Chapter 18
Chapter 18
PARTIKEL ELEMENTER
Dosen Pembina:
Prof. Dr. H. Prabowo, M. Pd
Oleh:
Gigih Besar Mukti Raharja (157795005)
Dama Yanti Hilda (157795035)
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ................................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................
18.1. PENGANTAR..........................................................................
30
BAB I
PENDAHULUAN
18.1. Pengantar
Definisi secara pasti yang menjelaskan tentang partikel elementer tidaklah
sederhana. Fakta yang menjelaskan tentang pernyataan ini mempunyai banyak
ragam. Filosofis kuno dari Yunani dan Hindu berspekulasi bahwa semua bahan
pengamatan yang berasal dari empat atau lima dasar elemen. Bagaimanapun
juga tidak ada data ilmiah yang mendasari spekulasi mereka.
Pada awal abad 19, untuk pertama kalinya dilakukan suatu percobaan
formulasi ilmiah dari struktur bahan dengan dasar dari konsep atom dan molekul.
Sampai akhir abad 19, gagasan dari atom-atom yang terbuang mengarahkan para
peneliti pada penembakan elektrisitas melalui gas. Pada saat itu, ditemukan suatu
partikel yaitu electron yang ditemukan oleh J. J. Thompson yang telah mengenali
secara keseluruhan pada atom. Kemudian penemuan sinar-x, radioaktivitas dan
penelitian terhadap sifat dasar dari parikel dan selama peluruhan
radioaktivitas yang membantu kita dalam mengklarifikasikan ide-ide kita
mengenai struktur bahan secara lebih lanjut mengenai model atom BohrRutherford.
Hasil dari studi mengenai sifat dari sinar positif membuka jalan dalam
penemuan proton dimana dikenal sebagai partikel elementer dimana menjadi inti
dengan atom yang ringan yaitu hydrogen. Penemuan dari proton sebagai partikel
elementer berasal dari hipotesis kuantum cahaya dari Einstein dan penghamburan
Compton dari energy tinggi seperti radiasi (sinar-x).
Selanjutnya neutron yang ditemukan (1931). Hipotesis proton-neutron
pada komposisi inti atom yang selanjutnya dijelaskan pada pengamatan sifat inti.
Prediksi Dirac mengenai keberadaan dari positron dengan dengan
penemuan Anderson (1933) yang menjadi bukti dari keberadaan pasangan partikel
dan anti partikel (lihat 19.6). Hipotesis neutrino yang dikemukakan oleh Pauli
(1931) menjelaskan tentang energy yang hilang pada peluruhan yang ditemukan
pada penemuan partkel elementer yang massanya hilang sekitar seperempat abad
kemudian.
Penemuan dari dua partikel yang berumur pendek yaitu muon dan pion
pada sinar kosmik berturut-turut pada tahun 1937 dan 1947.
Berdasarkan itu, para pengamatan partikel kurang lebih dilakukan
berdasarkan
formula secara teoritis mengenai struktur atom dan inti.
Bagaimanapun, penemuan pertama kali pada sinar kosmik dan selanjutnya
dilakukan di laboratorium dengan mesin energy tinggi yang mengantarkan pada
revolusi konsep mengenai sifat dasar dari partikel elementer dan interaksi dasar.
BAB II
PEMBAHASAN
18.2. Kinematika dari Tumbukan Berenergi Tinggi
Banyak partikel elementer seperti pion, kaon, dan hyperon yang berasal
dari tumbukan energy tinggi (tumbukan relativistic). Beberapa seperti muon
berasal dari peluruhan lemah dari partikel elementer lainnya. Pada pembahasan
ini, kita akan meninjau kinematika tumbukan antara dua partikel (p,p) pada energy
relativistik. Cakupan materinya dibatasi pada setiap kasus dimana hasil tumbukan
yang berasal dari dua partikel saja, kemudian hasilnya dapat digunakan untuk
mengeneralisasikan yang lebih dari dua partikel. Dengan mengingat reaksi berikut
X1+ X2 X3+ X4
(18.21)
Kita dapat menunjukkan energy (total) dan momentum dari partikel pada
persamaan diatas dengan W dan p, massa disimbolkan dengan M. X1
menunjukkan partikel datang dengan massa M1 mempunyai energy total W1 dan
momentum p1 (pada kerangka laboratorium atau system L). Target X 2 diam pada
system L sehingga p2 = 0 dan energinya diam W2. Kita menggunakan system
satuan dari kecepatan cahaya yang sama (c = 1) sehingga M1c2, M2c2, dsb. yang
dapat diganti -ganti dengan M1, M2, dsb. dimana semuanya ditunjukkan dengan
satuan energy. Lebih lanjut, hasil pc mempunyai satuan energy yang dapat diganti
dengan p. aplikasi hukum konservatif energy dan momentum pada persamaan
(18.2-1) yang memberikan
W 1 +W 2 W 3+W 4
(18.22)
p1+ p 2 p 3+ p 4
(18.2-
3)
Dengan menggunakan hubungan relativistic antara energy dan momentum,
kita peroleh
W 2n= p 2n+ M 2n
(18.24)
Untuk partikel yang berbeda (n = 1, 2, 3, atau 4).
Kita mengetahui teori relativistic khusus bahwa energy total W dan ketiga
komponen dari vector momentum terdiri empat vector p =( W , p ) , sehingga
p p
(18.2-
5)
p2 adalah akar dari vector momentum tiga dimensi. Untuk system partikel
(baik keadaan awal maupun keadaan akhir), kita peroleh
2
( W n) ( p n) =invariant
p p =
(18.2-
6)
Untuk keadaan awal (i), kita dapatkan
2
2
( p p )i=( W 1+W 2 ) + ( p 1+ p 2)
2
(18.2-7)
(18.2-
8)
Pers. (18.2-8) dapat digunakan untuk menghitung energy ambang untuk
reaksi (18.2-1). Pada energy ambang ini, partikel produk X 3 dan X4 mempunyai
momentum nol sehingga p3 = p4 = 0. Jadi kita dapatkan untuk keadaan akhirnya
adalah
2
( p p )f =( M 3+ M 4 )
(18.29)
Persamaan (18.2-8) dan (18.2-9) diperoleh
M f =M 3 + M 4
M 2i +2 M 2 T 1=M 2f
M i=M 1+ M 2
dan
T1=
Atau,
( M 2f M 2i )
2M2
(18.2-10)
Untuk nilai Q diberikan
Q=M 1 + M 2M 3M 4 =M i M f
Kita peroleh energy ambang
T 1 =Eth
(18.2-11)
10)
Eth =( Q/2 M 2 ) ( M i + M f )
( Q/2 M 2 ) ( Q2 M i )
Q
( 2QM ( M + M ) /M )
1
(18.2-
12)
Kasus Non-relativistik
Pada kasus ini Q << M1 atau M2. Disini kita dapat mengabaikan
pernyataan pertama yang berada di sebelah kanan pada persamaan (18.2-12)
sehingga
Eth =Q ( M 1 + M 2 ) / M 2
(18.213)
Ini sama dengan persamaan (10.5-14) pada bab X.
Kasus relativistic ekstrim
Dimana Q >> M1, *M2, diperoleh
Q2
Eth =
2M2
(18.2-
14)
2
Q 2M2
=
1
E th
Q
Atau
(18.2-
16)
Pada contoh yang diberikan diatas Eth = 9,38 GeV pada system C.
Pada contoh kedua, kita menganggap bahwa tumbukan antara dua
electron, dimana salah satu massa diam m 0 = 0,5 MeV. Kemudian rekasinya
e+ e X 3 +X 4
, jika Q = - 2000 m0 = -103 MeV, maka energy ambang untuk
system L adalah
Eth =
2
Q( M 1+ M 2)
Q
6
3
(lihat persamaan 18.2-13), sehingga yang paling banyak dari energy sinar pada
system laboratorium sesuai dengan energy reaksi.
18.3. Produksi dan Sifat dari pi-meson
Pi-meson atau pion adalah partikel dengan massa diantara electron dan
proton. Keberadaan mereka telah diprediksi oleh Yukawa untuk menjelaskan
kekuatan gaya inti dengan jangkauan rendah. Pion ini sebagai kuantum dari gaya
ini. Teori Yukawa telah didiskusikan pada bab XVII. Yukawa juga telah
memprediksi bahwa pion dalam keadaan tidak stabil.
Sesudah itu pion ditemukan pada sinar kosmik oleh C. F. Powell dan
teman-temannya di Universitas Bristol (1947), Inggris. Sejarah ditemukannya
telah dibahas pada bab XIX.
Pion dihasilkan dari tumbukan inti-inti (N-N) mempengaruhi interaksi inti
secara kuat. Segera setelah ditemukannya pada sinar kosmik (lihat 19.12), C. G.
M. Latters dan E. Gardner dapat menghasilkan pion di laboratorium dengan
menggunakan 380 MeV sinar proton diperoleh dari synchrocyclotron 4,67 meter
(184 inchi) di Laboratorium Lawrence Barkeley. Dengan demikian pi-meson
dihasilkan melalui reaksi:
+
p+ p p++
+
p+ p d +
(18.3-1)
+
p+ p n+ n+
p+n p+ p+
Pada bagian kedua terakhir, tumbukan antara dua proton dengan neutron
pada deuteron (d) menghasilkan meson .
Pion netral dihasilkan dengan tumbukan N-N atau dengan foton
berenergi tinggi dan dengan tumbukan - + p:
N + N N +N +0
p+ p+0
(18.3-
2)
+ p +
n+ p +
(18.3-
3)
Akhirnya neutron berenergi tinggi dapat digunakan untuk menghasilkan
muatan pion:
n+n n+ p+
+
n+ p n+ n+
(18.3-
4)
n+ p p+ p+
Hasil buatan dari pion:
Pion yang dihasilkan di laboratorium dengan menembaki target yang
sesuai (seperti berilium atau grafit) dengan sinar foton berenergi tinggi.
Dengan menganggap reaksi
+
p1+ p 2 p+ n+
Pada kerangka laboratorium, proton yang datang p1 yang mengenai target
proton p2 dengan kecepatan v1L = 1c. Pada kerangka ini target proton p2 dalam
keadaan diam sehingga v2L = 0. Hasil partikel p, n, dan + mempunyai energy
kinetik tertentu pada kerangka ini.
Pada kerangka pusat massa, dua proton memmpunyai momen yang sama
dan berlawanan arah dan kecepatannya v = c. Dengan menganggap massa pada
kerangka pusat massa adalah
M=
M0
1 2
M
1
m
=
=1+
2
M 0 1
2 M0
(18.3-
6)
Ketika M0 = 938 MeV dan m = 139 MeV diperoleh
1
=1,0741
1 2
Jadi 2 = 0,133 dan = 0,365.
Dengan demikian pada kerangka pusat massa untuk kecepatan awal
tumbukan untuk p1 dan p2 adalah v = c = 0,365c. Ketika kecepatan pada
kerangka pusat massa dan kerangka laboratorium v c = v = c diperoleh kecepatan
p1 dan p2 pada kerangka laboratorium dengan menggabungkan kecepatan v dan y
dari p1 dan p2 berturut-turut pada kerangka pusat massa dengan v c secara
relativistik:
v+v
2v
v 1 L=v 1=
=
, v 2 L =0
2
(18.31+ vv /c 1+ v 2 /c 2
7)
Sehingga
Dan
1 =
v1
2
2 x 0,365
=
=
=0,644
2
c 1+
1,133
1
=1,308
121
T min=E th
dapat diperoleh
secara langsung dari persamaan (18.2-12) dengan mensubtitusi Q = 139 MeV dan
M2 = M1 = 939 MeV.
Dengan demikian energy ambang untuk menghasilkan pion pada kerangka
laboratorium adalah ~ 290 MeV untuk proton. Ini cukup lebnih tinggi
dibandingkan energy pion dalam keadaan diam yaitu 139 MeV, energy diam
(~150 MeV) memberikan momen dari tiga hasil partikel
Pada laboratorium, pion dihasilkan dengan menembaki inti yang berbeda
dengan sinar proton yang bernergi tinggi dari akselerator. Pada kasus ini, energy
10
ambang lebih kecil dibandingkan dengan energy tumbukan antar inti. Ini
menandakan bahwa nucleon dalam inti mempunyai beberapa energy kinetic dan
momentum. Dalam keadaan, momentum nucleon yang datang ditambah dengan
momentum nucleon yang ada didlaam akan membuat energy ambang lebih kecil
pada tumbukan N-N.
