0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan25 halaman

Teori dan Indikator Minat Beli Konsumen

dan mengenai kelemahan pelayanan kekuatan dan perusahaan. Dokumen tersebut membahas tentang landasan teori minat beli, yang dijelaskan melalui definisi minat beli, indikator-indikatornya, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan metode pengukurannya.

Diunggah oleh

Remo Ardianto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan25 halaman

Teori dan Indikator Minat Beli Konsumen

dan mengenai kelemahan pelayanan kekuatan dan perusahaan. Dokumen tersebut membahas tentang landasan teori minat beli, yang dijelaskan melalui definisi minat beli, indikator-indikatornya, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan metode pengukurannya.

Diunggah oleh

Remo Ardianto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI
A. Minat Beli
1. Definisi Minat Beli
Minat merupakan salah satu aspek psikologis yang mempunyai pengaruh
cukup besar terhadap perilaku dan minat juga merupakan sumber motivasi
yang akan mengarahkan seseorang dalam melakukan apa yang mereka
lakukan. Minat beli merupakan bagian dari komponen perilaku dalam sikap
mengkonsumsi. Menurut Kinnear dan Taylor minat membeli adalah
merupakan bagian dari komponen perilaku konsumen dalam sikap
mengkonsumsi,

kecenderungan

responden

untuk

bertindak

sebelum

keputusan membeli benar-benar dilaksanakan.


Minat memiliki sifat dan karakter khusus sebagai berikut:
1. Minat bersifat pribadi (individual), ada perbedaan antara minat
seseorang dan orang lain.
2. Minat menimbulkan efek diskriminatif.
3. Erat hubungannya dengan motivasi, mempengaruhi dan dipengaruhi
motivasi.
4. Minat merupakan sesuatu yang dipelajari, bukan bawaan lahir dan
dapat berubah tergantung pada kebutuhan, pengalaman, dan mode.
Minat digambarkan sebagai situasi seseorang sebelum melakukan tindakan
yang dapat dijadikan dasar untuk memprediksi perilaku atau tindakan
tersebut, minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan rencana

konsumen untuk membeli produk tertentu serta berapa banyak unit produk
yang dibutuhkan pada periode tertentu, dapat dikatakan bahwa minat beli
merupakan pernyataan mental dari diri konsumen yang merefleksikan
rencana pembelian sejumlah produk dengan merek tertentu.
Minat beli merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu
merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang
diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian
(Assael, 2001). Terdapat perbedaan antara pembelian aktual dan minat
pembelian. Bila pembelian aktual adalah pembelian yang benar-benar
dilakukan oleh konsumen, maka minat pembelian adalah niat untuk
melakukan pembelian pada kesempatan mendatang.
Meskipun merupakan pembelian yang belum tentu akan dilakukan pada masa
mendatang namun pengukuran terhadap minat pembelian umumnya
dilakukan guna memaksimumkan prediksi terhadap pembelian aktual itu
sendiri.
Pengertian minat beli menurut Howard yang dikutip dalam Durianto dan
Liana (2004:44) adalah minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan
dengan rencana konsumen untuk membeli produk tertentu serta berapa
banyak unit produk yang dibutuhkan pada periode tertentu. Dapat dikatakan
bahwa minat beli merupakan pernyataan mental dari dari konsumen yang
merefleksikan rencana pembelian sejumlah produk dengan merek tertentu.
Hal ini sangat diperlukan oleh para pemasar untuk mengetahui minat beli
konsumen terhadap suatu produk, baik para pemasar maupun ahli ekonomi

menggunakan variabel minat untuk memprediksi perilaku konsumen dimasa


yang akan datang. Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Albari (2002)
menyatakan bahwa motivasi sebagai kekuatan dorongan dari dalam diri
individu yang memaksa mereka untuk melakukan tindakan. Jika seseorang
mempunyai motivasi yang tinggi terhadap obyek tertentu, maka dia akan
terdorong untuk berperilaku menguasai produk tersebut. Sebaliknya jika
motivasinya rendah, maka dia akan mencoba untuk menghindari obyek yang
bersangkutan. Implikasinya dalam pemasaran adalah untuk kemungkinan
orang tersebut berminat untuk membeli produk atau merek yang ditawarkan
pemasaran atau tidak. Berdasarkan uraian di atas maka pengertian minat beli
adalah pemusatan perhatian terhadap sesuatu yang disertai dengan perasaan
senang terhadap barang tersebut, kemudian minat individu tersebut
menimbulkan keinginan sehingga timbul perasaan yang meyakinkan bahwa
barang tersebut mempunyai manfaat sehingga individu ingin memiliki barang
tersebut dengan cara membayar atau menukar dengan uang.
2. Indikator Minat Beli
Minat beli konsumen merupakan masalah yang sangat kompleks namun
harus tetap menjadi perhatian pemasar. Minat konsumen untuk membeli
dapat muncul sebagai akibat dari adanya rangsangan (stimulus) yang
ditawarkan oleh perusahaan. Masing-masing stimulus tersebut dirancang
untuk menghasilkan tindakan pembelian konsumen.
Menurut Ferdinand (2002:129), minat beli dapat diidentifikasi melalui
indikator-indikator sebagai berikut :

a. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk


membeli produk.
b. Minat refrensial,

yaitu

kecenderungan

seseorang

untuk

mereferensikan produk kepada orang lain.


c. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku
seseorang yang memiliki prefrensi utama pada produk tersebut.
Preferensi ini hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan
produk prefrensinya.
d. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang
yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya
dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari
produk tersebut.
Pemahamam terhadap perilaku konsumen tidak lepas dari minat
membeli, karena minat membeli merupakan salah satu tahap yang pada
subyek sebelum mengambil keputusan untuk membeli.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Minat Beli
Swastha dan Irawan (2005:349) mengemukakan faktor-faktor yang
mempengaruhi minat membeli berhubungan dengan perasaan emosi, bila
seseorang merasa senang dan puas dalam membeli barang atau jasa maka
hal

itu

akan

memperkuat

minat

membeli,

kegagalan

biasanya

menghilangkan minat. Tidak ada pembelian yang terjadi jika konsumen


tidak pernah menyadari kebutuhan dan keinginannya. Pengenalan
masalah (problem recognition) terjadi ketika konsumen meilhat adanya
perbedaan yang signifikan antara apa yang dia miliki dengan apa yang dia
butuhkan.

Berdasarkan

pengenalannya

akan

masalah

selanjutnya

konsumen mencari atau mengumpulkan informasi sebanyak mungkin


tentang produk yang dia inginkan. Terdapat dua sumber informasi yang
digunakan ketika menilai suatu kebutuhan fisik, yaitu persepsi individual
dari tampilan fisik dan sumber informasi luar seperti persepsi konsumen
lain.
Selanjutnya informasi-informasi yang telah diperoleh digabungkan
dengan informasi yang telah dimiliki sebelumnya. Semua input berupa
informasi tersebut membawa konsumen pada tahap dimana dia
mengevaluasi setiap pilihan dan mendapatkan keputusan terbaik yang
memuaskan dari perspektif dia sendiri. Tahapan terakhir ada tahap dimana
konsumen memutuskan untuk membeli atau tidak membeli produk.
Swastha

dan

Irawan

(2001)

mengemukakan

faktor-faktor

yang

mempengaruhi minat membeli berhubungan dengan perasaan dan emosi,


bila seseorang merasa senang dan puas dalam membeli barang atau jasa
maka hal itu akan memperkuat minat membeli, ketidakpuasan biasanya
menghilangkan minat. Super dan Crites (Lidyawatie, 1998) menjelaskan
bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat, yaitu :
a. Perbedaan pekerjaan, artinya dengan adanya perbedaan pekerjaan
seseorang dapat diperkirakan minat terhadap tingkat pekerjaan
yang ingin dicapainya, aktivitas yang dilakukan, penggunaan
waktu senggangnya, dan lain-lain.
b. Perbedaan sosial ekonomi, artinya seseorang yang mempunyai
sosial ekonomi tinggi akan lebih mudah mencapai apa yang
diinginkannya daripada yang mempunyai sosial ekonomi rendah.

c. Perbedaan hobi atau kegemaran, artinya bagaimana seseorang


menggunakan waktu senggangnya.
d. Perbedaan jenis kelamin, artinya minat wanita akan berbeda
dengan minat pria, misalnya dalam pola belanja.
e. Perbedaan usia, artinya usia anak-anak, remaja, dewasa dan
orangtua akan berbeda minatnya terhadap suatu barang, aktivitas
benda dan seseorang.
Sedangkan menurut Kotler, Bowen, dan Makens (1999) terdapat dua
faktor yang mempengaruhi minat beli seseorang dalam proses
pengambilan

keputusan

pembelian,

yaitu

situasi

tidak

terduga

(Unexpected situation) dan sikap terhadap orang lain (Respect to Others)


