Cinta dan Kehilangan Sandara Park
Cinta dan Kehilangan Sandara Park
About
Title
Author : XXXBG
Length : ONE SHOOT
Cast
Others
Sandaras POV
Rintikan hujan di luar masih terdengar oleh gendang telingaku. Hari ini aku lebih banyak
menghabiskan waktu di ruang pribadiku. Ya! Itu kamarku, ruangan yang cukup luas dengan
design interior kamar tidur apartemen ini. Tanganku menyaut sebuah bingkai foto yang tertata
rapi di samping ranjangku. Sebuah foto yang mampu membuatku bergeming dan menitikkan
air mataku. Aku berdiri di depan jendela besarku yang menghadap timur, menatap keluar
melihat rintikan hujan yang cukup lama membasahi belahan bumi ini. Pandanganku beralih
ke sebuah foto yang ku pegang ini, menatapnya sendu. Pikiranku menerawang lagi dengan
kejadian 1 tahun yang lalu.
Jiyong-ahhh.. Lirihku menatap sendu foto itu.
Authors POV
-FLASHBACKSandara-ya..? Neo eodiga? Ucap Jiyong di seberang sana menelepon sang kekasihnya, ah
ani, lebih tepatnya calon istrinya. Dia telah berdandan rapi dan tak luput setangkai bunga
mawar digenggamannya.
Hmm.. Aku berada di rumah. Wae? Sahut Sandara.
Ah.. baguslah. Jangan pergi kemana-mana. Ucap Jiyong sambil terus melangkahkan
kakinya menuju tempat parkir mobilnya.
Kau akan ke rumahku benar? Aishh dasar kau. Tebak Sandara benar. Jiyong hanya terkekeh
ringan dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.
Kau tau saja. Geurae.. aku tutup dulu telefonnya.. annyeong.. Saranghae Dara-ya..
Seperti ada petir yang menyambar telinga Sandara. Ia terdiam mematung dengan airmata
yang mulai keluar dari pelupuk matanya. Kedua orangtua Sandara yang mendengarnya juga
langsung terdiam. Tiba-tiba pintu ruang ICU tersebut terbuka. Nampak seorang dokter
dengan pakaian serba putihnya keluar dari ruangan itu, yang disusul oleh beberapa perawat
dibelakangnya.
Mungkin ini sudah takdirnya. Saya sudah berusaha sangat keras. Joesonghamnida. Ucap
dokter tersebut dengan menunjukkan mimik wajah yang sangat sedih.
Maksud dokter a-anak kami telah me-meninggal? Tanya Appa Jiyong bergetar. Dokter
tersebut menganggukan kepalanya pelan. Tangis eomma Jiyong pecah detik itu juga. Sandara
terdiam bungkam, kedua lututnya terasa sangat lemas. Tak kuat lagi menyanggah tubuhnya.
Brukkk..
Sandara pingsan, tak sadarkan diri. Ayah Sandara langsung mengambil seribu langkahnya,
menggendong tubuh sang buah hatinya yang tak sadarkan diri itu.
***
Sandara menatap sendu ke arah makam Jiyong, wajahnya benar-benar sembab. Sesenggukan
tangis Dara tak kunjung berhenti. Eomma Jiyong tidak tega melihat Sandara, ia memeluk
hangat tubuh kecil gadis itu.
Uljima.. Dara-ya uljima. Jiyong akan bersedih melihatmu seperti ini. Uljima.. Bisik eomma
Jiyong yang terus mendekap tubuh Sandara. Tidak bisa dipungkiri, airmata eomma Jiyong
tetap mengalir, walaupun ia sudah menerima kenyataan bahwa anaknya telah pergi
meninggalkannya.
Jiyong-ahh.. Jiyong-ahh.. Jerit Sandara dalam hatinya. Ia benar-benar terpukul dengan ini
semua. Ia masih tidak percaya Kwon Jiyong, belahan jiwanya telah pergi untuk selamanya.
-FLASHBACK END-
Sandaras POV
Sandara-ya.. Sandara.. Aku tersadar dari alam bawah sadarku saat mendengar suara umma
memanggilku. Jari-jariku langsung menyeka airmata yang telah membasahi wajahku. Aku
tidak mau ummaku melihatku menangis lagi.
Jiyongie lagi? Ucap ummaku sambil mengusap lembut bahuku. Aku membalikkan
badanku, berhadapan dengan umma.