Sebagai sinar proton pada akselerator yang mengenai target baik yang
dihasilkan + maupun - dimana bergerak sepanjang jalur lingkar pada medan
magnet akselerator. Ketika emisi terjadi pada arah maju, - keluar sedangkan +
tidak. Untuk emisi yang terbalik, maka yang terjadi pun sebaliknya.
Energy ambang untuk penciptaan pion dengan sinar diberikan
m
E=m c 2 1+ =m c 2
(18.32 Mn
9)
Dimana sekitar 140 MeV.
Dengan demikian energy ambang pada kasus ini lebih rendah.
Massa muatan pion:
Perkiraan awal dari massa pion termasuk pengukuran jarak, berat jenis dan
hamburan sudut kecil pada emulsi inti. Metode ini telah dibahas secara detail di
7.14 bab VII.
Massa muatan pion juga telah diperkirakan dari muon dimana dihasilkan
pada peluruhan
+ v
(18.3-
10a)
p= pv
(18.3-
10b)
Dimana T adalah energy kinetic. Ketika massa neutrino lebih kecil, kita peroleh
T v = pv c
(18.311)
Disisi lain, energy total muon adalah
E= m2 c 4 + p2 c2
(18.3-12)
Tapi
11
(m c 2T v ) =( m c 2 p v c 2 )
2
2 2
( m c p v c ) =( m c +T )
Ruas sebelah kanan sama dengan kuadrat enenrgi total muon. Jadi
diperoleh
m2 c 4 2 M c 3 p+ p2 c 2=E21 L =m2 c 4 + p 2 c 2
2
( m c 2 ) 2 ( m c 2 ) ( p c ) ( m c 2 ) =0
Ini memberikan
2 2
m c = p c+ ( p c ) + ( m c ) = p c+ E
(18.3-13)
12
juga telah ditentukan dengan mengukur waktu pelepasan antara penghentian dan peluruhannya.
Scintillation counter juga telah digunakan untuk melakukan pengukuranpengkuran ini. kounter pertama digunakan untuk mengirimkan pulsa elektrik
untuk melepaskan energy selama meson + melambat dimana terjadi pada orde
waktu 10-12 s. pulsa yang kedua memperoleh energy lepas dari peluruhan - .
Kedua pulsa ini terekam dengan osilograf dengan basis waktu yang cepat. Dari
kalibrasi jejak osilograf yang digunakan, waktu paruh dari peluruhan + dapat
ditentukan dengan mengukur distribusi statistic dari pemisahan antara dua pulsa
ini. Eksperimen yang sama memberikan waktu paruh muon dengan mengukur
pemisahan antara pulsa yang dihasilkan pada peluruhan - dan peluruhan - e.
Nilai yang diperoleh adalah
=( 2,6030 0,0023 ) x 108 s
Waktu paruh dari antipartikel muatan pion sama dengan pion.
Dengan catatan bahwa peluruhan muatan pion (dan muon) terjadi pada
imteraksi lemah
Peluruhan muatan pion:
Peluruhan muatan pion mengikuti skema sebagai berikut:
+ v
v adalah neutrino atau antineutrino. Peluruhan ini terjadi pada interkasi
lemah pada peluruhan beta inti.
+ menjadi + dengan bilangan lepton muonik l = -1 dan neutrino muonik
(v) dengan l = +1. Dengan demikian kekekalan bilangan lepton memenuhi
ketika l = 0 untuk pion. Pada kasus peluruhan - dimana l juga bernilai nol, nilai
dari l untuk hasil peluruhan juga berlawanan.
Dengan demikian diperoleh
+
+ + v
(l = 0
-1
+1)
+ + v
(l = 0
+1
-1)
Muatan peluruhan pion adalah dua proses partikel dengan kesimpulan
bahwa salah satu hasil peluruhan () selalu diemisikan dengan energy kinetic
yang sama (~ 4,2 MeV). Ini dapat dicek bahwa dua partikel peluruhan saat diam,
kekekalan energy dan momentum memerlukan kedua hasil peluruhan yang
diemisikan dengan energy kinetic tertentu.
13
Pengamatan sifat pion sedikit berbeda dengan prediksi Yukawa (lihat bab
XVII). Karena meluruhnya menjadi elektron, prediksi Yukawa untuk menjelaskan
pelutuhan inti , peluruhan pion menjadi muon yang lebih besar dimana interaksi
secara lemah seperti elektron dan termasuk kelompok lepton.
Untuk melengkapi gambaran, dapat kemudian harapan bahwa pion
negative seharusnya lebih kuat dalam menyerap inti untuk menghasilkan
bintang. Seperti bintang yang dihasilkan sebagai hasil dari peluruhan yang
meledak menjadi banyak bagian dari inti karena pelepasan energy yang tinggi (~
140 MeV) pada penangkapan - dengan interaksi kuat. Kebanyakan pion positif
mengalami peluruhan radioaktivitas sebagaimana pernyataan diatas.
Ada beberapa model peluruhan muatan pion. Bagaimanapun
probabilitasnya sangatlah kecil.
Spin dan paritas muatan pion:
Spin pion positif telah ditentukan dengan membandingkan probabilitas
hasil deuteron dan + di reaksi p-p dan proses inverse dimana tumbukan deuteron
dan + menghasilkan dua proton:
H + 21 +
p+ p
++ 21 H p+ p
(18.3-14)
(18.3-
15)
Berdasarkan prinsip yang mendetail yang didiskusikan di 11.2 bab XI,
cross section dari prekasi X Y berhubungan dengan proses inverse dengan
rekasi Y X berdasarkan persamaan (11.2-4):
YX p2x ( 2 I x +1 ) ( 2 I x +1 )
=
XY p 2y ( 2 I y +1 ) ( 2 I y +1 )
(18.3-16)
Kita dapat mengaplikasikan hubungan diatas dengan kasus reaksi timbal
balik dengan persamaan (18.3-14) dan (18.3-15). Karena dua proton pada reaksi
ini adalah partikel yang identik maka factor muncul secara factor statitik. Jadi
dapat diperoleh
1
2
2
( 2 I p +1 ) ( 2 I p +1 ) p p pp=( 2 I d +1 ) ( 2 I +1 ) p d (18.3-17)
2
14
d pp /d
dan
yang diukur pada sudut yang berbeda, nilai dari spin instrinsik dari
d d
3 p2
2 s p +1 )2
2 (
2 pd
d
(18.3-18)
d pp /d
15
dapat diketahui.
m ( 0 ) 300 me .
1+ 2
Sinar pion negative yang berasal dari akselerator (dihasilkan dengan
proton 330 MeV dari synchrocyclotron Berkeley yang mengenai target tungsten)
memasuki tempat yang berisikan gas hydrogen pada tekanan 200 atm dan
menghasilkan pion netral seperti persamaan (18.3-2). Tingkat peluruhan dan hasil
dua sinar menunjukkan seperti puncak persegi pada 70 MeV pada gambar 18.1.
16
Gambar 18.1. Spektrum energy dari peluruhan sinar pada pion netral.
Suatu keadaan dimana sebelum dua sinar diemisi dari tingkat pergeseran
Doppler 0 dan mempunyai energy dari perumusan pergeseran Doppler relativistic
seperti pada kesimpulan bab XV vol I. Dengan menggunakan pernyataan tersebut,
frekuensi sudut f dan b dari sinar yang teremisi pada proses timbal balik
diberikan
1+
1
f =0
b= 0
,
(18.41
1+
1)
Dimana 0 adalah frekuensi diam. Konservatif energy diberikan
2 0
m ( 0 ) c2
e=
= ( f + b )=
2
1
1 2
0=
E
1 2
Ef = f =
Dan
E
E
( 1+ ) , Eb= 0= (1 )
2
2
2
3
E f Eb = ( 1 2 ) ={m ( 0 ) c2 } 4
4
m ( 0 ) c 2=2 Ef E b
Atau,
(18.4-2)
17
(18.4-4)
m
pn= p=
E
c
(18.4-5)
Energy kinetic dari emisi neutron adalah
En= p 2n /2 M n= p2/2 M n
(18.4-
6)
Berdasarkan dari ketiga persamaan diatas, ini memungkinkan untuk
menentukan massa - di eksperimen yang sama mendekati nilai massa 0.
Pada eksperimen ini, biasanya digunakan untuk menggunakan selisih
antara m(-) m(0) dimana dapat dilakukan secara akurat. Nilai m(0) dapat
ditemukan dengan diketahuinya nilai dari m(-):
m
Massa m(0) yang dapat diperoleh adalah
m ( 0 ) =( 264,113 0,008 ) me
Atau
Peluruhan meson 0
Peluruhan muatan pion () dengan interaksi lemah. Di sisi lain, peluruhan
pion netral (0)dengan interaksi elektromagnetik menjadi dua foton sinar .
Karena itu, peluruhan waktu paruh dari peluruhannya lebih singkat dibandingkan
. Waktu paruh 0 telah ditentukan dengan mengamati peluruhan meson K + (akan
dibahas kemudian) didalam plat emulsi inti:
18
++ 0
+
K
t=
OP
=d / v
v
19
e
2 m
20
berikut:
lama dibandingkan muatan pion, mereka dapat diamati dengan intensitas yang
lebih besar di laut dalam dan level sinar kosmik atau komponen penetrasi yang
paling akhir. Pada ekperimen berbasis akselerator, muon diperoleh sebagai hasil
peluruhan dari hasil pion pada tumbukan N-N berenergi tinggi.
(18.5-
1)
ve dan v adalah elektronik dan muonic neutrinos. Salah satunya adalah neutrino
dan yang lainnya adalah antineutrino. Pada peluruhan, hanya elekteron (e -) atau
positron (e+) yang diamati sedangkan neutrinos tidak diamati.
Sifat dasar dari peluruhan muon telah dipelajari dengan cara ruang
berkabut dan dengan metode emulsi fotografik. Gambar 19.23 memperlihatkan
peluruhan muon pada fotografik emulsi inti dimana electron (berada pada keadaan
ekstrim) ditemukan dengan cara teremisi dari bekas/jejak akhir dari muon. Muon
(jejak yang berada di bagian tengah) dihasilkan pada peluruhan muatan pion
(jejak yang ada di sebelah kiri). Energy electron berdistribusi diantara 0 dan 54
MeV. Jika hanya satu neutrino yang teremisikan pada peluruhan kemudian
mengacu pada hokum kekekalan energy dan momentum, electron dan neutrino
seharusnya masing-masing mempunyai energy kinetic tertentu sebagai peluruhan
muatan pion. Ketika hal itu tidak terjadi, kita dapat mengasumsikan bahwa ada
lebih dari satu neutrino yang teremisi pada peluruhan muon.
Hal ini diperkuat dengan anggapan dari kekekalan momentum anguler.
Ketika spin electron, neutrino, dan muon adalah masing-masing (untuk satuan
, bilangan genap dari neutrino seharusnya teremisi pada peluruhan). Secara
umum diasumsikan bahwa dua neutrinos teremisi pada peluruhan
21
memerlukan kita untuk mengasumsikan bahwa muon adalah lepton. Jadi kita
dapat menentukan l = +1 untuk - dan l = -1 untuk + dimana ini adalah
anti partikel dari
peluruhan
adalah antineutrino:
+ v + v
e
++ v+ v
+ e
v , kita juga
adalah neutrino
electron (ve) dan yang lainnya neutrino muon (v). dengan catatan ve adalah
neutrino dimana teremisi pada peluruhan inti .
Perbedaan diatas mengharuskan bahwa fakta eksperimen kebalikan
transformasi beta oleh Reines dan Cowan pada deteksi neutrino secara langsung
digambarkan di 5.20 bab V, yang dapat ditunjukkan dengan menggunakan fluks
antineutrino kuat dari rekator inti termasuk kelompok neutrino electron (e).
Ketika eksperimen yang sama dilakukan dengan neutrino muon dari peluruhan
muatan pion., tidak terdapat kebalikan transformasi beta. Transformasi (5.20-1)
dan (5.20-2) pada kasus ini akan menghasilkan - dan + dari - dan + secara
berturut-turut:
n+ v p+
(18.52)
+
p+ v n+
(18.5-
3)
Ini menunjukkan bahwa ve dan v (dan antipartikelnya) adalah partikel
yang berbeda. Jadi kita dapat mempostulatkan dua bilangan lepton yang berbeda
le dan l. untuk electron (e-) dan anti neutrino electron (ve), le = +1 sementara itu
22
v e
dan neutrino muon (v), l = +1 sementara itu untuk antipartikelnya (+ dan v), l
= -1. Dengan asumsi ini, kekekalan bilangan lepton pada peluruhan muon dapat
ditulis sebagai berikut:
v
e+ e
+v
(le = 0
+1
(l = +1
-1
0)
e+
ve
+1
v
(le = 0
-1
+1
+0)
(l = -1
-1
(18.5-
4)
(18.5-
5)
Interaksi muon:
Kita telah melihat bahwa muon berinteraksi sangat lemah dengan bahan
seperti electron termasuk kelompok yang sama dengan partikel elementer
(lepton). Muon diharapkan dapat berlaku seperti electron pada saat berinteraksi
dengan partikel lainnya.
