0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan50 halaman

Definisi dan Dampak Underweight pada Remaja

Dokumen tersebut membahas tentang underweight pada remaja dan pengaruhnya terhadap citra tubuh. Underweight dapat disebabkan oleh faktor gizi dan psikologis. Remaja rentan mengalami gangguan citra tubuh negatif akibat ketidakpuasan akan bentuk tubuhnya selama masa perkembangan. Studi pendahuluan menunjukkan beberapa remaja underweight merasa kurang percaya diri terhadap penampilan fisiknya.

Diunggah oleh

Wahyu Islami XI Ipa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan50 halaman

Definisi dan Dampak Underweight pada Remaja

Dokumen tersebut membahas tentang underweight pada remaja dan pengaruhnya terhadap citra tubuh. Underweight dapat disebabkan oleh faktor gizi dan psikologis. Remaja rentan mengalami gangguan citra tubuh negatif akibat ketidakpuasan akan bentuk tubuhnya selama masa perkembangan. Studi pendahuluan menunjukkan beberapa remaja underweight merasa kurang percaya diri terhadap penampilan fisiknya.

Diunggah oleh

Wahyu Islami XI Ipa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Underweight secara harfiah berarti berat badan rendah. Underweight
adalah keadaan gizi kurang yang terjadi akibat kurangnya asupan zat gizi
yang masuk ke dalam tubuh.(1) Menurut ADA (American Dietetic
Association) underweight adalah keadaan dimana IMT (Indeks Massa
Tubuh) seseorang berada di bawah angka 20 kg/m2.(2) Sedangkan menurut
WHO seseorang dikatakan underweight saat IMT kurang dari 18.5
kg/m2.(3)
Pengukuran yang sering digunakan untuk menentukan seseorang
mengalami underweight adalah dengan menggunakan indeks massa tubuh
(IMT), yaitu perbandingan berat badan dengan kuadrat tinggi badan
(dalam meter); IMT= BB (kg)/TB2(m2).(4) IMT digunakan untuk mengukur
status gizi orang dewasa secara umum. Seseorang dikatakan mengalami
underweight saat hasil pengukuran IMT kurang dari 18.5 kg/m2.
Sedangkan pengukuran status gizi untuk anak dan remaja dibawah 19
tahun menggunakan metode yang berbeda, yaitu metode antopometrik
meliputi BB/U, TB/U, BB/TB dan IMT/U. Seorang anak dikatakan
underweight saat hasil penghitungan nilai Z-score <-2SD di bawah standar
internasional.(3)

WHO

menyebutkan

bahwa

kejadian

underweight

mengalami

peningkatan dari 24% pada tahun 1990, menjadi 26,8% pada tahun 2014.(5)
Uniceff menyebutkan underweight telah menjadi masalah yang serius di
beberapa negara di dunia. Hasil studi oleh Health and Nutrition
Examination Survey (NHNES) di Amerika serikat menunujukkan bahwa
3,7% dari anak-anak dan remaja usia 2-19 tahun mengalami underweight.
Wilayah afrika utara dan timur tengah mencapai 43%. Dan negara yang
memiliki angka kejadian underweight terbanyak adalah kawasan asia
selatan yaitu mencapai 66%.(6)
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013,
prevalensi kejadian underweight masih tergolong tinggi, yaitu sebesar
12,1% di Indonesia. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi
underweight di atas prevalensi nasional dan Jawa Tengah termasuk di
dalamnya. Di provinsi Jawa Tengah terdapat masalah gizi underweight
pada remaja usia 13-15 tahun yang berada di atas prevalensi nasional.(7)
Berat badan kurang atau underweight seperti halnya undereating dan
obesitas, dapat disebabkan oleh faktor psikologis dan fisiologis
seseorang.(8)Faktor psikologis yang dapat memicu terjadinya underweight
adalah keinginan untuk memiliki tubuh ideal sehingga mempengaruhi pola
hidup dan kebiasaan makan seseorang.(9,10) Sedangkan berdasarkan faktor
fisiologis, underweight paling utama disebabkan oleh kurangnya asupan
makanan, selain itu dapat pula disebabkan oleh masalah endokrin di dalam
tubuh.(1) Underweight terjadi akibat tubuh mengalami kekurangan satu

atau lebih zat-zat esensial seperti karbohidrat, protein dan lemak.


Kekurangan protein menyebabkan massa otot yang terbentuk sedikit dan
penurunan sistem imunitas sehingga rentan terkena penyakit.(6) Selain dua
faktor tersebut, faktor lain seperti genetik, usia, serta faktor penyakit
diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya kasus underweight.(11)
Underweight merupakan cerminan dari status gizi seseorang.
Seseorang yang mengalami underweight rentan terkena masalah
kesehatan. Selain masalah fisik seperti anemia, gangguan pencernaan,
pengeroposan tulang, serta gangguan menstruasi, akibat underweight juga
dapat mempengaruhi psikologis seseorang.(11) Orang dengan masalah berat
badan sering merasa dirinya berbeda atau dibedakan dari kelompoknya,
hal ini akan menyebabkan individu dengan underweight rentan terhadap
masalah psikologis berupa citra tubuh negatif. (8,12)
Citra tubuh (body image) merupakan gabungan dari persepsi, sikap
dan perilaku seseorang terhadap tubuhnya.(13,14) Dalam psikologi
keperawatan, citra tubuh merupakan bagian dari konsep diri, yang
kesemuanya terdiri dari lima komponen, yaitu; citra tubuh, ideal diri, harga
diri, peran diri, dan identitas diri. Citra tubuh adalah sikap individu
terhadap tubuhnya, meliputi performance, potensi tubuh, fungsi tubuh,
serta persepsi tentang ukuran dan bentuk tubuh.(15)
Gangguan citra tubuh ditandai dengan adanya penilaian negatif
individu yang akan menimbulkan perasaan tidak berdaya, artinya
seseorang individu mempersepsi adanya kekurangan dalam segi fisik,

tampilan yang tidak menyenangkan dan secara sosial tidak adekuat.


Perasaan seperti ini tentu akan menghambat penyesuaian dirinya.
Sebaliknya individu yang memiliki penilaian positif terhadap dirinya akan
lebih merasa menarik dan adekuat secara sosial sehingga dapat melakukan
penyesuaian diri dengan baik.(10,13)
Gangguan citra tubuh dapat dibedakan menjadi dua menurut
komponen citra tubuh yang terganggu, yakni distorsi citra tubuh dan
ketidakpuasan terhadap citra tubuh. Distorsi citra tubuh dapat berupa overestimation dan under-estimation. Sedangkan ketidakpuasan terhadap citra
tubuh dapat berupa keyakinan bahwa penampilan fisiknya tidak sesuai
dengan standar yang diharapkan. Gangguan citra tubuh tersebut terjadi
akibat adanya persepsi yang negatif di dalam diri seseorang.(13)
Seorang

anak

yang

mulai

menginjak

masa

remaja

mulai

memperhatikan dan mementingkan penampilan fisik mereka.(12) Remaja


ingin terlihat menarik dalam segi fisik bagi lawan jenisnya maupun teman
sebayanya. Sering kali remaja merasa tidak percaya diri jika fisiknya tidak
sesuai dengan harapan yang mereka inginkan. Dalam hal ini remaja dalam
proses tumbuh kembangnya rentan mengalami gangguan citra tubuh. (16)
Remaja (adolescent) didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa
kanak-kanak ke masa dewasa. Masa remaja dibagi dalam tiga tahapan
yakni early adolescent, middle adolescent dan late adolescent. Pada
periode pertama disebut remaja awal atau early adolescent, terjadi pada
usia 12-14 tahun. Pada masa remaja awal anak-anak mengalami perubahan

tubuh yang cepat, adanya akselerasi pertumbuhan, dan disertai awal


pertumbuhan seks sekunder, pada periode ini remaja mulai memperhatikan
penampilannya. Pada periode middle adolescent (14-18 tahun), remaja
akan mulai tertarik dengan karir dan intelektualitas dan secara seksual
sangat memperhatikan penampilan dan mulai tertarik kepada lawan jenis.
Pada periode late adolescent yang dimulai saat usia 19 tahun, remaja telah
mencapai maturitas fisik yang sempurna.(17)
Remaja dalam perkembangannya mengalami perubahan fisik maupun
psikis. Perubahan fisik ini menyebabkan remaja menjadi sangat
memperhatikan bentuk tubuhnya dan sering merasa tidak puas akan
penampilan mereka. Ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh yang dialami
menjadi salah satu penyebab timbulnya gangguan harga diri selama masa
remaja.(8,16)

