TUGAS ELEKTRONIKA BIOMEDIK
DEFIBRILLATOR
DISUSUN OLEH :
Luthfiyah Rachmawati
145060301111019
Fath Regitta Pungky S.
145060301111034
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
MALANG
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatakan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatNya yang dikaruniakan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas besar mata kuliah Elektronika Biomedik
Teknik Elektro Universitas Brawijaya. Diharapkan para pembaca dapat memahami tentang
konsep dan prinsip kerja dari Defibrilator yang dijelaskan pada makalah ini.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ir. Ponco Siwindarto, [Link], yang telah
membimbing kami dalam mata kuliah Elektronika Biomedik sehingga kami mampu
menyusun makalah ini.
Penulis menyadari bahwa kami masih banyak kekurangan dalam makalah ini, kami
terbuka menerima kritik dan saran untuk perbaikan kami agar dapat menjadi lebih baik.
Malang, 19 Oktober 2016
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pegetahuan di ilmu elektronika makin berkembang. Perkembangan ini mencakup
berbbagai bidang dalam kehidupan, ada yang untuk industri, komunikasi, medis, da masih
banyak lagi. Perkembangnan elektronika dalam dunia medis sangat bermanfaat dalam hal
analisa medis, alat bantu untuk operasi, untuk penggambaran visual kondisi organ dalam,
serta untuk pertolongan kondisi kritis pasien.
Perkembangan elektronika dalam dunia medis ada yang memanfaatkan sistem listrik
dalam tubuh atau biasa disebut dengan sinyal biopotensial. Sistem listrik di tubuh manusia
mirip dengan jaringan listrik (otak dan sistem saraf hal. 7, 2007). Peralatan elektronika dalam
dunia menggunakan impuls lisrik dalam jaringan tubuh manusia yang menggunakan
impulask listrik yagn dikirim dari otak ke seluruh tubuh. Misalnya pada jantung, yaitu
bekerja sesuai impuls yang dikirimkan dari otak untuk dapat memompa darah dengan bekerja
secara bergantian antara bagian atrium dan ventrikel. Impuls yang mengendalikan kerja
jantung dapat mengalami gangguan yang diakibatkan oleh berbagai hal, atau yang biasa kita
kenal dengan serangan jantung.
Jantung merupakan sala satu organ tubuh yang sangat penting dalam kehidupan
manusia, apabila jantung berhenti berdetak hanya dalam beberapa detik, maka tubuh sudah
mati dan bisa menyebabkan kematian. Ada berbagai macam penyakit yang dapat menyerang
jantung, salah satu contohnya adalah fibrilasi. Fibrilasi adalah berdetaknya jantung secara
tidak normal antara atrium dan ventrikel. Untuk mengobati fibrilasi tersebut, dapat
menggunakan alat yang disebut defibrilator. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami ingin
membahas tentang defibrilator, rangkaian dan analisi rangkaiannya
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang datas, dapat disimpulkan bahwa pokok permasalahan yang akan
dibahas adalah :
1. Bagaimana sistem kelistrikan tubuh manusia?
2. Apa yang dimaksud dengan fibrilasi?
3. Apa dimakasud dengan defibrilasi?
4. Apa dimaksud dengan defibrillator?
5. Bagaimana prinsip kerja defibrilator?
1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Menjelaskan prinsip kerja jantung dan kelistrikannya.
2. Menjelaskan gangguan jantung (fibrilasi).
3. Menjelaskan pengertian defibrillator.
4. Menjelaskan prinsip kerja defibrillator.
2
5. Menjelaskan cara menggunakan defibrillator.
Manfaat Penulisan makalah ini adalah :
1. Dapat memahami prinsip kerja jantung dan kelistrikannya.
2. Dapat memahami cara menggunakan defibrillator dan memahami prinsip kerjanya.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Fibrilasi
Fibrilasi merupakan masalah pada jantung yang terjadi ketika organ tersebut berdetak
terlalu cepat sehingga frekuensinya idak dapat dihitung. Hal ini disebabkan oleh impuls
listrik yang cepat dan tidak teratur.