Atom :
Muon negatif (-) dapat digantikan dengan electron pada orbit Bohr
menjadi muonic atom. Jari-jari dari orbit pada atom sangatlah kecil dengan
factor me / m ~ 1/207 dibandingkan dengan jari-jari orbit electron dalam atom.
Dengan demikian inilah adalah keadaan loncatan di atom muonik, - bisa saja
sangatlah dekat dengan inti khususnya pada atom yang lebih berat. Jadi
kemungkinan cukup besar dari penangkapan inti dengan interaksi
elektromagnetik, sebuah proses yang sama untuk penangkapan orbital electron
oleh inti.
23
+ p n+ v
. Pada
proses ini sekitar 106 MeV dilepaskan untuk memberikan peningkatan eksitasi
dari keadaan inti dan emisi dari sinar dari keadaan ini dimana telah dideteksi.
Probabilitas dari penangkapan dengan inti (c) sebanding dengan Z4 dan
berbeda dengan Z3-tergantung dengan probabilitas penangkapan electron (ec)
karena haruslah proton yang berinteraksi. Probabilitas ini sebanding dengan Z.
Dengan demikian c pada unsur Z besar dan mempunyai waktu paruh
dengan order 10-12 dimana waktu paruhnya lebih singkat dari peluruhan muon (
~ 2 x 10-6). Untuk unsure Z rendah (Z < 10), waktu penangkapan dapat
dibandingkan dengan . Untuk peluruhan muon yang negatif biasanya tidak
teramati pada unsure Z yang besar, penangkapannya (dengan interaksi
elektromagnetik) menjadi terganggu dari inti (hasil bintang) karena pelepasan
energy yang sangat tinggi. Bagaimanapun, probabilitas terganggunya dari inti Z
yang kecil adalah sangatlah kecil terjadi, sehingga sebagian besar - mengalami
peluruhan radioaktivitas pada kasus ini.
Di sisi lainnya sebagian besar muatan muon yang bersifat positif
mengalami peluruhan radioaktivitas pada penyerapan Z yang kecil dan besar
ketika tidak terjadi penangkapan pada orbit atom muonik karena gaya
elektrostatik inti.
Perbedaan ini karena sifat dari - dan + di bahan yang ditemukan oleh
saintis Italia (Conversi, Pancini, dan Piccioni) yang menunjukkan eksperimen
bahwa muon berbeda dengan partikel Yukawa.
Dengan catatan pengukuran energi transisi pada atom muonik memberikan
metode yang sangat kuat untuk menentukan jari-jari inti.
Muonium:
Muon positif dapat berasal dari system quasi atomic dengan sebuah
electron yang beredar mengelilinginya di orbit seperti hydrogen yang dikenal
dengan muonium (+ e- atau Mu) sama dengan positronium yang telah dibahas di
6.6. Muonium tidak stabil dan waktu paruh peluruhannya adalah 2 s.
Keadaan dasar muonium mempunyai dua kemungkinan momen anguler J
= 0 dan 1 sesuai dengan orientasi spin + dan e-. Ketika berada di medan magnet,
struktur halus dari keadaan dasar dari muonium dapat dikalkulasikan, dapat
24
g=1,43 x 10
Jm
Kedua nilai yang hampir sama mengasusmsikan ada interaksi lemah secara
umum untuk semua peluruhan lemah. Ini terlihat dengan bentuk segitiga yang
dikenal dengan Puppi-triangle seperti pada gambar 18.3 dimana semua sisisisinya sama besar yang memperlihatkan kekuatan interaksi pada tiga proses yang
sama:
+ v e
n p+ e ;
g =g p=g e
+ p n+ v
;
e + v e +v ,
sehingga
25
Dalam waktu yang sama dalam pergantian poin dimana ditemuakan oleh
powell dan teman-temanya (lihat 19.12), dua Bristol fisika universitas . mereka
menenukan sinar cosmic yang dikendalikan counter di atas awan.
Ditemukan bahwa di antara partikel dalam memproduksi penetral yang
menggunakan sinar cosmic dalam energy tinggi dekat ruangan, kadang jenis trek
ini
ditampilkan dalam gambar 18.4a untuk memproduksi. dua traks dapat
diamati dengan lempeng setebal 3 cm di dalam ruang yang ditunjukkan gambar
18.4a diinterpretasikan sebagai peluruhan produk pengisi dari partikel netral
meluruh di bawah lempeng timah. karena karakteristik dari dua traks yang
diamati, partikel netral yang diproduksi disebut V-partikel.
(18.6-
26
A p
(Hyperon)
(18.62)
Memungkinkan determinan massa dari K0 dan A0 dari kinamatik untuk
peluruhan, dikatakan semua produksi peluruhan menjadi hamburan ( and 0)
dan proton. Rata-rata peluruhan di temukan untuk menjelaskan tentang 10-10s .
kaons mempunyai massa 494 MeV (mendekati 1000 me) sedangkan massa dari A0
adalah 1115 MeV yang mana lebih tinggi dari massa inti.
Kemudian, dengan energi yang tinggi dihasilkan pancaran partikel
dan
( semua lebih berat dari inti) ditemukan. Massa dan alat-alat lain seperti
yang ada dalam peluruhan, putaran, keseimbangan dll). Dari semua partikel
tersebut telah ditentukan dan terdaftar ditabel 18.2.
Telah terealisasi setelah ditemukan kemudian baru ditemukan partikel
bertindak diantara cara penggunaaannya. Meskipun demikian produksi dalam
interaksi yang kuat. Rata- rata peluruhan paling tinggi (10-8 ke 10-10s) dalam skala
waktu inti (- 10-23s). selanjutnya tidak pernah produksi sendiri tetapi berpasangan
untuk memproduksi sesuatu dalam perkumpulan lainnya (associated production).
Pada karateristik partikel baru yang diuraikan dalam terminology sebuah alat-alat
baru, disebut strangeness, sebuah konsep pertama mooted oleh Abraham pais dan
setelah berkembang dengan sendirinya oleh [Link]-Mann dan K. Nishijima
ditahun 1953. Sejak partikel mereka mengetahui strange particles.
A0 + K0
(18.6-
3)
(S=0 0
-1
+1)
-+p
+ K0
4)
(S=0 0
-1
+1)
(18.6-
27
K0
(S= +1
0
A
p+
(S= +1
0 0
(Lihat tabel 18.2)
Dua model yang berbeda dari peluruhan partikel massanya 1000 me dimana
diobservasi segera setelah penemuan. Satu tipe yang hilang dalam tiga pion dan
namakan dengan
juga dengan
- meson:
dan
yaitu
keseimbangan tidak kekal. ini dikenal sebagai teka-teki dan . Lee dan Yang
memeriksa pertanyaan seluruh konservasi keseimbangan di interaksi partikel
elementer dan sampai pada kesimpulan bahwa meskipun paritas tampaknya
dilestarikan dalam interaksi nuklir kuat, tidak ada bukti langsung yang telah
dilestarikan dalam interaksi lemah. sehingga mereka mengusulkan bahwa jika
28
dan
dalam proses lain yang melibatkan interaksi lemah misalnya, inti peluruhan .
mereka menyarankan percobaan untuk demonstrasi non-konservasi paritas di
peluruhan
. yang dilakukan oleh C.S Wu dan lainnya, yang terbukti secara
meyakinkan bahwa paritas tidak kekal dalam interaksi lemah. (lihat bab V untuk
lebih jelasnya).
18.7. K-Meson
K-meson atau koans adalah produksi interaksi kuat, tiap benturan N-N (inti-inti)
atau dalam benturan N.
terlepas dari proses yang digambarkan pada persamaan (18.6-3) dan (18.6-4)
reaksi yang telah di hitung.
p p p p K K
p p p n K K0
p p p p K0 K0
(18.7-1)
dalam semua reaksi, keanehan yg kekal, jika K- dan anti-partikel K0 mempunyai
S=-1.
Model Peluruhan Dan Alat-Alat Lain Kaon
29
(K-)/
(K+) = 0,999
adalah hanya kaon netral yang diamati dalam alam. Saat prosuksi
30
p A0 0
menyerupai K0. Tetapi kedua peluruhan pion
dalam eaksi
0 ( _ )
( 0 0 )
digambarkan
atau
ditunjukkan pada tidak simple nya
0
peluruhan K . Meson netral yang lain, diketahui K L0 dengan penjangnya relatif
memerlukan waktu (~10-8) dan perbedaan model peluruhan. Pilihan K mesons
K L0 _ ; 0 0 0 ( 5,71x10 8 s
Akan sama dengan yang kita lihat nanti, ini penegasan penting di kekekalan CP
(lihat 18.11).
18.8 Hyperons
0
- Hyperon
Dari melihat persamaan 18.6 pertama kali hyperon ditemukan oleh
0
yang relative akurat. Telah ditemukan bahwa Q = 37,76 meV dan massa
ditulis :
m(
( p )
diketahui juga
31
( n 0 )
adalah observasi dalam keadaan 33,7%, keduanya non-leptonic. Ada
beberapa keadaan lebih dalam peluruhan leptonic (Pe Ve) dan (PV).
- Hyperon
Ada 3 tipe Hyperon yang diketahui +, - dan 0, ketiganya produksi dalam
interaksi kuat. Saat pion dalam energy tinggi atau kaon menabrak sebuah nucleon,
hyperon yang di produksi adalah :
n K 0
(18.81)
K p
Sebelumnya, partikel asing di temukan dalam proses, pada bilangan
kuantum asing S = -1.
Mengikuti model peluruhan non leptonic pada perunahan sigmas adalah :
p 0
(53%), = 0,81 X 10-10s
n
(47%)
(18.8-
(18.8-
2)
n _
2a)
0 sudah di prediksi secara teorikal dan ditemukan secara subtansi,
peluruhan oleh interaksi elektromagnetik.
0 ,
0
5,8 x 10-10s
(18.8-
3)
(xi)
- Hyperon
0 , 0 p
(18.84)
Hyperon netral
32
0 0 , 0 p
(18.85)
- Hyperon
Ini adalah hyperon yang paling besar, prediksi nya di nyatakan pada dasar
dari SU3 simetri dan di temukan pada tahun 1964 merupakan teori yang sangat
penting. Ini mengikuti garis peluruhan cascade lemah.
(18.8 0 , 0 0 0 , 0 p
6)
Chanel lainnya dari peluruhan, juga diketahui
0
0 K
(18.8-
7)
Semua hyperon yang di diskusikan di atas, semuanya lebih besar dari
nucleus, skema peluruhan hyperon di tunjukkan pada semua poin di perubahan
baranoic (lihat 18.11) dengan bilangan baryon B = 1. Merupakan setengah
integral spin dan even (+) paritas interinsik. Antipartikel pada semua hyperon
sudah di temukan.
18.9. Interaksi Fundamental di alam
Jumlah partikel elementer sejauh ditemukan sangat besar, melebihi 200.
Hanya sedikit yang stabil, seperti proton, elektron, positron, neutron dan foton.
sisanya semua tidak stabil. Beberapa waktu lama dari peluruhan lebih lama dari
waktu karakteristik nuklir. Sebagian besar peluruhan ini dengan interaksi lemah
rata-rata waktu berarti memperluas 10-13 dalam beberapa menit (dalam kasus
neutron). Seperti beberapa meson 0 dan 0 peluruhan hyperon oleh interaksi
elektromagnetik dengan rata-rata waktu ~10 -20 sampai 10-16 s. Semua partikel,
keduanya dalam keadaan lemah dan peluruhan elektromagnetik, yang disebut
semi-stabil.
Terlepas dari partikel stabil dan semi-stabil, sejumlah besar partikel yang
telah ditemukan meluruh oleh interaksi kuat dengan waktu rata-rata urutan
karateristik waktu nuklir (~10-23 s). partikel yang tidak stabil dikenal sebagai
resonansi
partikel.
Untuk memahami pentingnya teori yang mendasari keberadaan seperti
sejumlah besar partikel dasar, kita akan membahas tentang interaksi pokok yang
bertindak antara partikel dasar yang semua terdiri dari materi.