Seorang

remaja

yang

memiliki

citra

tubuh

negatif

dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan mental dan mengganggu


pertumbuhan emosinya di masa depan.(15) Sehingga perlu adanya perhatian
dari lingkungan mengenai pentingnya citra tubuh positif bagi remaja,
dengan cara menghindari bulliying serta meningatkan konseling di
lingkungan rumah maupun sekolah.
Citra tubuh menjadi perhatian utama pada remaja. Hal ini disebabkan
saat remaja seseorang mengalami banyak perubahan diantaranya
perubahan bentuk tubuh dari anak-anak menjadi dewasa. Perubahan ini
meningkatkan fokus dan perhatian pada tubuh. Remaja cenderung tidak

toleran dengan penyimpangan yang terjadi pada tubuh mereka, seperti


obesitas dan underweight.(10)
Pandangan mengenai tubuh yang ideal berbeda antara remaja laki-laki
dan perempuan. Remaja perempuan cenderung overestimate atau melebihlebihkan ukuran tubuh sebenarnya. Sedangkan remaja laki-laki terbagi
menjadi dua yaitu overestimate dan underestimate atau menganggap
rendah ukuran tubuh mereka dibandingkan dengan ukuran yang
sebenarnya. Kecenderungan perbedaan pandangan mengenai citra tubuh
juga dipengaruhi oleh budaya di tempat tinggal seseorang. Dan penelitian
membuktikan bahwa remaja perempuan secara konsisten melaporkan
tingkat ketidakpuasan yang tinggi terhadap tubuhnya.(18) Penelitian
menunjukkan bahwa wanita lebih memperhatikan penampilan fisik
dibandingkan pria.(8,10,18)
Ketidakpuasan remaja terhadap tubuh dapat menyebabkan perilaku
pengontrolan berat badan yang tidak tepat maupun kebiasaan makan yang
buruk sehingga dapat membahayakan perkembangan fisik dan kognitif
pada masa remaja.(8,10,18) Pengaruh media informasi yang ada sekarang ini
banyak menggambarkan kesempurnaan fisik yang dimiliki oleh public
figure. Hal ini mengakibatkan banyak remaja memiliki persepsi tersendiri
mengenai tubuh ideal, serta menginginkan memiliki tubuh seperti tokohtokoh yang mereka idolakan di media massa. Remaja dengan berat berat
badan lebih (overweight, obesitas) menjadi kurang percaya diri dan
berusaha menurunkan berat badannya. Namun disamping itu banyak pula

remaja dengan berat badan kurang atau underweight juga merasa bahwa
tubuhnya kurang ideal membuat mereka melakukan berbagai cara untuk
menaikkan berat badannya.(10)
Studi pendahuluan telah dilakukan peneliti pada bulan September
2015 di SMA Futuhiyyah Mranggen Demak. Wawancara dilakukan
kepada 10 orang siswa/ siswi yang mengalami underweight, yakni 5 orang
berjenis kelamin laki-laki (siswa) dan 5 orang berjenis kelamin perempuan
(siswi). Dari hasil wawancara terhadap 5 orang siswa didapatkan data
bahwa 4 orang siswa mengatakan merasa tubuhnya terlalu kurus, sering
merasa tidak percaya diri terhadap bentuk tubuhnya, merasa tidak menarik
bagi lawan jenis, dan berusaha memiliki tubuh yang lebih besar dan gagah.
Sedangkan 1 orang siswa mengatakan bersyukur terhadap apapun bentuk
tubuhnya.
Hasil wawancara terhadap 5 orang siswi diketahui sebanyak 3 orang
siswi mengatakan tidak percaya diri, merasa tidak puas dengan bentuk
tubuhnya saat ini, dan mengaku melakukan usaha untuk menaikkan berat
badan. Ketiga siswi ini menginginkan tubuh yang lebih berisi serta berat
badan yang ideal, namun juga tidak menginginkan tubuh yang gemuk.
Sedangkan 2 siswi lainnya mengatakan memiliki berat badan underweight
bukan merupakan masalah bagi mereka. Rasa percaya diri tetap mereka
miliki walaupun dengan berat badan di bawah rata-rata. Dari semua
responden mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit berat yang
berhubungan dengan berat badannya yang underweight, kesemuanya

mengaku memiliki kebiasaan makan dan pola aktivitas dalam batas normal
serta tidak memiliki gangguan makan maupun menjalankan diet ketat.
Penelitian tentang gambaran citra tubuh yang telah ada menyebutkan,
ketidakpuasan terhadap citra tubuh memicu timbulnya kecemasan dan
depresi pada remaja.(10) Remaja perempuan memiliki kepuasan citra tubuh
lebih rendah dibanding dengan remaja laki-laki.(18) Ketidakpuasan
terhadap citra tubuh ini tentu akan mempengaruhi kesehatan psikologis
serta sosial remaja di masa depan. Penelitian lain mengatakan persepsi
terhadap berat badan, status gizi, serta bentuk tubuh merupakan hal yang
paling mempengaruhi citra tubuh seseorang.(19) Seseorang dengan berat
badan overweight atau obesitas lebih memiliki citra tubuh negatif
dibanding dengan seseorang dengan status gizi normal.(2022) Berdasarkan
fenomena serta hasil penelitian terdahulu, oleh karena itu peneliti tertarik
untuk meneliti gambaran citra tubuh pada remaja yang underweight.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan fenomena di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan


penelitian secara mendalam dalam bentuk penelitian kuantitatif mengenai
Gambaran Citra Tubuh Remaja yang Underweight di SMA Futuhiyyah
Mranggen Demak.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui citra tubuh pada remaja yang underweight di SMA
Futuhiyyah Mranggen Demak.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi citra tubuh berupa citra tubuh positif pada
remaja yang underweight di SMA Futuhiyyah Mranggen Demak.
b. Untuk mengidentifikasi citra tubuh berupa citra tubuh negatif pada
remaja yang underweight di SMA Futuhiyyah Mranggen Demak.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi profesi keperawatan


Menambah referensi mengenai gambaran citra tubuh remaja yang
underweight sehingga dapat digunakan dalam memberikan intervensi
keperawatan, khususnya di bidang keperawatan jiwa dan komunitas.
2. Bagi institusi pendidikan keperawatan
Sebagai sumber informasi dan wacana ilmiah di bidang keperawatan
komunitas. Penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai referensi
pembelajaran mengenai citra tubuh remaja yang underweight.
3. Bagi sekolah
Memberikan gambaran mengenai citra tubuh remaja yang underweight
Sehingga masyarakat disekolah dapat mengetahui pentingnya citra
tubuh positif bagi remaja.

10

4. Bagi peneliti
Peneliti dapat meningkatkan pengalaman dalam melakukan penelitian
kuantitatif dan mengetahui tentang citra tubuh remaja yang
underweight.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1.

Underweight
a. Definisi
Underweight merupakan keadaan gizi kurang yang terjadi akibat
kurangnya asupan zat gizi. Menurut Depkes RI, underweight adalah
status gizi yang didasarkan pada indeks massa tubuh, yang merupakan
padanan istilah dari Gizi Kurang. Menurut WHO, underweight
merupakan status gizi yang menggambarkan gizi kurang yaitu saat
IMT (Indeks Massa Tubuh) kurang dari 18.5 kg/m2.(3) Underweight
sering kali merupakan gejala dari suatu penyakit. Seseorang yang
memiliki berat badan underweight mungkin memiliki risiko kematian
yang lebih besar dibandingkan dengan seseorang dengan IMT normal
(18,5-24,9 kg/m2). (23)
b. Faktor penyebab
Pada

dasarnya

penyebab

underweight

dapat

dibedakan

berdasarkan dua faktor yakni faktor fisiologis dan psikologis.(8)


Berikut adalah faktor-faktor penyebab underweight yang dikutip dari
beberapa sumber: (2325)

11

12

1) Kurang asupan makanan


Intake makanan yang tidak adekuat dan tidak sesuai dengan
kebutuhan tubuh dapat memicu terjadinya

underweight.(23)

Kurangnya asupan makanan dapat disebabkan oleh berbagai


keadaan seperti keadaan sakit, stres, mengkonsumsi obat-obatan
tertentu, serta aktivitas harian yang tinggi. Kurangnya asupan
makanan juga dapat disebabkan oleh diet atau pola makan yang
tidak benar.
2) Aktivitas fisik yang tinggi
Seseorang dengan aktivitas tinggi seperti atlet/olahragawan
lebih berisiko mengalami underweight dari pada individu dengan
aktivitas rendah. Saat melakukan aktivitas tinggi, tubuh akan
membakar lebih banyak kalori sehingga tidak banyak nutrisi yang
dapat disimpan.(23)
3) Penyerapan nutrisi tidak adekuat
Setiap tubuh memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Beberapa orang memiliki kecenderungan metabolisme tubuh lebih
cepat dibandingkan dengan orang lain, disertai dengan proses
absorbsi yang tidak maksimal.(26) Hal ini menyebabkan tubuh tidak
mendapat nutrisi sesuai dengan yang kebutuhan dan berujung pada
terjadinya underweight.