Hmmm.. Dehemku dengan anggukan kepala pelan. Aku menundukkan kepalaku. Aku tak
berani menatap ummaku. Aku tahu umma ku tidak akan marah, tapi aku takut umma terus
bersedih karenaku.
Umma tahu. Tapi kau tidak bisa seperti ini terus menerus Dara-ya. Kau bisa sakit. Selalu
itu yang umma ucapkan kepadaku. Kepalaku tetap menunduk.
Appamu, dia ingin kau menikah. Dia telah menentukan calon suamimu. Kau harus menikah
Sandara-ya, jangan kecewakan Appa mu.
Keundae eomma? Mendengar itu, Aku langsung mengangkat kepalaku yang sedari tadi
menunduk.
Pergilah, bicarakan dengan Appa mu. Ucap umma sambil menepuk bahuku pelan.
Kemudian ia beranjak keluar dari kamarku.
Menikah? Appa menginginkanku segera menikah? Melupakan Jiyong pun aku tidak bisa,
bagaimana dengan menikah? Oh Tuhan. Aku duduk di tepi ranjangku. Memikirkan tentang
pernikahan yang telah direncana Appa itu. Aku beranjak dari ranjangku dan pergi ke
ruangannya.
Tok.. Tok.. Tok..
Aku mengetuk pintu ruang Appa.
Masuklah. Terdengar suara Appa dari dalam sana. Aku membuka pintu itu dan melangkah
masuk ke dalam sana. Aku melihat Appa sedang membaca buku kesukaannya itu.
Hmm.. Dara-ya, duduklah. Ucapnya menatapku namun detik selanjutnya Appa fokus
menatap bukunya kembali. Aku duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Hening. Appa
tetap fokus dengan bukunya. Aku tetap diam tak mengeluarkan sepatah kataku.
Hmm wae? Tanya Appa memecahkan keheningan ini.
Nde? Tanyaku menatap Appa.
Ah! Masalah pernikahan. Sambungku dengan lirih sambil terus menundukkan kepalaku.
Nanti malam abeoji akan memperkenalkanmu kepada namja pilihan Appa itu.
Nde? aku terkejut dengan perkataan Appa barusan.
Kita akan pergi makan malam bersama keluarganya. Bersiaplah untuk nanti malam.
Keundae Appa, ini terlalu cepat.
Tidak! Ini sudah sangat lama Dara-ya. Kapan kau akan berhenti memikirkan Jiyong?
Pikirkan masa depanmu Dara! Ucap appa yang sepertinya sangat lelah menghadapi sikapku
ini. Aku bergeming mendengar ucapannya itu. Apalagi ia juga menyebut nama Jiyong.
Sungguh sesak rasanya. Aku menahan tangisku agar tidak keluar dihadapan appa.
Aku akan kembali ke kamarku. Ucapku lirih dan kembali menundukkan kepalaku.
Bersiaplah untuk malam ini. Jangan kecewakan Appa. Araseo? Sahut Appa saat diriku
beranjak akan keluar dari ruangannya.
Nde. Ucapku lirih dan melanjutkan langkahku pergi dari ruangan Appa.
***
Appa dan eomma menikmati perbincangannya dengan kedua orangtua namja itu. Ya! Namja
pilihan Appa untuk menikah denganku. Namja itu dan aku hanya terdiam. Kami tidak
berbincang sedikit pun. Mungkin perasaan canggung yang menyebabkan ini.
Hey, kalian berdua kenapa saling diam? Donghae-ya, ajaklah Sandara berbicara. Ucap ayah
Lee Donghae kepada anaknya itu. Aku menundukkan kepalaku, ini masih sangat canggung.
Ah.. Nde appa. Jawab Donghae dengan senyuman di wajahnya. Ya! Sesekali aku melihat
kearah namja itu, senyum teduhnya membuatku sedikit tenang. Sepertinya dia namja yang
sangat hangat.
Hmm.. Sandara-ssi, bagaimana kabarmu? Tanya Donghae mencoba berbasa-basi denganku,
sepertinya dia sangat gugup. Sama halnya denganku, aku juga merasa sangat gugup.
Entahlah.
Ah. Baik. Bagaimana denganmu Donghae-ssi?
Sangat baik. Jawab Donghae yang terus menunjukkan senyumnya. Jiyong! Kwon Jiyong!