33
Diketahui bahwa ada empat jenis interaksi pokok di alam, yang mengatur
perilaku dari semua sistem fisik yang dapat diamati. Ini adalah gravitasi
elektromagnetik, interaksi nuklir lemah dan nuklir kuat.
Gaya gravitasi bertindak antara semua benda yang memiliki massa. hal ini
dijelaskan oleh kebalikan hukum yang panjang jenis rentang persegi newtonian
gravitasi, kemudian broadned oleh einstein dalam teori relativitas umum, yang
describrs interaksi gravitasi dalam hal dimensi ruang. Jumlah berdimensi G me
Mp / biasanya diambil sebagai suatu contant, karakteristik interaksi ini. G
menjadi konstanta gravitasi. Interaksi gravitasi antara dua benda diyakini
dimediasi melalui kuantum dari interaksi yang disebut graviton yang belum
ditemukan. Sejauh sebagai partikel elementer yang bersangkutan, interaksi
gravitasi di antara mereka dapat sepenuhnya ditinggalkan, karena sangat lemah
dibandingkan dengan interaksi lainnya.
Interaksi elektromagnetik lebih kuat dari pada interaksi gravitasi. Ini
merupakan jenis interaksi kebalikan dari kuadrat jarak,. Kekuatannya ditentukan
e
~ 1 / 137
2
oleh konstanta struktur halus Sommerfeld
/ 4
interaksi
37
elektromagnetik antara proton dan electron sekitar 10 x lebih kuat dari gaya
gravitasi antara keduanya pada jarak yang sama. Dalam teori medan kuantum
modern interaksi elektromagnetik antar muatan partikel digambarkan dalam
terminology pertukaran foton yang sebenarnya merupakan besarnya medan ini.
Interaksi elektromagnetik dinyatakan dalam sifat kimia atom dan molekul,
hamburan Rutherford dan sebagainya.
Jenis ketiga interaksi mendasar adalah interaksi nuklir lemah yang
menentukan peluruhan beta nuklir dan peluruhan lemah partikel dasar tertentu
seperti muon, pion, K-meson dan beberapa hiperon. Tidak seperti interaksi
grafitasi atau interaksi elektromagnetik, interaksi lemah merupakan gaya yang
/ mw c ~ 2,4 10 18 m
rentangnya sangat pendek, yang rentangnya diberikan oleh
mw
. Disini
g 1,4 10 62 Jm 3
Konstanta kopling interaksi lemah memiliki nilai
. Jika
gw
ditunjukkan dalam bentuk dimensi konstanta interaksi lemah
~
dibandingkan
konstanta
struktur
halus
1
137
menjadi kecil
gw
.
Disini
34
g / c 2 3 10 12
c c / 2
;
c
,
W
dihubungkan melalui vector berat boson, dikenal sebagai
dan Z0 boson ditemukan
oleh [Link] dkk menggunakan tumbukan p-p pada energi 540 GeV diperoleh dari
fasilitas SPS di Cern pada tahun 1983 (lihat bab XII). Besar massanya
m w c 2 80,9
GeV
m z c 93
2
GeV
Sifat yang penting dari interaksi lemah yang membedakan dari interaksi
mendasar lainnya adalah bahwa paritas tidak kekal pada interaksi lemah.
Di tahun terakhir ini, perkembangan yang paling penting dalam
mempelajari interaksi lemah adanya penggabungan interaksi elektromagnetik dan
interaksi lemah, yang dikenal sebagai interaksi elektro lemah (lihat sub bab
18.21).
Interaksi mendasar yang keempat adalah interaksi nuklir kuat antara
proton dan neutron, memiliki rentang pendek seperti interaksi nuklir lemah,
/ m c ~ 10 15 m
rentangnya
, 0
Gaya internukleon kuat dihubungkan melalui pertukaran pi-meson (
)
yang merupakan kuantum medan internukleon.
Sifat gaya nuklir kuat dinyatakan dalam pembentukan inti kompleks, yang telah
dibahas secara rinci sebelumnya (lihat bab II dan bab IX). Hubungan kuantitatif antara
gaya nuklir dan struktur nuklir belum sepenuhnya diketahui.
Metode penting untuk penyelidikan sifat gaya nuklir kuat adalah penelitian sifat
hiperinti dalam nukleon dalam sebuah inti yang dipindahkan oleh hiperon (lihat subbab
18.8). Hypernucleus pertama ditemukan pada tahun 1953, yaitu inti boron yang
neutronnya dipindahkan oleh hiperon
35
H 3 He
Q 41,5
untuk
MeV.
Sumber lain informasi tentang sistem ini adalah melalui studi atom luar biasa
dalam
hiperon ditangkap oleh medan listrik dari inti. Karena besar massa sigma,
orbitnya sekitar inti memiliki jari-jari yang kecil. Pengukuran energi sinar X yang
dipancarkan selama transisinya dari satu orbit ke orbit yang lainnya memberikan
informasi penting tentang interaksi.
Seperti yang kita lihat sebelumnya, proton dan neutron dipercaya memberikan
sesuatu yang lebih mendasar dikenal sebagai quarks. Dalam analisis terakhir, gaya nuklir
kuat dipercaya dihubungkan melalui pertukaran jumlah massa spin dikenal sebagai
gluons antara quarks (lihat subbab 18.16). Baik quarks maupun gluons telah diteliti pada
keadaan bebas sebelumnya.
Pada tabel 18.1 ditunjukkan kekuatan relative dan sifat lainnya dari jenis interaksi
mendasar yang berbeda.
Tabel 18.1
Interaksi
Kekuatan relative
Ukuran
Pergantian Kuantum
Kekuatan Internukleon
1
10-15 m
Pion*
Elektromagnetik
10-1
Ukuran Panjang
Photon
Nukleon lemah
10-13
10-18m
W, Z0 boson
-37
Gravitasi
10
Ukuran Panjang
Graviton
0 , , 0 , , 0
hiperon
dan
dan anti partikelnya. Meraka adalah partikel asing.
Keadaan bilangan kuantum S adalah kekal selama produksi dengan interaksi kuat.
Namun, S tidak kekal dalam saat peluruhan lemah oleh partikel tinggi. Dalam peluruhan
elektromagnetik (sama dengan
) S adalah kekal.
36
Semua hyperons lebih besar dari nucleon. Yang penting bahan-bahan yang
dibahas dalam 18.8 dan dilihat di tabel 18.2
Baryon mempunyai spin setengah integral dan keadaan seimbang. Itu adalah
fermion, mematuhi statistic Fermi-dirac.
Semua baryon berkumpul oleh sebuah pertukaran baryonic (bilangan barion) B
= 1, dimana kekekalan dalam produksi dan peluruhan.
Dipercaya pada dampak bilangan baryon dalam alam adalah kualitas kekekalan.
Antibaryon mempunyai B = -1 jadi produksi baryon-antibaryon tidak memberikan efek
pada bilangan baryon.
Kita harus diskusi tentang struktur quark dari baryon 18.16.
Mesons: ini berada pada kelas hadron, dengan jumlah barionik B = 0. Meson
masuk dalam pion (
(K , K 0 ) 0
, kaons
(D , D 0 )
dan
_
Terlepas dari sepasang elektron positron (e+e -) dan
diketahui
dan
, dimana jenis lain dari anti partikel, mereka lebih besar dari nucleon.
Jenis tipe lepton hampir sama atau sejenis dengan neutrino, atau electron
neutrino (Ve) muon neutrino (V) dan tauon neutrino (V). Kesemuanya adalah
probalilitas massa nol partikel.
Pembentukan muatan leptons dengan neutrino (neutral) dapat dipercaya
membangun hukum empiris muatan leptonic (leptop number). Tiga tipe bilangan
lepton le, l dan l, ketiganya mempunyai nilai +1 untuk laptons dan -1 untuk
antileptons. Dari reaksi ini disertai leptons, tiga perbedaan bilangan lepton harus
e
+
37
Tabel 18.2
38
39
40
41
+ ve
n p+ e . Tetapi, proses
n 0
+
e , tetapi proses tersbut tidak diamati, meskipun tidak
berdasarkan proses
H
qi
42
^ d
(18.112)
Dimana
(18.11-
3)
Dimana
[^
H , ^ ]
^
H
dengan
adalah
d ^
=0
dt
dan
^
H ^ = ^ ^
H . Jadi Hamiltonian tidak terpengaruhh oleh (i.e.,
diperoleh
^
H
diganti dengan
]=0
^
:
(18.11-
3a)
Jika momentum linear p, maka operator koresponden adalah
^p = - i
Dari yang kita ketahui, Hamiltonian
operasi
^
H
jarak.
(c) Hukum kekekalan momentum sudut
Hukum ini merupakan hukum validitas umum untuk semua jenis interaksi.
Hukum ini berhubungan dengan hukum fisika tentang rotasi. Dari persamaan
Hamiltonian dalam mekanika klasik, koordinat sudut disimbolkan dengan i
dan momentum sudut Li. Dalam mekanika kuantum, momentum sudut
disimbolkan J harus bolak-balik dengan H jika tidak ada medan eksternal
43
hadir:
oleh
Oleh karena itu, jika momentum sudut adalah gerakan konstan (dLz/dt = 0)
maka H invarians sisa di bawah operasi
44
Jika perlu dicatat bahwa paritas operasi simetri diskrit respresnt simetri
(refleksi dan rotasi hingga 1800) tidak seperti simetri bawah perubahan sangat
kecil tersirat dalam tiga kasus sebelumnya (a ke c).
Dalam kasus untuk sebuah partikel elementer, konsep paritas memberikan
definisi yang lebih luas. Setiap partikel dengan massa tidak nol mempunyai
paritas intrinsik yang dapat menjadi +1 atau -1. Oleh karena itu, paritas total
sebuah sistem untuk partikel n menghasilkan paritas intrinsik dan orbital (-1)1
yang dapat ditulis dengan 1 2 3 . . . n(-1)1.
Paritas intrinsik dari proton, neutron dan elektron yang diambil untuk
menjadi lebih. Kemudian paritas intrinsik dari partikel dasar lainnya adalah
tetap, relatif terhadap paritas intrinsik dari nukleon. Paritas intrinsik dari pion
(, 0) aneh (lihat 18.13).
Paritas partikel biasanya ditunjuk oleh simbol (+) untuk genap atau (-)
untuk bilangan ganjil, ditulis sebagai superscript atas momentum sudut total
demikian: (Jp). Sebagai contoh, untuk nukleon kita menulis (Jp) = (1/2+), untuk
pion (Jp) = (0-).
(e) Hukum kekekalan muatan
Kata charge digunakan dalam makna yang lebih luas dalam partikel
elementer. Sebagian dari harga kelistrikan Q, didefinisikan sebagai harga
baryonik B untuk setiap baryon dan besarnya leptonik l untuk setiap lepton*.
Dimana B = +1 untuk baryon-baryon dan -1 untuk antibaryon. Untuk partikel
lain (meson, lepton) B = 0. Kesamaan l = 1 untuk lepton dan antilepton,
ketika baryon dan meson l = 0.
Sebenarnya ada tiga jenis muatan leptonic le, l, dan l terkait dengan tiga
kelompok lepton (lihat 18,10).
Muatan listrik Q kekal dalam interaksi semua. Hal ini terkait dengan
invarian mengukur medan elektromagnetik.
(f) Hukum kekekalan muatan paritas (paritas-C)
Hukum kekekalan ini berhubungan dengan besarnya invariant konjugasi
operasi C dalam seluruh partikel yang ditransformasikan ke dalam
antipartikel. Besarnya konjugasi yang dimaksud adalah kebalikan tanda semua
jenis harga (elektrik, baryon, dan lepton). Prinsip konjugasi menerapkan tidak
hanya pada besarnya partikel, tetapi juga pada partikel netral. Oleh karena itu,
neutrino yang elektriknya netral mempunyai antipartikel (anti-neutrino) yang
berbeda dari pembentukannya, besarnya lepton mempunyai dua kesamaan
dan perbedaan. Jadi berinteraksi secara berbeda dengan zat penyusunnya.
Di sisi lain, beberapa partikel seperti meson 0, foton, meson 0, partikel
J/ dan meson yang mana semua jenisnya berbeda mempunyai harga nol (Q
= 0, B = 0, l = 0) harus dapat diidentifikasikan dengan antipartikelnya.
Contoh lain dari sistem yang benar-benar netral adalah positronium di
mana sebuah elektron dan positron terikat bersama untuk membentuk
hidrogen seperti struktur (lihat 6.6).
