75% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
608 tayangan41 halaman

Proses Setting Out dalam Konstruksi

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai proses survei konstruksi (setting out) untuk menentukan titik referensi dalam pembangunan bangunan atau infrastruktur. Langkah-langkah pentingnya meliputi pematokan batas lahan, pengukuran kontur tanah, pembuatan tanda acuan level, serta pengamatan kondisi lapangan. Selain itu, dibahas pula metode pondasi dangkal yang umum digunakan seperti pondasi batu kali.

Diunggah oleh

Levina Devi Karista
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
75% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
608 tayangan41 halaman

Proses Setting Out dalam Konstruksi

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai proses survei konstruksi (setting out) untuk menentukan titik referensi dalam pembangunan bangunan atau infrastruktur. Langkah-langkah pentingnya meliputi pematokan batas lahan, pengukuran kontur tanah, pembuatan tanda acuan level, serta pengamatan kondisi lapangan. Selain itu, dibahas pula metode pondasi dangkal yang umum digunakan seperti pondasi batu kali.

Diunggah oleh

Levina Devi Karista
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS I

Setting Out
Setting Out (Lay Out) atau biasa dikenal sebagai survey konstruksi, adalah pengukuran awal untuk
menentukan titik titik referensi (pematokan) yang bertujuan melancarkan proses konstruksi bangunan
atau jalanan.
Surveyor atau disebut juga sebagai uitzet mempunyai bermacam tugas dalam pembangunan proyek
gedung, secara umum pekerjaan surveyor berhubungan dengan pengukuran bangunan.
Berikut ini adalah Ilmu yang harus dikuasai dengan baik oleh surveyor atau uitzet agar dapat
melakukan pekerjaan pengukuran dengan baik :
-

Ilmu ukur tanah.


Teknik gambar bangunan.
Pengoperasian alat ukur seperti waterpass, teodolit, dll.
Metode pelaksanaan bangunan.
Ilmu matematika.

Pemeriksaan dan pematokan batas lahan

Hal yang paling mendasar adalah memastikan bahwa lahan yang dilaksanakan adalah sesuai dengan
lokasi yang disebutkan dalam Kontrak dan Sertifikat Tanah yang dimiliki oleh Owner, karena semua
acuan perletakan bangunan dan infrastrukturnya, harus mengacu pada batas-batas lahan yang benar.
Langkah pemeriksaan dan pematokan batas lahan adalah sebagai berikut :
1. pastikan bahwa patok batas lahan, pada tiap sudut perimeter lahan sesuai dengan data Badan
Pertanahan Nasional jika belum ada patok dari BPN, sebaiknya diminta pihak BPN atau
pengelola kawasan untuk memasang patok-patok batas lahan yang sesuai dengan data mereka
2. jika patok yang ada belum permanen (tidak dicor) atau tidak terlindungi dengan baik,
sebaiknya dibuat patok beton dengan cor dan memasang titik batas dengan tanda paku
tertanam di tiap patok dan lindungilah patok-patok tersebut dengan perimeter yang baik dan
mudah dipantau (dari bambu atau kaso dan diberi tanda warna atau bendera atau tanda lain
yang mudah dilihat)
3. setelah dipastikan seluruh patok perimeter sesuai, Berita Acara Joint Survey yang sudah
disahkan bersama instansi terkait dan Konsultan Pengawas atau Owner harus disimpan dan
menjadi dasar acuan seluruh pengukuran berikutnya

4. titik batas lahan dan garis perimeternya diplot ke gambar dan dilakukan cross check apakah
sesuai dengan batas yang diberikan dalam gambar desain atau gambar konstruksi jika
terjadi perbedaan maka harus dilaporkan kepada Konsultan untuk dilakukan penyesuaian
gambar desain
5. periksa luas lahan apakah sesuai dengan luasan pada sertifikat tanah yang dimiliki Owner
6. buatlah patok-patok benchmark utama (BM) yang terhubung dengan seluruh titik sudut
perimeter lahan di lokasi yang tidak terganggu selama pelaksanaan proyek dan diplotkan pada
gambar pelaksanaan, serta menjadi acuan awal pelaksanaan pematokan (stacking out) pada
bangunan-bangunan yang akan dilaksanakan
7. jika diperlukan, dapat dibuat patok-patok pinjaman untuk mempermudah pelaksanaan
pengukuran dan pematokan berikutnya
Setelah batas lahan dipastikan sesuai, segera dilakukan pemeriksaan level dan kontur tanah
eksisting, untuk mendapatkan data acuan level bangunan serta infrastruktur yang akan dilaksanakan.
Data dari pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk perhitungan pekerjaan cut and fill serta
galian/urugan yang diperlukan
Tanda atau marking level di lapangan untuk level acuan seluruh bangunan yang akan dikerjakan,
dapat berupa tanda segitiga terbalik berwarna merah dan angka level acuan, yang dapat dibuat pada
patok BM utama atau pada bangunan atau infrastruktur eksisting yang dipastikan tidak akan berubah
dalam jangka waktu yang cukup lama, minimal selama pelaksanaan proyek.
Lakukan pengukuran kontur tanah eksisting, termasuk level jalan raya, saluran, pedestrian, dsb,
termasuk seluruh kondisi eksisting pada area di sekitar lokasi proyek jika memungkinkan (sekitar 5 m'
di luar batas lahan).
Pastikan data dipelihara dengan baik dan jika tanda yang dibuat di lapangan terhapus atau rusak
segera lakukan perbaikan atau pembuatan tanda yang baru.
Selain itu perlu juga didokumentasikan kondisi tiap bangunan atau infrastruktur atau lereng
alam eksisting, serta dibuat laporan atau berita acara yang diserahkan ke Konsultan, Owner atau
instansi terkait, untuk data dan dasar jika terjadi permasalahan, misalnya tuduhan menimbulkan
kerusakan atau tuntutan untuk memperbaiki dan memasang kembali dari pihak lain -- supaya dapat
diketahui apakah memang kerusakan ditimbulkan karena pelaksanaan proyek atau sudah rusak
sebelum proyek dimulai

Pengamatan kondisi lapangan


Selain pengukuran dan pendataan serta pembuatan gambar seperti diuraikan di atas, kondisi lapangan
baik di dalam lokasi maupun di sekitar lokasi proyek, perlu diamati antara lain :

kondisi tanah dan vegetasi serta konstruksi dan utilitas eksisting di lokasi proyek
bahaya alam (lereng yang mudah longsor, daerah sambaran petir, dsb)
kondisi lalu lintas serta manuver kendaraan di sekitar lokasi proyek
lokasi dan nomor telepon instansi penting (kantor pemerintahan dan kawasan yang terdekat
dengan lokasi proyek : kantor kelurahan atau kecamatan, kantor polisi, klinik atau rumah

sakit, kantor pemadam kebakaran, tempat ibadah, warung makan dan kios, dsb)
kondisi sosial di sekitar lokasi proyek.

Hal ini dimaksudkan supaya tim Kontraktor dapat mengantisipasi segala kendala yang mungkin
timbul serta membuat persiapan pencegahannya, termasuk memberikan gambaran awal yang baik
untuk penempatan bangunan sementara termasuk akses dan jalan kerja yang diperlukan.
Kendala yang mungkin timbul antara lain : potensi kemacetan pada jam tertentu di jalan sekitar
proyek, adanya cekungan yang harus diperbaiki sebelum pelaksanaan konstruksi jalan di proyek, dsb
Pengamatan ini juga berguna untuk menganalisa metoda kerja yang akan digunakan, dalam kaitan
aspek teknis maupun non teknis yang mungkin terjadi

METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI PONDASI DANGKAL


Pondasi dalam adalah pondasi yang ditanam didalam tanah dengan kedalaman tertentu yang
berfungsi meneruskan beban bangunan kedasar tanah. Pondasi dalam biasanya dipasang pada
kedalaman lebih dari 3 m di bawah elevasi permukaan [Link] dalam dapat digunakan untuk
mentransfer beban ke lapisan yang lebih dalam untuk mencapai kedalam yang tertentu sampai didapat
jenis tanah yang mendukung daya beban strutur bangunan sehingga jenis tanah yang tidak cocok di
permukaan tidak mempengaruhi struktur bangunan.
Yang termasuk pondasi dangkal antara lain:
1. Pondasi Pasangan Batu Kali Menerus

Pondasi ini digunakan oleh sebagian besar rumah satu lantai (terutama rumah-rumah di perumahan) di
Indonesia. Pondasi ini dipasang menerus sepanjang dinding bangunan untuk mendukung dinding serta
kolom-kolom berdekatan.