Biasanya dia yang selalu menebarkan senyum manisnya kepadaku. Senyumnya masih
teringat jelas olehku. Jiyong-ahh Lirihku, hatiku menangis lagi. Merindukan sosok namja
itu.
Tak terasa acara makan malam usai sudah. Jujur saja aku tidak terlalu menikmatinya. Aku
terus teringat oleh Jiyong.
Bagaimana kau dengan Lee Donghae? Tanya Appa yang terus fokus dengan kemudinya itu.
Nde? Ahh cukup baik. Jawabku pelan.
Haengbokhae?
Hmm.. Aku hanya membalas dengan deheman malas.
Mungkin bulan depan kau akan menikah dengannya. Ucap appa tersenyum.
Mwo?? Appa ini terlalu cepat! Ucapku cukup berteriak ke arahnya.
Apakah appa harus menunggu lagi hingga kau bisa melupakan Jiyong? Tidak, kali ini kau
tidak boleh membantah. Kau harus segera menikah Dara-ya! Kau tak perlu khawatir. Lee
Donghae adalah namja yang baik. Ucap appa dengan sedikit emosi. Eomma langsung
menenangkannya dan menyuruh kami untuk membicarakannya setelah sampai di rumah.
Sesampai di rumah, aku dan appa membicarakannya kembali.
Aku dan Lee Donghae baru bertemu tadi. Kami belum saling mengenal. Apa tidak terlalu
cepat untuk sebuah pernikahan? Appa tolong pikirkan perasaanku!
Tidak. Abeoji sudah yakin! Kau harus menikah dengan Lee Donghae. Keputusan abeoji
tidak bisa diganggu gugat lagi!
Bagaimana jika aku tidak bahagia hmm? Ucapku yang kini dengan aliran airmata di
wajahku.
Kau pasti bahagia dengan Lee Donghae! Sahut appa tak memperdulikan tangisku. Appa
pergi ke ruangannya meninggalkanku.
Sandara-ya.. berhentilah menangis. Eomma yakin ini untuk kebaikanmu sendiri. Appamu
tidak ingin kau menangis terus. Eomma menyeka airmataku. Aku hanya menatap eomma
sendu dan menganggukkan kepalaku lemah. Lalu aku pergi menuju kamarku dengan langkah
yang lebar. Sesampai di kamar aku langsung merebahkan tubuhku di atas ranjang. Tangan
kananku dengan cepat mengambil sebingkai foto. Ya tak lain lagi, foto itu adalah Kwon
Jiyong!
Tangisku pecah. Aku tidak bisa menahannya. Jiyong-ah aku ingin kau berada disampingku
lagi. Jiyong-ah kumohon. Aku sangat membutuhkanmu! Apa kau bahagia berada di surga
sana? Aku ingin ikut bersamamu Jiyong-ah. Pergi ke Surga sana.
***
Authors POV
Gaun putih dan panjang melekat sempurna di tubuh Sandara Park. Dia berjalan pelan di altar
gereja, dengan tangan menggenggam sebuket bunga pernikahan. Dan salah satu tangannya
yang melingkar lembut pada lengan appanya. Tepuk tangan terus menggema dari para
undangan yang hadir di gereja itu. Sandara menebarkan senyum tipisnya yang sangat manis.
Sesosok namja bermarga Lee dengan setelan jas rapi telah berdiri di ujung sana bersama sang
pendeta. Benar! Sekarang adalah hari dimana Sandara Park menikah dengan Lee Donghae.
Namja pilihan dari ayahnya itu. Sandara dan Donghae telah mengikat janji suci mereka di
gereja itu. Mereka telah sah menjadi sepasang suami-istri.
Rangkaian acara pernikahan telah selesai. Donghae membawa Sandara ke apartemennya. Ya!
Kini Sandara harus tinggal seatap dengan suaminya itu.
Pergilah mandi dulu, agar kau terlihat lebih segar. Ucap Donghae dengan membukakan
pintu kamar mandinya. Dia terus menebarkan senyum ke Sandara, walaupun hanya dibalas
dengan senyuman tipis oleh istrinya tersebut.
Nde.. Jawab Sandara pelan. Ia menarik kopernya dan mencari pakaiannya. Kemudian ia
bergegas menuju kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi itu, Sandara
memandangi Donghae yang membelakangi tubuhnya sedang sibuk menata dapurnya. Sandara
perlahanan menyunggingkan senyumnya dan melangkah masuk ke kamar mandi.
.
.
.