45
46
|K >|K >
0
K 0S
(18.11-
6)
|K 0 >+|K 0 >
K 0L
(18.11-
7)
Kita dapatkan
8)
CP K S > =+ K S >
(18.11-
47
0
0
CP K L > =- K L >
dan
(18.11-
9)
Oleh karena itu Ks0 adalah partikel CP genap, dimana KL0 adalah partikel
asing.
Jika invarian CP tetap yaitu, jika CP memiliki nilai tertentu, maka Ks0 dan
KL0 tidak dapat berubah menjadi satu sama lain sendiri.
Modus dominan Ks0 adalah proses dua pion (+ - atau 0 0). Ini konsisten
dengan fakta bahwa dua pion sistem seperti 0 0 (untuk l = 0) memiliki CP
bahkan (+1), 0 menjadi diri konjugat (C = 1) sedangkan P = -1 untuk setiap
0. Demikian pula dominan tiga pion peluruhan mode KL0 (0 0 0 atau + 0) adalah consident dengan CP aneh untuk sistem pion tiga.
Percobaan Christensen dan kawan-kawan menunjukkan bahwa 0,2% kasus
partikel K 0 meluruh dengan dua bentuk pion K 0 0 0. Hal ini berarti
L
48
Seperti yang akan kita lihat nanti, partikel resonansi, yang dianggap
sebagai keadaan tereksitasi dari baryon dan meson, juga membentuk multiplet
isospin. Ini biasanya memiliki keanekaragaman isospin sama dengan partikel
yang sesuai dalam keadaan dasar mereka. Sebuah contoh dari quadruplet
isospin (M = 4) dengan I = 3/2 adalah - resonansi, yang dapat eksis di empat
negara berikut muatan:
++, +, 0, - dengan I3 = +3/2, +1/2, -1/2 dan -3/2 masing-masing (lihat
Gambar 18.13). Contoh lain diberikan pada Tabel (18.2).
(k) Hukum kekekalan keasingan (strangeness)
Ide keanehan dijelaskan dalam 18.6. Seperti yang dinyatakan
sebelumnya ide ini pertama kali diusulkan oleh Abraham Pais (1952) dan
kemudian lebih lengkap dikembangkan oleh M. Gell-Mann dan K. Nishijima
(1953).
Sebuah keasingan kuantum S digunakan untuk mendeskripsikan sifat
keasingan untuk menentukan keluarga partikel (partikel asing) dengan
pendahuluan interaksi kuat dan peluruhan interaksi lemah. Ketidakkonsistenan
dalam sifat partikel ditetapkan dengan penemuan produksi yang berkaitan.
Keasingan dipertahankan dalam interaksi kuat tetapi tidak dalam interaksi
lemah seprti meson K, hiperon dan lain-lain.
Hubungan antara sebuah partikel Q dan keasingan S sebagai berikut:
B+ S
Q=I 3 +
(18.112
[ ]
12)
Dimana I3 terdiri dari tiga komponen untuk isospin I dan B adalah nomor
baryon. Oleh karena itu, meson K+ dengan B = 0, S = +1, Q = +1 diperoleh I 3
= + . Disisi lain K0 ketika Q = 0, I3 = - . Oleh karena bentuk K+ dan K0
sebuah isospin ganda dengan I = . UNtuk ketidakasingan baryon, proton atau
neutron B = 1, S = 0, jadi Q = I 3 + B/2 = I3 + yang membutuhkan I3 = +
(atau ) untuk membuat Q = +1 (atau 0). Kita definisikan Y sebagai
49
Y= B+S
(18.11-
13)
Dimana Q = I3 + Y/2
(18.11-
14)
Dimana B dan S dipertahankan dalam interaksi kuat, dan Y juga
dipertahankan. Aturan S = 0, 1 dipatuhi dalam peluruhan lemah semi stabil
untuk partikel yang asing. Contoh:
0 0+
(S = 0)
+ p+ 0
(S = +1)
0 0 + 0
(S = +1)
0+
(S = +1)
0+K
(S = +1)
Tetapi peluruhan
n+
ditunjukkan jumlah variasi yang dipertahankan atau selain itu (ya atau tidak)
dalam jenis interaksi yang berbeda.
Tabel 18.3
Besaran
Kuat
Elektromagnetik
Lemah
Energi dan momentum (E, p)
Ya
Ya
Ya
Momentum sudut (J)
Ya
Ya
Ya
Paritas (P)
Ya
Ya
Tidak
Isospin (I)
Ya
Tidak
Tidak
Komponen ketiga (I3)
Ya
Ya
Tidak
Konjugasi muatan (C)
Ya
Ya
Tidak
Pembalikan waktu (T)
Ya
Ya
Tidak
CP
Ya
Ya
Ya
CPT
Ya
Ya
Ya
Nomor baryon (B)
Ya
Ya
Ya
Nomor Lepton (l)
Ya
Ya
Ya
Muatan (Q)
Ya
Ya
Tidak
Keasingan (S)
Ya
Ya
Tidak
Muatan besar (Y)
Ya
Ya
Tidak
50
Lemah (c)
18. 12 Anti nukleon
Keberadaan anti partikel yang diramalkan teori mekanika kuantum dari
relativistik elektron telah ditemukan oleh P.A.M Dirac pada tahun 1928 (lihat
6.5, Bab VI). Selanjutnya, antielektron atau positron yang diramalkan oleh Dirac
ditemukan pada sinar kosmik. Sebagaimana pada nilai operasi konjugasi C pada
fungsi gelombang partikel dan antipartikel yang dihasilkan. Jadi, semua partikel
yang ada di alam harus memiliki antipartikel.
Dalam kasus partikel konjugasi itu sendiri (yaitu o, o) yang partikel dan
antipartikel adalah identik. Berbagai jenis nilai (Q, B dan l untuk anti partikel
yang berlawanan dari mereka untuk partikel yang mempunyai massa identik,
peluruhan seumur hidup, spin, dan isospin). Momen magnetik memiliki nilai yang
sama tetapi berlawanan tanda untuk sebuah partikel.
Antiproton: antinukleon pertama yang ditemukan oleh Chamberlain,
Segre, Wiegand, dan T. Ypsilantis pada tahun 1956 dengan menggunakan 6 GeV
proton sinkrotron Berkely. Karena proton dan antiproton (p dan p ) berinteraksi
dengan partikel, maka pemusnahan bersama dapat menghasilkan pasangan
Hadron dan antihadron. Sebaliknya, tumbukan p - p pada energi tinggi dapat
menghasilkan sebuah pasangan p -
p+ p p+ p+ p+ p
(18.12-1)
51
Proton 6 GeV, balok dari Bevatron jatuh pada T tembaga target yang
p p
menghasilkan pasangan
sesuai dengan skema (18.12-1). Karena
bermuatan negative, antiproton mengikuti jalur yang berlawanan
kelengkungannya relative terhadap proton di bidang Bevatron magnet dan keluar
dari kawasan target bersama dengan pion yang telah dihasilkan di target. Kedua
magnet M1 dan partikel M2 dari sebuah momentum tertentu dan pion yang
nampak memiliki kecepatan 0,99 c. Sementara antiproton memiliki kecepatan
0,78 c. Apabila S1, S2, dan S3 adalah bidang, sedangkan C1 dan C2 adalah dua
Cherenkov counter. Dimana C1 hanya mendeteksi partikel dengan kecepatan di
atas 0,79 c sehingga pion dapat dicatat olehnya. C 2 mendeteksi partikel dengan
kecepatan antara 0,75 c dan 0,79 c sehingga hanya antiproton yang dapat
terdeteksi.
52
antiproton bisa terdeteksi oleh pengaturan ini. Merekam pulsa kebetulan ini
memberikan indikasi pasti tentang produksi antiproton.
Agar lebih pasti, antiproton diizinkan untuk masuk ke dalam bilik
gelembung (ruang emulsi) dimana mereka dimusnahkan dengan cara interaksi
dengan proton untuk menghasilkan beberapa pion (5 10) nukleon dan kaon.
p p pion+ n ukleon+ kaon
Sebagian pion adalah produk pokok, selanjutnya interaksi dengan nucleon
menghasilkan produk sekunder lain.
Antineutron:
Antineutron pertama kali diidentifikasi oleh Cork, Lambarton, Piccioni,
dan Wentzel pada tahun 1956. Pengaturan eksperimental ditunjukkan pada
Gambar 18.5 (b) dimana sinar antiproton yang dihasilkan dalam target berilium
oleh sinar proton 6,2 GeV dari Berkeley Bevatron diperbolehkan melewati
sintilator pertama S1 untuk memasuki converter (LS) yang merupakan sintilator
cair yang diamati empat pengali foto.
Yang pertama sintilator S1 mendeteksi antiproton berasal dari Bevatron,
yang memastikan bahwa hal ini mengikuti program yang tepat. Kemudian masuk
ke converter LS dimana mereka seharusnya dimusnahkan dengan proton untuk
menghasilkan sejumlah meson , meson K, dan kuanta dengan melepaskan
energi dari 1,88 GeV atau menghasilkan antineutron yang didapat dari pertukaran
muatan reaksi p p n +n . Pulsa pemusnahan yang kuat telah didaftarkan
pengganda pengubah foto. Antineutron menghasilkan pulsa dengan ukuran sama
dengan energi yang dilepaskan sebesar kurang dari 50 MeV.
Kilau Penghitung S2 mendeteksi partikel bermuatan yang dihasilkan oleh
p
penghancuran
di konverter, sedangkan S mendeteksi sinar yang
3
dihasilkan dalam proses yang sama dan konverter ke partikel bermuatan di blok
utama antara S2 dan S3.
Ketika S2 mendeteksi partikel bermuatan yang dihasilkan oleh
penghancuran dalam pengubahan, sedangkan S3 mendeteksi sinar yang
dihasilkan dalam proses yang sama dan diubah menjadi partikel bermuatan diblok
antara S2 dan S3.
Antineutron dan antiproton merupakan sepasang isospin, seperti sepasang
n p sehingga I = bagi mereka dengan I 3 = + dan - . Nilai I3 hanya
berlawanan dari partikel-partikel yang sesuai. Untuk p dan n memiliki
nomor baryon B = -1, spin S = dan paritas P = -1. Massa partikel sama dan
sesuai. Demikian pula kehidupan rata-rata untuk n adalah sama dengan n.
Skema peluruhannya adalah
53
+ +v e
n p + e
Antiproton seperti proton stabil. Antiproton telah digunakan untuk
berbagai percobaan, misalnya produksi boson W+ dan vektor Z0 di cincin collider
p p .
Antinuclei:
Antinuclei memproduksi pertama kali antideutron pada tahun 1965 dengan
menggunakan 30 GeV akselerator Brookhaven di Amerika. Antideutron dideteksi
dengan spectrometer massa yang melekat pada target berilium. Inti dari
antideuterium terdiri dari antiproton ( p dan antineutron ( n . Ini memiliki
yang dihasilkan sangat kecil dan sifat-sifat lainnya tidak dapat dilakukan.
(18.13
1)
+ p n+
(18.13-
2)
Penangkapan - oleh proton terjadi di kulit K dari atom pion (L = 0) karena
kedekatannya dengan inti. Hal ini dikarenakan S dan Sp juga - dan p adalah 0
dan . Momentum sudut dari awal bagian adalah J = dimana J = L + S. Pada
54
(18.13
3)
Dalam hal ini juga - penangkapan berlangsung di orbit Li = 0 dari atom
pion. Jadi paritas spasial keadaan awal adalah genap, juga paritas dari ground
state deuteron adalah genap. Jadi total paritas keadaan awal ditentukan oleh
paritas -.
Sejak S = 0 dan Jd = 1, momentum sudut total keadaan awal adalah J i = 1.
Dalam keadaan akhir (n + n) bagian-bagian berikut ini diperbolehkan oleh prinsip
Pauli.
Daerah dalam: 1S0, 1D2, 1G4 dan seterusnya. Dengan L = 0, 2, 4, dan seterusnya.
Daerah kelipatan tiga: 3P012, 3F234, 3H456 dan seterusnya. Dengan L = 1, 3, 5, dan
seterusnya.
Untuk kelompok pertama, fungsi spin aneh, sedangkan fungsi spasial
bahkan, sehingga fungsi gelombang total bahkan, sehingga fungsi gelombang
total aneh, seperti yang diwajibkan oleh prinsip Pauli, karena neutron adalah
fermion. Untuk kelompok kedua, fungsi berputar bahkan, sedangkan fungsi
spasial yang aneh, sekali lagi membuat fungsi gelombang keseluruhan aneh.
Untuk menghemat momentum sudut total, keadaan akhir harus 3P1 yang
berarti L = 1 untuk keadaan akhir, memberikan ruang paritas ganjil, karena
neutron bahkan paritas intrinsik diasumsikan dari total paritas keadaan akhir harus
ganjil.