Untuk memahami proses motivasi yang mendasari dan mengarahkan
perilaku konsumen dalam melakukan pembelian perlu dipahami beberapa
konsep antara lain :

a. Teori ekonomi mikro


Menurut teori ini

keputusan

membeli

merupakan

hasil

perhitungan ekonomis rasional yang sadar. Teori ini didasarkan


pada asumsi yaitu:
1. Bahwa konsumen selalu mencoba untuk memaksimumkan
kepuasaanya dalam batas-batas kemampuan finansialnya.
2. Bahwa ia mempunyai pengetahuan tentang beberapa
alternatif sumber untuk memuaskan kebutuhannya.
3. Bahawa ia selalu bertindak rasional.
b. Teori Psikologis

Ada beberapa teori yang termasuk dalam teori psikologis yang


secara garis besar dapat dibagi dalam 2 bagian yaitu, teori belajar
dan teori psikoanalitis. Teori psikologis ini mendasarkan pada
penerapan teori psikologis yang berpendapat bahwa pada
umumnya manusia selalu didorong untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya.
c. Teori Psikoanalitis.
Teori Psikoanalitis didasarkan pada asumsi bahwa perilaku
manusia dipengaruhi oleh adanya keinginan yang terpaksa dan
adanya motif yang tersembunyi. Perilaku manusia ini adalah
merupakan hasil kerja sama dari ketiga aspek dalam struktur
kepribadian manusiab yaitu, id (das es), ego (das ich) dan super
ego (das veber ich).
d. Teori Antropologis.
Menurut teori ini bahwa perilaku manusia dipenhgaruhi oleh
kultur yang terdiri dari masyarakat sekitar, kelas sosial yang
berlaku serta keluarga
4. Mengukur Minat Beli Konsumen
Minat beli pelanggan dapat dilihat dari hasil (Outcome) yang dirasakan
atas penggunaan produk dan jasa, sama atau melebihi harapan yang
diinginkan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa metode yang digunakan
untuk mengukur minat beli konsumen. Kotler dalam Tjiptono dan Diana
(2005: 104-105) mengemukakan beberapa metode yang dapat digunakan
untuk mengukur minat beli konsumen, metode tersebut antara lain :
1) Sistem keluhan dan saran
Organisasi yang berpusat konsumen memberikan kesempatan yang
luas kepada para konsumen untuk menyampaikan saran dan

keluhan, misalnya dengan menyediakan kotak saran, kartu


komentar, Customer Hot Lines dan lain-lain.
2) Ghost Shopping
Salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan
konsumen adalah dengan mempekerjakan beberapa orang untuk
berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial, kemudian
melaporkan
kelemahan

temuan-temuannya
produk

perusahaan

mengenai
dan

kekuatan

pesaing

dan

berdasarkan

pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut.


3) Lost Customer Analysis
Perusahaan seyogyanya menghubungi konsumen yang telah
berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat
memahami mengapa hal itu terjadi.
4) Survei kepuasan konsumen
Metode survei kepuasan konsumen

dapat

menggunakan

pengukuran dengan berbagai cara, yaitu:


a. Pengukuran dapat dilakukan secara langsung dengan
pertanyaan seperti: Ungkapkan seberapa puas saudara
b.

terhadap pelayanan.
Responden juga dapat diberi pertanyaan mengenai
seberapa besar mereka mengharapkan suatu atribut tertentu

dan seberapa besar yang mereka rasakan.


c. Metode lain adalah dengan meminta responden untuk
menuliskan masalah-masalah yang mereka miliki dengan
penawaran

dari

perusahaan

dan

untuk

menuliskan

perbaikan-perbaikan yang mereka sarankan (Problem


Analysis)

d. Selain itu responden juga dapat diminta untuk merangking


berbagai elemen dari penawaran berdasarkan derajat
pentingnya setiap elemen dan seberapa baik kinerja
perusahaan

dalam

masing-masing

elemen

(Importance/Performance Ratings).
Tjiptono dan Diana (2005, 106-107) mengemukakan terdapat sepuluh
(10) kunci sukses mengukur minat beli konsumen, yaitu :
1) Frekuensi
Beberapa kali perusahaan mengadakan survey untuk mengetahui
minat beli pelanggan, biasanya paling tidak setiap 70-80 hari sekali.
2) Format
Siapa yang melakukan Survey minat beli konsumen? Dapat dikatakan
bahwa sebaiknya yang melakukan Survey formal minat beli konsumen
adalah pihak ketiga diluar perusahaan dan hasilnya disampaikan
kepada semua pihak dalam organisasi.
3) Isi
Isi (Content) pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan standar dan
dapat dikuantitatifkan.
4) Desain isi
Tidak ada satupun instrumen Survey yang paling baik untuk setiap
kondisi. Oleh karena itu perusahaan harus mendesain Survey secara
sistematis dan memperhatikan setiap pandangan yang ada.
5) Melibatkan setiap orang
Mereka yang mengunjungi pelanggan untuk melakukan Survey adalah
semua Level dan semua fungsi yang ada dalam organisasi, mulai dari
manajer puncak hingga karyawan.
6) Mengukur minat beli setiap orang
Perusahaan harus mengukur minat beli semua pihak, tidak hanya
konsumen langsung seperti pemakai, tetapi juga pelanggan tidak

langsung seperti distributor, agen, pedagang besar, pengecer dan lainlain.