13

4) Faktor Penyakit
Proses penyakit dapat meningkatkan metabolisme tubuh dan
kebutuhan energi. Seperti pada penyakit kanker, hypertiroid, dan
AIDS.(23) Seseorang yang sedang terkena penyakit lebih mudah
kehilangan berat badannya, dikarenakan tubuh meningkatkan
metabolisme dan mengunakan banyak energi untuk memerangi
penyakit yang sedang terjadi.
5) Faktor Genetik
Faktor genetik yang diturunkan pada seseorang dapat membuat
kadar metabolisme yang tinggi ataupun sel lemak badan yang
kurang.(24)
6) Faktor Usia
Usia dapat berpengaruh terhadap terjadinya underweight. Saat
usia bertambah tua kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi akan
berkurang.(25)
7) Gaya Hidup
Konsumsi kafein, nikotin dan berbagai zat aditif dapat
berpengaruh terhadap kemampuan tubuh dalam menyerap zat
makanan.(25)
c. Dampak Underweight
Menurut Mahan, L Kathleen dalam bukunya yang berjudul
Krauses Food and the Nutrition Care Process menyebutkan bahwa
keadaan underweight dapat menyebabkan penurunan fungsi tubuh

14

seperti penurunan fungsi kelenjar pituari, tiroid, gonad dan adrenal.


Seseorang dengan underweight memiliki kerentanan terhadap cedera
dan infeksi. Selain menimbulkan masalah biologis, keadaan
underweight juga dapat menyebabkan gangguan citra tubuh serta
gangguan psikologis yang lain.(23) Sedangkan menurut

Supariasa

menyebutkan bahwa masalah kurang gizi dapat menyebabkan


timbulnya penyakit-penyakit lainnya seperti:(4)
1) Anemia Besi
Anemia besi adalah kondisi dimana kandungan besi tubuh
total menurun di bawah kadar normal. Anemia ini dapat terjadi
akibat rendahnya presentase zat besi yang dapat diserap dari
makanan. Gejalanya dapat berupa lemas, letih, sakit kepala, mual,
dan mudah kesemutan.(27) Selain itu anemia besi juga dapat
menurunkan

konsentrasi,

sehingga

dapat

mengakibatkan

penurunan prestasi belajar jika dialami anak-anak atau remaja.(28)


2) Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)
Secara klinis dapat didefinisikan sebagai kumpulan gejala
yang timbul karena tubuh seseorang kekurangan unsur iodium
secara terus menerus, dalam jangka waktu yang cukup lama.
Gejala khas yang dialami penderita GAKI adalah defisiensi
mental yang disertai gangguan saraf pada organ ekstremitas,
auditori dan mata.(29)

15

3) Gangguan Akibat Kekurangan Vitamin


Vitamin merupakan zat penting yang diperlukan tubuh. Bila
tubuh kekurangan vitamin, maka tubuh akan lebih rentan terkena
suatu penyakit. Meskipun tubuh hanya memerlukan vitamin
dalam jumlah sedikit, namun jika kebutuhan ini diabaikan maka
metabolisme tubuh akan terganggu.(30) Seseorang dengan
underweight

cenderung

mengalami

defisiensi

zat

nutrisi.

Kekurangan nutrisi khususnya vitamin memicu terjadinya


penyakit sistemik yang mengganggu kerja sel dan jaringan dalam
tubuh.(25)
d. Pengukuran Underweight dan Klasifikasinya
Pengukuran yang sering digunakan untuk menentukan seseorang
mengalami underweight adalah dengan menggunakan indeks massa
tubuh (IMT), yaitu perbandingan berat badan dengan kuadrat tinggi
badan (dalam meter); IMT= BB (kg)/TB2 (m2). IMT digunakan untuk
mengukur status gizi orang dewasa secara umum. Seseorang
dikatakan mengalami underweight saat hasil pengukuran IMT < 18.5
kg/m2. Sedangkan pengukuran status gizi untuk anak dan remaja (5-18
tahun) menggunakan metode yang berbeda, yaitu metode IMT
menurut umur. Seorang anak dikatakan underweight saat hasil
penghitungan nilai Z-score <-2SD.(3)
Menurut Supariasa (2001), WHO menyatakan bahwa batasan
berat badan normal orang ditentukan berdasarkan nilai Body Mass

16

Indeks (BMI). Di Indonesia istilah Body Mass Indeks diterjemahkan


menjadi Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT merupakan alat yang
sederhana untuk memantau status gizi khususnya yang berkaitan
dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. (4)

Gambar 2.1. Rumus IMT(3)

Tabel 2.1. Klasifikasi Internasional Underweight, Overweight


dan Obesitas menurut IMT(3)
BMI (Kg/m2)
Klasifikasi
Principal cut- Additional cutoff points
off points
<18.50

<18.50

<16.00

<16.00

Moderate thinness

16.00-16.99

16.00-16.99

Mild thinness

17.00-18.49

17.00-18.49

Underweight
Severe thinness

Normal range

18.50-24.99

18.50-22.99
23.00-24.99

Overweight
Pre-obese

25.00

25.00

25.00 29.99

25.00 27.49
27.50 29.99

30.00

Obese

30.00
30.00 32.49

Obese class I
30.00 34.99

32.50 34.99

17

35.00 37.49

Obese class II
35.00 39.99

penelitian

40.00

40.00

Obese class III

Dalam

37.50 39.99

ini

pengukuran

status

gizi

remaja

menggunakan IMT menurut umur. Pengukuran IMT menurut umur


digunakan untuk menentukan status gizi anak usia 5-18 tahun.(31)
Data yang diperlukan adalah berat badan, tinggi badan serta umur.
Klasifikasi status gizi IMT menurut umur, menurut Kemenkes
RI tahun 2010 untuk anak usia 5-18 tahun:
Tabel 2.2. Kategori Status Gizi Anak Usia 5-18 Tahun
Menurut Depkes RI tahun 2010
Klasifikasi
Nilai Z-skor
Z-skor +2SD

Obesitas

+1 Z-skor < +2

Gemuk

-2 Z-skor < +1

Normal

-3 Z-skor < -2

Kurus

Z-skor < -3

Sangat kurus

Dalam penelitian ini kategori underweigth diambil dari


klasifikasi Kurus dan Sangat kurus menurut tabel Status Gizi Depkes
RI di atas. Untuk menghitung dan menentukan status gizi dapat
dilakukan secara manual atau dengan menggunakan alat. Dewasa ini
seiring dengan kemajuan teknologi sudah terdapat software yang
dapat mempermudah proses penghitungan dan penentuan status gizi

18

seseorang.(32) Dalam penelitian ini peneliti melakukan penghitungan


secara manual berdasarkan tabel pengukuran antropometri untuk anak
dan remaja dari Depkes RI tahun 2010.
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi merupakan masalah
penting, karena selain mempunyai risiko penyakit-penyakit tertentu,
juga dapat mempengaruhi produktifitas seseorang. Oleh karena itu
pemantauan

keadaan

tersebut

perlu

dilakukan

secara

berkesinambungan. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan


berat badan yang ideal atau normal. (4)

2.
a.