Jadi kekekalan paritas mensyaratkan bahwa - harus memiliki paritas
intrinsik ganjil. Untuk 0 juga merupakan intrinsik paritas ganjil. Hal ini
diasumsikan dengan + dengan antipartikel dari - harus memiliki paritas intrinsik
ganjil.
18.14 Resonansi partikel
Partikel stabil dan semi stabil sudah dibahas sebelumnya. Terlepas dari
partikel stabil dan semi stabil, partikel lainnya telah ditemukan mempunyai massa.
Hal ini berarti sebanding dengan waktu intrinsik nuklir, yang merupakan waktu
yang diambil oleh pion untuk melakukan perjalanan melewati proton (~ 4 x 10 -24).
55
Ini dikenal sebagai partikel resonansi yang umur hidup mereka terlalu pendek jika
di ukur secara langsung. Mereka biasanya (resonansi) muncul sebagai puncak
resonansi dalam grafik yang menunjukkan variasi penampang dari berbagai jenis
peristiwa selama tumbukan energi pada energi tertentu.
Resonansi partikel telah ditemukan baik antara meson-hiperon. Mereka
diproduksi dalam tumbukan energi tinggi antara interaksi hadron kuat dan diamati
selama hamburan atau reaksi yang diprakarsai oleh partikel energi dasar yang
sangat tinggi diperoleh dari akselerator.
Gambar 18.6 Arah melintang pion pembombardir proton sebagai fungsi energy.
56
g=
(2 J +1)
2J+1
=
2
( 2 S +1 ) (2 S p +1)
(18.14-
2)
Dimana J adalah momentum sudut dari negara senyawa yang terbentuk (
+ p C *) sementara s = 0 dan sp = 1/2 adalah spin dari proton dan pion
masing-masing. = /2 dimana adalah Panjang Gelombang Broglie pion.
Penampang eksperimen untuk hamburan (-p) adalah 70 mb (lihat gambar) pada
energi pion dari 190 MeV.
Persamaan (18.14-1) dan persamaan (18.14-2) menghasilkan hamburan (
p) sebagai berikut:
2
maks =4 (2 J +1)
(18.143)
Karena pada 190 MeV energi pion = 0,833 x 10-15 m, nilai mak menjadi
sekitar 175 mb untuk J = 3/2. Nilai J lainnya yang mungkin bagi senyawa
memberikan max yang hanya dari itu dalam kasus sebelumnya.
Jadi kita menyimpulkan bahwa partikel resonansi terbentuk memiliki J = 3/2. L
momentum sudut orbital tidak dapat nol, karena itu akan membuat penampang
independen dari sudut (daerah S).
Isospin: sekarang kita membahas tentang isospin (I) dari keadaan
resonansi. I = 1 dan IN = adalah isospins dari pion nukleon dan masingmasing. Mari kita mempertimbangkan empat kasus berikut:
++ p C
(i)
(ii)
(I = 1 3/2)
(I3 = +1, + , +3/2)
++n C
(iii)
(I = 1 3/2, 1/2)
(I3 = +1 - 1/2)
++ p C
(iv)
(I = 1 , 3/2, 1/2)
(I3 = -1, + , -1/2)
++n C
(I = 1 3/2)
(I3 = -1, - , -3/2)
57
(18.143/2
1,
4)
Kesamaan untuk sistem (+ p) menghasilkan keadaan I = 3/2, I 3 = - dengan I3 =
-1 dan Ip3 = + diperoleh:
C (3/2, - ; -1, )2 = 1/3
(18.143/2
1,
5)
sehingga rasio dua arah melintang adalah
3/2(+ p) / 3/2 (- p) = 3
(18.146)
Nilai yang diukur dari rasio di resonansi keluar menjadi
( + p) / (-p) = 200/70 3
Jadi kita memberikan nilai I = 3/2 untuk keadaan resonansi pada energi
kinetik pion dari T = 190MeV untuk kedua ( + p) dan (-p) hamburan.
Jadi dalam semua empat kasus tersebut ( proses (i) sampai (iv) di atas),
daerah bagian isospin I = 3/2 dengan I3 = +3/2, +1/2, -1/2 dan -3/2 masing-masing
diproduksi, yang dengan demikian merupakan suatu quadruplet isospin (M = 2I +
1 = 4).
Karena muatan Q diberikan oleh (lihat persamaan 18,11-10)
Q = (1 + I3)
Keempat keadaan memiliki muatan +2e, +e, 0 dan e. Mereka biasanya
dinyatakan dengan symbol ++, +, 0, dan - secara berturut-turut dan constitute
sehingga disebut (1232) dalam bentuk massanya 1232 MeV.
Massa dari resonansi : ini dapat diturunkan dari hubungan relativistic
energi total E dan momentum P dari system (p):
58
E2 = P2 c2+ + M2()c4
(18.14-
7)
Dimana M() adalah massa resonansi .
Energi total adalah jumlah dari energi total dan p:
E= E + Ep =
p2 c 2 +m2 c 4 +
Mpc2
(18.14-8)
Catat bahwa proton target pada mulanya diam. Juga P c= pc. Energi kinetic pion
adalah
T= E - mc2 =
p2 c 2 +m2 c 4
mc2
(18.14-9)
Ini memberikan
E =
p2 c 2 +m2 c 4
pc =
E2+ m2 c 4
= 190+140=330 MeV
= 299 MeV
E2 p2 c 2
12692+299 2
=1232 MeV
Resonansi memiliki massa 1232 MeV, paritas spin 3/2 +, isospin 3/2.
Resonansi memiliki lebar pengukuran 120 MeV, sehingga masa hidup keadaan ini
adalah = /E=0,55 x 10-23 s. (1232 adalah baryon dan meluruh melalui saluran
(N).
-N resonan yang lain: Seperti dinyatakan sebelumnya tiga resonansi yang
lain pada energi kinetic pion 600, 900, dan 1400 MeV telah diamati dalam
hamburan (N). Dengan menggunakan metode untuk (1232) sebagaimana
dijelaskan di atas ditemukan bahwa resonansi (p) 600 dan 900 MeV memiliki
isospin (muatan doublet) dan paritas spin 3/2 - dan 5/2+ respectively. Mereka
ditandai dengan N*(1515) dan N*(1690) berturut-turut and constitute d3/2 dan f5/2
keadaan tereksitasi nucleon.
Resonansi (+p) 1400MeV memiliki isospin 3/2 dan paritas spin 7/2+ dan
constitute resonansi (1950). Kemudian kita dapatkan empat resonansi baryonic:
59
Resonansi mesonik: teramati selama tumbukan (N) dalam proses yang tak
elastis, seperti
+ N N + ()
(18.149)
+
(18.149a)
() adalah resonansi mesonic yang setelah itu meluruh dengan interaksi
kuat menjadi dua pion. Dengan cara lain kita peroleh
+NN++
(18.1410)
Pada kasus ini tiga partikel dihasilkan secara simultan/serempak pada
keadaan akhir sehingga partikel yang dihasilkan memiliki distribusi energi yang
kontinyu seperti ditunjukkan oleh kurva pada gambar 18.7.
60
(18.14-11a)
Resonansi () dan (N) keduanya telah diamati dalam proses tak elastis.
-meson: Resonansi seperti ditunjukkan pada gambar 18.7 disebut meson. Ini adalah sebuah meson, saat pecah menjadi dua pion : (+0), (-+) atau
(-0). Massanya adalah 769 MeV. Lebar 124 MeV menunjukkan bahwa waktu
peluruhannya adalah 10-23 s. Menunjukkan bahwa peluruhan terjadi dengan
interaksi yang kuat. Ini memiliki tiga keadaan muatan +e, 0, -e. Sehingga
isospinnya adalah I=1. Studi tentang distribusi angular hasil peluruhan
menghasilkan J=1. Saat pion masing-masing memiliki spin paritas nol atau ganjil.
Total spin dan paritas dari I dan -meson adalah 0 dan genap. Sehingga
menghasilkan keadaan l=1 dan harus memiliki paritas ganjil saat Jp=(1-)
61
-meson: dua dan tiga resonansi pion telah diteliti dalam reaksi pion deuteron:
++d p+p+(3)
(18.14-12)
3 ++-+0
(18.14-12a)
Resonansi terjadi pada massa 783 MeV dan 549 MeV. Keduanya hanya
terjadi pada keadaan netral, sehingga isospin I=0 untuk keduanya.
Partikel 549 MeV dikenal sebagai -meson. Lebar puncak hanya dalam 10
keV menunjukkan bahwa waktu hidupnya sekitar 6 x 10 -20. Ini adalah peluruhan
elektromagnetik yang memiliki JP=0-. Peluruhan elektromagnetik
2(31%) bersaing dengan mode peluruhan lain yang lebih kuat seperti
(30),
62
63
Gambar 18.8 Regge trajectory menunjukkan plot kuadrat massa dari keadaan
nucleonic l=3/2 terhadap spin J
64
inti lemah. Partikel yang masuk dalam kelompok inti interaksi kuat
dikelompokkan sebagai hadron dan inti interaksi lemah dikelompokkan dalam
lepton. Hadron dapat dikelompokkan lagi menjadi dua kelompok yaitu baryon dan
meson. Baryon mengikuti aturan statistic Fermi-Dirac adalah fermion sedangkan
meson yang mengikuti aturan statistic Bose-Einstein adalah boson. Meson
mengikuti aturan kuanta medan internukleon.
Hadron termasuk dua kelompoknya dia atas dapat dikelompokkan
berdasarkan isospin (l) yang menurunkan multiplisitas M=2l+1. Untuk setiap
kelompok partikel berdasarkan l, memiliki komponen ketiga l 3 dengan nilai l, l1-l. Untuk system dengan partikel lebih dari satu, vector isospin dapat
digabungkan dengan metode penjumlahan vector dengan menjumlahkan
komponen ketiganya l3 secara aljabar. Sebagai contoh, jika terdapat dua isospin
doublet masing-masing dengan l=1/2 dan l3=+1/2 dengan menggunakan metode
penggabungan di atas,kitamendapatkan isospin multiplisitas kelompok partikel
dibentuk dari dua isospin doublet di atas. Proses pembentukan multiplet isospin
yang berbeda dari sejumlah isospin doublet seperti di atas menggunakan aturan
transformasi khusus yang dikenal sebagai Special Unitary Groups tingkat 2 atau
SU2. Generator beberapa transformasi adalah matrik hermitian 2x2. Anggota dari
doublet di atas adalah p dan n yang ditransformasikan satu dengan yang lain
menggunakan transformasi SU2.
Ada metode grafik yang sederhana untuk menurunkan multiplisitas system
komposit yang dibuat berdasarkan isospin doublet seperti p dan n. Metode yang
dimaksud seperti diilustrasikan pada gambar 18.9 yang dikenal sebagai weight
diagram. Garis paling bawah menunjukkan dua komponen isospin dengan l3
=+1/2 dan -1/2 saling berhubungan. Kemudian kita superposisikan di sini doublet
yang kedua dalam beberapa cara sehingga pusat simetri dari bentuk ini dibentuk
dari coincide dengan posisi dua komponen +1/2 dan -1/2 dari tingkat yang
pertama seperti ditunjukkan pada garis yang ada di tengah .
65
Gambar 18.9 Weight diagram untuk membangkitkan sebuah isospin triplet dan
sebuah isospin singlet dari dua isospin doublet
Hasil akhir dapat dilihat pada garis paling atas yang menunjukkan empat
nilai l3 dari system komposit yang menunjukkan +1, 0, -1 (sebuah triplet) dan 0
(adalah sebuah singlet). Yang pertama menunjukkan simetri triplet isospin dimana
l=1 dan yang kedua menunjukkan antisimetri isospin singlet dengan l=0. Hasil di
atas dituliskan secara simbolis sebagai
22=31
Untuk mendapat multiplisitas yang lebih tinggi, metode di atas dapat
diulang dengan superposisi weight diagram berdasarkan isospin doublet yang
pertama kemudian isospin triplet ditunjukkan di atasnya dan kemudian pada
isospin singlet untuk membangkitkan sebuah quadruplet dan dua doublet:
23=42
21=2
Apabila partikel gabungan dalam isospin multiplet adalah subyek dari
kekuatan gaya nuklir maka partikel-partikel tersebut memiliki massa yang sama.
Namaun begitu, keberadaan interaksi elektromagnetik merusak simetri sehingga
partikel gabungan memiliki sedikit perbedaan massa. Sebagai contoh proton dan
netron pada isospin doublet nucleon yang memiliki yang berbeda sedikit
massanya disebabkan muatan pada proton. Contoh lain adalah pion , 0 yang
sedikit berbeda massanya karena simetrinya dirusak oleh hukum interaksi
elektromagnetik.