Untuk membuat pondasi batu kali, ukuran batu yang digunakan biasanya sekitar 25 cm.
dengan demikian batu kali harus dipecah terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk
mempermudah pemasangannya sehingga hasilnya lebih rapi sekaligus kokoh.
Pada bagian dasar dari konstruksi pondasi batu kali merupakan lapisan pasir
setebal 5-10 cm yang berfungsi untuk meratakan tanah dasar. Setelah itu baru batu kali
dipasang dengan posisi berdiri. Di antara celah batu tersebut diisi pasir sampai padat sehingga
mampu mendukung beban yang berada di atasnya. Susunan model seperti ini sekaligus
berfungsi sebagai drainase sehingga bisa mengeringkan air tanah yang berada di sekitarnya.
Untuk menjaga agar pondasi batu kali tidak cepat rusak ataupun basah terkena air tanah
maka badan pondasi diplester kasar yang tebalnya sekitar 1,5 cm.

[Link] melintang pondasi batu kali


Syarat syarat umum untuk standar pembuatan pondasi batu kali adalah sebagai berikut :
Memiliki konstruksi yang kuat dan kokoh sehingga tidak mudah mengalami pergeseran
Mampu menyesuaikan diri terhadap terjadinya gerakan tanah seperti tanah yang labil, tanah
mengembang, tanah menyusut, kegiatan pertambangan dan efek gempa bumi
Mampu menahan unsur kimiawi dalam tanah baik yang organik maupun non organik
Mampu menahan tekanan air

Syarat syarat lain untuk standar pembuatan pondasi sebagai berikut :


MATERIAL
Semua material untuk pekerjaan pondasi batu kali terdiri dari batu pecah dengan ukuran lebar
setiap
sisi

15
cm.
Material batu pecah tidak boleh dari batu kapur dan harus keras, tidak mudah retak atau
patah.

ADUKAN
PEREKAT
Adukan perekat untuk pasangan pondasi batu kali terdiri dari 1 semen dan 4 pasir diukur
dalam
takaran
volume.
Semen yang dipakai adalah Portland semen lokal sesuai item 7.1.1 dan pasir yang dipakai
adalah pasir pasang dan harus bersih dari lumpur dan tanah serta sisa akar.
Dimensi serta elevasi dari pasangan pondasi batu kali harus sesuai dengan gambar rencana.
DASAR
PONDASI
Tanah dasar untuk dasar pondasi harus di padatkan sebelum diberi lapisan pasir urug. Tebal
pasir
urug
harus
sesuai
dengan
gambar
rencana.
PEKERJAAN
SLOOF
PONDASI
BATU
KALI
Material untuk sloof pondasi batu kali terdiri dari beton bertulang. Mutu beton dan
penulangan
sloof
harus
sesuai
dengan
gambar
rencana.
Dimensi serta elevasi dari sloof harus disesuaikan dengan gambar rencana.
Pasangan dinding batu bata diatas sloof diperbolehkan setelah beton sloof berumur 7 hari,
stek besi beton yang tertanam dipondasi batu kali ke sloof beton dimensi dan jaraknya sesuai
gambar rencana.
SEMEN
Semua semen yang digunakan adalah semen portland lokal setara dengan Semen Tiga Roda.
Syarat
syarat
:

Peraturan
Semen
Portland
Indonesia
(
SNI.8-1972
).
Standar
Nasional
Indonesia
(SNI)
DT-91-0008-2007
Mempunyai
sertifikat
Uji
(
test
sertificate
).
Mendapat Persetujuan Perencana / pengawas.
Semua semen yang akan dipakai harus dari satu merk yang sama (tidak diperkenankan
menggunakan bermacam - macam jenis/merk semen untuk suatu konstruksi/struktur yang
sama), dalam keadaan baru dan asli, dikirim dalam kantong-kantong semen yang masih
disegel dan tidak pecah. Dalam pengangkutan semen harus terlindung dari hujan. Harus
diterimakan dalam sak (kantong) asli dari pabriknya dalam keadaan tertutup rapat, dan harus
disimpan digudang yang cukup ventilasinya dan diletakkan tidak kena air , diletakan pada
tempat yang ditinggikan paling sedikit 30 cm dari lantai. Sak -sak semen tersebut tidak boleh
ditumpuk sampai tingginya melampaui 2 m atau maximum 10 sak , setiap pengiriman baru
harus ditandai dan dipisahkan dengan maksud agar pemakaian semen dilakukan menurut
urutan pengirimannya. Untuk semen yang diragukan mutu dan kerusakan-kerusakan akibat
salah penyimpanan dianggap rusak , membatu , dapat ditolak penggunaannya tanpa melalui
test lagi. Bahan yang telah ditolak harus segera dikeluarkan dari lapangan paling lambat
dalam waktu 2 x 24 jam.

AGREGAT
Semua pemakaian koral (kerikil), batu pecah (aggregat kasar) dan pasir beton, harus
memenuhi syarat-syarat :
Peraturan Umum Pemeriksaan Bahan Bangunan (NI.3-1956)
Standar Nasional Indonesia (SNI) DT-91-0008-2007
Tidak Mudah Hancur ( tetap keras ) , tidak porous.
Bebas dari tanah/tanah liat (tidak bercampur dengan tanah/tanah liat atau kotoran - kotoran
lainnya.
Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji dari Rudelaff
dengan beban penguji 20 ton, agregat kasar harus memenuhi syarat sebagai berikut :
Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9,5 - 19 mm lebih dari 24 %
Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 19- 30 mm lebih dari 22 % atau dengan mesin
pengaus Los Angelos dimana tidak terjadi kehilangan berat lebih dari 50 %.
Koral (kerikil) dan batu pecah (aggregat kasar) yang mempunyai ukuran lebih besar dari 30
mm , untuk penggunaannya harus mendapat persetujuan Pengawas. Gradasi dari aggregat aggregat tersebut secara keseluruhan harus dapat menghasilkan mutu beton yang baik, padat
dan mempunyai daya kerja yang baik dengan semen dan air, dalam proporsi campuran yang
akan dipakai. Aggregat harus disimpan di tempat yang bersih, yang keras permukaannya dan
dicegah supaya tidak terjadi pencampuran satu sama lain dan terkotori.

AIR.
Air yang akan dipergunakan untuk semua pekerjaan - pekerjaan di lapangan adalah air bersih,
tidak berwarna, tidak mengandung bahan-bahan kimia (asam alkali) tidak mengandung
organisme yang dapat memberikan efek merusak beton, minyak atau lemak. Memenuhi
syarat-syarat Peraturan Beton Indonesia (NI. 2-1971) dan diuji oleh Laboratorium yang

diakui sah oleh yang berwajib dengan biaya ditanggung/ pihak


Air yang mengandung garam (air laut) tidak diperkenankan untuk dipakai.

Kontraktor.

Bahan dan alat yang dibutuhkan untuk pembuatan pondasi batu kali :
A. Bahan
1.
2.
3.
4.
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pasir
: sebagai bahan utama dalam pembuatan campuran
Semen
: sebagai bahan perekat pada pembuatan campuran
Air
: sebagai bahan pengikat hindrolis semen dan pasir
Batu kali : sebagai bahan dasar untuk pemasangan batu kali.
Alat
Gerobak
: digunakan sebagai alat pengangkut bahan-bahan
Sekrop
: digunakan sebagai alat pengambil semen dan pasir
Ayakan
: digunakan sebagai alat untuk mengayak pasir
Cetok
: digunakan sebagai alat untuk membantu mengaya pasir.
Pengaduk molen
: digunakan sebagai alat mengaduk campur semen dan pasir.
Bowplank
: digunakan sebagai alat untuk menentukan muka tanah
Benang
: sebagai alat untuk pelurus kadataran sederhana.
Timba
: sebagai tempat adonan.
Kelebihan dari pondasi batu kali :
Pelaksanaan pondasi mudah
Waktu pengerjaan pondasi cepat
Batu belah mudah didapat, (khususnya pulau jawa)
Pembuatan relatif murah, jika menggunakan batu kali

Kekurangan dari pondasi batu kali :


Batu belah di daerah tertentu sulit dicari
Membuat pondasi ini memerlukan cost besar (bila sesuai kondisi pertama)
Pondasi ini memerlukan biaya lebih mahal jika untuk rumah bertingkat
Metode pelaksanaan pembuatan pondasi batu kali adalah sebagai berikut :
A. Pekerjaan Persiapan
Rencanakan urutan galian, urutan pemasangan pondasi batu kali, tempat penimbunan tanah
hasil galian sementara sebelum diangkut keluar dari site, juga tempat penimbunan sementara
batu- batu kali tersebut sebelum dipasang.
B. Pekerjaan Galian
1. Siapkan alat- alat yang diperlukan

2. Menggali tanah dengan ukuran lebar sama dengan lebar pondasi bagian bawah dengan
kedalaman yang disyaratkan.
3. Menggali sisi-sisi miringnya, sehingga diperoleh sudut kemiringan yang tepat.
4. Buang tanah sisa galian ke tempat yang telah ditentukan.
5. Cek posisi, lebar, kedalaman, dan kerapiannya sesuai dengan rencana.
C. Pekerjaan Urugan Pasir
1. Pasir urug diratakan pada dasar galian dan disiram air untuk mendapatkan kelembaban yang
optimum untuk pemadatan.
2. Padatkan pasir urug tersebut dengan memakai alat stamper.
3. Jika diperlukan ulangi langkah satu dan dua sehingga didapatkan tebal pasir urug seperti
yang direncanakan.
D. Pekerjaan Pasangan Pondasi
a.