Ada 2 jenis fibrilasi:
Fibrilasi atrium, fibrilasi yang terjadi di serambi jantung yaitu suatu kondisi yang
terjadi ketika detak jantung menjadi tidak teratur dan tingkat kontraksi organ tersebut
sangat tinggi. Berikut merupkan gambar dari denyut jantung yang mengalami
Fibrilasi Atrium:
Gambar 1 : Fibrilasi Atrial
Fibrilasi ventrikel, fibrilasi yang terjadi di bilik jantung yaitu keadaan dimana
denyut ventrikel sangat kacau sehingga jantung tidak dapat memompakan darahnya
keluar dan tekanan darah menjadi nol sehingga dapat menyebabkan kematian
mendadak. Berikut merupkan gambar dari denyut jantung yang mengalami Fibrilasi
Ventrikel:
Gambar 2 : Fibrilasi Ventrikel
2.2. Defibrilasi
Untuk mengatasi gangguan fibrilasi tersebut maka diperlukan suatu tindakan yang
seharusnya dilakukan hal ini disebut dengan defibrilasi dimana detak jantung normal dapat
dikembalikan dengan pengiriman kejutan listrik yang dikendalikan. Kecepatan dalam
melakukan defibrilasi/ kardioversi merupakan elemen penting untuk resusitasi yang berhasil.
Tindakan defribrilasi harus segera dilakukan sebelum intubasi dan pemasangan selang infuse.
Defibrilasi dilakukan dengan cara satu electrode diletakkan pada sisi kanan dada,
dibawah klavikula dan yang lain pada sisi kiri dada sebelah lateral papilla mamma seperti
pada gambar
2.4. Defibrillator
Defibrillator adalah piranti elektronik yang mengalirkan sinyal listrik kejut (pulsa) ke
otot jantung untuk mempertahankan depolarisasi myocardial yang sedang mengalami
fibrillasi kardiak (ventricular fibrillation atau atrial fibrillation).
2.4.1. Mode pemberian energi defibrillator :
Asinkron : pemberian shock listrik jika jantung sudah tidak berkontraksi lagi, secara
manual setelah pulsa R
Sinkron : pemberian shock listrik harus disinkronkan dengan sinyal ECG dalam keadaan
berfibrasi, jadi bila tombol discharge ditekan kapanpun maka akan membuang pulsa R
secara otomatis.
2.4.2. Jenis-Jenis :
Defibrilator yang umum digunakan di rumah sakit adalah M-series monophasic dan
defibrilator biphasic. Unit portable menggabungkan Defibrillator, ECG, Non-Invasive
Transcutaneous Pacing (NTP) dan fungsi pemantauan pasien yang lainnya. Berbagai jenis
defibrilator adalah:
[Link]. DC Defibrilator
DC defibrilator selalu dikalibrasi dalam satuan watt-detik atau joule sebagai ukuran
dari energi listrik yang tersimpan dalam kapasitor. Energi dalam detik-watt sama dengan satu
setengah kapasitansi dalam farad dikalikan dengan tegangan di yaitu volt kuadrat
Jumlah energi (E) yang diberikan merupakan faktor bagi keberhasilan defibrilator.
Energi yang diberikan kepada pasien dapat diperkirakan dengan mengasumsikan nilai
resistansi yang ditempatkan antara elektroda yang seterusnya mensimulasi resistansi dari
pasien. Kebanyakan defibrilator akan memberikan 60 - 80% dari energi mereka untuk
disimpan ke resistansi sebanyak 50
Defibrilasi eksternal: piringan logam berdiameter 3-5 cm yang melekat pada
pegangan yang sangat terisolasi. Menghasilkan arus besar untuk menstimulasi
kontraksi yang seragam & simultan dari serat otot jantung. Kapasitor hanya akan
menyalurkan energi listrik yang tersimpan apabila kontak defibrilator dengan tubuh
yang baik sudah tercapai
Internal defibrilasi: besar berbentuk sendok elektroda
[Link]. Advisory Defibrilasi
Mampu dengan akurat menganalisis ECG dan membuat keputusan menyalurkan
kejutan dengan handal. Dirancang untuk mendeteksi fibrilasi ventrikel atau ventricular
fibrillation dengan sensitivitas dan spesifisitas sebanding dengan paramedis terlatih,
kemudian memberikan atau merekomendasikan seberapa banyak energi sesuai dengan
kejutan defibrilasi tersebut.