7) Kombinasi beberapa ukuran
Ukuran yang digunakan dalam minat beli pelanggan hendaknya
dibatasi pada skor kuantitatif yang merupakan kombinasi dari
berbagai unsur seperti individu, kelompok.
8) Hubungan dengan kompensasi dan Reward lainnya
Hasil pengukuran minat beli pelanggan harus dijadikan dasar dalam
penentuan kompensasi insentif dalam penjualan.
9) Penggunaan ukuran secara simbolik
Ukuran minat beli pelanggan hendaknya dibuat dalam kalimat
sederhana dan mudah diingat serta ditempatkan disetiap bagian
perusahaan.
10) Bentuk pengukuran lainnya
Deskripsi kualitatif mengenai hubungan karyawan dengan konsumen
harus mencakup penilaian sampai sejauh mana karyawan memiliki
orientasi pada minat beli konsumen.
Implikasi dari pengukuran minat beli konsumen tersebut adalah
konsumen dilibatkan dalam pengembangan produk dan jasa dengan cara
mengidentifikasi apa yang dibutuhkan konsumen. Hal ini berbeda dengan
konsumen dalam konsep tradisional, dimana mereka tidak dilibatkan
dalam pengembangan produk, karena mereka berada di luar sistem.
Tujuan untuk melibatkan konsumen dalam pengembangan produk dan
jasa adalah agar perusahaan dapat memenuhi harapan konsumen, bahkan
jika mungkin melebihi harapan konsumen. Persepsi yang akurat mengenai
harapan konsumen merupakan hal yang perlu, namun tidak mewujudkan
harapan

konsumen.

Desain

dan

standar

minat

beli

dikembangkan atas dasar harapan konsumen dan prioritasnya.

konsumen

Implikasi dari pengukuran minat beli konsumen tersebut adalah


konsumen dilibatkan dalam pengembangan produk dan jasa dengan cara
mengidentifikasi apa yang dibutuhkan konsumen. Hal ini berbeda dengan
konsumen dalam konsep tradisional, dimana mereka tidak dilibatkan
dalam pengembangan produk, karena mereka berada diluar sistem.
B. Pesepsi Konsumen
1. Definisi Persepsi Konsumen
Persepsi merupakan proses yang kompleks. Secara etimologi persepsi
berasal dari bahasa latin perceptio yang berarti menerima atau
mengambil. Persepsi adalah suatu proses dengan mana berbagai stimuli
dipilih, diorganisir, dan diinterpretasi menjadi informasi yang bermakna
(Ferrinadewi, 2008:42).
Menurut Schiffman dan Kanuk (2000:146)Perception is process by
which an individuals selects, organizers, and interprets stimuli into the a
meaningfull and coherent picture of the world. Kurang lebihnya bahwa
persepsi merupakan suatu proses yang membuat seseorang untuk
memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan rangsanganrangsangan yang diterima menjadi suatu gambaran yang berarti dan
lengkap tentang dunianya. Sedangkan Kotler dan Amstrong (2008:174)
mengemukakan bahwa dalam keadaan yang sama, persepsi seseorang
terhadap suatu produk dapat berbeda - beda, hal ini disebabkan oleh
adanya proses perceptual (berhubungan dengan ransangan sensorik) yaitu
atensi selektif, distorsi selektif dan retensi selektif. Mowen (Sumarwan,
2003: 70) menyebutkan tahap pemaparan, perhatian dan pemahaman
sebagai persepsi dan persepsi ini bersama dengan memori akan