Pembuatan profil

1. Pasang patok kayu untuk memasang profil (2 patok untuk tiap profil). profil dipasang pada
setiap ujung lajur pondasi.
2. Pasang bilah kayu datar pada kedua patok, setinggi profil.
3. Pasang profil benar-benar tegak lurus dan bidang atas profil datar. Usahakan titik tengah
profil tepat pada tengah- tengah galian yang direncanakan dan bidang atas profil sesuai tinggi
pondasi.
4. Ikat profil tersebut pada bilah datar yang dipasang antara 2 patok dan juga dipaku agar lebih
kuat.
5. Pasang skor, miring pada tebing galian pondasi dan pakukan dengan profil, sehingga menjadi
kuat dan kokoh.
6. Cek ketegakan/ posisi profil dan ukuran- ukurannya, perbaiki jika ada yang tidak tepat,
demikian juga tingginya.

b.

Pemasangan Batu Kali

1. Siapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan


2. Pasang benang pada sisi luar profil untuk setiap beda tinggi 25 cm dari permukaan urugan
pasir.
3. Siapkan adukan untuk melekatkan batu-batu tersebut.
4. Susun batu- batu diatas lapisan pasir urug tanpa adukan (aanstamping) dengan tinggi 25 cm
dan isikan pasir dalam celah-celah batu tersebut sehingga tak ada rongga antar batu kemudian
siramlah pasangan batu kosong tersebut dengan air.
5. Naikkan benang pada 25 cm berikutnya dan pasang batu kali dengan adukan, sesuai
ketinggian benang. Usahakan bidang luar pasangan tersebut rata.

2. Pondasi Telapak/Footplat

Pondasi telapak berbentuk seperti telapak kaki seperti [Link] ini setempat, gunanya untuk mendukung
kolom baik untuk rumah satu lantai maupun dua lantai. Jadi, pondasi ini diletakkan tepat pada kolom
[Link] ini terbuat dari beton bertulang. Dasar pondasi telapak bisa berbentuk persegi panjang
atau persegi.
METODA KONSTRUKSI PONDASI SETEMPAT
A. Urutan Kegiatan Pekerjaan Pondasi Setempat
Metoda konstruksi untuk pekerjaan pondasi setempat yaitu:
1. Penggalian tanah pondasi
2. Penulangan pondasi
3. Pekerjaan bekisting
4. Pengecoran

1. Pekerjaan Galian Tanah Pondasi


Tahap-tahap pekerjaan galian tanah pondasi setempat yaitu: Penggalian tanah untuk pondasi setempat
dilakukan secara hati-hati serta harus mengetahui ukuran panjang, lebar dan kedalaman pondasi. Tebing
dinding galian tanah pondasi dibuat dengan perbandingan 5:1 untuk jenis tanah yang kurang baik dan
untuk jenis tanah yang stabil dapat dibuat dengan perbandingan 1:10 atau dapat juga dibuat tegak lurus
permukaan tanah tempat meletakkan pondasi. dalamnya suatu galian tanah ditentukan oleh kedalamnya
tanah padat/tanah keras dengan daya dukung yang cukup kuat, min 0.5 kg/cm2 bila tanah dasar masih
jelek, dengan daya dukung yang kurang dari 0.5 kg/cm2, maka galian tanah harus diteruskan, sampai
mencapai kedalaman tanah yang cukup kuat, dengan daya dukung lebih dari 0.5 kg/cm2. Lebar dasar
galian tanah pondasi hendaknya dibuat lebih lebar dari ukuran pondasi agar tukang lebih leluasa
bekerjanya Semua galian tanah harus ditempatkan diluar dan agak jauh dari pekerjaan penggalian agar
tidak mengganggu pekerjaan.

2. Pekerjaan Penulangan
a) Perakitan tulangan
Untuk pondasi setempat ini perakitan tulangan dilakukan di luar tempat pengecoran di lokasi proyek agar
setelah dirakit dapat langsung dipasang dan proses pembuatan pondasi dapat berjalan lebih cepat. Cara
perakitan tulangan : Mengukur panjang untuk masing-masing tipe tulangan yang dapat diketahui dari
ukuran pondasi setempat. Mendesign bentuk atau dimensi dari tulangan pondasi setempat, dengan
memperhitungkan bentuk-bentuk tipe tulangan yang ada pada pondasi setempat tersebut. Merakit satu per
satu bentuk dari tipe tulangan pondasi dengan kawat pengikat agar kokoh dan tulangan tidak terlepas
Untuk penggambaran perakitan penulangan dapat dilihat pada lampiran
b) Pemasangan Tulangan
Setelah merakit tulangan pondasi setempat maka untuk pemasangan tulangan dilakukan dengan cara
manual karena tulangan untuk pondasi setempat ini tidak terlalu berat dan kedalaman pondasi ini juga
tidak terlalu dalam. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan tulangan: Hasil rakitan tulangan
dimasukan kedalam tanah galian dan diletakkan tegak turus permukaan tanah dengan bantuan waterpass.
Rakitan tulangan ditempatkan tidak langsung bersentuhan dengan dasar tanah, jarak antara tulangan
dengan dasar tanah 40 mm, yaitu dengan menggunakan pengganjal yang di buat dari batu kali disetiap
ujung sisi/tepi tulangan bawah agar ada jarak antara tulangan dan permukaan dasar tanah untuk
melindungi/melapisi tulangan dengan beton (selimut beton) dan tulangan tidak menjadi karat. Setelah
dipastikan rakitan tulangan benar-benar stabil, maka dapat langsung melakukan pengecoran.
Untuk penggambaran pemasangan penulangan dapat dilihat pada lampiran

3. Pekerjaan Bekisting
Bekisting adalah suatu konstruksi bantu yang bersifat sementara yang digunakan untuk mencetak beton
yang akan di cor, di dalamnya atau diatasnya. Tahap-tahap pekerjaan bekisting: Diasumsikan yang akan
dibuat bekisting adalah bagian tiangnya untuk penyambungan kolom sedangkan untuk pondasinya hanya
diratakan dengan cetok (sendok spesi). Supaya balok beton yang dihasilkan tidak melengkung maka waktu
membuat bekisting, jarak sumbu tumpuan bekistingnya harus memenuhi persaratan tertentu. Papan cetakan
disusun secara rapih berdasarkan bentuk beton yang akan di cor. Papan cetakan dibentuk dengan baik dan
ditunjang dengan tiang agar tegak lurus tidak miring dengan bantuan alat waterpass. Papan cetakan tidak
boleh bocor Papan-papan disambung dengan klem / penguat / penjepit Paku diantara papan secara
berselang-seling dan tidak segaris agar tidak terjadi retak.
4. Pekerjaan Pengecoran
Bahan-bahan pokok dalam pembuatan beton adalah: semen, pasir, kerikil/split serta air. Kualitas/mutu
beton tergantung dari kualitas bahan-bahan pembuat beton dan perbandingannya. Bahan-bahan harus
diperiksa dulu sebelum dipakai membuat beton dengan maksud menguji apakah syarat-syarat mutu
dipenuhi. Semen merupakan bahan pokok terpenting dalam pembuatan beton karena mempersatukan butirbutir pasir dan kerikil/split menjadi satu
kesatuan berarti semen merupakan bahan pengikat dan apabila diberi air akan mengeras. Agregat adalah
butiran-butiran batuan yang dibagi menjadi bagian pokok ditinjau dari ukurannya yaitu agregat halus yang
disebut pasir dan agregat kasar yang disebut kerikil/split dan batu pecah. Tahap-tahap pekerjan pengecoran
pondasi setempat yaitu: Membuat kotak takaran untuk perbandingan material yaitu dari kayu dan juga
dapat mempergunakan ember sebagai ukuran perbandingan. Membuat wadah/tempat (kotak spesi) hasil
pengecoran yang dibuat dari kayu atau seng/pelat dengan ukuran tinggi x lebar x panjang adalah 22 cm x
100 cm x 160 cm dapat juga dibuat dari pelat baja dengan ukuran tebal 3 mm x 60 cm x 100 cm.
Mempersiapkan bahan-bahan yang digunakan untuk pengecoran seperti: semen, pasir, split, serta air dan
juga peralatan yang akan digunakan untuk pengecoran. Membuat adukan/pasta dengan bantuan mollen
(mixer) dengan perbandingan volume 1:2:3 yaitu 1 volume semen berbanding 2 volume pasir berbanding 3
volune split serta air secukupnya. Bahan-bahan adukan dimasukan kedalam tabung dengan urutan: pertama
masukan pasir, kedua semen portand, ke tiga split dan biarkan tercampur kering dahulu dan baru kemudian
ditambahkan air secukupnya Setelah adukan benar-benar tercampur sempurna kurang lebih selama 4-10
menit tabung mollen (mixer) dibalikan dan tungkan kedalam kotak spesi. Hasil dari pengecoran
dimasukkan/dituangkan kedalam lubang galian tanah yang sudah diletakan tulangan dengan bantuan alat
sendok spesi centong/ dan dilakukan/dikerjakan bertahap sedikit demi sedikit agar tidak ada ruangan yang
kosong dan kerikil/split yang berukuran kecil sampai yang besar dapat masuk kecelah-celah tulangan.
Setelah melakukan pengecoran, maka pondasi setempat tersebut dibiarkan mengering dan setelah
mengering pondasi diurug dengan tanah urugan serta disisakan beberapa cm untuk sambungan kolom.
5. Tahap pelaksanaan dan pengendalian pekerjaan pengecoran