Citra Tubuh
Definisi Citra Tubuh
Citra tubuh (body image) merupakan gabungan dari persepsi,
sikap dan perilaku seseorang terhadap tubuhnya.(13,14) Dalam psikologi
keperawatan, citra tubuh merupakan bagian dari konsep diri, yang
kesemuanya terdiri dari lima komponen, yaitu; citra tubuh, ideal diri,
harga diri, peran diri, dan identitas diri. Citra tubuh adalah sikap
individu terhadap tubuhnya, meliputi performance, potensi tubuh,
fungsi tubuh, serta persepsi tentang ukuran dan bentuk tubuh.(15)
Citra tubuh adalah cara seseorang menilai tubuhnya dan reaksi
lain terhadap penampilannya. Citra tubuh bersifat subjektif dan sangat
personal bagi seseorang, namun dapat dipelajari serta dinamis.(33) Citra
tubuh (body image) merupakan bagian dari konsep diri yang meliputi
pengalaman yang berkaitan dengan tubuh, termasuk pandangan

19

tentang maskulinitas, feminitas, kegagahan fisik, daya tahan dan


kapabilitas.(34) Menurut Cash (2002) Citra tubuh adalah sikap yang
dimiliki seseorang terhadap tubuhnya berupa penilaian positif dan
negatif.(35) Menurut kamus psikologi Chaplin, mengatakan bahwa citra
tubuh adalah ide seseorang mengenai penampilannya di hadapan
orang lain.(36)
Papalia dan Olds mengatakan bahwa citra tubuh merupakan
gambaran dan evaluasi mengenai penampilan seseorang. Remaja yang
memiliki citra tubuh positif lebih mampu menghargai dirinya.
Individu tersebut cenderung menilai dirinya sebagai orang dengan
kepribadian cerdas, asertif dan menyenangkan. Sedangkan remaja
dengan citra tubuh negatif akan menghambat perkembangan
kemampuan interpersonal dan kemampuan membangun hubungan
dengan orang lain.(37)
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan citra tubuh adalah
gabungan dari persepsi, sikap, dan perilaku seseorang terhadap dirinya
baik berupa persepsi positif atau negatif yang ditunjukkan kepada
orang lain.
b.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Citra Tubuh


Faktor yang mempengaruhi citra tubuh dapat berasal dari dalam
diri seseorang serta dapat pula berasal dari luar:
1) Jenis kelamin

20

Jenis kelamin merupakan faktor penting yang mempengaruhi


citra tubuh seseorang. Beberapa penelitian telah membuktikan
bahwa wanita memiliki perhatian lebih terhadap tubuhnya.
Wanita kebanyakan overestimate atau memiliki harapan lebih
terhadap tubuhnya.(8,18)

2) Usia
Pada usia remaja, individu menjadi lebih mementingkan
penampilan tubuhnya.(37) Hal ini menyebabkan remaja berusaha
untuk mengontrol berat badan mereka. Memiliki berat badan ideal
menjadi penting dan sebaliknya, remaja akan merasa tidak
bahagia saat memiliki berat badan tidak ideal.
3) Keluarga
Teori psikologi social learning menyatakan bahwa orang tua
adalah model paling penting dalam proses sosialisasi. Gambaran
citra tubuh seorang anak dapat dipengaruhi dari proses modeling,
feedback serta instruksi dari orang tua.(35)
4) Hubungan interpersonal
Hubungan interpersonal akan membuat seseorang cenderung
membandingkan dirinya dengan orang lain di lingkungannya.
Rosen dalam Cash & Purzinsky (2002) menyebutkan bahwa
feedback terhadap penampilan dan kompetisiteman sebaya dalam

21

hubungan

interpersonal

dapat

mempengaruhi

bagaimana

pandangan seseorang terhadap citra tubuhnya.(35)


5) Perubahan dalam penampilan tubuh
Citra

tubuh

seseorang

dipengaruhi

oleh

perubahan

penampilan tubuh seperti halnya amputasi, maupun perubahan


wajah. Hal ini menyebabkan individu sering merasa ditolak,
terasing dan terkadang timbul perasaan tidak berdaya.(24)
6) Perubahan struktur tubuh
Perubahan penampilan dan juga struktur tubuh seseorang
seperti mastektomi, kolostomi, dan ileostomi juga memiliki efek
signifikan bagi citra tubuh seseorang. Semakin besar makna
penting dari tubuh atau bagian tubuh, maka semakin besar pula
ancaman yang dirasakan akibat perubahan citra tubuh.(24)
7) Perubahan fungsi bagian tubuh
Penyakit kronis yang dialami seseorang, seperti penyakit
jantung dan ginjal akan mengakibatkan terjadinya perubahan
fungsi, dimana tubuh tidak lagi dapat berfungsi optimal seperti
sebelumnya.

Seseorang

yang

mengalami

hal

ini

dapat

mempersepsikan dirinya menjadi negatif karena merasa kurang


dibandingkan dengan orang lain yang tidak mengalami penyakit
kronis.(24)
c.

Dimensi Citra Tubuh

22

Menurut Thompson (2001) citra tubuh terdiri dari tiga dimensi,


yaitu:(14)
1) Persepsi
Persepsi adalah proses seseorang mengetahaui sesuatu hal
melalui panca indranya, yang didahului oleh perhatian sehingga
individu mampu mengetahui, mengartikan, dan menghayati halhal baik di luar maupun dalam dirinya.(15) Persepsi dalam citra
tubuh yaitu sesuatu yang berhubungan dengan ketepatan individu
mempersepsikan dan memandang penampilan dirinya, baik
berupa bentuk fisik atau ukuran tubuhnya.(14)
2) Sikap
Sikap adalah pola-pola kebiasaan yang berhubungan dengan
cara merasakan dan berfikir dalam suatu situasi.(15) Sikap dalam
citra tubuh merupakan suatu yang berhubungan dengan kepuasan
individu terhadap tubuhnya, perhatian terhadap tubuhnya,
evaluasi kognitif dan kecemasan individu terhadap penampilan
tubuhnya.
3) Perilaku
Perilaku merupakan aktivitas yang timbul akibat adanya
stimulus dan dapat diamati secara langsung maupun tidak
langsung.(15) Perilaku dalam citra tubuh disini menitikberatkan
pada penghindaran terhadap situasi yang menyebabkan individu

23

mengalami

ketidaknyamanan

yang

berhubungan

dengan

penampilan secara fisik.


d.

Gangguan Citra tubuh


Bentuk gangguan citra tubuh dapat berupa over-estimation
(persepsi terhadap tubuh lebih besar dari keadaan yang sebenarnya)
dan under-estimation (persepsi terhadap tubuh lebih kecil dari
keadaan yang sebenarnya). Gangguan citra tubuh ini dapat terjadi
pada semua bentuk dan ukuran tubuh seseorang.(14) Dalam penelitian
ini peneliti menggunakan teori Thompson (2001) dengan 3 dimensi
citra tubuh.(35) Citra tubuh dikategorikan menjadi citra positif atau
negatif tergantung kepada penilaian diri dari masing-masing individu.
Berdasarkan jumlah skor yang diperoleh responden dari kuesioner
citra tubuh dapat diketahui pada dimensi mana gangguan citra tubuh
yang dialami.(13,35)

3.
a.

Usia Remaja
Definisi
Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak
menuju dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 sampai
24 tahun. Namun, jika pada usia remaja seseorang sudah menikah,
maka ia tergolong kedalam fase dewasa dan bukan lagi remaja. Fase
remaja ditandai dengan perubahan fisik, perilaku, kognitif, biologis,
dan emosi.(17) Remaja merupakan suatu periode perkembangan yang
merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa.

24

Dalam perkembangannya remaja mengalami beberapa perubahan


dalam hidupnya berupa perbahan biologis, kognitif dan psikososial.(38)
Secara umum para ahli menggolongkan masa remaja menjadi tiga
kelas yakni remaja awal (early adolescent) adalah mereka yang berusia
10-14 tahun, remaja pertengahan (middle adolescent) yaitu usia 15-18
tahun, dan remaja akhir (late adolescent) yang berusia 19-21
tahun.(34,38)
Pada usia remaja, penampilan diri seseorang merupakan hal yang
penting karena dapat mempengaruhi kehidupan sosialnya. Selama
masa remaja, seseorang biasanya lebih perhatian terhadap hal
pekerjaan dan sosialnya.(24) Remaja perempuan maupun laki-laki mulai
sangat memperhatikan penampilan tubuhnya untuk mendapatkan
perhatian sosial yang diinginkan.
b.