Oh Sudah selesai? Ucap Donghae menoleh ke belakang. Ia masih sibuk dengan
aktifitasnya, menyiapkan makanan.
Hmm.. Balas Sandara hanya dengan deheman dan anggukan kepala.
Mau makan hmm? Aku sudah menyiapkannya. Ucap Donghae dengan menjunjung tinggi
masakannya itu ke arah Sandara.
Ahh.. nde. Balas Sandara dengan senyum tipis di bibirnya. Sebenarnya Sandara sudah
sangat kenyang dengan hidangan pernikahannya tadi. Namun bagaimana lagi? Dia tidak enak
hati untuk menolaknya, karena Donghae sudah repot menyiapkan makanan untuknya.
Sandara menyeret pelan kursi yang berada di dapur itu dan duduk di sana.
Ah.. ini untukmu. Semoga kau suka dengan salad buatanku. Ucap Donghae yang masih
terus menebarkan senyum hangatnya kepada Sandara.
Gomapta Donghae-ya. Balas Sandara dengan senyum di wajahnya.
Geurae, aku akan pergi mandi dulu.
Hmm.. Dehem Sandara sambil mulai menyantap salad buah yang telah dibuatkan Donghae
itu.
Pundak Donghae mulai lenyap dibalik pintu kamar mandinya. Sandara menghela nafasnya.
Tak terasa ia menitikkan airmatanya.
Jiyong-ah.. Hari ini aku telah resmi menjadi nyonya Lee. Gumam Sandara dan segera
menyeka airmatanya agar tidak ketahuan oleh Donghae.
Seharusnya aku menjadi nyonya Kwon. Gumam Sandara lagi. Ia tak bisa menahan
airmatanya lagi. Ia menatap sendu salad buah dihadapannya itu. Sandara terus melamun.
Dara-ya?? Donghae memegang pundak Sandara pelan. Membuyarkan lamunan Sandara
yang sedari tadi merasuk pada dirinya itu.
Eo? Ahh ini sangat enak Donghae-ya. Ucap Sandara sedikit linglung. Ia mengangkat
sesendok salad buahnya itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya lagi. Namun tanpa sadar
Sandara masih menitikkan airmatanya. Donghae menatap lekat ke arah Sandara yang terus
tersenyum kearahnya, sungai kecil terukir jelas di wajah Sandara.
Tangan lembut Donghae menyeka pelan airmata Sandara. Uljima.
Donghae mendekatkan dirinya pada Sandara. Ia memeluk lembut tubuh Sandara.
Mianhae Donghae-ya.. Sandara semakin terisak menangis saat Donghae memeluknya.
Hatinya benar-benar terasa sesak.
Aku tahu, kau masih belum bisa melupakan Kwon Jiyong. Aku mengerti perasaanmu Daraya. Ucapnya yang masih memeluk Sandara. Wangi maskulin dari tubuh Donghae menyeruak
masuk di hidung Sandara. Membuatnya sedikit tenang dengan aroma maskulin yang timbul
dari tubuh Donghae itu. Jiyong! Kwon Jiyong! Jerit Sandara dalam hatinya. Aroma itu
mengingatkan Sandara dengan aroma tubuh Jiyong. Ia terus terisak menangis didekapan
Donghae, suaminya.
Pergilah tidur. Beristirahatlah. Donghae melepas pelukannya dan menyuruh Sandara untuk
segera pergi tidur. Sandara mengangguk pelan. Terlihat jelas wajahnya yang sangat sembab.
Donghae menuntun tubuh Sandara dan kemudian merebahkan tubuh sang istrinya itu di
ranjang king-size nya. Tangan Donghae menarik selimut dan membalutkannya pada tubuh
Sandara. Ia tersenyum kearah Sandara. Tidurlah.
Sandara memejamkan matanya, namun ia tidak benar-benar tertidur. Ia masih merasa asing
dengan ranjang itu. Sandara sesekali membuka pelan kedua matanya, memperhatikan
Donghae yang tertidur di sofanya. Ia beranjak dari ranjang itu dan melangkahkan kakinya ke
arah Donghae yang sedang tertidur lelap di sofa.
Donghae-ya.. Ucap Sandara membangunkan Donghae pelan. Donghae mengerjapngerjapkan matanya. Dan akhirnya kini kedua matanya terbuka dengan sempurna, menatap
Sandara.
Ahh wae Dara-ya? Tanya Donghae yang mulai bangun dari baringannya.