Situasi ini sama dengan efek gaya spin-orbit yang memecah tingkat energi
yang diberikan oleh L dan S menjadi (2S+1) untuk (L>S)., yang dikenal sebagai
pemisahan struktur halus tingkat energi atomic. Simetri menjadi rusak karena
kehadiran gaya L-S.
M. Gell-Mann and Y. Neeman yang tidak bergantung pada skema
klasifikasi partikel elementer (1962) berdasarkan harga l3 dan hypercgarge Y=B+S
(lihat persamaan 18.11-13), yang dikenal sebagai Unitary Group tingkat 3 atau
simetri SU3 (juga dikenal sebgai simetri octet atau eight-fold way).
66
Ini dapat diasumsikan bahwa eight baryon seperti di atas dibentuk sebagai
hasil dari interaksi yang sangat kuat yang seluruh massanya sama (eight fold
degenerasi dalam kekuatan dan muatan). Simetri octet ini rusak akibat aksi
interaksi kuat (yang bergantung pada kekuatannya). Ini memindahkan degenerasi
kekuatan antara kelompok yang berbeda S dalam supermultiplet. Akhirnya
masing-masing kelompok memberikan S, degenerasi muatan dipindahkan oleh
interaksi elektgromagnetik. Sehingga komponen dengan l yang sama dengan
perbedan l3 memiliki perbedaan massa yang kecil. Pemisahan yang pertama
(karena interaksi kuat) dalam orde M/M 10% sampai 20% dan pemisahan yang
kedua disebabkan interaksi elektromagnetik pada masing-masing kelompok
dengan S yang sama dalam orde M/M 1%.
67
68
Weight diagram yang sama pada bidang Y-l3 dapat dibentuk untuk partikel
resonan. Dua contoh ditunjukkan pada gambar 18.12 dan 18.13. Yang pertama
adalah octet resonan meson dengan Jp=(1-)dan yang kedua adalah decuplet dengan
Jp=(3/2+). Seperti pada kasus meson octet seperti didiskusikan di atas, octet
direpresentasikan oleh heksagon pada gambar 18.12 adalah esensial nonet yang
diakibatkan inklusi dari yang memiliki Jp=(1-).
Keberadaan baryonic decuplet telah diprediksikan oleh simetri SU3.
Weight diagram ini adalah sebuah segitiga sama kaki. Segitiga ini berisi sebuah
isotopic quadruplet (1232) dengan S=0, Y=1 dan I=3/2; sebuah triplet 0(1385)
dengan S=-1, Y=0 dan I=1/2 serta sebuah singlet - (1632) dengan S=-3, Y=-2
dan l=0.
Pada saat itu decuplet telah diprediksikan, keberadaan - tidak diketahui. Properti
- telah diprediksikan oleh teori SU3 telah diverifikasi. Antipartikel - juga telah
ditemukan.
69
Gell-Man dihadiahi Nobel Prize pada 1964 untuk SU3 skema klasifikasi.
Penemuan Hyperion Hyperion - ditemukan pada 1964 di Brookhaven menggunakan ruang
gelembung hydrogen 2 m K- meson dengan momentum 5 GeV/c.
Seperti ditunjukkan pada diagram skematik fotografi ruang gelembung
pada gambar 18.14 insident K- meson berhubungan dengan produksi proton menurut persamaan
70
71
72
(q q )
dapat menghasilkan
partikel yang dapat diamati secara nyata. Metode ini dapat dilakukan dengan
bantuan diagram berat kuark dan antikuark ditunjukkan pada Gambar. 18.15c.
Dalam gambar tersebut pusat simetri diagram berat antikuark secara berturut-turut
Y I 3
73
dan
I3
dari kombinasi
u u ,
u d
u s . Jatuh pada tiga poin sudut segitiga di sisi kanan atas dari segi enam
di Gambar 18.15c. Mengikuti prosedur yang sama diagram berat antikuark secara
berturut-turut diletakkan pada posisi d dan s untuk menghasilkan nilai-nilai
Y
dan
I3
untuk kombinasi d u , d d , d s , s u , s d , s s .
Dari Gambar
s s
u s ,u d , d s , d u , s u
dan
u u , d d
dapat diperoleh oktet SU3 dan singlet SU3. Hal ini dapat dinyatakan dalam bahasa
teoritis sebagai 3 3 = 8 1.
Dua kombinasi di pusat heksagon adalah bagian dari oktet SU3. Salah
satunya milik sebuah triplet isospin dan lainnya adalah milik singlet isospin.
Kombinasi ketiga adalah singlet SU3. Hal tersebut diidentifikasikan sebagai
resonansi (958).
Karena kuark dan antikuark memiliki paritas yang berlawanan dengan spin
masing-masing, maka kombinasi
o
p
J =
q q
o
p
J =
memiliki
kombinasi
q q
atau
pada
q q
dengan
1
p
J =
0 , 0
dan
(958) dapat
74
dinyatakan sebagai kombinasi linear dari tiga kombinasi di atas. Untuk alasan
inilah, semua partikel yang ditampilkan pada tiga kombinasi di atas.
75
Tabel 18.8
+
1 /2
J P =
sesuai. Selain itu, ada docuplet berisi sepuluh baryon seperti yang ditunjukkan
76
+
3 /2
. Fungsi gelombang dari partikel berbeda yang
J P =
77
n = ( udd )
quark
+
1 /2
J P =
dan
keanehan S = -1. Prosedur ini menghasilkan keadaan baru seperti di bawah ini
(yaitu isotriplet dan isosinglet):
+ , 0 ,
( ud+ du ) s
= uus ,
, ds
2
=( uddu ) s / 2
Jika di sisi lain kuark u dan kuark d
kuark s
Kondisi
dan
+
1 /2
J P =
dan
78
Tiga kuark ( uuu ) dengan spin 3/2 adalah model simetris dan simetris spin yang
memiliki
L=0
++= (uuu )
=( ddd )
0
=( udd )
Isoptriplet yang
, isodoublet yang
=( sss )
79
massa kuark u dan d harus sama sedangkan quark s harus lebih berat. Massa
diperkirakan mu md ms telah diberikan di atas. Menurut teori quark massa
( 1232 )
,
( 1385 )
,
( 1530 )
( 1672 )
dan
=149
MeV;
harus equispaced.
=145
MeV dan
=142
MeV. Observasi ini mendukung kesimpulan di atas.
n
=2/3 . Nilai eksperimental adalah
p
sangat baik.
n
=0.68 . Perjanjian
p
80
Kuark Non-observansi:
Dari hasil penelitian bersama dalam laboratorium yang berbeda di dunia,
kuark belum diamati dalam keadaan bebas.
Upaya telah dilakukan untuk menghasilkan kuark dalam energi tumbukan
tinggi dengan menggunakan lucutan proton dari akselerator. Dengan demikian
reaksi tersebut dapat diselidiki sebagai berikut:
p+ p p+ p+q+q
p+ p p+ 2u+ d
81
qq ,
q q
Dan lainnya.
Antiproton
p= R G
Pion
G G+B
=R R
B
82
B B
R R +G G+
R R ,G G
atau B B secara individual berwarna,
mereka tidak mewakili fungsi gelombang dari setiap partikel yang diamati. Selain
itu, kombinasi yang berwarna atau kuark individu yang berwarna tidak mewakili
fungsi gelombang setiap partikel yang diamati sehingga mereka
menyembunyikannya dari kita.
Teori kuantum chromodinamika, (QDS) menggambarkan perilaku kuark
ditandai dengan warna yang berbeda. Teori ini telah dikembangkan, mengikuti
formalisme teori elektrodinamika kuantum (QED). Kedua teori ini merupakan
versi khusus dari teori medan relativistik. Perkembangan terbaru dari fisika
partikel telah menunjukkan kebutuhan untuk kelas khusus dari teori, yang dikenal
sebagai teori gauge.
Elektrodinamika kuantum yang paling sederhana dari teori gauge
menggambarkan interaksi antara partikel bermuatan listrik seperti elektron dalam
hal pertukaran foton virtual (lihat teori kuantum radiasi oleh W. Heitler). Sebuah
elektron seharusnya memancarkan dan menyerap kembali seperti proton dalam
waktu yang ditentukan oleh prinsip ketidakpastian Heisenberg. Daya tarik
coulomb atau repulson antara partikel bermuatan digambarkan dengan bantuan
diagram Feynman (lihat kuark dan lepton oleh F. Halzen dan AD Martin).
Daya tarik yang kuat antara dua kuark tidak dapat dijelaskan oleh teori di
atas karena dua quark membawa muatan positif (lihat Tabel 18.7) akan mengalami
gaya coulomb. Gaya yang kuat mengalahkan gaya tolak ini untuk mengikat kuark
di hadrons. sehingga disebut muatan warna dari kuark yang bertanggung jawab di
medan warna seperti muatan listrik bertanggung jawab atas medan
elektromagnetik.
Interaksi yang kuat antara beberapa kuark dimediasi melalui pertukaran partikel
gauge dikenal sebagai gluon (c.f. menunjukkan gambaran foton dalam kasus
interaksi elektromagnetik). Dengan demikian gluon adalah kuanta dari medan
warna yang mengikat kuark dalam beberapa hadron (misalnya, nukleon) dan juga
nukleon dalam nukleus.
Sebagaimana dinyatakan di atas Teori Q.C.D. dikembangkan dalam
analogi teori Q.E.D. Namun, analogi ini tidak dapat diperpanjang terlalu jauh
karena teori harus menjelaskan bidang warna yang kuat yang menarik dalam
kasus kuark.
83
Gluon itu sendiri adalah suatu partikel yang berwarna yang wiwakili oleh
simbol R R , R B , R G , G R , G B , G G , B R , B B ,
RG
, antara lain mereka adalah objek dengan dua warna. Ada sembilan
kombinasi yang mungkin seperti tertera di atas. Kombinasi
B B
R R +G G+
,
adalah warna singlet yang tidak memiliki warna yang bersih dan karenanya tidak
dapat dianggap sebagai gloun yang harus membawa muatan warna antara dua
kuark. Dengan demikian chromodinamika kuantum digambarkan dalam delapan
gluon. Ini terdiri dari semua enam elemen nondiagonal R B , R G dll, selain
dan
R R +G G2
B B . Karena masing-
masing dari mereka membawa muatan-warna, akan ada interaksi warna antara
mereka, seperti dalam kasus foton dalam teori elektromagnetik yang tidak
berinteraksi antara mereka (teori di mana kuanta lapangan dapat berinteraksi
langsung dikenal sebagai non-Abelian dalam bahasa kelompok teoritis).
Dengan diperkenalkannya bilangan kuantum warna, setiap kuark ditandai
oleh dua sifat rasa dan warna. Karena ada empat rasa yang berbeda (u, d, s, c) dan
tiga warna yang berbeda (R, G, B) ada 12 jenis quark dan 12 antiquark yang
sesuai.
Warna dari kuark adalah penjumlahan bilangan quantum. Untuk rasa
tetap, kuantum yang berbeda angka yang tertera dalam Tabel 18.7 untuk warna
yang berbeda adalah identik.
18.18 Daya Tarik Quark
Beberapa partikel elementer baru ditemukan telah menunjuk adanya kuark
keempat, selain tiga (u, d dan s) sudah dipostulatkan. Ini dikenal sebagai kuark
mempesona ditandai dengan simbol c. terlepas dari sifat yang biasa tercantum
dalam Tabel 18.7 untuk kuark, hal itu diberkahi dengan tambahan bilangan
kuantum pesona C = 1. The antikuark c memiliki C=-1. C-kuark memiliki
massa 1,55 GeV dan berat melebihi kuark u, d, atau s.
Kebutuhan untuk hipotesis dari quark pesona muncul dari nonoccurrence dari
peluruhan leptonic
+
+ e
,
n e
K 0
dll
84
menjadi pasangan e+e- yang mereka sebut partikel . Energi di mana puncak
muncul adalah sekitar 3,1 GeV dalam kedua kasus. Lebar puncak hanya sekitar 2
MeV menunjukkan bahwa waktu hidup negara itu sekitar 10 3 kali lebih panjang
daripada partikel stabil normal. Kemudian pengukuran telah memberikan lebar
puncak kurang dari 0,1 MeV memberikan
1020
disebut J / .