Tugas Perkembangan Usia Remaja


Menurut Diekelmann dalam Potter Perry, 2005 menyebutkan
bahwa tugas perkembangan seseorang di usia remaja, yaitu:(24)
1) Mendapat kebebasan dari pengawasan orang tua
2) Mulai mengembangkan persahabatan yang akrab dan intim di luar
keluarga
3) Membentuk seperangkat nilai pribadi
4) Mengembangkan identitas pribadi
5) Mempersiapkan kehidupan kerja dan kapasitas keintiman

c.

Ciri-Ciri Usia Remaja

25

Usia remaja ditandai ketika seseorang mulai mengalami


maturitas. Seseorang dikatakan mencapai maturitas ketika telah
mencapai keseimbangan pertumbuhan fisiologis, psikososial dan
kognitif. Individu yang telah matur akan merasa nyaman dengan
kemampuan, pengetahuan serta respon yang telah mereka miliki.
Menurut Potter&Perry (2005) terdapat tiga aspek yang merupakan
ciri dari perkembangan usia remaja, yaitu dari aspek fisiologis,
psikososial, dan kognitif.(24)

1) Perkembangan Fisiologis
Remaja melengkapi pertumbuhan fisiknya pada usia 20
tahun. Remaja biasanya lebih aktif dalam kesehariannya. Puncak
pertumbuhan secara fisik sering terlihat pada usia 19-25 tahun.(38)
2) Perkembangan Psikososial
Perkembangan

aspek

psikososial

remaja

meliputi

kemampuan individu dalam mengarahkan dan memecahkan tugas


pribadi dan sosial. Remaja kadang terjebak antara keinginan
untuk menikmati masa remaja yang sedikit tanggung jawab dan
keinginan untuk menjadi dewasa yang memikul tanggung
jawab.(17)
3) Perkembangan Kognitif
Saat

memasuki

usia

remaja,

seseorang

mengalami

peningkatan dalam kemampuan berfikir rasional. Peningkatan ini

26

diperoleh dari pendidikan formal dan informal, serta pengalaman


hidup.

Keadaan

meningkatkan

ini

konsep

akan

mempengaruhi

individu,

pemecahan

remaja
masalah

dalam
dan

keterampilan motorik.(24)

B. Kerangka Teori

Faktor fisiologis:

Dampak fisiologis:

1. Kurang asupan
makanan
2. Gangguan
sistem
endokrin

1. Gangguan fungsi
tubuh
2. Kerentanan
terhadap infeksi
dan cedera

Faktor psikologis:

Underweight
pada remaja
(IMT<-2SD)
Dampak psikologis:

1. Stress
2. Keinginan
mengurangi
berat badan

Gambaran Citra Tubuh, Terdiri dari 3


dimensi:
1. Dimensi persepsi
2. Dimensi sikap
3. Dimensi perilaku

1. Gangguan citra
tubuh; (distorsi
citra tubuh &
ketidakpuasan
terhadap citra
tubuh)
2. Gangguan harga
diri & gangguan
psikologis yang
lain

27

Keterangan :
: diteliti
: tidak diteliti
Gambar 2.2. Kerangka Teori (19,29,32)

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Citra tubuh pada remaja yang underweight :


1. Citra tubuh positif
2. Citra tubuh negatif

: variabel yang diteliti


Gambar 3.1 Kerangka Konsep
B. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Metode
kuantitatif deskriptif merupakan metode penelitian yang bertujuan
menggambarkan, menjabarkan secara sistematik dan akurat mengenai
populasi atau bidang tertentu. Penelitian deskriptif hanya bertujuan
mendeskripsikan suatu fenomena, sehingga tidak diperlukan adanya
hipotesis.(39) Hasil dari penelitian deskriptif berupa penyajian data yang
diperoleh tanpa dilakukan analisis yang mendalam. Deskripsi mengenai
variabel tertentu disajikan berupa data frekuensi, angka rata-rata, atau
kualifikasi lainnya untuk setiap kategori di setiap variabel.(40) Desain
penelitian menggunakan cross-sectional study yaitu pengumpulan data

27

28

dilakukan pada satu titik waktu tertentu.(41)

Hasil

penelitian

ini

mendeskripsikan gambaran citra tubuh remaja yang underweight di SMA


Futuhiyyah Mranggen Demak. Berupa citra tubuh positif atau negatif
dilihat dari 3 dimensi citra tubuh.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1.

Populasi
Populasi adalah suatu objek yang memenuhi kriteria atau
karakteristik yang ditetapkan dan akan diteliti. Populasi dapat berupa
orang, benda, atau gejala yang ingin diketahui peneliti.(39) Dari hasil
studi pendahuluan di SMA Futuhiyyah Mranggen Demak diketahui
jumlah siswa keseluruhan 538 orang yang terdiri dari 15 kelas. Setelah
dilakukan survey dan penghitungan IMT, dari semua kelas didapatkan
data bahwa siswa yang mengalami underweight sebanyak 112 orang,
yaitu 61 orang berjenis kelamin perempuan dan 51 orang berjenis
kelamin laki-laki. Semua siswa berada pada rentang usia 15-18 tahun.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa dan siswi SMA Futuhiyyah
Mranggen Demak yang mengalami underweight yakni berjumlah 112
orang.

2.

Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang mempunyai
kemampuan untuk mewakili.(39) Sampel diambil berdasarkan kriteria
inklusi dan eksklusi. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa dan

29

siswi SMA Futuhiyyah Mranggen Demak dengan kriteria inklusi


sebagai berikut:
a.

Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah batasan ciri atau karakter umum pada
subyek penelitian. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
1) Berusia 15-18 tahun (middle adolescence)(38)
2) Mengalami underweight, dengan standar kriteria underweight
menurut Depkes RI, yakni nilai Z-score IMT menurut umur
<-2SD
3) Bersedia menjadi responden
4) Mendapat persetujuan dari orang tua

b.

Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi merupakan pengeluaran subjek dari penelitian
karena subjek tersebut diangap dapat mempengaruhi hasil
penelitian. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:
1) Siswa yang tidak dapat hadir saat penelitian
2) Siswa yang mengundurkan diri di tengah penelitian

D. Besar Sampel
1.

Besar Sampel
Besar sampel penelitian diperoleh dari besarnya sampel yang
memenuhi kriteria inklusi. Perhitungan besar sampel pada penelitian
deskriptif ini menggunakan rumus sebagai berikut:(42,43)

30

Keterangan:
n: Jumlah sampel
N:Jumlah populasi
d: tingkat kesalahan (0,05)

Sehingga, apabila jumlah populasinya 112 maka besar sampel


yang didapat adalah :

n = 87,5 dibulatkan menjadi 88 sampel


Peneliti mengantisipasi kekurangan sample akibat drop out, maka
jumlah sampel ditambah dengan 10% dari sampel (n) yaitu 8,8
dibulatkan menjadi 9 responden.(44) Jadi, total sampel penelitian
menjadi 97, dibulatkan menjadi 100 responden. Menurut teori
penelitian, semakin besar sampel maka semakin representatif dan
semakin besar kemampuan untuk mewakili populasi.(41,43,45) Teori
Franken dan Wallen menyarankan besar sampel untuk penelitian
deskriptif minimal sebanyak 100 sampel.(46)

31

2.

Teknik Sampling
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah probability sampling dengan jenis stratified
random sampling (sampel acak terstratifikasi), yaitu teknik sampling
dengan cara membagi populasi ke dalam kelompok-kelompok yang
homogen yang disebut dengan strata, kemudian sampel diambil secara
acak dari tiap strata tersebut.(44) Grup populasi dalam penelitian ini
dikelompokkan berdasarkan 3 kelas, yaitu kelas X, XI, XII yang
masing-masing

terdiri

dari

subkelas

dan

diklasifikasikan

menggunakan rumus :(41)

Keterangan :
n

: Jumlah sampel yang diinginkan setiap strata

: Jumlah populasi dalam strata

: Jumlah populasi keseluruhan

N1

: Jumlah sampel

32

Tabel 3. 1. Jumlah Populasi Siswa/Siswi yang Underweight di SMA


Futuhiyyah Mranggen Demak
Kelas
Laki- Perempuan Jumlah
No
Sub Kelas
laki
1
Kelas
Xa
4
3
7
X
Xb
3
5
8
Xc
3
4
7
Xd
3
3
6
Xe
4
5
9
Total
17
20
37
2
Kelas
XIa
3
5
8
XI
XIb
4
1
5
XIc
4
3
7
XId
2
4
6
XIe
4
4
8
Total
17
17
34
3
Kelas
XIIa
4
4
8
XII
XIIb
4
6
10
XIIc
4
5
9
XIId
3
4
7
XIIe
2
5
7
Total
17
24
41
Total Populasi

51

61

112

Tabel 3. 2. Jumlah Sampel Siswa/Siswi yang Underweight di SMA


Futuhiyyah Mranggen Demak
No Kelas
Jumlah
Populasi
Sampel
1

Kelas X

37

33

Kelas XI

34

30

Kelas XII

41

37

Jumlah

112

100

33

E. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Futuhiyyah Mranggen Demak.


Alasan pemilihan tempat penelitian yaitu adanya fenomena underweight
dengan angka kejadian yang cukup tinggi, mayoritas siswanya merupakan
usia remaja sesuai dengan tujuan penelitian, tempat penelitian mudah
dijangkau oleh peneliti dan belum adanya penelitian terkait citra tubuh
remaja underweight di SMA Futuhiyyah Mranggen Demak. Studi
pendahuluan dilakukan pada bulan Juli dan September 2015. Waktu
penelitian dilaksanakan pada tanggal 29-30 Oktober 2015.

F. Variabel Penelitian, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran

1.

Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu
citra tubuh remaja yang underweight.

34

2.

Definisi Operasional dan Skala Ukur


Tabel 3.3 Variabel Penelitian, Definisi Operasional dan Skala Ukur

Variabel

Definisi operasional

Alat ukur

Hasil ukur

Penelitian

Skala
ukur

citra tubuh
remaja
underweight

Citra Tubuh :
Pandangan yang dimiliki remaja
dengan underweight mengenai
penampilan dirinya, memberikan
penilaian atas apa yang dia
rasakan terhadap bentuk tubuhnya
dalam kategori positif dan negatif.

Kuesioner
citra tubuh

Citra
tubuh
positif/
negatif
ditetapkan
berdasarkan cut of
point.
Menggunakan
mean karena data
terdistribusi
normal.

Ordinal

1) Citra
tubuh
negatif,
jika
skor (42,1)
2) Citra
tubuh
positif, jika skor
> (42,1)

G. Alat penelitian dan Cara Pengumpulan Data

1.

Alat penelitian
a.

Alat ukur kriteria underweight


Alat ukur yang digunakan adalah dengan kuesioner yang
berisi data berat badan, tinggi badan, umur dan jenis kelamin. Jika
responden tidak mengetahui berat badan dan tinggi badannya,
peneliti menggunakan timbangan berat badan dan meteran untuk
mengukur berat dan tinggi badan responden. Sedangkan standar
digunakan untuk menentukan status gizi remaja underweight
menggunakan klasifikasi status gizi dari Depkes RI tahun 2010
yaitu penghitungan IMT menurut umur untuk anak dan remaja laki-

35

laki dan perempuan.(31) IMT dihitung dengan cara membagi berat


badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (m2). Kemudian dihitung
nilai Z-Score berdasarkan rumus dan tabel dari Depkes RI tahun
2010. Seorang anak dikatakan mengalami underweight saat nilai ZScore berada di bawah -2SD.(1,31)
b.

Alat ukur citra tubuh


Alat ukur citra tubuh yang dipakai dalam penelitian ini adalah
kuesioner citra tubuh yang dibuat oleh peneliti berdasarkan 3
dimensi citra tubuh menurut Thompson (2001).(14) Alat ukur ini
dipakai untuk mengukur citra tubuh secara menyeluruh yang
meliputi 3 dimensi citra tubuh yaitu: dimensi persepsi, sikap dan
perilaku.(14)
Kuesioner citra tubuh ini menggunakan tipe skoring Likert
dimana subjek penelitian memilih jawaban sesuai dengan urutan
angka yang diberikan. Pada skala dengan bentuk likert, responden
memberikan respon dengan derajat kesetujuan/ketidaksetujuan.
Skala dengan bentuk seperti ini merupakan skala ordinal dimana
angka-angka yang diberikan pada responden merupakan suatu urutan
yang berhubungan dengan ranking individu dalam atribut yang
diukur. Skala ordinal tidak memiliki jawaban benar salah.(47)
Terdapat empat kemungkinan jawaban dari seluruh sub
komponen yang ada dalam kuesioner ini, yaitu STS (Sangat Tidak
Setuju), TS (Tidak setuju), S (Setuju), dan SS (Sangat setuju). Cara

36

perhitungan untuk masing-masing subkomponen adalah dengan


memasukkan data ke dalam sakala 0-3. Pada item yang positif, STS
bernilai 0, TS bernilai 1, S bernilai 2, dan SS bernilai 3 dan
sebaliknya untuk item negatif. Terdapat 30 pertanyaan yang
sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Kuesioner
ini digunakan untuk mengukur citra tubuh remaja underweight
berupa citra tubuh positif dan negatif dilihat dari tiga dimensi citra
tubuh. Masing-masing dimensi memiliki 10 pertanyaan.
Kuesioner citra tubuh ini memiliki item pertanyaan positif
dan negatif / favorable dan unfavorable. Pernyataan favorable adalah
pernyataan yang mendukung objek penelitian, dalam hal ini yaitu
citra tubuh. Sedangkan pernyataan unfavorable adalah pernyataan
yang tidak mendukung objek penelitian. Tujuan penggunaan item
pertanyaan positif dan negatif adalah untuk menghindari stereotip
jawaban responden yang cenderung sama; selalu setuju atau selalu
tidak setuju.(41)
Tabel 3.4 Kisi-kisi Kuesioner Citra Tubuh
Item pertanyaan

No.

Sub
variabel

Favorable

Unfavorable

1.
2.
3.

Persepsi
Sikap
Perilaku

1,2,3,4,5
11,12,13,14,15
21,22,23,24,25

6,7,8,9,10
16,17,18,19,20
26,27,28,29,30

Jumlah
item
pertanyaan
10
10
10

37

2.

Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan
cara membagikan kuesiner kepada responden yaitu siswa dan siswi
SMA Futuhiyyah yang mengalami underweight, yang selanjutnya diisi
setiap pertanyaan oleh responden. Prosedur pelaksanaannya adalah
sebagai berikut:
a.

Tahap Pra Penelitian


1) Peneliti membuat surat ijin pengambilan data ke bagian
administrasi

Jurusan

Keperawatan

Fakultas

Kedokteran

Universitas Diponegoro.
2) Peneliti menyerahkan surat pengantar ijin pengambilan data dari
Jurusan

Keperawatan

Diponegoro

kepada

Fakultas
Kepala

Kedokteran

Sekolah

SMA

Universitas
Futuhiyyah

Mranggen Kabupaten Demak.


3) Peneliti membuat kesepakatan dan kontrak waktu dengan Guru
Bidang Kurikulum SMA Futuhiyyah Mranggen Kabupaten
Demak terkait waktu penelitian ataupun pengambilan data.
b.

Tahap Persiapan Penelitian


1) Peneliti melakukan pengambilan data dalam dua hari, yaitu hari
pertama untuk penyerahan inform concent dan hari kedua untuk
penyebaran kuesioner dengan dibantu oleh dua mahasiswa
keperawatan.

38

2) Peneliti menjelaskan kepada 2 mahasiswa keperawatan terkait


penelitian yang akan dilakukan dan hal-hal yang harus
disampaikan kepada responden.
c.