[Link]. Implan Defibrillator
Biasa digunakan oleh pasien yang berisiko tinggi mengalami ventricular fibrillation.
Implan defibrilator menyimpan rekaman sinyal jantung pasien, sejarah terapi pasien dan data
6
diagnostik pasien. Implan defibrilator mempunyai volume kurang dari 70 cc, ia juga
mempunyai lebih dari 30 juta transistor dan menyalurkan kurang dari 20 micro ampere
selama beroperasi sebagai pemantauan konstan. Implan defibrilator sangat tertutup rapat dari
lingkungan sekeliling di dalam tubuh maka ianya sangat bio-kompatible dan mampu bertahan
pada rentang suhu 30 oC hingga 60 oC. Sumber energi untuk menjalankan implan defibrilator
berasal dari baterai Lithium Perak Vanadium Oksida (LiSVO).
2.4.3. Menganalisa Defibrillator
Pada dasarnya penganalisa defibrilator menjalankan prinsip energi di dalam debaran
jantung yang kondisi dan waktunya dapat berubah, yaitu :
dimana,
E = energi (watt/detik),
e(t) = tegangan dalam fungsi waktu,
i(t) = arus dalam fungsi waktu,
T = durasi waktu debaran jantung
Ketika adanya tegangan di seluruh resistensi tetap, energi yang hilang di dalam
resistensi didefinisikan sebagai :
Dimana R adalah nilai resistansi.
2.4.4. Prinsip Prosedur Pemberian Energi Defribilator ke Jantung
Berikut merupakan Prinsip Prosedur Pemberian Energi Defribilator ke Jantung:
1. Pemilihan besarya energi dan mode
2. Pengisian energi pada kapasitor
3. Pembuangan energi dari kapasitor ke paasien
Maka dari itu terdapat beberapa parameter yang harus ditentukan dalam defibrilasi. Beberapa
parameter tersebut adalah sebagai berikut:
Energi : energy dalam defibrillasi dinyatakan dalam joule. Satu joule merupakan unit kerja
terkait dengan satu ampere arus saat melewati satu ohm hambatan selama satu detik.
Tegangan: Tegangan yang dibutuhkan untuk defibrilasi biasanya menggunakan tegangan
tinggi. Ini diperlukan supaya energi dari defibrilator dapat menembus sampai sasaran. Dalam
hal ini adalah jantung.
Arus : arus merupakan apa yang sebenarnya mendefibrilasi jantung. Dapat juga dinyatakan
dengan Tegangan/Impedansi.
Impedansi : Resistensi terhadap Arus; ada resistensi di sirkuit listrik itu sendiri serta pada
pasien. Jumlah impedansi pada pasien sulit untuk menentukan yang berhubungan dengan
massa tubuh, suhu, kualitas diaphoresis dari kontak dengan alat kejut atau bantalan
defibrillator. Tetapi berdasarkan tes klinik bahwa 95% impedansi manusia adalah sekitar 3090 ohm.
[Link]. Prinsip Dasar Defribilator
1. Pemilihan besarnya energi dengan memtar selector pada R3, maka saat tegangannya
diatur maka akan timbul pengisian di kapasitor C1
2. Jika tombol Charge ditekan maka akan terjadi pengisian di kapasitor C1, dan tegangan
yang timbul dideteksi oleh detector A1, melalui pembagi tegangan R1 dan R2 yang
bersesuaian dengan tegangan C1
3. Bila tegangan pada pembagi tegangan telah lebih besar dari tegangan R3, maka A1
keluarannya akan menyebabkan High Voltage DC supply yang tidak lagi mensuplai
tegangan ke kapasitor C1.
4. Bila ditekan tombol discharge maka tegangan pada kapasitor C1 akan berpindah
sehingga jantung akan mendapatkan energi dari kapasitor C1 .
