkait dalam asuhan persalinan yang
bersih dan aman. Aspek-aspek tersebut melekat pada setiap persalinan, baik normal maupun
patologis. Aspek tersebut adalah sebagai berikut :3
persalinan dengan tindakan, seperti ekstravasasi vakum, forceps, dan seksio sesarea.
Pencegahan Infeksi
Pencegahan infeksi adalah bagian esensial dari asuhan lengkap yang diberikan pada ibu dan
bayi baru lahir dan harus dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan
kelahiran, saat memberikan asuhan dasar selama kunjungan antenatal atau pasca
diagnosis serta membuat rencana asuhan atau perawatan bagi ibu atu bayinya.
Rujukan
25
Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas kesehatan rujukan atau yang
memiliki sarana lebih lengkap diharapkan mempu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi
baru lahir. Meskipun sebagian besar ibu menjalani persalinan normal, sekitar 10-15% di
antaranya akan mengalami masalah selama proses persalinan dan kelahiran sehingga perlu
dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan. Setiap tenaga penolong harus mengetahui lokasi
fasilitas rujukan terdekat yang mampu untuk melayani kegawatdaruratan obstetric dan bayi
baru lahir, seperti :
- Pembedahan
- Transfusi darah
- Persalinan menggunakan ekstraksi vakum atau forceps
- Antibiotik
- Resusitasi bayi baru lahir dan asuhan lanjutan bagi baru lahir.
26
II.
III.
IV. Menyiapkan Ibu dan Keluarga untuk Membantu Proses Pimpinan Meneran
11. Memberitahu Ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik. Membantu Ibu berada
dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya.
27
berbaring terlentang).
Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.
Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu.
Menganjurkan asupan cairan per oral.
Menilai DJJ setiap lima menit.
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera dalam waktu 120
menit (2 jam) meneran untuk ibu primipara atau 60/menit (1 jam) untuk ibu multipara,
28
perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernapas cepat saat
kepala lahir.
Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera hisap mulut dan hidung setelah kepala
lahir menggunakan penghisap lendir DeLee disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau bola
karet penghisap yang baru dan bersih.
19. Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kasa yang bersih.
20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan
kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi :
Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala
bayi.
Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat , mengklemnya di dua
tempat dan
memotongnya.
21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan.
Lahir Bahu
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkna kedua tangan di masing-masing
sisi muka bayi. Menganjurkan ibu memeran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut
menariknya ke arah bawah dan kearah keluar hingga bahu arterior muncul di bawha arkus
pubis dan kemudian dengan lembut menarik ke arah atas dan kearah luar untuk melahirkan
bahu posterior.
23. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di
bagian bawah ke arah perineum tangan, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke
tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum,
gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan
tangan anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat
keduanya lahir.
24. Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas (anterior) dari
punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat punggung dari kaki lahir.
Memegang kedua mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.
VII.
29
27. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan
oada tali pusat mulai dari klem ke arah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem
pertama (ke arah ibu).
28. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting dan memotong tali
pusat di antara dua klem tersebut.
29. Mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih
dan kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka. Jika bayi mengalami
kesulitan bernapas, mengambil tindakan yang sesuai.
30. Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan
memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.
Oksitosin
31. Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen untuk
menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.
32. Memberi tahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik.
33. Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, memberikan suntikan oksitosin 10 unit IM di
1/3 paha kanan atas ibu bagian luar, setelah mengasparasinya terlebih dahulu.
Penegangan Tali Pusat Terkendali
34. Memindahkan klem pada tali pusat.
35. Meletakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang pubis dan
menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus.
Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.
36. Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan ke arah bawah pada
tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah
uterus dengan cara menekan uterus ke arah atas dan belakang (dorso kranial) dengan hatihati untuk membantu mencegah terjadinya inversio uteri, jika plasenta tidak lahir setelah
30-40 detik, menghentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi berikut
mulai.
Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang anggota keluarga untuk
melakukan rangsangan puting susu.
Mengeluarkan Plasenta
37. Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat ke arah
bawah dan kemudian ke arah atas, mengikuti kurve jalan lahir sambil meneruskan tekanan
berlawanan arah pada uterus.
30
Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.
Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penegangan tali pusat selama 15 menit:
Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit IM.
Menilai kandung kemih dan mengkataterisasi kandung kemih dengan menggunakan
teknik aseptik jika perlu.
Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
Mengulangi penegangan tali pusat selama 15 menit berikutnya.
Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam 39 menit sejak kelahiran bayi.
38. Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan
menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta dengan dua tangan dan dengan hati-hati
memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan lembut perlahan melahirkan
selaput ketuban tersebut.
Jika selaput ketuban tidak robek, memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau
steril dan memeriksa vagina dan serviks ibu dengan seksama. Menggunakan jari-jari
tangan atau klem atau forspes disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk melepaskan
bagian selaput yang tertinggal.
Pemijatan Uterus
39. Segera setelah kedua plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus,
meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar
dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi keras).
VIII.
Menilai Pendarahan
40. Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin dan selaput
ketuban untuk memastikan bahwa selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta
di dalam kantung plastik atau tempat khusus.
Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase selama 15 detik mengambil
tindakan yang sesuai.
41. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit laserasi yang
mengalami pendarahan aktif.
31
IX.
persalinan.
Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.
32
56. Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan keluarga
untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkan.
57. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan klorin 0,5%
dan membilas dengan air bersih.
58. Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, membalikkan bagian
dalam ke luar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
59. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
Dokumentasi
60. Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang)
33
34
35
36
37
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Fokus utama dari persalinan normal adalah mencegah terjadinya komplikasi.
Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah bayi lahir akan mengurangi kesakitan
dan kematian ibu serta bayi baru lahir. Hal ini dikarenakan sebagian besar persalinan di
Indonesia masih terjadi di tingkat pelayanan kesehatan primer dengan penguasaan
keterampilan dan pengetahuan petugas kesehatan di fasilitas pelayanan tersebut masih belum
memadai.
3.2 Saran
Penyusun menyadari bahwa refreshing ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu,
saran kritik yang membangun sangat dibutuhkan untuk membuat refreshing yang lebih baik
di masa yang akan datang.
38
DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo, Pror. Dr. dr. Sarwono, [Link]. Ilmu Kebidanan Ed. 4, Cet. 1. PT. Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2008. hal.334-347.
4. Cunningham. Leveno. Bloom. Spong. Dashe. Hoffman. et all. In Normal labor : Williams
Obstetric. Ed 24. Mc Graw Hill.2014
39