0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
132 tayangan14 halaman

Komponen dan Sistem Sterilizer Kelapa Sawit

Dokumen tersebut membahas tentang stasiun perebusan (sterilizer station) dalam sistem pengolahan kelapa sawit. Ia menjelaskan proses perebusan, jenis-jenis sterilizer, komponen-komponen utama sterilizer, prinsip kerja sterilizer, dan tujuan dari proses perebusan.

Diunggah oleh

DimasImroni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
132 tayangan14 halaman

Komponen dan Sistem Sterilizer Kelapa Sawit

Dokumen tersebut membahas tentang stasiun perebusan (sterilizer station) dalam sistem pengolahan kelapa sawit. Ia menjelaskan proses perebusan, jenis-jenis sterilizer, komponen-komponen utama sterilizer, prinsip kerja sterilizer, dan tujuan dari proses perebusan.

Diunggah oleh

DimasImroni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Stasiun Perebusan (Sterilizer Station)


Dalam sistem pengolahan kelapa sawit, salah satu prosesnya adalah proses

rebusan yang dilaksanakan pada stasiun rebusan. Proses rebusan kelapa sawit
dilakukan dengan proses tekanan uap air. Variabel yang berperanan penting dalam
proses rebusan ini adalah jumlah buah kelapa sawit dan tekanan uap air dalam
Sterilizer (salah satu bagian dari stasiun rebusan). Semakin besar buah kelapa
sawit mendapat tekanan uap air untuk waktu tertentu, semakin cepat terjadi
pemasakan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar 2.1 berikut.

Gambar 2.1. Sterilizer


Sumber : PMKS PT. SISIRAU ACEH TAMIANG

2.2.

Perebusan (Sterilizer)
Sterilizer adalah suatu bejana uap yang bertekanan, yang fungsinya

merebus Tandan Buah Segar (TBS) dengan memakai media panas (D.

Darnoko,2003). Media tersebut adalah uap basah yang berasal dari sisa
pembuangan turbin uap yang bertekanan 3 kg/cm dan temperature 145C.
alat ini disebut juga bejana rebusan/ketel rebusan dan biasanya alat ini sebagai
media perebusan buah Kelapa Sawit. Ada dua macam type Sterilizer yang biasa di
gunakan yaitu vertical:

Sterilizer vertikal adalah sterilizer yang berbentuk silinder dengan


muatan 2-6 ton TBS. buah di isi melalui pintu pengeluaran
sebelah sisi depan bawah. Pada bagian sterilizer dialasi dengan
plat berlubang yang di pasang menurun ke arah pintu sehingga
memudahkan untuk mengeluarkan isinya. Seperti pada gambar 2.2
berikut.

Gambar 2.2. sterilizer Vertikal


Sumber : [Link]

Sterilizer horizontal adalah sterilizer yang berbentuk silinder yang


di pasang mendatar, ditumpu sesuai panjang. Sterilizer horizontal
ada yang berapintu satu dan ada yang berpintu dua. Sterilizer ini
diisi ddengan tandan buah yang di masukan ke dalam lori. Lori
ada Yng mempunyai kapasitas 1.5-2.5 ton TBS. sterilzer
horizontal dapat dimuati 7 10 lori untuk satu kali peebusan

degan muatan perlori 2.5 ton TBS. Seperti pada gambar 2.3.
berikut.

Gambar 2.3. Sterilizer Horizontal


Sumber : [Link]

Perbedaan antara kedua sterilizer tersebut adalah :


Sterilizer vertical lebih sederhana dalam bentuk serta lebih rendah
biaya investasinya di bandingkan dengan sterilizer horizontal.
Kapasitas olah sterilizer vertical lebih kecil di bandingkan dengan
sterilizer horizontal karena sterilizer vertical hanya dapat di
pergunakan di pabrik yang berkapasitas terbatas.
Pada sterilizer horizontal kerugian minyak didalam janjangan
kosong dan di dalam air embun perebusan lebih tinggi dari pada
sterilizer vertical, hal itu di sebabkan buah mengalami kerusakan
sewaktu pengisian karena berbenturan dengan pintu isian dan
bantingan yang dialami sewaktu di masukan.
Diperlukannya waktu yang lama untuk membongkar isi sterilizer
vertical karena di lakukan dengan tangan manusia jika di
bandingkan dengan sterilizer horizontal yang di lakukan dengan
mekanik.