Berdasarkan cara discharge nya kapasitor, bentuk gelombang energidibagi menjadi 2, yaitu
sebagai berikut:
[Link]. Deibrilasi Monophasic
Pada defibrilasi monophasic, ketika pengosongan arus, arus yang dialirkan hanya satu
arah atau dengan kata lain arus tidak pernah berubah arah selama proses discharge
berlangsung.
Gambar 3 : Gelombang Monophasic
[Link]. Defibrilasi biphasic
Pada defirbilasi biphasic, arus akan berubah arah ketika waktu mencapai sentengah
kali saat pengosongan kapasitor.
Gambar 4 : Gelombang Biphasic
BAB III
PEMBAHASAN
Pada umumnya secara singkat prinsip kerja defibrillator adalah berawal dari arus
listrik masuk kerangkaian catu daya yang kemudian arus tersebut disearahkan menggunakan
dioda. Saat tombol charge pada alat ditekan, maka arus akan mengisi kapasitor. Setelah
kapasitor terisih penuh, tombol shock pada alat ditekan akan melepaskan muatan listrik yang
ada di kapastor ke pasien melalui media paddle sternum (tulang dada) dan paddle apex
(puncak/jantung).
Pada dasarnya sirkuit shock dalam defibrillator memiliki tiga komponen utama:
sumber tegangan tinggi, kapasitor dan switch.
3.1. Komponen Defibrillator
3.1.1. Sumber Tegangan
Defibrillator modern menggunakan arus searah (dc) daripada arus bolak (ac) yang
model sebelumnya digunakan. Hal ini menimbulkan masalah bagi desainer perangkat yang
dioperasikan dengan baterai. Transformer tidak dapat meningkatkan arus searah. Masalah ini
dipecahkan sebagai berikut.
Gambar 5 : Konversi Tegangan Defibrillator DC
Sebuah baterai menyuplai rangkaian osilator; Dihasilkan arus yang on dan off pada
frekuensi tinggi (misalnya 1000 kali per detik), meskipun masih akan dalam satu arah saja
(DC). Jika pulsa DC ini dimasukkan ke sebuah transformator yang cocok, dapat dihasilkan
tegangan output sesuai yang diperlukan. Rasio tegangan input dan output sebanding dengan
rasio jumlah lilitan primer dan sekunder trafo. Untuk Misalnya, jika kumparan input
('primer') memiliki 200 lilitan dan kumparan output ('sekunder') memiliki 20.000 maka
tegangan dinaikan dengan factor 100. Sebuah masukan 5 V maka akan menghasilkan 500 V
output.
Tegangan output bolak balik diperbaiki dengan dioda dan dimasukkan ke dalam
kapasitor yang menyimpan muatan tegangan tinggi.
10
3.1.2. Kapasitor
Sebuah kapasitor terdiri dari dua konduktor datar atau 'piring' (biasanya dari
aluminium foil) dengan isolator diantaranya. Sebuah kutub konduktor melekat pada setiap
piring. Dalam prakteknya seluruh kapasitor perakitan sering digulung dan dimasukkan dalam
'kaleng' dengan dua koneksi. Tegangan maksimal pada kapasitor adalah sebesar 5.300VDC
dengan umur pemakaian sebanyak 100.000 kali discharge.
Gambar 6 : Kapasitor
3.1.3. Switch
Gambar rangkaian pada gambar 16 menjelaskan secara singkat prinsip kerja switch
pada defibrillator. Ketika seluruh switch pada kondisi open maka paddle ditempelkan kepada
pasien. Kemudian Switch S1 di tutup guna untuk mengisi kapasitor, ini disebut kondisi
charged. Selanjutnya, S1 akan terbuka dan S2 akan menutup, dimana menyebabkan kapasitor
akan berada pada kondisi discharged dan tegangan akan dikirimkan ke tubuh pasien, dimana
cara ini digunakan untuk mengembalikan ritme jantung pasien.
3.2. Jenis-Jenis Defibrillator
Pada dasarnya Jenis defibrilator terbagi menjadi 2, yaitu Defibrillator AC dan
Defibrilator DC. Defibrillator DC memiliki beberapa jenis lagi, yaitu Defibrillator DC Lown,
Monopulse, Delay-line, dan Trapezoidal.