a) Pekerjaan persaipan
Pekerjaan persiapan dilakukan dengan mempersiapkan bahan-bahan material yang akan digunakan untuk
pengecoran dan ditempatkan di daerah yang tidak terlau jauh dengan tempat galian pondasi/tempat yang
akan dicor
b) Cara pengadukan
Karena didalam pengecoran ini diasumsikan memakai mollen/mixer, maka pengadukan bahan material
dimasukan kedalam sebuah tabung mollen/mixer dengan urutan: pertama memasukan pasir, kedua
memasukan kerikil/split, ketiga memasukan semen dan biarkan tercampur kering dahulu sesuai dengan
perbandingan volume.
c) Cara pengecoran
Setelah bahan material sudah tercampur dalam keadaan kering kemudian tambahkan air secukupnya
sampai merata, maka material tersebut berubah dalam bentuk pasta, setelah menjadi pasta tuangkan sedikit
demi sedikit kedalam galian pondasi yang sudah diletakan tulangan dan setelah pasta masuk kedalam
galian pondasi pasta tersebut yang diratakan dengan sendok spesi/cetok sesuai dengan kemiringan dari
bentuk pondasi
d) Cara pelaksanaan
Setelah semua material bahan pengecoran benar-benar tercampur seluruhnya mulai dari pasir, kerikil/split
serta semen dan air sebagai bahan pengikat, maka cara pelaksanaan pengecoran pondasi setempat
dituangkan kedalam galian pondasi dengan cara bertahap sedikit demi sedikit dengan bantuan sendok
spesi/cetok agar semua material bahan pengecoran dapat masuk ketempat pengecoran yang sudah
diletakkan tulangan dan tidak ada celah yang kosong dan lebih padat.

3. Pondasi Umpak

Pondasi umpak dijumpai pada rumah kayu, rumah-rumah adat, rumah jaman dulu. Pondasi jenis ini masih
bisa ditemui di perdesaan, yang mayoritas rumahnya masih berstruktur kayu. Rumah nenek anda pun
mungkin masih menggunakannya.
Pondasi umpak merupakan pondasi setempat, terletak di bawah kolom kayu atau bambu. Biasanya
menggunakan material batu kali yang dipahat, pasangan batu ataupun pasangan bata. Berhubung rumah
seperti itu menggunakan material kayu sebagai struktur utamanya, berat sendiri bangunan cukup ringan,
sehingga pondasi ini cukup kuat untuk meneruskan beban ke tanah.

Pondasi dangkal digunakan apabila lapisan tanah keras yang mampu mendukung beban bangunan di
atasnya, terletak dekat dengan permukaan, sedangkan pondasi dalam dipakai pada kondisi yang
sebaliknya. Suatu pondasi akan aman apabila :

1.

Penurunan (settlement) tanah yang disebabkan oleh beban masih dalam batas yang

diperbolehkan.
2.

Keruntuhan geser dari tanah di mana pondasi berada tidak terjadi.

METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI PONDASI DALAM


Pondasi dalam adalah pondasi yang didirikan di permukaan tanah dengan kedalaman tertentu
dimana daya dukung dasar pondasi dipengaruhi oleh beban struktural dan kondisi permukaan tanah,
pondasi dalam biasanya dipasang pada kedalaman lebih dari 3 m di bawah elevasi permukaan tanah.
Pondasi dalam dapat dijumpai dalam bentuk pondasi tiang pancang, dinding pancang, dan caissons
atau pondasi kompensasi.
Pondasi dalam dapat digunakan untuk mentransfer beban ke lapisan yang lebih dalam untuk
mencapai kedalaman yang tertentu sampai didapat jenis tanah yang mendukung daya beban struktur
bangunan sehingga jenis tanah yang tidak cocok di dekat permukaan tanah dapat dihindari.
Diantara macam jenis pondasi dalam antara lain :
1. Pondasi Sumuran
Pondasi sumuran merupakan sebuah bentuk peralihan diantara pondasi dangkal dan pondasi tiang.
Pondasi sumuran sangat tepat digunakan pada tanah kurang baik dan lapisan tanah kerasnya berada
pada kedalaman lebih dari 3m. Diameter sumuran biasanya antara 0.80 - 1.00 m dan ada
kemungkinan dalam satu bangunan diameternya berbeda-beda, ini dikarenakan masing-masing kolom
berbeda bebannya.

2. Pondasi Tiang Pancang

Penggunaan pondasi tiang pancang sebagai pondasi bangunan apabila tanah yang berada dibawah
dasar bangunan tidak mempunyai daya dukung (bearing capacity) yang cukup untuk memikul berat
bangunan dan beban yang bekerja padanya Atau apabila tanah yang mempunyai daya dukung yang
cukup untuk memikul berat bangunan dan seluruh beban yang bekerja berada pada lapisan yang
sangat dalam dari permukaan tanah kedalaman lebih dari 8 meter.
Fungsi dan kegunaan dari pondasi tiang pancang adalah untuk memindahkan atau mentransfer
beban-beban dari konstruksi di atasnya (super struktur) ke lapisan tanah keras yang letaknya sangat
dalam.
Dalam pelaksanaan pemancangan pada umumnya dipancangkan tegak lurus dalam tanah, tetapi ada
juga dipancangkan miring (battle pile) untuk dapat menahan gaya-gaya horizontal yang bekerja, Hal
seperti ini sering terjadi pada dermaga dimana terdapat tekanan kesamping dari kapal dan perahu.
Sudut kemiringan yang dapat dicapai oleh tiang tergantung dari alat yang dipergunakan serta
disesuaikan pula dengan perencanaannya.

Spesifikasi

Spesifikasi pondasi tiang pancang ini didasarkan dari bahan pembuatannya sebagai berikut :
1.

Tiang Pancang beton

2.

Tiang Pancang kayu

3.

Tiang Pancang baja

1.

Tiang pancang Beton

Tiang pancang beton berdasarkan cara pembuatannya dibedakan menjadi dua macam
yaitu :
-

Cast in place (tiang beton cor ditempat atau fondasi tiang bor) dan

Precast pile (tiang beton dibuat ditempat lain atau dibuat dipabrik).
Pondasi tiang pancang dibuat ditempat lain (pabrik, dilokasi) dan baru

dipancang sesuai dengan umur beton setelah 28 hari. Karena tegangan tarik beton adalah
kecil, sedangkan berat sendiri beton adalah besar, maka tiang pancang beton ini haruslah
diberi tulangan yang cukup kuat untuk menahan momen lentur yang akan timbul pada
waktu pengangkatan dan pemancangan.

2.

Tiang Pancang Kayu

Tiang pancang dengan bahan material kayu dapat digunakan sebagai tiang pancang pada
suatu dermaga. Persyaratan dari tiang pancang tongkat kayu tersebut adalah : bahan kayu
yang dipergunakan harus cukup tua, berkualitas baik dan tidak cacat, contohnya kayu belian.
Semula tiang pancang kayu harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dipancang untuk
memastikan bahwa tiang pancang kayu tersebut memenuhi ketentuan dari bahan dan toleransi
yang diijinkan.
Semua kayu lunak yang digunakan untuk tiang pancang memerlukan pengawetan, yang harus
dilaksanakan sesuai dengan AASHTO M133 86 dengan menggunakan instalasi peresapan
bertekanan. Bilamana instalasi semacam ini tidak tersedia, pengawetan dengan tangki terbuka
secara panas dan dingin, harus digunakan. Beberapa kayu keras dapat digunakan tanpa
pengawetan, tetapi pada umumnya, kebutuhan untuk mengawetkan kayu keras tergantung
pada jenis kayu dan beratnya kondisi pelayanan.

3.