Kenapa kau tidur disini? Tidurlah diranjangmu. Jawab Dara.
Donghae tersenyum, Ah.. aku pikir kau masih perlu beradaptasi dengan ini semua. Aku
tidak bisa langsung tidur disana.
Tidak, kau tidak bisa seperti itu. Lagi pula kau adalah suamiku. Ucap Sandara dengan
intonasi pelan di akhir katanya. Donghae hanya membalas tersenyum.
Gwenchana.. Sambung Dara selanjutnya.
Geurae, aku akan tidur di ranjangku sebentar lagi. Kau pergilah tidur dulu. Ucap Donghae
sambil tersenyum hangat kepada istrinya tersebut.
Sandara melangkahkan kakinya menuju ranjangnya dan merebahkan tubuhnya lagi di atas
ranjang itu. Ia membenamkan tubuhnya dalam selimut yang tebal itu dan mulai memejamkan
kedua matanya. Tak lama kemudian ia merasakan gerakan di ranjang sampingnya. Ya! Itu
Donghae yang mulai beranjak tidur di samping Sandara. Sandara masih terbaring
membelakangi Donghae. Ia tak berani membalikkan tubuhnya. Sandara tetap tak bisa tertidur.
Sedangkan Donghae sudah terlelap dan mungkin tengah berada dalam alam mimpinya.
Sandara memberanikan dirinya, menghadap pada Donghae yang terlelap itu. Ia menatap lekat
setiap lekuk wajah suaminya itu. Baru kali ini Dara melihatnya dari jarak yang sangat dekat.
Sandara terus menatap wajah Donghae.
Degg!!
Jiyong?? Kwon Jiyong?? Sandara membelalakkan matanya. Ia melihat wajah Jiyong sedang
tertidur terlelap disampingnya. Sandara terus mengerjap-ngerjapkan matanya. Tetap saja itu
benar wajah Jiyong!
Jiyong? Kwon Jiyong? Sandara sadarlah. Sandara ku mohon sadarlah. Oh tuhan. Ucap
Dara mencoba menyadarkan dirinya dari halusinasi ini. Sosok wajah dihadapannya itu mulai
membuka matanya perlahan.
Hmm kau belum tertidur?
Sandara terlihat sangat bingung dan sedikit lega sekaligus. Saat wajah namja dihadapannya
itu kembali ke wujud semula. Wajah Lee Donghae, bukan Kwon Jiyong lagi.
Ah. Belum. Jawab Sandara lirih, ia berbaring menatap langit-langit kamar Donghae itu. Ia
tak berani menatap Donghae dengan jarak yang sangat dekat seperti ini.
Aku mengerti. Tempat ini masih sangat asing bagimu. Tapi bagaimana pun juga kau harus
tidur. Donghae menarik selimut dan membalutnya ke tubuh Sandara. Ia mengecup kening
Sandara dan kemudian pergi keposisinya lagi. Sandara terus menatap langit-langit kamar itu,
apalagi ia semakin membeku saat Donghae mengecup keningnya tadi.
.
.
.
Sandaras POV
Silauan cahaya mentari pagi menembus jendela kamar, membuatku silau saja. Aku mulai
mengerjapkan kedua mataku dan sesekali mengusapnya. Aku melihat ke arah sampingku,
tidak ada Donghae disana. Ia sudah terbangun lebih dulu. Aku melangkahkan kakiku keluar
dari kamar. Kudapati Donghae sedang sibuk di dapurnya.
Oh? Kau sudah bangun? Ucap Donghae ke arahku dengan senyuman manisnya yang selalu
membuatku merasa lebih tenang. Aku menganggukkan kepalaku pelan dan tersenyum tipis
kearahnya. Aku melihatnya terus sibuk dengan masakannya. Ah! Seharusnya aku sebagai istri
yang menyiapkan semua ini. Tapi kini berbalik, Donghae yang mengambil alih semua tugas
ini. Aku merasa sedikit bersalah.
Kau pergilah mandi dulu. Kata Donghae membuyarkan lamunanku.
Ah.. nde. Jawabku yang kemudian melangkah menuju kamar mandi.