3.2.1. Defibrillator AC
Defibrillator AC merupakan defibrillator pertama yang dikenal sejak sebelum tahun
1960. Defibrillator ini menggunakan arus listrik 5 sampai 6 Ampere, dengan frekuensi 60 Hz
yang dipasangkan di dada pasien selama 250 sampai 1000 ms. Tingkat keberhasilan
defibrillator ac ini agak rendah, sehingga tak dapat menangani fibrillasi atrial secara baik.
Bahkan dalam kenyataan, pada saat mencoba mengatasi fibrillasi atrial dengan defibrillator
ac seringkali malah menghasilkan fibrillasi ventrikel yang merupakan aritmia yang lebih
serius.
11
Distribusi energi pada defibrillator AC sangatlah sederhana karena hanya
menggunakan tegngan jala-jala (110-240V) yang dinaikkan dengan transformator step up
(menjadi 300-2000 V). Sehingga sinyal yang dihasilkan oleh defibrilltor AC akan sama
dengan sinyal tegangan jala-jala.
Gambar 7 : Rangkaian Defibrillator AC
3.2.2. Defibrillator DC Lown
Muatan yang dikenakan pada pasien disimpan dalam sebuah kapasitor yang
dihasilkan oleh power supply DC tegangan tinggi. Operator dapat mengatur level muatan
yang akan digunakan pada panel depan dengan tombol set energy. Tombol tersebut
mengendalikan tegangan DC yang dihasilkan oleh power supply tegangan tinggi dan juga
dapat mengatur muatan maksimum pada kapasitor. Energi yang tersimpan dalam kapasitor
diberikan oleh persamaan:
U = CV2
U adalah energi dalam satuan Joule (J), C adalah kapasitansi C1 dalam satuan Farad
(F) serta V adalah tegangan pada kapasitor C1 dalam satuan volt.
Arus akan meningkat dengan cepat hingga 20A dengan tegangan hingga 3 KV
Gelombang kemudian meluruh kembali ke nol dalam waktu 5 ms dan kemudian
menghasilkan sebuah pulsa negatif yang lebih kecil juga sekitar 5 ms.
12
Gambar 8 : Tegangan dan Arus Defibrillator DC Lown
Gambar 9 : Defibrillator DC Lown
13
Gambar 10 : Defibrillator DC Lown
1.
2.
3.
Energi yang tersimpan ditunjukkan oleh sebuah voltmeter yang dihubungkan paralel
dengan kapasitor C1. Skala voltmemter dikalibrasi dalam satuan energi. Satuan yang sering
digunakan secarai praktis adalah watt-second yang setara dengan Joule (1 w-s = 1 J).
Sejumlah energi akan hilang pada kontak relay switching dan pada resistansi ohmik
induktor L1.
Muatan kapasitor dikendalikan oleh sebuah kontak relay (relay switch) K1. Pada
model terdahulu digunakan relay jenis SPDT (Single Pole Double Throw), sedangkan model
yang sekarang digunakan relay jenis DPDT (Double Pole Double Throw) agar isiolasi pada
rangkaian pasien terhadap ground tetap terjaga. Walaupun ada beberapa defibrillator yang
portable yang menggunakan relay tegangan tinggi udara terbuka (open-air high voltage
relay), tetapi umumnya menggunakan special sealed vacuum relay seperti Torr Laboratories
TMR-10. Relay vakum merupakan relay yang telah mendapat pengakuan sebab adanya
penggunaan tegangan tinggi untuk kapasitor C1.
Rangkaian pasien untuk defibrillator Lown terdiri dari induktor 100mH (L1),
resistansi ohmik L1 (R1) dan resistansi ohmik pasien (R2). Energi yang tersimpan dalam
medan magnetik kumparan L1 menghasilkan Bentuk gelombang Lown negatif selama 5 ms.
Bila kapasitor dalam keadaan discharge, medan pada kumparan akan habis/hilang, energi
terbuang kembali ke rangkaian. Urutan kerjanya sebagai berikut:
Operator mengatur set energy (yang mengontrol level yang diinginkan) dan
menekan tombol charge (yaitu menutup S2)
Kapasitor C1 mulai termuati dan akan tetap dimuati hingga tegangan pada kapasitor
sama dengan tegangan sumber (supply).