Tiang Pancang Baja

Pondasi tiang pancang baja biasanya berbentuk profil H ataupun berbentuk pipa baja. Pada
tiang pancang baja pipa, dapat dipilih dengan ujung terbuka bebas ataupun tertutup. Sering
kali tiang baja pipa dilakukan pengisian dengan pengecoran beton setelah pemancangan,
namun dalam beberapa hal dan kondisi, pengecoran tersebut dirasakan tidak perlu dilakukan.
Berdasarkan pengalaman, bentuk ujung terbuka lebih menguntungkan dari segi kedalaman
penetrasi dan dapat dikombinasikan dengan pengeboran bila diperlukan, misalnya penetrasi
tiang pada tanah berbatu.

C.

Penggunaaan

Beberapa alasan pilihan mengapa dipilih penggunaan pondasi tiang pancang ini dapat
mempertimbangkan dengan kondisi seperti berikut :
1.

Pada saat tanah dibawah struktur mengalami kompresibilitas yang tinggi dimana

tanah tersebut tidak mampu menahan beban yang dipindahkan dari struktur diatasnya, jadi
dengan kata lain Pondasi Tiang Pancang di gunakan untuk memindahkan beban beban yang
bekerja pada struktur diatasnya sampai pada lapisan tanah yang keras atau biasa disebut
Tiang Pancang Tahanan Ujung (End Bearing Pile Resistance. Namun apabila lapisan tanah
yang keras masih terlalu jauh kedalam sehingga panjang Pondasi Tiang Pancang tidak
memungkin lagi untuk digunakan maka beban beban yang bekerja dapat dipikul oleh tahanan
samping dari Pondasi Tiang Pancang atau disebut dengan Pondasi Tiang Pancang Tahanan
Samping (Friction Piles Resistance).
2.

Apabila struktur diatas menerima beban horizontal maka Pondasi Tiang Pancang

akan lebih mampu memikul beban horizontal sekaligus memikul beban vertikal dibandingkan
dengan pondasi dangkal. Beban horizontal ini biasanya banyak terjadi pada bangunan

bangunan bertingkat tinggi serta bangunan bangunan lepas pantai yang menerima beban
beban angin dan gelombang.
3.

Apabila tanah dibawah struktur mempunyai sifat expansive atau swelling (Tanah

expansive atau swelling adalah tanah yang akibat terjadi perubahan kadar air maka akan
terjadi perubahan secara cepat baik pada sifat sifat fisik daripada tanah seperti Indeks Plastis,
Plastis Limit demikian juga pada sifat sifat mekanis daripada tanah seperti Kuat Geser
Tanah )sampai pada kedalaman yang tidak memungkinkan lagi untuk penggunaan pondasi
dangkal sehingga di gunakanlah Pondasi Tiang Pancang dimana dengan Pondasi Tiang
Pancang kita dapat mendesain sampai kedalaman melewati areal tanah expansive atau
swelling tersebut.
4.

Pada bangunan bangunan seperti towers (menara menara), offshore structure

(bangunan lepas pantai) yang sering mengalami gaya angkat keatas (uplift force) maka
Pondasi Tiang Pancang akan lebih mampu menahan beban tersebut daripada Pondasi
Dangkal.
5.

Struktur bangunan jembatan seperti pada Abutment dan Piers seringkali

mengalami masalah pengerusan (scouring) oleh karena arus air yang kuat pada areal sekitar
pondasi sampai pada kedalaman yang cukup dalam sehingga apabila digunakan Pondasi
Dangkal maka akan terjadi kegagalan struktur sementara Pondasi Tiang Pancang akan lebih
baik untuk kondisi ini seperti dalam.

Cara pemasangan pondasi tiang pancang


Melakukan pengetesan terhadap tanah dilokasi rencana pondasi untuk mengetahui
jenis tanah dan kedalaman lapisan keras.
Menghitung struktur pondasi tiang pancang sehingga dapat ditentukan kebutuhan
ukuran tiang pancang, spesifikasi material dan kedalaman tiang pancang sehingga
kuat untuk menahan beban bangunan yang disalurkan ke titik perhitungan.
Produksi tiang pancang dapat dilakukan dipabrik dengan spesifikasi sesuai
perhitungan kemudian dkirim ke lokasi proyek menggunakan kendaraan truck besar.
Pengangkatan tiang pancang dapat menggunakan alat tower crane atau mobil crane
dengan posisi titik angkat sesuai perhitungan sehiingga tidak terjadi patah dalam
pengangkatan.

Surveyor melakukan pengukuran dilapangan untuk menentukan titik-titik sesuai


gambar kemudian mendirikan alat teodolit untuk mengecek ketegakan pemancangan,
tiang pancang diangkat tegak lurus kemudian posisi ujung diesel hammer dinaikan
dan topi paal dimasukan pada kepala tiang pancang.
Ketegakan posisi pemancangan dikontrol menggunakan 2 buah teodilit yang dipasang
dari dua arah untuk memastikan posisi tiang pancang tegak dan melakukan control
setiap 2 m, pemancangan dilakukan sampai dengan elevasi kedalaman yang
direncanakan.
Tiang pancang yang tersisa diatas elevasi rencana dikelupas betonya sehingga tersisa
besi tulangan yang akan dipakai sebagai stek untuk dihubungkan dengan pile cap
pada bangunan gedung atau abutmen pada konstruksi jembatan.

Kesalahan yang mungkin terjadi pada cara pemancangan pondasi tiang pancang ini bisa
terletak pada penggunaan bahan dibawah spesifikasi perhitungan sehingga pondasi tidak
kuat, selain itu kesalahan dalam pengangkatan yang tidak berada pada titik aman dapat
menyebabkan patah, kemiringan pemancangan juga bisa terjadi akibat kurang terkontrolnya
ketegakan sehingga mengurangi kedalaman dan kekuatan pondasi yang berbeda dari
perencanaan.

3. Pondasi Bore Pile


Pondasi Bore Pile adalah bentuk Pondasi Dalam yang dibangun di dalam tanah dengan kedalaman
tertentu. Pondasi di tempatkan sampai ke dalaman yang dibutuhkan dengan cara membuat lobang
yang dibor dengan alat bore pile mini crane. Setelah mencapai kedalaman yang dibutuhkan, kemudian
dilakukan pemasangan kesing/begisting yang terbuat dari plat besi, kemudian dimasukkan rangka besi
pondasi yang telah dirakit sebelumnya, lalu dilakukan pengecoran terhadap lobang yang sudah di bor
tersebut. Pekerjaan pondasi ini tentunya dibantu dengan alat khusus, untuk mengangkat kesing dan
rangka besi. Setelah dilakukan pengecoran kesing tersebut dikeluarkan kembali.

METODE PELAKSANAAN PONDASI BORE PILE


Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi
dalam sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan teknik pancang dan teknik bor. Berikut
merupakan teknis / langkah-langkah pelaksanaan tiang bor sebagai pondasi suatu bangunan

1. Persiapan Lapangan
Dalam persiapan lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
Harus tersedia jalan kerja yang memadai
drainase harus dibuat dan dipelihara selama proses pekerjaan.
Dapat diperlukan blok beton atau plat baja sebagai bantalan untuk menahan crane dan beton mixer
agar dapat mencapai titik pile.
dipersiapkan penerangan yang cukup dilokasi-lokasi penting dalam proyek.

2. Metode Pengeboran
metode pengeboran harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah terjadi ketidak lurusan lubang
bor secara vertikal. sebelum menyentuh MAT, mata bor yang digunakan adalah auger sedangkan bila
sudah menyentuh MAT, mata bor yang digunakan adalah bucket.

3. Slurry
Slurry digunakan untuk berbagai kepentingan dalam metode bored pile, biasanya untuk mencegah
kelongsoran. Slurry yang digunakan pada metode bored pile adalah air, polimer, dan bentonite.
Polimer berfungsi untuk mempercepat terjadinya pengendapan sedangkan bentonite berfungsi untuk
mencegah kelongsoran. penggunaan slurry disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. berikut ini
merupakan bentonite properties yang perlu dicapai saat pelaksanaannya:
pH appatus : 7.5-11
viscosity : 32-45 s
density : 1.02-1.2
sand content : <3% vol
fluid loss : 20-40ml
cake : <1-3mm
semuanya itu harus dilakukan percobaan saat pembuatan bentonite sesuai kebutuhan. namun biasanya
yang dilakukan hanyalah pH appatus, viscosity, dan density. padahal fluid loss dan cake penting juga
untuk dilakukan. namun batasan waktu dan biaya menyebabkan fluid loss and cake tidak dilakukan.
Lalu dalam pelaksanaan pembuatan bentonite juga perlu diperhatikan, baik dalam pembuatan maupun
pembuangannya. jangan sampai dibuang sembarangan karena akan menyebabkan masalah
lingkungan.
4. Pembuangan Tanah
Pembuangan tanah pada metode bored pile perlu diperhatikan karena bila tidak dapat menimbulkan
permasalahan di lapangan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam metode bored pile adalah:
Tanah hasil pengeboran di kumpulkan disamping crane bor.
Tanah tersebut harus segera dikeluarkan agar tidak mengganggu proses pengeboran.