Meson dan barion yang mengandung kuark c telah ditemukan dan
dipelajari. Diagram dua dimensi pada Gambar 18.11 dapat diperpanjang dengan
menambahkan dimensi ketiga sesuai dengan bilangan kuantum pesona, untuk
membentuk polyhedron yang terhubung sesuai dengan prediksi meson pesona.
Para anggota keluarga partikel pesona terbagi dalam dua kelas, mereka
dengan pesona tertutup dan pesona terbuka di mana bagian-bagian pesona terlihat
dengan jelas. Kelompok pertama mencakup partikel J / yang diyakini
menjadi kombinasi kuark dan anti kuark pesona (c,c ), yang dikenal sebagai
charmonium (c.f. positronium). Menyatakan pesona terbuka termasuk dalam
kelompok D+ meson ( c , d
2+
85
cuu ); baryon
+
( cud ). Waktu paruh dari pesona terbuka ini adalah dari
+
. Studi rinci oleh kelompok atas dan juga di
deutsches elektronen synchroton (DESY) telah menunjukkan bahwa partikelpartikel baru, yang dikenal sebagai partikel (Upsilon) yang terdiri dari jenis
beberapa muatan kuark -1/3 yang dikenal sebagai bagian bawah atau b quark.
Sebuah bilangan kuantum baru b (kecantikan) dikaitkan dengan mereka. b = 1
untuk quark cantik dan b = -1 untuk anti-kuark b . kuark b memiliki massa 4,72
GeV. Mereka memiliki b = 1. Kedudukan tertinggi dari meson Upsilon yang telah
diamati. Kedudukan-kedudukan yang lebih rendah memiliki lebar resonansi
berkisar 44-18 keV. Kedudukan-kedudukan yang lebih tinggi memiliki lebar
dalam kisaran puluhan MeV.
Selain lima quark (u, d, s, c dan b) keberadaan yang telah dikonfirmasi
secara eksperimen, yaitu mengenai keberadaan kuark keenam, yang dikenal
sebagai quark atas atau kuark t telah diprediksi atas dasar teoritis. Indikasi
pertama ini kuark berat disediakan pada percobaan, vektor boson baru ditemukan
0
( W , Z ). Massa kuark t diperkirakan sekitar 30 sampai 50 GeV. Sebuah
bilangan kuantum yang baru yaiu t (kebenaran) yang diasosiasikan dengan itu. T =
1 untuk kuark atas dan t = -1 untuk antipartikel nya.
Secara umum Q yang menyertai b, dan t diberikan oleh persamaan:
B+ S+Cb +t
Q=I 3 +
(18.192
1)
18.20 Interaksi lemah
Interaksi lemah terutama bertanggung jawab dalam peluruhan partikel
dasar dan inti semi-stabil. Telah kami bahas secara singkat tentang karakteristik
utama mereka di sub bab 18.9.
Sebagai acuan, dapat dinyatakan bahwa peluruhan disebabkan oleh
interaksi lemah hanya jika itu tidak dapat disebabkan oleh interaksi kuat dan
86
elektromagnetik. Peluruhan akan lemah jika setidaknya satu dari kondisi berikut
ini dipenuhi: (i) keanehan hukum konservasi tidak memuaskan, (ii) pesona hukum
konservasi tidak memuaskan, (iii) neutrino yang diasosiasikan dengan peluruhan.
+ 0
+ v
+
K
21%. Peluruhan
(e v e v )
terpesona
K
+
dengan
1013
hampir
sama dengan konstanta kopling dalam peluruhan muon murni leptonic yang diatur
oleh interaksi V-A (vektor dikurangi vektor aksial) (lihat Ch. V).
Aturan seleksi penting yang mengatur peluruhan lemah adalah sebagai
berikut: (a) perubahan keanehan tidak dapat melebihi satuan; | S | = 0,1. Aturan
0
ini terpenuhi dalam proses peluruhan partikel aneh ,
dan .
Tidak ada pelanggaran aturan yang pernah teramati. Misalnya dalam proses
peluruhan berikut
n ,
, dan
n ,
, S=-2 untuk
87
; S=0 di tiap kedudukan akhir dalam kedua kasus tersebut. (b) perubahan
spin isotop I dalam peluruhan melibatkan perubahan dalam S selalu 1/2; | I | =
1/2. (c) menyatakan aturan ketiga seleksi bahwa dalam peluruhan melibatkan
lepton, perubahan muatan Q diberikan oleh Q = S.
Ketidakkekalan paritas dalam peluruhan lemah secara erat diasosiasikan
dengan peran neutrino yang telah dibahas secara rinci dalam bab V, dapat dicatat
bahwa peluruhan lemah terjadi jika konservasi paritas dilanggar bahkan jika
jumlah lainnya, seperti S, C, dan muatan paritas dilestarikan. jika paritas kekal
bersama dengan kekekalan jumlah di atas, tidak ada peluruhan lemah yang dapat
terjadi.
Pada pembahasan 18.5 kita berbicara tentang interaksi Fermi universal
(interaksi lemah) yang digambarkan dalam bentuk segitiga Puppi. Diasumsikan
v e
p e
+ p ( n , v )
n
(e v e v )
g g
dan
dan
gp
menunjukkan bahwa kekuatan interaksi lemah berbagai sedikit berbeda satu sama
lain. Fakta ini dianggap oleh N. Cabbio yang terhubung semua konstanta melalui
parameter tunggal yang dikenal sebagai sudut cabbio
( c
140 ) .
Teori umum menyiratkan bahwa seiring dengan lemahnya arus, juga harus
ada arus netral lemah (lihat 18.21) yang belum lama ini telah ditemukan. Namun,
seperti yang dinyatakan beberapa observasi yang tidak diamati di alam, misalnya,
+
K
keempat (c-quark).
18.21 Gabungan interaksi lemah dan elektromagnetik
Keempat interaksi fundamental yang dibahas dalam bab 18.9 dikenal
sebagai interaksi gauge. Semua interaksi ini dimediasi oleh perantara kuanta
(partikel gauge) menimbulkan dan memaksa antara dua partikel sebanding dengan
produk dari 'muatan partikel-partikel. Untuk elektromagnetik, interaksi lemah dan
88
kuat nuklir, partikel gauge secara berturut-turut adalah -foton, menengah vektor
0
boson ( W , Z ) dan gluon. Mereka semua mempunyai spin partikel 1. Yang
sesuai muatan' adalah muatan listrik (), secara berturut-turut adalah biaya weaknuklir dan warna. Untuk interaksi gravitasi, partikel gauge adalah hipotetis
graviton tak bermassa pada spin 2, 'muatan' menjadi massa partikel.
Ini telah menjadi tujuan para fisikawan partikel yaitu untuk menyatukan
empat jenis interaksi sebagai aspek yang berbeda dari satu interaksi fundamental,
yang mengatur perilaku semua materi. Upaya yang pertama adalah penyatuan
interaksi sebagaimana Clerk Maxwell dan lainnya pada abad sembilan belas, yang
berhasil melakukan penyatuan interaksi listrik dan magnetik ke dalam interaksi
elektromagnetik tunggal.
Einstein juga berusaha untuk menyatukan interaksi gravitasi dan
elektromagnetik, tapi tidak sukses dalam upayanya.
S. Glashow dan Abdus Salam (Pakistan) dan JC Ward secara mandiri
menyarankan penggunaan ide-ide gauge untuk penyatuan interaksi
elektromagnetik dan lemah (1959) yang akhirnya dicapai oleh Abdus Salam dan
S. Weinberg (1967). Dengan asumsi bahwa interaksi lemah dimediasi oleh
beberapa partikel hipotetis
bahwa hal tersebut harus memiliki spin intrinsik seperti foton 1 dan harus
memiliki massa lebih besar dari sekitar 37,4 GeV, dengan asumsi kopling sama
konstan (1/137) untuk kedua interaksi elektromagnetik dan lemah.
Namun ada satu masalah yaitu viz , interaksi elektromagnetik memiliki
simetri kiri-kanan dalam constrast interaksi lemah untuk paritas yang tidak
terkonservasi. Hal itu menunjukkan bahwa alat penggabungan seperti tampak
dalam interaksi yang berbeda, mungkin terjadi jika diasumsikan dengan
menambahkan muatan listrik netral antara dalam kuantum lemah
Z 0 juga ada.
Ada dua masalah lain. Yang dan Mills telah menunjukkan bahwa teori
gauge didasarkan pada gagasan partikel gauge tak bermassa seperti foton -(dalam
kasus interaksi elektromagnetik) berbeda dengan partikel
dan
yang
89
0
Penemuan boson W
dan Z
(lihat 18.9) memberikan tanggapan
besar untuk model Weinberg-Salam (1983). Massa partikel-partikel ini masing-
(ev )
dan
W
ev
+ ,
.
Z 0
Leptonic ini meluruh lemah mungkin hanya beberapa persen dari jumlah
total peluruhan. Spin W adalah 1 sebagaimana diungkapkan oleh arah dari produk
peluruhan.
Teori Weinberg-Salam membuat prediksi untuk massa W dan Z sebagai
berikut:
90
mW =
37.4
GeV , mZ =37.4 sin W cos W GeV
sin W
Sudut Weinberg
dari eksperimen:
2
sin W =0.218 0.010
Secara teori massa W dan Z yang diperkirakan (
mZ
mW
= 80 GeV and
Z0
+ p
+ p e
e
v N v N ; eN eN
+
:
+ e
e
91
Hamburan Hadron-hadron
: NN NN
/sin2 w .
Kemungkinan seperti itu muncul karena nilai yang sama dari spin untuk
mengukur partikel dalam tiga kasus. Para fisikawan mengamati kekuatan yang
92
berbeda pada hasil energi rendah dari yang berbeda renormalizations karena
simetri spontan berturut-turut.
Teori unifications besar harus memerlukan kelompok simetri tinggi seperti
yang dipertimbangkan dalam teori Weinberg-Salam. Hal ini diyakini bahwa
kelompok yang dikenal sebagai SU5 akan sesuai dengan tujuan yang
memperlakukan kuark dan lepton sejajar.
Konsekuensi mengejutkan dari teori ini adalah hilangnya distiton antara
kuark dan lepton yang menimbulkan kemungkinan transformasi proton dalam
lepton dan pion, pertama ditunjukkan oleh JC Paty dari India dan A. Salam dari
Pakistan. Proton kemudian tidak menjadi partikel stabil. Beberapa perhitungan
telah memberikan keterangan bahwa waktu hidup dari peluruhan proton menjadi
1029 tahun untuk modus peluruhan
+
e
p
93
Ketika kita mendekati waktu +10-10 s hal ini mengalami pembekuan kuat
dari interaksi elektro-lemah dan dua interaksi yang sekarang muncul dengan
pendekatan yang berbeda. Jadi sekarang ada tiga dasar interaksi yaitu, gravitasi,
0
operasi nuklir dan elektro-lemah. Muncullah boson W dan Z .
94
BAB III
PENUTUP (KESIMPULAN)
1. Pada awal abad 19, ditemukan suatu partikel yaitu electron yang
ditemukan oleh J. J. Thompson. Kemudian penemuan sinar-x,
radioaktivitas dan penelitian terhadap sifat dasar dari parikel dan
selama peluruhan radioaktivitas mengenai model atom Bohr-Rutherford.
.
2. neutron yang ditemukan selannjutnya (1931). Hipotesis proton-neutron
pada komposisi inti atom yang selanjutnya dijelaskan pada pengamatan
sifat inti.
3. Prediksi Dirac mengenai keberadaan dari positron dengan dengan
penemuan Anderson (1933) yang menjadi bukti dari keberadaan pasangan
partikel dan anti partikel. Hipotesis neutrino yang dikemukakan oleh Pauli
(1931) menjelaskan tentang energy yang hilang pada peluruhan yang
ditemukan pada penemuan partkel elementer yang massanya hilang.
4. Penemuan dari dua partikel yang berumur pendek yaitu muon dan pion
pada sinar kosmik berturut-turut pada tahun 1937 dan 1947. Seperti yang
terlihat, pion dan interaksi partikel yang kuat (meson dan hyperon) berasal
dari tumbukan energy yang kuat.
5. Pi-meson atau pion adalah partikel dengan massa diantara electron dan
proton
6. Muon () seperti muatan pion adalah partikel dengan massa diantara
electron dan proton. Beberapa diantaranya lebih ringan dibandingkan
[Link] pion bersifat listrik dimana mempunyai satu muatan elektron
positif atau negatif dan tidak stabil.
7. K-meson atau koans adalah produksi interaksi kuat, tiap benturan N-N
(inti-inti) atau dalam benturan N.
(xi)
0
95
partikel
96
Ghoshal, S. N. 2002. Nuclear Physics. New Delhi: Chand & Company Ltd.