Operator memasang paddle electrode pada dada pasien dan menekan tombol
discharge (yaitu S1)
14
4.
5.
Relay K1 memutus hubungan kapasitor dari power supply dan kemudian
menghubungkannya ke rangkaian keluar.
Kapasitor C1 mengalami discharge (membuang energi) ke pasien melalui L1, R1 dan
paddle electrode. Keadaan ini berlangsung pada awal 4 sampai 6 ms dan membangkitkan
tegangan tinggi simpangan posistif pada bentuk gelombang (Gambar 18).
Medan magnetik terbentuk pada L1 dan menghasilkan Bentuk gelombang simpangan negatif
dan hilang/habis dalam 5 ms kemudian (Gambar 18)
3.2.3. Defibrillator DC Monopulsa
Gambar 11 : Defibrillator DC Monopulsa
Gambar 12 : Defibrillator DC Monopulsa
Defibrillator DC monopulsa merupakan hasil modifikasi Defibrillator DC Lown
untuk menghasilkan bentuk gelombang tanpa fase negatif. Defibrillator jenis ini sering
15
dijumpai dalam defibrillator portable. Bentuk rangkaian defibrillator ini sama dengan
defibrillator Lown (Gambar 20), tetapi tanpa induktor L1 (Gambar 22) untuk menghilangkan
pulsa kedua yang negatif. Akibatnya, Bentuk gelombang akan kembali ke nol dengan cara
eksponensial karena hanya ada rangkaian RC saja (Gambar 23).
Gambar 13 : Tegangan dan Arus Defibrillator DC Monopulsa
3.2.4. Defibrillator DC Delay-Line
Defibrillator ini biasa juga dikenal dengan defibrillator Tapered. Berbeda dengan dua
defibrillator DC sebelumnya, yaitu defibrillator DC Delay Line mempunyai amplitudo rendah
(1.2 KV) dan durasi panjang (15 ms) untuk mencapai level energi yang ditetapkan. Dibuat
dengan meletakan dua bagian L-C. Energi yang ditransfer adalah sebanding dengan luas
daerah di bawah kurva persegi empat, yang juga dapat diperoleh energi yang sama seperti
Bentuk gelombang lainnya. Bentuk rangkaian defibrillator DC delay-line sama dengan
Gambar 10, hanya saja pada defibrillator DC delay-line ditambahkan L2 dan C2.
Gambar 14 : Defibrillator DC Delay Line
16
Gambar 15 : Gelombang Defibrillator DC Delay Line
3.2.4. Defibrillator DC Trapezoidal
Gambar 16 : Defibrillator DC Trapezoidal
Defibrillator DC Trapezoidal merupakan defibrillator yang memiliki bentuk
gelombang yang menyerupai trapesium. Ciri defibrillator ini adalah tegangann keluarannya
rendah (500V sampai 800 V) dan durasinya panjang (20 ms).
Kapasitor membuang muatan (discharge) ke tubuh pasien dikendalikan oleh
rangkaian SCR (Silicon-Controlled Rectifier). Bila energi yang diberikan pada pasien telah
cukup, maka shunt SCR bekerja untuk menghubung-singkat (short circuit) kapasitor dan
memutuskan pulsa. Rangkaian ini mengeleminasi/mengurangi ekor pulsa discharge yang
panjang. Keluaran dapat dikontrol dengan mengubah tegangan pada kapasitor atau durasi
\pulsa discharge. Desain ini memberikan beberapa keuntungan:
17
1.
2.
3.
4.
Arus puncak yang diperlukan lebih kecil
Tidak diperlukan induktor
Dapat menggunakan kapasitor elektrolit (yang secara fisik kecil)
Tidak diperlukan relay
Gambar 17 : Tegangan Defibrillator DC Trapezoidal
3.3. Analisis Defibrillator
Besar Energi dalam unit Joule dinyatakan dengan rumus :
Di mana C adalah nilai kapasitansi diukur dalam satuan farad dan V adalah tegangan
kapasitor.
Jika yang dibutuhkan adalah tegangan 3 KV, energy 400 J, maka besar nilai
kapasitor adalah :
1
2
E= C V
2
C=
2 E 2 400
=
=88,89 F
V2
30002
Energy yang dikeluarkan defibrillator pada umumnya adalah kisaran 50-400 J. Tidak
semua energy yang dikeluarkan defibrillator sampai kepada pasien. Beberapa diserap oleh
resistansi dalam (RD) defibrillator, beberapa diserap oleh paddle defibrillator, dan beberapa
diserap oleh resistansi kulit (RE).
Untuk menghitung berapa banyak energy yang diperoleh pasien, resistansi RT
dipertinbangkan sebagai sirkuit ekivalen. Terdapat empat resistor dalam rangkaian ekuivalen.
18
Gambar 18 : Rangkaian Ekivalen Analisis Defibrillator
Oleh karena itu, arus pada masing-masing resistor adalah sama. Dan energy yang
diserap oleh masing-masing resistor sebanding dengan energy total, sesuai dengan hukum
pembagi tegangan. Energi yang diserap oleh thorak dinyatakan dengan rumus :
3.4. Prinsip Kerja Defibrillator Secara Umum
Untuk pengisian kapasitor, selector atau swich diarahkan ke charge, maka arus dari
battery akan masuk ke oscillator sehingga dapat menimbulkan frekwensi, frekwensi tersebut
dimanfaatkan untuk memberi input ke transformer stepUP, output dari transformer stepUP
tersebut berupa voltage yang akan dilipat gandakan dan di searahkan menggunakan
multiplier. Multiplier disini selain di gunakan untuk penyearah juga digunakan untuk pelipat
ganda tegangan yang akan dimasukkan ke kapasitor, setelah kapasitor terisi penuh, maka
luapan kapasitor akan dimanfaatkan untuk nonaktifkan oscillator sehingga pengisian berhenti.
Untuk pengurangan muatan kapasitor, selector diarahkan ke discharge, maka supply
battery akan masuk kerangkaian discharge, rangkaian tersebut akan menberikan beban pada
kapasitor sehingga muatan kapasitor akan berkurang secara perlahan lahan, setelah tampilan
menunjukkan dosis yang di inginkan tercapai, selector langsung dipindah secara manual
keposisi normal.
Pastikan kedua elektroda terhubung pada pasien tanpa ada celah sedikitpun, karena
dapat menimbulkan aliran energi kurang maksimal, set duration berfungsi sebagai pengatur
lamanya saat triger. Jika triger button keduanya di tekan secara bersamaan, maka muatan
dalam kapasitor akan di teruskan ke elektroda melalui kontaktor relay yang terdapat pada
rangkaian set duration.
19
20
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Defibrillator adalah alat yang digunakan oleh paramedis dibagian perawatan jantung
untuk mengatasi kelaianan jantung (cardioarrhythymia), Pada pengisian muatan capacitor
tergantung dari besar tegangan yang mengisi pada pengisian muatan capacitor selain juga
tergantung pada waktu pengisian. Namun pada defibrillator karena tegangan yang dihasilkan
konstan, jadi besar muatan tergantung pada waktu pengisian, Untuk mengkalibrasi yang
presisi sebaiknya digunakandefianalyzer yang berguna untuk mengetahui akan meter muatan
defibrillator dengan penunjukkan meter
4.2. Saran
Penggunaan defibrillator harus diawali dengan pelatihan dan keahlian khusus, agar
alat yang digunakan dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
21
DAFTAR PUSTAKA
Guyton and Hall. (2007). Fisiologi Kedokteran ed. 11. Jakarta : EGC.
Khandpur, R. S. (2005). Biomedical Instrumentaion: Technology and Applications. New
Delhi: McGraw-Hill
Price, A. Sylvia. (2005). Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit ed.6. Jakarta :
EGC.
Sherwood, Lauralee. (2011). Fisiologi Manusia, dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC.
Diklat Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118.
[Link]
[Link]
%20/2371/crs-10484/Files/Waleed%20Abdel%20Aziz%20Salem
%20Attia_Defibrillator%20(L4).ppt
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
22