2.3.

Prinsip Kerja Sterilizer


5

Prinsip kerja sterilizer yang terdapat pada PMKS PT. SISIRAU, Desa
Sidodado, Kabupaten Aceh Tamiang adalah menggunakan sistem Triple Peak
(tiga puncak). Adapun prinsip perebusan tiga puncak adalah tiga kali pemasukan
uap kedalam sterilizer dan tiga kali pembuangan uap.
Metode perebusan dengan menggunakan prinsip tiga puncak adalah
sebagai berikut :
1. Uap dimasukkan selama 15 menit dan tekanan naik sampai 1,5 kg/cm
dicapai puncak pertama, suhu 100 C.
2. Uap dan kondensat dibuang selama 1 menit dan tekanan turun sampai
menjadi 0 kg/cm
3. Uap dimasukkan lagi selama 15 menit dan tekanan naik sampai 2,3 kg/cm
dicapai puncak kedua, suhu 122 C.
4. Uap dibuang lagi selama 5 menit dan tekanan turun sampai menjadi 0
kg/cm.
5. Uap dimasukkan kembali selama 20 menit dan tekanan dan tekanan naik
sampai 3 kg/cm dicapai puncak ketiga, suhu 132 C.
6. Pada puncak ketiga ini suhu yang ada dipertahankan selama 20 menit.
7. Uap dan kondensat akan dibuang sampai habis atau sampai tekanan akan
turun lagi menjadi 0 kg/cm.
Grafik perebusan sistem tiga puncak yang menghubungkan tekanan dengan
waktu dapat dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.4. Grafik perebusan triple peak


6

2.4.

Fungsi dan Tujuan Perebusan


Adapun fungsi dan tujuan perebusan TBS pada pabrik kelapa sawit yaitu:
1. Menonaktifkan enzim Lipase yang bertindak sebagai katalisator dalam
pembentukan asam lemak bebas (FFA) dan enzim Oksidasi.
2. Memudahkan buah lepas dari tandannya sehingga jumlah brondolan
yang diperoleh di proses pemipilan dapat maksimum.
3. Melunakkan daging buah sehingga nut mudah dipisahkan dari serat
pericarp selama pengadukan di digester dan selanjutnya dipisahkan
dengan sempurna di depericarper column.
4. Membantu proses pelepasan inti dari cangkang di stasiun kernel.
Untuk memperoleh mutu minyak sawit yang baik, maka dalam perebusan

perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :


1. Lamanya Proses Perebusan
Lamanya waktu dalam melakukan oerebusan TBS akan mempengaruhi
hasil dan efesiensi dari pabrik itu sendiri. Jika waktu perebusan tidak
cukup maka akan menyebabkan kerugian, diantaranya buah yang akan
kurang masak. Akibat yang timbul yaitu sebagian berondolan tidak
terlepas dari tandannya dan akan menyebabkan kehilangan minyak.
Selain itu, waktu perebusan yang tidak cukup akan terjadi pelumatan
dalam digester tidak sempurna. Buah yang tidak sempurna pada perebusan
akan menyebabkan pericarp sukar terlepas dari biji dan tempurung kelapa
sawit sukar untuk dipecah, sehingga losis (kerugian) pada ampas dan biji
akan meningkat.
2. Tekanan Steam
Bila tekanan steam (uap) yang di berikan tidak cukup maka akan
menyebabkan proses perebusan yang dilakukan menjadi sangat lama
sehingga akan mempengaruhi kondisi buah rebusan.

3. Pelepasan Steam
Uap air yang terkondensasi pada proses perebusan akan berada di
dasar sterilizer. Air ini akan menyerap panas yang diberikan sehingga
jumlah dalamsterilizer akan bertambah. Jika tidak dibuang maka akan
merendam buah dalam lori sehingga akan menyebabkan sebagian besar
minyak akan terendam dan akan tercuci.

2.5.

Komponen komponen Utama Sterilizer


Adapun komponen-komponen utama Sterilizer yaitu sebagai berikut :
1. Badan Sterilizer.
2. Distributor Steam.
3. Seal.
4. Manometer.
5. Pipa pemasukan dan pembuangan Uap.
6. Alat Penarik (Bollard).

2.5.1. Badan sterilizer


Badan sterilezer pada umumnya disusun dari dua buah atau lebih banyak
gelang-gelang, balutan balutan atau silinder silinder plat. Tiap bulatan dibuat
dari satu plat logam yang datar, yang dilengkungkan berupa silinder dengan jalan
dirol. Ujung tiap bulatan ini disambung satu sama lain dengan memakai celah
kelingan atau las yang sejajar dengan garis sumbu sterilizer seperti yang terlihat
pada gambar 2.5, oleh karena itu celah ini dinamakan celah memanjang sterilizer.
Jika badan sterilizer terdiri dari satu bulatan, garis tengah masing masing
bulatan ini dibuat sedemikan rupa, sehingga ia pada sebagian kecil dapat digeser
satu kedalam lain, sehingga terjadi celah keliling yang berimpit untuk sebuah
sterilizer, atau ketel tangki pada ummnya.

Gambar 2.5. Badan Sterilizer


Sumber : [Link]
2.5.2. Distributor steam
Distributor steam adalah lapisan plat yang mempunyai ukuran panjang 220
cm, dan mempunyai lubang lubang kecil yang berbentuk bulat dan mempunyai
diameter lubang 5 mm yang ditempatkan didalam sterilizer dan diletakkan
ditengah tengah, distributor steam yang mempunyai fungsi sebagai celah
masuknya uap dari pipa pipa uap yang berfungsi agar pendistribusian uap pada
satu titik yang dapat mengakibatkan perebusan tidak merata.

2.5.3. Seal
Seal adalah alat yang digunakan untuk mencegah kebocoran yang terjadi
diantara sambungan, dan pada proses perebusan yang menggunakan sterilizer ini
seal dipasang pada pintu sterilizer yang berfungsi sebagai pencegah kebocoran
uap seperti pada gambar 2.6, dan seal yang digunakan disini adalah seal yang
terbuat dari plat yang dilapisi tali asbes.

Gambar 2.6. Packing Pintu


Sumber : PMKS PT. SISIRAU Aceh Tamiang
2.5.4. Manometer (Pengukur tekanan)
Manometer adalah suatu alat yang digunakan untuk mengetahui tekanan
pada serilizer, manometer terdiri dari sebuah pipa tembaga elastis atau pegas
kosong yang dilengkungkan sampai kira-kira berbentuk lingkaran dan mempunyai
irisan pilin, dihubungkan pada satu ujung dalam sebuah rumah dari tembaga,
sedangkan ujungnya yang buntu dapat bergerak dengan bebas.
Bila keadaan pegas yang kosong itu kini dimasukkan suatu macam gas
atau zat cair dengan tekanan, penampang melintangdari dalam, sehingga pegas
kosong kemudian merenggang. Dengan demikian ujungnya yang bebas tadi akan
bergerak. Pergerakan tersebut akan diteruskan oleh sebuah batang penarik yang
kecil ke gigi sektor.
Tangan dari sektor dibuat beralur, sehingga titik penyambung dari batang
penarik dapat disetel. Dengan demikian kita dapat mengubah penunjukkan dari
jarum pada pergerakan ujung pegas yang ditentukan, jadi tekanan dapat disetel.

10

Jarum itu berjalan sepanjang sebuah skala dimana tekanan kerja maksimum
ditunjukkan oleh sebuah garis merah, seperti pada gambar 2.7.

Gambar 2.7 Manometer


Sumber : PMKS PT. SISIRAU Aceh Tamiang
2.5.5. Pipa pemasukkan dan pembuangan uap
Pipa-pipa yang terdapat pada sterilizer sangatlah berperan penting baik
dalam proses pengaliran uap kedalam sterilizer maupun kegunaannya sebagai
pengalir uap hasil proses perebusan yang dilakukan, pipa yang terdapat pada
sterilizer terbuat dari besi cor yang mempunyai fungsi sebagai sarana penghantar
uap dari tangki uap sisa turbin kedalam sterilizer.
2.5.6. Alat penarik (bollard)
Alat penarik (bollard) adalah besi cor yang digunakan untuk menarik lori
yang masuk dan yang keluar dari sterilizer dengan cara melilitkan tali dengan
teratur dan tidak bertindih seperti terlihat pada gambar 2.8. Alat penarik (bollard)
dapat digunakan sekaligus dua buah (kiri dan kanan) apabila dijumpai beban yang
berat (emrgency) dengan menghindari gesekan tali pada frame.

11

Gambar 2.8. Alat Penarik (Bollard)


Sumber : PMKS PT. SISIRAU Aceh Tamiang
2.6.

Metode perebusan
Sebenarnya metode macam-macam perebusan di tentukan mengikuti

dengan jenis perebusan yang diterapkan. Untuk jenis strilizier horizontal dengan
menggunakan lori akan menggunakan tekanan sampai tripple peak. Mengapa di
perlukan hingga tripple peak, karena buah akan benar matang sampai ke lapisan
bawah apabila tekanan mencapai 3 bar.
Sebagai penjelasan saat single peak tekanan steam akan ditahan sampai 1,5
bar biasa nya selama 15-20 menit. Hal ini bertujuan untuk mendorong udara yang
masih terdapat didalam tabung [Link] udara pada ruang sterilizier
dapat mengakibatkan terjadinya perubahan fase dari uap menjadi cair karena
perbedaan suhu dari udara dengan steam tersebut. Perubahan fase ini akan
menimbulkan genangan air (kondensat).
Pada saat double peak, di tahan 2,5 bar selama 15-20 menit. Bertujuan
untuk mendorong air kondesat k yang mengenang di bawah lantai sterilizier
keluar melalui kondensat valve. Penumpukan air kondensat hingga menggenangi
TBS dapat meningkatkan oil losses yang terbawa pada kondensat. Untuk triple
peak, pada saat ini lah proses perebusan buah dilakukan. Biasa nya dilakukan
penahan steam apabila sudah mencapi 3 bar selama 40-45menit. Pada tekanan ini
diharapakan buah sudah dalam kondisi masak dan nanti nya dapat di proses pada
stasiun selanjutnya (Pahan, I., 2006).

12

2.7.

Jenis-jenis Manajemen Pemeliharaan Pabrik

2.7.1. Pemeliharaan pencegahan (Preventive Maintenance)


Sistem pemeliharaan ini adalah melakukan pemeliharaan pada selang
waktu yang ditentukan sebelumnya, atau terhadap kriteria lain yang diuraikan dan
dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan bagian-bagian lain tidak memenuhi
kondisi yang bisa diterima (Corder A.S, 1992, hlm 4). Seperti dalam industri
motor masih dikenal istilah servis. Istilah ini meliputi semua pemeriksaan dan
penyetelan yang tercakup dalam buku petunjuk pemeliharaan, terutama
pelumasan, pengisian kembali, pemeriksaan minor dan sebagainya. Dalam setiap
kejadian, pemeliharaan korektif biasanya memerlukan keadaan berhenti,
sedangkan pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) dapat dilakukan
pada waktu berhenti maupun waktu berjalan.

2.7.2. Pemeliharaan setelah rusak (Breakdown Maintenance)


Pemeliharaan setelah rusak (Breakdown) merupakan pemeliharaan yang
dilakukan terhadap peralatan setelah peralatan mengalami kerusakan sehinggga
terjadi kegagalan yang menghasilkan ketidaktersediaan suatu alat. Pada mulanya
semua industri menggunakan sistem ini. Jika industri memakai sistem ini maka
kerusakan mesin akan berulang dan frekuensi kerusakannya sama setiap tahunnya.
Industri yang menggunakan sistem ini dianjurkan menyiapkan cadangan mesin
(stand by machine) bagi mesin-mesin yang vital. Sifat lain dari sistem ini adalah
data dan file informasi, dimana data dan file informasi perbaikan mesin/peralatan
harus tetap dijaga. Pada sistem ini untuk pembongkaran tahunan tidak ada karena
pada saat dilakukan penyetelan dan perbaikan, unit-unit cadanganlah yang
dipakai. Sistem Breakdown Maintenance ini sudah banyak ditinggalkan oleh
industri-industri karena sudah ketinggalan zaman karena tidak sistematik secara
keseluruhannya dan banyak mengeluarkan biaya.
2.7.3. Pemeliharaan darurat (Emergency Maintenance)
Pemeliharaan darurat adalah pemeliharaan yang perlu segera dilakukan
untuk mencegah akibat yang serius (Corder A.S, 1992, hlm 4). Misalnya sebuah

13

mesin sedang beroperasi namun tiba-tiba mesin tersebut mati. Berapa kalipun
dihidupkan ternyata tidak mau hidup lagi. Ketika tutup mesin dibuka, diketahuilah
bahwa air radiator mesin habis. Setelah diperiksa didapat kerusakan di bagian pipa
radiator dan ada juga bagian mesin yang retak. Akibat kerusakan tersebut maka
diperlukan adanya reparasi besar atau penggantian unit yang mengakibatkan
operasi mesin harus terhenti selama reparasi besar dikerjakan.
2.7.4. Pemeliharaan korektif (Corrective Maintenance)
Pemeliharaan korektif adalah pemeliharaan yang dilakukan untuk
memperbaiki suatu bagian (termasuk penyetelan dan reparasi) yang telah terhenti
untuk memenuhi suatu kondisi yang bisa diterima. Pemeliharaan korektif meliputi
reparasi minor terutama untuk rencana jangka pendek. Reparasi mesin setelah
mengalami kerusakan bukanlah kebijaksanaan pemeliharaan yang paling baik.
Biaya pemeliharaan terbesar biasanya bukan biaya reparasi, bahkan bila hal itu
dilakukan dengan kerja lembur. Lebih sering unsur biaya pokok adalah biaya
berhenti untuk reparasi. Kerusakan-kerusakan yang terjadi pada mesin walaupun
reparasi dilakukan secara cepat akan menghentikan operasi, para karyawan dan
mesin menganggur, produksi terganggu bahkan dapat menghentikan jalannya
produksi. Pemeliharaan korektif merupakan perbaikan peningkatan kemampuan
peralatan mesin kedepan karena kegagalan atau pengurangan kemampuan mesin
selama pemeliharaan preventive dikerjakan atau sebaliknya, demi perbaikan mesin
dan optimal dalam penggunaannya. Pemeliharaan korektif terdiri dari beberapa
bagian (Dhillon, 2006, hlm 143) seperti:
1. Perbaikan karena rusak.
Bagian ini fokus dengan perbaikan pada bagian kerusakan peralatan
supaya kembali kepada kondisi operasionalnya.

2. Overhaul.

14

Bagian ini fokus dengan perbaikan atau memulihkan kembali (restoring)


peralatan ke keadaan yang semula yang dapat dipergunakan (complete
serviceable) untuk seluruh peralatan di pabrik tersebut.
3. Salvage.
Bagian ini fokus dengan pembuangan dari material yang tidak dapat
diperbaiki dan pemanfaatan material yang masih bisa dipakai dari.
4. Servicing.
Tipe bagian pemeliharaan korektif ini mungkin dibutuhkan karena adanya
tindakan pemeliharaan korektif, seperti pengelasan, dan lainnya.
5. Rebuild.
Bagian ini fokus dengan pemulihkan kembali (restoring) peralatan ke
keadaan yang standard sedekat mungkin ke keadaan aslinya berkenaan
dengan keadaan fisik, daya guna dan perpanjangan masa pakai.
2.7.5. Maksud dan tujuan manajemen pemeliharaan pabrik
Adapun maksud pemeliharaan adalah untuk meningkatkan efektivitas serta
porsi keuntungan bagi perusahaan. Hal ini bisa dimungkinkan karena dengan
dilakukannya perawatan maka dapat ditekan ongkos produksi disamping dapat
pula ditingkatkan kapasitas produksi suatu mesin.
Adapun tujuan utama dilakukannya pemeliharaan adalah:
1. Untuk memperpanjang usia kegunaan aset yaitu setiap bagian dari suatu
tempat kerja, bangunan dan isinya. Hal ini terutama penting di negara
berkembang karena kurangnya sumber daya modal untuk penggantinya.
Di negara yang sudah maju, lebih murah mengganti daripada memelihara.
2. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk
produksi atau jasa dan mendapatkan laba investasi (return on investment)
semaksimum mungkin.
3. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang
diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu, misalnya unit cadangan,
unit pemadam kebakaran dan penyelamat dan sebagainya.

15

4. Untuk menjamin keselamatan orang-orang yang menggunakan sarana


tersebut.

16

Anda mungkin juga menyukai