mempengaruhi pengolahan informasi. Persepsi setiap orang terhadap


suatu obyek akan berbeda-beda. Oleh karena itu persepsi memiliki sifat
yang subyektif. Persepsi yang dibentuk seseorang terhadap sesuatu sangat
dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungan nya.
Persepsi merupakan cara bagaimana konsumen memberi makna pada
rangkaian rangsangan dan ini adalah proses kognisi. Ketika konsumen
melakukan interpretasi pada sebuah iklan yang dilihatnya maka terjadi
proses kognisi dalam benak konsumen. Persepsi tidak saja penting dalam
tahapan pemrosesan informasi namun juga berperan pada pasca konsumsi
produk yaitu ketika konsumen melakukan evaluasi atas keputusan
pembeliannya. Apakah konsumen merasa puas atau sebaliknya, penilaian
inipun tidak lepas dari persepsi mereka.
2. Indikator Persepsi
Bagaimana individu-individu mungkin memandang satu benda yang sama
dengan yang berbeda, Pihak pelaku persepsi, dalam objeknya atau target
yang dipersepsikan, atau dalam konteks situasi di mana persepsi itu
dilakukan akan dapat mempengaruhi terbentuknya suatu persepsi. Seperti
yang akan dijelaskan dibawah ini, menurut Robbins (2003:89) :
a. Pelaku Persepsi
Bila seorang individu memandang pada satu obyek dan
mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu
sangat dipengaruhi oleh karakteristik dari pribadi ke perilaku
persepsi individu itu. Diantara karakteristik pribadi yang lebih
relevan yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, motif,

kepentingan

atau

minat,

pengalaman

masa

lalu,

dan

pengharapan.
b. Target dan Obyek
Karakteristik dari target yang akan diamati dapat dipengaruhi
apa yang dipersepsikan gerakan, bunyi, ukuran, dan atributatribut lain dari target membentuk cara kita memandangnya.
Hubungan

suatu

target

dengan

latar

belakangnya

mempengaruhi persepsi, seperti kecenderungan kita untuk


mengelompokkan benda-benda yang berdekatan atau mirip.
c. Situasi
Pentingnya bagi kita melihat konteks obyek atau pariwisata.
Unsur-unsur lingkungan sekitar mempengaruhi persepsi kita.
Waktu adalah di mana suatu obyek atau peristiwa itu dilihat
agar dapat mempengaruhi perhatian, seperti juga lokasi,
cahaya, panas, atau setiap jumlah faktor situasional.
3. Proses Persepsi
Proses persepsi adalah berbeda untuk produk-produk dengan keterlibatan
rendah. Di sini konsumen menyimpan informasi dalam memori mereka
tanpa melalui tahap perhatian dan percakapan (Boyd, Walker, dan
Larreche, 2000:133).
Proses persepsi terdiri dari:
a. Seleksi persepsi
Seleksi persepsi terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih
stimulus berdasarkan psychological set (berbagai informasi yang
ada didalam memorinya) yang dimiliki oleh konsumen tersebut.

sebelum seleksi persepsi terjadi, terlebih dahulu stimulus harus


mendapatkan perhatian dari konsumen. tidak semua stimulus yang
dipaparkan dan diterima konsumen akan memperoleh perhatian
konsumen

dikarenakan

konsumen

memiliki

keterbatasan

sumberdaya pemikiran untuk mengolah semua informasi yang


diperolehnya. Oleh karena itu konsumen melakukan seleksi
terhadap setiap informasi dan stimulus yang diterimanya. Dua
proses yang sebenarnya terjadi dalam seleksi perceptual ini adalah
perhatian (attention) dan seleksi itu sendiri. STIMULUS
Penglihatan Suara Bau Rasa Seleksi Peng organisasian Persepsi
Indra Penerima PERSEPSI Interprestasi perhatian yang dilakukan
konsumen dapat terjadi secara disengaja (voluntary attention)
yaitu ketika konsumen secara aktif mencari informasi yang
mempunyai relevansi baginya. Faktor pribadi merupakan faktor
pendorong dari perhatian ini dan berada diluar control pemasar.
Konsumen secara sengaja akan memberikan perhatian kepada
stimulus yang akan membernya solusi yang dibutuhkannya. Faktor
lain adalah harapan konsumen yang dipengaruhi oleh pengalaman
masa lalunya terhadap produk. Seleksi perceptual terjadi ketika
konsumen melakukan voluntary attention, dimana konsumen
memiliki keterlibatan yang tinggi terhadap suatu produk dan
secara aktif mencari informasi mengenai produk tersebut dari
berbagai sumber. Perhatian yang tidak disengaja (involuntary

attention) terjadi ketika kepada konsumen dipaparkan sesuatu


yang menarik, mengejutkan atau sesuatu hal yang tidak
diperkirakan sebelumnya yang tidak ada relevansinya dengan
tujuan dan kepentingan konsumen. Faktor ini dapat dikontrol dan
dimanipulasi oleh pemasar dengan tujuan utama untuk menarik
perhatian konsumen.

b. Pengorganisasian Persepsi
Pengorganisasian

persepsi

berarti

bahwa

konsumen

mengelompokkan informasi dari berbagai sumber kedalam


pengertian yang menyeluruh untuk memahami lebih baik dan
bertindak atas pemahaman itu. Pengorganisasian ini akan
memudahkan untuk memproses informasi dan memberikan
pengertian yang terintegrasi serta evaluasi terhadap stimulus.
c. Interprestasi Persepsi
Proses terakhir dari persepsi adalah memberikan interprestasi atas
stimulus yang diterima konsumen. Setiap stimulus yang diterima
oleh konsumen baik disadari ataupun tidak disadari akan
diinterrprestasikan

oleh

komsumen.

Interprestasi

tersebut

didasarkan pada pengalaman penggunaan suatu produk pada masa


lalu dan pengalaman itu tersimpan dalam memori jangka panjang.
Pada proses ini konsumen membuka kembali berbagai informasi
dalam memori jangka panjangnya (long term memory) yang akan

membantu konsumen melakukan evaluasi atas berbagai stimulus.


Tahaap inilah yang disebut persepsi konsumen terhadap obyek
atau citra produk (product images) sebagai output dari penerimaan
konsumen terhadap stimulus. Persepsi konsumen bisa berupa
persepsiproduk, persepsi merek, persepsi pelayanan, persepsi
harga, persepsi kualitas produk ataupun persepsi terhadap
produsen.
C. Kualitas Produk
1. Definisi Kualitas Produk
Perusahaan selalu berusaha memuaskan konsumen mereka dengan
menawarkan produk berkualitas. Produk yang berkualitas adalah
produk yang memiliki manfaat bagi pemakainya (konsumen).
Seseorang yang membutuhkan suatu produk akan membayangkan
manfaat apa saja yang bisa diperoleh dari produk yang akan
dipergunakan. Manfaat suatu produk merupakan konsekuensi yang
diharapkan konsumen ketika membeli dan menggunakan suatu produk.
Menurut Kotler (2007: 49), kualitas produk merupakan ciri dan
karakteristik suatu barang atau jasa yang berpengaruh pada
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau
tersirat. Produk yang berkualitas tinggi sangat diperlukan agar
keinginan konsumen dapat dipenuhi. Keinginan konsumen yang
terpenuhi sesuai dengan harapannya akan membuat konsumen
menerima suatu produk bahkan sampai loyal terhadap produk tersebut.

Kualitas produk merupakan penggerak kepuasan pelanggan yang


pertama dan kualitas produk ini adalah dimensi yang global. Kualitas
produk merupakan suatu hal yang penting dalam menentukan
pemilihan suatu produk oleh konsumen. Produk yang ditawarkan
haruslah suatu produk yang benar-benar teruji dengan baik mengenai
kualitasnya. Karena bagi konsumen yang diutamakan adalah kualitas
dari produk itu sendiri. Konsumen akan lebih menyukai dan memilih
produk yang mempunyai kualitas lebih baik bila dibandingkan dengan
produk

lain

sejenis

yang

dapat

memenuhi

kebutuhan

dan

keinginannya.
2. Indikator Kualitas Produk
Suatu produk dikatakan berkualitas jika memenuhi kebutuhan dan
keinginan

pembeli.

Kualitas

ditentukan

oleh

pelanggan

dan

pengalaman mereka terhadap produk atau jasa. Kualitas produk dapat


disimpulkan sebagai penilaian konsumen mengenai baik buruknya
kualitas suatu produk. Menurut Alexander Gravin yang diterjemahkan
oleh

Durianto

(2004,p.38)

konsep

produk,

produsen

dalam

memasarkan produk harus berpikir melalui tahapan dimensi, yaitu :


1. Performance (kinerja)
Dimensi

ini

menyangkut

karakteristik

fungsi

produk.

Maksudnya sejauh mana produk dapat berfungsi sebagaimana


fungsi utama produk tersebut. Misalnya, jam tangan memiliki
fungsi utama penunjuk waktu. Nnna sejauh mana jam tangan

tersebut dapat memberi kita informasi mengenai waktu secara


akurat. Dimensi performance ini merupakan hal terpenting bagi
pelanggan dan hal terpenting bagi pelanggan adalah apakah
kualitas produk menggambarkan keadaan yang sebenarnya atau
tidak? Apakah pelayanan diberikan dengan cara yang benar
atau tidak. Itu yang terpenting.

2. Features (fitur)
Dimensi ini menyangkut kelengkapan fitur-fitur tambahan.
Maksudnya, suatu produk selain punya fungsi utama, biasanya
juga dilengkapi dengan fungsi-fungsi lain yang bersifat
komplemen. Misalnya, produk handphone, selain dapat
digunakan untuk berkomunikasi lisan dan tulisan, juga banyak
yang dilengkapi dengan fitur-fitur tambahan seperti dapat
digunakan untuk membuat skedul, catatan, memiliki wungsi
jam, penunjuk lokasi, kalkulator, permainan dan lain-lain. Jadi,
selain fungsi utama dari suatu produk dan pelayanan,
pelanggan sering kali tertarik pada kemampuan / keistimewaan
yang dimiliki produk dan pelayanan).
3. Reliability (keandalan)
Dimensi ini menyangkut kemungkinan tingkat kegagalan
pemakaian. Artinya, apakah produk sering tidak dapat
dioperasikan sesuai fungsi utama karena adanya masalah-

masalah teknis ataukah lancar-lancar saja? Misalnya, produk


smartphone BB, saat dihidupkan ternyata memerlukan waktu
yang lama untuk setup dan sering prosesnya terhenti atau orang
menyebutnya heng dan harus direset ulang. Atau motor baru
sering macet saat digunakan. Masalah-masalah tersebut
menyangkut dimensi reliabiliti.

4. Conformance (kesesuaian)
Dimensi ini melihat kualitas produk dari sisi apakah bentuk,
ukuran, warna, berat dan lain-lain sesuai dengan yang
diinginkan dan apakah pengoperasiannya sesuai dengan
standard tertentu ataukah tidak. Intinya, sejauh mana
karakteristik disain dan operasi memenuhi standard.
5. Durability (daya tahan/keawetan)
Dimensi ini berkaitan dengan seberapa lama produk dapat terus
digunakan selama jangka waktu tertentu. Tentunya dengan pola
penggunaan dan perawatan yang masuk akal alias rasional.
Misalnya, sepeda motor digunakan di jalan perkotaan, dengan
perawatan tertentu akan dapat bertahan hingga misalnya 4
tahun.
6. Serviceability
Ada yang menyebut dimensi ini dengan istilah yang lebih
lengkap yakni dimensi maintainability dan servicability.

Dimensi ini melihat kualitas barang dari kemudahan untuk


pengoperasian produk dan kemudahan perbaikan maupun
ketersediaan komponen pengganti. Jadi dimensi ini terkait
dengan sejauh mana kemudahan produk untuk dapat dilakukan
perawatan sendiri oleh penggunanya. Bila suatu barang, dalam
hal

perawatan

membutuhkan

membutuhkan
pihak

ketiga,

perawatan
maka

khusus

dapat

dan

dikatakan

serviceability dari barang tersebut relatif rendah. Makin rendah


lagi bila selain membutuhkan pihak ketiga untuk merawatnya,
pihak ketiga yang bisa merawat barang tersebut sulit dicari.
Cerita yang lain terkait serviceability suatu barang, misalnya
adalah apakah bila terjadi kerukan pada suatu komponen
barang tersebut, maka komponen atau sparepart dari barang
tersebut dapat dengan mudah diperoleh ataukah untuk
mendapatkan sparepart tersebut harus dengan pengorbanan
tertentu misalnya harus dilakukan dengan prosedur tertentu
yang sedikit rumit, butuh waktu relatif lama untuk menunggu
ketersediaannya, atau harus mencarinya di kota tertentu.
7. Estetika
Istilah lain untuk menyebut dimensi ini adalah dimensi sensory
characteristic. Dimensi ini melihat kualitas suatu barang dari
penampilan, corak, rasa, daya tarik, bau, selera, dan beberapa
faktor lainnya mungkin menjadi aspek penting dalam kualitas.

Dimensi ini menyangkut keindahan, keserasian atau kesesuaian


yang membuat enak dipandang, atau dirasakan sehingga
memberikan suatu daya tarik tersendiri kepada konsumen.
8. Perceived, citra dan reputasi produk
Sering disebut juga dimensi ethical profile dan image. Dimensi
ini berbicara tentang kualitas dari sisi persepsi konsumen.
Persepsi konsumen tersebut dapat terkait nama besar atau
reputasi perusahaan, atau merek. Dari dimensi ini, kualitas
adalah bagian terbesar dari kesan pelanggan terhadap produk
dan pelayanan.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas Produk


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas produk, antara lain :
a. Proses pembuatan produk dan perlengkapan serta pengaturan
yang digunakan dalam proses.
b. Aspek penjualan, apabila kualitas dari barang yang dihasilkan
dari

barang

terlalu

rendahakan

dapat

menyebabkan

berkurangnya penjualan. Sebaliknya apabila kualitas dari


barang yang dihasilkan dari barang terlalu tinggi membuat
harga jual semakin mahal sehingga jumlah yang terjual karena
kemampuan beli terbatas.
c. Perubahan permintaan konsumen

Konsumen

atau

pemakai

selalu

menginginkan

adanya

perubahan-perubahan barang yang dipakainya baik berupa


kuantitas maupun kualitas.
d. Peranan inspeksi
Selain dapat mengawasi atau menjadi kualitas standar yang
telah ditetapkan juga berusaha untuk memperkecil biaya
produksi.