Tahap Penelitian
1) Sebelum penelitian dilakukan, peneliti melakukan pengambilan
data awal penelitian. Peneliti dibantu oleh guru olah raga dan 2
orang mahasiswa keperawatan mendata keseluruhan siswa yang
mengalami underweight dari 15 kelas. Proses ini berlangsung
selama satu minggu dan dilakukan pada saat jam pelajaran
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dari masing-masing kelas.
2) Pada saat jam pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan,
peneliti dan guru olah raga melakukan pengukuran berat badan
dan tinggi badan pada semua siswa. Setelah itu peneliti
menjelaskan kepada siswa mengenai cara penghitungan IMT
serta pengkategorian status gizi. Sehingga peneliti mendapatkan
bantuan dari siswa dalam proses penghitungan nilai IMT. Dari
proses ini peneliti mendapatkan data berupa daftar nama, jenis
kelamin, umur dan nilai IMT siswa yang mengalami
underweight dari keseluruhan kelas.
3) Setelah didapatkan daftar keseluruhan siswa yang mengalami
underweight, peneliti melakukan sampling dengan teknik
stratified random sampling. Yaitu proses pengambilan sampel
secara acak dari tiap strata. Dalam penelitian ini peneliti

39

membagi menjadi 3 strata kelas yaitu kelas X, XI, dan XII.


Dilakukan dengan undian/arisan untuk mengambil sampel. Cara
ini dilakukan agar setiap individu memiliki peluang yang sama
untuk menjadi responden.
4) Setelah

diperoleh

sejumlah

responden

yang diinginkan,

kemudian responden diberi penjelasan dan diberikan lembar


inform concent untuk diserahkan serta ditanda tangani oleh
orang tua/ wali murid.
5) Pada hari berikutnya peneliti meminta kembali lembar inform
concent yang telah ditandatangani. Kemudian membagikan
lembar kuesioner kepada responden. Bagi responden yang lupa
tidak membawa lembar inform concent kembali, namun sudah
mendapatkan izin, peneliti tetap membagikan kuesioner kepada
responden dan meminta lembar tersebut dibawa pada keesokan
harinya. Dari 100 lembar inform concent semua dikembalikan
kepada peneliti dan telah ditanda tangani oleh orang tua/wali
responden.
6) Peneliti dibantu 2 mahasiswa keperawatan menjelaskan cara
pengisian kuesioner dan mempersilahkan responden untuk
bertanya jika ada hal kurang jelas.
7) Responden mengisi kuisioner yang telah diberikan peneliti
selama 15 menit. Setelah selesai mengisi kuisioner, kuisioner
tersebut dikembalikan kepada peneliti.

40

8) Peneliti dibantu 2 mahasiswa keperawatan mengecek kembali


kuisioner kelengkapan identitas dan jawaban responden.
9) Kuesioner yang belum terisi lengkap langsung diserahkan
kepada responden untuk dilengkapi langsung pada saat itu.
10) Peneliti dibantu 2 mahasiswa keperawatan memberikan nomor
urut responden pada lembar kuesioner yang telah dijawab
responden.
11) Peneliti dibantu 2 mahasiswa keperawatan melakukan terminasi
pada responden.
3. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang dapat menunjukkan tingkat
kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.(41) Uji validitas yang
dilakukan dalam penelitian ini adalah uji content validity dan uji
construct validity.(48) Uji content validity dilakukan dengan bantuan
dari beberapa orang yang ahli dalam menguasai materi dan bahasan
yang bersangkutan, diantaranya yaitu Ns. Sri Padma Sari., [Link].,
MNS dan Ns. Artika Nurrahima., [Link]., [Link]. Peneliti mengajukan
36 soal untuk diteliti oleh kedua experties. Kedua experties
memberikan masukan yang hampir sama kepada peneliti dalam hal
konten dan bahasa yang harus diperbaiki

dalam kuesioner.

Berdasarkan saran tersebut, terdapat beberapa item soal yang


diperbaiki penggunaan bahasanya, yaitu item nomor 4,13,20,25,26,34.
Dan terdapat 4 item pertanyaan yang dihapus karena memiliki

41

persamaan makna dengan soal yang lain, yaitu item nomor 2,10,28,33.
Hasil dari uji content validity terdapat 32 soal yang diuji construct
validity.
Uji construct validity yaitu uji untuk mengetahui kemampuan
sebuah pertanyaan mengukur karakteristik tertentu dalam suatu
penelitian.(48) Instrumen yang telah melalui tahap uji content validity
oleh experties selanjutnya dilakukan uji construct validity. Uji
construct validity telah dilakukan kepada 30 siswa/siswi yang
underweight di SMA Pembangunan Mranggen Demak. Pemilihan
SMA ini karena memiliki karakteristik mendekati sampel penelitian.
Instrumen yang telah diuji cobakan kemudian dilakukan penghitungan
korelasi antara skor masing-masing item pertanyaan dengan skor total
menggunakan rumus Pearson Product Moment, yaitu :

Keterangan :
rxy atau rhitung

: Koefisien korelasi product moment

: Jumlah subyek

: Skor pertanyaan/ pernyataan

: Skor total

xy

: Skor pertanyaan dikalikan skor total

Instrumen yang dikatakan valid adalah yang memiliki nilai rhitung


> rtabel (0,361). Dari hasil penghitungan diketahui bahwa 30 dari 32

42

item pertanyaan dalam

kuesioner citra tubuh ini dinyatakan valid

dengan rentang nilai yaitu 0,381-0,732. Item yang dinyatakan tidak


valid yaitu item nomor 15 dan 19, yang masing-masing memiliki rhitung
0,279 dan 0,291. Kedua item ini dikeluarkan dari daftar pertanyaan dan
tidak dipakai dalam penelitian. Sehingga hanya 30 item pertanyaan
yang digunakan dalam penelitian.
4. Uji Reliabilitas
Suatu alat ukur dapat dikatakan reliabel apabila alat tersebut dalam
mengukur suatu keadaan pada waktu yang berlainan senantiasa
menunjukkan hasil yang sama. Alat reliabel secara konsisten akan
memberikan hasil ukuran yang sama.(49) Uji reliabilitas yang dilakukan
dalam penelitian ini menggunakan metode Alpha Chronbach dengan
bantuan program komputer. Rumus Alpha Chronbach yaitu :

Keterangan :

: Koefisien reliabilitas test

: Cacah butir indikator

Si2

: Varians skor butir

St2

: Varians skor total


Hasil penghitungan menunjukan kuesioner citra tubuh

reliabel dengan nilai koefisien reliabilitas 0,918. Angka ini


menunjukkan bahwa kuesioner reliabel dan dapat digunakan dalam

43

penelitian. Suatu alat ukur dinyatakan reliabel saat nilai koefisien


reliabilitas > 0,6. (48)

H. Teknik Pengolahan dan Analisa Data

1.

Pengolahan Data
Pengolahan data merupakan proses pengartian data-data yang
didapat dari lapangan sehingga menghasilkan informasi

yang

diperlukan sesuai dengan tujuan, rancangan dan sifat penelitian. Data


yang didapatkan akan diolah dengan tahapan sebagai berikut:(4850)
a. Editing
Proses editing merupakan proses dimana peneliti melakukan
klarifikasi, keterbacaan, konsistensi, dan kelengkapan data yang
sudah terkumpul. Editing data perlu dilakukan untuk memudahkan
pengolahan data selanjutnya. Peneliti melakukan editing dengan
memeriksa kelengkapan jawaban pada kuesioner secara langsung di
tempat penelitian. Sebanyak 100 kuesioner yang disebar kepada
responden seluruhnya dikembalikan lagi ke peneliti dan kuesioner
yang tidak lengkap peneliti langsung meminta responden untuk
melengkapinya.
b. Coding
Peneliti melakukan coding dengan cara mengklarifikasi
jawaban dengan cara memberikan kode-kode tertentu pada jawaban
responden. Pemberian kode pada data dimaksudkan untuk

44

menerjemahkan data ke dalam kode-kode yang biasanya dalam


bentuk angka. Peneliti melakukan koding pada data jenis kelamin:
laki-laki (0) dan perempuan (1), umur 15 tahun (0), 16 tahun (1), 17
tahun (2), 18 tahun (3) . status gizi : kurus (0), sangat kurus (1).
c. Scoring
Instrumen penelitian menggunakan skala Likert. Pada jawaban
favorable diberikan skor 0 jika jawaban responden sangat tidak
setuju dengan pernyataan. Skor 1 jika jawaban responden tidak
setuju. Skor 2 jika jawaban responden setuju. Skor 3 jika jawaban
responden sangat setuju. Dan sebaliknya pada pernyataan
unfavorable. Kemudian skor dari kelima dimensi citra tubuh
dijumlahkan lalu dikategorikan menjadi citra tubuh positif/negatif
berdasarkan nilai cut of point.
d. Entry Data
Entry data yaitu proses memasukkan data yang telah diterima
ke dalam program komputer untuk diolah dan dianalisis.
e. Cleaning
Cleaning

adalah

memeriksa kembali

data

yang telah

dimasukkan untuk mengetahui adanya kesalahan atau kekurangan


selama proses pengolahan data.
f. Tabulating
Kegiatan tabulating adalah pembuatan tabel tabel yang
berisikan data yang telah diberikan kode dengan analisis yang

45

dibutuhkan. Hal ini diperlukan ketelitian agar tidak terjadi


kesalahan. Tabel hasil tabulasi dapat berbentuk tabel pemindahan,
tabel biasa, dan tabel analisis. Data responden dikelompokkan
dalam satu tabel distribusi frekuensi agar mudah dibaca dan
dianalisis. Tabel tabulasi dalam penelitian ini berupa karakteristik
responden, analisa deskriptif gambaran citra tubuh remaja berupa
citra tubuh positif dan negatif.
2. Analisis Data
a.

Statistik Deskriptif
Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul.
Analisis univariat digunakan pada penelitian ini. Tujuan dari analisis
univariat adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai distribusi,
frekuensi, dan proporsi pada masing-masing kelompok data.
Distribusi frekuensi merupakan salah satu teknik penyusunan data
dengan menggunakan skor terendah sampai skor tertinggi yang
dihubungkan dengan frekuensi skor tersebut muncul.(43) Pada
penelitian ini analisis univariat digunakan untuk mengetahui
distribusi, frekuensi, dan proporsi antara lain:
1) Data demografi
Data demografi terdiri dari jenis kelamin, umur, dan status gizi.
2) Citra Tubuh
Kuesioner yang telah diisi oleh responden dan telah diberi
skor oleh peneliti, selanjutnya diuji kenormalannya dengan

46

teknik kolmogrovsmirnov karena sampel yang digunakan dalam


jumlah besar (>50).(50)
Jika data mempunyai distribusi normal (p> 0,05), maka
kategori citra tubuh menggunakan mean sebagai ukuran
pemusatan. Sebaliknya jika distribusi tidak normal (p <0,05),
maka kategori citra tubuh menggunakan median sebagai ukuran
pemusatannya.(51,52) Setelah dilakukan uji normalitas dengan
teknik kolmogorovsmirnov, diketahui bahwa data tedistribusi
normal (p> 0,05).
Data yang diperoleh kemudian akan dianalisis untuk
mengetahui distribusi frekuensi dengan rumus sebagai berikut:
P=

x 100%

Keterangan:
P = Presentase
f = frekuensi
N = Total seluruh frekuensi
b.

Penyajian Data
Penyajian data menggunakan tabel, tabel yang digunakan
adalah tabel distribusi frekuensi dari masing-masing kategori. Yaitu
tabel menurut data usia, jenis kelamin, IMT dan citra tubuh
responden.

47

I.

Etika Penelitian
Etika penelitian yang diterapkan pada penelitian ini yaitu:(42,43)
1.

Informed Consent
Informed consent atau lembar persetujuan diberikan sebelum
penelitian dilaksanakan agar responden mengetahui maksud dan tujuan.
Peneliti memberikan lembar informed consent kepada siswa, untuk
diserahkan kepada orang tua dan ditandatangani orang tua. Selanjutnya
peneliti mengidentifikasi calon responden yang mendapat persetujuan
orang tua, kemudian peneliti membagikan lembar kuesioner kepada
responden.

2.

Tanpa Nama (Anonim)


Kerahasiaan responden perlu dijaga dalam suatu penelitian.
Peneliti

menjaga

kerahasiaan

responden

dengan

cara

tidak

mencantumkan nama responden dalam lembar pengumpulan data.


Identitas responden dalam penelitian ini dijaga dengan hanya
mencantumkan inisial nama serta kode pada lembar kuesioner dan pada
lembar kerja statistik.
3.

Kerahasiaan (Confidentiality)
Confidentiality

berarti

menjamin

kerahasiaan

dari

hasil

penelitian baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Peneliti


menjamin kerahasiaan semua informasi yang telah dikumpulkan dengan
tidak menyertakan nama dan jawaban responden secara terperinci,

48

peneliti hanya melampirkan jawaban responden dalam bentuk data-data


frekuensi.
4.

Kemanfaatan (Beneficence)
Dalam melakukan penelitian, peneliti berupaya memberikan
manfaat semaksimal mungkin dengan risiko seminimal mungkin
kepada responden. Peneliti mengajarkan kepada responden tentang IMT
dan masalah status gizi di sela-sela proses penelitian. Peneliti berusaha
agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan dalam proses penelitian ini.

5.

Keadilan (Justice)
Dalam penelitian, perlakuan terhadap responden dilakukan
dengan benar dan pantas. Setiap hak responden akan dihormati dan
dilindungi. Setiap responden diperlakukan sama dengan yang lainnya,
tidak membeda-bedakan antara responden satu dengan yang lainnya.

6.

Ethical Clearance
Sebelum penelitian dilakukan, keterangan tertulis dalam bentuk
surat atau sertifikat harus dimiliki peneliti sebagai bukti bahwa
penelitian telah memiliki syarat tertentu dan layak untuk dilaksanakan.
Ethical

clearance

dikeluarkan

oleh

komisi

etik

penelitian.

49

Common questions

Didukung oleh AI

The research methodology included initial data collection with a pre-determined schedule involving BMI measurements by teachers and students during PE classes. Stratified random sampling was used after identifying underweight students across different classes. Consent forms were signed by parents, followed by distribution and collection of questionnaires to collect data. This process ensured ethical compliance and accurate sample representation .

Besides physical health concerns, being underweight can lead to psychological impacts such as a negative body image, low self-esteem, and heightened self-consciousness. Individuals may feel socially inadequate and may develop anxiety or depression due to perceived body image disparities, affecting their overall mental well-being and social interactions. This highlights the need for holistic approaches in addressing underweight issues .

The environment significantly impacts adolescent perceptions of body image. Family modeling, peer feedback, and social competition influence how adolescents view their bodies. Adolescents frequently compare themselves with peers, and family expectations shape their body image. These influences can either positively or negatively affect their perception, potentially leading to dissatisfaction if their appearance doesn't align with perceived standards .

Body image significantly influences mental health, as a negative body image can lead to feelings of inadequacy and social incompetence, affecting an individual's ability to adjust socially and emotionally. This can result in reduced self-esteem and hinder the development of interpersonal skills, leading to potential mental health issues. Conversely, a positive body image can enhance social adaptability and personal well-being .

Negative body image in adolescents is influenced by gender, age, family, interpersonal relationships, and changes in body appearance and structure. Women and younger individuals are more conscious about their bodies, and family interactions and societal standards further shape these perceptions. Physical appearance changes during adolescence exacerbate sensitivity to body image, fostering dissatisfaction and potentially lowering self-esteem .

The prevalence of underweight varies globally, with South Asia showing the highest rates at 66%, followed by North Africa and the Middle East at 43%, and the United States at 3.7% among children and adolescents. These differences are likely due to variances in socioeconomic conditions, cultural norms, nutritional access, and public health policies affecting dietary habits and health education across regions .

Psychological factors play a significant role in influencing an individual to be underweight. A desire to achieve an ideal body shape can alter eating habits and lifestyle choices, leading to reduced nutritional intake. This pursuit of ideal body standards can also encourage behaviors contributing to underweight, illustrating the strong link between psychology and physical health .

Body image consists of perceptions, attitudes, and behaviors toward one's body, and includes performance, potential, function, and perception of size and shape. It is an integral part of self-concept, which comprises five components: body image, self-ideal, self-esteem, role, and identity. A positive body image contributes to a healthier self-concept, promoting personal development and social interaction abilities .

The research methodology emphasizes ethical considerations like informed consent, anonymity, confidentiality, beneficence, justice, and obtaining ethical clearance. These measures ensure respondents' rights and well-being are prioritized, promoting fairness, reducing risk, and enhancing the integrity of the research process while respecting participant autonomy .

Being underweight makes individuals vulnerable to various health problems, including physical issues like anemia, digestive disorders, bone weakening, and menstrual disturbances. Moreover, underweight can affect an individual's psychological state, causing them to develop a negative body image and related psychological issues .

Anda mungkin juga menyukai