Aku berendam air hangat dalam bathtub. Tak seperti biasanya aku memikirkan Donghae
terus. Dia sangat baik kepadaku. Dia bisa menerimaku yang masih tidak bisa melupakan
Kwon Jiyong. Dengan hati yang tulus! Aku bisa merasakan itu. Lee Donghae, haruskah aku
mencoba untuk memulai mencintaimu? Dan Kwon Jiyong, haruskah aku mencoba untuk
merelakanmu yang mutlak tak akan hadir di dunia ini lagi? Ah! Aku memejamkan mataku
dan membasuh wajahku pelan. Memikirkan ini membuat hatiku cukup sesak.
Donghae-ya, biarkan aku yang meneruskan ini. Kau pergilah mandi. Ucapku yang telah
selesai membersihkan diri. Donghae tertawa, aku menjadi bingung. Kenapa ia tertawa?
Apakah ucapanku tadi ada yang salah? Atau tampilanku ada yang menggelitik hatinya hingga
tertawa seperti itu? Aku menatap penampilanku dari atas hingga bawah, tak ada yang salah.
Semuanya terlihat normal. Lalu kenapa dia tertawa?
Hahaha.. Dara-ya, aku sudah mandi tadi. Apakah penampilanku seperti orang yang belum
mandi? Oh Tuhan. Ucap Donghae yang masih merekahkan tawanya dan melihat seksama
penampilannya. Astaga Sandara! Pabo! Aku sangat malu. Aku menundukkan kepalaku,
menyembunyikan wajahku yang sudah seperti kepiting rebus ini.
Haha.. sudahlah, duduklah ke sini. Kajja kita sarapan. Sahut Donghae yang masih terkekeh.
Aku melangkah mendekati meja makan dan duduk di kursi meja makan itu.
Donghae-ya, mian. Aku masih menundukkan kepalaku. Wajahku benar-benar seperti
kepiting rebus.
Kau sangat lucu Dara-ya. Kata Donghae dengan mengacak pelan rambutku. Aku masih
tertunduk malu. Aish Sandara Paboya! Umpatku dalam hati. Aku mulai menyantap masakan
Donghae itu. Jujur saja, masakan Donghae sangat nikmat. Aku menyukainya. Rupanya dia
pandai memasak.
Kau ingin pergi kemana hari ini? Tanya Donghae memecahkan keheningan.
Nde? Ah, tidak ada. Aku ingin di sini saja. Ucapku sambil mengunyah pelan makananku.
Donghae hanya membalas dengan senyuman saja.
Sandara POV End
.
.
.
Donghaes POV
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjangku, dan menatap langit-langit kamar. Sudah genap
Satu bulan usia pernikahanku dengan Sandara. Sepertinya ia sudah beradaptasi dan menerima
ini semua, pernikahan yang bukan kehendaknya atau sebut saja pernikahan karena
perjodohan orangtua. Dari awal bertemu aku sudah sangat menyukainya. Dia gadis yang
hangat dan lembut, terlihat jelas dari raut wajahnya. Entah kenapa aku bisa menerima
Sandara Park yang sangat jelas masih mencintai Kwon Jiyong kekasihnya yang telah
meninggal itu. Aku tak peduli, aku mencintainya dengan tulus. Sandara Park, Apakah kau
mencintaiku? Hmm.. tiba-tiba Aroma segar merasuk hidungku, membuyarkan semua
lamunanku. Aku melihat Sandara berdiri di ambang pintu kamar mandi. Dengan tangannya
yang menggosok-gosok pelan rambutnya yang basah dengan sehelai handuk putih. Seperti
sihir saja, aku langsung terfokus menatapnya. Dia terlihat sangat sexy. Ah! Jujur saja, aku
ingin sekali menyentuh tubuhnya. Dari awal pernikahan aku masih belum melakukan itu
dengannya. Aku mengerti perasaannya, aku tak bisa memaksa.
Ahh Donghae-ya.. Ucap Dara yang mulai duduk di sisi ranjang tempat aku merebahkan
tubuhku ini. Dia menatapku lembut.
Hmm wae? Jawabku dengan sebuah senyuman kecil untuknya.
Kau ingin makan malam apa? Akan aku buatkan sebentar lagi. Sahutnya yang masih
menggosokkan handuk di setiap helai rambutnya yang basah. Sandara Park! Teriakku dalam
hati.