D. Kerangka Pikir
Kerangka pikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang
penting. Kerangka pemikiran yang akan di jelaskan hubungan antar
variabel yang di teliti. Jadi secara teoritis perlu di jelaskan hubungan antar
variabel independen dan dependen.
Dari teori-teori yang dipaparkan di atas, maka persepsi konsumen dan
kualitas produk merupakan salah satu yang berpengaruh dalam minat beli
konsumen. Persepsi konsumen dan kualitas produk itu sendiri merupakan
tolak ukur dalam mengetahui minat beli konsumen, karena persepsi
membuat konsumen memilih, mengorganisasikan, menginterpretasikan
satu barang yang sama tetapi mempersepsikan atau mendeskripsikannya
secara berbeda . Sedangkan kualitas produk merupakan suatu produk yang
dipilih konsumen yang memiliki manfaat untuk kebutuhan kosumen dan

dapat meningkatkan minat beli konsumen terhadap produk maupun barang


yang ditawarkan.
Dari teori Persepsi konsumen, persepsi merupakan proses yang kompleks.
Persepsi adalah suatu proses dengan mana berbagai stimuli dipilih,
diorganisir, dan diinterpretasi menjadi informasi yang bermakna. Bahwa
dalam keadaan yang sama, persepsi seseorang terhadap suatu produk dapat
berbeda - beda, hal ini disebabkan oleh adanya proses perceptual
(berhubungan dengan ransangan sensorik) yaitu atensi selektif, distorsi
selektif dan retensi selektif.
Indikator persepsi :
1. Pelaku Persepsi
2. Target dan obyek
3. Situasi
Dari teori Kualitas produk, Produk yang berkualitas adalah produk yang
memiliki manfaat bagi pemakainya (konsumen). Seseorang yang
membutuhkan suatu produk akan membayangkan manfaat apa saja yang
bisa diperoleh dari produk yang akan dipergunakan. Manfaat suatu produk
merupakan konsekuensi yang diharapkan konsumen ketika membeli dan
menggunakan suatu produk tersebut.
Indikator kualitas produk :
1. Performance (kinerja)
2. Features (fitur)
3. Reliability (keandalan)

4. Conformance (kesesuaian)
5. Durability (daya tahan/keawetan)
6. Serviceability
7. Estetika
8. Perceived, citra dan reputasi produk
Sedangkan dari teori Minat beli konsumen, minat beli adalah bagian dari
komponen perilaku konsumen dalam sikap mengkonsumsi, kecenderungan
responden untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar
dilaksanakan. Minat beli merupakan pemusatan perhatian terhadap sesuatu
yang disertai dengan perasaan senang terhadap barang tersebut, kemudian
minat individu tersebut menimbulkan keinginan sehingga timbul perasaan
yang meyakinkan bahwa barang tersebut mempunyai manfaat sehingga
individu ingin memiliki barang tersebut dengan cara membayar atau
menukar dengan uang.
Indikator minat beli :
1. Minat transaksional
2. Minat transaksional
3. Minat refrensial
4. Minat preferensial
5. Minat eksploratif

Persepsi Konsumen (X1)


1. Pelaku Persepsi
2. Target dan Obyek
3. Situasi

Minat Beli (Y)


1. Minat transaksional
2. Minat transaksional
3. Minat refrensial
4. Minat preferensial
5. Minat eksploratif

Kualitas Produk (X2)


1. Performance (kinerja)
2. Features (fitur)
3. Reliability (keandalan)
4. Conformance (kesesuaian)
5. Durability (daya tahan/keawetan)
6. Serviceability
7. Estetika
8. Perceived, citra dan reputasi
produk
E. Hipotesis
Hipotesis adalah suatu pernyataan sementara atau dugaan yang paling
memungkinkan yang masih harus dicari kebenarannya.
Hubungan dalam penelitian ini memiliki hipotesis sebagai berikut :
1. Persepsi Konsumen berpengaruh terhadap Minat Beli di Toko
Sepatu MDK Pringsewu Tahun 2016.
2. Kualitas Produk berpengaruh terhadap Minat Beli di Toko Sepatu
MDK Pringsewu Tahun 2016.

Anda mungkin juga menyukai