Umumnya disiapkan suatu lokasi dalam proyek untuk penampungan sementara tanah galian untuk
kemudian dikeluarkan dari lokasi proyek pada malam hari
5. Desanding / Recycling
proses reclying ini perlu dilakukan untuk memisahkan tanah dan bentonite, dan excavation soil.
6. Pemasangan Pembesian
Dalam pemasangan pembesian, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
Pembesian ini perlu dipasang spacer beton
digantung ke casing dengan menggunakan batang besi.
Penurunan besi kedalam lubang dimana dasar galian cukup bersih.
Bagian bawah pembesian dimasukan terlebih dahulu kedalam lubang dan digantung di dinding
casing.
Besi berikutnya dimasukan menyusul diatas besi pertama serta dilakukan penyambungan.
Penyambungan umumnya menggunakan sistem pengelasan pada sejumlah overlap besi utama.
Setelah pembesian terpasang dimana kedalaman galian diukur ulang untuk memeriksa adanya
pengendapan atau kelongsoran selama pemasangan besi.
sedimentasi:

proses pembersihan dasar galian dapat dilakukan dengan menurunkan pompa

submersible untuk menyedot kotoran.


Kelongsoran terjadi maka pembesian harus diangkat ulang

7. Pemasangan Tremie Pipe


Tremie pipe merupakan pipa yang digunakan untuk memasukan beton ke dalam lubang bor agar beton
tidak rusak akibat bercampur dengan cairan pengisi lubang

8. Pengecoran
Dalam proses pengecoran, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
Slump beton: 175mm sampai 225mm.
Pipa tremie: diameter dalam 220mm dengan panjang yang variatif, 0.5m, 1m, 2m, dan 4m.

Jika diperhitungkan waktu pengecoran yang lama diperlukan retarder untuk menjaga agar beton
masih belum set selama proses pengecoran
Selama proses pengecoran, perlu dilakukan pencatatan serta pembuatan grafik ketinggian muka
beton VS volume beton serta dibanding dengan perhitungan teoritis.
Pembuatan sampel beton
Jika batas atas pengecoran berada dibawah level permukaan proyek maka diperlukan penimbunan
dengan material yang cukup stabil setelah beton set.
Jika galian mengalami kelongsoran total, maka lubang harus di tutup dengan dengan menggunakan
lean concrete

TUGAS II

Jenis Alat Berat dalam Proyek Konstruksi


Di dunia teknik sipil sering kali kita melihat berbagai aktifitas alat berat ketika suatu proyek
bangunan dilakukan, baik itu transportasi (jalan, jembatan, bandara), bangunan air (waduk, bendung,
bendungan, pelabuhan), dan bangunan gedung bertingkat, alat-alat berat digunakan untuk membantu
manusia dalam melakukan pekerjaan pembangunan suatu struktur bangunan. Saat ini, alat berat
merupakan faktor penting di dalam proyek, terutama proyek-proyek konstruksi dengan skala yang
besar. Tujuan penggunaan alat-alat berat tersebut untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan
pekerjaannya sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan mudah pada waktu yang relatif
lebih singkat. Alat berat yang umum dipakai di dalam proyek konstruksi antara lain dozer, alat gali
(excavator) seperti backhoe, front shovel, clamshell; alat pengangkut seperti loader, truck dan
conveyor belt; alat pemadat tanah seperti roller dan compactor; dan lain-lain.

JENIS DAN FUNGSI ALAT BERAT


Alat berat dapat dikategorikan ke dalam beberapa klasifikasi. Klasifikasi tersebut adalah
klasifikasi fungsional alat berat dan klasifikasi operasional alat Berat.

1. Klasifikasi Fungsional Alat Berat

Yang dimaksud dengan klasifikasi fungsional alat adalah pembagian alat tersebut
berdasarkan fungsi-fungsi utama alat. Berdasarkan fungsinya alat berat dapat dibagi atas
berikut ini.
a. Alat Pengolah Lahan
Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan lahan asli yang harus dipersiapkan
sebelum lahan tersebut mulai diolah. Jika pada lahan masih terdapat semak atau pepohonan
maka pembukaan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan dozer. Untuk pengangkatan
lapisan tanah paling atas dapat digunakan scraper. Sedangkan untuk pembentukan permukaan
supaya rata selain dozer dapat digunakan juga motor grader.
Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan lahan asli yang harus dipersiapkan
sebelum lahan tersebut mulai diolah. Jika pada lahan masih terdapat semak atau pepohonan
maka pembukaan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan dozer. Untuk pengangkatan
lapisan tanah paling atas dapat digunakan scraper. Sedangkan untuk pembentukan
permukaan

supaya

rata

selain dozerdapat

Gambar.1.1
Dozer

digunakan

juga motor

grader.

Bulldozer dapat dibedakan menjadi dua yakni menggunakan roda kelabang (Crawler Tractor
Dozer) dan Buldoser yang menggunakan roda karet (Wheel Tractor Dozer). Pada dasarnya
Buldoser menggunakan traktor sebagai tempat dudukan penggerak utama, tetapi lazimnya
traktor tersebut dilengkapi dengan sudu sehingga dapat berfungsi sebagai Buldoser yang bisa
untuk menggusur tanah.
Buldoser digunakan sebagai alat pendorong tanah lurus ke dapan maupun ke samping,
tergantung pada sumbu kendaraannya. Untuk pekerjaan di rawa digunakan jenis Buldoser
khusus yang disebut Swamp Bulldozer.
Pada dasarnya bulldozer adalah alat yang menggunakan traktor sebagai penggerak
utamanya, artinya traktor yang dilengkapi dozer attachment dalam hal ini perlengkapannya
attachment adalah blade. Sebenarnya, bulldozer adalah nama jenis dari dozer, selain
mendorong lurus ke depan, juga memungkinkan untuk mendorong ke samping dengan sudut
250 terhadap kedudukan lurus.

Jenis pekerjaan yang biasanya menggunakan bulldozer :


- Mengupas top soil dan pembersihan lahan dan pepohonan
- Pembukaan jalan baru
- Pemindahan material pada jarak pendek sampai dengan 100 m
- Membantu mengisi material pada scraper
- Menyebarkan material
- Mengisi kembali saluran
- Membersihkan quarry.
1. Komponen Bulldozer
Nama-nama komponen :

Keterangan gambar :

1. Blade
2. Lift cylinder
3. Work lamp
4. Muffler
5. Precleaner
6. Cabin
7. ROPS Canopy
8. Fuel tank
9. Ripper tilt cylinder
10. Shank ripper
11. Ripper lift cylinder
12A. Ripper
12B. Shank protector
13. Point ripper
14. Arm ripper
15. Final drive
16. Teeth sprocket
17. Carrier roller
18. Track shoe
19. Track roller
20. Straight frame
21. Brace
22. Cutting edge

Blade
Dalam pengoperasian, bulldozer dilengkapi dengan blade yang dapat distel
sedemikian rupa sesuai kebutuhan yang diinginkan, untuk itu dikenal berbagai macam
blade yang dipakai pada bulldozer atau angel dozer yaitu:
Universal Blade (U-Blade)
Blade jenis ini dilengkapi dengan sayap (wing) yang terdapat disisi blade untuk
efektifitas produksi. Hal ini memungkinkan bulldozer membawa/mendorong muatan
lebih banyak karena kehilangan muatan yang relative kecil dalam jarak yang cukup

jauh. Umumnya bulldozer jenis ini sering digunakan untuk pekerjaan reklamasi tanah
(land reclamation), stock pile work, dan sebagainya.
Straight Blade (S-Blade)
Straight blade cocok digunakan untuk semua jenis lapangan, blade ini juga merupakan
modifikasi dari U-Blade, maneuver lebih mudah dan balade ini juga dapat
menghandel material dengan mudah.
Angling Blade (A-Blade)
Angling blade dibuat untuk posisi lurus dan menyudut. Blade ini juga dapat dibuat
untuk:
a.

Pembuangan ke samping (side casting)

b.

Pembukaan jalan (pioneering roads)

c.

Menggali saluran (cutting ditches)

d.

Pekerjaan lain yang sesuai.

Chusion Blade (C-Blade)


Chusion blade dilengkapi dengan bantalan karet (Rubber cushion) yang berfungsi
untuk meredam tumbukan. Selain digunakan untuk push-loading, juga digunakan
untuk pemeliharaan jalan dan pekerjaan dozing lainnya mengingat lebar C-Blade ini
memungkinkan untuk meningkatkan kmampuan maneuver.

2. Produktivitas Dozer
Produktifitas dozer sangat bergantung pada ukuran blade, ukuran traktor dan jarak
tempuh. Perhitungan produktivitas ditentukan dari volume yang dipindahkan dalam 1
siklus dan dalam 1 jam pegoperasian.
a. Kapasitas Blade
Kapasitas blade dapat dicari dari data pada table atau melalui perhitungan. Rumus
dari kapasitas blade (dalam lcm) adalah:
Nilai W = 1,5 sampai 1,67 (satuan dalam meter) untuk sudut antara 30-33.

b. Waktu Siklus
Pengisian blade umumnya dilakukan pada 40-50 ft (13-17 m) pertama dari jarak
tempuh. Pada saat kembali, blade dalam keadaan kosong. Waktu angkut dan kembali
bulldozer dapat ditentukan dari jarak dibagi kecepatan untuk setiap variable.
Perhitungan waktu siklus juga ditentukan oleh suatu waktu yang konsisten (fixed
time) yang merupakan waktu yang dibutuhkan bulldozer untuk mempercepat dan
memperlambat laju kendaraan. FT pada umumnya berkisar antara 0,10-0,15 menit.
Waktu yang diperlukan oleh dozer untuk melakukan 1 siklus adalah:
CT= FT + HT + RT

b. Alat Penggali
Jenis alat ini dikenal juga dengan istilah excavator. Beberapa alat berat digunakan untuk
menggali tanah dan batuan. Yang termasuk didalam kategori ini adalah front shovel, backhoe,
dragline, dan clamshell.
Definisi excavator merupakan salah satu alat berat untuk memindahkan suatu material.
Tujuannya adalah untuk membantu pekerjaan yang sulit agar lebih ringan juga mempercepat
waktu pekerjaan dan menghemat waktu.
Excavator banyak digunakan :
1.

menggali parit, lubang, pondasi

2.

pemghancuran gedung.

3.

meratakan muka tanah.

4.

mengakat dan memindahkan material.

5.

mengeruk sungai.

6.

pertambangan.

Jenis excapator:

Dengan ada perbedaan dari masing2 industri, maka para perusahaan pembuat excavator
melengkapi jenis excavator berdasarkan fungsinya dan diklarifikasikan berdasarkan jenis
bucketnya antara lain sebagai berikut:
1.

Standar bucket merupakan jenis yang sering di gunakan karena penggnaan yang

fleksibel dalam beberapa hal.


2.

Ripper bucket jenis ini cocok untuk menggali lapisan batu dan tanah liat yg keras.

3.

Coal buket dan chip bucket sangat bagus untuk menangai material batu bara dan

pecahan batu
4.

Slope finishing bucket digunkan untuk meratakan permukaan tanah karena memiliki

bucket yang datar dan lebar biasanya untuk meratakan jalan, lereng, sisi sungai dll.
5.

Lifting magnet di gunakan untuk mengakat dan memindah material yang terbuat

dari
bucket yang berbeda akan mempengaruhi komponen2 yang lainnya, terutama tingkat
pembebanan yang berbeda. Sehingga desain eskavator dapat berubah ubah menyesuaikan
bucketnya.

c. Alat Pengangkut Material


Crane termasuk di dalam kategori alat pengangkut material karena alat ini dapat
mengangkut material secara vertical dan kemudian memindahkannya secara horizontal pada
jarak jangkau yang relative kecil. Untuk pengangkutan material lepas (loose material) dengan
jarak tempuh yang relative jauh, alat yang digunakan dapat berupa belt, truck dan wagon.
Alat-alat ini memerlukan alat lain yang membantu memuat material ke dalamnya.

d. Alat Pemindahan Material


Yang termasuk dalam kategori ini adalah alat yang biasanya tidak digunakan sebagai alat
transportasi tetapi digunakan untuk memindahkan material dari satu alat ke alat yang lain.
Loader dan dozer adalah alat pemindahan material.

e. Alat Pemadat
Jika pada suatu lahan dilakukan pembunan maka pada lahan tersebut perlu dilakukan
pemadatan. Pemadatan juga dilakukan untuk pembuatan jalan, baik untuk jalan tanah dan
jalan dengan perkerasan lentur maupun perkerasan kaku. Yang termasuk sebagai alat pemadat
adalah tamping roller, pneumatic-tired roller, compactor, dan lain-lain.
Pemadatan tanah secara mekanis umumnya dilakukan dengan menggunakan mesin
penggilas (Roller); klasifikasi Roller yang dikenal antara lain adalah:

Berdasarkan cara geraknya; ada yang bergerak sendiri, tapi ada juga yang harus

ditarik traktor.

Berdasarkan bahan roda penggilasnya, ada yang terbuat dari baja (SteelWheel) dan

ada yang terbuat dari karet (pneumatic).

Dilihat dari bentuk permukaan roda; ada yang punya permukaan halus (plain),

bersegmen, berbentuk grid, berbentuk kaki domba, dan sebagainya.

Dilihat dari susunan roda gilasnya; ada yang dengan roda tiga (Three Wheel), roda

dua (Tandem Roller), dan Three Axle Tandem Roller.

Alat pemadat yang menggunakan penggetar (vibrator).

f. Alat Pemroses Material


Alat ini dipakai untuk mengubah batuan dan mineral alam menjadi suatu bentuk dan ukuran
yang diinginkan. Hasil dari alat ini misalnya adalah batuan bergradasi, semen, beton, dan
aspal. Yang termasuk didalam alat ini adalah crusher dan concrete mixer truck. Alat yang
dapat mencampur material-material di atas juga dikategorikan ke dalam alat pemroses
material seperti concrete batch plant dan asphalt mixing plant.

concrete mixer truck


Batching plant merupakan alat yang berfungsi untuk mencampur/memproduksi beton ready
mix dalam produksi yang besar. Batching plantdigunakan agar produksi beton ready mix tetap
dalam kualitas yang baik, sesuai standar, nilaislump test dan strength-nya stabil sesuai yang
diharapkan, untuk itu komposisi material harus terkendali. Dalam artikel kali ini, dipakai tipe dry
mixed. Tipe dry mixed yaitu batching plant yang fungsinya hanya untuk menimbang saja,
pengadukan beton ready mix dilakukan padaconcrete mixer truck. Semua material yang akan
diaduk, sebelumnya ditimbang sesuai dengan mix design dengan memperhitungkan kandungan
air dalam material, baik dalam agregat kasar maupun agregat halus (pasir).
Bagian-bagian batching plant antara lain:
1. Cement silo, berfungsi untuk tempat penyimpanan semen dan menjaga semen agar
tetap baik.
2. Belt conveyor, berfungsi untuk menarik bahan/material (agregat kasar dan agregat halus)
ke atas dari bin ke storage bin.
3. Bin, berfungsi sebagai tempat pengumpulan bahan/material (agregat kasar dan agregat
halus) yang berasal dari penumpukan bahan di base camp dengan bantuan wheel
loaderuntuk di tarik ke atas (storage bin).
4. Storage bin, digunakan untuk pemisah fraksi agregat. Storage bin dibagi menjadi 4
(empat) fraksi, yaitu: agregat butir kasar (split), butir menengah (screening), butir halus
(pasir), dan fly ash.
5. Timbangan pada alat batching plant dibagi menjadi 3 (dua) macam, yaitu: timbangan
untuk agregat, timbangan untuk semen, dan timbangan untuk air.
6. Dosage pump, digunakan untuk penambahan bahan admixture seperti retarder.
7. Tempat penampungan air yang berfungsi sebagai supply kebutuhan air pada ready mix.

Spesifikasi Alat :
Type : Dry Mixed Batching Plant
: 0,5- 2,5 m3

Kapasitas
Jumlah Alat

: 1 Batching Plant melayani semua kebutuhan beton ready mix

Alat berat yang dibutuhkan pada batching plant antara lain:


- Dump truck
berfungsi untuk mengangkut bahan/material (agregat kasar dan agregat halus)
dari quarrymenuju ke base camp.
-

Wheel loader

berfungsi untuk alat angkut bahan/material (agregat kasar dan agregat halus) dari tempat
penumpukan material menuju ke bin. Wheel loader memiliki bucket untuk membawa material dan
bergerak dengan menggunakan roda karet, sehingga mobilitasnya tergolong cepat.
-

Cement truck

berfungsi sebagai pengangkutan semen curah dari pabrik semen ke base camp.
-

Concrete mixer truck

adalah suatu kendaraan truk khusus yang dilengkapi dengan concrete mixer yang fungsinya
mengaduk/mencampur campuran beton ready mix, sama dengan alat molen. Concrete mixer
truck digunakan untuk mengangkut adukan beton ready mix dari tempat pencampuran beton ke
lokasi proyek. Selama pengangkutan, mixer terus berputar dengan kecepatan 8-12 putaran per
menit agar beton tetap homogen dan beton tidak mengeras. Prinsip kerja concrete mixer truck ini
secara sederhana adalah sebagai berikut.
Dalam drum terdapat bilah-bilah baja, ketika dalam perjalanan menuju lokasi proyek,
drum ini berputar perlahan-lahan berlawanan putaran jarum jam sehingga adukan mengarah ke
dalam. Perputaran di dalam bertujuan agar tidak terjadi pergeseran ataupun pemisahan agregat
sehingga adukan tetap homogen. Dengan demikian, mutu beton akan selalu terjaga sesuai
dengan kebutuhan rencana.
Ketika sampai di lokasi proyek dan pengecoran berlangsung, arah putaran drum
dibalikkan searah putaran jarum jam dan percepatan putaran diperbesar sehingga adukan beton
keluar. Proses pengiriman beton ready mix diatur dengan memperhatikan jarak, kondisi lalu
lintas, cuaca, dan suhu, karena hal-hal tersebut dapat mempengaruhi waktu dalam pelaksanaan

pekerjaan pengecoran. Pada proyek ini pengadaan concrete mixer truck menjadi tanggung jawab
penyedia ready mix.

g. Alat Penempatan Akhir Material


Alat digolongkan pada kategori ini karena fungsinya yaitu untuk menempatkan material
pada tempat yang telah ditentukan. Ditempat atau lokasi ini material disebarkan secara
merata dan dipadatkan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Yang termasuk di
dalam kategori ini adalah concrete spreader, asphalt paver, motor grader, dan alat pemadat.

Asphalt Paver
Alat yang merupakan traktor beroda ban atau crawler yang dilengkapi dengan suatu sistem
yang berfungsi untuk menghamparkan campuran aspal di atas permukaan fondasi jalan.

2. Klasifikasi operasional Alat Berat


Alat-alat berat dalam pengoperasiannya dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain
atau tidak dapat digerakan atau statis. Jadi klasifikasi alat berdasarkan pergerakannya dapat
dibagi atas berikut ini.
a. Alat dengan Penggerak
Alat penggerak merupakan bagian dari alat berat yang menerjemahkan hasil dari mesin
menjadi kerja. Bentuk dari alat penggerak adalah crawler atau roda kelabang dan ban karet.
Sedangkan belt merupakan alat penggerak pada conveyor belt.

crawlercrane
Akhir-akhir ini penggunaan crawler crane semakin banyak digunakan, karena mesin
jenis ini dapat melayani 4 macam gerakan untuk melakukan gerak pengangkatan beban, dan
juga kelebihan lainnya dari mesin ini dapat beroperasi pada medan kerja yang tidak rata.
Macam-macam gerakan crawler crane
1. Dalam pengoperasiannya mesin ini dapat melakukan kerja pengangkatan beban secara
vertical dan dikombinasi dengan gerakan yang lain, misalnya : gerak putaran (slewing), gerak
maju dan mundur (travelling), maupun gerak luffling. Sumber tenaganya diperoleh dari
mesin diesel yang terpasang dari mesin tersebut. Kemudian disalurkan ke peralatan-peralatan
lain yna juga terpasang pada konstruksi rangka mesin tersebut melalui transmisi rantai dan
transmisi roda gigi yang hasil nya dapat menghasilkan energy.

2. Secara keseluruhan mekanisme pengaturan gerakan pada mesin ini mempunyai konstruksi
yang tidak sederhana , karena semua peralatan hamper terletak pada suatu konstruksi yang
tidak terlalu luas tempatnya.

Bagian-Bagian Utama Crawler Crane


Bagian-bagian utama clawler crane ini dibagi menjadi 2, yaitu: bagian-bagian utama
mesin yang berada diatas rangka (chassis) dan bagian-bagian yang berada dibawah kerangka.
-

Struktur bagian atas terdiri atas : Dek, berat penyeimbang (balancer), kabin, boom

(lengan), mesin penggerak utama, mekanisme untuk gerakan hoisting (pengangkatan),


mekanisme untuk gerak Derek (luffing),dan mekanisme untuk gerak travelling.
- Struktur bagian bawah terdiri dari : rangka (chassis), meja putar (turn-table), sepatusepatu baja (track-shoe), sprocket dan rantai, mekanisme untuk gerak travvelling.
Sistem penerusan tenaga
Pemindahan daya mesin dengan mesin diesel ke drum penggulung, atau untuk
melakukan kerja slewing-travelling dimainkan dengan penting oleh : kopling fluida, transmisi
rantai, transmisi roda gigi dan clutch pengereman, sehingga dapatlah diketahui betapa
pentingnya mengetahui fungsi dari peralatan tersebut diatas dan mengetahui bagaimana cara
kerjanya. Kopling fluida dipasang pada poros output mesin.
Transmisi roda gigi berfungsi sebagai meneruskan putaran maupun sebaliknya pembalik
arah putaran untuk operasi tertentu.
Transmisi roda gigi dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

Sistem transmisi utama

Yaitu roda gigi yang selalu bekerja atau roda gigi penggerak utama bagi setiap gerakan
kerja dari crane. Roda gigi tersebut dihubungkan dengan satu buah rantai roll empat lapis
(strand) sebagai penerus tenaga dari mesin utama. System transmisi utama ini bekerja secara
terus-menerus, meskipun crane belum melakukan operasi pengangkatan beban.
*

Sistem transmisi tambahan Yaitu roda gigi yang bekerja apabila clutch pengereman

juga bekerja, clutch-clucth tersebut dipasang pada poros-poros yang selalu berputar dan
dihubungkan menggunakan pasak. Drum clutch akan bekerja apabila sepatu genggam pada
clutch menekan ke dinding dalam drum (dengan cara ekspansi). System pengaturannya
adalah dengan cara otomatis, dengan pengaturan secara pneumatic

b. Alat Statis
Yang termasuk dalam kategori ini adalah towercrane, batching plant, baik untuk beton
maupun untuk aspal serta crusher plant.
Yang termasuk dalam kategori ini adalah towercrane, batching plant, baik untuk beton
maupun untuk aspal serta crusher plant.

Gambar. 1.9
Tower Crane
Crane (alat pengangkat) jenisnya ada bermacam-macam: Crane gelegar, cranekolom

putar, crane putar, crane portal, crane menara,crane kabel, dan mobil crane. Beberapa jenis
Crane banyak digunakan dalam proyek-proyek bangunan sipil yang berkaitan dengan
pemindahan tanah adalah mobile crane, sebab craneini dapat dengan mudah dipindahpindahkan, karena pekerjaan pemindahan tanah secara mekanis membutuhkan mobilitas alat
yang relatif tinggi

Cara pemasangan Tower Crane

[Link] pertama kali dilakukan adalah penanaman fine angle dan base section kedalam lubang
pondasi
Kemudian di lakukan pengecoran beton terhadap pondasi tersebut.

2. Kemudian Mobile crane membantu melakukan pemasangan awal mast section dengan cara
mengangkat dan menempatkan mast section pada tower crane
3. Kemudian Mobile crane melakukan pemasangan climbing crane yang digunakan untuk self
assembly.
4. Kemudian Mobile crane melakukan pemasangan joint pin diatas climbing crane.
5. Kemudian Mobile crane melakukan Pemasangan boom dan counter jib.
6. Kemudian Mobile crane melakukan Pemasangan counter weight.

Pada tahap menaikkan ketinggian tower crane untuk menyesuaikan pekerjaan


konstruksi, tower crane sudah tidak lagi memerlukan bantuan mobile crane. Dikarenakan tower
crane tersebut memakai system hidrolik yang dapat bergerak vertikal.

1. Climbing crane akan mengangkat joint pin ke atas sehingga terdapat ruang kosong diantara
joint pin dan mast section.
2. Kemudian boom mengangkat sebuah mast section untuk kemudian diletakkan pada ruang
kosong diantara joint pin dan mast section.
3. Kedua proses tersebut akan terus berlanjut hingga mendapatkan ketinggian yang diinginkan.
Sesuai dengan artikel yang saya tulis sebelumnya bahwa tower crane minimal harus lebih tinggi
4-6 meter dari ketinggian maksimum pekerjaan yang dilayani.
Pada tahap menurunkan atau pembongkaran tower crane yang perlu dilakukan sama halnya
seperti cara menaikkan tower crane.
1. Climbing crane akan mengangkat joint pin ke atas sehingga terdapat ruang kosong diantara
joint pin dan mast section.

2. Kemudian boom mengambil sebuah mast section untuk kemudian diturunkan atau dilepaskan
pada tower crane.
3. Kedua proses tersebut akan terus berlanjut, hingga proses menurunkan atau pembongkaran
selesai dikerjakan. Tower crane akan membutuhkan mobile crane kembali untuk pembongkaran
pada saat tower crane sudah berada pada posisi paling bawah.
Untuk melihat contoh pemasangan tower crane dapat dilihat
mengenai bagian-bagian dari tower crane bisa dilihat pada artikel dibawah

Anda mungkin juga menyukai