Dengan cepat tanganku meraih tubuh Sandara. Rambutnya yang tergerai terkibas sangat sexy
akibat perlakuanku yang tiba-tiba ini. Tubuh Sandara jatuh tepat berada di atas dadaku. Aku
mendekap tubuhnya dan mensejajarkan wajahku dengan wajahnya. Ia terbelalak kaget. Aku
menatap lekat kedua matanya. Hening. Kami saling menatap dalam keheningan ini. Aku
mendaratkan bibirku pelan di permukaan bibirnya. Aku menciumnya dengan perlahan. Ini
adalah ciuman pertama kami. Ciuman yang sangat lembut kuberikan padanya. Tanganku
yang masih melingkar dipinggangnya dengan mudah memindahkan posisinya hingga kini ia
yang berada di bawahku. Kami saling menatap lagi dengan jarak wajah yang sangat dekat.
Aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku melihat ke arah lehernya Ia sepertinya sedang
meneguk ludahnya. Aish! Sandara! kau sungguh menggoda!
Aku mendaratkan bibirku di leher jenjangnya yang sangat putih. Mendaratkan ciuman yang
kemudian disusul dengan hisapan. Aku menghisap kuat leher jenjang Sandara. Ia semakin
mendongakkan kepalanya akibat perlakuanku ini. Dengan leluasa aku meninggalkan banyak
kissmark di lehernya. Aku menghentikan aktivitasku, kemudian menatapnya lagi. Aku bisa
membaca pikirannya dari menatap kedua matanya, ia seakan berbicara Donghae-ya, aku
sudah siap untuk melakukannya.
Aku mencium keningnya. Dan memulai membuka kancing kemejaku. Kini terpampang jelas
tubuhku yang naked di bagian atas saja. Abs ku yang telah ku bangun sejak remaja ini
mungkin akan sangat membantu. Tentu saja! Abs-ku sangat SEXY, semua yeoja pasti akan
diam membisu melihat abs-ku ini. Aku mendaratkan ciuman di bibir Sandara lagi. Dia
melingkarkan tangannya di leherku. Ciumanku kini beralih menjadi sebuah lumatan dan
ciuman yang menuntun. Aku melumat bibir Sandara yang sangat manis itu. Lidahku dengan
lihai menyapu lidah Sandara. Ia mulai membalas ciumanku ini. Aku semakin memperdalam
lumatan ini. Decakan yang timbul dari ciumanku ini membuatku semakin terangsang. Aku
melihat Sandara, sepertinya ia mulai kelelahan. Donghae-ya! Tahan dirimu! Lakukan dengan
perlahan! Kau mungkin bisa menyakitinya! Pikiranku terus meracau seperti itu. Aku
memperlahan ciumanku, lebih tepatnya ciuman lembut yang sedang kulakukan sekarang. Aku
melepas ciuman ini. Membiarkan istriku menghirup oksigen lagi. Aku menyeka lembut
keringat yang membanjiri keningnya. Tanganku membuka perlahan pakaian yang dikenakan
Sandara. Ia terus menatapku. Kini tubuh Sandara sudah tak terbalut benang sehelai pun. Dia
sangat sexy. Celana yang masih melekat di tubuhku, kini telah berpindah posisi tergeletak di
lantai. Sekarang tubuhku juga telah naked seutuhnya. Aku menindihkan tubuhku di atas
tubuhnya. Tanganku mulai meremas lembut gundukan Sandara, ia menggeliat geli. Dan detik
itu juga nipplenya menegang. Aku mendaratkan bibirku di payudaranya, mengulumnya
perlahan. Gendang telingaku mulai menangkap desahan yang keluar dari mulut Sandara. Aku
semakin memanjakan kedua gundukannya yang kenyal dan padat itu. Tanganku menjalar ke
bawah. Menangkap miss v nya dan memegangnya pelan. Sandara bergidik lagi. Aku
menggosok-gosokkan telapak tanganku di daerahnya. Ia semakin mendesah saat jari-jariku
mulai masuk ke dalam daerahnya dan mengombak-ambiknya.
Ahhh.. Donghae-ya.. desahnya sambil memejamkan kedua matanya. Aku merasakan jari
dan telapak tanganku mulai basah. Aku mencabut jariku dari dalam sana.
Chagiya.. aku akan memulainya.. Ucapku di telinga Sandara. Ia mengangguk pelan dan
mulai mengocok juniorku.
Ahhhh..chagiya faster.. Desahku menyuruhnya untuk mempercepat kocokannya. Juniorku
benar-benar sudah sangat mengeras sekarang.
