100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
428 tayangan2 halaman

Integrasi Timor-Timur ke Indonesia 1976

Integrasi Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia dipengaruhi oleh situasi politik Perang Dingin dimana Amerika Serikat khawatir komunisme akan merembet ke negara-negara Asia Tenggara. Di Timor Timor muncul pertikaian antara partai yang ingin merdeka, bergabung dengan Indonesia, atau menjadi bagian Portugal. Pemerintah Indonesia akhirnya melakukan operasi militer untuk mengintegrasikan Timor Timur atas permintaan beberapa partai politik disana dan didukung

Diunggah oleh

oyra009
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
428 tayangan2 halaman

Integrasi Timor-Timur ke Indonesia 1976

Integrasi Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia dipengaruhi oleh situasi politik Perang Dingin dimana Amerika Serikat khawatir komunisme akan merembet ke negara-negara Asia Tenggara. Di Timor Timor muncul pertikaian antara partai yang ingin merdeka, bergabung dengan Indonesia, atau menjadi bagian Portugal. Pemerintah Indonesia akhirnya melakukan operasi militer untuk mengintegrasikan Timor Timur atas permintaan beberapa partai politik disana dan didukung

Diunggah oleh

oyra009
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

C.

Integrasi Timor-Timur
Sumber: Deppen, 1975
Gambar 4.11 Guntingan berita tentang
referendum di Timor-Timur

Integrasi Timor-Timur ke dalam wilayah Indonesia tidak terlepas dari situasi politik internasional
saat itu, yaitu perang dingin dimana konstelasi geopolitik kawasan Asia Tenggara saat itu terjadi
perebutan pengaruh dua blok yang sedang bersaing pada saat itu yaitu Blok Barat (Amerika
Serikat) dan Blok Timur (Uni Soviet) . Dengan kekalahan Amerika Serikat di Vietnam pada tahun
1975, berdasarkan teori domino yang diyakini oleh Amerika Serikat bahwa kejatuhan Vietnam ke
tangan kelompok komunis akan merembet ke wilayahwilayah lainnya. Berdirinya pemerintahan
Republik Demokratik Vietnam yang komunis dianggap sebagai ancaman yang bisa menyebabkan
jatuhnya negara-negara di sekitarnya ke tangan pemerintahan komunis.

Kemenangan komunis di Indocina (Vietnam) secara tidak langsung juga membuat khawatir
para elit Indonesia (khususnya pihak militer). Pada saat yang sama di wilayah koloni Portugis
(Timor-Timur) yang berbatasan secara langsung dengan wilayah Indonesia terjadi krisis
politik. Krisis itu sendiri terjadi sebagai dampak kebebasan yang diberikan oleh pemerintah
baru Portugal di bawah pimpinan Jenderal Antonio de Spinola. Ia telah melakukan perubahan
dan berusaha mengembalikan hak-hak sipil, termasuk hak demokrasi masyarakatnya, bahkan
dekolonisasi.
Di Timor-Timur muncul tiga partai politik besar yang memanfaatkan kebebasan yang diberikan
oleh pemerintah Portugal. Ketiga partai politik itu adalah: (1) Uniao Democratica Timorense
(UDT-Persatuan Demokratik Rakyat Timor) yang ingin merdeka secara bertahap. Untuk tahap
awal UDT menginginkan Timor-Timur menjadi negara bagian dari Portugal: (2) Frente
Revoluciondria de Timor Leste Independente (Fretilin-Front Revolusioner Kemerdekaan TimorTimur) yang radikal Komunis dan ingin segera merdeka; dan (3)
Associacau Popular Democratica Timurense (Apodeti- Ikatan Demokratik Popular Rakyat
Timor) yang ingin bergabung dengan Indonesia. Selain itu terdapat dua Partai kecil, yaitu
Kota dan Trabalista. Ketiga partai tersebut saling bersaing, bahkan timbul konflik berupa
perang saudara.
Pada tanggal 31 Agustus 1974 ketua umum Apodeti, Arnaldo dos Reis Araujo, menyatakan
partainya menghendaki bergabung dengan Republik Indonesia sebagai provinsi ke-27.
Pertimbangan yang diajukan adalah rakyat di kedua wilayah tersebut mempunyai persamaan dan
hubungan yang erat, baik secara historis dan etnis maupun geografis. Menurutnya integrasi akan
menjamin stabilitas politik di wilayah tersebut. Pernyataan tokoh Apodeti itu mendapat respons
yang cukup positif dari para elit politik Indonesia, terutama dari kalangan elit militer, yang pada
dasarnya memang merasa khawatir jika

Timor-Timur yang berada di halaman belakang jatuh ke tangan komunis. Meskipun


demikian, pemerintah Indonesia tidak serta merta menerima begitu saja keinginan orangorang Apodeti.

Sumber : Anhar Gonggong dan Musa Asy arie, 2005


Gambar 4.12 Demonstrasi masyarakat Timor-Timur yang menginginkan integrasi

Keterlibatan Indonesia secara langsung di Timor-Timur terjadi setelah adanya permintaan dari
para pendukung Proklamasi Balibo, yang terdiri UDT bersama Apodeti, Kota dan Trabalista.
Keempat partai itu pada tanggal 30 November 1975 di kota Balibo mengeluarkan pernyataan
untuk bergabung dengan pemerintahan Republik Indonesia. Pada tanggal 31 Mei 1976 DPR
Timor-Timur mengeluarkan petisi yang isinya mendesak pemerintah Republik Indonesia agar
secepatnya menerima dan mengesahkan bersatunya rakyat dan wilayah Timor Timur ke dalam
Negara Republik Indonesia.

Atas keinginan bergabung rakyat Timor Timur dan permintaan bantuan yang diajukan,
pemerintah Indonesia lalu menerapkan Operasi Seroja pada Desember 1975. Operasi
militer ini diam-diam didukung oleh Amerika Serikat (AS) yang tidak ingin pemerintahan
komunis berdiri di Timor Timur. Pada masa itu Perang Dingin antara AS dengan Uni Sovyet
yang komunis memang tengah berlangsung.
Bersamaan dengan operasi-operasi keamanan yang dilakukan, pemerintah Indonesia dengan
cepat juga menjalankan proses pengesahan Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia dengan
mengeluarkan UU no. 7 Tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur ke dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan pembentukan Daerah Tingkat I Timor
Timur. Pengesahan ini akhirnya diperkuat melalui Tap MPR nomor IV/MPR/1978. Timor
Timur secara resmi menjadi propinsi ke 27 di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia.
Negara-negara tetangga dan pihak Barat, termasuk Amerika Serikat dan Australia dengan
alasannya masing-masing umumnya mendukung tindakan Indonesia. Kekhawatiran akan
jatuhnya Timor-Timur ke tangan komunis membuat negara-negara Barat (khususnya Amerika
Serikat dan Australia) secara diam-diam mendukung tindakan Indonesia. Mereka secara defacto dan selanjutnya de-jure integrasi Timor-Timur ke wilayah Indonesia. Akan tetapi,
penguasaan Indonesia terhadap wilayah itu ternyata menimbulkan banyak permasalahan yang
berkelanjutan, terutama setelah berakhirnya perang dingin dan runtuhnya Uni Soviet.
Sumber : Buku Paket Sejarah Indonesia Kelas XII

Anda mungkin juga menyukai