A.
Definisi
Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) merupakan penyakit sistem
daya tahan, atau penyakit auto imun, dimana tubuh pasien lupus
membentuk antibodi yang salah arah, merusak organ tubuh sendiri, seperti
ginjal, hati, sendi, sel darah merah, leukosit, atau trombosit. Antibodi
seharusnya ditujukan untuk melawan bakteri ataupun virus yang masuk ke
dalam tubuh. (Sukmana, 2004).
Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) adalah penyakit reumatik
autoimun
yang
ditandai
adanya
inflamasi
tersebar
luas,
yang
mempengaruhi setiap organ atau sistem dalam tubuh. Penyakit ini
berhubungan dengan deposisi autoantibodi dan kompleks imun sehingga
mengakibatkan kerusakan jaringan.( Sudoyo Aru,dkk 2009 )
Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) adalah suatu penyakit
autoimun yang kronik dan menyerang berbagai sistem dalam tubuh. Tanda
dan gejala dari penyakit ini bisa bermacam-macam, bersifat sementara dan
sulit untuk didiognisis. Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) adalah
penyakit radang multisistem yang sebabnya belum diketahui, dengan
perjalanan penyakit yang mungkin akut dan fulminan atau kronik remisi
dan eksaserbasi, disertai oleh terdapatnya berbagai macam autoantibodi
dalam tubuh.
B. Tanda dan gejala
Sistemik Lupus Eritematosus (SLE) didasarkan pada sistem tubuh bagian
mana yang terkena efek penyakit ini. Tapi secara umum, tanda dan gejala
lupus antara lain :
1. Lelah
2. Demam
3. Hilang berat badan atau berat badan meningkat
4. Ruam yang berbentuk seperti kupu-kupu pada wajah yang menutupi
pipi dan hidungLuka pada kulit yang timbul atau parah ketika terkena
sinar matahari
5. Radang pada mulut
6. Rambut rontok
7. Jari dan kuku yang memutih atau membiru ketika terkena dingin atau
saat stress (Raynauds phenomenon)
8. Napas pendek
1
9. Nyeri pada dada
10. Mata kering
11. Mudah memar
12. Gelisah
13. Depresi
14. Hilang ingatan
C. Etiologi
Sampai saat ini penyebab SLE (Sistemik Lupus Eritematosus)
belum diketahui, diduga ada beberapa paktor yang terlibat seperti faktor
genetik, infeksi dan lingkungan ikut berperan pada patofisiologi SLE
(Sistemik
Lupus
Eritematosus).
Sistem
imun
tubuh
kehilangan
kemampuan untuk membedakan antigen dari sel dan jaringan tubuh
sendiri. Penyimpangan dari reaksi imunologi ini dapat menghasilkan
antibodi secara terus menerus. Antibodi ini juga berperan dalam kompleks
imun sehingga mencetuskan penyakit inflamasi imun sistemik dengan
kerusakan multiorgan dalam fatogenesis melibatkan gangguan mendasar
dalam pemeliharaan self tolerance bersama aktifitas sel B, hal ini dapat
terjadi sekunder terhadap beberapa faktor :
1. Efek herediter dalam pengaturan proliferasi sel B
2. Hiperaktivitas sel T helper
3. Kerusakan pada fungsi sel T supresor
Beberapa faktor lingkungan yang dapat memicu timbulnya lupus :
1. Infeksi
2. Antibiotik
3. Sinar ultraviolet
4. Stress yang berlebihan
5. Obat-obatan yang tertentu
6. Hormon Lupus seringkali disebut penyakit wanita walaupun
juga bisa diderita oleh pria. Lupus bisa menyerang usia
berapapun, baik pada pria maupun wanita, meskipun 10-15 kali
sering ditemukan pada wanita. Faktor hormonal yang
menyebabkan wanita sering terserang penyakit lupus daripada
pria. Meningkatnya gejala penyakit ini pada masa sebelum
menstruasi atau selama kehamilan mendukung keyakinan
bahwa hormone (terutama esterogen) mungkin berperan dalam
2
timbulnya penyakit ini. Kadang-kadang obat jantung tertentu
dapat
menyebabkan
sindrom
mirip
lupus,
yang
akan
menghilang bila pemakaian obat dihentikan.
D. Patofisiologi
Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang
menyebabkan peningkatan autoantibody yang berlebihan. Gangguan
imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik,
hormonal (sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya
terjadi selama usia reproduksi) dan lingkungan (cahaya matahari, luka
bakar termal). Obat-obatan tertentu seperti hidralazin, prokainamid,
isoniazid, klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan disamping
makanan seperti kecambah alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE akibat
senyawa kimia atau obat-obatan. Pada SLE, peningkatan produksi
autoantibodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T supresor yang
abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan kerusakan
jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya terjadi
serangan antibodi tambahan dan siklus tersebut berulang kembali.
Kerusaan organ pada SLE didasari pada reaksi imunologi. Reaksi ini
menimbulkan abnormalitas respons imun didalam tubuh yaitu :
1) Sel T dan sel B menjadi otoreaktif
2) Pembentukan sitokin yang berlebihan
3) Hilangnya regulasi kontrol pada sistem imun, antara lain :
a. Hilangnya kemampuan membersihkan antigen di kompleks imun
maupun sitokin dalam tubuh
b. Menurunnya kemampuan mengendalikan apoptosis
c. Hilangnya toleransi imun : sel T mengenali molekul tubuh sebagai
antigen karena adanya mimikri molekuler.
Akibat proses tersebut, maka terbentuk berbagai macam antibodi di
dalam tubuh yang disebut sebagai autoantibodi. Selanjutnya
antibodi-antibodi yang tersebut membentuk kompleks imun.
Kompleks imun tersebut terdeposisi pada jaringan/organ yang
akhirnya menimbulkan gejala inflamasi atau kerusakan jaringan.