Mungkin ini akan sakit. Katakan jika kau tak bisa menahannya, araseo? Ucapku menatap
lekat kedua matanya. Ia mengangguk mantap. Aku mulai memposisikan tubuhku,
mensejajarkan juniorku dengan miss v nya. Aku membuka pahanya lebar-lebar, agar
mempermudah aktivitasku ini. Aku mulai menuntun juniorku ke dalam lubangnya.
Memasukkan ujung juniorku. Tangan Sandara mencengkeram erat sprei ranjang. Aku melihat
wajahnya, ia mulai menitikkan airmata.
Aku tidak akan menyakitimu Sandara-ya. Ini semua karena aku mencintaimu. Ucapku
sambil sesekali mencium lembut bibirnya. Ia terpekik kesakitan saat Juniorku masuk
sempurna menembus benteng pertahanannya itu. Aku menghapus airmatanya dan mencium
keningnya.
Saranghae Dara-ya.. bisikku di telinganya.
Nado saranghae Donghae-ya.. Ucapnya sambil meraih wajahku dan mencium lembut
bibirku. Aku mulai menggenjot tubuhku naik-turun. Aku mendengar Dara masih meringis
kesakitan. Aku tidak boleh egois. Jika ini membuat Sandara tersakiti aku bisa
menghentikannya.
Apakah masih sakit? Haruskah aku menghentikan ini? Tanyaku kepadanya. Ia
menggelengkan kepalanya.
Jangan donghae-ya.. Aku masih bisa menahannya.
Aku melemparkan senyum termanisku kepadanya.
Saranghae.. Aku menggenjot juniorku lagi di dalamnya.
ahh.. Donghae-ya.. ssshh Desahnya yang sangat menggoda telingaku. Ia mulai terbiasa
dengan juniorku. Aku mempercepat gerakanku. Memompa tubuhnya hingga mencapai tujuan
semua ini. Ia mencengkeram erat lenganku dan mendesah hebat.
Ahhh.. Chagiya-ahh.. Desahku saat merasakan juniorku semakin terjepit di dalam sana.
Aku merasakan miss v nya berkedup sangat hebat, tidak berbeda dengan milikku. Juniorku
berkedup sangat hebat juga.
Aku menatap langit kota Seoul yang terlihat sangat cerah hari ini. Aku menengadahkan
kepalaku, seakan sedang berbicara dengan seseorang di atas sana. Jiyong-ah.. mianhae, aku
membagi cintaku kepada Donghae, sekarang aku sangat mencintai Donghae. Keundae,
bagaimana pun juga aku masih tidak bisa melupakanmu. Namun biarkan aku jadikan kau
sebagai masa laluku yang sangat indah. Jiyong-ah.. aku bisa bahagia walaupun hidup
tanpamu. Jiyong-ah.. Kau kenangan yang sangat berharga bagiku.
Eomma!!! Ppaliwa!! Suara nyaring Haru membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum
kearahnya yang masih berada digendongan Donghae. Aku melangkahkan kakiku mendekat
kearah keluarga kecilku itu.
Kajja. Ucapku dengan senyuman yang lebar memperlihatkan deretan gigiku yang rapi.
-FINBagaimana? Mian kalo nggak hot. Soalnya author lebih ngedepanin ceritanya ^^
Seperti biasa, tinggalkan jejak para readers di kolom komentar. Biar bikin author semangat
nulis lagi dan jadi lebih baik dalam berkarya(?) Gamsha yang sudah mau baca^^ *bow*
Share this:
Sukai ini:
Suka Memuat...
Terkait
Categories: One Shoot | Tags: 2NE1, BIGBANG, Donghae, G-DRAGON, Sandara, SUPER
JUNIOR | Permalink.
Penulis: partofkoreanyadong
YADONG IS PART OF FANGIRLS LIFE! HAHAHAHA LOL XD
Tinggalkan komentar
1.
desti
Januari 9, 2015 pukul 7:28 am
Ceritanya menyentuh banget
Balas
Older Comments
Berikan Balasan
Navigasi pos
Previous Post
Next Post
2,328,804 hit
Saranghae!!!
Is it just a Dreams?
Cast
2NE1 4minutes AILEE Apink B.A.P
EXO G-DRAGON Gongchan Hyorin Hyuna Hyunseung Kai Kim Woo Bin Miss A NC17 NC21
OC Oh Sehun
Suzy
Park Chorong
Categories
Chaptered
Drabble
Ficlet
FREELANCE
One Shoot
Sequel
TOP Fanfiction
Cari: